[FF] Wife for My Husband (Chapter 6)

Wife for My Husband

kkezzgw art&storyline

 Cast:  SNSD’s Yoona, SJ’s Siwon

Other Cast: SNSD’s Tiffany, SJ’s Kim Kibum (Choi Kibum) , SNSD’s Kim Taeyeon (Choi Taeyeon), f(x)’s Sulli, SNSD’s Yuri, SJ’s Leeteuk

Genre: Family, Mature, Sad, Tragedy, Romance

 Rated: +15

Length: Chapter [9.631 words]

  Facebook Twitter: ELF SONE YOONWONITED || Blog:  keziagw kageweyoonwon

Disclaimer: This fanfiction is mine and the casts, ofc with the permission of God(?) Don’t do a plagiarism. Sorry for the similarity of story ideas and undetected typo(s).

‘Disclaimer of ‘Wife For My Husband’

——————————-

Preview Chapter 5

“Kau tidak mau kan mengantarnya? Kalau kau tidak mau katakan saja! Kau berubah Choi Siwon! Aku tidak melihat kau seperti Siwon yang dulu, kau kasar! Apa kau sadar seperti apa perlakuanmu tadi pada istrimu sendiri? Seorang Choi Siwon, adikku yang bersikap baik pada semua orang, sekarang sudah tidak ada lagi!” 

 

 “Kurasa………kau harus menemukan tulang rusukmu yang sebenarnya” kata Leeteuk hyung lagi yang kembali membuatku terdiam bingung, “Maksud Hyung?”

“Pikirkanlah terus, dan setelah dapat jawabannya, beritahu aku” 

“Mianhae Yoona……jeongmal mianhae…” 

“YEOBO! ADA MASALAH SERIUS!”

“Ini menyangkut tentang Siwon dan Yoona!”

“HAH! Apa – apaan ini? Aku bahkan bukan artis, tapi kenapa hidupku benar – benar diusik?” geram Siwon

“Lalu, apa eomma sudah tahu?”

“Tentu saja, dia kembali mengajak kita berkumpul di rumah Siwon malam ini untuk membicarakan permasalahan ini”

Kibum tersenyum licik sambil berkata pelan, “Siwon…..aku melihat sendiri Yoona menangis di depan noonamu, dan itu semua karenamu, dan saat itu juga aku berjanji akan merebut Yoona darimu. Dan sekarang…………adalah waktunya” kata Kibum.

“Bagaimana kalau kita mengasingkan Yoona ke desa yang tidak mungkin diketahui para wartawan sampai kasus ini mereda dengan sendirinya?”

“Ide yang bagus” kata Taeyeon langsung.

“Hmm…aku setuju dengannya” kata Leeteuk juga.

“Itu ide yang bagus, ahjussi!” kata Sulli.

“Aku juga setuju, kenapa kita tidak memakai idenya saja?” kata Tiffany.

“Aku setuju, itu ide yang tidak buruk, dan keputusan ada di tangan seseorang, bagaimana denganmu Siwon?”

“Aku setuju” 

“Aku tahu oppa tidak mau menemaniku, lagipula disini oppa masih harus mengurus pekerjaan dan ada Tiffany eonnie, jadi Kibum saja yang menemaniku disana”

“Kau tidak mau bersama Siwon?” Tanya Nyonya Choi heran.

“Ani, aku mau bersama Kibum oppa saja, biarkanlah Siwon oppa bekerja, mengurus yang ada disini, dan bersama Fany eonnie” kata Yoona tersenyum. Siwon menatap Yoona tak percaya –c-

“Baiklah kalau begitu, 3 hari lagi kalian akan berangkat kesana, eomma akan menyuruh seseorang untuk membersihkan dan menyiapkan villa itu untung kalian, kalian tenang saja disana ada 5 pembantu yang akan melayani kalian”

——————————-

WIFE FOR MY HUSBAND: CHAPTER 6 – ©kkezzgw

 

 

Author POV

 

Yuri dan Yesung mengantar Yoona sampai gerbang rumah setelah hampir 3 jam mereka asik berbincang – bincang bersama sampai lupa waktu, “Ah Yoong, aku senang sekali kau kesini..” kata Yuri dengan senyum sumringahnya.

Nado…aku terakhir ke rumahmu saat kita masih duduk di bangku sekolah..” kata Yoona menimpali.

“Oh iya, kau pulang dengan siapa, Yoong? Tadi kau datang dengan siapa?” Tanya Yuri agak bingung, pasalnya tidak ada mobil 1 pun di depan rumahnya, “Tadi aku diantar oleh Fany eonnie, dan sekarang aku akan pulang naik taksi, atau bus mungkin,tinggal jalan keluar dari perumahan ini bukankah sudah berada di halte bus?”

Yuri memukul kepala Yoona, “Paboya, kau dari dulu selalu cuek dengan dirimu sendiri, ini sudah malam! Bagaimana kau membiarkan dirimu pulang dengan kendaraan umum? Kau ini yeoja yoong, yeoja!” Yoona hanya bisa mengerucutkan bibirnya, dari dulu Yuri memang tidak pernah berubah, sifat dan bahkan perkataaannya masih sama saat mereka masih duduk di bangku sekolah.

Yeobo, antarkan Yoona pulang” kata Yuri memohon pada suaminya, “Arasseo….kajja Yoona” kata Yesung yang sudah mengambil kunci mobilnya dari kantong celananya, “Aniya…aniya oppa, tidak perlu repot-repot begitu”

TIN TIN~

Mereka bertiga menoleh kearah sumber suara, perlahan sebuah mobil berwarna hitam pekat berbadan rendah pun ‘berdiri’ di depan mereka, kaca mobil pun diturunkan seakan memperlihatkan siapa pengendaranya, “Kibum”

Kibum tersenyum manis, “Annyeong Yul” sapa Kibum, Yuri melambaikkan tangannya singkat, “Annyeong” Kibum juga menyapa Yesung yang hanya dijawab senyuman tipis.

“Biar aku yang mengantar Yoona pulang”

~~

“Sudah kubilang tidak usah mengantarku pergi atau pun pulang ke rumah, kenapa kau malah menjemputku? Lagipula, kau tau darimana alamat rumah Yuri?” Tanya Yoona yang sudah duduk di dalam mobil Kibum yang sekarang sedang melaju di jalanan Seoul yang masih terlihat ramai.

“Aku memintanya saat kami di Kaledonia” kata Kibum tanpa menoleh, Yoona hanya membentuk huruf ‘o’ dengan bibirnya lalu kembali menatap jendela, Kibum terus membawa mobil itu terus dengan hati yang berseri-seri, Yoona yang baru menyadari ada yang aneh langsung menoleh kearah Kibum, “Ini bukan jalan menuju rumah”

Kibum menoleh kali ini, “Memang” dengan santainya.

“Kau…kau ingin membawaku kemana?” Tanya Yoona terdengar kaget dan panic.

Kibum hanya diam tak menjawabnya, tak lama dia memparkirkan mobilnya di pinggir sebuah taman kecil, Yoona masih was-was dengan tingkah Kibum, Kibum turun dari mobil dan berjalan membukakan pintu untuk Yoona.

“Maksudmu apa membawaku kesini malam – malam?” Tanya Yoona yang kali ini malah emosi, Kibum tidak meladeninnya dan malah menggenggam tangan Yoona dan menariknya memasuki taman kecil itu melalui pintu kecil, taman yang hanya ‘ditinggali’ oleh beberapa pohon, 2 bangku taman, dan beberapa lampu penerangan, “Kibum!” gertak Yoona berusaha melepaskan genggaman tangan Kibum.

Kibum membawa Yoona ke sebuah pohon yang cukup lebat, “Kita sampai”

“Apa maumu sebenarnya, heuh? Aku ingin pulang!” Yoona kali ini benar – benar kesal.

Kibum menoleh kearah Yoona dengan tatapan sendu, “Apa kau lupa? Tentang kita, kenangan kita, dan bahkan taman ini?” Yoona terdiam mendengarnya, dia pun mengamati sekelilingnya dan dia baru menyadarinya…….ini taman di dekat sekolahnya, tempat mereka pertama kali bertemu, dan tempat mereka…….

“Tempat ini bukannya—”

“Kau ingat sekarang?” Tanya Kibum, Yoona hanya diam menandakkan dia ingat, “Aku ingin melakukannya sekarang, janji kita 10 tahun yang lalu..” kata Kibum lagi dengan nada mantap.

Andwae, kau juga yang sudah membatalkannya 10 tahun yang lalu” Yoona memutar badannya hendak pergi tapi Kibum dengan sigap menahannya, “CHOI KIBUM!” jerit Yoona frustasi.

“Dengarkan aku dulu, Yoona-ah, jebal………….” Kata Kibum memelas. Yoona yang melihatnya rasanya ingin muntah, dia benar – benar tidak suka jika ada orang yang memelas di hadapannya, Kibum masih ingat kelemahannya.

Kibum yang melihat ekspresi Yoona seperti menandakkan kata ‘setuju’ pun tersenyum lalu mengajak Yoona berjongkok di depan pohon itu, dia mencari batang – batang kayu yang besar lalu memberikkannya pada Yoona, “Bantu aku mengambilnya”

YoonBum pun menggali tanah itu cukup dalam sampai kayu Kibum menyentuh sesuatu, “Omo, ini dia” kata Kibum senang lalu membuang tongkat itu dan meraih kotak coklat yang sudah terlihat usang tapi masih nampak kuat, Yoona tertegun melihatnya, “Kau….mengingatnya?” Tanya Yoona.

“Tentu saja….ini sudah 10 tahun, aku menepati janjiku bukan?” Yoona mendelik sebal mendengarnya, “Lupakan, aku ingin pulang!”

Kibum tersenyum, “Arasseo, lagipula aku hanya ingin mengambilnya, aku akan melamarmu setelah kau bercerai dengan Siwon” Yoona hanya diam mendengarnya dan berjalan menuju mobil, Kibum pun menyusul dengan tangan membawa kotak coklat tadi.

**

Yoona membuka pintu kamarnya dan masuk, dia berjalan dalam kegelapan yang menyelimuti kamarnya, sebelum menyalakkan lampu dia meletakkan tasnya di dekat lemari dan baru menyalakkan lampu kamarnya, “OMO! Kkamjakiya….Siwon oppa” Siwon yang merasa terpanggil langsung menoleh, “Sudah pulang ternyata”

“Sedang apa oppa disini?” Tanya Yoona to the point, Siwon langsung bangun dari tidurnya, “Ini kamarku juga kan?” Yoona hanya menatap datar Siwon, Siwon menidurkan dirinya lagi sambil memainkan ponselnya.

Yoona mengambil koper kecil yang ada di samping lemari lalu membukanya, isi koper masih kosong dan mungkin akan segera terisi dengan penuh, dia pun membuka lemari bajunya dan mulai memasukkan pakaian – pakaiannya ke dalam koper, tidak perlu membutuhkan waktu berjam – jam koper itu sudah terisi dengan penuh untuk besok, Yoona melirik 2 koper besar lainnya disamping koper terkecil yang tadi baru diisi, dia terpaksa membawa semua barang – barangnya karena dia akan menghabiskan waktu 7-8 bulan disana dan setelah itu tidak akan kembali lagi kesini.

Setelah selesai membereskan pakaiaannya, Yoona mengganti pakaiannya ke kamar mandi, dia terdiam sebentar melihat Siwon yang masih terbaring di ranjang kamarnya sambil memainkan ponselnya. Yoona acuh tak acuh menidurkan dirinya di samping Siwon, Yoona memunggungi Siwon dan mulai memejamkan matanya yang sudah terasa sangat berat.

**

Yoona POV

Kibum mulai memasukkan barang – barangku dan miliknya ke dalam mobilnya, Aku ingin membantunya tapi Fany eonnie jelas melarangku dengan keras karena takut terjadi apa-apa pada kandunganku, alhasil aku hanya duduk diam dan tak berbuat apa – apa seperti Fany eonnie, Hong ahjumma sudah disana sejak 2 hari yang lalu untuk mempersiapkan rumah yang akan kutinggali bersama Kibum selama 7-8 bulan ke depan dan posisinya akan digantikkan oleh temannya. Sedangkan Siwon oppa akhirnya membantu Kibum yang tampak kerepotan membereskan semua barang – barang.

“Hah…semua sudah siap, kajja kita berangkat” kata Kibum sumringah, aku dan Fany eonnie bangkit dari duduk kami lalu menghampiri Siwon dan Kibum yang sudah berdiri di depan mobil masing – masing. Aku kaget ketika tiba – tiba tadi pagi setelah selesai mandi, Siwon oppa menghampiriku dan berkata kalau Fany eonnie sendiri yang ingin mengantar kami dan tentu saja dia memaksa Siwon oppa untuk ikut, lagipula Kibum tidak tahu jalan menuju villa itu.

Aku melewati Siwon yang sepertinya sedang memperhatikkanku dan membuka pintu mobil Kibum, kedua mobil kami pun perlahan menyalakkan mesin mobil mereka lalu pergi meninggalkan rumah Siwon.

Perjalanan yang memakan waktu hampir 45 menit itu mulai menunjukkan tanda – tanda akhir, jalanan mulai terlihat sempit dan mulai memasukki daerah – daerah yang lumayan terpencil namun terkesan asri dan ramah, aku bisa melihat berbagai jenis tanaman di tanam di dekat kebun yang sangat luas itu dengan rapih dan tidak acak, di dekatnya ada air yang mengitari sebuah sungai kecil namun panjang yang di kelilingi oleh batu – batu yang sangat besar, di sebrang sungai kecil itu ada sebuah taman bunga kecil yang sengaja dibuat oleh pemilik lahan, aku berdecak kagum melihat keindahan alam di sekitar sini, “Yeppoda!

Kibum menoleh kearahku yang masih menatap sekeliling dengan tatapan takjub dengan senyuman hangatnya, “Ini semua milik keluarga Siwon”

Mwo?” Yoona langsung menoleh kaget mendengarnya, “Ne, apa kau tahu villa yang akan kita tinggali milik Krystal Gomo? Dia sangat cinta pemandangan alam, apalagi bunga, dialah yang meminta Minho samchon untuk membuat taman, kebun, dan bahkan sungai buatan itu” mulutku membentuk membulat sempurna mendengarnya, itu ternyata alasan kenapa rumah mertuaku di penuhi bunga – bunga, “Pantas saja sungai itu panjang tapi kecil dan hanya mengelilingi sekitar—” Yoona pun terdiam begitu melihat villa yang ada di depan matanya, membuat kedua mata beningnya membulat sempurna, “Villa ini……….bukannya—” Aku seperti pernah melihatnya sebelumnya, tapi dimana? Ah, apa hanya perasaanku? Tapi……………….

“Lokasi syuting drama “Little Girl’ kan?” kata Kibum menebak isi pikiranku, “Ah! Benar, ini punya keluarga Choi?” Aku benar – benar dibuat kaget dan takjub, lokasi syuting drama paling popular di Korea dulu, lokasi syutingnya di villa milik keluarga ‘suamiku’? Apa dia bercanda?

“Tentu saja, producer film itu sedang mencari – cari lokasi syuting yang indah dan dia tidak sengaja menemukan tempat ini, villa ini sudah ada sejak mereka (re:  Mr&Mrs Choi) berpacaran, seingatku untuk hadiah ulang tahun Gomo yang ke-21 dari Samchon, hebat kan?”

“Ini bukan hebat, tapi luar biasa” kataku masih dengan kekagumannya.

“Para kru mengatakkan daya tarik dari villa ini yaitu mewah tapi tetap terkesan berada di desa, di kelilingi oleh aliran sungai kecil yang dibuat khusus menambah daya tarik producer film dan akhirnya menyewa villa ini dengan bayaran yang fantastis pada zaman itu……………1 hari 800 juta” Aku menelan salivaku dengan susah payah mendengar uang sebanyak itu. 800 juta….per hari? Drama itu ada 50 episode, berarti berapa milyar atau bahkan berapa triliun yang di dapatkan keluarga Choi hanya dengan menyewakkan villa indah ini? “Wow, aku tidak menyangka bisa tinggal di tempat yang dijadikan lokasi syuting film kesukaanku saat kecil” kataku dengan ekspresi datar tapi dengan nada suara yang terkagum. Kibum hanya tersenyum mendengarnya, mobil Siwon sudah memasuki pekarangan terlebih dahulu, saat itu keluarlah seorang ahjumma yang sangat aku kenal, Hong ahjumma.

Kedua mobil kami sudah terparkir tepat di depan halaman rumah, aku turun dari mobil paling terakhir dan mendapati moment Fany eonnie yang memeluk Hong ahjumma ramah, “Annyeong ahjumma” sapanya ramah, aku menaiki beberapa anak tangga dan berhasil menapakkan diri di teras, “Ne agasshi” katanya dengan senyum damainya, “Annyeong ahjumma, mianhae karna aku kau harus tinggal disini lumayan lama” kataku merasa sedikit tak enak hati.

Hong ahjumma tersenyum ramah, “Gwaenchana agasshi, ini memang sudah tugasku” katanya, ah tetap saja aku merasa tidak enak.

Kajja kita masuk, Hong ahjumma, panggil yang lainnya untuk mengeluarkan barang – barang mereka (YoonBum red) dan masukkan ke dalam kamar mereka masing – masing ne” kata Tiffany, Hong ahjumma mengangguk mengerti dan mulai memanggil pembantu – pembantu dirumah itu untuk menolongnya, kami ber-4 masuk ke dalam villa yang bisa dibilang sangat besar untuk ukuranku, di villa yang sebagian besar tersusun oleh kaca ini akan menjadi tempat tinggalku  selama 7 bulan, dan sepertinya interior rumah ini sudah banyak yang diganti, dulu interior rumah terkesan lebih kuno namun unik, tapi sekarang sudah modern dan bahkan kesan elegan terpampang jelas di setiap sudut rumah dan ‘aksesoris’ rumah ini. Aku tahu perbedaan villa ini dulu dan sekarang karena…ya maklum, aku penggila drama itu saat masih kecil, tanpa sadar aku mengikuti Fany eonnie terus dan baru menyadari bahwa tidak ada Siwon oppa ataupun Kibum lagi disampingku, saat aku ingin mencari keberadaan mereka…….

“Ini kamarmu Yoong” kata Fany eonnie sambil membukakkan kamarku yang ternyata……..

“Ini…kamarku?” aku benar – benar tidak menyangka, ini kamar Kwon Ah Reum, tokoh utama drama ‘Little Girl’.

Tiffany eonnie hanya tertawa melihat tingkahku yang terkesan berlebiha, tapi memang iya aku sangat menyukainya, “Ne ini kamarmu, waeyo? Ah kau penggemar drama itu juga pasti!” kata Fany eonnie melihat tingkahku, mungkin dia sudah beberapa kali kesini dan aku yakin dia pasti juga akan kaget sama sepertiku saat pertama melihat villa ini.

“Ini kamarnya Kwon Ah Reum kan? Kalau berlibur disini aku juga tidur di kamar ini karena aku suka dengan drama itu, dan respon pertamaku saat melihat villa ini juga sama sepertimu” kata Fany eonnie sambil menggeleng – gelengkan kepalanya malu, aku hanya tertawa menanggapinya.

“Aku akan memberikkan mu privasi” kata Fany eonnie tersenyum kearahku lalu keluar dari ruangan, tentu saja tak lupa menutup pintu. Aku langsung membanting tubuhku ke kasur berukuran Queen Size dengan balutan seprai berwara putih gading, kuhembuskan nafasku dengan cepat, tak kusangka perjalanan yang hanya memakan waktu 45 menit benar – benar membuatku lelah, padahal tidak sepertinya aku seperti ini……………..oh iya aku sedang mengandung, mungkin itu berpengaruh.

Aku keluar dari kamar dan mendapati yang lainnya sudah duduk di meja makan sambil berbincang – bincang singkat, aku menghampiri mereka lalu duduk di samping Kibum, “Apa yang kau lakukan Ah Reum-ah? Seharusnya kau cuci tangan dulu sebelum makan” kata Fany eonnie saat aku baru duduk di kursi, aku terdiam sebentar lalu mulai bersuara, “Aku kan hanya duduk dan belum makan eomma, bahkan makanannya pun belum ada di depanku” aku tertawa bersamanya karena itu dialog yang sering dikatakkan oleh ibu dari karakter Ah Reum, “Eonnie, kau masih ingat dialognya ternyata!?” Tiffany hanya mengangguk sambil tersenyum geli. Siwon dan Kibum yang tahu apa yang kami bicarakan hanya ikut tersenyum. Oh, jadi kita berempat semua tahu dan bahkan suka dengan drama itu, tidak kusangka.

Tak lama pelayan – pelayan di villa ini mulai membawakkan makan siang untuk kami, baunya saja sudah membuat cacing-cacing di perutkku ingin segera mencernanya, bagaimana denganku yang melihatnya secara fisik, ada bulgogi ,dakjuk, seolleongtang, dan hoeddeok sebagai cemilan, makanan kesukaanku!

Kami mulai mengambil lauk pauk dan menaruhnya di atas piring masing-masing dan mulai memakannya, ketika sendokkan pertama masuk ke mulutku…….rasanya aneh, aku terasa ingin memuntahkannya, indra pengecapku seakan mengatakkan makanan ini benar-benar ‘menyebalkan’ sehingga harus segera ‘disingkirkan’, aku langsung berdiri dan berlari menuju kloset di kamar mandi dan mengeluarkan makanan-makanan itu disana.

“Yoona! Yoona!” kudengar teriakkan Fany eonnie seakan mengikutiku menuju wastafel disana.

Aku mengincar kloset dan langsung berjongkok di depannya lalu memuntahkan makananku, aku beberapa kali melakukannya sampai hanya tersisa saliva yang keluar, “Hahh” aku terduduk lemas di atas kloset yang sudah ku tutup dan mengusap keningku singkat, Kibum langsung masuk ke dalam kamar mandi yang kebetulan tak ku kunci, dia menyamakkan tubuh tingginya dengan posisiku dengan wajah khawatir, “Kau kenapa, Yoong?”

Aku menggeleng, “Molla, rasanya….mulutku menolak memakan lauk yang tadi, dan aku langsung mual”

“Yoona, kau kenapa?” kata Fany eonnie yang langsung berlari kearahku dengan ekspresi khawatir sedangkan Siwon oppa hanya mengikuti dibelakangnya, “Gwaenchana eonnie, aku hanya mual sedikit, rasanya makanan-makanan itu tidak ada yang sesuai dengan seleraku sekarang, padahal beberapa diantaranya makanan favoritku” aku mendengus singkat.

Fany eonnie terdiam sesaat, “Astaga Yoona, kau ngidam ya?” tanyanya langsung. Aku yang mendengarnya hanya menatapnya bingung, “Ngidam?”

Ne, sepertinya kandunganmu mulai memasukki usia 2 bulan, pantas saja, cepat beritahu kami kau ingin makan apa?” Tanya Fany eonnie menatapku antusias.

“Sepertinya aku ingin waffle sekarang“ kataku dengan pelan, “Waffle? Omo, makanan favoritmu yeobo!” kata Fany eonnie mendongak untuk menatap Siwon yang masih dengan ekspresi datar menatap perutku. Makanan favorit Siwon oppa?

“Aku akan—“ kata Siwon terpotong.

“Biar aku saja yang mencari makanannya Yoong, kau tunggu sebentar ya” kata Kibum tanpa menoleh langsung berlari keluar dari kamar mandi. Siwon menoleh kearah Kibum dengan tatapan mematikan miliknya, “Bocah keparat” gertak Siwon dalam hati.

**

Aku dan Kibum mengantar Siwon oppa dan Fany eonnie sampai teras villa ini, “Kami pulang dulu ya” kata Fany eonnie. Aku hanya mengangguk dan tersenyum, kulirik sekilas wajah Siwon oppa, kurasa dia tidak akan pernah datang kesini, jadi mungkin ini terakhir kalinya aku melihatnya, “Yoona, jaga kandunganmu baik – baik ne, dan kau Kibum, jaga Yoona baik-baik arasseo!” kata Tiffany, Kibum terkekeh pelan, “Siap bosss” katanya.

“Kami pergi dulu” Siwon oppa yang sedari tadi hanya diam dengan muka lesu pun meninggalkan kami duluan menuju mobil yang langsung diikuti oleh Fany eonnie, tanpa banyak bicara dia segera duduk di posisinya, perlahan mesin mobil itu menyala dan tanpa basa basi Siwon mengendarai mobil itu menjauh dari villa yang menjadi tempat tinggalku sekarang. Aku menghela nafas berat, dipastikkan pikiranku sekarang masih tetinggal di kota Seoul, bagaimana pun selama ini aku tinggal disana dan akan merindukkan suasana ramai dari kota tempatku  dilahirkan. Aku masih menatap mobil Siwon oppa yang mulai menghilang dari pandanganku dan masuk menyusul Kibum yang sudah masuk duluan.

Author POV

Warga dunia pada umumnya sudah terlarut dalam mimpinya di jam 03.06 KST, tapi fakta itu tidak berlaku untuk Choi Kibum malam ini. Kibum duduk di pinggir ranjang sambil memijat pelan keningnya yang sekarang sedang berkerut. Sesekali dia menggeleng – gelengkan kepalanya, entahlah apa yang dia pikirkan, yang jelas karena ini dia kesulitan untuk memejamkan matanya lebih cepat dari biasanya. Terlintas dalam bayangannya sebuah wajah seorang wanita yang selalu dia amati belakangan ini.

TIFFANY HWANG

Terlihat dalam benaknya, wajah Tiffany’lah yang tergambar jelas dan sukses membuat kerutan – kerutan di kening Kibum, akhir – akhir ini dia memang sering mengamati Tiffany yang menurutnya tingkahnya mulai menunjukkan tanda – tanda aneh..

Matanya kerap kali melihat Tiffany yang sedang menatap Yoona dengan tatapan mematikan, kadang Tiffany bisa bersikap begitu baik bak malaikat di hadapan Yoona, kadang Kibum melihat Tiffany seperti wanita berkepribadian ganda. Tapi setelah Kibum memikirkannya lagi, Tiffany tidak berkepribadian ganda atau sejenisnya. Hanya satu alasan yang membuatnya seperti seorang psychopath yaitu KECEMBURUAN.

Kibum baru menyadari Tiffany sering kali mencemburui Yoona yang menurut Kibum itu adalah sesuatu hal yang tidak patut dibenci dan patut ditertawakan, bagaimana tidak, bahkan Siwon selalu bersikap dingin terhadap Yoona, lalu buat apa Tiffany mencemburui Yoona? Apa Tiffany—ani, seorang wanita memiliki insting penciuman yang begitu tinggi terhadap cinta sampai Tiffany seperti orang yang ketakutan cintanya akan direbut oleh Yoona?

Tapi dibalik semua itu, Kibum sangat senang dan mendukung tindakan Tiffany 100%. Dengan rasa kecemburuan Tiffany terhadap Yoona, jelas itu sangat membantunya merebut hati Yoona, apalagi rencananya di dukung oleh sikap protective Tiffany dan sikap angkuh Siwon.

Ternyata Kibum sudah mulai membuat rencana ‘singkat’ yang membuat Tiffany masuk dalam permainannya secara tidak langsung, “Choi Siwon dan Tiffany Hwang, sejujurnya kalian sangat membantuku dalam segala hal”

SIWON POV

Setelah merapikan penampilanku, aku segera turun dari atas untuk menuju meja makan, biasanya disana sudah tersedia sarapan yang sukses membuat perutku kenyang, apalagi rasa makanan yang luar biasa dahsyat enaknya. Kupercepat langkahku agar bisa menikmati makananku lebih lama dan lebih banyak, senyumku memudar saat aku melihat apa yang ada di atas meja.

Istriku –Tiffany, berjalan menuju meja makan sambil membawa beberapa piring yang berisi roti dan beberapa selai dan daging ham, dia tersenyum dan menghampiriku setelah sukses meletakkan sarapan kami, “Good morning, Yeobo” katanya sambil mengecup pipiku singkat. Aku menoleh dan tersenyum kaku.

“Kenapa sarapan kita hanya roti?” tanyaku sedikit kesal mengetahui fakta itu.

Senyum Tiffany semakin lama semakin sirna mendengar pertanyaanku, “Memang kenapa kalau sarapan kita hanya roti atau sandwich, yeobo? Bukankah dulu kita juga seperti itu walaupun ada Hong ahjumma?”

Aku menoleh kearahnya saat mendengar kalimat bernada sindiran, “Aku….terbiasa makan yang lain”

Tiffany mendesah berat, “Apa yang kau maksud…masakan Yoona, yeobo?”

Apa ini? Kenapa aku merasa aneh mendengar nama ‘Yoona’, terlebih saat Fany mengatakan ‘masakan Yoona’, perasaan aneh muncul tiba – tiba dalam pikiranku dan aku merasakan diriku mengalami perasaan awkward yang datang tiba – tiba, “Hmm…itu—“

“GOOD MORNING BEAUTIFUL WORLD!” teriak Sulli dengan nada tinggi membuat aku dan Tiffany menoleh. Oh Choi Sulli, akhirnya kau bisa menjadi sesuatu yang berguna bagiku, biasanya kau hanya bisa menyusahkan.

“Morning, giant baby. Eonnie sudah menyiapkan sandwich untukmu” kata Tiffany dengan nada pelan, aku merasa sedikit kasihan padanya, mungkin dia sedikit minder karena aku sudah menolak sarapan yang sudah dia siapkan secara halus.

Sulli langsung berlari kearah meja makan dan langsung melirik sandwich yang ada di atas meja makan, dengan gerakan cepat dia langsung duduk dan mengambil sarapannya, “Woah sandwich,  gomawo eonnie. Hajiman, tumben sekali kita makan sandwich, biasanya akan banyak makanan yang tersedia di pagi hari”

Muka masam Tiffany terlihat jelas saat Sulli mengatakan itu dengan nada tak berdosa. CHOI SULLI! Baru saja aku memujimu! Aish jinjja!

Yeobo, ayo kita makan. Aku sudah sangat lapar” kataku langsung merangkul bahunya sigap untuk mengurangi rasa badmoodnya yang mungkin akan meledak dan membahayakanku.

**

“SULLI! CEPAT HABISKAN SANDWICHMU!” aku menjerit memberi peringatan pada Sulli yang selalu saja hampir membuatku telat ke kantor, sekalipun perusahaan ini adalah milikku, tapi tetap saja aku harus tertib agar karyawan yang lain bisa meniruku.

Tiffany tertawa melihat tingkah kami yang masih seperti anak SD, terlebih aku yang sudah berusia diatas 26 tahun harusnya memiliki kesadaran untuk bertingkah dewasa, tapi entahlah, Choi Sulli benar – benar ‘melarangku’ menjadi dewasa setiap berdebat dengannya.

“Sudahlah Yeobo, kau tidak usah terlalu meladeni Sulli, dia memang masih seperti anak kecil. Mungkin karena perbedaan usia diantara kalian sangat jauh”

Aku menepuk keningku singkat, “Benar, ah sudahlah biarkan saja dia”

Untuk menunggu adikku yang paling kucinta itu, aku menghabiskan waktuku untuk mengobrol dengan Fany, tanpa sengaja mataku melirik kearah bunga – bunga yang tepat berada di samping jalan untuk menuju pintu utama rumahku. Hatiku kembali berdesir melihat bunga – bunga itu, perasaan aneh yang tadi sempat muncul kembali.

Biasanya saat Sabtu sore aku akan melihat seorang yeoja dengan tawa riangnya menyiram bunga – bunga yang ada di halaman rumah ini, di temani oleh Hong ahjumma biasanya mereka akan mengobrol sambil tertawa – tawa riang, sesekali Sulli yang ada di rumah ikut bergabung dengan mereka.

Tiffany bingung melihatku yang tiba – tiba terdiam, dia mengikuti arah pandangku dan mendapati aku sedang menatap bunga – bunga itu, Fany mendengus sebal, “Ada apa dengan bunga itu, Yeobo?”

Aku langsung mengalihkan pandanganku kembali padanya, “Aniya, bunga – bunga itu terlihat indah” kataku asal.

“Ayo oppa, kita berangkat” kata Sulli yang tiba – tiba sudah berdiri sambil menggendong tasnya dengan senyum sumringahnya, “Yeobo aku berangkat dulu” kataku sambil memeluk Tiffany dan melambaikan tanganku kearahnya.

Ada apa denganmu Choi Siwon? Kau tidak mungkin merindukan sosok Im Yoona ‘kan?

Tapi, bagaimanapun kau harus tahu keadaan anakmu, benarkan? Ya, mungkin aku merindukan anakku yang sekarang ‘bersama’ Yoona, aku tidak merindukan Yoona, aku merindukan anakku. Ya, itu benar.

Lalu bagaimana caranya aku bisa menghubungi anakku jika aku saja malu untuk menelpon Yoona? Apa yang harus kulakukan?

Sulli memperhatikanku yang tampak seperti sedang memikirkan sesuatu dengan sangat keras membuatnya terlihat aneh dan jelek –menurut Sulli, “Oppa, kau ini sedang sakit ya? Kuperhatikan keningmu terus berkerut seperti sedang memikirkan sesuatu”

Aku menoleh singkat sambil mengangkat bahu, “Masalah pekerjaan” bohong, tentu saja. Lagipula untuk apa aku mengatakan hal jujur pada gadis ceroboh seperti Choi Sulli?

“Oh kukira kau kenapa” kata Sulli singkat dan kembali bersikap tidak perduli.

Aku kembali memikirkan hal yang bisa kulakukan agar bisa tetap dekat dengan mereka walaupun terpisah oleh jarak yang cukup jauh, apa yang harus kulakukan? Tidak mungkin aku menelponnya setiap hari, itu hanya membuatku malu dan harga diriku di hadapannya pasti menurun drastis.

Tiba – tiba sebuah lampu muncul diatas kepalaku, seakan menerangi kerja otakku yang sekarang berhasil berfikir dengan baik untuk mencari ide, senyumku langsung terbentuk. Aku menoleh kearah Sulli yang sekarang sibuk mewarnai design masterpiecenya sambil mendengarkan lagu melalui earphone.

“Sulli”

Sulli menoleh kearahku dengan ekspresi datar, sepertinya dia masih mengantuk, “Wae?”

Aku menimbang – nimbang apa yang harus kukatakan terlebih dahulu agar dia tidak curiga, “Apa kau punya nomor ponsel Hong ahjumma?”

Sulli mengerutkan keningnya, “Hong ahjumma? Untuk apa kau meminta nomor ponselnya?”

TIFFANY POV

Setelah kepergian Siwon oppa dan Sulli, aku buru – buru menyiapkan diri untuk pergi ke rumah sakit, aku hanya ingin memeriksa keadaanku yang terasa semakin memburuk. Aku sering merasakan sakit yang tidak tertahankan di sekujur tubuhku. Terkadang perutku kesakitan walaupun tidak ada seorang pun yang tahu keadaanku, atau lebih tepatnya memang tidak ada yang boleh tahu.

“Apa dokter Jung ada di tempat? Aku pasien yang bernama Tiffany Hwang” kataku saat sampai di receptionist di lobby rumah sakit khusus wanita ini.

Receptionist itu mengangguk sambil tersenyum ramah, “Beliau ada di tempat, Agasshi. Dan memang beliau sedang menunggu anda sejak tadi” aku mengangguk dan mengucapkan terima kasih lalu berjalan menuju koridor rumah sakit yang bisa dibilang berukuran besar ini.

TOK TOK TOK~

Dokter Jung mengizinkanku masuk saat aku mengetuk pintu ruangannya, “Annyeong haseyo, Dokter Jung”

“Ah, Nyonya Choi, silahkan duduk.” Katanya ramah. Aku mengikuti perkataannya dan duduk tepat di depannya.

Seketika wajah ramah dokter Jung berubah menjadi ekspresi yang cukup serius membuatku seakan bertanya ada apa, “Bagaimana hasil testku kemarin, dokter?”

Dokter Jung menyerahkan sebuah amplop berwarna cokelat berukuran sedang, segera kuambil dan kubuka hasil testku yang sudah kutunggu – tunggu sejak lama. Aku membukanya dan mendapati sebuah photo yang aku tidak mengerti maksudnya apa, aku hanya tahu itu adalah bagian perutku dan dari photo itu aku hanya tahu yang mana itu lambung, “Apa maksud semua ini, dokter? Ada apa denganku?”

**

Saat sampai di kamar tidurku, aku langsung membanting tubuhku keatasnya dan tanpa sadar air mata ini terus keluar, dengan susah payah ku tahan tangisku ini pecah saat mendengar fakta yang sama sekali tidak pernah ingin kuedengar ataupun aku tahu, lelehan cairan bening nan asin itu kini tidak hanya membahasi pelupuk mata dan bantal tidurku, tapi juga membuat hati yang sudah terluka semakin perih terkena ‘carian’ menyakitkan ini.

Aku tahu ini konyol, aku memang sering menangis karena masalah aku mandul dan Siwon oppa menikah lagi dengan yeoja lain, tapi apa ujian hidupku masih kurang cukup untuk dijalani oleh wanita rapuh dan melankolis sepertiku?

Kenapa sekarang aku sulit sekali merasakan kebahagiaan?

Apa seorang Tiffany Hwang tidak pantas mendapat kebahagiaan?

Sepertinya aku harus kembali melayani Tuhan, mungkin aku mempunyai kesalahan yang terlalu besar di mataNya.

END OF TIFFANY POV

**

4 bulan kemudian………….

 

“Yoona agassi sedang pergi ke supermarket dengan Kibum doryeonim, mungkin sebentar lagi pulang”

Ekspresi wajah Siwon berubah kecut mendengar kabar tidak mengenakan yang satu ini, hatinya serasa sedikit memanas karena kesal dengan tingkah Kibum, “Lalu…bagaimana dengan keadaan janinnya?”

“Janin Yoona agassi baik – baik saja, tapi akhir – akhir ini dia sering menendang – nendang perut agassi, tapi doryeonim tenang saja karena Kibum doryeonim sudah membantu agassi dengan mengelus – ngelus perutnya”

Siwon yang sejak tadi sudah kesal, kali ini bertambah kesal dan sebal dengan tingkah Kibum yang menurutnya genit dengan Yoona, “Dasar bocah keparat” umpatSiwon dalam hati.

Ara, aku tutup dulu ahjumma, gomawoyo untuk informasinya”

KLIK~

Siwon memutus panggilannya secara sepihak karena sudah emosi mendengar jawaban – jawaban dari Hong ahjumma tentang Yoona dan Kibum. Feelingnya yang mengatakan bahwa Kibum menyukai Yoona sepertinya memang benar, ditambah dengan waktu yang Kibum habiskan dengan Yoona jauh lebih banyak dibanding dirinya dengan Yoona.

Seandainya ini bukan rumah sakit, mungkin Siwon harus membeli ponsel baru, karena ponsel ini akan mengakhiri hidupnya karena ‘jatuh dari langit’.

CKLEK~

Pintu berwarna dominan putih itu terbuka dan terlihatlah sepasang suami istri yang keluar dengan senyum sumringah dari keduanya disertai kecupan – kecupan di telapak tangan sang wanita yang diberikan oleh sang pria, Siwon yang melihatnya merasa aneh dan langsung menghampiri pasangan suami istri yang terlihat berbahagia itu, “Hyung, Noona, waegurae? Apa kata dokter?”

Taeyeon dan Leeteuk saling melirik, masih dengan senyum kebahagiaan mereka membuat Siwon semakin jengah dengan tingkah pasangan ini, “Yak! Wae!?”

“Ucapkan selamat pada kami…” kata Taeyeon membuat Siwon menebak – nebak apa maksudnya, “Maksud Noona? Noona—“

Ucapan Siwon yang terbata – bata langsung dijawab Leeteuk dengan mengelus – ngelus perut Taeyeon yang masih datar, “MWO? NOONA, KAU..KAU HAMIL?” pasangan yang sedang berbahagia ini mengangguk bersamaan membuat Siwon tertawa gembira, saat itu juga Siwon lupa dengan masalahnya.

“Astaga, chukkae noona, hyung!” kata Siwon dengan suara kegembiraan yang terdengar jelas di telinga pasangan itu, Siwon memeluk mereka satu per satu diiringi dengan senyuman yang lebar, “Kenapa lama sekali memberi tahu kabar gembira ini?” Siwon pura – pura kesal dengan wajah aegyonya membuat Taeyeon menyendulkan kening adiknya itu.

Aigoo, mwoya. Jangan memasang wajah seperti itu, sangat menjijikan” Siwon dan Leeteuk tertawa bersama.

Kali ini giliran Siwon menjahili sang kakak ipar, “Hyung, apa yang sudah kau lakukan pada Noonaku hingga dia hamil? Beritahu aku langkah – langkahnya!” Tanya Siwon dengan ekspresi menggoda yang kentara sekali membuat Taeyeon malu.

“Hah, kau juga sudah tahu bagaimana caranya! Buktinya istrimu yang ada di Gangwon sekarang sedang hamil, bahkan usia kandungannya sudah 5 bulan!” Siwon menyenggol bahu Leeteuk untuk membalas ejekannya.

Siwon melirik Noonanya, “Yak, kau harus cepat – cepat menghubungi Yoona sebelum kau kena omel olehnya!”

Taeyeon dan Leeteuk menoleh kearah Siwon dengan ekspresi bingung, sedangkan Siwon belum menyadari kebodohannya, “Kau bilang apa tadi?” Tanya Taeyeon membuat Siwon ikut bingung, “Heuh? Memang tadi aku bilang apa?”

Taeteuk kembali saling melirik dan tiab – tiba mereka memperhatikan Siwon dengan wajah menggoda, “Kau bilang kami harus menghubungi Yoona agar kami tidak kena omel olehnya. Aku yakin yang kau maksud adalah eomma, tapi kenapa kau bilang ‘Yoona’?” ledek Taeyeon.

Rasanya Siwon ingin memukul mulut dan otakku yang bodoh ini karena sudah keceplosan, dia terlihat gelagapan membuat TaeTeuk semakin ingin menertawainya sekencang mungkin, “Ka..kapan aku bilang begitu?”

“Oh….jadi seorang Choi Siwon sangat merindukan sosok Yoona, kalau begitu kenapa kau tidak menghampirinya dan mencumbunya??”

“Ah yeobo, mungkin dia terlalu malu untuk mengakuinya di depan kita, bisa saja setiap kali dia mengunjungi Yoona dia melakukannya”

Siwon sukses menjadi bahan ledekkan oleh Taeyeon dan Leeteuk, pada dasarnya sifat mereka berdua sama – sama jahil, dan indahnya dunia adalah ketika Siwon dijahili oleh mereka berdua, bak kelinci kecil yang polos yang sedang diganggu oleh 2 serigala jahil, Siwon berhasil dijahili oleh TaeTeuk.

Yak! Berhenti meledekku! Dasar pasangan tua!” cela Siwon kesal lalu berjalan meninggalkan mereka di koridor, TaeTeuk tertawa – tawa melihat ekspresi Siwon yang kesal namun jelas terlihat sangat malu—yang membuatnya semakin terlihat bodoh.

“Kau harus segera menjenguk Yoona sebelum rasa rindumu membuatmu semakin frustasi, Simba!” jerit Leeteuk kembali meledek Siwon.

“OH SHUT THE FUCK UP!”

**

Sulli sedang mempersiapkan diri di ruang tunggu untuk ujian beasiswa di sebuah universitas ternama di Amerika, Harvard. Perjuangannya selama 12 tahun menjadi seorang siswi dan duduk di bangku sekolah harus dia tinggalkan baik – baik dengan hasil maksimal agar dia bisa meraih cita – citanya menjadi seorang designer, karena alasan itulah dia meminta kepada kedua orang tuanya untuk mengijinkannya tinggal di rumah Siwon supaya bisa lebih bebas melakukkan apa saja, tapi tentunya dia mempunyai alasan yang jitu sehingga Nyonya Choi percaya bukan itu alasan Sulli dan akhirnya mengijinkannya tinggal disana, dan tentunya setelah meminta dan berdebat dengan Siwon.

Hari ini Sulli ditemani Tiffany, mulai mengikuti test beasiswa Harvard University jurusan design tentunya, Sulli dan Tiffany berdoa bersama dan setelah itu mereka tersenyum lega, Sulli bangkit dari duduknya lalu berjalan kearah pintu masuk ruang ujuian, “Sulli-ah, hwaijing!” kata Tiffany memberikkan semangat, Sulli tersenyum senang namun terlihat rasa gugup tetap menempel di wajah imutnya, “Ne eonnie, gomawo, doakan aku ne” Tiffany mengangguk pasti dan Sulli sekarang sudah benar – benar masuk ke dalam ruang ujiannya.

Tiffany menghela nafas gugup sekaligus senang akhrinya adik iparnya bisa masuk ke jenjang universitas, maklum, perbedaan usia Siwon dan Sulli benar – benar terpaut jauh, apalagi antara Taeyeon dan Sulli. Tiffany mengeluarkan ponselnya lalu mencari nama kontak yang sangat sering dia hubungi, dia tempelkan iPhone putihnya ke telinga kanannya, menunggu seseorang disebrang sana untuk menjawab panggilannya sambil mendengarkan ‘alunan’ nada tunggu.

Yeoboseyo? Yeobo, kau ada dimana sekarang?”

**

“Taeyeon noona hamil, usia kandungannya baru 2 minggu” kata Kibum sambil mendudukan dirinya di teras villa, tepat disamping Yoona yang sedang bersantai disana, Yoona terlihat gembira mendengar kabar itu, “Jinjja? Wah chukkaeyo, aku ingin mengucapkan selamat pada Taeyeon eonnie”

Kibum menaikkan bahunya, “Mungkin kali ini kita bisa ke Seoul.”

Yoona langsung menoleh mendengar kalimat yang dikatakan oleh Kibum, dia sangat gembira jika hal itu bisa terjadi, pasalnya sudah 4 bulan dia tidak pernah mengunjungi appanya, dia sangat merindukan keluarga satu-satunya yang masih hidup, “Kalau begitu kapan kita bisa ke Seoul?” nada antusias dari Yoona membuat Kibum bingung, “Kenapa kau semangat sekali, Yoong?”

Dengan mata berbinar, Yoona menanggapi pertanyaan Kibum dengan nada ceria, “Aku rindu dengan appa, sudah lama kami tak bertemu” kata Yoona. Kibum mengangguk mengerti, “Benar juga, pasti kau merindukan abeonim

Sekali lagi, Yoona menoleh cepat kearah Kibum saat pria itu memanggil appanya dengan sebutan ‘abeonim’, itu terdengar aneh mengingat Kibum bukanlah suaminya dan Yoona bukanlah istri pria itu. Yoona yang ingin menegur Kibum, sedetik kemudian dia mengerti apa maksud dan arti dari kalimat Kibum tadi. Yoona berusaha pura – pura tidak perduli agar Kibum tidak bisa memperpanjang masalah, dia khawatir Kibum akan kembali membahas soal perceraiannya dengan Siwon dan pernikahannya dengan Kibum.

Ponsel Kibum berdering menandakan sebuah panggilan, Kibum langsung merogoh kantung celananya, terlihat nama ‘Leeteuk Hyung’ disana, dengan gerakan cepat Kibum memencet tombol hijau untuk menjawab panggilan imonya, “Oh hyung, waeyo?”

Yoona sekarang sibuk memperhatikan Kibum yang sedang di telpon oleh kakak iparnya, dia berharap mereka benar – benar bisa ke Seoul. Untuk urusan bagaimana caranya Yoona kabur dengan perut yang besar dari rumah Siwon untuk menemui appanya, itu adalah urusan yang tidak perlu dipikirkan terlalu dalam—menurut Yoona.

“Bum-ah, lusa kau datang ke Seoul ya, ada sesuatu yang harus dibicarakan tentang perusahaan, mungkin kau harus mengajak Yoona karena ini membutuhkan waktu yang tidak sebentar”

“Oh arayo, kami tidur di rumah Wonnie?”

Jika Yoona tidak ingat dia sedang hamil, mungkin dia akan meloncat kegirangan karena akhirnya dia bisa ke Seoul setelah 5 bulan full tinggal di Gangwon.

“Tentu saja, rumahku terlalu kecil untuk didatangi tamu seperti kalian, terlebih kau Kibum-ah!”

Kibum tertawa mendengar perkataan Leeteuk, “Mwoya, ingat hyung kau akan menjadi ayah bagi bayi di rahim Noona, jangan meledek orang”

Disebrang sana terdengar Leeteuk juga tertawa, “Arayo, intinya kau harus ke Seoul okay”

“Arayo, Hyung”

KLIK~

Kibum meletakkan iPhonenya diatas meja setelah kakak sepupunnya memutus sambungan teleponnya secara sepihak, lalu dia menatap Yoona yang sekarang sedang menatap Kibum meminta jawaban, Kibum pun tersenyum menenggapi tingkah tak sabar Yoona, “Kita akan ke Seoul!”

Yoona langsung tersenyum dan tertawa gembira, dia senang sekali bisa pergi ke Seoul, bayangan bertemu appanya walaupun dalam keadaan koma dan tidak bisa membalas perkataannya membuat Yoona sangat gembira, Kibum ikut tersenyum melihat tingkah Yoona. Kibum rindu ini, senyuman dan tawa dari seorang gadis bernama Im Yoona, dan dia cukup senang bisa mengembalikan hal itu dalam waktu 5 bulan.

Kejadian yang sering sekali di lihat seorang pria kembali menyulut emosi dari dalam dirinya, tangannya kirinya mengepal kuat sedangkan tangan kanannya sibuk meremas stir yang tidak berdosa, matanya memancarkan api karena hatinya sudah terbakar, ya sejujurnya ini sudah sering sekali dia lihat, bahkan hampir setiap dia melakukan ini, dia melihatnya. Tapi dia tidak bisa berbuat banyak, dia hanya bisa terduduk di dalam mobilnya sambil memandang kesal kearah laki – laki yang sepertinya sangat mencintai istrinya.

Choi Siwon, pria ini sedari tadi mengamati tingkah Yoona dan Kibum tanpa disadari oleh mereka, seminggu 2 kali Siwon melakukan ini, atau jika dia tidak sibuk dia bisa melakukannya 3 kali dalam 1 minggu. Itulah cara Siwon untuk mengamati Yoona selama 5 bulan terakhir, hanya bisa menatapnya dari balik jendela mobil audi hitamnya. Terkadang dia bisa tersenyum sendiri melihat tingkah Yoona hari itu, atau dia bisa dimakan oleh rasa kesal dan cemburu seperti saat ini.

Ponsel Siwon bordering karena seseorang berusaha memanggilnya, dengan gerakan cepat dia mengambil dan melihat layar iPhonenya, terpampang nama ‘Tiffany’ disana, Siwon pun mengangkat panggilan tanpa mengalihkan pandangan dari Yoona dan Kibum.

“Yeoboseyo? Yeobo, kau ada dimana sekarang?”

Siwon menggaruk tengkukku, bingung harus menjawab apa, “Hmm….aku sedang pergi sebentar, apa kau ingin dijemput sekarang?”

“Ne yeobo, jemput aku ya di tempat ujian beasiswa Sulli.”

“Ara, aku akan segera kesana, lalu bagaimana dengan Sulli?”

 “Sulli bilang dia akan meminta tolong Taeyeon eonnie untuk menjemputnya.”

“Ara, tunggu aku disana ne”

KLIK

Siwon memutuskan sambungannya dengan Tiffany lalu kembali melirik Yoona yang masih asyik berbincang dengan Kibum.  Siwon berusaha tidak memperdulikan itu semua dan langsung menyalakan mesin mobilnya untuk menjemput Tiffany, tidak ingin menambah kekesalan di hati, Siwon segera memutar kemudi mobilnya untuk meninggalkan villa kayu itu.

**

Siwon membulatkan matanya kaget mendengar perkataan Tiffany tadi, “Mwo? Menunda keberangkatan ke Afrika? Wae yeobo?” Tanya Siwon cepat, suara Siwon yang cukup keras membuat Tiffany merasa terganggu karena mobil Siwon sering memantulkan suara jauh lebih keras dari suara aslinya.

Tiffany mendelikkan matanya merutuki kebodohan suaminya, “Astaga Yeobo, ya tentu saja karena pihak gereja yang menundanya, kau ini bagaimana!”

Pria itu hanya bisa menghembuskan nafasnya berlebihan, dia berfikir jika ada Tiffany akan sulit berdekatan dengan Yoona. Sejujurnya dia juga belum tahu bagaimana caranya berdekatan dengan istri keduanya, tapi yang jelas dia harus melakukannya sebelum Kibum melangkahinya, “Ani, aku hanya tidak mau ditinggal sendirian oleh istriku tercinta!”

Tiffany menoleh dengan ekspresi curiga, “Yeobo, pertanyaanmu sama sekali tidak ada unsur kau menginginkanku di Korea lebih lama, justru sebaliknya kau malah mengharapkanku pergi secepat mungkin!”

Siwon menggeleng cepat, walaupun apa yang dikatakan Tiffany benar, tetap saja dia harus menggeleng, “Mwoya, kau ini bicara apa, Sayang? Tentu saja tidak, aku hanya takut sendirian.”

Tiba – tiba ponsel Tiffany bordering, menandakan bahwa ada seseorang yang mengiriminya pesan singkat,  dia melihat nama ‘ Taeyeon’ di layar ponsel touch screennya, dengan cepat dia membuka pesan itu, takut ada sesuatu yang penting. Dia membacanya perlahan, kerutan tiba – tiba muncul di kening Tiffany, tanpa sadar dia membuang nafas berlebihan lalu memandang sosok Siwon yang sedang asik menyetir, “Yeobo, ternyata Kibum dan Yoona yang akan stay di Seoul selama 3 hari, Kibum dan Leeteuk oppa sepertinya ada pekerjaan” Tanya Tiffany sambil memainkan iPhonenya.

Senyuman tipis tergambar di wajah tampan Siwon, “Jadi mereka akan disini selama 3 hari?” batinnya bertanya.

**

Setelah perjalanan selama hampir 1 jam menuju pusat kota, Yoona dan Kibum berhasil sampai di Seoul di sore hari, mereka –atau lebih tepatnya Kibum, sengaja membawa Yoona datang ke Seoul sore – sore karena Kibum memiliki rencana tersendiri yang tidak diketahui oleh Yoona.

Mata Yoona menatap aneh kearah bangunan yang ada di depannya. Mereka ada di depan Han River, untuk apa Kibum membawanya kesini? Apa serindu itu dia dengan Han River?

Yoona menatap Kibum meminta jawaban, Kibum hanya membalasnya dengan senyuman tipis lalu membuka seatbeltnya, dia keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk ‘gadisnya’, “Kenapa kita kesini?”

Tanpa banyak bicara, Kibum segera menggandeng tangan Yoona dengan erat membuat Yoona semakin bingung dan tidak mengerti apa maksud dari semua ini, sampai Kibum membawanya ke tepi sungai, tatapan bingung dari Yoona kembali dijawab oleh senyuman tipis dari Kibum.

Mengingat cuaca yang sedikit mendung, banyak orang yang lebih memilih menyantap ramyeon sambil menonton televisi atau sekedar menghangatkan diri di sauna yang hangat sehingga keadaan di Han River sedikit sepi tidak seperti biasanya.

“Bum-ah, untuk apa kita kesini?” Tanya Yoona sekali lagi, berharap pertanyaannya terjawab.

Kibum menoleh kearah Yoona dengan tatapan yang sulit diartikan, dia membuang nafas berlebihan lalu kembali menatap ke depan, “Ternyata kau benar – benar sudah lupa dengan janji kita, Yoong.”

Janji?

Janji apa?

Mata Yoona seakan mempertanyakan hal itu saat dia menatap Kibum, tanpa disangka kotak berwarna cokelat yang beberapa bulan lalu Yoona lihat kembali muncul di hadapannya. Yoona baru teringat akan janji apa yang Kibum maksudkan, matanya tiba – tiba menyorotkan tatapan kebencian dan sakit hati, “Sudah kubilang kita tidak perlu mengenang janji itu lagi, janji itu…….sudah berakhir 10 tahun yang lalu!” tegas Yoona dengan mimik serius.

Kali ini Kibum berusaha mempertemukan matanya dengan mata Yoona yang tadi sempat membuang muka, “Apa kau mengharapkan Choi Siwon bersamamu?”

Yoona terdiam. Dia tidak bisa berkutik karena apa yang Kibum katakan memang benar, gadis berkulit bayi itu langsung mengalihkan pandangannya, dia tidak mau Kibum menyadari kegugupannya, “Mwoya, apa yang kau bicarakan”

Kibum tersenyum miring mendengar pembelaan tak penting yang Yoona ucapkan, “Aku tahu kau menyukainya, aku tahu kau mencintainya, kan? Tapi apa dia merasakan apa yang kau rasakan?”

Nafas Yoona tercekat diiringin dengan hati yang terasa perih, sejujurnya Yoona tahu apa yang sedari tadi dikatakan Kibum adalah benar adanya, Yoona hanya terlalu berharap dan hanya bisa berharap, jika mengingat fakta ini membuat Yoona semakin sakit, lebih baik dia berusaha melupakannya, “Sadarlah Yoong, dia membencimu! Dia tidak menginginkanmu! Kau hanya sekedar alat untuknya, apa kau lupa betapa kasarnya dia terhadapmu? Betapa menyebalkannya kau di matanya? Bahkan dia tidak mengerti mengapa kau rela melakukan ini, dengan teganya dia tidak pernah menjengukmu, menanyai kabarmu, atau bahkan sekedar menyatakan kasih sayangnya terhadapmu, apa kau ingin hidup dengan pria yang sangat membencimu?”

Mata Yoona mulai memerah, “Yang ada di hatinya hanya Tiffany Hwang, jika Tiffany tidak mandul, dia tidak mungkin mau menikahimu, Yoona-ya. Dan sekarang saat kau sudah membantunya, dia hanya bisa memberikan perlakuan yang sangat menjijikan, apa kau ingin di perlakukan seperti itu dari seorang pria?”

“Hentikan!”

“Choi Siwon tidak pernah melihatmu, dia tidak pernah menyayangimu, dia tidak pernah perduli padamu, lalu untuk apa kau memiliki perasaan itu pada pria tidak berguna sepertinya? Lupakanlah orang yang tidak mencintaimu, lupakanlah dia.  Masih banyak yang ingin memilikimu, termasuk aku, Yoong!”

Tak terasa buliran air mata sudah membasahi di pelipis dan pipi tirus Yoona, gadis itu sudah tidak tahan dengan kata – kata Kibum yang benar – benar membuatnya sedih dan sakit hati, dia menyetujui semua yang dikatakan Kibum. Dia sudah teracuni oleh kata – kata Kibum, dia tidak menyadari ini semua sengaja dilakukan Kibum, pikiran Yoona terlalu terbawa oleh perkataan dan fakta yang dikatakan oleh pria putih itu, suara isakan kecil terdengar jelas dari mulut Yoona.

Kibum tersenyum, dengan gerakkan lembut dia meraih kepala Yoona dan menyandarkan kepala itu di dadanya, membiarkan Yoona menghabiskan tangis patah hatinya disana, Kibum tidak perduli isakan Yoona yang semakin lama semakin kencang dan berirama, yang dia tahu………..rencananya berhasil.

Ketika dia merasa Yoona sudah mulai tenang, pria itu melepaskan pelukannya dan memaksa Yoona menatap matanya. Mata merah Yoona bertatapan dengan mata lembut milik Kibum, senyum hangat Kibum membuat Yoona terbuai. Kibum mengambil kotak yang sempat dia letakkan di bawah lalu mengarahkannya pada Yoona.

“Sekarang ayo tepati janji kita untuk membuka kotak ini di Sungai Han” kata Kibum.

Rencana pria itu sepertinya berhasil, Yoona pun mengangguk setuju membuat Kibum tersenyum penuh kemenangan. Yoona dan Kibum mendudukan dirinya diatas bebatuan, Kibum mengambil kunci kecil dan langsung memasukkannya ke dalam lubang di bagian depan, setelah itu terbukalah kotak reot itu. Sebuah lullaby mulai berdentang diiringi dengan sebuah boneka sepasang kekasih yang sedang berdansa berputar – putar di dalamnya, Yoona tersenyum melihat kotak itu, dia seperti teringat dengan memori lama.

Yeppoda..”

Kibum memasukan kunci ke lubang di sebelah kanan dan kotak music itu langsung berubah menjadi tempat penyimpanan barang yang berada tepat di bawah kotak itu. Di dalamnya terdapat sebuah liontin berbentuk hati, 2 buah cincin, dan 2 benang wol berwarna putih berukuran besar. Yoona mulai terbawa suasana, dia ingat semua barang ini, bahkan dia ingat semua barang ini adalah hasil pilihannya.

“Bum—“

“Indah, kan? Seperti teringat memori lama kita, Yoong.” Yoona tersenyum mendengarnya.

Kibum mengambil 2 benang wol yang sudah rapuh itu lalu membentuk kedua benang itu menjadi sebuah cincin yang terlihat sangat lucu, Yoona hanya memperhatikannya dengan cermat. Kibum mendongak dan langsung mendapati Yoona yang juga sedang menatapnya, senyum mengembang di wajah tampan Kibum saat dia meraih tangan Yoona, perlahan dia mengambil ‘cincin’ tadi.

“Di dunia ini, hanya aku….aku yang mencintaimu dengan tulus, aku tidak pernah berpaling darimu, aku selalu teringat olehmu, bahkan disaat aku tertidur, kau datang di mimpi – mimpiku membuatku semakin merindukanmu. Mianhae aku pernah meninggalkanmu dulu, tapi sekarang, aku bersumpah tidak akan melakukan perbuatan terkutuk itu kembali. Aku tidak perduli sekarang statusmu adalah istri pria lain, yang aku tahu adalah keingin menghabiskan sisa hidupku bersamamu untuk selama – lamanya. Aku mencintaimu, Im Yoona. Aku sangat – sangat mencintaimu melebihi diriku sendiri, aku akan melakukan segala cara untuk bisa bersamamu, saranghae.”

Hati Yoona bergetar mendengar pernyataan cinta Kibum, sekalipun dia sadar hatinya sudah terisi penuh oleh sosok suaminya, tapi apa yang Kibum katakan dan pria itu lakukan terhadapnya sanggup membuatnya berfikir untuk kembali pada pria yang ada di hadapannya. Kibum mencintainya dengan tulus, Kibum menyayanginya, Kibum perduli padanya, dan Kibum memandangnya. Sekali lagi batin Yoona mengalami perang, apa Yoona harus kembali pada Choi Kibum?

“Apa…kau mau kembali padaku? Kembali menjalani hubungan seperti dulu tanpa terganggu oleh siapapun?” Tanya Kibum dengan sorot mata member keyakinan dan harapan mutlak.

Dengan perasaan campur aduk, Yoona memutuskan untuk menerima Kibum kembali, mungkin hanya dengan cara ini dia bisa melupakan Siwon. Kepala Yoona mengangguk membuat Kibum tersenyum lebar. Kibum langsung meraih tangan Yoona dan menautkan cincin wol itu di jari manis Yoona, gadis itu tidak melawan sama sekali.

“Sekarang giliranmu, Yoong” kata Kibum sambil menyerahkan cincin yang lainnya pada Yoona.

Yoona mengambil cincin itu dan menautkan di jari Kibum, perasaan bahagia kini sukses menyelimuti hati Kibum sedangkan Yoona hanya diam tak memberikan respon, dia masih memikirkan apakah keputusan yang dia ambil sekarang adalah sebuah keputusan yang tepat atau salah.

Kibum lalu langsung meraih tubuh Yoona dan memeluknya dengan erat sedangkan gadis itu hanya diam tak bergeming, “Mungkin hari ini hanya sebatas cincin rapuh yang mengikat kita kembali, tapi setelah kau melahirkan bayi mereka, kau akan langsung menjadi milikku, Sayang” kata Kibum sambil mengelus – ngelus rambut Yoona sayang.

Dibalik itu semua, Kibum tersenyum menyeringai saat menyadari rencananya semakin lama semakin berhasil dan sukses membuat Yoona kembali padanya, dan melupakan Siwon.

**

Siwon melipat kedua tangan kekarnya di dada sambil memperhatikan Tiffany yang sedang mempacking barangnya. Jangankan membantu, sejujurnya dia cukup kesal Tiffany harus berangkat besok karena belum ada Yoona di rumah ini, Tiffany melirik wajah kesal Siwon lalu tersenyum tipis, “Kenapa wajahmu selalu di tekuk ketika aku ingin berpergian, Yeobo? Bukankah kau sudah mulai terbiasa selama 5 bulan ini?”

Yak! Bagaimana kau tega meninggalkan suamimu yang tampan ini selama 2 minggu, heuh?”

Tiffany tertawa singkat menanggapi protes yang Siwon lontarkan, “Inikah untuk melayani Tuhan, kau ini bagaimana sih!” mendengar jawaban Tiffany, Siwon hanya mengembungkan pipinya kesal sambil mengalihkan pandangan dari Tiffany.

Di sisi lain, Kibum dan Yoona berjalan beriringan menuju rumah Siwon sambil membawa 2 koper kecil, atau lebih tepatnya Kibum yang membawanya, dalam keadaan Yoona yang sedang hamil, Kibum tidak mungkin menyuruh Yoona yang membawanya.

Yoona menatap sekilas rumah yang sudah dia tinggalkan selama 5 bulan belakangan ini, perasaan senang kembali muncul saat dia sadar dia kembali tinggal 1 atap dengan Siwon, sekalipun Yoona tahu Siwon tidak suka hal itu. Bayangan wajah Siwon yang selalu dingin terhadapnya membuat Yoona harus menyimpan baik – baik perasaannya, toh sekarang dia ingin berusaha kembali pada pria di sampingnya.

TING TONG TING TONG~

TING TONG TING TONG~

Suara bell membuat Siwon dan Tiffany mengalihkan perhatian mereka, “Hmm..Siapa yang datang malam – malam begini?” gumam Tiffany bingung sambil melirik jam dinding kamarnya yang menunjukkan pukul 07:46 KST.

“Biar aku yang membukakan pintu, chamkkaman.” Kata Siwon lalu langsung bangkit berdiri dari aksi tidur-tidurannya dan berjalan keluar.

TOK TOK TOK~

“Tunggu sebentar!” teriak Siwon di salah satu anak tangga saat mendengar pintu yang kali ini di ketuk oleh sang tamu, Siwon berjalan sedikit tergesa – gesa dan langsung meraih gagang pintu untuk membuka pintu.

CKLEK~

Mata tajamnya membulat begitu melihat siapa yang datang, “Annyeong Siwon-ssi!” sapa Kibum ramah. Siwon memutar bola matanya seraya tersenyum sinis mendengar Kibum memanggil namanya dengan embel-embel –ssi, diliriknya gadis yang ada di sebelah Kibum, gadis itu terlihat semakin cantik dengan dress selutut berwarna putih dengan motif leopard yang cantik.

“Siapa yang datang, Yeobo?” Tanya Tiffany dari balik tangga membuat mereka bertiga mengalikan pandangannya kearah Tiffany.

Omo! Yoona-ya, Kibum-ah, kalian datang malam ini? Bukankah setahuku kalian datang besok?” Tanya Tiffany cukup kaget melihat Yoona dan Kibum yang tiba – tiba datang ke rumah mereka, “Aku hanya berfikir jika aku berangkat besok, kami tidak sempat berjalan – jalan bersama seperti tadi, jadi aku memutuskan untuk berangkat hari ini saja~”

Tiffany mengangguk mengerti sedangkan Siwon sibuk mencerna kata – kata Kibum dengan baik. ‘berjalan – jalan bersama seperti tadi’? Jadi mereka melakukan ‘kencan’ di baliknya? Hati Siwon sedikit memanas mendengar kalimat Kibum.

Hajiman, mianhae aku belum sempat membereskan kamar untukmu dan—“

“Tenang saja, Fany-ah, tidak perlu repot – repot begitu. Aku siap tidur di gudang jika memang tidak ada kamar untukku, tapi tolong utamakan gadis yang ada di sebelahku ini, kurasa tadi malam dia sedikit merasa kurang nyaman karena bayinya terus menendang sehingga aku harus membantunya mengelus perut besar itu, hahaha” kata Kibum tertawa di buat – buat sambil melirik perubahan wajah Siwon yang semakin kecut mendengar cerita Kibum. Kibum senang sekali melihat ekspresi tidak suka yang ditampilkan oleh Siwon, belum lagi mata tajamnya yang menatap Kibum bak elang yang sudah siap menerkam mangsa yang meledekknya.

Arayo, kajja Yoona kita ke kamarmu Yoona, aku akan menyiapkan kamar sebelah Yoona untuk Kibum.” kata Tiffany saat sudah sampai di lantai bawah dan langsung membimbing Yoona untuk berjalan menuju kamarnya yang ada di bawah, “Fany-ah (tidak yeobo)” panggil Siwon membuat YoonFany menoleh kearahnya.

“Lebih baik—“ kata Siwon menggantungkan kata – katanya lalu menatap Kibum dengan dingin, “Kibum tidur di lantai bawah saja, sekalian menemani Sulli, bukankah kamar tamu di sebrang meja makan tidak seburuk itu?” Seringai bengis terlihat jelas di wajah Kibum saat mendengar keputusan sepihak yang dicetuskan oleh Siwon.

Kibum mengangkat bahunya tanda tidak perduli, “Bukankah aku sudah bilang aku bisa tidur dimana saja asal Yoona mendapat tempat?”

Tiffany terdiam menyadari ‘bendera perang’ sudah mulai berkibar diantara suami dan iparnya, begitupun dengan Yoona yang hanya bisa mendapat keduanya dengan tatapan tak percaya, “Yasudah, kau tahu kan Kibum dimana kamar itu? Setelah aku membantu Yoona, aku akan membereskan kam—“

“Tidak udah dibereskan! Bukankah kau juga lelah, Fany-ah (tidak yeobo)? Lagipula SAUDARA SEPUPUKU ini bisa tidur dimana saja!” kata Siwon sambil menekan kata ‘Saudara sepupu’. Karena sudah malas melihat sosok Kibum yang kembali tinggal bersamanya walaupun hanya beberapa hari, Siwon langsung berjalana menaiki tangga, meninggalkan 2 sosok wanita yang terdiam dan seorang pria yang hanya bisa tersenyum miring mendapat perlakuan tidak enak dari sepupunya.

**

“Kau yakin tidak ingin kuantar sampai ke dalam?” Tanya Kibum pada Yoona saat mobilnya sudah sampai di depan lobby sebuah rumah sakit, tentunya rumah sakit dimana Mr. Im dirawat. Yoona menggeleng sambil tersenyum menenangkan pria itu, dia menepuk – nepuk pundak Kibum sambil tertawa geli, “Aigoo…aku bukan seorang halmoni yang harus dijaga setiap saat, lebih baik kau temui Leeteuk oppa secepatnya, mungkin ini sangat penting hingga memintamu harus stay di Seoul selama 3 hari.”

Kibum masih menatap Yoona dengan sedikit ragu, tatapan sendu yang Yoona berikan membuatnya sedikit lembut, dia membelai rambut panjang Yoona membuat Yoona diam, “Ara, aku pergi, nanti akan ku jemput, arasseo?” Yoona mengangguk.

Mata Yoona membulat sempurna saat merasakan Kibum mencium keningnya dengan pelan namun terkesan mendalam, “Annyeong!” pamit Kibum lalu segera berlari menuju mobilnya yang dia biarkan berdiri di depan pintu masuk. Yoona masih terdiam karena kejadian tadi, tapi dia juga tidak bisa memarahi Kibum karena kemarin mereka sudah ‘bersatu’ kembali.

**

TOK TOK TOK~

Leeteuk yang sedang sibuk berkutat dengan dokumen – dokumennya langsung mengalihkan perhatiannya saat mendengar pintu ruang kerjanya diketuk oleh seseorang, pria itu tersenyum begitu tahu siapa yang datang, “Kibum-ah,aku sudah menunggumu sejak tadi.”

Kibum tersenyum melihat Leeteuk yang sedang berjalan mendekatinya, mereka pun melakukan high 5 singkat, “Ayo duduk” ajak Leeteuk mempersilahkan adik sepupunya itu untuk duduk di sofa berwarna cokelat tua yang terlihat gagah.

“Apa yang ingin Hyung bicarakan?”

Seketika itu juga wajah Leeteuk menjadi serius, begitu pun juga Kibum. Mereka sudah terbiasa menempatkan diri di suasana manapun, di saat sedang bersantai, mereka bisa tertawa – tawa dengan kerasnya hingga membuat orang lain terganggu, tapi di saat bekerja, jangan pernah mengajak bercanda atau tidak serius jika tidak ingin pipi kalian memar.

“Tunggu sebentar” Leeteuk bangkit berdiri dan berjalan kea rah meja kerjanya, Kibum hanya memperhatikan Leeteuk yang sekarang sedang sibuk mencari dokumen yang sepertinya ingin ditunjukkan padanya. Kibum kembali bersikap lebih serius saat Leeteuk sudah berjalan kearahnya kembali dan duduk tepat di hadapannya.

Hyung diberi laporan bahwa cabang perusahaan kita yang berada di Seattle mengalami penurunan yang sangat drastis..” mendengar itu Kibum merasa kaget, “Penurunan? Apa yang menyebabkan hal itu terjadi?” kata Kibum lalu segera membaca dokumen yang diberikan Leeteuk padanya.

Leeteuk menggeleng – gelengkan kepalanya tanda tidak mengerti, “Mollayo, rumour mengatakan perusahaan yang lain mengambil ide perusahaan secara disengaja membuat proyek gagal total.”

“Lalu apa yang harus perusahaan lakukan untuk mmeperbaiki kerugian ini?”

Hyung…….ani, kita berdua harus stay di Seattle selama 1 sampai 3 minggu untuk memperbaiki segalanya.” Kata Leeteuk dengan lemas, seakan memberi tahu Kibum bahwa dia juga tidak menyukai ide ini.

“MWO? Kenapa harus kita……kenapa harus aku Hyung? Bukankah aku harus—“

“Menjaga Yoona?” potong Leeteuk membuat Kibum tidak bisa berkata apa – apa karena itu benar, “Itulah alasannya kenapa aku menyuruhmu mengajak Yoona, biar Siwon dan Tiffany yang menjaga Yoona. Selain itu, kau sudah 10 tahun tinggal di Amerika, tentu saja dengan bahasa inggris yang fasih akan membantu kita untuk menangani masalah ini.”

Tubuh Kibum terasa lemas mendengar keputusan sepihak yang diambil oleh perusahaan dengan memilihnya, bagaimanapun dia tidak rela berpisah lagi dari Yoona, kembali berjauhan dengan Yoona, dan bagian terpenting adalah dia tidak rela Yoona berdekatan dengan Siwon tanpa pengawasan darinya, belum lagi Tiffany yang akan berangkat ke Afrika hari ini juga. Memikirkan bagaimana keadaan saat Siwon dan Yoona hanya berdua di 1 atap membuat Kibum semakin frustasi.

“Tapi Hyung, Tiffany akan berangkat ke Afrika hari ini untuk pelayanan gereja, bukankah sangat tidak mungkin membiarkan Yoona dan Siwon berduaan di rumah?” cerca Kibum langsung membuat Leeteuk bingung dengan adik sepupunya ini.

“Kau ini sangat perhatian dengan Yoona, bukankah lebih baik seperti itu? Membiarkan Siwon dan Yoona berdua agar mereka lebih harmonis? Lagipula sebenci – bencinya Siwon terhadap Yoona, dia tidak mungkin menyiksa atau bahkan membunuhnya ‘kan?”

Kibum hanya bisa membuang nafas dengan kasar mendengar kalimat – kalimat Leeteuk yang sangat memojokkannya, kalau sudah begini dia hanya bisa pasrah dan mengikuti kehendak keluarga Siwon, atau jangan – jangan Siwon yang mengatur ini semua?

“Lalu….kita akan berangkat kapan?”

“Malam ini, pukul 23:00 KST. Tenang saja, tidak ada delay karena kita memakai pesawat pribadi” Bak sehabis jatuh ditimpa tangga, itulah yang dirasakan Kibum saat ini. Bahkan untuk melawan pun dia tidak bisa. Yang dia tahu sekarang, saat dia pulang nanti, dia harus segera packing lalu meninggalkan Korea selama berminggu – minggu.

“Sebaiknya kau pulang sekarang untuk bersiap – siap, Hyung juga akan bersiap”

**

“Yeobo, jam berapa kau akan menjemputku?”

“Mungkin sekitar 1 – 2 jam lagi, ada pekerjaan yang tidak bisa kutinggal begitu saja.”

Tiffany tersenyum maklum mendengarnya, “Ne aku mengerti, aku akan menunggumu!”

“Okay, bye~”

“Bye~”

KLIK~

Hari ini Tiffany harus berangkat ke Afrika untuk pelayanan gereja bersama ratusan wanita yang lainnya, seakan ingin menebus dosa – dosa yang sudah dia lakukan selama ini dengan beramal. Pada dasarnya wanita berdarah campuran Korea-Amerika ini memang tidak bisa diam, bahkan saat dia akan berangkat ke negeri lain, dia masih sibuk membereskan rumahnya.

Setelah membereskan kamar Yoona, Tiffany pun mengubah jalur pekerjaannya ke kamar Kibum dibantu dengan Lee Ahjumma, pengurus rumah Siwon atau teman Hong ahjumma untuk sementara, tapi kali ini Tiffany menyuruh Lee Ahjumma membeli beberapa cemilan karena dia lupa membawa cemilan untuk kesana sehingga dia membersihkan kamar Kibum sendirian, pertama – tama dia merapikkan meja, diiring lemari, dan yang terakhir tempat tidur, Tiffany merapikkannya mulai dari selimut sampai ke bantal dan guling, tak sengaja ekor matanya menangkap sebuah kotak berwarna coklat tua yang sedikit tertutup dengan bantal, rasa penasaran dan aneh menyelimutinya, dia pun mengambilnya sambil memperhatikkan kotak tua itu.

“Kotak apa ini? Selera Kibum kuno sekali” celetuk Tiffany asal, dia pun memutar – mutar kotak coklat itu dengan tatapan penasaran, “Tapi…. apa yang dia simpan di kotak kuno ini?” Tiffany mencari – cari kunci kotak yang diberi gembok kecil itu, dia tolehkan kepalanya ke kiri dan ke kanan, tangannya membuka setiap laci yang ada di sekitar tempat tidur Kibum, dia melirik kearah bantal dan mengangkatnya, saat itu juga terlihat sebuah kunci kecil yang diikat bersama tersimpan di bawah bantal, Tiffany tersenyum usil lalu mengambil kunci itu, “Dasar Kibum, dari dulu dia memang tidak pintar menyimpan sesuatu” kata Tiffany geli lalu mulai membuka kotak itu.

CKREK~

Kotak tua itu pun terbuka dengan suara reotnya, Tiffany berhasil membuka lebar kotak itu dan sebuah lullaby mulai berdentang diiringi dengan sebuah boneka sepasang kekasih yang sedang berdansa berputar – putar di dalamnya,“Yeppoda” kata Tiffany tersenyum sambil memperhatikan boneka itu menari dengan cantiknya.

Tak sengaja matanya melihat sisi kanan kotak dan mendapati sebuah lubang untuk kunci, “Lubang apa ini?” Tiffany mengamati kunci yang ada di dalam genggamannya lalu memasukkan kunci itu ke dalam lubang. Saat itu juga ‘pasangan’ itu berubah menjadi sebuah tempat penyimpanan barang tepat di bawah kotak.

Tiffany mendapati sebuah liontin besar dan 2 cincin yang sangat indah, Tiffany mengambil cincin itu dan memperhatikkannya dengan baik, tanpa sengaja matanya mendapati sebuah insial dibaliknya……..

“YB?” gumam Tiffany bingung. Dia pun meletakkan cincin itu kembali dan mulai mengambil liontin berbentuk hati tadi, dia juga mendapati sebuah tulisan di atasnya.

“I love you, now and 10 years later, we will still love each other and build a harmonious little family ….. Dear my deer<3”

Tiffany membaca tulisan di liontin itu, semakin penasaran dibuatnya, akhirnya dengan keyakinan yang kuat, dia perlahan membuka liontin cantik itu dan melihat bagian dalamnya…

 PRANGGG

Kotak tua itu pun terjatuh dari tangan cantik Tiffany, menimbulkan suara yang cukup nyaring, dan untunglah kotak itu tidak pecah atau rusak, kotak itu sekarang seakan menatap Tiffany yang sedang menatap kaget kearah liontin berbentuk hati yang tadi ada dalam genggamannya, “WHAT THE HELL IS THAT THING?” jerit Tiffany melihat foto dalam liontin tadi.

Terlihat di foto itu seorang gadis dan bocah laki – laki sedang memakai seragam sekolah mereka dan membentuk love sign, terlihat dari foto itu umur mereka mungkin baru sekitar 15 – 16 tahun, dengan senyum sumringah mereka berpose tanpa dosa di ‘hadapan’ Tiffany yang sekarang terkaget – kaget melihat foto 2 anak tadi, “Apa ini? Apa mereka sedang mempermainkanku?” jeritnya frustasi.

**

Kibum dengan langkah santai memasukki area rumah Siwon yang memang sangat luas dan besar, dia membuka pintu rumah dan langsung berlari menuju kamarnya di lantai bawah, dia melihat pintu kamarnya terbuka lebar. Pria berkulit putih itu pertama  tidak perduli dan tetap berjalan dengan langkah santai, sampai dia mendengar jeritan Tiffany dari dalam kamarnya, “Apa ini? Apa mereka sedang mempermainkanku?!”

Kibum menaikkan alisnya bingung, sedetik kemudian perasaan curiga menyelimuti hati dan pikirannya, dia pun mempercepat langkahnya lalu berdiri tepat di depan pintu kamarnya dan mendapati Tiffany sedang menggenggam liontin dengan tatapan campur aduk, dia juga melihat kotak tuanya jatuh ke lantai yang membuatnya menahan nafas melihat itu, “F-Fany..” panggil Kibum dengan nada ragu.

Tiffany yang mendengar suara Kibum langsung menoleh kearahnya tanpa berfikir dua kali, tatapan kaget pun langsung berubah menjadi tatapan marah darinya, “Kau” katanya singkat tapi terdengar sangat tajam dan mengerikkan di telinga Kibum, “Fany…a-aku…aku bisa jelaskan semuanya” katanya terbata.

Tiffany benar – benar menatapnya dengan amarah yang memuncak, “Jadi…jadi…kau dan Yoona….kalian…KALIAN MANTAN KEKASIH???” katanya emosi yang membuat Kibum benar – benar diam dan tak bisa berkutik lagi.

“Kalau itu memang benar, apa yang bisa kau lakukan?”

-To Be Continue-

Author’s note:

Akhirnya part ke-6nya selesai juga, gimana Nited part kali ini? Semoga bagus ya di mata para YoonWonited, dan tentunya semakin gak ngebosenin^^ semoga tetap melekat di hati~

FF author lambat banget ya? Jawabannnya ada 3 yaitu: sekolah, waktu, dan ide mentok-_- sebenernya pengen banget kayak author – author lain yang cepet kerjanya, tapi ya inilah author, author yang super duper sibuk dengan tugas sekolah-_- ^^ author juga demi apapun gak nyangka FF ini bisa nimbus angka 350 reader /terharu/ makasih banyak ya readers semua, mungkin klo gk ada kalian author blm bisa berkarya yg lbh baik lagi :’)

Dan untuk siders, author punya hadiah yang menyenangkan kok buat kalian di part lain~

Terimakasih buat echa dan resty eonnie yg berbaik hati bantu post FF ini disini^^ (you’re welcome..)

UNTUK SISANYA BISA DIBACA DISINI ‘Disclaimer of ‘Wife For My Husband’

Happy and Thanks for Reading, YoonWonited\m/

Iklan
Tinggalkan komentar

546 Komentar

  1. Disaat wonpa mulai suka yoona unnie, yoona unnie malah balikan T.T

    Balas
  2. Selalu tertarik sama konflik tiap chapt ny….^^

    Balas
  3. akhhhhh makin seru ceritanya …^^
    semoga ntar happy ending^^
    next part ^^

    Balas
  4. sahwa purem

     /  Agustus 6, 2016

    hhmmm muai komplik…

    Balas
  5. nitaadjah

     /  Februari 20, 2017

    ijin baca ya….
    terima kasih….

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: