[FF] Lovely Bride (My Silly Engagement’s Sequel)

Tittle                               : Lovely Bride (My Silly Engagement’s Sequel)

Genre                             : Romance, Family

Rating                             : Mature

Type                               : Chapters

Length                            : 4000+ words

Casts                              : Choi Siwon, Im Yoona, Kwon Yuri, Lee Donghae, Seo Joo Hyun, Jung Hyeri (OC)

Disclaimer                      : All the story and plot is mine. Do not copy or doing plagiarism. Please apologize for unidentified typo(s).

 

 

Halooo… Nited!!! Lama tak pernah kirim postingan ke YWK, kini aku datang lagi… Cerita ini adalah sekuel dari FF My Silly Engagement. Bagi yang belum baca endingnya silahkan klik My Silly Engagement (Chapter 14/End)

Untuk permintaan password silahkan mention @misskangen dengan menyebutkan ID komentar yang selalu digunakan ya…

Selamat membaca…^^

 

 

Story Part 1

 

 

“Jadi kau memutuskan untuk menikah?”

Yoona mengangguk.

“Setelah itu baru kau melanjutkan studi mastermu?”

Yoona mengangguk lagi.

“Apa kau berubah pikiran untuk menunda pernikahanmu sebelum mendapat gelar master?”

Kali ini Yoona menggeleng.

“Lalu mengapa sekarang kau bilang kau akan menikah dulu?”

Untuk pertanyaan terakhir bibir Yoona langsung mencebik dan wajahnya seperti anak kecil yang ingin menangis. “Terpaksa…”

Mwo??!!!” suara koor Seohyun dan Hyeri terdengar cukup memekakkan di telinga Yoona hingga ia harus menutup telinganya. Setelahnya Yoona hanya mendesis pasrah dengan kelakuan kedua temannya itu.

 

“Hei, Yoona. Kenapa tiba-tiba saja begitu? Bukannya kau bilang tidak ingin cepat menikah?” lanjut Hyeri setelah menyelesaikan koor dengan Seohyun.

“Dan apa tadi, terpaksa? Apakah terjadi sesuatu? Jangan bilang kau hamil? Maldo Andwe!” pekik Seohyun didukung anggukan Hyeri.

“Yak! Jangan sembarangan berbicara dan menuduhku!” suara Yoona terdengar melengking, mengalahkan pekikan kedua temannya yang masih setia menunggu klaim alasan Yoona untuk melangsungkan pernikahan setelah wisuda. “Ini tidak seperti yang kalian bayangkan. Aku tidak hamil, hanya saja aku terpojok karena suatu kejadian di luar dugaan.”

 

“Hah? Kejadian apa?” Seohyun penasaran akut. “Oh, aku rasa memang sudah terjadi sesuatu ketika kau berencana kawin lari dengan Tuan muda Choi itu, kan!”

Satu bantal sofa melayang tepat mengenai wajah Seohyun yang langsung mengubah ekspresi wajah gadis itu menjadi cemberut yang dibuat-buat. Yoona melemparkan tatapan kematian kepada kedua temannya karena mereka telah mengira ia melakukan sesuatu yang buruk hingga harus menikah terburu-buru. Tuduhan-tuduhan yang dilontarkan keduanya membuat Yoona kesal dan jengah, mengapa kedua temannya bisa berpikir sejauh itu?

“Berapa kali harus kukatakan, aku tidak pernah berencana kawin lari! Aku hanya menemaninya pergi ke suatu tempat dengan alasan untuk melihat sesuatu yang ingin ditunjukannya. Setelah itu, kalian lihat aku kembali ke Seoul dalam keadaan baik-baik saja kan!” Yoona melipat tangannya di depan dada, memasang pose arogan.

 

 

Flashback

 

Yoona menarik lengan Siwon yang mana pria itu sama sekali tidak berusaha untuk berontak ataupun menghempaskan tangannya. Siwon dengan sukarela mengikuti kemanapun Yoona membawanya.

 

Seperti biasa, Yoona yang selalu nekat melakukan sesuatu yang dikehendakinya. Tanpa berpikir panjang, ia menculik Siwon setelah selesai meeting di kantornya. Bahkan ia rela menunggu selama dua jam untuk bertemu dengan tunangannya itu. Walaupun sesekali ia mengobrol dengan Sekretaris Kim, tapi yang terjadi adalah suasana canggung. Kenyataan bahwa Sekretaris Kim adalah paman Siwon membuat Yoona sedikit segan dan sungkan. Apalagi Siwon dan dirinya juga baru mengetahui hal tersebut saat Sekretaris Kim meneriakkan dengan lantang status dirinya di pantai Okinawa beberapa hari yang lalu.

 

Yoona menghentikan langkahnya tepat di sebuah balkon yang memberikan pemandangan kota Seoul dari salah satu sisi gedung perkantoran milik Siwon. Yoona sedikit menghempaskan tangan Siwon saat melepaskan cengkeramannya. Ia berbalik dan berkecak pinggang, menatap Siwon dengan penuh kecurigaan.

 

“Hai sayang, tiga hari tidak bertemu apa kau begitu merindukanku hingga kau melakukan ini semua, menarikku dan mengajakku berduaan?” sapa Siwon dengan cengiran yang tetap saja tidak melunturkan ketampanan wajahnya.

 

“Cih, aku sama sekali tidak merindukanmu!” sergah Yoona galak, namun wajahnya tampak sangat lucu sehingga Siwon tergelak. Yoona mengerutkan keningnya. Tidak bisakah pria itu melihat kekesalan diwajahnya? Ataukah ia masih kurang berekspresi untuk aksinya kali ini?

 

Siwon mendekat kepada Yoona, memeluk pinggangnya hingga dada mereka bersentuhan. Yoona membulatkan matanya, tidak menyangka dengan kelakuan pria berlesung pipi di depannya itu. “Lantas bila tak merindukanku mengapa kau datang ke kantorku lalu bersikap seolah kau ingin memarahiku, eoh?”

 

“Aku memang marah padamu,” ujar Yoona sedikit gugup namun nada galaknya masih tetap terasa. “Karena perkataanmu di telepon kemarin malam. Apa maksudmu kalau kau akan membuka rahasia pada orang tuaku, yang akan mengubah pikiran mereka sehingga mereka akan membiarkanku untuk segera menikah?”

 

“Oh, itu…” Siwon menggantung kata-katanya membuat Yoona semakin kesal dan merengut. Siwon menaikkan sebelah alisnya, menahan senyum karena melihat raut wajah Yoona. “Memang benar… itu sesuatu yang sangat frontal. Orang tuamu tidak akan bisa menolakku untuk segera menikahimu, bahkan alasan pendidikan master tidak akan menghalangi.”

 

Yoona memukul dada Siwon hingga tubuh pria itu sedikit terdorong ke belakang. Harusnya Siwon merasa kesal, tapi justru wajahnya terlihat berbinar dengan senyum tertahannya. “Jangan berbelit-belit, Oppa! Kau ingin membuatku mati penasaran ya… Cepat katakan padaku!”

 

“Kau yakin ingin mendengarnya? Kau sudah siap mental?”

“Oppa, ini menyangkut kelanjutan hidupku. Kau yang sudah membuatku harus siap mental setiap saat karena sikapmu yang suka mengejutkan dan membuatku takut.” Yoona menggerutu tak sabar menghadapi basa-basi dari Siwon.

“Ya, kau memang harusnya takut padaku karena aku bisa melakukan apa saja yang kuinginkan, termasuk…” Siwon mendekatkan bibirnya ke telinga Yoona dan membisikkan kata-katanya, “…mengatakan kepada orang tuamu tentang kejadian di Pulau Nami.”

 

Yoona terkesiap dan matanya membulat sempurna. Spontan ia memukul dada Siwon lagi, juga lengannya. Tetapi sepertinya hal itu tidak mampu mengurangi keterkejutannya. “Kejadian di Pulau Nami? Tidak ada kejadian apapun disana… aku tidak melakukan apapun yang mengharuskanku menikah denganmu. Kau ini sedang mengigau, Oppa!”

 

Siwon menyeringai lalu tersenyum separuh penuh makna. “kau tidak ingat atau pura-pura lupa?” Siwon menunggu Yoona bereaksi, namun gadis itu hanya melemparkan sweet death glare padanya. “Kau lupa bahwa dua malam kita berada dalam satu kamar dan satu ranjang yang sama? Kau tidak ingat apa yang kita lakukan pada malam itu?”

 

Napas Yoona memburu, ia mencoba mengingat-ingat kejadian di saat ia berada di Pulau Nami, berada di dalam kamar Hotel yang sama selama dua malam bersama Siwon. Seketika ia meringis bila harus mengenang kejadian demi kejadian yang dialaminya saat itu.

“Tidak!” pekik Yoona. “Tidak ada terjadi apa-apa di malam itu. Kita memang satu kamar dan satu ranjang, tapi kita tak melakukan sesuatu di luar batas. Ya… aku mengecualikan ciuman dan pelukan. Hanya itu!”

 

Siwon memutar bola matanya, memandang Yoona begitu remeh dan terkikik tak menentu dalam hati. Menggoda tunangannya yang satu ini memang sangat menyenangkan. Apalagi jika Yoona sudah memperlihatkan raut wajah tak senang disertai rajukan manjanya, ia akan terlihat begitu menggemaskan.

“Oh… jadi kau menganggap itu suatu hal yang biasa, kita berciuman panas dan saling menyentuh serta memeluk. Kau juga tidur nyenyak dalam pelukanku. Mungkin memang tidak terjadi sesuatu, tapi siapa yang akan percaya? Pria dan wanita berada dalam satu kamar selama berjam-jam. Siapapun pasti mengira jika ada peristiwa manis yang terjadi selanjutnya…” Siwon mengedipkan sebelah matanya.

 

Mulut Yoona terbuka lebar, menganga dan terperangah seperti orang bodoh yang baru saja diberikan ceramah panjang lebar tentang pelajaran yang rumitnya melebihi matematika.

 

Yoona menghentakkan satu kakinya, menggertakkan giginya dan merasakan kepalanya mulai berdenyut. “Appa dan Eomma tidak akan percaya. Aku yakin mereka tidak akan percaya!”

 

“Kau berani taruhan? Mereka akan percaya padaku seratus persen. Apalagi jika aku mengatakan aku sudah menidurimu dan kemungkinan besar kau sudah mengandung anakku. Aku yakin merekalah yang akan memaksa untuk segera menikahkan kita!” kata Siwon dengan nada biara arogan dan penuh kepercayaan diri.

 

Mendengar itu Yoona merasa ingin menangis. Siwon sungguh tega padanya. Pria itu sepertinya benar-benar dikejar deadline untuk menikah, sampai-sampai harus melakukan tindakan frontal untuk mewujudkan keinginannya itu.

 

Yoona memegang dan mengangkat tas sandang yang dipakainya, lalu dengan penuh emosi ia memukulkan tas itu pada Siwon di lengannya, punggungnya, dan nyaris mengenai wajahnya.

“Dasar pria tidak waras! Kau ini suka sekali memaksakan kehendak. Kau ini sudah gila ya… Apa pikiranmu hanya berisi hal-hal mesum?!!” umpat Yoona sambil terus melancarkan aksinya memukuli Siwon.

 

“Yak, walaupun aku tidak waras ataupun mesum, kau tetap saja mencintaiku dan tak ingin jauh dariku kan?” Siwon tidak marah dengan kelakuan Yoona. Tubuhnya yang besar dan atletis bisa menangkal semua pukulan Yoona dengan mudah. Ia malah semakin merajalela menggoda Yoona. “Ayolah… mengaku saja kalau kau juga senang dengan ideku…”

 

“Huh, bermimpilah terus…”

 

Flashback Ends

 

Seohyun dan Hyeri tampak terperangah dengan penjelasan Yoona, mereka sempat tak bisa berkata-kata sebelum Yoona mengakhiri aksi tutup mulut mereka dengan sebuah pekikan halus.

“Kalian lihat, dia itu egois kan? Benar-benar tidak waras!”

Bad! It’s really really bad!!” Seohyun dan Hyeri kompak melantunkan slogan kebangsaan mereka tiap kali mengomentari sesuatu yang terlihat miris. Sedangkan Yoona mencibir dan memutar bola matanya.

 

“Ini buruk, Yoona-yah! Aku tak menyangka Tuan muda Choi sejauh itu mengusahakan percepatan pernikahan kalian. Kelihatannya dia sangat mencintaimu dan sangat takut kehilanganmu. Tapi menurutku, kaulah orang yang paling bodoh dalam hal ini!” ujar Seohyun sok bijak.

Yoona menyipitkan matanya, mendengar kata-kata Seohyun membuat emosi pun menghampiri dirinya. Sementara Hyeri beralih  menoleh pada Seohyun dan menatapnya penuh tanya.

 

Seakan mengerti dengan rasa penasaran kedua temannya, Seohyunpun melanjutkan kata-katanya. “Aku menyebut Yoona bodoh karena ini terjadi berasal dari kesalahannya yang jatuh pada pesona seorang Choi Siwon. Kalau saja waktu di Pulau Nami kau tidak terbuai pada rayuannya dan membiarkannya berada di kamarmu, maka tunanganmu itu tidak akan punya senjata untuk menyerangmu. Kaupun tidak akan dikira sudah hamil anaknya!”

 

“Aku tidak hamil dan aku tidak tidur dengannya, Seohyunnie…” sergah Yoona ketus.

“Secara konotasi kau memang tidak tidur dengannya, tapi secara denotasi kau malah sangat nyaman tidur dalam pelukannya. Dan siapapun tidak ada yang akan mau ambil pusing kau tidur dalam makna konotasi atau denotasi!” tambah Seohyun menguliahi Yoona yang wajahnya kini semakin cemberut karena merasa dipojokkan oleh temannya sendiri.

“Tapi kupikir kalaupun kejadian di Pulau Nami itu tidak ada, tetap saja Choi Siwon punya seribu satu cara untuk memaksamu, Yoona-yah. Dan pasti tak seorangpun yang bisa menduga apa yang direncanakannya..”

Yoona mengangguk-angguk mantap menyetujui perkataan Hyeri. Choi Siwon memang orang yang sulit ditebak. Sampai sekarangpun sulit bagi Yoona untuk memahami jalan pikiran pria tampan bertubuh jangkung itu.

 

“Lalu bagaimana dengan reaksi kedua orang tuamu? Aku tidak berani membayangkannya. Appa dan Eommamu pasti terbakar api menyala-nyala. Itu sungguh menakutkan!” ujar Seohyun ngeri.

 

Flashback

 

“berhentilah bergerak-gerak gelisah seperti orang yang sedang diarak menuju hukuman mati, Yoona-yah!” tegur Siwon yang merasa jengah dengan pergerakan tangan Yoona dalam genggamannya.

 

Yoona meliriknya sebal disertai dengusan keras dari hidungnya. Saat itu datang penyesalan dalam dirinya, mengapa ia bisa sampai jatuh hati pada pria yang tidak peka dan sangat pemaksa seperti tunangannya itu. Bahkan pria itu tidak menyadari betapa gusarnya hati Yoona saat ia diajak untuk bertemu kedua orang tua mereka. Tujuan awal pertemuan ini memang untuk makan malam bersama, pertama kali setelah masalah Yoona yang hilang dibawa pergi oleh Siwon. Tapi yang membuat Yoona sangat ingin lari dari acara itu adalah niat Siwon yang bermaksud membeberkan ‘rahasia’ mereka.

 

“Memang aku sedang diarak menuju sidang hukumanku!” sungut Yoona asal, dan Siwon pun tergelak. “Awas saja kalau Oppa benar-benar mengatakan semua itu, aku tidak akan segan untuk membunuh Oppa!”

 

Tawa Siwon semakin keras, “Kau yakin ingin membunuhku dan menjadi janda bahkan sebelum sempat menikah?”

“Mana ada jenis janda seperti itu!” Yoona menggerutu dan dalam kepalanya sudah terlintas ide untuk menghajar Siwon dengan memukul kepalanya atau menendang bokongnya.

 

Makan malam kedua keluarga berjalan lancar. Mereka menikmati keakraban yang terjalin, terkadang satu sama lain melemparkan candaan yang membuat riuh suasana. Ya, pasti bisa membayangkan suasana riuh di antara orang tua calon besan seperti apa, jelas sangat berbeda dengan candaan anak muda.

 

Sepanjang waktu mulai dari bertemu orang tua hingga menyelesaikan makan malam pun wajah Yoona tetap ketat dan tertekuk. Bukan karena ia tidak senang dengan acara itu, tapi karena hatinya yang was-was dengan rencana gila Siwon yang ingin mengatakan berita bohong soal kejadian di Pulau Nami. Tanpa diketahui orang-orang disekitarnya, Yoona ternyata sedang memikirkan solusi maupun reaksi apa yang akan ditunjukannya jika Siwon membuka tabir mulut embernya. Melakukan aksi teatrikal yang membuat para orang tua shock sepertinya tidak terlalu buruk.

 

“Abeoji, Abeonim, Eommonim… ada sesuatu yang ingin kukatakan…” Siwon membuka suaranya, mengambil kesempatan saat mereka kehabisan topik pembicaraan. Yoona spontan menahan napasnya, menyembunyikan suara terkesiap dari mulutnya.

 

Para orang tua menunggu Siwon melanjutkan kalimatnya. Siwon melirik Yoona singkat, dan tersenyum.. lebih tepatnya menahan tawa. Kemudian ia berdehem, kembali bersikap serius.

“Sejujurnya aku berniat melangsungkan pernikahan setelah kelulusan Yoona. Aku tidak ingin menunggu selesainya pendidikan master di London.”

 

“Kenapa terburu-buru, Siwon-ah?” tanya Tuan Im.

“Mungkin terkesan terburu-buru, tapi aku justru mengantisipasi banyak hal yang mungkin terjadi jika kita menundanya terlalu lama.” Nada bicara yang sangat bijak ditunjukkan oleh Siwon.

 

“Mengantisipasi apa?” Nyonya menajamkan matanya yang tertuju pada Yoona. Wajah pucat dan keengganan yang ditunjukkan putrinya itu membuatnya menangkap maksud lain. “Yoona, kau baik-baik saja? Apa sesuatu sudah terjadi?”

 

“Hah?” Yoona gelagapan menjawab. “A.. aniya… tidak terjadi apa-apa, Eomma.”

 

“Lalu kenapa kau terlihat ketakutan begitu?” Nyonya Im pun beralih pada Siwon. “Apa kalian sudah melakukan sesuatu di luar batas, Siwon-ah?”

 

Duh, mati aku!! Teriak Yoona dalam hati. Di bawah meja, Yoona menjulurkan tangannya dan menarik pelan jas Siwon. Maksudnya adalah memberi kode agar pria itu tidak mengatakan hal bodoh seperti yang sudah dikatakan olehnya sebelum acara makan malam ini.

 

Siwon pun tidak mau kalah. Ia memukul tangan Yoona yang sedang aktif menarik jasnya, menyingkirkan tangan itu supaya menjauh dari tubuhnya.

 

“Tingkah kalian berdua mencurigakan! Benarkan, sudah terjadi sesuatu?” suara Nyonya Im meninggi. Yoona pun semakin salah tingkah.

“Ya, memang terjadi sesuatu dan menurutku sedikit melewati batas,” ujar Siwon yang disambut bulatan mata ketiga orang tua.

 

Oh, bunuh saja aku!! Lagi, teriak Yoona dalam hati.  Rasanya ingin menangis meraung-raung. Lalu bagaimana dengan aksi teatrikal? Oh, tidak. Itu sama saja memperburuk citra diri sendiri.

 

“Aku lah yang sudah terlewat batas. Sejak resmi bertunangan, aku sudah jatuh cinta pada Yoona dan itu membuatku terlalu jauh menganggap bahwa dia telah menjadi istriku – milikku. Aku jadi terlalu tamak dan tak ingin berbagi. Aku pun akan kesulitan bernapas bila harus berpisah dengannya…”

 

Semua mata tertuju pada Siwon dan memperhatikannya dengan serius. Yoona semakin ketar-ketir dengan kalimat Siwon yang mendayu-dayu.

“… jujur, aku tadinya memang mempunyai niat untuk membawa kabur Yoona, jika tetap tak mendapat restu. Tapi aku sadar semua itu salah dan hanya akan membawa prahara. Oleh karena itu, aku mohon diizinkan untuk menikahi Yoona dan meresmikan statusnya sebagai istriku. Aku tidak keberatan dengan studi master. Justru jika Yoona berstatus sebagai wanita yang sudah menikah, itu akan memeliharanya dari banyak hal baik dirinya sendiri maupun orang lain. Kita semua tidak akan was-was membiarkannya di luar negeri sendirian.”

 

Siwon menutup kata-katanya dengan hadiah pandangan takjub dari para orang tua. Sementara Yoona hanya menganga, bingung dengan sikap pria itu. Siwon sama sekali tidak mengatakan perihal kejadian di Pulau Nami. Semuanya di luar prediksi dan itu membuat Yoona tampak bodoh.

 

“Alasanmu bisa diterima. Kami mengerti apa maksudmu. Tapi semua terserah pada Yoona. Dia yang akan memberi keputusan.” Semua mata pun tertuju pada Yoona. Ya, saat itu Yoona benar-benar berada di tepi jurang dan pilihannya hanya ada satu yaitu melompat sendiri ke dalamnya.

 

Flashback End

 

“jadi kau menyetujuinya?” pertanyaan Seohyun lebih mirip dengan pernyataan dari cara pengungkapannya.

 

“mau bagaimana lagi? Jelas si Kuda mengancam akan mengatakan pada orang tuaku perihal kejadian di Pulau Nami kalau aku berani menolak atau mengajukan banding.” Ujar Yoona nelangsa. “Dan aku pun tidak akan siap menghadapi amukan ibuku nantinya!”

 

Ketiga gadis itu sama-sama mendesah. Semua sudah terjadi dan sudah ditetapkan, tidak ada jalan lain selain mengikuti keputusan itu.

“Kalau begitu turut berduka cita ya, Yoona-yah,” ucap Hyeri sangat tenang dan tentu saja benar-benar mengejek!

“Yak!!”

 

 

Siwon terlihat sedang serius mengerjakan tugas-tugasnya, bergelut dengan tumpukan file yang juga membutuhkan usaha keras laju otak untuk menyelesaikan berbagai problema yang muncul dari semua berkas itu. Bila orang lain yang mengerjakannya sendiri, mungkin akan mengumpat-umpat setiap saat hingga mengabaikan semua itu sebisanya. Tapi lain dengan Siwon, selain pekerja keras mungkin ada sesuatu yang menjadi motivasi tersendiri baginya untuk tetap berusaha menyelesaikan tugasnya dengan usaha maksimal.

 

Sekretaris Kim sesekali tersenyum melihat tingkah keponakannya itu. Bertahun-tahun mendampingi Siwon tanpa menyebutkan status kekeluargaan yang dimilikinya cukup untuk mengenal Siwon dengan baik. Permintaan Tuan Choi untuk selalu menjaga Siwon dan membimbingnya dalam setiap langkah membuat Sekretaris Kim merasa sangat dekat dengan sang keponakan. Tadinya ia berpikir bahwa Siwon tidak akan mau menerima kenyataan yang sebenarnya bahwa alasan khusus penyembunyian identitas murni karena Tuan Choi ingin menghindarkan Siwon dari beragam pertanyaan dan keingintahuan soal kepergian ibunya dari Sekretaris Kim sendiri.

 

“Kau terlihat sangat bersemangat sekali mengerjakan semua itu, Sajangnim…” tegur Sekretaris Kim. Siwon mendongak, tersenyum lalu mengangguk tanpa menyembunyikan kerutan kening yang mungkin muncul akibat persoalan rumit yang sedang ditelaahnya. “kau bahkan tidak sadar sedari tadi aku memperhatikanmu. Apakah bisnis yang rumit semakin menarik bagimu atau… kau terlalu bersemangat karena pernikahanmu yang semakin dekat?”

 

“Eung? Sepertinya samchon sendiri sudah tahu jawabannya,” Siwon memamerkan cengirannya. Dia tahu persis bahwa pamannya itu sangat paham perihal kondisi dirinya.

 

“Kau tampak sangat bahagia menjelang pernikahanmu. Aku turut bahagia jika kau bahagia. Ibumu pasti akan merasa senang dan mendoakan kebahagiaanmu dari alamnya.”

 

Siwon mengangguk dan mengaminkan dalam hati. “Aku rasa samchon cukup tahu bagaimana kisahku dengan Yoona. Menurut samchon, bagaimana calon istriku?”

 

Sekretaris Kim mengangkat kedua alisnya. Tidak ada raut skeptis sedikitpun dari wajah itu. Sepintas bahkan pria paruh baya itu tersenyum penuh keyakinan. “Nona Im gadis yang baik, menarik, dan penuh kejutan. Tidak heran terkadang kau dibuat repot olehnya. Tapi yang paling menyenangkan untukku karena dia telah mengubahmu, Nak.”

 

“Mengubahku?”

“Ya. Sebelum bertemu dengan Nona Im, aku melihatmu sebagai pria yang sangat kaku dan terlalu serius. Kau jarang tersenyum dan suka menyibukkan diri dengan pekerjaan yang berlarut-larut. Tetapi semenjak kau mengenalnya, kau terlihat lebih bersemangat. Kau menjadi lebih ceria, sering tersenyum dan bercanda, bahkan kau mulai memperlihatkan sisi lain dirimu yang tak pernah kau tunjukkan selama ini. Perubahanmu itu membawa efek yang signifikan bagi dirimu dan orang-orang di sekitarmu terutama untuk ayahmu.”

 

Mata Siwon berbinar. Ia baru sadar ternyata selama ini Sekretaris Kim sangat perhatian padanya. Bukan hanya soal pekerjaan, tetapi lebih kepada perhatian yang diberikan kepada seorang anak. “Aku memang sangat berterima kasih kepada Abeoji. Kalau bukan kekerasan hati Abeoji yang memaksa menjodohkanku, maka aku tak akan bertemu Yoona.”

 

“Sepertinya kali ini Ayahmu membuat keputusan yang tepat.”

“Begitulah.”

 

Ige mwoya?” tanya Donghae dengan sedikit nada sinis saat Siwon menyodorkan sebuah benda berbentuk persegi panjang dengan warna merah maroon beraksen emas di beberapa sudutnya.

 

“Kau tidak bisa membaca, ya… ini IN-VI-TA-TION,” Siwon mengeja tulisan yang terletak di bagian terdepan benda itu. “Ini undangan pernikahanku untukmu.”

 

Donghae mendengus, “ya, aku tahu ini undangan pernikahan. Tapi aku sama sekali tak menyangka hal ini terjadi lebih cepat dari dugaanku.”

 

Siwon berdecak, dengan wajah cemberutnya ia pun berpose arogan dengan tangan menyilang di depan dada. “Jadi kau pikir pernikahanku akan terjadi dua tahun lagi, begitu? Bukankah kau sendiri yang menasehatiku agar aku mengambil tindakan supaya aku tidak kehilangan cintaku, eoh?”

 

“Ish…” Donghae mengacak rambutnya sendiri, sedikit frustasi dengan gerutuan Siwon. “Hanya saja aku merasa ini terlalu cepat. Aku bahkan belum sempurna menata hatiku. Kau tahu, ini semakin membuatku patah hati!”

 

Kalau sudah begini Siwon pun jadi kebingungan ingin bersikap bagaimana. Kisah cinta segitiga yang terjadi di antara mereka sebelumnya hampir saja membuat kekacauan, baik untuk persahabatannya dengan Donghae maupun hubungannya dengan Yoona. Siwon tahu bahwa Donghae mempunyai perasaan yang cukup besar untuk tunangannya, dan keputusan Yoona yang lebih memilih menambatkan hatinya pada Siwon sudah membuat Donghae terluka.

 

Please, jangan berkata seperti itu Hae-ah… kau membuatku merasa sangat bersalah. Aku merasa sudah menjadi sahabat yang tidak punya hati karena sudah merenggut kebahagiaanmu.” Ujar Siwon dengan nada sedih. Jujur, ia memang merasa sangat tidak nyaman dengan keadaan ini. Di satu sisi ia memang sangat ingin memiliki Yoona, namun di sisi lain ia terpaksa harus menyakiti Donghae.

 

“Aigoo… kau ini sensitif sekali! Aku rasa demam calon pengantin sudah melandamu, kau jadi melankolis begitu. Hei… jangan katakan kau ingin mengambil ciri khas ku sebagai pria melankolis!” Donghae bersungut-sungut dan mencibir. Sementara Siwon terdiam seribu bahasa menelaah perubahan spontan pada diri Donghae.

“Sudahlah… kau tidak perlu menyesali apa yang sudah terjadi. Mungkin Yoona memang bukan jodohku. Dari awal memang aku kesulitan untuk mendekatinya, sampai kau muncul dan mengambil perhatiannya. Dan tugas beratku sekarang adalah melupakan semua tentang perasaanku pada Yoona.”

 

Siwon mendesah, pasrah dengan keadaan. Kelugasan bahasa Donghae menunjukkan kebesaran hati yang dimilikinya saat ini. Siwon tidak tahu lagi bagaimana caranya mensyukuri anugerah Tuhan yang telah memberikannya seorang sahabat yang benar-benar mengerti dan selalu dapat diandalkan olehnya.

“Thank You, Hae-ah. You are the best for me…”

 

“Lalu, kapan kita mengadakan bachelor party-nya? Aku sudah tidak sabar…”

“Pesta bujangan?” tanya Siwon lagi untuk memastikan, dan Donghae pun mengangguk mantap penuh semangat. “Aish… pesta itu hanya diperuntukkan bagi pria yang merasa sedih melepas status single nya. Aku tidak berselera dengan acara seperti itu, karena aku sangat bahagia dengan rencana pernikahanku!”

 

“Cih, jangan banyak alasan! Bagaimanapun kau tetap harus merayakannya bersama dengan teman-teman pria kita lainnya. Selama ini kau dikenal yang paling sibuk dan jarang bergaul, setidaknya kau harus memberikan service terbaik untuk teman-teman lama!” Donghae berusaha menekel argumen Siwon soal ide pesta bujangan yang diajukannya.

 

Siwon merasa tersudut dikatai Donghae sebagai pria yang ‘jarang bergaul’. Kesibukannya sebagai seorang businessman sekaligus penerus Hyundai yang menjadi alasan mengapa ia tak pernah punya waktu untuk memanjakan diri bertemu dengan teman atau melakukan hal sepele lainnya. Siwon berpikir mungkin ini adalah kesempatan yang terbaik yang dimilikinya untuk bersenang-senang bersama teman-teman lamanya – walaupun bukan sosok teman yang sangat akrab seperti Lee Donghae – di lain sisi memang tidak ada salahnya melakukan hal bodoh seperti an unuseful bachelor party ini.

 

Donghae yang mulai melihat tanda-tanda kegoyahan Siwon pun tersenyum penuh kemenangan. Ia yakin Siwon akan menyerah jadi sekalian saja ia yang mengambil kesimpulan akhirnya. “Baiklah, aku pikir rabu malam besok cukup bagus untuk acara ini. Kita berkumpul di café biasa saja ya…”

 

Siwon speechless, mau tak mau ia harus menuruti Donghae. Pesta bujangan atau apapun namanya benar-benar membuatnya tak tahu harus bersikap bagaimana atau melakukan penolakan apa yang paling tepat untuk dilakukan.

 

“Sudahlah, tidak usah memasang wajah tertekuk seperti itu! Kalau seperti ini terus bisa-bisa kau dianggap calon pengantin yang dipaksa menikah,” omel Yuri yang mulai bosan melihat rajukan Yoona.

 

Yuri yang dengan sukarela menawarkan diri untuk menemani Yoona untuk berbelanja gaun-gaun pesta maupun berbagai macam perhiasan yang dinginkannya sebab Siwon tak bisa menemani Yoona hari itu. Hal ini juga yang membuat mood Yoona rusak. Bagaimana tidak, Siwon yang sebelumnya sudah berkoar-koar memaksa Yoona untuk membeli semua barang yang diinginkannya dan berjanji akan menemani kemanapun Yoona ingin pergi, malah pria itu juga yang membatalkan janjinya dengan alasan mabuk.

 

Mabuk! Yang benar saja…

Yoona memutar bola matanya kesal begitu ia menutup teleponnya. Suara Siwon terdengar serak dan pria itu seperti kesulitan bicara. Siwon mengaku masih pusing dan kurang enak badan karena semalaman berpesta dengan Donghae dan teman-temannya yang lain. Siwon tidak mengelak kalau dirinya banyak meminum alkohol hingga kondisinya mabuk berat.

 

Apa yang sudah terjadi pada Siwon? Tidak biasanya pria itu berperilaku seperti ini. Yoona tidak pernah tahu Siwon punya kebiasaan minum alkohol. Yang dia tahu Siwon adalah sosok pria yang yang cukup kaku dan dingin, sedikit arogan walau terkadang menjengkelkan jika mulai menebarkan godaan dan kejahilan padanya. Benar-benar bertolak belakang, itu adalah karakter yang dipahami olehnya. Yoona mulai berpikir bahwa masih banyak bagian dari diri Siwon yang tak diketahuinya. Keraguan menjelang pernikahan mulai merayapi pikirannya…

 

“Yoona-yah, kau melamun?” suara melengking Yuri di telinganya membuat Yoona tersadar. Dengan tatapan polos, Yoona menanggapi teguran kakaknya dan menunjukkan bahwa pikirannya sudah tak mengawang-awang lagi. “Kau ini sudah jauh-jauh datang ke butik mahal seperti ini masih saja tak antusias. Lihatlah, gaun-gaun ini indah sekali!.”

 

“Eonni…” panggil Yoona pada kakaknya yang sedang sibuk melihat-lihat gaun koleksi butik bermerk dari Prancis itu. Yuri hanya mengeluarkan suara ‘ha’ tanpa melihat Yoona, ia terlihat asyik sendirian. “Eonni… apakah kau tahu apa saja yang biasanya dilakukan pria pada pesta bujangan?”

 

“Pesta bujangan?” Yuri sekilas melirik Yoona. “Oh, aku dengar pria-pria itu menghabiskan waktu dengan berbagi cerita-cerita selama mereka berstatus single sambil minum-minum, ada juga yang diramaikan dengan penari-penari striptis.”

 

“Mwo??!!!” pekik Yoona di telinga Yuri membuat kakaknya itu langsung menutupnya dengan tangan. “Penari striptis??” kali ini suara Yoona sedikit berbisik.

 

“Yak, kenapa kau teriak di telingaku?”

“Jadi semalaman si Kuda bersenang-senang dengan penari-penari tak berpakaian itu? Kurang ajar! Jadi hal itu yang membuatnya tak bisa menemaniku pergi…” omel Yoona panik.

 

“Kuda? Siapa itu?” tanya Yuri.

“Seseorang yang sangat menyebalkan dan tidak bisa menepati janji!” jawab Yoona ketus.

“Dasar kau ini, calon suami sendiri disumpahi!” Yuri meringis, tidak heran dengan tingkah sebal sang adik. “Tapi itu kan yang aku dengar dari orang lain, bisa saja tidak ada yang seperti itu dalam sebuah bachelor party. Kau jangan berpikir berlebihan…”

 

“Tapi, jika sampai mabuk-mabukan begitu aku yakin dia terlalu bersenang-senang. Atau berita buruknya, jangan-jangan dia sudah berpelukan dan berciuman dengan wanita-wanita itu…”

 

Yuri memberikan pelototan mata pada Yoona yang wajahnya tampak berekspresi ngeri karena membayangkan tunangannya mengambil kesempatan dalam kesempitan main gila dengan wanita lain. “Aku rasa kau sedang mengalami syndrom ketakutan menjelang pernikahan. Rasa cemburu dan curigamu tidak pada tempatnya karena aku yakin Choi Siwon bukan tipe pria seperti itu!”

 

Yuri pun menarik tangan Yoona, menyodorkannya pada jajaran gaun-gaun mewah yang terpajang rapi dan tampak sangat indah. “Sekarang adalah saatnya kau memilih gaun yang kau sukai. Nikmati saja kemudahan yang diberikan calon suamimu dengan membeli semua barang kau sukai semaumu!”

 

Hembusan napas dari gelembung pipi yang keluar melalui mulut menyertai wajah muram namun penuh harap dari Yoona. Ia tampak sedang merenung, sendirian duduk di tepi kolam renang di halaman belakang rumahnya. Kakinya yang tercelup ke dalam kolam sesekali memainkan air hingga membuat riak-riak kecil di seputar kolam yang tidak dalam itu.

 

Di sebelahnya berjejer bermacam-macam brosur penuh warna. Benda-benda itu yang membuatnya tertarik sekaligus merasa tak punya kesempatan. Ada begitu banyak informasi mengenai program beasiswa studi master ke luar negeri yang bisa di dapatkannya. Dari semua persyaratan, ada satu poin yang membuatnya sangat berat untuk dipenuhi. Syarat yang mengharuskan calon penerima beasiswa berstatus ‘unmarried’.

 

Bagaimana mungkin ia bisa memenuhinya, sementara pernikahannya sudah di depan mata. Walaupun orang tua Yoona memastikannya untuk melanjutkan pendidikan master ke Eropa, namun jalur beasiswa adalah satu kebanggaan tersendiri seandainya ia bisa mendapatkannya. Apakah ia harus menyesali keputusannya untuk menikah lebih dulu?

 

What are you doing here, my lovely bride?”  Yoona tahu persis siapa pemilik suara yang memanggilnya itu, seorang pria yang dibenci sekaligus yang sangat dicintainya. Benci, karena pria itu sudah menyebabkan banyak kekacauan dalam hidupnya termasuk untuk urusan masa depannya. Dan soal cinta, pria itu jelas adalah pemilik hatinya saat ini, yang selalu dirindukannya dan didamba kehangatannya.

 

Siwon ikut duduk bersila di sebelah Yoona tanpa memasukkan kakinya ke dalam kolam tentunya. Ia tersenyum lalu mengecup pipi Yoona singkat. “I already miss you so much, love.”

 

Yoona mendecakkan lidahnya, menanggapi dingin gombalan yang dilontarkan Siwon. Dengan sikap kekanakkan ia pun membuang muka, tidak mau menatap tunangannya itu.

 

“Kenapa sikapmu jadi aneh begini?” Hening. Yoona tak menjawab pertanyaan Siwon. Pria itu menghela napas, ia menyadari kesalahannya yang tak menepati janji menemani Yoona shopping. “Kau masih marah karena aku tak bisa menemanimu pergi siang tadi? Bukankah kau sudah ditemani Yuri?” Yoona masih bergeming dalam diamnya sementara bibirnya mengerucut menunjukkan keengganannya menanggapi Siwon.

“Baiklah… aku benar-benar minta maaf, Sayang. Kemarin malam aku terlalu banyak minum hingga mabuk dan sampai paginya aku masih merasa tidak enak badan.”

 

“Tentu saja kau jadi tidak enak badan, kau menghabiskan seluruh tenagamu semalaman hanya untuk menggoda dan bersenang-senang dengan wanita-wanita malam…” ujar Yoona berargumen sarkastik.

 

“Apa kau bilang?” Siwon menatap Yoona lekat, tapi si gadis sama sekali tidak tertarik untuk membalas tatapannya. “Wanita malam? Hei… aku tidak pernah tertarik dengan wanita-wanita bermake up super tebal itu! Mereka sama sekali tidak menyenangkan, malah membosankan. Aku—“

“benarkan… kau memang bertemu wanita-wanita itu!” pekik Yoona memotong perkataan Siwon.

 

“Ish… kau jangan salah paham! Dari mana kau mengambil kesimpulan kalau aku sudah berselingkuh dengan wanita malam, eoh?”

“Memangnya apa lagi yang ada dalam pesta bujangan selain alkohol dan penari striptis atau wanita penghibur?” wajah galak Yoona langsung terpampang saat ia mengeluarkan umpatannya itu.

 

“Pikiranmu sempit sekali, tidak ada yang seperti itu dalam acara kemarin malam. Kalaupun ada wanita seperti yang kau maksud, mereka sama sekali tidak menarik bagiku!” Siwon membela dirinya dengan berbicara menggunakan nada tinggi.

 

“Cih, gotjimal!”

“Aku tidak bohong! Kalau aku ingin bersenang-senang, mungkin sekarang aku tak akan datang menemuimu dan mendengar ceramah panjang lebar dari ibumu tadi,” emosi setiap orang sepertinya mudah tersulut saat ini.

 

“Oh, jadi Oppa merasa tidak senang dengan semua perkataan Eomma tadi? Ya sudah, batalkan saja pernikahannya… masalahnya selesai kan?!” Yoona buru-buru berdiri dan tanpa aba-aba langsung berjalan meninggalkan Siwon di tepi kolam renang.

 

“Yak, aku datang kesini bukan untuk bertengkar!” teriak Siwon mencoba mencegah kepergian Yoona, walau ia yakin sudah membuat kesalahan dengan caranya itu.

 

“Terserah Oppa, aku lelah!” Yoona balas berteriak tanpa menoleh sedikitpun ke arah Siwon.

 

Pria itu kini memijit pelipisnya yang berdenyut. Situasi yang ada saat ini telah membuatnya sakit kepala. Pertengkaran sama sekali tak diinginkannya. Pernikahan semakin dekat, tetapi kebiasaan bertengkar mereka tidak pernah jauh. Ia takut hal itu akan mendarah daging. Siwon harus segera memperbaikinya dan mulai mencari solusi dari kesukaan mereka untuk selalu berdebat dan adu argumen hingga berujung pada pertengkaran.

 

Kata orang kekuatan pasangan semakin diuji menjelang pernikahannya, Siwon merasakan hal itu saat ini. Yoona dan dirinya sepertinya mengalami tekanan-tekanan  yang datang dari banyak sisi dan pihak. Selanjutnya, mereka harus siap mental dan fisik untuk menghadapi kemungkinan terburuk lainnya.

 

 

 

^To Be Continued…^

Tinggalkan komentar

113 Komentar

  1. asrikim

     /  April 11, 2014

    Ceritanya seru thor,,aigoo siwon oppa mau nikahi yoona pakai ngancem gitu””yaampun merekaini udah bertunangan sebentar lg nikah malah berantem kyak gitu,,,uri yoongie knapa mengambil kesimpulan sendiri dan enggk mau dengerin wonpa yang sabar aja wonpa,,,jangan sampai pernikahannya batal karna ego masing2
    Author fighting,,!!

    Balas
  2. Hahahaha… Bertengkar lagi bertengkar lagi.. Ah bg won tabahkan hatimu nde !!😀
    sequelnya bgos eonni .. I like

    Balas
  3. Dahlia GaemGyu

     /  Juli 19, 2014

    haha, siwon oppa ngebet pngen nikah , yoona eonnie diancam

    Balas
  4. Fitriawandi

     /  Juli 28, 2014

    Berantem lagi berantem lagi.

    Balas
  5. Brtengkar lg org mau nikh ko rbut trs c,crta ny kren.

    Balas
  6. Any

     /  Agustus 12, 2014

    Ceritanya makin menarik. Syndrom pra nikah menjangkiti yoonwon hohooho. Adu argumennya lucu bgt.

    Balas
  7. Cha'chaicha

     /  Agustus 29, 2014

    Hadeh pasangan satu ini ada aja yg diributin..tpi lucu crita’y..

    Balas
  8. Cha'chaicha

     /  Agustus 29, 2014

    pasangan satu ini ada aja yg diributin..tpi lucu crita’y..

    Balas
  9. Wah… Di sini ada sequelnya jg pantas aja pas aku baca FF my silly Engagement ada blog2 lovly bride
    dan tak ku sangka Yoonwon benar2 akan menikah
    tapi kenapa jdi bertengkar begini
    Pesta bujang???
    Jadi gara2 itu Yoona marah
    hahaha………

    Balas
  10. massa putri

     /  Oktober 14, 2014

    yoonwon 5u nikah aja mlah berantem trus…
    next..

    Balas
  11. Dwi Sivi Fatmawati

     /  November 5, 2014

    mkasih eon udh buat sequelnya
    ceritanya keren loh

    Balas
  12. nina

     /  November 14, 2014

    hahaha,, berantem melulu….wonppa ngebet kawin…

    Balas
  13. nina

     /  November 14, 2014

    hahaha,, berantem melulu….wonppa ngebet kawin..keke.

    Balas
  14. Choi Han Ki

     /  Desember 9, 2014

    Hahahah siwon di kejar2 deadline makanya buru2 mau nikahin yoona setelah lulus kuliah…

    Balas
  15. Windi putri

     /  Desember 18, 2014

    Thor kpn lovely bride yg chap. 6 release..udh penasaran bgt nih

    Balas
  16. tiffany

     /  Februari 6, 2015

    Lanjuttttttt…selalu suka sama ff di web ini

    Balas
  17. Zhahra

     /  Maret 27, 2015

    Waah…wah….wah…
    Kenapa kalau yoonwon bersama selalu bertengkar yaah…
    Yaaak…wonpa juga gitu…
    Gag sabaran banget buat nikahin yoona unni…

    Balas
  18. Jessica Natasya

     /  Juli 24, 2015

    ceritanya seru. bntar lg yoonwon mau menikah…. jd mkn gk sbr

    Balas
  19. YoonaChoi

     /  Agustus 29, 2015

    Yoona nya cemburuan bgt ya, tpi gpp malah aku seneng kalo yoona cemburu, hehhe🙂

    Balas
  20. YoongNna

     /  Februari 19, 2016

    Uuuuhh bner yaaa sindrom pra nikah tuu emng bkin kedua pasngn bertngkr krna hal2 kecil..
    Mdh2n yoona ma siwon bsa memperbaikinya

    Balas
  21. Seru banget, makin greget jadinya. Tapi msh penasaran sma chapter 14 my silly engagement. Mohon d balas ya author…trims

    Balas
  22. Ni couple hobi bertengkar yee,,,hadeehhh “geleng2kepala

    Yoona cemburuan bgt, tpi seneng sihh^^ cemburukn tanda cinta😁

    Balas
  23. Noviaresta

     /  Juli 3, 2016

    Suka bgt cerita nya thor, apalagi pas yoona narik tangan siwon waktu di kantor itu, ada perasaan aneh gimana gitu sebagau jiwa shipper…
    Next aja deh

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: