[FF] SECRET (Chapter 2)

 Secret1

SECRET – 2

@Poster by:Sasphire

Title: Secret

Type: SEQUEL

Chapter:2

Author: yoonwonfp

Main Cast: Im Yoona, Choi Siwon

Support Cast: Jung Jessica, Lee Donghae, Tiffany Hwang

Genre: Drama, Romance, Family, Marriage life

Rating: General

Disclaimer:

HI I’M BACK!^^  Sorry updatenya lama.. Soalny idenya benar-benar menghilang.. Padahal udh berencana buat dar 2 bulan yang lalu, tp idenya stuck…Alhasil aku jd membuat FF yang lain…

Thx y buat Admin^^…Cerita dalam FF ini terinspirasi dari drama Korea Princess Hours, namun   selebihnya, alur cerita serta karakter tokoh adalah murni hasil imajinasi saya sendiri. Sorry for typo ya…I hope you like it… Enjoy it!

N FOR SIDERS GO AWAY FROM MY FF!          

*Wangseja = Pangeran (Pewaris tahta),  Jeonha= Raja, Wangbi-mama=Ratu

Walaupun pagi hari ini kota Seoul tampak cerah, namun itu tak membuat Siwon semangat menghadapi pagi hari ini. Bagaimana mungkin dia bisa bersemangat jika pagi hari ini dia sudah harus dipanggil menghadap Sang Raja. Dan itu menandakan bahwa masalah baru telah menantinya

Dengan muram Siwon membuka pintu kayu yang ada di hadapannya, kemudian masuk ke dalam ruangan kayu yang berdesain tradisional itu. Ia berdiri di hadapan Appanya yang tengah duduk dengan santai. Suasana dingin yang selalu menghiasi ruangan itu selalu membuatnya malas untuk masuk ke dalam ruangan itu.

“Annyeonghashimnika Jeonha..”Siwon membungkuk hormat menyapa Appanya.

Seperti pagi-pagi yang biasanya, Appanya hanya menatap Siwon dengan tatapan datar. Sama seperti Siwon, tak ada satu senyuman pun yang menghiasi wajah ayahnya di pagi hari yang cerah ini, “Duduklah..”Titah sang Raja dengan datar.

Dengan muram, Siwon duduk di atas sofa yang berhadapan dengan Appanya. Ia mengambil secangkir Insamcha atau yang dikenal sebagai the ginsaeng dan menyesapnya perlahan.

“Ada yang mau kami bicarakan denganmu..”Sang Raja memulai perkataannya dengan datar, lalu melanjutkan lagi dengan penekanan, “Kau akan menikah minggu depan…”

Siwon hampir saja menyemburkan teh dari mulutnya saat mendengar pernyataan ayahnya. Jantungnya seakan berpacu amat cepat. Ia berharap pendengarannya saat ini salah, “Mwo?”.

Sang Raja kembali menatap anak semata wayangnya dengan tajam,”Apa perkataanku kurang jelas? Kau akan menikah minggu depan.”Jelasnya dengan tegas.

“Minggu depan?  Apa Jeonha tidak salah..  Bukankah perjanjian kita kalau aku sudah menemukan yeoja yang aku ingin nikahi baru aku akan menikah?”

Sang Raja mengangguk, “Neh.. Kau benar.. Tapi sekarang keadaannya berbeda…”

“Berbeda? Maksud Jeonha?”

Raja menghela nafas panjang, lalu berdiri dari tempatnya dan berjalan ke arah lemari tua yang ada di ujung ruangan. Ia mengeluarkan sebuah kotak emas yang terima dari Yoona. Ia menaruh kotak itu di atas meja dan berbicara pada Siwon, “Inilah alasan kau harus segera menikah… Dan, kau tidak usah khawatir untuk mencari yeoja yang akan kau nikahi. Karena yeoja itu telah datang sendiri..”

Siwon yang semakin tidak mengerti perkataan ayahnya, hanya bisa mengerutkan keningnya bingung, “Maksud Jeonha aku akan menikah dengan wanita yang tidak kukenali?”Tanyanya juga dengan penuh penekanan.

“Neh..”Raja mengangguk serius.

Emosi Siwon kini mulai tersulut, ia bangkit dari duduknya dan berbicara dengan nada yang terdengar sedikit menuntut, “Tapi kenapa? Kenapa aku harus menikah dengan wanita yang bahkan tidak kukenal?” Seakan menyadari kemarahan Siwon, Raja pun berbicara dengan dingin untuk memperingati Siwon, “Jangan berani berteriak di depanku Choi Siwon!”

Siwon sama sekali tak peduli dengan Ayahnya, emosinya yang sedari tadi ia tahan meledak begitu saja. Ia sudah tidak peduli lagi dengan peraturan gila yang selama ini dia patuhi, “Anda mungkin bisa mengatur semua hidupku. Tapi jangan harap dalam hal ini Anda bisa mengaturku. Menikah dengan siapa adalah urusanku, bukan urusan Anda! Apa Anda mengerti!”Ia balik berteriak. Matanya kini tampak penuh kemarahan.

“Ternyata sekarang kau sudah berani berteriak di depanku ya..”Raja tersenyum sinis, “Apa karena Jung Sooyeon?”

Siwon terkesiap mendengar nama Jessica yang dengan tiba-tiba keluar dari mulut ayahnya. Ia menelan ludahnya karena gugup, “Sooyeon? Maksud Jeonha apa?”Suaranya mulai mengecil.

“Haha…”Raja tertawa sakartis saat Siwon yang tiba-tiba saja terlihat gugup, “Jangan kau kira karena kau tidak pernah memberitahu hubunganmu dengan Sooyeon maka aku tak akan pernah tahu hubungan kalian. Jangan lupa, aku adalah raja…”

Siwon terdiam. Selama ini ia selalu berusaha menutupi hubungannya dengan Jessica agar Appanya tak mengganggu Jessica dengan pernikahan yang harus dijalaninya segera. Ia masih ingin menikmati hubungannya dengan Jessica sebagai sepasang kekasih, bukan sebagai sepasang suami istri, apalagi saat ini Jessica baru saja lulus dari kuliahnya. Tak pernah dalam pikirannya bahwa ayahnya akan mengetahui hubungan yang mereka masih rahasiakan ini. Seakan ia baru saja menyadari kalau ayahnya adalah Raja yang bisa melakukan apapun.

“Kau tahu kan aku bisa melakukan apapun pada orang yang menentangku? Itu artinya jika kau menentangku karena yeoja itu, aku bisa juga melakukan apapun pada yeoja itu. Termasuk memastikan bahwa yeoja itu tidak akan masuk ke dalam hidupmu lagi..”

Siwon menghela nafasnya pasrah dan kembali bertanya, “Lalu apa yang Anda ingin kulakukan sekarang?”

“Aku hanya ingin kau menikah dan menjadi raja menggantikanku. Bukankah itu mudah?”

“Hanya itu? Lalu kenapa harus sekarang dan harus dengan yeoja yang Jeonha pilihkan?”

Raja kembali tertawa mendengar pertanyaan Siwon, “Kau masih tidak mengerti?” Ia menunjuk kotak itu, dan berkata, “Alasannya adalah kotak itu. Harabeojimu sudah menjodohkanmu dengan seorang yeoja. Dan, yeoja itu sedang membutuhkan bantuan kita sekarang… Karena itu kau harus menikah secepatnya…”

Siwon mencoba menim-nimbang perkataan ayahnya. Sejujurnya, ia masih berat untuk menyetujui perjodohan yang dianggapnya gila itu. Namun, apa daya. Ia tak mungkin melawan ayhnya yang mempunyai kuasa yang amat besar saat ini. Jika ia melawan ayahnya berarti ia membunuh dirinya sendiri  dan tentunya Jessica, yeojachingunya yang masih amat dicintainya.

Ia menimbang-nimbang lagi dengan pikirannya yang saat ini amat kacau, ia memutuskan untuk  membuat penwaran dengan ayahnya. Ia tak mau sepenuhnya dirugikan, “Baiklah.. Aku hanya mempunyai satu syarat. Aku akan menikah dengan wanita itu hanya sampai aku dinobatkan menjadi raja. Setelah itu, aku akan menceraikan wanita itu dan menikah dengan Jessica. Bagaimana?”

Mendengar penawaran Siwon membuat Appanya langsung tersenyum dengan sinis, senyuman yang amat dingin namun menunjukkan kepuasan tersendiri, “Kau memang putraku Choi Siwon… Aku suka dengan jalan pikiranmu..”Ia mengancungkan ibu jari tangannya.

Siwon terkejut dengan reaksi Appanya. Ia berpikir Aappanya akan marah dengan penawaran gilanya. Ia mmendekatkan wajahnya pada ayahnya dan memandang ayahnya serius, “Jadi Jeonha setuju?”

Sang Raja mengangguk dan tersenyum lagi, “Neh.. Aku suka dengan jalan pikiranmu. Karena itu menandakan bahwa kau tidak mau dirugikan..”Ia terdiam sejenak, lalu bangkit dari duduknya, dan menepuk pundak Siwon, “Kau memang sudah dewasa sekarng. Sudah saatnya kau menjadi raja…”

Setelah itu Raja memutar badannya, ia menyambar kotak yang ada di atas mejanya dan meninggalkan ruangan itu. Meninggalkan Siwon seorang diri. Siwon hanya bisa terdiam dan memandangi punggung Appanya yang berlalu begitu saja dari hadapannya.

Setelah Appanya pergi, Siwon mendongakkan kepalanya dan tersenyum pahit. Siwon ingat saat kedua mata ayahnya yang menatapnya dengan dingin dan tegas. Tidak terlihat rasa bersalah ataupun beban apapun saat mengatakan pernyataan yang gila itu. Siwon hanya bisa tersenyum pahit, “Bagaimana mungkin dia tidak punya beban apapun saat mengatakan hal ini padaku? Apa dia kira aku mainan yang selalu bisa dia permainkan seenaknya?”

***

Pagi ini Yoona memutuskan untuk mampir  rumah sakit sebelum pergi ke kantor. Ia mendapati adik perempuannya, Krystal sedang membersihkan tangan Halmeoninya dengan handuk basah, “Bagaimana keadaan Halmeoni?”Tanyanya.

Krystal menghentikan kegiatannya sejenak, “Seperti yang Eonni lihat.. Belum ada perkembangan apa-apa..”Jawab Krystal sambil tersenyum lemah, Ia membalikkan badannya dan menoleh kea rah Yoona, “Eonni, aku harus pulang sekarang, jika tidak nanti aku akan terlambat ke sekolang sekolah… Eonni bisa kan menjaga Halmeoni sebentar?”

Yoona mengangguk lemah,”Neh.. Tapi nanti pulang sekolah kau langsung kemari kan?”

“Neh…”Jawab Krystal dengan anggukan, lalu dia bertanya lagi, “Geundae.. Apa nanti malam Eonni akan ke rumah sakit?’

“Tentu saja… Malam ini biar Eonni yang menjaga Halmeoni. Semalam kan kau sudah menjaganya.”Yoona tersenyum kecil, lalu melirik jam di tangannya sekilas, “Pergilah sekarang. Eonni tidak mau kau terlambat lagi..”

“Arra.. Arra.. Aku akan pergi..”

Sepeninggal adiknya, Yoona melangkah pelan menuju sisi tempat tidur dan menatap sedih Halmeoninya yang masih terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Ia melihat masker oksigen yang masih terpasang di tubuh Halmeoninya dengan miris. Garis yang tergambar di alat pendeteksi detak jantung yang ada di samping ranjang juga bergerak pelan.

Ia menghela nafas panjang dan mengambil kain basah yang diletakkan Krystal di meja kecil dan melanjutkan pekerjaannya mengelap tangan Halmeoninya yang tak bergerak. Perasaan bersalah kembali menghantuinya. Kedua matanya yang indah mulai berkaca-kaca lagi.

“Halmeoni…”Bisiknya pelan, “Mianhae..”

Air mata yang sedari tadi ia tahan mulai berjatuhan satu per satu membasahi wajahnya yang cantik, “Mianhae.. Aku sudah membuat Halmeoni seperti ini. Seharusnya aku tidak meninggalkan Halmeoini sendirian. Seharusnya aku tetap membawa Halmeoni kembali ke kamar. Seharusnya aku…”Ia terus menangis menumpahkan permintaan maafnya pada Halmeoninya yang masih terbaring dengan damai. Ia berharap Halmeoninya dapat memaafkannya dan segera bangun dari tidur nyenyaknya, namun sayang, tidak ada tanda-tanda apapun yang menandakan Halmeoninya akan sadar jika ia tak segera menjalankan operasi.

Perlahan-lahan ia mengalihkan handuk basah yang ada di tangannya pada wajah Halmeoninya yang berwarna pucat dan membasuhnya dengan lembut, “Halmeoni.. Kumohon bukalah matamu…”Isaknya lagi.

“Halmeoni, Jika kau tidak bangun juga aku harus bagaimana?  Aku mohon berikan aku jawaban… Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang.. Aku mohon…”Ia mulai menggocangkan tubuh Halmeoninya perlahan, “Aku tidak mau mengambil milik Eonni.. Tapi aku tidak punya cara lain.. Ottohkae..”

Ia sungguh berharap Halmeoninya akan memberikan jawaban atas pertanyaannnya yang terkesan bodoh. Pertanyaan yang sebenarnya ia sendiri tahu jawabannya. Tapi, dalam keadaan seperti ini jelas ia sendiri harus mengelak dari jawaban yang seharusnya.

“Halmeoni.. Jika kau tidak setuju dengan keputusan bodohhku ini aku mohon bangunlah segera. Setelah itu Halmeoni boleh melakukan apapun padaku. Pada cucu yang sudah membuatmu seperti ini…”Ia terdiam sejenak dan memejamkan matanya,lalu melanjutkan lagi dengan tatapan kosong, “Geundae.. Kalau Halmeoni tak juga bangun untuk menjawabku.. Aku anggap Halmeoni setuju dengan keputusan bodohku ini…”Ia bergumam dengan miris dan menyeka air mata yang masih ada di pelupuk matanya.

“Aku harap kau mendengarku…Aku benar-benar takut…. ”

***

“Yah! Kau sedang membaca atau tidak?”

Siwon tersadar dari lamunan dan mengangkat wajahnya. Ia melihat Donghae yang kini telah duduk di hadapannya. Sahabat baiknya itu sedang memerhatikannya dengan alis terangkat.

“Neh? Ah.. Aku membacanya..”Jawab Siwon ragu lalu kembali menatap buku dihadapannya dengan tatapan kosong.

Donghae menutup buku Siwon lalu melipat tangannya di meja, “Waeyo? Apa kau ada masalah?”

“Ani..”Siwon menggelengkan kepalanya.

“Come on! Kau bahkan tak menyadari kedatanganku. Dan kuperhatikan sejak tadi kau hanya memelototi halaman itu terus menerus dengan tatapan kosongmu itu. Aku tahu kau hanya melihat halamanya, tapi kau sama sekali tidak membacanya. Choi Siwon, cepat beritahu padaku, apa yang sedang kau pikirkan?”

Siwon tertawa kecil dan membuka halaman yang tadi telah tertutup oleh Donghae, “Ani.. Aku hanya bosan menunggumu.. Karena itu aku melamun sebentar..”

Donghae hanya bisa mendesah pasrah mendengar jawaban Siwon. Dia tahu seberapa keras kepalanya sahabat baiknya itu. Jika Siwon tidak mau memberitahunya, maka sampai kapanpun dia tidak akan tahu. Sekalipun dia memaksa, juga tidak akan ada gunanya.

Donghae mengetukkan jari-jarinya dan menatap sekeliling kafe yang berada di rumah sakit ini yang cukup ramai, “Yah, Choi Siwon! Kenapa kau tak takut datang kemari? Kau tak takut jika ada orang yang mengenalimu di pagi hari seperti ini?”Donghae berbisik pelan.

“Ani…”Siwon menggelengkan kepalanya, lalu bertnya lagi “Kau tidak lihat penyamaranku?”

Donghae terdiam, lalu memerhatikan gaya Siwon yang memang sedikit misterius dibanding biasanya. Hari ini Siwon hanya berpakaian kaus berwarna putih dan jaket coklat. Tak lupa juga dipadukan dengan celana jeans berwarna biru kehitam-hitaman. Untukmenutupi wajahnya dia juga menggunakan topi NIKE berwarna hitam dan sepatu NIKE berwarna  putih. Juga tas backpacker yang membuatnya tampak seperti seorang mahasiswa.

“Benar-benar penyamaran sempurna..”Ujar Donghae sambil mengancungkan kedua tangannya dan tersenyum, “Geundae, dimana 2 pengawalmu itu? Tumben sekali mereka tidak mengikutimu?”

Siwon tersenyum samar, lalu menatap Donghae dan berbisik ”Aku sedang menyuruh mereka membeli sesuatu. Lagipula kalau mereka mengikutiku, pasti penyamaranku akan gagal..”

“Kau benar juga… Ah, mana hadiah yang mau kautitipkan?”

Siwon menutup bukunya dan memandang Donghae kecewa, “Aku tidak sempat membelinya Hae..”

“Kenapa bisa?”

“Seperti biasa karena pertemuan-pertemuan menyebalkan itu… Aku ke sini saja harus diam-diam…”

Donghae mengangguk dan menepuk pundak Siwon pelan, “Arraso.. Aku akan memberitahunya.. Ia pasti mengerti..”

“Gomawo Hae..”

“Neh.. Cheonma..”

“Kau mau makan apa? Biar aku yang mentraktirmu hari ini.Anggap saja sebagai ucapan terima kasihku..”

“Sepertinya setiap hari kau yang mentraktirku. Haha.. Aku akan memesan..”

Saat itu ponsel Donghae yang ada di jas putihnya bergetar hebat. Ia mengambilnya dan mengangkat panggilan di seberang sana dengan wajah khawatir.

“Uisa-nim.. Pasien di kamar 307 mengalami pendarahan..”Suara di seberang sana benar-benar terdengar khawatir.

“Arra.. Aku akan kesana sekarang..”

Donghae menutup ponselnya dan memandang Siwon, “Kenapa? Apa ada masalah dengan pasienmu?”Tebak Siwon.

“Neh.. Begitulah..Huh.. Padahal ini kan jam istrirahat..”Jawab Donghae sambil menggerutu kesal, “Mianhae.. Aku pergi sekarang ya…  ”

***

Yoona berjalan dengan pandangan yang terpusat pada selembar kertas di sepanjang koridor rumah sakit sambil memegang secangkir kopi panas. Dengan buru-buru ia berjalan di sepanjang koridor yang terlihat sepi ini untuk pergi ke kantornya.

Karena terlalu berkonsentrasi, ia tidak memperhatikan jalan dan menabrak seorang namja yang sedang berjalan dengan terburu-buru kea rah ujung koridor. Berhubung tabrakan itu cukup keras dan yang ditabrak adalah namja bertubuh kekar, Yoona kehilangan keseimbangannya membentur dinding koridor. Kopi panas yang tadi dipegannya jatuh membasahi bajunya dan juga ke lantai. Gelas plastic yang ada di lantai mulai berguling  menjauhi tempatnya terjatuh.

“OUCH…”Rintih Yoona.

“Sorry.. I’m so sorry..”

Suara bass dan tulus yang terdengar di telingannya membuatnya mendongakan pandangannya ke hadapan seorang lelaki yang tengah mengulurkan tangannya untuk membantunya berdiri. Ia memperhatikan sejenak pria yang tengah memandangnya khawatir dengan seksama. Wajh pria ini memang tampak sedikit misterius karena tertutup topi hitam dan juga masker putih.

“Sepertinya aku pernah mendengar suaranya… Geundae… Nugu?”Pikir Yoona dalam hati sambil memandang wajah itu dengan lekat.

Lamunannya terhenti ketika melihat pria yang semenjak tadi terlihat misterius di hadapannya ini dengan tiba-tiba mendekatkan wajahnya dan memandang wajah Yoona juga dengan melekat. Wajah mereka yang berjarak dekat membuat Yoona sedikit terkejut dan mulai ketakutan, “Ya! Wae.. Wae.. Kenapa kau memandangku seperti itu? Nuguya? Ya!”

Pria ini tidak menjawab. Dengan kasar, ia langsung menarik tangan Yoona agar Yoona berdiri dari tempatnya dan terus memandangnya tajam, “Ya! Kenapa kau menarikku dengan kasar? Nuguya? Jangan seenaknya saja!”Bentak Yoona lalu menarik tangannya dari cengkeraman Siwon.

Pria itu kembali tak menjawabnya. Dia memandang mata Yoona semakin lekat seakan ingin membunuhnya. Yoona yang tadinya marah, kini mulai ketakutan, “Sashireun.. Aku tidak tahu salahku…. Geundae… Hm… Kalau memang aku… Aku bersalah.. Aku mohon maafkan aku… Mianhae.. Jeongmal mianhae..”Ia membungkuk dengan gemetar.

Setelah meminta maaf, ia langsung membalikkan badannya dan ingin beranjak pergi, namun tangannya kembali ditahan oleh pria yang tak dikenalnya itu.

“Kau tak mengingatku?”Pria itu kembali bersuara dengan nada datar. Yoona terdiam sejenak dan mencoba mengingat siapa pria misterius ini. Namun ia sama sekali tak dapat menebaknya.

“Aku tak mengingat suaramu.. Bahkan aku tak yakin jika aku memang mengenalmu. Jadi aku mohon jangan ganggu aku… Aku mohon padamu..”Jawab Yoona gugup tanpa berani membalikkan badannya dan bertemu dengan sosok misterius dibelakangnya.

“Haha… Ternyata kau bisa juga melupakanku… Haha..”Pria ini bersuara lagi dan tertawa dengan sakartis. Yoona semakin takut. Ia ingin kabur, namun tangannya tak juga lepas dari cengkeraman pria itu,“Kenapa dia tertawa? Apa mungkin pria ini gila? Atau jangan-jangan.. dia psikopat?”

Perlahan ia membalikkan badannya dan memberanikan diri menatap mata pria yang sedang menertawakan dirinya, “Jika kau tak juga melepaskan tanganku, aku akan berteriak sekarang juga!”Ancam Yoona dengan gemetaran.

Namun, harapan Yoona salah. Ia berharap pria ini akan melepas tangannya saat mendengar ancamannya. Tapi yang terjadi justru pria misterius itu tertawa lebih kencang dan membuat Yoona semakin takut.

“Baiklah.. Aku akan berteriak sekarang…”Kata Yoona tegas. Ia mulai menarik nafas dalam-dalam dan memejamkan matanya. Persetan dengan harga dirinya, yang terpenting saat ini adalah keselamatan dirinya. “AAA…..”Teriakannya tiba-tiba saja tidak terdengar saat pria di hadapannya itu membekap mulutnya dengan telapak tangannya.

“Kau mau tahu siapa aku?”Bisik pria itu lagi di telinga Yoona. Yoona semakin takut. Ia menggelengkan kepalanya dengan buru-buru. Ia sama sekali tak ingin tahu siapa pria di hadapannya ini. Jantungnya kini berdetak terlalu cepat.Matanya kini mulai berkaca-kaca karena takut. Ia berharap siapapun akan menolongnya. Namun sayang, lorong yang dijalaninya ini terlihat sepi.  Belum terlihat satu orangpun yang berada di sekitar koridor ini.

“Haha.. Kalaupun kau tidak mau.. Kau tetap harus tahu siapa aku..”Bisik pria itu lagi sambil tertawa sakartis. Yoona tetap memejamkan matanya rapat-rapat.Air mata yang ada di pelupuk matanya mulai mengalir membasahi wajahnya.

Yoona merasakan mulutnya kini terasa lega dan tangannya kini tak berada lagi di dalam cengkeraman pria misterius itu. Badannya terasa lemas dalam seketika. Tapi ia tetap enggan membuka matanya yang masih tertutup terlalu rapat. Ia berharap kejadian yang baru saja ia alami hanyalah mimpi.

“Buka matamu..”Suara itu terdengar lagi. Suara itu kembali membuat tubuhnya menegang lagi dalam seketika. Ia tetap enggan mebuka matanya. Namun, pria misterius itu tetap memaksanya, “Cepat, buka matamu.. Aku yakin kau pasti mengenalku.. Kau tak akan menyesal melihatku.. Percayalah…”Suara itu terdengan datar namun sinis.

Yoona mengerjap-ngerjapkan kedua matanya dengan takut. Dalam hati kecilnya, ia sungguh tak ingin tahu sosok pria misterius yang ada di hadapannya ini. Tapi sayang, Tuhan berkehendak lain. Matanya kini sudah menangkap sesosok pria tampan yang terbebas dari masker putihnya yang tengah tersenyum sinis dan memandangnya tajam.

“Omo! Kau…”Yoona amat terkejut saat melihat pria yang paling ingin dihindarinya beberapa hari ini kini berdiri di hadapannya. Rasa ketakutannya benar-benar meningkat. Ia ingin berlari kabur saat ini, tapi sayang tubuhnya seakan tidak bisa bergerak.

 Pria itu menatap kedua mata Yoona yang tampak gemetar dengan tatapan meremehkan, “Kau mengingatku kan sekarang?”Tunjuknya pada dirinya sendiri.

Yoona mengangguk dengan cepat tanpa berani berkata apa-apa. Ia bahkan menundukkan wajahnya karena takut. “Chinjja… Jauh lebih baik aku bertemu dengan penjahat dari pada bertemu dengan Pangeran Siwon.. AISH! Kenapa aku harus bertemu dengannya…” Pikirnya.

“Baguslah kalau kau ingat! Aku tak menyangka kita akan bertemu lagi… Dan sepertinya ada yang harus kita selesaikan sekarang..”

“Ige.. Hm.. Wangseja, Aku minta maaf.. Jeongmal Joseonghamnida untuk kejadian waktu itu… Sashireun aku sama sekali tak berniat untuk membentak ataupun membantah ucapan Anda.. Aku .. Aku hanya tidak tega melihat anak itu menangis.. Jeongmal Jongseohamnida…”Yoona membungkukkan badannya berkali-kali dengan gemetar. Tentu saja dia berharap Siwon akan berbaik hati dan memaafkan kesalahan bodoh yang sudah ia lakukan.

“Apa kau kira dengan cara itu aku akan memaafkanmu?”

Yoona diam. Ia  tak dapat menjawab pertanyaan Siwon.

Siwon membentak Yoona dengan nadanya yang amat tajam, “Kau tahu kau sudah mempermalukanku di acara itu! Dan sekarang kau berharap aku akan memaafkanmu? Haha.. Kau kira aku malaikat?!” . Siwon menghembuskan nafasnya yang membara. Seluruh amarahnya kini ia tumpahkan. Membuat air mata Yoona lagi-lagi berjatuhan ke lantai. Ia semakin enggan mengangkat wajahnya. Ia sama sekali tidak berani menatap sosok Siwon yang tengah penuh amarah.

“Lalu…Aku…Aku..harus.. bagaimana?”Gumam Yoona terputus-putus di tengah isakan tangisnya.

Siwon menatap remehYoona yang tengah menangis dihadapannya, “Ternyata kau memang tidak ada bedanya dengan anak kecil. Kau membela mereka, tapi kau juga sangat cengeng!”

Mendengar hinaan yang dilontarkan Siwon secara frontal tentu saja membuat Yoona menjadi kesal. Dia sama sekali tidak terima dianggap dirinya seperti anak kecil hanya karena dia menangis. Dia tetap diam dan mencerna semua kata-kata Siwon dalam hatinya, walaupun dia menggerutu keras,‘Bukankah wajar jika aku takut? Bagaimanapun aku memang pernah melakukan kesalahan di depan Pangeran gila ini… Tapi… Setelah kupikir-pikir ini kan bukan kesalahanku sepenuhnya! Lagipula untuk apa aku menghormati pangeran gila seperti dia!!! Pangeran yang bahkan tidak bisa menjaga etikanya di depan anak kecil! Kalau aku takut padanya, berarti aku juga gila!’Pikir Yoona dalam hatinya.

‘Jangan mentang-mentang dia Pangeran lalu dia bisa seenaknya! Aku sudah melakukan kewajibanku untuk meminta maaf! Tapi kalau dia menghinaku, jelas itu masalah lain!’

Dengan segenap keberaniannya ia menyeka air matanya dan mendongakkan wajahnya kea rah Siwon. Ia memincingkan kedua matanya dan memandang siwon dengan remeh, “Kau bilang apa? Aku anak kecil? Kau tak salah?”.

“Neh.. Kau cengeng! Itu artinya kau adalah anak kecil!”

Yoona mendesah kesal, lalu menunjuk Siwon,“Anak kecil? Kau sendiri apa? Bukankah kau juga?”

“Maksudmu? Aku?”

Yoona mengangguk. “Neh.. Kalau kau menganggap aku berumur 5 tahun seperti anak itu, maka kau seperti anak berumur 3 tahun! Haha…”Yoona tertawa dengan sakartis.

“3 Tahun? Kau gila!”

“Ani..”Ia menggelengkan kepalanya, lalu melanjutkan, “Aku berperan sebagai kakak yang membela adiknya, sementara kau berperan sebagai adik yang selalu ingin dimanja oleh kedua orang tuanya, tanpa mempedulikan kakaknya. Bukankah itu lucu?”

Siwon terdiam. Ia tak bisa menjawab lagi akan pernyataan Yoona atau lebih tepatnya sindiran. Sebagai pangeran ber-IQ tinggi tentu saja ia tahu apa yang dimaksud Yoona. Ia membuang mukanya ke arah lain karena malu, rasa egoisnya masih saja menguasai pikirannya, “Wanita gila! AISH! Tapi apa yang harus kujawab? COME ON SIWON! Keep Thinking! You can’t lose to this crazy girl!”

“Sudahlah.. Tidak usah kau pikirkan! Aku anggap kita impas! Aku memang mempermalukanmu dipanti asuhan waktu itu, dan hari ini kau sudah membuatku jatuh dan bajuku kotor. Jadi aku anggap kita impas!”Yoona tersenyum mengejek. Ia berjinjit sedikit dan berbisik ke telinga Siwon dengan tajam, “Aku tarik kembali permintaan maafku. Annyeong…”Lalu dengan sekeja ia berjalan dengan santainya di sepanjang koridor yang sepi itu sambil tertawa kencang.

Sementara Siwon hanya bisa diam di tempatnya dan membelakkan kedua matanya melihat Yoona yang sudah menghabisinya kini berjalan dengan santai. Ia menghembuskan nafasnya kencang  dan berteriak kesal, “Aku benar-benar sudah gila! Bagaimana mungkin aku kalah oleh wanita gila itu! AISH!!!”

 

***

 ‘Gelap sekali.. Tempat apa ini? Kenapa aku bisa ada di sini?’

“Aku ada di mana???”

Berkali-kali aku berteriak namun tak ada satu orang pun di tempat yang gelap dan dingin ini. Aku hanya melihat sebuah pintu berwarna putih yang ada di ujung tempat yang gelap ini. Selain itu tak ada satu cahaya pun yang menerangi tempat ini. Aku juga mulai menggigil karena angin yang bertiup kencang. Karena  takut, aku pun memilih berjalan kea rah pintu berwarna putih yang ada di ujung.

Aku maju mendekat pada pintu yang kini ada di hadapanku dengan ragu-ragu. Sejujurnya, aku tidak ingin membuka pintu ini, tapi suasana di tempat ini jauh lebih mengerikan. Aku menarik napas panjang kemudian mencoba menempelkan telinga kananku dengan hati-hati.

“Eonni..”

Suara itu terdengar amat pelan dan serak. Namun aku dapat mendengarnya dengan jelas. Aku mencoba membuka gagang pintu untuk masuk ke dalam ke ruangan itu, tapi tidak bisa. Pintu di hadapanku terkunci. Aku mendekatkan telingaku lagi dan suara itu terdengar lagi sedikit lebih kencang.

“Eonnie.. Kumohon kembalilah.. Kkajima…Temani aku..”, Kini suara itu berubah menjadi tangisan.

Aku mengetuk pintu itu berkali-kali dan berharap siapapun yang ada di dalam ruangan itu segera  membuka pintu itu. Aku yakin orang di dalam sana sedang ketakutan, “Siapapun yang di sana… Aku mohon buka pintunya!”

Namun tak ada yang berubah. Orang di dalam sana tak juga membuka pintunya. Tangisan orang di dalam sana semakin kencang dan membuatku semakin khawatir.

“Kkjonghajima.. Aku bukan orang jahat. Aku mohon buka pintunya… Aku akan menolongmu..”Aku mnggedor pintu itu berkali-kali dan berteriak.

“Eonnie… Kkajima… Aku mohon…”Suara itu terdengar lagi. Kali ini tangisan itu semakin kencang. Tangisan yang terdengar pilu dan amat menyakitkan.

Aku masih menimbang-nimbang apa yang harus aku lakukan ketika pintu itu mendadak berayun terbuka dengan satu gerakan cepat. Aku melihat sesosok wanita dewasa yang sedang menggandeng tangan seorang gadis remaja menuju ke arahku. Aku mengerutkan keningku bingung saat melihat dengan jelas kedua sosok yang berjalan ke arahku, “Itu.. Aku… dan Eomma?”Aku membelakkan mataku mencoba menelusuri kedua sosok yang kini berdiri di depanku, tapi aku tidak salah, itu memang Eomma dan diriku beberapa tahun yang lalu.

“Tunggu.. Eomma.Aku….”Aku mencoba menggapai tangan Eommaku. Tapi tidak bisa. Mereka bagaikan bayangan yang berjalan melewaati aku begitu saja.

“Kenapa bisa ada aku di sana? Apa yang sebenarnya terjadi?”

Karena keingintahuanku, Sepeninggal diriku dan Eomma yang menghilang, aku melangkah masuk ke dalam ruangan kosong yang berwarna putih.  Aku berjalan dengan hati-hati ke arah suara tangisan seorang gadis kecil yang terdengar amat pilu. Aku menemukan seorang gadis gadis kecil yang sedang menangis di sudut ruangan itu seorang diri. Ia membenamkan wajahnya di antara kedua kakinya.Tubuhnya bergetar hebat karena ketakutan.

“Eonni.. Kalau kau pergi aku bagaimana? Aku takut…”Anak manis ini menangis dengan pilu. Ia terlihat amat kasihan. Aku menghampiri gadis itu dan duduk di sebelahnya, “Anak manis, kau kenapa?”Aku mencoba untuk memeluk gadis kecil ini namun tanganku menembus tubuhnya bagai bayangan.

Gadis itu tak mempedulikan pertanyaanku. Ia tetap menangis dengan pilunya. Aku hanya bisa menatap miris gadis manis ini, “Kenapa Eonninya tega meninggalkannya begitu saja? Kasihan sekali adiknya…”Gumamku. Andaikan aku bisa menjadi Eonninya aku tidak akan meninggalkan anak semanis ini. Aku ingin sekali memeluk anak manis ini dan menghiburnya.

“Yoona!”

Suara itu menghentikan lamunanku,Aku mengerutkan keningku,  “Yoona?” Sepertinya aku tidak asing dengan nama ini. Yoona, adik tiriku yang begitu kusayangi dan kurindukan.

Aku melihat dari arahku seorang wanita paruh baya yang familiar berjalan ke arahku dan Yoona. Wanita lain yang amat kusayangi, dia adalah Halmeoniku, “Halmeoni..”Aku bergumam. Aku amat merindukannya dan ingin sekali memeluknya, tapi sayang itu tidak mungkin. Suaraku saja tidak bisa ia dengar. Bagaimana mungkin ia dapat melihat tubuhku.

Aku melihat Halmeoni menghampiri Yoona, adik tiriku yang amat kurindukan dan memeluknya hangat. Ia membelai rambut Yoona dengan sayang lalu berbisik, “Uljimma…”. Suaranya yang amat lembut selalu kurindukan. Tanpa sadar air mataku mengalir. Aku ingat saat aku masih kecil, Halmeoni sering sekali memelukku dan Yoona bersamaan. Rasanya sakit sekali jika mengingat kenangan itu.

“Aku mau Eonnie…”

“Halmeoni tahu. Tapi dia sudah pergi… Sekarang kita ke kamar ya?”Halmeoni berusaha membantu Yoona untuk berdiri. Namun Yoona tetap enggan berdiri. Ia malah menangis semakin kencang.

“Sayang.. Halmeoni mohon jangan seperti ini. Kalau kau menangis lagi nanti Eommamu marah…”

“Aku mau Eonnie… Aku hanya mau Eonni…”

“Sayang…”

“Aku mau Eonni… Aku mau Eonnie…”

Melihat Yoona yang kini menangis keras di dalam pelukan Halmeoni semakin membuat hatiku sakit. Suara tangisan polos yang terdengar di telingaku terdengar begitu menyakitkan. Dulu, setiap kali Yoona takut dan menangis aku selalu menemaninya dan memeluknya. Semenjak dulu, aku memang paling tidak tega melihat adikku itu menangis. Tak kusangka, justru kali ini akulah yang menyebabkan dia menangis.

Aku membiarkan diriku menangis di sampingnya. Andaikan saja dia bisa mendengarku dan melihatku, mungkin dia tidak akan menangis lagi, “Yoona-ah, mianhae… Uljima. Eonni ada di sini..”

“Eonni ada di sini… Eonnie ada di sini…”

Tiffany Hwang terbangun dengan nafas yang terengah-engah.  Kepalanya terasa begitu sakit. Matanya pun terlihat sembab. Ia menatap sekelilingnya tatapan kosong. Tanpa terasa air matanya berjatuhan lagi untuk kesekian kalinya.

“Mimpi itu…”

Tiffany mengacak  rambutnya frustrasi. Beberapa hari ini ia selalu memimpikan hal yang sama. Mimpi yang menghantuinya 10 tahun yang lalu. Mimpi yang membuatnya begitu ketakutan. Mimpi yang memenuhi pikirannya beberapa hari ini. Ia sama sekali tidak mengerti kenapa ia bisa terus memimpikan hal itu. Padahal sudah lama sekali ia berusaha melupakan adik kesayangannya itu, tapi kenapa di saat ia hampir melupakannya justru sosok Yoona harus muncul lagi dalam mimpinya. Ia sama sekali tidak mengerti. Apalagi membayangkan sosok adik kecilnya yang menaangis karenanya, jelas membuatnya khawatir dan bersalah.

Tiffany membalikkan tubuhnya ke samping, dan menyusupkan wajahnya ke lengan seorang pria bertubuh kekar yang sedang tertidur pulas.

Nickhun, pria tampan ini berasal dari Thailand. Semenjak ia berumur 15 tahun, ia dan keluarganya pindah ke Paris. Saat ini, Nickhun bekerja sebagai seorang manager di salah satu restoran terkenal di kota yang terkenal dengan menara Eiffel ini. Walaupun, ketika pertama kali bertemu dengannya, Tiffany merasa Nickhun lebih mirip preman karena tato dan tubuhnya yang amat berotot. Namun, siapa sangka ketika ia mengenal baik sosok Nickhun, justru pria ini adalah seorang pria yang amat lembut dan pengertian.

Semenjak mengenalnya beberapa bulan yang lalu, mereka sering sekali menghabiskan waktu bersama. Baik untuk sekedar mengobrol ataupun tidur bersama. Yah, sebagai sahabat yang hidup di negara yang bebas, bukan hal yang aneh jika seorang pria dan wanita tidur bersama tanpa komitmen yang jelas bukan.

“Wae? Kau kenapa?”Bisik Nickhun dengan suara yanng serak dan mengantuk. Dia mengubah arah tidurnya dan membuka lengannya dengan lebih lebar, mengizinkan Tiffany untuk masuk dalam pelukannya dan menangis di atas tubuhnya yang kekar.

“Aku… mimpi buruk..”

Nickhun mengernyitkan dahinya, dan menatap Tiffany yang masih membenamkan wajahnya di bidang dadanya, “Lagi?”Tanya Nickhun, wajahnya terlihat penasaran sekaligus khawatir, “Apa yang sebenarnya kau mimpikan? Aku mohon ceritakanlah…”

Tiffany masih saja terisak. Ia mengingat dengan detail apa cerita dalam mimpinya. Tapi dia tidak ingin membicarakannya. Dia tidak ingin mengatakan bahwa ia mempikan adik tirinya yang amat dia rindukan. Dia tidak ingin Nickhun mengetahui bagian dari masa lalunya yang amat kelam.

“Ani..”Jawabnya masih terus terisak sembari menggelengkan kepalanya pelan. Ia memejamkan matanya, dan mencari kenyamanan di dada Nickhun.

Nickhun menghela nafasnya pasrah, sudah beberapa hari ini Tiffany selalu mengeluh mimpi buruk. Dan, itu membuatnya tidak bisa berkonsentrasi melakukan apapu. Bahkan, ia saja tidak berani tidur seorang diri di dalam kamarnya. Sudah berkali-kali Nickhun bertanya, namun, ia sama sekali tak mau menceritakannya. Dan, hal ini jelas membuat Nickhun, sebagai sahabat dekatnya menjadi khawatir. “Fanny-ah, bagaimana kalau kita pergi ke psikiater?”Tanya Nickhun lembut.

Tiffany amat terkejut dengan saran Nickhun, mendadak ia menjadi marah. Ia berbalik dan memunggungi Nickhun, “Aku Tidak Gila!”

“Fanny-ah, kau tahu itu bukan maksudku.. Aku hanya..”Nickhun bingung, ia membelai pungggung Tiffany berusaha menenangkan sahabatnya. Dan kini, Tiffany kembali menangis kencang di pelukan seorang Nickhun, “Aku merindukannya…”Dan, Nickhun terus memeluk tubuhnya, walaupun ia sama sekali tidak mengerti apapun yang ada dalam pikiran Tiffany. Ia hanya berharap pelukannya  bisa membuat hati Tiffany tenang.

                                                                                                    ***

Yoona merasa frustrasi. Ia menghempaskan tubuhnya ke sofa begitu ia tiba di rumahnya. Ia memijat pelipisnya yang terasa berat. Kedua matanya yang terasa berat ia pejamkan sejenak. Ia benar-benar merasa lelah dan membutuhkan istirahat di sore hari ini. Tapi sayang, tak sampai berapa menit ia harus  bangun dari duduknya dan menuju kamar mandi untuk mempersiapkan diri pergi ke pertemuan penting. Pertemuan yang begitu mengerikan yang akan merubah seluruh kehidupannya. Ia ingin menghindar, tapi sayang ia tak punya pilihan lain. Hanya inilah satu-satunya jalan yang tersedia saat ini. Pepatah mengatakan ‘Ada banyak jalan ke Roma’. Tapi kennyataannya pepatah itu sama sekali tidak berlaku dalam kehidupan Yoona.

FLASHBACK

Semalam, Yoona berdiri di depan jendela rumah sakit dengan muka muram menatap langit yang tampak gelap di luar. Langit tampak lebih gelap dari biasanya. Rintik-rintik hujan juga mulai membasahi jendela kamar rumah sakit ini. Ia memandang sendu langit-langit yang tampak menangis. Sebenarnya, ia sangat menyukai musim semi sekalipun itu di malam hari. Tapi sayang, musim semi tahun ini tidak seindah tahun-tahun sebelumnya. Beberapa hari ini hujan sering membasahi kota Seoul ini. Terlebih lagi musim semi tahun ini diawali dengan masalah yang begitu berat. Dan ini membuat suasana hatinya tidak baik. Ia menyesap segelas the hangat di tangannya, lalu kembali memusatkan perhatian pada Halmeoninya yang masih tertidur dengan pulas di ranjang rumah sakit.

Ia mendongak ketika pintu kamar pasien terbuka dan 2 sosok pria muncul dengan wajah yang terlihat datar. Kedua pria itu tampak sangat tampan dengan balutan jas hitam di tubuh mereka. Wajah merekapun mirip, yang membedakannya hanyalah seorang di antara mereka memakai kacamata, dan satunya tidak. “Annyeonghashimnika… Apa di sini ada yang bernama Im Yoona?”Tanya salah satu pria yang menggunakan kacamata hitam.

Yoona sedikit terkejut melihat kedatangan kedua orang pria yang sekarang ada di hadapannya. Ia memperhatikan mereka dari atas sampai bawah. Dia berusaha berpikir sejenak apa tujuan mereka kemari, tapi dia sama sekali tidak dapat menebaknya. Maka Ia  mengangguk dengan ragu, “Neh.. Aku Im Yoona.. Waeyo?”

“Kami datang untuk memberitahukan Anda bahwa besok malam Anda dan keluarga Anda diundang ke istana untuk makan malam…”Jelas seorang lagi yang tidak menggunakan kacamata.

“Makan malam?”Gumam Yoona bingung, “Dalam rangka apa aku diundang makan malam?”Tanya Yoona penasaran.

“Jeosonghamnida.. Kami hanya menyampaikan undangan dari Raja dan Ratu. Selebihnya kami tidak tahu..”Jawab keduanya sambil membungkuk hormat.

“Arraso..”Yoona mengangguk mengerti, “Geundae, apa boleh aku bertanya sesuatu?”Tanya Yoona dengan ragu.

Mereka berdua mengangguk bersamaan, “Tentu saja boleh….”

“Ige.. Hm.. Kira-kira pakaian seperti apa yang harus kukenakan? Gaun atau pakaian formal seperti kemeja?”

Yoona menunggu jawaban keduanya dengan antusiasme yang tinggi, namun sayang mereka malah tertawa kecil menanggapi pertanyaan Yoona, sepertinya pertanyaanku adalah pertanyaan bodoh yang pernah didengar mereka? Aish! Bodoh kau Im Yoona!

Mereka masih saja terkekeh kecil, “Mianhae.. Kami tidak tahu…”Jawab mereka sambil mengangkat kedua bahu mereka.

“Ah.. Baiklah.. Sepertinya aku salah bertanya..”Gumam Yoona sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal karena malu.

Ia masih terus melamun dengan pikirannya, sampai seseorang dari mereka membuka suaranya, “Mianhe.. Kami harus kembali ke istana sekarang..”

“Ah.. Neh…Tolong sampaikan ucapan terima kasihku atas undangannya..”

“Neh..Akan kami sampaikan.. Joseonghamnida jika kami mengganggu…”Kedua pengawal itu membungkuk hormat lagi pada Yoona dan beranjak keluar dari ruangan dengan tegap.

Yoona melambaikan tangannya menatap kepergian mereka dengan lega. Perasaan canggung dan gugupnya hilang dalam sekejap. Tapi ada sesuatu yang baru saja di sadarinya, “Tunggu! Mereka bilang makan malam? Jam berapa?”Gumamnya pada diri sendiri, lalu terbelalak. “Lalu keluargaku? Mana mungkin keluargaku ikut? Aku saja belum memberitahu tentang perjodohan itu! AISH! Ottohkae?!”

Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, lalu mengerang kesal, “AISH! Seharusnya tadi aku menolak! PABO!”

FLASHBACK END

Ia mengacak-ngacak lemarinya frustrasi. Ia benar-benar merasa lelah dan sesak sekarang ini. Ia begitu resah sampai ingin meninju sesuatu atau melempar apapun untuk melampiaskan seluruh kesediahan dan kekesalannya sendiri. Ia berusaha menenangkan diri. Ia menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya pelan. Tetapi tetap saja keresahannya tak berkurang. Ia tahu bahwa nanti akan ada  ada masalah yang lebih besar lagi, Ia akan bertemu dengan Pangeran Siwon yang bermasalah dengannya kemarin. Dan saat itulah ia sadar bahwa Ia telah melakukan kesalahan besar.

***

“Jadi bagaimana? Kalian berdua setuju kan jika pernikahan kalian diadakan minggu depan?”

Siwon dan Yoona berpandangan satu sama lain. Pandangan tajam jelas terpanjar dari raut wajah Siwon yang tampak sangat dingin. Sementara wajah Yoona terlihat amat pasrah. Saat itu mereka ada di ruangan keluarga yang ada di dalam istana bergaya tradisional ini. Ruangan ini cukup besar. Namun suasana ruangan ini amat dingin. Semenjak Yoona duduk di tempat ini hanya sapaan saja yang baru keluar dari mulutnya. Tak ada lagi pembicaraan basa-basi yang biasa dilakukan oleh orang-orang pada umumya.

Semenjak Siwon datang di sini dan bertemu denga Yoona, ia juga tidak mengatakan apapun. Ia hanya memandang Yoona dengan tatapan yang amat penuh kebencian dan penuh amarah seakan Ia ingin membunuh Yoona.

Yoona melihat ke arah Siwon. Terlihat jelas dari wajahnya jika Siwon tidak suka pertanyaan itu. Ia bahkan membuang wajahnya ke arah samping agar tidak melihat kedua orang tuannya maupun Yoona.

Yoona berdeham pelan, dan melirik ke arah Raja dan Ratu yang duduk di hadapannya, “Neh..”

Seakan tidak peduli dengan pendapat anaknya sendiri, sang Raja langsung tersenyum lebar dan mengambil keputusannya seorang diri, “Baguslah.. besok sore kita akan mengadakan konferensi pers secara langsung untuk memberitahukan dunia akan pernikahan kalian berdua. Persiapkan diri kalian.. ” Jelas sang Raja dengan tegas.

Yoona terkejut. Ia menghentikan makannya sejenak dan menatap raja dan ratu dengan ragu, “Mwo? Be… Besok?Tanyanya gugup, “Tidakkah itu terlalu cepat?” Siwon yang ada di sampingnya tidak berkutik sama sekali. Ia hanya menatap Yoona sekilas, lalu melanjutkan makannya lagi. Seakan ia sudah tidak peduli lagi apapun yang akan Yoona lakukan.

Sang Ratu juga meletakkan sendok garpunya di piringnya, lalu tersenyum tuluis pada Yoona, “Ani.. Kami sudah memikirkan keputusan ini secara matang. Bukankah kau membu..”

Belum sempat Ratu melanjutkan perkataannya, Yoona langsung memotong, “Arrasso… Aku akan melakukannya. Hanya saja…”

Sekilas, sang Ratu memandang Yoona terkejut, karena dengan tiba-tiba Yoona memotng perkataannya. Tatapan yang memohon dan gugup yang terpancar dari Yoona membuatnya mengerti. Ia sudah dapat menebak kalau Yoona pasti tidak ingin alasan dia menikah diketahui oleh Siwon.

“Hanya saja apa?”Tanya ratu dengan lembut.

Yoona memandang ratu dengan tatapan memelas, “Aku tidak tahu apa yang harus kupersiapkan.. “

“Kkojonghajima… Konferensi pers tidak seburuk yang kau bayangkan. Kau hanya perlu memiliki pengetahuan dasar mengenai kerajaan tradisi Korea…”

“Tapi..”Yoona masih bergumam dengan ragu, “Aku tak tahu apa yang harus kubicarakan. Tak ada satu halpun yang menarik dari diriku..Dan, aku juga tak tahu apapun mengenai tradisi kerajaan Korea..”Jawabnya jujur sambil menundukkan mukanya.

Siwon yang duduk di sampingnya tersenyum sinis meremehkan Yoona, ‘Sudah kubilang ia tidak akan bisa apa-apa? Baguslah.. Dengan begitu, pernikahan itu pasti akan segera diundur…’ Dengan cepat, ia mengambil segelas wine yang ada di hadapannya dan meminumnya sekaligus. Lalu ia langsung meletakkannya kembali ke meja dan mengelap mulutnya. Setelah itu, ia langsung bangkit dari kursinya dan membungkuk kepada kedua orang tuannya, “Aku sudah selesai. Aku  akan kembali ke kamar..”Baru saja ia membalikkan badannya kea rah pintu, suara Appanya langsung menghentikan langkahnya.

“Malam mini kau harus menginap di sini. Dan Siwon akan mengajarimu apa yang harus kau katakan besok..”

Siwon membalikkan badannya terkejut, lalu menatap Appanya dengan bingung, “Mwo? Naega?”Ia menunjuk dirinya sendiri.

Yoona juga ikut mendongakkan kepalanya, “Mwo? Malam ini?”

“Neh.. Mulai malam ini Yoona akan tinggal di istana. Ia harus mulai belajar banyak hal mulai sekarang, khususnya mengenai upacara pernikahan yang sesuai dengan tradisi Korea di istana ini. Dan, besok semuanya berjalan dengan lancar, jadi pastikan kau mengajarinya dengan baik!”Jelasnya tegas tanpa menatap Siwon.

“Kau tidak perlu khawatir..  Pelayan akan menyiapkan pakaian untukmu.. Kkojonghajima… Kau hanya perlu mengabari orang tuamu..”

“Neh.. Aku tidak mau kalian berdua melakukan kesalahan? Arra?”

Sebenarnya Yoona amat terkejut dengan keputusan raja, namun apa daya. Dia juga tidak bisa berkomentar ataupun menolak dengan keputusan Raja. Baginya, sudah bagus dia diberikan waktu seminggu. Setidaknya dia masih bisa mempersiapkan mentalnya. Dan, untuk mala mini jelas ia tak mempunyai pilihan lain. Mau tidak mau ia harus menuruti perintah Raja dan Ratu.

“Neh..”Jawab Yoona pelan. Sementara Siwon hanya bisa memandang ketiga orang yang masih di meja makan dengan tatapan amarah. Ia langsung membalikkan badannya lagi dan menghilang di balik pintu dengan kemarahan di dalam hatinya.

***

PARIS

Seorang gadis cantik dengan senyuman khasnya berdiri dengan tegap saat ia melemparkan topi wisudanya ke atas langit bersama sahabat-sahabatnya yang lain. Tubuhnya yang mungil di tengah-tengah kerumunan sahbat-sahabatnya jelas membuatnya sedikit sulit terlihat oleh penonton wisuda di ruangan posium yang luas ini. Namun suasana sukacita dan kebanggaan tetap tergambar jelas di ruangan podium ini.

“Hey, do you wanna go in front?”Tawar seorang Pria bernama John pada Jessica yang berdiri di belakangnya.

Jessica menggelengkan kepalanya pelan dan tersenyum manis, Nope.. It’s okay.. I’ll stay here. ..”

Seorang pria lain bernama George juga ikut menawarkan tempatnya untuk Jessica, “Yup. Sit at my place… So, you’re family can see you clearly..”

“It’s okay Guys.. None of my family or my friends come here..”Ia menolak dengan nada sedikit terdengar kecewa.

Kedua pria tadi menatap satu sama lain, kemudia tersenyum pada Jessica dan menepuk bahunya pelan, “Hey! Don’t be sad.. We’re all your friends right?”

Jessica tersenyum menanggapi kedua sahabatnya yang menghiburnya. Setelah kedua sahabatnya beranjak meninggalkannya, ia menatap kursi-kursi penonton  dari jauh dengan sedih. Tanpa sadar ia menangis. Ia ingin sekali keluargana atau sahabatnya atau Siwon saat ini duduk di sana dan melihatnya. Namun, sayangnya tidak ada satu orangpun yang dia harapkan ada di sana.

Appanya masih sangat sibuk dengan urusan istananya., sementara Eommanya sibuk dengan urusan perusahaan designnya. Namjachingunya, Choi Siwon juga masih sangat sibuk dengan urusan istananya, begitu pula dengan sahabat baiknya Donghae yang masih sibuk dengan pekerjaannya sebagai dokter.

Ia menyebarkan pandangannya ke sekeliling ruangan itu dan matanya menangkap sosok Tiffany yang sedang berfoto dengan ibunya dan Nickhun. Karena tak ada yang bisa ia kerjakan, ia pun berjalan menghampiri ketiganya.

Jessica langsung membungkuk menyapa Eomma Tiffany, “Annyeonghasaeyo Eomma..”

Jessica dan Tiffany memang sudah menjadi sahabat baik semenjak 4 tahun lalu. Keduanya sama-sama ornag Korea. Karena itu tak sulit untuk mereka menjadi sahabat baik di tengah-tengah budaya Perancis ini. Keduanya sama-sama mengambil jurusan desain. Karena mereka berdua sangat dekat, amka Jessica sudah sangat terbiasa memanggil Eomma Tiffany dengan sebuatn Eomma. Karena baginya, selama ia di Perancis orang yang sering mengurusi kebutuhannya adalah Eomma Tiffany. Jadi ia memang sudah menganggapnya sebagai Eomma kandungnya sendiri.

Eomma Tiffany pun langsung tersenyum dan memeluk Jessica dengan sayang, “Ah.. Chukkae Sooyeon..”Ia menepuk pelan pundak Jessica.

“Kamsahamnida..”Ucapnya pelan.

Tiffany yang berdiri di samping Jessica juga ikut memeluknya dan memberi pelukan bagi sahabat baiknya ini. Begitu juga dengan Nickhun.

“Okay.. Ladies.. Bagaimana kalau hari ini Eomma mentraktir kalian?”

Tiffany, Nickhun, dan Jessica mengangguk dengan antusias, “Neh.. “

***

Suasana malam kota Paris ini amat sangat indah. Bintang-bintang di langit masih tampak berkelap-kelip. Keramaian malam masih jelas memenuhi aktivitas malam haari di kota Perancis ini. Jessica yang baru saja selesai makan malam bersama Tiffany, Eomma Tiffany, dan Nickhun, memutuskan untuk berjalan pulang seorang diri di tengah malam yang cukup terasa dingin ini. Ia berjalan perlahan sambil mengeratkan blazernya dengan erat. Matanya masih sibuk menatap jalanan yang masih diterangi oleh-lampu artstik ini.

Ia menghentikan langkahnya di depan sebuah apartemen yang sederhana namun penuh dnegan konsep artistik. Di sanalah tempat ia tinggal. Dengan langkap sigap, ia masuk ke dalam apartemen itu sambil membuka tasnya dan mengambil kuncinya.

Saat ia hendak menaiki tangga kearah kamarnya yang terletak di lantai 3, seorang pria tua tiba-tiba saja berlari dan menghampiri Jessica, “Sica, ada orang yang sedang menunggumu di lounge..”

Jessica lantas mengernyitkan dahinya bingung, “Menungguku? Siapa?”Tanyanya.

Pria tua itu mengangkat kedua bahunya pertanda bahwa ia juga tak mengenalnya, “I don’t know… Tapi sepertinya ia juga orang Asia sepertimu..”

“Asia? Nuguya?”Jessica bergumam sambil mencoba berpikir, “Okay.. Thank you for the information.. I will go there..”

Jessicca kembali turun dari tangga dan masuk ke dalam lounge. Ia berjalan mengelilingi lounge itu sambil mencoba mencari sosok yang sedang menunggunya. Namun, ia tak juga menemukannya. Sampai, ia menghentikan pandangan matanya pada seorang pria yang sedang duduk di kursi ujung ruangan ini seorang diri. Wajah dan tubuh pria itu tertutup oleh jaketnya yang berwarna hitam.

Ia sama sekali tidak asing dengan pemandangan itu. Sebab selama ini hanya ada 2 orang yang sering tidur seperti itu. Dan kedua orang itu adalah orang-ornag yang sangat ia sayangi. Sekarang masalahnya hanya ada satu, siapakah orang yang ada di balik jaket hitam itu? Sahabat baiknya Lee Donghae? Atau Namjachingunya Choi Siwon? Tapi bukankah kedua-duanya mengatakan tidak akan bisa datang menemuinya?

Ia menghela napasnya panjang dan berjalan mendekat. Dengan ragu ia duduk di samping pria itu dan mencoba mengamati sekilas rupa pria itu. Tapi ia sama sekali tak dapat menebaknya. Ia mengamati sekeliling pria itu, dan ia menemukan sebuket bungan mawar yang ada di bawah kursinya. Perlahan, ia menarik sebuket mawar itu dan membuka kartu yang terselip di mawar itu.

When I am without her, the sun doesn’t shine as brightly.
When I am without her, the clouds are dark and foreboding.
When I am without her, the birds don’t sing as sweetly.
When I am without her, the walls close in on me.
When I am without her, in the depths of my hell, whispering her name sustains me.
But, when I am with her, she lifts me up.
When I am with her, I have the strength to move mountains.
When I am with her, I can withstand anything.
When I am with her, her smile warms my very soul.
When I am with her, the angels sing her name.
When I am with her, I fall in love all over again, my love… Jessica Jung

http://www.familyfriendpoems.com/poem/what-it-means-to-love

I MISS U- CONGRATULATIONS^^.. I’M SORRY I CAN’T BE THERE… I LOVE YOU
-CHOI SIWON-

Seulas senyuman terukir manis di wajah Jessica. Dengan semangat ia langsung meletakkan bunga dan kartu itu di atas meja. Perlahan tapi pasti ia membuka jaket yang menutupi wajah pria yang dirindukannya itu dan langsung memeluknya dengan sayang.

“Siwon Oppa!” Ia berkata dengan sangat bahagia bahkan tanpa sadar ia sudah menangis.

Pria yang kini berada dalam pelukan Jessica tampak sangat terkejut. Merasakan pelukan Jessica membuat jantungnya  berdetak amat cepat. Ia tak sempat menjawab ataupun menanggapi perkataan Jessica. Ia juga tak membalas pelukan Jessica. Tubuhnya terasa begitu kaku.

Ketika Jessica elepaskan pelukannya, ia juga tak kalah terkejut. Matanya juga terbelalak sempurna. Ia tak percaya kalau pria yang ia peluk bukanlah Choi Siwon, namjachingunya. Melainkan seorang pria lain yang kini juga menatapnya dengan tatapan datar.

“Hae.. Oppa..”Gumamnya dengan wajah yang kini terlihat kecewa.

***

Sudah lebih dari 15 menit Jessica dan Donghae duduk berhadapan, namun tak ada satu perkataan yang memecahkan keheningan ini. Keduanya masih tampak enggan untuk mengeluarkan suara mereka. Wajar saja, Jessica masih merasa sangat malu atas kejadian tadi.  Ia telah salah memeluk Donghae yang ia kira adalah Siwon. Ia masih merasa sangat canggung. Begitu juga dengan Donghae, ia masih merasa canggung karena Jessica memeluknya.Bukan ia tidak menyukai pelukan Jessica untuknya.. Hanya saja ia tahu kalau pelukan y6ang ia terima hanyalah sebuah kesalahan

“Sica..” “Oppa..”Keduanya berusaha membuka pembicaraan.

“You first….”Donghae mempersilakan Jessica untuk berbicara terlebih dahulu.

Jessica menghela nafasnya panjang berusaha menenangkan dirinya, “Aku.. Aku mau minta maaf soal..tadi.. Aku benar-benar tidak tahu jika itu Oppa.. Aku kira tadi.. Siwon.. Mianhae Oppa..”Ia membungkukkan dirinya meminta maaf dengan canggung tanpa berani menatap Donghae.

“Andaikan saja pelukan itu memang untukku.. Andaikan..”Pikir Donghae sambil tersenyum miris pada Jessica.

“Gwenchanna..”Ia menepuk pundak Jessica sambil berusaha tersenyum tulus, “Aku rasa itu wajar.. Kau pasti sangat merindukan Siwon kan?”Tanya Donghae dengan pelan.

Jessica menggeleng pelan, “Ani.. Bukan itu..” Ia terlihat bingung, “Maksudku, aku memang merindukannya. Hanya saja bukan itu alasannya aku memelukmu..”

“Jadi?”Tanya Donghae.

Jessica menunjuk bunga yang tadi ia letakkan di atas meja beserta surat itu, “Aku mrngambil bunga itu dan membacanya. Dan karena itu aku kira Siwon.. Mianhae Oppa..”

“Ah.. Ige…”Ia juga ikut menunjuk mawar itu, “Mianhae.. Siwon menitipkannya langsung dari Korea khusus untukmu..  Jadi maaf sekali kalau bunga itu sampai layu…”Donghae berkata dengan nada kecewa.

Jessica tersenyum bahagia. Kemudian tanganny mengambil dan mencium bunga mawar kesukaannya itu dan menggegamnya dengan sayang, “Gwenchanna.. Bunga ini walaupun layu tapi tetap harum..”

Donghae tersenyum puas, “Baguslah kalau kau suka. Kau tahu kan kalau membeli itu tidak mudah? Ia harus memesannya khusus dari jauh-jauh hari. Jadi aku harap kau senang dengan hadiahnya..”

Jessica mengangguk, “Tentu saja aku menyukainya.. Tapi tumben sekali ia mau membeli bunga ini untukku? Bukankah biasanya ia selalu lupa akan kesukaanku?”

Donghae mengangkat kedua bahunya ringan, “Molla.. Mungkin dia tidak ingin kau terlalu kecewa karena ia tidak bisa datang ke wisudamu..”

“Neh.. Mungkin.. Lalu bagaimana dengan Oppa sendiri? Kenapa Oppa bisa ada di sini? Bukankah kau bilang padaku kalau Oppa tidak akan bisa menemani wisudaku?”Tanya Jessica dengan penasaran.

“Kebetulan aku ada waktu luang. Jadi akau rasa bukan masalah kalau aku kemari. Aku sudah tiba tadi siang. Dan, saat aku mau menghubungimu HPmu tidak aktif. Dan, saat aku datang ke universitasmu, acaramu sudah selesai. Jadi aku memutuskan untuk menunggumu di lounge apartemenmu saja..”Jelas Donghae.

“Mwo? Jadi Oppa datang karena aku? Lalu kenapa tidak memberitahuku dari kemarin?”

Donghae menatap Jessica dengan tatapan bersalah,“I want to give you surprise.. Tapi sepertinya gagal. Mianhae..”

Jessica tertawa, “Gwenchanna.. Aku juga meminta maaf karena tak mengaangkat HPmu.. Hari ini aku benar-benar sibuk..”Lalu ia bertanya , “Oppa sudah makan?”

Donghae menggeleng sambil menyentuh perutnya, “Ani…”

“Kalau begitu ikut aku naik.. Aku akan memasak untukmu.. Eotte?”Tawar Jessica dengan senyuman merekah.

“Chinjja?”Tanya Donghae serius.

Jessica lantas kembali mengangguk untuk meyakinkan Donghae, “Neh. Aku serius..”Tapi kemudian ia berbisik pelan, “Geundae aku tidak menjamin soal rasanya… Kajja..”

“Andaikan saja kau tahu yang sebenarnya…”

***

Sudah 5 menit Yoona berdiri seorang diri di depan kamar Siwon. Setelah makan malam, Sang Ratu memang menyuruh Yoona untuk langsung mencari Siwon untuk membantunya mempersiapkan konferensi pers besok. Ia jelas tak bisa menolak saran sekaligus perintah dari wanita yang saat ini mempunyai kekuasaan tertinggi di negeri Korea ini. Ia pun menyetujuinya.

Tapi siapa sangka, saat ia berada di hadapan pintu kayu yang tertutup rapat ini jantungnya kembali berdetak cepat karena takut. Berkali-kali ia berusaha memberanikan diri untuk mengangkat tangannya mengetuk pintu Siwon, namun selalu gagal. Saat tangannya menyentuh kamar itu, keberaniannya seakan menciut begitu saja.

“Jeseonghamnida, apa ada yang bisa saya bantu?”Tawar seorang pelayan wanita yang menghampiri Yoona yang masih terlihat enggan mengetuk pintu Siwon.

“Ani..”

Pelayan itu semakin memandang Yoona ragu,”Geundae, saya perhatikan semenjak tadi Anda sepertinya ingin mengetuk pintu ini?”Tanyanya retoris.

Yoona mengangguk, “Neh.. Aku mau mengetuknya.”Lalu ia bertanya lagi, “Biasanya apa Wangseja sudah tidur pada waktu seperti ini?”Tanyanya basa-basi.  Ia hanya mau memberikan alasan yang masuk akal  saja, padahal jelas sekali alasannya adalah hanya karena ketakutannya berhadapan dengan Siwon.

Pelayan itu melihat jam di tangan kirinya sekilas, “Ani.. Wangseja biasanya belum tidur.”Jawabnya pasti.

“Ah.. Arasso..”Yoona mengangguk mengerti, “Kalau begitu aku akan mengetuk pintunya..Kamsamnida..”

“Neh.. Cheonma..”Jawab pelayan itu dengan hormat lalu pergi dari hadapan Yoona dan kembali pada posisinya yang ada di sudut ruangan ini.

Yoona pun kembali ragu. Sekilas ia melirik kea rah tempat berdirinya pelayan yang tadi berbicara padanya. Dan, ia bisa melihat pelayan itu masih terus mengamati apa yang akan dilakukan Yoona, seakan-akan dia adalah pencuri yang ingin menculik tuannya. Jelas Yoona tak menyukai itu. Dengan keberanian, ia pun mulai mengangkat tangannya kembali untuk mengetuk pintu kamar Siwon kembali.

Baru saja ia mnyentuh pintu kamar kayu itu, tiba-tiba saja pintu kamar itu terbuka dengan kasar. Dan membuatnya melompat kaget. Terlebih lagi karena tiba-tiba saja di hadapannya kini berdiri seorang Choi Siwon yang telah rapi dengan jaket hitamnya sedang memandangnya tajam. Saat Yoona melihat tatapan itu, jelas nyalinya kembali menciut. Tubuhnya kembali terasa kaku dan pikirannya kosong.

“Minggir!”Gertakan yang keluar dari mulut Siwon terdengar amat dingin.

Yoona tetap diam. Pandangannya seakan terpaku pada wajah seorang Choi Siwon yang terlihat begitu tampan. Wajah Siwon yang begitu terlihat dekat oleh matanya kini membuat pikirannya kosong. Ia seakan begitu tersihir oleh ketampanan seorang Choi Siwon.

Siwon kembali menghela nafasnya kesal. Lalu ia berbisik di telinga Yoona, “Kau tak dengar apa yang kukatakan barusan?”Lalu ia kembali memandang mata Yoona dengan tajam dan menggertaknya lagi, “Kubilang minggir!”

Yoona tersadar. Ia menjadi salah tingkah. Ia laangsung menggeser tubuhnya dari hadapan Siwon dan membuang pandangannya kea rah lain. Lebih tepatnya kea rah pelayan yang kini sedang menertawakan tingkah bodohnya. Ia mengetuk kepalanya ringan, “Pabo Im Yoona!”Gumamnya kesal.

“Baru menyadari kau Pabo?”Ia menyela dari belakang Yoona dengan nada tak kalah sakartis, “Lain kali jangan berani-berani mendekati kamarku..”Ia melanjutkan perintahnya dengan nada dingin setelah itu ia langsung beranjak pergi meninggalkan Yoona seorang diri dan menuju pintu keluar.

“Chakamman..”Yoona berteriak dengan ragu saat ia melihat SIwon berjalan meninggalkannya.

Siwon hanya diam. Namun ia menghentikan langkahnya menunggu Yoona melanjutkan kalimatnya. Tapi kenyataannya Yoona hanya diam. Ia pun kembali berajalan kembali dan membuka pintu keluar, “Chakkaman Wangseja..”

Dengan segenap keberanian dan menahan urat malunya sendiri, Yoona pun berlari kea rah Siwon yang berhenti di depan pintu. Ia berdiri di samping Siwon dan menundukkan kepalanya takut, “Hm.. Jeseonghamnida Wangseja soal tadi.. Aku minta maaf.. Geundae, bisakah kau mengajariku untuk konferensi pers besok? Aku …Aku benar-benar tidak tahu apa yang harus aku katakan..”

Siwon menolehkan kepalanya kea rah Yoona yang masih menunduk, “Kau lihat kalau sekarang aku mau pergi?”Tanyanya retori namun terdengar tajam. Yoona hanya bisa mengangguk pelan, “Arrasso.. Geundae, aku bena…” Belum sempat Yoona melanjutkan perkataannya, Siwon memotongnya dengan dingn, “Itu artinya aku tidak ada waktu untuk mengajarimu..”Yoona kembali bergumam lemah, “Geundae, Wangbi-mama dan Jeonhae menyuruhku untuk meminta bantuan pada Wangseja..”

“Aku rasa lebih baik kau tanyakan saja pada mereka.. Bukankah mereka yang merancangkan pernikahan ini dengan seenaknya?”Ia tertawa sakartis.

Yoona hanya bisa pasrah, “Lalu aku harus bagaimana sekarang? Kalau Anda tidak membantuku , lalu siapa?”Tanyanya pasrah.

“Apa menurutmu kau pantas meminta bantuan padaku?”Tanya Siwon kembali dengan dingin. Yoona kembali diam. Ia tahu betul, tak ada alasan apapun yang membuatnya pantas untuk meminta bantuan pada Siwon. Ia sudah memberikan kesan negative pada Siwon dari awal pertemuan mereka, dan tentunya itu bukanlah hal yang aneh kalau Siwon menolak permintaannya.

Air matanya kini mengalir satu per satu mengikuti langkah Siwon yang kini beranjak meninggalkannya.

***

Siwon duduk sendirian di bar langganannya dan memainkan gelas wine yang ada di atas meja dengan tangannya sambil melamun. Beberapa hari ini ia benar-benar merasa lelah. Pekerjaan dan permasalahan pernikahan gilanya benar-benar menguras tenaga maupun pikirannya. Aktivitas pertemuannya dengan para menteri Korea maupun luar negeri sudah membuatnya lelah, ditambah lagi rencana perjodohan yang harus ia jalan minggu depan. Ia merasa muak mejalani semuanya.

Bahkan penederitaannya tak hanya sampai di situ. Tapi ia sendiri sama sekali tak menyangka kalau ia akan menikahi Im Yoona, seorang wanita yang sudah memepermalukannya. Wanita yang mungkin hingga saat ini paling ia benci dalam hidupnya. Jikalau ia tahu wanita itu Yoona, mungkin ia akan memilih untuk menolah perjodohan gila ini. Tapi sayangny ia tidak tahu. Lagipula sekalipun ia tahu, ia sadar ia pun tidak bisa berkutik atas keputusan Appanya. Terlebih lagi ancaman Appanya mengenai Jessica. Mau tidak mau dan suka tidak suka ia harus bisa menghadapi semuanya.

Siwon mendengus kemudian meneguk minumannya sekaligus, “Aku memang sudah gila sekarang..”Gumamnya dengan kesal.

“Wangseja, Jeonha ingin berbicara pada Anda..”

Suara seorang bodyguardnya membuyarkan lamunan Siwon. Ia menoleh pada bodyguardnya yang memberikan HP miliknya pada Siwon. Dengan malas SIwon menyambar HP itu dan berbicara dengan Appanya.

“Apa yang sedang kau lakukan di bar malam-malam begini?”Tanya Appanya dengan nada dingin.

Siwon tersenyum sinis  dan menjawab dengan malas, “Tumben sekali Jeonha peduli apa kegiatan saya?”

“Sadar kau kalau kau adalah Pangeran Korea! Bagaimana bisa kau pergi ke bar di waktu malam seperti ini? Bagaimana kalau nanti ada pers/ media yang melihatmu?”

“Kkojonghajima.. Aku pastikan tidak akan ada masalah..”Jawabnya tegas.

“Arasso.. Dan, ingat urusi Yoona! Aku tidak mau kalau sampai konferensi pers beso hancur hanya karena ia tak mengetahui apa yang harus ia bicarakan! Arra?!”

“Kenapa tidak Jeonha saja yang mengajarnya?”

“Choi Siwon, aku tegaskan sekali lagi padamu! Kalau sampai konferensi pers besok ada masalah, aku pastikan perjanjian kita batal!”Ayahnya berkata tak kalah tegas.

Siwon mengernyitkan dahinya bingung, “Maksud Anda?”

“Dengar! Aku tak mau proses pernikahan kalian sampai ada masalah. Baik dari konferensi pers besok hingga hari pernikahan kalian. Aku ingin kalian menciptakan image yang baik sebagai Pangeran dan Putri Korea. Jikalau sampai kau mengacaukan itu, aku pastikan kau dan Jessica tidak akan pernah bersatu!”

Siwon membanting HP miliknya kasar di atas meja. Ia memegang kepalanya yang kini berdenyut dengan kencang.

“Wangseja, Gwenchanna?”Bodyguardnya kembali memandang Siwon prihatin.

“Bilang pada pelayan Kim, aku menyuruh Yoona untuk membaca buku berjudul “XXX”. Katakan padanya untuk membaca seluruh isi buku itu! Arrasso?”Perintahnya tegas pada bodyguardnya. Lalu ia kembali mengangkat kepalanya pada pelayan bar yang juga tengah memandangnya khawatir, “Berikan aku sebotol lagi!”

***

Yoona menatap layar ponselnya dengan pandanga kosong di atas sebuah bangku panjang yang ada di belakang taman istana itu. Perasaan bersalah dan takut masih menghantui dirinya jika ia mengingat bagaimana  ia harus berbohong kepada Eommanya karena ia tak bisa pulang hari ini karena alasan pekerjaan. Padahal kenyataannya saat ini ia sedang duduk seorang diri dengan takut di tengah malam hari yagn cukup dingin. Kemeja modis dan rok sederhana yang membalut tubuhnya membuat rasa malam  ini cukup membuatnya menggigil. Namun, tak ada yang bisa ia lakukan sekarang.

Ia benar-benar bingung apa yang akan terjadi hari esok. Ia tak bisa membayangkan esok hari dirinya akan terpampang di TV. Ia tak bisa membayangkan bagaimana reaksi Eommanya dan Krystal saat mendengar berita pernikahan yang sebenarnya tak ia inginkan ini. Ia terlalu takut membayangkannya. Lamunan Yoona terhenti saat ia melihat seorang pelayan yang tiba-tiba saja berjalan ke arahnya dan member hormat padanya.

 “Permisi.. Im Yoona-sshi.. Saya ingin menyampaikan titipan pesan dari Wangseja untuk Anda..”

“Pesan apa?”Tanya Yoona bingung.

Pelayan itu kemudian memberikan Yoona sebuah buku, “Wangseja berpesan agar Anda membaca buku ini. Beliau berpesan agar Anda menghafal semua buku ini..”

Dengan ragu, Yoona pun mengambil buku bersampul coklat tua itu dengan tangan kanannya dan menundukkan kepalanya sekilas, “Arrasso.. Kamsahamnida..”

“Cheonma… Adakah yang bisa saya bantu lagi?”Tanya Pelayan itu lagi dengan hormat.

Yoona kembali bertanya, “Jeseonghamnida, kira-kira kamarku ada di mana?”Ia memandang kearah pavilion yang cukup besar yagn ada di hadapannya.

“Jeseonghamnida, soal kamar kami sama sekali tidak tahu.. Di Paviliun ini semua perintah datang dari Wangseja.. Jeseonghamnida…”

Yoona pun hanya bisa mendesah kecewa dengan jawaban Pelayan itu, “Arasso.. Kamsahamnida..”

Sepeninggal pelayan itu Yoona mulai membuka buku tradisional korea yang berukuran cukup tebal itu. Sejujurnya ia sendiri pun tak yakin apakah ia bisa menghabiskan buku setebal itu dalam satu malam. Terlebih lagi ia harus membacanya dengan mengandalkan lampu taman dan lampu HPny. Tapi setidaknya ia sedikit bersyukur karena ada persiapan yang ia lakukan untuk hari esok. Sekarang ia hanya harus memastikan bahwa buku ini selesai malam ini sehingga besok ia tak perlu dipermalukan.

“Ternyata ia baik juga..”

***

Ketika hari sudah subuh Siwon baru tiba di Paviliun miliknya.Kepalanya memang masih terasa berat  namun ia sama sekali tak mabuk. Mungkin karena ia terlalu sering meminum wine. Sehingga wine-wine itu tak lagi berkhasiat untuk tubuhnya. Dengan malas, ia melangkah masuk ke dalam paviliunnya yagn disambut oleh pelayann-pelayan wanita yagn berbaris menyambutnya.

Tanpa senyuman Siwon langsung membuka pintu kamarnya dan hendak beranjak masuk, namun langkahnya terhenti karena matanya menangkap lampu taman yang masih menyala terang. Tak biasanya phari subuh seperti ini lampu masih menyala, “Kenapa lampu taman menyala seterang itu?”Tanyanya pada pelayan-pelayan yagn masih berbaris rapi.

Pelayan-pelayan itu tampak bingung dan memandang satu dengan yang lain.Sampai seorang pelayan yang ada di ujung memberikan jawabannya, “Joseonghamnida Wangseja, lampu di taman menyala karena di sana ada Im Yoona-sshi… Ia sedang membaca di taman..”

“Mwo? Membaca di taman? Sejak kapan ia di sana?”

“Semenjak tadi malam.. Kira-kira sudah 5 jam yang lalu..”Jawab pelayan yang lain.

Siwon kini memandang mereka satu per satu dengan tatapan tajam, “Siapa yang menyuruhnya membaca buku di sana?”

“Joseonghamnida Wangseja, kami tidak berani memberikan kamar untuknya karena belum mendapatkan perintah dari Anda. Joseonghamnida..”

Sebenarnya Siwon tak ingin peduli. Namun  ia tak bisa berbohong, perasaaan khawatir muncul dalam dirinya. Bagaimanapun Yoona adalah seorang wanita. Terlebih lagi ia sudah 5 jam beradda di luar sana dengan suasana malam seperti ini.

Ia pun berjalan melewati pelayan-pelayan yang masih berbaris ketakutan. Ia membuka pintu taman dan menemukan sosok Yoona yang duduk di bangku taman. Lamapu taman yang masih menyala membuat Siwon dapat dengan jelas melihat sosok Yoona yang  tertidur dengan lutut yang menekuk di atas kursinya. Buku yang bersampul warna merah itu terselip di antara tangan dan kepalanya.

“Sudah kuduga.. Ia tak mungkin membacanya..”Siwon bergumam sambil menggelengkan kepalanya. Ia berbalik dan beranjak masuk ke dalam ruangan. Ia menatap pelayannya satu per satu dengan tajam, “Urusi wanita itu sekarang! Katakan padanya untuk membuat ringkasan buku itu sekarang dan berikan padaku secepatnya!”Kata Siwon dengan tegas.

“Neh..”Jawab semua pelayannya bersamaan.

“Dan berikan dia kamar di seberangku…”

“Neh..”

***

Begitu Siwon masuk ke dalam kamarnya, ia langsung membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur sambil memijit pelan pelipisnya yang masih terasa sakit. Baru saja ia hendak menutup matanya, ponselnya bordering. Ia mengerang pelan dan meraih ponselnya dengan malas. Ia melihat sebuah Email yang masuk dengan senyuman yang mulai terbentuk di bibirnya. Sepertinya Email dari seorang Jessica Jung akan mengobati sedikit sakit kepala yang ia rasakan saat ini.

Senyumannya seketika begitu merekah begitu saja saat ia melihat foto seseorang yang begitu ia rindukan di layar HPnya. Foto Jessica Jung yang tampak sangat cantik dengan sebuket bunga mawar putih yang ada di tangannya.

Siwon menatap foto itu dengan lama. Ia amat merindukan senyuman, suara, dan tentunya kecantikan seorang Jessica yang amat dia cintai, “Bogoshippo…”Gumamnya dengan lirih.

Setelah menatap foto itu dengan cukup lama, sebuah Email baru tiba. Ia pun membukanya kembali.

“Oppa! Bogoshippo^^.. Bagaimana fotoku? Kau menyukainya? Oppa… Jeongmal Gomawo untuk bunga mwar putih darimu! Walaupun saat Donghae membawanya, bunga itu sudah layu. Tapi aku sangat menyukainya. Aku tak menyangka Oppa ingat bunga kesukaanku! Bukankah biasanya kau selalu salah memberiku mawar merah.. Ah iya, untuk suratmu itu, aku menyukainya Oppa. It’s so romantic.. Gomawo Oppa^^.. Saranghaeyo..  I miss u^^.. Hope to see you soon in Korea^^”

Siwon mencoba mencerna kata-kata yang tertulis di email itu berkali-kali. Ia benar-benar merasa bingung dengan isi email ini. Sejak kapan ia mengirimi Jessica bunga? Dan ia memang tak pernah ingat kalau Jessica menyukai bunga mawar putih? Lalu kenapa Jessica bisa mengatakan ini darinya? Dan.. Surat? Sejak kapan Siwon menuliskan surat untuknya? Ia jelas tak akan memikirkan hal-hal seromantis itu.

Siwon mencoba memutar otaknya untuk mencoba mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang muncul di otaknya. Semuanya sungguh terasa aneh. Bagaiman mungkin ia melakukan semua itu jika pikiran seromantis itu saja tak pernah muncul di kepalanya. Ia bahkan belum sempat untuk meminta maaf pada Jessica, ia terlalu bingung untuk merangkai kata-kata yang tepat. Bahkan ia tak punya keberanian hingga saat ini untuk memberitahu mengenai pernikahannya samapi saat ini.

 “Tunggu.. Apa mungkin.. Donghae? Tapi apa maksudnya?”Saat itulah senyuman di bibirnya memudar seiring dengan pertanyaan dan kebingungan yang ada di hatinya dan pikirannya.

Suara ketukan pintu tiba-tiba saja mengganggu kegiatannya lagi. Ia kembali menjatuhkan HPnya ke atas sampingnya. Karena malas berdiri dari ranjangnya, ia hanya membalas ketukan pintu dengan teriakannya, “Masuklah..”Katanya dengan kesal.

“Hm.. Wangseja..”

Siwon yang tadinya masih menutup matanya, sedikit terkejut saat menyadari suara Yoona yang kini ada di kamarnya. Siwon langsung bangun dan duduk di atas ranjang. Ia merapikan sedikit pakaiannya yang terlihat berantakan. Lalu ia menatap Yoona yang masih ada di depan pintunya dan bertanya dengan datar, “Waeyo? Ada perlua apa lagi kau menemuiku?”

Yoona terlihat ragu, ia meremas buku yang ada di tangannya lalu menatap Siwon, “Ige.. Aku.. Hm.. Aku hanya mau mengembalikan buku ini..”

“Sudah selesai?”Siwon mengerutkan keningnya bingung.

Yoona mengangguk pelan, “Neh.. Aku sudah selesai membacanya..”

Siwon menggelengkan kepalanya tak percaya . Ia sungguh tak percaya bahwa Yoona bisa membaca buku yang membosankan itu dalam 5 jam. Ia saja harus membacanya 3 hari, “Bagaimana dengan ringkasannya?”Tanya Siwon lagi.

“Ringkasannya sudah kuselipkan di buku ini..”

“Baiklah.. Letakkan saja di meja itu…”Kata Siwon sambil memandang sebuah meja yagn terletak tak jauh dari Yoona.

Dengan buru-buru Yoona langsung berjalan dan meletakkan buku itu diatas meja Siwon yang terlihat cukup berantakan dengan kertas-kertas lainnya. Setelah itu, ia langsung kembali laagi ke tempatnya semula dan membungkuk hormat, “Kamsahamnida Wangseja.. Hm.. Khususnya untuk kamarnya..”

Siwon memandang Yoona semakin kesal. Sejujurnya walaupn ia seorang pangeran, namun ia tak pernah menyukai saat orang lain harus member hormat padanya. Ia tak menyukainya. Karena itulah ia selalu menanggapi hormat yang ia terima dengan datar.

“Sudah selesai? Kalau sudah kembali ke kamarmu! Aku mau tidur sekarang!”Ia berkata tegas.

Yoona yang semenjak tadi memang tegang, dengan buru-buru langsung beranjak keluardan menutup pintu kamar Siwon.

Siwon yang kini tinggal sendirian kembali menghela nafas panjang. Ia meregangkan kedua tangannya dan bangkit dari ranjangnya menuju meja yang masih penuh dengan kertas-kertas yang harus ia kerjakan. Ia duduk di kursi kerjanya, lalu dengan malas mengambil buku yang tadi dikembalikan Yoona dan membolak-balikannya asal.

“Bagaimana mungkin ia bisa membaca buku membosankan ini dalam 5 jam?”Gumamnya tak percaya. Dalam hatinya, Siwon merasa takjub dengan apa yang dilakukan Yoona. Bagaimana mungkin Yoona bisa menyelesaikan tugas yang ia suruh hanya dalam semalam. Ini benar-benar mustahil.

Tak lupa juga ia mengambil kertas putih yang berisi ringkasan kertas yang ditulis oleh Yoona dengan seksama, dan kali ini rasa takjub itu seakan meningkat berkali-kali lipat. Ia tak habis pikir, bagaimana mungkin Yoona bisa membuat ringkasan sebagus ini. Dan, saat ia membalikkan lembar kertas itu ia menemukan sebuah pesan untuknya.

“Wangseja, aku benar-benar minta maaf mengenai kasus beberapa hari yang lalu. Jeongmal Joseonghamnida… Dan aku mau berterima kasih untuk hari ini. Terima kasih untuk buku yang ANnda titipkan untukku. Buku itu benar-benar berguna. Kamsahamnida… Mengenai ringkasan yang kubuat itu, aku rasa banyak kekurangan di dalamnya. Aku harap jika Anda tidak keberatan, Anda bisa mengoreksinya untukku..  Dan, Aku harap hubungan kita ke depannya bisa lebih baik.. Hm.. Wangseja, saya harap Anda menyukai permen yang saya berikan. Permen itu sangat bagus untuk menghilangkan stress. Anggap saja sebagai rasa terima kasih saya kepada Anda. Sekali lagi Kamsahamnida..”

Ia meletakkan kertas itu dan melihat sebuah permen berbungkus cokelat yang ada di samping bukunya. Ia mengambil permen itu dan menggenggamnya cukup lama, “Apa ini benar-benar bisa menghilangkan stress?”Gumamnya sambil terus menatap permen itu, “Aku rasa tak ada salahnya aku mencobanya..”Ia pun mulai membuka bungkusnya dan memasukkan permen itu ke dalam mulutnya. Dan saat itulah senyuman kecil perlahan kembali terukir di bibirnya, “Sepertinya aku salah menilainya… Ia tak seburuk yang kupikirkan…Perempuan yang unik..”

Sementara Yoona di tempat tidurnya juga tersenyum kecil, “Sepertinya dia tidak seburuk yang kupikirkan..”

TO BE CONTINUE

DON’T FORGET TO COMMENT! MADE THIS FF IS NOT EASY! JADI TOLONG HARGAI USAHAKU Y…

THX N GBU^^

Tinggalkan komentar

226 Komentar

  1. Choi Hye Ra

     /  April 16, 2014

    Keren….
    Kapan ϑϊ next ff ini ????
    Sayang kalo Ъќ>:/ diterusin .

    Balas
  2. rini nurkhalida

     /  Mei 10, 2014

    seru ceritanya thor,nextnya cpt ya thor.soalnya penasaran banget.heheh

    Balas
  3. chingu…. kapan nih dilanjutin secret chapter 3 nya????

    Balas
  4. omg gila ini keren

    Balas
  5. Any

     /  Mei 25, 2014

    Wahh…saingan yoona si tiffany dan jessica yg punya latar belakang pendidikan luar neger. Sayangnya lanjutan ff ini g ada. Bikin kecewa sebenernya.

    Balas
  6. JuHyunLova

     /  Juli 30, 2014

    Keren thor~~
    semangat nglanjutin ceritanya^

    Balas
  7. wulandari

     /  September 16, 2014

    Kpan secret part selanjutnya publish,,
    udah kama bingit ini,,
    rasa penasarannya sudah akut bgt author
    di tunggu

    Balas
  8. Ai juariah

     /  November 10, 2014

    Wah..yoonwon bka hati masing2 donk….siwon nggak usah terlalu kasar m yoona kan kasihan.terus knpa raja menyetujui kesepakatan dg siwon soal perceraian dan jg knpa sang ratu krang memperhatikn yoona kan kasihan……

    Balas
  9. kapn nih dilanjut?
    ffnya keren sayang banget enggak dilanjutin..

    lanjutin dong thor

    Balas
  10. Nanda Wang

     /  Januari 21, 2015

    aigoo kenapa rasa ny tak pernah bosan y dengan semua ff yg aku baca.

    next chapter please ^_^

    Balas
  11. Choi Han Ki

     /  Januari 23, 2015

    Cie elah yg udah pada bisa senyum2 sendiri di kamar wkwkwk… Masih takut gimana nanti kalo semua itu terbongkar dan tiffany kembbali ke korea

    Balas
  12. dwi wahyuni aprianti

     /  Mei 26, 2015

    Kerennnn
    chapter berikutx jgn lama” dong.🙂

    Balas
  13. cerita.y bguz bgt thor , tpi kog sayang gag di lanjtin sich , kecewa dEh

    Balas
  14. rissafebriasnan

     /  Oktober 26, 2015

    Author kenapa gak di lanjutin ???
    padahal ceritanya bagus lho, kalau bs di lanjutin ya😉
    di tunggu kelanjutanya🙂

    Balas
  15. diah fibri

     /  Januari 22, 2016

    part 3 nya blm ada ya thor ? … please lanjutin part selanjutnya donk thor ….. ceritanya bgus…..
    author hwaiting…..

    Balas
  16. diah fibri

     /  Januari 22, 2016

    part 3 nya blm ada ya ? …. please lanjutn part selanjutnya donk thor … sayang kl ga dilanjut ceritanya bagus ….
    author hwaitiiing…..

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: