[FF] Journey of Love (Chapter 6)

journey of love

Title: Journey of Love

Story By: Nitahyunmichoi

Main Cast: Choi Si Won, Im YoonA, Choi Sooyoung, Lee Jong Hyun

Support Cast: Kim Myungsoo, Jung Soo Jung, Choi Minho, Park Gyuri

Genre: Drama, Family, Romance, Sad || Length: Chapter || Rating: General

Blog:http://nitayoonwonfanfiction.wordpress.com || Twitter: @Nita_Rahayu22 – @nitayoongwonie

Disclaimer: Cerita dalam FF ini terinspirasi dari drama-drama Korea yang pernah saya tonton, namun  selebihnya, alur serta karakter tokoh adalah murni hasil imajinasi saya sendiri.

Special Art by:@Illah_Iluth

oOo

Journey of Love – Chapter 6

oOo

Siwon menyerahkan segelas air putih untuk Yoona, gadis itu menerimanya dengan tangan bergetar kemudian meneguknya sampai menyisakan setengah. Hembusan nafasnya yang terdengar sangat berat membuat Siwon menatapnya iba, meskipun Yoona menundukan kepalanya tapi Siwon tahu jika gadis itu kembali lagi menitikan air mata.

“Apa Ayah mu tidak akan pulang?” Tanya Siwon. Yoona hanya menggeleng sebagai jawaban.

“Kalau begitu aku akan menemani mu” lanjut Siwon tanpa pertimbangan. Yoona mengangkat kepalanya menatap Siwon dengan mimik wajah terkejut “Tidak boleh, pulanglah” tolak Yoona dengan suara pelan tapi masih dapat Siwon mendengarnya.

“Aku tidak mau Ibu mu menyusul mu kemari, aku tidak mau mendengar perkataannya yang begitu menyakitkan, aku tidak mau mendengarnya menghina Ayah ku lagi, dan aku tidak mau melihat Ibu mu lagi” lanjut Yoona. Binar matanya tampak memohon agar Siwon mengerti akan kondisinya saat ini.

“Aku bukan Jong Hyun yang selalu menuruti apa kata Ibu, aku bukan Jong Hyun yang selalu hormat pada Ibu, dan aku bukan Jong Hyun yang selalu diam saat kau seperti ini” Jawab Siwon yang membuat Yoona tertegun, apalagi kalimat terakhir yang Siwon ucapkan seakan menyadarkan dirinya pada sebuah kenyataan yang memang benar adanya.

“Aku adalah Choi Siwon, pria yang tidak pernah menuruti apa kata Ibunya, aku adalah Choi Siwon, pria yang tidak pernah hormat pada Ibunya, dan aku adalah Choi Siwon pria yang tidak ingin melihat mu menangis seperti ini” tutur Siwon begitu serius. Meskipun kali ini tak ada nada tinggi ataupun nada ancaman didalam kalimatnya.

“Baiklah aku pulang, tapi besok aku akan menjemput mu.” Lanjut Siwon bersiap untuk pergi tapi suara Yoona menahan langkahnya.

“Menjemput ku? Kau akan membawa ku kemana?” tanya Yoona penasaran. Siwon menoleh padanya kemudian tersenyum tipis.

“Kesuatu tempat yang bisa merubah hidup mu, selamat malam. Aku pergi” Setelah mengucapkan kalimat menggangtung dan tak dapat Yoona mengerti akhirnya Siwon hilang dibalik pintu meninggalkan sosok Yoona yang masih berdiri kaku.

“Suatu tempat? Bisa merubah hidup ku?”

oOo

Pagi kembali menyapa bumi Seoul, Yoona – gadis itu kembali akan bekerja di coffee shop. Meskipun sebenarnya dia tampak sedikit tak bersemangat karena semalam gadis itu kurang tidur. Langkah Yoona terhenti tak kala mobil Audi hitam menghalangi jalannya, Yoona menghela nafas kasar saat sang pengemudi mobil itu keluar kemudian berjalan mendekatinya.

“Ayo masuk” ujarnya tanpa basa-basi lagi.

“Kau akan membawa ku kemana?”  tanya Yoona sinis.

Choi Siwon – pria itu tersenyum tipis “Semalam sudah ku katakan bukan? Aku akan membawa mu ke suatu tempat yang bisa merubah hidup mu. Tak ada waktu lagi, ayo” Sebelum Yoona menolak Siwon segera menarik tangan gadis itu kemudian memaksanya untuk memasuki mobil, setelah itu ia pun masuk dan duduk di kursi kemudi dan tak lama mobil Audi hitam itu sudah meluncur meninggalkan jalanan yang masih tampak sepi.

Hanya berselang sekitar dua menit, sebuah mobil berwarna biru tepat berhenti di bawah rumah atap Yoona. Jong Hyun – si pengemudi mobil biru itu keluar dari dalam mobil kemudian berjalan menaiki tangga berniat untuk menemui sang kekasih, Im Yoona.

oOo

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 45 menit akhirnya sampai juga Siwon di tempat tujuan. Dia keluar dari dalam mobil di susul oleh Yoona yangtampak terkejut melihat sebuah gedung Dapartement store yang menjulang tinggi di hadapannya.

“Apa maksud mu?” Yoona menolehkan kepalanya pada Siwon, tapi pria itu hanya tersenyum namun tak menoleh pada Yoona.

“Ikuti saja aku” lanjut Siwon kemudian dia menimpin jalan. Sebelum mengikuti Siwon, Yoona kembali menatap gedung Dapartement Store tersebut dengan seribu pertanyaan di benaknya namun tak lama dia pun menyusul Siwon masuk kedalam.

“Kau terus berjalan kesana, aku ke toilet sebentar” ujar Siwon kemudian meninggalkan Yoona yang masih nampak kebingungan. Yoona mengamati sekeliling Dapartement Store tersebut, tampak sepi tak ada pengunjung sama sekali. Tentu saja Yoona heran, tak mungkin Dapartement Store terbesar di Korea ini tak memiliki pelanggang, itu mustahil rasanya. Apalagi Yoona yakin jika Dapartement Store ini selalu di kunjungi oleh orang-orang yang benar-benar berasal dari kelas atas dan selalu menjadi pengunjung VVIP yang berbelanja ratuan juta won setiap minggunya.

“Nona”

Yoona terperanjat ketika sebuah suara wanita tiba-tiba saja menghamburkan lamunannya. Yoona tersenyum kaku saat seorang wanita yang dapat diyakini merupakan karyawan di Dapartement Store tersebut membungkukan badan memberi salam.

“Mari ikuti saya Nona” ujar wanita itu begitu ramahnya. Yoona hanya dapat mengangguk dan mengikuti apa kata wanita itu.

Tak harus lama berjalan karena Yoona rupanya telah sampai di tempat tujuan, yaitu sebuah tempat yang berisi semua pakaian bermerk, sepatu, tas, maupun perhiasan mewah yang dapat di taksir berharga selangit.

“Tuan muda Choi Siwon, menyuruh saya untuk melayani anda” ujar wanita itu dengan intonasi yang begitu ramah.

“Melayani saya?” tanya Yoona bingung.

Wanita itu tersenyum melihat mimik wajah Yoona yang begitu bingung seakan minta penjelasan “Tuan Muda Choi Siwon menyewa Dapartement Store ini untuk anda, dan saya di tugaskan untuk melayani anda Nona” ujar wanta itu membuat kedua bola mata Yoona seketika saja membulat.

“Jadi itu alasannya kenapa tempat ini tidak ada sama sekali pengunjung?” tanya Yoona masih belum percaya. Wanita itu hanya mengangguk kemudian tersenyum.

“Betul Nona” jawab wanita itu tersenyum ramah.

Yoona terperangah kaget sekaligus tak percaya, bagaimana mungkin seorang Choi Siwon bisa melakukan hal di luar dugaannya seperti ini dan apa sebenarnya motif di balik semua ini. Yoona berpikir keras, mencoba mencari sebuah jawaban atas semua keanehan yang terjadi hari ini padanya.

“Tuan”

Yoona tersentak saat wanita tadi memanggil “Tuan” kepada seseorang, sudah bisa di pastikan jika orang yang di panggil tuan tak lain tak bukan adalah Choi Siwon, dan memang benar pria itu sudah berdiri di belakang Yoona. Yoona membalikan tubuhnya, kemudian menatap Siwon dengan pandangan yang sulit di artikan.

“Ada apa? Apa ada yang salah?” tanya Siwon berpura-pura tak mengerti, padahal sebenarnya dia tahu jika Yoona mempertanyakan maksud dari semua ini.

“Apa maksud mu?” Tanya Yoona.

“Apa maksud ku?” tanya Siwon menunjuk dirinya sendiri. Pria itu kembali lagi bermain-main membuat kesabaran Yoona siap meledak. Siwon tersenyum puas, sudah merasa jika dia adalah pemenang dari permainan ini. Kemudian pria itu menolehkan kepalanya pada pegawai wanita yang berdiri di sampingnya.

“Lakukan sesuai perintah ku” titah Siwon. Pegawai wanita itu mengangguk mengerti kemudian menuntun tangan Yoona untuk mengikutinya memasuki sebuah ruangan yang akan menyulap dirinya. Mata Yoona tak lepas menatap Siwon, sampai akhirnya gadis itu lenyap di balik pintu.

Bulu-bulu halus itu memoles pipi Yoona, rona merah muda menjadi penghias kedua pipi tirus gadis itu. Tak lupa lipstick berwarna senada menghias bibir tipisnya, di tambah sedikit bedak tipis serta riasan mata membuat Yoona benar-benar terlihat berbeda. Make up yang sangat simple namun dapat merubah dirinya menjadi seperti sosok wanita kelas atas, berbeda dengan Im Yoona seorang waiterss yang bekerja di sebuah coffee shop.

Dress putih gading yang membalut tubuh langsingnya, rambut yang sudah di sulap sedemikian cantiknya, kalung bermata berlian yang melingkar manis di leher jenjangnya serta sepatu Stiletto berwarna cokelat muda yang menghiasi kakinya semakin menambah anggung sosok Im Yoona. Yoona tersenyum pahit menatap pantulannya di dalam cermin, dia tak menyangkan akan merasakan hal seperti ini. Memakai baju yang mahal, perhiasan yang mahal, dan sepatu yang mahal, semuanya benar-benar tak ia duga.

Derap langkah kaki terdengar mendekatinya, Yoona menolah dan mendapati Choi Siwon tengah tersenyum padanya. Senyum yang sejujurnya masih belum bisa Yoona artikan, apakah itu senyum pujian atau ejekan untuk dirinya. Siwon berdiri tepat di depan Yoona, menatap mata gadis itu penuh arti. Terjadi keheningan sesaat, mereka berdua hanya melakukan kontak mata tanpa bersuara.

Jari telunjuk Siwon menelusuri setiap inchi permukaan wajah Yoona, tak ada penolakan dari gadis itu. Justru dia malah menatap Siwon yang seperti tengah memujinya namun bukan dengan kata-kata, melainkan dengan bahasa tubuhnya.

“Kapan..kapan terakhir kali kau seperti ini?” tanya Siwon pelan, bahkan deru nafasnya dapat Yoona rasakan.

“Ini pertama kalinya bagi ku” jawab Yoona.

“Benarkah? Jong Hyun tidak pernah melakukan ini sebelumnya?”

Yoona menggeleng sebagai jawaban. Siwon tersenyum puas “Bodoh, kekasih mu sangat bodoh Im Yoona.  Kenapa kau masih bertahan dengannya? Jika aku jadi dirimu aku mungkin sudah meninggalkannya dan mencari seorang pria yang benar-benar ada saat aku bahagia dan saat aku menderita” ujar Siwon. Yoona kembali tertohok mendegar penuturan Siwon, namun dia membenarkan ucapan Siwon sehingga dia tak memprotesnya.

“Untuk kesekian kalianya aku bertanya pada mu, apa maksud mu? Apa maksud mu melakukan semua ini pada ku?” Setelah cukup lama bungkam akhirnya Yoona bersuara.

Siwon menghela nafas, lalu ia memegang bahu Yoona dan membalikan tubuh gadis itu agar menatap cermin kembali. Siwon menatap mata Yoona melalui cermin, tangannya memegang bahu gadis itu begitu erat.

“Karena aku ingin merubah hidup mu” kalimat itu meluncur begitu lancarnya dari bibir Siwon seakan tak ada keraguan sedikit pun.

“Merubah hidup ku? Kenapa kau ingin merubah hidup ku?” tanya Yoona menatap mata gelap Siwon di dalam cermin.

“Bukankah selama ini kau selalu hidup menderita? Bukankah selama ini orang-orang selalu merendahkan diri mu? Maka dari itu aku ingin merubah hidup mu, dan aku mempunyai sebuah tawaran untuk mu”

“Tawaran? Tawaran apa?”

“Putuskan Jong Hyun, dan jadilah milik ku”

Yoona segera melepaskan kedua tangan Siwon yang menggenggam bahunya, membalikan badannya lalu melemparkan sebuah tatapan tajam pada pria itu.

“Apa kau gila? Kau pikir aku perempuan macam apa eoh?” ucap Yoona setengah berteriak. Sudah jelas ia menolak keras tawaran Siwon.

Siwon tersenyum enteng menanggapinya “Lalu, kau perempuan macam apa eoh? Jangan munafik Im Yoona, kau juga menginginkan hidup sebagai seorang wanita kaya bukan? Dan sekarang waktunya, tawaran seperti ini akan jarang sekali kau dapatkan, mungkin hanya satu kali seumur hidup mu. Jadi ku harap kau pikirkan baik-baik” ujar Siwon. Yoona masih belum bisa terima, namun perkataan Siwon memang ada benarnya juga. Dia memang benar-benar ingin hidup sebagai seorang wanita kaya raya tapi tidak dengan cara meninggalkan Jong Hyun lalu menjadi milik Siwon.

“Ini nomor ponsel ku, hubungi aku jika kau berubah pikiran” Siwon menyerahkan secarik kertas berisi deretan nomor ponselnya.

“Akan ku anggap kau belum menjawab tawaran ku, jadi kau masih punya kesempatan untuk berpikir lagi. Tenang saja, jangan terburu-buru karena aku akan sabar menunggu jawaban mu” ujar Siwon kemudian pergi meninggalkan Yoona yang berdiri kaku.

oOo

“Apa kau sakit?”

Gyuri menepuk pundak Yoona membuat gadis itu langsung sadar dari lamunannya. Yoona tersenyum kaku kemudian menggeleng “Aniya” jawab Yoona singkat.

“Ku kira kau sakit, habisnya dari tadi kau banyak diam” cibir Gyuri mengerucutkan bibirnya. Yoona hanya tersenyum canggung mendapat cibiran dari temannya itu, karena memang benar dirinya lebih banyak diam hari ini sehingga tak fokus melayani para pelanggang. Penyababnya apalagi jika bukan pertemuannya hari ini dengan Choi Siwon.

“Gyuri, mereka berdua siapa?” tanya Yoona menunjuk dua orang pelayan yang tengah melayani pengunjung.

“Mereka? Ah mereka pelayan baru, pelayan paruh waktu. Perempuan itu namanya Soo Jung, dan laki-lakinya namanya Minho. Sepertinya mereka sepasang kekasih” jawab Gyuri setengah berbisik di akhir ucapannya.

“Mereka masih kuliah?” tebak Yoona, Gyuri mengangguk mantap.

“Ada yang datang, aku layani dulu” pamit Yoona kemudian bergegas melayani pengunjung yang baru datang itu.

“Selamat siang, anda mau memesan apa?” Yoona bertanya ramah pada seorang wanita yang berpenampilan elegan. Dapat dipastikan jika wanita itu berasal dari kalangan atas hanya melihat dari tas yang ia pakai.

“Aku ingin minum coffee ini” ujar wanita itu membuka kacamata hitamnya.

Yoona menuliskan coffee sesuai keinginan wanita itu kemudian mengamati penampilan wanita itu, tampak cantik, dan elegan.  Tiba-tiba perkataan Siwon tadi pagi kembali terbesit dalam benaknya.

“Lalu, kau perempuan macam apa eoh? Jangan munafik Im Yoona, kau juga menginginkan hidup sebagai seorang wanita kaya bukan? Dan sekarang waktunya, tawaran seperti ini akan jarang sekali kau dapatkan, mungkin hanya satu kali seumur hidup mu. Jadi ku harap kau pikirkan baik-baik”

Yoona menggeleng-gelengkan kepalanya mencoba membuang jauh kata-kata Siwon, dia berusaha menguasai dirinya agar tak termakan omonga pria itu.

“Kalau begitu tunggu sebentar Nona, pesanan anda akan segera datang”

Yoona kembali mengambil buku menu lalu berjalan menuju dapur tempat semua coffee di racik.

Setelah menyerahkan pesanan, Yoona masuk kedalam toilet. Entah kenapa hatinya menjadi bimbang, apalagi perkataan Choi Siwon terus saja mengganggu pikirannya. Yoona mengeluarkan secarik kertas bertuliskan nomor ponsel Siwon dari dalam saku bajunya, deretan angka yang di tulis tinta hitam itu ia pandangi dengan seksama. Deretan angka yang mungkin akan menjadi jalan bagi dirinya untuk merubah dunianya yang penuh dengan penderitaan menjadi dunia yang penuh dengan gemilang harta dan kekuasaan.

oOo

Sooyoung duduk manis dikursi yang terletak di sudut cafe, wanita semampai itu terlihat kesal menunggu seseorang yang belum jua menampakan batang hidungnya. Sesekali dia melirik arloji mungil berwarna putih yang melingkar di pergelangan kurusnya, lalu kembali mendesah berlebihan mengingat dirinya sudah lebih dari tiga puluh menit menunggu seseorang.

“Apa dia sengaja datang terlambat untuk membuat ku marah?” desis Sooyoung kesal.

“Kau pasti menunggu lama”

Sooyoung tersentak kaget lalu menegakkan duduknya. Ternyata orang yang di tunggu – Choi Siwon sudah duduk di hadapannya dengan wajah tanpa rasa bersalah sama sekali. Dengan terpaksa Sooyoung harus mematrikan sebuah senyum palsu di wajahnya.

“Gwaenchana Siwon-ssi” elak Sooyoung bohong, sejujurnya dia sudah kesal setengah mati menunggu Siwon.

“Langsung saja, aku menemui mu bukan karena keinginan ku. Tapi karena Ibu ku yang meminta ku” ujar Siwon terlalu jujur.

Sooyoung tersenyum simpul namun tangan yang ia sembunyikan di bawah meja mengepal begitu kuat menahan kesal pada Siwon yang ternyata masih bersikap acuh padanya.

“Katakan ada apa?” tanya Siwon to the point.

“Apa Ibu mu tidak mengatakannya?” tanya Sooyoung. Siwon hanya menggeleng acuh.

“Hari ini paman ku datang London, dia ingin bertemu dengan ku”

“Lalu apa urusannnya dengan ku?” potong Siwon cepat. Sooyoung menahan nafas agar tidak meledakan kemarahannya di hadapan Siwon.

“Paman ku sudah tahu tentang diri mu, dia sudah tahu jika kau adalah calon suami ku. Maka dari itu dia ingin bertemu dengan mu juga” ujar Sooyoung berusaha untuk tersenyum tulus.

“Apa kau bilang? Calon suami? Bahkan aku tidak tahu dan tidak merasa kau calon istri ku. Kenapa paman mu bisa bicara seperti itu?”

Sooyoung meremas begitu kuat kedua tangannya, sepertinya kesabarannya akan segera meledak jika saja Siwon tak kembali bersuara.

“Ah“` tunggu dulu, sepertinya kau salah paham Sooyoung-ssi. Aku sama sekali tidak berminat untuk di jodohkan, jadi sebelum kau melangkah terlalu jauh sebaiknya hentikan aksi mu ini. Karena sampai kapan pun juga aku tidak akan pernah melihat mu”

“Choi Siwon, kita berdua sudah di jodohkan. Kedua orang tua mu juga sudah setuju” nada suara Sooyoung agak meninggi, gadis itu sudah benar-benar akan segera meledak. Siwon tersenyum meledek, sebenarnya dia juga sudah tahu namun dia berbohong dengan mengatakan jika dirinya tak tahu dan tak merasa Sooyoung adalah calon istrinya.

“Ini semua hanya akan menghabiskan energi mu, berhenti sebelum kau lebih tersakiti oleh sikap dan perkataan ku” ancam Siwon, terdengar halus namun mimik wajah pria itu nampak serius.

“Lalu kenapa kau bisa bersikap baik padanya?”

Siwon yang tadinya ingin pergi langsung tertahan oleh suara Sooyoung. Siwon kembali duduk dan memilih untuk mendengarkan ucapan Sooyoung selanjutnya.

“Im Yoona, kenapa kau bisa bersikap baik padanya? Di pesta malam itu, kau menyelamatkan Yoona dari insiden yang sangat memalukan, dan ku dengar tidak hanya sampai di situ saja. Tapi kau juga meminta kepada pemilik coffee shop untuk tidak memecat Yoona, kenapa kau bisa bersikap baik padanya tapi pada ku kau tidak bisa?” cerca Sooyoung dengan suara sakratisnya yang terkesan menuntut sebuah jawaban yang sangat jelas.

Siwon menatapnya kemudian sebuah tawa bernada ledekan kembali harus Sooyoung terima lagi, bukan hanya tertawa saja tapi kali ini di barengi dengan sebuah tepuk tangan yang jelas tepuk tangan itu juga bukan tepuk tangan berupa pujian seperti biasanya melainkan tepuk tangan penuh ledekan.

“Hebat sekali diri mu Sooyoung-ssi, sungguh diri mu sangat hebat sekali. Berapa banyak detektif yang kau kerahkan untuk mencari semua informasi itu? Ku yakin pasti lebih dari satu orangkan? Sampai kau mengetahuinya sedetail itu, sungguh kau sangat luarbiasa” ujar Siwon kemudian diakhiri dengan tawa yang terdengar sangat menjijikan di telinga Sooyoung.

Sooyoung berusaha menguasai dirinya sendiri, kesabarannya sebenarnya sudah habis namun dia berpikir lagi percuma saja untuk marah karena toh pasti Siwon akan tambah meledeknya lagi dan itu akan semakin membuat Siwon merasa diatas angin. Maka dari itu, Sooyoung hanya mampu diam menatap Siwon dengan kobaran api di dalam matanya.

Siwon menghentikan tawanya kemudian berubah menjadi serius, wajahnya mendadak mengeras menatap Sooyoung yang masih menatapnya.

“Kau ingin tahu kenapa aku memperlakukan diri mu dan Yoona berbeda?” tanya Siwon.

“Karena dia tidak seperti diri mu. Hidup mu penuh dengan sandiwara, kau berpura-pura baik untuk menarik perhatian kedua orang tua ku dan juga diri ku. Ku akui kau berhasil, karena kedua orang tua ku sudah termakan ucapan dan senyum palsu mu. Tapi aku, kau tidak bisa membohongi ku Sooyoung-ssi”

Sooyoung membisu, bahkan sekarang pun untuk menelan ludahnya sendiri dia tak sanggup. Wajah gadis itu mendadak pucat dan tangannya juga menjadi dingin. Sooyoung sudah ketahuan, padahal dia belum memulainya tapi ternyata Siwon sudah membaca motifnya jadi secara tidak langsung Siwon mengatakan jika dirinya sudah tak punya lagi kesempatan untuk merebut hati Choi Siwon.

oOo

Yoona dan Gyuri keluar bersamaan dari coffee shop tempat mereka bekerja, karena hari ini mereka tak ada jam lembur jadi mereka bisa pulang lebih awal dari pada yang lainnya.

“Kau belum pulang?” tanya Yoona saat mendapati Soo Jung tengah berdiri di depan coffee shop.

Soo Jung tersenyum  “Aku sedang menunggu Minho, Eonni”

“Memangnya dia kemana?” sahut Gyuri yang tengah sibuk memasangkan bando di kepalanya.

“Minho mengambil motor, Eonni” jawab gadis itu. Gyuri dan Yoona mengangguk mengerti.

“Itu Minho, kalau begitu aku pergi dulu. Ah ne, sebelumnya aku ingin ucapkan terima kasih atas bimbingan kalian. Aku dan Minho benar-benar merasa nyaman bekerja disini” ucap Soo Jung.

“Jangan sungkan, kami berdua siap membantu mu dan juga Minho” jawab Yoona tersenyum.

“Yoona benar, semoga kau dan kekasih mu itu betah bekerja disini” timpal Gyuri membuat Soo Jung tersenyum malu.

“Eonni, Minho bukan kekasih ku. Dia itu hanya teman ku” elak Soo Jung namun tetap senyum malu jelas terlihat di wajah gadis cantik itu.

“Benarkah? Tapi kalian berdua terlihat seperti pasangan kekasih, bukankah begitu Yoona?” senggol Gyuri meminta pendapat, Yoona hanya mengangkat bahunya tanda tak mau ikut campur. Gyuri memukul lengannya merasa di acuhkan. Soo Jung dan Yoona pun tertawa melihat wajah kesal Gyuri.

“Ya sudah kalau begitu aku pulang dulu, kalian berdua berhati-hatilah di jalan. Sampai jumpa besok” Soo Jung pamit setelah membungkuk kemudian berjalan menuju Minho yang menunggunya di sebrang jalan.

“Uhh aku iri pada Soo Jung, jika memang benar Minho bukan kekasihnya lalu kenapa dia begitu peduli pada Soo Jung” gumam Gyuri melihat kepergian Soo Jung yang di bonceng Minho. Yoona menolehkan kepalanya menatap Gyuri, memikirkan ucapan Gyuri yang tiba-tiba mengingatkannya pada seseorang.

oOo

Yoona berjalan menuju halte bus yang tinggal beberapa langkah lagi di depan matanya, dia sendirian karena Gyuri harus membantu ibunya di kedai dan tadi mereka berpisah di persimpangan jalan. Tiba-tiba sebuah mobil hitam berhenti di sampingnya, Yoona terperanjat lalu mundur beberapa langkah. Tak berapa lama si pengemudi mobil itu keluar dari mobil lalu menghampiri Yoona.

“Nyonya ingin bertemu dengan mu” ujarnya tanpa basa-basi lagi. Yoona menyernyit heran “Nyonya?” pikir Yoona bingung.

Kemudian pria bersetelan tuxedo itu membuka pintu belakang mobil, seketika saja Yoona membulatkan matanya begitu sempurna. Bagaimana tidak, Nyonya yang dimaksud pria itu adalah ibu kandungnya sendiri yang tengah duduk manis di dalam mobil.

oOo

Hanya keheningan yang sangat kentara, tak ada suara sama sekali dari kedua wanita itu. Mereka berdua sama-sama bungkam seribu bahasa seakan tak tau harus memulai pembicaraan dari arah mana. Tapi tidak mungkin rasanya jika harus bertanya “Apa kabar? Lama tidak bertemu?” Sungguh itu terdengar aneh. Ini bukanlah pertemuan pertama mereka, dan ini bukanlah pertemuan antara Ibu dan Anak yang terpisah karena benar-benar kehilangan jejak dimasa lalu. Ini beda cerita, jadi jangan harap sapaan seperti itu akan di lontakan keduanya.

“Ada apa ingin bertemu dengan ku?” nada suara yang dingin serta penuh kebencian terdengar begitu jelas dari sosok Im Yoona. Rupanya kebenciannya terhadap sang ibunda sudah benar-benar mendarah daging di dalam dirinya.

“Sepertinya kau tumbuh dengan baik, jadi aku tidak harus menanyakan bagaimana keadaan mu” ujar Ny Choi begitu entengnya dia mengatakan itu padahal sebenarnya hidup putrinya sangat menderita.

“Tentu saja, tanpa kasih sayang seorang Ibu pun aku bisa tumbuh dengan sangat baik” balas Yoona yang terlihat tegar kali ini.

“Dan sepertinya juga aku tidak perlu bertanya bagaimana keadaan mu, bukankah sekarang kau sudah hidup nyaman bersama suami mu yang sangat kaya dan putri mu yang sangat pintar. Nyo-nya Choi?” tanya Yoona menekan “Nyonya Choi” di akhir kalimatnya.

“Salah, aku sudah hidup sangat nyaman dan ini semua lebih dari yang ku harapkan” jawab Ny Choi menyulut emosi Yoona setelah mendengarnya.

“Begitukah? Oh sepertinya aku salah bicara, kau pasti sangat menikmati semuanya. Hidup sebagai Nyonya besar yang bergelimang harta serta di hormati semua orang.” Ujar Yoona berusaha bersikap setenang mungkin.

“Tentu saja, aku sangat menikmatinya. Maka dari itu aku tidak mau semua ini hilang begitu saja dari genggaman ku”

Yoona menyernyitkan dahi tak mengerti maksud perkataan ibunya.

“Maksud mu?”

“Untuk menjadi seperti ini banyak usaha yang ku lakukan, salah satunya adalah berbohong. Jujur saja sejak kehadiran mu hati ku tak tenang, setiap malam aku selalu terbangun dari tidur karena kau selalu mendatangi ku dalam mimpi. Aku takut kau akan menghacurkan hidup ku. Aku takut kau akan membuat hidupku menjadi seperti sebelas tahun silam dan aku takut kau akan menghancurkan dunia ku. Jadi kali ini aku akan memohon pada mu, berjanjilah untuk menutup mulutmu rapat-rapat bahwa kau adalah putri kandung ku”

Yoona terhenyak, hatinya mencelos. Seperti menarik tambang dengan begitu kuat kemudian lawannya melepaskan tambang itu sehingga dirinya terjatuh dan akhirnya bukan kemenangan yang ia dapatkan melainkan rasa sakit yang begitu teramat perih ia dapatkan. Dadanya sesak, hatinya sakit, dan kedua matanya memanas setelah mendengar penuturan Ny Choi yang sungguh kali ini membuat hatinya lebih sakit.

“Kali ini aku memohon pada mu, berjanjilah pada ku untuk menutup mulut mu sampai kau mati jika kau adalah putri kandung ku. Bersikaplah seolah-olah kau tak mengenal ku, dan bila perlu lupakan jika aku adalah ibu mu”

Yoona sudah merasa tak sanggup lagi mendengar perkataan Ny Choi yang seperti sembilu mengiris hatinya. Dia segera bangkit dari duduknya kemudian membalikan tubuhnya, bersamaan dengan itu air matanya yang sedari tadi ia tahan akhirnya jatuh sudah. Hatinya hancur, sangat hancur setelah mendengar perkataan ibu kandunnya sendiri.

“Jika kau tutup mulut, maka aku akan memberikan apapun yang kau minta. Im Yoona ku mohon, jangan hancurkan hidupku, jangan hancurkan dunia ku, aku tidak mau kehilangan dunia ku, aku tidak mau hidup sebagai wanita miskin yang selalu dihina. Ku mohon”

Ny Choi menitikan air mata, sepertinya ucapannya ini benar-benar serius. Namun jauh dari itu, justru Yoona lebih terluka. Bagai jatuh tertimpa tangga mungkin itulah peribasa yang tepat untuk menggambarkan kondisi Yoona saat ini.

Yoona menghapus air matanya kemudian melangkahkan kakinya dari tempat itu meninggalkan Ny Choi yang masih tersedu memangis.

Siwon membuka buku menu yang sedari tadi menutupi wajahnya, pria itu terlihat masih belum bisa percaya dengan apa yang baru saja ia dengar dan lihat dengan mata kepalanya sendiri.

“Tidak mungkin” bisik Siwon yang percaya.

oOo

Menangis, hanya itulah yang dapat Yoona lakukan saat ini. Menggambarkan rasa marahnya, rasa kesalnya, rasa kecewanya dan rasa sakit hatinya dengan air mata. Bagi Yoona saat ini hanya satu yang dia miliki di dunia ini yaitu air mata, air mata yang selalu menjadi teman setianya dikala hatinya tersakiti dan dikala hatinya terluka. Bagaimana mungkin Yoona tidak menangis setelah mendengar dengan telinganya sendiri jika Ibu kandungnya meminta dirinya untuk merahasiakan hubungan mereka dari semua orang demi sebuah kata yang dapat membutakan hati seseorang yaitu “Harta”.

Yoona tak dapat lagi berjalan, kaki dan lututnya lemas. Dia berjongkok kemudian kembali terisak, orang-orang yang berlalu-lalang menatapnya iba namun tak sedikit juga yang mencibirnya dan menghinanya sebagai wanita yang tidak tahu malu.

Tak jauh di sana, Siwon berdiri dibelakangnya. Menatap Yoona dengan sorot mata yang kasihan, ketika Siwon berniat menghampirinya terlihat Yoona kembali lagi berdiri dan berjalan dengan langkah kaki yang tersuruk-suruk. Siwon pun membatalkan niatnya dan memilih untuk menatap kepergian Yoona dengan tatapan iba.

oOo

Yoona berjalan tertatih menaiki tangga menuju rumahnya, sisa-sisa air mata masih tampak menghiasi wajah pucatnya.

“Yoona”

Yoona dikagetkan suara Jong Hyun, rupanya kekasihnya itu sedang menunggunya pulang. Jong Hyun segera menghampiri Yoona kemudian meraih kedua belah pipi kekasihnya itu.

“Kenapa kau menangis?” tanya Jong Hyun cemas. Yoona berusaha tersenyum kemudian menggeleng.

“Aku tidak apa-apa”

“Ceritakan pada ku kenapa kau menangis?” pinta Jong Hyun. Namun Yoona masih tetap berkilah jika tak terjadi apa-apa.

“Yoona, maaf” tiba-tiba kalimat itu terluncur dari bibir Jong Hyun, terdengar sangat menyesal.

“Untuk apa?” tanya Yoona bingung menatap Jong Hyun.

“Untuk semuanya, aku tidak pernah ada untuk mu. Aku selalu sibuk dengan pekerjaan ku, aku tidak pernah ada disaat kau terpuruk dan disaat kau menangis. Maafkan aku Im Yoona” Jong Hyun memegang tangan Yoona memohon maaf pada sang kekasih atas sikapnya selama ini. Yoona hanya tersenyum tipis tak berkata sedikit pun.

“Im Yoona”

“Emm, aku memaafkan mu” jawab Yoona. Meskipun sebenarnya jauh didalam lubuk hatinya Yoona kecewa akan sikap Jong Hyun, namun Yoona yakin jika Jong Hyun benar-benar tulus mencintainya. Jong Hyun tersenyum lega, lalu membawa Yoona kedalam dekapannya. Mendaratkan sebuah kecupan penuh kasih sayang di kening Yoona membuat gadis itu kembali lagi menitikan air mata.

oOo

Hari berikutnya, Yoona kembali menjalani kehidupannya dengan sangat berat. Namun akhir-akhir ini gadis itu terlihat banyak melamun, sepertinya beban pikirannya sangat berat untuk Yoona pikul sendiri. Kali ini Gyuri mengajaknya ke sebuah butik, awalnya Yoona menolak karena dia ingin istirahat di rumah saja. Tapi bukan Gyuri namanya jika tak merengek seperti anak kecil,  dan jika sudah begitu Yoona sudah tak bisa lagi menolak ajakan temannya itu.

Tiba di butik tujuan, Gyuri langsung menyerbu pakaian-pakaian yang menjadi incaran selama ini. Sepertinya gadis itu baru saja mendapatkan”Durian runtuh” karena jarang sekali Gyuri ingin membeli baju di butik seperti sekarang ini.

“Apa kau baru saja menang lotre?” cibir Yoona pada Gyuri yang tengah asyik memilih-milih pakaian. Tanpa menoleh pada Yoona, Gyuri mengerucutkan bibirnya.

“Anio, aku baru saja mendapatkan uang dari Ibu ku” jawab Gyuri.

“Jangan bilang kau merengek-rengek meminta uang pada ibu mu?” cibir Yoona lagi.

“Tidak, tentu saja tidak. Aku juga bingung kenapa ibu ku tiba-tiba baik hari ini, saat tadi pagi aku datang ke kedai ibu ku langsung menyerahkan sebuah amplop pada ku. Dia bilang itu sebagai gaji pertama ku bekerja di kedai. Aishh apa-apaan itu, aku tak terima.  Aku sudah membantu ibu ku sejak duduk di bangku SD tapi kenapa baru sekarang aku mendapatkan gaji”

Pletak!!!

Satu jitakan berhasil mendarat mulus di kepala Gyuri yang di hiasi bandu berwarna merah.

“Bodoh, kau bodoh. Lalu dari mana selama ini kau makan, sekolah, membeli pakaian, membeli ponsel, membali make up. Bukankah semua itu dari ibu mu” protes Yoona. Gyuri mengelus-ngelus bekas jitakan Yoona di kepalanya.

“Yak aku hanya bercanda, kenapa kau anggap serius Yoong” keluh Gyuri mengerucutkan bibirnya. Yoona menghela nafas, dia tahu Gyuri hanya bercanda tapi entah kenapa dirinya menjadi sensitif jika membahas tentang Ibu, mungkin Yoona berpikir seharusnya Gyuri bersyukur karena dia mempunyai Ibu yang sangat menyayanginya tidak seperti dirinya yang hidup diacuhkan dan bahkan tidak di anggap ibunya.

“Ya sudah kalau begitu aku ambil baju yang ini saja” Gyuri nampak kesal pada Yoona, dia mengambil pakaian yang ada di depannya lalu membalikan tubuhnya. Karena kesal, Gyuri sampai tak melihat jika di depannya ada seorang wanita yang tengah berjalan berlawana arah denganya dan tanpa diduga Gyuri menabrak wanita itu. Wanita itu menjertit karena just strawberry-nya jatuh mengenai bajunya.

“OH SHITT!!! YAK KAU PUNYA MATA TIDAK!!!”

Yoona terlonjak kaget mendengar suara keras itu, dia segera berlari dan semakin kaget saat melihat Gyuri tengah meminta maaf dengan menunduk-nundukkan kepalanya.

“APA KAU BUTA HAH? GARA-GARA KAU BAJU KU JADI KOTOR” teriak wanita itu tak terima karena bajunya tertumpahi oleh just strawberry.

“Aku minta maaf, tadi aku benar-benar tidak melihat. Sekali lagi aku minta maaf” Gyuri semakin menundukan tubuhnya memohon maaf.

“Kau tidak melihat? Sudah jelas-jelas teman ku berjalan berlawanan arah dengan mu. Kau taruh dimana mata mu hah?” timpal teman dari wanita itu ikut bersuara, Gyuri semakin terpojok.

“Ada apa ini?”

Yoona berjalan mendekati Gyuri dan kedua wanita itu. Kedua wanita itu membulatkan matanya saat melihat Yoona, begitu pula dengan Yoona.

“Kau tidak apa-apa?” Yoona merangkul pudak Gyuri, Gyuri hanya menggeleng lemah.

“Teman ku sudah meminta maaf, dia memang bersalah karena tidak hati-hati jadi tolong jangan membesar-besarkan masalah ini” ujar Yoona tenang.

“Bukankah kau Im Yoona?” tanya wanita yang tertumpahi just strawberry.

“Lama tidak bertemu, rupanya kau masih sama seperti SMP dulu” ujar wanita itu yang tak lain adalah Stella Kim – gadis yang suka membully Yoona saat duduk dibangku SMP. (red: Stella Kim ini pernah ada di chapter satu yang mendorong Yoona di koridor sekolah. Ingatkan?)

“Kau mengenalnya?” tanya Sooyoung – yang merupakan teman Stella Kim.

“Tentu saja, dia adalah Im Yoona yang dulu tinggal di Busan. Im Yoona yang berasal dari keluarga miskin dan Im Yoona seorang gadis sampah!!” ucap Stella dengan gaya arogannya.

“Apa kau bilang? YAK!!! YOONA TIDAK SEPERTI ITU, MEMANGNYA KAU PIKIR KAU SIAPA EOH? BERANI-BERANINYA KAU MENGHINA TEMAN KU. DASAR KAU”

Gyuri bersiap akan menjambak rambut Stella Kim namun sayang aksinya ini sudah di hentikan oleh Yoona. “Sudahlah, tak ada gunanaya kau melawan wanita seperti dia. Sebaikanya kita pergi saja dari sini”

Yoona menarik Gyuri secara paksa namun nampakanya Gyuri masih tak terima mendengar Yoona di hina seperti itu, dia kembali mengumpat, menyumpah serapahi Stella Kim meski tangannya tetap di seret Yoona keluar.

Stella tersenyum meremehkan, sementara Sooyoung menatapnya bingung.

“Jadi, dulu kau satu sekolah dengannya?” tanya Sooyoung. Stella mengangguk “Sudahlah lupakan, aku malas membahasnya. Sekarang bantu aku carikan pakaian, aku tak mungkin pulang dengan pakaian seperti ini”

Sooyoung mengangguk mengiyakan, walaupun sebenarnya dia terlihat masih penasaran dan sepertinya Sooyoung harus menyimpan dulu pertanyaannya tentang Yoona.

oOo

Yoona duduk termenu saat ini dia sedang berada di sebuah shauna. Gyuri datang dengan membawa telor rebus. “Telur rebus, ayo kita makan bersama Im Yoona” riang Gyuri menyerahkan sebuah telur yang sudah di kupas kulitnya. Yoona tersenyum tipis lalu menerima telur itu dengan senang hati dan memakannya sedikit.

Yoona tersenyum melihat Gyuri yang lahap memakan telur, namun sedetik kemudian senyumannya luntur saat ia teringat perkataan Stella Kim di butik tadi.

“Tentu saja, dia adalah Im Yoona yang dulu tinggal di Busan. Im Yoona yang berasal dari keluarga miskin dan Im Yoona seorang gadis sampah!!”

Yoona menghela nafas bergitu berat, sakit hati akan perkataan Stella Kim. Apalagi wanita itu masih saja memanggilnya “Gadis sampah” sama seperti SMP dulu.

Yoona meraih ponselnya, membuka menu kontak dan mencari nama seseorang. “Choi Siwon”rupanya Yoona sudah menyimpan nomor Siwon di ponselnya, dia berpikir sejenak kemudian menekan tombol Call.

Dengan perasaan cemas Yoona menunggu Siwon menganggkat telponnya, sampai akhirnya suara berat pria itu terdengar ditelinganya..

“Siapa?”

“A-aku” Jawab Yoona terbata.

“Yoona?”

“Ya”

“Ada apa?”

“Kau dimana?”

“Di apartement ku, apa kau ingin bertemu dengan ku?”

“Jangan kemana-mana, aku segera kesana”

Tut..tut..tut..

Yoona menutup sambungan begitu saja lalu bergegas membereskan barang-baranganya.

“Kau mau kemana Yoong?” tanya Gyuri bingung.

“Aku harus segera pulang, maaf aku tidak bisa menemani mu hari ini. Nanti ku hubungi, sampai jumpa”

Yoona meninggalkan Gyuri yang tak bisa berkata karena mulutnya penuh memakan telur.

oOo

Yoona POV

Aku berdiri di depan pintu apartement berwarna hitam ini. Pintu yang sebelumnya pernah ku masuki pada malam dimana aku tak sadarkan diri dan Siwon membawa ku kemari. Aku masih diam mematung, rasanya tangan ini begitu sangat berat untuk menekan bel. Oh Tuhan, benarkah pilihan ku ini? Ku pejamkan mata sambil membulatkan tekad, ini sudah ku pikirkan sejak hari dimana Siwon membawa ku ke sebuah Dapartement Store,aku yakin ini adalah pilihan yang tepat. Meskipun sejujurnya aku takut cara ku ini akan melukai hati Jong Hyun. Salah, pasti akan melukai hati Jong Hyun jika dia tahu semua ini. Jong Hyun, demi Tuhan aku mencintai mu, tapi maaf aku tak bisa hidup seperti ini. Jadi biarlah aku memilih jalan ini.

Dengan tangan bergetar aku menekan bel di sebelah kanan, tak harus menunggu lama Siwon sudah membuka pintu tanpa menyalakan intercome. Sepertinya dia sudah tahu jika aku yang datang. Kedatangan ku di sambut senyumannya yang sulit ku artikan, namun yang pasti aku yakin dia sudah bisa menebak maksud kedatangan ku kemari.

Siwon memimpin jalan mengisyaratkan agar aku mengikutinya. Aku melangkahkan kaki memasuki lebih dalam lagi apartemant ini, apartement yang mewah dan sangat luas.

“Kenapa tiba-tiba kau datang kemari? Apa kau sudah mendapatkan jawaban atas tawaran ku tempo hari?”

Benar dugaan ku, Siwon pasti sudah dapat menebak maksud kedatangan ku. Tapi tak apa, justru ini akan semakin mempermudah jalan ku.

“Tawaran mu, adalah kau bisa merubah hidup ku dan merubah dunia ku. Tapi jika aku menolak bagaimana?

Siwon tersenyum, dia seperti tak percaya dengan ucapan ku.

“Kau yakin akan menolaknya? Sudah kubilang tawaran seperti ini hanya akan menghampiri mu satu kali dalam seumur hidup, kau yakin akan menolak tawaran ku?”

“Kenapa tidak?” ujar ku ragu.

“Benarkah, lalu bagaimana caranya kau membuktikan pada Ibu mu jika kau bisa hidup dengan baik tanpa kasih sayangnya selama sebelas tahun”

Terkejut, aku terkejut. Bagaimana Siwon bisa tahu tentang hal itu? Siwon tersenyum kemudian berjalan mendekati ku.

“Aku sudah tahu semuanya Im Yoona” ujarnya menjawab suara hatiku.

“Maksud mu?”

“Kau adalah….putri kandung Ny Choi”

Deg

Dari mana Siwon mengetahuinya? Kenapa dia bisa mengetahuinya?

“Jika kau adalah putri kandung Ny Choi, berarti Sooyoung adalah kakak tiri mu. Bukankah seperti itu?” ujarnya lagi semakin membuka kartu as ku.

“Dari mana kau mengetahuinya?”

“Malam itu, di restauran. Aku mendengar dan melihat dengan mata kepala ku sendiri. Aku sempat berpikir kenapa dunia ini tak seluas yang aku bayangkan, kenapa semuanya bisa saling berhubungan seperti ini. Apa ini yang dinamakan dengan takdir Tuhan? Mungkin saja, karena ku pikir manusia tidak ada yang tahu seperti apa rencana Tuhan itu. Im Yoona lihatlah, ternyata dunia ini begitu sempit bukan. Tapi aku suka, karena ini akan semakin menarik untuk ku”

“Menarik? Apa kau pikir ini semua permainan?”

“Yah ini adalah permainan Im Yoona, orang yang menang adalah orang yang berusaha untuk bangkit dari keterpurukan, mereka tak perduli dengan cara apapun mereka bangkit yang pasti satu tujuan mereka, mereka ingin hidup dihargai dan hormati layaknya manusia. Tapi orang yang kalah adalah orang yang selalu diinjak dan orang yang selalu dijadikan alas kaki oleh orang-orang yang menang dalam permainan ini”

“Jadi menurut mu aku termasuk kedalam orang yang kalah, begitu?” tanya ku. Siwon kembali tersenyum.

“Belum terlambat untuk menjadikan mu sebagai pemenang dalam permainan ini. Maka dari itu dengan menerima tawaran ku, akan ku jamin hidup mu akan berubah, dunia mu akan berubah dan kau akan menjadi pemenang dalam permainan ini”

Haruskah aku mempercayai perkataan Siwon? Tapi aku juga tak bisa memungkirinya jika semua yang dikatakan Siwon itu benar, saat ini dunia tak berpihak pada ku, saat ini semua orang tengah melihat ku seperti seonggok sampah yang menjijikan bahkan Ibu kandung ku sendiri juga menatap ku seperti itu. Aku tidak bisa terus hidup seperti ini, aku harus merubah dunia ku, aku harus tunjukan pada mereka semua jika aku bisa merubah hidup ku.

“Apa kau mau terus di injak itu? Apa kau sadar, saat ini mereka semua menganggap diri mu adalah sampah. Kau tidak mau terus dianggap sehina itu kan? Im Yoona, saatnya tunjukanlah pada mereka siapa diri mu sebenarnya. Buktikan pada mereka jika kau bisa menjadi orang kaya, buktikan pada mereka jika kau bisa merubah dunia mu dan yang terpenting buktikanlah pada ibu mu jika kau bisa hidup bahagia dan bergelimang harta tanpa bantuannya”

Siwon benar, jika aku terus hidup seperti ini maka aku akan terus dianggap sebagai sampah, aku akan terus dicibir. Tidak, tidak bisa. Aku tidak mau terus seperti ini. Aku harus tunjukan pada mereka semua, apalagi pada ibu ku jika aku bisa merubah hidup ku.

“Dengan cara apa aku harus membuktikannya? Katakan, cepat katakan.”

Siwon diam sejenak, kemudian dia berjalan lagi mendekati ku. Aku mundur beberapa langkah menghindar darinya, namun sayangnya tembok sialan ini menghalangi langkah ku sehingga aku benar-benar tak bisa berkutik lagi.

“Uang. Dengan uang apapun bisa kau lakukan” ujarnya sangat pelan dan jelas ku dengar.

“Uang? Bagaimana aku harus mendapatkannya, dan dengan cara apa?”

Siwon kembali tersenyum penuh arti, telunjuknya mulai bergerak menelusuri wajah ku. Sungguh aku ingin menjauhkan tangannya itu tapi aku takut Siwon akan berbuat sesuatu yang tak ku harapkan. Telunjuknya terus bermain di wajah ku, menelusuri pipi ku sampai akhirnya berhenti di sudut bibir ku. Ku lihat Siwon menarik satu sudut bibirnya, menampakan sebuah senyum penuh kemenangan dihadapan ku.

“Aku bisa memberikan mu uang, berapa pun yang kau minta. Bahkan bukan hanya uang saja, tapi apa pun yang kau mau aku akan memberikannya untuk mu. Tapi….” ucapannya tergantung saat matanya menatap mata ku.

“Tapi…”

“Hanya satu syarat, yaitu kau harus menjadi milik ku seutuhnyaIm Yoona. Dengan begitu dunia mu akan berubah seketika”

Lanjutnya menuntaskan kalimatnya yang sempat tergantung. Aku tersentak kaget, meskipun ini kedua kalinya aku mendengar Siwon mengatakan hal yang sama namun kali ini dia mengatakannnya lebih jelas.  Haruskan aku menerima tawarannya? Benarkah cara ku ini? Lalu bagaimana dengan Jong Hyun?”

“Bagaimana? Kau tertarik? Apa kau tidak berniat untuk balas dendam pada orang-orang yang selama ini menghina diri mu? Dan apakah kau tidak mau balas dendam atas perbuatan Ibu kandung mu, Im Yoona?

“Balas dendam?”

 

End Yoona POV

 

Author POV

Dengan di temani supir pribadinya, Tn Lee berjalan disebuah lorong rumah sakit. Karena malam semakin larut, maka rumah sakit pun semakin sepi. Tak ada orang yang berlalu lalang seperti biasanya, yang ada hanya beberapa suster yang bertugas malam untuk menjaga pasien.

Tn Lee menghentikan langkah kakinya didepan sebuah kamar VIP bernomor 1509, pria itu segera memutar kenop pintu lalu masuk kedalam. Ternyata di dalam kamar perawatan tersebut sudah ada beberapa orang yang menunggunya.

“Bagaimana keadaannya?” tanya Tn Lee melihat pasien yang tertidur di atas ranjang perawatan.

“Dokter bilang perkembangannya begitu pesat. Presdir  bagaimana jika dia sadar?” jawab seorang pria yang tak lain adalah pengawalnya. Tuan Lee kembali cemas, lalu tiba-tiba sebuah ide muncul begitu saja di kepalanya.

“Besok pindahkan dia ke tempat lain, cabut semua alat-alat medis yang menempel di tubuhnya. Kecuali tabung oksigen” titah Tuan Lee tegas. Semua pengawalnya mengangguk mengerti.

Tuan Lee lalu berjalan mendekati seorang pria paruh paya yang masih memejamkan matanya, senyum licik serta penuh kemanangan begitu terlihat sangat jelas di wajah pria itu.

“Sahabat ku, Choi Kiho. Bagaimana kabar mu? Lama tak berjumpa? Kenapa hidup mu begitu malang sahabatku? 22 tahun sudah kau seperti mayat hidup” ujar Tuan Lee kemudian tawanya menggema di ruangan itu.

Perlahan kelopak mata Choi Kiho terbuka, kedua bola matanya bergerak ke arah Tuan Lee berdiri lalu menatap Tuan Lee dengan tatapan penuh kemarahan. Yah Choi Kiho yang tak lain adalah ayah kandung Choi Siwon, belum meninggal. Selama 22 tahun dia di sembunyikan oleh Tuan Lee dengan motif tertentu. Keadaan Choi Kiho sendiri sempat koma selama beberapa bulan, namun ia kembali sadar meski seluruh tubuhnya dinyatakan lumpuh kecuali matanya yang masih dapat bergerak dan melihat secara normal.

“Seharusnya 22 tahun silam aku membunuh mu dengan tangan ku sendiri, mungkin sekarang kau tidak akan tersiksa seperti ini. Tapi aku salut akan perjuangan mu untuk bertahan hidup, kau persis sama seperti putra mu – Choi Siwon, yang begitu berjuang mengungkap kasus kebakaran gudang 22 tahun silam. Anak dan ayah sama saja, sama-sama ingin ku singkirkan”

Bola mata Choi Kiho nampak berair setelah mendengar nama Choi Siwon, putra semata wayangnya yang sangat ia rindukan. Tiba-tiba bayangan Siwon kecil kembali ia ingat, bayangan Siwon kecil yang merengek meminta dibelikan mainan, bayangan Siwon kecil yang menangis karena terjatuh dari sepeda, dan bayangan Siwon kecil saat memanggil-manggil namanya. Semua itu masih di ingat Choi Kiho sangat jelas.

“Putra ku, bagaimana kabar mu sekarang?”

“Apa kau sudah menganggap ayah pergi selamanya?”

“Choi Siwon putra ku, ayah akan bertahan hidup untuk mu. Percayalah”

 

oOo

                                                             To Be Countinued            

oOo

Bagaimana, sudah semakin terbongkarkah watak satu persatu tokoh di FF ini? Tuh sudah terjawab siapa Tuan Lee sebenarnya dan eng ing eng Ayah Siwon masih hidup ternyata. Sudah akan mendekati YoonWon moment (yang lebih banyak) xD Haha.

Terima kasih atas respon readers dichapter 5 sebelumnya sehingga chapter 6 ternyata selesai lebih cepat dari yang ku kira xD (bayangkan cuma satu hari) /rekor baru, padahal tubuh lagi ngedrop bangat T___T/ Nah jika respon menurun terpaksa chapter 7 akan saya proteksi, seperti biasa agak ngenes sama yang namanya silent readers ToT. Jika banyak typo ditemukan tolong dimaafkan heheh, oh yah sekedar pemberitahuan jika FF Mrs Choi (Sequel The Hidden Couple) sudah aku posting di blog ku, silahkan berkunjung dan tentunya jangan lupa tinggalkan jejak :^) Kritik dan sarannya saya tunggu, dan buat kak echa makasih udah post FF ku :^) (you’re welcome..) buat Nited sampai jumpa di chapter 7. Annyeong….

Tinggalkan komentar

453 Komentar

  1. Apa maksd prkataan siwon??apa siwon ingin mrbut kperawanannya yoona?apa yoona mau menerima tawaran itu???penuh mistery ceritanya jd smkin pnsaran

    Balas
  2. Yoona harus melawan orang-orang yg menghinanya. Siwon mampu membantu Yoona untuk membalas dendam dan Siwon begitu perhatian terhadap Yoona meskipun ada maksud tapi aku yakin Siwon memiliki perasaan terhadap Yoona. Tn.Lee benar2 jahat ternyata ayah Siwon masih hidup.

    Balas
  3. Ny.Choi bnar2.,ya… Aku rasa ngga ada ibu di dunia ini yg sifatnya sprti Ny.Choi… Tega bgt brkata sprti itu sama Yoona eoni… Oh.,,my., sedih bgt…. Trnyata ayah Siwon masih hdup… Jdi tambah pnasaran gmna slnjutnya….. Semangat aja deh bwt authornya..

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: