[3S] BITTER! (Chapter 2)

BITTER!

by

choichoding007&nitahyunmichoi

PG 13 || Family,Psychology, Drama& Romance||Threeshoot [2/3]

StarringIM YOONA

Supported by

PARK CHORONG. CHOI SIWON. IM SEULONG

Poster by choichoding007 artworker

A/N : First project by “2N” (Nurul & Nita) Please, give us supported with leave your coment like as critical and suggest^^ Thank you *bow*

.

.

.

 

 

Kepalanya menengadah keatas dengan punggung bersandar pada mobil Audi hitamnya. Kedua lengannya ia masukan kedalam saku celana. Sesekali ia menoleh ke kanan dan kiri, menelisik sekitar daerah sana ketika langit telah gelap.

Suara pintu gerbang yang di buka terdengar samar. Siwon segera meneggakkan tubuhnya dan menoleh ke belakang. Park Chorong berdiri di depan pintu gerbang dengan senyum samar. Kedua kaki Siwon mulai melangkah mendekat pada wanita itu.

“Mmm, bagaimana?” Pria itu sudah berdiri berhadapan dengan Chorong.

Kepala Chorong menunduk sejenak dengan kedua sudut bibir yang ia paksakan untuk tersenyum. “Yoona sudah tertidur,” jawabnya begitu mengangkat kepala.

Siwon mengangguk-agukkan kepala. Beberapa menit mereka lalui dengan keheningan yang berselimut kecanggungan. Tangan kanan Siwon tergerak mengusap tengkuknya. Ia kembali bergumam sebelum berkata, “Ah, sepertinya sudah sangat larut.” Pria itu tersenyum canggung.

Chorong menengadahkan kepalanya. Lalu mengangguk, menyetujui ucapan Siwon.

“Kalau begitu aku pulang dulu.”

Chorong memanggutkan kepala. Membuat Siwon kehilangan kata-kata setelahnya. Wanita ini tidak ingin mengatakan apa-apa? Sekedar kata rindu? Oh astaga!

Siwon berdehem. “Baiklah, sampai jumpa lain waktu,” ujarnya dengan senyum sekilas. “Dan jaga dirimu. Aku pergi.”

Chorong mengamati Siwon yang sudah berjalan ke sisi mobil. Ia menghela napas pelan. Ada getaran aneh yang tiba-tiba menyelimuti hatinya. Debar yang terkubur dalam-dalam dan kini sedikit menguak ketika melihat pria yang dulunya pengisi singga sanah di hatinya.

Langkah kaki Siwon terhenti ketika kepalanya mulai di penuhi pertentangan batin dan pikiran. Pria itu kemudian membalikkan badan. “Rongie-ya…”

Park Chorong menatap Siwon, menjawab panggilan pria itu. Seperti ada sesuatu yang tersendat dalam tenggorokan Siwon. Dia hanya menatap Chorong dalam diam. Mengandalkan percakapan batin. Wanita itu juga tak lantas bertanya ataupun menghindari kontak mata dengan Siwon. Karena sejujurnya ia merindukan tatapan mata itu.

Lalu dengan tak sabar, Siwon menghampiri Chorong. Menumbuhkan perasaan yang berkecambuk dalam dada. Dan satu kecupan mendarat pada kening Chorong. Siwon memejamkan mata, menikmati saat-saat seperti ini. Kenangan bersama wanita ini kembali berputar, layaknya dokumenter yang usang dan berdebu.

“Aku akan menemuimu lagi,” katanya begitu melepas tautan bibirnya dengan kening Chorong. Pria itu tersenyum menatap wajah Chorong yang nampak terkejut. Bertemu bahkan berhadapan sedekat ini dengan Chorong, dia tidak pernah menyangka akan terjadi lagi. Siwon sangat senang. “Tidurlah yang nyenyak.” Ia mengusap lengan Chorong. “Good Night…. Rongie-ya.”

Chorong masih terdiam di tempat bahkan saat mobil Siwon sudah melaju meninggalkan pekarangan rumahnya. Wanita itu lalu menghela napas panjang dan memutuskan untuk melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah.

*

Seulong baru saja menuruni tangga dengan rambut yang sedikit basah ketika mencium aroma sedap yang berasal dari dapur. Kakinya melangkah pelan. Sepertinya akan menjadi minggu pagi yang indah, pikir Seulong sambil menarik sudut bibirnya.

Pria itu menyandarkan tubuhnya pada pintu dapur dengan kedua lengan ia lipat di depan dada. Seulong memerhatikan istrinya yang sibuk memasak. Rambut yang di sanggul ke atas, memperlihatkan leher jenjangnya yang di kalungi celemek. Seulong menarik tubuhnya untuk menghampiri Chorong.

“Good Morning,” sapanya lembut seraya memeluk Chorong dari belakang dan menyandarkan dagunya pada bahu istrinya.

Chorong sedikit tersentak namun ia kemudian tersenyum manis. “Morning..” balasnya tak kalah lembut.

“Masak apa?”

“Hmm, sesuatu yang enak untuk di makan.”

Seulong tergelak. Lalu mengeratkan pelukannya. “Kemarin aku pulang larut. Dan aku sangat lelah pagi ini.” Seulong mengeluh manja.

Kedua alis Chorong terangkat. “Mm, begitukah? Lalu kau ingin apa untuk mengobati lelahmu?”

Seulong bergumam pelan sambil berfikir sejenak. “Bagaimana dengan piknik di hari minggu?”

“Minggu? Hari ini?” tanya Chorong memastikan.

Kepala Seulong mengangguk. “Ya, kau setuju?”

Chorong mematikan kompor lalu membalikkan badan menghadap Seulong. “Kau memberitahukannya begitu mendadak.” Ia memasang wajah cemberut.

Seulong baru akan membuka mulut ketika Chorong tiba-tiba menyahut, “Aku akan masak lebih banyak. Untuk acara piknik kita bertiga.” Wanita itu memasang wajah sumringah.

“Astaga! Kau membuatku khawatir akan penolakanmu,” desis Seulong diiringi senyum leganya.

“Aku tidak akan bisa menolak permintaan suamiku ini.” Chorong balas tersenyum.

Pria itu tidak menyahut lagi. Ia hanya menatap kedua manik mata Chorong dalam diam. Chorong mengerjap-ngerjap. “Apa? Apa ada yang salah?”

Kepala Seulong semakin mendekat. Chorong bisa merasakan halus hembus nafas Seulong yang menerpa permukaan wajahnya. Kelopak matanya lalu mengatup secara alami, seperti telah mengerti pasti arti dari tatapan Seulong.

Oppa!”

Kedua suami istri itu terlonjak kaget. Chorong cepat-cepat mendorong tubuh Seulong.

Yoona sudah berdiri di depan pintu sambil mengerucutkan bibirnya. Seulong menoleh ke belakang. “Oh, Yoongie-ya..” Ia tersenyum kikuk.

Pria itu kemudian menghampiri Yoona dengan senyum yang lebih alami. “Kau sudah bangun?” tanyanya saat sampai di hadapan Yoona.

Gadis itu semakin mengerucutkan bibirnya. “Kau selalu bermesraan dengannya,” kata Yoona sambil mengedikkan dagu kearah Chorong.

Seulong menoleh sejenak kearah Chorong. Lalu ia tersenyum geli. “Aigoo, apa kau cemburu?” Tangan Seulong tergerak mengelus rambut adiknya. “Kemarilah. Kau juga akan mendapat pelukan hangat dariku.” Pria itu menarik tubuh Yoona dan memeluknya. Membiarkan wangi buah-buahan dari shampo rambut Yoona menelisik ke dalam hidungnya.

“Aku tidak menyukainya,” kata Yoona mengerjapkan mata menatap Chorong yang berada di belakang punggung Seulong.

“Hmm, nugu?”

“Wanita itu. Wanita yang merebutmu dariku.”

“Yoona..”

“Kenapa dia bisa ada disini? Ini rumah kita.”

“Yoong..”

“Aku tidak ingin melihatnya di rumah kita.”

“Im Yoona.” Seulong menghela napas pelan terlebih dahulu. Kedua tangannyakemudian memegang bahu Yoona. “Kau tidak boleh berkata seperti itu,” kata Seulong menatap Yoona lurus. “Dengar, dia adalah kakakmu. Dia isteriku. Dan dia sangat menyayangimu, mmm. Arrachi?

Gadis itu semakin mengerutkan dahi dengan mata berkedip-kedip. Tidak yakin dengan ucapan sang kakak.

Chorong yang sedari tadi diam kini mulai berjalan mendekati kedua saudara itu. “Yoongie-ya,” panggilnya lembut seraya merangkul pundak Yoona dan memberikan senyum hangat. “Ayo kita sarapan. Jus selai kacang dengan susu vanila sudah siap.”

Kerutan pada dahi Yoona langsung memudar begitu mendengar jus selai kacang yang dicampur dengan susu vanila—sarapan kesukaannya.

Jeongmal?” tanyanya sumringah. Chorong memanggutkan kepala.

“Ah, kajja! kajja! Eonnie.” Gadis itu sudah seperti anak kecil yang menarik tangan Chorong dengan semangat menuju meja makan.

Seulong memerhatikan dua wanita yang dicintainya dengan senyum bahagia. Sudah menjadi kebiasaan di pagi hari sebelum sarapan, Yoona akan berperilaku seperti itu—menganggap Chorong sebagai orang asing yang merebut kakaknya. Padahal di waktu sebelum dia tidur, Yoona sangat mengenal Chorong, sangat menyayangi dan tak merasa asing.

Akan tetapi setiap bangun tidur di pagi hari, Yoona seakan kehilangan ingatannya tentang Chorong. Hingga Chorong harus mengingatkannya dari awal lagi. Sebenarnya Yoona tidak kehilangan memorinya tentang Chorong sepenuhnya. Hanya saja ia hanya harus diingatkan lebih dahulu untuk memancing ingatannya sebelum-sebelumnya.

Senyum bahagia Seulong perlahan berangsur berubah menjadi senyum pahit ketika melihat kondisi adiknya yang tak kunjung mengalami perubahan paska kecelakaan dua tahun yang lalu.

Seandainya ada obat untuk menyembuhkan Yoona. Demi Tuhan, Seulong rela melakukan apa saja untuk menebus obat itu. Asalkan adiknya bisa sembuh. Asal adiknya kembali seperti dulu. Yoona, gadis kecilnya yang ceria.

*

 

“Kau serius?”

Siwon yang sedang menyuapkan makanan ke dalam mulutnya memanggutkan kepala.

Eunhyuk menelan ludah dalam-dalam dengan mata yang memandang Siwon tak percaya. “Dimana kau bertemu dengannya?”

“Taman.”

Eunhyuk masih memandang tak percaya kearah Siwon. “Bagimana bisa?” Sekali lagi ia menelan ludah.

Siwon mengedikkan bahu setelah meneguk segelas air putih. “Mungkin kami memang jodoh.”

Pria berwajah funny itu tersenyum meremehkan setelah mendengar jawaban dari sahabatnya. “Dia sudah punya suami. Apa kau lupa?” kata Eunhyuk mengingatkan.

“Masih ada kemungkinan mereka bisa bercerai.”

Uhukk!

Eunhyuk yang sedang meneguk air langsung tersedak. “Ya! Apa kau gila! Kau berencana merebut isteri orang, huh?”

“Menurutmu?” Pria itu menaikkan sebelah alisnya, seolah mengingatkan Eunhyuk bahwa dia adalah Choi Siwon yang bisa melakukan apa saja.

“B-bagaimana kau akan merebut Chorong dari suaminya?”

Sudut kanan bibir Siwon tertarik menampakkan seringai penuh arti. “Yoona. Im Yoona..”

Mwo?” Eunhyuk mengerutkan dahi, merasa sedikit menangkap Siwon menggumamkan nama seseorang.

Kedua alis tebal Siwon terangkat, masih dengan senyum yang menghiasi wajahnya. “Aniya. Kau hanya akan melihatku bisa membawanya kembali padaku,” ujarnya dengan senyum arogan.

Eunhyuk mengerjap-ngerjapkan matanya tak percaya. “Ya! Ya!…” Ia kehilangan kata-kata. “Aisshh!” dengusnya menarik rambutnya frustasi.

Ada sesuatu yang diketahuinya tapi tidak diketahui oleh Siwon. Sesuatu tentang Chorong.

*

“Yoongie-ya, jangan terlalu jauh! Arrachi?” Seulong berteriak dari jarak tidak terlalu jauh dari adiknya yang tengah berlarian di sekitar bibir pantai.

Oppa!”

Seulong melambai tinggi-tinggi, menyahut panggilan Yoona.

“Aku bisa terbang. Apa kau mau lihat?”

Kepala Seulong mengangguk mantap. “Nde, tunjukkan pada Oppa.”

Kedua mata Seulong mengikuti gerak Yoona. Suara deru ombak menjadi pengiring tiap gerak Yoona. Gadis itu terlihat begitu bahagia. Layaknya bocah kecil yang baru melihat air. Seperti malaikat kecil yang menemukan surganya.

Yoona berteriak saat ombak menerpa kakinya sampai ke lutut dan Seulong langsung terlonjak dengan gerak refleks—ingin menarik Yoona dari sana. Tapi ia urung ketika gadis itu kembali tertawa. Seulong menarik napas lega.

Jantungnya selalu nyaris copot tiap kali mendengar Yoona berteriak. Hidupnya tidak tenang jika tidak melihat Yoona benar-benar dalam kondisi baik. Dia akan selalu merasa cemas dan khawatir. Dan ia hanya mempercayakan Yoona pada Chorong. Dia bergantung pada Chorong untuk menjaga Yoona saat dia tak bisa berada di sisi adiknya itu.

Yeobo..”

Seulong mengusap air matanya yang meluncur begitu saja saat merasakan tangan lembut menyentuh punggung tangannya. Kepalanya menoleh dan ia menemukan Chorong tengah memasang senyum lembut padanya. Ia bersyukur pada Tuhan telah mengirimkan wanita sebaik Chorong. Sungguh, kehadiran Chorong adalah kado terindah dari Tuhan untuknya.

“Aku sudah menyiapkan makanannya,” Chorong mengeratkan genggamannya. “Ayo kita makan.”

*

Siwon mengamati semuanya, dari tempat yang cukup aman sehingga keluarga kecil yang tengah menikmati acara piknik mereka itu tidak mengetahui keberadaannya. Dia benar-benar tidak main-main ketika mengatakan akan mendapatkan Chorong kembali. Beberapa menit yang lalu ia baru saja dikabari orang suruhannya yang mengawasi Chorong bahwa wanita itu beserta suami serta adik iparnya tengah mengadakan piknik di sebuah pantai.

Mata Siwon menyipit. Rahangnya mengeras dengan tangan yang mengepal pada stir mobil. Disana dia melihat Chorong nampak bahagia. Gadis yang dia rindukan saat ini sedang tersenyum untuk orang lain, karena orang lain. Sungguh lelucon yang menarik.

Dering ponsel Siwon yang berada di atas dasboar mengalihkan perhatian pria itu. Diraihnya benda persegi itu.

Yeoboseo?” sapanya setelah menekan tombol hijau.

“…….”

“Jadi begitu?”

“……”

“Kerja bagus.Awasi dia terus.” Sambungan ia putus. Matanya kembali mengarah pada keluarga kecil tadi.Ada senyum kecil yang terkesan licik menghias di wajah tampannya.

“Im Seulong. Jadi, kau hanya pegawai biasa di perusahaan swasta?”Siwon tersenyum meremehkan.“Terlalu mudah untuk disingkirkan,” desisnya penuh minat.

Kedua matanya lalu mengarah pada sosok gadis yang duduk di atas pasir, sibuk membuat istanah pasir.Gadis itu tersenyum dengan mata berbinar, nampak begitu polos dan lugu. Debar ombak dan sepoi angin yang menerpa rambutnya seolah telah menjadi satu untuk memperlengkap kesan indah pada gadis itu.

Lama Siwon menatap Yoona.Menyiratkan sebuah tatapan yang sulit diartikan, tidak dapat terbaca.

Dan entah setelah berapa lama, bibir Siwon menyunggingkan senyum miring.

*

Tidak ada yang berubah pada kehidupan Park Chorong semenjak dua tahun silam. Sejak sosok gadis cantik nan anggun berubah menjadi sosok gadis kecil dalam tubuh dewasanya. Semua orang mengatakan gadis itu sudah tidak waras.Gadis itu gila.Gadis itu stres. Ya, dia berperilaku layaknya bocah berusia lima tahun. Terkadang suka menjerit histeris, tertawa dan menangis sendiri. Tentu saja semua orang akan mengambil kesimpulan bahwa Im Yoona adalah gadis gila.

Tapi tidak bagi Park Chorong.Dia tidak pernah menganggap Yoona sebagai gadis gila.Yoona hanya depresi lantaran kecelakaan yang menimpanya dua tahun yang lalu. Dan Chorong yakin Yoona akan sembuh, pasti! Gadis itu akan kembali menjadi Im Yoona yang senantiasa tersenyum bahagia, bukan senyum palsu yang selama ini ia pasang.

Eonnie..”

Chorong tersentak lalu menolehkan kepalanya.“Nde?”Dia mengulas senyum lembut.Lalu melangkah kearah Yoona yang duduk diatas karpet.Ia turut mendudukkan diri di samping Yoona.

“Apa warna ini cocok untuk Jonghyun?”Yoona mengamati buku gambarnya dengan pandangan menilai. Lalu ia menoleh pada Chorong, meminta pendapat.

Sejenak Chorong terdiam.Dia menatap buku gambar yang menampakkan sepasang kekasih tengah bergandengan tangan—hasil gambaran Yoona.

Eonnie, ini jelek sekali ya?”Suara Yoona nampak kecewa.Ia beringsut menampakkan wajah sedih.

Aniya,” jawab Chorong cepat.“Ini sangat bagus untuk Jonghyun.Tuxedo dengan warna hijau.Ya, dia terlihat tampan.” Chorong cepat-cepat menambahkan dengan senyum yang ia paksakan setulus mungkin.

“Benarkah?”Yoona kembali mengamati hasil gambarannya.Ada senyum bangga bercampur bahagia disana.“Kalau begitu aku akan segera menunjukkan gambar ini padanya.”

Kenapa kau membuatku selalu menitikan air mata, Yoona-ya?Kenapa kau tidak pernah sedikitpun membuatku tersenyum bahagia?Benar-benar bahagia?

Chorong merasakan sesak di dadanya.Gumpalan-gumpalan kesedihan yang tertanam selama ini.

Eonnie, aku mengantuk.Boleh aku tidur sekarang?”

Wanita itu hanya mengangguk samar. Yoona tersenyum dan langsung berdiri, berjalan tiga langkah dan naik ke atas ranjangnnya yang empuk.Dia menyelimuti tubuhnya sendiri.Tidak membutuhkan waktu lama bagi gadis itu untuk langsung terlelap dalam mimpi indahnya.

Dia tidak menyadari bahwa mata Chorong berkaca-kaca.Bahwa kakak iparnya tengah menangisi nasibnya.Tidak.Dia melihatnya.Hanya tidak dapat mengartikan air mata itu.

Dengan lunglai, Chorong bangkit dari duduknya.Ia lalu mendekat pada ranjang Yoona. Setelah cukup lama mengamati wajah damai Yoona, wanita itu mengusap sayang rambut Yoona serta memberi kecupan hangat.“Semoga mimpi indah.”

Ketika menjauhkan wajahnya dari Yoona, Chorong merasakan getaran pada ponselnya yang berada di dalam saku celananya.Wanita itu mengernyit, merasa asing dengan nomor yang baru mengiriminya pesan singkat.

‘Aku menunggumu di tempat biasa, jam delapan malam.Kuharap kau tak lupa tempat ini.’

“Choi Siwon?”

*

Saat itu pria dengan setelan tuxedo hitam serta celan panjang dengan warna senada tengah duduk di kursi sebuah restoran Italia.Sesekali matanya melirik pada arloji yang melingkar pada pergelanagan tangan kirinya.Dia tidak nampak gusar ataupun cemas.Dia terlihat tenang dalam kegiatan menunggunya. Malam semakin larut dan jarum jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Itu berarti dia sudah menunggu selama satu jam.

Dia tidak datang? Tidak! Dia pasti datang!

Ketika suara derap langkah kaki merayapi gendang telinga Siwon, pria itu kemudian mendongakkan kepalanya. Seorang wanita dengan dress selutut berwarna putih gading tengah berdiri di hadapannya. Dengan rambut kecokelatan yang tergerai melewati bahu.Dia tidak berubah. Masih sama seperti Park Chorong-nya yang dulu.

“Kau datang?”Senyum tipis Siwon mengembang.

*

“Yoona, apa kau gugup?”

Gadis itu mengangguk.Meremas roknya kuat-kuat.

“Jangan gugup.Aku ada bersamamu.”Yoona merasakan kehangatan dari tangan pria itu, menghantarkan ketenangan dalam dirinya.Dia menoleh dan mendapati senyum menenangkan dari pria yang tengah duduk di balik kemudi, di sampingnya.

“Terimakasih, Jonghyun.” Gadis itu memberikan senyum tulus.

“Jonghyun benar.Kau jangan terlalu gugup, Sayang.” Suara lembut yang berasal dari Ny. Im membuat Yoona menoleh ke jok belakang.

“Ibu dan Ayah ada disini untuk mendukungmu, arra?” Ny. Im mengepalkan tangannya, memeberi dukungan sambil sebelah tangannya melingkar pada lengan Tn. Im yang juga memberikan senyum hangat pada putrinya.

“Terimakasih Ibu. Terimakasih Ayah,” ujar Yoona dengan senyum lebih rileks.

Gadis itu kembali menatap ke depan. Dia menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya pelan.Ada kelegaan disana. Genggaman Jonghyun masih ia rasakan melingkup tangannya. Dia merasa bahagia.Saat ini. Sungguh, pintu bahagia itu terasa sudah ada di depan mata. Sebentar lagi, tinggal selangkah lagi.

Akan tetapi, nyatanya takdir berkata lain.

Ketika tiba-tiba sebuah mobil dengan kecepatan tinggi dari arah berlawanan menghantam mobil yang ia tumpangi. Bersama Jonghyun tunangannya dan kedua orangtuanya.

Dan selang beberapa detik, dentuman keras terdengar dari sana. Mobil itu mengguling di atas  aspal. Menggiring penumpangnya pada ambang kematian.

Andweeee!”Yoona terduduk dengan nafas terengah dan keringat dingin yang membanjiri seluruh tubuhnya.Ia menjerit ketakutan dengan dagup jantung yang berdebar kuat. Pupil matanya bergerak gelisah.Ia meremas kuat-kuat seprai dan merasakan seluruh bulu halusnya meremang.

Mimpi buruk itu datang lagi!

“A-ayah… Ibu..”Cahaya lampu temaram yang hanya berasal dari lampu duduk semakin membuatnya ketakutan. “Jonghyun..”Ia masih menggumam dengan suara bergetar.

Seluruh tubuhnya bergetar.Kepalanya pusing dan gambaran tabrakan itu masih tertelan jelas di kepalanya.

Yoona memejamkan matanya.Kedua tangannya membekap telinganya.“Andwee!Andwee!”Suaranya memilukan, memohon agar gambaran itu cepat pergi dari kepalanya.Air matanya semakin deras mengucur.Ada sebuah luka yang terbuka dan teriris.

Gadis itu meronta-ronta diatas ranjang.Ia menjerit kesakitan. “Pergi!”

Wajah ketiga orang yang teramat disayanginya samar-samar hadir dalam ingatannya.Wajah lemah dengan bersimbah darah.Yoona kembali meronta hingga membuat tubuhnya terjatuh dari tempat tidur.“Andwee!” jeritnya pilu untuk kesekian kali.Dadanya sesak.Air matanya tak tertahankan lagi.Gadis itu kesakitan oleh gambaran kecelakaan dua tahun silam.

*

“Jadi, apa yang ingin kau bicarakan padaku, Siwon-ssi?”

Siwon menyinggungkan senyum tipis kala mendengar Chorong memanggilnya dengan embel-embel ‘ssi’ Dia tidak lagi merasa kaku seperti kemarin karena tekad untuk mendapatkan Chorong kembali lebih besar menguasainya.

“Bagaimana kabarmu….. Rongie-ya?” tanya Siwon tersenyum miring. Chorong sempat terhenyak ketika dirinya kembali diingatkan oleh panggilan itu.Namun wanita itu rupanya dapat segera menguasainya dirinya kembali.Dia hanya membalas tatapan Siwon dengan tatapan dingin.

Siwon menaikkan kedua alisnya. “Well, bertahun-tahun tidak bertemu tak kusangka kau sudah menyandang status sebagai Ny. Im.”Terbesit senyum meremehkan. “Im Chorong? Tidak terlalu buruk jika dibandingkan dengan Choi Chorong,” lanjut Siwon dengan nada tajam.

Chorong menghela napas sejenak sambil melempar pandangan kearah lain. “Kau hanya ingin mengatakan ini?”Dia mencibir.“Bagaimana mungkin seorang CEO terhormat saat ini tengah berusaha membahas masa lalu pada seorang wanita yang telah bersuami.Apa anda tidak merasa melukai harga diri anda sendiri, Tuan Choi?” ujar Chorong penuh penekanan.

Siwon mengertakkan gigi.Rahangnya mengeras.Dan dia merasakan emosinya mulai tersulut.“Park Chorong!”

“Ya, Tuan Choi Siwon.”Chorong nampak tidak takut dengan tatapan mengancam dari Siwon.

Awalnya dia tidak ingin menanggapi kehadiran Siwon.Menganggap mereka tidak saling kenal di masa lalu dengan berpura-pura acuh layaknya orang asing. Akan tetapi sifat Siwon yang arogan dan terkesan meremehkan orang lain benar-benar membuat Chorong gerah. Siwon tidak pernah berubah.Dari dulu dia tetaplah pria congkak.

“Jika pembicaraan ini sudah selesai maka saya pamit pergi saat ini juga.”Chorong berdiri dari duduknya.“Terimakasih telah mengundang saya.”Dia membungkuk.“Saya permisi.”

“Park Chorong,” panggil Siwon saat wanita itu membalikkan badan. “Aku punya penawaran menarik.Menyangkut suamimu, Im Seulong.”

Chorong menghentikkan langkahnya.Saat itu juga tubuhnya menegang. Kedua tangannya terkepal lalu ia menoleh kearah Siwon. Menatap pria yang tengah melemparkan senyum licik padanya.

“Kudengar dia bekerja sebagai pegawai biasa di sebuah perusahaan swasta.” Nada Siwon mulai tenang, seolah sudah membaca situasi bahwa dia akan menjadi pemenang pada akhirnya. “Kau tahu aku, ‘kan?”Siwon menatap Chorong dengan senyum mengembang.

“Aku tidak akan membiarkan dia menjadi pengangguran mengingat dia masih punya seorang adik yang memiliki kelainan jiwa.Dan ya, dia tentu harus menghidupi adiknya itu.”

Chorong menajamkan matanya.Pria itu semakin melebarkan senyumnya.

“Aku tidak akan berbelit-belit. Jadi, apa keputusanmu? Kau tentu tidak akan membiarkan gadis dengan keterbelakangan—“

“Kau tidak mengerti!” desis Chorong mempertajam tatapannya. “Dia bukan gadis dengan kelaianan jiwa seperti apa yang kau pikirkan. Kau tidak akan pernah mengerti. Orang-orang sepertimu tidak akan pernah tahu karena kalian tidak pernah memiliki hati nurani. Karena kalian hanyalah sekumpulan orang keji yang suka menindas orang lain dengan kekuasaan yang kalian miliki!”

Selesai mengatakan itu Chorong  segera mengambil langkah seribu, meninggalkan Siwon yang terdiam, terpaku di tempatnya.

*

Tubuhnya masih bergetar dengan deras air mata dan pupil air mata yang bergerak gelisah. Yoona menyeret kakinya dengan tersaruk-saruk.Keadaan rumah sangat sepi.Dan bayang-bayang kecelakaan itu semakin menghantuinya.

Eonnie..”Yoona mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruang. “Chorong Eonnie..”Ia memanggil-manggil Chorong. Tapi tidak ada siapapun disana.

O-oppa..” bibirnya bergetar. Lalu bayangan itu kembali berkelebat dalam benaknya.Ia menjerit ketakutan. Tangannya menggapai semua barang yang ada disana lalu membantingnya.Menghalau sekelebat bayang kegelapan yang menakutkan.

Oppa..”

Tidak ada sahutan.Dia sendirian.Yoona sendirian di dalam ruang yang gelap. Kakaknya, keluarga satu-satunya yang ia punya tidak ada. Semua orang meninggalkannya. Sendirian!

“Ayah.. Ibu..”Suaranya tersendat oleh isakannya. “Jonghyun..Oppa..eodigo?” Ketakutan itu membuat suaranya semakin memelan, terdengar putus asa.

Dia melihat bayangan dirinya dari kaca besar yang menggantung di dinding.Memperlihatkan matanya yang sembab dengan sisa-sisa air mata yang masih menempel di pipi serta bibirnya yang pucat.Sesaat Yoona kembali menangis melihat pantulan dirinya yang menyedihkan.Namun ketika bayangan itu kembali berkelebat dia terbelalak.

Dalam mobil itu.Ketika kecelakaan itu terjadi.Dalam peristiwa mengenaskan itu. Disana, di dalam sana. Ada dirinya.Satu-satunya korban yang selamat dalam kecelakaan maut yang berhasil merenggut kedua orangtuanya dan juga tunangannya.

“Pembunuh!” pekiknya histeris.Matanya memerah dengan air mata yang terus menderai. Kuku-kuku jarinya memutih ketika ia mengepalakan kedua tangannya. “Penjahat! Pergi kau dari hadapanku! Kau tidak pantas hidup!”Dia meneriaki pantulan dirinya sendiri.

Akal sehatnya benar-benar tertelan hingga halusinasinya mulai merayapi keseluruhan otaknya.Dia melihat pantulan dalam cermin itu tengah tertawa keras.Menertawakan dirinya yang seolah tidak berguna.

Dengan marah, Yoona meraih vas bunga yang ada di meja lalu melemparkannya pada cermin itu.Hantaman keras itu mengenai cermin hingga hancur berkeping-keping.Bahkan serpihan kacanya sampai melukai pipi kanannya.

Halusinasinya masih bermain.Pantulan dalam cermin yang telah hancur itu masih menertawakannya.Yoona menutup rapat-rapat kedua telinganya dengan tangannya sambil memejamkan mata.“Pergi!Kubilang pergi!”

Dari arah belakang, Chorong terperangah ketika memasuki rumah dengan terburu-buru setelah mendengar kegaduhan.Dia melihat Yoona tengah menjerit-jerit ketakutan.

“Yoona. Im Yoona.” Wanita itu menghampiri Yoona lalu memeluknya dari belakang.

Yoona tersentak merasakan seseorang memeluknya.Dia masih dikuasi oleh halusinanasi buruknya.“Pergi!Kau pembunuh.Jangan dekati aku!”Dia meronta-ronta minta dilepaskan.Tapi Chorong menghiraukannya.Dengan segenap kekuatannya, Chorong tetap memeluk Yoona.

“Tenanglah, Yoona. Ini aku, Chorong,” kata Chorong lembut, mengeratkan tangannya pada pinggang Yoona.

Selang beberapa detik Siwon datang dari balik pintu dengan nafas terengah.Pria itu tadinya ingin mengejar Chorong, menjelaskan maksud sebenarnya. Bahwa ia hanya menginginkan Chorong kembali padanya.

Akan tetapi insiden yang saat ini dilihatnya membuat dirinya terhenyak.Kepalanya menelisik kesekeliling.Seluruh barang hancur berantakan.Keadaan rumah masih sedikit gelap dengan hanya diterangi dari lampu penerang dari dapur.

“Yoona, kumohon—“

“Tidak!”Yoona berhasil melepaskan diri dari Chorong.Tapi wanita itu tidak menyerah.Dia mendekap tubuh Yoona.

“Lepaskan aku! Pergi dari hadapanku! Aku..aku.. tolong pergi..” suara Yoona melemah, tertelan oleh tangis yang tersendat-sendat..

“Tenanglah, Yoona.” Chorong juga ikut menangis sambil mendekap tubuh rapuh Yoona.

Sementara Siwon hanya menjadi penonton dalam adegan memilukan itu.Dia berdiri mematung.Ini kali pertama dalam hidupnya. Melihat betapa menyedihkannya sosok yang ia katakan gila, sosok yang ia katakan tidak waras. Dan melihat betapa Chorong mencintai gadis itu hingga menitikan air mata.Hal itu benar-benar menohok jantungnya.

Siwon terkesiap ketika tubuh Chorong terdorong oleh Yoona hingga membuatnya jatuh ke lantai.Ia baru saja akan melangkah namun sekelebat sosok lelaki tinggi telah mendahuluinya.

“Chorong!”Seulong cepat-cepat membantu Chorong.

“Dia pembunuh.Dia yang menyebabkan Ayah, Ibu dan Jonghyun meninggal.Biarkan aku membunuhnya!”

“Yoona!”Seulong mencegah langkah Yoona yang hendak menghampiri Chorong.Pria itu mencengkram lengan Yoona.“Dia kakakmu, Yoona. Dia Chorong Eonnie,” kata Seulong berusaha menjelaskan.

“Biarkan aku membunuhnya, Oppa.Biarkan aku membunuhnya.”Yoona tidak mendengar penjelasan Seulong.Yang ada dalam benaknya saat ini adalah wanita itu merupakan pembunuh yang menewaskan kedua orangtuanya dan juga tunangannya.

Seulong yang melihat kemarahan dalam mata Yoona segera memeluk tubuh adiknya. “Tenanglah, Yoona.” Dia membawa kepala Yoona bersandar pada dada bidangnya.“Jangan seperti ini, kumohon.”

Tapi gadis itu benar-benar tuli akan ucapan Seulong. Dia meronta-ronta dalam dekapan kakaknya.Hal itu membuat Seulong menatap sedih adiknya. Dan entah terdorong oleh apa, pria itu merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel dari dalam sana. Sebuah nomor yang diberikan Jokwon sebulan yang lalu, yang seharusnya ia hubungi saat itu juga kini seolah menjadi pilihan satu-satunya. Tanpa pikir panjang, Seulong menekan tanda panggil.

Yeoboseo, Jokwon.”

Chorong langsung terbelalak ketika suaminya menyebutkan nama itu. Dia tahu arah pembicaraan Seulong selanjutnya.

“Ya, aku butuh bantuanmu.”

Chorong segera menyambar ponsel Seulong dengan kemarahan.“Apa yang kau lakukan, Oppa!”

Seulong mendesah ketika ia masih berusaha menekan gerak Yoona yang membabi buta. “Tidak ada jalan lain, Chorong.”

Wanita itu baru saja akan bersuara ketika detik itu mulai terdengar suara sirene ambulance. Chorong menajamkan tatapannya pada Seulong.Sementara Siwon tidak dapat berbuat apa-apa. Dia bingung antara lari dari sana atau tetap tinggal.

Tubuh Yoona menegang dalam dekapan Seulong.Dan tidak membutuhkan waktu lama, beberapa pria bertubuh tinggi dengan seragam putih sudah masuk ke dalam rumah.Yoona beringsut ketakutan.Ia menggelengkan kepala ketika lengannya di cengkram oleh para petugas Rumah Sakit Jiwa.

Andwee!Jangan bawa aku.”Dia meronta-ronta. “Oppa.. Oppa..” panggilnya pilu meminta bantuan kakaknya.

Tapi Seulong membiarkan genggaman tangan Yoona mengendor.Membiarkan air matanya menetes bersamaan dengan adiknya yang terus memanggil-manggilnya.

“Lepaskan dia!”Chorong mengejar para petugas itu sampai keluar rumah.Ia terlambat ketika para petugas itu sudah memasukkan Yoona ke dalam ambulance serta menjalankan ambulance itu pergi dari pekarangan rumahnya.

Seulong mencegah lengan Chorong saat wanita itu hendak mengejar ambulance yang sudah pergi.

“Lepaskan aku. Biarkan aku mengejarnya, Oppa .Dia membawa Yoona, adikku.Adikku kesakitan.”Wanita itu memohon dengan tubuh lemah tak berdaya.Mencengkram kemeja Seulong dengan meraung-raung penuh permohonan.Tapi Seulong hanya terdiam.Mengeratkan pelukannya pada istrinya serta ikut terisak.

Dia harus melakukannya. Sudah seharusnya ia melakukan ini dari dulu.

Mianhae, mianhae.Jeongmal mianhaeyo.”

Sekali lagi Siwon hanya menjadi penonton dalam adegan itu.Dia melihat bagaimana Chorong menangis hingga tubuhnya melemah.Dia melihat sorot mata Seulong yang kecewa terhadap dirinya sendiri.Dan dia melihat kepedihan dalam diri Yoona.

Kenapa Tuhan seolah ingin menunjukkan kejadian ini padanya?

Kenapa Tuhan menghadiahkan pemandangan seperti ini padanya?

*

Masih jelas membekas dalam benaknya.Siwon termangu di balik kemudi.Duduk bersandar pada jok kursi. Tiga puluh menit ia terdiam bagai patung disana. Membiarkan deru ombak yang berasal dari luar memenuhi kehampaan dalam mobil.Malam sudah semakin larut tapi pria itu masih enggan untuk sekedar membuka mulut. Dering ponselnya membuat Siwon mengangkat kepala. Diraihnya benda persegi itu. Sudah ada tiga belas miscall dari nomor yang sama.

Yeoboseo, Eunhyuk-ya.”

“Apa ini dengan Tuan Choi Siwon?”

Siwon menjauhkan ponselnya dengan mengernyitkan dahi. Ini benar nomor Eunhyuk tapi suara di seberang sana bukan suara sahabatnya.

Nde, Siapa ini?”

Jwesonghaeyo, emm..teman anda sepertinya tengah membutuhkan bantuan anda. Dia terlihat terlalu banyak minum.”

Arraseo.Aku akan kesana.”

Setelah sambungan ia putus, Siwon segera menyalakan mesin mobil dan mengijak pedal gas.

_

“Kau mabuk?”

Eunhyuk mengangkat kepalanya yang berat dan mendapati sosok Siwon yang berdiri di sampingnya.Eunhyuk tersenyum sekilas.Lalu mulai berdiri.Dia kehilangan keseimbangan hingga Siwon harus menahan lengannya.Pria ini sepertinya sedang patah hati, begitu yang Siwon tahu tentang kebiasaan Eunhyuk jika dia mabuk berat.

“Wanita jalang itu..hegh.” Eunhyuk tersedak sebelum melanjutkan.“Dia benar-benar tidak tahu diri!”

Siwon hanya menatap datar sahabatnya tanpa mau menyela ocehan Eunhyuk.Pria itu terus mengoceh, mengumpat tidak karuan.

“Bodoh!” desis Siwon menarik lengan Eunhyuk, berniat membawa Eunhyuk pergi dari tempat itu. Tapi Eunhyuk menepis tangan Siwon.

“Kau…” Dia berteriak.“Harusnya kau tidak lagi mengganggu Chorong!”Eunhyuk menunjuk-nunjuk wajah Siwon.“Harusnya kau tahu kenapa dia sampai mencampakkanmu.Dia selalu sabar menghadapi sikap aroganmu.Seandainya kau tidak mementingkan keegoisanmu seharusnya kau dapat mencegah saat Chorong dipaksa menikah dengan pria yang tidak ia cintai hanya karna hutang budi.”

Tubuh Siwon menegang dengan keterkejutan yang begitu nampak pada wajahnya.Apa yang baru saja Eunhyuk katakan tadi?

“Dia menceritakan semuanya padaku. Kau juga tidak tahu kan bagaimana hidup Chorong ketika dia mulai merasakan kebahagiaan dengan suaminya, saat dia mulai mencintai suaminya. Kecelakaan dua tahun lalu itu merenggut semuanya.Dia hidup hanya untuk mengurusi adik iparnya.Kau tidak tahu kan bagaimana dia bertambah tersiksa saat kau datang lagi dalam kehidupannya!”

Kecelakaan?Dahi Siwon mengernyit dalam.Dia masih meperlihatkan wajah datar tapi memperhatikan Eunhyuk yang berteriak-teriak sampai menitikan air matanya.

“Ya, kau benar.Kecelakaan dua tahun yang lalu. Kecelakaan yang disebabkan oleh mobil Lexus hitam dengan nama Choi Siwon sebagai pengemudinya!” Eunhyuk menepuk-nepuk dada Siwon.“Kau.Karena saat itu kau mabuk.Dengan seenaknya kau menabrak mobil yang melaju di depanmu. Kau membunuh mereka, Choi Siwon! Kau seorang pembunuh!”

Siwon hampir saja terjatuh jika tidak berpegangan pada meja bar. Eunhyuk merasakan kepalanya berdenyut dan ia kembali duduk dengan meneggelamkan kepalanya di atas meja. “Kau brengsek, Choi Siwon.Kau membuat seorang gadis bernana Im Yoona kehilangan masa depannya!”

Siwon tercengang dengan kata-kata Eunhyuk.Apa arti semua ini? Sial! Sialan!

Eunhyuk menatap Siwon dengan tatapan merah, antara pegaruh alkohol dan rasa marahnya.“Kau tahu saat itu dia akan pergi kemana? Dia akan pergi untuk melihat gaun pengantinnya. Hari itu adalah sehari sebelum dia menikah.Karenamu dia kehilangan kedua orangtuanya, calon suaminya dan juga mimpi yang dia bangun selama ini.Kau adalah pria tidak berperasaan!”

*

Rambut panjangnya yang tergerai melewati bahu, kini nampak berantakan dengan tatanan yang tidak terurus.Piyama rumah sakit yang telah lusung membalut tubuh kurus gadis itu.Tatapannya kosong dengan lingkaran hitam yang terlihat jelas di bawah matanya. Dia Im Yoona, tengah duduk di bangku taman rumah sakit. Diam membisu diantara hembus angin musim gugur.

Siwon mengamati gadis itu dari jarak tak cukup jauh.Kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku celana dan matanya terus mengamati gerak Yoona. Selama hampir dua jam, gadis itu hanya terdiam disana. Tidak mengindahkan perawat ataupun pasien yang lewat di depannya.

Bayang-bayang kecelakaan dua tahun silam yang berkelebat dalam benak Siwon seolah seperti jarum kecil yang menusuk-nusuk serta mengiris perih hatinya. Melihat dampak yang ia ciptakan hingga membuat sosok gadis bernama Yoona itu menjadi depresi, sungguh Siwon tidak pernah membayangkan hal ini akan terjadi. Gadis itu menjadi seperti ini karena dirinya, karena perbuatannya.

Kau memang pria brengsek, Choi Siwon!

*

Hari-hari berikutnya, Siwon seakan tenggelam merenungi hidupnya. Tidak! Siwon tenggelem memikirkan kata-kata Eunhyuk di bar pada malam itu. Eunhyuk benar, dirinya sudah menghancurkan hidup Yoona, dirinya sudah menghancurkan masa depan gadis itu. Selama dua tahun gadis itu tersiksa karena dirinya, selama dua tahun gadis itu hidup seperti orang yang tak waras. Sementara dirinya? Dirinya hanya terobsesi pada Chorong, wanita yang sudah jelas-jelas tak akan pernah kembali lagi padanya.

Tak di duga, setetes air mata meluncur dari kelopak mata Siwon. Air mata yang bersumber dari pergulatan batin yang menyiksa dirinya. Siwon prustasi dengan semua ini, angan-angannya untuk mendapatkan Chorong harus ia kubur dalam-dalam, impiannya untuk hidup bersama wanita itu harus ia hempaskan jauh-jauh. Sakit memang, namun itulah pil pahit yang harus Siwon telan meskipun ia bersikeras tak mau menelannya.

*

Seusai pulang dari kantor, entah magnet apa yang membawa Siwon ke tempat ini. Tempat orang-orang yang dianggap tidak waras, tempat orang-orang “aneh”. Tentu saja bukan tanpa maksud Swon datang ke tempat itu, dia pasti ingin bertemu atau melihat gadis bernama Im Yoona meski hanya dari kejauhan. Siwon juga bingung, kenapa tadi ia ingin kemari. Mungkin hati kecilnya serta di dukung langkah kakinya sehingga sekarang ia sudah berada di tempat itu.

Seperti biasa, Siwon hanya bersembunyi mengamati sosok Im Yoona yang duduk di sebuah bangku. Hanya seorang diri. Tentu saja, Siwon tak pernah melihat Yoona bersama siapa pun. Gadis itu juga seperti biasanya melamun, tatapan matanya yang kosong selalu menjadi pemandangan yang Siwon lihat tiap kali memperhatikan sosok Im Yoona.

“Kau tahu saat itu dia akan pergi kemana? Dia akan pergi untuk melihat gaun pengantinnya. Hari itu adalah sehari sebelum dia menikah.Karenamu dia kehilangan kedua orangtuanya, calon suaminya dan juga mimpi yang dia bangun selama ini.Kau adalah pria tidak berperasaan!”

Dada Siwon sesak saat perkataan Eunhyuk terngiang kembali di telinganya, tubuhnya seketika merinding membayangkan kecelakaan itu, kecelakaan yang telah membuat sosok gadis di depannya itu kehilangaan masa depan karena dirinya.

“Tidak, belum terlambat. Semuanya belum terlambat” ucap Siwon meyakinkan dirinya.

Tapi tiba-tiba mata Siwon membulat sempurna saat Yoona – gadis itu menangkap basah dirinya. Bak seorang pencuri yang ketahuan, Siwon mendadak cemas. Dia tiba-tiba takut Yoona akan mengingat dirinya, jika dirinya adalah si pengemudi yang telah menyebabkan kedua orang tuanya serta calon suaminya tewas dua tahun silam, Siwon takut jika Yoona akan melaporkannya ke polisi dengan tuduhan pembunuh. Entah kenapa pikiran konyol itu terbesit di otak Siwon.

Siwon semakin resah tak kala Yoona berjalan mendekatinya, langkah gadis itu yang sangat pelan namun semakin lama semakin mendekatinya membuat Siwon benar-benar cemas. Takut, dia takut pikirannya itu akan benar-benar menjadi kenyataan. Siwon tak mau masuk penjaran, Siwon tak mau menjadi seorang narapidana. Sungguh Siwon tak mau.

Yoona sudah berada di hadapannya, gadis itu mengamati wajah Siwon begitu seksama. Siwon tak mengerti apa yang tengah di lakukan gadis ini, namun dia juga tak berusaha menolak kontak mata dengan gadis ini. Tangan Yoona terangkat, tangan yang terlihat kurus itu menyentuh wajah Siwon, menelusuri wajah pria itu begitu pelan seperi tengah mengusap barang pecah belah yang berharga mahal. Siwon terhenyak, dia kaget dengan perlakukan Im Yoona.

Namun satu yang dapat Siwon rasakan, tangan gadis itu terasa dingin menyentuh permukaan pipinya, dingin. Mungkin sama dinginnya dengan bongkahan es. Siwon menatap manik mata Yoona yang masih setia menatap matanya, mata gadisitu memperlihatkan sebuah rasa sakit yang begitu dalam, sebuah perasaan tertekan yang begitu dalam serta sebuah perasaan ketakutan.

Sepertinya gadis itu tak nyaman berada di tempat ini, justru tempat ini semakin membuat dirinya terpuruk. Bagaimana tidak, sejak menjadi pasien di rumah sakit jiwa ini hampir setiap detik Yoona memikirkan peristiwa itu, hampir setiap malam Yoona terbangun karena mimpi itu kembali menghantui dirinya dan hampir setiap malam juga Yoona menangis ketakutan.

Siwon tertohok tak kala menatap dalam mata Yoona, tanpa di duga dia menitikan air mata. Yah air mata rasa bersalah, serta air mata penyesalan. Terlambat memang  Siwon menangis, seharusnya pria itu menangis dua tahun silam, seharusnya pria itu menyesali perbuatannya dua tahun silam. Bukan sekarang.

“K-kenapa..kenapa kau menangis?” Yoona bersuara dan semakin membuat air mata Siwon jatuh tak terkendali.

“A-apa..kau..sama seperti aku?” tanya Yoona begitu terdengar polos.

Siwon masih bungkam, bertahan dengan diamnya namun tetap air matanya keluar semakin deras.

“A-aku tidak pernah melihatmu disini? A-apa kau orang baru?” tanya Yoona untuk kesekian kalinya dan masih terdengar begitu polos.

Siwon mulai terisak, kedua pipinya sudah di penuhi air mata yang terus turun tak terkendali. Apalagi di tambah melihat Yoona yang begitu polos bertanya padanya, semakin membuat hati pria itu sakit.

“Jawab aku,” pinta Yoona pelan menuntut jawaban dari pria yang tegah menangis terisak di hadapannya.

Siwon sepertinya sulit untuk bersuara, hanya isakan serta berusaha menahan tangis yang dapat ia lakukan. Namun pada akhirnya Siwon menjawab dengan sebuah anggukan kecil yang menandakan “Ya” atas pertanyaan Yoona.  Siwon tak tahu lagi harus melakuakn apa, yang pasti tak mungkin ia menjawab “Tidak” dia tak tega, tak tega untuk untuk berkata jujur pada Im Yoona.

Lengkungan kecil menghiasi wajah Yoona, gadis itu tersenyum. Yah dia mengerti maksud anggukan Siwon, namun satu yang dia tidak mengerti yaitu tangisan Siwon. Melihat Yoona tersenyum, Siwon berusaha untuk ikut tersenyum meski nyatanya kembali ia menangis.

Kedua tangan Siwon terangkat menyentuh bahu Yoona, sementara gadis itu masih senantiasa menatapnya. Tak di duga, Siwon menarik tubuh Yoona kedalam pelukannya. Untuk pertama kalinya dia memeluk gadis itu, dan untuk pertama kalinya juga dia menangis di bahu seorang wanita. Sesunguhnya jika Siwon bisa mengungkapkannya, dia ingin mengatakan yang sebenarnya padaYoona, dia ingin meminta maaf pada Yoona dan dia ingin mengungkapkan rasa bersalah serta rasa penyesalannya padaYoona.

Tapi apa daya, Siwon tak bisa mengatakannya, dia takut jika Yoona akan melakukan sesuatu yang berbahaya seperti pada malam ia dibawa ambulancedan yang lebih ia takutkan adalah Yoona akan menjauh darinya sebelum ia meminta maaf dan menyesali perbuatannya.

.

.

To Be Countinued…

Nita said: Whaa setelah waktu yang lama Duo maut xD asal ESEM Entertaiment fakum -_- akhirnya kita kembali kembek dengan chapter 2 yang menguras air mata xD HaHaHa…Sebelumnya saya mau mengucapkan terima kasih yang sebanyak-sebanyaknya kepada semua readers yang mendukung kita, gak nyangka dukungannya positif :^) kemudian selanjutnya mohon maaf atas keterlambatan FF ini, tahu sendirilah sebagai Duo kita sama-sama sibuk /SO xD\ mengurus karir solo FF kita masing-masing juga kegiatan lain yang benar-benar gak bisa di tinggalkan seperti UTS dan sebagainya, jadi tolong di maafkan :^) di tunggu komentarnya dan sampai jumpa di chapter terakhir….*Bow

Nurul said: *elap keringet* gak kerasa banget kan udah chap duaaaaaaaa>< Haha maaaaaaaaaaaaaaaf banget kalian harus menunggu lama chap ini T.T duh jadi ngerasa gak enak, maafin yah~ /sungkem/ aku gak bisa ngomong apa-apa lagi buat alesan kenapa fic ini lama lanjutnya, semua udah di jelasin sama Nita. Apalagi minggu-minggu ini kuliah lagi padet-padetnya. HIKZ. Well, aku nunggu banget respon baik dari kalian^.~ dan oh ya, untuk chap kemarin aku ucapin MAKASIH banyak yah buat responnya>< tunggu chap end dan project-project mendatang[?] Hehe..

Big thanks buat kak Echa or Resty>< makasih udah mau kita repotin buat nge-post fic kolaborasi kami yang absurd ini! Makasih! Makasih!! 😀 (you’re welcome..)

Tinggalkan komentar

238 Komentar

  1. hanna lee

     /  Mei 11, 2014

    Kyaaaa sumpah sedih banget TuT pleaseee. Chapter 3nya post dong oenni udh ga sbr ini mau bacaa :’3

    Balas
  2. tifYoonwon

     /  Juni 1, 2014

    hwaaaa……………
    sukses bikin nangis,,,
    feelnya dapet bgt, ayo dong last chap nya cepetan di post

    Balas
  3. Hwaaa..
    Pnsaran bgt ma kelanjutannya..
    Xixixi..
    next..

    Balas
  4. tarilbs

     /  Juni 14, 2014

    Lanjut min…..penasaran banget sama cerita slnjutnya….

    Balas
  5. agatharia

     /  Juli 13, 2014

    Omg jdi penyebab kecelakaan itu siwon ><
    Bnr" sdih pas bagian akhir..siwon udh gakuat nhan rasa penyesalan dia..n akhirnya tumpah jg didpn yoona..
    Eon jgn lama" yaa part trakhirnya..jeballll :')

    Balas
  6. Ai juariah

     /  Agustus 21, 2014

    Wah dramatis banget,siwon sdah mulai terbuka hati kecilnya,yah itu berarti masih punya hati nurani…lanjut

    Balas
  7. dahliagaemgyu

     /  September 2, 2014

    hiks hiks sediiihhh
    bikin enasaran pula, cpetan dilanjut donk

    Balas
  8. im yoo ra

     /  September 17, 2014

    Sumpah keren banget…
    Eonni jangan lama-lama dong chap. Endnya…

    Balas
  9. tami indri

     /  November 7, 2014

    liat siwon oppa sama yoona jadi nangiss…tragisssss

    Balas
  10. Cha'chaicha

     /  November 7, 2014

    Aduh sedih bgt chapter ni, hampir” nangis, gimana klo smpe yoona eonni tau kenyataan yg sbnr’y..

    Balas
  11. daebak sumpah ff ini sukses membuat aku nangis,,jangan lama2 post part terakhir nya ya udah ngak sabar pengen baca..

    Balas
  12. Choi Han Ki

     /  November 27, 2014

    Jadi yg nabrak mobil yoona 2 tahun silam itu siwon… Darimana eunhyuk bisa tahu tentang itu ya?? Kasihan liat yoona org yg harusnya di beri kasih sayang malah di masukin rumah sakit jiwa tempat yg bisa sewaktu2 mengingatkan tentang kejadian 2 tahun silam tanpa ada yg menenangkannya

    Balas
  13. Choi Han Ki

     /  Desember 4, 2014

    Bener2 menguras air mata, apalagi pas bagian yoona di bawa ambulance itu nyesek bgtt bacanya… Kapan nih chap end di lanjut 😀

    Balas
  14. mila

     /  Desember 18, 2014

    Waaahh…banjir air mata…chapter trakhir udah diposting kan?klo belom. Cepetan dong Ga sabar pengen tau endingnya

    Balas
  15. lanjut thor chapter 3
    fighting!!

    Balas
  16. ewiek

     /  Januari 23, 2015

    bagus banget ceritanyaaaa……….lanjutkan please………….di tunggu……………

    Balas
  17. Kasihan beud yoona eonni,, sabar ya,, eon…
    Mungkin nie dah ditakdirin ma tuhan…
    Lanjut,, thor!!!

    Balas
  18. Akhir.a ad hgc mment yoonwon.a ..
    Mkin sru ni…

    Balas
  19. Nhiina

     /  Januari 25, 2015

    Huaaa . . tisu mana tisuu ? ?
    uhhh . . sdiih bget nii chapter .

    omoo !! jadi mobil wonppa yg nabrak mobilnya yoong eonn . .
    aiiish , jinjja ! trus klau sampai yoong eonn tau ottokhaeyo ? ?

    Balas
  20. HanA

     /  Februari 7, 2015

    Jdi bgtu crtx, kasihan bgt yoona eonni

    Balas
  21. Dirin

     /  Maret 20, 2015

    Hiks hiks Keren bgt,ak sampek nangis bacanya;-(…
    Keren bgt,gk gampang loh bikin cerita yg bisa bikin nangis bombai kayak gini keren eon:-)…
    Next chapt. Ditunggu eon:-)

    Balas
  22. Nited Yuliana

     /  Maret 20, 2015

    Oh, jadi seperti itu toh cerita awal YoobA jafi depresi gitu *manggut-manggut*

    Sedih baca bagian YoonA yang berubah jadi brutal karna mimpi buruk dy waktu kecelakaan itu 😦 Dan ternyata yang nabrak itu Siwon 😥

    Lanjut ny jngan lama banget Thor 😀

    Balas
  23. Chapter 3 nya kapan uniie,, makin penasaran nih

    Balas
  24. hazeul

     /  Oktober 4, 2015

    ternyata gitu asal muasal penyebab yoona depresi??
    dibuat happy ending ya thor, jeball..
    kasian yoona eonnie menderita teruss

    Balas
  25. sedih kali bacanya…
    semoga happy ending, kasihan siwon oppa dengan rasa bersalah itu

    Balas
  26. lindadeaa

     /  Desember 11, 2015

    Wow…
    keren.
    feelnya dapat.

    Balas
  27. Kasian yoongi trz d hantui oleh masa llu yg kelam ..😢 app lgi d tmbah oppa y yg terpaksa msukin yoong k RS jiwa bkin miris… 😭
    . Omoo jd siwon oppa yg dha d blik kcelakaan yg menewaskan kn k 2 org tua jg tunangan yoona!! 😨

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: