[2S] BURN DAGGER (Chapter 1)

BURN DAGGER

by

choichoding007

Starring IM YOONA

Psychology, Crime, Life & Romance|| PG 17 || Two-Shoot [1/2]

Supported by

CHOI SIWON. KIM HEECHUL. KIM TAEYEON. [OC] IM ARA. [OC] HAN JAEWOOK

Inspired by

Taylor Swift’s “Comeback Be Here”, Pseudonymous’s “Naked Truth”, Sacchiko’s “The Unseen” & “I Miss You (2012)”

.

.

“Jika kau merasa takut.Kau hanya harus memejamkan mata.”

.

.

.

Selasa malam di musim gugur. Saat itu rintik-rintik hujan tengah mengguyur kota Seoul, menimbulkan suara gemercik di luar jendela. Yoona tengah meringkuk di balik selimutnya yang tidak cukup tebal tapi cukup untuk menghalau rasa dingin dari hembusan angin. Gadis itu belum tidur. Jari telunjuknya sedari tadi sibuk bermain, menekan lantai kayu—membuat gerakan melingkar.

Yoona menekan ujung telunjukknya lebih kuat ketika mendengar suara-suara itu dari kamar sebelah yang hanya di halangi oleh ruang teve. Percikan hujan yang merembes membuat kaca jendela itu buram, senada dengan perasaannya saat ini.

Biasanya Yoona akan menutup telinga, memejamkan mata—apapun itu untuk meniadakan suara-suara mengerikan yang ditangkap telinganya. Tapi malam ini dia tidak lagi dapat melakukannya. Matanya tidak terpejam, kedua tangannya tidak membekap telinga.

“Ah ya, Sayang. Seperti itu.. tidak, tidak. Jangan begitu… ah, ya seperti itu.. ssshh..”

Dia tidak lagi menembunyikan kepala di balik selimut saat mendengar suara desahan itu. Dalam kehidupan Im Yoona, mimpi buruk adalah yang terbaik. Karena saat dia terbangun dia akan bernafas lega, bahwa semua itu hanyalah mimpi.

Mimipi buruk yang sebenarnya bagi Yoona adalah fakta mengerikan yang tidak pernah di inginkan semua orang di dunia ini. Fakta bahwa wanita yang dipanggilnya ibusetiap malamnya membawa lelaki yang berbeda ke dalam kamar.

Ibunya pelacur. Ibunya wanita jalang. Ya, benar. Dan dia terlahir dari rahim pelucur dan wanita jalang itu. Seorang anak yang lahir ke dunia dengan sambutan tatapan benci dari sang ibu. Seorang anak yang lahir dengan tidak berdaya di sebuah rumah tua, bukan rumah sakit ataupun klinik bidan. Dia lahir tanpa ada yang menginginkan, tanpa tahu siapa ayahnya. Seperti sampah yang tak berguna.

Yoona menghentikan gerak telunjuknya. Matanya meredup. Dia sedikit menggeliatkan tubuhnya, bermaksud mencari kenyamanan sebelum akhirnya memejamkan mata.

Hujan masih mengguyur Seul sepanjang malam itu. Lampu-lampu sudah di padamkan ketika waktu telah merangkak tengah malam. Tidak ada yang tahu bagaimana ibu Yoona bisa dikatakan wanita hebat yang memuasakan pelanggannya. Dia dapat bercinta sampai pagi.

Dan tidak ada yang tahu sepanjang malam, setiap malam, selama sang ibu bergelut dengan para lelaki hidung belang, Yoona menangis dalam diam. Dia tidak terisak sampai tersedu-sedu. Tidak membekap mulutnya dengan telapak tangan. Dia diam, dengan kelopak mata yang terpejam, dengan air mata yang terus mengalir mulus dari sudut mata.

**

Pagi itu matahari sudah merangkak di ufuk timur. Daun-daun yang basah, ranting pepohonan yang basah, tanah yang basah, semua masih basah—sisa hujan semalam.

Selesai membersihkan diri, Yoona berjalan menuju lemari untuk mengambil seragamnya yang di gantung. Seragam ini mungkin tidak pantas di sebut sebagai seragam sekolah. Bagaimana tidak, satu kancing pada lengannya sudah copot, hilang entah dimana. Warnanya pun sudah pudar. Tapi tidak ada pilihan bagi Yoona untuk mengenakan baju lain jika dia tidak ingin di tertawakan seisi sekolah karena tampil lebih memalukan.

Setelah mengenakan seragam sekolahnya, Yoona berjalan kearah kaca besar yang di letakkan di atas meja rendah, di ujung kamar. Yoona duduk bersilah, mengamati dirinya sejenak sebelum menyisir rambutnya yang panjang dan sedikit basah.

“Yoona-ya..”

Gadis itu menoleh. Itu suara ibunya. Terdengar berat seperti habis mabuk semalaman.

“Ya, Bu..” sahutnya. Lalu ia menyelesaikan menyisir rambut. Setelah itu dia mengambil tas ranselnya dan berjalan keluar.

Yoona melewati ruang teve untuk menuju dapur. Dia mematikan kompor, lalu mengambil mangkuk dan meraup bubur pada panci ke dalam mangkuk itu. Setelah meletakkan mangkuk yang terisi bubur di atas nampan, Yoona menuangkan air panas dalam gelas—membuat teh ginseng.

Yoona mengangkat nampan dan berjalan menuju kamar ibunya. Lelaki hidung belang itu sudah pergi pagi-pagi sekali. Mungkin takut isterinya mencarinya. Mungkin juga takut terkena macet atau apalah, Yoona tidak ambil pusing tentang itu. Setidaknya dia bersyukur, ibunya selalu melarang keras para pria biadap itu untuk menyentuh kamarnya. Dia aman selama tidak keluar atau mengeluarkan suara.

Gadis itu meletakkan nampan di dekat tempat ibunya berbaring. Dia mengamati sang ibu yang kembali tertidur. Dia terlentang dengan selimut yang tidak karuan bentuknya. Make-up tebalnya sedikit luntur. Pakaiannya setengah sobek—laki-laki itu pasti pelakunya.

Pelan-pelan Yoona menarik selimut yang berada di bawah kaki ibunya, lalu mengangkatnya ke atas—menyelimuti tubuh ibunya. Dia duduk bersila di dekat sang ibu. Sekali lagi dia meneliti wajah ibunya yang tertidur pulas. Yoona tersenyum pahit.

“Tidurlah, Bu. Akhir-akhir ini ibu bekerja terlalu keras.” Yoona mengusap lengan ibunya, lalu melirik kearah nampan dengan semangkuk bubur dan segelas teh yang masih mengepul. “Aku buatkan bubur dan teh untukmu. Kuharap ibu bangun sejenak untuk menyantap mereka. Percayalah, mereka lebih enak disantap saat masih hangat.” Gadis itu masih berbicara meski dia tahu sang ibu tidak akan menyahut.

Geurae.. Aku harus berangkat sekarang.” Dia mengamati ibunya yang menggeliat dan bergumam tak jelas. Yoona menarik napas, lalu mengecup dahi sang ibu. “Aku berangkat, Bu,” pamitnya sebelum beranjak.

Dia menutup pintu dengan sangat pelan, tidak ingin membuat sang ibu terjaga. Dia keluar dari sebuah gang kecil di pinggir kota Seoul. Yoona sudah hidup selama tujuh belas tahun di perumahan yang bisa di katakan kumuh itu. Semua orang tahu siapa itu Im Ara—ibu Yoona.

Wanita penggoda? Wanita penghibur? Pelacur? Tidak. Orang-orang sudah menganggapnya wanita gila. Yang sudi membesarkan seorang anak. Tidak ada satupun pelacur di sana yang mau membesarkana anak. Jangankan membesarkan, melahirkanpun tidak akan sudi. Memiliki anak hanya akan menghambat karir mereka, mempunyai anak hanya akan menyusahkan. Akan ada banyak masalah dan tetebengek yang terlalu rumit. Dan mereka tidak suka sesuatu yang rumit.

Yoona berjalan dengan kepala menunduk, dengan sebuah mantel hitam yang menutupi tubuh dan wajahnya. Ada banyak lelaki hidung belang berkeliaran disana. Walaupun dia tahu tidak akan ada yang berani menyentuhnya. Im Ara berkali-kali sudah memperingatkan. Itulah mengapa dia masih bertahan hidup dengan ibunya meski dia memiliki banyak kesempatan untuk kabur, meninggalkan tempat gelap itu.

Dia menyayangi Ara. Dia mencintai ibunya. Seorang ibu tetaplah seorang ibu. Tidak peduli bagaimana pekerjaannya. Im Ara tetaplah ibu Yoona yang harus dia hormati dan cintai.

Yoona setengah berlari setelah melewati beberapa gang. Dia masuk ke dalam sebuah gang, lalu mengamati ke sekeliling terlebih dahulu sebelum melepas mantel hitamnya. Yoona memasukkan mantel hitamnya ke dalam tas. Sekali lagi dia mengawasi jalanan, masih sepi. Dia menarik napas lega.

Gadis itu menarik kakinya melangkah dengan pelan, menyusuri trotoar. Kepalanya menunduk dengan mulut bergumam. “Empat, lima, enam, tujuh…” kebiasannya ketika berjalan menuju sekolah adalah menghitung tiap langkah kakinya. Dia akan senang jika hitungan langkah kakinya sama dengan hari kemarin dan akan cemberut jika hasil hitungannya berbeda.

‘Kriiing… Kriing..!’

Tubuh Yoona terhenyak, lalu kepalanya menoleh ke samping. Seorang pria dengan seragam yang sama sepertinya tengah memberhentikan sepeda di sampingnya.

Annyeong..” sapa pria itu menunjukkan senyum lebar sembari melambai ringan. “Kau baru berangkat?” tanyanya kemudian.

Mata Yoona bergerak gelisah, bertanya-tanya apakah pria ini mengetahui tempat tinggalnya. Dia menggigit bibir bawah dan mulai di rundung kecemasan. Tidak ada yang tahu bahwa dia tinggal di tempat pelacuran. Bahwa dia anak dariseorang pelacur.

Pra itu mengerutkan dahi melihat Yoona yang nampak gelisah. Dia mengamati sekeliling, lalu kembali menatap Yoona. “Aku kurang cepat sepertinya. Sampai detik ini aku belum tahu dimana rumahu,” katanya tersenyum lagi.

Saat itu Yoona bisa bernapas lega hingga lututnya terasa lemas hampir lunglai. Untunglah dia masih sadar sepenuhnya jadi tidak sampai pingsan di tempat.

“Hei, mau berangkat bersama?” Pria itu menawarkan boncengan sepedanya.

Tapi Yoona tidak merespon. Gadis itu meneruskan langkahnya yang sempat tertunda.

“Hei, tunggu aku!”

Yoona setengah berlari.

“Hei, hei. Aku baru belajar naik sepeda.”

Yoona mulai berlari. Terus menambah kecepatan larinya ketika dirasa pria itu sudah mengayuhkan sepeda.

Namanya Choi Siwon, pria yang membuat hari-hari Yoona menjadi lebih sulit semenjak kepindahannya ke kelas Yoona beberapa minggu yang lalu. Dia murid pindahan, dari Jepang. Tapi dia orang Korea, hanya saja dia sekolah di jepang karena pekerjaan orang tuanya yang harus berpindah-pindah tempat—begitulah yang Yoona dengar dari beberapa siswa yang membicarakan pria itu.

Bukan kali pertama saja Siwon menghampirinya ketika dia sedang berjalan di sepanjang trotoar menuju sekolah. Awalnya pria itu menawarkan jok mobilnya untuk memberi tumpangan. Tapi Yoona menolak. Di hari selanjutnya pria itu membawa motor sport sampai di akhir minggu ini dia membwa sepeda untuk mengajak Yoona berangkat bersama.

Dan apa tadi dia bilang? Baru belajar naik sepeda? Dan dia sudah menawarkan boncengan sepedanya kepada orang lain? Yang benar saja! Yoona menggerutu dalam hati.

**

 

Dia gadis yang aneh.

Dia gadis yang misterius.

Dia tidak pernah berbaur dengan orang lain, selalu menarik diri dari semua orang.

Beberapa pemikiran yang mewakili anggapan seisi sekolah tentang Yoona. Gadis itu memang pendiam, jarang bicara, tidak pernah tersenyum dan selalu menyendiri. Ya, sendiri adalah teman yang tidak akan pernah berkhianat, begitu kesimpulan Yoona.

Tapi ada yang berbeda bagi Choi Siwon tentang gadis itu. Kenapa dia begitu pendiam? Kenapa dia tidak mencoba untuk berbaur dengan teman-temannya? Ada yang salah?

Siwon tipe orang dengan tingkat penasaran tinggi. Dia tidak menyukai gadis pendiam. Dia yakin Yoona pasti pernah tersenyum dan dia penasaran seperti apa senyum gadis itu.

“Hai..” Siwon menyapa riang. Dia merentangkan kedua lengannya di depan Yoona, mencegah gadis itu berjalan.

Yoona menatap Siwon tidak suka.

“Kau mau ke perpustakaan, ‘kan?” tanyanya sambil mengedikkan dagu kearah buku-buku tebal yang di peluk Yoona.

Tidak ada sahutan sama sekali dari Yoona. Dia masih mencoba bersabar menghadapi Siwon. Yoona kembali melangkah melewati Siwon. Pria itu mengejar Yoona.

“Hei, kenapa kau diam saja?” Dia memiringkan kepala dan berjalan mundur di depan Yoona, hanya agar melihat wajah gadis itu.

Lalu ia berhenti dan mengulurkan tangannya. “Kita temankan, ‘kan?”

Yoona menghentikan langkahnya. Dia mendongak untuk menatap wajah Siwon yang nampak cerah, seperti bunga matahari.

Saat itu musim gugur. Beberapa pepohonan telah berlapang dada menggugurkan dedaunan. Rumput-rumput di bawah sana mengayun terbawa angin. Gadis itu termangu, menatap kembali uluran tangan Siwon. “Apa maksudmu?” katanya menatap Siwon.

Beberapa murid berlarian di lorong itu, sedikit menubruk bahu Yoona tapi gadis itu masih bisa menjaga keseimbangannya.

“Kita teman, ‘kan?” Pria itu mengulang, lalu mengerutkan hidung dan menatap langit-langit, menampakkan wajah berfikir. “Kau tidak mengerti kata teman?” tanyanya.

Gadis itu hanya diam. Lalu Siwon menggeram gemas dan menarik telapak tangan Yoona untuk berjabat tangan. “Nah, kalau sudah seperti ini berarti kita adalah teman.” Dia berkata ringan dengan senyum lebar.

Yoona melihat dua lesung pipit yang menghias di kedua pipi Siwon. Dan Yoona dapat menarik kesimpulan seandainya pria ini hilang dia hanya harus mencari seorang pria dengan  dua lesung pipit sebagai ciri-cirinya.

**

 

Suara buku yang di hempaskan di atas meja membuat kepala Yoona mendongak. Siwon sudah mencondongkan tubuhnya dengan kedua tangan bertumpu pada sisi meja.

“Guru Shin bilang aku harus belajar padamu.” Dia mengulum senyum jenaka, lalu menjatuhkan bokongnya pada kursi. “Jadi, kita mulai dari mana?” tanyanya penuh minat.

Yoona membenahi kacamata bacanya yang sedikit melorot. Hal yang sama, yang selalu dia lakukan ketika menghadapi Siwon, bersikap tak acuh.Gadis itu kembali menunduk, melanjutkan aktivitas bacanya yang tertunda.

Siwon mengerutkan bibirnya.Tapi tampak tidak kecewa.Dia mulai membuka buku yang dibawanya.“Apa aku harus membaca dari sini?”Siwon membolak balik halaman buku.“Hei, tapi ini membingungkan.Jadi, bagaimana aku harus memulainya?”Lelaki itu bergumam sendiri.

“Ssssstt!”

Siwon menolehkan kepalanya dan menemukan orang-orang tengah menatapnya tajam.Ya, dia tak seharusnya bersuara keras di perpustakaan.Lalu dia memaksakan senyum meminta maaf.

Ketika kembali menatap Yoona, gadis itu sudah bangkit dari duduknya.Serta merta hal itu membuat Siwon terbengong.Dia berdecak sebelum ikut berdiri, mengejar Yoona yang berjalan menyusuri rak-rak buku.“Apa kau tidak mendengarku?”

Yoona menghiraukan ucapan Siwon.Dia sibuk mengamati satu per satu judul buku.Siwon menghembuskan napas.Belum sempat membuka mulutnya, Yoona sudah menyodorkan satu buku padanya—setengah menghempaskannya pada Siwon.Dengan sergap Siwon menerima buku itu, wajahnya menunjukkan keterkejutan.Dia melihat buku yang disodorkan Yoona, lalu bergantian menatap gadis yang masih berjalan membelakanginya.

“Ini—“ ucapan Siwon terpotong oleh beberapa buku yang diberikan Yoona lagi padanya. Siwon menerimanya dengan sedikit kewalahan karena beratnya buku yang tiba-tiba membebaninya tanpa dia ada perasiapan.

Selesai memilih beberapa buku, Yoona kembali berjalan menuju tempatnya duduk tadi.Dia kembali menenggelamkan diri untuk membaca.

Siwon tergopoh-gopoh dengan tumpukan buku yang setengah mengahalangi wajahnya.Dia meletakkan buku yang dipilihkan Yoona ke atas meja dengan menarik napas berlebihan sebelum duduk di seberang meja.“Kau tahu ini tidak ringan.”Dia menggeser kursinya maju, lalu mengerutkan dahi menatap Yoona.Gadis ini sama sekali tidak bisa tersenyum, pikir Siwon.

Beberapa menit mereka lewati dengan keheningan dan kesibukan mereka sendiri membaca buku.Sampai di menit ke tujuh, Siwon menutup bukunya—cukup keras. Lalu ia menatap gadis yang ada di depannya dengan menopangkan dagu.

Awalnya Yoona tidak peduli dengan keberadaan Siwon yang terus memandangnya.Tapi lama kelamaan dia jadi semakin terganggu.Yoona menutup bukunya dan balas menatap Siwon.“Ada apa?”

Pria itu menggeleng.“Ani.Hanya ingin melihatmu membaca buku.”

“Ini perpustakaan.Kau tidak bisa hanya melihat seseorang yang tengah membaca. Harusnya—“

“Sssst…” Siwon memberi isyarat pada Yoona dengan jari telunjuknya ia tempatkan di depan bibir. “Kita teman, ‘kan?”

Yoona dibuat tercengan untuk ke dua kalinya.Lagi-lagi pria ini mengucapkan kata teman.Gadis itu tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.Matanya mengerjap.Dia kehilangan kata-kata.Padahal dia hanya harus bilang jika dia tidak punya teman dan tidak membutuhkannya.Namun kenyataannya memang bukan seperti itu.Dia butuh seorang teman.

Senyum rekanya belum memudar.Siwon lalu menjulurkan tangannya.“Bagaimana?Kau hanya harus menjawab ‘iya’.”

Yoona masih terdiam cukup lama.Matanya mengamati telapak tangan dan jari-jari panjang yang terulur di hadapannya, milik Siwon.

Gadis itu cegukan.Sekali.

Siwon sedikit terkejut tapi sejurus kemudian pria itu tertawa terbahak-bahak.Yoona mengamati Siwon yang tengah tertawa lapas.Pria itu bahkan tidak memedulikan peringatan dari para pengujung perpustakaan.

Ada sesuatu yang hangat menyeruak ke dalam tubuh Yoona. Sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan. Melihat bagaimana pria ini tertawa tanpa beban, diam-diam Yoona menarik sudut-sudut bibirnya.

**

 

Gadis itu selalu menarik dirinya dari semua orang.Dia tidak pernah nampak ingin mengenal orang-orang di sekitarnya.Dia seolah enggan berbaur dengan mereka semua.Tidak heran jika dia selalu terlihat berjalan sendirian.Sama seperti saat ini ketika dia duduk sendirian di kantin sekolah.Yoona sudah terbiasa.Dia menikmati kesendiriannya.

Yoona baru akan menyuapkan sesendok nasi ke dalam mulutnya ketika tiba-tiba saja seseorang menjatuhkan bokongnnya di sampingnnya. Yoona menoleh dan menemukan pria dengan wajah cantik sudah memasang senyum menawan.Lalu seseorang lagi duduk di hadapannya, seorang gadis berwajah imut.

“Hai, kami boleh bergabung, ‘kan?” Tanya gadis imut itu memasang senyum manis.

Yoona masih belum mengerti jadi dia hanya diam. Seseorang yang berada di sampingnya lalu merangkul pundaknya.“Jangan menjadi orang yang pelit. Kau tahu kan semua meja disini sudah penuh dan hanya meja ini yang masih kosong,” cerocosnya menaik turunkan kedua alis.

Yoona terlihat tidak nyaman dengan sikap pria ini.Seolah dia sudah mengenal lama Yoona padahal mereka baru pertama bertemu. Mengetahui sikap Yoona yang merasa tidak nyaman, gadis yang duduk di depan Yoona memukul kepala pria cantik itu. Yoona serta merta tersentak.

“Heechul-ya!Berhenti membuatnya tidak nyaman dengan ulahmu.”

Heechul mengusap-usap kepalanya, lalu menatap gadis itu dengan tatapan galak yang lucu.“Ya! Kim Taeyeon. Kau..kau…”

“Mwo?”

Heechul menggeram tidak melanjutkan kalimatnya.Yoona tersenyum singkat melihat kelakuan dua sahabat ini.Mereka nampakannya sangat akrab dan sudah terbiasa untuk bertengkar.

Belum sempat Taeyeon berbicara lagi, Siwon datang dari arah belakang dan tiba-tiba duduk di antara Yoona dan Heechul, membuat kedua orang itu menggeser duduknya, sedikit kaget.

“Apa aku melewatkan sesuatu?”

“Ya, kau janji akan mentraktir kami.”

“Aisshh!Apa hanya ada makanan dalam pikiranmu!”

Yoona hanya diam saja.Dia merasa tidak harus ikut dalam perbincangan itu.Matanya lalu menyapu ke seluruh penjuru kantin.Benar, semua meja memang sudah penuh. Lalu matanya kembali mengarah pada kotak makanan miliknya, masih penuh dan ia masih lapar tapi jika terus disini dia merasa hanya akan menjadi pendengar setia.

“Yoona.”Tiba-tiba suara Siwon menyadarkannya.Dia menoleh dan mendapati pria itu tersenyum, senyum tanpa beban.Yoona iri, merasa tidak memiliki senyum seperti itu.

“Mereka adalah sahabatku.Mungkin kau merasa asing karna baru pertama bertemu tapi mereka sudah lama sekolah disini.Kurasa kau harus sering-sering berbaur dengan semua siswa disini.”

Tatapan Yoona nampak meredup. Berbaur dengan orang-orang hanya akan membahayakan dirinya. Hanya akan menyengsarakan hidupnya.

“Dia Kim Taeyeon,” kata Siwon memperkenalkan gadis berpawakan mungil yang duduk di depannya. “Anak Sains yang sangat pandai bernyanyi.Lain kali kita harus pergi bersama ke tempat karoke untuk mendengar suaranya.”

Annyeong Yoona-ssi,” sapa gadis itu ramah disertai senyum manisnya.

“Dan ini Kim Heechul.”Siwon menepuk pundak Heechul. “Dia… “ Siwon sedikit menengada, memikirkan sesuatu. “Aku tidak ingat kau punya keahlian apa, Hyung.”

Taeyeon terkikik sementara Heechul berdecak.“Aku lebih cantik dari Ahjumma ini,” katanya mengedikkan dagu kearah Taeyeon.

“Apa?Hei, apa kau hanya memiliki kemampuan menyombongkan kecantikanmu?”Gadis dengan tubuh mungil itu berkacak pinggang.“Aku lebih imut darimu.Lebih dari kata ‘seseorang yang menyerupai gadis karna wajahnya yang cantik.’”

“Ya, setidaknya aku lebih tinggi darimu.”

Mwo?Kau membahas tinggi badan lagi!”Taeyeon bersunggut-sunggut, mengembungkan pipinya. Lalu ia berganti memandang Siwon. “Siwon…” panggilnya dengan nada memelas meminta bantuan untuk di bela.

Siwon mengedikkan bahu.“Apa?Aku tidak ikut campur.”Dia mengangkat kedua tangan, “itu memang kenyataan,” imbuhnya enteng.

Ya! Kenapa kalian suka sekali mem-bully ku! Benar-benar kaum pria menyebalkan!” cecar Taeyeon dengan wajah lucunya.

Heechul dan Siwon kompak menertawakan gadis mungil itu.Yoona ikut tersenyum melihat pemandangan itu.Mereka nampak seperti keluarga. Tidak ada beban sama sekali untuk tertawa. Apakah seperti ini yang dikatakan teman?batin Yoona bertanya-tanya

 

“Aku pulang..” Yoona menutup pintu dan mengganti sepatunya dengan sandal rumah. Dia sedikit terkejut melihat sepasang sepatu boot yang tergeletak asal.

“Pergi kau, brengsek!”

Gadis itu melangkah ke dalam ketika mendengar kegaduhan dari kamar ibunya.

“Itu uangku. Kau tidak berhak mengambilnya, bangsat!” Ara menarik lengan jaket seorang pria yang mengacak-acak lemarinya ketika pria itu menemukan amplop buram. Pria itu mengibaskan lengannya kasar, membuat Ara jatuh terduduk. Wanita itu menjerit-jerit, mengumpat pria tadi dengan raungannya. Yoona mengintip dari balik pintu yang tebuka. Keadaan rumah benar-benar berantakan, terutama kamar ibunya.

Yoona buru-buru menegakkan tubuh ketika pria berhidung merah itu berjalan keluar.

Ya! Bajingan kau Han Jaewook!” Ara sepertinya masih tidak terima. Dia kembali menarik lengan jaket lusuh Jaewook, kali ini agak keras hingga membuat Jaewook berbalik. Tapi kekuatan pria itu jauh lebih besar darinya. Dengan mudah Jaewook menghempaskan tubuh Ara dan menendangnya. Yoona terbelalak.

“Wanita jalang tidak tahu diri.” Jaewook berdesis kejam menatap Ara yang memegangi perutnya, meringis kesakitan. Dia mendongak, lalu matanya bertemu dengan mata Yoona yang ketakutan. Dia baru menyadari kehadiran Yoona.

Pria itu tersenyum miring, mengamati keseluruhan tubuh Yoona yang masih terbalut seragam. Dia menyedot udara masuk ke dalam hidung merahnya, seperti seseorang yang terkena flu—lebih tepatnya seseorang yang habis menghisap kokain.

Tubuh Yoona bergetar dengan kedua tangan yang mencengkram ujung roknya. Pupil matanya bergerak gelisah. Pria ini menakutkan, dan dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Dia takut. Sangat takut.

“Ah, gadis cantik,” gumam Jaewook sembari berjalan menghampiri Yoona. Tubuh gadis itu semakin menegang. Kakinya mundur dengan refleks, menatap pada dinding.

“Kau—“

“Jangan sentuh dia!”

Sebelum Jaewook berjalan lebih dekat, Ara mencengkram pergelangan kakinya. Jaewook menggeram, menggerakkan kaki kanannya. Tapi Ara masih mencengkramnya kuat-kuat, seperti menjadikan pegangan. Jaewook menendang wajah Ara.

“Ibu!” Yoona berteriak kaget. Tapi dia tidak cukup berani menghampiri ibunya karena Jaewook kembali berjalan kearahnya.

Ara tidak menyerah. Belum sempat Jaewook melangkah lagi, dia kembali mencengkram kaki pria itu. “Kubilang jangan sentuh dia! JANGAN SENTUH ANAKKU! APA KAU TULI!”

Jaewookmenatap Ara yang menyorotkan mata penuh kebencian terhadapnya. Lalu dia beralih menatap Yoona. Jaewook memberikan senyummengerikan. “Kita akan bertemu lagi lain waktu, Sayang,” katanya sambil menjilat bibir. Yoona ingin muntah mendengarnya. Dia tidak akan sudi bertatap muka lagi dengan pria itu.

Begitu Jaewook pergi, Yoona beringsut membantu ibunya. Dia memegangi bahu Ara, membantu Ara duduk. Tapi wanita itu menepis tangan Yoona.

Yoona menatap wajah ibunya sedih. Ada bekas luka tamparan di pipinya. Ujung bibirnya mengeluarkan darah dan pelipisnya sedikit menganga. Apa yang dilakukan pria itu pada ibuku? Apa dia ingin membunuhnya?

Ara terengah-engah dengan napas berat. Punggung tangannya menghapus darah pada ujung bibirnya. Dia masih menatap kearah pintu, tempat dimana punggung Jaewook menghilang.

“Siapa tadi, Bu?” Yoona bertanya ragu-ragu.

Ara tidak langsung menjawab. Ada jeda cukup lama sebelum Ara menolehkan kepala dan menatap Yoona dengan mata merah menyalah.

“Ayahmu. Bajingan itu adalah ayahmu!” katanya setengah berteriak lalu kembali menatap ke depan.

Untuk sepersekian detik, sepersekian menit Yoona termangu. Dia seperti tertohok di bagiana lehernya tercekik hingga sulit mengeluarkan kata-kata. Orang itu ayahnya? Pria setengah mabuk itu ayahnya?

“Ayah..” gumamnya pelan, sangat pelan seperti tanpa sadar. “Ayah.. Ayah..?”

**

 

Hal terburuk apa yang di dapatkan Yoona? Hal dimana semua orang tahu bahwa dia anak seorang pelacur? Tidak, itu masih dalam kategori kecil, tapi sudah sangat berpengaruh.

“Jadi, kau anak pelacur?”

“Kau anak yang tidak diinginkan, ya?”

“Wah, wah. Aku tidak menyangka gadis sepolos kau ternyata hanyalah anak terlarang.”

“Kau sampah. Masih berani sekolah disini. Ck! Benar-benar menakjupkan.”

Surai rambut Yoona jatuh menghalangi wajahnya. Dia menunduk, menggigit bibir bawahnya. Kalaupun pada akhirnya semua orang tahu tentang latar belakangnya dia sudah bisa menduga apa yang akan terjadi padanya. Di jauhi semua orang bukanlah sesuatu yang baru bagi Yoona. Sedari dulu dia sudah melatih diri untuk tidak membutuhkan orang lain, untuk hidup sendiri tanpa teman.

Tapi Siwon…?

Bagaimana jika pria itu tahu? Dia pasti akan memandangnya jijik, akan menganggapnya gadis rendahan. Dan tidak mau lagi berteman dengannya.

“Hei, gadis jalang!”

Yoona meremas telapak tangannya yang di banjiri keringat dingin. Dia tidak sanggup untuk mendongak.

“Seperti apa ibumu mengajarimu menggoda lelaki hidung belang? Apa kau di ajari mengeringkan mata? Ah, tidak. Atau kau di ajari mengangkat bokong?”

Ibuku bukan wanita seperti itu! Jangan hina ibuku!

Yoona tidak sempat mendongak untuk meneriakkan hal itu. Lemparan kertas, telur busuk dan beberapa tomat telah lebih dulu menghujani tubuhnya. Dia menjerit ketika lemparan itu mengenai wajahnya, perutnya, dadanya—sekujur tubuhnya.

“Kau pantas mendapatkan ini.”

“Bilang pada ibumu untuk tidak menyekolahkanmu disini.”

“Beritahu ibumu bahwa kau anak yang menyedihkan.”

**

 

Siwon berlari di sepanjang lorong-lorong sekolah dengan perasaan cemas bercampur panik. Dia berhenti melangkah ketika dirasa napasnya terengah. Dadanya naik turun, tidak teratur. Peluh yang membanjiri sekitar dahi dan wajahnya tidak ia pedulikan. Yang saat ini ia pedulikan hanyalah satu…

“Yoona-ya..” panggilnya mencari gadis itu. Dia telah mendengar keributan saat jam makan siang tadi. Jam sekolah sudah usai sekitar satu jam yang lalu. Sekarang dia dirundung kegelisahan perihal menghilangnya gadis itu setelah jam makan siang.

Siwon membuka pintu sebuah kelas yang tidak terpakai ketika tadi ia mendengar sebuah isakan dari dalamnya. Dia menyapukan pandangan ke seluruh ruang. Kelas itu berdebu, tidak terurus dengan bangku dan meja yang berserakan. Tapi pandangannya berhenti pada sepasang sepatu usang di dekat kaki meja.

Siwon berjalan pelan menuju meja itu. Dia berhenti tepat di depan Yoona yang tengah meringkuk, memeluk kedua lututnya dengan kepala bersembunyi di antara tekukan lutut. Pria itu menekuk lututnya di depan Yoona. Gadis ini masih belum menyadari kehadirannya.

“Yoona-ya..” Siwon memanggil lembut sembari menyentuh punggung tangan Yoona.

Gadis itu terlonjak dengan menepis sentuhan Siwon. Tubuhnya bergetar dan ia memandang Siwon ketakutan.

Jantung Siwon terasa di remas kuat-kuat. Seperti berbagai jarum menembus ulu hatinya. Dia melihat pelipis Yoona yang berdarah karena lemparan telur. Rambut hitam panjangnya acak-acakan, seperti habis di jambaki oleh tangan-tangan tak berkemanusiaan. Kulit-kult telur dan sisa-sisa tomat menempeli seluruh wajahnya, membuatnya tak karuan.

Dan Siwon menangkap genangan air di pelupuk mata Yoona. Dunia begitu kejam, bahkan kepada gadis polos seperti Yoona.

“Kita teman, ‘kan?” Siwon berujar pelan setelah jeda agak lama. Dia memaksakan senyum, meski yang ada hanyalah senyum getir.

Gadis itu mulai tenang. Tubuhnya tidak lagi bergetar seperti tadi setelah mendengar kalimat yang di lontarkan Siwon. Ketakutannya juga berangsur memudar.

“Kita teman, ‘kan?” Siwon mengulangi dengan senyum lebih tenang, lebih lebar—sambil mengulurkan tangan. Kali ini bukan untuk berjabat tangan.

Sementara gadis itu hanya menatapnya dari balik air mata yang mengembun di kedua matanya. Bibirnya yang pucat tidak mampu bergerak. Ada pancaran keheranan, kelegaan, ketidakmampuan pada mata indahnya yang basah. Dia menatap telapak tangan Siwon yang terulur.

“Jika kau merasa takut, kau hanya harus memejamkan mata,” kata Siwon menambahkan, memberi keyakinan agar Yoona menyambut uluran tangannya.

Perlahan Yoonamulai memejamkan kedua matanya.Dia menarik napas pelan.Hembusan napasnya masih terdengar berat.Setelah merasa tubuhnya benar-benar tenang, Yoona membuka matanya perlahan dan langsung bertemu dengan kedua mata Siwon yang meneduhkan.Pria itu masih memasang senyum dan mengulurkan tangannya.

Akhirnya Yoona membalas uluran tangan itu dengan meletakkan tangan kurusnya di atas tangan Siwon yang terasa lembut.

Siwon melebarkan senyumnya. Dia menggenggam tangan Yoona lalu membalikkan badan, membelakangi Yoona. “Naiklah ke punggungku. Aku akan membawamu ke tepat yang lebih aman dan nyaman.”

Tawaran yang menggiyurkan.

Yoona tidak lagi bisa menolak ketika Siwon menuntun lengannya untuk melingar di sekitar leher pria itu. Siwon mengangkat tubuhnya.Dia berdehem pelan sebelum berkata, “kau siap?”

Gadis itu hanya mengangguk lemah. Perlahan Siwon mulai melangkah, menguatkan kedua lengannya untuk menyangga tubuh Yoona yang lemah.

Sebuah perasaan nyaman dan tentram menjalari tubuh Yoona ketika dia berada di atas punggung Siwon. Yoona menyukai punggung Siwon yang hangat. Dia bisa memejamkan mata sejenak untuk mengistirahatkan lelahnya tubuh dan batinnya. Dia lelah, sangat lelah.

**

 

Saat itu hari selasa dengan awan mendung yang menyelubungi kota Seoul. Yoona berjalan dengan kepala menunduk, menyusuri koridor sekolah.Orang-orang memandangnya dengan pandangan jijik, seperti melihat sampah tak berguna.

Dia mendongak dan mengamati orang-orang di sekelilingnya.Matanya bertemu dengan tatapan Taeyeon yang meminta maaf tanpa mengucapkan kata.Gadis mungil itu berdiri di antara teman-temannya, merasa tidak dapat berbuat banyak untuk Yoona.

Yoona tersenyum maklum, member isyarat pada Taeyeon agar jangan khawatir.Lalu tiba-tiba dia merasakan tangan hangat menggenggam telapak tangannya.Yoona mengangkat kepala dan menemukan Siwon yang tersenyum lembut kearahnya.

Annyeong..

Tidak peduli bagaimanapun dan seperti apapun itu, Siwon tidak menjauhinya seperti semua orang meski dia tahu latar belakang Yoona.

Gadis itu memaksakan senyum membalas sapaan Siwon.

Kajja, sebentar lagi jam pelajaran akan dimuali.”

Yoona mengangguk.Dan Siwon dengan bangganya berjalan diantara tatapan keheranan teman-temannya.Dia menggenggam tangan Yoona lebih erat, menjadikannya sebuah pegangan.

**

 

“Apa ini?”

“Hmm?”

“Ini, apa ini?”

“Kaktus.”

“Kaktus?”

Kepala Yoona mengangguk.Siwon mengangkat pot berukuran kecil dan mengamatinya, seperti seorang profesor yang tengah mengamati hasil percobaannya.

“Dari mana kau mendapatkan benda unik ini?”Tanya Siwon tanpa melepas pandang dari pot berisi kaktus itu.

Yoona terkikik.“Kaktus bukan benda, Siwon.Dia tanaman.”

Siwon melirik sejenak kearah Yoona, lalu balas terkekeh.Dia senang melihat Yoona dapat tersenyum, tertawa—apapun itu asal bukan wajah sedih apalagi menangis.

“Kau membelikannya untukku?”

Yoona menggeleng.“Paman pemilik tokoh di ujung jalan yang memberikannya untukku.”

“Jadi ini bukan milikmu?”Siwon mengecutkan bibirnya, menampilkan wajah cemberut.

“Kubilang paman itu memberikannya untukku jadi kaktus itu sudah menjadi milikku saat kuberikan padamu.”

Siwon kembali terkekeh dan mengangguk-angguk, “Arra, arra.”

Gadis itu menatap kaktus dalam pot yang di genggam Siwon.“Tolong jaga dia,” katanya.“Aku tidak yakin dapat menjaganya sampai dia tumbuh besar dan berbunga.”

“Jadi kau beranggapan aku bisa menjaganya?”

Mata Yoona beralih menatap wajah Siwon, lalu ia mengangguk mantap tapi bergumam pelan sebelum berkata, “kurasa iya.”

“Terimakasih.”

“E-em.”Gadis itu memberikan senyum lembutnya.

Mereka bertatapan cukup lama.Lalu suara Siwon memecahkan keheningan diantara mereka.“Yoona, besok aku akan pindah.”

Senyum rekah Yoona memudar.Sorot matanya berubah murung.“Besok?”

Siwon mengangguk.“Orangtuaku memiliki pekerjaan yang mengharuskan kami pindah.”

Seharusnya Yoona sudah tahu itu.Seharusnya dia tidak berharap lebih terhadap Siwon.Dia harusnya tidak memiliki harapan itu.

Tapi tangan Siwon menggenggamnya lembut, menghantarkan kehangatan.“Aku akan kembali.Jangan cemas.”

Itu adalah sebuah janji.Dapatkah Yoona mempercayainya?Entahlah.

“Kau hanya harus menunggu empat tahun. Setelah itu aku berjanji akan menemuimu. Orang pertama yang akan kutemui ketika aku menginjak Seoul adalah kau, Yoona.”

**

 

Yoona menyelipkan helai rambutnya ke belakang telinga dengan pipi bersemu merah.Dia mendongak untuk menatap Siwon.“Jadi, akan kemana kita?”

Saat itu adalah malam yang indah dengan lampu-lampu jalanan dan lampu taman yang menerangi sekitar taman. Mereka berdiri berhadapan di atas jembatan sebuah sungai kecil, dengan Siwon yang terkagum-kagun melihat sosok gadis di depannya.

“Kau..”Siwon mengerjapkan mata.“Kau cantik, Yoona.”Pujian itu serta merta menciptakan semburat merah di kedua pipi Yoona.Dia tersipu-sipu malu, mengamati dress merah selututnya dengan motif bunga-bunga yang cantik.

Melihat bagaimana gadis itu tersipu menimbulkan perasaan senang dalam diri Siwon.Tidak ingin membuang-buang waktu lagi, Siwon segera meraih tangan Yoona.

Kajja!”

Mungkin itu bisa di katakana kencan. Mungkin juga sebagai salam perpisahan sebelum Siwon meninggalkan Seoul besok. Terserah apapun itu tapi Yoona menyukai saat dia bersama Siwon, tiap kali bersama pria itu.Dan Siwon merasa dia tidak ingin matahari terbit esok. Dia benar-benar akan betah berlama-lama bersama Yoona.

Mereka melihat sebuah festival musim gugur.Ada begitu banyak parade yang di tampilkan.Yoona nampak senang dengan wajah yang berseri-seri.Ketika ada badut yang mendekati mereka, Yoona menjerit antara terkejut dan takut.Dia bersembunyi di belakang punggung Siwon.Pria itu hanya terkekeh.

“Jika kau takut, kau hanya harus memejamkan mata,” katanya lalu mengulurkan tangan.“Dan berpegangan tanganlah padaku.”

Bibir Yoona tertarik untuk tersenyum.Dia menarik napas, memejamkan mata dan menerima uluran tangan Siwon.

Ya, tidak ada yang perlu di takutkan.Setiap menggenggam tangan Siwon yang hangat.Itu memang menenangkan.

**

 

Mereka berjalan beriringan.Malam semakin larut dan acara selanjutnya adalah pulang kerumah meski dengan berat hati.

Siwon berdehem dan menarik tangan Yoona untuk berada dalam genggamannya.Yoona tidak keberatan.Mereka kini berjalan dengan bergandengan tangan.Tetap dengan kebisuan.

Sampai di depan gang perumahan Yoona, Siwon mulai melepaskan genggamannya dengan tidak rela. “Tidurlah.Kau butuh istirahat untuk hari ini,” kata Siwon mengusap kepala Yoona.

Gadis itu tertegun untuk beberapa detik.Dia berdehem dan sudah bisa menguasai diri.“E-em.Kau juga.Segeralah tidur ketika sudah sampai rumah.”

Geurae..Aku pulang,” pamitnya.Dia berjalan mundur dan melambai ringan kearah Yoona yang memberikan senyum manisnya.

Ketika Yoona berbalik untuk berjalan, Siwon memanggil namanya. Dia kembali membelikkan badan dengan kening mengerut samar. “Ada apa?”

“Kau hanya harus menungguku empat tahun.Kau tahu, empat tahun itu singkat, mm?percayalah padaku.”

Ada setetes air mata yang meluncur dari sudut mata Yoona. Gadis itu cepat-cepat mengusap pipinya dan balas berteriak.“Aku akan menunggumu.” Dia melambai dengan semangat, menunjukkan bahwa dia benar-benar akan menunggu pria itu.

Siwon melemparkan senyum rekahnya.Dia setengah berlari ketika membalik badan dan melambai pada Yoona.

Gadis itu masih melambai bahkan setelah punggung Siwon sudah menghilang dari pandangannya.Dia menarik napas dengan lambaian tangan yang melemah.“Kau harus menepati janjimu, Siwon.Karena aku benar-benar akan menunggumu.”

**

 

Yoona mengamati rumahnya yang padam. Lampu-lampu belum dinyalakan. Apa ibunya akan pulang pagi? Atau ibunya tidak akan pulang? Yoona bertanya-tanya sembari melangkah menuju rumahnya. Dia berhenti di depan pintu saat melihat sepatu boot itu lagi. Dia terhenyak, terdiam cukup lama. Lalu, “ayah..” bisiknya diantara angin malam yang berhembus.

“Kau kesini hanya untuk mencuri uangku.”

Yoona mendengar suara ibunya memekik lagi. Pria itu pasti datang untuk meminta uang lagi pada ibunya.

“Pergi dari rumahku, brengsek!”

“DIAM!”

Yoona tersentak di luar sana. Dia mengigit bibir dan meremas ujung dress-nya. Kakinya ingin melangkah pergi, menjauh dari tempat ini. Mungkin ini waktu yang tepat untuknya pergi. Ya, mungkin.

Tapi dia tidak benar-benar dapat pergi. Dia tidak berdaya ketika mendengar suara ibunya yang merintih kesakitan. Ayahnya pemabuk berat, tidak akan segan membunuh ibunya hanya dengan mencekik leher Ara.

Mata Yoona menelisik ke sekitar, mencari apa saja untuk dijadikan senjata. Dia mengambil sebatang kayu dan segera masuk ke dalam rumah.

Gadis itu menatap punggung Jaewook yang membelakanginya. Di balik tubuh besar itu ada ibunya yang tengah terengah kesakitan. Jaewook benar-benar akan membunuh Ara dengan mencekik leher wanita itu.

Dengan keberanian yang ia kumpulkan, Yoona memukul kepala Jaewook sekeras-kerasnya. Dia memejamkan mata, berharap tidak melihat darah keluar dari kepala ayahnya.

Jaewok mengerang. Dia melepaskan cekikan pada leher Ara dan memegangi kepalanya yang berdenyut. Ara terbatuk-batuk ketika tubuhnya terhempas di lantai.

Jaewook yang marah memutar kepala dan menemukan Yoona yang masih memegang sebatang kayu dengan tubuhnya yang bergetar.

“A-aku akan memukulmu l-lagi jika kau mendekat,” kata Yoona memperingati dengan nada bergetar.

Tapi peringatan Yoona tidak cukup membuat Jaewook takut, pria itu sudah seperti banteng yang siap memusnakan musuhnya. Dia berhenti berjalan saat Ara mencengkram kakinya. Jaewook sudah tidak ingin berbelit-belit, dia tersulut emosi. Dengan sekali hentakan dia menghempaskan tubuh Ara dan membuat kepala Ara menghantam meja. Wanita itu jatuh tak sadarkan diri.

“Ibu!” Yoona memeki kaget. Dia menatap wajah Jaewook yang memerah, campuran antara marah dan pengaruh alkohol. Lututnya Yoona sepeti agar-agar yang siap terjatuh lemah. Dia mundur dengan was-was dan mengawasi pergerakan Jaewook serta mengantisipasinya dengan mancungkan sebatang kayu tadi di depan wajah Jaewook.

“Aku… a-aku bisa memukulmu lagi!”

Jaewook menepisbatang kayu yang mengayun di depannya dengan satu lengannya, lalu dia membuang kayu itu.

Yoona semakin diliputi rasa takut. Dia berlari menuju kamarnya. Tapi sial, dia terlamabat mengunci pintu. Tenaganya tak cukup kuat untuk menahan tubuh besar Jaewook. Pria itu mendorong pintu dan Yoona tersungkur di lantai. Yoona menatap Jaewook dengan perasaan takut bercampur benci.

Dia baru akan melarikan diri ketika lengannya tiba-tiba di cengkram Jaewook dan tubuhnya di hempaskan  begitu saja. Gadis itu merintih.

“Berani-beraninya kau melukai kepalaku. Kau tidak tahu betapa berharganya kepalaku, huh?” Jaewook menggeram marah.

Mata Yoona terbelalak saat Jaewook membuka ikat pinggangnya. Lalu dengan kasar Jaewook mencambuk tubuh Yoona. Gadis malang itu tidak kuasa untuk tidak menjerit. Dia menangis.

Setelah mencambuk tubuh Yoona dan menghajarnya, Jaewook mencengkram kedua pergelangan tangan Yoona. Bau alkohol menyeruak ke dalam penciuman Yoona begitu pria itu mendekat. “Aku sudah bilang ‘kan kita akan bertemu lagi.” Dia tersenyum penuh napsu.

Yoona meronta di bawah tubuh Jaewook, tangannya sakit. Dia ketakutan. Tapi tidak bisa melawan.

Dia hanya berusaha meronta untuk di lepaskan dan menjerit-jerit saat Jaewook merobek dress merahnya dengan kasar.

Andwee!” Yoona hanyalah seorang gadis berusia tujuh belas tahun yang tak berdaya saat itu. Dia menangis dengan perasaan malu ketika Jaewook menggaulinya. Pria itu sudah seperti binatang kerasukan setan.

Jika kau merasa takut, kau hanya harus memejamkan mata.’

Air mata Yoona terus mengucur deras di sela-sela pejaman matanya, dengan kedua tangan yang mengepal ketika Jaewook bergerak membabibuta di atasnya.

Nyatanya, kalimat itu tidak bisa membebaskannya dari ketakutan saat ini.Kalimat itu tidak dapat menolongnya dari ketidakberdayaannya. Kalimat itu hanyalah omong kosong belaka!

Tidak ada perasaan yang lebih hancur selain dari pada ayahmu sendiri yangmemperkosamu!

Saat itu Yoona merasa lebih hina dari seorang anak pelacur.Lebih kotor, lebih menjijikkan.Dia sakit hati.

Ya Tuhan!

Dimana Kau ketika aku tengah tak berdaya…

**

 

Air itu masih menetes dari ujung-ujung baju yang di jemur pada tali jemuran di belakang rumah—sisa hujan semalam.

Dedauan jatuh berguguran dari ujung-ujung ranting pohon. Burung-burung berkeliaran di sekitar pekarangan rumah, sibuk mematuk-matuk tanah untuk mencari sesuatu yang bisa di makan.

Angin bertiup kencang, menerbangkan daun-daun kering.Rumah itu masih sepi. Pintunya tertutup rapat, menyisakan sepasang sepatu usang di depan pintu. Suasananya terlalu hening.

Biasanya akan ada Yoona yang sibuk membuat sarapan. anicda Yoona yang menyiapkan diri berangkat sekolah. Tapi tidak ada suara apapun di pagi itu, hanya ada suara air yang mengalir dari keran di kamar mandi.Hanya ada suara isakkan pelan yang tenggelam diantara aliran air keran.

Ara terbangun dengan kepala pening. Matahari sudah menyengat di luar sana. Dia melihat sekeliling dan mendapati rumahnya yang berantakan.Kepalanya kembali berdenyut ketika dia mencoba mengingat-ingat hal terkhir kali sebelum dia pingsan.Lalu ingatannya mengarah pada Yoona.

“Yoona!”Ara segera berdiri dengan wajah anic, mencari-cari anaknya. Jika Jaewook melukai Yoona sedikitpun dia tidak akan segan-segan membunuh pria itu.

Ara membuka pintu kamar Yoona tapi dia tidak menemukan gadis itu.“Yoona-ya!” panggilnya.

Kepalanya menoleh ketika dia mendengar suara air yang mengalir dari arah kamar mandi.

“Yoona..”Ara mengetuk pintu kamar mandi.

Tidak ada sahutan.Yang ada hanyalah suara air yang di biarkan mengalir dari keran.

“Yoona.. Yoona..buka pintunya!” Ara setengah menggerbak pintu, tidak sabar.Suara isakan dari dalam terdengar pelan, lalu mulai terdengar keras.

Ara anic.Dia menggedor-gedor pintu lebih keras.“Yoona, buka pintunya! Ada apa? Yoona! Yoon—“

Ara menghentikan kegiatannya dan membekap mulutnya sendiri.Dia jatuh terduduk dengan mata yang mengembun.

Dia tahu bahkan Jaewook tidak hanya melukai Yoona.Bahwa pria itu tidak hanya menyakiti putrinya.

Sesuatu yang keras menghantam jantung Ara.Wanita itu menangis dengan tubuh tersungkur di lantai.Meratapi betapa malangnya nasib Yoona.Betapa malangnya gadis itu—putrinya.

 

To be continued..

Setelah menghadirkan ‘Fluff’ kali ini saya hadir dengan genre ‘Psikolog’ hehe.. hanya ingin melihat sejauh mana kemampuanku dalam menciptakan cerita dengan genre yg berbeda-beda^^ Oh ya, maaf untuk beberapa umpatan dalam cerita ini. Saya yakin kalian pembaca yang cerdas hingga dapat membedakan mana yang baik dan buruk—dalam artian tidak menganggap umpatan dalamcerita ini sebagai pengganggu.Yeah~ kupikir wajar, ini sebagai pendukung suasana. Well, bagaimana perasaan kalian setelah membaca fic ini? Kecewa?Bosan?Garing?atau apa? Ya ya ya, silahkan tumpahkan unek-unek kalian di kolom komentar. Chap. End akan segera menyusul se-ce-pat-nya! Dan bersiap-siap untuk mendapat banyak kejutan^^

Buat kak Echa or Resty makasih banyak udah mau nampung satu lagi fic dariku^^ (you’re welcome..)

Tinggalkan komentar

293 Komentar

  1. shin ana

     /  November 17, 2014

    ceritanya bener2 bikin hati sedih,,,,,,,,,,
    kyak nyata gttu

    Balas
  2. bee

     /  November 25, 2014

    Satu kata . Dramatis !!
    Gatau mesti com apa sking nikmatin crritanya .. keren banget dr awal udh menarik .. jd yoona pasti sedih banget. Cmn pasti dsitu ada siwon yg bsa ngmbaliin idup dia kya dlu .. keren bgt ini critanya .. pelajaran buat kita jg biar ga mandang rendah org lain apapun pekerjaannya ..

    Balas
  3. utycoyumy

     /  November 26, 2014

    ceritanya menyentuh banget..😦 jadi jengkel sendiri pas baca yg terakhir..

    Balas
  4. Cha'chaicha

     /  November 27, 2014

    Malang bgt nasib yoona eonni, semoga wonppa bnr” menepati janji’y untuk kembali..

    Balas
  5. shella

     /  Desember 25, 2014

    tragis bnget kisah y… ga kebayang gimn yoona bsa jalani hidup setelah y

    Balas
  6. aldiana elf

     /  Januari 3, 2015

    feelnya dapet banget,, konfliknya aku suka
    mirip sama i miss you

    Balas
  7. Sedih banget..malang banget jd yoona
    Jadi ikutan nangis…. Klo aku jd yoona mndingan mati saja T_T

    Balas
  8. gita

     /  Februari 4, 2015

    Hikz T_T sedih bnget liat kisah khidupan yoona eonni.. tega amat tuh appanya.. smoga siwon ooppa bsa tepatin janjinya. Fighting

    Balas
  9. Sumpah ff ini bikin aku nangis.. :””(
    Kasihan Yoona Eonni… hua….jahat banget sih orang yang nyakitin Yoong Eonni… :”'(
    Keren banget dan bikin aku keluar air mata terus.

    Balas
  10. Ceritanya bener2 bikin sedih 😭

    Balas
  11. Ceritax sedih banget dan muadah2an wonpa nepatin janjix untuk kembali.,

    Balas
  12. Kasian banget nasib yoona.. Setelah di tinggal siwon dia malah mendapatkan perlakuan yang begitu kasar dari ayah’y..
    Semoga nasib baik segera menghampiri yoona.. N kluar dari kesedihan..

    Balas
  13. Hilmy

     /  Mei 9, 2015

    feelnya keren + bgus banget.. siwonnya sweetttttt + keren abiss.. laki sejati! tapi kasian si yoona.. sabar ya yoona..:( next

    Balas
  14. Hilmy

     /  Mei 9, 2015

    feelnya keren + bgus banget.. siwonnya sweetttttt + keren abiss.. laki sejati! tapi kasian si yoona.. sabar ya yoona..:( next.. hehe:D

    Balas
  15. Kasihan sekali yoonaku😥 critanya bner2 tragis siwon oppa cepatlah pulang yoona membutuhkanmu
    Ffnya bgus skli author jarang aku nemu yg kyk bgini lanjutkan menulismu yaa author🙂

    Balas
  16. nytha91

     /  Oktober 24, 2015

    Kasian bgt yoona..ya ampun author tega hiks😦

    Balas
  17. yayu tiansih

     /  Desember 17, 2015

    kasian banget sama hidupnya yoona😦
    kenapa ayahnya yoona tega banget sih
    dan kenapa wonppa harus pergi ninggalin yoona eonni ?
    next chapter semoga di kasih pwnya

    Balas
  18. yayu tiansih

     /  Desember 17, 2015

    kasian banget sama hidupnya yoona😦
    kenapa ayahnya yoona tega banget sih
    dan kenapa wonppa harus pergi ninggalin yoona eonni ?
    pw juseyo author

    Balas
  19. Seruu banget ceritanya..kasian yoona ;(( tragis bngt terakhirnya smpe mau nangis bcanya. Keren 👍

    Balas
  20. Storynya bener bener nyentuh banget eonni..
    Brasa ngrasain apa yg dirasain sama yoon eonni..

    Eonni itu yoona eonni kasian banget…
    Mudah mudahan gak jadi penghalang buat hubungan yoonwon berikutnya…
    Nyesek banget kehidupanya yoon eonni..

    Eonni next berharap bakal happy story…☺

    Balas
  21. feelnya dapet banget,kasihan yoonaa

    Balas
  22. ayana

     /  Juli 28, 2016

    ouch…, bener-bener crita yang tragis. gimana bisa seorang ayah melakukan hal itu pada putrinya?
    semoga yoona bisa melalui semuanya dan memulai kehidupan baru yang lebih baik. mudah-mudahgan siwon jugfa menepati janjinya ke yoona.

    Balas
  23. pine

     /  Agustus 17, 2016

    Astagaaa astagaaaa astagaaaaa
    Aku bahkan mau nangis…..
    Hiks
    Nyesek bngeeet
    Apa yg bkal terjadi sama yoona :””””” apajah bkal hidup lbih baik atau mlah gimanaaa
    Waaa penasaraaan
    Siwon kalau kmbalu terus gmana… Apa dia menerimaa
    Sdiiih

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: