[OS] My Love Story

[OS] My Love Story

 

Annyeong YWK…I’m back!!!

Aku datang bawa OS lagi nihh,,,OS ini terinspirasi dari lagunya Melly goeslaw yang judulnya Cinta (wahh lagu indo nihh…). Entah kenapa setelah denger lagu ini aku pengin langsung bikin FF (yaaa…bisa dibilang FF ini masuk ke kategori Songfic ^^), menurutku ini lagu sedih+dalem banget artinya. Jadi buat kalian yang baca FFku diharapkan denger lagunya Melly dulu yahh, biar feelnya lebih dapet..oke?? Oia, berhubung yang nyanyi yeoja, jadi sebagian besar point of view-nya Yoona semua.

Oke…tanpa berlama-lama langsung aja yuk baca FFku,,teukidot!!!

 

Author             : Choi Ji Hyun a.k.a Alfiah                 Type                : Oneshoot

Genre              : Romance, sad,etc…                          Rating             : General

Main cast         : Choi Siwon (SuJu), Im Yoon Ah (SNSD)

Other cast        : Tn. Im as appa Yoona

Choi Sooyoung (SNSD) as dongsaeng Siwon

Ny. Choi as eomma Siwon, etc

 

Warning : FF ini murni hasil pemikiran author. Tanpa jiplak! tanpa nyontek!

Don’t bashing! Don’t be plagiator! Don’t be silent reader!!!

 

YOONA POV

Menapak jalan yang menjauh. Tentukan arah yang ku mau.

Tempatkan aku pada satu peristiwa yang membuat hati lara.

 

Aku berjalan tak tentu arah, melangkah melewati bermacam orang yang berlalu lalang. Aku disini, di trotoar yang ramai ini, menapaki jalan dalam dimensiku sendiri. Sepi, hampa, dan dingin, itulah masa yang kurasakan saat ini. Entah mengapa dalam keriuhan kota ini aku merasakan kekosongan yang begitu mendalam. Yah, mungkin ini akibat peristiwa yang sedang ku alami, peristiwa yang membuat jiwaku lara.

Siwon oppa-tunanganku, kini telah terbaring lemah di rumah sakit dengan penuh alat medis yang setia menempel pada tubuhnya. Karena peristiwa kecelakaan hebat yang dialaminya 2 minggu lalu mengakibatkan dia luka parah dan koma selama berhari-hari. Aku begitu sakit mendengar berita ini, kejadian ini telah membuat semangat hidupku menipis. Hidupku takkan berarti jika tak ada dirinya disisiku, karena hanya Siwon oppalah yang menjadi harapan dan impianku. Jika dia terus menerus seperti ini, aku yakin aku tak sanggup untuk melewati hari-hariku dengan senyuman.

Ini semua gara-gara aku, akulah yang menyebabkan Siwon oppa mengalami kecelakaan hebat itu, aku yang membuatnya sakit parah seperti ini. Jika saja sore itu aku tak memintanya untuk bertemu, jika saja aku tak memintanya untuk menjemputku, mungkin saja saat ini kami masih bisa menikmati waktu berdua yang indah.

 

Flashback

Tuut…tuut…tuut…klek

“Oppa, oediga?” tanyaku pada Siwon oppa di seberang sana, kami sedang berhubungan melalui panggilan telepon.

“Aku masih di rumah chagi-ya, sebentar lagi aku kesana. Tunggu yah?” jawabnya lembut,

“Geurae, aku akan selalu menunggumu oppa, tapi jangan sampai membuatku menunggu lama karena aku akan marah padamu” ujarku di akhiri dengan senyum, terdengar kekehan Siwon oppa disana.

“Hahaha…sepertinya kau tidak sabar sekali ingin bertemu denganku, baiklah aku akan segera kesana dalam waktu lima menit. Jadi sebelum kau marah padaku aku akan segera berada dihadapanmu dan memelukmu, arrachi?” balasnya. Oppa, kau selalu membuatku merindukanmu.

“Arraseo, jadi cepatlah datang dan segera penuhi ucapanmu” ujarku sedikit menantang,

“”Aigoo…menggemaskan sekali gadisku ini. Baiklah aku tutup dulu teleponnya ya? Sampai bertemu nanti. Saranghae” katanya mengakhiri sesi panggilan ini,

“Nado saranghae oppa” jawabku, aku menutup teleponku dan kembali menyimpannya dalam tas kecilku. Kembali kuulas senyuman pada wajahku, kutatap cermin di meja riasku sekedar merapikan make up lalu menambahkan sedikit blush on pada kedua pipiku agar terlihat lebih cerah secerah hatiku sekarang ini. Aku menatap bayanganku pada cermin, ‘Cantik’ ujarku memuji diri sendiri. ‘Betapa beruntungnya kau Im Yoona mendapatkan tunangan sebaik dan setampan Siwon oppa’ lanjutku lagi

“Sebaiknya aku menunggu Siwon oppa di ruang tamu saja. takut kalau kalau dialah yang menungguku yang belum keluar kamar” ujarku pada diri sendiri. Kuambil tas kecilku lalu kusampirkan pada pundak dan berjalan keluar kamar menuju ruang tamu di lantai bawah.

Kulihat appa sedang berada diruang tamu yang sedang menonton televisi, segera ku hampiri appaku dan duduk disebelahnya.

“Appa, kau sedang menonton apa?” tanyaku memulai percakapan. Dia menoleh dan menatapku,

“Oh kau Yoong, appa sedang menonton siaran berita.” Jawabnya,

“Kau akan pergi kemana Yoong? Cantik sekali anak appa” lanjutnya sedikit memuji, aku tersipu malu mendengar pertanyaan appaku karena aku yakin sebenarnya appa pasti sudah tahu jika aku akan pergi bersama Siwon oppa.

“Aku akan pergi bersama Siwon oppa, kami berencana akan makan malam di daerah apgujeong” jawabku antusias.

“Jinjja? Wahh pantas saja kau kelihatan semangat sekali Yoong. Kapan Siwon akan datang?” tanyanya

“Mungkin sebentar lagi appa, oppa bilang dia dalam perjalanan kemari” jawabku, appa hanya tersenyum kemudian kembali melanjutkan acara menonton televisinya.

15 menit sudah berlalu, namun Siwon oppa belum juga menampakkan batang hidungnya. “Kemana dia? Di bilang 5 menit lagi akan sampai, tapi sampai sekarang dia belum juga datang” ujarku sedikit resah, aku melirik jam tanganku dan sesekali melihat iphoneku barangkali ada pesan atau panggilan dari Siwon oppa namun ternyata hasilnya nihil. Tak ada kabar satupun dari Siwon oppa, entah kemana dan apa yang ia lakukan saat ini sehingga membuatku gelisah menunggunya.

“Dia datang jam berapa Yoong? Kau bilang sebentar lagi Siwon datang” tanya appaku penasaran

“Mmm…sepertinya dia ada urusan sebentar. Aku akan menunggunya di luar mungkin saja sekarang dia sudah sampai.” Jawabku mencoba menutupi kegelisahan yang sedari tadi bergelayut dalam diriku.

“Ahh begitu, baiklah hati-hati di jalan ne? sampaikan salam appa jika dia sudah datang” ujarnya lagi.

“Nde appa, aku keluar dulu” jawabku lalu segera beranjak dari dudukku dan berjalan menuju pintu.

Kubuka perlahan pintu rumahku, lalu kududukkan diri pada kursi yang ada di teras rumah. Kembali ku menunggunya dengan gelisah.

Detik-detik berlalu bagaikan berjam-jam membuatku semakin resah menunggunya. Kulirik jam tanganku, sudah 30 menit berlalu tapi Siwon oppa belum datang.

“Aigoo…kemana dia? Sudah setengah jam aku menunggunya tapi dia belum juga datang. Awas kau oppa, jika kau berani menampakkan wajahmu dihadapanku aku akan memukulmu!” ujarku sedikit marah, tapi tetap saja tidak bisa menutupi kegelisahanku.

Entah mengapa sedari tadi aku merasakan sesuatu yang aneh dalam diriku, rasanya seperti ada sesuatu yang membuatku ingin menangis. Aku memegang dadaku, menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.

“Tenang Yoong, gwaenchanha. sebentar lagi Siwon oppa pasti akan menjemputmu” ujarku mencoba menenangkan diri sendiri. Aku berdiri, berjalan kesana kemari bagaikan sebuah setrika yang sedang melicinkan pakaian.

“Siwon belum datang juga Yoong?” tiba-tiba appa sudah berdiri di sampingku.

“Belum appa, mungkin sebentar lagi” jawabku menatapnya sambil tersenyum paksa. ‘Sebentar lagi? Kurasa tidak!’ gumamku. Appa mengangguk paham, ia tetap berdiri pada tempatnya seolah-olah ingin menemaniku menunggu Siwon oppa.

Tiba-tiba iphoneku berdering menandakan sebuah panggilan masuk, ‘ada apa Sooyoung meneleponku?’ tanyaku dalam hati. Asal tahu saja Sooyoung adalah dongsaeng Siwon oppa yang usianya sama denganku, kami menjadi teman baik saat Siwon oppa mengenalkannya padaku sebagai adik satu-satunya. Tanpa berlama-lama kuangkat teleponnya.

“Yeoboseyo” ujarku menjawab panggilan tersebut.

“Yoong! Siwon oppa kecelakaan! Dia tertabrak bus ketika menuju rumahmu. Sekarang dia berada di Seoul hospital dalam keadaan koma.” jawabnya, ada nada ketakutan didalam kalimatnya.

Deg…aku tertohok mendengar ucapan Sooyoung, shock! Itulah yang kurasakan saat ini. Seolah aku yang sedang terbang tinggi di langit tiba-tiba dihempaskan begitu saja dengan keras dan mati seketika di atas bumi.

“Yoong…yoong? Kau mendengarku kan?” tak kuhiraukan lagi Sooyoung yang terus memanggilku. Aku masih mematung, tak percaya atas apa yang kudengar barusan. Appa yang sedari tadi berdiri disampingku terheran melihat tingkahku setelah mendapatkan panggilan telepon.

“Waegurae Yoong? Tadi siapa yang meneleponmu?” tanyanya khawatir. Aku terduduk lemas, kemudian bulir-bulir airmata mengalir di pipiku.

“Yoong, gwaenchanha? Apa yang terjadi eo?” tanya appa khawatir, ia memegang kedua pundakku seolah memberikan semangat namun itu tak ampuh kali ini, aku benar-benar terpukul. Lama-kelamaan tangisanku semakin deras mengalir, aku berteriak sekencang-kencangnya meluapkan segala kepedihan yang kualami. Aku tak bisa berkata apa-apa, hanya tangisan dan teriakkan yang dapat mewakilkan perasaaanku.

“Ssssttt….sudahlah, semuanya akan baik-baik saja. kau tidak perlu bersedih” ucap appa mencoba menenangkanku, ia membawaku kedalam dekapannya mengelus kepalaku dengan lembut.

“Appa….apa yang harus aku lakukan?” ujarku disela-sela tangisanku, berulangkali aku mengatakannya. Aku memukul-mukul pelan dadaku yang terasa sesak sekali karena tangisanku. Aku terus menangis dalam dekapan appaku.

Flashback end

 

Sekarang aku berada di ruang rawat Siwon oppa, dia masih terbaring lemah di ranjangnya. Tenang tak bergeming sedikitpun ataupun sekedar membuka matanya. Perlahan kuberjalan menuju samping ranjangnya, Sooyoung yang sedari tadi menemaninya melihatku berjalan kearahnya. Dia berdiri dari duduknya seolah mempersilahkanku untuk duduk dikursi yang ada disamping ranjang Siwon oppa. Kami terdiam beberapa saat, kupandangi wajah Siwon oppa dengan sedih.

“Bagaimana keadaannya?” tanyaku pada Sooyoung yang berdiri disampingku, mataku tak lepas dari Siwon oppa.

“Masih sama seperti kemarin” jawabnya pelan. Kuraih tangan Siwon oppa dan menggenggamnya,

“Oppa, cepatlah kau sadar. Apakah kau tidak merindukanku eoh? Kau tak mau melihat wajah tunanganmu ini? Oppa, bukalah matamu. Aku begitu merindukanmu, aku ingin kau berada disisiku, tersenyum padaku, menikmati hari-hari indah bersama, berjalan-jalan melintasi ruang dan waktu hanya berdua.” Aku terisak pelan, setetes air mata mengalir dari pelupuk mataku. Sooyoung memegang pundak kananku dan mengusap-usapnya pelan mencoba menenangkanku.

“Oppa, bukankah kau berjanji akan segera menemuiku dan memelukku? Kemana janjimu oppa? mengapa kau malah terbaring lemah seperti ini eo? Bangunlah oppa…” aku tak sanggup melanjutkan kalimatku, aku tertunduk dan menangis dalam diam. Tak beda dengan diriku, Sooyoungpun merasakan hal yang sama namun tidak sampai menangis sepertiku.

>>>

            Hari demi hari kulewati dengan menemani Siwon oppa disisinya, berharap suatu hari ia kan sadar dan memberikan senyum manisnya untukku, memelukku dengan penuh cinta serta mengecup keningku yang selalu ia lakukan dulu sebelum ia terbaring koma seperti ini. Namun semakin hari harapanku semakin pupus melihatnya tak menampakkan reaksi apapun, keadaannya terus seperti ini.

‘Tuhan, apa yang harus aku lakukan agar Siwon oppa kembali seperti dulu? Aku begitu tersiksa melihat kondisinya yang tak kunjung sadar dari tidur panjangnya’ ratapku penuh harap.

Aku menatap eomma Siwon yang sedang tertidur pulas di sofa yang memang disediakan disini, dia terlihat lelah sekali karena sudah beberapa hari ini menjaga Siwon oppa menggantikanku yang sedang sibuk mempersiapkan perlombaan balet nasional yang akan kuikuti. Awalnya aku menolak untuk mengikuti perlombaan ini karena aku lebih memilih menjaga Siwon oppa dan menemaninya setiap hari, tapi appaku dan eomma Siwon bersikeras mengikutsertakanku dalam perlombaan kali ini yang memang cukup bergengsi. Dan pula aku teringat akan kata-kata Siwon oppa yang menginginkan agar aku dapat berdiri diatas panggung menampilkan keahlianku dalam hal menari balet. Oleh karena itu aku bersedia mengikuti lomba ini dengan tetap menemani Siwon oppa di sela-sela latihanku.

Kuraih tangan Siwon oppa dan mengenggamnya dengan erat, berharap ia dapat merasakan kerinduanku padanya sehingga ia dapat tersadar dan menatapku dengan tatapan teduhnya.

“Bangunlah oppa, aku ada disini disampingmu setiap saat. Mengapa kau tak bangun juga eo? Apakah kau tak lelah terbaring berhari-hari seperti ini? Kau tak merindukanku eo?” ujarku padanya,

“Cepatlah sadar oppa, bukankah beberapa bulan lagi kita akan menikah. Kau tak mau ikut mempersiapkan pernikahan kita nanti?” lanjutku melemah, seperti inilah diriku jika sudah berhadapan dengan Siwon oppa yang sedang koma, mengajaknya berbicara walaupun kutahu dia tak akan bisa mendengar atau merespon ucapanku.

Kutatap wajahnya dalam-dalam dan tanganku tetap setia memegang tangannya, samar-samar aku merasakan sesuatu yang bergerak dalam genggamanku, kualihkan pandanganku pada tangannya. Tangannya, tangan Siwon oppa mulai bergerak! Mataku berbinar senang,

“Oppa…kau sudah sadar? Oppa…apa kau mendengarku eo?” tanyaku sedikit antusias, jemari tangannya kembali bergerak, aku yakin Siwon oppa mengenali suaraku. Eommonim terbangun dari tidurnya karena mendengarku memanggil-manggil nama Siwon oppa.

“Eommonim, Siwon oppa, dia mulai sadar” ujarku pada eommonim sebelum ia bertanya apa yang terjadi padaku. “Jeongmal?” tanyanya kaget, ia langsung berdiri dan menghampiri Siwon oppa.

“Siwon-ah, kau sudah sadar sayang?” panggil eommonim, kutatap eommonim sejenak. Matanya menampakkan keharuan dan siap meneteskan cairan beningnya.

“Yoona-ya, tolong panggilkan dokter katakan bahwa Siwon mulai sadar, palli!” ucapnya padaku meminta tolong.

“Nde…aku akan segera kembali” ujarku kemudian aku langsung berlari kecil untuk menemui dokter.

Tak beberapa lama aku kembali bersama dokter dan seorang suster yang merawat Siwon oppa. Kulihat Siwon oppa sudah membuka matanya, namun tatapannya masih lemah tidak setajam dan sehangat dulu. Eommonim menyingkir dari samping Siwon oppa mempersilahkan dokter memeriksakan Siwon oppa, kami berdua berdiri was-was sekaligus senang menunggu pemeriksaan dokter. Setelah selesai diperiksa, eommonim segera menghampiri dokter dan menanyakan keadaan Siwon oppa.

“Bagaimana keadaan anakku dok?” tanyanya,

“Sungguh suatu keajaiban ia bisa sadar dari komanya, kemajuan ini mungkin saja dapat membuatnya pulih. Tapi kami akan terus mengontrol perkembangannya jikalau ada suatu efek samping lain dari kecelakan hebat yang pernah dialaminya, beberapa hari lagi mungkin dia bisa melakukan rawat jalan.” jelas dokter panjang lebar.

“Syukurlah…gamsahamnida dokter” balas eommonim sambil membungkuk dan terus mengucapkan terimakasih sampai dokter keluar dari ruangan. Kuhampiri Siwon oppa, kutatap wajah pucat dan mata sendunya. Dia menatapku dan aku tersenyum lembut,

“Yoong” ujarnya lemah, sangat lemah. Ia meraba-raba mencari tanganku, kuraih tangannya dan mengenggamnya erat.

“Nde oppa, ini aku Yoona. Waeyo?” balasku,

“Sepertinya eomma harus pergi, eomma akan membiarkan kalian menikmati waktu berdua. Eomma keluar dulu mencari makanan ne?” ujar eommonim, dia tahu apa yang harus dilakukan disaar seperti ini.

“Nde eommonim, hati-hati dijalan” jawabku menatapnya sekilas dan kembali kutatap wajah Siwon oppa lalu kududukkan diri pada kursi didekat Siwon oppa.

“Aku merindukanmu, neomu bogoshippoyo” ujarnya sedikit terbata-bata, aku tersenyum bahagia sampai air mataku menetes. Ini bukanlah air mata kesedihan melainkan air mata kebahagiaan karena Siwon oppa sudah kembali sadar.

“Nado bogoshippoyo oppa, aku juga sangat merindukanmu” balasku, wajahnya terukir senyum tipis namun dapat membuatku menampakkan senyum yang merekah. Tangannya bergerak keatas mencoba meraih pipiku, dia menyentuh pipiku pelan, kupegang tangannya dan mataku terpejam merasakan sentuhan lembutnya.

‘Terimakasih Tuhan, kau telah mengabulkan doaku untuk membuatnya kembali sadar’ batinku.

 

Didekat engkau aku tenang, sendu matamu penuh tanya.

Misteri hidup akankah menghilang dan bahagia di akhir cerita.

>>> 

 

            Setelah oppa sadar kembali, hari-hariku semakin dipenuhi dengan senyuman. Cukup senang aku melihat perkembangan Siwon oppa yang semakin membaik. Dia mulai bisa memakan makanannya dengan baik, yah walaupun dia masih harus memakan bubur atau semacamnya karena kondisi tubuhnya yang masih sangat lemah. Itu lebih baik daripada dia harus di infus nutrisi untuk memberikannya energi selama koma. Seperti saat ini, aku sedang menyuapinya bubur sebagai makan siangnya,

“Nahh…sekarang waktunya makan siang. Ini aku bawakan bubur yang kumasak sendiri, tenang oppa kali ini aku tak akan memberikan masakan yang disediakan rumah sakit yang menurutku sedikit tak enak” bisikku pada Siwon oppa, dia hanya terkekeh pelan. Lalu ku bantu dia untuk mengubah posisinya menjadi duduk dengan bersandar pada bantal yang kuletakkan dipunggungnya. Akupun segera duduk dan mengambil semangkuk bubur,

“Ayo oppa, buka mulutmu…aaaa” ujarku memberikan aba-aba, Siwon oppa menurut dia membuka mulutnya dan aku segera menyuapkan sesendok bubur padanya.

“Eotte?” tanyaku, dia mengangguk pelan.

“Mashita, kau pandai memasak chagi-ya” ujarnya memujiku, kontan aku tersipu malu dibuatnya. Aku tersenyum lalu kembali menyuapkannya bubur.

“Chagi-ya, kemarin eomma mengatakan bahwa kau mulai mempersiapkan dirimu untuk mengikuti perlombaan balet tingkat nasional. Jeongmalyo?” tanyanya antusias.

“Nde oppa, awalnya aku menolak mengikuti lomba itu, tapi karena appa dan eommonim memaksaku akhirnya aku menuruti permintaan mereka. Ini semua juga karena dirimu oppa” jawabku semangat.

“Wahh syukurlah akhirnya kau akan berdiri diatas panggung. Kapan pelaksanaannya? Kuharap oppa dapat melihatmu menari diatas panggung” balasnya,

“Sekitar 15 hari lagi oppa, ahh aku tak sabar menantikannya” jawabku sambil terus menyuapinya bubur.

“Baiklah, sepertinya oppa harus cepat sembuh agar dapat melihatmu menari” ujarnya lagi.

“Nde oppa, oppa harus cepat sembuh” balasku senang. Tiba-tiba aku melihat raut wajahnya berubah, seperti sedang menahan sakit, ia kemudian memegang kepalanya.

“Oppa, gwaenchanha?” tanyaku khawatir. Kuletakkan mangkuk bubur pada meja disamping ranjang,

“Ah Yoong, tidak apa-apa. Oppa hanya sakit kepala saja, sebentar lagi juga reda” jawabnya mencoba menenangkanku.

“Jeongmal? Benarkah tidak apa-apa?” tanyaku sekali lagi, aku tidak puas ia mengatakan hal itu karena berbeda sekali dengan ekspresi wajahnya yang sedang menahan sakit.

“Benar chagi-ya, oppa tidak apa-apa kau tidak perlu khawatir. Ayo suapi aku bubur lagi” ujarnya mengalihkan pembicaraan.

“Baiklah…tapi jika terjadi sesuatu oppa langsung memberitahuku ne? aku tak mau terjadi hal yang tidak-tidak padamu” kataku, ia tersenyum lalu mengangguk sebagai jawaban iya atas pertanyaanku. Kembali kuteruskan menyuapinya bubur sampai habis.

 

“Enak sekali, oppa sampai kekenyangan Yoong” katanya setelah menghabiskan suapan terakhir.

“Itu karena oppa terlalu menikmati bubur buatanku, iya kan?” balasku sedikit meledeknya.

“Hahaha…kau ini ada-ada saja” jawabnya sambil mengusap puncak kepalaku pelan,

“Karena buburnya sudah habis sekarang oppa istirahatlah. Tapi sebelum itu oppa harus meminum obat ini agar oppa cepat sembuh eo?” ujarku lalu memberikan obat kepadanya dan segelas air putih.

“Siap captain!” jawabnya mencoba semangat, tapi tetap saja ia masih nampak lemah. Siwon oppa lalu menerimanya dan meminum obatnya tak lupa meminum air putih yang kuberikan.

“Sekarang oppa tidur ne?” ujarku, dia mengangguk pelan lalu merubah posisinya menjadi berbaring.

“Tidurlah oppa, aku akan menemanimu disini” kataku lalu mengecup pipinya dengan lembut.

“Gomawo Yoong, selama ini kau sudah bersabar menunggu dan merawatku” ujarnya sambil tangannya mengenggam tanganku.

“Gwaenchanha oppa, aku ini tunanganmu jadi sudah sepantasnya aku melakukan ini. Asalkan bisa selalu berada disisimu, keadaan seperti apapun akan kulalui.” Jawabku meyakinkannya, dia tersenyum puas lalu menutup matanya dan tertidur.

Kupandangi setiap lekuk wajahnya, jujur saja masih ada rasa khawatir yang menghampiriku. Entah mengapa belum ada rasa puas yang berlebih melihat Siwon oppa sudah sadar dari komanya, terlebih saat ia terkadang mengeluh sakit kepala dan merasa mual. Aku sudah menanyakan hal ini pada dokter yang menangani Siwon oppa, dokter bilang ini adalah efek dari koma yang panjang jadi aku tak perlu khawatir. Tapi tetap saja, sebagai orang yang mencintainya akan selalu ada rasa khawatir di benakku.

‘Tuhan, tolong lindungi dia-Siwon oppa. Buatlah ia sembuh dari segala penyakit yang ada pada dirinya, agar aku dan dia dapat melewati hari-hari berdua seperti dulu lagi. Serta tenangkanlah hatiku ini yang senantiasa mencintainya. Aku tak mau kembali kehilangan seseorang yang kucintai dalam hidupku. Cukup sudah aku merasakan kepedihan ditinggalkan seseorang yang berarti dalam hidupku. Buatlah kami ditakdirkan untuk hidup bersama selamanya. Amin’ doaku dalam hati.

 

Cinta…tegarkan hatiku, tak mau sesuatu merenggut engkau.

Naluriku berkata tak ingin terulang lagi,

kehilangan cinta hati bagai raga tak bernyawa.

>>>

Beberapa hari lagi perlombaan akan segera diadakan, aku sudah tidak sabar menantikannya dan menunjukkan kehebatanku diatas panggung dihadapan Siwon oppa, semakin hari aku berlatih semakin giat agar tidak dapat mengecewakan appa ataupun Siwon oppa.

“Kau sudah mau pulang Yoona-ya?” tanya salah satu temanku ditempat latihan balet melihatku sedang mengemasi barang-barangku.

“Suzy-ya, iya aku ada urusan. Aku duluan ne? annyeong” ujarku padanya dan melambaikan tangannya.

“Hati-hati di jalan, annyeong” jawabnya tak lupa membalas lambaian tanganku. Aku harus cepat-cepat pulang agar aku dapat segera menemui Siwon oppa di rumah sakit, Soo bilang ada sesuatu yang ingin dia katakan padaku.

Sesampainya disana, aku melihat aboeji, eommonim dan Sooyoung sedang duduk dikursi sambil menangis. Aku tak tahu apa yang terjadi, semoga saja bukan kabar buruk yang akan kudengar. Kuhampiri mereka perlahan, Sooyoung yang menyadari kedatanganku langsung berdiri dan memelukku yang masih terheran-heran.

“Wae…waegurae Soo? Mengapa kau dan eommonim menangis seperti ini?” tanyaku mengelus-elus pundak Sooyoung.

“Oppa…Siwon oppa harus segera dioperasi” ujarnya menggantung, aku masih bingung dan cukup kaget. ‘Mengapa Siwon oppa harus dioperasi? Lalu mengapa mereka semua menangis jika Siwon oppa akan dioperasi? Bukankah ini hanya operasi kecil? Toh Siwon oppa juga pasti akan baik-baik saja kan?’ pikirku.

“Lalu?” tanyaku penasaran. Dia melepaskan pelukannya dan menatapku dengan mata sembabnya,

“Siwon oppa mengalami pendarahan pada otaknya yang diakibatkan dari kecelakaannya dulu. Dokter bilang dia harus segera dioperasi agar tidak terjadi hal yang buruk, tapi dokter juga tidak menjamin hasil operasinya akan memuaskan.” jelasnya padaku

“Ma…maksudmu terjadi hal yang buruk? A…apa maksudnya?” tanyaku terbata-bata, ‘Ada apa lagi ini?’ batinku,

“Karena Siwon oppa selama ini menyembunyikan rasa sakitnya dan koma selama berhari-hari membuat pendarahan pada otaknya semakin parah. Hal ini membuat resiko kesembuhan semakin tipis, jika harus dilakukan operasi persentasenya hanya 50:50. Bisa saja terjadi hal yang tidak diinginkan saat operasi, itulah kata-kata yang kudengar dari dokter.” Jawabnya sambil terus terisak, tentu saja ucapannya membuatku kaget bukan main.

“Mwo?! Aniyo! Ini tidak mungkin terjadi. Berarti nyawa Siwon oppa menjadi taruhannya? Andwe! Ini tidak boleh, tidak mungkin!” ujarku mencoba menyangkal, aku mencoba menenangkan hatiku.

“Apa…tidak ada cara lain selain operasi? Misalnya melakukan terapi atau sebagainya?” tanyaku sambil memegang kedua tangan Sooyoung.

“Tidak ada Yoong, hanya itu satu-satunya cara yang dapat menyelamatkan Siwon oppa. Dia juga sudah mengetahui hal ini, 2 hari lagi dia harus dioperasi” jawabnya. Aku menangis, kakiku lemas membuatku terjatuh dengan posisi duduk. Tak hentinya aku menangis, ‘Tuhan, cobaan apalagi yang berikan padaku? Mengapa kau membuatku terus meneteskan air mata? Apa salahku padamu?’ tanyaku dalam hati, sungguh aku merasa ini tidak adil bagiku. Mengapa Tuhan memberikan cobaan yang begitu berat untukku, aku tak rela jika kebahagiaanku direnggut kembali olehNya.

Kubangun dari posisiku, mengusap air mata yang mengalir di pipi dan berjalan perlahan menuju ruangan dimana Siwon oppa berada. Setelah sampai didepan pintu kamarnya kucoba membuka knop pintunya perlahan, kulihat Siwon oppa yang sedang bersandar sambil membaca buku kesayangannya. Kuberjalan mendekatinya, ia menyadari kehadiranku langsung ia menghentikan membacanya dan meletakkan buku itu pada meja disampingnya.

“Oh…kau datang, waegurae chagi-ya? Mengapa wajahmu menjadi jelek seperti itu?” tanyanya meledekku, biasanya jika diledek seperti ini aku akan ngambek dan memukulinya namun kali ini aku hanya bisa tersenyum getir menanggapi candaannya. Aku tetap diam berdiri disampingnya tak menjawab pertanyaan yang Siwon oppa ajukan.

“Ya! Kau ini kenapa Yoong?” tanyanya lagi sembari meraih tanganku,

“Paboya! Kau yang kenapa! mengapa oppa melakukan semua ini eoh?” tanyaku balik setengah berteriak, air mataku kembali menetes.

“A…apa yang kau bicarakan chagi-ya? Aku tak mengerti” jawabnya kikuk mencoba mengelak dari pertanyaanku.

“Huuaaaa…oppaaaaa…” hanya itu kata-kata dan rengekan yang terlontar dari mulutku.

“Sssttt….uljima chagi-ya, gwaenchanha. Semuanya akan baik-baik saja, aku janji” ujarnya dan membawaku kedalam pelukannya, menepuk-nepuk pundakku pelan seolah mengerti apa yang kurasakan saat ini.

“Kojimal! Bagaimana bisa semuanya akan baik-baik saja jika nyawamu sebagai taruhannya oppa” jawabku, kemudian dia melepaskan pelukannya dan menatapku lekat, lalu menghapus air mata yang mengalir dikedua pipiku.

“Dengarkan oppa, semuanya akan baik-baik saja ne? kau tidak perlu khawatir, oppa akan melewatinya dengan baik asalkan kau memenuhi persyaratan yang oppa ajukan untukmu” ujarnya yang membuatku penasaran.

“Persyaratan? Oppa, disaat seperti ini kau jangan bercanda denganku, tidak lucu.” Rengekku, aku benar-benar tidak suka sikapnya yang seolah-olah menganggap semua ini adalah sebuah permainan.

“Kau yang lucu chagi-ya” ujarnya sambil mencubit pipi kananku,

“Oppa berjanji operasinya akan berjalan lancar asalkan kau juga berjanji padaku bahwa kau akan memenangkan perlombaan balet nasional yang kau ikuti, setuju?” katanya, ‘Apa-apaan ini? Mengapa ia membuat perjanjian konyol seperti ini?’ gumamku dalam hati.

“Hajiman, lomba itu diadakan bertepatan dengan jadwal operasimu oppa” jawabku mencoba mengelak ucapanya.

“Kau harus berjanji padaku, jika tidak maka oppa tidak akan melakukan apa yang dokter katakan” ujarnya sedikit mengancam. Sungguh aku semakin kesal dibuatnya, Siwon oppa benar-benar mempermainkanku. Aku tak bisa melakukan apa-apa selain menuruti permintaannya. Kuhembuskan nafas sejenak, lalu berkata

“Baiklah aku menyerah, terserah oppa saja” jawabku dengan wajah cemberut.

“Aigoo…manis sekali gadisku jika sedang cemberut seperti ini?” selalu saja meledekku, bahkan disaat seharusnya kami sedang bersedih dia dapat mencairkan suasana dengan segala candaannya. Lalu Siwon oppa tersenyum manis, senyuman yang dapat menghangatkan jiwaku dan otomatis dapat membuatku tersenyum membalasnya.

“Kau harus tetap hidup oppa, demi aku” ujarku. Kembali ia tersenyum menjawab ucapanku.

>>>

            Tibalah hari dimana Siwon oppa melakukan operasinya yang bertepatan dengan perlombaan baletku. Aku harus memenangkannya, aku sudah berjanji pada Siwon oppa akan membawakan piala kemenangan dan menunjukkannya pada Siwon oppa. Namun sebelum aku berangkat ke gedung tempat lomba diselenggarakan, terlebih dahulu aku singgah di sebuah gereja yang lokasinya tidak jauh dari tempat lomba.

“Masih ada waktu 30 menit sebelum lomba dimulai” ujarku, kumasuki gereja yang cukup besar itu. kulangkahkan kaki menuju barisan bangku paling depan. Kemudian kududuk lalu menundukkan kepala dan mengangkat tanganku seraya berdoa,

‘Tuhan, hari ini adalah penentuan kelanjutan hidup Siwon oppa, bantulah ia agar dapat melewati operasinya dengan baik. Buatlah ia agar tetap hidup dan menjalani sisa hidupnya bersamaku, aku mencintainya Tuhan jangan buat ia pergi dari hidupku, sungguh aku tak sanggup berada jauh darinya. Serta bantu aku untuk memenuhi janjiku padanya. Amin’ ucapku mengakhiri doaku, air mataku sudah menetes sejak diawal kulantunkan doa. Aku terdiam sebentar mengusap sisa air mata dikedua pipiku, kemudian aku segera beranjak keluar dan kembali melanjutkan perjalananku.

 

Sesampainya disana aku langsung menuju ruang ganti dan mempersiapkan segalanya, mulai dari pakaian, make up ataupun kesiapan mentalku. Tak lain denganku, beberapa peserta lain yang berada disini sibuk dengan persiapannya masing-masing.

‘Sebentar lagi aku akan tampil, aku harus menunjukkan yang terbaik’ doaku dalam hati, aku sedang berdiri dibelakang panggung sedang menunggu giliranku. Appa yang sedari tadi berdiri disampingku yang setia menemaniku dan memberikan semangatnya untukku.

“Ini saatnya Yoong, kau harus berhasil!” ujarnya semangat,

“Nde appa, aku akan memberikan penampilan yang terbaik” jawabku tak kalah semangat. Ku melangkah pasti menuju tengah-tengah panggung, memposisikan diri dalam keadaaan siap. Saat musik mengalun kumulai ayunkan tangan dan kaki, menari seiring alunan musik. Bergerak kekiri kekanan, melangkah dengan penuh percaya diri.

‘Oppa, kau harus tetap hidup. Kau harus berjuang agar kita bisa bersama seperti dulu. Sepertiku, aku pertarukan segalanya untuk dapat memenuhi janjiku padamu, janji agar kau tetap hidup. Berjuanglah oppa’ batinku disela-sela tarianku.

 

Aku junjung petuahMu, cintai dia yang mencintaiku.

Hatinya dulu berlayar kini telah menepi.

Bukankah hidup kita akhirnya harus bahagia.

>>>

AUTHOR POV

Di sebuah ruang operasi yang cukup dingin, seorang namja sedang memperjuangkan hidupnya diatas meja operasi, mempertarukan segala kemungkinan demi kehidupan yang akan dijalani selanjutnya. Beberapa dokter yang sedari tadi melakukan tugasnya demi menyelamatkan satu nyawa manusia mulai kalang kabut. Detak jantung sang pasien mulai menurun drastis, kondisi pasien semakin lemah membuat beberapa dokter kewalahan melakukan pertolongan. Berbagai macam alat medis digunakan untuk membantunya kembali ke kondisi normal, namun hasilnya tak kunjung memuaskan. Bukannya berhasil menyelamatkan tapi sang pasien semakin menunjukkan penurunan denyut jantung, hingga mesin penghitung denyut jantung menunjukkan ke angka nol. Beeeeepp…begitulah kira-kira mesin itu bersuara menandakan namja itu telah meninggal dunia tepat pukul 10.15 pagi.

Di lain tempat, Yoona telah berhasil mendapatkan piala kemenangan yang ia idamkan. Yoona telah memenuhi janjinya pada Siwon, ia telah berhasil memenangkan juara satu dan membawa piala untuk ia tunjukkan pada Siwon-tunangannya.

‘Oppa, aku berhasil. Aku menang oppa! bagaimana denganmu? Apakah kau menang dalam peperanganmu memperjuangkan hidup eo? Tunggu aku oppa, kita akan merayakan kemenangan kita berdua’ gumamnya dalam hati.

YOONA POV

Akhirnya aku berhasil memenangkan lomba itu. Sungguh tak kusangka aku mampu memenuhi janjiku pada Siwon oppa,

‘Oppa, aku segera datang. Kau tunggu ne?’ gumamku mantap, setelah acara lomba selesai segera kupergi menuju rumah sakit dimana Siwon oppa dirawat. Dalam perjalanan menuju rumah sakit, tak henti-hentinya aku membayangkan wajah Siwon oppa yang sedang tersenyum padaku. Dia sedang bersender di ranjangnya sambil membaca buku favoritnya, lalu ia menoleh kepadaku dan tersenyum penuh cinta. Kemudian ia rentangkan kedua tangannya seolah memintaku untuk memeluknya. Ahh…membayangkannya saja sudah membuatku membuncah senang, tak sabar rasanya untuk segera menemuinya dan mengatakan bahwa aku berhasil. Aku berhasil memenangkannya!

>>>

            Sesampainya dirumah sakit, aku berlari disepanjang koridor melangkah menuju ruangan Siwon oppa. Sesampainya didepan kamar, aku melihat kedua orang tua Siwon oppa sedang menangis begitupun dengan Sooyoung. Seketika perasaan tak enak menjalar dalam pikiranku, aku mulai panik takut jikalau kabar yang kudengar tak sesuai dengan harapanku. Perlahan kuhampiri eommonim, kuraih pundaknya dan dia menoleh padaku dengan penuh linangan air mata,

“Eommonim, operasinya sukses kan?” tanyaku sedikit ragu, entahlah aku benar-benar takut. Sebelum ia menjawab pertanyaanku eommonim langsung menghambur kepelukanku dengan tangisannya, kutepuk-tepuk pundaknya pelan.

“Dia telah pergi Yoona-ya, Siwon telah meninggalkan kita semua” ujarnya sambil terisak,

Deg…seakan jantungku berhenti berdetak untuk sesaat mendengar penuturan eommonim, aku teramat shock mendengarnya. Tak ada air mata tak ada tangisan dalam mataku, wajahku berubah menjadi datar dan dingin. Mungkin air mata terlalu sederhana untuk menggambarkan kondisiku saat ini, aku terlalu pedih mengunggkapkan perasaanku melalui air mata sehingga ekspresi ini yang kutampakkan.

Bagaikan seonggok patung hidup yang tiada berarti ku langkahkan kaki menuju kamar dimana Siwon oppa terbaring. Kulihat seluruh tubuhnya sudah terbaring kaku diatas ranjang dengan bertutupkan kain putih disekujur tubuhnya. Perlahan ku berjalan mendekatinya, kubuka kain yang menutupi wajahnya. Kutatap matanya yang sudah menutup sempurna, kubayangkan ia membuka matanya dan tersenyum padaku lalu mengatakan padaku bahwa ini semua adalah lelucon yang ia buat. Namun nihil, sampai kapanpun itu tak akan terjadi. Aku tak akan bisa lagi melihat senyumannya, tak bisa mendengar segala candaan dan ungkapan cintanya padaku. Mulai sekarang semuanya telah berubah, tak ada lagi Siwon oppa disisiku, tak ada lagi seorang Yoona yang ceria dan bersemangat. Aku masih berdiri mematung memandang Siwon oppa dengan tatapan tanpa ekspresi, aku masih tak percaya semua ini adalah kenyataan.

Kudengar suara pintu berdecit, ‘seseorang telah masuk’, pikirku. Kulirik sekilas Sooyoung berjalan menghampiriku, berdiri disampingku.

“Ini surat yang Siwon oppa titipkan untukmu, dia bilang aku harus memberikannya padamu jika kau sudah kembali” ujarnya sambil menyerahkan secarik kertas padaku, kutatap wajah Sooyoung sekilas lalu kembali menatap surat yang Sooyoung sodorkan. Kuambil surat itu, membukanya perlahan sambil melangkah menuju sofa untuk mendudukkan diri.

 

To : My dear Yoongie

            Annyeong chagi-ya, bagaimana kabarmu? Kuharap kau baik-baik saja dan tak ada air mata yang jatuh saat membaca suratku ini, karena itu akan membuatmu semakin jelek jadi tersenyumlah sayang.

Oh iya, bagaimana hasil lombanya, kau menang kan? Aku selalu percaya gadisku akan mendapatkan gelar juara, karena kaulah yang terhebat chagi-ya. Jika kau sudah datang, kuharap kau akan menemuiku dan menunjukkan wajah bahagiamu saat memenangkan lomba itu padaku, hanya berdua saja.

Kau tahu chagi-ya, selama ini diam-diam aku sudah mempersiapkan pernikahan kita. Aku sudah mengumpulkan banyak uang untuk memenuhi segala kebutuhan saat pernikahan kita nanti, juga untuk membeli rumah tempat tinggal kita, untuk memenuhi kebutuhan anak-anak kita kelak. Kau tahu kan aku sangat menantikannya, pernikahan kita yang sudah menjadi impian terbesarku?

Hey…jangan menangis. Tenanglah sayang, aku yakin suatu saat nanti kita akan dipertemukan kembali. Aku sudah berjanji padamu bahwa kita akan hidup bersama selamanya, kau ingat itu kan? dan aku berusaha untuk menepati janji itu padamu.

Semoga kau hidup bahagia Yoong, cintaku selalu untukmu, hanya untukmu.

Always thinking of you,

Siwon

 

Air mata yang tadinya kering mulai membasahi mata dan pipiku, entah apa yang mengundangnya tiba-tiba saja aku menangis terisak, lagi. Sudah kesekian kalinya aku meneteskan air mata untuk Siwon oppa. Dan sekarang aku menangisi kepergiannya, yah aku sadar dia benar-benar telah meninggalkanku. Aku tak tahu apa alasanku menangis, toh Siwon oppa tak akan mungkin kembali lagi padaku walaupun aku menangis dan menjerit sekencang-kencangnya, tapi tetap saja aku menangis.

 

Setelah hari dimana ia meninggal dan dimakamkan, kepribadiankupun berubah. Tak ada lagi senyuman yang terpampang diwajahku, sirna sudah tawa yang selama ini kumiliki. Semua kebahagiaan telah hilang bersama kepergian Siwon oppa. Kejadian itu tidak hanya melenyapkan nyawanya, tapi juga sampai merenggut jiwaku. Sekarang aku hidup dalam kepura-puraan, tawa yang palsu, senyum palsu dan tangisanpun palsu. Tak kuhiraukan lagi segala peristiwa yang ada disekitarku, aku terlalu jatuh dalam kesedihan atas kepergian orang yang kucinta. Aku hidup dalam belenggu duniaku sendiri, segala yang terjadi bagai angin lalu yang tak kupedulikan.

Namun satu yang tidak berubah, didalam hatiku masih ada kenangan tentangnya, masa-masa silam yang kulalui bersamanya masih kusimpan rapat. Sejak dulu sampai sekarang aku masih tetap mencintai Siwon oppa, sampai kapanpun tak akan berubah.

 

Cinta biar saja ada, yang terjadi biar saja terjadi.

Bagaimana pun hidup hanya cerita,

Cerita tentang meninggalkan dan yang ditinggalkan cinta.

>>>

7 years later…

Bertahun-tahun setelah kepergian Siwon oppa, aku mencoba menata diri. Merubah pribadiku agar tidak terus-menerus terlarut dalam kesedihan. Aku kembali membuka lembaran baru, mencoba menatap dunia dengan cara yang menyenangkan demi orang-orang yang membutuhkanku, demi Siwon oppa nan jauh disana. Aku tahu bukanlah keinginan Siwon oppa jika aku terus menerus bersedih, dia pasti juga akan sedih bila melihatku selalu menangis. Namun terkadang masih saja terlintas kesedihan dalam benakku, bagaimanapun aku tak bisa menghapus kenangan bahwa Siwon oppa sudah tidak ada lagi didunia ini.

7 tahun kulalui dengan cukup baik, ini dibuktikan dengan aku yang sekarang bekerja sebagai pengajar disalah satu sekolah seni yang cukup bergengsi di Seoul. Berkat usahaku melawan kepedihan atas Siwon oppa aku kembali dapat berbaur dengan masyarakat dengan baik, aku kembali memiliki teman, anak-anak yang menjadi muridku, dan juga appa yang setia menghiburku, mereka semua yang selalu menyayangiku begitupun denganku.

“Yoona-ssi, kau belum pulang?” tanya salah satu pengajar padaku,

“Belum ChaeWon-ssi, aku masih ada urusan dengan guru Park” jawabku padanya menatap sekilas.

“Baiklah kalau begitu, aku pulang duluan ne? Annyeong” ujarnya sebelum melangkah pergi. Aku hanya tersenyum padanya dan akupun bergegas pergi menemui guru Park.

Ketika aku akan berbelok menuju ruangan guru Park berada mataku tak sengaja menangkap sesuatu yang tak asing lagi. Sekelebat memori yang dulu terlintas kembali, sungguh aku tak percaya apa yang kulihat saat ini. Mungkinkah ini mimpiku disiang bolong? dia sedang berdiri disana dengan kemeja biru mudanya, yang sedang menatap keluar tempat orang berlalu lalang. Dengan langkah ragu ku berjalan mendekatinya, dengan pelan kulangkahkan kaki takut jikalau mimpi ini akan menghilang begitu saja, jantungku berdebar ketika langkahku semakin mendekatinya. Dia berbalik dan menatapku dengan senyumannya, wajah tampan yang tak pernah berubah sejak dulu, senyuman yang selalu kurindukan. Dia ikut melangkah mendekatiku, hingga aku dapat menatapnya secara dekat, kami telah berdiri berhadapan. ‘Tidak mungkin. Tuhan, apakah ini mimpi?’ gumamku dalam hati, dia benar-benar mirip.

“Op…oppa? kaukah itu?” tanyaku tak percaya.

“Ye…ini aku Yoong” jawabnya dengan diiringi senyuman yang selalu menghiasi wajahnya. Air mataku menetes, kututup mulutku dengan tanganku tak percaya apa yang sedang terjadi. Kembali jantungku berpacu lebih cepat saat ia mengatakannya, sungguh aku masih tak percaya. Kupastikan sekali lagi, kusentuh pipinya. Ini nyata! Aku bisa merasakannya, ini bukan lagi mimpiku!

Kembali ia tersenyum dan berkata, “Waeyo? Aku kembali untukmu”

‘Mwo? Apa yang ia katakan barusan?’ tanyaku dalam hati, jika ini hanya mimpi biarlah ini menjadi mimpi indahku sesaat, aku tak mampu meminta lebih. Perlahan kuukir senyuman pada wajahku, spontan kuberhambur kedalam pelukannya, ahh pelukannya yang hangat dan selalu kurindukan.

‘Aniyo, ini bukanlah mimpi. Ini memang benar dia! Ini pelukannya yang selalu kurindukan’ batinku. Tangisku pecah, aku menangis haru dalam pelukannya. Entah keajaiban apa yang telah Tuhan berikan padaku, aku tak mau ambil pusing. Asalkan ia sudah berada disisiku, aku sudah cukup bahagia.

“Aku merindukanmu” ujarnya disela-sela pelukannya,

“Nado oppa, aku juga merindukanmu, sangat.” balasku lalu semakin mengeratkan pelukanku.

‘Terimakasih Tuhan, kau mengabulkan doa-doaku. Kau bersedia mengembalikannya, mengembalikan Siwon oppa dalam pelukanku’ ucapku dalam hati.

Dan perjalanan cintaku dan Siwon oppa, kami mulai lagi dari sini. Kita berdua akan memulainya lagi, menciptakan kembali kenangan-kenangan indah yang dulu sempat terkubur kesedihan. Berbagi kasih sayang satu sama lain dan menikmati waktu indah berdua. Inilah keajaiban cinta, yang hanya terjadi dalam dunia kami. Walau orang-orang meragukannya, meski dunia tak mempercayai ketulusan cinta kami, yang jelas selamanya aku dan Siwon oppa takkan terpisahkan.

 

Cinta…tegarkan hatiku, tak mau sesuatu merenggut engkau.

Naluriku berkata tak ingin terulang lagi,

kehilangan cinta hati bagai raga tak bernyawa…

>FINISH<

 

Haduuhhh……ceritanya kok jadi sedih begini yahhh…tapi endingnya tetep memuaskan kan? Iya kan? #maksa😀

Sebenernya ini ff mau tak bikin sad ending soalnya tema lagunya sad ending, tapi ngga tega kalo YoonWon mesti dipisahkan. Nanti bisa-bisa aku di bully sama semua niteds lagi, huuaaaa kabuuurrr……

Mudah-mudahan ngga mengecewakan para readers semua yah…and selalu mengingatkan,,,jangan lupa RCL yah ^ ^ (WAJIB!!!)

 sampai ketemu di ffku selanjutnya…annyeong

Tinggalkan komentar

124 Komentar

  1. happy ending tapi blm bisa ngerti kenapa wonnpa bisa balik?

    Balas
  2. Hihihii akhirnya happy end juga deh

    Balas
  3. koq bisa balik sih siwon oppa…
    tapi ikut bahagia..

    Balas
  4. melani

     /  April 3, 2016

    Sedih bgt ceritanya sampe nangis waktu bacanya n aku pikir bakal sad ending tapi ternyata mereka kembali bersama tapi agak aneh gimana caranya siwon yg udah meninggal.bisa hidup lagi..

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: