[2S] True Love (Chapter 1)

545224_174782482706746_414572412_n

JUDUL:  TRUE LOVE (1/2S)

Type: 2S

Author: yoonwonfp

Genre: Romance

Rating: PG(15+)

Main cast: Choi Siwon, Im Yoona

Disclaimer:

Hi! Nited! I’m back again? Adakah yg nunggu karyaku lagi? (Moga2 ada^^..)

Nah.. Kali ini aku membawa OS.. Saolnya yg secret lg ngestuck>.<…

Aku harap kalian suka ya… Ide cerita ini muncul tiba-tiba n murni pemikiranku sendiri… N thx y buat admin… I’m sorry kalo ada typo^^.. Soalnya aku males edit lagi…. N the last is, tolong comment ya..

Thx y buat admin^^…

Enjoy it!

 

“I never knew what love was until I met you, then when distance pulled us apart, I found out what true love is…”

 

Malam ini suasana kota Seoul yang biasanya begitu sibuk tampak sepi. Mobil-mobil dan motor-motor yang biasanya berseliweran di jalanan tampak berkurang. Tak banyak juga orang-orang yang berjalan di pinggir jalan. Dagangan yang biasanya tampak ramai di malam hari pun kini tak ada.

Langit Seoul berwarna begitu kelabu. Hujan yang turun semenjak pagi tak kunjung berhenti. Tetesan-tesan hujan yang begitu deras menyapu debu di jalanan Apgeujong-dong. Sebuah mobil BMW putih dengan pelan bergerak menepi di sisi jalanan yang sepi, tepat di seberang sebuah toko kecil yang ada pinggir jalan.

Sesosok yeoja yang semenjak tadi duduk di mobil, hanya diam dan melempar pandangannya ke seberang jalan. Ia menatap sebuah gereja tua yang bergaya eropa itu dengan sedih. Wajahnya yang tampak sembab tak juga membuatnya berhenti menangis. Sebenarnya ia sudah lelah, tapi sayangnya air mata yang tak ia inginkan ini tak juga kunjung berhenti mengeluarkan air matanya. Ia tak ingin menangis pria itu. Pria yang telah menyakitinya begitu dalam.

Ia berusaha untuk melupakan dan bangkit kembali selama berbulan-bulan. Namun, air matanya tumpah dengan mudahnya ketika ia harus melihat wajah tampan pria itu. Walau ia hanya melihatnya dari kejauhan. Tapi, hatinya yang mulai pulih terasa ditusuk begitu dalam, bahkan luka yang mungkin serasa telah merobek hatinya.

Bayangan pria itu ketika mengucapkan janji pernikahan di depan altar tadi pagi membuat hatinya hancur amat dalam. Mungkin jika pria itu mengucapkan kata-kata itu di depannya, ia akan tersenyum bahagia. Tapi, kenyataannya tidak. Pria itu mengucapkannya di hadapan wanita lain. Wanita yang tak ingin ia ketahui. Sekilas ia memandang wanita beruntung itu dari kejauhan. Ia bisa melihat senyuman penuh kebahagiaan dan kepuasan yang terpancar di wajah cantik wanita itu. Senyuman yang mungkin tak akan pernah menghiasi wajahnya lagi.

Menikah dengan Choi Siwon…

Itu adalah salah satu impian sederhana yang ia impikan. Impian untuk hidup bersama pria yang begitu ia cintai selamanya. Ia tak membutuhkan rumah yang mewah ataupun uang yang banyak untuk menggapai kebahagiaannya. Ia hanya ingin pria itu ada di sampingnya. Menemaninya sampai ia berhenti bernafas. Ia ingin membangun sebuah keluarga sederhana yang penuh dengan cinta dan tawa anak-anak mereka kelak. Hanya itu! Bukankah itu impian yang amat sederhana? Tapi kenapa ia tak bisa meraihnya.

Sejenak perasaan menyesal memenuhi hatinya. Seharusnya tadi ia tidak datang. Yah.. Seharusnya… Ia mengira selama berbula-bulan ia belajar melupakan untuk bangkit dari pria itu, ia sudah kuat. Ia mengira kalau ia sudah siap untuk sekedar melempar senyum pada pria itu. Namun, ia salah. Melihat pria tampan itu dari kejauhan sudah membuat seluruh tubuhnya bergetar hebat. Air matanya tumapah begitu saja saat ia mendengar janji pernikahan suci yang keluar dari mulut pria itu. Hatinya terasa tergores begitu dalam.

Dari kejauhan ia memandang gereja itu, gereja yang begitu penuh dengan kenangan dengan pria itu. Bayangan saat pria itu membisikkan kata-kata cinta di dalam gereja itu muncul di ingatannya.

“Yoona-ah, semenjak kecil aku mempunyai satu mimpi. Hanya satu..Aku ingin satu hari nanti aku menikah dengan wanita yang kucintai di gereja ini. Satu hari nanti aku dan dia akan mengucapkan kata ‘I DO’ dengannya di tempat ini..”

“Kenapa harus di gereja ini?””

“Karna inilah tempat di mana aku bertemu dengannya. Bertemu dengan yeoja yang membuatku ingin menghabiskan seluruh hidupku. Di tempat inilah pertama kalinya aku mendengar suaranya yang begitu lembut memanggilku, di tempat inlah pertama kalinya aku melihat kedua matanya yang indah mengeluarkan air mata, di tempat inlah aku melihat mulutnya yang manis tersenyum amat manis untukku, dan di tempat inilah aku merasakan getaran yang sebelumnya tak pernah kurasakan..”

“Wow… It’s so romantic. Who’s that lucky girl?”

“Yeoja bodoh yang aku cintai adalah seorang yang begitu sederhana. Ia hanya seorang yeoja yang tidak memiliki kelebihan apapun. Ia akan menangis ketika ia terjatuh, ia juga akan tertawa dengan kencangnya ketika ia menemukan sesuatu yang lucu. Ia juga akan marah dengan lucunya ketika ia sedang marah. Ia juga yeoja yang penakut ketika ia sendirian dalam kegelapan. Namun di sanalah yang membuatku jatuh cinta padanya. Ketika melihatnya terjatuh, aku ingin mengulurkan tanganku untuk membantunya berdiri tegak, ketika ia menangis aku ingin menghapus kedua air matanya dengan tanganku dan membuatnya tersenyum kembali, ketika melihatnya marah, aku ingin menengkannya dan membuatnya tenang. Ketika ia takut, aku ingin memeluknya dan memnemaninya.”

“AISH! Jangan membuatku penasaran Oppa.. Cepat siapa?”

“Kau yakin kau ingin tahu?”

“Neh.. Ayo katakan padaku..”

“Kau yakin tak akan menyesal?”

“Ani..”

“Yeoja yang sekarang duduk di sampingku adalah yeoja yang kucintai.”

“Maksudmu?”

“ I love you… Saranghae Im Yoona..”

Di tempat inilah pertama kalinya ia mendengar kata-kata cinta yang begitu manis terucap dari mulut namja yang amat dia cintai. 2 tahun lalu temapt inilah yang membuatnya bersatu dengan Siwon menjadi sepasang kekasih. Dan tetu saja ia berharap di masa depan ia juga akan dipersatukan menjadi suami istri di gereja ini. Gereja yang tampaknya begitu sederhana namun mengisi begitu banyak kenangan di hati mereka.

Namun, mimpi itu kini tak mungkin terjadi. Ia harus menguburnya dalam-dalam. Ia tak akan pernah mengucapkannya bersama Siwon di gereja ini. Suka tidak suka ia harus menerima kenyataan. Ia harus melupakan pria itu. Inilah terakhir kalinya ia akan melihat gereja ini dan inlah terakhir kalinya ia ingin menangis untuk pria itu. Ia tak ingin menangis lagi setelah itu. Ia harus melupakannya. Melupakan semuanya.

Perlahan, Yoona membuka pintu mobilnya dan turun dari mobilnya. Ia membiarkan lampu rem menyala merah. Ia membiarkan mesin mobilnya tetap menyala.  Hujan deras tak menghentikan langkahnya untuk menyeberangi jalan menuju gereja tua yang tadi dilihatnya. Walupun warna langit tampak buram, namun ia tetap melangkah maju. Ia membiarkan seluruh tubuhnya yang dibaluti gaun cantik berwarna merah dibasahi oleh air hujan. Rambutnya yang bergelombang sudah menjadi lurus oleh air hujan.

Ia maju dan membuka pintu gereja yang ada di hadapannya dengan gemetar. Ia takut.. Ia sangat takut untuk melihat kenangan yang begitu indah dalam ingatannya. Tapi, ia sudah bertekad..  Ia bertekad untuk mendatangi tempat ini terakhir kalinya dan mengubur semuanya. Yah, terakhir kali. Setelah itu ia tak ingin melihatnya lagi. Ia tak ingin mengingat senyuman laki-laki yang membuat jantungnya berdegup kencang untuk pertama kalinya di tempat ini. Ia tak ingin mengingat bagaimana laki-laki itu menyanyikan lagu kesukaannya di tempat ini, ia tak ingin mengingat ketika laki-laki itu menyatakan cintanya di tempat ini. Ia tak mau lagi mengingatnya. Ia ingin mengubur kenangan itu dalam-dalam di tempat ini. Tempat di mana semua cintanya bermula.

Bayangan Siwon yang dulu dengan tampannya tersenyum membuatnya tersenyum miris. Senyuman yang dulu selalu ia dapatkan dengan mudahnya. Senyuman yang sempat menghiasi hari-harinya. Senyuman yang selalu menenangkan hati dan jiwanya. Ia amat merindukan senyuamn itu.. Ia memejamkan kedua matanya rapat-rapat dan membiarkan senyuman pria itu masuk ke dalam memorinya . Ia mau mengingatnya sekali lagi. Sekalipun itu sakit.

“Tuhan.. Biarkan aku mengingatnya terkahir kalinya.. Setelah itu aku mau melupakan senyumannya..”

Ia berjalan lagi ke tempat duduk kayu di dekat altar. Ia tersenyum dengan miris saat membayangkan pertama kalinya pria itu menggenggam tangannya di sana. Saat pria itu membisikkan kata cinta di telingannya. Kata-kata yang terlalu indah untuk di ingat.

“Tuhan.. Tolong aku untuk melupakan sentuhannya.. Tolong aku untuk melupakan suaranya.. Aku tak mau mengingatnya lagi.. Aku tak mau..”

Yoona berjalan ke depan lagi di depan sebuah piano berwarna hitam. Ia menyentuh setiap tuts piano itu dengan gemetar. Ia ingat bagaimana dengan lembutnya pria itu memainkan sebuah lagu untuknya. Lagu yang paling ia sukai. Ia teringat suara merdunya yang membuatnya hanyut dalam pesona pria itu. Ia ingat saat pria itu menyentuh kedua tangannya dan mengajarnya untuk pertama kalinya memainkan sebuah lagu. Ia menangis lagi. Menangis hingga membasahi tuts-tus piano megah itu. Walaupun tangisannya berjatuhan dengan deras. Tapi ia tak mau menghapusnya. Ia membiarkan memori menyakitkan itu masuk lagi dalam hatinya.

“Untuk terakhir kalinya aku akan mengingat ini.. Yah.. This is the last time…”

Yoona membalikkan badannya. Dengan langkah gontai ia berjalan menuju pintu berwarna putih yang masih terbuka lebar. Sejenak,  dengan pandangan kabur, ia melihat sosok Siwon  yang tampan dengan balutan jas putihnya berdiri di sisi pintu. Tangan Siwon terulur untuk menggapai tangannya. Senyuman yang ia rindukan terpancar jelas di wajah Siwon.

“I love you.. Remember this.. I will always love you.. Till the end of my life… ”

Itulah bisikan lembut yang tadi ia dengar ketika ia bersalaman dengan pria itu. Kata-kata yang membuat emosinya tak bisa lagi ia tahan. Kata-kata yang membuatnya semakin sulit ia mengerti. Kenapa di saat pria itu menikah dengan wanita lain tapi pria itu membisikkan kata-kata yang begitu manis untuknya. Kata-kata yang justru semakin sakit untuknya. Ia tak mengerti. Sama sekali tidak. Kenapa Siwon melepaskannya jika ia memang mencintainya? Kenapa?

Dengan  keberanian, Yoona berdiri di sosok bayangan itu dan memandangnya miris, ia membiarkan bayangan pria itu melihatnya menangis dengan begitu derasnya. Ia tak peduli seluruh make upnya kini luntur. Ia hanya ingin meluapkan emosinya di depan bayangan seseorang yang membuatnya kacau seperti ini.

“Kalau kau mencintaiku kenapa kau meninggalkanku? Cepat jawab aku!!!!!!”

“Aku mohon jawab aku Choi Siwon! Cepat jawab aku!”

“Kenapa kau lebih memilih wanita itu dibanding aku? Kenapa?”

“Kau tahu aku masih mencintaimu.. Tapi kenapa kau melakukan ini padaku..”

Ia terus menggumamkan pertanyaan yang terdengar begitu miris. Ia berteriak begitu kecang dengan harapan bayangan Siwon yang ada di hadapannya akan memberikannya jawaban. Tapi nyatanya tidak. Dari 2 bulan lalu semenjak pria itu meninggalkannya tiba-tiba, hingga hari ini ia tak juga mendapatkan jawabannya. Yang ia tahu adalah kenyataannya, Siwon pada hari ini telah benar-benar telah meninggalkannya untuk wanita lain. Ia tak pernah lagi akan memiliki sosok Siwon.  Ia ingin memukul Siwon begitu keras karena sudah membuatnya seperti ini, tapi ia tidak bisa. Siwon di hadapannya hanyalah bayangan. Bayangan yang mulai memudar seiring dengan tangisannya.

“Siwon-ah, aku mohon jangan pernah muncul di hadapanmu lagi. Aku tak ingin melihat wajahmu, senyumanmu. Aku ingin melupakanmu.. Aku mohon jangan muncul dihadapanku lagi. Aku mohon padamu…”

Yoona berjalan dengan pelan melewati bayangan yang semakin memudar di hadapannya. Ia keluar dari pintu bercat putih itu dan menutupnya perlahan. Menutup semua kenangannya dengan Siwon. Semuanya. Ia tak ingin menyisakan apapun di hatinya. Tidak setitikpun.

“Selamat tinggal Choi Siwon…”

Dengan langkah gontai ia berjalan menuju mobil yang ada di seberang jalan. Hujan deras dan air mata yang mengalir membuat matanya buram. Pandangannya tampak kosong tanpa ada sisa apapun. Dalam pikirannya hanya satu Ia ingin melupakan semuanya. Ia tak mau melihat apapun terutama pria itu.

Ia tak menyadari bahwa sebuah mobil tengah melaju dengan kencangnya menerobos jalanan di tengah hujan yang amat deras. Ia sempat mendengar suara klakson mobil yang tak begitu jelas di telinga. Suara itu bercampur dengan hujan. Ia menolehkan badannya kea rah jalanan itu dan melihat sinar mobil yang berjalan ke arahnya. Klakson mobil yang bergema juga terdengar begitu keras di telinganya. Ia ingin berlari dan menjauh dari suara itu, namun tubuhnya terasa kaku. Pandangannya dan pikirannya yang kosong membuatnya terdiam dan berdiri di sana.

Dan, saat itulah semuanya menjadi gelap.

***

3 YEARS LATER

Matahari yang bersinar begitu terik disertai dengan langit biru menghiasi langit kota Seoul. Burung-burung yang berterbangan kesana kemari, pohon-pohon hijau, bunga-bunga bermacam warna tampak menghiasi musim semi tahun ini. Sejenak Siwon termenung dari balik kaca mobilnya. Musim semi telah datang lagi. Dan, itu artinya sudah 3 tahun ia terakhir kali bertemu dengan sosok Yoona. Saat terakhir kali ia membisikkan kata cinta di teliga wanita itu. Kata cinta yang tak akan pernah ia ucapkan di hadapan siapapun selain Yoona.

Ia menghentikan mobilnya sejenak dan membuka jendela mobilnya. Ia melempar pandangannya kearah dasbor mobilnya. Di sana terdapat sebuah file yang 2 tahun lalu ia tanda tangani. Sebuah file yang menandakan bahwa pernikahannya yang tak pernah ia inginkan itu telah berakhir. Pernikahan yang hanya di dasari oleh keinginan ayahnya yang kini telah tiada.

Ia menghela nafasnya sejenak. Sekilas bayangan pernikahan yang hancur menghampirinya lagi. Ia ingat bagaimana sifat kekanakan dan seenaknya wanita yang ia nikahi itu membuatnya jenuh dan marah. Tidak ada satu haripun tanpa pertengkaran. Ia berusaha menerima sosok wanita yang tak pernah ia inginkan itu sebagai istrinya, namun tidak bisa. Itu tidak akan pernah terjadi saat ia tahu bahwa wanita itu telah berselingkuh dengan pria lain. Di titik itulah ia memutuskan untuk mengakhiri semuanya. Ia benar-benar sudah lelah menghadapi semuanya.

Siwon menepi mobilnya di pinggir jalan dan membuka kaca mobilnya. Ia membiarkan angin siang hari ini menerpa wajah tampannya. Ia melempar pandangannya pada sebuah hamparan hijau yang ada di seberangnya. Dari kejauhan, Ia melihat anak-anak yang bermain dengan cerianya di sekeliling taman yang luas itu. Tanpa sadar, seulas senyuman yang menghilang darinya selama 3 tahun, terukir begitu tulus di wajahnya. Namun, bukan karena anak-anak itu. Tapi, karena ia melihat sebuah bangku kosong yang ada di dekat sebuah pohong yang rindang.

Bayangan Yoona ketika duduk di situ menunggu dirinya muncul dalam memorinya. Ketika wanita itu tersenyum dari kejauhan karena melihatnya datang. Ketika wanita itu marah dengan gemasnya karena ia datang terlambat. Ketika Yoona tertidur di pundaknya karena kelelahan. Ia merindukan semua itu. Sangat merindukannya.  Ia berharap dapat melihat sosok wanita itu. Namun, ia takut. Ketakutan melihat rupa wanita itu sekarang membuatnya takut. Ia takut menghadapi kenyataanya jikalau wanita yang dicintainya itu sudah bersama pria lain. Sudah 3 tahun ia berusaha melupakan semua tentang Yoona dengan pergi ke Amerika, namun ia tak kunjung bisa melepasnya dari pikiran dan hatinya.

Bertahun-tahun ia mengenal sosok Yoona sebagai sahabat yang ia sayangi, dan 2 tahun lamanya ia menjalin hubungannya dengan Yoona membuat seluruh hatinya sudah terpaut oleh wanita itu. Berusaha sekeras apapun ia tak akan sanggup melupakannya. Ia tak akan sanggup melepaskan Yoona dalam hidupnya. Semenjak dulu baginya Yoona lebih dari seorang adik kecilnya, ia bukan hanya sekedar sahabat baiknya atau yeojachingungya. Tapi, baginya Yoona lebih dari senua itu. Baginya Yoona dalah hidupnya. Yoona adalah segalanya untuknya.

Dering ponsel yang ada di kantong jas hitamnya membuyarkan lamunannya. Ia memasangkan earphonenya ke telinganya, “Yoboseyo?”

“Siwon-ah.. Kau akan datang kan ke acara malam nanti?”Tanya sahabatnya, Tiffany di ujung sana.

“Tentu saja..  Aku akan datang.. Wae?”

“Kau mau kujemput?”

“Gwenchanna.. Aku membawa mobil. Kita bertemu di sana saja..”

“Kau yakin akan pergi sendiri?”Nada suara Tiffany terdengar ragu.

Siwon tertawa kecil, “Neh… Kkokjonghajimma..”

“Arra… Arra.. Don’t be late…”

***

Siwon sudah tiba di acara pertunangan sahabat baiknya, Donghae. Ruangan tamu yang mewah itu sudah ramai. Musik sudah mengalun menandakan bahwa acara itu sudah dimulai. Awalnya Siwon merasa tidak nyaman, namun setelah bertemu dengan beberapa sahabatnya yang ia kenal ia mulai mengobrol untuk mengisi rasa bosannya. Yah, setidaknya acara ini bisa menghiburnya dan membuantnya merasa santai sejenak.

Setelah mengobrol dengn teman-temannya, Siwon memisahkan diri untuk mengambil segelas minuman untuk membasahi tenggorokannya. Ia berjalan ke sisi meja prasmanan dan mengambil segelas sampanye. Ia menyesap minumannya dengan pelan dan melempar pandangannya ke ruang tamu yang menjadi pusat acara itu. Ia menatap orang-orang terlihat gembira, ada yang tertawa, tersenyum, dan mengobrol.

Ia menoleh ketika seorang wanita cantik menarik lengan jas hitamnya. Wanita yang bernama Tiffany ini tampak cantik dengan rambut panjang sebahunya yang tergerai indah. Gaun berwarna biru tua yang dikenakan Tiffany membuatnya tampak anggun.

Tiffany, Siwon, dan Donghae sudah berteman baik semenjak mereka di Amerika. Mereka bertiga sama-sama mengambil studi lanjutan kedokteran di Yale University.  Bagi Siwon, Tiffany adalah sosok wanita yang sempurna. Ia mempunyai kepribadian yang baik, pandai, dan juga penampilan yang sangat menarik. Tiffany memiliki kepribadian yang sangat dewasa. Kepribadiannya yang terbuka membuat Siwon dan dia menjadi sahabat baik.

“Oppa.. Ada yang ingin aku bicarakan.”

“Waeyo?”

“Aku tidak bisa berbicara disini.”

Siwon mengikuti langkah Tiffany yang membawanya menuju taman belakang, namun matanya masih menjelajahi ruangan ini. Ia menoleh ke kanan dan kiri. Sekilas tak ada yang menarik perhatiannya. Namun, ketika ia  memutar kepalanya ke belakang  dan menoleh ke arah pintu depan, saat itulah pandangannya terpaku.

Ia terpaku pada seorang wanita yang baru saja memasuki ruangan. Wanita itu memakai gaun putih  sebatas lutut, rambut coklatnya yang bergelombang dibiarkan tergerai indah. Senyuman manis yang terukir di mulut wanita itu membutnya tak berkedip. Senyuman yang tak asing baginya. Walupun senyuman itu terkessan dingin, namun senyuman itu membuatnya terpanah. Mata wanita yang tertutup oleh kacamata hitam itu membuatnya penasaran.

Aneh sekali. Ia mereasa pernah melihat wanita yang tengah berjalan dengan tongkat itu. Namun, otaknay tak juga mengenali sosok  itu. Ia mengamati dari kejauhan, mulai dari kepala hingga kaki wanita itu. Sekilas, ia memang tidak asing dengan rupa wanita cantik itu. Namun, ia juga yakin bahwa ia tak mengenal wanita itu, karena selama ini ia tak pernah mengenal dengan wanita buta manapun. Tapi  kenapa hatinya berkata sebaliknya? Kenapa hatinya seakan menyuruhnya untuk menghampiri wanita itu?

Ia membalikkan kepalanya lagi dan berlari kecil mengejar Tiffany yang telah berjalan menjauh darinnya.

***

Sesampainya mereka di taman belakang, Tiffany dan Siwon duduk di sebuah bangku panjang yang kosong. Mereka berdua memandangi langit yang amat gelap, tak ada bintang-bintang yang biasanya menghiasi langit malam ini. Sepertinya hujan akan turun sebentar lagi.

“Apa yang ingin kau bicarakan?”Siwon membuka suaranya dan memecahkan keheningan malam ini.

Sesaat tidak terdengar jawaban, lalu Tiffany menghembuskan nafasnya dengan berat dan menoleh kea rah Siwon, “Aku dan Nickhun… Kami sudah putus…”

“Putus?”Siwon terkejut. Setahu Siwon sudah 3 tahun Tiffany dan Nickhun berpacaran, bahkan setahunya mereka berdua sebentar lagi akan bertunangan.

Tiffany mengangguk pelan,”Neh.. Kami sudah putus…”

“Waeyo?”

“Ia tak mengatakannya… Aku rasa dia sudah tidak mencintaiku lagi…”Gumam Tiffany sambil tersenyum miris.

“Semudah itu kah kalian mengakhirinya?”Tanyanya.

Tiffany mengangkat kedua bahunya, “Molla…”Lalu ia tersenyum miris, “Tapi bukankah itu lebih baik. Setidaknya kami belum bertunangan. Lebih baik ia menyadarinya sekarang dari pada terlambat.. Bukankah begitu?”

“Kau yakin ia tak mencintaimu?”

Tiffany kembali mengangguk, “Neh.. Ia akan pergi ke Thailand tengah malam nanti.. Dan, aku rasa itu sudah membuktikan bahwa ia tak mencintaiku bukan?”

Siwon terdiam sejenak dan melempar pandangannya kea rah langit yang tampak gelap, “Pabo… Kau harus membuktikannya dulu kalau ia tak mencintaimu.”

“Maksudmu apa?”

Siwon tersenyum lalu mengusap kepala Tiffany dengan sayang, “Nae dongsaeng, kau harus bertanya padanya secara langsung. Jangan sampai kau yang menyesal karena tak pernah tahu jawaban yang sebenarnya dari mulutnya. …”

“Lalu aku harus bagaimana?”

Siwon megangkat bahunya ringan, “Kalau kau mau membuktikannya temui dia, jangan sampai kau menyesal karena tak pernah mengetahui alasannya…”

Tiffany tersenyum mendengar kata-kata Siwon. Bagi Tiffany, Siwon memang sahabta terbaiknya. Ia bahkan sudah menganggap Siwon sebagai Oppanya sendiri. Ia bangun dari bangkunya dan menepuk bahu Siwon, “Gomawo Oppa..”Ia tersenyum manis.

Baru saja ia hendak melangkah maju, ia menghentikan langkahnya lalu membalikkan badannya pada Siwon yang masih duduk, “Geundae, bagaimana kalau ternyata ia memang tidak mencintaiku lagi?”Tanyanya ragu.

“Tenang saja, Bahuku selalu tersedia untukmu..”Siwon tersenyum. Dan Siwon memang bersungguh-sungguh dengan ucapannya.

Tiffany menarik nafas dalam-dalam. Lalu ia melirik jam tangan emas yang ada di tangan kirinya, “30 minutes…”Ia tak boleh terlambat. Dengan secepat mungkin ia berlari. Ia tidak begitu memperhatikan sekelilingny. Ia hanya memusatkan pikirannya pada Nickhun, ia tak mau terlambat.

Dengan kasar Tiffany membuka pintu yang membatasi taman dengan rumah mewah itu, sampai membuat seorang wanita cantik jatuh. Karena terburu-buru ia tak menyadari bahwa wanita itu buta. Ia hanya sempat mengucapkan kata maaf sekilas lalu berlari lagi menuju Airport sebelum terlambat.

***

Gelap. Hanya itu yang dilihat Yoona saat ia membuka kedua matanya. Tidak ada lagi bunga-bunga bermekaran ataupun pohon-pohon hijau yang bisa ia lihat. Tidak ada lagi burung-burung yang berterbangan dengan aktifnya di musim semi yang bisa ia pandangi di atas langit. Tidak ada lagi, satu objek pun yang bisa ia lihat. Ia bahkan tidak melihat atau bahkan dapat sekedar merasakan bayangan atau cahaya apapun yang masuk ke dalam retina matanya.

Ini memang bukan pertama kalinya ia merasakan seperti gelap seperti ini. Namun, terkadang ia berharap ia hanya bermimpi. Ia seringkali menutup kedua matanya rapat-rapat dan berdoa dalam hatinya dengan sungguh-sungguh agar ketakutan terbesarnya tidak terbukti. Ia berharap setelah ia membuka matanya kembali semuanya kembali seperti biasa. Ia akan melihat cahaya-cahaya di luar sana yang amat dirindukannya.Dan, kegelapan tadi hanyalah mimpi bunga tidurnya.

Namun itu tidak akan pernah terjadi. Cahaya yang hilang di kedua matanya yang cantik tak akan pernah kembali lagi. Sama seperti cahaya di hatinya. Hatinya kini sudah dingin seperti es. Tidak ada lagi kehangatan yang mengisi hidupnya. Baginya hatinya sekarang sudah mati.

Sudah 3 tahun lamanya ia kehilangan cahaya dari matanya. Sudah 3 tahun lamanya ia kehilangan senyuman dari bibir mungilnya. Dan, tak terasa sudah 3 tahun lamanya ia melewati musim semi yang begitu ia sukai dengan kegelapan. Tak ada keindahan musim kesukaannya yang bisa ia lihat. Semuanya terasa begitu gelap. Mulai dari pandangannya hingga hatinya yang amat gelap.

Ia hanya duduk dan termenung sejenak. Tanpa sadar ia tersenyum dengan miris, 3 tahun… Yah.. Sudah 3 tahun sosok Siwon meninggalkannya  dan memberikannya luka yang amat dalam. Tak terasa ia sudah berhasil melewati 3 tahun tanpa sosok Siwon di sampingnya.

Seorang wanita berumur sekitar 40-an yang duduk di sampingnya membelai pundak Yoona dengan lembut, “Yoona-ah.. Kita sudah sampai..”

Eommanya membuka pintu mobilnya dan melangkah turun dari mobil terlebih dahulu. Lalu ia menarik tangan Yoona , menuntun Yoona untuk turun dari mobilnya.

Udara Seoul yang sejuk menerbangkan rambut  coklat kehitaman Yoona dengan indah. Kacamata hitam yang terpasang di kedua matanya membuatnya terlihat seperti seorang wanita yang amat modis. Kulitnya yang bersih dan putih, bibirnya yang mungil, hidungnya yang mancung, gaun anggun berawarna putih yang terpasang di tubuh rampingnya membuatnya tampak anggun. Kecantikannya yang tampak sempurna membuat  mata banyak orang terpusat padanya. Tak banyak orang yang menyadari bahwa ia tak sesempura pikiran banyak orang.

Yoona menahan tangan Eommanya yang tengah menuntunnya. “Eomma.. Tolong tongkatku..”

Eommanya berpaling, dan mengambil tongkat yang masih tertinggal di dalam mobil. Lali ia memberikannya pada Yoona, “Ige… Kau harus berhati-hati ya..”Ujar Eommanya. Ia mengusap rambut Yoona penuh kasih.

“Neh.. Gomawo..”Yoona mengangguk sesaat dan menggenggam tongkat itu dengan erat.

“Eomma pulang saja..”Yoona berkata dengan pelan.

Eommanya jelas menolak,ia tak akan membiarkan anaknya yang buta berjalan seorang diri,“Ani.. Eomma akan menemanimu..”

Yoona menghembuskan nafasnya kecewa, “Eomma.. Aku mohon.. Aku akan baik-baik saja..Lagiula ada Jessica dan Donghae Oppa…”

“Geundae…”Yoona tetap menolak, ia tak ingin dianggap gadis yang manja,“Eomma.. Aku bukan anak kecil… Aku mohon biarkan aku pergi sendiri…”

Eommanya terdiam sejenak. Ia menatap Yoona dengan sedih. Andaikan saja anak tunggalnya itu tidak buta mungkin ia akan membiarkannya pergi sendiri. Andaikan 3 tahun lalu ia tak membiarkan anaknya pergi ke pesta itu. Andaikan… Yah, jikalau anaknya tak pergi ke pesta itu mungkin semua akan baik-baik saja. Ia tak mungkin kehilangan penglihatannya.

Ia tahu Yoona adalah anak yang keras kepala dan mandiri. Sekeras apapun ia memaksa, ia tak akan menang dari Yoona. Ia mendesah pasrah, “Arra.. Geundae kau harus tetap berhati-hati. HPmu harus selalu aktif.. Arra?”

“Neh… Arrasso.. Eomma tenang saja…”Ia mengangguk dan tersenyum kecil. Senyuman untuk menenangkan ibunya.

Setelah meminta izin dari Eommanya, ia kembali menggenggam tongkat itu dengan erat. Ia menggoyangkan tongkat itu ke lantai untuk menyentuh segala macam benda yang berada di depan langkahnya. Perlahan tapi pasti ia melangkah masuk menuju rumah bergaya Eropa yang besar itu.

***

Sambil meraba-raba Yoona menekan bel yang terselip di balik pagar. Tak perlu menunggu lama, pintu di hadapannya terbuka. Seorang wanita cantik berambut coklat langsung berlari keluar dengan penuh senyuman yang hangat.

“Yoona!”Yoona mengenal baik suara sahabat baiknya itu. Belum sempat ia melangkah,  Jessica sudah  memeluk tubuh Yoona  erat sambil tersenyum lebar.

“Sica!”Ia tersenyum senang. Sayangnya ia tak bisa membalas pelukan hangat yang sahabatnya berikan. Suka-tidak suka ia harus tetap memegang tongkat yang kini menjadi panutannya untuk berjalan.

Jessica dan Yoona sudah bersahabat semenjak 3 tahun yang lalu. Semenjak ia kehilangan kedua cahaya dari matanya. Pada awalnya, Yoona hanya mengenal Donghae karena Donghae adalah dokter yang dipercayakan Eommanya untuk merawat Yoona. Karena Donghae dan Yoona berteman, maka Donghae juga mengenalkan Jessica pada Yoona.Dan, siapa sangka karakter Yoona dan Jessica yang sama-sama tak banyak bicara menyatukan mereka sebagai sahabat baik.  Bagi Yoona, Donghae dan Jessica sudah bagaikan saudaranya sendiri. Mereka berdualah yang selalu membantu Yoona untuk bangkit dari keterpurukannya.

“Gomawo sudah mau datang.. Kajja kita masuk ke dalam.Acaranya sudah dimulai..”

Tangan Yoona menggenggam tangan Jessica dengan erat. Namun sebelah tangannya juga tak berhenti memegang tongkatnya dan menggerakkannya ke lantai. Perlahan, Jessica dan Yoona mulai melangkah masuk ke dalam pintu rumah berwarna putih yang ada di depan mereka.

Suasana ramai menghampiri Yoona begitu kedua kakinya menginjak lantai keramik rumah itu. Badannya terasa begitu kaku dalam seketika. Jantungnya berdetak  begitu kencang karena takut. Ia benar-benar takut ruangan yang dipenuhi orang-orang. Dulu mungkin ia suka suasana seperti ini, namun sekarang tidak. Ia membenci suasana ini. Suasana yang dipenuhi dengan orang-orang yang akan memandangnya penuh iba dan keanehan selalu menghantuinya. Walaupun ia tidak bisa melihat pandangan mereka. Namun, ia bisa merasakan pandangan itu. Suara bisikan orang-orang yang membicarakan tentangnya pun bisa ia dengarkan walaupun tak begitu jelas. Dan, jelas ia tak menyukainya.

Jessica merangkul Yoona untuk bergabung dengan sahabat-sahabatnya yang lain lalu Jessica pun kembali ke depan panggung bersama tunangannya, Donghae. Saat Yoona berdiri seorang diri, perasaan menyesal menghampirinya. Seharusnya ia tidak datang ke sini. Ke acara pertunangan kedua sahabatnya ini. Tapi ia sudah terlanjur kemari. Ia sudah ada di sisni dan sebaiknya ia tak mengecewakan sahabtanya hanya untuk merengek mengantarkannya kembali pulang ke rumah. Apalagi sahabatnya sendiri adalah tuan rumah acara ini. Yoona pun berusaha mengulaskan senyuman manisnya pada bibir mungilnya. Ia berusaha tersenyum walaupun sulit.

Setelah merasa bosan dengan keramaian di ruangan tamu, Yoona pun memutuskan untuk berjalan keluar dari ruang tamu itu menuju taman kecil yang ada di belakang rumah sahabatnya. Semenjak ia dan Jessica bersahabat, ia memang sering mengunjungi rumah sahabat baikny a ini. Dan, tempat yang paling ia suka adalah taman kecil sahabatnnya itu. Karena itulah ia sudah hafal letak taman itu tanpa perlu dibantu oleh siapapun.

Yoona mulai menggoyangkan tongkanya menuju pintu belakang. Saat Yoona hendak membuka pintu itu dengan hati-hati, seorang  wanita dengan tiba-tiba saja membuka pintu itu dengan kasar. Yoona yang tak bisa melihat gerakan wanita dan pintu itu, langsung terjatuh.

“OUCH…”Yoona merintih.

Wanita yang membuat Yoona terjatuh itu terkejut,namun ia tak mempedulikan Yoona. Ia hanya memandang Yoona dengan perasaan bersalah lalu meminta maaf sekilas dan berlari meninggalkan Yoona. Sepertinya ia tak menyadari jika Yoona bukanlah wanita normal seperti wanita lainnya yang bisa berdiri kembali dengan mudah.

Yoona tak menyadari jika wanita itu sudah beranjak pergi. Yang ia tahu saat ini ia terjatuh dan tongkatnya hilang. Tanngannya sibuk meraba-raba sekitarnya, mencari-cari tongkat yang terlepas dari genggamannya. Ia takut. Matanya yang tertutup kacamata berwarna hitam mulai meneteskan air mata.

“Tongkatku.. Aku butuh tongkatku…”Gumamnya sambil menangis.

***

3 Tahun yang lalu

“Siwon, kau harus menikan dengan Ji Yeon. Appa tidak mau dengar alasan apapun!”

“Geundae.. Appa tahukan aku dan Yoona telah bertunangan?”

“Appa tahu. Geundae, kau juga tahu kan kalau saat ini perusahaan sedang krisis. Apa kau mau perusahaan yang ayah bangun selama ini hancur hanya karena Yoona?”

“Tapi Appa.. Aku..”

“Choi Siwon. Kau adalah anak tunggal keluarga Choi. Siapa lagi yang Appa bisa harapkan selain kamu. Selama ini Appa tidak pernah memaksakan kehendak Appa. Bahkan Appa membiarkan kamu menjadi dokter. Apa kau tak bisa melakukan ini untuk Appa sekali ini?”

“Geundae..”

“Siwon-ah. Appa tahu kau tidak mencintai Ji Yeon, tapi Ji Yeon menyukaimu. Belajarlah mencintainya.. Appa yakin kau bisa.. Appa mohon…”

“Geundae.. Aku tidak mungkin melepaskan Yoona…”

“Lalu kau lebih memilih Appa dan Eomma mati kelaparan?’
“Tapi..”

“Siwon-ah.. Pilihan ada di tanganmu..”

Siwon memandang punggung Tiffany yang mulai menjauh darinya dengan senyuman yang mulai memudar dibibirnya. Sejenak ia termenung, andaikan 3 tahun lalu ia tidak meninggalkan Yoona, andaikan 3 tahun lalu ia tidak menuruti kemauan orang tuanya… Mungkin semuanya berbeda. Mungkin ia masih akan berada di sisi gadis itu. Mungkin mereka saat ini sudah menikah dan hidup bahagia. Mungkin sekarang mereka sudah akan memiliki anak-anak yang lucu yang menemani hari-hari mereka berdua.. Yah.. Andaikan…Andaikan saat itu ia diberi kesempatan seperti Tiffany untuk memilih … Andaikan…

Rintik-rintik hujan tanpa terasa mulai berjatuhan di wajahnya. Ia pun tersadar dan bangkit dari kursinya. Ia berjalan menuju pintu yang telah terbuka semenjak tadi. Baru saja ia hendak menginjakkan kedua kakiknya di keramik ruangan itu ia mendengar suara tangisan dan gumaman seorang wanita yang terdengar amat pilu.

“Aku takut… Tolong.. Siapapun…”

Ia melihat ke dalam ruangan itu dan menemukan sebuah tongkat hitam yang berada tak jauh darinya. Tapi, ia tak menemukan siapapun di ruangan itu. Ia menjadi khawatir. Ia membalikkan badannya mencoba mencari asal suara itu. Sekilas ia tak melihat apapun dalam kegelapan.

Ia mengambil HPnya dan menyalakan lampu untuk menerangi sekeliling taman yang gelap itu. Ia membiarkan air hujan yang mulai deras membasahi pakaiannya. Suara wanita itu terdengar semakin kecil di telingannya membuatnya semakin khawatir.

Siwon berjalan dengan pelan dan mencoba menajamkan penglihatannya dan telinganya untuk mencari rintihan yang terdengar semakin kecil di telingannya. Ia melihat sebuah pohon berwarna hijau yang berada tak jauh darinya, ia mengarahkan lampu yang terdapat di HPnya pada pohon itu. Dan, di sanalah ia menemukan sumber rintihan yang terdengar begitu pilu di telingannya.

Ia berjalan mendekat dan menemukan seorang wanita yang sedang menundukkan wajahnya dalam kedua lututnya yang ia tekuk. Ia bisa melihat bagaimana bergetar hebatnya tubuh wanita itu. Entah karena takut atau kedinginan. Ia tak bisa menebaknya.

Ia berjongkok di hadapan wanita ini dan membelai pundaknya pelan, “Agassi…Agassi…”Panggilnya.

Namun , tak ada satu orangpun yang merespon. Ia hanya mendengarkan gumaman ketakutan wanita ini secara terus-menerus, “Tolong… Siapapun tolong aku…”

Sebegai seorang Dokter, Siwon menyadari ketakutan yang ada di tubuh wanita ini. Ia mencoba menenangkan wanita ini. Tapi, tidak berhasil. Rintihan wanita ini memang terdengar berkurang seiring waktu. Namun, lama-lama suara itu menghilang dari pendengaran Siwon. Dan, saat itulah Siwon menyadari bahwa wanita ini sudah kehilangan kesadaran.

***

“Siwon-ah, tolong jaga Yoona baik-baik. Aku akan menghubungi Eomma dan Appanya untuk menyusul ke sana. Aku dan Jessica juga akan ke sana secepatnya. Gomawo.. Aku percaya padamu….”

Kata-kata yang terucap oleh sahabatnya membuat seluruh tubuh Siwon terasa kaku. Wanita ini tidak mungkin Yoona. Tidak mungkin! Dengan buru-buru ia membawa tubuh Yoona menuju mobilnya dan mengendarainya dengan kecepatan tinggi. Sepanjang perjalanan otaknya masih saja tak ingin memercayai bahwa wanita itu Yoona. Namun, hatinya berkata lain. Hatinya seakan terus berdoa agar Yoona baik-baik saja.

Tubuhnya terjatuh lemas begitu saja saat ia mengenali sosok wanita yang baru saja ia tolong. Ketika dokter melepaskan kacamata hitam milik Yoona, seluruh tubuhnya terasa kaku. Melihat sosok Yoona yang tak sadarkan diri membuatnya takut. Rasanya ia ingin mengguncang tubuh Yoona untuk membangunkannya, namun tidak mungkin.

“Choi Siwon-sshi..”

Siwon langsung mengangkat wajahnya dan berdiri begitu ia melihat seorang dokter keluar dari kamar rawat Yoona. Dokter bernama Park Jungsu membuka maskernya dan membaca catatannya. Ia menatap Siwon dengan pandangan yang amat khawatir, “Bisa kita bicara di ruangan saya?”

Siwon mengangguk, “Neh..”Lalu ia melangkah menuju ruangan Park Uisa-nim.

“Siwon-sshi, apa tadi Yoona terkena hujan?”Tanya Park Uisa-nim.

Siwon mengangguk, “Neh.. Waeyo?”

“Pantas saja..”Gumam Park Uisa-nim, “Menurut data psikisnya hingga saat ini rasa traumanya akan hujan belum hilang.. Pantas saja ia sampai tak sadarkan diri. Kesehatannya saat ini menurun, jadi saya sarankan agar diadirawat di rumah sakit dulu selama beberapa hari.”Jelas Park Uisa-nim.

“Neh..”Siwon mengangguk mengerti, “Geundae, apa yang membuatnya trauma dengan hujan?”Tanyanya penasaran.

“Molla.. Yang kami tahu ia menjadi buta karena kecelakaan pada saat hujan.”

“Mwo?  Buta?”

“Neh.. Ia buta…

“Berarti wanita tadi…itu Yoona…”

Siwon  merasa sangat sakit dalam sekejap.  Ia tidak bisa membayangkan wanita kesayangannya itu menjadi buta. Apa yang sebenarnya telah terjadi? Ia tidak mengerti. Apakah dalam 3 tahun segalanya benar-benar berubah? Tapi kenapa harus Yoona? Kenapa bukan dirinya? Kenapa?

***

Gelap. Kegelapan itu kembali lagi. Yoona baru saja membuka matanya. Ia mengerjapkan kedua matanya untuk mendapatkan cahaya. Namun sayang, cahaya itu tidak akan kembali lagi. Tidak akan pernah. Ia mendesah kecewa. Ia mencoba mencium bau ruangan yang taka sing ini dengan indera penciumannya. Bau obat-obatan yang khas sudah membuatnya dapat menebak rumah keduanya ini, rumah sakit.

Ia meraba-raba sekitarnya untuk duduk di ranjang rumah sakit ini.  Rupanya gerakannya membuat ranjang ini berkeriut sedikit. Suara itu membangunkan Siwon yang sedang tidur di sisi ranjang itu.

“Yoona-ah…”Siwon terbangun dan menyapa Yoona yang masih meraba-raba sekitar ranjangnya. Wajah Siwon masih terlihat mengantuk.

Yoona terdiam. Aktivitasnya terhenti dalam seketika. Tubuhnya menjadi kaku. Suara itu…. Suara yang tak asing di telinganya. Suara lembut seseorang yang  amat ia rindukan. Suara yang membuat jantungnya berdegup begitu kencang.

“Yoona-ah.. Bagaimana tidurmu?”

Suara itu menyapa kedua telinganya lagi. Suara yang tak ia dengar selama 3 tahun. Suara yang membuatnya jatuh cinta itu kembali lagi. Suara itu terdengar begitu nyata dan dekat di telinganya. Tapi.. Bagaimana mungkin? Tidak.. Pria itu tidak mungkin kembali.. Siwon tidak mungkin kembali…. Ia menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Ia tak mau memercayai kata hatinya sendiri.

“Kau mau sesuatu?”

Suara itu bertanya lagi dengan lembut. Ia tak kunjung mau menjawabnya. Suara itu merasuki hatinya begitu saja. Tidak! Itu pasti bukan suara Siwon!  Siwon tidak mungkin kembali dan datang padanya!

“Siapa kau?”

Yoona bertanya dengan dingin. Ia tak ingin membalas suara yang menyapanya dengan kelembutan, seakan pria itu adalah pria asing yang tak ia kenal. Ia tak peduli jika pria di hadapannya itu bingung. Saat ini ia hanya mau memastikan jika pria itu bukan Siwon. Ia hanya mau memastikan jika pria yang menyapanya itu hanyalah seorang asing atau seorang dokter yang tak pernah ia kenal sebelumnya.

“Naega… Choi Siwon…Sudah lama tak bertemu.”

Siwon tersenyum dengan miris di hadapan Yoona. Walaupun sakit. Ia mengulurkan tangan dengan suara sebiasa mungkin. Padahal  wajahnya tegang dan pucat, hamper seputih kertas. Tapi ia tak peduli. Ia sudah berjanji pada dirinya bahwa ia akan menyapa Yoona seperti biasa. Ia hanya ingin mereka bertemu sebagai sahabat lama yang bertemu kembali.

Siwon menatap Yoona, kemudian melihat tangannya yang masih terulur tanpa menerima balasan dari Yoona, Siwon tersadar. Yoona tak mungkin menyambut uluran tangannya karena Yoona tak bisa melihat uluran tangan itu. Jangankan tangannya, wajahnya, senyuman miris yang terlukis di wajah tampannya pun tak ia lihat.

Siwon menurunkan tangannya dengan pelan. Hatinya terasa tercabik-cabik. Mata Yoona yang indah dan terlihat normal tak membuatnya tampak seperti buta. Mata Yoona tetap terlihat indah di matanya, bahkan baginya mata itu adalah mata terindah yang pernah ia lihat. Ia tak bisa memercayai kenyataan bahwa mata kesukaannya itu sudah tak lagi memiliki cahaya.

“Kau? Ani… Kau bukan Choi Siwon…Kau bukan!”

Yoona bergumam dengan pelan. Matanya yang semenjak tadi panas mulai mengeluarkan air mata. Ia menggelengkan kepalanya kuat-kuat dan tetap berusaha mengelak dari kenyataan itu. Kenyataan bahwa pria yang ada di hadapannya adalah Siwon, pria yang masih ia rindukan.

“Kau pasti bukan Choi Siwon! Katakan padaku kau bukan! Cepat katakan padaku!”

Gumaman yang terlontar dari mulut Yoona membuat hatinya semakin sakit. Dari tempatnya duduk, Siwon memandang Yoona yang tengah menangis itu dengan sedih. Yoona yang dulunya selalu tersenyum, kini menangis dengan pilu. Ia ingin memeluk Yoona seperti dulu dan menenangkannya namun tidak bisa, dan tidak mungkin. Mereka bukanlah sepasang kekasih seperti 3 tahun yang lalu.

“Yoona-ah.. Mianhae… Naega Choi Siwon… Naega..”

Siwon membelai pundak Yoona dengan ragu. Ia ingin memeluknya namun tidak mungkin. Karena itu ia mengulurkan tangannya untuk menenangkan Yoona. Setidaknya ia berharap tangannya itu bisa menghentikan tangisan yang membasahi wajah cantik Yoona.

“Jangan sentuh aku! Pergi kau!”

Yoona menepis tangan itu dengan kasar. Ia tak ingin merasakan sentuhan itu. Sentuhan yang membuat semua tubuhnya menjadi dingin. Sentuhan yang begitu lembut yang ia rindukan. Sentuhan yang selalu menenangkan hatinya. Ia tak ingin merasakannya.. Ia tak mau…

“Yoona-ah..”Siwon berjalan mendekat dan duduk disisi ranjang Yoona.

Yoona terlihat panic. Ia bisa merasakan tubuh pria itu mendekat padanya. Walaupun ia buta, namun indera penciuman dan pendengarannya pberfungsi dengan tajam. Ia masih bisa mendengar dan mencium wangi tubuh pria itu semakin mendekat padanya. Yoona berusaha menjauh, “Don’t  move!”Desis Yoona, berusaha agar nadanya terdengar mengancam.

Ia meraba-raba sekitarnya mencari pertolongan. Ia merasakan tangannya menyentuh sebuah tombol. Entah tombol itu apa, tapi ia langsung menekannya berkali-kali dan berteriak kencang, “Someone help me… Please… Someone help me..”

Kepala Yoona berdenyut menyakitkan. Mendengar dan merasakan kehadiran Siwon membuatnya semakin takut. Ia mulai meraba-raba sekitarnya lagi dan merasakan sebuah selang yang terpasang di tangannya. Dengan kasar ia menggenggam slang infus dan hendak menariknya.

“Don’t do that.. I beg you! Aku tidak akan mendekat….”Siwon bergerak mundur, namun matanya tetap memandang selang infuse yang masih ada dalam tangan Yoona dengan panik. Ia ingin mencegahnya namun semakin ia mendekat maka Yoona akan semakin nekat untuk mencabutnya.

Namun semuanya terlambat, slang itu sudah tercabut dengan kasar dari tangan Yoona. Darah mengalir begitu saja dari tangan Yoona. Tak lama kemudian, seorang dokter dan perawat masuk ke dalam ruangan itu. Mereka berdua langsung berlari dan memegangi tubuh Yoona yang sedang merintih kesakitan.Tak lama kemudian Siwon melihat Yoona memejamkan keduanya kembali di dekapan dokter dan perawat yang sedang berusaha menghentikan darah yang masih mengalir di kulit pucatnya.

Yoona membencinya…Wanita yang begitu dia cintai kini telah membencinya…

Kenyataan yang paling dia takutkan… Seumur hidupnya..

***

“Jadi.. Bagaimana?”Tanya Donghae dengan mulut yang masih penuh dengan makanan. Ia mengunyah sebentar, lalu melanjutkan, “Apa Kau mau menggantikanku?”

Siwon menghentikan makannya dan menatap Donghae,”Hm.. Aku mau saja menggantikanmu.. Geundae, bagaimana dengan pasien kesayanganmu itu? Apa dia mau digantikan olehku?”

“Aku yakin dia pasti mau digantikan olehmu.. Kau kan sudah menolongnya sekali…”Jelas Donghae dengan nada menyakinkan.

Siwon mengernyitkan keningnya,”Menolong? Apa aku pernah bertemu dengannya?”Tanya Siwon penasaran.

Donghae mengangguk, “Neh.. Dia Yoona, wanita yang beberapa hari lalu kau tolong di acaraku.”

“Mwo? Yoona?”

Donghae mengangguk mengiyakan lalu memajukan wajahnya pada Siwon,“Neh.. Dia adalah pasien kesayanganku. Maka itu aku tak mungkin memebrikannya pada dokter yang tidak ku kenal baik… Karena kau adalah teman baikku, jadi aku menyerahkannya padamu. Kau mau kan?”Tanyanya dengan penuh harap

Siwon hanya bisa terperangah mendengarkan setiap permintaan yang keluar dari mulut Donghae. Bagaimana mungkin ia mau merawat Yoona, jika wanita itu saja amat membencinya? Siwon benar-benar tidak tahu apa yang harus dia lakukan sekarang. Di satu sisi dia ingin merawat wanita yang begitu dia cintai. Tapi di satu sisi ia tahu Yoona tak akan mau bertemu dengannya, apalagi jika ia menjadi dookternya.

Kejadian beberapa hari lalu sudah membuatnya ketakutan. Jika ia takut karena dirinya sendiri mungkin itu biasa, tapi ketakutannya yang ia rasakan kali ini jauh melebihi ketakutan akan keselamatan dirinya. Ia sangat takut akan kejadian beberapa hari lalu ketika ia bertemu Yoona. Ia sangat takut membayangkan Yoona akan menyakitinya sendiri lagi. Melihat Yoona yang buta sudah membuat hatinya sakit, bagaimana mungkin dia akan tahan jika melihat Yoona menyakiti dirinya sendiri.

Siwon menghela nafasnya panjang,“Hae-ah.. Aku rasa aku tidak bisa…”Ujarnya dengan perasaan bersalah.

“Waeyo? Bukankah kau bilang setuju beberapa hari yang lalu?”

“Sebenarnya aku tidak masalah.. Geundae.. Aku tidak tahu kalau pasien yang kau maksud itu Yoona…”

“Wae? Bukankah bagus kalau Yoona? Kau kan sudah pernah menolongnyan sebelumnya.. Pasti hubungan kalian akan lebih baik…”

“Aku tahu. Hanya saja aku rasa lebih baik kalau dokter lain saja yang menanganinya.”

“Shirreo! Ayolah Siwon.. You are the best doctor I’ve ever know.. Come on… Anggap saja ini permintaan terakhir Jessica dan Aku.. Please.. I beg you..”

“Aku mengerti.. Geundae.. Aku..”

“Siwon-ah, aku mohon.. Aku  dan Jessica tidak akan bisa meninggalkan Korea dengan tenang jika bukan kau yang menangani Yoona.. Please..”

Siwon menyerah. Ia tahu Donghae dan Jessica sangat menyayangi Yoona. Ia tak akan membiarkan Yoona ditangani oleh dokter yang tak mereka kenal dengan baik. Sejujurnya ia ingin menceritakan hubungannya dengan Yoona, tapi Siwon rasa itu sudah masa lalu. Lagipula jika Yoona saja tak menceritakannya, untuk apa ia menceritakannya. Ia mengangguk,“Arraso.. Geundae, kalau sampai Yoona menolak…”

Donghae langsung menyela dengan senyuman lebar di bibirnya, “Tenanglah, dia tidak akan menolak… Believe me..”

Semoga saja apa yang kau katakan itu benar Hae…

TBC

GUYS, gimana? Aneh? Kepanjangan? Atau boring?

Maaf y klo alurnya kecepatan, soalnya aku emg lg malas bgt buat nulis. Idenya stuck… So, jdnya ya bgini.

Honestly, FF ini awalnya OS, cm berhubung jdnya panjg banget, akhirnya aku bagi jd 2… Jd ff ini sebnrny udh selesai… Aku Cuma mo liat respon kalian, kl bgs pasti lanjutannya aku cpt krmnya^^.. Tp kl ga memuaskan y ga jd aku kirim lanjutannya…

So, DON’T BE SIDERS… Please comment^^.. Thx n GBU

Pos Berikutnya
Tinggalkan komentar

198 Komentar

  1. Chika Choi

     /  Desember 2, 2013

    ksian yoongie,mdah2n yoona maafn wonppa dan mw nrima x lg.

    Balas
  2. seingat q dah pernah baca ff ini sebelumnya…pi ko coment q ilang yahhh…semoga part 2 yoona bisa ngetriin apa yg terjadi ma siwon dulu.

    Balas
  3. Semoga mereka bersatu lagi,ditunggu lanjutanx

    Balas
  4. Srie_Wonnie407

     /  Januari 23, 2014

    Sumpah !!! Sdih bgddd^^ Yoona knp smnderita itu ??

    Balas
  5. ayu dian pratiwi

     /  Februari 5, 2014

    Mudah2 han akhirnya happy ending

    Balas
  6. Riwoon

     /  Februari 14, 2014

    Yoonwon kumohon bersatulah…:) tpi yoona ksian jga lgi buta… Siwon psti bisa dptin yoona lgi…smoga mreka nyatu and pnsaran sma next-nya… #cintasejatiituyoonwon

    Balas
  7. ayo Siwon Oppa,,, harus berjuang mendapatkan cintanya kembali…. ya itung2 sbg permintaan maaf krna ninggalin Yoona…

    good story unnie… lanjutnya jgn lama2 ya….

    Balas
  8. I'm keysha

     /  Februari 26, 2014

    🙂 .. Sequel.y udh ada blm yah ini? Bagus ^^

    Balas
  9. yuli

     /  Maret 5, 2014

    awal yang menyedihkan, semoga berakhir denga keahagiaan im yoona.
    ditunggu cerita selanjutnya….

    Balas
  10. ini lanjutan nya kpn dishare ya thor???ud nunggu lama nie

    Balas
  11. Anah sanggy sonelf

     /  Mei 10, 2014

    Smoga mreka brstu lgi. Ksihn lihatny

    Balas
  12. Keren… kapan nih dilanjutin chapter 2 nya…. dan ff Secret nya mana chapter selanjutnya…. ditunggu nih chingu….

    Balas
  13. Dedewjasmin

     /  September 10, 2014

    Ssedih ceritanya.kasian bngt yoona knph sih siwon engga ngomong yg sebenarnya sm yoona?

    Balas
  14. ai juariah

     /  Oktober 13, 2014

    Kasihan bgt yoona,jd ksel m siwon udah tunangan m yoona msa kawin m wanita lain,pdhal ksih penjeladan m yoona dan ksih tahu permasalahannya pasti yoona bsa ngerti dan nggak kecelakaan dan trauma gtu.lanjut author….

    Balas
  15. Choi Han Ki

     /  Oktober 21, 2014

    Yaampun gk nyangka akibat dari kecelakaan 3 tahun lalu membuat yoona jadi buta…

    Balas
  16. Waaahh ceritanya sedih banget…. Yoona ditinggal siwon ditambah lg dia jd buta bener2 tragis.
    Semoga yoonwon bs bersama lg karena cinta itu masih tersimpan rapi dihati mereka
    Chap 2 nya mana?

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: