[FF] Noona, I Love You (Chapter 4)

1170694_173713366146991_907391274_n

Noona, I Love You Chapter IV by Uchie  ||  Cast : Im Yoona, Choi Siwon, Choi Hanjoon ( Oc ), Kim Yoojin, Moon Joowon ect  ||  Genre : Family, Romance, Comedy  ||  Type : Chapter  ||  Rate : PG  ||  Disclaimer : this story pure from my mind, don’t copying, don’t bashing and please leave your opinion for the better next chapter on this story.

 

Special Cover Art by @Illah_Iluth

 

Sorry for typo(s)

 

— Noona, I Love You chapter IV —

 

OoO

 

“Kau tidak bermaksud memanas-manasiku kan dengan menyuruhku kerumahmu?” Yoojin yang sedang memberi sentuhan akhir pada riasan wajahnya itu menghentikan aktifitasnya dan menatap heran sepupu sekaligus sahabatnya dari pantulan cermin yang ada didepannya. Ya, Joowon memang mengajaknya untuk makan malam saat Joowon mengunjungi butik Yoojin beberapa hari yang lalu.

 

“Kenapa kau jadi berpikiran buruk tentangku? Aku hanya ingin meminta bantuanmu Yoona sayang. Aku terlalu bingung dengan pilihan yang harus aku kenakan.” Yoona mengernyitkan dahinya. Bukankah Yoojin seorang perancang? Seharusnya ia cukup tahu bagaimana berpenampilan yang baik. Sudahlah, ia tak ingin lagi memikirkannya, mungkin Yoojin terlalu gugup untuk memastikan penampilannya benar-benar maksimal malam ini, batin Yoona.

 

Yoojin berbalik dan mulai bergaya menunggu tanggapan Yoona tentang penampilannya. Yoona bergidik, “Apa kau bermaksud menggodanya dengan bibir merahmu itu?”

 

“Apa yang salah dengan lipstik merah?”

 

“Kau terkesan agresif, aku yakin Joowon-Oppamu itu tidak akan suka dengan tampilanmu ini.” Yoona melangkah dihadapan Yoojin dan mengambil tisu untuk menghilangkan warna merah dibibir Yoojin dan memilih warna yang lebih alami untuk memoles bibir tipis itu. “Nah, lihatlah kau lebih kelihatan cantik bukan?”

 

Yoojin memandang dirinya di cermin, “Kau yakin?”

 

Yoona mengangguk antusias, “Sekarang kau bisa menemui pangeran impianmu itu, jangan biarkan ia terlalu lama menunggumu.”

 

“Omoo, sudah jam berapa ini. Aku harus bergegas. Yoona terimakasih atas bantuanmu hari ini. Nanti kita bicara lagi oke.” Yoojin meraih tas tangannya dan berlari meninggalkan Yoona dikamarnya. Ia terkikik pelan melihat tingkah Yoojin. Ia benar-benar kasmaran, sepertinya.

 

Yoona mendengar nada ponselnya berbunyi, iapun meraih ponsel yang berada di tas sandangnya dan melihat nomor yang tidak ia kenal terpampang di layar ponselnya.

 

“Yeobseyo?”

 

~•~

 

“Mohon maaf karena waktumu harus kau gunakan untuk makan malam dengan perempuan tua sepertiku.”

 

“Oh, tidak Ahjumma, sebenarnya saya juga tidak ada kegiatan malam ini.” Yoona, menarik napas lega karena sepertinya makan malam itu akan hanya ada mereka berdua. Tadinya ia merasa terkejut ketika nyonya Choi meneleponnya dan mengajaknya untuk makan malam diluar. Dengan ragu Yoona akhirnya menyetujuinya, dan sempat was-was saat memikirkan kemungkinan disana juga ada Joon serta ayahnya. Dan sekarang tidak ada yang perlu Yoona resahi lagi.

Sisi positif yang Yoona ambil karena menerima ajakan nyonya Choi ini adalah, ia bisa makan direstoran mewah lagi setelah sekian lama meninggalkan kebiasaannya itu karena ke’pelit’an sang ayah. Makanan yang tersaji hampir membuat air liurnya menetes. Dan lagi pula ia tidak perlu mati kebosanan dengan tetap berada dirumah Yoojin, menunggunya pulang dan mendengar cerita tentang kencan pertamanya, sebenar-benar kencan.

 

“Saya tidak menyangka kamu punya banyak kesamaan dengan Hyena.” Yoona menelan sisa makanan dimulutnya dengan susah payah, sedikit kaget dengan pernyataan nyonya Choi. “Saya tidak bermaksud menyamakanmu dengannya, tapi memang kenyataannya begitu Yoona.”

Yoona berusaha untuk tetap terlihat biasa, “Iya, saya juga tidak menyangka setelah melihat fotonya, kami memang banyak kemiripan.” Yoona menjaga nada suaranya agar tetap stabil, ini tidak mengenakkan, nafsu makannya sepertinya menghilang.

 

“Kamu pasti sudah mendengar semua tentang Hyena kan? Betapa kehilangannya Joon dan Siwon saat ia pergi.” Nyonya Choi tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. Yoona benar-benar merasa tidak nyaman, bukan karena cerita nyonya Choi ini, tapi lebih kepada dirinya sendiri. Ia merasakan emosi dalam dirinya, tapi ia juga tidak mengerti kenapa.

 

“Saya turut bersedih Ahjumma, tapi sepertinya Joon tumbuh dengan baik. Ia anak yang manis.”

 

“Ya, dia memang anak yang manis sekaligus kuat. Entah dari mana ia dapatkan kekuatan di usia semuda itu. Ia yang membuat Siwon bangkit dari keterpurukan saat kehilangan Hyena, ia yang membuat Siwon bertahan.” Nyonya Choi menatap Yoona, “Dan sekarang sudah saatnya mereka punya kehidupan baru.”

 

“Mungkin denganmu.”

 

Yoona menjatuhkan sendok yang berada ditangannya hingga menimbulkan suara yang lumayan keras, “Maafkan saya Ahjumma,” Yoona berjongkok mencari dimana sendok tadi terjatuh ia terlihat kacau bahkan mungkin pikirannya lebih kacau lagi. Pencariannya terhenti saat seorang pelayan restoran memanggilnya dan menyerahkan sendok baru kepada Yoona. Bagaimana dia harus bersikap sekarang, batin Yoona.

 

~•~

 

Yoona berjalan gontai melewati ruang keluarganya, ia terlalu lelah, terlalu shock untuk dapat memperhatikan kedua orang tuanya yang menatapnya bingung. Kejadian malam ini benar-benar diluar dugaan.

 

Yoona menutup pintu kamar dan langsung meringkuk diatas kasur empuknya. Kalimat nyonya Choi masih terngiang-ngiang di kepalanya. Ahjumma itu meminta Yoona untuk jadi menantunya, ia yakin ia mendengar dengan baik tadi. Tapi motif nyonya Choi yang ingin memberikan kehidupan baru bagi keluarga putranya itu apa? Bukankah Siwon terlihat menikmati perannya sebagai seorang ayah dengan baik tanpa ada campur tangan orang lain. Yoona tidak mengerti, sama seperti ia tidak mengerti dengan perasaannya saat ini. Ia mengacak rambutnya frustasi, ia perlu menenangkan diri, ia perlu tidur berharap besok semua ini hanya mimpi.

 

~•~

 

“Eomma!!” Siwon terlihat emosi setelah nyonya Choi memberitahu pertemuannya tadi dengan Yoona, “Eomma benar-benar keterlaluan, apa Eomma ingin mengatur hidupku? Eomma sadar, kalau Eomma sudah membuat diriku terlihat patut dikasihani didepannya.”

 

“Siwon-ah, Eomma hanya merasa ia cocok denganmu, Eomma tidak mau mengambil resiko kalau nanti ia dilamar orang lain dan kau akan menyesal.” Nyonya Choi mencoba meyakini Siwon.

 

“Eomma, itu urusanku. Kumohon jangan ikut campur lagi, apalagi menyangkut Yoona.” Lirih Siwon, “Ini rumit, tidak semudah yang Eomma bayangkan. Aku harap Eomma mengerti.” Siwon meninggalkan nyonya Choi dengan berbagai pikiran buruk berkecamuk dibenaknya. Dan itu hanya karena satu nama, Yoona. Kenapa sejak mengenal gadis itu dirinya menjadi tidak berdaya begini. Pertama-tama Joon, yang dengan ngototnya berteman dengan Yoona. Sampai-sampai apapun dia lakukan untuk bertemu dengan Noonanya itu. Dan sekarang ibunya yang mulai mempunyai pikiran yang tidak-tidak untuk masa depannya.

 

Siwon meraih jaket kulitnya yang berada diatas kursi kamarnya dan segera menuju garasi rumahnya. Dia harus menjelaskan hal ini kepada Yoona. Ia harus menemui gadis itu, malam ini juga.

 

~•~

 

Yoona sebenarnya tidak ingin bangun saat nyonya Im mencoba membangunkannya, ia masih berusaha untuk tidur sejak dua jam lalu dia pulang dalam kondisi yang sangat tidak baik. Tapi saat nama Choi Siwon disebut Yoona langsung terduduk.

“Eomma yakin?” Nyonya Im mengangguk. “Otthoke? Huaaa… Eomma apa yang harus aku lakukan.”

 

“Memangnya ada apa? Apa kau berbuat salah padanya?

 

“Bukan, bukan begitu.” Yoona ingin sekali menceritakan kejadian mengejutkan yang ia alami hari ini. Tapi dia menahan diri, ia belum tahu bagaimana tanggapan Siwon, jadi untuk sementara biar dirinya saja yang menanggung yang ia sebut beban berat ini. Dengan langkah malas Yoona meninggalkan ibunya dan keluar dari kamar.

 

Sementara Siwon dan tuan Im sedang asyik berbincang tentang perusahaan milik masing-masing. Sepertinya tuan Im terkesan dengan Siwon, walau baru pertama kali membahas tentang pekerjaan, Siwon terlihat sangat berkompeten. Mau tidak mau tuan Im merasakan kekagumannya kepada Siwon. Diumur awal tigapuluhan saja ia sudah berhasil mengembangkan usahanya hingga ke luar negeri, dan itu atas hasil usahanya sendiri.

 

Pembicaraan mereka tiba-tiba terhenti ketika terdengar derap langkah. Yoona, perlahan mendekat ke arah dua orang pria yang beda usia itu. Keduanya tampak berusaha menahan cekikikan mereka berdua saat melihat penampilan Yoona. Rambut yang mungkin awalnya dikuncir kuda rapi sekarang malah tak berbentuk dan membuat rambut Yoona keluar dari tempat seharusnya. Belum lagi bajunya yang lusuh akibat aksi tidurannya yang sembarangan.

 

Yoona yang merasa jadi pusat perhatian hanya mengernyitkan dahinya keheranan. “Bisakah kamu bercermin dulu sebelum menemui tamumu Im Yoona?” Tuan Im berusaha terlihat serius walau rasa geli melihat putrinya masih kuat terasa, “Kembali kekamarmu dan perbaiki tampilanmu.” Yoona tanpa sadar meraba wajah dan rambutnya, pandangannya tertuju ke pakaiannya. Dan kesadarannyapun membawanya berlari kembali menaiki anak tangga menuju kamarnya. “Maafkan Yoona, Siwon-ssi dia memang anak yang ceroboh.” Siwon hanya tersenyum menanggapi ucapan tuan Im dan kembali melihat siluet Yoona yang hampir hilang dibalik tembok lantai dua.

 

~•~

 

“Jangan menertawakanku lagi Ahjussi, aku tahu betapa memalukannya tampilanku tadi. Jadi tolong hentikan.” Yoona sekarang benar-benar merasa kesal, sejak meninggalkan rumahnya, Siwon tidak henti-hentinya berusaha menahan tawanya dan jelas Yoona mengetahui penyebabnya adalah dirinya. “Kalau Ahjussi tidak berhenti, aku akan pulang saja.”

 

“Oke, tunggu. Aku benar-benar tidak tahan Yoona, aku tidak pernah tertawa sebanyak ini sebelumnya dan itu juga membuatku heran. Kamu orang pertama yang membuatku tertawa seperti ini.” Siwon kembali tertawa, tapi kemudian berusaha meredakan aksi tawanya. Wajah Yoona merona mendengar pengakuan Siwon. Untung suasana kafe 24 jam tersebut tidak terlalu terang jadi Yoona tidak perlu menyembunyikan wajahnya karena malu.

 

“Baiklah, aku sudah cukup tertawanya. Aku akan serius.” Terjadi keheningan dalam beberapa menit, “Sebenarnya aku menemuimu ingin meminta maaf.”

 

“Ya?”

 

“Maaf karena ibuku telah mengatakan sesuatu yang tidak-tidak kepadamu, mungkin dia terlalu senang karena melihat diri Hyena didirimu dan itu pasti membuatmu tidak nyaman. Anggap pertemuanmu dengan ibuku tidak pernah terjadi dan lupakan semua yang ia pernah ucapkan.” Yoona bergetar, merasakan sesak didadanya. Siwon tidak pernah melihatnya, ia cuma teman dari putranya, hanya itu. Jadi wajar saja Siwon merasa tidak enak atas permintaan nyonya Choi kepadanya. Siwon tidak ingin ia berpikiran macam-macam. Ya, pasti begitu. Siwon tidak butuh pendamping, atau mungkin bukan pendamping seperti dirinya yang dicari Siwon. Ya Tuhan, mengapa jadi menyesakkan begini rasanya, batin Yoona.

 

“Tidak apa-apa Ahjussi, aku mengerti. Lagian siapa juga yang tertarik kepada seorang gadis tomboy sepertiku ini dan mengangkatnya sebagai menantu.” Yoona kembali menatap Siwon, “Mungkin Ahjumma hanya terlalu menyamakan aku dengan menantu kesayangannya.” Yoona tak tahan rasanya harus berlama-lama berhadapan dengan Siwon, dan tidak ada yang harus mereka bicarakan lagi bukan? “Sepertinya sudah hampir tengah malam Ahjussi, aku pulang dulu kalau tidak bisa-bisa aku terlambat pergi ke butik besok. Salam untuk Joon dan Ahjumma ya. Aku permisi.”

 

“Aku akan antar.”

 

“Tidak usah, hanya jalan beberapa blok kok.” Yoona memaksakan diri tersenyum sebelum akhirnya meninggalkan Siwon. Hatinya terasa teriris-iris. ‘Apa yang terjadi padaku’ gumam Yoona. Tanpa ia sadari airmatanya sudah mengalir, meminta keluar dari tempat tersembunyi dibalik matanya.

 

~•~

 

“Samchon ayolah, aku sudah seminggu lebih tidak bertemu Noona-ku, antarkan aku Samchon, please.” Joon dengan wajah angelnya menatap penuh harap kepada Joowon. Dari pagi Joon sudah bertandang kerumah orang tua ibunya itu karena hari ini memang hari nasional jadi Joon memohon semalam kepada Siwon untuk mengijinkannya kerumah Joowon. Bukan tanpa alasan, karena Siwon menolak mentah-mentah saat Joon meminta diantar kerumah Yoona. Joon merasakan ayahnya itu sedang mengalami penyakit moody bila berhubungan dengan Noonanya, entahlah Joon tak mau ambil pusing. Jadi dia lebih memilih Joowon yang pasti akan mengabulkan permintaannya.

 

“Samchon masih mengantuk, kenapa tidak ayahmu yang mengantar?”

 

“Dia sedang sensi dengan nama Noona-ku Samchon”

 

“Sensi?”

 

“Sensitif maksudku. Samchon seperti tidak tahu saja, Appa kan terkadang labil kalau menyangkut Yoona-Noona.”

 

“Labil? Yaak! Joon darimana kamu dapat kata itu?” Joowon makin hari, makin tercengang dengan pemikiran-pemikiran serta perkataan Joon yang makin tidak sesuain usianya.

 

“Dari Leo, katanya kalau kelakuan yang sering berubah-ubah itu namanya labil.” Joowon memutar bola matanya, pantas saja keponakannya jadi banyak tingkah begini, temannya saja Leo, tetangganya yang empat tahun lebih tua darinya. “Ayolah Samchon, lagian Samchon juga bisa bertemu Yoojin-Noona nantinya.” Rayu Joon sambil memperlihatkan deretan gigi putihnya, membuat Joowon kehilangan kata-kata. Ya ampun, darimana bocah ini tahu tentang hubungannya dengan Yoojin.

 

Dengan wajah lesunya Joowon beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan menuju kamar mandi, “Samchon mandi dulu,” Joon melompat kegirangan lalu berlari memeluk lutut Joowon.

 

“Terimakasih Samchon, Samchon yang terbaik.”

 

 

~•~

 

“Kamu tahu, dia memaksaku mengantarkannya kesini. Aku tidak bisa menolak.” Keluh Joowon kepada Yoojin saat mereka duduk berhadapan dimeja kerja Yoojin. “Entah kenapa ayahnya tidak mau mengantarkannya.”

 

“Mungkin dia sedang sibuk, lagian Joon memang sudah lebih dari seminggu tidak bertemu Yoona. Kamu bisa lihat sendirikan, betapa senangnya Joon bertemu Yoona, ia pasti sangat merindukan Noonanya itu.”

 

“Ya ya, aku tahu. Tapi aku merasa aneh dengan sikap Hyung. Coba kamu pikir sebelumnya dia mau-mau saja mengantarkan Joon bertemu Yoona, tapi akhir-akhir ini berbeda, seperti ada sesuatu yang terjadi. Apalagi tadi Joon mengatakan kalau ayahnya itu sekarang jadi sensitif bila menyangkut Yoona.”

 

“O ya?” Yoojin mendesah pelan, “Sebenarnya akhir-akhir ini aku juga merasakan perbedaan dari sikap Yoona. Ia seperti punya sesuatu yang dipikirkan, tampak tak seceria biasanya.” Yoojin mendelik ke arah Joowon. “Apa mungkin….”

 

“Ada sesuatu terjadi diantara mereka, kamu berpikir begitu bukan?” Yoojin mengangguk, “Apa kita perlu menyelidikinya?”

 

“Itu pekerjaanmu.” Yoojin tersenyum penuh arti. “Bagaimana?” Joowon tampak berpikir namun sedetik kemudian sebuah seringai menghiasi wajah tampannya.

 

Sepasang anak manusia itupun memutar kepalanya menghadap keseberang ruangan dan melihat Joon sedang memperhatikan Yoona yang sedang sibuk menggambar sketsa pakaian diatas kertas ukuran 4A miliknya. Saat Yoona mengerutkan dahinya, Joon ikut mengerutkan dahinya. Saat Yoona tampak berpikir, Joon pun dengan wajah polosnya ikut berpikir. Joowon dan Yoojin tidak bisa menahan tawa mereka, pemandangan yang menggelikan.

 

~•~

 

Setelah menghabiskan waktu di butik Yoojin, Yoona lah yang disuruh Joowon mengantarkan Joon kerumahnya. Awalnya Yoona menolak, tapi karena mendapatkan tatapan mematikan dari Yoojin mau tak mau Yoona akhirnya menyerah. Ia yakin Yoojin pasti merencanakan ini demi pergi makan malam berdua dengan Joowon. Dasar sepupu tak berperasaan, rutuk Yoona. Untungnya mobil pribadinya sudah dikembalikan oleh ayahnya, walau uang sakunya sudah tidak akan turun lagi dari kantong tuan Im karena Yoona sekarang sudah bekerja.

 

“Nah Joon kita sudah sampai.”

 

“Apa Noona tidak mau ikut turun denganku?” Yoona menggeleng, setelah apa yang terjadi sebelumnya ia merasa belum siap untuk bertemu dengan Siwon ataupun nyonya Choi. “Ayolah Noona, sebentar saja.”

 

“Joon-ah!” Terdengar panggilan dari pintu masuk rumah mewah tersebut diiringi langkah kaki yang semakin mendekat.

 

“Itu Haelmoni Noona.” Joon pun turun dan memeluk sang nenek. Yoona ikut turun dari mobilnya, tidak sopan rasanya menyapa dari dalam mobil.

 

“Annyeong haseo Ahjumma.” Sapa Yoona setelah berada tepat didepan nyonya Choi. Nyonya Choi membalasnya dengan senyuman.

 

“Joon kamu masuk dulu ya, Haemoni mau bicara dulu dengan Noonamu.”

 

“Baiklah Haelmoni, Noona aku masuk dulu. Sampai bertemu lagi nanti.” Joon memeluk Yoona lalu melepaskannya dan berlari masuk kedalam rumah.

 

“Maaf atas permintaan lancang yang saya ajukan saat terakhir kita bertemu. Saya terlalu terburu-buru menyimpulkan sesuatu. Tapi saya masih mengharapkan hal yang sama sampai saat ini.” Nyonya Choi mendesah pelan, “Yoona, kamu terlihat begitu dekat dengan Joon apa kamu tidak merasakan kasih sayangnya terhadapmu?”

 

Tentu saja Yoona dapat merasakannya, melihat mata polos Joon saat pertama kali bertemu dengannya beberapa bulan yang lalu, tak mungkin Yoona lupakan. Seorang bocah yang menatapnya dengan mata berkaca-kaca namun sedetik kemudian matanya berbinar dan Yoona dapat merasakan perasaan hangat yang dipancarkan dari mata bulat itu.

 

“Kamu juga menyayanginya kan?” Yoona mengangguk tanpa ia sadari, “Siwon?”

 

Yoona terdiam cukup lama, menyayangi Siwon? Kata itu belum pernah terlintas dibenaknya. “Mungkin belum, tapi apa kamu tidak memiliki sedikitpun ketertarikan kepadanya Yoona?”

 

~•~

 

Kembali harus meringkuk diatas kasur king sizenya, Yoona tak dapat menahan gejolak dihatinya. Ia bingung, kenapa harus punya perasaan kepada orang yang jelas-jelas hanya memandangnya karena masa lalu. Baru pertama kali perasaan itu muncul kenapa harus dengan orang yang tidak tepat.

 

Pintu kamar Yoona perlahan terbuka, Youngwoon telah berdiri memperhatikan gaya tiduran Yoona yang sangat berantakan. “Kau sudah tidur Yoong?” Tidak ada jawaban, “Kalau begitu Oppa akan keluar.”

 

“Oppa.” Tanpa memandang Youngwoon, Yoona memanggilnya. Youngwoon membalikkan tubuhnya lalu mendudukkan diri ditepi ranjang Yoona. “Oppa…. Hiks… Hiks…”

 

“Kau kenapa?”

 

“Kenapa aku harus punya perasaan kepada orang itu Oppa, kalau akhirnya tersiksa seperti ini?”

Youngwoon mengernyit, “Kau sedang menyukai seseorang Yoong?” Yoona tidak menjawab malah tangisannya makin terdengar jelas. “Coba katakan siapa orang yang berani-beraninya membuatmu menangis seperti ini, ayo katakan!”

 

“Oppa apa aku harus membunuh perasaan ini? Tapi bagaimana caranya Oppa?”

 

“Siapa orangnya Yoong?”

 

“Oppa….”

 

Youngwoon mulai tak sabar dengan sikap adiknya itu dan akhirnya memutuskan meninggalkan Yoona, “Urus saja urusanmu sendiri, pertanyaan Oppa saja tidak kau jawab.” Dengan jengkelnya Youngwoon menutup pintu kamar Yoona.

 

~•~

 

“Siapa yang tidak akan tertarik dengan putra Ahjumma? Tapi aku tahu diri, bukan bermaksud menolak tapi memang selama ini tidak ada hubungan khusus diantara kami. Hanya sebatas saling kenal saja dan itupun karena Joon.”

 

Jawaban Yoona terngiang kembali oleh nyonya Choi. Jawaban yang Yoona berikan tidak bisa membuatnya menyimpulkan perasaan Yoona. Sepertinya ia harus bertindak, ia tak ingin kehilangan calon menantu yang dengan tulus menyayangi Joon. Perasaan Siwon itu urusan nanti, terdengar egois memang tapi yang jelas ia melakukannya demi Joon, demi cucunya.

 

Nyonya Choi meraih telepon rumah yang terletak diatas meja samping sofa yang ia duduki lalu menekan beberapa nomor, hingga telepon itu tersambung.

 

~•~

 

“Yoona!!”

 

Yoona menoleh malas kearah Youngwoon yang tiba-tiba masuk kedalam kamarnya tanpa permisi. “Aish! Oppa! Tidak bisakah Oppa mengetuk pintu kamarku dulu?”

 

“Yoong, ini berita penting. Kau harus kebawah melihatnya atau tepatnya mendengarnya sendiri. Ya ampun, apa Appa tidak belajar dari kesalahan sebelumnya apa?”

 

“Apa maksudmu Oppa?” Yoona menggelengkan kepalanya frustasi melihat tingkah Youngwoon yang dinilainya aneh. Yoona melangkah keluar kamar lalu berdiri diatas tangga untuk melihat kebawah, ada tamu rupanya.

 

“Sebelumnya Yoona menolak untuk dijodohkan, jadi saya tidak yakin kalau ini akan berhasil.” Yoona yang telah berbalik badan untuk kembali kekamar menghentikan langkahnya saat mendengar kalimat dari ayahnya itu. Awalnya ia tidak memperhatikan siapa tamu dari orang tuanya, sampai suara yang ia kenali terdengar jelas ditelinganya.

 

“Ahjumma Choi?”

 

Yoona menelan ludahnya, sambil perlahan melangkah menuju kamarnya. Youngwoon masih berada di kamar Yoona memegang sebuah kertas yang tadi sempat menjadi korban corat-coret frustasi Yoona.

 

Yoona memukul pelan kepalanya dan akhirnya menghela napas pasrah, kenapa dia begitu ceroboh meninggalkan kertas bodoh itu bersama Youngwoon dikamarnya?

 

“Siwon? Oppa simpulkan itu Choi Siwon, bukankah begitu Im Yoona?” Youngwoon menatap Yoona tajam sambil mengarahkan kertas yang penuh dengan nama Siwon, “Jadi dia yang membuat dirimu akhir-akhir ini terlihat kacau? Jadi dia alasannya ehmm?” Yoona tak menjawab satupun pertanyaan Youngwoon. Wajahnya sudah pasrah, mungkin jawaban iya dari semua pertanyaan Youngwoon.

 

Youngwoon mendesah pelan, menarik Yoona untuk duduk diranjangnya. Youngwoon memegang bahu Yoona, “Tatap mata Oppa, Yoong.” Yoona yang tadinya tak berani mengangkat kepalanya itu dengan ragu menurut. “Apa Oppa tak salah duga Yoong? Apa yang Oppa katakan tadi benar?”

 

“Oppa…”

 

Youngwoon mengerti perasaan Yoona, tanpa pikir panjang ia bergegas keluar dari kamar Yoona. Ia pikir mungkin sekarang saatnya ia pasang badan demi adiknya itu. Jangan sampai ada perjodohan lagi, ia ingin adiknya menemukan kebahagiaan sendiri.

 

~•~

 

“Appa!” Tuan dan nyonya Im, serta nyonya dan tuan Choi menoleh ke sumber suara. Youngwoon dengan wajah seriusnya berjalan mendekati ayahnya. “Aku rasa pembicaraan ini tidak boleh lagi diteruskan. Apa Appa tidak mengerti perasaan Yoona, ia tidak ingin dijodohkan lagi pula sekarang hatinya sudah dimiliki orang lain.”

 

Youngwoon menghadap ke arah nyonya Choi dan tuan Choi, “Maaf tuan dan nyonya, sepertinya permintaan Anda untuk menjadikan Yoona menantu kalian harus kalian kubur dalam-dalam. Saya tidak akan membiarkan adik saya tidak bahagia dengan pernikahan yang jelas-jelas tidak ia inginkan.” Youngwoon bersiap meninggalkan ruang tamu tapi pertanyaan nyonya Choi membuat langkahnya terhenti.

 

“Boleh saya tahu siapa orang yang ada dihati Yoona saat ini, Nak?” Youngwoon berbalik lagi, “Saya hanya penasaran, kalau memang benar Yoona sudah memiliki orang lain saya tidak akan meneruskan pembicaraan ini lagi dengan orang tua Anda.” Tuan dan nyonya Im yang masih terlihat kaget dengan ucapan putranya itu hanya bisa diam mendengarkan percakapan tak terduga itu.

 

“Namanya Siwon nyonya, Choi Siwon.”

 

Yoona ingin sekali memukul, menendang kakaknya yang bodoh itu saat ini juga. Tapi tidak mungkin ia menampakkan diri disituasi saat ini. Ia dari tadi memang sengaja menguping karena melihat tingkah kakaknya yang aneh saat meninggalkan kamarnya beberapa saat lalu. Ternyata ini yang terjadi, “Dasar Youngwoon bodoh, tolol. Bagaimana bisa aku punya kakak seperti dia Tuhan…” Sekarang dimana ia akan menaruh wajahnya bila bertemu dengan orang tuanya terlebih orang tua Siwon.

 

~•~

Yoojin hampir menjatuhkan gelas yang dipegangnya ketika mendengar info yang diberikan Joowon. “Oppa yakin?”

 

Diseberang telepon Joowon mengangguk, “Iya, itu yang aku dengar dari ahjumma Choi sendiri.”

 

Yoojin tersenyum penuh arti, “Apa mereka akan segera menikah Oppa? Aku rasa kita harus siap-siap kalau mereka mendahului kita.” Tanpa rasa malu Yoojin mengatakan sesuatu yang membuat Joowon menahan napas. Joowon kira gadis yang sudah resmi berstatus kekasihnya ini adalah sosok polos yang pemalu, tapi ternyata setelah mengenal Yoojin lebih dekat sifatnya lebih ceria dan terbuka bahkan terkesan blak-blakkan. Tapi itu menambah nilai plus Yoojin dimatanya, berarti Yoojin adalah tipe wanita yang tidak akan bermain rahasia dengannya.

 

“Apa kamu benar-benar ingin menikah denganku Yoojin-ah.” Goda Joowon.

 

“Aiishh… Oppa, jangan main-main denganku. Kalau sampai Oppa tidak menikahiku, aku akan terus-terusan mengejarmu sampai Oppa lelah dan akhirnya menikahiku.” Ucap Yoojin dengan nada ancaman membuat Joowon yang diseberang telepon terkekek geli mendengarnya.

 

~•~

 

“Yeobo, apa kau yakin rencana ini akan berhasil?” Tuan Choi menatap istrinya dengan keraguan, ia hanya menurut tadi ketika diajak bertamu kerumah tuan Im, dan baru mengetahui rencana istrinya dari percakapan yang terjadi beberapa saat lalu.

 

“Awalnya aku tidak terlalu yakin, tapi setelah mendengar kalau ternyata Yoona punya perasaan pada Siwon keyakinanku akhirnya bertambah.” Nyonya Choi lalu menampakkan wajah khawatirnya, “Hanya sekarang aku bingung mengatakannya pada Siwon, dia pasti akan marah besar dengan perbuatan ku ini, Yeobo.”

Tuan Choi meraih tangan istrinya, “Kita akan menghadapi lelaki keras kepala itu bersama-sama jadi kau tidak perlu khawatir.” Tuan Choi tersenyum menyemangati istrinya, walau sebenarnya hatinya sedikit gelisah dengan tanggapan Siwon nantinya.

 

~•~

 

Siwon melempar map yang sedari ia berusaha baca. Ia berdiri melihat ke arah jendela sambil melonggarkan dasi yang terasa sesak mengikat lehernya. Pikirannya kacau, beberapa minggu ini ia bekerja selalu tidak fokus. Ada saja sesuatu yang ia lupakan atau kesalahan yang ia perbuat. Untung dia memiliki asisten yang cekatan dan cerdas seperti Kyuhyun yang selalu bisa menghandel semua kesalahan yang ia perbuat.

 

Yoona, nama gadis itu yang beberapa minggu ini mengganggunya, membuat ia sulit berkonsentrasi. Sejak pertemuan mereka terakhir saat itu, Siwon seperti merasakan sesuatu yang salah. Yoona yang berpamitan padanya saat itu terlihat berbeda, kalimat yang Yoona ucapkan terasa mengganjal dihatinya.

 

“Memikirkan sesuatu?” Siwon sedikit tersentak dengan suara yang didengarnya, tapi ia segera menguasai dirinya. Tuan Choi, ayahnya telah berada didepan meja kerjanya, masuk tanpa mengetuk pintu.

 

Siwon berbalik dan melihat raut wajah yang sudah menua itu dengan tatapan malas, “Apa yang Appa lakukan disini?” Siwon menduduki kursinya lalu kembali membuka map yang tadi ia lempar kasar.

 

“Nanti malam luangkan waktumu, kita akan makan malam bersama.”

 

“Appa kesini hanya ingin menyampaikan itu?” Tuan Choi mengangguk, tersenyum melihat wajah kesal putranya. “Biasa juga cuma lewat telepon, kenapa sekarang Appa repot-repot datang langsung?” Heran Siwon.

 

“Aku merindukan putraku.” Jawab tuan Choi enteng, membuat Siwon bergidik mendengarnya. Merindukannya? Sejak kapan ayahnya tanpa basa-basi mengatakan hal menggelikan seperti itu. Tuan Choi yang melihat wajah ngeri putranya hanya bisa tersenyum menahan tawanya.

 

~•~

 

“Joon, Haelmoni ingin menanyakan sesuatu. Apa kamu bersedia menjawabnya?” Joon yang sedang asyik mengerjakan soal-soal dari bukunya melirik tajam neneknya.

 

“Apa haelmoni tidak lihat, Joon sedang sibuk. Nanti saja ya.” Joon kembali sibuk dengan alat tulisnya. Sang nenek hanya bisa menghela napas, cucunya ini memang tidak akan bisa diganggu pada saat belajar. Tidak heran, otaknya yang ia miliki melebihi dari anak-anak seusianya. Pikiran dewasanya pun membuat orang terkaget-kaget, tak terkecuali anggota keluarganya.

 

“Ini tentang Noonamu Joon.”

 

“Yoona-Noona?” Seperti sebuah sulap yang mengendalikan seseorang, Joon meletakkan alat tulis yang dipegangnya dan berbalik menghadap sang nenek. Nyonya Choi hanya bisa menggelengkan kepalanya, sepertinya memang hanya nama Yoona yang bisa mengalihkan perhatian cucunya itu.

 

“Apa pendapatmu tentang Noonamu Joon?”

 

“Haemoni cuma ingin menanyakan hal itu? Ya ampun, bukannya Haelmoni sudah tahu jawabannya.”

 

“Haelmoni tahu kalau dia temanmu, dan kamu menyayanginya bukan?”

 

“Tentu saja.”

 

“Tapi kalau misalnya Noonamu menikah bagaimana?”

 

“Mwo?? Menikah? Andwe! Noona hanya boleh menikah denganku haelmoni, tidak boleh dengan orang lain.”

 

Nyonya Choi tersenyum geli melihat tampang tegas Joon, dan kemudian berdehem dan mulai bertanya dengan hati-hati kepada Joon, “Kalau ia menikah dengan Appamu, apa kamu keberatan Joon?”

 

Joon terdiam, menikah dengan Ayahnya? Berarti Yoona akan menjadi ibunya. Kalau Yoona menjadi ibunya, berarti ayahnya juga punya hak untuk memiliki noonanya itu. Joon menggeleng tanpa sadar, ia belum bisa berbagi noonanya dengan siapapun.

 

“Kalau Noonamu jadi ibumu dia akan selalu ada didekatmu sayang, jadi kamu tidak perlu lagi mendatangi butik. Setiap hari bisa bertemu dengannya.”

 

“Haelmoni sedang membujukku ya? Tetap saja aku tidak mau berbagi haelmoni, walau itu dengan Appa sekalipun.” Joon kembali melanjutkan aktifitasnya, tanpa berbalik iapun berkata, “Kebahagiaan Noona yang utama, Haelmoni.”

 

~•~

 

Malam harinya, didepan sebuah restoran Siwon melangkah dengan sedikit tergesa-gesa sambil melirik jam tangannya. Ia terlambat! Entah apa yang akan dikatakan ayahnya nanti, yang dikenal disiplin itu. Siwon memasuki restoran dan membalas seadanya sapaan para pelayan yang sudah familiar dengan wajah Siwon. Siwon melihat keseliling mencari dimana keluarganya berada, ia tersenyum melihat Joon yang dengan wajah polosnya mengangkat tangan kearah Siwon, semacam memberi kode keberadaannya.

 

Siwon segera mendatangi meja dimana Joon, ayah, ibunya dan….

 

 

“Yoona?”

 

 

~TBC~

 

Segitu dulu ya, ini asli penuh perjuangan nerusinnya dan aku tau cerita ini makin ngaco dan ngebosenin. Maaf kalau emang jauh dari harapan readers #bungkukinbadan. Bagi yang masih nunggu kelanjutan ni cerita dimohon untuk bersabar ya. Jangan lupa ninggalin jejak ya, mungkin next chapter bakal diPW.

 

Buat siapapun yang ngepost ni ff (Echa atau Resty), makasi ya cantik😀 …. Love you Niteds… (sama2 cantik :p )

Pos Sebelumnya
Tinggalkan komentar

343 Komentar

  1. feby choi

     /  November 8, 2015

    wkwkwwkk ngakak sumpah ama kelakuan kakak yoona yg main ambil tindakan kek gtu, mana dia salah mengerti lgi wkwkwwk… buang aja yoong kakakmu itu wkwkwkw
    huaaa penasaran ama reaksi siwon stelah tahu kalo ny.choi berencana melamar yoona…. terima aja lah oppa jangan bohongi hati kecilmu tp gimana ama joon ya dia kyaknya belum menerima tuh
    next part deh

    Balas
  2. ria

     /  November 17, 2015

    Yoongwon g da beda’a sm joon,
    Sm2 konyol..
    Hahahaha

    Balas
  3. NisNis

     /  Desember 8, 2015

    Wow. Makin seru aja nie crta ah …
    siwon cpat nikahin yoona ::v

    Balas
  4. arum

     /  Desember 29, 2015

    Ceritanya seru banget dan semakin menarik.

    Balas
  5. arum

     /  Januari 2, 2016

    Bagaimana ya reaksi siwon kalau mengetahui ibunya akan melamar yoona. Jadi penasaran sama part selanjutnya.

    Balas
  6. Nhiina

     /  Maret 10, 2016

    Astaga! younwoon ahjussi bner2 bikin ngakak !
    ..
    yap ! setuju sama joon ! daddy emang labil !
    kalo suka, kalo cinta , kalo sayang sama mommy kenapa gga bilang aja ?
    kira2 gimana reaksinya daddy pas ketemu mommy dan tahu kalo halmeoni choi melamar mommy ? ?
    .
    ceritanya bikin greget !

    Balas
  7. ayana

     /  Maret 16, 2016

    hahaha. . . kakaknya yoona itu udah gila kali, masa langsung ngomong gitu ma ortunya, tanpa basa-basi. mana ngasih tahu kalo yoona suka sama siwon lagi., bikin geleng-geleng kepala., tapi gara-gara plot itu aku ngakak abizzz…. ampe sakit perut!

    Balas
  8. desy amanaf

     /  Maret 19, 2016

    gak bisa nahan ketawanya, sumpah itu sangat menggelikan
    kenapa siwon oppa gak peka sih, yoona udah mulai suka dan resah tuh gegara siwon oppa hahaha
    lucu banget, seru

    Balas
  9. fatimah

     /  April 3, 2016

    keren,oh ya chingu tolong dong pass chpt 5 dan 7 nya

    Balas
  10. fatimah

     /  April 3, 2016

    keren,pass chpt 5 dan 7 dong

    Balas
  11. raratya19

     /  Agustus 20, 2016

    Ckckck nnyonya choi nekat bgt, tapi gmana reaksi siwon? Apa diwon udah mai suka k yoona tp tanoa byg2 hyena?

    Balas
  12. Riu

     /  September 7, 2016

    Wah..perjodohan nih..moga siwon gak gengsi buat nerima itu..

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: