[OS] Just Give Me a Reason

544520_172382602946734_1638760952_n

Just Give Me a Reason

 presented by

choichoding007 [@nurulya007]

PG 15 || Romance & Life || Oneshoot

Starring : Super Junior’s Choi Siwon & SNSD’s Im Yoona

Inspired by PINK feat Nate Ruess’s “Just Give Me a Reason”

a/n : italic means flashback

.

.

.

Sepasang mata tajam itu sedari tadi masih berfokus pada satu titik pusat. Bersedekap sambil sesekali menyipitkan mata. Espresso yang telah dipesannya dua puluh menit yang lalu kini sudah tak beruap. Dingin layaknya suasana yang tercipta.

Sementara sosok lain yang  juga berada disana nampak duduk tenang. Tangan kanannya memainkan sedotan Vannila milk shike-nya yang sudah diteguk setengah gelas. Lalu kepalanya mendongak, mengedarkan pandangan ke sekeliling cafe.

Ia menghela napas. “Kurasa sudah cukup aku menemanimu,” putusnya setelah kebisuan yang mereka ciptakan selama lebih dari empat puluh lima menit.

Choi Siwon semakin menyipitkan mata. Gadis itu sudah berdiri, membenahi tas selempengan pada bahunya lalu mulai melangkah.

“Aku tidak menyuruhmu menemaniku,” kata Siwon menggenggam pergelangan tangan gadis tadi. “Duduklah!” suaranya masih terdengar tenang bagai air yang mengalir.

Yoona menurut, tidak keberatan untuk kembali mendudukkan diri di kursi. Diselipkannya helai rambut ke belakang daun telinga. Dan kini ia mendongak untuk balas menatap sepasang mata gelap Choi Siwon.

“Jadi?”

[]

 

Gadis kecil dengan rambut di kucir dua itu sudah bersembunyi di balik semak-semak belakang sekolahannya, mengintip dan menunggu dengan jantung berdebar.

Semoga berhasil..

Semoga berhasil..

Ia tengah menunggu seseorang untuk berjalan ke taman belakang sekolah. Ia sudah mempersiapkan jebakan supaya seseorang yang ia tunggu masuk ke perangkapnya, jatuh tersandung tali yang ia ikat di antara batang pohon.

Bibirnya mengerucut dengan kedua alis yang menyatu.

Kemana anak itu?

Gadis kecil itu tidak tahu bahwa seseorang yang ia tunggu ternyata sudah berdiri di belakangnya.

Dengan senyum khas andalannya, anak laki-laki yang berada di belakang gadis kecil tadi melemparkan sesuatu pada si gadis kecil. Dan seketika membuat si gadis kecil menjerit histeris.

Anak laki-laki itu tertawa terbahak-bahak. Sementara si gadis kecil menjerit ketakutan sambil menutup kedua telinganya dan meloncat-loncat. “Jauhkan laba-laba itu dariku! Jauhkan laba-laba itu dariku!” jeritnya ketakutan dengan mengibas-ibaskan roknya.

Anak laki-laki itu memegangi perutnya yang sakit karna terlalu banyak tertawa. Menertawakan si gadis kecil karna ketakutan padahal laba-laba itu hanya mainan.

Gadis kecil itu menangis terduduk dengan wajah merah. Raungan dari si gadis kecil berhasil menghentikan tawa dari anak laki-laki tadi. Ia menatap si gadis kecil dengan tatapan bingung. Dan seketika perasaan tak enak bersarang dalam dirinya.

“Hei, kenapa kau menangis?”

Itu karna ulahmu, bodoh! Si gadis kecil ingin sekali mengatakan itu dengan menjambak rambut anak laki-laki ini sekuat tenaga. Tapi ia tidak bisa mengendalikan tangisnya. Ketakutan masih menguasai dirinya.

Anak laki-laki itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia memandang ke sekitar, memastikan ada seseorang tapi tidak ada siapapun disana. Semua murid sudah pulang sekitar lima menit yang lalu.

Matanya kembali beralih pada si gadis kecil. Ia menghela napas singkat sebelum berjongkok di depan gadis kecil itu.

“Eng… mianhae,”katanya tak enak hati—sedikit. “Itu juga salahmu! Salah siapa berencana men—“

Si gadis kecil semakin keras menangis membuat anak laki-laki tadi mengernyit dengan menggigit bibirnya.

“Oke, oke,” putus anak laki-laki itu seraya memutar tubuhnya, jadi membelakangi si gadis kecil. “Naiklah ke punggungku. Aku akan membelikanmu es krim.”

Tapi si gadis kecil belum juga bergerak. Ia masih menangis sambil mengusap ingus dengan punggung tangannya.

“Yoona!”

Si gadis kecil masih tak memedulikan panggilan dari anak laki-laki tadi. Si anak laki-laki menoleh lalu berdecak. Ia kemudian menarik tangan kecil Yoona lalu melingkarkannya di lehernya. Tangannya menyangga kaki Yoona. Lalu ia mulai berjalan, keluar dari taman belakang sekolah. Menyusuri lorong-lorong sekolah yang sudah sepi sampai keluar dari gerbang sekolah.

Yoona kecil masih saja menangis sesegukan. Dan itu membuat telinga anak laki-laki tadi terasa ingin pecah.

Anak laki-laki tadi mendudukkan tubuh ringan Yoona di sebuah bangku begitu ia sampai pada taman dekat sekolah. “Aku akan segera kembali dengan membawa es krim.” Anak laki-laki itu mulai beranjak. “Dan ingat! Jangan kemana-mana, arraseo?” katanya setelah berbalik lagi.

Ia tetap melanjutkan lagkahnya meski si gadis kecil hanya menanggapinya dengan raungan tangisnya.

Sepuluh menit kemudian anak laki-laki tadi sudah kembali dengan membawa dua es krim dengan rasa bebeda. Ia duduk di dekat Yoona yang masih menangis.

Apa dia tidak lelah terus menangis? Si anak laki-laki menggumam pelan.

“Rasa strowberry. Untukmu.” Ia menyodrkan es krim kepada Yoona. “Semua gadis suka dengan rasa strowberry, ‘kan? Makanya kubelikan ini untukmu.”Anak laki-laki itu menunjukkan senyum lebarnya ketika Yoona menoleh kearahnya dengan tangis yang tersendat-sendat.

Mata bulat Yoona memandang si anak laki-laki kemudian beralih pada es krim yang disodorkannya.

“Tapi aku suka rasa coklat.”

Senyum anak laki-laki itu langsung memudar. Ia menarik tangannya yang menyodorkan es krim rasa strowberry. Matanya kemudian beralih menatap es krim satunya. Es krim dengan rasa coklat. Ia menarik es krim coklat itu seolah mengatakan itu adalah miliknya dan tak boleh ada yang mengambilnya.

Yoona kembali menagis keras, terlalu lama menunggu reaksi anak laki-laki itu.

Anak laki-laki itu memberenggut. Ia—dengan-sangat-tidak-rela—menyodorkan es krim rasa coklat pada Yoona. “A-ambilah.” Sedikit rasa dongkol karna si gadis kecil langsung berhenti menangis dan mengambil es krim itu dengan antusias.

“Cih! Bagus sekali aktingnya.”

“Mwo?”

Anak laki-laki itu menggeleng cepat. “Ah, ani.” Ia memaksakan senyum.

Dan Yoona tak begitu peduli. Yang ia pedulikan hanya es krim coklat yang terasa manis di mulutnya.

Si anak laki-laki melirik kearah Yoona. Ia berdehem. “Yoona..”

Yoona hanya menggumam samar.

“Tadi, apa yang kau lakukan? Kenapa kau tega sekali berniat mencelakakanku? Aku tidak mengenalmu sebelumnya. Aku hanya tahu kau anak baru. Tapi kenapa kau yang anak baru sudah mencari musuh? Kau tidak cukup tahu bagaimana cara bergaul dengan orang lain!”

Yoona menghentikan aktivitasnya. Lalu beralih menatap si anak laki-laki dengan tatapan tajam. “Kau yang menempelkan permen karet di bangkuku, ‘kan? Sampai-sampai kemarin aku harus pulang diantar oleh Guru Shin. Kau pikir bagaimana rasanya ditertawakan oleh seisi kelas sementara kau malah asik-asikkan mendengarkan musik. Tidak berperasaan!”

“Mwo? Aniyo! Aku tidak melakukan—“

“Bohong!”

“Tidak!”

“Dasar pembohong!”

Matanya mengerjap dan ia jadi tersulut emosi. “Ya! Berhenti mengatakan aku pembohong! Dasar jelek!”

“Mworago? Ya! Aku tidak jelek! Kau yang jelek. Dasar manusia beralis tebal!”

“Gadis jelek! Gadis pendek! Gadis bermata besar! Gadis berkening lebar!”

Mulut Yoona terkatup dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Ia menatap dongkol kearah anak laki-laki itu. Lalu dengan kesal ia menjejalkan es krimnya pada seragam si anak laki-laki.

“Aku membencimu, Choi Siwon!”

`$`

Kedua alis tebalnya terangkat lalu terdengar helaan napas berat darinya. Siwon tersenyum kecut, “kau mengerti maksudku, Yoona.” Dicondongkannya tubuh tegap itu dengan kedua lengan bertumpu silang diatas meja. “Menurutmu siapa yang harus menjelaskan disini?” Choi Siwon berusaha menahan serak pada suaranya.

Ia menunggu respon Yoona namun gadis itu masih menatapnya datar serta ekspresi wajah tenang itu sejujurnya membuat Siwon geram. Siwon berusaha mempertahankan sikap tenangnya juga. Gadis ini sungguh pandai menutupi perubahan air muka. Ia masih kekeuh dengan wajah tenang layaknya tersangka yang menyakini mendapat kemenangan pada persidangan.

Dan seulas senyum yang menghiasi wajah cantiknya benar-benar membuat Choi Siwon mengerang dalam hati.

”Bukankah Choi Siwon seorang CEO Hyundai Group?” Yoona masih mengulas senyum. “Dan dia bukan anak kecil yang harus di jelaskan lagi bukan?”

[]

“Oppa, bantu aku!”

Yoona menunggu sahutan. Tapi berdetik-detik kemudian masih tidak ada sahutan juga. Ia yang sedang menggeser sofa panjang jadi menghentikan aktivitasnya. Kemudian menolehkan kepala ke belakang. Yoona berjalan kearah jendela. Ia berkacak pinggang dengan peluh di sekitar dahinya.

“Ya! Oppa! Apa yang kau lakukan disini. Aku sedang kesusahan memindahkan barang-barang tapi kau malah enak-enakkan menyiram tanaman. Sebenarnya siapa yang pindah apartemen!”

Pria itu hanya menanggapi dengan senyum. “Bukankah kau yang menyuruhku merawat tanaman ini?” Ia masih menyirami tanaman yang di letakkan di dekat jendela.

“Opp—“

“Baiklah, baiklah.” Ia menyudahi acara menyiram tanaman. Lalu mendorong bahu Yoona kembali ke ruang tengah yang masih berantakan.

Mereka mulai membereskan sebuah apartemen yang baru mereka tempati. Mulai dari membersihkan seluruh ruang, meletakkan barang-barang yang baru di pindahkan sampai pada mendekor tiap ruang sesuai selera mereka. Tak jarang juga menimbulkan perdebatan karna selera yang berbeda. Akan tetapi mereka juga cukup menikmatinya dengan tawa dan candaan satu sama lain.

Ya, tentu menyenangkan bagi Yoona. Dapat menghabiskan hari minggu yang cerah bersama kekasihnya, Choi Siwon.

“Oh lelahnya..” Yoona mengusap peluh di dahinya dengan punggung tangan. Tubuhnya bersandar pada sofa empuk. Mereka baru saja selesai setelah kurang lebih tiga jam lamanya mendekor tiap ruang.

Siwon duduk di samping Yoona dan menyodorkan sebotol mineral pada gadis itu.

“Gomawo.” Yoona meneguknya cepat. Siwon hanya memandangnya dengan mengulum senyum.

“Begitu saja sudah lelah, payah!”

Yoona hampir saja tersedak mendengar celetukkan Siwon. Ia kemudian menatap Siwon dengan memincingkan mata. “Kau bilang apa? Hei, Tuan. Apa kau tidak pernah mengerti bagaimana laki-laki dan wanita diciptakan dengan tugas yang berbeda. Tentu dengan kekuatan yang berbeda pula!” Gadis itu mendengus.

Siwon mengacak-acak gemas rambut Yoona. “Kau ini terlalu cerewet.”

Yoona memanyunkan bibirnya seraya menjauhkan kepalanya dari tangan Siwon. Ia merapikan tatanan rambutnya. Lalu ketika teringat akan sesuatu ia memekik, “Oppa!”

Siwon terlonjak kaget. “Apa! Kau membuatku kaget,” katanya mengelus dada.

Tatapan Yoona melembut bersamaan dengan tangannya yang melingkar di lengan Siwon. Gadis itu tersenyum manis. Terlalu dipaksakan, batin Siwon.

“Ayo kita beli pohon natal.”

“Hmm?” Sebelah alis Siwon terangkat.

“Kau tidak lupa, ‘kan? Kalau lusa sudah natal? Apartemen baru dengan hiasan pohon natal tentu akan lebih indah.”

“Tapi aku tidak menyukainya,” sahut Siwon acuh.

“Kenapa tidak?”

“Kenapa harus?”

Yoona menghela napas sejenak. Beradu argumen dengan Siwon nyatanya lebih melelahkan ketimbang membereskan seisi apartemen.

Yoona mencubit lengan Siwon dengan kesal. Membuat pria itu sedikit meringis. “Tahun kemarin kau sudah tidak merayakan natal bersamaku karna pekerjaanmu. Tahun ini pun kau mau mengulanginya? Kekasih macam apa kau ini. Pokoknya aku mau pohon natal. Aku ingin menghias pohon natal!”

Siwon memerhatikan Yoona yang mengerucutkan bibirnya sambil menyilangkan kedua lengan di muka dada. Sifat kekanak-kanakannya mulai lagi, batin Siwon.

Pria itu menghela napas pelan. “Oke, oke. Kita akan beli pohon natal.” Kenyataan bahwa ia tidak akan pernah bisa menolak permintaan Yoona memang benar. Gadis ini bagai virus yang memengaruhi kerja otaknya.

“Yakso?”

“Yakso!”

`$`

Rahang Siwon mengeras, matanya berkilat-kilat melempar tatapan tajam pada Yoona. Gadis itu seolah tak mengindahkan sorot mata gelap di depannya. Senyumnya masih menghias bibir tipisnya.

Kepala Siwon menunduk dalam. Lama ia terdiam sampai akhirnya tangannya terulur serta kepalanya terangkat. “Give me a reason.” Ia menggenggam tangan Yoona. “Give me a reason… just a little bit’s enough.” Mata gelap itu kini berganti sendu. Siwon memohon. Dan ia tak lagi menahan kegusaran dalam hatinya.

Senyum itu telah berangsur memudar. Yoona tak memberi respon selain diam. Diam karna terperangah dengan suara memohon Siwon atau diam karna merasa itu sesuatu yang buruk. Entahlah, Siwon tidak dapat mengartikan kediaman Yoona.

Hanya bertahan beberapa detik. Menginjak di detik ke lima, gadis itu telah mengulum senyum lagi. Senyum lembut yang dirindukan Siwon.

Yoona menyentuh punggung tangan Siwon yang menggenggam tangan kirinya. “Apa kau mengharapkan kebohongan dari mulutku, Oppa?” Suaranya tenang teratur. “Aku mencintaimu.” Dan ia akhiri dengan senyum manis. Raut wajah yang tidak menunjukkan penyesalan. Sungguh Siwon tak menagkap kecacatan dalam ekspresi wajah gadis ini.

[]

“Dia sangat cantik.”

Yoona hanya mengulum senyum sambil mengedikkan kepala dengan pipi merona.

“Jangan menggodanya. Dia hanya mencintaiku.” Choi Siwon mengeratkan rangkulannya pada pinggang ramping Yoona.

Song Joongki terkekeh pelan. “Benarkah itu, Nona Im?” Joongki menyipitkan mata dengan wajah serius yang di buat-buat.

Mata Yoona mengerjap sekali. Lalu ia menolehkan kepala kearah Siwon. “Tidak juga.”

Kali ini tidak hanya Song Jooki yang tertawa namun Moon Chaewon—wanita yang berdiri di samping Joongki—pun ikut tertawa.

“Jangan anggap itu serius!” sahut Siwon cepat.

Sebelum Joongki sempat menyahut. Suara seseorang yang memanggilnya menghentikan niatnya.

Kepala  Joongki menoleh ke belakang. Joongki melambaikan tangan kemudian kembali menatap Siwon dan Yoona. “Nikmati pestanya. Aku akan menemui tamu yang lain,” kata Joongki sebelum menggandeng tangan Chaewon dan beranjak.

“Oh ya!” Joongki menghentikan langkahnya dan menoleh lagi kearah Siwon. “Gunakan kesempatan ini untuk membuat Yoona hanya mencintaimu, arrasseo?” Joongki mengakhiri kalimatnya dengan mengerlingkan sebelah mata.

Siwon hampir saja tersedak karna sedang minum ketika Joongki mengatakan hal itu. Dan itu sukses membuat Joongki tersenyum geli. Sepasang pengantin baru itu kemudian berlalu meninggalkan Siwon dan Yoona untuk menyambut tamu yang lain.

“Well, lihat akibat perbuatanmu. Aku jadi bahan tertawaan.”

“Begitukah? Kurasa kau sendiri yang menjadikan dirimu bahan tertawaan.” Yoona menyahut acuh sambil meneguk minumannya. Ada senyum geli yang ia sembunyikan.

Siwon menghadap Yoona dengan memincingkan mata. “Dasar gadis nakal,” desisnya dengan senyum geli.

“Mau berdansa denganku?”

Yoona menaikkan sebelah alisnya dan memandang telapak tangan Siwon yang terulur. Kemudian ia mendongak menatap Siwon yang menunggunya. “Tentu,” jawabnya dengan senyum ringan.

Siwon meraih gelas Yoona kemudian meletakkan gelasnya dan gelas Yoona di atas meja. Lalu tangannya mulai menuntun Yoona ke atas lantai dansa.

“Kau bisa berdansa?”

“Hei, berapa lama kau mengenalku,” seru Siwon. “Jangan meremehkan kemampuanku. Kau tahu, tontonanku sewaktu kecil adalah para penari.”

Yoona terkekeh. “Itu bagus.”

Siwon meletakkan sebelah tangan Yoona pada pundaknya sementara tangan lainnya ia genggam. Tangan kanannya, ia letakkan pada punggung Yoona. Dan mereka mulai bergerak pelan, mengikuti alunan musik yang mengalun lembut.

“Hati-hati dengan kakimu,” kata Yoona setelah Siwon memutarkan tubuhnya lalu kembali dalam pelukan pria itu.

“Maksudmu aku bisa menginjak kakimu?” Sebelah  Siwon terangkat. “Dengar,  aku mungkin tak sepandai beberapa pria dengan kemampuan menari yang baik. Ya, karna memang aku tak tertarik dalam tari. Tapi setidaknya aku tidak sampai menginjak kaki pasanganku.”

Yoona mendelik kearah Siwon. Ucapan Siwon jelas mengingatkannya ketika masa SMA ia pernah menginjak kaki  pasangan menarinya saat kelas menari.

“Kau tidak pandai dalam berdansa, Tuan Choi,” katanya begitu menemui gerak Siwon agak kaku.

“Tapi kau menikmati berdansa denganku, Nona Im.”

Yoona tidak lagi menjawab. Ia menerima gagasan Siwon, bahwa ia memang menikmati berdansa dengan pria ini. Apapun itu asal berada di sisi Siwon pasti akan menyenagkan.

Ini bukan kali pertama bagi Siwon untuk sedekat ini dengan Yoona. Menatap gadisnya yang jelita. Tapi entah mengapa, getaran itu masih saja ada dalam hatinya ketika menatap tiap inch lekuk garis wajah Yoona.

Tangan lembut yang ia genggam serasa menghantarkan sengatan ke sekujur tubuhnya, mengalirkan darah yang mendesir. Bahkan tangan Yoona yang berada di pundaknya seolah menyalurkan getaran aneh pada jantungnya, membuat letupan-letupan bahagia disana.

“Kurasa aku semakin mencintaimu,” Siwon berkata ketika ia kembali memutar tubuh Yoona.

“Apa?” Tanya Yoona ketika ia kembali menghadap Siwon.

“Ya, aku semakin mencintaimu. Bagaimana denganmu?”

“Kurasa tidak.”

“Aku tahu kau berbohong.”

Yoona kembali memamerkan senyumnya sebelum ia menjatuhkan pipinya pada pundak Siwon. Musik masih mengalun lembut. Menghantarkan beberapa pasang yang menari di lantai dansa merasakan nuansa romantic yang  melankolis.

`$`

Dua kata yang seharusnya terucap tanpa adanya enam kata sebelumnya. Siwon tak habis pikir. Bagaimana bisa gadis ini mengakhiri hubungan mereka secara sepihak? Hei, hubungan ini terjalin bukan hanya atas dasar satu pihak!

“Yoona, aku tahu kau tak benar-benar berniat melakukan ini. Kita masih bisa membicarakannya secara baik-baik. Dan aku minta maaf jika aku melakukan kesalahan padamu.”

Kepala Yoona menggeleng, “aniyo, Oppa. Kau tak pernah melakukan kesalahan padaku.”

Lantas kenapa kau melakukan ini? Ada apa denganmu? Mengapa begitu mudah bagimu mengakhiri semua ini? Sesuatu terjadi padamu, sayang? Siwon ingin mengajukan setumpuk pertanyaan yang bersarang di otaknya. Namun pada akhirnya ia hanya mampu menyuarakan satu kata, “lalu?” dengan suara lemah.

“Kurasa kita sudah tidak cocok.”

Alasan macam apa itu! Sekali lagi Siwon menahan sesuatu yang hampir meledak dalam dirinya. Ia sosok yang tak bisa menahan amarah, terkadang. Tapi tidak berlaku pada gadis ini.

Perlahan Yoona melepas genggaman Siwon, dengan sangat lembut hingga Siwon merasa ingin mengikat tangan Yoona untuk terus menyentuh tangan dinginnya.

“Aku akan segera mengemasi barang-barangku yang masih tertinggal di apartemen. Besok kau sudah tidak akan melihatnya disana.”

Kau bicara begitu tenang, Im Yoona. Tidakkah kau merasa ini hal yang menyakitkan? Siwon masih menatapnya sendu, ada kilatan kesedihan serta perih di dalam sana.

Seolah enggan menyaksikan kesakitan Siwon, gadis itu sudah berdiri siap melangkah meninggalkan tempat pertemuan terakhir dengan pria pujaan hatinya sebelum sebuah keputusan yang diambilnya. “Aku harus pergi, Oppa.” Ia menarik sudut bibirnya. “Terimakasih sudah meluangkan waktu menemuiku. Selamat tinggal.”

Siwon masih diam seribu bahasa. Sibuk mencerna kata-kata dari gadis itu. Dan sungguh tak mengerti dengan semua ini. Dia tak tahu harus mengekspresikan perasaannya seperti apa. Dan ketika dirasa seseorang telah berdiri di belakangnya, ia masih enggan bergerak.

“Oh, ya..” Suara lembut itu masuk memenuhi gendang telinga Siwon. “Jaga dirimu baik-baik, Oppa.” Yoona mencondongkan tubuhnya, menjaga rambutnya agar tak jatuh mengenai bahu Siwon. Lalu sebuah kecupan mendarat pada pipi kanan pria itu.

Gadis itu beranjak pergi.

**

Sungai Han nampak tenang ketika matahari telah menggantung rendah di ufuk barat. Siwon terdiam dengan mata menerawang jauh. Ia lelah. Lelah dengan semua ini. Sudah seminggu semenjak kepergian Yoona dari apartemennya, ia tak pernah lagi menjumpai gadis itu. Ia sudah mencari ke tempat-tempat biasa Yoona pergi tapi nihil, Yoona tidak ada. Gadis itu benar-benar menghilang dari kehidupannya.

Ia menghawatirkan gadis itu. Mereka telah tinggal satu atap selama kurang lebih dua tahun. Tapi mereka masih menjaga kesucian cinta mereka. Siwon dan Yoona hanya tinggal satu atap. Ya, hanya itu dan mereka bahagia selama itu. Tidak ada permasalahan ataupun selisih sampai pertengkaran hebat. Mereka bisa menyelesaikan itu dengan baik-baik.

Akan tetapi kali ini dahi Siwon mengernyit dalam. Tidak pernah terbesit dalam benaknya, berpisah dari Yoona bisa membuatnya menjadi orang setengah waras. Hidupnya berantakan. Ia kehilangan kendali. Melampiaskan semuanya pada minuman beralkohol.

Apa dia memang harus melupakan Yoona? Wanita yang sudah mencampakkannya begitu saja? Tapi Siwon tidak bisa melakukan itu. Dia terlalu mencintai gadis itu.

Terkutuklah perasaan itu!

“Kau terlihat kacau, Nak.” Suara rendah itu membuat kepala Siwon menoleh. Seorang wanita paruh baya sudah duduk di sampingnya.

Siwon tak menyahut, hanya tersenyum miris.

“Kau sedang putus cinta?”

Bagaimana dia bisa tahu?

Wanita paruh baya itu tersenyum sekilas, matanya masih menatap Sungai Han yang tenang. “Aku juga pernah muda, Nak. Kau tahu, semua orang pernah mengalami hal sepertimu.”

Tapi ini berbeda! Gadisku meninggalkanku begitu saja dengan  sejuta pertanyaan yang bersarang di benakku! Dengan kata yang tak dapat kumengerti!

Siwon hanya mengatakan itu dalam hati. Ia terlalu enggan membuka mulut untuk bersuara.

“Nak, kau harus tahu. Wanita sangat sensitif. Mereka adalah makhluk lembut yang selalu ingin dimengerti, ingin diberi kasih sayang lebih. Mereka haus akan cinta.”

Dia benar.

“Terkadang mereka ingin dimengerti dengan menarik perhatian melalui cara mereka sendiri. Yah, hal yang justru tidak dimengerti oleh kaum pria.”

Begitukah? Tapi kurasa dia memang jauh lebih tahu.

“Dengar, Nak. Tidak semua, ya semua hal, dapat di ungkapkan dengan kata-kata. Begitupun dengan perasaan. Wanita sangat pintar menyembunyikan perasaannya.” Wanita paruh baya itu tersenyum singkat. “Sayangnya kaum pria tidak peka dengan hal itu. Seandainya kau peka mungkin kau bisa tahu apa yang sebenarnya dirasakan kekasihmu.”

Siwon termangu. Kalimat wanita itu terngiang-ngiang di kepalanya. Kalau begitu, Yoona menyembunyikan sesuatu darinya?

“Aku mengatakan hal itu karna dulu aku pernah membohongi perasaanku sendiri.”

Siwon menolehkan kepala ketika wanita paruh baya itu melanjutkan kalimatnya.

“Aku meninggalkan pria yang kucintai lalu menikah dengan suamiku yang sampai sekarang sama sekali tidak kucintai.” Wajah sendunya tersapu angin musim panas yang berhembus pelan. “Kau bisa membayangkan bagaimana rasanya itu. Hidup bertahun-tahun dengan orang yang tak kau cintai.”

Mengapa kau meninggalkan laki-laki itu? Dan mau saja menikah dengan pria lain? Siwon ingin menanyakan hal itu. Tapi ia urung bersuara. Ia teringat kalimat wanita paruh baya itu bahwa tidak semua hal bisa diungkapkan dengan tutur kata.

Jadi, Siwon hanya menyunggingkan seulas senyum dan berkata, “Terimakasih, Bibi.”

Wanita paruh baya itu menoleh kearah Siwon dan tersenyum hangat. “Masih ada harapan. Jadi,  kejar cintamu sebelum kau benar-benar menyesal.”

**

Tangan kanan Siwon terangkat untuk memencet bel apartemen. Ia menunggu sahutan. Ketika hendak memencet bel lagi, pintu apartemen sudah terbuka memperlihatkan seorang wanita dengan rambut hitam panjang dan tubuh tingginya.

“Yuri..”

“Siwon?” Wanita itu mengernyitkan dahi. “Ada apa kau datang kemari?” Suara Yuri terdengar ketus. Ia mengamati penampilan Siwon yang berantakan. Rambut acak-acakan dengan lingkaran hitam di sekitar matanya.

Siwon berdaham pelan. “Ada sesuatu yang ingin kutanyakan padamu.”

“Apa? Katakan saja. Aku tidak punya waktu banyak.”

Kepala Siwon menoleh ke kanan dan ke kiri. Lalu kembali menatap Yuri. “Tidak bisakah kita bicara di dalam? Rasanya tidak nyaman sekali bicara sambil berdiri.”

Aku bukan tukang pos ataupun pengantar susu! Batin Siwon kesal.

“Kukatakan padamu sekali lagi. Aku tidak punya banyak waktu. Jadi cepatlah sedikit.”

Siwon mendesah pelan. “Baiklah, baiklah.” Ia menyerah. Karna satu-satunya harapan dia hanya Yuri.

“Ini mengenai Yoona—Hei!” Siwon berseru ketika Yuri tiba-tiba saja hampir menutup pintu. Ia menahan pintu dengan kakinya. “Yuri, kumohon. Aku tahu kau mengetahui apa yang terjadi pada Yoona. Bantu aku bertemu dengannya.”

Yuri mendorong kuat-kuat pintu apartemennya. Tapi tubuh Siwon juga terlalu kuat. “Aku tidak tahu!”

“Kumohon Yuri. Kau satu-satunya harapanku.”

“Kubilang aku tidak tahu! Apa kau tuli!” Dengan susah payah akhirnya Yuri dapat mendorong tubuh Siwon dan menutup pintu apartemennya rapat-rapat.

Siwon menatap sedih pintu apartemen Yuri. Gadis itu masih marah padanya. Kendati Yuri sahabat terdekat Yoona akan tetapi gadis itu masih belum mau memaafkannya. Hanya karna dulu ia pernah berselingkuh dari Yoona. Yuri benar-benar marah dan membencinya.

Tapi, astaga! Itu dulu ketika ia masih remaja, belum mengerti betul makna cinta. Dan sekarang ia hanya mencintai Yoona bahkan sangat mencintai gadis itu.

Siwon berjalan gontai, melangkah pelan meninggalkan apartemen Yuri. Apa ini akhir dari segalanya? Kisah cintanya?

Demi Tuhan! Dia benci dirinya yang mudah menyerah!

“Siwon..”

Kaki Siwon berhenti melangkah. Ia menoleh ke belakang dan mendapati Yuri menyumbulkan kepala dari balik pintu.

“Mungkin kau akan menemukannya di salah satu rumah sakit Seoul.”

Kedua alis Siwon terangkat. “Rumah sakit? Rumah sakit man—“

Tapi Yuri sudah menutup pintu kembali. Siwon mengeram. Dengan seribu langkah ia segera bergegas.

Ada begitu banyak rumah sakit di Seoul. Tapi, persetan dengan semua itu. Ia akan mencari Yoona, gadisnya. Lalu akan bicara baik-baik. Ia merindukan Yoona. Ia sangat merindukan gadis itu.

**

Tiga rumah sakit terakhir yang belum Siwon kunjungi. Ini jelas tidak mudah. Mencari nama Im Yoona di setiap rumah sakit. Dan ia harus menahan geram saat tak juga menemukan nama itu.

Tapi yang namanya perjuangan memang tak pernah ada kata sia-sia. Nama Im Yoona yang ia cari ada di lantai tiga gedung rumah sakit yang ia kunjungi saat ini.

Ketika Siwon masuk ke dalam kamar rawat Yoona, ia melihat gadis yang seminggu terakhir ia rindukan kini tergolek lemah di atas ranjang. Memejamkan mata dengan wajah pucat. Selang infus masih terselip pada punggug tangannya. Siwon dapat melihat gadis itu benar-benar sakit.

Ini di luar dugaan. Im Yoona yang selalu menunjukkan senyum cerahnya, Im Yoona yang tak pernah menunjukkan tanda-tanda kesakitan kini justru terbaring dengan wajah pucat pasi.

Siwon masih berdiri di tempatnya. Memandang Yoona dengan tatapan nanar.

Ya Tuhan, bukankah ia pria terkejih di dunia? Bagaiamana mungkin ia tak menyadari kesakitan Yoona padahal gadis itu tinggal bersamanya.

Siwon teringat ketika suatu malam ia mendengar Yoona menggumam di kamarnya. Siwon melengok ke kamar Yoona yang hanya berbatas tembok dari kamarnya. Ketika ia bertanya, Yoona hanya menyunggingkan senyum dan berkata tidak apa-apa.

Wanita paruh baya itu benar. Jika saja ia lebih peka pasti ia bisa menemani Yoona dari awal, sejak gadis itu kesakitan.

Oppa?”

Siwon mendongakkan kepala ketika suara lembut yang teramat ia rindukan mengisi gendang telinganya. Disana, gadisnya tengah menatapnya. Tatapan yang Siwon rindukan, tatapan yang sama, dari seorang Im Yoona.

Keheningan menyelimuti ruangan itu. Untuk beberapa menit mereka hanya berpandangan. Menggunakan percakapan batin untuk meluapkan rasa rindu.

“Kau sudah datang, Oppa?” Suaranya lembut, lirih. Gadis itu tersenyum lemah.

Dan Siwon ingin menangis saat itu juga. Bodohnya ia yang tak menyadari ini sejak awal!

Siwon tersaruk-saruk menghampiri Yoona. Ia menekuk lututnya di samping ranjang Yoona. “Mianhae…” Ia meraih jemari Yoona dan menciumnya. “Maaf membuatmu lama menunggu. Maaf aku terlalu lama berfikir dalam kebodohanku. Mianhae..”

Pria itu tidak menangis. Ia berusaha menahan tangis juga getaran dalam suaranya.

Yoona tidak menyahut. Hanya menatap dalam pria yang ia cintai. Kemudian ia kembali tersenyum lemah dan menganggukkan kepala.

“Ini tidak akan lama. Semua akan baik-baik saja..” Siwon memberi keyakinan. Keyakinan pada Yoona dan juga untuk dirinya sendiri.

Kali ini Yoona tidak tersenyum ataupun menganggukkan kepala. Ia tidak merasa yakin dengan ucapan Siwon. Bagaiamanpun juga beberapa jam lagi nyawanya akan dipertaruhkan di meja operasi. Hidup dan matinya akan ditentukan sebentar lagi.

Siwon menatap ke dalam manik mata Yoona dan ia menemukan gadis itu merasa ragu. Pria itu kemudian berdiri mengitari ranjang. Lalu membaringkan tubuhnya di samping Yoona. Ia memeluk tubuh Yoona yang berbaring membelakanginya. Tangannya menggenggam jemari-jemari Yoona yang terasa dingin dan rapuh.

“Jangan takut..”  Nafas Siwon berhembus diantara anak rambut Yoona. “Aku ada disini bersamamu..” Siwon tidak berhasil menahan getaran suaranya ketika kalimat terkahir itu meluncur dari bibirnya.

“Kau percaya padaku, ‘kan?”

Bahu Yoona mulai bergetar naik turun. Isakan kecil keluar dari bibirnya. Yoona mengangguk, lalu menggeleng. Ia balas menggenggam erat tangan Siwon.

Pria itu menenggelamkan kepalanya diantara rambut Yoona yang wangi. “Setidaknya…” Ia kesulitan menekan isakan. “Kalau kau tak percaya padaku setidaknya kau harus percaya pada Tuhan..”

“Tuhan ada bersamamu, mm..”

Bahu Yoona semakin bergetar dan mereka mengisi pertemuan mereka setelah beberapa hari tak bertemu dengan tangis. Menumpahkan segala perasaan dengan air mata.

Hari itu Yoona menjalani operasi untuk penyakit kanker yang dideritanya. Siwon menunggu dengan jantung berdebar. Dengan kecemasan yang luar biasa. Dengan raut gusar dan perasaan berkecambuk. Untaian doa mengiringi jalannya operasi. Tak henti-henti Siwon menggumamkan doa untuk Yoona.

Tuhan, jangan biarkan Yoona pergi dariku lagi..

Aku berjanji akan menjaganya dengan baik..

Tolong, beri kekuatan padanya..

Aku mencintainya..

Di tengah-tengah doanya,  Siwon mendapati seorang dokter keluar dari ruang operasi. Membuat Siwon langsung melompat menghampiri dokter itu.

Bagaimana?

Sebelum Siwon sempat membuka mulut, dokter itu telah menggelengkan kepala. Dengan sangat menyesal mengatakan bahwa operasi gagal.

Dan Yoona tidak sadarkan diri lagi untuk selamanya.

[]

Tissue-tissue itu berserakan di atas karpet ruang tengah. Sebotol soju dan sebungkus kacang telah habis tergeletak di atas meja.

Mereka tengah menonton sebuah film romance setelah sebelumnya menonton film sad-romance yang membuat Yoona menitikan air mata karna terbawa suasana.

“Apa kau bosan?”

“Hmm?” Yoona menoleh kearah Siwon. Lalu ia menggelengkan kepala serta tersenyum tipis. “Tidak juga.” Ia kembali menghadap kearah layar, mengeratkan pelukannya pada lengan kekar Siwon. Menyandarkan kepalanya pada pundak kokoh itu.

Kedua kakinya ia tekuk di atas sofa. Dengan tekukan lututnya yang berada di atas paha Siwon. Ia menikmati suasana seperti ini. Menghabiskan malam minggu bersama kekasihnya.

“Oppa..”

“Ya?”

Siwon menunggu Yoona yang belum juga melanjutkan kalimatnya. Lama, sekitar satu menit.

“Aku mencintaimu..”

Siwon ingin sekali menyentil kening Yoona dan mengatakan kalimat itu terlalu ‘klise’ dan tak biasa mereka bicarakan. Ya, karna menurut Siwon cinta itu sebuah tindakan.

Akan tetapi Siwon urung melakukannya ketika melihat keseriusan di wajah Yoona. Gadis itu sudah menatapnya setelah mengatakan dua suku kata yang menurutnya sangat ‘klise’

Mereka bertukar pandang cukup lama. Sampai Siwon bersuara, “mengapa kau katakan itu sekarang?”

“Aku tidak tahu bagaimana harus menyampaikan dengan baik perasaan cinta itu. Tapi aku berjanji padamu.  Aku hanya akan mencintaimu seumur hidupku, sepanjang hidupku, hingga  nafasku terakhirku. Aku mencintaimu di setiap deru nafasku. Aku mengingatmu di setiap kedipan mataku. Aku mencintaimu, Oppa.”

Mata bening itu beradu dengan mata gelap Siwon. Detik-detik berlalu dengan suara jarum jam yang berdenting di antara keheningan malam.

Tangan Siwon mulai bergerak, menyentuh pipi Yoona, mengusapnya lembut. “Aku memegang  janjimu.”

Yoona memejamkan mata ketika merasakan deru nafas Siwon menyapu halus permukaan wajahnya. Dan sesuatu yang lembut itu menyentuh bibirnya. Ciuman Siwon yang terasa manis di bibirnya menyembulkan sebuah sensasi di sekijur tubuh Yoona.

Gadis itu mengalungkan kedua tangannya pada leher Siwon, menekan kepala Siwon agar pria itu tidak berhenti menciumnya.

Ciuman Siwon tidak pernah memaksa.

Ciuman Siwon selalu lembut.

Ciuman Siwon terasa hangat.

Ciuman Siwon penuh perasaan cinta.

Dan Yoona menyukainya.

.

.

.

| FINISH |

A/N : Ini Sad Ending atau Happy Ending???!! HAHA ini Sad Ending yg manis, ‘kan? Ayo bilang siapa yg gak suka? Sini aku ketjup /eh.-./ Oke, jangan tanyakan :‘siwon kapan nembak yoona?’, ‘seharusnya dijelasin gimana proses jadian yoonwon’-____- hei, ayolah aku yakin kalian bisa bermain dengan imajenasi kalian sendiri dan semua itu tak harus dijelaskan secara detail B.G.T-_- Jujur awalnya ini tu Drabble trus kubaca ulang kayak ada yg kurang trus aku robak dikit, ehhhhhh malah kebablasan jadi OS’-‘ dan rencana awal itu Happy End tapi setelah di pikir-pikir menurutku HappyEnd itu ntar jatohnya terlalu ‘klise’_-_

Ada yg bingung gak ama alur-nya? Ini alur maju mundur. Mungkin ada yg baca lewat hp kali ya, trus gk bisa munculin italic-nya. Jadi itu semua cerita setelah ada tanda “[]” maka paragraf dibawahnya berupa flashback dan berakhiri dengan tanda `$` J Semoga gak bingung yah hehhe..😀

R.C.L!!! Okay! 😉

Tinggalkan komentar

169 Komentar

  1. Kwon Liia

     /  September 10, 2013

    sad end, alur critanyaa bikin bingung sihh..
    tapi wktu baca pertengahan udh gk bingung wktu ada alur yg flashback..
    bgus, tp knpa yoongie meninggal? gk rela T.T
    keadaan wonpa jg digantungin nih authorr :((
    tp bgus kok, ditunggu krya authorr yg lain yaa:))
    keep writing & fighting ‘_’)9

    Balas
  2. mutiara

     /  September 11, 2013

    sad ending yg menyebalkan eonn-,-
    sdh banget yoonwon nggak bersatu:'((
    walaupun raga yoonwon nggak bersatu tapi jiwa mereka pasti bersatu cielahh wkwk=D

    Balas
  3. ole

     /  September 18, 2013

    Daebak thor ceritanya
    Aku suka sama alurnya, ga monoton sama alur yang itu2 aja.🙂
    Oh iya. Aku boleh request cerita dong thor (heheh) aku ga pernah baca cerita dimana yoona atau siwon selingkuh secara detail, pasti seru tuh. Tapi tetep happy ending yah yoonwon nya.
    Ditunggu deh buat OS2 selanjutnya. Jangan lupa request ku yaahhh😉

    Balas
  4. huuaa.. g rela yoongie mninggal

    feelny krsa bgt thor
    keep create

    hiks
    😥

    Balas
  5. uchie

     /  September 26, 2013

    Bru baca, bru baca!!! Ya ampun, pdhal udh nunggu2 ad yg bikin n stelah kamu bikin aq bru bca sekarang -_-…

    Aku kurang merasakan ke angst_an disini #plak, kurang greget, kurang sedih n tidk membuat drq menangis, pengen yg bikin banjir air mata jumma… Plis bikinin, itloh kyk ffmu yg d note fb, salah satu ff angst favoritq….

    Endingny klise, bener ktamu sadending yg manis…. Nemu beberapa typo, n “just give me a reason”nya it pertanyaan siwon knp yoona mutusin dia tiba2 kan?? Oke, udh terjawab krn yoona pny kanker n gk bakal bisa bertahan lama sma siwon….

    Okeee, sekian koment dr mrs.J utk OS kecemu ini… Bnyakin OS2 yg lain yaa, n utang(?) jgn lupa dibayar *glek….

    Mumumuaaach, from myungsoo, #ngarep…

    Balas
  6. DeerDian407

     /  September 29, 2013

    Agak bingung sh sma alurnya , tapi bagus

    Balas
  7. aprilyoonwon

     /  November 12, 2013

    Sad end.. aku pikir yoona onnie mrah sma
    Wonppa tpi ternyta yoona onnie skit…
    Daebak oenn..

    Balas
  8. choi fanny

     /  Desember 24, 2013

    Keren kok…
    Iyah aku baca lewat hp, jadinya gak terlalu jelas..
    tapi tetep daebak…

    Balas
  9. Sad ending…
    Hahh setidaknya akhirnya jangan sad

    Balas
  10. q sedih bget.. tp ending’y so sweet.

    Balas
  11. aqila

     /  Maret 24, 2014

    Sumpah . Keren bgt nih ff , udah ke 2 kalinya baca nih ff🙂
    Author , daebak !!!
    Nangis nih waktu bagian siwon ke apartemen yuri sampe terakhir😥
    Ditunggu ff lainnya🙂

    Balas
  12. Merisa Hermina putri

     /  Mei 11, 2014

    Ahhhh sedihhhhh !! Udah itu doank , gak bisa ngomong apa apa lagi , jahat jahattttttttttt authornyaaaa

    Balas
  13. Mia

     /  Juli 12, 2014

    Ga’ bercanda sumpah bingung bgt

    Balas
  14. Evi

     /  Agustus 2, 2014

    Sdih bnget

    Balas
  15. Damayanti

     /  September 14, 2014

    Huaaaa:'( Cerita ini benar-benar buat ane terhura, *eh terharu maksudnya, Makasih atas ceritanya^^

    Balas
  16. Hua… Sad Ending :”(
    Gak rela Eonni kesayanganku#eh..
    pergi…
    Astaga…aku nangis malem malem…Feelnya dapet banget thor.:””(

    Balas
  17. Nur khayati

     /  Mei 28, 2015

    Y00na pintar bgt nyembunyiin perasaan.a, jd bikin teka-teki buat Siw0n,.
    Siw0n yg tabah,,

    Balas
  18. Bingung gak ngerti sama jalan ceritax…?

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: