[3S] BITTER! (Chapter 1)

 998921_172383279613333_1501070477_n

BITTER!

by

choichoding007 & nitahyunmichoi

Life, Romance & Family || PG 13 || Threeshoot [1/3]

Starring : Super Junior’s Choi Siwon & SNSD’s Im Yoona

Support Cast : A Pink’s Park Chorong

.

.

A/N : First project by “2N” (Nurul & Nita) Please, give us supported with leave your coment like as critical and suggest^^ Thank you *bow*

.

.

 

Choi Siwon, pria bertubuh tegap berbalutkan tuxedo hitam itu kini tengah duduk di atas sofa empuk, disudut ruang. Kaki panjangnya bersilang dengan elegan. Satu tangannya memegang gelas kristal berisi wine.

Ia tak sendiri.

Mata obside-nya sesekali menyipit bersamaan dengan garis bibir yang tertarik keatas serta suara tawa yang terdengar diantara hingar bingar suasana clup malam.

Seorang wanita dengan pakaian ketat yang menampilkan lekuk tubuhnya, duduk disamping Siwon. Bergelayut manja memeluk tubuh pria itu. Tak beda jauh darinya, sekitar empat orang pria yang juga duduk disana tengah bertemankan ‘penghibur’ mereka.

Ini wajar bukan?

Ya, tentu saja wajar. Hidup ini terlalu menyedihkan. Dan akan sangat sial jika menghabiskannya hanya dengan rutinitas di pagi hari berangkat kerja kemudian pulang ke rumah di malam hari. Hei, ayolah! Ini bukan kisah anak sekolah yang harus mengganti seragam terlebih dahulu sebelum bermain keluar rumah.

Setidaknya terselip dalam benak Siwon bahwa ia tak ingin hidup dengan kebosanan dan mati konyol karena stres.

“Hei, ayo bertaruh..” suara Chansung menggantikan tawa dari mereka.

“Bertaruh? Maksudmu tentang apa?” Eunhyuk menuntut kejelasan. Kemudian ia meneguk wine yang ia tuangkan kedalam gelasnya.

Chansung mengusap dagunya sambil menyipitkan mata, berfikir sejenak. “Sesuatu yang menyenangkan, tentu saja.”

“Wanita?” sahut Changmin.

Taecyeon mengernyit, sedikit menimbang. Kemudian kedua alisnya terangkat, “memangnya kau mau bertaruh apalagi? Bukankah kemarin ‘the winner’ masih pada posisinya..” kedua bola matanya melirik pada pria yang sedari tadi bungkam.

Sepanjang teman-temannya berbicara, ia hanya menyunggingkan senyum kecil. Batinnya terpingkal ketika mendengar sindiran Taecyeon.

“Ahh~ astaga..” Eunhyuk mendesah seperti dibuat-buat. Ia kemudian memutar tubuhnya menghadap pada Siwon.“Siwon-ssi, kemarin kau telah berhasil mengencani model ternama itu, huh? Bagaimana? Apakah dia seperti yang kita bayangkan, ah?”

“Aku yakin dia tak hanya berhasil mengencaninya saja tapi juga sudah menidurinya. Bukan begitu, huh?” sahut Changmin yang langsung disusul oleh gelak tawa ke empat pria itu.

Sementara sosok yang dibicarakan sedari tadi hanya mengambil sikap tenang dan menyunggingkan senyum seolah hal itu bukanlah sesuatu yang patut di banggakan.

Tiba-tiba suara tawa serta acara mereka harus terganggu ketika seorang wanita sudah berdiri di hadapan mereka dengan nafas terengah serta beberapa pria bertubuh besar memegangi lengannya.

Jwesonghaeyo, Tuan. Kami sudah berusaha menghalanginya tapi—“ perkataan salah satu pria bertubuh besar itu dihentikan oleh gerak tangan Siwon yang menyuruh mereka segera pergi.

Tiga orang pria dengan pakaian serba hitam itu segera menuruti perintah majikan mereka.

Siwon menatap dengan alis terangkat wanita di hadapnnya itu dari ujung rambut hingga ujung kaki. Keempat pria lainnya memilih untuk diam, menyaksikan drama apa yang akan diciptakan temannya itu.

Pria itu hendak berdiri ketika wanita yang sedari tadi bergelayut di dekatnya mencegahnya—dengan mimik manja, tentu saja.

Siwon memberikan isyarat dengan mengedipkan sebelah mata untuk kemudian menyuruh wanita itu tidak perlu khawatir.

Lalu ia berdiri, menatap kearah wanita yang memandangnya dengan tatapan kalut.

“Hyeri-aa..” kakinya melangkah ke depan. “Ada apa, Sayang? Kau merindukanku, hmm?” tangan kanannya mengusap pipi mulus Hyeri.

Wanita itu tak menjawab. Ia hanya mengutarakan perasaannya lewat tatapan mata.

Dahi Siwon berkerut samar melihat tatapan Hyeri. “Sepertinya kau sedang tak baik. Kenapa kau tak pulang saja? Tempat-tempat seperti ini sungguh tak baik untukmu.” Ia mengulum senyum penuh arti. “Apa kau berniat melihatku mengencani wanita-wanita disini, mm?”

Mata Hyeri sudah berkaca-kaca siap melunjurkan cairan bening dari sana.

“Oh! Tidak, tidak! Jangan menangis, Sayang. Kau tahu, bukan? Aku paling benci melihat wanita menangis..” Siwon menangkup wajah Hyeri dengan kedua tangannya.

“K-kenapa?” suara Hyeri tersendat. “Kenapa kau mencampakkanku begitu saja, Oppa? Apa aku berbuat salah? Apa aku kurang memuaskan bagimu?”

Siwon menggelengkan kepala. “Tidak sayang, tidak. Bukan begitu..” suaranya terdengar lembut serta matanya menatap sendu kearah Hyeri.

Mungkin untuk orang-orang yang belum mengenal betul pria ini akan mengira adegan itu bak seorang kekasih yang tengah meyakinkan cintanya pada wanita-nya. Tapi hal itu tidak berlaku untuk keempat pria yang masih tenang duduk di atas sofa sambil sesekali meneguk wine mereka.

“Sudah kukatakan padamu kita tidak pernah terikat dalam sebuah hubungan. Kau mengingatnya, ‘kan?”

Kepala Hyeri menggeleng dengan air mata yang sudar merembes dari sudut matanya.“Tapi aku mencintamu, Oppa!” Hyeri meremas tuxedo Siwon, berusaha meyakinkan.

Kepala Siwon menunduk kemudian seringai mengerikan tersungging di bibirnya. Hyeri dapat menangkap itu.

Ketika kepala Siwon terangkat, air wajahnya sudah berubah seratus delapan puluh derajat. Mata yang tadinya terlihat sendu kini berganti dengan mata gelap mengerikan.

“Kau hanya belum mengenalku, Sayang.” Siwon memberikan senyum manisnya sebelum akhirnya mengecup bibir Hyeri. Ciuman yang hanya berdurasi tiga detik. “Bonus sekaligus salam perpisahan,” bisik Siwon kembali menyeringai lebar.

Ia mundur beberapa langkah tanpa melepas senyum manisnya—itu bagi wanita lain tapi tidak untuk Hyeri.

Hyeri maju selangkah dan untuk langkah kedua lengannya sudah diapit oleh tangan besar seseorang. “Oppa, aku mencintaimu. Tidakkah kau bertindak keterlaluan? Oppa… oppa.. Ya! Choi Siwon. Brengsek kau! Pria kejam, tak berperasaan…”

Siwon hanya memasang wajah tenang serta mengangkat gelas wine-nya sebagai salam perpisahan ketika mendengar umpatan Hyeri yang masih terdengar saat para bodyguard-nya membawa paksa wanita itu.

“Astaga! Aku tak menyangka adegan ini sungguh mengharukan..” kata Chansung dengan mimik terharu yang di buat-buat. Eunhyuk yang duduk di sebelahnya langsung menepuk keras punggung Chansung serta meledakkan tawanya.

“Dia… wanita ke berapa yang kau kencani?” tanya Changmin nampak sedikit penasaran. Sementara Siwon hanya mengangkat bahu seolah tak begitu memedulikan pertanyaan Changmin.

“Hei. Kurasa sikapmu sedikit keterlaluan.” Changmin menambahkan, sedikit prihatin. Siwon masih berdiri, menatap kedepan serta mengangkat dagu.

“Memangnya siapa yang membuatnya hingga seperti ini kalau bukan seorang wanita bernama Park Chorong yang te—“

‘Bugh!’

Pecahan gelas serta pukulan keras itu terjadi secara tiba-tiba membuat kelima wanita yang ada disana menjerit serta merta melarikan diri, takut kalau-kalau akan menjadi sasaran selanjutnya.

Taecyeon meringis, merasakan tubuhnya sedikit terhuyung dan nyeri pada pipi kirinya. Dan kini Siwon sudah mencengkram kerah bajunya serta menatapnya dengan mata merah menyala. Ada luapan emosi di dalam sana.

Nafas Siwon terengah bersamaan dengan gertakan giginya. Eunhyuk dan Chansung baru akan mencegah perkelaihan yang mungkin akan segera tejadi ketika Changmin mencegah mereka lebih dulu. Dia tahu kedua sahabatnya tidak akan berbuat sejauh itu.

Taecyeon tidak mencoba melawan. Dia hanya menatap datar Siwon. Dan untuk beberapa saat kemudian Siwon berusaha menguasai dirinya kembali. Ia memejamkan mata serta melepas cengkraman pada kerah baju Taecyeon. “Mianhae..” lirihnya pelan. Ia menepuk pundak Taecyeon sebelum akhirnya melenggang pergi.

Keempat pria itu memandang punggung Siwon yang mulai menghilang dengan tatapan yang berbeda-beda. Ada prihatin, kasihan, simpatik dan sulit diartikan.

*

Mobil Audi R8 itu berhenti di sisi jalan. Sang pengemudi agaknya masih betah berada di dalam sana. Terbukti sudah lebih dari lima menit ia tetap berada di dalam mobil sebelum akhirnya memutuskan untuk membuka pintu.

Siwon menyandarkan tubuhnya pada mobil. Ia membuang napas kasar serta mendongak keatas. Tangannya mencengkram kaleng soju untuk kemudian meneguk isi kaleng itu yang baru dibukanya. Matanya kemudian menatap kebawah. Kepalanya menunduk dalam.

Perkataan Taecyeon tadi masih terngiang di kepalanya. Bagaimana telinganya kembali menangkap nama wanita itu. Wanita yang delapan tahun lalu sempat mengisi relung hatinya.

Ahh~ dia jadi merasa pria paling bodoh di dunia.

Siwon tersenyum miris. Ia kembali meneguk soju hingga habis, tak menyisakan sedikitpun cairan soju itu.

Tangannya mengayun, membuang asal kaleng soju yang telah ia remas. Matanya bergerak liar, melihat sekitar jalanan Seoul yang masih dipenuhi kendaraan berlalulalang.

Siwon mengerutkan dahi ketika matanya menangkap sosok gadis yang tak jauh darinya tengah berdiri diam dengan tatapan lurus ke depan. Pria itu memerhatikan jalan di seberang dan sosok gadis tadi bergantian.

Apa dia berencana menyeberang? Tapi ini bukan area pejalan kaki menyeberang jalan. Dan…

Hei, apa yang dilakukan gadis itu?

Tubuh pria itu seketika menegang, kedua alisnya terangkat dengan mata terbelalak. Siwon memandang gadis itu dan sebuah truk yang melaju kencang dari arah seberang secara bergantian.

Agsassi! Aghassi!” panggil Siwon dengan berteriak keras. “Aghassi, menyingkirlah dari situ! Disana berbahaya,” peringat Siwon lagi. Namun tak ada sahutan dari sana. Gadis itu masih melangkah tenang.

Apa dia tuli? Buta? Bodoh? Idiot? Gila? Siwon mengernyit geram.

“Oh shit!” umpatnya kemudian mengambil langkah seribu menuju kearah gadis yang tengah berjalan tanpa peduli kendaraan yang melaju kencang.

Dengan gesit Siwon meraih lengan gadis itu untuk kemudian menariknya kembali ke sisi jalan. Hampir saja. Sedetik saja dia terlambat mungkin tubuh gadis bodoh ini akan hancur terpelindas truk.

“Apa kau gila!!” pekik Siwon dengan nafas terengah akibat larinya tadi. Kedua tangannya masih mencengkram kuat lengan gadis itu.

Untuk beberapa saat tak ada sahutan dari gadis itu. Siwon tak dapat mengartikan tatapan gadis itu. Tatapannya kosong seolah ia tengah berjalan sambil tidur.

Siwon mengeram karna tak mendapat sahutan. Namun sebelum dia mengeluarkan suara kembali, kedua bola mata yang menatapnya menghentikan niatnya. Mata itu hanya menatapnya polos seperti tanpa dosa dan tanpa beban.

Yoona—gadis itu tersenyum masam kemudian menghempaskan tangan Siwon yang mencengkram lengannya dengan kasar. Ia berbalik lantas meninggalkan pria yang masih setengah terperangah itu tanpa berkata apapun.

Dia tidak berterimakasih? Sekedar meminta maaf atau menampilkan ekspresi terkejut atau apalah itu untuk kejadian barusan? Hei, gadis ini benar-benar gila!

“Ya! Aghassi!” Siwon meraih lengan Yoona namun gadis itu seperti mendapat kekuatan baru, segera menepis tangan besar Siwon. Dan dia tanpa mau tahu ekspresi Siwon, kembali melanjutkan langkahnya.

Dahi Siwon berkerut dengan rahang mengeras. “Ya! Dasar gila!” lalu ia juga meninggalkan tempat itu dengan hati dongkol.

*

Beberapa suara langkah kaki berpadu dengan ubin lantai lorong itu menggema mulai mendekat. Sekitar lima orang dengan empat diantaranya pria berjas formal.

Choi Siwon berjalan di depan dengan diikuti oleh tiga orang pegawainya serta sekretaris yang berjalan tepat di belakangnya.

Postur tubuhnya yang tinggi, bahu yang tegap serta aura maskulin yang terpancar darinya membuat seluruh karyawan memandang takjup CEO perusahaan mereka itu.

Muda, kaya, tampan, berkarisma. Rasanya hal itu sudah sangat sempurna dan begitu melekat dalam diri sang CEO perusahaan.

Desas desus mengatakan sang CEO yang terkenal dingin itu sering kali bergonta-ganti pasangan. Semua dari kalangan atas, tentu saja!

Bahkan seorang model terkenal hingga aktris tersehor-pun seolah dapat bertekuk lutut di hadapannya. Mereka bahkan rela memberondong sejuta alasan untuk melindungi nama baik seorang Choi Siwon dari gosip miring di kalangan media.

Oh Choi Siwon, sebegitu dahsyat-kah pesonamu hingga semua wanita rela menyerahkan segalanya demimu? Itu tentu pertanyaan bodoh.

Sayangnya Choi Siwon selain terkenal dengan kesempurnaannya, dia juga dikenal kejam dan arogan. Dia tak pernah berkencan dengan satu wanita lebih dari sekali. Dia tipe pembosan. Menurutnya wanita-wanita itu layaknya barang sekali pakai yang akan langsung masuk tong sampah ketika dia sudah bosan.

Demi Tuhan, Choi Siwon! Kau memang jelmaan iblis.

Siwon menghentikan langkahnya ketika sampai pada pintu ruangannya. Ia berbalik dan menghadap keempat karyawannya dengan satu alis terangkat.

“Sampai kapan kalian akan mengikutiku?” suara berat itu seketika membuat keempat orang di depannya terhenyak. Mereka saling melirik untuk sejenak kemudian membungkuk bersamaan “Jwesonghaeyo Sajangnim..

Pria itu berdecak, “kembali ke ruangan kalian.” Kemudian ia membalikkan badan dan masuk ke dalam ruangannya.

Keempat karyawan itu menghembuskan nafas lega. “Ya Tuhan, tidak bisakah dia tersenyum sedikit saja..” Sekretaris Jang mendesis.

“Mungkin kotak tertawanya perlu isi ulang..”

‘PLETAK!’

Zi Tao mengusap kepalanya dan meringis kesakitan. Ia melotot kearah Junmyeon yang seenaknya menjitak kepalanya, “Ya! Kau menyakiti kepalaku.”

“Kekanak-kanakan..” gumam Junmyeon kemudian berlalu.

Mwo?” Pria berdarah China itu dengan tidak terima langsung mengapit kepala Junmyeon dengan lengannya, menimbulkan gelak tawa dari kedua temannya yang berperan sebagai penonton.

*

Tangan kanannya bergerak kasar untuk melonggarkan ikatan dasi yang membelit lehernya sejak pagi tadi. Ia membuang tuxedo hitamnya pada sofa panjang di sudut ruang. Kemudian ia menjatuhkan dirinya pada kursi serta menyandarkan punggungnnya pada sandaran kursi.

Matanya terpejam dengan kerutan samar di dahinya. Sejenak ia larut dengan pikirannya sendiri. Menerawang jauh ke depan atau ke belakang, entahlah.

Siwon membuka matanya lalu tangannya meraih laci meja dan membukanya, mengambil bingkai foto dari dalamnya.

“Park Chorong..” gumamnya parau. Jemari panjangnya mengusap foto seorang wanita yang tengah tersenyum manis menghadap kamera.

Hei, bagaimana kabarmu?

Apa kau baik-baik saja saat ini?

Kau makan dengan teratur, mm?

Kanada, bagaimana disana?

Apa kau…. bahagia? Bersama….. suamimu?

Siwon menarik nafas dalam-dalam, menarik udara lebih masuk ke rongga paru-parunya. Tiba-tiba saja semua serasa menyesakkan. Bibirnya menyunggingkan senyum miris.

Tak butuh waktu lama bagi Choi Siwon untuk mengubah wajah sendu itu kembali menjadi wajah dingin. Rahanganya kembali mengeras serta matanya menajam.

Dikembalikannya bingkai foto itu pada laci kemudian menutup rapat serta menguncinya. Seolah satu barang itu adalah sebuah titik lemah-nya yang harus dipendam sedalam mungkin.

Siwon menyambar tuxedo hitamnya lantas melangkahkan kaki keluar dari ruangan itu. Waktu sudah menunjukkan pukul 21.00 KST.

Mungkin anggapan bahwa pria ini sulit di tebak memang benar. Kadang kala ia bisa menjadi pria dengan pribadi hangat namun di banyak kesempatan ia lebih memilih menunjukkan sikap dinginnya. Ekspresi wajah yang tak terbaca serta perubahan air muka yang begitu tak terduga membuat sebagian besar orang terdekatnya tak bisa mengenali sosok sesungguhnya Choi Siwon.

Malam itu langit gelap tanpa bertumbuhkan bintang. Choi Siwon mengemudi dibawah terangnya lampu-lampu kota Seoul. Sekitar dua puluh menit lagi mungkin ia akan sampai di pub—tempat biasa ia melampiaskan kegusaran dengan minum bersama teman-temannya.

Saat itu entah apa yang terjadi tiba-tiba pria berwajah manly itu menginjak pedal rem. Alisnya bertautan membuat sebuah kerutan pada dahinya. Ditatapnya dengan kesal deretan mobil di depannya bak antrian pembelian tiket konser. Dengan kesal Siwon membuka pintu mobil kemudian berjalan pada sebuah kerumunan yang mengakibatkan kemacetan mendadak.

Siwon memicingkan mata begitu bergabung dengan kerumunan itu—tengah memerhatikan objek yang menjadi pusat perhatian. Atau lebih tepatnya memancing kegaduhan karna terdengar suara riuh dari orang-orang dengan nada kesal.

Seorang polisi lalu lintas tengah berjongkok di sisi seorang gadis yang mendudukkan dirinya di tengah jalan. Polisi itu sedang membujuk si gadis yang memeluk kedua kakinya sambil menelingkupkan kepalanya di atas lutut.

Gadis ini pasti memiliki gangguan jiwa, pikir Siwon.

Sang polisi masih berusaha membujuk namun belum juga ada respon dari gadis itu. Sampai pada akhirnya kepala gadis itu terangkat dan langsung menatap kearah Siwon. Semua orang mendesah kesal juga sang polisi yang bernafas lega.

Untuk beberapa saat Siwon hanya memandang datar gadis yang masih betah menatapnya. Dalam hati, Choi Siwon mendesah. Dewi fortuna tengah memberinya kesialan yang beruntun dengan mempertemuknnya dengan gadis ini dua kali berturut-turut.

Ia baru akan berbalik ketika tiba-tiba saja suara melengking gadis itu menghentikannya.  Gadis itu terisak. Ia menangis keras bak seorang anak kecil yang tidak di belikan permen oleh sang ayah.

Semua orang tercengang tak terkeculi untuk Siwon. Dan saat semua mata beralih memandangnnya, ia mengerjap menatap bingung satu per satu orang disana.

“A-apa?” Siwon menelan ludah. “A-aku t-tidak mengenalnya. Sungguh!” Namun semua orang tetap menatapnya dengan tatapan horor.

*

Pagi itu mungkin  bukan pagi yang baik untukChoi Siwon. Mata yang setengah terpejam harus benar-benar terbuka ketika telinganya menangkap suara gaduh. Ia mengerang frustasi serta menjambak rambutnya.

Pria itu lantas melompat dari tempat tidur untuk memastikan siapa gerangan yang sepagi ini telah repot-repot membangunkannya. Tetangga rumah kah? Tukang pos kah? Atau anjing peliharaan sebelah?

Tapi…

Siwon terbelalak dengan mulut menganga tatkala mendapati ruang tengahnya berubah menjadi seratus delapan puluh derajat. Guci, vas bunga, pigura foto, semua barang-barangnya pecah berserakan di lantai.

Oh God!” pekiknya tertahan.

Lalu telinganya kembali menangkap suara gaduh. Kali ini berasal dari arah dapur.

Awas saja akan kuhajar kau tikus nakal,umpatnya dalam hati.

Ketika pria itu sampai pada dapur, lagi-lagi ia harus dibuat shock dengan mata terbelalak. Ini sama saja dengan keadaan di ruang tengah. Kalian tak perlu dijelaskan lagi bukan?

Kedua bolamata Siwon mengitari ke penjuru ruang hingga ia menemukan seorang gadis berdiri di dekat westafle tengah mengangkat piring.

Gadis itu akan memecahkan piringku? Lagi?

Siwon segera berlari setengah berteriak, “ya! Apa yang kau lakukan!” Kemudian merampas piring malangnya dari tangan gadis tadi.

Yoona—gadis tadi, menatap pria yang tiba-tiba datang dan berteriak itu. Lalu ia memiringkan kepala, mengamati pria di depannya.

Ia mengerjap satu kali, dua kali, tiga kali sampai kali ke lima ia baru bersuara, “nuguya?”

SEHARUSNYA AKU YANG BERTANYA MEMANGNYA KAU SIAPA SEENAKNYA MEMECAHKAN SEMUA BARANGKU!

Siwon ingin sekali berteriak di depan gadis itu namun tertahan dan ia hanya bisa menghembuskan napas kasar. Ia menarik rambutnya frustasi.

Oh Choi Siwon, seharusnya semalam kau letakkan saja gadis ini di stasiun atau apapun itu tempat penampungan orang gila—mungkin.

Siwon baru akan membuka mulut untuk bersuara ketika Yoona tiba-tiba saja berjalan meninggalkannya.

“Ya! Ya! Ya! Mau kemana kau?” Siwon mengekor di belakang Yoona.

Gadis itu masih mengenakan piyama tidurnya dengan gambar kepala beruang besar berwarna cokelat. Siwon tak berniat menggantikan baju gadis itu dengan meminjamkan kemejanya. Seperti dalam adegan seorang wanita yang ditemukan oleh seorang pria lalu si pria meminjamkan kemejanya yang kebesaran pada gadis itu kemudian paginya setelah si gadis bangun dari tidur nyenyaknya, mereka akan memasuki babak perkenalan dan akan bertemu pada episode-episode berikutnya. Tidak! Tidak!

Demi Tuhan ini bukan sebuah film atau pun opera sabun. Dan Siwon tak memiliki nafsu untuk mengembangkan bakatnya dalam dunia akting—setidaknya untuk kasus satu ini.

Siwon mengedarkan pandangan mencari gadis yang mungkin telah kehilangan kewarasannya. Bagaimana tidak, gadis itu begitu saja pergi dari rumahnya dengan rambut berantakan, tanpa alas kaki, dan tanpa mengucapkan terimakasih sama sekali padanya. Oh dia paling benci diabaikan.

Begitu matanya menangkap sosok gadis yang dicarinya di ujung jalan, tanpa sadar Siwon memekik pelan. Ia baru akan menghampiri Yoona ketika matanya menangkap sesosok gadis keluar dari mercedess hitam yang berhenti di sisi jalan.

Matanya menyipit. Ia tak mungkin salah. Ia mengenal gadis itu.

“Park Chorong..” lirihnya tanpa sadar.

Chorong keluar dari mobil itu dengan membawa sebuah mantel tebal di tangannya. Meski dengan jarak cukup jauh namun Siwon dapat menangkap raut kekhawatiran tergambar pada wajah gadis itu.

Dengan tergesa-gesa Park Chorong menghampiri Yoona, menyampirkan mantel tebal itu pada bahu kurus Im Yoona. Chorong memeluk singkat Yoona sementara gadis bernama Yoona itu tak bereaksi sama sekali. Ia hanya menatap kosong ke depan.

Selanjutnya Siwon tak dapat mendengar ketika Chorong berbicara singkat pada Yoona sebelum kedua gadis itu masuk ke dalam mobil dan melenggang pergi dari pandangannya.

Dan kini benak Siwon dipenuhi dengan pertanyaan. Apa hubungan Chorong dengan gadis aneh itu? Mengapa ia nampak sangat cemas? Gadis itu adik Chorong? Tidak, tidak! Seingatnya Chorong hanya memiliki satu adik dan itu laki-laki bukan wanita.

Siwon sibuk bergulat dengan pemikirannya sendiri sembari kakinya kembali melangkah menuju ke dalam rumah.

*

Siwon membasuh wajahnya dengan air yang mengalir deras dari kran. Membasuh wajahnya beberapa kali mungkin bermaksud untuk menyegarkan pikirannya setelah tadi ia melihat wanita yang pernah mengisi relung hatinya di masa lalu.

Pria itu mendadak melamun seperti tengah menelaah semua kejadian ini, beragam pertanyaan mulai bermunculan didalam otaknya. Mulai dari siapkah gadis “Aneh” itu, dan yang paling menggangu pikirannya adalah apa hubungan Chorong dengan gadis “Aneh” itu.

Siwon memijit pelipisnya yang terasa pening memikirkan pertanyaan yang mungkin sampai kapan pun tak akan pernah ia temukan jawabannya sebelum ia bertanya langsung pada orang yang bersangkutan. Pada gadis “Aneh” itu? Ah tidak bahkan Siwon sudah mengira jika gadis itu gila, dan pagi ini saja gadis aneh itu sudah membuat ulah di rumahnya.

“Park Chorong,” lirih Siwon kembali.

*

Chorong merebahkan Yoona di ranjang setelah sebelumnya ia membersihkan tubuh Yoona serta mengganti pakaiannya. Chorong menatap mata sayu nan kosong adik iparnya itu dengan tatapan iba, bagaimana tidak Chorong merasa miris sekaligus kasihan melihat Yoona yang terus seperti itu sejak dua tahun silam. Yah dua tahun silam dimulai saat kecelakaan yang menimpa kedua orang tuanya serta sang calon suaminya yang meninggal di depan matanya pada sebuah kecelakaan mobil. Sejak saat itulah sosok Yoona yang periang, berubah menjadi seperti sekarang ini.

“Apa Yoona sudah pulang?” Chorong menolehkan kepalanya pada orang yang masuk begitu saja kedalam kamar. Seolung—orang tersebut menutup pintu lalu berjalan mendekati ranjang.

“Dimana kau menemukannya?” tanya Seolung menatap Yoona yang masih bertahan dengan sikap seperti itu.

“Di jalan. Tadi aku tak sengaja menemukannya. Mianhae Oppa, semalam aku tak menjaga Yoona dengan baik sehingga dia kabur dan tidak pulang,” ujar Chorong terdengar menyesal.

Seolung menempuk bahu sang istri jika semuanya tidak apa-apa karena Yoona sudah pulang dengan selamat ke rumah. Seolung menghela nafas lalu duduk di tepi ranjang, menggenggam tangan Yoona serta menatapnya dengan mata penuh kasih sayang, seperti seorang ayah kepada putrinya.

“Yoona-ya. Jangan lakukan hal seperti ini lagi, ne?” Seulong menatap sendu adiknya. “Ini sangat berbahaya untuk mu. Oppa sangat mengkhawatirkanmu semalam. Kalau kau mau jalan-jalan, minta pada Chorong eonni untuk menemanimu, mmm?” ujar Seolung lembut pada sang adik.

Tapi Yoona tidak sama sekali meresponnya, masih tetap betah dengan posisinya yang diam membeku dengan tatapan mata kosong.

*

Sekretaris Jang memberikan beberapa pekerjaan Siwon yang belum terselesaikan, tangan pria itu agak bergetar saat menaruh berkas-berkas tersebut di meja Siwon.

Sajangnim ini pekerjaan yang belum anda kerjakan,” ujar Sekretaris Jang agak terbata mengucapkannya.

Siwon masih bertahan dengan lamunannya. Membuat sekretaris Jang bingung setengah mati harus melakukan apalagi.

“Sajangnim—“ ucapan Sekretaris Jang berhenti saat tangan Siwon mengisyaratkan untuk dirinya segera pergi dari ruangannya. Sekretaris Jang menelan air liurnya sendiri melihat ekspresi Siwon yang memang terlihat tak mau di ganggu.

“Sajangnim—“

“Apa kau tidak mengerti maksudku? Pergi!” ujar Siwon tak ada kesan santun ataupun nada halus dalam kalimatnya yang cukup membuat Sekteraris Jang langsung menundukan kepalanya lalu berbalik dan pergi.

“Oh Tuhan, tidak bisakah dia bicara dengan nada yang sedikit halus?” gumam Sekretaris Jang mendumel.

Siwon menghela nafas ketika sekretarisnya sudah leyap di balik pintu. Saat ini pikirannya memang kacau. Dia tak bisa berkonsentrasi untuk bekerja, yang ada otaknya saat ini di liputi beragam macam pertanyaan yang membuat batok kepalanya terasa akan pecah.

Siwon mengerang meremas rambutnya merasa jengah dengan semua ini, akhirnya Siwon pun bertindak. Dia menyambar tuxedonya yang tergantung lalu pergi dari ruangannya meninggalkan berkas-berkas yang seharusnya ia kerjakan hari ini.

*

Siwon mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang, menikmati semilir angin yang masuk kedalam mobilnya melalui kaca jendela yang sengaja tak ia tutup. Sesekali mata Siwon bermain memutar ke kiri dan ke kanan seperti tengah mencari seseorang. Apa mungkin Siwon mencari Yoona, si gadis aneh? Mungkin saja, tapi untuk apa dia mencari Yoona?

Mendadak Siwon mengerem mobilnya saat tak sengaja matanya menangkap seorang wanita yang tengah berjalan dengan mata kosong. Siwon pun menyipitkan kedua matanya melihat wanita tersebut dari kaca spion. “Apa benar dia wanita gila itu?” gumam Siwon.

Semakin lama semakin mendekat saja wanita itu, sampai akhirnya Siwon pun memutuskan untuk keluar dari dalam mobil. Siwon berdiri sejajar dengan Yoona—wanita itu. Matanya memicing berusaha untuk melihat ekspresi wajah Yoona yang begitu datar dengan tatapan kosong. Siwon yakin, jika Yoona tak menyadari kehadirannya saat ini.

Dan…rupanya dugaan Siwon salah besar! Yoona menghentikan langkah kakinya tepat tiga langkah lagi menuju dirinya.

“Hah, dia menyadari kehadiranku? Aneh.” Siwon membatin.

Yoona menatap Siwon sejenak setelah itu ia melanjutkan langkah kakinya. Gadis itu berjalan dengan melewati Siwon yang masih diam di tempat.

“Tunggu!” ujar Siwon lalu membalikan tubuhnya.

Agsassi! Kubilang tunggu!” teriak Siwon sekali lagi karena tak mendapat respon dari Yoona. Siwon menggertakan giginnya kesal karena merasa di acuhkan. Jujur saja ini pertama kalinya bagi seorang Choi Siwon di acuhkan seperti ini oleh seorang wanita. Oh Choi Siwon, lihatlah tidak semua wanita mengelu-elukan mu bukan?

Siwon menarik pergelangan tangan Yoona sedikit kasar, sehingga gadis itu berbalik menghadapnya.

“APA KAU TULI? SUDAH KUBILANG TUNGGU. APA KAU TIDAK MENDENGARKU, HAH!” Meledak sudah emosi Siwon saat ini. Dia memang paling benci jika seseorang tak menganggap ucapannya. Siapa pun itu, mungkin termasuk orang asing sekali pun.

Wae? Kau marah, eoh?” tanya Siwon masih dengan emosinya pada Yoona.

Yoona sedikit memiringkan kepalanya, wajahnya yang polos ditambah dengan tatapannya yang datar membuat dia seperti seorang anak kecil yang tengah mengawasi orang asing yang baru saja bertemu dengannya.

Nuguya?” tanya Yoona pelan.

Nuguya?” Siwon mengulangi kalimat Yoona dengan tampang tak habis pikir. “Apa kau hanya bisa bicara seperti itu?”

Yoona hanya menatap Siwon, sama tatapan yang datar dan terkesan kosong. Siwon pun malah ikut menatap matanya berusaha menangkap maksud dari tatapan gadis ini.

Apa dia marah karena aku sudah berkata kasar padanya? Batin Siwon berkata. Tapi Siwon yakin jika tatapan itu bukanlah tatapan marah, melainkan ada sesuatu yang…entahlah Siwon pun sulit untuk menjelaskannya.

Yoona melepaskan secara perlahan genggaman tangan Siwon yang sejak tadi tak di lepaskan pria itu. Lalu ia membalikkan tubuhnya. Kembali berjalan, meninggalkan Siwon yang masih bingung. Siwon menyadari suatu hal, matanya agak membulat kaget saat melihat pergelangan Yoona yang sedikit merah akibat genggamannya yang kuat.

Siwon menghela nafas menyadari semua perbuatannya.

Hah, apakah seorang Choi Siwon menyesali perbuatannya ini? Bukankah dia tak pernah perduli akan wanita? Bukankah dia menganggap wanita seperti barang bekas saja? Lalu kenapa kali ini dia terlihat sedikit menyesal dengan perbuatanya? Bukankah dia sudah biasa menyakiti wanita?

*

Dan tanpa di duga ternyata Siwon mengikuti langkah kaki Yoona, mengukuti gadis itu kemana pergi sampai akhirnya dia memutuskan untuk duduk di sebuah taman. Siwon hanya mengamati Yoona dari kejauhan dengan kening berkerut dan mata sedikit menajam malihat gadis itu. Namun lama kelamaan Siwon merasa jenuh juga, dia pun memutuskan untuk menghampiri Yoona.

Menghampiri Yoona? Benarkah Siwon akan meminta maaf karena ulahnya tadi? Atau ada hal lain sehingga Siwon harus melakukan hal yang sebenarnya ia benci ini agar mendapatkan informasi tentang hubungan Yoona dengan Chorong? Wanita masa lalunya.

Siwon duduk di sisi kiri sementara Yoona duduk di sisi kanan. Kembali sebelum bersuara, Siwon memerhatikan Yoona yang tetap memasang raut wajah seperti itu. Siwon mulai beragumen tentang Yoona di hatinya.

Apa benar dia gila? Tapi kali ini dia tak seperti orang gila? Apa dia depresi?

Siwon pun mengamati Yoona. Mulai dari penampilannya yang kali ini agak sedikit bersih namun tetap rambutnya yang terurai panjang sama sekali tak rapi, terlihat acak-acakan ditambah dengan tubuhnya yang kurus.

Siwon pun mencoba menghapus pikirannya yang tidak-tidak dan kembali membenarkan posisi duduknya. Kini dia yang melamun memikirkan Chorong, wanita masa lalunya yang sudah mengacaukan hidupnya dengan pergi secara tiba-tiba lalu menikah dengan pria lain dan setelah lama tak berjumpa akhirnya mereka bertemu di saat Siwon sudah benar-benar terpuruk.

“Kau.. tampak sehat. Kau.. pasti bahagia bersama suamimu,” lirih Siwon pelan, membayangkan kembali sosok Chorong.

“Im Yoona…Im Yoona..”

Siwon tersenyum miris. Disaat seperti ini halusinasi suara Chorong terdengar di telinganya. Dia merutuki kebodohannya yang tetap tak bisa melupakan wanita yang sudah membuat luka di hatinya.

“Yoongie-ya, gwenchanayo?”

Siwon membeku seketika, setelah suara itu kembali terdengar oleh telinganya dan kali ini sangat jelas sekali.

Mungkinkah Siwon tidak sedang berhalusinasi? Kepala Siwon menoleh perlahan. Dan matanya membulat sempurna melihat seorang wanita yang tengah memeluk Yoona. Siwon tertohok, dia mati kutu seakan tak bisa melakukan apa-apa saat ini selain melihat wanita yang sedang ia pikirkan kini berada di depan matanya sendiri. Bahkan kali ini jaraknya sangat dekat dari pada yang tadi pagi.

“Rongie-ya?” lirih Siwon entah sadar atau tidak  mengucapkan nama wanita itu.

Park Chorong membeku. Seketika tubuhnya menegang.

Suara itu..

Panggilan itu..

Yang dia tahu hanya ada satu orang di dunia ini yang memanggilnya seperti itu. Dan itu..

“K-kau?”

.

.

To Be Countinued…

Nita said : My first project >.< aku pengen banget nited dukung(?) ff ini biar kita berdua bisa secepetnya menyelesaikan ff ini xD so, aku tunggu komentar kalian^.~

Nurul said : Hai, ini project pertama kami^^ Entah harus mengatakan bagaimana awal dari project ini, yg pasti ide ini datang dadakan ketika aku tengah melamun*ketauan hobi ngelamun’-‘* Dan makasih buat Nitakyuuuu udah mau kuajak jadi partner buat nulis fic ini^^ /ketjupketjup/ Ini susah yah! Jadi tolong hargai kerja keras(?) kami dengan komentar kalian yg membangun😀

Sampai ketemu di chapter selanjutnya^^ jangan lupa Like juga yah setelah Read and Coment ^.~ LVOE!! *ala Siwon setengah Dongek*

Tinggalkan komentar

246 Komentar

  1. Ff.a kren thour. ..wah aq ska bnget ma ff.a yoonwon…

    Balas
  2. Nhiina

     /  Januari 25, 2015

    keren ceritanya . .
    tapi , sebegitu tertekankah yoonf eonn sampe2 dia bersikap sperti itu ? ?
    oh , God . . jeball . . jgan buat yoong seperti ini . . kasian bget sama yoong eonn . .
    wonppa jga , , Sifatnya itu , aku paling gak suka sma sifatnya . .
    Dingin dan Arogan . .

    next ajaa deh

    Balas
  3. HanA

     /  Februari 7, 2015

    ini bnr2 ff keren author2, keren bgt, pnsrn ma lanjutanx,

    Balas
  4. pria dingin dan wanita depresi?
    bisa bersatu ga ya?

    Balas
  5. hazeul

     /  Oktober 4, 2015

    yoona eonnie knp perannya jd ky org depresi gitu??
    malangnya eonnieku..
    sabar yaa deer🙂
    banyak bgt pertanyaan di kplku,
    ttg masa lalu siwon dan chorong,
    ttg kehidupan yoona??

    Balas
  6. Ternyata yoong depresi gegara kecelakaan kedua org tua y dn calon suami y… 😭 mudah” siwon oppa bz jd org yg bz blikin kbhagiaan yoong kya dulu

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: