[FF] My Silly Engagement (Chapter 13 / Pre Final)

Author : misskangen ‖ Length : Sequel ‖ Genre : Romance ‖ Rating : Mature ‖ Main cast : Im Yoona, Choi Siwon ‖ Support cast : Lee Donghae, Jessica Jung ‖ Disclaimer : This story is mine instead of the plot and characteristics, but the casts are belong to themselves and god. Please don’t do plagiarism or bash anything from the story and sorry for undetected typo(s).

MY SILLY ENGAGEMENT : CHAPTER 13 (PRE-FINAL)

 

Wajah Yoona tampak tidak bersemangat, lebih tepatnya seperti kesal yang bercampur dengan rasa penasaran. Ponsel dalam genggamannya mungkin saja terasa panas karena sedari tadi bolak-balik dipandangi dan digenggam erat karena menunggu panggilan ataupun pesan singkat dari seseorang.

 

“Aish… orang ini pergi kemana, sih? Sejak kemarin sore hingga pagi ini dihubungi tidak pernah diangkat. Sekarang malah tidak aktif sama sekali.” Gerutu Yoona sambil menatap kesal pada ponselnya. Sudah beberapa kali sejak sore sebelumnya Yoona menghubungi Siwon. Awalnya ia ingin pamit pada pria itu, tapi tidak ada respon yang didapat hingga Yoona merasa kesal sendiri. “Apa dia tidak ingin mengantarkanku pergi? Setidaknya sampai ke stasiun kereta. Apa dia tidak merindukanku bila aku pergi beberapa hari?”

Yoona berdiri dengan kesal di depan pintu rumahnya, sesekali menghentakkan kakinya yang berbalut sepatu sneakers abu-abu kesayangannya. Ia sangat penasaran dengan kondisi Siwon saat ini. Pria itu tahu bahwa hari ini Yoona berangkat ke Pulau Nami dan akan berada disana selama beberapa hari untuk melakukan penelitian. Tidak biasanya seorang Choi Siwon mengabaikannya, apalagi bila ia akan pergi jauh dan tidak akan bertemu untuk beberapa waktu.

 

“Hei, adik kecilku. Kau sudah siap? Ayo kita berangkat sekarang…” sapa Seulong yang baru saja muncul dari dalam rumah bersama Nyonya Im. Kakak laki-laki Yoona itu langsung mengangkat alisnya begitu melihat Yoona yang wajahnya tampak cemberut dan sedikit lesu. “Kenapa wajahmu ditekuk seperti itu? Apa kau sudah menunggu Oppa terlalu lama hingga kau jadi kesal?”

 

Yoona menggeleng kuat. “Tidak, aku tidak apa-apa. Hanya sedang kesal kepada seseorang.”

“Memangnya siapa orang yang sudah membuatmu kesal?” tanya Seulong lagi.

“Sudahlah, tidak penting. Ayo kita berangkat, Oppa!”

“Aneh sekali kau ini! Jadi kalau tidak penting kenapa kau menggerutu dengan wajah kesal dan berbicara dengan bibir mencebik begitu?”

Yoona menghela napasnya berat, dengan wajah yang masih tertekuk dan bibir manyun. Wajah Siwon berulang kali membayang dalam pikirannya dengan berbagai ekspresi berbeda dari pria itu. Mulai dari wajah yang tersenyum, jahil, marah, bahkan cemberut. Yoona semakin kesal saja karena pria itu tak kunjung memperlihatkan dirinya di depan rumah, setidaknya hanya untuk mengucapkan ‘aku akan merindukanmu’ atau ‘baik-baiklah disana’.

“Ini semua karena pria yang tidak punya perasaan itu. Katanya saja sayang, tapi sekarang aku mau pergi beberapa hari dan dia tak muncul sama sekali untuk mengantarkanku. Bahkan ia tak sekalipun mengangkat telepon atau membalas pesan dariku. Sangat mengesalkan, bukan?” tanpa sadar Yoona mengomel panjang dengan nada ketus ibarat ada Siwon di hadapannya.

 

Sementara itu Nyonya Im dan Seulong sempat terbengong melihat reaksi aneh yang muncul dari putri bungsu Im itu yang sedang memaki seseorang dengan begitu dongkolnya. Setelahnya, ibu dan anak itu hanya menggeleng-geleng dan memutar bola mata.

“Oh… jadi ada yang sedang merindukan sang tunangan ternyata….” Seulong menggoda Yoona dengan ekspresi yang sedikit mengejek. “Kau tenang saja, Yoona-yah. Tadi kau bilang dia sayang padamu, kan? Nah, mungkin saja sebentar lagi ia akan muncul di depan matamu. Tapi ya… sekali lagi kau harus tetap berdoa dan berharap semoga ia mempunyai kekuatan ajaib untuk berpindah tempat dalam sekejap hahaha….”

“Seulong-ah…” satu tepukan pelan di punggung diberikan oleh Nyonya Im sebagai teguran pada putranya yang sedang tertawa geli karena merasa berhasil menggoda sang adik. “Berhentilah menggoda adikmu. Kau tidak lihat wajahnya sudah merah padam karena kesal pada Siwon ditambah kesal juga karenamu.”

 

Seulong berhenti tertawa dan menoleh pada wajah suram Yoona. Sebenarnya Seulong ingin tertawa lagi, tetapi ia tidak tega karena melihat Yoona yang tampak ingin menangis. Itu adalah jurus terjitu yang dimiliki oleh adiknya jika Seulong sudah menebarkan godaan-godaan usil yang terkadang sedikit berlebihan bagi Yoona. Dan situasi ini sudah berlaku selama bertahun-tahun semenjak mereka kecil. Apalagi Seulong yang selalu menganggap adik bungsunya itu sebagai adik kecil yang cengeng, manja, dan suka melakukan hal-hal yang tidak biasa.

Mianhaesaeng-ah!!” Sesal Seulong sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

“Ya sudah, lebih baik kalian berangkat sekarang agar tidak tertinggal kereta.” Nyonya Im mendekati Yoona dan memeluk putrinya lagi erat. “Yoona-yah, ingat pesan Eomma. Kau harus menghubungi Eomma begitu sampai disana dan carilah penginapan terbaik, kalau perlu kau menginap di Suite Room Hotel yang ada disana. Kau harus teratur makan dan kau harus berhati-hati dengan orang asing. Satu lagi, jangan lupa memberi kabar setiap hari. Kau mengerti?”

 

Yoona mengernyit, pasrah dengan sikap khawatir berlebihan yang ditunjukkan oleh ibunya. Semua pesan yang diajukan Nyonya Im menyiratkan betapa cemasnya ia membiarkan Yoona sendirian berada di tempat wisata dan harus tinggal selama beberapa hari hingga jauh dari rumah. Sesungguhnya Yoona sedikit bosan karena ibunya terus saja bersikap yang menganggap dirinya layaknya anak sekolahan yang masih harus benar-benar berada di bawah pengawasan orang tua. Yoona merasa dianggap seperti batita yang setiap hari ditimang oleh ibunya. Tapi Yoona hanya mengangguk, tidak ingin membantah ibunya. Dengan demikian Nyonya Im akan merasa lebih tenang dan tidak akan menyertai keberangkatan Yoona dengan protes panjang lebar yang bisa membuat telinganya panas.

 

“Eomma, kenapa tak sertakan saja babysitter untuk menjaganya?” celetuk Seulong asal. Yoona dan Nyonya Im berpaling dan menatap Seulong dengan tatapan kematian. Sementara Seulong hanya memberi ceringan kaku sebagai reaksi dari perlakuan yang cukup menakutkan dari ibu dan adiknya itu. “Aku hanya bercanda jadi jangan menatapku seperti itu. Lagi pula aku rasa Yoona memang sudah saatnya dipingit mengingat pernikahannya juga sudah dekat.” Seulong langsung kabur dengan berjalan cepat menuju mobilnya sehingga terhindar dari amukan dua wanita yang sangat ia sayangi itu.

 

 

~oOo~

 

Yoona membanting tubuhnya di atas ranjang empuk di kamar hotel yang baru saja dimasukinya. Setelah menempuh perjalanan selama sekitar dua setengah jam dari Seoul mulai dari naik kereta api hingga menyebrang sungai Han, membuatnya sedikit merasa penat. Berada di atas peraduan yang menyenangkan mempengaruhi moodnya untuk mengulur waktu dan sedikit bermalas-malasan. Rasa syukur tidak lepas diucapkannya, sebab sebelumnya ia nyaris terkena serangan jantung mendadak karena mendapat kabar bahwa semua kamar hotel yang ada di Pulau Nami telah terisi. Keberuntungan sepertinya masih berpihak, walaupun hanya mendapat kamar dengan kualitas yang sangat standard itu sudah cukup baginya mendapat tempat berlindung selama melakukan penelitian disana.

 

“Apakah sebegitu menariknya Pulau Nami di kala musim gugur hingga para turis memenuhi semua kamar hotel?” gerutu Yoona sambil menatap langit-langit kamarnya. Berada sendirian di tempat itu membuatnya memikirkan banyak hal, mulai dari apa yang harus dilakukannya pertama kali hingga langkah-langkah yang diambilnya untuk mengumpulkan data yang diinginkan untuk penelitiannya.

 

“hmm… kalau sedang ramai begini itu artinya banyak juga pebisnis pendatang yang sedang berkunjung. Dengan kata lain aku akan mendapatkan responden lebih banyak lagi. Tapi bagaimana caranya untuk mendapatkan akses mendekati mereka ya?” Yoona mengetuk-ngetuk dahinya, sibuk memikirkan cara paling jitu untuk dapat mendekati para pebisnis di Pulau Nami, yang tentunya pemilik modal besar di tempat wisata yang sangat terkenal seperti Pulau Nami.

 

Terus berkutat dengan pikiran-pikiran tentang bisnis dan pengusaha mengingatkannya kembali pada Siwon. Yoona bergegas mencari ponselnya yang masih berada di dalam tas sandang, lalu segera mencari nomor ponsel Siwon. Dengan tidak sabar Yoona menunggu sambungan teleponnya, tetapi malah hanya dijawab oleh operator selular yang menyebalkan. Yoona hanya bisa mendesah kesal lagi. Situasi ini membuatnya ingin sekali dalam sekejap muncul di depan pria itu dan memukul kepalanya agar ia sadar dengan kelakuannya yang sama sekali sulit untuk diterka.

“Arghh… keterlaluan!!” pekik Yoona sambil membanting poselnya ke atas ranjang. Tangannya mengacak pelan rambut panjang yang dikucir kuda itu, lalu bersedakep penuh kekesalan. “Sebenarnya apa yang sedang dilakukannya hingga sekarangpun ponselnya tetap tak dapat dihubungi? Awas saja kau Choi Siwon bila aku sudah bertemu denganmu lagi, aku tidak akan segan untuk memukul kepalamu!”

 

 

~oOo~

 

Donghae memandangi seorang gadis yang duduk di depannya dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada kemarahan dan rasa kecewa, namun juga ada rasa sakit yang berpadu jadi satu dalam sorot mata sendunya. Sementara wanita yang menjadi objek pandangannya hanya tertunduk dan memandang kaku pada minumannya.

 

“Jadi, apa sebenarnya tujuanmu mendekatiku dan Siwon, Sica? Aku tahu kau punya maksud tersembunyi dari perilaku tak biasamu itu.” Ujar Donghae membuka pembicaraan. Suaranya tenang namun sangat mengintimidasi. Donghae seakan sedang menginterogasi Jessica perihal kemunculannya di pesta pernikahan Yuri kemarin. Karena Donghae merasa tidak nyaman dan curiga dengan adanya Jessica secara tiba-tiba di dekatnya, jadi Donghae sengaja mengajak Jessica bertemu untuk berbicara lebih jauh.

 

“Aku tidak punya maksud apapun. Aku hanya memenuhi undangan ke acara itu. Kebetulan saja aku bertemu denganmu dan Siwon Oppa.” Jessica menyedot minumannya dengan sedikit gugup. “Aku pikir tidak ada yang aneh bila aku berdekatan dengan kalian berdua. Bagaimanapun kita sudah lama tidak bertemu, jadi apa salahnya bila aku ingin melepas rindu?”

 

“Melepas rindu? Benarkah begitu?” Donghae menyeringai sinis. “Aku sama sekali tidak merasa kau merindukanku ataupun Siwon. Dan aku yakin kau tidak akan pernah merindukan kami. Jadi berhentilah berbohong dan menipu dirimu sendiri.”

 

Jessica terhenyak dengan ucapan Donghae yang menyiratkan bahwa buruknya hubungan mereka saat ini pasca kandasnya kisah cinta mereka beberapa tahun yang lalu. Tapi ia sama sekali tak menyangka bahwa semua itu juga berakibat pada perubahan sikap Donghae yang menjadi begitu dingin dan kaku padanya. Bahkan pria itu terkesan membencinya hingga tidak ingin melihatnya atau berada di dekatnya.

“Oppa, aku tahu kita sudah berakhir dan aku juga paham bahwa semua itu karena keegoisanku yang lebih memilih pria lain. Tapi, apakah itu berarti kita sudah tidak bisa berhubungan baik atau setidaknya menjadi teman biasa? Kau tampaknya sangat membenciku.” Keluh Jessica dengan kalimat yang jujur namun sedikit memilukan.

 

Donghae mengangkat sebelah alisnya remeh. Ia sadar bahwa sikapnya kepada Jessica sangat bertolak belakang dari perilakunya dahulu kepada wanita itu. Jika dulu Donghae sangat lembut dan begitu romantis, kini berbalik menjadi sangat kaku dan dingin. Bahkan caranya berbicara juga sangat ketus dan sedikit formal. Tapi itu saja sudah cukup bagi Donghae, ia sama sekali tidak ingin mengingat masa lalunya yang sangat menyakitkan karena dicampakkan oleh Jessica demi pria lain.

“Aku meminta untuk bertemu denganmu bukan untuk membahas soal masa lalu, Sica. Jadi berhentilah mencoba mengalihkan pembicaraan. Masa lalu itu sudah tidak ada artinya lagi untukku.”

 

Hati Jessica mencelos, ada sedikit rasa sakit yang ia rasakan dari kata-kata Donghae yang seolah melemparkan duri tajam kepadanya. Ia tahu bahwa pebuatannya di masa lalu telah membuat Donghae terluka, tetapi reaksi pria itu terhadapnya di masa kini membuatnya harus menahan napas dan rasa kecewa. Jessica bersedia datang padanya memang bukan untuk rujuk ataupun mencoba memperbaiki citra dirinya, tetapi Jessica  datang untuk memulai dan membina kembali hubungan baik sebagai orang yang saling mengenal. Tidak perlu ada hubungan spesial yang menjadi background keinginan itu. Namun sepertinya keinginan Jessica menjadi lebih sulit karena ternyata harapannya seakan menemui dinding beton yang menjadi perisai dari benteng keangkuhan Donghae.

 

“Sekarang katakan padaku, apa alasanmu bersikap sangat agresif di pesta pernikahan Yuri? Apakah Siwon yang memintamu untuk berlaku seperti itu?” Donghae menunggu Jessica menjawab, tetapi wanita itu hanya diam seribu bahasa. “Kau tahu, jika benar Siwon yang memintamu melakukannya, itu artinya kau sudah mendukung seseorang untuk berbuat curang. Aku tidak pernah menyukai kecurangan apapun meski itu datangnya dari sahabatku sendiri,” lanjut Donghae.

 

“Aku pikir itu bukan kecurangan mengingat persainganmu dengan Siwon Oppa hanyalah sebuah topik konyol yang akan menyakiti banyak orang termasuk kalian sendiri,” sergah Jessica yang mulai tidak tahan karena terus menerus dihujani tatapan dingin oleh Donghae.

 

“Persaingan?” Donghae tersenyum kecut karena menyadari sesuatu. “Kini aku tahu yang kau maksud dengan kata-katamu tadi. Kau memang sengaja membantu Siwon untuk menusukku dari belakang.”

 

“Tidak!” seru Jessica dengan suara memekik. “Tidak seperti itu, Oppa. Siwon Oppa sama sekali tidak berniat menusukmu dari belakang. Dia melakukan semua ini demi kalian. Demi kebaikanmu juga. Bukankah kalian sudah bersahabat sangat lama? Bahkan kalian sudah seperti saudara. Jangan memberi penilaian sepicik itu pada Siwon Oppa.”

 

“Apa yang diberikan Siwon untuk menyuapmu hingga kau berada dipihaknya, Sica?” Pertanyaan Donghae cukup membuat Jessica tercekat sehingga ia hanya menatap nyalang dan tidak berani memandang Donghae secara langsung. Donghae mendesah, paham dengan gelagat yang ditunjukkan Jessica. “kau bilang tadi untuk kebaikan kami? Tidak. Ini hanya untuk kebaikannya saja. Bukan untuk kebaikanku.”

 

“Tidak bisakah Oppa berhenti menutup hati dan telinga?” Jessica mulai menemukan kepercayaan diri untuk menyerang balik pada Donghae. “kalau Oppa mau merenung dan berpikir lebih jauh, pasti semua akan terjawab. Oppa tidak perlu mencurigai Siwon Oppa untuk tindakannya tempo hari. Tujuan rencana Siwon Oppa adalah untuk melihat sejauh apa kecemburuan yang ditunjukkan Yoona untuk kalian berdua. Dengan demikian, itu akan membantu Yoona menyadari siapa sebenarnya yang lebih ia cintai dan pada akhirnya siapa yang akan dia pilih. Jadi kalian tidak perlu berlama-lama menjadi rival dan bergelut dalam kebodohan yang telah kalian tahu sendiri bagaimana itu akan berakhir.”

 

Donghae menatap tajam pada Jessica sementara rahangnya kini mengeras, sedikit tidak suka dengan kelancangan Jessica yang berbicara panjang lebar seolah sangat tahu masalah yang sedang dihadapinya. “Apakah kemarin Oppa sudah mulai menemui titik terang soal siapa yang akan dipilih Yoona nantinya?”

 

Mata Donghae berubah gelap, ia masih ingat betul bagaimana adegan ciuman panas antara Siwon dan Yoona yang dilihatnya kemarin. Ia sungguh tidak rela kenyataan bahwa Yoona memilih melakukan skinship dengan Siwon dari pada dengannya akan mengganggu keyakinannya untuk terus memperjuangkan perasaannya pada Yoona. Donghae sadar bila peluangnya menjadi semakin kecil untuk mendapatkan Yoona.

 

“Dari raut wajahmu aku tahu kau sudah menemukan jawabannya,” ujar Jessica pelan, prihatin dengan kesakitan dan kekecewaan yang mungkin dirasakan oleh Donghae meski ia tidak tahu seberapa besar tekanan yang dimiliki pria itu. “Kau harus tahu, Siwon Oppa melakukan ini karena ia tidak ingin kau semakin terluka karena pada akhirnya kau tetap tidak bisa memiliki Yoona meskipun mungkin kau akan mendapatkan hatinya. Yoona tetap akan menikah dengan Siwon Oppa, dan cintanya padamu kelak akan berubah seiring kebersamaannya dengan Siwon Oppa. Apa kau ingin terus terpuruk dengan kenyataan itu, Oppa?”

 

Tatapan keras Donghae pada Jessica mulai mencair. Ia mampu menelaah setiap kalimat yang diucapkan Jessica. Napasnya tiba-tiba berubah sesak. Ia berpikir bahwa semua yang dikatakan Jessica benar. Donghae merasa sangat bodoh karena tidak bisa berpikir lebih jauh dan memprediksi bagaiman akhir cerita cintanya untuk Yoona nanti. Ia merasa sudah dibutakan oleh obsesinya untuk memilki wanita yang sudah diberi stempel kepemilikan dari orang lain. Donghae juga merasa sangat tolol karena lebih memilih untuk merusak hubungan baik dengan sahabatnya hanya demi persaingan absurd yang hanya berujung pada rasa sakit dan kecewa bagi banyak pihak.

 

“Aku mengerti maksudmu, Sica.” Donghae mendesah pelan dan putus asa. “Aku permisi dulu ke toilet sebentar.” Donghae bangkit dari tempat duduknya dan beranjak meninggalkan Jessica dengan gerakan linglung.

 

Sampai di toilet, Donghae tak melakukan apa-apa. Ia hanya memandangi pantulan wajahnya dari cermin besar. Bayangan demi bayangan berkelebat dalam pikirannya berupa masa-masa yang manis yang ia lewati bersama Siwon maupun Yoona. Ada lebih banyak momen indahnya bersama sang sahabat dibanding dengan sang pujaan hati. Hal ini membuatnya tersenyum miris.

“Aku bahkan melupakan betapa lamanya aku menyayangimu untuk semua waktu yang kulewati bersamamu,” ucap Donghae dalam hati.

Donghae mengeluarkan ponselnya lalu terburu-buru menghubungi seseorang. Ia sudah sangat tidak sabar untuk mendengar suara orang itu, dan kini ia sangat merindukannya. Dahi Donghae berkerut saat mengetahui bahwa ponsel orang yang dihubunginya tidak aktif.

“Tumben sekali ponselnya mati..” gerutu Donghae pelan. Kemudian ia berinisiatif menghubungi nomor lain yang kemungkinan besar mengetahui keberadaan orang itu.

Yeoboseyo, Sekretaris Kim… Aku tidak bisa menghubungi Siwon, apa dia ada bersamamu?”

“….”

“Mwo?!!!”

 

 

~oOo~

 

 

Yoona sibuk berjalan kesana kemari membagikan kuesioner sekaligus mencoba peruntungan melakukan sedikit wawancara dengan beberapa orang yang menurutnya memenuhi kriteria untuk dijadikan responden dengan tujuan memberikan berbagai informasi mengenai pengembangan berbagai bisnis maupun marketing di daerah wisata internasional.

 

Semua akan terasa mudah jika tugasnya hanya membagikan kuesioner kepada orang-orang yang ditemuinya, lalu mengumpulkan kertas-kertas itu kembali untuk dijadikan bahan pengolahan data. Tetapi Yoona juga membutuhkan keterangan detail dari pelaku bisnis pariwisata dan berbagai strategi yang menjadi ujung tombak mereka dalam memasarkan termasuk mempromosikan berbagai kegiatan yang mereka lakukan. Ternyat tidak semudah membalikkan telapak tangan. Pengusaha-pengusaha itu tidak mudah untuk diloby. Mereka mempunyai seribu satu alasan untuk menghindar.

 

Sebenarnya, ini tidak akan jadi sulit jika Yoona meminta bantuan ayahnya untuk mengerahkan beberapa orang pegawainya untuk mengerjakan tahap pengumpulan data lapangan untuknya. Tetapi Yoona tidak mau dianggap manja hanya karena tidak bisa berusaha sendiri untuk mengerjakan tugas akhirnya. Yoona ingin agar tugas akhirnya bisa menjadi satu kebanggaan karena berasal dari usaha kerasnya sendiri.

 

Yoona duduk di sebuah bangku panjang di taman dekat patung populer peninggalan drama Winter Sonata, dimana terdapat banyak turis yang berfoto daan membuat satu kenangan di tempat itu. Banyak yang pengunjung yang berpasangan dengan begitu mesranya menjadikan lokasi tersebut sebagai background foto dan penjadikannya sebagai saksi kebersamaan mereka. Wajah Yoona berubah cemberut melihat pemandangan itu. Tentu saja hal ini membuatnya iri hingga ingin sekali ia menyingkirkan orang-orang itu dari hadapannya. Dengan demikian Yoona tidak akan merasa cemburu lagi dengan kemesaraan orang-orang itu.

 

“Apa sih yang aku pikirkan? Aku datang kesini untuk kepentingan tugas kuliah, bukannya untuk berwisata.” Yoona memukul kepalanya sendiri, mengakui kebodohannya yang iri pada para turis yang mengunjungi Pulau Nami. “Seandainya saja aku tidak sendirian, pasti menyenangkan sekali berjalan-jalan mengelilingi Pulau Nami. Apalagi tempat-tempat disini kan romantis sekali.” Yoona bersungut-sungut meratapi kesepiannya.

 

Yoona mengeluarkan ponsel dari kantongnya, membuka kunci pad lalu hanya mendesah pasrah. Ya, ia masih menunggu kabar dari kekasihnya. Tetapi sepertinya ia hanya berharap sia-sia. Pria itu sama sekali tidak memberinya tanda atau apapun untuk menunjukkan eksistensinya.

“Sudah dua hari aku berada disini dan dia sama sekali tidak peduli,” gerutu Yoona nelangsa. “Apa dia memang sudah tak peduli lagi padaku setelah semuanya terbongkar? Setelah aku mengakui perasaanku padanya? Keterlaluan sekali bila dia mempermainkan aku…” Yoona seakan berbicara pada ponselnya dan mengeluarkan semua unek-uneknya seolah ponselnya bisa memberikan solusi atau jawaban.

 

Ponsel yang bergetar dan memperdengarkan bunyi ringtone itupun mengejutkan Yoona, menyadarkannya dari lamunan singkat. Yoona membelalakkan matanya saat melihat ID si penelepon.

Donghae.

Bukan karena Yoona takut untuk mengangkatnya, tetapi setelah kejadian di pesta pernikahan Yuri beberapa hari yang lalu Yoona belum lagi berhubungan atau bertemu dengan Donghae. Kini fokusnya jatuh pada Siwon setelah ia berani mengakui rasa cintanya pada pria itu, yang artinya ia memilih untuk berlabuh pada Siwon dan menjauh dari Donghae.

 

Yoona merasa tak enak pada Donghae. Ia yakin pria itu pasti menyadari sikapnya yang mulai mundur teratur dan berusaha menghindarinya. Ia paham bila nantinya Donghae akan bersikap sarkatis padanya, mengingat bagaimana ia begitu saja membunuh rasa lebih yang tadinya dia miliki untuk pria itu. Tapi apakah pilihan mengabaikan panggilan telepon dari orang itu juga harus dilakoninya?

Dengan memantapkan hati Yoona menjawab teleponnya, mengatur nada bicara semanis mungkin dan sebisanya menyingkirkan kecanggungan dalam serak suaranya.

“Yeoboseyo, Oppa…”

“Yoong, apa aku mengganggumu? Apa kau sedang sibuk?” suara Donghae terdengar sangat lembut dari seberang telepon.

“Ah, tidak… Aku sedang beristirahat saja. Ada apa Oppa meneleponku?”

“Kalau aku bilang sedang merindukanmu, apakah kau akan merasa senang?”

“EH??” Yoona tercekat, tidak tahu harus menjawab apa. Sesaat terjadi keheningan, namun tak lama kemudian terdengar suara tawa khas Donghae yang terdengar sedikit dipaksa.

“Aku hanya bercanda. Aku memang merindukanmu, tetapi aku punya kepentingan lain yang ingin kutanyakan padamu. Apa Siwon ada bersamamu sekarang?”

“Siwon Oppa? Aigoo… orang itu sudah beberapa hari tidak bertemu denganku. Bahkan ia sama sekali tidak menelpon atau apapun,” gerutu Yoona.

“Benarkah kau belum bertemu dengannya lagi?” tanya Donghae memastikan pada Yoona.

“Begitulah, Oppa. Aku sudah dua hari di Pulau Nami dan tidak pernah bertemu dengannya. Apa terjadi sesuatu? Suaramu terdengar cemas, Oppa…”

“Itu…maksudku Siwon, dia… sudah tiga hari ini menghilang. Bahkan Sekretaris Kim juga tidak tahu dia pergi kemana. Dan ini semakin buruk karena ponselnya juga mati,” terang Donghae.

“Mwo?? Siwon Oppa menghilang? Ya Tuhan….” Pekik Yoona dengan mata melebar. Yoona sedikit shock mendengar kabar itu dari Donghae. Tiba-tiba saja rasa panik dan cemas mencengkeram hatinya. Tanpa sadar Yoona memutus teleponnya tanpa menghiraukan kembali suara Donghae yang memanggil-manggilnya.

 

Langkah kaki Yoona terasa sedikit lemas dan tidak bersemangat, bahkan wajahnya juga terlihat kusut. Sedari tadi ia memikirkan Siwon, dimana keberadaan tunangannya sekarang. Sebelumnya tidak pernah terjadi hal-hal yang mengejutkan seperti ini. Yang diketahuinya bahwa pria itu adalah orang yang memiliki karakter paling angkuh dan suka memaksa, memiliki kepercayaan diri yang tinggi dan juga sok berkuasa. Ia tahu pria itu memiliki kesibukan ekstra padat seperti halnya seorang aktor dengan jadwal syuting kejar tayang, walau terkadang ia juga merasa heran karena Siwon juga selalu punya waktu untuk tiba-tiba muncul dihadapannya sepertin hantu dan mengganggu ketenangannya. Tapi kabar yang mengatakan bahwa Siwon menghilang membuatnya cemas.

 

Siwon mungkin saja adalah orang baru dalam kehidupan Yoona. Seiring berjalannya waktu dan beragam usaha yang dilakukan pria itu untuk mendekati Yoona ternyata sudah memberikan hasil yang sangat signifikan. Buktinya sekarang Yoona terus menerus memikirkan keadaannya. Hal apa yang sebenarnya menimpanya hingga ia menghilang dan membuat banyak orang kebingungan mencarinya. Seandainya saja Yoona sedang berada di Seoul, mungkin saja ia akan berusaha mencari keberadaan Siwon. Yoona hanya bisa berharap agar ia menjalani sisa harinya di Pulau Nami dengan efektif walau harus berkutat dengan kekhawatiran terhadap Siwon.

 

Titik-titik hujan turunpun mulai membasahi kepalanya. Titik yang berganti menjadi kumpulan air yang semakin deras itu membuat Yoona tersadar dari lamunannya sehingga ia harus berlari mencari tempat untuk berteduh. Untungnya saat itu ia mengenakan sepatu kets, jadi ia bisa berlari jauh lebih cepat daripada harus tersiksa seperti ketika ia menggunakan high heels. Sebuah Gazebo di sudut taman terlihat disesaki oleh beberapa orang. Mau tidak mau Yoona tetap harus menggunakannya sebagai teduhan. Beberapa turis berwajah Latin bergeser memberinya tempat terdepan. Yoona memberikan senyum terima kasih kepada mereka, walau harus bersesakan tetapi masih bersyukur karena bisa mendapat tempat untuk menyelamatkan kertas-kertas kuesionernya.

 

Tampaknya hujan cukup deras sehingga angin yang bertiup sedikit membuat Yoona merasa kedinginan. Apalagi kaus birunya juga lembab karena terkena tetesan hujan sebelum ia sampai ke gazebo. Sesekali Yoona mengusap-usap lengannya, mencoba menghilangkan hawa dingin di tubuhnya sampai ia terkejut ketika sesuatu menyentuhnya. Sepasang tangan kekar melingkari bahunya, memeluknya erat yang membuatnya merasa hangat. Aroma parfum yang tercium dari tubuh yang memeluknya itu cukup ia kenali, sangat manly. Kulit wajah seseorang menempel di rahang atasnya, terdengar hembusan napas di telinganya.

 

“Aku merindukanmu…” suaranya begitu lembut, selembut beledu terdengar di telinga Yoona. Hanya saja Yoona menyadari bahwa suara itu milik seseorang yang sedari tadi memenuhi pikirannya. Mungkinkah ia sedang berkhayal? Kemudian Yoona terkesiap, saat menyadari begitu ia melihat tangan kekar yang memeluknya.

 

“Siwon Oppa!!”

 

 

~oOo~

 

“Terima kasih sudah mengantarku sampai ke Hotel,” ujar Yoona begitu ia membuka pintu kamar hotelnya yang selama dua hari terakhir menjadi base campnya di Pulau Nami. Yoona tersenyum lega karena pria yang dikhawatirkannya sudah berdiri di depannya dan beberapa waktu sebelumnya juga sudah memberikannya pelukan kerinduan.

 

“Kata siapa aku hanya mengantarmu?!” Siwon mendorong pintu yang masih setengah terbuka hingga memaksa Yoona mundur ke belakang. Dengan santainya Siwon memasuki kamar hotel dan melihat ke sekelilingnya.

 

Mulut Yoona langsung menganga melihat kecuekan Siwon yang seenaknya memasuki kamar, tanpa meminta persetujuannya. “Lalu apa yang kau inginkan disini, eoh? Kau kan bisa menginap di kamar lain yang tentunya lebih mewah dari ini.” Yoona protes merasa tidak nyaman dengan keberadaan seorang pria di dalam kamarnya.

 

Siwon yang sedang berdiri sambil berkecak pinggang hanya memutar bola matanya. Ia pun membuka jaket kulit cokelat tuanya hingga terlihat kaus putihnya, lalu merebahkan diri di atas ranjang tanpa membuka sepatunya.

Yoona bergegas mendekatinya. Ia menarik-narik tangan pria itu, memaksanya untuk bangkit dari tempat tidurnya. “Yak, Oppa!! Cepat bangun… kau cari kamar lain saja sana!!”

“Aish.. nanti sajalah! Aku lelah sekali dan aku ingin istirahat disini. Lagi pula kau pasti tahu bahwa semua kamar di Hotel ini sudah penuh. Kau ingin aku terlunta-lunta dan tidur di jalanan?” berganti Siwon yang protes karena usaha Yoona untuk mengusirnya keluar dari kamar itu.

 

Sejenak Yoona berpikir, apa yang dikatakan Siwon benar. Tidak mungkin ia membiarkan pria itu – sang tunangan – tersaruk-saruk di jalanan Pulau Nami ketika malam hari tanpa mendapatkan tempat untuk menginap. Apalagi udara di luar menjadi cukup dingin setelah turun hujan. Pasti Siwon akan sangat menderita di luar sana. Selama ini Siwon selalu mendapatkan semua kemudahan dan kemewahan, jika tiba-tiba ia harus menjadi gembel dadakan tentunya akan membuatnya kalang kabut. Begitulah yang dipikirkan Yoona.

“Lalu bila kau disini, aku akan tidur dimana?” gumam Yoona pelan, menggerutu dengan wajah cemberut.

 

Siwon yang sudah nyaris memejamkan matanya mendesah pelan. Ia mengerti tentang kecemasan yang dialami Yoona. Bagaimanapun Yoona adalah wanita yang belum menikah, hal ini pasti menakutkan baginya. Harus berada dalam kamar yang sama dengan seorang pria, walaupun pria itu adalah tunangannya sendiri.

“Kau tidur saja disebelahku kan masih lebar. Kau tidak usah khawatir, saat ini aku terlalu lelah jadi aku takkan tergoda olehmu,” celetuk Siwon enteng tetapi sukses membuat wajah Yoona bersemu merah. Yoona hanya bisa mendengus pasrah menerima perkataan Siwon. Ia benar-benar tidak kuasa untuk mengusir pria itu lagi. “Oh ya sayang, tolong pesankan makan malam. Minta saja di antar ke kamar ini. Aku sedang malas makan di luar.”

 

Yoona terperangah dengan kata-kata Siwon, tidak percaya jika Siwon tetap saja memperlihatkan sikap sok berkuasanya itu. Sementara Siwon dengan tenangnya memjamkan mata sekejap untuk menghilangkan lelah dengan menggunakan satu lengannya untuk menutupi kedua matanya dari cahaya benderang lampu kamar. “Disaat seperti ini dia masih sempat bersikap seenaknya menyuruhku memesan makanan, padahal dialah orang yang sudah masuk kamar orang lain tanpa izin,” gerutu Yoona, menghembuskan udara dari gelembung pipinya.

 

Selesai mandi, Yoona mendapati makan malam telah di antar oleh pihak Hotel ke kamarnya. Dengan langkah-langkah pelan Yoona menghampiri Siwon yang masih betah berbaring di atas ranjang. Sepatunya telah dilepaskan, malah kini pria itu bergelung dengan selimut tebal. Tidurnya terlihat tidak nyaman dan wajahnya pun terlihat memerah.

“Oppa, bangunlah. Makan malamnya sudah datang. Ayo kita makan sekarang!” Yoona berusaha membangunkan Siwon dengan suara ceria, tetapi pria itu bergeming. Ia tetap saja tidur tanpa menunjukkan tanda-tanda akan bangun.

 

Yoona beringsut mendudukkan tubuhnya di sebelah Siwon, sedikit menggucang bahu kekarnya agar ia terbangun. “Oppa, ayo bangun….” Yoona mencoba menepuk-nepuk pelan pipi Siwon, tetapi justru ia dibuat kaget dengan panasnya kulit yang disentuhnya. “Oh my god, Oppa… badanmu panas sekali! Eothokke?” pekik Yoona panik. Karena ia baru menyadari bahwa Siwon sedang sakit sehingga Yoona merasa kebingungan sendiri untuk hal akan dilakukan selanjutnya. Yoona pun menjadi gelisah, ia bergerak-gerak di atas ranjang dan membuat Siwon kehilangan kenyamanannya.

 

“Yoona-yah, berhentilah bergerak-gerak panik begitu. Aku hanya demam biasa, biarkan aku tidur dan istirahat sebentar. Setelah itu aku akan baik-baik saja.” Gumam Siwon menegur Yoona dengan suara bergetar.

 

“Tapi suhu panasnya tinggi sekali, Oppa. Aku akan keluar sebentar mencari obat dan kompres. Kau cobalah untuk makan dahulu.” Sebelum sempat Siwon mengeluarkan larangan, Yoona sudah bergegas keluar dari kamar sehingga Siwon hanya bisa pasrah olehnya.

 

~oOo~

Handuk kompres yang baru saja diangkatnya dari kening Siwon sudah mengering. Kini wajah Siwon sudah tidak merah padam, sudah mulai terlihat normal walau berubah sedikit pucat. Yoona mulai merasa lega karena akhirnya panas Siwon sudah turun. Ia tidak ingin membayangkan lagi bagaimana tadi begitu panik berlari ke luar kamar meminta handuk kompres dari pelayan Hotel dan mencari obat ke luar Hotel. Ia geleng-geleng kepala setelah menyadari betapa cemasnya dirinya pada Siwon yang sedang sakit, padahal pria itu hanya menderita demam tinggi biasa. Yoona tersenyum mengira bahwa tingkah bodohnya tadi karena ia mengkhawatirkan pria itu, ia mencintainya. Yoona telah mengakui bahwa ia mencintai Siwon, dan kini semakin diperkuat dengan perhatian yang diberikannya kepada sang calon suami.

 

“Terima kasih sudah merawatku, Yoona-yah. Sekarang aku sudah merasa jauh lebih baik,” ujar Siwon dengan senyuman mautnya, bangkit dari rebahan tubuhnya dan duduk menatap Yoona intens. Siwon tiba-tiba saja mendorong kening Yoona pelan dengan ujung jarinya. “Tapi kau ini bodoh sekali bisa panik seperti itu hanya karena aku demam. Kau bahkan merawatku seperti bayi yang sedang sakit. Kau merusak citraku sebagai seorang pria macho.”

 

Bibir Yoona manyun, terdengar dengusan juga dari hidungnya. Matanya ikut menyipit memandang remeh pria dihadapannya itu. “Dasar tidak bersyukur! Masih saja mengagung-agungkan harga diri padahal tadi terlihat sangat menderita..” Yoona bersungut-sungut, tidak terima dikatai bodoh karena kepanikannya. Apalagi Siwon juga menyalahkannya karena merusak citra diri pria itu.

 

Siwon yang merasa geli melihat wajah cemberut Yoona secepat kilat mengecup bibir gadis itu yang sedang mengerucut. Yoona langsung tertunduk malu dan merasakan pipinya panas karena darah yang mengalir cepat di bawah kulitnya. “Tapi dengan begitu aku jadi tahu bahwa kau memperhatikan dan mencemaskanku. Itu semua kau lakukan karena kau mencintaiku, begitukan?”

Melihat Yoona yang salah tingkah membuat Siwon ingin berlaku lebih pada gadis itu. “Dan aku juga mencintaimu, Yoona-yah.” Dengan tidak sabar ia menyambar bibir ranum itu lagi, kali ini tidak hanya mengecup tapi melumat dengan penuh gairah. Yoona pun tak sanggup merasakan getaran dalam dadanya sehingga dengan sukacita ia menyambut pria itu, membalas ciumannya denga lumatan yang sama bergairah. Mereka berciuman, berbagi kehangatan dan kemesraan dalam penyatuan cinta.

 

Siwon buru-buru melepas ciumannya setelah menyadari sesuatu, membuat Yoona mengerutkan keningnya bingung. “Aku tidak mau terbawa suasana. Ciuman adalah awal dari segalanya, kalau kau menyadari dimana kita berada sekarang.”

Yoona melihat ke sekelilingnya dan baru sadar bahwa mereka berada di dalam satu kamar dan di atas ranjang yang sama. Yoona langsung menjauhkan sedikit tubuhnya dari Siwon, lalu tertunduk menyembunyikan rona merah pipinya.

 

Ne, kau benar. Sebaiknya kau istirahat lagi saja, Oppa. Jadi besok pagi kau pasti sudah sehat kembali.” Ucap Yoona malu-malu.

“Baiklah, aku akan melanjutkan tidurku. Tapi… aku ingin tidur disini,” Siwon secara mengejutkan mengambil posisi membaringkan kepalanya di atas pangkuan Yoona. Siwon menarik tangan kanan Yoona, menggenggamnya dan meletakkan di atas dadanya. Mata Siwon terpejam, tetapi ia tidak tidur. “Kau tahu aku merasa nyaman sekali dengan posisi ini. Aku bahagia kau memilihku dan bersedia berada di sisiku. Aku ingin kita selamanya bersama dan berbagi cerita dalam suka dan duka. Apakah ada sesuatu yang ingin kau tanyakan padaku?”

 

Dengan ragu Yoona berdehem, pelan-pelan mengeluarkan suaranya, “Ya, aku ingin tahu kemana kau pergi selama beberapa hari kau menghilang. Kau tahu, kau sudah membuat banyak orang cemas termasuk Donghae Oppa dan Sekretaris Kim.”

 

Siwon mendesah, sudah yakin bila Yoona akan menanyakan hal itu. “Aku pergi ke Jepang. Aku sengaja tidak mengaktifkan ponselku karena aku butuh waktu untuk sendiri dan menyelesaikan urusanku tanpa gangguan dari orang lain.”

 

“Apakah harus jauh-jauh ke Jepang hanya untuk menenangkan diri? Sebenarnya kau memiliki masalah apa? Aku rasa… Oppa bisa menceritakannya kepadaku, mungkin aku bisa membantu memberikan solusi walau akurasinya sangat kecil,” Yoona menggigit bibir bawahnya, sedikit takut Siwon akan tersinggung karena menganggapnya ingin mencampuri urusan pribadi pria itu.

 

“Yoona-yah..” panggil Siwon lembut.

“Hmm..?”

“Kita… setelah menikah nanti, bagaimana kalau kita menetap di Jepang?” Siwon masih memejamkan matanya, hanya genggamannya di tangan Yoona semakin erat. “Apa kau bersedia? Kau mau kan kalau kita tinggal di Jepang?”

Yoona mengerutkan dahinya, bingung dengan maksud Siwon sebenarnya. “Tapi kenapa harus Jepang? Bukankah keluarga kita semua ada di Korea? Bahkan bisnismu juga semua dijalankan di Korea…”

“Ini semua karena ibuku..”

“Ibumu?”

“Ya, aku ingin mencari ibuku di Jepang, walau ia sudah menghilang dari hadapanku selama hampir delapan belas tahun lamanya.”

Yoona terkesiap, namun tak menampik bahwa ia sangat penasaran dengan kisah Siwon. Tunangannya itu sebelum ini tak pernah bercerita apapun soal keluarganya termasuk hubungannya yang tak harmonis dengan sang ayah. “Kenapa bisa selama itu kau tidak bertemu dengannya?” Yoona memberanikan diri menyentuh Siwon dengan tangan kirinya yang bebas dari genggaman Siwon. Ia membelai rambut pria itu dengan lembut.

 

“Ini semua karena Abeoji. Saat aku berumur sepuluh tahun, tiba-tiba saja Ayahku mengatakan padaku bahwa ia dan Ibu sudah berpisah. Mereka bercerai karena ibuku lebih memilih untuk bersama pria lain dan pindah ke Jepang. Itulah yang dikatakan Ayahku. Ketika itu aku tak sempat bertemu dengan ibuku untuk terakhir kalinya, bahkan untuk mengucapkan salam perpisahanpun aku tak memiliki kesempatan itu. Hanya Ayah yang memberiku pelukan hangat penuh penyesalan saat beliau mengatakan berita buruk itu padaku. Itu adalah pelukan hangat yang terakhir kali kurasakan darinya. Karena setelah itu Ayah berubah, ia menjadi bersikap dingin padaku. Ia tak pernah memenuhi keinginanku untuk bertemu dengan Ibu walau hanya sekali. Sejak itulah aku dan Ayah memiliki hubungan yang buruk. Aku merasa Ayah membenciku untuk kesalahan yang dibuat oleh Ibu kepadanya.”

 

Yoona terperangah, ternyata kisah Siwon cukup memilukan. Selama bertahun-tahun tak bisa bertemu dengan ibunya. Itu pasti sangat menyakitkan. Yoona tak bisa membayangkan bila ia ada di posisi Siwon. Beberapa hari tidak bertemu dengan ibunya saja sudah membuatnya rindu setengah mati, apalagi harus menahan keinginan bertemu selama bertahun-tahun tanpa kejelasan.

“Jadi itukah alasan kau bersikap dingin kepada Abeonim?”

“Sebenarnya aku ingin bersikap normal layaknya anak kepada Ayahnya. Tapi entah kenapa rasanya sulit sekali. Aku merasa Abeoji bersikap keras seperti itu karena ia tak pernah mencintai Eomma. Yang aku tahu mereka dahulu juga dijodohkan, sama seperti kita. Oleh karena itu, aku tidak ingin hal itu juga terjadi padaku. Dan aku bersyukur bahwa aku jatuh cinta padamu yang dijodohkan denganku. Aku senang karena aku menyadari bahwa aku memiliki cinta yang besar untukmu dan ingin selalu membahagiakanmu.”

 

Yoona tersenyum lebar tapi sedikit miris. “Aku juga mencintaimu, walaupun aku terlambat menyadarinya. Mianhae, Oppa…” gumam Yoona.

Siwon membuka matanya yang tadi terpejam. Ia bangkit untuk duduk dan tersenyum menatap Yoona. Ia mengelus pipi gadis itu begitu lembut sehingga memunculkan kembali rona merah disana. “Kau sama sekali tidak terlambat menyadarinya, Sayang. Kau hanya perlu waktu untuk memahami perasaanmu sendiri. Aku bahagia karena sekarang kita tidak perlu menyembunyikan lagi banyak hal yang membuat jarak di antara kita.” Siwon lalu mengecup kening Yoona cukup lama. “Lalu, bagaimana? Kau setuju kan kalau kita pindah ke Jepang?’

 

Yoona meringis, sementara matanya nyalang tidak berani menatap Siwon. Yoona tidak bisa memikirkan dan memutuskan hal itu secepat mungkin. Membayangkan ia berada jauh dari rumah, termasuk dari kedua orang tuanya membuatnya ragu dan was-was. “Itu… aku belum bisa mengambil keputusan, Oppa. Aku merasa sangat berat bila jauh dari Eomma. Kau kan tahu aku ini anak bungsu dan Eomma juga sangat protektif terhadapku. Eomma pasti tidak akan menyetujui ide ini.”

 

Siwon tertohok, ternyata tidak mudah meyakinkan seseorang untuk mengikuti kemauannya yang satu itu. Jika sebelumnya Ayahnya sendiri yang menolak keras, kini ia juga meyakini bahwa orang tua Yoona juga tidak akan menerima idenya untuk tinggal di Jepang bersama istrinya kelak. “Kau tidak usah khawatir. Aku akan berusaha meyakinkan orang tuamu soal rencana ini. Jepang dan Korea tidak begitu jauh, kau bisa menelepon Eomma mu kapan saja. Kau juga bisa mengunjungi Korea kapanpun kau merindukan keluargamu.”

 

Yoona masih tidak yakin dengan hal itu sehingga ia tidak memberikan reaksi apapun terhadap rayuan Siwon. Sepertinya pria itu memahami situasi konflik batin Yoona. Jadi ia hanya mendesah pasrah, menerima bahwa saat ini memang bukanlah waktu yang tepat untuk memutuskan perkara pelik itu.

“Ya sudah, tidak usah pikirkan itu sekarang. Sebaiknya kita tidur karena ini sudah tengah malam.” Siwon berbaring lagi, tapi kepalanya mendarat di atas bantal empuk.

Yoona membelalakkan matanya, mengisyaratkan sebuah tanya pada Siwon. “Aku.. harus tidur disini? Disebelahmu?” Yoona menunjuk sisi kosong ranjang di sebelah Siwon.

“Tentu saja. Atau kau mau tidur di sofa?” Siwon menangkap ekspresi ngeri di wajah Yoona. Lalu tergelak sebentar karena sadar apa yang sedang ditakutkan gadis itu. “Kau takut aku melakukan sesuatu yang berbahaya?” Yoona mengangguk canggung. “Kau tenang saja. Kau kan tahu aku sedang sakit dan aku tidak punya cukup tenaga untuk berbuat lebih. Aku berani jamin besok pagi kau akan bangun dengan pakaian lengkap.”

 

Perlahan Yoona mulai mempercayai kata-kata Siwon jadi ia mulai berbaring juga di sebelah pria itu tentunya dengan gerakan kaku dan canggung. Ia menarik selimut hingga ke batas dadanya, sama sekali tidak menoleh kepada Siwon karena tidak ingin bersitatap dengan matanya. Yoona langsung menegang dan menahan napas saat Siwon dengan lancangnya mengulurkan tangan dan memeluk tubuhnya.

“Jangan kaku begitu! Aku memelukmu hanya agar kau merasa lebih hangat. Anggap saja ini sebagai latihan. Cobalah untuk bersikap rileks..

 

Yoona menarik napasnya dalam lalu menghembusnya perlahan-lahan. Sedikit demi sedikit iapun merasa santai dan bisa menyesuaikan diri. Dan ia juga teringat akan sesuatu yang penting, tentang tujuannya datang ke Pulau Nami.

“Oppa, sepertinya aku butuh bantuanmu?” bisik Yoona.

“Bantuan apa?”

“Kau bisa kan membantuku agar para pebisnis yang ada di Pulau Nami bersedia untuk kuwawancara. Ini semua demi penelitianku. Jujur saja aku nyaris putus asa karena mereka benar-benar sulit di dekati. Aku yakin kau punya kemampuan khusus untuk melakukan itu…”

Siwon tersenyum sambil memejamkan mata. Dalam hati ia berjingkrak senang karena ternyata Yoona membutuhkan bantuannya dan tidak segan lagi untuk mengungkapkan itu padanya. “Itu soal gampang. Semestinya sebelum ini kau menyebutkan namaku dan identitasmu sebagai tunanganku, mereka pasti dengan senang hati menerimamu. Kau tidak usah khawatir, semua akan berjalan lancar seperti yang kau harapkan.”

 

Jinja?? Yakso…?”

“Yakso…”

“Gomawo, Oppa! Saranghae… Jaljayoo..” begitu senangnya Yoona hingga tanpa sadar ia membalas pelukan Siwon dan bergelung mencari tempat nyaman dengan merapatkan kepalanya di dada Siwon.

“Nado saranghae…”

 

~oOo~

 

Dua hari yang tersisa di Pulau Nami dimanfaatkan dengan baik dan efektif oleh Yoona. Kehadiran Siwon disana telah membawa berkah tersendiri padanya. Bagaimana tidak, dengan kemampuan loby yang dilakukan Siwon, Yoona berhasil memperoleh banyak informasi mengenai strategi marketing yang dijalankan para pebisnis besar di daerah tujuan wisata Internasional, terutama Pulau Nami yang sangat terkenal hingga keluar Korea.

 

Yoona sangat puas memandangi kertas-kertas kuesioner dan agendanya yang berisi catatan-catatan hasil wawancara mendalam dengan narasumber yang paling terpercaya. Ia tak henti-hentinya mengumbar senyum di sepanjang perjalanan pulang. Siwon juga sangat gembira mengetahui bahwa suasana hati Yoona sedang sangat baik. Ya, intinya mereka menghabiskan sisa hari di Pulau Nami bersama-sama. Bahkan mereka juga sempat melakukan kencan singkat di Pulau Nami. Yoona yang tadinya merasa iri dengan pengunjung Pulau yang tampak mesra menghabiskan waktu di tempat itu, kini tidak lagi merasa jengah. Ia telah mendapatkan kencannya dan kemesraannya sendiri di Pulau itu bersama dengan kekasih sekaligus tunangannya tercinta.

 

Siwon mengantarkan Yoona sampai ke rumah. Yoona memang sengaja tidak menghubungi keluarganya untuk meminta jemputan di stasiun kereta, sekedar memberikan kejutan bahwa ia bisa pulang dalam keadaan baik-baik saja dan sukses dengan kegiatannya.

 

Siwon menggandeng tangan Yoona mesra, memasuki rumah keluarga Im sambil bercanda-canda dan terkadang saling tergelak karena sesuatu yang lucu atau konyol. Mereka seakan dimabuk asmara, bahkan sampai tidak menyadari bahwa banyak mata yang menangkap kedekatan mereka disana.

Mereka terhenti sampai di ruang keluarga. Candaan dan tawa mereka langsung berhenti dan menghilang berganti dengan tatapan aneh pada tiga orang paruh baya yang sedang duduk di ruangan itu. Kedua orang tua Yoona dan ayah Siwon sedang berada disana, menatap mereka penuh keseriusan.

“Abeoji… ada disini?” tanya Siwon ragu, menyapa ayahnya sekedar berbasa-basi.

“Ya. Ada hal penting yang harus kudiskusikan dengan orang tua Yoona soal pertunangan kalian.” Jawab Tuan Choi dingin.

“Pertunangan kami? Memangnya hal penting apa yang harus didiskusikan saat ini?” tanya Yoona penasaran.

“Yoona-yah…” panggil Tuan Im pada putrinya.

“Ne, Appa…”

“Kami… kami sudah sepakat untuk membatalkan perjodohan kalian. Itu artinya pertunangan kalian dihentikan dan terputus sampai disini.”

“Apa??!!!” serentak Yoona dan Siwon memekik.

 

 

To Be Continued…

 

Hello Readers… masihkah menanti lanjutan cerita ini?? Hoho, sepertinya chapter ini sedikit absurd dan loading lama alias lambat yaa.. Tapi itu semua bagian dari cerita. Next part is possibly the final chapter. Bagaimana ya kira-kira hubungan YoonWon selanjutnya, benar ga pertunangan mereka diputus? Atau mereka memang harus menerima kenyataan kalau kedua keluarga tidak lagi setuju jika mereka bersama?? Nantikan jawabannya di final chapternya yaw…

 

Iklan
Pos Sebelumnya
Tinggalkan komentar

138 Komentar

  1. Dahlia GaemGyu

     /  Juni 14, 2014

    kenapa perjodohan mereka dibatalin disaat mereka udah saling mencintai,, oh tidak 😦

    Balas
  2. Ya kok mau di batalinn?? Andwae! Jangan dong

    Balas
  3. Umii 93

     /  Juli 12, 2014

    Andwee. . .tega banget ayahnya siwon. . .;-(

    Balas
  4. Fitriawandi

     /  Juli 28, 2014

    Nah loh tuan choi benar2 batalin perjodohan ini kan

    Balas
  5. Apa perjodohan Yoonwon di batalkan, wah bakal galau ni oppa? Bagaimana ini sudah payah mereka saling mencintai, eh malah di putus sepihak saja
    jadi gregetan bacanya

    Balas
  6. Hilyana Nited307

     /  Oktober 5, 2014

    Kenapa harus dibatalinn?? Next

    Balas
  7. Lahhh,kok bs batal pertunangany,gmn nie thor…?ah pst abojie ny woon oppa deh yg pny ide…

    Balas
  8. jangan di batalin pleaseee
    cinta udah tumbuh masa mau dibatalin
    so sweet mau siwon atau chanyeoel tetep so sweet
    semangat thor’ maafny komen aku yg kemrin

    Balas
  9. Dwi Sivi Fatmawati

     /  November 5, 2014

    kenapa harus dibatalin padahal kan mereka udh saling suka sma saling mencintai, critanya malah udh makin seru..

    Balas
  10. Febryana

     /  Desember 24, 2014

    Orangtua siwon sama yoona kok plin plan kemaren dijodohin eh sekarang malah dibatalin
    Next chap

    Balas
  11. Aduuuh ada2 aja sih masalahnya, tuh ortu enak bgt diawal bersikeras ngejodohin giliran skrg udah pd cinta perjodohannya mau dibatalin?? Ga boleh

    Balas
  12. Novi

     /  Februari 12, 2015

    Romantiss bangettt…
    Kok perjodohannya d batalkan???

    Balas
  13. nhoni

     /  Februari 17, 2015

    Knp di batalin sih,next cap yaa^^

    Balas
  14. Racheoll Dm

     /  Juni 30, 2015

    Itu maunya apaan sih sebenernya, udah pada falling in love, eh mau dibatalin. Hadehh…. Tapi yw momentnya jjang…!!! 😀

    Balas
  15. farzana

     /  November 20, 2015

    Best…ngak sbar mau baca endingnya..

    Balas
  16. devica nuaranda

     /  November 20, 2015

    andweee jangan dibatalin dong

    Balas
  17. rere

     /  Juli 24, 2016

    Ka boleh minta pass part 14 end nya?

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: