[3S] My Diamond (Chapter 2)

My Diamond

 presented by

choichoding007 [@nurulya007]

Main Cast : Super Junior’s Choi Siwon & SNSD’s Im Yoona || Other Cast : Hello Baby’s Lauren Lunde || Genre : Marriage Life, Romance & Angst || Length : Threeshoot || Rating : General || Disclaimer : A caunting all of the story is mine. Casts belong to themselves, family and God. If there is a same story it caused didn’t maen to || Credit Poster  : ‘MissFishyJazz’ (Thanks to Nana for the pretty awesome poster^^)

~’sejauh ini typo masih halal XP’~

ð  Happy Reading^^

.

.

.

Bandara Internasional Incheon, siang itu nampak begitu padat dengan ribuan manusia yang berlalu lalang. Pesawat yang diketahui dari London itu baru saja mendarat mulus beberapa menit yang lalu. Membeludakkan manusia dari dalamnya dengan penumpang dari mancanegara.

Seorang pria dengan pakaian kasual serta kacamata hitam yang bertengger pada daun telinganya, terlihat baru saja keluar dari pintu keberangkatan. Kakinya melangkah santai sambil tangannya mendorong troly berisi barang bawaannya.

Dad!

Pria itu melengok ke depan, menyahut panggilan seorang gadis kecil yang berjalan tak jauh darinya.

Si gadis kecil berdecak sebal. “Came on, Dad. We have to be quick.”

Pria itu hanya mengangguk serta mengulum senyum lebar. “Okey, princess.”

Gadis kecil itu membalikkan tubuhnya kemudian lanjut melangkah. Kepalanya mendongak, menatap wanita yang menggandenganya lantas berkata, “Mom, maybe Dad have to be diet. He is over weight,” celetuknya asal. Sang ibu yang tadinya sibuk mengutak-atik ponsel kini beralih menatap gadis kecilnya dengan dahi berkerut. Sejurus kemudian ia terkekeh geli mendengar penuturan putri kecilnya.

I lintened it..” Pria itu sudah menyamakan langkahnya sejajar dengan istri juga anaknya.

Si gadis kecil hanya nyengir, menunjukkan deretan gigi putihnya. Ia kembali menoleh pada Ibunya. “Mom, where is granpa?”

Wanita yang dipanggil Mom itu kemudian mengedarkan pandangannya, menyapu ke seluruh area. Ada begitu banyak orang yang memadati bandara. Terlihat tengah menunggu sanak saudara.

“Oh! Over there!” katanya begitu menangkap sosok pria paruh baya yang melambaikan tangan kearah mereka.

Granpa!” si gadis kecil memekik senang. Lantas berlari dan memeluk sang kakek yang sudah merentangkan kedua tangannya untuk meraih sang cucu.

Pria paruh baya itu mengangkat tubuh si gadis kecil dalam gendongannya. “Ouh, Lauren. You were over weight, dear.” Gadis kecil bernama Lauren itu mengerucutkan bibirnya membuat sang kakek mencubit gemas pipi chubby-nya. “Ah, my great grand child is so cute.”

Sementara suami-istri yang baru sampai disana segera membungkukkan badan, memberi hormat pada pria paruh baya tadi.

Annyeonghaseo Aboeji..” sapa mereka. Pria paruh baya itu kemudian beralih menatap mereka dan mengulum senyum. “Siwon-aa, Yoona-ya. Bagaimana kabar kalian, ah? London, bagaimana disana?”

Bibirnya menyunggingkan senyum simpul lalu tangan kanannya melepas kacamata hitamnya. “Aboeji, tidak bisakah hal itu ditanyakan nanti saja? Kami menempuh perjalanan berjam-jam,” keluh Siwon melototi koper serta tas besar bawaannya.

Tn. Choi tertawa renyah serta menepuk-nepuk punggung Siwon. “Arraseo, arraseo. Mari kita lanjutkan di rumah.

~~~

Siwon menutup pintu mobil ketika audi R8 miliknya telah terpakir di garasi rumah. Lauren sudah terlelap dalam gendongannya sementara Yoona juga baru saja menutup pintu mobil dan keluar sambil memijit pundaknya, nampak kelelahan.

Seharian ini mereka menghabiskan waktu berkunjung ke rumah orangtua Siwon setelah menetap selama tiga hari di Seoul. Bertemu dengan keluarga besar tentu setelah menetap selama kurang lebih lima tahun di London akan menghasilkan banyak cerita yang patut dijadikan bahan obrolan. Seulong dan Eunji beserta kedua anaknya juga hadir sekedar menyambut kepulangan Siwon dan Yoona ke Korea.

Siwon merebahkan tubuh mungil Lauren di atas ranjang. Kemudian ia melangkah mendekat kearah lemari besar tak jauh dari ranjang. Dibukanya lemari itu lalu mengambil sepasang baju dan celana tidur Lauren.

Dengan telaten, Siwon melepaskan baju Lauren lantas menggantinya dengan baju tidur yang diambilnya dari dalam lemari.

Bibirnya menyunggingkan seulas senyum sembari tangan kanannya mengusap kepala Lauren. Lalu ia mengecup kening gadis kecil itu, cukup lama.

Have a nice dream, priencess.” Ia berbisik lembut.

Setelah memastikan gadis kecilnya benar-benar telah terlelap, ia memutuskan untuk beranjak dari sana. Dipadamkannya lampu kamar bernuansa pink itu sebelum menutup pintu.

Siwon mendapati sang istri masih terjaga dengan sebuah majalah di tangannya ketika ia membuka pintu kamar.

“Memikirkan sesuatu?”

Kepala Yoona mendongak, memandang punggung Siwon yang sudah berdiri di depan lemari.

“Hanya belum mengantuk,” jawabnya sekedarnya.

Siwon ikut mendudukkan tubuhnya di atas ranjang—setelah mengganti bajunya dengan kaos putih polos dan celana cream panjang. Punggungnya bersandar pada kepala ranjang. Lalu matanya melirik majalah yang dibaca sang istri. “Tidak biasanya,” komentarnya.

Yoona menoleh kearah Siwon lalu memberikan senyum simpul. Kemudin ia meletakkan majalah fashion-nya di atas nakas. “Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan untuk mengundang kantuk,” katanya sembari bergelanyut manja pada lengan kekar Siwon.

“Kau ingin kubacakan dongeng? Seperti dulu ketika kau hamil Lauren.” Siwon mengajukan tawaran.

Dahi Yoona berkerut. Ia memutar kedua bola matanya lalu memukul pelan dada Siwon. “Apa kau bercanda? Yang benar saja,” katanya sembari mengulum senyum geli.

Siwon balas terkekeh. Tangannya kemudian meraih tangan lembut Yoona. “Aku jadi teringat saat masa-masa sulit kau melahirkan putri kecil kita.” Ia menatap ke manik mata Yoona. “Kau tahu, kau adalah wanita terhebat yang pernah kutemui,” katanya tulus lalu mengecup tangan Yoona.

Wanita itu memasang senyum lembut, “aku kuat karna ada kau di sampingku. Kau, suamiku adalah satu kekuatan dalam diriku,” ungkapnya sungguh-sungguh.

Selanjutnya hanya ada keheningan diantara mereka. Menggunakan kontak mata sebagai perbincangan batin.

Tangan Siwon menuntun tangan Yoona yang masih dalam genggamannya untuk kemudian bersandar pada bahu kokohnya. Sementara ia menelusupkan tangannya di belakang punggung Yoona. Lalu dengan gerak lamban ia mempersempit jarak dintara mereka. Mengisyaratkan sesuatu akan terjadi.

Mom…”

Siwon dan Yoona tersentak kaget sampai-sampai mereka hampir terlompat ke udara. Mata mereka teralihkan kearah pintu. Lauren dengan wajah mengantuk telah berdiri disana. Merangkul boneka Rilakkuma-nya sambil mengucek mata.

Gadis kecil itu berjalan kearah orangtuanya. Kemudian ia naik ke atas ranjang, menyela di antara kedua orangtuanya. “What do you do, Mom? Kalian sedang melakukan apa, tadi?” Lauren menatap wajah kedua orangtuanya dengan mata polosnya.

Yoona melirik kearah Siwon yang ternyata juga sedang menatapnya. Mereka saling berpandangan untuk beberapa detik. Kemudian secara bersamaan beralih menatap Lauren.

Yoona memaksakan senyum, “Ah, tidak, sayang. Bukan apa-apa. Ini hanya….”

“Terapi!”

Yoona melotot kearah Siwon karna sembarangan menyahut ucapannya. Dan pria itu hanya memberikan cengiran singkat.

Sementara Lauren menautkan kedua alisnya. Terapi malam-malam begini? Apa orangtuanya gila?

Lalu dengan gerak refleks, Lauren melingkarkan kedua tangan kecilnya di sekitar pinggang Yoona, memeluk erat ibunya serta menatap sang ayah dengan pandangan was-was.

Dad, jangan menyakiti Mom dengan memaksanya terapi malam-malam!” Ia tidak paham apa itu terapi. Ia pikir terapi semacam hipnotis lalu ibunya akan menjadi zombie, itu mengerikan.

Celetukan polos anaknya membuat Siwon tak tanggung-tanggung meledakkan tawa. Yoona juga ikut tertawa sembari tangannya memukul lengan Siwon untuk menghentikan tawa pria itu.

“Bukan seperti itu, Sayang.” Siwon setengah menahan tawa. Ia tentu tahu bagaimana pemikiran anak di usia lima tahun. Kemudian ia menegakkan tubuhnya dan memandang Lauren. “Terapi itu sama seperti pengobatan. Untuk orang dewasa.”

Lauren mengangkat kedua alisnya lalu menatap Yoona. “Apa Mom sakit?”

“Ya, Mommy-mu sedang sakit dan dia butuh ob—aw!” Siwon memekik saat tangan Yoona mencubit perutnya.

Yoona memberikan tatapan lembut pada Lauren. “Mom baik-baik saja, sayang. Tadi Daddy hanya membantu Mommy membersihkan debu yang masuk ke mata Mommy.” Ia mengusap kepala Lauren. “Sudah malam. Kau harus tidur,” sambungnya lalu mengecup pucuk kepala Lauren. Siwon menatapnya dengan mengulum senyum.

Lauren tidak banyak bertanya lagi karna dia memang sudah mengantuk. Malam ini dia tidur di kamar orangtuanya. Yoona menutupi tubuh mereka dengan selimut. Lalu melingkarkan tangannya pada tubuh mungil Lauren ketika gadis kecil itu menelusup dalam dekapannya.

Siwon yang tak mau kalah juga melakukan hal yang sama, memeluk kedua orang tercintanya. Ia membisikkan kata pada Yoona sebelum memejamkan mata, “Have a nice dream and love you.”

Wanita itu hanya tersenyum geli, tak menjawab karna Siwon juga tidak membutuhkan jawaban. Tangannya menepuk-nepuk pelan bahu Lauren, menghantarkan putri kecilnya ke alam mimpi.

Lauren menggeliat. “Mom..”

“Ya, Sayang?”

Ada jeda cukup lama sebelum akhirnya Yoona melengok menatap Lauren dan menemukan gadis kecil itu mengulas senyum dalam tidur. Yoona tersenyum lembut dan ikut memejamkan mata untuk menyusul suami serta anaknya.

~~~

Siang itu matahari di musim panas nampak meredup. Gumpalan awan hitam sudah terlihat di bagian utara kota Seoul. Yoona menenteng tas kerja suaminya serta tuxedo hitam di lengannya. Ia meletakkan tas kerja Siwon di atas sofa kemudian mulai memakaikan tuxedo hitam itu pada tubuh Siwon.

“Jam berapa kau pulang nanti?” tanya Siwon sembari menatap sang istri yang sibuk merapikan dasinya.

“Aku akan naik taxi.” Ia mengusap dada bidang Siwon yang dilapisi kemeja putih berbalut dengan tuxedo hitam. Kepalanya mendongak mempertemukan kedua matanya dengan mata gelap Choi Siwon. “Tidak perlu khawatir. Aku masih ingat jalanan kota ini.” Ia tersenyum simpul kemudian memberi kecupan manis di bibir Siwon.

Siwon mengedikkan bahu, “baiklah jika itu maumu. Tapi begitu kau sampai di rumah Jessica segera telepon aku, oke?”

Kepala Yoona memanggut, “okay,” katanya sambil membentuk tanda ok dengan ibu jari dan telunjuknya..

Yoona membalikkan tubuhnya, berjalan kerah tangga lalu mendongak keatas. “Lauren sayang. Let’s go, dear. Aunty Sica have wait us.”

“Ya, Mom. Tunggu sebentar.” Lauren balas berteriak, takut jika sang ibu tidak mendengar jawabannya.

Yoona menghela napas sejenak. Ia balik menatap Siwon. “Dia sama sepertimu,” ujarnya sambil menggelengkan kepala dan berjalan kearah sofa, mengambil sebuah bingkisan buah.

“Dia anak kita. Wajar jika sifatku menurun padanya,” sahut Siwon santai lalu mengambil tas kerjanya.

Yoona baru akan membalas ucapan Siwon ketika suara Lauren menghentikannya. “Okay, I’m ready for look a cute baby,” seru Lauren tersenyum senang.

~~~

Mata bulat Lauren terlihat berbinar. Ada gambaran kagum, takjup, dan…. sesuatu yang—sulit dijelaskan.

“Jangan biarkan suaramu membangunkannya, okay?” Lauren menganggukkan kepala ketika Yoona berbisik pelan padanya.

Yoona mengulas senyum kecil sebelum berlalu meninggalkan Lauren bersama Alice—nama bayi mungil itu, untuk kemudian menemui Jessica di ruang tengah.

Lauren mengamatinya dengan seksama. Bibirnya berkali-kali mengunggingkan senyum. Bagaimana bayi kecil itu terpejam dalam box bayi dengan selimut polkadot yang membungkus tubuh kecilnya. Lauren merasa gemas. Makhluk kecil itu sangat cantik dengan bando beludru di kepalanya.

You are beautiful! Really pretty baby.” Lauren bergumam pelan. Ia mengulurkan tangannya untuk menyentuh kulit lembut Alice. “Oh!” pekiknya takjup.

Bayi kecil itu menggeliat. Lauren menarik tangannya, takut jika sentuhannya dapat mengganggu tidur nyenyak Alice. Lalu setelah memastikan Alice kembali tenang, ia mengulurkan tangannya lagi. Menyentuh pipi chubby Alice dengan telunjuknya.

Lauren terkikik ketika bayi mungil itu menggerakkan mulutnya. Dia sangat lucu. Ia masih mengusap pipi Alice sampai akhirnya bayi kecil berusia delapan bulan itu membuka mata bulatnya. Lauren terlonjak. “Oh, apa aku mengganggumu?”

Bayi itu tentu tak dapat menjawab. Jadi dia hanya menatap Lauren dalam diam. Lauren tersenyum, semakin lebar ketika Alice mengerjapkan mata beberapa kali.

Dia masih tersnyum tapi tidak di detik ke sepuluh ketika Alice mulai menangis. Seketika Lauren diliputi kebingungan.

Mom!” panggilnya cukup keras. Namun tangisan Alice menenggelamkan suaranya. Alice semakin keras menangis. Mungkin karna merasa asing dengan Lauren. Mungkin juga karna terbiasa melihat wajah ibunya ketika bangun maka ketika tak menemukan wajah sang ibu ia merasa ketakutan.

Lauren menggigit bibir bawahnya. Ia berjinjit untuk dapat melihat Alice dalam box bayi. Tangan kecilnya mengelus perut Alice. Semoga dapat meredakan tangis bayi kecil ini, pikir Lauren.

Alice masih saja menangis dengan tangannya yang mengepal dan tubuhnya yang menegang. Air matanya mengalir dari mata bulatnya yang terpejam.

Lauren tidak tahu apakah ini akan berhasil atau tidak, tapi dia akan mencobanya. Ia meraih jemari mungil Alice, menjadikan telunjuknya sebuah pegangan untuk Alice. Lalu ia mulai bersenandung.

Twinkle, twinkle, little star. How I wonder what you are. Up above the world so high, Like a diamond in the sky…

Tangis Alice mulai mereda dengan dada naik turun. Matanya menatap Lauren, menunggu lanjutan dari lagu itu. Lauren mengulum senyum. Lalu ia mulai melanjutkan lagu Twinkle twinkle little star, lagu yang biasa ayahnya nyanyikan ketika ia sulit tidur. Sembari tangannya mengayunkan tangan kecil Alice. Bayi mungil itu mulai tersenyum, menunjukkan gusi merahnya sambil menendang-nendang gembira.

~~~

Yoona membawa secangkir teh hangat di tangannya, begitu juga dengan Jessica. Mereka lalu duduk kembali ke ruang tengah setelah membuat teh dari dapur. Ada begitu banyak yang mereka bicarakan. Mulai dari menceritakan bagaimana kehidupan  mereka setelah lulus dari sekolah menegah atas sampai berbagi cerita mengenai saat-saat sulit melahirkan.

Obrolan hangat itu terhenti ketika samar-samar terdengar suara tangis. “Kurasa Alice terbangun,” kata Yoona.

Mereka beranjak untuk berjalan menuju kamar Alice. Sesampainya disana bukan lagi tangis Alice yang mereka dengar akan tetapi tawa serta suara-suara gembira Alice. Dilihatnya Lauren yang menggenggam tangan Alice diantara ruji-ruji box bayi sambil menghibur bayi kecil itu.

“Kau membuatnya berhenti menangis, Sayang?” Yoona mengusap kepala Lauren. “Anak baik,” sambungnya mengulum senyum.

Lauren balas tersenyum lebar. “Aku menyanyikan Twinkle twinkle little star untuknya, Mom.” Ia menunjukkan deretan gigi putihnya. “Dad biasa menyanyikanya untukku saat aku tak bisa tidur.”
“Alice sepertinya akan menyukai suaramu, Lauren,” ujar Jessica mulai mengangkat Alice dari dalam box bayi.

Yoona dan Lauren mengikuti Jessica yang berjalan menuju ruang tengah. Mereka duduk pada sofa merah panjang.

“Benarkah? Hm.. kalau begitu aku akan sesering mungkin datang berkunjung untuk menyumbangkan suaraku saat Alice menangis. Tapi sebagai gantinya Aunty harus membelikanku permen kapas.” Ia berhenti untuk berfikir sejenak. “Satu lagu tiga permen kapas, bagaimana?”

Jessica terkikik sembari ia menyusui Alice. “Dan kau akan mendapatkan hadiah istimewa.”

Really? What it’s?

“Kekeroposan pada gigimu.”

Air muka Lauren langsung berubah menjadi muram bersamaan dengan kikikkan geli Yoona dan Jessica. “Just kidding, dear.” Jessica memberikan tanda piece dengan jari telunjuk dan jari tengahnya.

Lauren mengangkat bahu, tak menganggap hal itu serius. Matanya sibuk mengamati Alice yang menikmati ASI, menyedot dengan rakus seperti tengah kehausan.

“Alice sangat haus,” ujarnya. Lalu ia beralih menatap Yoona. “Mom, apa aku juga seperti itu saat bayi?”

Of course. Semua bayi memang begitu ketika minum susu dari ibunya.”

Lauren memanggutkan kepala. Kemudian ia bergeser lebih dekat dengan Jessica. “Aunty, boleh aku menyentuhnya?”

“Tentu saja, sayang.”

Lauren menyentuh tangan kecil Alice, ia tersenyum lebar. Lalu ia beralih mengusap-usap lembut dahi Alice. “Dia sangat lembut,” katanya. Kemudian menghirup wangi Alice. “Dan harum.”

~~~

Hal yang tidak di sangka-sangka oleh Yoona sepulang mereka dari kediaman Lee adalah ucapan Lauren yang terus merengek padanya. Anak itu mengkutinya kemana-mana dan selalu saja kalimat itu yang dia ucapkan, ”Mom, please. Give me younger sister. I wanna get little sister.”

Sampai-sampai membuat Yoona dan Siwon jengah. “Lauren, memberi adik tidak semudah memberi permen kapas.”

Tapi Lauren tak cukup mengerti. Ia masih terus mengajukan keinginannya. Seperti ketika keluarga kecil itu sedang menonton tv malam ini. “Hei, baby. Apa kau bisa mendengarku?” Lauren mendekatkan telinganya pada perut datar Yoona.

Gadis kecil itu sering kali melakukan hal seperti itu. Berbicara pada perut Yoona, seolah-olah ada sebuah nyawa di dalam sana. Tak urung membuat Siwon dan Yoona mengulas senyum simpul.

Mata Yoona terasa panas ketika Lauren mencium perutnya, mengelus penuh sayang. Bahakan tak terasa ia menitikan air mata.

Andai kau tahu, Lauren. Mom tidak lagi bisa mengandung. Maafkan Mom, Sayang.

~~~

Yoona mengusap serta menepuk lembut punggung kecil Lauren. Ia juga menyanyikan lagu Twinkle twinkle little star untuk mengiringi tidur Lauren. Ia masih menggumam bahkan saat dirasa Lauren sudah terlelap. Bibirnya mengecup kening Lauren. Lalu menempelkan pipinya pada pucuk kepala gadis kecil itu.

Mom..

“Hmm..?”

Lauren tidak langsung menyahut. Yoona juga tidak lekas bertanya. Hanya terdengar suara jarum jam dari jam dinding berbentuk kepala mickey mouse di atas pintu kamar. Juga deru nafas mereka yang beradu pelan.

Mom..”

“ Ya, Sayang?”

Gadis kecil itu membuka matanya yang terpejam. Kedua bola matanya bergerak liar. Ia menggigit bibir bawahnya. Tiba-tiba saja ada keraguan yang menggumpal dalam dirinya. Ia berdiri di antara keraguan dan keyakinan.

Katakan?

Tidak?

Lauren memejamkan mata dan menelan ludahnya dengan susah payah. Rasanya kini jantunganya berdetak lebih cepat. “Mom… aku…”

Apa itu sesuatu yang harus dikatakan? Ketika kebimbangan menghampirinya, ia harus memutuskan sebuah pilihan.

“Ng..” Ia bingung harus memulai darimana. “Aku merasa akhir-akhir ini ada yang salah pada tubuhku.” Lauren meremas ibu jarinya. “Sebenarnya aku…” Ia kembali menimang-nimang. Dan ketika kepalanya mendongak untuk menatap wajah sang ibu. Ia hanya dapat mendesah kecewa, mendapati sang ibu yang telah terlelap. “Good night, Mom.”

~~~

Minggu pagi yang cerah di pertengahan musim panas. Gereja itu nampak ramai dipadati oleh para jemaat yang hendak beribadah. Lauren duduk di bangku paling depan diantara kedua orangtuanya.

Lauren menyukai hari minggu. Lauren menyukai ketika pendeta ber-khotbah di depan mimbar. Ia menyukai keramaian yang di ciptakan oleh para jemaat di tempat suci ini.

Mata bulatnya memerhatikan ke sekeliling gereja. Ia menarik sudut-sudut bibirnya ketika melihat sepasang kakek nenek yang duduk tak jauh darinya. Melihat anak-anak kecil seumuran dengannya tengah duduk di antara kedua orangtuanya juga.

“Lauren, apa kau baik-baik saja, Sayang?”

Fokus Lauren pada orang-rang teralihkan. Ia mendongakkan kepala, menatap sang ibu dengan dahi berkerut samar. “I’m fine, Mom.”

“Tapi tanganmu berkeringat, Sayang,” kata Yoona dengan raut cemas.

O-oh! Apa Lauren melewatkan sesuatu?

Lauren beralih menatap tangan kecilnya yang di genggam Yoona sedari tadi. Ia memaksakan senyum dan kembali menatap ibunya. “Aku hanya berkeringat biasa, Mom. Dan hanya belum bisa beradaptasi dengan baik terhadap udara di Seoul.”

“Kau yakin?”

Sebelum Lauren sempat menjawab, seruan dari para jemaat yang mengamini doa sang pastur menghentikan niatnya. Jadi, dia hanya mengulum senyum menenangkan sembari sedikit mengangkat tubuh ringannya lalu mengecup pipi Yoona. “Don’t worry,” katanya dengan gerak bibir lalu mengerlingkan sebelah mata.

Yoona sedikit bernafas lega. Ia memaksakan sebuah senyum, menggenggam lebih erat tangan Lauren seraya menyerukan, “amin! Hallelujah.” Bersamaan dengan para jemaat yang lainnya.

Sesungguhnya Lauren tidak benar-benar merasa baik ketika menyadari telapak tangannya berkeringat—lagi. Ya, ini memang bukan kali pertama bagi Lauren. Ia sering mengalaminya tapi belum berani mengatakan pada kedua orangtuanya. Ia…. takut.

Setelah acara kebaktian selesai, mereka tidak langsung berjalan menuju tepi jalan untuk lekas masuk ke dalam mobil. Siwon terlihat sedang terlibat obrolan hangat bersama Donghae dan Kangin, begitupun dengan Yoona yang masih sibuk berbasa-basi bersama Jessica.

Mereka tidak menyadari perubahan air wajah Lauren. Bibir gadis itu sudah memucat. Entah kapan tepatnya, tiba-tiba saja tubuh gadis itu bergetar. Kepalanya berkedut dan dadanya terasa sakit. Ia memandang kedua orangtuanya dengan mata berkunang-kunang. Dan ketika rasa sakit itu semakin menjalar ke seluruh tubuhnya, Lauren mengerang kesakitan. Tubuhnya ambruk begitu saja. Terakhir ia mendengar pekikan yang memanggil namanya dari kedua rangtuanya sebelum ia mendapati kegelapan dalam pandangannya.

~~~

Detik-detik itu telah berganti menit. Mereka masih betah bertahan dalam keheningan. Menerawang jauh entah kemana. Hanya ada suara dencitan hak sepatu yang beradu dengan ubin rumah sakit.

Siwon menoleh kearah Yoona, menghela napas singkat lalu mulai menggeser duduknya lebih dekat dengan Yoona. Kemudian tangannya menyentuh tangan Yoona yang terasa dingin, menggenggamnya untuk menghantarkan kehangatan.

Wanita itu tidak lagi mampu menahan isakannya. Bahunya bergetar hebat. Dan lelehan air mata meluncur begitu saja, lolos dari pelupuk mata.

Siwon mengulurkan tangannya untuk merangkul Yoona, membawa wanita itu bersandar pada bahunya. “Uljimayo…” suara rendah Siwon justru semakin membuat Yoona terguncang.

Ia mendorong tubuh Siwon. “Bagaimana aku bisa tenang, Oppa? Katakan bagaimana aku bisa tenang?” Yoona sesegukkan. “Lauren… anak kita…” Ia menggigit bibir bawahnya. “J-jantungnya…” Sebelah tangan Yoona membekap mulutnya sendiri sementara tangan satunya lagi menyentuh dada Siwon, tepat pada jantung pria itu. Mengisyaratkan seolah disana jantung kecil Lauren.

“Jantung kecilnya yang berdetak di dalam tubuh mungilnya…” Suara Yoona bergetar, tangannya bergetar, seluruh tubuhnya bergetar dengan air mata yang tak henti-henti meluncur.

Jantung kecilnya..

Jantung kecilnya…

Jantung kecilnya…

Yoona menggumamkan kalimat itu berulang-ulang di tengah tangisnya. Sekali lagi Siwon meraih tubuh lemah Yoona. Ia memejamkan mata bersamaan dengan air mata yang juga meluncur dari sudut matanya.

“Dia masih terlalu kecil, Oppa. Dia masih terlalu kecil untuk mengidap kelainan jantung..” Leher Yoona tercekat dan ia kembali meraung-raung dalam tangisnya. “Dia kesakitan. Jantung kecilnya kesakitan…” kata Yoona dengan suara rendah yang memilukan.

Yoona kembali melepas rangkulan Siwon. Ia menutup wajahnya dengan telapak tangan, membunuh kesunyian dengan tangisnya.

Aku juga merasa kesakitan, Sayang. Terlebih menyaksikan kedua orang yang kucintai merasakan sakit. Terlebih untuk yang kedua kalinya Tuhan kembali mengujiku dengan memberi kesakitan itu kepada orang yang kucintai.

Siwon menekuk lututnya di depan Yoona. Ia meraih tangan lembut Yoona yang masih bergetar. “Tuhan hanya sedang menguji kita, Sayang. Lauren anak yang kuat sama seperti ibunya. Semua akan baik-baik saja. Kau percaya padaku, ‘kan?”

Yoona tidak tahu. Yoona tidak mengerti. Gadis sekecil Lauren harus menderita penyakit itu. Ini tidak adil!

Dengan ketidak mengertiannya, Yoona memalingkan wajah dari Siwon. Menerawang pada pasien di ujung sana yang duduk di atas kursi roda dengan mata berembun.

Pria itu kemudian mensejajarkan tubuhnya dengan Yoona, menjadikan lututnya sebagai penyangga tubuhnya. Kedua tangannya menagkupkan pipi Yoona.

Dengan lembut ia mengusap air mata Yoona dengan kedua ibu jarinya. Lalu ia mendaratkan sebuah kecupan hangat pada kening wanita itu. Setelah itu ciumannya turun menyentuh ringan kedua mata Yoona yang terpejam. Dan berakhir di pucuk hidung Yoona.

“Kau percaya padaku, ‘kan?”

Yoona tidak tahu. Yoona tidak mengerti. Mengapa tiap kali pria ini berkata untuk mempercayaianya, kata-katanya seolah menjadi mantra bagi Yoona.

Ia mempercayai pria ini, suaminya.

Akhirnya wanita itu mengangguk lemah. Menarik leher Siwon untuk kemudian ia rangkul menjadikan tubuh hangat itu sebagai pengisi suhu dingin pada tubuhnya.

~~~

Siwon membuka pintu ruang rawat Lauren dan manimbulkan suara gesekan kecil. Dilihatnya gadis kecil itu tengah duduk bersandarkan bantal-bantal, sedang berceloteh kepada salah satu suster rumah sakit.

Mom, Dad..” Suara Lauren terdengar antusias sembari bibirnya menyunggingkan senyum lebar ketika melihat Siwon dan Yoona menghampirinya.

Suster itu membungkuk rendah sebelum akhirnya pamit meninggalkan ketiga orang itu.

Yoona duduk di sisi ranjang, meneliti tubuh kecil Lauren. “Bagaimana keadaanmu, Sayang? Apa lebih baik?” tanyanya mengulas senyum kecil.

Lauren menganggukkan kepala. “Ya, Mom. Aku merasa lebih baik.”

Siwon menarik kursi lalu duduk di dekat ranjang. Ia menopang dagu dengan siku bertumpu pada ranjang. “Satu jarum suntik tentu tidak akan membuatmu pingsan, ‘kan? Katanya mencoba bergurau.

“Yang benar saja. Dad, jangan lupa aku ini lahir dari seorang ibu yang sangat kuat. Bahkan melebihi catwomen,” kata Lauren balas bergurau. Dia tertawa renyah.

Siwon balas tersenyum lebar. “Nah, itu baru namanya anak Dad yang hebat,” ujarnya seraya mengepalkan tangan. Sementara Yoona hanya dapat tersenyum tipis.

Yoona ingin menangis. Bagaimana bisa gadis seceria ini harus merasakan kesakitan?

Tawa Lauren berangsur memudar. Ia menghela napas panjang, menunduk sebentar lalu kembali memandang kedua orang tuanya. “Dad, ini tidak terlalu buruk. Menginap disini kurasa cukup menyenangkan.” Lauren tersenyum tulus. “Mom..” Ia ganti fokus menatap Yoona dan menggenggam tangan ibunya. “Aku ingin memelukmu. Boleh, ‘kan?”

“Ya, Sayang. Tentu saja.” Kepala Yoona mengangguk cepat. Matanya sudah berkaca-kaca. Dan ketika tubuh ringan Lauren menghambur dalam pelukannya, wanita itu tak lagi dapat membendung lelehan air mata.

Mom, aku mencintamu,” kata Lauren tulus.

Yoona dapat merasakan getaran dalam suara bening Lauren. Ia dapat merasakan putri kecilnya tengah ketakutan. Gadis kecilnya mencari perlindungan.

Mom juga mencintaimu, Sayang. Mom sangat mencintaimu,” balas Yoona mengusap punggung Lauren. Gadis kecil itu memejamkan mata, menahan isakan. Ketika dia membuka mata, ia menemukan Siwon tengah menatapnya sedih. “Dad..” panggilnya kemudian. Mengisyaratkan ia juga butuh pelukan dari sang ayah.

Dengan gerak lembut Siwon memeluk tubuh Lauren dan Yoona. Siwon mencium bahu kecil Lauren, putri kecilnya.

Sekarang Lauren bisa menangis tanpa kedua orangtuanya harus melihatnya menitikan air mata. Ia meneggelamkan kepalanya diantara bahu Siwon dan Yoona. Menangis dalam diam.

~~~

Semenjak Lauren dinyatakan sebagai pasien inap rumah sakit Seoul, ada begitu banyak dari kalangan keluarga yang datang untuk menjenguknya. Tuan dan Nyonya Choi selalu menyempatkan diri menjenguk cucu tersayang mereka. Seulong dan Eunji beserta kedua anaknya juga menyempatkan waktu untuk menjenguk Lauren.

Lauren tidak pernah merasa kesepian, tentu saja. Ada begitu banyak orang yang dicintanya berada di sampingnya, mendukungnya. Kedua orangtuanya juga tak pernah lelah menemani hari-hari Lauren selama di rumah sakit.

Hari ini menginjak satu bulan lebih Lauren menjalani perawatan. Selama itu pula Yoona harus menyaksikan kesakitan Lauren. Bagaimana tubuh kecil itu sering mengalami serangan. Bagaimana tubuh mungilnya harus menerima jarum suntik. Dan bagaimana putri kecilnya terlukai lemah.

Oh Tuhan. Ini menyakitkan. Kenapa tak kau gantikan saja rasa sakit yang dialami anakku berpindah kepadaku? Sungguh dia masih terlalu dini untuk merasakan kesakitan ini.

Lagi-lagi wanita itu menangis.

Jika melalui pengobatan tidak juga bisa menyembuhkannya maka jalan satu-satunya adalah operasi. Dan untuk saat ini pihak rumah sakit belum menemukan pendonor untuk Lauren.

Sekali lagi Yoona meremas dadanya. Putri malangnya harus melawan penyakit seberat ini.

~~~

“Jangan gila, Yoona!” Siwon berseru keras membuat sebagian pengunjung rumah sakit menoleh kearahnya. Siwon tidak peduli. Ucapan Yoona barusan lebih membuatnya menyita perhatian.

Yoona mendesah pelan. “Ini sa—“

“Tidak dengan mendonorkan jantungmu, Yoona!” seru Siwon sekali lagi, masih dengan suara meninggi.

Oppa, dengar. Aku baru akan memeriksakan jantungku sesuai untuk Lauren atau tid—“

“Kita masih bisa mencari pendonor di luar sana. Kita bisa membayar mereka berapapun yang mereka mau. Ada begitu banyak manusia dengan jantung normal yang sudah bosan hidup. Kita bisa mencari salah satu dari mereka.” Siwon tidak mau menerima gagasan Yoona. Itu konyol. Dia sudah tersulut emosi.

Yoona terdiam sejenak, memandang Siwon dengan tatapan tak mengerti. “Lalu bagaimana jika diantara mereka tidak ada yang mau? Bagaimana jika tidak ada jantung yang sesuai untuk Lauren? Bagaimana jika jantung mereka buruk untuk Lauren? Bagaimana jika Lauren tidak sempat terselamatkan karna terlalu lama menunggu mereka?” cecar Yoona dengan emosi tak kalah tersulut. Bahkan ia sudah merasakan lelehan air mata merembas di pipinya.

“Katakan lalu aku harus bagaimana? Sebagai ibu apa yang bisa kulakukan selain mendonorkan jantungku? Membiarkannya mati begitu saja? Melihatnya kesakitan tiap kali jantungnnya melemah? A-atau kau mau aku berkata padanya : Lauren, maafkan Mom karna tak dapat berbuat apa-apa. Katakan, Oppa. Bagaimana mungkin aku membiarkan semua itu terjadi!” Yoona berteriak keras. Menumpahkan seluruh amarahnya. Ia benci dirinya sendiri yang hanya dapat berdiam diri menyaksikan putri kecilnya kesakitan.

Bibir Siwon terkatup rapat. Sungguh bukan seperti ini yang dia maksud. Bukan seperti ini. Tidak dengan membuat Yoona menangis. Dia hanya tidak ingin kehilangan Lauren maupun Yoona. Hanya itu.

Siwon menghampiri tubuh Yoona yang sesegukan. Tangannya menuntun lembut tubuh rapuh itu untuk membekap dalam pelukannya. “Mianhae… maaf.. maafkan aku… aku minta maaf..”

Sepasang suami istri itu sama-sama larut dalam kesedihan. Menjadikan dekapan hangat itu sebuah kekuatan untuk menopang tubuh mereka yang benar-benar lelah.

“Tolong, jangan biarkan Lauren pergi dariku. Dia nyawaku. Jangan biarkan Lauren kesakitan. Dia berlian berhargaku.” Sendu sedan suara Yoona seakan mengiris halus ulu hati Siwon.

Seharusnya kau tahu. Lebih dari apapun aku juga menginginkannya. Lauren, putri kecil kita yang ceria.

~~~

Siang itu ketika guntur menyapa bumi Seoul dengan hujan lebat yang membasahi negeri ginseng itu, Yoona tengah dilanda kepanikan.yang luar biasa. Ia berjalan mondar mandir dengan hati gusar. Menunggu Siwon yang menyuruhnya agar tetap tenang.

“Bagaimana?” tanyanya pada Siwon yang baru saja datang.

Pria itu menggelengkan kepala. “Tidak ada yang tahu kemana Lauren.”

Yoona memejamkan mata  rapat-rapat dan mengerang dalam hati. Ibu macam apa dia ini yang tidak mengetahui keberadaan Lauren. Demi Tuhan, jantungnya serasa berhenti berdetak.

Tanpa buang waktu lagi Yoona menyambar kunci mobil Siwon.

“Kau mau kemana, Yoona?” Siwon berseru agak keras. Ia masih bertanya meski ia tahu tujuan Yoona pasti mencari keberadaan Lauren yang tidak mereka temukan di seluruh penjuru rumah sakit ini.

“Kemana lagi? Tentu saja mencari Lauren, Oppa!” Yoona baru akan melangkah ketika tangan Siwon mencegah lengannya.

“Bersikaplah tenang sedikit, Yoona. Aku sudah menelepon polisi untuk mencari Lauren. Pihak rumah sakit pun sudah mengerahkan keamanan untuk mencari keberadaan Lauren.” Siwon mencoba merendahkan suaranya. Ia yakin Lauren belum jauh. Gadis sekecil Lauren tentu tidak akan lari jauh di tengah hujan lebat.

“Bersikap tenang?” Yoona mengerutkan dahi dengan hati dongkol. “Ibu macam apa yang duduk tenang ketika anaknya entah berada dimana? Kau mau aku membiarkannya kedinginan di luar sana. Dia sakit, Oppa. Bukan lagi Lauren yang kuat!”

“Aku mengerti perasaanmu, Yoona. Aku juga orangtuanya. Aku ayahnya. Tapi tidak bisakah kau sedikit tenang? Sikap gegabah hanya akan membuatmu celaka!”

Belum sempat Yoona membalas ucapan Siwon, suara bersin yang berasal dari balik punggungnnya membuatnya menoleh ke belakang.

Mom, Dad..” Lauren tersenyum lebar, menunjukkan deretan giginya. Gadis kecil itu masih mengenakan piyama rumah sakit. Seluruh tubuhnya basah kuyup. Hidungnya memerah dengan wajah pucat pasi. Dan entah untuk keberapa kali ia kembali bersin.

Mom, aku membawakan bunga japonica, bunga kesukaan Mom. Kudengar di taman dekat rumah sakit ada bunga ini. Tapi karna tadi hujan aku agak terlamat, aku harus berteduh dulu.” Lauren mengerjap. “Ng…” Ia menunduk memerhatikan bunga yang ia sodorkan pada Yoona. “Dan maaf bunganya agak layu.” Lalu ia menunjukkan senyum lebarnya lagi.

Yoona terdiam di tempat. Menatap Lauren yang tersenyum manis padanya, dengan wajah pucat dan tubuh basah kuyup. Yoona beralih menatap bunga yang disodorkan Lauren. Lalu dengan kasar ia menepis tangan Lauren membuat bunga itu terbuang ke lantai.

“Lauren, kau pikir apa yang kau lakukan? Keluar dari rumah sakit tanpa sepengetahuan siapa pun hanya untuk memetik bunga tak berguna itu. Kau tidak tahu betapa semua orang menghawatirkanmu. Mengapa kau tak juga mengerti bahwa kau sedang sakit!” Yoona setengah berteriak. Ia menghawatirkan Lauren. Ia jadi temperamen jika itu berhubungan dengan Lauren. Dan mengapa putri kecilnya tidak menuruti ucapannya dengan beristirahat di dalam kamar saja.

Tidak ingin melihat perubahan air muka Lauren, Yoona membalikkan badan. Pergi melenggang dari sana dengan air mata yang tumpah ruah.

Lauren memandang punggung ibunya dengan tatapan sedih. Ia tidak mengerti kenapa ibunya membentaknya dengan nada keras. Ibunya tidak pernah melakukan ini sebelumnya. Ibunya yang lembut dengan sejuta kasih sayang mengapa saat ini terlihat seperti orang tak terkendali.

Siwon berjalan mendekati Lauren. Kemudian ia mensejajarkan tubuhnya dengan Lauren.

Dad..” Lauren beralih menatap Siwon dengan tatapan tak mengerti. “Ada apa dengan Mom? Mom membenciku?” tanyanya sedih.

“Tidak, Sayang.” Siwon memberikan tatapan lembutnya. Ia mengusap-usap punggung Lauren yang basah. “Mom hanya terlalu menghawatirkanmu. Mom mencintaimu.”

Lauren hanya mengerjapkan mata, beralih menatap punggung Yoona yang sudah menghilang.

“Ayo segera mandi dan ganti bajumu, Sayang. Kau bisa sakit jika terus memakai baju itu.” kata Siwon sembari menuntun Lauren masuk ke dalam kamar mandi.

~~~

Lauren mengayunkan kaki kecilnya ketika ia duduk di atas ranjang rumah sakit.

Apa Mom marah padaku?

Apa Mom membenciku?

Lauren bertanya-tanya dalam hati ketika Yoona masih saja diam tak bicara padanya. Ia memerhatikan Yoona yang memakaikan piyama rumah sakit serta mengancingkan baju untuknya.

Mom..” panggilnya pelan.

Yoona tak menjawab. Wanita itu berjalan untuk menarik gorden jendela. Lalu kembali ke meja untuk mengupas apel.

Lauren menggigit bibir bawahnya. Matanya mengerja-ngerjap bingung. Kemudian ia kembali menatap Yoona yang memunggunginya.

Mom, jangan terlalu menghawatirkanku. Aku baik-baik saja.” Lauren mencoba menarik sudut-sudut bibirnya. Lalu menunjukkan senyum lebarnya. “Sungguh! Aku tidak apa-apa. Apa Mom lupa, aku ini anak yang kuat. Lihat bagaimana sehatnya tubuhku. Dan soal jantungku..” Ada jeda sejenak sebelum Lauren melanjutkan, “Mom tidak perlu cemas. Jantungku masih berfungsi dengan baik. Aku tidak merasa kesakitan ata—“

“LAUREN CHOI!” Yoona menaikan nada suaranya, berbalik menatap Lauren. Gadis itu terkesiap dengan jantung yang berpacu cepat.

“Berhenti berkata seola-olah kau baik-baik saja! Jika kau kesakitan maka katakan kau merasa sakit! Jika kau sedih maka katakan bahwa kau sedih! Berhenti membuat orang lain tidak mencemaskanmu dengan berpura-pura kau tidak kesakitan! Kau pikir dengan kau bersikap seperti itu akan membuat Mom bahagia! Berhenti membohongi dirimu sendiri dengan kepura-puraanmu itu!”

Yoona membentak keras setengah terengah. Dengan air mata yang sudah tak dapat ia tahan lagi. Perasaan marah, kecewa, sedih dan khawatir semua itu berkecambuk dalam diri Yoona.

Lauren tidak menjawab. Ia hanya memandang ibunya dalam diam dengan mata bulatnya. Dan untuk sepersekian detik kemudian mata bulat itu mengucurkan setetes cairan bening. Yoona tercengang. Putri kecilnya tidak berkata apa-apa. Hanya menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Lauren cegukan.

Detik itu Yoona menyadari kesalahannya. Tidak seharusnya ia membentak Lauren. Tidak seharusnya ia limpahkan kemarahannya pada putri kecilnya. Lauren belum cukup mengerti. Lauren hanya tidak ingin membuatnya cemas.

Yoona merasa dirinya bodoh. Ia menarik tubuh kecil Lauren ke dalam dekapannya. Ia menyayangi Lauren. Ia mencintai putri kecilnya.

“O-oh..maaf.. maafkan Mom, Sayang… maafkan Mom..” gumamnya berulang-ulang dengan menangis tersedu-sedu. Dadanya serasa sesak dengan berbagai serdadu belati yang menghujami ulu hatinya.

Ia mengusap-usap punggung Lauren, menengelamkan kepalanya pada bahu kecil Lauren. Yoona mencium tiap inch wajah Lauren lalu kembali memeluknya dengan sangat erat. “Mom.. sungguh minta maaf..” Ia menggumam di sela-sela tangisnya.

~~~

Siwon berjalan menyusuri koridor rumah sakit. Semenjak Lauren sakit, pria itu jadi jarang tidur. Pikirannya kalut akan kesakitan yang dialami putrinya. Rasanya Tuhan ingin kembali mengingatkannya pada kejadian enam tahun yang lalu, ketika ia harus di hadapkan pada kesakitan Yoona.

Hyung!”

Kepala Siwon menoleh ke belakang ketika telinganya menangkap suara yang tak asing baginya. Ia menemukan Myungsoo tengah tersenyum dan berjalan kearahnya.

“Ada apa, Myungsoo-ya?”

Myungsoo nampak bahagia. Terbukti bagaimana bibir pria itu terus menyunggingkan senyum. Pria itu menepuk pundak Siwon, menarik nafas terlebih dulu sebelum berkata, “kami sudah menemukan jantung yang sesuai untuk Lauren.”

.

To be continued…

————————————————————————–

Kutulis ketika diri teringat akan sosok yang kupanggil IBU.

—————————————————————————

A/N : Maaf sudah membuat kalian menunggu lama sekaligus kecewa dg kehadiran fic ini yg terkesan monoton plus sinetron banget dan terlalu bertele-tele u,u /bakar menyan/ Dan dengan berat hati aku akan mengatakan bahwa part ending kalian harus menunggu agak lama lagi /ngubur diri/ selain karna statusku yang sudah menjadi Mahasiswi *ciaa/ehkem/tabok!* aku juga menyandang status sebagai santri, jadi harus pinter2 bagi waktu *kaga ada yg nungguin epep lu, kok* T..T #nangis darah!

Adakah yg beranggapan karakter Siwon disini terlalu ‘LEMBEK’? Ya, memang sengaja kubuat seperti itu supaya bisa mengimbangi karakter Yoona. kalo keras x keras ntar bukan lagi 3S._. bakal jadi bertahun-tahun kalian nuggu selesainya’-‘

Fb : https://www.facebook.com/naurah.syarifah /Twitter : https://twitter.com/nurulya007 (kalian akan membutuhkan ini di part ending jika kalian masih bersedia mengikuti kisah YoonWon yg kusajikan^.~)

Terimakasih untuk readers setia tulisanku^^ aku menghargai komen kalian di tiap fanfic-ku^^ aku sangat sayang kalian #ketjupbasah! For ka Echa terunyu, termanis, terchubby, ter-ter-ter-terimakasih sekali lagi udah mau aku repotin buat ngepsot satu fic ini 😀 #hug #hugback

R.C.L!!!

Tinggalkan komentar

194 Komentar

  1. asli kren bngeut crita nya,
    smoga lauren bsa sembuh agar kluarga kcil ini bhagia,
    trus sispa yg jd pndnor nya,arg pnsran bngeut,,

    Balas
  2. ayoodong eoni chap end.a ko ga nongol2 . Penasaran ak mau lihat keluarga Choi itu bahagia . Dan lauren smoga gadis kecil itu cpat sembuh . smoga eoni bisa melanjutkan nie 3s yg sdh terbengkalai sangt lama . Ok #SEMANGATT :like:

    Balas
  3. kessy

     /  Januari 12, 2015

    Arghhh…sumpah keren bngt ini ceritanya…
    Dan gk tau knapa q jg ikutan nngis…
    Sedihhhhh apa lg pas bgian siwon Ўªŋƍ bilang “q jg merasa kesakitan ŠƏƔãϞk.Terlebih menyaksikan kedua orang yang kucintai merasakan sakit.Terlebih untuk kedua kalinya Tuhan kembali mengujiku dengan memberi kesakitan itu kepada orang yang kucintai” gk tau kenapa q suka bngt bgian siwon yang ini kyak sesuatu bngt….
    Penasaran bngt sma endingnya siapa pendonornya….

    Balas
  4. Ahhh, sedih dan terharu, semoga habis ini semuanya baik” aja

    Balas
  5. arayawiparinee

     /  April 2, 2015

    kasian lauren hrs sakit jantung..Yoona ko jd pemarah bt sih kan kasian Laurennya:v itu pendonornya siapa? bukan Yoonakan?

    Balas
  6. azzryia noer hayyati

     /  April 9, 2015

    Aaahhh ceritanya daebbak bgt …..lauren kasian bgt ya msh kecil dah gagal jantung……yoonwon hrs kuat demi lauren…hwaitting……

    Balas
  7. Iya c krakter siwon lembek ga ky biasa’a yg slalu identik arogan tpi qu suka,mudhn lauren cpet dpt dnor jntung dn co2k jg yoona ga jd bwt ngedonorin.

    Balas
  8. coco

     /  Agustus 9, 2015

    hiks…q gk bs ngomong, (sibk ngelap ingus XD)…poor!
    lnjut thor! fighting…

    Balas
  9. nytha91

     /  Oktober 23, 2015

    Kasian banget keluarga yoonwon 😦 mslhnya engga habis”…tp please jgn sad ending dong…semoga lauren bs sembuh dan yoona bs hamil lg hehehe

    Balas
  10. im yoongie

     /  Oktober 23, 2015

    kok blm lanjut2 sih critanya?

    Balas
  11. . D chapter nich crta y mngharu biru… 😭 q kira stlh yoongi sembuh n bhagia dgn kluarga kecil y mlh kbhagiaan tuh hrz lnyap dgn keadaan lauren yg hrz berjuang dgn pnyakit jantung… 😭

    Balas
  12. ayana

     /  Agustus 10, 2016

    huh! ceritanya sedih gila. dipart 1 udah dinikin sedih karna yoona yang sakit di part 2 ini dibikin sedih lagi dengan sakitnya laurent.
    moga happy end. tuch katanya lauren dapet donor yang cocok, apakah pendonor itu yoona? yang yadi sempet mikir gila? penasan ma endingnya.

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: