[FF] My Silly Engagement (Chapter 12)

Author : misskangen ‖ Length : Sequel ‖ Genre : Romance ‖ Rating : Mature ‖ Main cast : Im Yoona, Choi Siwon ‖ Support cast : Lee Donghae, Jessica Jung, Byun Baekhyun, Kwon Yuri, Seo Joo Hyun, Jung Yonghwa, Jung Hyeri (OC) ‖ Disclaimer : This story is mine instead of the plot and characteristics, but the casts are belong to themselves and god. Please don’t do plagiarism or bash anything from the story and sorry for undetected typo(s).

MY SILLY ENGAGEMENT : CHAPTER 12

 

Perasaan ngeri dan takut tidak dapat dihindarkan oleh Seohyun, Hyeri, dan Yonghwa karena aksi Yoona yang pergi begitu saja dari mejanya. Bukan karena Yoona marah pada mereka hingga tak peduli larangan untuk pergi dari tempatnya, tetapi pemandangan seorang wanita yang sengaja mendekati sang tunanganlah yang membuat Yoona kalap. Siapapun tahu jika seorang wanita sudah terbakar api cemburu, maka dunia di sekitarnya harus siap menyambut guncangan yang berujung pada kerusakan ataupun kehancuran.

 

Seohyun dan Hyeri sebagai sahabat Yoona tidak ingin sesuatu yang buruk akan menimpa Yoona. Sayangnya amarah Yoona sudah terlalu banyak hingga sulit menjinakkannya. Jika Yoona benar-benar ingin menghampiri Jessica kemudian melakukan sesuatu yang sedikit berbau kekerasan, hal itu bisa menghancurkan reputasinya hanya dalam tempo satu menit. Bukan hanya harga diri Yoona yang sedang dipertaruhkan, tetapi juga seluruh keluarga Im. Saat ini akan ada banyak saksi mata dari amukan Yoona pada Jessica, dan akibat terburuknya adalah corengan malu di wajah seluruh keluarga tuan rumah pesta.

 

“Kita harus melakukan sesuatu sebelum semuanya terlambat! Kita harus menghalangi Yoona!” pekik Seohyun panik sambil mendorong-dorong pelan lengan Hyeri dan Yonghwa.

“Ya, aku tahu kita memang harus melakukan itu. Tapi bagaimana caranya? Apa kita harus menarik dan menyeretnya secara paksa, lalu menarik perhatian orang-orang pada kita karena teriakan Yoona nantinya?” Hyeri bereaksi dengan sedikit begidik membayangkan perkataannya.

“Setidaknya itu lebih baik dari pada pandangan orang tertuju pada wanita pirang itu karena teriakannya akibat dicakar atau dijambak oleh Yoona.” Yonghwa memberikan pendapatnya dan mendapat sambutan napas yang tertahan dari Seohyun dan Hyeri.

 

Langkah Yoona semakin dekat saja dengan posisi Siwon dan Jessica berdiri. Matanya panas dan masih terus awas pada tujuan pergerakannya saat ini. Panggilan dan teguran beberapa orang di belakangnya benar-benar tidak digubris. Sepertinya pikiran Yoona terlalu kacau hanya untuk menjawab sapaan seseorang hingga langkahnya terhenti karena menabrak sesuatu yang sengaja menghalanginya.

“Hei… kau tidak punya mata? Jalanan masih lebar, kenapa kau sengaja menghalangiku?” omel Yoona.

“Aku punya dua mata dan masih cukup baik untuk melihat betapa kau sangat menakutkan dengan ekspresi ingin menerkam mangsa seperti itu!” cengir seorang pria muda dengan wajah yang tampan dan lembut.

 

Yoona memutar bola matanya, tidak menyangka aksinya akan memiliki penghalang seorang Byun Baekhyun. “Duh.. Bacon, menyingkirlah! Aku harus pergi kesana!” perintah Yoona dan berusaha menjauhkan tubuhnya dari halangan tubuh Baekhyun yang senantiasa berusaha menutup setiap pergerakan dan jalan bagi Yoona.

“Memangnya kau mau pergi kemana dengan wajah menyeramkan itu? Apa kau ingin ke tempat tunanganmu dan melakukan aksi teatrikal ala superhero pada wanita yang ada di sebelahnya?” tanya Bekhyun polos. Yoona menatapnya penuh kekesalan. “Aku tidak akan membiarkanmu membuat kekacauan di saat seperti ini.”

 

“Berhentilah mengatakan wajahku menyeramkan, Bacon. Kau tidak tahu apa-apa soal ini. Aku hanya ingin memberikan pelajaran pada si pirang itu!” pekik Yoona tertahan, bergerak-gerak ke kanan dan ke kiri mencari celah untuk kabur dari penjaringan Baekhyun. Apalagi kini tangan Baekhyun terentang dan semakin jelas menghalangi jalan Yoona.

“Aku memang tidak tahu apa masalahmu dengan wanita itu. Tapi yang jelas, kalau kau ingin menyerangnya karena kau cemburu, itu hanya akan jadi lelucon konyol saat ini. Kau mau semua orang melihat kau mengamuk dan menilaimu sebagai wanita barbar? Keluarga kita bisa jadi sangat malu nantinya. Aku rasa itu sama sekali tidak keren!”

“Hei, siapa bilang aku cemburu! Kau jangan mengada-ada. Sudah cepat menyingkir!” Yoona mendorong dahi Baekhyun lalu bergerak cepat kabur darinya.

“Tidak bisa!” Baekhyun bereaksi lebih cepat dengan memeluk pinggang Yoona erat, jadi gadis itu tidak bisa bergerak kemana-mana. “Aku tidak akan membiarkanmu mengacaukan pesta Yuri Noona.”

“Jangan sok jadi pahlawan!”

“Biar saja!” ejek Baekhyun. “Kau tidak lihat orang-orang memandang aneh pada tingkah kita sekarang?”

Yoona akhirnya memandang ke kanan dan ke kirinya. Meski tidak seluruhnya, tetapi ada banyak mata yang sedang memandanginya dengan sedikit raut keheranan di wajah mereka. Para tamu pasti merasa aneh dengan keributan kecil karena perdebatan Yoona dan Baekhyun. Menjadi pusat perhatian tanpa diduga-duga, bahkan sebelum sempat melancarkan aksi perangnya pada Jessica membuat Yoona hanya bisa meringis malu. Ia pun merapatkan tubuhnya pada Baekhyun, lalu melemparkan senyuman terpaksa pada orang-orang sehingga mereka semua akan mengira bahwa mereka baik-baik saja.

 

“Lihatkan, apa aku bilang… kau jadi tontonan gratis!” Baekhyun menggelengkan kepalanya dengan seriangaian yang mengejek.

“Oh, shut up!!

 

Tanpa disadari oleh Yoona dan Baekhyun, sedari tadi ada tatapan yang tidak nyaman terarah dan terus mengawasi mereka. Ya, Choi Siwon. Dari awal perdebatan Baekhyun dan Yoona, ia terus saja mengerutkan kening karena penasaran dengan hal yang sedang diributkan oleh kedua saudara sepupu itu. Mereka tampak seperti sedang berbisik-bisik, tetapi ekspresi yang ditunjukkan jelas memperlihatkan bahwa kedua orang itu sedang berkutat pada satu topik yang sepertinya cukup panas. Hal lain yang membuatnya semakin tidak senang adalah pelukan Baekhyun pada Yoona. Status saudara sepupu tampaknya tidak cukup bagi Siwon untuk berhenti mencemburui Baekhyun. Kenyataan inilah yang membuatnya merasa harus ikut campur dalam kebersamaan Yoona dan Baekhyun saat itu.

 

“Apa yang sedang kalian lakukan dengan berpeluk-pelukan disini?” tanya Siwon yang mengejutkan Baekhyun dan Yoona.. Mereka tidak menyangka bahwa Siwon telah menghampiri mereka dan langsung saja memberikan teguran bernada sinis.

 

Baekhyun yang menyadari tatapan dingin Siwon diarahkan padanya, terutama pada kedua tangannya yang masih melingkar di pinggang Yoona, spontan melepaskan dan menjauhkan tangannya dari tubuh Yoona. “Hai, hyung! Akhirnya aku bertemu denganmu. Maaf, sedari tadi aku belum sempat menyapamu..” Baekhyun berbasa-basi dengan mengeluarkan cengirannya dan sedikit menyenggol lengan Siwon.

 

Baekhyun menelan salivanya karena sapaan manisnya mendapat balasan lirikan tajam dari Siwon tanpa ada suara atau jawaban yang sama manisnya dari pria itu. Sementara di sebelah kiri Siwon, Jessica masih setia menempel dan memberi senyuman kecil pada Baekhyun.

“Kelihatannya tadi kalian serius sekali. Apa yang sedang kalian perdebatkan, Yoona-yah?” kini Siwon gantian bertanya pada Yoona setelah sukses mengabaikan Baekhyun. Tetapi Yoona malah bersikap tak acuh dengan membuang mukanya ke tempat lain. Keberadaan Jessica di sisi Siwon membuatnya ingin langsung menerkam wanita itu. Hanya saja peringatan Baekhyun beberapa menit yang lalu cukup membuatnya menahan diri dan memikirkan cara lain untuk membalas wanita itu.

 

Siwon mendesah kecewa dengan reaksi Yoona, “Yoona-yah, kau ini kenapa bersikap dingin terus padaku? Memangnya apa yang sudah kulakukan sampai kau tak ingin memandangku?”

 

Yoona hanya melirik Siwon sekilas lalu menggerutu pelan, “sudah tahu kenapa aku kesal, masih juga bersikap sok tidak bersalah.”

“Kau bilang apa?” Siwon menarik lengan Yoona setelah mendengar gerutuannya tadi. “Kesalahan apa yang sudah kuperbuat sampai kau marah seperti ini?”

 

hyung, tidak ada apa-apa. Yoona memang sedang sensitif hari ini, jadi kelihatannya dia suka uring-uringan begitu—“

“Aku tidak tanya pendapatmu, Baekhyun!” sergah Siwon memotong kata-kata Baekhyun. Mau tak mau Baekhyun hanya bisa mengelus dada, ia tahu persis bahwa Siwon masih tidak menyukainya atau lebih tepatnya mencemburuinya.

“Yoona, jangan sembunyikan apapun dariku. Cepat katakan alasanmu!”

Yoona memandang kesal pada Siwon, lalu menghempaskan cengkeraman tangan pria itu dari lengannya. “Kau ini suka sekali memaksa!” protes Yoona. Sambil menggembungkan pipinya, Yoona melirik Jessica. “Tidak ada yang sedang kusembunyikan. Memangnya kapan aku pernah bersikap manis padamu?” Yoona berbicara asal dan ketus, membuat Siwon berpikir keras terhadap maksud perkataannya.

 

“Ya ampun, kenapa kalian jadi bertengkar seperti ini?” Jessica bersuara menanggapi ketegangan antara Yoona dan Siwon. “Yoona-ssi, tadi Siwon Oppa pasti ingin menanyakan maksud kemesraanmu dengan pria manis yang ada di sebelahmu itu!” sindir Jessica, melirik Baekhyun dan memberinya senyuman lebar.

Wanita ini bahkan mencoba merayu Baekhyun. Benar-benar membuat kesal! Yoona mendengus melihat tingkah sok manis Jessica yang entah mengapa ditanggapi begitu baik oleh Baekhyun. Sepupunya itu tampaknya terpesona dengan kecantikan Jessica dan semakin melayang karena mendapat pujian dari wanita itu. Ingin sekali Yoona memberi jitakan pada kepala Baekhyun, namun ia menahannya karena ada target lain yang lebih pantas untuk diberikan hadiah itu.

 

“Ah tidak begitu, Noona yang cantik…” Baekhyun menggaruk tengkuknya yang tak gatal, merasa senang bisa berbicara dengan Jessica. “Aku dan Yoona adalah saudara sepupu. Siwon hyung juga tahu hal itu.”

Jessica kaget dan menutup mulutnya agar tak terdengar pekikan yang keluar dari sana. “Benarkah? Kalau begitu aku sudah salah berpendapat. Maaf ya…” Jessica cengengesan malu karena telah asal menebak-nebak kalau Siwon cemburu pada keakraban Baekhyun dan Yoona.

 

“ehem… kalau begitu aku permisi ke toilet dulu..” Jessica pamit sebentar demi menghindari situasi tegang di antara mereka sekaligus menenangkan diri dari rasa malunya tadi. Jessica melepaskan pegangan tangannya dari lengan Siwon dan berjalan dengan anggun keluar Ballroom.

 

Mata Yoona terus mengikuti pergerakan Jessica, lalu bergerak hendak mengikuti arah wanita itu pergi. Langkah Yoona tertahan karena Siwon yang mencegahnya. “Kau mau pergi kemana?”

Yoona mendesah pelan, “Aku mau ke toilet.”

Siwon membiarkan Yoona pergi karena tak mungkin ia menginterupsi wanita yang ingin pergi ke toilet. Akan terlihat konyol bila ada teriakan Yoona karena larangannya untuk pergi menjauh, apalagi ada alasan emergency seperti itu. Tetapi Baekhyun malah bereaksi berbeda. Pemuda tampan itu malah menepuk keningnya dengan cukup cemas. Baekhyun bergegas mengikuti Yoona pelan-pelan.

 

“Apa kau mau pergi ke toilet juga, Baekhyun?” hardik Siwon menghentikan langkah senyap Baekhyun.

“Bukan begitu, hyung. Aku hanya ingin mencegah terjadi keributan di toilet wanita,” jawaban Baekhyun membuat Siwon mengerutkan dahi. “Bukan berarti aku ingin menerobos toilet wanita. Aku hanya ingin memastikan nanti tidak akan ada laporan wanita yang mengamuk di toilet.”

 

Setelah Baekhyun menghilang barulah Siwon mulai menyadari maksud perkataan Baekhyun. Itu pastilah ada hubungannya dengan Yoona dan berkaitan dengan perdebatan di antara keduanya sejak beberapa saat yang lalu. Siwon pun terburu-buru menyusul Baekhyun hingga ia tidak mendengar panggilan Donghae yang hendak menemuinya.

 

Pengabaian Siwon itu membuat Donghae khawatir bila persaingan yang telah mereka kumandangkan telah merusak persahabatan mereka bahkan sampai memilih untuk tidak saling mengenal antara satu dan lainnya. Tidak ingin hal itu terus berlarut-larut dan semakin memburuk, Donghae berniat untuk meluruskan semua masalah walau harus tetap menjaga persaingan mereka. Semua demi persahabatan mereka dan tentunya demi Yoona juga. Akhirnya Donghae memutuskan untuk mengikuti Siwon, berharap bisa berbicara secara akrab di luar sana.

 

~oOo~

“Jessica-ssi…” panggil Yoona pada Jessica yang berjalan beberapa langkah lebih jauh di depannya. Mereka bahkan belum benar-benar mencapai toilet wanita. Namun tempat yang dilewati cukup sepi dari lalu lalang orang menjadi tamu atau pegawai di hotel itu. Berita buruknya adalah Yoona sudah tidak tahan lagi dengan keinginan untuk menghardik wanita berambut pirang itu.

 

Jessica berhenti berjalan dan menoleh ke belakang. “Kau memanggilku, Yoona-ssi?” sikap Jessica sangat ramah. Dia tetap berdiri di tempatnya sampai Yoona yang datang berjalan mendekatinya.

“Ada sesuatu yang ingin kutanyakan padamu dan aku harap kau menjawabnya dengan jujur.” Ujar Yoona begitu sampai di hadapan Jessica.

“Soal apa?” Jessica mencoba bersikap biasa saja, padahal ia tahu bahwa Yoona pasti ingin menanyakan sesuatu yang telah diprediksi olehnya sebelum ini. Kegugupan itu sempat disembunyikan oleh Jessica dengan melirik nyalang ke arah lain demi menghindari tatapan membunuh yang sudah dilontarkan Yoona sejak sampai di depannya.

 

“Tentu saja soal dua pria yang sejak tadi kau gandeng erat.” Yoona menyilangkan kedua lengannya di depan dada. Kini ia berdiri dengan sikap arogan yang cukup mengintimidasi lawan bicaranya.

“Pria? Apa yang kau maksud Donghae Oppa dan Siwon Oppa?”

“Nah, ternyata kau tahu maksudku. Jadi kau sengaja ingin memperlihatkan kepadaku kalau kau bisa mendapatkan pria manapun yang kau inginkan begitu saja?” ujar Yoona dingin.

Jessica terperangah karena perubahan Yoona yang tadinya terlihat begitu lembut kini tampak sangar dengan mata menyala karena amarah. Jessica menyeringai licik karena telah mampu memahami reaksi kemarahan Yoona karena perbuatannya yang mendekati Siwon dan Donghae sekaligus.

 

“Kenapa kau diam dan hanya memperlihatkan wajah sok menang itu? Apa kau berpikir kau bisa rujuk dengan mantanmu kemudian juga mendekati tunanganku seenak dengkulmu dan sesuka hatimu?” Yoona mengomel, menghujani Jessica dengan berbagai pernyataan curiga. Tapi justru Jessica malah tergelak hingga membuat Yoona bingung dan menambah kekesalannya. “Aku pikir tidak ada yang lucu disini. Mengapa kau tertawa?”

 

Sambil menahan tawa Jessica menatap Yoona dengan serius. “Aku rasa kau sudah termakan umpannya, Yoona-ssi.” Jessica menarik sudut sebelah bibirnya, memperlihatkan senyum separuh yang sangat licik. “Kau menuduhku ingin mendapatkan dua pria sekaligus. Lalu bagaimana denganmu?”

“Apa maksudmu?”

Jessica tergelak lagi, tapi kali ini ekspresinya cukup serius. “Kau sendiri sudah memiliki tunangan, tetapi malah menyukai pria lain dan menjalin hubungan dengannya. Bukankah itu artinya kita sama? Atau… kau merasa tidak suka dan cemburu karena aku bisa mendekati kedua pria itu dengan mudahnya? Kau takut aku mengambil mereka darimu?”

 

“Yak!!!” Yoona berteriak menghentikan runtutan pertanyaan Jessica yang ingin menyudutkannya. Bagaimana mungkin Jessica mampu berpikir sejauh itu sedangkan mereka baru saja bertemu dan berkenalan, kini malah wanita itu seolah menantangnya untuk berkompetisi dengan hadiah dua pria yang berkaitan dengannya. “Jaga bicaramu, Jessica Jung!”

 

Yoona berkecak pinggang dan mulai bergerak memepet Jessica. Postur tubuh Yoona yang lebih tinggi dari Jessica sedikit banyak membuat wanita itu lebih unggul, hingga memaksa Jessica berjalan mundur perlahan karena merasa tersudut oleh sikap yang ditunjukkan Yoona.

“Kau itu hanya orang luar yang baru saja muncul di antara kami, jadi jangan merasa tahu banyak hal tentang masalah kami.” Yoona menyipitkan matanya, sedang tubuhnya masih terus bergerak seakan mengejar langkah Jessica.

 

“Aku bukan orang luar. Aku tahu banyak hal. Apa kau lupa bahwa aku mantan kekasih Donghae Oppa? Sesungguhnya kau ini hanya cemburu karena aku juga mendekati Siwon Oppa…” ucap Jessica takut-takut dan mencoba membela diri. Jessica mulai khawatir jika tiba-tiba Yoona menyerangnya dan ia tidak siap sama sekali.

 

“Im Yoona!!” suara Siwon cukup keras dan membuat kedua wanita itu menoleh ke asal suara. Siwon berjalan cepat mendekati mereka, lalu sedikit menarik tubuh Yoona ke belakang hingga tersisa jarak lebar di antara Yoona dan Jessica. Di belakang Siwon ada Baekhyun yang ternyata lebih memilih jadi penonton. Siwon menatap tajam pada Yoona dan sorot mata itu juga penuh tanya. “Apa yang kau lakukan pada Jessica?”

“Aku tidak melakukan apa-apa!” sergah Yoona tinggi.

“Lalu mengapa Jessica terlihat takut seperti itu? Apa kau sudah mengkonfrontasinya dan ingin membuat keributan disini?” tanya Siwon lagi dengan sama ketusnya.

“Sudah kukatakan aku tidak melakukan apapun untuk membuat keributan. Aku hanya bertanya padanya, apa itu salah? Kau juga selalu menyalahkan aku!” jawab Yoona tak kalah sinis.

“Kenapa kau jadi menuduhku?” fokus Siwon kini hanya tertuju pada Yoona. “Aku mendengar semua teriakan kalian jadi tidak usah mencoba beralibi.” Yoona tersentak, ia tidak menyangka bahwa Siwon sudah menguntitnya dan menguping semua pembicaraannya dengan Jessica. “Sebaiknya sekarang kau ikut aku!”

 

Siwon menarik tangan Yoona sehingga terpaksa gadis itu mengikutinya. Jessica dan Baekhyun hanya menatap kosong kepergian kedua orang itu. Baekhyun sendiri tidak merasa aneh jika Siwon dan Yoona saling berdebat atau melemparkan argumen, bahkan pertengkaran di antara mereka seperti hal biasa, karena pada dasarnya kedua orang itu tidak benar-benar saling mengumpat ataupun memaki untuk kebencian. Baekhyun, meskipun terkadang berpikir sempit dan pendek tetapi masih memiliki kesadaran dan mampu melihat sejauh apa ikatan yang terjalin di antara sepupu kesayangannya itu dengan sang tunangan.

 

Baekhyun menoleh pada Jessica, terlihat bila wanita yang hampir menjadi korban amukan Yoona itu sedikit shock. Setidaknya Jessica merasa lega karena Siwon datang lebih cepat dan mencegah dirinya menjadi bulan-bulanan emosi Yoona. Namun tetap saja pemandangan Siwon dan Yoona yang saling menatap dengan aura dingin dan berbicara dengan nada ketus bukanlah suatu hal biasa baginya. Baru kali ini Jessica melihat pasangan ‘calon pengantin’ yang gemar saling ancam dan adu keras kepala.

 

“Noona, apa kau baik-baik saja? Yoona tidak sempat melukaimu kan?” suara Baekhyun menegejutkan Jessica yang sedikit melamun. Baekhyun menyelidiki penampilan Jessica yang masih rapi, belum ada sehelaipun rambut yang keluar dari tatanannya.

“Ne, aku baik-baik saja.” Sambut Jessica ramah. “Terima kasih sudah mengkhawatirkanku. Tapi kurasa kau berlebihan kalau berpikir Yoona akan melukaiku.”

“Kalau soal itu hanya Tuhan dan Yoona yang tahu kapan amukannya akan memakan korban. Tapi Yoona memang sangat menakutkan bila sedang emosi. Aku rasa Siwon hyung dan Yoona adalah pasangan serasi. Mereka sama-sama kerasa kepala, egois, dan tentunya sama menakutkannya bila sedang berhadapan dengan orang-orang yang mereka anggap sebagai ‘pengganggu’.”

Jessica terkikik mendengar pendapat Baekhyun tentang kecocokan Yoona dan Siwon. “Ya, aku pikir aku setuju dengan kata-katamu tadi. Mereka memang pasangan sepadan.”

 

 

~oOo~

Bukan sekali atau dua kali Siwon bertindak sesuatu yang menurut Yoona cukup kelewatan dan terus saja terulang. Hal yang paling sering terjadi adalah tindakan tarik menarik tangan dan memaksa ikut ke tempat yang ia inginkan tanpa meminta kesediaannya terlebih dahulu. Tentu saja kejadian itu membuat Yoona dongkol hingga ingin sekali membalas Siwon dengan satu cekikan atau memberikan tendangan di tempat yang tepat. Hanya saja Yoona menilai pria itu terlalu berkuasa hingga ia seperti kehilangan kekuatannya untuk bertindak lebih untuk membalas perlakuan kasar pria itu.

 

Kini Siwon sudah berhasil membawa Yoona menjauh dari toilet wanita tempatnya tadi bersama Jessica. Yoona tidak tahu kemana Siwon membawanya secara rinci. Tadi ia hanya sempat melirik papan petunjuk menuju kamar suite di hotel itu, dan papan itu mengarah berlawanan dengan posisinya saat ini.

 

“Oppa, lepaskan tanganku! Ini sakit sekali…” keluhan Yoona seakan menyadarkan Siwon hingga pria itu menghentikan langkahnya. Namun Siwon tidak berhenti sampai disitu, ia memang melepaskan cengkeraman tangannya tetapi kemudian ia memojokkan Yoona hingga punggung gadis itu menyentuh dinding. Siwon berdiri tegak di depan Yoona, sementara kedua tangannya berada di bahu Yoona dan menahan gadis itu agar tidak kabur kemana-mana.

 

Mereka saling bertatapan, mata keduanya sama-sama menunjukkan nyala yang sulit diterka maksudnya. Tidak ada kecanggungan untuk saling memandang, entah mereka memang lupa bahwa harusnya ada adegan romantis di antara pasangan pria dan wanita di tempat yang sepi dan tersudut seperti ini.

“Apa sebenarnya maksudmu menegur Jessica tadi? Apa kau cemburu dengan Jessica karena ia terus berdekatan denganku?”

“Cih, kau ini percaya diri sekali.” Yoona membuang mukanya dengan begitu angkuh.

Siwon memegang dagu Yoona dan memaksa agar wajah itu kembali berhadapan dengannya, termasuk pandangan mata Yoona agar kembali lagi padanya. “Kalau bukan karena cemburu, lalu apa alasanmu sebenarnya?” Siwon menatap jauh ke dalam manik mata Yoona. “Coba jelaskan apa yang membuatmu bersikap tak acuh padaku. Kau mengabaikan aku. Bahkan kau seperti sengaja menghindariku. Aku tahu kau bisa mengatakannya, hanya saja kau tidak mau. Atau aku harus memaksamu dulu baru kau akan mengungkapkan semuanya.”

“Memangnya kau bisa memaksaku dengan cara apa?” tanya Yoona dengan nada angkuh.

“Jangan menantangku, Im Yoona. Katakan saja bila kau memang ingin aku menggodamu. Disini hanya ada kita berdua, dan aku dapat mendengar detak jantungmu yang berdebar kencang.” Siwon mulai mendekatkan wajahnya kepada Yoona yang langsung memasang pose siaga dengan tubuh kaku dan panas dingin.

“Kk kau- kau mau apa?” tanya Yoona gugup.

Siwon tersenyum miring penuh arti. “Aku hanya ingin bertanya padamu dan kau harus menjawabnya sesuai kata hatimu.” Kini wajah Siwon dan Yoona sudah sangat berdekatan bahkan nyaris rapat. “Apa yang kau rasakan saat aku berada di dekatmu seperti sekarang ini?” Ujung hidung Siwon menyentuh pipi Yoona membuat wanita itu semakin gugup dan kikuk.

“Ti- tidak ada.”

“Benarkah, lantas bagaimana dengan detak jantungmu yang kencang itu, eoh?” leher Yoona tercekat untuk beralasan soal jantngnya yang melompat-lompat cepat itu. “Lalu apa yang kau rasakan saat aku menyentuhmu?” Siwon masih mengeksplor wajah Yoona dengan hidung dan bibirnya. Siwon mengecup dahi Yoona dan kedua matanya yang sedikit terpejam.

“Biasa saja, aku hanya… sedikit… gugup.”

Kini hidung Yoona dan Siwon saling bersentuhan, dahi mereka juga saling menempel. Yoona dapat merasakan hembusan napas Siwon yang menggelitik wajahnya. Sementara kedua tangan Yoona meremas gaun di kedua sisi tubuhnya, berusaha menahan tubuhnya agar tetap tertopang dan berdiri tegak walau ia sudah merasakan lututnya yang lemas. “Lalu apa yang kau rasakan ketika aku menciummu? Apa kau menyukainya?”

“Ne, aku rasa beg—“ Yoona tersadar dari buaiannya lalu spontan mendorong bahu Siwon, hingga kulit wajah mereka tak lagi bersentuhan. “Yak, apa sebenarnya yang kau inginkan, Oppa?”

 

Siwon tergelak singkat lalu memasang wajah serius kembali. “Im Yoona, ternyata kau mudah terbawa suasana. Bahkan kau mengakui bahwa kau suka kucium.” Siwon senang sekali melihat wajah Yoona yang langsung merona merah karena malu dengan godaannya. “Dan untuk kasus Jessica, sesulit itukah kau mengakui kecemburuanmu? Siapakah yang lebih kau cemburui saat ini, aku atau Donghae?”

“Aku tidak mengerti maksudmu!” wajah Yoona tertunduk, masih menyembunyikan rona merahnya.

“Hei… jangan sembunyikan wajahmu seperti itu.” Siwon mengangkat dagu Yoona dengan jarinya. “Kau harus tahu siapa yang lebih membuatmu marah ketika kau melihat aku atau Donghae bersama dengan wanita lain.”

Intensitas pengintimidasian yang dilakukan oleh Siwon membuat Yoona gerah. Akhirnya Yoona memaksa dirinya untuk meledak lebih awal. “Tidak bisakah kau berhenti untuk melakukan pemaksaan padaku, Oppa? Aku lelah sekali. Kalau kau terus memaksaku aku tidak akan bertanggung jawab jika aku nantinya akan kehilangan kendali atas emosiku sendiri.” Napas Yoona memburu, sementara matanya terasa sedikit panas. “kau ingin aku mengakui kecemburuanku, begitukan? Sekarang aku tanya padamu… berikan aku satu alasan kenapa aku tidak perlu merasa kecewa atau marah ketika melihatmu berjalan mesra dengan wanita lain di luar sana, sementara kau selalu menggangguku dengan pernyataan cintamu itu?”

 

“Kau… melihatku sedang berjalan mesra dengan wanita lain?” Siwon balik bertanya.

“Jangan pura-pura amnesia, Oppa. Aku melihatmu bersama Jessica kemarin siang sedang berjalan-jalan dengan penuh kegembiraan sambil shopping, sepertinya menyenangkan sekali!”

“Oh, itu…”

 

Flashback

“Mwo? Kau ingin aku membantumu untuk membuat tunanganmu cemburu, Oppa?” pekik Jessica sesaat setelah Siwon mengungkapkan maksud pertemuan mereka yang sengaja diatur oleh Siwon. “Kenapa kau harus berbuat seperti itu?’

 

“Seperti yang kukatakan padamu sebelumnya, tunanganku mempunyai perasaan terpendam pada Donghae dan aku rasa mereka juga saling menyukai. Aku tidak bisa menerima itu, Sica.” Ujar Siwon mengungkapkan alasannya.

 

“Tapi kan Yoona itu tunanganmu, aku pikir tidak masalah jika ia hanya menyembunyikan perasaannya sementara ia akan terus berada di dekatmu dan pada akhirnya ia tetap akan menikah denganmu.” Kelit Jessica mencoba meyakinkan Siwon untuk tak melanjutkan rencananya.

 

“Nah, yang jadi masalah adalah aku dan Donghae sudah menyerukan persaingan untuk mendapatkan hati Yoona. Aku tahu Yoona adalah calon istriku yang nantinya akan kunikahi. Tapi aku tidak ingin hanya memiliki tubuhnya, aku juga ingin memiliki hatinya. Aku yakin Yoona juga mempunyai perasaan lebih padaku, hanya saja ia terlalu keras kepala untuk menyadari dan mengakuinya. Oleh karena itu, aku sangat membutuhkan bantuanmu untuk menyadarkannya dan menentukan pilihannya.” Cerita Siwon panjang lebar mengenai maksud sesungguhnya dari permintaannya pada Jessica itu.

 

“Ini buruk, Oppa…” Jessica menggeleng pelan tak habis pikir. “Aku tidak percaya kalian berdua menjadikan tunanganmu sebagai barang taruhan. Jika aku jadi Yoona, aku pasti sudah merasa tersinggung dan marah-marah tidak jelas.”

 

“Tidak seperti itu, Sica. Kami tidak pernah menganggap Yoona sebagai barang taruhan. Persaingan ini hanya untuk menetapkan siapa sebenarnya yang lebih dicintai Yoona, dan pada akhirnya siapa yang akan terpilih dan yang kalah harus mundur dari usaha mendapatkan simpati Yoona.”

 

“Hmm… aku rasa pikiranmu sudah rusak karena cintamu pada Yoona.” Ejek Jessica pada Siwon yang hanya mengangguk membenarkannya. “Baiklah, kalau begitu aku akan mencoba membantumu. Tapi, apa kau sudah punya caranya?”

 

“Tentu saja. Ini tidak sulit, kau hanya perlu berpura-pura mendekatiku dan Donghae di pesta pernikahan kakak Yoona lusa nanti. Kau harus terlihat sangat agresif dan pastikan bahwa Yoona melihat semua yang kau lakukan. Sejenis tindakan provokasi, aku yakin kau bisa melakukannya.” Ujar Siwon dengan senyum separuhnya yang tetap mempesona.

 

“Jadi aku juga harus menggoda Donghae Oppa? Aigoo… kalau yang itu sepertinya akan sedikit sulit.”

“Kenapa?”

“Kau tahu sendiri kan bagaimana aku telah menyakitinya dengan seenaknya memutuskan hubungan karena aku lebih memilih menerima pria yang diajukan oleh ibuku di Amerika. Aku jadi merasa ini tidak adil untuknya. Selain itu juga aku takut tunanganku akan marah jika dia tahu aku berperilaku seperti itu.” Sungut Jessica sedih.

 

“Bagaimanapun tetap saja Donghae akan terluka karena Yoona harus menikah denganku. Aku tidak ingin Donghae semakin tersakiti jika Yoona memilih untuk mencintainya tapi tak bisa bersamanya. Sudah cukup kau membuatnya kecewa karena jatuh cinta pada pria bermarga Ok itu. Lagi pula kau tidak perlu khawatir, dia kan masih berada di Amerika jadi ia tidak akan tahu tingkah konyolmu disini.” Siwon berdalih tegas, dan terkesan sedikit memojokkan Jessica.

 

“Iya aku tahu!” rajuk Jessica kalah. “Tapi ini tidak gratis. Kau harus memenuhi permintaanku terlebih dahulu barulah aku akan membantumu.”

 

Siwon mendengus, sudah menduga Jessica akan mengajukan syarat untuk membantunya. “Baiklah. Apa yang kau inginkan?”

Jessica tersenyum lebar penuh kemenangan, “Hanya beberapa gaun dan aksesoris branded plus parfum Estèe Lauder dan Versace terbaru. Aku sudah kehabisan stok untuk semua itu, jadi aku harap kau akan membelikannya.” Seru Jessica dengan wajah berseri-seri sambil mengedip-ngedipkan matanya. “Dan… kau juga harus menemaniku untuk berbelanja barang-barang itu!”

 

“Kau ini mau merampokku ya? Banyak sekali daftarnya…” keluh Siwon sambil menyeringai.

“Aku pikir itu tidak seberapa, kau kan kaya raya.” cibir Jessica. “Aku yakin jika tunanganmu yang meminta, kau tidak akan pernah protes berapa banyakpun yang diinginkannya.”

“Tentu saja…”

Flashback End

 

“Apa? Kau tidak bisa memberikan penjelasan soal kebersamaanmu dengan si pirang itu, kan?” cecar Yoona lagi karena Siwon terdiam sebab sedang teringat dengan kejadian ia harus menemani Jessica shopping kemarin.

“Baiklah, aku mengaku kemarin pergi bersama Jessica. Tetapi aku hanya menemaninya saja sebagai balas budi karena ia bersedia membantuku.” Ujar Siwon menjawab pertanyaan Yoona.

“Hanya menemani tapi sampai semesra itu, tidak bisa dipercaya…” gumam Yoona pelan.

“Kau bilang apa tadi, aku tidak bisa dipercaya? Jangan sembarangan menilai, Sayang. Kau tahu dengan jelas aku pernah mengatakan kalau aku mencintaimu. Aku sama sekali tidak berbohong untuk itu. Kau ini sudah ketahuan cemburu masih saja mengelak. Yoona-yah, mengaku sajalah bahwa kau juga memiliki perasaan padaku.” Siwon kembali mendekatkan wajahnya pada Yoona.

 

Yoona menahan napasnya agar tidak memekik karena perlakuan Siwon yang terus menyudutkannya dengan kata-kata dan memaksanya mengakui sesuatu yang sangat diinginkan oleh pria itu.

“Katakan, Sayang… bahwa kau sudah menetapkan hatimu dan hanya ada namaku di dalamnya.” Siwon berbisik lembut di telinga Yoona dengan nada yang sangat menggoda. Yoona memejamkan matanya, merasakan sesak karena terus berusaha menahan deru napasnya dan debar cepat jantungnya. “Yoona, ingatlah bahwa kau hanya boleh memandangku dan lupakanlah Donghae. Katakanlah bahwa kau mencintaiku…”

 

Yoona merasakan hembusan napas Siwon di telinganya. Bisikan pria itu seolah menjadi mantra yang mujarab yang membuat otaknya berpikir cepat. Telinganya terngiang kembali dengan penyataan cinta yang diutarakan Siwon sebelumnya, sedangkan dalam bayangannya terputar kembali kejadian-kejadian saat Siwon menggodanya, menyentuhnya, dan menciumnya.

 

Yoona mengangkat kedua tangannya yang sedari tadi berdiam di sisi tubuhnya. Ia meletakkan tangannya di atas dada Siwon, merasakan detak normal dari jantung pria itu. Perlahan tapi pasti, tangan Yoona menggesek lembut jas yang dikenakan pria itu dari bagian dada hingga naik ke bahu. Napasnya sudah mulai berjalan normal, tidak ada lagi sesak yang kini telah berganti dengan kenyamanan.

“Aku mencintaimu…” bisik Yoona dalam satu napas.

Sesaat semua jadi hening. Siwon menatap mata Yoona yang sudah membuka yang juga membalas tatapannya dengan sorot malu-malu. “Coba katakan sekali lagi dengan suara yang lebih keras apa yang kau ucapkan tadi!”

Yoona menunduk sambil mengerucutkan bibirnya. “Tidak mau. Pokoknya tadi sudah kukatakan dan aku tidak akan mengulanginya.” Yoona sedikit merajuk karena malu.

“Ya, aku tahu dan mendengarnya. Aku hanya ingin memastikannya kalau kau mengatakan itu dalam keadaan sadar.” Siwon mengelus pipi Yoona, tepat pada rona merah disana. “Ayolah Sayang, katakan saja mumpung disini masih sepi. Atau kau mau kita ke tempat yang lebih ramai?”

 

Yoona tersentak dan mendongakkan kepalanya. Wajah cemberutnya membuat Siwon tersenyum geli. “Mana bisa begitu.”

“Sudah katakan saja…”

Dengan ragu dan enggan, Yoona menarik napasnya lalu menghelanya pelan. “Aku.. mencintaimu… Siwon Oppa.”

Siwon tersenyum lebar, memperlihatkan kedua lesung pipinya yang indah. Sedikit tergesa ia menyambar bibir Yoona, mengecup lalu melumatnya dengan lembut. Awalnya Yoona kaget dengan serangan Siwon itu, tetapi kemudian ia mampu menyesuaikan diri dengan situasi hingga memutuskan untuk membalas ciuman itu. Yoona membuka mulutnya, memberikan jalan bagi lidah Siwon untuk masuk dan mengeksplor ke dalamnya. Ciuman itu terkesan sangat manis, setelah mereka melewati masa-masa yang suram dengan berbagai konsep mulai dari kekerasan hati, ketidakpercayaan, hingga kecemburuan. Semuanya seakan melebur musnah hanya karena satu kalimat yang diucapkan oleh Yoona. Sudah cukup untuk keduanya berkutat dengan prasangka-prasangka dan bayangan yang selalu mengganggu setiap kesempatan untuk menjalin hubungan yang harmonis dan menyenangkan. Kini saatnya bagi mereka untuk berbagi kehangatan dan mencurahkan kasih tanpa harus menutupi perasaan yang sesungguhnya.

 

Di sisi lain dari posisi scene romantis antara Siwon dan Yoona, berdiri seorang pria yang sedang memandang sendu ke arah mereka. Donghae yang tadinya hendak menghampiri Siwon dan memulai permbicaraan yang ringan dan hangat seperti yang biasanya mereka lakukan, malah mendapat hadiah kejutan yang membuatnya sesak. Bagaimana tidak, ia harus menjadi saksi mata pertama bagaimana pengungkapan cinta yang diutarakan Yoona pada Siwon. Dan yang lebih menohok lagi adalah adegan ciuman yang dilihatnya. Kenyataan bahwa Yoona pernah menolak skinship yang diberikannya semakin membuat hatinya mencelos. Sementara Siwon begitu mudahnya diterima, bahkan gadis itu juga memberikan balasan yang terlihat sungguh manis dan menyenangkan.

 

Donghae menelan salivanya ibarat menelan pil pahit tanpa segelas air. Ia tak kuasa menahan kekecewaan di hatinya. Namun ia juga tidak bisa memaksa untuk menghentikan apa yang sedang dilihatnya, karena ia masih bisa berpikir jernih bahwa itu semua adalah bagian dari persaingannya dengan Siwon. Mungkin hal ini adalah jawabannya, ini adalah hasilnya. Sudah seharusnya memang Donghae menyadari bahwa peluangnya kecil, ia merasa kekalahannya telah di depan mata bahkan sudah mengahmpirinya. Tanpa suara sedikitpun, Donghae berbalik dan meninggalkan tempat itu. Tidak perlu baginya untuk terus menjadi penonton yang baik hingga adegan itu akan berakhir dengan ending yang menyenangkan bagi dirinya.

 

Siwon dan Yoona masih larut dalam pergumulan bibir mereka. Bahkan mereka tidak peduli apakah ada orang yang melihat. Selama keberadaan makhluk lain tidak mengganggu, sepertinya mereka masih tetap akan melanjutkan perang lidah dalam makna denotasi itu.

 

Mereka sempat berhenti, mengambil udara masing-masing namun tak melepaskan pandangan mata yang dalam. Kini mereka melanjutkannya dengan intensitas yang lebih panas. Mereka mulai menggunakan tangannya untuk memberikan reaksi lebih pada masing-masing pasangan. Tangan Yoona berawal melingkar di leher Siwon. Sesekali tangan itu turun ke lengan atau ke dadanya lalu mengelus bagian-bagian yang disentuhnya dengan lembut. Terkadang tangannya menyuruk ke kepala Siwon, membelai dan menjambak pelan rambut pria itu.

 

Tidak ingin kalah dengan lawannya, tangan Siwon juga mulai menjelajah tubuh Yoona. Memberikan sentuhan-sentuhan intim mulai dari punggung, lengan, pinggang, hingga paha. Situasi semakin panas ketika ciumannya mulai beralih ke pipi, rahang, dan leher Yoona. Tidak ada perlawanan dari gadis itu, bahkan ketika Siwon menciumi bahunya yang sudah terekspos karena tali gaunnya yang telah tersampir ke atas lengannya. Keduanya begitu menikmati dan sama-sama tidak ingin cepat mengakhirinya.

 

“Yoona, kau dicari ol—“ Baekhyun yang tiba-tiba muncul di tempat itu mendadak tercekat. “Oops… “

 

Serentak Yoona dan Siwon menghentikan permainan mereka karena terkejut dengan suara Baekhyun dan kemunculan pria berwajah bayi itu di dekat mereka. Mereka berdua bergerak kikuk, merasa malu dipergoki bermesraan di tempat umum. Keduanya dengan tergesa-gesa membenarkan pakaian dan penampilan mereka yang mungkin sudah compang camping. Wajah mereka juga memerah, dan leher mereka seakan tercekat oleh sesuatu sehingga harus berdehem beberapa kali untuk membersihkannya.

 

Di lain pihak, Baekhyun juga sama malunya dan wajahnya juga ikut memerah. Ia sangat tidak menyangka pasangan yang lebih sering terlihat berdebat atau bertengkar itu, bisa juga beradegan romantis bahkan cenderung mengarah pada tindakan mesum.

“Ada apa kau memanggilku, Bacon?” suara Yoona terdengar bergetar disertai keraguan.

“Kau ini mengganggu saja…” gumam Siwon pelan dan hanya di dengar oleh Yoona sehingga ia melirik pria itu seolah memohon agar tak bereaksi berlebihan.

“Oh.. oh.. oh itu… tadi.. kau dicari oleh Gomo, dan memintaku untuk mencarimu karena terakhir kali kau terlihat bersamaku.” Jawab Baekhyun takut-takut sambil memberikan cengirannya.

 

“Ya sudah aku akan segera menemui Eomma,” ujar Yoona malas.

“Aku akan menyampaikannya.” Ucap Baekhyun cepat, kemudian ia juga berdehem singkat. “Soal tadi… aku minta maaf telah mengganggu kalian. Aku benar-benar tidak tahu dan tidak menyangka kalian akan berciuman disini…”

 

Yoona menyerang Baekhyun melalui pelototan matanya, membuat sepupunya itu menggaruk belakang kepalanya sendiri dan tak lupa dengan cengiran khasnya. Yoona masih menusuk Baekhyun dengan tatapan matanya yang seolah berkata ‘cepat-pergi-sana’. Baekhyun mengerti dengan ancaman lembut itu, ia mengangguk-angguk dan sedikit menggerakkan langkahnya.

“Iya..iya.. aku pergi ,” seru Baekhyun berbalik. Namun baru berjalan beberapa langkah ia kembali ke hadapan Yoona dan Siwon dengan jarak yang masih cukup jauh. Kini wajahnya pun terlihat mematut tampang jahil. “Mmm… aku hanya memberi saran saja. Kurasa di hotel ini masih banyak kamar kosong yang bisa kalian pergunakan untuk—“

Belum sempat menyelesaikan perkataannya, Baekhyun sudah menjerit dan kabur dari tempatnya berdiri. Hal itu demi menghindarkan dirinya dari serangan Yoona yang sudah melemparkan salah satu high heelsnya ke arah Baekhyun.

 

~oOo~

Koper kecil berwarna cokelat tua itu tampak mulai penuh dengan berbagai macam jenis barang yang tersusun rapi mulai dari pakaian hingga aksesoris wanita. Semua yang telah diperkirakan akan dibutuhkannya selama melakukan penelitian di Pulau Nami telah dipersiapkan sebaik mungkin sehingga Yoona tidak akan terburu-buru dan meninggalkan sesuatu yang penting.

 

Yoona terlihat sibuk memperhatikan buku catatan kecilnya sambil sesekali menggoreskan penanya kepada salah satu tulisan yang berisi daftar keperluan yang telah disiapkannya jauh-jauh hari. Setelah cukup yakin bahwa semua telah lengkap, Yoona pun menutup dan menarik resleting kopernya. Dia kini telah siap untuk berkecimpung di lapangan untuk mengumpulkan data demi terselsaikannya skripsinya.

 

“Eomma pasti akan kesepian…” Yoona mendongak ke arah suara wanita paruh baya yang berdiri di depan pintu kamarnya dengan wajah sedikit ditekuk. Yoona mengerutkan keningnya, heran dengan keluhan sang ibu yang tiba-tiba berubah jadi melankolis.

 

“Kenapa Eomma merasa seperti itu? Apa karena aku akan pergi?” tanya Yoona sambil berjalan menghampiri ibunya.

“Tentu saja. Yuri pergi berbulan madu, dan kau juga menyusul pergi meninggalkan Eomma.” Nyonya Im merajuk dengan wajah yang menurut Yoona sangat lucu hingga ia tersenyum geli.

Dengan manjanya Yoona memeluk sang ibu dari samping, mengistirahatkan kepalanya di bahu Nyonya Im. “Ya ampun, aku kan hanya pergi sebentar, Eomma. Hanya empat hari. Bahkan aku sudah memotong banyak jangka waktu sebelumnya yang seharusnya sampai dua minggu. Eomma kan tahu aku tidak bisa lama-lama berjauhan dengan rumah.”

 

Mendengar pengakuan Yoona, Nyonya Im mendesah. “Empat hari itu akan terasa lama. Kau tahu, entah kenapa Eomma sedikit berat melepasmu pergi sendirian. Perasaan Eomma sedikit tidak enak, Yoong. Eomma khawatir kau tidak bisa hidup dengan baik disana.”

 

”Eomma… aku ini sudah dewasa dan aku yakin bisa mengurus diriku sendiri dengan baik. Walaupun jarak Seoul dengan Nami tidak begitu jauh, tapi akan merepotkan kalau setiap hari harus bolak-balik kesana. Oleh karena itu aku memutuskan untuk menginap.” Rayu Yoona pada ibunya.

“Bagaimana kalau Eomma minta Baekhyun menemanimu ke Pulau Nami? Jadi kau tidak akan kesepian dan dia bisa membantumu…”

“Yah… Eomma, kalau Baekhyun itu bukannya membantu tapi malah merepotkan. Dia itu kan anak manja.” Yoona protes dengan ide aneh sang ibu.

 

“Bukankah kau dan Baekhyun itu sama saja manjanya?” goda Nyonya Im dan dibalas dengusan oleh Yoona. “Aigoo… gadis kecilku. Kenapa Eomma sulit sekali membiarkanmu pergi sendirian? Apa Eomma ikut denganmu saja ke Pulau Nami, ya?”

 

“Eomma!! Aku pergi kesana untuk tugas penelitian, bukannya ingin berwisata.” Yoona menggelengkan kepalanya, bingung dengan sikap ibunya yang memang agak nyentrik itu. “Dan harusnya Eomma berhenti menganggapku gadis kecil. Aku sudah dewasa. Bahkan sebentar lagi aku juga akan menikah. Itu semua karena Appa dan Eomma yang sudah menjodohkanku…”

 

Wajah Nyonya Im langsung berubah sedikit masam, “Kau harus tahu, Appa mu lah yang sangat bersemangat dengan perjodohanmu. Kalau boleh jujur, Eomma belum siap untuk menikahkanmu dan membiarkanmu pergi dibawa oleh suamimu. Eomma tidak akan rela kalau kau jauh-jauh dari Eomma.”

 

“kalau begitu Eomma rayu saja Appa agar membatalkan perjodohanku,” gurau Yoona asal.

“Mana mungkin Appamu mau… kau tahu sendiri bagaimana kerasa kepalanya Appamu,” kata Nyonya Im dengan nada pesimis. “Eomma bagaimanapun tetap akan mengusahakan yang terbaik bagimu, sayang…” Nyonya Im membelai rambut putrinya dengan penuh perhatian. Rasa keberatan yang muncul di hatinya seperti menjadi ganjalan untuk membiarkan anak bungsunya itu pergi sendirian ke Pulau Nami dan benar-benar membuatnya tidak nyaman.

 

~oOo~

Tuan Choi membanting sebuah map berwarna kuning ke atas meja, tepat dihadapan Siwon yang sedang berdiri tegak. Siwon hanya melirik map tersebut, tahu benar apa yang ada di dalam isinya dan ia sangat siap menghadapi amukan sang ayah.

 

Tuan Choi menatap tajam putranya, sesekali menghela napas berat. Terselip rasa kecewa di dalam amarahnya karena perilaku sang anak yang tidak pernah diduga olehnya sebelum ini. Kembali Tuan Choi menatap sinis pada map yang berisi beberapa laporan keuangan perusahaan. Dan ada juga laporan rahasia mengenai pengeluaran pribadi milik sang anak.

 

“Aku tak menyangka ternyata kau tidak bercanda dengan ucapanmu tempo hari yang ingin pindah ke Jepang,” ucap Tuan Choi membuka percakapan yang pasti akan berujung pertengkaran itu.

Siwon memutar bola matanya, menganggap bahwa perkataan ayahnya adalah sebuah lelucon. “Memangnya kapan ada candaan antara aku dan Abeoji?” sindir Siwon sinis.

 

“Berhentilah bersikap sarkatis padaku, Choi Siwon. Apa kau tidak merasa lelah dengan semua ini? Apa kau tidak mempertimbangkan semua perbuatanmu ini?” Tuan Choi menunjuk pada map kuning itu lagi. “Kau ternyata sangat serius dengan ucapanmu. Aku sangat kaget mendapat laporan bahwa kau sudah menyiapkan semuanya dengan baik di Jepang, bahkan rumah dan perintisan usaha baru. Apa kau sudah hilang akal, eoh?”

 

“Aku selalu serius dengan semua rencana dan kata-kataku. Lagipula aku menggunakan uang pribadi untuk membangun semua itu. Aku pikir itu tidak akan masalah selama aku tidak mengganggu keuangan Hyundai,” dalih Siwon membela diri.

 

Tuan Choi kembali mendesah, ia menatap sedih kepada putranya itu. “Aku harap kau berpikir ulang, Siwon-ah. Jangan bersikap egois. Aku tahu tujuanmu sebenarnya. Tapi kau harus memikirkan calon istrimu juga. Kau tidak bisa sembarangan membawanya pergi dan menjauhkannya dari keluarga di Korea. Aku yakin kau tahu persis seperti apa Im Yoona, dia putri kesayangan di keluarganya. Kau harus pertimbangkan kembali soal ini.”

 

Rahang Siwon mengeras, ia mulai merasa dongkol dengan sikap ayahnya yang seakan memberi perhatian lebih pada orang lain, sementara untuk dirinya sendiri ayahnya tidak pernah bersedia memikirkan perasaannya. Siwon kecewa pada sang ayah. Bukan setahun atau dua tahun, tapi sudah bertahun-tahun tidak ada kehangatan dalam hubungan kekeluargaan mereka. Sesungguhnya Siwon jengah dengan keadaan ini, sehingga ia memutuskan untuk menjauhi sang ayah dengan mencoba menemukan keberadaan ibunya di Jepang.

 

“Kelak setelah aku menikahinya, maka aku berhak penuh atas Yoona. Tidak ada seorangpun yang bisa menghalangiku untuk melakukan apa saja padanya, termasuk membawanya pergi jauh dari Korea sekalipun. Aku tidak akan membiarkan seorangpun menginterupsiku untuk itu.” Setelah menyelesaikan kalimatnya, Siwon langsung beranjak meninggalkan ruangan ayahnya dengan membanting pintu.

 

Di dalamnya, Tuan Choi mengepalkan tangan. Kesal, tentu saja. Siwon kembali mengandalkan kekerasan hatinya untuk berhadapan dan beradu argumen dengan sang ayah.

“Tidak, Siwon-ah. Kau tidak akan bisa melakukan itu bila aku turun tangan.” Gumam Tuan Choi terpekur di kursi kebesarannya. “Kau tidak akan bisa melakukan itu bila aku memutus hubunganmu dengan tunanganmu.”

 

 

To Be Continued…

Pos Berikutnya
Tinggalkan komentar

111 Komentar

  1. RannySuryani

     /  Februari 4, 2014

    Mwo o.o ANDWE!! jngan sampe tuan choi membatalkan perjodohan & memutuskan hubunganan Siwon & yoona ..😦

    Balas
  2. indah sari

     /  Februari 10, 2014

    Andwe!!!
    Pokoknya gga bleh d btalkan,

    Balas
  3. isfa

     /  Februari 10, 2014

    andwe…
    jgn d batalkan..
    ahhh maldo andwe

    Balas
  4. Kim Eun Kyo

     /  Februari 21, 2014

    Duhhhh gimana nihhhhh s

    Balas
  5. Kim Eun Kyo

     /  Februari 23, 2014

    Wahhh yoong cemburu buta
    En akhirnya so sweett eh ada baekhyunnnn
    OMO Ki Ho appa jahat…masa mau misahin YoonWon

    Balas
  6. tia risjat

     /  Maret 2, 2014

    aduh.. gimana dong sama hubungannya yoonwon???

    Balas
  7. dede

     /  Maret 9, 2014

    aduh apa yg akan terjadi selanjutnya yah?ff ini bikin penasaran aj.

    Balas
  8. penasaran bnget,, smoga happy ending.

    Balas
  9. RhiiYoonah

     /  April 24, 2014

    Yeahhh,,,akhir’a yoona ngakuin prsaan’a ke wonppa….tp mw ap tuh Tn.Choi,,,mw ngbtalin prtunangan yoonwon?OH NO !! Jgn ya ya ya

    Balas
  10. Dahlia GaemGyu

     /  Juni 14, 2014

    semoga pejodohan mereka gk dibatalin deh….

    Balas
  11. Lanjutannya kaya apa? Moga2 yoonwon tetep bersama

    Balas
  12. Fitriawandi

     /  Juli 28, 2014

    Nah loh tuan choi mau mutusin hubungan perjodohan yoonwon

    Balas
  13. mutiaraananda

     /  Agustus 26, 2014

    😦

    Balas
  14. rita octaria

     /  September 11, 2014

    astaga siwon yoona berani bget… tapi akhirnya yoona memgakui mencntai siwon oppa

    Balas
  15. Lega jg Yoona sudah menyatakan perasaannya pada wonppa, mereka saling mencintai dan sedih bgt lihat Haeppa cintanya bertepuk sebelah tangan.
    What?? Tuan Choi memutuskan hubungan Yoonwon,

    Balas
  16. Dwi Sivi Fatmawati

     /  November 5, 2014

    waduh knapa hrus diancam ngebatalin pertunangan

    Balas
  17. yoong407

     /  Januari 2, 2015

    Waduh kok tuan choi kejam amat😭😭 jangan smp dibatalin deh

    Balas
  18. Akhirnya kata itu keluar Dr mulut yoona buat siwon seneng deh, tp apaan tuh mr.choi mau mutusin hubungan segala?enak aja Ga boleh. Pokoknya yoonwonited siap jd tameng hehe…. Lebay

    Balas
  19. Novi

     /  Februari 12, 2015

    Siwon sama yoona akhirnya sadar sama perasaannya masing2…
    Kok ayahnya siwon kyk gtu…
    Penasaran ama next chapt nya…

    Balas
  20. Aku mencintaimu..”bisik yoona dalam satu nafass.” jiaah gw merinding pas bagian in…haha

    cinta yoonwon sudah sangat kuat,,g ada yg bisa misahin mereka, sekalipun itu tuan choi.><

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: