[FF] My Silly Engegement (Chapter 11)

MY SILLY ENGAGEMENT (CHAPTER 11)

Image

Author : misskangen ‖ Length : Sequel ‖ Genre : Romance ‖ Rating : General ‖ Main cast : Im Yoona, Choi Siwon ‖ Support cast : Lee Donghae, Jessica Jung, Kwon Yuri, Seo Joo Hyun, Jung Yonghwa, Jung Hyeri (OC) ‖ Disclaimer : This story is mine instead of the plot and characteristics, but the casts are belong to themselves and god. Please don’t do plagiarism or bash anything from the story and sorry for undetected typo(s).

MY SILLY ENGAGEMENT : CHAPTER 11

Jalan protokol yang memisahkan butik dengan gedung-gedung yang diseberangnya tidak terlihat padat sehingga orang-orang yang ada dari dalam butik dapat melihat dengan jelas peristiwa yang ada disana melalui jendela-jendela besar yang terbuat dari kaca bening. Yoona, Seohyun, dan Hyeri memandang heran dan penuh tanya perihal orang-orang yang mereka lihat.

“Yoona-yah, bukankah itu…” dengan ragu Seohyun menoleh pada Yoona. Raut wajah Yoona yang terlihat cukup membuat Seohyun cemas karena terdapat kemarahan dan ketidaksukaan yang terpatri disana.

Yoona menatap nanar pada dua orang yang dikenalnya. Salah satunya, si wanita berambut pirang, adalah orang yang baru saja dikenalnya beberapa hari yang lalu. Tetapi Yoona sama sekali tidak pernah mengira akan melihat pria yang berjalan seiringan dengan wanita itu. Semua sungguh di luar dugaan, identitas pria itu sudah membuat Yoona ingin segera menghampiri mereka dan melihat langsung apa yang sebenarnya mereka lakukan.

“Yoona-yah, itu Choi Siwon kan? Aku yakin itu tunanganmu! Apa kau mengenal wanita yang bersamanya saat ini?” Hyeri memberondong Yoona dengan pertanyaannya.

Yoona masih berdiri mematung sementara tatapan matanya mengikuti pergerakan Siwon dan Jessica di seberang jalan. Kedua orang itu baru saja keluar dari sebuahoutlet penjualan barang-barang branded seperti gaun, tas, dan aksesoris.

Maldo Andwe!” gumam Yoona pelan namun dapat didengar jelas oleh Seohyun dan Hyeri. Kedua wanita itu mengerti bila kini pasti suasana hati Yoona semakin buruk. Sepertinya Yoona sedang tidak beruntung, kedua sahabatnya sengaja mengajak Yoona jalan-jalan ke luar rumah untuk mencari hiburan dan menghilangkan penat sebelum acara pernikahan Yuri besok. Tetapi Yoona malah mendapat suguhan tak mengenakkan dengan kemunculan sang tunangan yang bergandengan dengan wanita lain.

“Wanita itu baru saja muncul beberapa hari yang lalu, sekarang sudah mencari masalah dengan berkencan bersama si Kuda!” geram Yoona dengan kepalan tangan yang diangkat. Seohyun dan Hyeri saling berpandangan, tidak mengerti maksud perkataan Yoona.

“jadi kau mengenal wanita itu juga, Yoona?” Seohyun menyentuh bahu Yoona lalu sedikit mengguncangnya. “Memangnya dia siapa?”

Yoona menghela napasnya kasar, terlihat jelas jika dirinya sedang menahan amarah dan kesal. “Kalian pulang berdua saja ya.. aku ada urusan!” Yoona segera berlari keluar butik sebelum Seohyun dan Hyeri sempat memberikan protes.

“Yak, Yoona! Kau mau kemana??!!” teriakan dua orang itu membuat pengunjung butik lainnya mengalihkan perhatian mereka dan menatap dengan kerutan di dahi. Seohyun dan Hyeri tersadar kalau mereka baru saja melakukan sesuatu yang sedikit memalukan, jadi mereka membungkuk segan dan meminta maaf.

Langkah kaki yang cepat membawa Yoona sedikit terburu-buru untuk mendekati dua orang yang beberapa waktu lalu telah sukses membuatnya kesal dan sekarang perasaannya tidak karuan. Ada rasa penasaran dan bercampur dengan rasa tidak senang atau boleh juga disebut cemburu melihat kedekatan kedua orang itu.

Jarak sekitar 30 meter dipertahankan Yoona dengan baik agar aksinya membuntuti kedua orang itu tidak ketahuan. Yoona sesekali membenarkan letak tas sandang yang tersampir menyilang di bahunya. Mulutnya terkadang berkomat-kamit dengan gerutuan maupun omelan yang tidak terdengar oleh telinga orang-orang yang dilewatinya. Yoona hanya menjaga kesabarannya penuh perjuangan agar tidak berlari menghampiri Siwon dan Jessica lalu menanyakan maksud kebersamaan mereka dengan suara tinggi disertai makian. Tidak. Yoona tidak mau melakukan itu. Harga dirinya masih sangat tinggi untuk membuatnya sadar bahwa ujung dari ide gila itu adalah sesuatu yang mungkin akan mempermalukan dirinya sendiri.

Langkahnya terhenti sesaat bersamaan dengan Siwon dan Jessica yang juga berhenti sejenak karena Jessica tampak kesulitan mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Siwon terlihat begitu sabar mendampingi Jessica dan menunggu wanita itu menjawab telepon yang masuk ke ponselnya. Yoona bergegas mencari tempat persembunyian karena tak ingin terlihat oleh mereka. Jadilah Yoona menyembunyikan dirinya di balik box minuman kaleng yang terletak tak jauh dari posisi Siwon dan Jessica.

Selesai berbicara cukup panjang di teleponnya, Jessica kembali memasukkan poselnya ke dalam tas. Lalu ia kembali mengambil semua paper bag yang sebelumnya ia titipkan pada Siwon. Dengan manjanya Jessica menggamit lengan Siwon dan menariknya untuk kembali melanjutkan perjalanan sambil menebarkan senyuman menggoda.

Api cemburu nampaknya membakar Yoona cukup intens karena kini Yoona sudah mulai merasa kepanasan padahal cuaca musim gugur di Korea sama sekali tidak akan ada panas yang menyengat bagi siapapun. Kepalan tangannya memaksa kulit tangan dan buku-buku jarinya memutih sebagai media penahanan amarah dan emosi ketika Yoona melihat Siwon tersenyum dengan begitu manis kepada Jessica. Bahkan pria itu mengacak pelan rambut Jessica, sementara Yoona harus berjibaku menemukan ritme pernapasan yang tepat agar tidak mengeluarkan teriakan untuk menghardik perilaku tak menyenangkan dari kedua orang itu.

Jessica dan Siwon masih berjalan-jalan di sepanjang pusat pertokoan. Jessica begitu antusias, terlihat dari tangannya yang terkadang menunjuk pada barang-barang yang di pajang pada etalase terdepan dari toko-toko tertentu. Yoona hanya bisa mengelus dada dan menyeringai mendapati Siwon memberikan respon yang sangat baik dengan berbagai pertanyaan yang dilontarkan Jessica tentang barang-barang yang mungkin disukainya itu.

“Ternyata Choi Siwon tidak bisa dipercaya!! Dia bahkan berkencan begitu mesra dan romantis dengan wanita pirang itu!” gumam Yoona sambil menyipitkan mata. Tangannya tersilang di depan dada dengan pose yang begitu arogan masih berjalan pelan mengikuti langkah Siwon dan Jessica.

Yoona kembali mencari tempat persembunyian ketika Siwon dan Jessica berhenti di depan sebuah toko parfum dan kosmetik. Hanya perlu bertatapan sebentar, kedua orang itu memasuki toko dan langsung berburu sesuatu di dalamnya. Yoona hanya berdiri di luar toko, masih menghindarkan sosoknya akan terlihat oleh pasangan itu. Tentu saja ia ragu untuk ikut masuk ke dalam. Yoona sedikit mendongak dan membaca pamflet nama toko tersebut yang membuatnya menahan napas. Bagaimana tidak, sudah beberapa kali Yoona mengajak Seohyun dan Hyeri untuk mengunjungi toko itu tetapi kedua temannya tersebut menolak mentah-mentah karena mereka sudah bisa menebak berapa harga yang tersaji untuk setiap item yang tersedia di dalamnya.

Hentakan satu kaki dan helaan napas kasar adalah reaksi paling manis yang diberikan seorang Im Yoona karena kekesalannya semakin menjadi. Dua orang menyebalkan plus toko parfum idaman yang menjadi alasan kemarahannya. Tidak ingin mengamuk dan menjadi tontonan orang banyak, Yoona memutuskan menjauh dari tempat itu. Kembali ke butik bukanlah pilihan yang tepat karen ia yakin Seohyun dan Hyeri pasti sudah pergi setelah ia buru-buru meninggalkan mereka tanpa alasan jelas. Jadi Yoona memikirkan ide lain untuk membunuh rasa kesalnya. Yoona mengambil ponselnya dan berpikir sejenak sebelum menghubungi seseorang yang diinginkannya.

~oOo~

Lee Donghae tersenyum lebar ketika melihat sesosok gadis duduk meyendiri di sudut sebuah café sambil mengaduk-aduk es krim chocomint nya. Donghae melonggarkan dasinya dan menggulung lengan kemeja putihnya lalu mengambil posisi duduk tepat di depan Yoona. Satu colekan diberikannya pada pipi Yoona, membuat gadis itu menoleh dengan ekspresi kaget yang menurutnya lucu dan menggemaskan, hingga ingin sekali Donghae mencubit kedua pipi gadis itu yang merona cerah.

“Apakah ice creamnya begitu enak hingga kau terus memandanginya seperti itu?” sapa Donghae mengambil posisi duduk di depan Yoona.

“Oppa…” rajuk Yoona singkat dan menggembungkan pipinya. Yoona berpikir sebenarnya alasan utama meminta Donghae untuk menemuinya disana. Hanya karena kecewa dengan pemandangan Siwon yang berjalan bersama Jessica, lantas ia melarikan kekesalannya pada Donghae. Tepatkah seperti itu?

“Sebenarnya kau ini kenapa tiba-tiba menghubungiku dan mengajak bertemu? Apa kau merindukanku?” suara Donghae memecah lamunan Yoona.

“Eh?” Yoona terperanjat. Lalu tersenyum kecut dan menggaruk tengkuknya. Benarkah yang dikatakn Donghae kalau dirinya memang sedang merindukan pria itu hingga ingin bertemu? Atau justru karena kesal kepada Siwon, jadi Yoona tanpa sadar membuat Donghae sebagai pelariannya. “Ya, aku rasa begitu.” Jawab Yoona kaku.

Donghae mengernyit mendengar jawaban yang diberikan Yoona. Menurutnya gadis itu hanya asal memberikan jawaban, sekedar memenuhi kewajiban memberikan respon untuk pertanyaan Donghae. Raut kekecewaan sempat tergambar di wajah tampan pria itu, berpikir bahwa Yoona mulai menunjukkan tanda bila ia mulai enggan memiliki kebersamaan bersama Donghae.

“Yoong, kau kenapa? Aku lihat wajahmu cemberut begitu. Apa kau mempunyai masalah?” tanya Donghae memasang wajah serius. Kini ia menyadari bahwa ada ketidakbiasaan yang ditunjukkan oleh Yoona saat ini. Biasanya gadis itu akan melemparkan senyuman manis penuh makna padanya, bahkan terkadang ia juga tak sungkan memberikan godaan pada Donghae. Kondisi ini membuat rasa tidak nyaman muncul di hati Donghae, ia jadi bertanya-tanya mungkinkah Yoona telah menetapkan hatinya dan akan mengungkapkannya sekarang.

“Itu… sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan padamu, Oppa.” Dengan ragu Yoona mulai mengeluarkan keinginannya, walau sesungguhnya hati Yoona tidak begitu rela menanyakan hal ini langsung pada pria yang duduk di depannya itu. Donghae adalah pria yang baik dan menyenangkan. Selama beberapa tahun Yoona memendam perasaan pada pria itu hanya karena keraguan dan tak memiliki keberanian untuk mengungkapkannya. Tapi mengetahui bahwa ada kenyataan di masa lalu yang berkaitan dengan orang lain membuat Yoona penasaran dan ingin segera mengetahui cerita yang sebenarnya.

“Kau ingin bertanya soal apa?”

“Jessica Jung.” Ucap Yoona singkat. Donghae menatap penuh tanya pada Yoona, tidak menyangka gadis itu akan menyebutkan nama seseorang yang berasal dari masa lalunya. “Oppa mengenalnya? Jessica Jung…. Siapa dia?”

Yoona membuat pertanyaan itu begitu rancu. Donghae terdiam, jawaban seperti apa yang sebenarnya diinginkan Yoona. Dari cara ia bertanya, Yoona seolah tahu siapa Jessica namun di sisi lain Yoona terkesan tidak tahu apa-apa  perihal nama itu.

“Dari mana kau tahu nama itu? Apa Siwon yang memberitahumu?” Yoona mengangguk pelan, tapi ia memandang sedikit takut pada Donghae karena perubahan air muka pria itu yang tampak mengeras. “Ternyata Siwon berlaku sedikit curang dalam persaingan ini dengan memunculkan wanita itu.” Gumam Donghae dengan helaan napas singkat.

“Aku memang tahu nama itu dari Siwon Oppa ketika wanita itu tiba-tiba muncul dan melakukan sesuatu…” Yoona tidak yakin untuk melanjutkan kata-katanya. Bayangan kecemburuan dirinya terhadap kedekatan Jessica dengan Siwon dan kenyataan status Jessica yang terkait pada Donghae membuatnya ragu untuk mengungkapkannya pada Donghae.

“Apa yang dilakukan Sica padamu?”

Aniya… dia tidak melakukan apa-apa. Hanya saja aku penasaran melihat wanita itu untuk pertama kali. Kelihatannya ia dekat denganmu dan Siwon Oppa.” Yoona sedikit berbohong. Kehadiran Jessica secara fisik memang tidak melukainya, tapi secara perasaan wanita berambut pirang itu sudah berhasil membuat Yoona uring-uringan tidak nyaman. “Tapi… benarkah Jessica Jung itu adalah mantan kekasihmu, Oppa?”

Donghae tersenyum miris, ia tahu pasti bila Siwon yang mengatakan pada Yoona soal hubungannya dengan Jessica dulu. Siwon tidak akan melewatkan setiap kesempatan yang ada untuk menikungnya demi mendapatkan Yoona. Sifat itu sudah dari dulu dipahami oleh Donghae, bahwa sahabatnya itu memang bukan seseorang yang bisa diremehkan begitu saja. Kali ini bahkan Siwon terkesan sangat kreatif dengan memunculkan topik hangat seputar kehidupan pribadinya di masa lalu dan menjejalkannya pada Yoona hingga gadis itu memiliki keraguan pada Donghae.

“kau sudah tahu jawabannya kan… Yang dikatakan Siwon padamu memang benar, Jessica adalah mantan kekasihku. Tapi apa kau memintaku menemuimu disini hanya untuk membahas masa laluku? Apa kau merasa tidak nyaman dengan kehadiran Jessica?”

Yoona meringis membenarkan pertanyaan Donghae. Dirinya memang merasa sangat tidak nyaman sejak Jessica muncul di antaranya dan Siwon, bahkan Donghae yang sempat memiliki hubungan khusus dengan wanita itu. ”Mollayo… aku juga tidak begitu paham dengan apa yang aku rasakan. Jessica… wanita seperti apakah dia?”

“Untuk apa kau menanyakan soal Jessica?”

“Hanya ingin tahu saja.”

Donghae pasrah dengan permintaan Yoona, jadi terpaksa ia memberikan jawaban untuk itu. “Jessica adalah wanita yang baik dan menarik. Seperti layaknya gadis lain, ia cukup perhatian walaupun sangat manja,” terang Donghae singkat, padat, jelas.

Pelipis Yoona terasa sedikit berdenyut mendengar penjelasan Donghae tentang karakter Jessica. Semua ciri yang dikatakan Donghae memang sangat umum, tapi binar di mata Donghae lah yang seolah meneriakkan bahwa pria itu begitu menyukai masa-masa kebersamaan yang dijalinnya bersama Jessica.

“Kelihatannya Jessica sangat berkesan bagimu, Oppa. Lantas mengapa kau putus dengannya?” nada kepahitan muncul dalam suara Yoona.

Donghae tersentak, ia menatap Yoona dalam. Terlihat wajah yang tidak bersemangat pada gadis itu. Donghae merasa bersalah untuk sesuatu yang sudah membuat Yoona merasa tidak senang hingga gadis itu memaksanya untuk mengakui hal yang sama sekali tidak ingin diingatnya.

“Yoong, Jessica itu hanyalah masa lalu. Kita tidak perlu membahas apapun soal dia.” Tegas Donghae menghentikan topik yang sudah membuat aura aneh menyelimuti mereka. “Lagi pula kau aneh sekali tiba-tiba saja menanyakan hal yang tidak biasa seperti itu. Apa kau cemburu dengan Jessica karena dulunya dia pernah memiliki hubungan khusus denganku?”

“Hah? Cemburu…?? Ah, tidak…” Yoona memberikan cengirannya, berusaha menyembunyikan sikap kikuk karena pertanyaan Donghae. “Satu hal yang baru kusadari kalau kalian berdua itu sama saja – sama-sama terlalu percaya diri.”

“Begitukah? Apakah aku dan Siwon memiliki begitu banyak kesamaan hingga kau sulit untuk memutuskan siapa yang sesungguhnya kau cintai dan kau pilih?” tanya Donghae asal.

Leher Yoona terasa tercekat karena ia terperanjat. Padahal sudah cukup sulit bagi Yoona bertemu Donghae untuk menanyakan perihal Jessica, tidak perlu ditambahi dengan pertanyaan soal ketetapan hatinya untuk memilih salah satu dari Donghae dan Siwon. Hal itu jelas membuatnya kalut. Kedua pria itu memberikan situasi yang sulit padanya dan kini bertambah sulit karena keduanya ‘berhubungan’ dengan Jessica – kesan tidak menyukai wanita itu benar-benar besar.

“Oppa… aku sudah menjadi orang yang sangat jahat karena sudah menjadi penyebab kerusakan persahabatan kalian. Dan aku sudah cukup menjadi orang yang paling egois karena aku sudah terkesan memainkan perasaan kalian. Kalau aku diberikan opsi ketiga untuk mengakhiri semuanya tanpa harus melukai siapapun maka aku akan memilih jalan itu.”

“Tidak akan pernah ada opsi itu, Yoong. Semuanya terlanjur jadi seperti ini. Aku tidak akan menyalahkanmu karena aku tahu kau juga tidak mengerti kenapa semua jadi seperti ini. Kita seperti dipermainkan oleh takdir dan tugas kita adalah mengubah takdir itu menjadi ssesuatu yang lebih baik walau kita harus mempertaruhkan banyak hal.” Donghae mengelus tangan Yoona yang terkepal di atas meja, dan Yoona mengangguk mensyukuri sikap pengertian yang diberikan pria itu.

~oOo~

Siwon membanting ponselnya ke atas ranjang yang empuk dengan kesal. Entah ini sudah ke berapa kalinya Siwon mencoba menghubungi ponsel Yoona, tetapi tunangannya itu tidak sekalipun mengangkat panggilannya. Siwon hanya bisa bertambah dongkol karena hanya nada sambung membosankan yang terus menyapanya, bukan suara Yoona yang dirindukannya.

Tidak hanya panggilan telepon saja yang diabaikan Yoona, bahkan puluhan pesan singkat yang dikirimkannya juga tak pernah dibalas. Pikiran Siwon langsung berubah kacau dengan sikap acuh Yoona malam ini. Kejadian sore tadi adalah pemicu kegelisahan Siwon. Bagaimana tidak, dunia ini seakan hanya selebar daun kelor yang hanya punya satu sisi. Ada begitu banyak tempat maupun lokasi yang ramai atau juga tersembunyi bagi dua orang manusia, tetapi ia harus memaksa matanya untuk melihat.

Selepas melewati kesibukannya menjadi kacung bagi Jessica yang memaksa menemaninya berbelanja, Siwon merasa merindukan Yoona. Jadi dia berpikir untuk menghabiskan sore hari bersama Yoona dengan mengunjunginya di rumah sambil menikmati cemilan yang menyenangkan. Dengan semangat besar, ia mendatangi sebuah restoran ice cream favorit Yoona untuk membelikannya menu terenak dan paling disukainya. Tapi apa daya, dewi fortuna seakan membalikkan sihir magisnya menjadi kesialan karena Siwon harus menahan sesak didadanya melihat kebersamaan Yoona dan Donghae di tempat itu. Pasangan itu terlihat saling berpandangan dan mengobrol sangat serius walau sesekali terlihat Donghae atau Yoona tersenyum. Saat itu Siwon ingin mendekati mereka dan menghentikan aksi ‘mesra’ itu di tempat umum. Namun Siwon menahan hasratnya untuk membuat keributan, bukankah ini adalah salah satu bentuk persaingannya. Bila kemarin Siwon sukses memanfaatkan kehadiran Jessica untuk menyudutkan Donghae di mata Yoona, maka tadi itu adalah giliran Donghae untuk melakukan pendekatan dengan caranya sendiri.

Ketukan pintu kamarnya menghalau emosi Siwon sesaat. Seorang asisten rumah tangga mneghampirinya dan mengatakan bahwa sang ayah telah menunggu di meja makan untuk menikmati makan malam bersama. Siwon mengerutkan dahinya, bukan sesuatu yang biasa mendapati ayahnya berada di rumah dan mengajaknya makan malam. Karena hal ini jarang terjadi, maka ia memenuhi panggilan ayahnya walau sesungguhnya Siwon dapat memperkirakan akan seperti apa nantinya mereka ketika berhadapan.

Tuan Choi memberikan senyuman singkat menyambut kedatangan putranya. Perasaannya cukup senang karena sang anak bersedia memenuhi undangannya untuk makan malam bersama. Situasi ini memang tidak seharusnya terjalin di antara mereka, tidak seharusnya ayah dan anak bersikap seperti orang asing bahkan ketika berada di rumah. Sangat aneh memang, tapi kedua ayah dan anak itu sama-sama memiliki watak yang keras dan larut dalam keegoisan masing-masing. Tidak ada satu hal pun yang bisa membuat mereka terlihat akrab layaknya keluarga, dan hal ini sudah berlangsung cukup lama. Bahkan Siwon sendiri sudah lelah untuk menghitung berapa lama ia bersikap dingin terhadap ayahnya, begitupun sebaliknya.

Keduanya menikmati makan malam dalam keheningan sampai makanan di atas piring masing-masing pun kandas. Tuan Choi sesekali melirik Siwon yang terlihat tidak bersemangat menghabiskan makanannya dan lebih sibuk bolak-balik melihat ponselnya. Wajah sebal itu tidak mampu disembunyikan oleh Siwon hingga Tuan Choi mengira bahwa anaknya itu tidak senang dengan pertemuan mereka.

“Apakah kau sangat membenciku hingga kau tidak sudi melihatku, bahkan memasang wajah penuh kesal di depanku?” Tuan Choi telah menyelesaikan makannya dan meminta pembantu untuk segera menyingkirkan piring itu dari hadapannya.

Siwon mendongak, sedikit terperangah dengan teguran sang ayah. “Kenapa Abeoji berbicara seperti itu. Hubungan kita memang tidak seperti layaknya ayah dan anak, tapi aku tidak membenci Abeoji, walau aku juga sempat berpikir untuk melakukan itu.”

“Lalu apa kau merasa kesal karena aku memaksa untuk makan malam bersama?”

“Tidak. Justru aku merasa ini sangat tidak biasa mengingat Abeoji tidak pernah ada di rumah.” Jawab Siwon ketus.

Tuan Choi menghela napas panjang, tidak merasa aneh dengan sikap ketus yang selalu ditunjukkan Siwon padanya. “Aku punya alasan tersendiri untuk kealpaanku berada di rumah ini. Tapi aku pikir kau cukup sering berada di rumah walaupun kau memiliki kesibukan yang padat.”

“Ya, begitulah. Aku hanya ingin menikmati masa-masa dimana aku bisa menghabiskan banyak waktu dengan rumah ini – rumah yang penuh kenangan ini. Setelahnya mungkin aku sangat jarang untuk sekedar melihat rumah ini.”

Kerutan di dahi Tuan Choi semakin bertambah seiring pendengarannya terhadap kalimat yang terakhir diucapkan oleh putranya. “Apa maksudmu dengan ‘setelahnya’? Kau berniat meninggalkan rumah ini?”

Siwon meletakkan kembali poselnya setelah mengirim satu pesan lagi pada Yoona, lalu ia menoleh pada sang ayah dan menatapnya penuh keseriusan. “Ya, setelah menikah aku berencana menetap di Jepang untuk sementara.”

“Apa? Kau ingin menetap di Jepang?” Tuan Choi tampak sangat kaget hingga rahangnya mengeras dan sorot matanya lebih tajam. “Apa yang kau pikirkan, Choi Siwon? Kau punya segalanya disini dan kau malah memilih tinggal di Jepang. Kau tidak lupa kalau kau punya tanggung jawab untuk perusahaan kan?” Tuan Choi menunggu jawaban dari Siwon, namun putranya itu masih memasang tampang serius yang dingin. Hanya senyum singkat yang didapatkannya dari Siwon, hal ini membuat Tuan Choi semakin tak habis pikir.

“Kau… apa kau tak berpikir bagaimana istrimu nantinya? Kalau begitu kau ingin menjauhkan Yoona dari keluarganya? Itu sama sekali bukan ide yang bagus, Siwon-ah. Kau tidak bisa seenaknya menjauhkan seorang putri dari orang tuanya walau ia berstatus sebagai istrimu.” Tuan Choi berbicara dengan nada tinggi.

Siwon memutar bola matanya, begitu meremehkan protes yang diajukan oleh ayahnya. “Itu hakku kemanapun aku ingin membawa isteriku pergi. Dan soal menjauhkan anak dari orang tua, sepertinya Abeoji sangat perhatian pada calon isteriku hingga Abeoji sangat memikirkan bagaimana reaksinya nanti bila aku membawanya pergi jauh dari keluarganya. Bahkan Abeoji sampai tidak mengingat bagaimana dulu aku juga dijauhkan dari ibuku.”

“Jangan katakan kalau tujuanmu menetap di Jepang bertujuan untuk mencari keberadaan ibumu. Demi Tuhan, ia sudah menghilang lebih dari lima belas tahun yang lalu dan kau masih tetap tidak menyerah untuk menemukannya!”

“Itu karena Abeoji yang selalu menghalangi setiap usahaku untuk menemukan Eomma! Jangan pikir aku tidak tahu apa yang Abeoji lakukan terhadap semua tindakan yang telah kurencanakan. Aku tahu Abeoji adalah orang yang ada di balik semua kegagalanku untuk bertemu dengan Eomma. Kenapa Abeoji melakukan itu? Apa salahku hingga aku tidak boleh bertemu Eomma, bahkan kini aku sudah dewasa dan Abeoji tetap saja berkeras hati seperti dulu!” Nada bicara Siwon sama tingginya dengan sang ayah.

Semua pembantu dan asisten rumah tangga kaget dengan perdebatan kedua orang itu. Perdebatan keduanya bukanlah hal yang janggal karena sudah kerap kali terjadi. Tetapi kali ini mereka berdebat di meja makan, dengan posisi duduk yang terpisah oleh meja yang besar dan mata yang saling menatap dengan sorot tajam dan penuh makna.

“Aku melakukan semua itu karena aku tahu pada akhirnya kau tidak akan pernah menemukannya.” Tuan Choi berdiri dan beranjak meninggalkan meja makan. Hal ini jauh lebih baik untuk menghindari Siwon dan menghentikan perdebatan mereka karena pembahasan ini tidak akan selesai begitu saja dalam kedamaian.

“Kenapa? Kenapa aku tidak bisa menemukannya? Abeoji!!” teriak Siwon dengan penuh amarah, berharap ayahnya tetap bertahan di depannya dan berbicara lebih banyak kepadanya. Tapi ternyata Tuan Choi kekeuh meninggalkan Siwon dengan segala emosi dan kebingungan yang menderanya. Suara pukulan tangan yang menghantam meja terdengar seiring dengan menghilangnya sosok Tuan Choi dari ruang makan.

~oOo~

Ruang tunggu pengantin tampak sedikit riuh dengan suara beberapa wanita yang sibuk mengatur pose-pose mereka untuk berfoto dengan mempelai wanita. Yuri terlihat begitu anggun, duduk di atas sofa dengan senyuman bahagia yang selalu terkembang di wajahnya. Ia terlihat amat sabar meladeni permintaan foto bersama teman-temannya yang datang ke acara pernikahannya hari ini.

Wajah manis dan make up sempurna yang ada pada Yuri membuat banyak orang yang memuji kecantikannya. Begitu banyak pekikan gembira yang dilontarkan teman lama yang dipertemukan kembali dalam momen bahagia itu. Ucapan selamat untuk pernikahannya pun terus mengalir seiring banyaknya orang yang sengaja mengunjungi ruang tunggu tersebut untuk sekedar lebih awal melihat sosok mempelai wanita.

“Yuri Eonni, Chukkae!!!” ucap Seohyun dan Hyeri berbarengan setelah menunggu giliran untuk masuk ke dalam ruang tunggu akibat banyaknya pengunjung yang tertarik untuk masuk ke dalamnya. Mereka langsung menghambur begitu bersemangat memeluk Yuri, sementara Yoona berjalan di belakang mereka dengan air muka yang sangat datar.

“Yuri Eonni, kau cantik sekali… pengantin pria pasti sangat takjub melihatmu nanti!” pekik Hyeri memuja Yuri yang langsung sumringah dengan pipi yang merona.

“Ne, gomawo Hyeri-ah.”

“Eonni, aku pikir tadi aku seperti melihat Yoona yang duduk disini karena aku baru menyadari kemiripan kalian. Jika tampilanmu begini kau terlihat sebelas dua belas dengan Yoona, seperti anak kembar!” tambah Seohyun mengungkapkan dekripsi pandangan matanya.

“Ya benar. Kalau saja aku tidak memperhatikan undangan atau papan bunga yang berjejer di depan sana, aku pasti mengira Yoona yang menikah.” Ujar Hyeri seakan menggoda Yoona yang menurut mereka sedang bad mood karena sedari tadi terus saja berwajah masam.

“Begitu ya? Ah… apa artinya kita sudah siap untuk menikahkan uri Yoongie hari ini juga? Tinggal kita seret pengantin prianya, pasti menyenangkan melihat pengantin yang menikah karena diburu waktu hingga tidak sempat memakai gaun pengantin danmake up terbaik di hari pernikahannya.” Kejahilan Yuri tiba-tiba muncul, sambil menanggapi pembicaraan Seohyun dan Hyeri sekaligus melemparkan godaan-godaan yang pasti membuat adiknya kesal.

“Aish.. Eonni!! Ingatlah, kau yang menikah hari ini. Bukan aku!” protes Yoona dengan bibir manyun. Ketiga orang itu malah terkikik geli karena ekspresi wajah Yoona yang mereka nilai sangat menggemaskan. Yoona mendengus kesal karena reaksi tak biasa dari ketiga orang itu. “Lagi pula belum tentu aku jadi menikah dengan orang itu. Jadi tidak usah membahas-bahas soal pernikahanku, itu belum pasti!”

“Hah? Kenapa begitu?” Yuri langsung menghentikan tawanya, berganti menantap Yoona penuh tanya.

“Eonni, uri Yoongie pasti masih kesal karena kemarin dia melihat sang tunangan sedang bergandengan mesra dengan wanita lain. Jadi wajar saja jika sikapnya jadi sarkatis begitu bila membahas pernikahan.” Seohyun akhirnya mengadu pada Yuri perihal kejadian sehari sebelumnya ketika mereka sedang berada di butik dengan sedikit aksi teatrikal.

Yuri mengernyit, mencoba menelaah maksud perkataan Seohyun. “Apa maksudmu kemarin Yoona memergoki Siwon sedang berselingkuh?”

Seohyun dan Hyeri serentak mengedikkan bahunya. “Kami tidak tahu pasti soal itu. Tapi yang jelas uri Yoongie terlihat ehm… sangat cemburu. Bayangkan saja wajahnya langsung berubah merah padam dan terus menggerutu bahkan memaki wanita itu.”

Yuri terperangah mendengar cerita Seohyun tentang kejadian kemarin, ia tidak menyangka ternyata ada peristiwa seperti itu yang menimpa adiknya. Yoona memandang sengit pada Seohyun dan Hyeri, menebarkan ancaman melalui matanya yang menyipit. Kedua orang itu sepertinya sudah keterlaluan karena membahas topik yang sangat tidak mengenakkan itu.

“Ya ampun… Yoona-yah, benarkah Siwon berselingkuh?” tanya Yuri lagi ingin meyakinkan apa yang dipikirkannya.

“Ck, molla..” jawab Yoona ketus.

“Aigoo… kelihatan dia memang sedang kesal dan cemburu.” Ejek Hyeri kemudian. “Tadi aku juga melihat Yoona mengabaikan Tuan muda Choi di luar. Bahkan sapaannya saja tak dibalas. Mereka terlihat seperti pasangan yang sedang bertengkar.”

Yuri kembali tergelak, membayangkan seperti apa pertengkaran antara Yoona dan Siwon. Ia sudah sering melihat perdebatan pasangan itu, tapi tak pernah mengira kalau pada akhirnya mereka bertengkar karena motif kecemburuan. “Yoona-yah, ternyata kau bisa juga mencemburui Choi Siwon. Bukannya kemarin-kemarin kau bilang tidak tertarik padanya, tidak menyukainya, dan tidak sudi menikah dengannya? Tapi sepertinya kau sudah jatuh cinta padanya hingga kau cemburu buta seperti itu…”

“Yak, kalian! Berhentilah memojokkanku!!” protes Yoona dengan wajah memerah malu karena terus digoda dan disudutkan dengan fakta-fakta yang ada antara dirinya dan Siwon.

Satu ketukan pintu menghentikan tawa renyah wanita-wanita yang ada dalam ruang tunggu itu. Im Seulong muncul dengan tampilan yang sangat memukau. Tuxedo hitam membalut tubuhnya dengan sempurna, memperlihatkan ketampanan yang dimilikinya.

“Yuri-ah, sudah waktunya…” ucap Seulong dengan senyuman manis, memberitahu bahwa sudah tiba saatnya bagi Yuri untuk masuk ke dalam ruang aula untuk pemberkatan pernikahannya.

“Ne, Oppa…”

~oOo~

Semua tamu yang diundang khusus untuk acara pemberkatan pernikahan telah hadir di aula. Keluarga Im tampak duduk di meja terdepan yang paling mendekati altar yang telah diatur sedemikian rupa dengan dekorasi indah. Di dekatnya berdampingan duduk keluarga Kim – calon besan mereka – dan ada juga dua pria dari keluarga Choi, yang tak lain adalah Siwon dan ayahnya.

Momen sakral itu tidak terlewat begitu saja, semua mata memandang pengantin wanita yang tapak begitu anggun berjalan beriringan dengan Tuan Im menuju altar dimana Kim Jong Woon telah menunggu mempelai wanitanya.

Siwon dan Yoona yang duduk berdampingan tampak sangat kikuk. Di satu sisi, Siwon mencoba menyapa dan berbicara seperti biasa pada Yoona namun hanya mendapat tanggapan dingin dari wanita itu. Yoona jelas sengaja menghindari tatapan mata Siwon atau berusaha untuk mengabaikan pria yang sekarang terlihat begitu elegan dengan tuksedo Armani hitamnya. Sebenarnya Yoona juga tidak tahu mengapa ia bersikap seperti ini. Yang dipahaminya adalah perasaan tidak senang dan marah karena kejadian di hari sebelumnya dimana Yoona melihat Siwon berkencan dengan Jessica. Jadi, kekesalannya itu berakibat pada sikap acuh dan kekanakan yang ditunjukannya saat ini.

Yuri dan Jong Woon sudah berada di atas altar bersama dan saat ini sedang diambil sumpahnya oleh pendeta. Semua orang tampak tegang menunggu proses itu selesai. Begitu pula dengan Yoona, melihat apa yang dilakukan kakaknya di atas altar membuat jantungnya berdetak kencang. Bayangan dirinya yang berada di atas sana dan harus mengucap wedding vow sepenuh hati membuat perutnya bergolak. Memang telihat sangat indah dan menegangkan, tapi Yoona yakin bahwa ia sendiri tidak akan siap untuk menghadapi itu dalam waktu dekat.

“Kau lihat, mereka terlihat serasi sekali.” Bisik Siwon pada Yoona, sementara tangannya beralih menggenggam tangan Yoona yang ada di atas pangkuannya. “Tidak lama lagi kita juga akan berada disana – di atas altar, aku harap kau sudah cukup mental untuk melakukan itu.”

Yoona melirik Siwon dan memberinya death glare. Entah maksudnya tidak setuju dengan perkataan Siwon, atau justru Yoona masih memberlakukan rajukannya yang sama sekali tidak diketahui alasannya oleh Siwon.

Don’t touch me!” bisik Yoona sambil menghempaskan tangan Siwon dari atas pangkuannya. Siwon menaikkan sebelah alisnya acuh.

“Kau ini kenapa sih? Dari tadi sikapmu ketus sekali padaku!” gerutu Siwon.

And then, don’t talk to me!” lanjut Yoona. Siwon hanya mendengus kesal, tidak mengerti dengan keanehan Yoona.

Semua tamu bertepuk tangan ketika pendeta telah meresmikan Yuri dan Jong Woon sebagai suami istri. Keduanya berciuman lembut di atas altar, sementara puluhan blitzkamera tidak mau kalah untuk mengabadikan momen romantis itu. Sorak sorai ucapan selamat dilontarkan tamu yang hadir. Di tengah keriuhan suasana pasca peresmian status Yuri sebagai Nyonya Kim, Yoona yang turut merasakan kebahagiaan sang kakak juga ikut tersenyum lebar dan bertepuk tangan. Tanpa disangkanya, satu kecupan lembut mendarat di pipi kanannya. Yoona membeku sesaat tapi arah pandangannya matanya tidak lepas dari pelaku aksi itu, Siwon. Pria itu lantas memberikan cengirannya dan dibalas seringaian sebal dari Yoona walau dengan wajah tersipu.

Tuan Choi yang menyaksikan tingkah Siwon dan Yoona tadi hanya menggeleng-gelengkan kepala. Menurutnya sikap Siwon sangat berbeda ketika berdekatan dengan Yoona. Tuan Choi mengira bahwa keputusannya menjodohkan Siwon mungkin tepat, apalagi putranya itu tidak terlalu memperdebatkan perihal perjodohan ini seperti Siwon yang mempermasalahkan setiap hal sepele di antara mereka.

~oOo~

“Donghae Oppa, lama tak bertemu…” sapa Jessica begitu ia melihat Donghae di depan pintu Ballroom tempat resepsi pernikahan Yuri dan Jong Woon diadakan.

“Oh, Sica. Kebetulan sekali kita bertemu disini.” Balas Donghae mencoba bersikap biasa saja. Dulu memang ia punya hubungan khusus dengan Jessica, tetapi seiring berjalannya waktu setelah berakhirnya jalinan cinta itu kini Donghae masih belum tahu bagaimana perasaannya pada Jessica.

“Ya, sangat kebetulan. Bagaimana kalau kita masuk ke dalam bersama-sama?” Tawar Jessica sambil tersenyum meyakinkan.

“Kau juga diundang di acara ini?” tanya Donghae dan Jessica mengangguk mantap. “Aku tidak pernah tahu kau punya hubungan dengan keluarga Im.”

“Apakah harus mempunyai hubungan dengan keluarga Im barulah aku bisa mendapat undangan?” Jessica memutarbalikkan pertanyaan Donghae. “Oppa sendiri memangnya ada hubungan apa hingga bisa mendapat undangannya?”

“Tentu saja karena aku mempunyai urusan bisnis dengan Im Seulong, putra sulung keluarga Im.” pamer Donghae dengan malas-malasan. Menurutnya tidak ada yang perlu dipertanyakan mengenai hubungannya dengan keluarga Im, karena artinya hal tersebut juga menyangkut pada Im Yoona – wanita yang kini dicintainya secara diam-diam.

“Baiklah, aku angkat tangan kalau sudah urusan bisnis dan bisnis. Yang jelas ditanganku sekarang sudah ada undangan resminya, jadi tidak akan ada masalah jika aku masuk ke dalam.” Ujar Jessica seraya mengacungkan undangan berwarna silver ke depan wajah Donghae.

Jessica memutar bola matanya karena Donghae hanya bereaksi kaku setelah beberapa tahun tidak bertemu. Kini mereka malah harus bertemu di tempat yang Jessica tahu pasti bahwa Donghae harus mengumpulkan kepercayaan diri dengan susah payah agar dapat menghadapi pertemuan dengan Siwon dan Yoona nantinya.

Dengan sigap Jessica menggamit lengan Donghae dan berjalan sampai tubuh Donghae juga terikut dengannya.

“Hey, Sica apa yang kau—“

“Sudahlah, Oppa. Kita hanya buang waktu dengan berdebat soal undangan. Lebih baik kita masuk dan melihat suasana di dalam.”

~oOo~

Ada begitu banyak tamu yang diundang untuk resepsi pernikahan Yuri dan Jong Woon, dan ada begitu banyak juga yang tidak dikenal Yoona. Terlebih bila yang diundang dari pihak pengantin pria. Sejauh ini, Yoona hanya mengenal Jong Woon dengan baik selama masih berpacaran dengan Yuri. Dan semakin bertambah menjelang pernikahan, yaitu mengenal keluarga besan Appanya. Selebihnya, ia sama sekali tidak mengenali rekan bisnis keluarganya ataupun keluarga Jong Woon.

Sedari tadi Yoona harus memasang senyum lebar dan berpura-pura antusias berkenalan dengan orang-orang baru, yang menurut ayahnya adalah relasi dan rekan bisnis yang penting. Ibunya yang tahu bila Yoona sama sekali merasa tidak tertarik, memberikan solusi untuk terus menempel dengan tunangannya. Sehingga ia tidak akan banyak ditanyai soal bisnis ataupun macam-macam urusan perusahaan yang akan membuatnya mual setengah mati.

Yoona secara tidak rela mengikuti saran ibunya – terus berada di sisi Siwon. Tentu saja pria itu awalnya merasa heran mendapati Yoona merapatkan barisan dengannya, padahal sebelumnya Yoona sempat memasang aksi anti-Siwon di awal acara. Setelah berhasil membaca keadaan, barulah Siwon mengerti maksud sikap Yoona itu. Selanjutnya Siwon memanfaatkan kesempatan ini untuk memperkenalkan Yoona sebagai calon istrinya kepada banyak orang disana. Dengan demikian Siwon bermaksud memperkuat posisinya sebagai calon pemilik sah atas seorang Im Yoona.

Ibunya memang benar, kalau ide menempel pada Siwon akan menjauhkannya dari berbagai pertanyaan konyol yang tak akan diketahui jawabannya oleh Yoona. Tapi justru pertanyaan itu berganti haluan menjadi pertanyaan yang dia tahu pasti akan membuatnya sesak napas dan bisa saja pingsan di tempat bila terus di sodori dengan topik yang sama. Tentu saja tentang pernikahan. Sudah berapa lama kalian bertunangan? Kapan kalian akan menyusul? Apakah kalian dijodohkan? dan bla..bla..bla…

Demi apapun, Yoona lebih memilih ditugaskan untuk menjaga hidangan dengan baik dari pada harus berkutat dengan pertanyaan mengenai pernikahannya sendiri. Sambil melengos, Yoona memutuskan untuk bergabung dengan Seohyun, Hyeri dan Yonghwa yang sejak tadi sudah menjadi pajangan manis di salah satu meja yang tersudut di dalam Ballroom itu.

Belum sampai langkah kakinya mendekati meja itu, Yoona terhenti oleh sapaan lembut seorang wanita. “Yoona-ssi, kita bertemu lagi…”

Yoona langsung menoleh dan langsung mendelikkan matanya melihat kebersamaan Jessica dan Donghae. Pandangan Yoona langsung tertuju pada kaitan tangan Jessica di lengan Donghae. Helaan napas pendek dan halus keluar dari mulut Yoona sebelum kembali terpaksa menggunakan ekspresi ramah dan lembut untuk menanggapi Jessica.

“Oh, hai.. Jessica. Kita bertemu lagi disini. Aku tak tahu kalau ternyata kau juga diundang di pesta kakakku.” Basa-basi Yoona sungguh kentara bila ia sangat malas memberikannya.

“Tadi aku bertemu dengan Donghae Oppa, jadi sekalian saja kami berangkat bersama. Benar begitu kan Oppa?” Jessica semakin mengeratkan pelukan tangannya di lengan Donghae.

“Ah, Jessica apa yang kau katakan? Aku tidak—“

“Begitukah? Ya sudah, selamat menikmati pestanya.” Ucap Yoona agak ketus. Ia pergi menjauhi kedua orang itu. Sebelumnya ia sempat melirik Donghae singkat dan mendapat balasan tatapan sendu yang menjadi senjata khas pria itu. Yoona hanya ingin mengingatkan Donghae tentang perjanjian mereka ketika Yoona mengantarkan undangan pada Donghae bahwa mereka harus terkesan hanya saling mengenal sekedarnya. Tidak ada yang boleh tahu perihal hubungan tersembunyi yang ada di antara mereka terutama keluarga Im.

Donghae memaksa melepaskan tangan Jessica dari tubuhnya, dan memandang kesal pada mantan kekasihnya itu. “Apa sebenarnya yang kau inginkan dengan berlaku seperti itu, Sica?”

Jessica mengernyit bingung. “Memangnya aku melakukan apa? Kalau yang kau maksud aku menggandeng lenganmu dan kita tampak dekat di depan Yoona, aku rasa itu bukan sesuatu yang berlebihan.” Sungut Jessica dengan wajah manjanya. “Atau.. jangan-jangan kau marah karena takut Yoona beranggapan miring tentang kita? Omo! Oppa, apa ada sesuatu yang kau sembunyikan dengan Yoona? Bukankah dia itu tunangannya Siwon Oppa?”

“Itu bukan urusanmu! Sebaiknya sementara aku tak berdekatan denganmu saja!” seru Donghae kesal dan mendengus pergi meninggalkan Jessica.

~oOo~

“Yoona-yah, bukankah itu adalah wanita yang kita lihat tempo hari sedang bersama Tuan muda Choi, kan?” Hyeri mulai bertanya-tanya begitu Yoona sampai ke meja mereka dengan segelas jus jeruk di tangannya.

Yoona mengangguk lemah menjawab pertanyaan Hyeri. Satu tegukan jus jeruk berhasil melewati kerongkongannya yang terasa kering akibat terlalu lama menyambut tamu-tamu dan semakin buruk karena pertemuannya lagi dengan Jessica dan Donghae.

“Jika kemarin dia bersama Choi Siwon, kenapa sekarang dia bisa bersama Pengacara Lee?” tanya Seohyun menimpali.

“Entahlah. Mungkin karena mereka adalah mantan kekasih.” Jawab Yoona asal.

“Mwo? Mereka itu mantan kekasih?” koor Hyeri dan Seohyun.

Hyeri mengetuk-ngetukkan tangannya beberapa kali di atas meja, meminta perhatian Yoona yang sedang terlihat seperti orang linglung. “Yoona-yah, apakah mereka sudah rujuk dan tadi sengaja menunjukkannya kepadamu?”

Yoona melemparkan tatapan kematian pada Hyeri, tidak senang dengan kesimpulan bodohnya itu. “Yak, jangan sembarangan bicara!” omel Yoona.

Melihat mood Yoona yang kini berubah buruk, membuat ketiga orang yang berada di dekatnya serentak mengangkat bahu. Mereka tidak heran bila suasana hati Yoona tidak akan baik mengingat ada sosok wanita yang membuatnya tidak nyaman dan kesal setengah mati. Jadi untuk beberapa menit kemudian mereka memutuskan untuk diam atau mengganti pembicaraan dengan topik lain.

“Hei… Yoona. Kenapa kau terus berada disini? Seharusnya kau ikut menyambut para tamu seperti anggota keluargamu yang lain.” Ujar Yonghwa yang sedari tadi diam memecahkan keheningan di antara mereka.

“Berada disini bersama kalian jauh lebih baik dari pada aku harus memasang tampang konyol pada tamu-tamu yang sama sekali tidak aku kenal.” Gerutu Yoona.

“Kau ini jadi terkesan gagal bergaul,” ejek Yonghwa dan langsung mendapat pelototan Seohyun. “Aku pikir tadi kau sudah cukup baik mendampingi tunanganmu, jadi kau terlihat lebih nyata sebagai tuan rumah.”

“aish… Jung Yonghwa, kau pikir aku ini hantu! Seenaknya saja kau mengatai aku tidak nyata.” Cerocos Yoona melebarkan matanya penuh ancaman kepada Yonghwa.

“Bukan itu maksudku. Aku pikir kalau kau tetap berada di sisi Choi Siwon, maka pria itu akan tetap tercap sebagai tunanganmu. Bukannya tunangan wanita yang tadi kalian ributkan itu! Lihat saja sendiri disana..” Yonghwa mengarahkan telunjuknya pada satu arah yang diikuti oleh tolehan kepala tiga orang gadis di dekatnya.

Yoona, Seohyun, dan Hyeri serentak menahan napas melihat pemandangan yang tak begitu jauh dari posisi duduk mereka. “Yoona-yah, lihat itu! Ini gawat… jika tadi ia bersama Pengacara Lee maka sekarang ia kembali bersama tunanganmu lagi!” pekik Seohyun cemas. “Lakukanlah sesuatu, Yoong!!”

Kedua tangan Yoona terkepal di atas meja. Matanya menyipit dan menatap jauh pada Jessica dan Siwon yang tampak terlibat percakapan seru hingga tersenyum lalu tertawa. Semua hal yang dilihatnya benar-benar mampu membakar emosi Yoona.

“Sebenarnya apa yang diinginkan wanita pirang itu? Sejak kemarin dia membuatku emosi tingkat tinggi. Sepertinya aku memang harus memberinya pelajaran!” Yoona bangkit dari tempat duduknya diikuti tatapan kaget teman-temannya. Dengan langkah kaku Yoona meninggalkan mejanya menuju tempat keberadaan Jessica.

“Yoona-yah, kau mau kemana? Apa yang akan kau lakukan pada wanita itu?” pekik Seohyun panik. Hyeri dan Seohyun sangat tahu bila Yoona sedang kesal dan marah, maka ia bisa melakukan hal-hal apa saja yang ada di luar dugaan mereka. Nah, kali ini mereka menduga akan ada pertengkaran antara Yoona dan Jessica. Jangan sampai itu terjadi! Tidak di tempat dan waktu seperti ini. Merekapun ngeri membayangkan peristiwa apa yang akan terjadi setelah ini.

To Be Continued…

Tinggalkan komentar

105 Komentar

  1. dede

     /  Maret 9, 2014

    aduh yoona kenapah engga ngaku aj klu cemburu.

    Balas
  2. hanna lee

     /  Maret 14, 2014

    Hahaha makin seruu oenni, yoong oenninya lg bersungut sungut kayanya:D next part hihi

    Balas
  3. hanna lee

     /  Maret 14, 2014

    Huaaa makin seru oenni. Lanjut next part:D

    Balas
  4. makin seru aja ff ny,,.

    Balas
  5. Dahlia GaemGyu

     /  Juni 14, 2014

    eon lanjut….

    Balas
  6. Ommo!? Yoong cemburyuuuuu

    wkwk bikin kelanjutannya yang bagus yaa

    Balas
  7. orien

     /  Juli 1, 2014

    Yoona uniieee cemburu buta,sica uniee jga manas2in yoona uniee trus dngan dekat2 dngan siwon oppa

    Balas
  8. Fitriawandi

     /  Juli 28, 2014

    Yoona cemburu bgt sama siwon. Apa yg akan terjadi ya ?

    Balas
  9. rita octaria

     /  September 11, 2014

    astaga yoona marah besar… jesika pintet menyulut emosi yoona hhhh

    Balas
  10. Sepertinya seru bgt ne
    apalagi Yoong mulai cemburu ni sama wonppa apalagi Jessica mendekati alias bergelayut di tangan wonppa.
    Yoona jdi rrrrr……… Mengerikan???

    Balas
  11. Dwi Sivi Fatmawati

     /  November 5, 2014

    wah wah yoona eonni udh gk bsa ngontrol emosi lagi nih

    Balas
  12. yoong407

     /  Januari 2, 2015

    Wah waspada nih yoona jadi garangg hehe, apa yg bakal dilakuin yoona ya jadi penasaran

    Balas
  13. Waaaah yoona ngamuuuuk….

    Balas
  14. Novi

     /  Februari 12, 2015

    Apa yg bkl d lakuin yoona yaa??
    Penasaraannnn…

    Balas
  15. Yoona ngomong cemburu aja susah amat😁 yoona cemburu,,yoona cemburu,,,kkk~

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: