[2S] Love The Conqueror (Cinta Sang Penakluk) / Chapter (1/2)

554948_169822509869410_776410343_n

Tittle               : [2S] Love The Conqueror (Cinta Sang Penakluk) / Chapter (1/2)

Author            : Tika Pink / Tika Sheila EverlastingFriend

Email/Twitter : tika_pinky@rocketmail.com / smantikalove@gmail.com / @TikaPink_507 (Mention For Follback)

Main Cast      : Im Yoona, Choi Siwon

Other Cast     : Rindu Willia, Park Yoo Chun, Yoo Yeon Suk, etc.

Genre             : Romantic, Sad, Friendship or Set by Your self ^^

Length            : Two Shoot

Rating             : PG + 17

Cover              : Special ArtDesign by “Illah_Iluth”

 

Annyonghaseyo yeorobeun ^^ … Hi Hi Hi, Tika Pink kembali menyapa kalian dengan membawa satu ff terbaru yang pastinya super duper nggak menarik alias ngebosenin. But, aku tetap berharap banyak yang akan menyukai ff ini #Ujung-ujungnyaTetapNgarep #Abaikan … Ok, nggak mau banyak cuap-cuap biar nggak disangka bawel buat yang penasaran silahkan membacanya but Jangan lupa RCL yaw … Don’t be SIDERs or PLAGIATOR, arachiii???!!! ^o^

 

Warning : Typo bersembunyi di mana-mana!!!

 

#Happy Reading#

Author Pov

Sebuah map biru di lempar dengan kasar di depan seorang pria berkacamata yang berdiri sambil menunduk di depan meja atasannya. Karyawan itu tampak sangat ketakutan karena atasannya saat ini terlihat sedang marah. Semua orang tahu jika atasannya itu sedang dalam suasana hati yang tidak baik maka dia bisa berubah menjadi orang yang sangat menakutkan.

“Apa-apaan semua ini? Kenapa bisa sekacau ini? Apa yang sudah kalian kerjakan selama ini? Kenapa untuk mengurus hal seperti ini saja kalian tidak bisa? Apa aku sendiri yang harus turun tangan?” tanya pria yang melempar map beruntun dengan nada yang dibuat setenang mungkin. Dia tampak tenang tapi ketenangan itu justru membuat Pria berkaca mata itu semakin ketakutan.

“Maafkan saya presdir.” Ucap pria berkaca mata itu tetap sambil menunduk.

Pria yang melempar map itu mendengus kesal lalu melonggarkan ikatan dasi di lehernya.

“Segera bereskan semuanya.” Titahnya. Lalu sang pria berkaca mata mengangguk dan mengambil map yang dilempar tadi oleh sang atasan. Saat ingin beranjak meninggalkan ruangan itu, pria berkaca mata itu teringat sesuatu yang harus disampaikannya pada sang atasan sehingga dia kembali berbalik. “Ada apa lagi?” tanya sang atasan yang melihatnya belum berbalik lagi.

Pria berkaca mata itu berdehem pelan untuk menghilangkan kegugupannya. “Presdir, saya hanya ingin menyampaikan kalau saat ini sedang tersebar skandal kalau anda akan bertunangan dengan Nona Kim Dasom akhir bulan ini. Pihak Ny. Kim Jun Hae juga mengkonfirmasi bahwa itu benar.” Ujar pria berkaca mata itu memberi tahu.

“Apa? Apa mereka sedang mencari masalah denganku?” tanya sang atasan geram yang sebenarnya tak membutuhkan jawaban dari bawahannya itu. “Sialan! Sepertinya keinginan mereka untuk merecoki hidupku belum cukup juga. Baiklah kalau itu mau mereka. Aku tidak akan bertunangan tapi akan langsung menikah.” Ujarnya kemudian membuat sang pria berkaca mata terperangah mendengar perkataan presdirnya itu. tapi dia cukup tahu kalau presdirnya itu tidak akan mungkin mau menikah dengan putri dari Ny. Kim Jun Hae kepala gallery seni mereka yang memang punya ambisi untuk masuk ke dalam keluarga besar Choi Swon. Pria berkaca mata itu masih berdiri di tempatnya sampai mendapat isyarat agar bisa meninggalkan ruangan itu.

Choi Siwon. Itulah nama dari sang atasan yang sangat arogan itu. Pria berusia 27 tahun itu merupakan presiden direktur dari sebuah grup perusahaan terkenal yaitu Hyundai Grup. Meski masih muda, Choi Siwon adalah salah satu eksekutif muda yang paling diperhitungkan di Korea Selatan. Diusianya yang masih 27 tahun dia bisa memimpin dan mengembangkan perusahaannya menjadi semakin maju. Namun selain dikenal sebagai pengusaha, Choi Siwon juga dikenal sebagai pria yang kejam. Dia adalah pria yang ambisius dan akan melakukan berbagai macam cara untuk mendapatkan keinginannya. Dan tak pernah sekalipun dia tidak mendapatkan apa yang dia inginkan. Itulah sebabnya dia sering dikenal juga dengan sebutan sang penakluk. Selain tampan, muda, kaya, dia juga mempunyai kekuasaan. Tak ada satupun orang yang ingin mencari masalah dengannya. Mencari masalah dengannya itu sama saja dengan mencari mati.

***

Seorang gadis cantik tampak sedang menikmati secangkir vanila latte hangat di salah satu cafe favoritnya. Sesekali gadis itu menatap keluar jendela. Namun tatapannya yang kosong mencerminkan bahwa gadis itu sedang banyak pikiran. Sesungguhnya yang membuatnya tidak nyaman saat ini adalah perihal pekerjaannya. Sudah hampir 2 tahun ini dia bekerja di salah satu gallery lukisan yang ada di Seoul. Memutuskan hidup mandiri di pusat kota yang berjarak berpuluh-puluh kilometer dari rumahnya dan keluarganya. Meski sebenarnya dia bisa saja bekerja di perusahaan ayahnya, namun keinginannya untuk mandiri dan tidak tergantung pada keluarganya membuatnya tak ingin menyia-nyiakan kesempatan saat mendapatkan pekerjaan di salah satu gallery lukisan terkemuka di Korea. Apalagi minatnya terhadap lukisan begitu tinggi meski dia bukanlah gadis yang bisa melukis. Hanya saja bukan itu yang menjadi masalah sebenarnya. Sudah 2 tahun ini dia menjalin hubungan dengan anak dari kepala gallery itu. Kim Junsu, itulah nama lelaki yang sedang berkencan dengannya saat ini. Tapi selama ini mereka tidak pernah terang-terangan memperlihatkan hubungan mereka. Terutama di hadapan ibu pria itu yang pastinya akan menentang habis-habisan hubungan mereka. Ya, gadis itu memang punya sebuah perusahaan. Tapi itu hanya sebuah perusahaan kecil di bidang tekstil sehingga tentu saja status sosialnya akan dipertimbangkan oleh ibu dari pria itu yang memang punya standar dan level bak high class. Selain itu Kim Junsu kekasihnya itu akhir-akhir ini sering menunjukkan keposesifannya yang rasanya sedikit membuat gadis itu tidak nyaman. Bahkan ingin dia yang lebih di nomor satukan dari segala urusan gadis itu. Padahal pria itu sendiri bahkan tidak bisa bersikap tegas di hadapan ibunya untuk menunjukkan kejelasan hubungan mereka.

Suara dering ponselnya di atas meja membuyarkan keterpakuannya. Diraihnya ponsel itu dan nama Rindu tertera di layar ponselnya.

“Ada apa Rindu?” tanya gadis itu saat menjawab panggilan sahabatnya yang berkebangsaan Indonesia itu.

“Yoona-ya, kau di mana? Kau tidak lupa kan kalau hari ini ayahmu ulang tahun?” tanya sahabatnya itu yang membuatnya menepuk kepalanya. Dia nyaris saja lupa kalau hari ini ayahnya ulang tahun.

“Ahh, benar. Aku hampir lupa. Lalu kau sendiri di mana sekarang?” tanya gadis yang sering di sapa dengan nama Yoona itu.

“Tentu saja aku sudah berada di rumahmu. Kau yang mengatakan padaku kalau kau akan berada di sini sehari sebelum ulang tahun ayahmu tapi sesampaiku di sini kau malah tidak ada. Apa kau masih sibuk menghabiskan waktumu dengan kekasihmu yang tidak jelas itu?”

Yoona tersenyum kecut saat mendengar sebutan tidak jelas tiap kali sahabatnya itu menyinggung perihal Junsu. “Tidak. Aku sedang tidak bersamanya.” Jawab Yoona lirih.

“Oho, mendengar suaramu sepertinya kau sedang ada masalah dengannya. Sudah kubilang dia tidak cukup baik untukmu. Pria macam apa yang sama sekali tidak bersifat gentle untuk mengakui kekasihnya di hadapan ibunya. Apalagi katamu ibunya mulai mencium kedekatan kalian dan sering menindasmu dengan ocehannya di tempat kerja tapi dia masih belum bisa bersikap tegas, aku berpikir kau lebih baik segera meninggalkan pria seperti itu yang mungkin saja tidak sungguh-sungguh mencintaimu. Pria itu bahkan terkesan sangat sombong sehingga tak pernah mengijinkanmu untuk bertemu denganku. Sudahlah, lebih baik kau tinggalkan dia dan mencari pekerjaan di tempat lain saja. Atau kau bisa bekerja di perusahaan ayahmu. Kita bisa sering bertemu jika kau juga bekerja di sana!” Rindu mulai dengan ocehan panjang lebarnya setiap kali jika gadis itu dipancing kekesalannya. Terdengar nafas Rindu yang sedang diaturnya membuat Yoona tersenyum geli membayangkan sahabatnya itu. “Apapun itu alasanku menelfonmu adalah untuk mengingatkanmu agar segera ke sini. Semua orang sudah berkumpul. Kau sendiri yang belum muncul. Jika dalam jangka waktu 2 jam kau belum sampai juga maka aku akan menghukummu.” Ancamnya.

“Yakk, sekarang justru kau yang lebih terdengar sebagai anak ayahku daripada aku.” Cibir Yoona. Terdengar suara tawa Rindu di telinganya.

“Makanya cepatlah datang.”

“Baiklah. Aku akan membeli kado dulu lalu segera ke sana. Sampai nanti!” ujar Yoona menutup percakapan itu. setelah itu dia segera meraih tasnya dan meninggalkan tempat itu setelah meletakkan beberapa lembar uang di atas meja untuk membayar minumannya.

***

Setelah meninggalkan cafe, Yoona mampir ke toko pakaian untuk membelikan sebuah setelan jas sebagai hadiah ulang tahun ayahnya. Dia memang sudah merencanakannya sejak seminggu yang lalu namun karena banyaknya pekerjaan yang dilimpahkan padanya dan ditambah lagi masalahnya dengan sikap Junsu yang membuatnya baru bisa membeli jas itu sekarang. Bahkan dia nyaris saja melupakan ulangtahun ayahnya.

Yoona mendesah, kesal pada diri sendiri. Namun dia tidak ingin membuang waktu. Segera dipilihnya jas yang menurutnya sangat cocok untuk ayahnya sampai sebuah tangan yang cukup kekar merampas jas itu dari tangannya dan mengembalikan jas itu ke gantungannya kembali.

“Kenapa kau tidak menjawab telfonku?” tanya orang yang menarik jas tadi kesal. Yoona masih sedikit terkejut melihat kehadiran pria di depannya itu terlebih lagi merampas jas yang dipegangnya tadi dengan kasar juga bertanya dengan suara yang terkesan sedikit membentak sementara mereka saat ini sedang berada di tempat umum.

“Aku memang tidak ingin menjawabnya.” Jawab Yoona acuh seraya mengambil kembali jas yang tadi dipegangnya lalu berjalan melewati pria yang tak lain adalah Kim Junsu.

Yoona berjalan menuju ke kasir untuk membayar setelan jas itu.

“Saya ambil yang ini.” Kata Yoona pada kasir.

“Apa-apaan kau? Aku sedang bertanya padamu! Dan untuk siapa jas itu? Sekilas saja itu bahkan bukan ukuranku.” Junsu semakin mencecar Yoona tak perduli berapa pasang mata yang sedang memperhatikan mereka.

“Itu memang bukan untukmu!”

“Apa? Lalu itu untuk siapa? Apa kau sedang berkencan dengan pria lain selain aku?” bentak Junsu yang membuat Yoona menegang karena marah bercampur malu. Tangannya terkepal marah. Namun Yoona berusaha menahan diri untuk tidak menggubrisnya.

“Nona, ini barang anda!” kata kasir itu lirih agak takut-takut seraya meletakkan tas berisi setelan jas itu ke meja. Yoona mengambil dompetnya dari tasnya dan secara bersamaan Junsu menarik tas pakaian itu.

“Katakan padaku ini untuk siapa?” tanyanya lagi.

“Untuk ayahku!” pekik Yoona kesal. Junsu terperangah mendengar pekikan Yoona. Menyadari dia telah salah menuduh Junsu meletakkan kembali tas pakaian itu ke meja kasir.

Yoona mendesah kesal. Lalu dia mengeluarkan kartu kreditnya dari dalam dompet dan memberikannya pada sang kasir. Tapi lagi-lagi Junsu menahannya.

“Biar aku saja yang bayar.” Kata pria itu tanpa merasa bersalah sedikitpun setelah tadi mempermalukan Yoona di depan banyak orang. Yoona mendesah tidak percaya kalau selama 2 tahun ini dia bisa berkencan dengan pria seperti Junsu. Dengan agak kasar Yoona menepis tangan Junsu darinya.

“Tidak perlu.” Ketusnya.

“Yoona, biar aku saja yang bayar. Ini hanya sebuah jas. Kau tidak perlu membuang-buang uangmu. Jadi biar aku saja yang bayar!” Junsu hendak mengeluarkan dompetnya namun Yoona tetap tidak ingin tahu dan menyerahkan kartu kreditnya kepada sang kasir dan meminta kasir itu agar segera menyelesaikan transaksinya. “Yoona?! Biar aku saja yang bayar pakaian itu. Kau tidak perlu membuang-buang …”

“Kalau aku bahkan tidak bisa membelikan sesuatu untuk ayahku dengan uangku sendiri kau pikir aku masih pantas di sebut seorang anak?” sela Yoona dingin. Setelah pembayaran selesai, Yoona segera berjalan untuk meninggalkan tempat itu. Saat ini dia merasa benar-benar marah dan malu sehingga tidak ingin berlama-lama di toko itu. Junsu ikut mengejarnya.

“Yoona, kau mau kemana? Kita harus bicara!” kata Junsu seraya mencekal tangan Yoona.

“Lepaskan aku!”

“Tidak. Kau harus ikut denganku. Kau harus menemaniku untuk menghadiri undangan makan siang dari teman-temanku. Dan kita juga harus bicara.” Kata Junsu terkesan sedikit memaksa. Tapi Yoona sudah terlanjur marah dan dia memang sedang tidak berniat untuk berhadapan dengan Junsu saat ini. Ditepiskannya tangan Junsu dengan kasar meski itu juga membuat pergelangan tangannya yang dipegang Junsu sedikit sakit.

“Aku sedang tidak berniat untuk berbicara denganmu Kim Junsu. Aku sudah tidak bisa menahan sikapmu lagi juga perlakuan ibumu padaku. Aku akan mengundurkan diri jadi jangan pernah kau muncul di hadapanku lagi!” ujar Yoona dengan nada sedikit keras. Dia sudah terlampau malu bertengkar di tempat umum seperti ini tetapi Junsu malah bersikap masa bodo dengan pandangan beberapa pasang mata yang melihat pertengkaran mereka. Dengan tergesa-gesa Yoona berlari menuju jalan dan menghentikan sebuah taksi yang pertama kali lewat di hadapannya. Tak ingin memperdulikan lagi Junsu yang bersumpah serapah karena ditinggal pergi begitu saja.

“Bukankah itu Kim Junsu anak dari Ny. Kim Jun Hae?” tanya Siwon kepada pria berkaca mata di sampingnya yang merupakan asisten pribadinya juga. Mereka saat itu sedang melakukan inspeksi di tempat itu yang memang departemen store itu merupakan salah satu asset perusahaannya. Dan tanpa disangka dia malah menyaksikan kejadian seru seperti itu.

Pria berkaca mata di sampingnya itu bernama Yoo Yeonsuk. Asisten pribadinya dan sekaligus orang kepercayaannya. Pria itu mengangguk “Ya, anda benar presdir!” jawabnya singkat atas pertanyaan Siwon tadi.

“Lalu siapa gadis tadi yang bertengkar dengannya?” tanya Siwon lagi.

“Dia adalah salah satu karyawan di gallery dan sepertinya dia sedang terlibat suatu hubungan dengan Tn. Kim Junsu.” Ujar Yeonsuk menjelaskan. Siwon mengangguk pelan seraya tersenyum kecut. Lalu mereka kembali melanjutkan kegiatan mereka untuk meninjau departemen store itu.

***

“Selamat ulang tahun ayah!” ucap Yoona seraya menyerahkan kado ulang tahun kepada ayahnya. Di kecupnya pipi ayahnya dengan sayang.

“Ahh, Yoong kau tidak perlu repot-repot seperti ini. Kau bisa ada di sini saja membuat ayah sangat bersyukur.” Ujar Tn. Im tersenyum pada putri semata wayangnya itu. Yoona balas tersenyum dan memeluk ayahnya itu dengan manja.

“Ini bukanlah apa-apa ayah.” Ucapnya.

“Kalian ini kalau sudah bertemu seperti sudah melupakan kalau ada orang lain di sekitar kalian.” Ny. Im yang duduk di samping suaminya mencibir kedekatan suami dan putrinya itu. Yoona dan Tn. Im tertawa mendengar cibiran itu. begitu juga Rindu dan Yoochun yang juga ikut tertawa melihat keharmonisan keluarga itu.

Perayaan ulang tahun Tn. Im memang sederhana. Hanya di hadiri oleh anggota keluarganya dan juga dua sahabat karib putrinya. Tapi perayaan ulang tahun itu tampak meriah karena semua yang hadir sudah terasa seperti keluarga sendiri dan untuk Tn. Im yang terpenting adalah dia bersyukur Tuhan masih memberikannya kesempatan untuk menikmati kebahagiaan seperti ini bersama istri dan anaknya juga kedua sahabat Yoona yang sudah dianggapnya seperti anak sendiri.

“Yoong, bagaimana dengan pekerjaanmu? Apa kau betah bekerja di Seoul?” tanya Tn. Im yang seketika membuat senyum di wajah Yoona memudar. Tapi dia sama sekali tidak ingin mengatakan bahwa dia akan mengundurkan diri kepada keluarganya saat ini. Dengan sedikit dipaksakan Yoona kembali tersenyum.

“Semuanya baik-baik saja, ayah. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.” Jawabnya sebaik mungkin untuk menutupinya namun Tn. Im bisa melihat dengan jelas kalau putrinya itu sedang menutupi sesuatu agar tidak membuatnya khawatir dan itu pasti beraitan dengan pekerjaannya.

Tn. Im berdehem pelan. “Yoong, ayah tahu kau sangat ingin hidup mandiri. Tapi kau harus tahu kalau kami selalu mendoakan yang terbaik untukmu.” Ujar Tn. Im sambil mengelus-negelus pundak putrinya itu dengan sayang. Yoona mengangguk mengerti dengan maksud ayahnya.

***

Yoona duduk dengan gugup sambil meremas tangannya. Di sapukannya pandangannya ke sekeliling ruangan itu lalu pandangannya terhenti pada sosok pria maskulin yang sedang duduk di hadapannya dengan sorot mata yang tenang namun tajam seakan bisa menembus dan membaca pikiran dari orang yang sedang di lihatnya. Yoona sudah bisa merasakan jika pria di depannya itu pasti sangat arogan dan suka mengintimidasi.

Pagi tadi saat dia selesai menyerahkan surat pengunduran dirinya dan sedikit berseteru dengan atasannya yang tak lain adalah ibu dari Kim Junsu, tiba-tiba saja dia dijemput oleh seorang pemuda berkaca mata yang mengatakan bahwa presiden direktur dari Hyundai Grup ingin bertemu dengannya membicarakan tentang pekerjaan dengannya. Awalnya Yoona masih enggan dan tidak percaya kalau pria itu utusan dari Hyundai Grup. Namun karena pria berkaca mata yang mengaku bernama Yoo Yeonsuk itu menunjukkan bukti-bukti yang meyakinkan pada Yoona maka Yoona akhirnya kini bisa berada di sini. Duduk di sofa tamu di ruangan presiden direktur dari Hyundai Grup dan berhadapan langsung dengan pria yang pemimpin perusahaan itu. Yoona memang pernah mendengar banyak desas-desus tentang pria itu, tapi ini pertama kalinya dia bisa melihat sosok pria itu dengan jelas. Pria itu ternyata memang sangat tampan persis seperti yang pernah di dengarnya. Tampak mempunyai kepribadian yang tegas dan sangat berwibawa. Namun kesan arogan dan suka mengintimidasi juga bisa dirasakan Yoona saat bertatapan dengan pria itu. Keberhasilannya dalam dunia bisnis serta kekuasaan yang dimilikinya membuat orang-orang takkan berani mencari masalah dengannya tapi untuk para wanita, dia adalah pria yang mungkin sangat di idam-idamkan. Mungkin karena itu juga pria itu mendapat julukan sang penakluk. Bahkan terakhir kali isu yang didengar Yoona bahwa pria itu akan bertunangan dengan Kim Dasom, putri dari Kim Jun Hae mantan atasannya dan tentu saja adik dari Kim Junsu mantan kekasihnya. Ya, dia sudah memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Kim Junsu.

“Rileks saja. Tak perlu tegang begitu saat berhadapan denganku.” Ujar Siwon membuka percakapan.

“Ya?” Yoona sedikit gelagapan mendengar perkataan pria itu. Choi Siwon ternyata benar-benar bisa tahu kalau dia memang sangat tegang saat ini.

Siwon terkekeh pelan. “Kau seperti seekor burung yang sedang ketakutan setelah ditangkap dan di masukkan ke dalam sangkar yang akan dikunci dengan rapat. Tenang saja. Aku memanggilmu kesini untuk urusan pekerjaan bukan untuk membunuhmu.” Ujar Siwon lagi.

Yoona merasa sedikit salah tingkah. Namun dia mencoba untuk segera mengatasi kegugupannya itu.

“Maaf, tapi kenapa anda meminta saya kesini?” tanya Yoona ingin tahu.

Seulas senyum tipis tampak di wajah Siwon karena ternyata gadis di depannya itu adalah tipe gadis yang bisa cepat mengatasi kegugupannya.

“Seperti yang aku katakan tadi, aku ingin membicarakan sebuah pekerjaan denganmu. Ah, tidak. Lebih tepatnya ingin menawarkan sebuah kesepakatan denganmu.”

Yoona mengangkat salah satu alisnya tanda dia tidak mengerti dengan maksud yang diutarakan Siwon. “Kesepakatan? Kesepakatan kerja?” tanyanya. “Maaf tapi pagi tadi sebelum saya kesini, saya telah mengundurkan diri dari pekerjaan saya.” Imbuh Yoona tanpa menunggu jawaban dari Siwon. Yoona tahu bahwa galeri tempatnya bekerja merupakan salah satu asset kepemilikan Hyundai Grup

Siwon mengangguk menandakan bahwa dia sudah mengetahui hal itu. Karena memang dia sudah meminta Yeonsuk untuk menyelidiki semua yang berkaitan dengan Yoona. Tapi untuk masalah Yoona mengundurkan diri itu hanyalah perkiraannya saja yang juga didukung oleh apa yang didengarkannya pada saat pertengkaran Yoona dan Junsu kemarin. Hanya dalam semalam bisa dikatakan dia sudah tahu betul tentang kehidupan Im Yoona, wanita yang sedang duduk berhadapan dengannya saat ini.

“Ini sama sekali tidak berhubungan dengan pekerjaanmu di galeri. Tapi ini mungkin akan memberikan keuntungan yang sangat besar untukmu, Im Yoona-ssi.”

Yoona masih mengernyit. Bingung dengan apa maksud dari pria di depannya itu.

“Kau bingung rupanya.” Terka Siwon yang memang sudah jelas kelihatan kalau Yoona bingung dengan ucapannya. “Baiklah, aku akan langsung ke intinya saja.” Siwon meluruskan punggungnya yang sejak tadi bersandar dengan santainya. Badannya sedikit dicondongkan ke depan. Tatapannya pun berubah lebih serius. “Ayo kita menikah! Jadilah istriku!” kata Siwon seperti sebuah ajakan yang serius dan tidak main-main.

Sontak saja Yoona membelalakkan matanya terkejut. “Apa? Menikah?” tanya Yoona ingin memastikan bahwa tidak ada yang salah dengan pendengarannya.

Siwon mengangguk. “Ya, jadilah istriku!” ulang Siwon mantap.

Yoona mendesah tidak percaya. “Apa maksud anda? Kenapa anda meminta saya untuk menikah dengan anda padahal kita sama sekali tidak saling mengenal?”

Siwon kembali duduk dengan menyandarkan punggungnya dengan santai. “Saat ini kita sudah saling mengenal. Aku mengenalmu dan kau juga mengenalku. Bukankah kau sudah tahu namaku?! Aku ingin terhindar dari segala skandal pertunangan yang dibuat oleh orang yang tidak aku inginkan.”

“Jadi aku adalah orang yang kau inginkan?” tanya Yoona.

Siwon mengangkat bahunya. “Jika itu yang kau pikirkan, aku tidak masalah. Ya, anggap saja aku menginginkanmu!” jawab Siwon santai seolah itu bukanlah hal yang penting.

“Wah … apa kau sedang bercanda? Apa kau pikir pernikahan itu sebuah permainan? Dan kenapa aku? Bukankah kau sering terlibat skandal dengan banyak wanita? Kenapa kau tidak memilih salah satu dari mereka?” pertanyaan beruntun dilontarkan Yoona dengan kesal. Dia bahkan sudah tak menggunakan bahasa formal lagi.

“Mungkin kau salah paham. Tapi aku sama sekali tidak bercanda Im Yoona. Aku benar-benar ingin kita menikah.”

Yoona mendesah kesal. “Aku pikir kau benar-benar sudah gila. Maaf, tapi aku harus pergi!” kata Yoona. Tanpa menunggu respon dari Siwon, Yoona meninggalkan ruangan itu dengan kesal dan tak ingin menoleh lagi.

“Yeonsuk!” panggil Siwon dari dalam. Yeonsuk yang saat itu memang berdiri di depan pintu ruangan atasannya. Dia melirik Choi Siwon dan setelah mendapat isyarat dari atasannya itu dia mengangguk mengerti. Dia pun ikut meninggalkan tempat itu.

Di luar Yoona sangat kelihatan kesal. Dia menoleh lagi ke perusahaan itu dengan kesal. Dia tak menyangka pemimpin dari perusahaan sebesar itu bisa menawarkan pernikahan dengan begitu mudahnya.

Dering ponselnya mengalihkan perhatiannya. Dan ada nama Rindu di sana.

“Yoong … Yoong kau dimana?” tanya Rindu ketika Yoona sudah menjawab telfonnya.

“Aku sedang …”

“Yoong, ayahmu … ayahmu …” kalimat Rindu yang menggantung dan suaranya yang terdengar sangat cemas membuat Yoona ikut menjadi cemas seketika. Apalagi Rindu juga terdengar sedang terisak.

“Ada apa dengan ayahku? Rindu-ya, jawab pertanyaanku!” pekik Yoona. Setelah mendapat jawaban dari Rindu yang membuatnya terkejut, Yoona segera berlari ke jalan dan menghentikan sebuah taksi. Yeonsuk yang melihatnya juga langsung mengikuti Yoona dengan memakai mobilnya. Sebelumnya Siwon telah menyuruhnya untuk mengikuti wanita itu dan membawa wanita itu apapun caranya jika wanita itu menolak tawaran Siwon untuk menikah. Jadi dia tidak mungkin akan melepaskan wanita itu begitu saja jika tidak ingin mendapat masalah dengan atasannya yang bisa saja bertindak kejam itu.

~~~

Yoona menyusuri lorong rumah sakit menuju ke ruang ICU. Dilihatnya ibunya sedang terisak dipelukan Rindu dan Yoochun sedang bersandar di dinding dekat pintu ICU itu. Yoochun yang pertama kali menyadari kedatangan Yoona. Dia segera menghampiri Yoona yang tampak berjalan lunglai. “Oppa, apa yang terjadi pada ayahku? Kenapa dia bisa …?” tanya Yoona padanya.

“Tenanglah Yoong. Paman sedang ditangani oleh dokter. Dia pasti akan baik-baik saja.” Yoochun mencoba menenangkan Yoona. Yoona mengangguk lalu mereka menghampiri ibunya dan Rindu yang masih berdiri di dekat pintu.

Pintu ruangan itu terbuka dan seorang dokter yang menangani Tn. Im keluar dari sana.

“Bagaimana keadaan suami saya, dokter?” tanya Ny. Im langsung menyerbu dokter itu.

“Tn. Im mengalami serangan jantung namun tidak terlalu fatal. Tapi yang parah adalah organ paru-paru Tn. Im. Kami menemukan adanya tumor di sana dan itu perlu segera dioperasi.”

“Apa? Operasi?” tanya Yoona memastikan. Ny. Im hampir saja tersungkur jatuh ke lantai jika Yoochun tidak segera menopangnya. “Ibu?!” sontak saja Yoona terkejut melihat ibunya yang nyaris jatuh pingsan itu.

“Yoong, bagaimana ini Yoong? Ayahmu … ayahmu …?!” Ny. Im tampak begitu rapuh setelah mendengar keadaan suaminya.

“Bibi, tenanglah. Paman pasti akan baik-baik saja.” Rindu memeluk Ny. Im yang sudah dianggapnya seperti ibunya sendiri itu. Rindu adalah seorang gadis yang hidup sangat jauh dari negaranya kerena mendapat beasiswa kuliah di Korea. Dan Yoona adalah orang pertama yang dikenalnya dihari pertama dia masuk kuliah. Lalu dia mengenal keluarga Yoona yang begitu baik padanya sehingga dia juga bisa ikut merasakan kesedihan jika keluarga itu sedang dirundung musibah.

“Dokter, lakukanlah apa yang harus dilakukan untuk menyelamatkan ayahku.” Pinta Yoona pada sang dokter. Dokter itu mengangguk.

“Tentu saja. Tapi kami harus menunggu kondisi jantung Tn. Im stabil dulu maka dari itu Tn. Im akan dipindahkan dulu ke ruang perawatan intensif. Kalian bisa menjenguknya di sana.”

“Terima kasih dokter!” ucap Yoona. Dokter itu mengangguk lalu meninggalkan mereka.

“Yoong, apa yang harus kita lakukan?” tanya Rindu.

“Apalagi?! Kita hanya bisa mengupayakan yang terbaik untuk ayah. Ayah harus dioperasi. Aku akan ke bagian administrasi mengurus semuanya.”

“Tapi Yoong …” Rindu tampak ragu-ragu mengatakan bahwa mungkin saja biaya operasi itu akan sangat mahal. Di tambah lagi biaya CT scan, perawatan dan lain-lain. Dia cemas jika meraka tidak mempunyai cukup uang untuk itu. karena saat ini kondisi perusahaan juga sedang tidak baik bahkan mereka bisa dikatakan sedang colaps.

“Oppa, bisakah kau menemani bibi dulu? Ada yang harus aku bicarakan dengan Yoona!” pinta Rindu pada Yoochun yang berdiri di sampingnya sambil menahan tubuh Ny. Im.

Yoochun mengangguk. “Baiklah.”

Rindu tersenyum singkat lalu menarik Yoona untuk mengikutinya ke jarak yang cukup jauh dengan Ny. Im dan Yoochun.

“Rindu, ada apa?” tanya Yoona penasaran.

Rindu melepaskan tangan Yoona yang tadi di tariknya. Dia menimbang-nimbang sedikit dan setelah itu mendesah membuat Yoona semakin penasaran. “Yakk, kau membuatku cemas. Ada apa?” tanya Yoona lagi.

Rindu menatapnya serius. “Perusahaan sedang tidak baik Yoong. Pinjaman ke bank di tolak dan sementara gaji karyawan belum dibayar. Aku khawatir kita membutuhkan cukup banyak biaya untuk perawatan dan operasi paman. Kau tahu operasi tumor bukan hanya operasi yang sepele dan itu pasti akan membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Itulah sebabnya paman menyembunyikan penyakitnya.” Ujar Rindu lirih.

Yoona terbelalak. “Kenapa kau tidak pernah menceritakan masalah ini padaku?” tanya Yoona menuntut.

“Paman melarangku. Dia tidak ingin kau khawatir.” Jawab Rindu sedih. “Yoong, lalu apa yang harus kita lakukan?”

Yoona tampak berpikir sejenak tapi dia juga tidak menemukan solusinya. Setahunya operasi tumor dan perawatannya juga memang sangat mahal. Dia tidak juga tidak yakin semua tabungannya akan mampu menyelesaikannya. Di tambah lagi kondisi perusahaan ayahnya yang sedang tidak baik. “Yoong?!”

“Kita lihat dulu rinciannya Rindu. Setelah itu baru kita pikirkan bagaimana cara mendapatkan uangnya.” Kata Yoona. Rindu mengangguk. Lalu mereka berdua menuju ke tempat mengurus administrasinya. Tapi Yoona merasa heran karena di sana ada pria berkacamata yang tadi membawanya menemui Choi Siwon. Pria itu sepertinya baru membayar sesuatu ke pihak administrasi rumah sakit. Entah mengapa perasaan Yoona jadi tidak enak.

“Kau? Sedang apa kau di sini?” tanya Yoona saat dia dan Rindu berhadapan dengan pria itu. Pria itu menunduk sepintas sebatas menyapa formal.

Rindu menilik pria itu. Dia merasa tidak pernah melihatnya sebelumnya. “Yoong, dia siapa?” tanya Rindu menatap Yoona. Tapi Yoona tidak menjawab. Pria itu juga diam saja maka Yoona berpikir lebih baik tidak menggubrisnya lagi.

“Suster, bisa saya lihat rincian biaya perawatan dan operasi yang akan dilakukan pasien Im Joonghun?” tanya Yoona pada perawat yang tadi baru saja bertransaksi dengan asisten Choi Siwon itu.

“Ahh, semua rincian pembayarannya bahkan untuk kebutuhan operasi dan perawatan setelahnya baru saja dilunasi oleh Tuan ini.” Jawab perawat itu seraya menunjuk asisten Choi Siwon itu dengan formal.

“Apa?” tanya Yoona terkejut. Sontak saja dia mengalihkan pandangannya pada pria berkacamata yang diketahuinya bernama Yeonsuk itu. “Apa yang kau lakukan? Kenapa kau melunasi biaya rumah sakit ayahku bahkan untuk operasi dan perawatannya yang nanti akan dilakukan? Apa maksudmu?” tanya Yoona beruntun pada Yeonsuk.

“Saya hanya menjalankan perintah yang diberikan oleh Presdir.” Jawab Yeonsuk seadanya.

“Presdir? Choi Siwon? Kenapa dia harus melakukannya?”

“Yoong, siapa dia sebenarnya?” tanya Rindu ingin tahu. Ikut heran kenapa pria itu melunasi biaya rumah sakit untuk ayah Yoona.

Yeonsuk mengeluarkan salah satu kartu bisnisnya dan menyerahkannya pada Rindu. Rindu menerimanya dan membacanya sepintas dan tahu nama pria itu adalah Yoo Yeonsuk. Tapi apa hubungan pria itu dengan Yoona? Dan Choi Siwon, siapa lagi?

“Jika anda ingin bertanya silahkan tanyakan langsung pada presdir. Tapi sekarang anda harus ikut saya nona Im.” Jawabnya.

“Kenapa aku harus ikut denganmu? Untuk menemui atasanmu yang konyol itu? Tidak akan!” tolak Yoona ketus.

“Kalau begitu maafkan saya karena harus melakukan ini!” kata Yeonsuk lalu tiba-tiba saja dua orang kekar yang berpakaian serba hitam ala bodyguard datang menahan kedua tangan Yoona dan memaksa Yoona untuk ikut mereka.

“Yakk, apa yang kau lakukan?” tanya Yoona tapi Yeonsuk tidak menjawab dan mengisyaratkan kedua orang bodyguard itu untuk membawa Yoona ke mobil. Mereka mengangguk dan memaksa Yoona ikut tanpa memperdulikan Yoona yang meronta-ronta menolak.

“Apa yang kau lakukan pada temanku?” tanya Rindu tidak suka.

“Maaf, tenang saja tidak akan terjadi apa-apa pada nona Im. Kami tidak akan menyakitinya. Saya pergi dulu.” Setelah mengatakan itu Yeonsuk pun menyusul ke mobil dan pergi meninggalkan rindu yang masih terpaku melihat kepergian mereka. Sebenarnya bagaimana Yoona bisa berhubungan dengan orang-orang itu?

***

Siwon melangkah masuk ke dalam mansion mewahnya yang dijaga oleh beberapa orang pengawal berpakaian serba hitam. Pengawal itu selalu siaga dan siap menyakiti siapa saja yang tak berkepentingan masuk ke mansion tanpa seijin pemiliknya.

Siwon langsung menuju ke sebuah kamar di lantai 2 mansionnya. Yeonsuk berada di depan pintu kamar yang terkunci dari luar itu lalu membukakannya untuk Siwon.

Yoona yang saat itu sedang mencari cara untuk keluar dari kamar itu menoleh saat mendengar pintu terbuka. Ternyata Choi Siwon masuk ke dalam kamar itu dan asistennya Yeonsuk kembali menutup pintu itu dari luar.

“Apa maksudmu menculik dan membawaku ke sini?” tanya Yoona kesal.

Siwon tersenyum. “Seharusnya tadi kau tidak menolakku tadi sehingga kau tidak perlu dipaksa ke sini. Karena selama aku hidup tidak ada orang yang berani menolakku.”

Yoona tertawa kecut. “Rupanya kau memang sudah gila. Aku pikir isu yang beredar bahwa kau itu orang yang licik tidak benar. Tapi ternyata kau bukan hanya licik tapi juga tidak waras.” Kata Yoona marah.

“Kau benar-benar sedang mencari gara-gara denganku nona Im dan aku semakin menginginkanmu untuk menjadi istriku saat ini juga.”

“Apa?”

“Aku juga berpikir kau tidak akan punya pilihan lain selain menerima tawaran untuk menikah denganku. Aku sudah menyelamatkan ayahmu.”

“Aku tidak memintamu melakukannya.” Ketus Yoona.

“Benar. Tapi aku ingin melakukannya. Dia calon mertuaku.”

“Aku tidak mengatakan akan menikah denganmu meski kau sudah melunasi biaya rumah sakit ayahku.” Sanggah Yoona.

Siwon terkekeh pelan. “Kau memang tidak mengatakannya tapi kau akan melakukannya.”

“Jangan mimpi!” sinis Yoona.

“Aku memang tidak ingin bermimpi.” Siwon masih menjawabnya dengan santai. “Aku sudah tahu semua tentangmu dan masalah yang sedang menimpamu saat ini Im Yoona. Kau membutuhkanku. Kau menikah denganku maka bukan hanya bisa menyelamatkan ayahmu tapi kau juga bisa menyelamatkan perusahaan ayahmu. Aku akan menginvestasikan dana yang besar untuk perusahaan itu sehingga perusahaan itu tidak akan bangkrut. Selain itu kau juga bisa memanfaatkan statusmu sebagai istriku untuk menunjukkan kepada orang yang selama ini menindasmu seperti kekasihmu dan ibunya itu bahwa kau adalah wanita yang jauh lebih terhormat dari mereka sehingga tidak pantas untuk ditindas.” Ujar Siwon.

“Aku sama sekali tidak menyangka kau bisa mengetahui semua tentang kehidupanku sampai seperti itu. Kenapa kau harus berbuat seperti ini padaku?”

“Sudah kubilang aku tidak suka ditolak. Aku tertarik padamu setelah melihatmu bertengkar dengan kekasihmu yang egois itu tanpa sengaja. Mungkin hanya sepintas tapi entah kenapa aku merasa kau yang cocok untuk menjadi istriku. Dan rasa tertarikku semakin bertambah setelah bertemu langsung denganmu. Kau mungkin menolak tapi seperti yang kukatakan aku tidak suka ditolak. Sekali aku memilih maka itu harus aku dapatkan. Aku sudah mengatakan tawaranku padamu dan aku tidak akan membiarkan kau pergi setelah mendengarnya tanpa melakukannya.” Tegas Siwon seraya menatap Yoona tajam.

“Kau benar-benar … “ Yoona tidak melanjutkan kalimatnya karena tiba-tiba ponselnya berdering. Rindu. Jangan-jangan sesuatu yang buruk terjadi pada ayahnya. Dia segera menjawab telfonnya. “Rindu ada apa? Apa ayah baik-baik saja?” tanya Yoona cemas.

“Bukan. Paman tidak apa-apa. Tapi … saat ini para kreditur datang menagih hutang.” Ujar Rindu terdengar panik.

“Apa?” Yoona refleks menutup mulutnya saking kagetnya. “Mereka dimana? Bukan di rumah sakit kan?” tanya Yoona semakin cemas.

“Tidak. Aku dan Yoochun sedang di kantor karena ada salah satu karyawan yang menelfonku. Saat ini Yoochun oppa sedang menenangkan mereka tapi mereka tidak mau pergi sebelum ada penjelasan yang lebih jelas dari pihak keluarga langsung. Aku bingung harus melakukan apa. Kau dimana? Bisakah kau kesini? Dan siapa orang-orang tadi? Apa kau baik-baik saja?” tanya Rindu beruntun saking paniknya.

“Aku baik-baik saja.” Jawab Yoona. “Ya Tuhan kenapa semua ini datang bersamaan?” tanya Yoona frustasi pada dirinya sendiri.

“Yoong …?!”

“Tenanglah Rindu. Tidak akan ada hal buruk yang akan terjadi. Tolong jangan sampai ibuku tahu hal ini. Dia terlihat sangat rapuh tadi dan aku tidak ingin dia ikut sakit karena memikirkan hal ini.” Pinta Yoona.

“Baiklah. Tapi jika bisa tolong kau kesini. Aku agak kewalahan menghadapi mereka.”

“Aku tidak yakin bisa kesana tapi aku akan berusaha menanganinya.”

“Memangnya kau dimana, Yoong? Kau …” Yoona menutup telfonnya tanpa menyelesaikan kalimat Rindu lagi.

“Ada apa? Apa ada masalah lagi?” terka Siwon saat melihat wajah Yoona yang agak frustasi.

Yoona memegang kepalanya yang terasa sedikit pening karena memikirkan masalahnya yang datang bertubi-tubi. Entah kenapa Siwon merasa sedikit khawatir melihat Yoona. Tanpa sadar dia mendekat. Menangkup wajah Yoona dengan kedua tangannya.

“Ada apa?” tanyanya lagi. Namun kali ini nadanya lebih lembut. Tatapan matanya juga seakan menyiratkan kalau dia benar-benar sangat tulus dan Yoona seakan ikut terhipnotis melihat sorot mata itu.

“Sedang terjadi masalah di perusahaan ayahku. Aku tidak tahu harus bagaimana.” Jawab Yoona frustasi. Tanpa sadar Siwon meraihnya ke dalam pelukan pria itu. Mencoba memberikan ketenangan pada Yoona. Dan begitupun halnya dengan Yoona, dia tidak tahu kenapa dia bisa merasa begitu nyaman ada di dalam pelukan Siwon.

“Tenanglah. Aku akan membantumu menyelesaikannya.” Kata Siwon tulus.

Yoona memejamkan matanya. Benar-benar frustasi dengan masalah yang bertubi-tubi ini. Dilepaskannya pelukan Siwon. Dia mencoba memantapkan hatinya untuk mengambil keputusan yang sebenarnya masih diragukannya.

“Aku … hmm … ayo kita menikah!” kalimat itu meluncur dari mulut Yoona. Siwon mengernyit.

“Kau serius? Yoona, aku ingin membantumu kali ini bukan karena …”

“Ayo kita menikah.” Ulang Yoona lagi menyela kalimat Siwon. “Aku bersedia menikah denganmu.” Tambah Yoona.

Siwon tersenyum. “Baiklah. Kalau begitu kita akan menikah. Aku akan mempersiapkan semuanya.”

Yoona mengangguk.

“Kau di sini saja. Aku akan menyelesaikan masalah di perusahaan ayahmu dulu. Berbaringlah jika kau letih. Aku juga akan menyuruh pelayan untuk melayanimu.” Ujar Siwon masih menatap Yoona dari jarak yang sangat dekat. Yoona mengangguk lagi. “Baiklah, aku pergi dulu. Tapi jangan coba-coba untuk menarik keputusanmu lagi. Karena walaupun kau mencoba menarik keputusanmu kita tetap akan menikah. Kau tidak akan bisa meninggalkan rumah ini mulai saat ini sampai kita menikah.” Ujar Siwon lagi. Namun nadanya kali ini sudah berubah menjadi begitu mengancam.

Yoona mengangguk lagi. “Aku tidak akan menarik ucapanku.” Ucap Yoona lirih.

Siwon tersenyum singkat. “Bagus!” katanya.

“Tapi aku ingin bertemu dengan orangtuaku. Aku ingin melihat keadaan ayah. Tolong ijinkan aku ke rumah sakit.” Pinta Yoona memelas.

Siwon nampak menimbang-nimbang sebentar lalu akhirnya mengangguk. “Kalau begitu kita temui mereka bersama.” Putus Siwon seraya menggamit tangan Yoona dan pergi bersama.

***

Yoona duduk di tepi ranjang seraya mencoba menenangkan hatinya yang gelisah. Saat ini dia berada di kamar yang sudah ditata sedemikian rupa menjadi kamar yang begitu sarat akan keromantisan dan suasana yang intim. Ahh, Yoona bahkan tak mengerti bagaimana harus menggambarkan suasana yang diciptakan oleh kamar pengantinnya ini (Sebenarnya author yang nggak tau #gubrak).

Ya, semua berlangsung dengan cepat. Setelah memutuskan untuk menikah, semuanya seakan menjadi seperti mimpi untuknya. Siwon menyelesaikan semua masalah di perusahaan ayah Yoona, menemui orangtua Yoona, mengatur pernikahan hanya dalam jangka waktu seminggu, dan disinilah dia saat ini. Di kamar pengantin setelah beberapa jam yang lalu dia disahkan menjadi istri dari Choi Siwon. Awalnya ayahnya sempat ragu namun Yoona mencoba meyakinkan kalau ini benar-benar pilihannya.

“Kau sedang memikirkan apa?” suara Siwon menyadarkan Yoona dari keterpakuannya. Siwon berjalan menghampirinya dan menariknya berdiri bahkan dia hampir saja tersandar di dada bidang pria itu kalau saja dia tidak menahan tubuhnya agar tidak sampai jatuh dipelukan pria itu.

Siwon mengernyit menatap Yoona. “Kau kenapa? Kau mencoba menghindariku?” tanya Siwon.

Yoona mendorong tubuh Siwon pelan. Menciptakan jarak diantara mereka.

“Aku mohon jangan menyentuhku. Aku menikah denganmu hanya karena ingin menyelamatkan keluargaku. Kita tidak menikah karena benar-benar ingin jadi suami istri.” Jawab Yoona dingin.

“Itu menurutmu. Tapi tidak denganku!” sanggah Siwon tak kalah dinginnya.

“Choi Siwon … ?!”

“Aku menikahimu bukan untuk menyelamatkan keluargamu. Itu hanya bonus yang aku berikan padamu. Aku menikahimu karena ingin menghilangkan segala isu pertunangan yang tersebar di luar sana oleh keluarga dari mantan atasanmu. Dan aku memilihmu karena aku tahu kau adalah kekasih Kim Junsu setelah melihatmu bertengkar dengannya di toko pakaian itu.” ujar Siwon. Lalu dia kembali menarik Yoona mendekat. Merangkul pinggang wanita itu dengan tegasnya. “Tapi setelah bertemu denganmu semua berubah. Aku merasa benar-benar tertarik padamu. Sehingga aku menikah denganmu bukan lagi karena apa yang kupikirkan sejak awal tapi karena aku menginginkanmu menjadi istriku yang sesungguhnya. Lahir  maupun batin.”

“Jangan bercanda Choi Siwon! Pernikahan kita hanya sebuah kesepakatan. Aku melepaskanmu dari semua skandal itu dan kau menyelamatkanku dari masalahku. Bukan untuk pernikahan yang sebenarnya. Setelah aku bisa mengembalikan uangmu, kita akan bercerai!” ketus Yoona.

“Apa? Bercerai?” Siwon terkekeh pelan seakan ucapan Yoona itu adalah sesuatu yang konyol. Lalu dia kembali menatap Yoona tajam. Pelukannya lebih diperketat sehingga jarak diantara mereka semakin sedikit. Yoona bahkan bisa merasakan nafas mereka yang saling berpadu di permukaan wajahnya. “Itu tidak akan pernah terjadi, Ny. Choi. Aku tidak akan membiarkanmu lepas dariku. Aku sudah berjanji di hadapan Tuhan bahwa kau akan menjadi satu-satunya wanita dalam hidupku saat aku menikahimu tadi. Meskipun aku pria yang cukup kejam tapi jika sudah berjanji di hadapan Tuhan aku tidak akan mengingkarinya. Dan kau … kau adalah istriku, milikku. Aku berhak melakukan apa yang seharusnya menjadi hakku atas dirimu.”

“Choi Siwon …”

“Tidak ada penolakan Ny. Choi. Kau milikku. Jadi biasakan dirimu!” kata Siwon dan dengan gerakan yang secepat kilat dia mengunci bibir Yoona dengan ciumannya. Bahkan tak tanggung-tanggung langsung melumat bibir itu. Mengecap semua rasa yang bisa diambilnya dari bibir tipis itu. Yoona berusaha meronta namun pelukan Siwon kian erat sehingga membuat Yoona tak mampu melawan. Aksi bibir dan lidah Siwon di mulutnya juga kian panas membuat sebuah perasaan di dalam dirinya menghentak-hentak ingin keluar. Salah satu tangan Siwon yang bebas mulai melepaskan tali gaun tidur Yoona membuat pakaian sutra itu meluncur dengan mulusnya ke lantai. Yoona semakin was-was karena gerakan Siwon yang agresif. Pelukan Siwon di permukaan kulitnya yang terbuka semakin erat. Lidah Siwon yang menari-nari di dalam mulutnya juga semakin mencoba meruntuhkan pertahanan Yoona. Terlebih lagi tangan Siwon yang begitu agresif menyentuh kulitnya. Kembali lagi Yoona adalah wanita biasa yang normal. Dia juga mempunyai hasrat yang pasti takkan bisa ditahannya jika disentuh dan dicumbu seperti itu. Sehingga akhirnya diapun menyerah. Kalah oleh sentuhan-sentuhan Choi Siwon yang begitu ahli. Dia tidak cukup kuat untuk menolak sentuhan dan godaan seperti itu dari Choi Siwon yang memang tidak pernah ingin ditolak. Pria itu pasti akan memaksa sampai akhirnya lawannya takluk dan menyerah padanya. Dan itulah yang Yoona rasakan. Dia tak bisa menolak lagi. Hasratnya tak bisa ditahannya lagi sehingga diapun takluk terbawa ke dalam pelukan dan arus kehangatan penuh kenikmatan yang disuguhkan sang penakluk itu padanya.

***

Yoona menyeruput teh hijaunya pelan. Meski sebenarnya dia tidak begitu menyukai teh terlebih lagi teh hijau, entah kenapa hari ini dia ingin meminumnya. Setelah menyeruput sedikit, dia meletakkan gelas tehnya kembali ke atas meja. Di depannya Rindu menatapnya heran.

“Apa setelah setahun menikah kau menjadi mengubah seleramu?” tanya Rindu masih bingung melihat perubahan Yoona. Yoona menggeleng.

“Aku hanya ingin mencoba merasakan bagaimana rasa dari teh hijau itu sebenarnya. Dan aku pikir tidak terlalu buruk.” Jawabnya.

“Wah … aku pikir kau memang sudah berubah. Yoona yang aku tahu takkan pernah berani mencoba bagaimana rasa dari segelas teh, apalagi teh hijau. Baru setahun menyandang status sebagai istri dari seorang konglomerat benar-benar mempengaruhimu. Aku bahkan masih belum percaya kau sudah menikah.” Yoona hanya tersenyum mendengar ocehan sahabatnya itu.

Ya, tanpa terasa setahun telah berlalu sejak pernikahannya dengan Siwon. Kehidupan barunya sebagai istri seorang Choi Siwon benar-benar berubah dari yang biasa-biasa saja kini menjadi penuh kemewahan. Mungkin semua orang di luar beranggapan dia adalah wanita yang beruntung menjadi istri seorang konglomerat yang paling berpengaruh di Korea. Tapi kenyataannya tidak seindah dengan yang orang bayangkan.

Dia sama sekali tidak menganggap dirinya wanita yang beruntung. Tak ada yang tahu apa yang harus dia hadapi, apa yang dia jalani sebagai istri Choi Siwon. Pria itu benar-benar arogan dan begitu mengintimidasi. Apa yang dikatakannya seperti titah yang tak bisa dibantah. Yoona tak diijinkan bekerja, bahkan di dalam rumahpun tak diijinkan. Yoona juga dilarang keluar rumah tanpa ijinnya atau tanpa pengawal, telfonpun harus disaring hanya dari orang-orang yang dianggap Siwon penting saja. Jika Yoona mengabaikan pria itu sedikit saja maka pria itu akan marah. Namun meski semarah apapun, pria itu pasti akan mendekapnya dengan erat setiap malam di saat tidurnya. Kadang kala Yoona merasa bingung dengan sikap suaminya itu. Pria itu tak pernah mengatakan mencintainya. Yang dia tahu pria itu menikahinya hanya tertarik padanya. Tak pernah lebih dari itu. Lalu kenapa dia merasa Choi Siwon begitu protektif dan posesif padanya?! Setiap kali pria itu menyentuhnya, Yoona selalu berusaha berontak. Tapi Choi Siwon pasti akan menuntut dan akhirnya membuatnya menyerah. Pria itu juga begitu keras dan tegas. Yoona tak pernah bisa menang melawannya. Semua kegiatan Yoona pun bahkan dikontrol olehnya tanpa memberikan cela sedikitpun.

Dering ponsel Yoona di atas meja mengalihkan perhatiannya. CHOI SIWON. Nama yang muncul di layar ponselnya membuat Yoona memutar matanya tanpa sadar. Dia merasa hidupnya begitu diatur oleh pria yang dipilihnya menjadi suaminya itu.

“Halo?!” ucap Yoona saat menjawab panggilannya setelah beberapa saat.

“Kenapa kau lama menjawab? Dimana kau sekarang?” tanya Siwon terdengar menakutkan di telinga Yoona.

“Aku sedang ada …”

“Segera pulang ke rumah sekarang! Sejam lagi aku akan menjemputmu dan kau harus sudah siap. Kita akan menghadiri jamuan makan malam dengan beberapa relasi.” Kata Siwon lalu memutuskan telfonnya secara sepihak.

Yoona mendesis kesal.

“Ada apa?” tanya Rindu.

“Tidak ada apa-apa.” Yoona menggeleng namun setelah ingat Siwon pasti akan marah jika Yoona membangkang dan akan menyusahkan orang terdekatnya membuat Yoona langsung berdiri dari tempat duduknya. Terlebih lagi dia bersama Rindu. Dia yakin Rindu yang akan menjadi sasaran kemarahan Siwon.

“Kau kenapa?” tanya Rindu lagi. Menurutnya sikap Yoona sangat aneh.

“Rindu, maaf tapi aku harus pergi sekarang. Maafkan aku!” ujar Yoona.

“Yakk, tapi Yoochun oppa belum sampai. Kita sudah lama tidak berkumpul bertiga dan sekarang kau mau pergi tanpa menunggu Yoochun oppa?”

“Maafkan aku. Tapi aku benar-benar harus pergi. Aku akan menghubungimu nanti.” Kata Yoona lalu segera pergi meninggalkan cafe itu tanpa memperdulikan lagi suara Rindu yang memanggilnya.

“Kenapa Yoona pergi terburu-buru seperti itu?” tanya Yoochun saat sudah berhadapan dengan Rindu. Tadi sebelum masuk dia melihat Yoona berjalan dengan tergesa-gesa memasuki mobilnya yang di parkir di depan cafe.

“Aku juga tidak tahu. Dia hanya mendapat telfon dari suaminya lalu pergi seperti itu.” jawab Rindu sambil mengangkat bahunya.

“Mungkin suaminya menyuruhnya pulang.” Simpul Yoochun.

“Mungkin saja. Sampai saat ini aku masih tidak percaya Yoona telah menikah. Aku bahkan masih bingung bagaimana Yoona bisa berhubungan dengan konglomerat seperti Choi Siwon bahkan memutuskan menikah dalam waktu yang singkat.” Ujar Rindu.

“Tak usah dipikirkan. Aku yakin Yoona pasti memilih yang terbaik. Buktinya selama setahun ini dia menikmati statusnya sebagai seorang istri. Yang sekarang harus berpikir untuk menikah itu adalah dirimu. Apa tak ada satupun pria yang berkencan denganmu dan ingin mengajakmu menikah?” Yoochun mencoba mengalihkan pembicaraan.

“Bagaimana aku bisa berkencan kalau setiap hari aku hanya bergaul denganmu. Semua pria takkan ada yang mendekatiku karena mereka pasti berpikir kau adalah kekasihku.”

“Kalau begitu ayo kita menikah!”

“Apa?” Rindu nyaris tersedak kentang goreng yang dimakannnya saat mendengar ocehan tak masuk akal Yoochun itu. Diminumnya jus jeruknya sebanyak-banyaknya. “Yakk, jangan bercanda Park Yoochun.”

“Aku tidak bercanda. Aku serius mengajakmu menikah karena aku sudah lama berpikir mungkin kau memang adalah jodohku.” Ujar pria itu tenang namun terkihat sangat serius. Rindu hanya bisa menatapnya heran. Dia selama ini tidak pernah berpikir seperti apa yang dipikirkan Yoochun.

***

Yoona telah selesai mengganti pakaiannya dengan gaun malam berwarna hijau tosca yang menjuntai hingga menutupi kakinya. Diliriknya jam dinding yang menunjukkan pukul 7 malam dan Siwon masih belum datang. Karena dia merasa bosan dia merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Entah mengapa dia merasa sedikit kepalanya sedikit pusing. Sepertinya ada yang aneh dengannya beberapa hari ini. Dia merasa sedikit kurang fit.

Suara mesin mobil beberapa saat kemudian di halaman rumahnya membuatnya segera bangun dari tempat tidur. Di rapikannya sedikit tatanan rambutnya dan riasannya. Dia terlihat sedikit pucat. Tapi dia tidak mungkin menolak untuk tidak menemani Siwon. Pria itu pasti tetap akan memaksanya. Dia melihat bed cover tempat tidurnya sedikit kusut akibat dia mrebahkan tubuhnya tadi. Dirapikannya bed cover itu di saat yang bersamaan Siwon memasuki kamar.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Siwon membentak sehingga membuat Yoona terlonjak kaget dan refleks memegang dadanya.

“Ahh, kau mengagetkanku saja!” protesnya. “Aku hanya mencoba merapikan tempat tidur yang agak kusut.” Jawab Yoona lalu hendak kembali melanjutkan apa yang tadi ingin dilakukannya namun tangan Siwon dengan kasar mencekal tangannya.

“Kau tidak perlu melakukannya. Kita punya pembantu yang akan membereskannya.” Bentak Siwon.

Yoona menatap Siwon tidak percaya. Pola pikiran suaminya itu sama sekali tidak berubah meski mereka sudah setahun menikah. Pria itu masih melarangnya bekerja meski untuk satu hal yang kecil sekalipun. Yoona menghempaskan tangan Siwon dari tangannya.

“Kau ini kenapa. Aku hanya merapikan tempat tidur yang spreinya kusut dan itu tidak harus membutuhkan pembantu.” Protes Yoona.

“Aku sudah melarangmu bekerja dan itu juga berlaku di rumah ini. aku membayar semua pelayanku dengan mahal dan itu adalah pekerjaan mereka.”

“Kenapa kau begitu berlebihan? Aku hanya merapikan tempat tidur …”

“Sudah kubilang itu bukan urusanmu. Aku tidak menikahimu untuk bekerja seperti pelayan!” kata Siwon dengan nada yang keras membuat Yona menatapnya tidak percaya.

Yoona mengepalkan tangannya tanpa sadar mencoba menahan emosinya namun rasanya dia sudah tak bisa menahannya lagi. Dia tertawa kecut mendengar kalimat Choi Siwon itu.

“Kau benar. Aku memang tidak kau nikahi untuk menjadi pelayan seperti pelayan-pelayan yang kau gaji di dalam rumahmu ini. Tapi pernikahan kita juga terjadi karena kau mengeluarkan uang yang sangat banyak untuk menyelamatkan keluargaku. Kau menikahiku untuk menjadi pelayan tapi untuk menjadi temanmu di tempat tidur! Bukan begitu Choi Siwon?” ucap Yoona sinis. Dia berjalan melewati Siwon hendak keluar dari kamar itu namun tangan Siwon dengan cepat menahannya lalu menghempaskannya dengan kasar ke tempat tidur.

***

To Be Continued~~

 

Author said : Hmm, sebenarnya niatnya ff ini Cuma mau dibuat OS aj. Tapi karena ceritanya agak kepanjangan, makanya aku berpikir untuk menjadikannya TwoShoot #NambahinHutang #Gubrak ^o^ … Takutnya yang pada baca lewat ponsel juga nanti agak kesusahan gegara kapasitasnya. But, tenang aja, lanjutannya nggak akan lama kok. Ff ini emang udah seesai. Tapi nungguin RCLnya banyak dulu ya baru diposting. So, jangan jadi Siders, oke!!! Di story ini aku juga menggandeng salah satu sahabatku di Nited sebagai support cast di sini #again. Namanya bagus ya? Emang nama aslinya #plakk. Pasti senang udah di couple-in sama PYC. Hahaha #lirikKakRindu #Abaikan

 

Lewat ff ini aku juga mau ngucapin #BIGTHANKS buat semua readers yang aktif & pastinya readers yang baik (No siders or plagiator) atas semua dukungannya terhadap LIY kemarin. Kontribusi (coment) kalian terhadap ff itu benar-benar sangat berarti untukku. Thank you so much.

 

                          Ok, aku rasa kata penutupnya udah cukup. PLEASE LEAVE YOUR COMENT AFTER READ THIS. DON’T BE SILENT READERS OR PLAGIATOR, OKAY !!! SEE YOU !!! LOVE YOU ALL ♥♥♥

 

Buat Echa / Resty, yang sering aku repotin untuk mempublish ff gajeku lagi, Thank you so much. Jangan bosen-bosen yaw say !!! ^^ (you’re welcome..)

 

Tika Pink ^^

Tinggalkan komentar

785 Komentar

  1. Wahhhhh…..daebak…
    siwon oppa orangnya pemaksa terus dingin lagi tapi kayanya dia sayang ma yoona,
    Yoona nya gx peka,gx sabar pengen liat yg seselanjutnya.
    Semua yoonwon bahagia akhirnya.

    Balas
  2. Hy mba…., aku readers baru, slm kenal.
    awalnya iseng-iseng baca crita ini.
    aku tertarik banget critanya, apalagi castnya cho siwon, aku suka dng karakternya, sesuai dng judulnya.
    Kirm pw nya dong mba? Pnasran mba.

    Balas
  3. Desvi

     /  Desember 11, 2016

    annyeong aku readers baru , salam kenal
    suka deh sama karakter siwon disini cocok sama wajah tampan siwon oppa wkwkwk ,
    oh ya gmn cara dptin pw chapter 2 nya penasaran sama kelanjutan nya gomawo

    Balas
  4. love pink

     /  Desember 17, 2016

    hai im new here salam kenal i like siwon oppa disini orangnya dingin…awalnya mau liat2 aja and i like the cast in here and i want to know how to get a password chapter 2?

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: