[FF] My Silly Engagement (Chapter 10)

Image

Author : misskangen ‖ Length : Sequel ‖ Genre : Romance ‖ Rating : General ‖ Main cast : Im Yoona, Choi Siwon ‖ Support cast : Lee Donghae, Kwon Yuri, Jessica Jung, Seo Joo Hyun, Jung Hyeri (OC) ‖ Disclaimer : This story is mine instead of the plot and characteristics, but the casts are belong to themselves and god. Please don’t do plagiarism or bash anything from the story and sorry for undetected typo(s).

MY SILLY ENGAGEMENT : CHAPTER 10

Pintu mobil Siwon sudah terbuka, sedang Yoona yang sedari awal sudah diseret oleh Siwon berusaha bertahan sebisa mungkin memegangi pintu itu saat dipaksa oleh dorongan untuk masuk ke dalamnya.

“Oppa, aku tidak mau ikut denganmu bila kau tidak mengatakan kemana kita akan pergi!” omel Yoona masih bertahan dengan posisinya memegang pintu.

“Tidak usah banyak tanya. Sudah cepat masuk ke dalam…”

“Tidak mau!! Aku akan berteriak kalau kau mau menculikku..” ancam Yoona tidak serius.

“Silahkan saja, tidak akan ada yang berani menggangguku disini!”

Baru saja Yoona mulai ingin berteriak, tetapi suaranya terhenti oleh panggilan dari seorang wanita yang tiba-tiba saja seperti hantu sudah muncul disana.

“Siwon Oppa…” suara wanita itu cukup nyaring, hanya dengan satu kali panggilan saja kedua orang yang sedang berdebat kusir itu jadi menoleh kepadanya. Seorang wanita berambut pirang berjalan cepat mendekati keduanya yang berdiri tak jauh dari mobilnya. Blazer berwarna putih wanita itu cukup panjang dan hampir menyamai rok mini yang dikenakannya. Tampilan wanita itu sangat modis dipadupadankan dengan wajah yang cantik dan senyuman yang manis.

“Siwon Oppa…” panggil wanita itu lagi dengan suara yang lebih pelan. Begitu wanita itu sampai ke depan Siwon, ia langsung menarik lengan Siwon lalu bersikap sok antusias dengan melakukan salam hangat berupa ciuman pipi kanan dan kiri. “Lama tak berjumpa, kau semakin tampan saja.”

Yoona melongo beberapa saat melihat tindakan wanita itu, kemudian ia meringis jijik karena menganggap apa yang diperlihatkan wanita itu sama sekali tidak keren. Dan tidak lucu. Yoona merasa sebal dengan reaksi Siwon yang berdiri mematung saat wanita itu dengan mudah mencium pipi kiri dan kanannya, walau itu cuma sebatas salam tapi Yoona merasa tidak senang.

“Kau…??!!” gumam Siwon, sepertinya berusaha mengingat-ingat siapa wanita yang berdiri di depannya.

“Ya, ini aku Jessica.” Ungkap wanita itu untuk meyakinkan Siwon. Sesaat kemudian wajah wanita itu dipaksa merengut manja. “Kau keterlaluan sekali, Oppa. Masa kau tidak mengingatku?”

“Oh, Jessica. Tentu saja aku mengingatmu. Kehadiranmu yang tiba-tiba itu membuatku kaget. Apa kabarmu sekarang?” Siwon akhirnya meladeni sapaan dari wanita yang bernama Jessica itu dengan cukup antusias.

Perubahan sikap Siwon yang tadi tampak dingin dan emosi menjadi begitu manis dan tampak bersahabat membuat Yoona terperangah. Bagaimana mungkin bertemu dengan satu wanita berambut pirang itu langsung membuatnya bertukar suasana hati, padahal jelas sejak tadi Siwon masih kekeuh memaksa Yoona untuk terus ikut dengannya tanpa keterangan mau pergi kemana.

“Aku baik, seperti yang kau lihat… tidak kurang apapun,” sahut Jessica sambil merentangkan tangannya dan bergaya ala model yang sedang menunjukkan pakaian yang dipromosikannya. Yoona mengatupkan bibirnya melihat tingkah wanita itu.

“Ya, aku melihatnya. Kau memang selalu tampak cantik, Sica.” Goda Siwon pada Jessica dengan senyuman handalnya yang bisa membuat semua wanita pusing bila melihatnya. Yoona melirik Siwon, tak percaya bila pria itu sedang berlaku gombal di depan wanita yang baru ditemuinya itu. Ternyata Siwon adalah tipe pria berpengalaman dalam merayu wanita, bukan hanya merayu Yoona tapi juga kepada wanita-wanita cantik yang di sekitarnya. Sepertinya Yoona menambah nilai minus untuk Siwon lagi.

“lalu apa yang kau lakukan disini, Sica? Aku dengar kau menetap di Amerika?” lanjut Siwon lagi, terlihat sangat asyik melakukan pembicaraan dengan Jessica.

“Aku kesini ingin menemui seseorang yang bekerja di kantor mu, Oppa. Ada sedikit urusan penting.” Ucap Jessica dengan nada manja dan mengedipkan sebelah matanya.

Yoona mengedip-ngedipkan matanya beberapa kali, melihat Jessica bertingkah genit pada Siwon. Kepalan tangannya tidak sadar sudah ada sejak beberapa menit yang lalu, hanya saja Yoona masih terfokus pada percakapan dua orang yang sepertinya lupa kalau mereka tidak hanya berdua disana.

Berhubung sudah dianggap sebagai dekorasi mobil yang bisu, Yoona merasa tidak seharusnya ia berlama-lama disana. Yoona berusaha melihat celah dan menunggu waktu yang tepat untuk kabur dari tempat itu. Rasanya ia kesal sekali setelah dipaksa untuk ikut dan berakhir manis sebagai obat nyamuk. Ditambah ia harus melihat-lihat adegan ‘kemesraan’ yang terjadi antara Siwon dan Jessica. Hawa panas sedikitnya muncul dalam dada dan membuat Yoona ingin berteriak kalau masih ada dirinya disana yang menonton tanpa tahu jalan cerita.

Dari pada terus makan hati berada di tempat itu, Yoona berusaha memikirkan jalan untuk melarikan diri selagi Siwon sibuk dengan Jessica. Ada sedikit celah, tetapi tubuh Siwon terlalu besar menutupi ruang kosong antara dirinya dan pintu mobil. Alhasil Yoona tetap nekat ingin beranjak dari posisinya sekarang. Pelan-pelan Yoona bergerak, hanya bergeser beberapa senti langkahnya kembali terhenti setelah tangannya ditahan oleh Siwon.

“Kau mau pergi kemana, Sayang?” hardik Siwon tegas.

Yoona menoleh dan menyembunyikan wajahnya yang tadi meringis karena sudah ketahuan ingin kabur. “Bukankah kau sedang sibuk dengan temanmu, jadi sebaiknya aku pergi…”

“Kata siapa kau boleh pergi setelah aku susah payah menyeretmu sampai sini?” Siwon menatap tajam pada Yoona. Sumpah demi apapun, Yoona tidak habis pikir dengan tingkah pria yang satu itu. Tadi wajahnya tampak tenang dan bahkan ia bisa tersenyum manis saat berbicara dengan Jessica. Namun saat ia kembali berinteraksi dengan Yoona, pria itu seolah kembali kepada emosinya dan bersikap kasar pada Yoona.

“Oppa, siapa wanita ini?” Jessica yang sedari tadi menyaksikan drama pemaksaan Siwon pada Yoona akhirnya menyadari bahwa Yoona masih ada disana.

“Aku lupa memperkenalkanmu padanya. Dia Im Yoona, tunanganku.” Siwon menarik Yoona dan langsung melingkarkan lengan kokohnya di pinggang Yoona.

Omo! Jadi kau sudah bertunangan… Chukkae!” ujar Jessica menampilkan senyuman tulus dan suara manjanya. Jessica mengulurkan tangannya hendak memperkenalkan diri.

“Sayang, dia Jessica Jung, temanku.” Siwon mempersilahkan Yoona menyambut uluran tangan Jessica. Tangan Yoona bergerak seperti robot ketika memaksa untuk menyentuh tangan Jessica. Siwon memutar bola matanya melihat kekakuan yang ditunjukkan wanita di sebelahnya itu. “Jessica adalah temanku sekaligus mantan kekasih Donghae…”

DEG!

Yoona mematung mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Siwon. Tatapan Yoona langsung mengarah lurus pada Jessica, penuh dengan tanya soal kebenaran dari kata-kata Siwon. Mantan kekasih Donghae… kata itu terngiang di telinga Yoona.

“Ah Oppa… kenapa kau harus menyebut statusku itu pada tunanganmu, eoh? Itu memalukan, Oppa!” sungut Jessica memprotes kelancangan Siwon menyebutkan hubungannya dengan Lee Donghae.

Siwon tersenyum singkat. “Bukan apa-apa. She just had a little crush with Donghae!

Yoona dan Jessica sama-sama kaget dengan kemudahan Siwon mengungkapkan rahasia itu. Yoona menoleh pada Siwon, memberinya tatapan kematian. Siwon sudah sengaja mengumbar pertikaian yang terjadi antara mereka dan mengaitkan Donghae. Yoona menahan napas karena kini ia kesal dan semakin ingin memukul wajah Siwon dengan tas sandang yang tersampir di bahunya.

Suara gelak tawa Jessica terdengar renyah menanggapi situasi aneh itu. “Oppa, candaanmu lucu. Lihatlah kau berhasil membuat wajah tunanganmu memucat dan kelihatan sedikit… marah.” Tanpa beban Jessica tertawa sambil memperhatikan gerak gerik Yoona yang berubah kikuk.

Oh, baiklah… ternyata Siwon dan Jessica adalah tipe orang yang sama-sama suka berlaku seenaknya, omel Yoona dalam hati.

“Ya, terserah jika kau menganggapku bercanda…” Siwon kemudian ikut tertawa garing bersama Sica, sedang lengannya makin mengeratkan belitannya di pinggang Yoona. Hal ini membuat Yoona sangat frustasi dan ingin sekali menenggelamkan dirinya ke dalam tanah.

~oOo~

Ruangan itu didominasi oleh warna kecoklatan sehingga terasa sedikit hangat walau lampunya tampak terang benderang. Apalagi ruangan itu juga dilapisi oleh dinding yang kedap suara hingga satu bunyi yang terdengar hanya berkisar di ruangan itu dan terdengar keras. Yoona sempat mengerutkan dahinya saat mengetahui bahwa Siwon membawanya ke sebuah studio musik yang dari luar tampak sederhana, namun bagian dalamnya terlihat cukup mewah. Instrumen musik di dalamnya cukup lengkap dan tertata sangat rapi. Band manapun yang mengadakan latihan di tempat ini pasti harus mengeluarkan kocek cukup dalam untuk menikmati semua fasilitasnya.

Yoona menghempaskan tubuhnya ke atas sebuah sofa empuk, sesekali mengelus pegelangan tangan kirinya yang terasa perih dan memerah akibat ditarik paksa oleh Siwon sejak dari kantornya. Yoona tak henti menatap lekat Siwon yang sedikit sibuk menyalakan beberapa lampu di tempat yang tak jauh dari posisi duduknya.

“Mengapa kau membawaku kesini?” tanya Yoona begitu melihat Siwon berjalan mendekat ke arahnya. Siwon berdiri tak jauh dari Yoona, memandang Yoona sambil berkecak pinggang penuh kecongkakan.

“Tidak bisakah kau menyingkirkan wajah ketatmu itu? Kau ini suka sekali merajuk di depanku!” pekik Siwon.

Yoona membulatkan matanya lalu dengan spontan mengambil bantal yang tergeletak di atas sofa dan melemparkannya tepat ke wajah Siwon. Hanya saja pria itu lebih cekatan sehingga bantal itu langsung tertangkap olehnya.

“Memangnya kau pikir siapa yang menjadi penyebab aku jadi begini, hah? Dasar pria tidak sensitif. Seenaknya mengatakan hal-hal yang bersifat pribadi kepada orang yang baru dikenal. Sepertinya kau niat sekali mempermalukanku di depan teman pirangmu itu!”

“Mwo? Hahaha…” Siwon melemparkan bantal tadi kembali ke atas sofa. Suara tawanya terkesan remeh karena seringaian yang terpatri di wajahnya. “Aku kan hanya memberitahumu siapa Jessica dan ada kaitan apa kau dengannya. Melihat ekspresi wajahmu tadi, sepertinya kau tidak menyukai kehadiran Jessica. Apa kau cemburu setelah tahu kalau dulu Donghae pernah menjalin hubungan spesial dengan Jessica?”

“Cemburu? Yang benar saja…” gumam Yoona cuek.

“Atau… kau merasa cemburu dan tidak senang melihat aku yang akrab dengan Jessica tadi?” Siwon sibuk membuka jas birunya dan menarik sedikit dasinya.

“Cih, percaya diri sekali kau ini!” Yoona memekik dan menyembunyikan pipinya yang merona.

“Kalau memang benar kenapa tak mengaku saja! Aku tidak akan marah jika begitu!” Siwon melemparkan jasnya dan jatuh di atas wajah Yoona.

Yoona kaget, lalu mengambil jas yang menutupi wajahnya itu lalu membantingnya ke atas sofa kosong di sebelahnya. “Aish…!! Kau ini mengesalkan sekali!! Tadinya aku mau protes soal kesepakatan konyolmu itu dengan Donghae Oppa, tapi melihatmu jadi aneh begini lebih baik aku pulang saja…”

Sedikit bergegas Yoona berdiri, menarik tas sandangnya dan menyampirkan di bahu lalu berjalan cepat mencari pintu keluar. Siwon tidak membiarkan Yoona pergi begitu saja. Lagi, langkah Yoona terhenti setelah Siwon menangkapnya dan memeluknya dari belakang. Seketika Yoona menjadi panas dingin dan kembali jantungnya berdetak cepat.

“Kenapa terburu-buru sekali? Aku tidak ingin kau pergi secepat itu, Sayang.” Yoona benar-benar tidak memiliki kekuatan untuk memberontak. Otaknya menolak untuk melakukan itu hingga Yoona masih tetap berdiri tegak dalam pelukan Siwon sementara ia dapat merasakan napas Siwon yang berhembus hangat di tengkuknya.

“Aku tidak mengerti kenapa kita lebih sering bertengkar daripada berdamai dan bermesraan seperti ini. Sebegitu sulitkah bagi kita untuk berjalan dalam keharmonisan, padahal kini kita bukan lagi orang asing. Kau tahu, aku suka dengan posisi ini. Terasa sangat hangat dan menyenangkan.”

Yoona hanya diam saja dan menjadi pendengar yang baik, dalam hati ia setuju dengan semua pernyataan Siwon. Saat itu pelukan Siwon memang terasa hangat dan membuatnya yakin kalau pria itu sudah tidak marah lagi. Walau kini bulu romanya berdiri saat merasakan sentuhan bibir Siwon di ujung telinganya. Yoona terus begidik ketika ia merasakan napas hangat dan sentuhan yang lembut dan licin saat bibir Siwon menyusuri relung leher dan tengkuknya hingga kecupan pria itu di atas pundaknya.

“Aku tahu kau pasti tidak senang dengan persaingan bodoh yang ada antara aku dan Donghae. Kau pasti merasa seperti dijadikan barang taruhan. Soal itu kau tidak usah khawatir, ini hanya bertujuan untuk memberi kejelasan dan kesempatan untuk menentukan siapa yang dipilih oleh hatimu. Bagiku, kau sudah menjadi Nyonya Choi dan selamanya adalah milikku. Aku yakin tidak akan kalah, aku yakin kau akan memilihku. Dan kau harus tetap mengingat bahwa aku tidak akan pernah melepasmu untuk orang lain, walaupun dia sahabatku sendiri.”

Jantung yang tadi berdetak cepat kini beganti dengan desiran halus, seolah merasakan ketegangan yang berganti dengan kehangatan dan kelembutan dari setiap sentuhan serta kata-kata yang diucapkan Siwon. Rasanya ingin sekali menghentikan perlakuan manis dan sedikit mesum dari Siwon itu, tetapi Yoona masih betah membeku. Keberaniannya seakan musnah dan berganti dengan kerelaan untuk menikmati setiap perlakuan intim itu.

Merasa Yoona tak memberikan reaksi lebih, Siwon tersenyum penuh kemenangan. Umpan rayuannya telah mampu membuat Yoona mabuk hingga tak bisa berbuat apa-apa. Siwon akan memanfaatkan momen ini untuk mencekoki kepala Yoona dengan segala godaan dan kata-kata manis, hingga wanita itu hanya akan memandang dirinya sebagai pria yang telah dipilih oleh hatinya.

Siwon melepaskan pelukan erat dari belitan tangannya di perut Yoona. Mengetahui tubuhnya sudah tak diselubungi lengan Siwon lagi, Yoona menarik napas panjang seolah mengumpulkan oksigen yang sedari tadi sulit sekali untuk digapainya. Pelan-pelan Siwon membalik tubuh Yoona menjadi berhadapan dengannya. Yoona malu-malu mengangkat wajahnya menatap Siwon dengan penuh tanya.

“Aku mengajakmu kesini bukan untuk bertengkar lagi. Rasanya bosan sekali jika setiap bertemu harus selalu bertengkar.” Siwon tersenyum tulus.

“Lalu untuk apa kita kesini?” tanya Yoona pelan, suaranya sedikit bergetar. Entahlah itu karena takut atau karena kegugupannya melihat wajah tenang Siwon yang terlihat begitu tampan.

“Kita kesini untuk menghilangkan stres,” Siwon mengangkat tangan kiri Yoona, mengelus pergelangan tangan Yoona yang tampak memar karena paksaannya tadi. “Maafkan aku, karena terlalu kesal aku sampai membuatmu luka begini… Jadi aku membawamu kesini agar kau tidak lagi jadi korban kekesalanku.” Siwon mengecup memar di tangan Yoona.

“Lalu bagaimana caranya menghilangkan stres di tempat seperti ini?”

“Caranya?” Siwon menyipitkan mata memandang wajah polos Yoona. “Kau mau tahu caranya?” Yoona mengangguk.

Tanpa diduga Siwon mendekatkan wajahnya semakin rapat kepada wajah Yoona hingga tersisa beberapa senti. Yoona memundurkan kepalanya secara alami mencoba menjauhinya karena merasa tidak nyaman, apalagi jantungnya kembali berdebar-debar.

Siwon tersenyum miring, tahu bahwa Yoona berusaha menghindar dari perlakuan tak terduganya dengan kekakuan yang kentara. Siwon mengacak pelan rambut Yoona lalu segera beranjak pergi sambil menggulung lengan kemeja panjangnya hingga ke siku. Yoona melongo karena tiba-tiba Siwon sudah berpindah tempat dari hadapannya, pandangannya mengikuti gerakan Siwon yang berjalan menuju satu unit drum yang ada di studio musik itu.

Dengan cekatan Siwon menabuh drum itu. Suara keras yang terdengar dari setiap tabuhan stik pada drum itu seolah menunjukkan bagaimana sang drummer sedang meluapkan suasana hatinya saat itu. Rasa stres, marah, kecewa seperti diungkap seluruhnya dan drum itu benar-benar menjadi media yang tepat untuk menyalurkan emosi.

Yoona memandangi Siwon yang tampak terlihat sangat menikmati permainan drumnya sendiri. Selama ini Siwon pasti sering mengalami stres dan tekanan mengingat posisi dan jabatannya sekaligus banyaknya pekerjaan yang harus dilakukannya. Jadi tidak heran jika terkadang pria itu akan bersikap skeptis atau dingin karena pengaruh dari semua beban yang diembannya. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan jika ternyata Siwon punya pelarian yang tepat untuk menghilangkan kegundahannya, walau sepertinya seluruh tekanan itu tidak dapat dihilangkan olehnya secara utuh.

“Aku mengerti,” Yoona membuka suara saat Siwon berhenti sejenak dari kegiatannya. “Kau memainkan drum itu untuk menghilangkan stres itu. Lalu, apa setiap kali kau merasa moodmu sedang buruk maka kau akan mendatangi tempat ini?”

“Ya, begitulah. Itu sebelum aku bertemu denganmu.”

Yoona mengernyit, “ada apa denganku?”

“Kau terkadang bisa menjadi obat stresku, yah… semacam hiburan gratis sambil menggodamu. Walaupun lebih sering terjadi pertengkaran konyol, tapi menurutku itu menyenangkan.” Jawab Siwon enteng, sepertinya berbicara sangat jujur.

“Aigoo… hiburan gratis katamu? Dasar orang aneh! Melihatmu yang sering mengalami moodswing, aku yakin pemilik studio ini sudah hapal dengan wajahmu yang sering muncul disini.” Yoona bersungut-sungut, namun matanya menyipit dan mengarah pada Siwon. Sementara orang yang dituju kini malah tergelak.

“Lihatlah! Sekarang saja kau sudah bisa membuatku tertawa lagi, hanya dengan gerutuanmu itu. Kau benar-benar obat stres yang mujarab, Yoona-yah.” Yoona meringis mendengar Siwon yang menyebutnya sebagai obat stres, seolah ia adalah sejenis narkotika yang membuat seseorang bisa melupakan dunia untuk sesaat. “Dan soal studio… ini semua milikku, jadi aku bebas kapan saja datang kesini.”

“Milikmu? Ah… kenapa aku bisa lupa kalau kau bisa membeli segalanya. Tapi, aku tidak menyangka ternyata kau tertarik juga dengan musik. Aku pikir kau hanyalah seorang yang kaku yang hanya bisa memikirkan bagaimana cara untuk mempeluas bisnismu hingga ke ujung dunia.”

Siwon meringis mendengar pendapat Yoona tentang dirinya. “Aku suka bermain musik sejak kecil, tapi ayahku tidak pernah menyukainya. Bahkan aku membangun studio ini tanpa sepengetahuannya, jadi beliau tidak akan menginterupsi apapun yang kulakukan disini. Kau mungkin akan menertawakanku kalau aku mengakui bahwa dulu aku sering mengikuti audisi untuk masuk ke dalam perusahaan entertaint seperti SM, YG, atau JYP. Tapi sayangnya aku tidak pernah lulus.” Kenang Siwon dengan cerita masa lalunya.

“Benarkah, kau ikut audisi? Oh my god…” Ekspresi wajah Yoona benar-benar takjub, tak sedikitpun ada raut yang ingin menertawakan kisah Siwon tadi. “Kenapa kau tidak bisa lulus? Menurutku kau punya bakat, apalagi permainan drum mu tadi bagus sekali. Kau seperti seorang profesional.”

Pujian Yoona membuat Siwon tertawa lagi. Pria itu berdiri dan meninggalkan drumnya kemudian berjalan mendekati Yoona. “Kau berbicara seolah kau ini seorang pencari bakat yang sangat memahami musik. Sungguh mengagumkan!” Siwon berbicara dengan nada mengejek.

“Ckckck, kau terlalu meremehkanku, Oppa. Aku sudah sering melihat anak-anak band memainkan alat musik mereka, dari yang paling jelek sampai yang paling bagus. Aku bahkan tahu kalau mereka berbakat. Sebagai bukti tebakanku sering kali tepat, ketika beberapa dari mereka diterima audisi dan menjadi trainee untuk perusahaan entertain besar.”

Tertawa Siwon terhenti, lalu sejenak ia menilik wajah Yoona yang terlihat serius dengan ucapannya barusan. “Bagaimana kau bisa tahu hal-hal seperti itu? Jangan-jangan kau juga pernah ikut audisi ya?”

Ani… aku sempat berminat ikut audisi itu, tapi belum apa-apa Eomma dan Eonni sudah menertawakanku, mereka bilang kalau aku bukan tipe orang yang cocok untuk hal-hal seperti itu.” Yoona mengedikkan bahunya, bersikap sangat cuek untuk sesuatu yang mungkin akan ditertawakan oleh Siwon. “Dan kalau pengalaman bertemu pemain band pemula itu karena aku sering mengikuti Baekhyun bila dia berlatih musik dengan teman-temannya.”

Nama Baekhyun kembali lagi disebutkan oleh Yoona ditengah pembicaraan mereka. Padahal jelas sebelumnya Siwon ingin menghentikan nama itu tercampur lagi dalam urusannya dengan Yoona. Bukan karena Siwon tidak menyukai Baekhyun, tapi ada sedikit rasa malu dalam dirinya karena Yoona berhasil mengelabuinya dan membuatnya cemburu dengan Baekhyun sebagai umpannya.

“Anak itu lagi… Sepertinya kau sangat dekat dengan sepupumu itu.” Gerutu Siwon dengan menekan kata ‘sepupu’ seakan menunjukkan protesnya. Sementara Yoona menahan tawanya karena tahu persis apa yang dimaksud Siwon dengan kalimatnya. “Aku merasa anak itu takut padamu karena kau selalu mengintimidasinya setiap saat.”

Yoona memutar bola matanya. “Aku memang dekat dengan Baekhyun dan dia memang selalu menjadi objek menarik untuk dijadikan korban kejahilan. Itu juga karena aku kesal jika dia menyebutku sebagai Ahjumma cerewet yang suka membuat keonaran.”

“Aku rasa yang dikatakan Baekhyun memang benar, kau mirip Ahjumma yang ada di pasar bila sedang kesal. Contohnya saja waktu kau berkelahi dengan Young Ran, kau tampak errr… menakutkan!”

Yoona menatap Siwon dengan tatapan kematian, menusuk pria itu dengan sorot matanya yang tidak senang dengan godaan Siwon tadi. Pukulan demi pukulan dilayangkan Yoona ke lengan pria itu dan tak dipungkiri Siwon meringis dan mengerang karenanya. Siwon mencoba menghindar tapi Yoona tetap mengejarnya dan tanpa mereka sadari kelakuan keduanya sudah seperti dua anak kecil yang bertengkar sambil berkejaran.

“Yak! Kenapa kau memukulku??” teriak Siwon.

“Salahmu sendiri menyebutku Ahjumma yang ada di pasaran. Dan lagi, kau menyebut nama wanita kampungan itu. Aku tidak suka!!” Yoona mendorong-dorong tubuh Siwon, sementara pria itu sengaja mengambil kesempatan menariknya hingga keduanya terjatuh di atas sofa.

Sesaat suasana menjadi hening. Siwon dan Yoona saling berpandangan dengan jantung yang sama-sama berdegup kencang. Posisi mereka saat ini sungguh tidak terduga. Entah bagaimana Siwon telah berada di atas tubuh Yoona dan menindihnya. Keduanya seakan kehilangan kata-kata, hanya saling memandang jauh ke dalam manik mata tanpa tahu ingin berkata apa.

“Jadi… kau cemburu dengan Young Ran karena dia suka berada dekat-dekat denganku?” Siwon tersenyum miring saat menenukan kepercayaan dirinya untuk mulai melancarkan lagi godaannya pada Yoona.

“Cih, aku tidak level cemburu pada orang seperti itu!” sungut Yoona menyombongkan diri. Dagunya terangkat seakan memasang pose arogan untuk meyakinkan kata-katanya.

“Benarkah? Aku tidak percaya…” sebuah kilatan terpancar dari mata Siwon. Secepat kilat itu pula Siwon merengkuh Yoona lebih rapat dan menyentuh bibir wanita itu dengan bibirnya. Sepuluh detik rasanya cukup membuat dunia Yoona seakan berhenti, sedang tubuhnya kaku menerima perlakuan intim dari Siwon tersebut.

Siwon melepaskan sentuhan bibirnya, lalu memandangi wajah Yoona yang merona merah. Sementara Yoona langsung membuang muka, tak berani menatap mata Siwon, sudah cukup rasa malunya untuk menghadapi tantangan pria itu lagi.

“Aigoo… wajahmu selalu berubah semerah tomat setiap kali aku menciummu. Jadi kau menyukainya? Kau suka dengan ciumanku, eoh?”

Yoona menarik napas kasar, malas meladeni ejekan Siwon. Sekuat tenaga Yoona mencoba mendorong tubuh Siwon agar menyingkir dari atas tubuhnya. “Oppa menyingkirlah, tubuhmu berat sekali!!” keluh Yoona sambil menyembunyikan wajah malunya.

“Kenapa kau malu dengan posisi ini, eoh?” Siwon malah memeluk Yoona lebih erat, membuat usaha wanita itu untuk menyingkirkannya menjadi sia-sia. “Kau harus membiasakan diri. Setelah menikah kita akan sering melakukannya, bahkan lebih dari ini.”

“Dasar mesum! Kata siapa aku mau menikah denganmu?” gerutu Yoona sinis dengan wajah yang semakin memerah.

“Lalu kau mau menolakku dan memilih Donghae, begitu?” raut wajah Siwon tiba-tiba berubah serius. Pelukannya sudah merenggang, bahkan pria itu sendiri yang bangkit dari atas tubuh Yoona dan langsung berdiri dengan pose congkaknya lagi.

Yoona terperangah sesaat, tak lama kemudian ia sudah memahami perubahan suasana hati Siwon karena menyangka Donghae lah yang menjadi penyebab gerutuannya tadi. Padahal Yoona sama sekali tidak ingin mengaitkan apapun tentang Donghae dalam candaan mereka yang tak terasa sudah terjalin sejak beberapa menit yang lalu sebelum Siwon menyebutkan soal pernikahan yang membuatnya merinding.

“Aku sama sekali tidak menyebut namanya, jadi kau tidak berhak untuk marah karena itu.” Yoona berdiri dan matanya mencari-cari letak tas sandangnya yang tadi terjatuh. Yoona ingin menghindari amukan Siwon. Rasanya sangat tidak menyenangkan bila harus bertengkar lagi setelah melalu percakapan yang cukup akrab dengan tunangannya itu.

“Karena aku tahu persis maksudmu. Jangan pernah berpikir aku akan membiarkanmu bersama dengannya, Yoona-yah. Kau tahu kan, kalau aku sanggup melakukan apa saja untuk mencegahnya.” Nada bicara Siwon sudah berubah dingin kembali. Pikiran negatifnya soal hubungan Yoona dan Donghae sanggup memutarbalikkan keadaan menjadi buruk.

Yoona sangat tahu kalau Siwon tidak main-main dengan ucapannya, dan hal ini malah membuatnya khawatir. Ia takut Siwon melakukan sesuatu yang buruk dan benar-benar di luar dugaaannya terhadap Donghae. Meskipun Donghae sahabat Siwon, Yoona tidak yakin Siwon akan memberi pengecualian untuk itu.

“Terserah kau sajalah!! Aku malas bertengkar denganmu. AKU MAU PULANG!!!” teriak Yoona kesal. Kali ini ia benar dikatakan mirip dengan Ahjumma yang sedang mengomel di pasaran. Yoona menghentak-hentakkan kakinya berjalan meninggalkan Siwon yang telah menjadi pria bertampang bodoh karena kekagetannya mendengar teriakan Yoona tadi.

“Kenapa jadi kau yang lebih galak? Harusnya aku yang marah… Hei, Yoona!! Kau mau kemana?? Ayo kita makan malam dulu…” Siwon segera menyusul Yoona yang sudah lebih dulu pergi sambil merajuk. Bahkan Siwon sudah lupa dengan keinginannya untuk marah dan merasa kesal pada Yoona karena perselisihan atau persaingannya dengan Donghae.

~oOo~

Yoona hanya membolak-balik majalah fashion dan entertainment terbaru tanpa ketertarikan untuk memberikan perhatian walaupun untuk satu artikel. Bahkan sudah sejak tadi ia menyingkirkan satu majalah yang benar-benar full membahas soal pernikahan. Majalah yang khusus berisi konsep dan berbagai pernak pernik pernikahan itu sudah tersusun rapi sebanyak tiga eksemplar dari edisi berbeda di atas meja di sebelah kanan tubuhnya. Namun Yoona seperti alergi dengan topik itu.

Yuri yang sedang terbaring menelungkup di atas ranjangnya sesekali melirik Yoona yang duduk tak jauh darinya. Sesekali hembusan napas pelan berdesah keluar dari mulutnya, merasa sedikit frustasi dengan tingkah Yoona yang tampak sangat bosan menemaninya di kamar. Sudah setengah jam Yoona berada di kamar Yuri untuk menemaninya, sementara kakaknya itu sedang menikmati momen luluran dan mendapat pijatan dari pekerja salon kecantikan yang sengaja di datangkan ke rumah.

“Berhentilah merajuk dan memasang wajah dengan tekukan dua belas itu, Yoona-yah. Kau tidak takut nantinya di wajahmu muncul keriput lebih cepat? Aku tidak bisa membayangkan, di pernikahanku nanti kau justru dianggap saudaraku yang lebih tua bahkan seorang Ahjumma…” Yuri terkikik pelan, menahan tawanya sambil membayangkan kejadian yang dikatakannya.

Yoona menghentikan kegiatannya membolak-balik majalah. Kini ia melayangkan tatapan penuh ancaman kepada Yuri yang pura-pura tidak tahu bila adiknya itu akan berubah galak bila kekesalannya semakin ditambah. “Berhentilah membahas-bahas Ahjumma… kau pikir aku tidak bosan menungguimu luluran seperti itu sementara aku hanya bisa membaca majalah-majalah bodoh ini!”

“Ouch… ternyata adikku yang cantik ini sedang kesal! Majalah bodoh itu bukannya cukup menarik, apalagi yang membahas all about wedding itu. Bacalah, itu sangat berguna untukmu!”

“Apanya yang berguna? Kepalaku langsung pusing dan mual melihat contentnya!”

Yuri membulatkan matanya mendengar pendapat Yoona terkait majalah yang beberapa minggu terakhir ini begitu dipujanya karena berisi banyak informasi dan saran kreatif soal pernikahan impiannya. “ya ampun… kenapa kau berkata begitu? Isinya kan beragam info seputar persiapan pernikahan yang indah. Kau ini sudah mau menikah juga tapi tidak memperhatikan hal-hal seperti itu!”

“Aku belum akan menikah dalam waktu dekat, jadi masa bodohlah dengan hal-hal itu!” Yoona memanyunkan bibirnya, mencibir kesal pada Yuri.

“Ckckck… sudah jelas setelah aku menikah, kau akan segera menyusulku. Tapi kau malah bersikap tidak peduli. Memangnya kau tidak ingin merancang pernikahan yang indah sesuai keinginanmu?”

“Memangnya bisa? Aku saja diharuskan menikah melalui perjodohan. Sudah pasti semua persiapan pernikahan akan diatur oleh keluarga terutama Appa dan Eomma. Aku tinggal dipakaikan gaun pengantin dan berjalan menuju altar lalu mengucap sumpah pernikahan. Apa menariknya kalau begitu?” gerutu Yoona skeptis.

Yuri menepuk keningnya pelan, lalu melirik Yoona dengan sorot mata hopeless. Sepertinya sikap masa bodoh sang adik soal pernikahannya sendiri itu sudah tak tertolong lagi. Sebegitu putus asa kah Yoona terhadap perjodohan yang telah diatur oleh sang ayah untuknya? Yuri tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya Yoona nanti bila terus dipaksa menjalankan pernikahan yang tak diharapkannya itu.

“Aku pikir kau sudah sangat akrab dengan Choi Siwon. Aku juga berpikir bahwa kau menyukainya. Apalagi setelah terakhir kali melihatmu pulang bersamanya dua malam yang lalu. Wajahmu merona dan senyummu juga kerap terlihat. Kami semua sudah menyangka kalau kau mulai dekat dan merasa bahagia bersama Siwon. Apa kau tidak merasakan hal itu?”

Yoona mengernyit, mengingat-ingat kejadian terakhir kali ia diantar pulang oleh Siwon. Saat itu mereka tidak berakhir dengan pertengkaran. Entah kenapa keduanya mampu menahan ego dan emosi masing-masing sehingga kembali normal lalu melanjutkan kebersamaan dengan makan malam spesial di sebuah restoran romantis. Makan malam itu berjalan cukup menyenangkan dimana mereka bisa bercakap-cakap layaknya pasangan normal yang tidak memiliki masalah atau ketegangan pribadi. Tidak ada rasa kesal atau kemarahan. Walaupun mereka membicarakan hal-hal yang remeh seperti masalah tugas kuliah, pekerjaan, atau prakiraan cuaca sekalipun sudah cukup membangun kesan hangat di antara mereka. Bagi Yoona beberapa jam bersama Siwon tanpa adanya pertengkaran terasa menyenangkan. Bahkan tanpa disadarinya, Yoona melupakan tujuan awalnya untuk meminta Siwon membatalkan persaingan konyolnya dengan Donghae yang menjadikannya sebagai pusat masalah.

“Yoona-yah, apa yang kau lamunkan, eoh?” hardik Yuri karena sedari tadi Yoona diam dengan mata menerawang dan sama sekali tak bersuara untuk menjawab pertanyaannya.

“Hah? Kau tadi tanyakan apa padaku, Eonni?” Yoona tersentak dari lamunannya.

“Tadi aku tanya, apa kau tidak merasakan sesuatu yang lebih pada tunanganmu, semacam rasa suka atau cinta mungkin?”

“Aku tidak tahu…” jawab Yoona pelan, sedang Yuri hanya menghela napas frustasi. Yoona memang masih tidak tahu dan tidak meyakini hatinya sendiri tentang apa yang dirasakannya pada Siwon. Berada di dekat pria itu selama beberapa lama, Yoona mulai bisa memahami karakter Siwon dan mulai menerima kehadirannya di dalam hidupnya. Yoona mengingat jelas bagaimana pria itu  saat terjadi perubahan suasana hatinya, bagaimana Siwon menggodanya dengan berbagai celetukan dan senyuman, bagaimana Siwon berlaku romantis padanya seperti memeluk atau menciumnya. Yoona tahu betapa menyenangkannya semua itu. Hanya saja Yoona tak bisa mengambil keputusan lebih cepat.

~oOo~

“Jadi kalian menarikku keluar dari rumah hanya untuk menemani kalian untuk memilih gaun pesta? Tahu begitu aku lebih memilih tiduran di kamar, jauh lebih menyenangkan.” Omel Yoona sambil mengerucutkan bibirnya di antara pakaian-pakaian dan gaun-gaun indah yang tergantung di sepanjang lorong di kanan kiri tempatnya berdiri.

Seohyun dan Hyeri mengabaikan omelan Yoona begitu saja, tidak mau ambil pusing dengan protes tidak penting dari sahabat mereka itu. Mereka tahu jika Yoona sedang tidak dalam kondisi mood yang menyenangkan sehingga ia mempermasalahkan tujuan mereka mendatangi sebuah butik populer untuk membeli gaun yang akan dikenakan pada pesta pernikahan Yuri. Hal ini juga sengaja mereka lakukan, memaksa Yoona meninggalkan sarangnya di kamar dan mencari udara segar di luar rumah untuk mengurangi kejenuhan dan keburukan suasana hatinya.

“ya sudahlah, Yoona. Ini jauh lebih baik dari pada bertelur di dalam kamar. Yuri Eonni bilang kau perlu refreshing untuk menghilangkan stresmu itu!” kata Seohyun tanpa melihat ke arah Yoona. Wanita itu sedang sibuk memilah-milih gaun yang cocok untuknya.

“Menurutku kau ini aneh, Yoona-yah. Kakakmu yang mau menikah, kenapa kau yang jadi stres dan gugup? Apa kau membayangkan berada di posisi kakakmu saat ini karena pernikahanmu juga semakin dekat?” tanya Hyeri polos.

“Aish… berhentilah membicarakan pernikahanku. Beberapa hari belakangan ini sudah lebih dari dua orang yang membahas itu. Ingatlah, yang mau menikah itu kakakku, bukan aku!” protes Yoona mengacak pelan rambutnya sendiri.

“ternyata benar kau stres karena memikirkan pernikahanmu dengan Tuan muda Choi!! Oohh.. atau kau masih mengkhawatirkan masalah persaingan tunanganmu itu dengan Pengacara Lee?” Hyeri terpekik membuat Seohyun dan Yoona memandang tajam padanya.

“Tidak adakah yang bisa mengerti kalau aku sedang tidak ingin memikirkan hal bodoh dan konyol itu untuk sementara? Benar-benar memuakkan!! Bisa-bisa aku jadi gila bila terus seperti ini…”

“Mianhae…” sesal Hyeri memberikan cengiran khasnya yang memperlihatkan behel berwarna pink di barisan giginya. Yoona menghela napas kasar karena tak bisa berbuat apa-apa untuk memarahi Hyeri lebih jauh karena sekarang mereka berada di tempat umum dan cukup ramai.

“Omo!!! Yoona-yah, lihat itu….!!” Tiba-tiba Seohyun memekik dan pandangan matanya terfokus pada pemandangan di kejauhan. Yoona mengikuti arah mata dan telunjuk Seohyun, dan memandang ke arah yang sama.

Yoona, Seohyun, dan Hyeri serentak memandang ke arah luar butik yang terpampang jelas melalui jendela kaca butik yang mengarah pada bangunan-bangunan di seberang jalan. Tampak dua orang yang baru keluar dari sebuah outlet barang branded yang ada disana. Sepasang pria dan wanita berjalan beriringan dan tampak mesra karena sang wanita menggaet lengan pria itu sambil menenteng tas dan paper bagnya.

Seohyun dan Hyeri beralih menoleh menatap Yoona yang kini ekspresi wajahnya tampak menahan amarah sekaligus tidak percaya terhadap apa yang baru saja dilihatnya tadi. Kedua orang itu saling lirik, merasa cukup cemas dengan reaksi yang akan dikeluarkan Yoona nantinya.

“Yoona-yah, bukankah itu….”

Maldo andwe!!!

 

To Be Continued…

Pos Sebelumnya
Tinggalkan komentar

122 Komentar

  1. Yg di lihat Yoona ma sahabat2’a itu cpa?siwon kahh?

    Tiap chater’a sll bikin penasaran^^

    ijin lanjut baca lg ya thor😁😁

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: