[FF] Journey of Love (Chapter 3)

journey of love

Title: Journey of Love

Story By: Nitahyunmichoi

Main Cast: Choi Si Won, Im YoonA, Choi Sooyoung, Lee Jong Hyun

Support Cast: Kim Myungsoo, Jung Soo Jung, Choi Minho, Park Jin Young

Genre: Drama, Family, Romance, Sad

Length: Chapter

Rating: General

Disclaimer: Cerita dalam FF ini terinspirasi dari drama-drama Korea yang pernah saya tonton, namun  selebihnya, alur serta karakter tokoh adalah murni hasil imajinasi saya sendiri.

Poster By: @Illah_Iluth

 

oOo

Siwon menghentikan mobil yang ia kendarai tepat di depan sebuah coffe shop, dia keluar berbarengan dengan seorang wanita yang baru saja keluar dari dalam coffee shop tersebut. Gyuri – wanita itu samar-samar mengerutkan keningnya, bingung. Pria yang tadi sore datang kemari untuk minum coffe dan menanyakan Yoona kembali lagi datang. “Ada apa ini?” batin Gyuri.

“Tuan, maaf kami sudah tutup” ujar Gyuri saat Siwon sudah berada di depannya. Dia langsung bicara padahal belum tentu kedatangan Siwon untuk minum kopi.

“Aku tahu, tapi kedatangan ku kemari bukan untuk minum” jawab Siwon dan semakin membuat Gyuri heran.

“Apa Im Yoona ada?” lanjut Siwon. Gyuri seketika membulatkan matanya. Dia kaget, untuk kedua kalinya pria ini menanyakan Im Yoona. Apa hubungan pria ini dengan Im Yoona? Dan, ada perlu apa dia ingin bertemu Im Yoona? Pertanyaan seperti itulah yang kini memenuhi pikiran Gyuri. Karena terlalu bingung, Gyuri tidak menyadari jika dari tadi dia terus memandangi Siwon, membuat Siwon merasa heran sekaligus risih.

“Nona?” panggil Siwon. Gyuri langsung terlonjak kegat lalu kini menatap mata Siwon.

“Aku bertanya apa Im Yoona ada?” ulang Siwon.

“Im Yoona, dia sudah pulang” jawab Gyuri memaksakan sebuah senyum di wajahnya.

“Apa sudah lama?” tanya Siwon lagi.

“Sekitar 10 menit yang lalu, yah 10 menit yang lalu. Mungkin sekarang Yoona tengah berjalan menuju halte bus” jawab Gyuri lagi.

“Naik bus? Jam segini? Aishh benar-benar, dia itu seorang wanita apa dia tidak takut” gumam Siwon terdengar cemas. Gyuri memiringkan sedikit kepalanya untuk melihat perubahan raut wajah Siwon yang tiba-tiba menjadi cemas.

“Siapa pria ini?” gumam Gyuri heran.

Siwon memutuskan untuk menyusul Yoona sesuai perintah Gyuri, dia juga tak tahu kenapa harus melakukan hal seperti ini. Padahal sebelumnya Siwon sangat tak perduli akan hal-hal kecil yang ia anggap akan menyita waktunya. Apalagi malam sudah larut, waktunya untuk istirahat diatas kasur empuknya. Bukannya masih berkeliaran di luar mencari seorang gadis bernama Im Yoona, yang kecil kemungkinannya akan di temukan.

Siwon mengurangi kecepatan mobilnya sambil sesekali melihat ke luar jendela untuk menemukan Yoona. Kemudian dia mendesah pelan, merasakan denyutan kecil di kepalanya. Siwon sedikit mabuk sebenarnya, tadi setelah pulang dari club malam bersama Donghae, Siwon memutuskan untuk pergi menemui Yoona. Padahal dia sudah merasakan pusing, tapi sepertinya rasa pusing itu dapat dikalahkan oleh rasa penasaran Siwon yang sudah ingin bertemu dengan Yoona.

“Pergi! Ku bilang pergi…”

Mendadak Siwon mengerem mobilnya saat sebuah teriakan tak sengaja ia dengar, tak berpikir panjang lagi Siwon segera membuka sabuk pengaman lalu keluar dari mobilnya.

“Ku bilang pergi atau aku akan…”

Kembali Siwon mendengar teriakan lagi, teriakan yang ia yakini sebagai suara wanita itu makin kian jelas terdengar. Siwon akhirnya memutuskan untuk mencari sumber teriakan tersebut, dia mengikuti kemana kakinya melangkah. Sampai akhirnya langkahnya pun terhenti saat seorang wanita tengah berlari kearahnya. Wanita itu tampak menitikan air matanya sambil berteriak minta tolong. Namun sepertinya dia tak menyadari kehadiran Siwon yang tengah mematung menatapnya. Siwon diam, dia seperti merasa dejavu melihat kejadian ini, kejadian yang sama persis pernah ia lihat beberapa tahun silam.

“Im Yoona, lihatlah, takdir yang mempertemukan kita. Ini semua sungguh di luar dugaan ku” gumam Siwon pelan.

oOo

Journey of Love Chapter 3

oOo

Yoona meletakan semangkuk bubur di atas nakas, dia kembali mengalihkan pendangannya pada seorang pria yang masih tidur diatas kasur lantai miliknya. Pria yang semalam menolongnya ternyata belum sadarkan diri. “Seharusnya semalam aku membawanya ke rumah sakit” gumam Yoona terdengar menyesal lalu menghela nafas berlebihan. Yoona kembali memandangi wajah pria itu dengan seksama, Yoona pun mengakui jika pria itu sangat tampan. Wajahnya bak sebuah pahatan yang indah, setiap lekuknya terlihat sangat detail  dan sempurna. Kedua alisnya yang tebal menjadi bingkai matanya yang terkatup. Hidungnya yang mancung, membuat dia terlihat semakin mempesona. Di tambah bibirnya yang menawan semakin menambah daya tarik dari pria ini. Wajah tampan dan mempesonanya itu di dukung oleh tubuhnya yang tinggi dan atletis, bahunya yang kokoh serda dadanya yang bidang. Bukankah pantas jika pria itu di sebut sebagai pangeran? Yah, pangeran di dunia nyata tentunya.

Tanpa sadar tangan Yoona terulur menyentuh wajah pria itu. Entah apa yang Yoona pikirkan, dan entah bisikan dari mana pula sehingga tangannya kini berada di wajah pria itu. Menyentuhnya secara perlahan, seperti menyetuh sebuah barang pecah belah. Jari lentiknya menelusuri setiap inci wajah pria itu, Yoona seakan penasaran, dia tiba-tiba mempunyai keberanian untuk menyentuh wajah pria yang sama sekali tak ia kenal.

“Aku seperti pernah melihat wajah ini. Wajah yang pernah terluka seperti ini” gumam Yoona pada dirinya sendiri.

“Tapi dimana? Kapan?” gumam Yoona lalu mendesah pasrah. Sepertinya sekarang ia tengah merutuki dirinya sendiri karena memiliki ingatan yang sangat lemah sehingga tak bisa mengingat hal sekecil ini.

Yoona kembali memandang pria itu dengan seksama, tak ada yang bisa ia lakukan selain menunggu pria itu sadarkan diri. Dia juga sudah memutuskan tidak akan masuk kerja hari ini, Yoona sebenarnya merasa bersalah. Pria itu terluka karena menolongnya, tapi Yoona tak membawanya ke rumah sakit atau minimal klinik terdekat untuk mengobati pria itu, justru Yoona malah membawanya ke rumah dan mengobatinya sendiri. Mungkin karena masalah administrasilah yang membuat Yoona tidak membawa pria asing itu ke rumah sakit.

Yoona berpikir keras, apa yang harus ia katakan jika pria itu sudah sadar? Berterima kasihkah? Atau meminta maaf? Hal ini menjadi belenggu untuk Yoona, dia terlalu bingung kalimat mana yang harus diucapkan jika pria itu sadar nanti. Yoona terperanjat kaget saat suara desahan pelan terdengar, ternyata pria itu sudah mulai sadarkan diri. Dia nampak meringis kesakitan saat akan berusaha untuk bangun.

“Ahh dimana aku?”

“Tuan anda sudah sadar, syukurlah” Yoona tersenyum lega melihat pria itu.

“Aku, ada dimana?” tanya pria itu menatap Yoona.

“Anda ada di rumah saya, semalam anda tak sadarkan diri. Apa anda ingat?” ujar Yoona, lalu pria itu mulai berusaha untuk mengingat kejadian semalam yang menimpa dirinya.

“Im Yoona” ujar pria itu dalam hatinya lalu menatap Yoona serius, seakan memastikan jika wanita yang berada di hadapannya memang benar Im Yoona. Wanita yang pernah bertemu dengannya 11 tahun silam.

“Tuan, anda tidak apa-apa?” suara Yoona seketika membuyarkan pria itu dari lamunannya. Buru-buru dia merubah raut wajahnya agar terlihat tenang.

“Aku tidak apa-apa” jawabnya tersenyum singkat.

“Syukurlah, saya sempat khawatir melihat kondisi anda” ujar Yoona. Kembali pria itu hanya tersenyum singkat, seakan tiba-tiba kehabisan kata-kata didalam otaknya.

“Untuk kejadian semalam, aku sangat berterima kasih. Jika tidak ada anda aku tidak tahu apa yang akan terjadi, juga aku minta maaf karena anda terluka saat menolongku” Yoona menuntaskan kalimat itu dengan sunggingan kecil di bibirnya. Pria itu tersenyum “Itu bukan masalah besar” respon pria itu membalas senyuman Yoona.

“Kalau begitu silahkan anda makan buburnya,” Yoona menyerahkan mangkuk bubur yang sejak tadi tersimpan manis diatas nakas. Pria itu hanya tersenyum tipis saat matanya bertemu dengan mata Yoona.

“Mata itu aku sangat mengingatnya, benar kau Im Yoona” gumam Siwon dalam hati.

oOo

Seorang wanita semampai berjalan memasuki rumah megahnya, siuan kecil yang berasal dari bibirnya tak henti-hentinya ia kumandangnya sejak dari tadi. Sampai-sampai ia tak memperdulikan tatapan aneh dari para pelayan rumah yang berpapasan dengannya.

“Sooyoung-ahh” panggil seseorang pada gadis itu sehingga langkahnya terhenti.

“Eomma? Wae?” jawab Sooyoung bingung.

Ny Choi menutup majalah feshionnya memberikan isyarat agar purtinya itu duduk di sampingnya. Sooyoung mengerti lalu menghampirinya.

“Ada apa eomma?” tanya Sooyoung sambil menjatuhkan tubuhnya duduk tepat di samping Ny Choi.

“Dari mana saja kau?” tanya Ny Choi sambil merapikan rambut putrinya itu dari samping.

“Aku habis olahraga, benar-benar membosankan sekali aku tidak punya kegiatan apa pun. Lebih baik tinggal di London saja kalau tahu akan begini” runtuk Sooyoung bibirnya mengkerucut kesal.

“Kau tidak akan merasa bosan jika mempunyai namja chingu Sooyoung-ahh” ucap Ny Choi tersenyum menggoda.

“Eomma, sudah ku bilang jangan katakan itu lagi, aku tidak mau buru-buru menikah” sambar Sooyoung lalu melipatkan kedua tangannya di depan dada.

Ny Choi tertawa kecil “Memangnya jika sudah mempunyai namja chingu itu berarti kau harus menikah?”

“Biasanyakan seperti itu, lagi pula aku bukan anak SMP lagi yang pacaran hanya untuk main-main saja” ucap Sooyoung terdengar bijak.

“Baiklah, karena putri Eomma yang cantik ini belum juga mendapatkan namja chingu maka Eomma akan mengenalkan mu pada seseorang” ujar Ny Choi yang langsung membat mata Sooyoung membulat seketika.

“MWO!! Eomma, jangan bilang kalau Eomma mau menjodohkan ku lagi?” tebak Sooyoung. Ny Choi hanya mengangguk sambil tersenyum.

“Eomma…aku tidak mau…Eomma ayolah aku bukan anak kecil lagi, aku tidak mau di jodohkan” rengek Sooyoung seperti anak kecil yang minta di belikan mainan.

“Sooyoung-ahh putri Eomma yang cantik, Eomma yakin kau tidak akan menyesal jika Eomma beri tahu siapa pria yang akan Eomma kenalkan pada mu. Eomma yakin kau tidak akan menyesal chagi.” Ujar Ny Choi. Sooyong menyipitkan matanya bingung. Tidak seperti biasanya ibunya ini terlihat bersemangat dalam urusan seperti ini.

“Memangnya siapa Eomma?” tanya Sooyoung akhirnya termakan oleh kalimat yang di ucapkan sang ibunda.

“Nanti kau akan mengetahuinya, sekarang cepat kau mandi dan berdandanlah yang cantik” Ny Choi mendorong tubuh putrinya itu untuk segera berdiri.

“Eomma, cepat katakan pada ku..” rengek Sooyoung lagi yang sepertinya benar-benar penasaran dengan pria yang akan dijodohkan dengannya.

“Anio, cepat kau mandi dulu. Nanti Eomma beri tahu” jawab Ny Choi berpura-pura cuek sambil kembali membaca majalahnya.

Sooyoung berdiri lalu melipatkan kedua tangannya di depan dada, wajahnya sengaja ia tekuk agar ibunya itu tahu jika ia tengah marah sekarang. “Kenapa harus di sembunyikan? Memangnya pria itu siapa? Eomma, nanti harus memberitahu ku” ujar Sooyoung lalu pergi dengan kaki yang di hentak-henakan ke lantai. Ny Choi menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah putri tunggalnya itu yang seperti anak kecil, sangat manja. “Eomma yakin dia adalah type ideal mu Sooyoung” ucap Ny Choi lalu tersenyum memandang Sooyoung yang semakin tak terlihat.

oOo

Siwon keluar dari dalam kamar mandi dengan pakaian yang tadi Yoona berikan padanya. Yaitu sebuah kemeja berwana putih, namun karena sepertinya kemeja itu sudah lama jadi warnanya tidak terlalu putih. Yoona tersenyum melihat Siwon yang justru terlihat tak nyaman dengan pakaian yang ia kenakan. Siwon ingin bertanya “Apa tidak ada baju yang lain? Ini sangat tidak nyaman” tapi ia tarik kembali pertanyaan itu, ia tak mau membuat Yoona tersinggung dengan pertanyaan bodohnya.

“Mungkin besok aku kembalikan kemeja anda, tidak apa-apakan?” tanya Yoona saat mereka sudah sampai di ambang pintu.

“Nde, tapi bagaimana caranya kau mengembalikan kemeja ku?” tanya Siwon mulai berbicara banyak. Yoona tampak berpikir, benar juga. Bagaimana caranya mengembalikan kemejanya? Sementara dia sama sekali tak mengenal pria itu. Siwon tersenyum tipis melihat Yoona yang tengah berpikir.

“Ah begini saja, saya bekerja di sebuah coffee shop tidak jauh dari sini” ujar Yoona. Siwon mengangguk kecil berpura-pura, sebenarnya dia sudah tahu jika Yoona bekerja di coffee shop itu.

“Baiklah, nanti aku kesana mengambilnya” ujar Siwon menyunggingkan sedikit senyum di wajahnya.

“Nde, saya akan menunggu anda” Yoona tersenyum lalu menundukkan sedikit kepalanya.

“Kau memang harus menunggu ku Im Yoona” gumam Siwon dalam hati lalu tersenyum penuh arti.

oOo

Setelah pulang dari rumah Yoona, Siwon memutuskan untuk pulang ke apartementnya. Dia menjatuhkan tubuhnya agar duduk di sofa, lalu memejamkan matanya sambil memijit pelipisnya yang terasa pening. Siwon menghembuskan nafas terlalu berlebihan lalu kembali membuka matanya.”Jika kau tahu aku adalah Choi Siwon, pria yang sebelas tahun lalu menyelamatkan mu dan membuat mu kesal. Apa kau akan membenci ku Im Yoona” gumam Siwon pelan.

“Ah tidak, aku sudah dua kali menyelamatkan mu kau harus berterima kasih pada takdir. Karena kita berjumpa lagi.” Lanjut Siwon lalu tersenyum. Tiba-tiba ponsel Siwon berbunyi menandakan satu panggilan masuk. Siwon segera mengangkat ponselnya setelah sebelumnya melihat ID yang memanggilnya.

“Ne, ada apa Eomma?” jawab Siwon sedikit malas.

“Kau dimana?”

“Aku bukan anak kecil, aku baik-baik saja” jawab Siwon ketus.

“Ku bilang kau dimana?” suara Ny Lee terdengar meninggi.

“Di apartement ku, ada apa?”

“Eomma akan segera kesana, kau jangan pergi..”

“Tapi—“

Tut..tut…

Siwon menggeram kesal karena panggilan sudah di putus oleh sang ibu sebelum dia menyelesaikan ucapannya. Siwon pun melempar ponselnya ke atas sofa lalu berjalan memasuki kamarnya untuk berganti pakaian. Selang beberapa menit dia pun keluar dengan pakaian yang lebih simple, kemudian dia berjalan menuju dapur untuk mengambil minum. Belum sempat Siwon berjalan kearah lemari pendingin, bel apartementnya sudah berbunyi. Siwon menghela nafas, dia sudah bisa menebak siapa orang di luar sana.

“Kenapa lama—“ ucapan Ny Lee tergantung saat menyadari wajah Siwon yang penuh luka.

“Kau kenapa? Apa kau berkelahi?” tanya Ny Lee akan meraih wajah Siwon, namun Siwon menepis tangan ibunya itu.

“Aku tidak apa-apa” jawab Siwon lalu berjalan mendahului ibunya.

“Semalam kau tidak pulang ke rumah apa kau berkelahi di club malam lagi? oh Tuhan. Kenapa kau itu tidak pernah berubah, bagaimana kalau mereka tahu kau berasal dari keluarga terhormat. Apa kata mereka eoh?” Ny Lee membuat kesimpulan sendiri yang membuat Siwon malas mendengarnya.

“Ada apa Eomma datang kemari?” tanya Siwon tak menggubris perkataan ibunya barusan.

“Ku bilang kau kenapa?” tanya Ny Lee menuntut jawaban Siwon.

“Sudah ku bilang bukan urusan Eomma, ada apa Eomma kemari?”

Ny Lee menghela nafas melihat sifat putra kandungnya itu yang sama sekali tak pernah berubah  “Kau harus bertemu dengan seorang wanita?” ujar Ny Lee. Seketika mata Siwon membuat mendengarnya.

“EOMMA!!!!” teriak Siwon merasa tak terima ibunya itu seenaknya saja menyuruh dia untuk bertemu wanita lagi, yang pasti ujung-ujung adalah perjodohan yang sangat ia benci.

“Wae? Apa kau ingin menolak lagi?” tanya Ny Lee memasang wajah menantang.

“Nde, aku akan menolaknya” jawab Siwon. Dia berbalik bermaksud untuk pergi tapi suara Ny Lee mampu menghentikan langkahnya.

“Kalau begitu lepaskan semuanya. Uang, mobil, jabatan mu di perusahaan, termasuk apartement ini.” Siwon menghela nafas lalu mengepalkan kedua tangannya berusaha untuk meredam amarahnya pada sang ibu.

“Apa kau bisa hidup seperti itu? Ku yakin kau tidak akan bisa, kenapa? Karena kau tidak ingin hidup sebagai seorang pria miskin yang tak punya apa-apa. Silahkan kau cari wanita lain yang bukan pilihan ku, tapi lepaskan apa yang sedang kau nikmati sekarang” lanjut Ny Lee mengancam. Siwon pasrah, benar apa kata ibunya dia tak bisa dan tak mau hidup sebagai seorang pria miskin yang tak punya apa-apa. Siwon tak bisa melepaskan semuanya, dia juga tak mau terus menerus di atur oleh sang ibunda. Tapi tak ada pilihan, Siwon harus menerima kembali perjodohan ini. Dan sepertinya kali ini ia tak bisa menghindar.

“Baik, siapa dia? Dan kapan aku harus menemuinya?” jawab Siwon akhirnya meski tak tulus mengatakannya.

“Seorang gadis berusia 25 Tahun, dia baru saja pulang dari London, berasal dari keluarga yang baik, pendidikan bagus, pintar, juga sangat cantik. Namanya Choi Sooyoung” ujar Ny Lee.

“Choi Sooyoung? Baik, aku akan menemuinya” ujar Siwon lalu meninggalkan sang ibunda yang tengah tersenyum penuh kemenangan.

oOo

Hari ini ternyata Siwon memutuskan untuk kembali ke kantor, walaupun dia masih merasa seluruh tubuhnya sakit akibat perkelahian semalam. Kedatangannya ini seketika menjadi pembicaraan semua karyawan yang berpapasan dengannya, Siwon tak perduli dia terus saja berjalan tanpa menghiraukan bisikan-bisikan aneh dari para karyawan yang terdengar ke telinganya.

“Hyung! Kau kemana saja?” teriak Jong Hyun saat Siwon tengah menunggu pintu lift terbuka. Siwon menoleh kearah Jong Hyun sesaat lalu kembali bersikap acuh.

“Aigo!! Hyung, kau kenapa? Apa terjadi sesuatu pada mu?” tanya Jong Hyun saat meliat wajah kakak tirinya yang penuh dengan luka.

“Bukan urusan mu” ketus Siwon dingin tanpa menatap Jong Hyun.

“Hyung kenapa semalam kau tidak pulang? Eomma sangat mengkhawatirkan mu? Apa yang terjadi padamu?” cecar Jong Hyun dengan pertanyaannya. Siwon masih bungkam tak menjawab apa pun.

“Hyung!!!”

“Sudah ku bilang bukan urusan mu, kenapa kau selalu bersikap sepert ini pada ku. Hentikanlah sandiwara mu” ucap Siwon menatap Jong Hyun dengan tatapan mematikan.

“Sandiwara? Apa maksud mu Hyung? Aku hanya khawatir pada mu, wajarkan aku ini adik mu?”

“Tapi aku tidak butuh rasa khawatir mu, dan perlu ku ingatkan lagi aku tidak pernah punya adik. Mengerti?” ucap Siwon dengan memberikan penekanan pada kata “mengerti”

“Apa kau marah pada ku karena kejadian kemarin saat sarapan?” tanya Jong Hyun menyimpulkan. Siwon tersenyum sinis merasa itu adalah pertanyaan bodoh yang tak harus ia jawab.

“Hyung!!!” tegur Jong Hyun meminta jawaban.

“Apa kau pikir hanya itu saja kesalahan mu? Apa kau tidak pernah memikirkan hal lain? Kau tidak tahu atau kau pura-pura  tidak tahu. Ah“` kau pura-pura tidak tahu kan? Hebat sekali sandiwara mu. Tapi tunggulah, kau akan segera mendapat balasannya”

Ting…

Pintu lift terbuka, Siwon menatap mata Jong Hyun sesaat lalu melangkahkan kakinya masuk ke dalam lift tanpa melepaskan tatapan tajamnya itu. Jong Hyun pun hanya bisa diam membisu melihat Siwon, memikirkan perkataan kakak tirinya itu yang terlalu sulit untuk ia artikan. Sampai akhirnya kakaknya itu hilang karena pintu lift semakin menutup rapat.

“Apa maksud mu Hyung?”

“Presdir” Tn Lee terperanjat kaget saat sebuah suara menyadarkannya dari lamuanan. Dia menolah pada asistennya yang tengah menatapnya bingung.

“Anda tidak apa-apa?” lanjut asisiten Kang khawatir.

Tn Lee mencoba untuk tersenyum meski senyum kaku yang keluar. “Aku tidak apa-apa, ayo kita pergi” ucap Tn Lee. Namun, sebelum pergi dia memandang sebentar Jong Hyun yang masih berdiri mematung di depan lift.

oOo

Soo Jung mendudukan dirinya di tengah-tengah kumpulan para penonton yang berteriak-teriak memanggil nama “Minho”  dan “Myungsoo” . Saat ini tengah terjadi pertandingan basket antara Tim Minho dan Tim Myungsoo. Pertandingan pun berlangsung ketat, saling kejar-kejaran point pun terjadi, tidak hanya itu banyaknya pelanggaran yang terjadi semakin menambah atmosfer pertandingan kian memanas.

Soo Jung segera berdiri sambil mengangkat banner saat Minho menggiring bola, tidak hanya Soo Jung saja tapi para pendukung Minho pun bersorak saat si kapten basket itu meliuk-meliuk mengelabui lawan.

“Minho! Choi Minho Hwaiting!!” teriak Soo Jung sekencang mungkin, meskipun suaranya tertelan oleh teriakan para yeoja lain yang lebih keras darinya.

Sementara itu di lapangan Minho semakin bersemangat untuk kembali mencetak ponit bagi Tim nya, saat Minho akan melempar bola tiba-tiba seseorang mendorong tubuhnya dari samping. Minho kehilangan keseimbangan dan brakk dia pun terjatuh. Semula aula yang terdengar riuh itu perlahan mulai hening saat Minho jatuh tersungkur sambil memegangi lutut sebelah kanannya.

“Minho-yaa gwanchanayo…Choi Minho” ujar Young Hwa yang merupakan teman satu Tim nya.

“Choi Minho”

“Akhh lutut ku” Minho mengerang sakit saat Young Hwa menyentuh lututnya.

“Sepertinya dia salah jatuh, cepat bawa dia keluar lapangan” titah Young Hwa pada teman-temannya.

Soo Jung menurunkan banner yang bertuliskan”Choi Minho Hwaiting!!” dengan lamah. Gadis itu kini terlihat khwatir melihat kondisi Minho yang sepertinya parah. Namun tiba-tiba tak sengaja Soo Jung melihat Myungsoo yang berdiri di bawah tiang ring, tiba-tiba mata gadis itu menajam melihat Myungsoo yang nampak santai setelah menambark Minho tadi. Soo Jung yakin, jika Myunsoo sengaja menambrak Minho agar timnya menang dalam pertandingan ini.

Soo Jung pun akhirnya memasukan banner itu kedalam tasnya lalu berlari dari kerumunan penonton untuk menemui Minho.

oOo

Siwon membuka pintu kedatangan coffee shop itu, dia langsung di sambut oleh seorang waiters yang terlihat kaget melihat kedatangannya.

“Tuan, anda?” belum sempat Yoona melanjutkan ucapannya Siwon sudah memotongnya.

“Aku pesan satu espresso” ujar Siwon lalu mendudukan dirinya. Sesaat Yoona terdiam, lalu menuliskan pesanan Siwon.

“Tunggu sebentar Tuan” setelah menulis pesanan Siwon, Yoona segera berbalik lalu pergi. Ekor mata Siwon yang sejak tadi mengawasinya membuat pria berlesung pipi itu menampakan senyum di bibirnya.

“Selamat menikmati”  ujar Yoona setelah meletakan secangkir espresso di meja Siwon. Yoona akan segera pergi namun pertanyaan Siwon menahannya.

“Apa kemeja ku sudah kering?” tanya Siwon lalu menyesap espressonya.

“Karena cuaca hari ini panas sepertinya kemeja anda sudah kering, oh Tuan apa luka di wajah anda tidak apa-apa?” tanya Yoona mengalihkan pembicaraan.

“Kalau aku jawab tidak apa-apa apa kau akan percaya?” tanya Siwon balik lalu sedikit menampakan sebuah senyum tipis di wajahnya.

“Tuan, saya benar-benar minta maaf. Seharusnya anda tidak usah menolong saya, maafkan saya tuan” ucap Yoona terdengar sangat menyesal. Beberapa kali dia membungkukan badannya pada Siwon sebagai permohonan maaf.

“Sudahlah lupakan, aku sudah pergi ke rumah sakit” jawab Siwon kembali tersenyum.

“Maaf tuan, saya harus kembali bekerja” Yoona buru-buru beranjak dari duduknya, namun sayang tangan Siwon keburu menahannya. Yoona kaget, dia melihat pergelangan tangannya yang di genggam Siwon.

“Aku sudah minta izin pada bos mu agar kau menamani ku disini” ujar Siwon tersenyum. Yoona tak bisa menolak, apalagi Siwon bilang jika dia sudah minta izin pada bosnya jadi mau tidak mau dia harus menemani Siwon.

Ternyata di luar dugaan Yoona, Siwon memintanya untuk berjalan-jalan di luar dengan alasan mencari udara segara. Pada awalnya Yoona sempat menolak, tapi karena dia mendapat persetujuan dari bosnya maka sudahah dia tak bisa berbuat apa-apa selain menerima ajakan Siwon.

Yoona menerima softdrink yang Siwon berikan padanya dengan perasaan aneh, Yoona masih berpikir kenapa pria ini ingin mengajaknya pergi? Namun segera Yoona singkirkan pikiran-pikiran buruk yang tiba-tiba menghantui dirinya.

“Ku dengar kau berasal dari Busan? Apa itu benar?” tanya Siwon. Yoona membulatkan matanya kaget lalu menoleh pada Siwon “Dari mana anda tahu?” tanya Yoona bingung.

Siwon tersenyum tipis “Dari bos mu” jawab Siwon bohong.

“Kebetulan aku kenal dengan bos mu” lanjut Siwon namun entah benar atau bohong. Yoona hanya menanggapinya dengan anggukan kepala tanda percaya. Yoona pun kembali membenarkan posisi duduknya, memandang genangan air di danau yang terlihat tenang, sambil merasakan angin yang bertiup pelan membuatnya terbuai dalam suasana. Hening pun terjadi, Siwon tak menyianyiakan kesempatan ini. Dia menolah memandang Yoona dari samping, Siwon sepertinya tengah mencari kebenaran jika benar perempuan yang kini duduk dengannya adalah Im Yoona yang dulu ia temui di Busan. Perempuan yang sangat membencinya karena sifatnya yang angkuh dan sombong.

“Im Yoona, aku adalah Choi Siwon. Apa kau masih mengingat ku?” batin Siwon dalam hati.

oOo

Sooyoung meletakan sebouqet bunga lili di atas sebuah pusara, setelah sebelumnya dia memanjatkan doa dalam hatinya. Angin yang berhembus pelan menerbangkan rambutnya yang terurai panjang, tanpa sadar Sooyoung menitikan air mata. Bukan angin yang membuat matanya berair, tapi Sooyoung kembali mengingat kenangan-kenangan manis saat bersama dengan orang yang sekarang sudah beristirahat dengan tenang.

“Eomma, aku merindukan mu” ujar Sooyoung serak di barengi dengan linangan air mata yang kembali terjun membasahi matanya.

“Maaf, aku baru mengunjungi mu” lanjut Sooyoung.

“Eomma, ku pikir dengan aku tinggal di luar negeri setidaknya aku bisa mengurangi kerinduan ku pada mu. Tapi ternyata tidak, malah aku semakin rindu pada mu. Eomma aku menyayangi mu, aku merindukan mu” Sooyoung kembali menitikan air mata kerinduan serta kesedihan yang tak dapat dia tahan, dia tumpahkan semua kesedihannya di depan makam sang ibunda tercinta yang telah tiada.

oOo

Setelah keluar sebentar dengan Siwon, Yoona kembali ke coffee shop untuk melanjutkan pekerjaannya. Kedatangannya langsung di sambut oleh Gyuri yang benar-benar penasaran setengah mati siapa pria yang mengajak Yoona keluar dan apa hubungan mereka sebenarnya. Yoona duduk di paksa Gyuri di ruang istirahat setelah sebelumnya Gyuri mengusir beberapa rekan kerjanya untuk pergi.

“Hai apa yang kau lakukan, ada apa dengan mu Gyuri-ah?” tanya Yoona memegang pergelangan tangannya yang sedikit merah akibat genggaman tangan Gyuri yang terlalu kuat.

“Siapa pria itu? Kenapa dia mengajak mu keluar? Apa kau mengenalnya? Makannya dari kemarin dia terus mencari mu?” cecar Gyuri dengan pertanyaannya yang cukup membuat Yoona bingung.

“Astaga, aku harus jawab pertanyaan mu yang mana dulu? Kau terlalu banyak bertanya” ujar Yoona pusing. Gyuri menghela nafas, benar apa kata Yoona dia terlalu banyak melontarkan banyak pertanyaan sehingga Yoona pusing akibat ulahnya.

“Baiklah, kalau begitu jawab dulu pertanyaan ku sekarang. Siapa pria itu?” tanya Gyuri.

“Dia orang yang sudah menolong ku” jawab Yoona. Satu alis Gyuri terangkat naik “Orang yang sudah menolong mu?” tanya Gyuri bingung.

“Aku lupa belum menceritakan kejadian semalam pada mu, jadi begini semalam saat aku pulang tiba-tiba ada dua orang preman. Aku hampir saja ditangkap mereka, tapi untungnya ada pria itu yang menolong ku” jawab Yoona menceritakan kejadian semalam kepada sang sahabat – Gyuri.

“Jadi pria itu yang menolong mu semalam?” tanya Gyuri masih belum yakin. Yoona hanya mengangguk menjawabnya.

“Pantas saja semalam dia terlihat mencemaskan mu” gumam Gyuri pelan tapi masih terdengar jelas oleh Yoona.

“Maksud mu? Tanya Yoona heran.

“Kemarin aku bilang kalau ada seorang pria yang bertanya pada ku apa di coffee shop ini ada nama Im Yoona, dan kau tahu siapa orangnya. Dia adalah pria itu” ujar Gyuri yang membuat Yoona tertegun sejenak memikirkan kata-katanya.

“Jadi dia sudah tahu nama ku sebelum dia menolong ku?” tanya Yoona bingung.

“Mungkin saja, oh yah dan tak lama setelah kau keluar dari coffee shop pria itu datang kemari. Aku pikir dia mau minum kopi ternyata dia malah menanyakan kau lagi. Ku rasa dia sudah mengetahui nama mu” ujar Gyuri lagi semakin membuat Yoona bingung.

“Dan satu lagi, saat aku menjawab jika kau sudah pulang sendiri dengan naik bus tiba-tiba wajahnya terlihat mencemaskan mu. Apa kau yakin tidak mengenal dia? Ku rasa jika memang pria itu belum mengenal mu mungkin dia tidak akan mencemaskan mu seperti mencemaskan seorang kekasih” lanjut Gyuri berpendapat. Yoona masih berpikir, apa benar yang dikatakan Gyuri itu? Tapi dia percaya jika Gyuri tak akan pernah berbohong padanya. Tiba-tiba Yoona ingat suatu hal, saat Siwon akan tak sadarkan diri semalam, Siwon menyebut namanya. Yoona yakin itu karena dia mndengar dengan telinganya sendiri jadi tak mungkin salah. “Siapa dia sebenarnya?”  batin Yoona.

“Oh Yoong apa kau tahu siapa nama pria itu?”

Yoona menoleh pada Gyuri, dia diam sesaat lalu menggelengkan kepalanya. “Molla, aku juga tidak bertanya siapa namanya. Tapi dia sudah tahu nama ku, bahkan dia tahu kalau aku berasal dari Busan” ujar Yoona. Gyuri membulatkan matanya kaget.

“Bahkan dia tahu kau berasal dari Busan? Kenapa bisa begitu?”

“Dia bilang dia tahu dari bos kita, aku jadi merasa aneh. Apa jangan-jangan dia orang yang ku kenal?” tanya Yoona pada Gyuri yang di jawab dengan kedua bahu Gyuri yang terangkat tanda tak tahu.

“Kalau begitu siapa dia?” gumam Yoona bingung.

oOo

Jong Hyun terlihat sibuk dengan pekerjaannya, semangatnya dalam bekerja mendapat pujian dari rekan-rekan kerjanya. Tapi bukan Jong Hyun namanya jika tidak merendah. Setiap kali di puji, pria tampan itu akan menjawab dengan merendahkan dirinya. Yah seperti itulah dia, sikapnya yang baik dan bersahaja membuat semua karyawan terkagum-kagum padanya.

“Jong Hyun-ssi kajja kita makan siang dulu…” ajak Junsu di ambang pintu.

Jong Hyun terlihat menimbang-nimbang ajakan rekan satu timnya itu, sebenarnya saat ini dia sedang terlena dengan pekerjaannya sehingga dia tak mau beristirahat meskipun untuk mengisi perutnya.

“Kajja, nanti bisa di teruskan” ajak Junsu lagi. Jong Hyun akhirnya mengangguk, lalu membereskan meja kerjanya yang berantakan. Setelah selesai, dia menghampiri Junsu yang sudah menunggunya.

Hanya beberapa menit setelah Jong Hyun dan Junsu keluar, seseorang tiba-tiba membuka pintu lalu masuk dan menutup pintu itu secara perlahan. Kaki panjangnya itu dia langkahkan menuju meja Jong Hyun, dia mulai mencari-cari sesuatu di atas meja berbentuk persegi panjang itu. Tak berapa lama, akhirnya dia sudah menemukan sebuah laporan yang baru saja Jong Hyun selesaikan. Laporan yang di cover dengan warna merah itu, adalah laporan keuangan untuk minggu ini yang akan Jong Hyun laporkan pada rapat besok. Orang itu, tersenyum penuh arti lalu memasukan laporan tersebut kedalam saku tuxedonya. Lalu dia kembali berjalan menutup pintu untuk segera keluar sebelum aksinya itu ketahuan.

oOo

Minho masih meringis kesakitaan saat Young Hwa memberikan sebuah krim di atas lututnya yang cedera.

“Sudah selesai…” ujar Young Hwa lega.

“Maafkan aku Young Hwa, gara-gara aku tim kita jadi kalah…” ucap Minho menyesal. Tapi Young Hwa malah menertawainya.

“Sudahlah, bukankah menang kalah itu hal biasa dalam pertandingan. Lagi pula wajarkan kalau kita kalah satu kali” ucap Young Hwa begitu bangganya. Minho yang semula tampak sedih kini kembali tersenyum mendengar candaan sahabatnya itu.

“Kalau begitu aku pergi dulu, Soo Jung kau bisa temani Minho kan?” tanya Young Hwa pada Soo Jung yang sejak tadi berada di samping Minho.

“Nde” jawab Soo Jung tersenyum.

“Oke, isirahatlah. Aku tinggal dulu…” ucap Young Hwa lalu pergi meninggalkan Minho dan Soo Jung di ruang ganti.

“Kau tidak apa-apa?” tanya Soo Jung khawatir. Minho tersenyum “Anio, lagi pula ini hanya cedera biasa saja. Kau tidak usah khawatir..” jawab Minho.

“Ini semua gara-gara Myungsoo, aku yakin dia pasti sengaja menambrak mu tadi supaya kau jatuh lalu cedera…” ucap Soo Jung mengambil kesimpulan, padahal bisa jadi ada alasan lain sehingga Myungsoo berbuat seperti itu.

“Hus!! Jangan berpikiran seperti itu, Myungsoo tidak mungkin melakukan hal seperti yang kau bilang” ujar Minho membela.

“Tapi itu kenyataan kan, Tim nya selalu kalah saat melawan Tim mu. Dia benar-benar licik” ucap Soo Jung. Gadis itu nampaknya sangat kesal atas perbuatan bodoh yang sudah Myungsoo lakukan pada Minho.

oOo

Yoona menyerahkan sebuah kantung plastik yang di dalamnya terdapat kemeja Siwon yang sudah di lipat dengan sangat rapi, dan sepertinya sudah ia setrika. Siwon menerimanya dengan senang hati dan tetap tak melupakan senyumannya.

“Terima kasih” ujar Siwon. Yoona hanya mengangguk.

“Terima kasih juga sudah mengantar ku pulang” ujar Yoona. Memang Siwon mengantar Yoona pulang malam ini, mungkin dia tak mau kejadian semalam kembali terulang lagi, karena itu akan sangat membahayakan bagi diri Yoona. Makannya, setelah pulang dari kantor Siwon kembali ke coffee shop untuk menjeput Yoona, dan Yoona rupanya tak keberatan sama sekali.

Mereka berdua sama-sama terdiam, Yoona tengah memikirkan kenapa Siwon bisa mengetahui namanya sebelum kejadian malam itu, dan apakah Siwon mengenal dirinya? Yoona berusaha mengingat-ngingat beberap teman prianya saat di Busan, tapi tak satu pun yang cocok dengan sosok Siwon.

“Emm maaf boleh aku bertanya sesuatu” ujar Yoona tiba-tiba. Siwon yang semula tengah sibuk dengan pikirannya kini menoleh padanya.

“Apa sebelumnya kita pernah bertemu?” tanya Yoona langsung. Siwon diam sejenak kemudian tersenyum tipis “Apa aku mengingatkan mu pada seseorang di masa lalu?” tanya Siwon balik.

“Ani, ani, hanya saja kenapa kau bisa tahu nama ku?” tanya Yoona menatap mata Siwon berharap pria itu akan segera menjawab agar rasa penasarannya tidak semakin besar.

“Oh itu, aku kebetulan pelanggan setiap coffee shop tempat mu bekerja. Bahkan sebelum kau bekerja disana aku sudah lebih dulu sering datang, jadi setidaknya aku tahu nama beberapa waiters di coffee shop itu” Jawab Siwon terdengar meyakinkan. Tapi malah aneh menurut Yoona,  mungkin itu masuk akal, tapi rasanya ada sesuatu yang mengganjal dari jawaban yang Siwon berikan padanya. Siwon melihat ekpresi wajah Yoona yang tampak mencuriganya, tapi bukan Siwon namnya jika tak pandai membalikan keadaan.

“Jika kau masih belum percaya, aku mengenal baik bos mu. Namanya Song Seung Hun kan?  Dia adalah sunbae ku saat kuliah London, kalau kau tidak percaya tanyakan saja padanya” ujar Siwon kali ini lebih meyakinkan.

“Benarkah, yah ku rasa juga begitu. Buktinya tadi ku lihat kalian sangat akrab sekali” jawab Yoona yang di angguki Siwon.

“Yoona-ssi ku rasa ini sudah malam, kalau begitu aku pulang dulu. Sampai jumpa” Siwon berpamitan pada Yoona lalu membalikan badannya berjalan menunggu mobil.

“Tuan” panggil Yoona, Siwon menghentikan langkah kakinya lalu menolah.

“Boleh aku tahu siapa nama mu?” tanya Yoona dan langsung membuat raut wajah Siwon terlihat kaku seketika.

“Nama ku?” tanya Siwon menunjuk dirinya sendiri.

“Nde, kau sudah tahu nama ku. Apa aku juga boleh tahu nama mu?”

“Apa itu penting? Jika seperti ini kau berharap ingin bertemu dengan ku lagi Yoona-ssi” ujar Siwon tersenyum. Namun entah kenapa Yoona kesal mendengar jawaban Siwon yang menurutnya kurang ajar.

“Kau benar, sepertinya aku salah menanyakan nama mu. Kalau begitu hati-hati dijalan, dan ku harap kita tidak bertemu lagi” ujar Yoona menahan kesal di dadanya lalu pergi meninggalkan Siwon yang masih mematung.

“Dan ku harap kita tidak bertemu lagi. Kau salah besar Im Yoona, kau sudah masuk dalam permainan ku mana mungkin aku akan melepaskan mu begitu saja” ujar Siwon tesenyum penuh makna.

oOo

Yoona masuk ke dalam rumahnya, lampu yang tergantung di atas langit-langit ternyata sudah menyala, menandakan jika sudah ada orang yang masuk sebelum dirinya. Yoona terlihat santai, tak merasa curiga atau aneh. Mungkin dia sudah bisa menebak jika bukan orang asinglah yang masuk ke dalam rumah kecil dan sederhananya ini. Dan benar saja, saat Yoona meletakan tasnya di atas sebuah meja yang terdapat di sudut ruangan seseorang keluar dari dalam dapur sambil membawa dua mangkuk mie ramen.

“Kebetulah kau sudah pulang, kajja kita makan bersama” ujar seorang lelaki tua. Sebenarnya, usianya belum mencapai 60 tahun, tapi karena lelaki itu bekerja sebagai seorang kuli bangunan yang tentunya menguras tenaga, maka lelaki tersebut terlihat lebih tua dari usianya.

Yoona mengangguk lalu duduk berhadapan dengan lelaki tersebut. Lelaki itu meletakan dua mangkuk mie ramen di atas meja berukuran persegi panjang.

“Hanya ini yang bisa Appa siapkan untuk mu, makanlah” ujar lelaki itu tersenyum hangat.

“Appa, ini semua sudah cukup untuk ku” ucap Yoona tersenyum lalu menagmbil sumpit dan mulai menyantap mie ramen masakan ayahnya itu.

Suasana berubah menjadi hening, Yoona dan Tn Im sibuk melahap makan malam sederhana mereka yaitu mie ramen. Tapi meskipun begitu mereka tetap mensyukurinya, karena bagi mereka tak ada salahnya mengisi perut kosong hanya dengan makan mie, dari pada tidak makan sama sekali.

Yoona menghentikan laju sumpit yang akan masuk ke dalam mulutya saat matanya tiba-tiba tak sengaja melihat tangan kanan sang ayah yang terluka.

“Appa, tangan mu kenapa?” tanya Yoona khawatir. Tn Im meletakan sumpitnya.

“Ini maksud mu?” tanya Tn Im tenang sambil menunjukan luka di tangan kanannya.

“Tidak apa-apa, tadi Appa tertimpa batu. Tapi tidak parah lukanya” lanjut Tn Im menampakan sebuah senyum tipis di wajah rentanya.

“Tidak parah bagaimana? Sudah jelas-jelas tangan Appa lecet, kenapa Appa selalu menganggap hal seperti ini sepele.” ucap Yoona bernada tinggi. Tapi meskipun begitu dia sangat merasa khawatir melihat kondisi ayahnya.

“Yoona-yaa…”

“Aku pergi dulu Appa” tiba-tiba Yona bangkit dari duduknya lalu menyambar tasnya yang tergeletak di atas meja.

“Kau mau kemana?” tanya Tn Im menyusul Yoona yang sudah berada di ambang pintu.

“Membeli krim anti luka, Appa tunggu di sini. Aku akan segera kembali” jawab Yoona sambil memakai sepatunya, setelah itu dia segera membuka pintu lalu pergi. Tn Im tak bisa mencegah, dia tahu betul sifat putrinya itu. Tak bisa di cegah, apalagi di larang.

oOo

Siwon keluar dari dalam lift seorang diri, setelah mengatar Yoona pulang dia kembali lagi ke kantor karena ada berkas yang harus ia selesaikan. Suasana kantor sudah sepi, beberapa lampu ruangan pun sudah di matikan. Tapi Siwon tahu jika tidak hanya dirinya yang berada di gedung ini, dan benar saja dugaan Siwon di arah lain suara teriakan Junsu terdengar di telinganya.

“Jong Hyun!!”

Siwon menghentikan kakinya saat mendengar suara tersebut, Siwon menoleh lalu melihat Junsu yang datang menghampiri Jong Hyun yang tengah berada di depan gedung.

“Besok ada rapat, kau sudah siapakan laporan itu?” itulah kalimat selanjutnya yang Siwon dengar, maklum saja jarak Siwon tak terlalu jauh sehingga dia bisa mendengar percakapan Junsu dan Jong Hyun.

“Tentu saja, tadi aku sudah menyelesaikan. Laporannya ada di dalam sini” Jong Hyun mengangkat tas hitam yang sedari tadi di genggamnya.

“Oh baguslah, aku hanya takut kau lupa. Oke, ayo kita pulang. Mobil mu di parkir di sana kan?”

Jong Hyun mengangguk saat Junsu menunjuk deretan mobil yang terparkir di halaman gedung.

“Kajja” lanjut Junsu lalu berjalan beriringan dengan Jong Hyun.

Tak jau dari mereka berdiri, Siwon tersenyum setelah mendengar percakapan antara Junsu dengan Jong Hyun, setelah itu dia kembali melangkahkan kakinya.

oOo

Sooyoung menyisir rambut lurusnya di depan sebuah cermin rias, dia terlihat asyik dengan aktivitasnya ini sehingga tak menyadari jika Ny Choi sudah masuk kedalam kamarnya.

“Kau sudah cantik putri ku” ujar Ny Choi menyentuh bahu Sooyoung. Sooyoung kaget tapi sedetik kemudian raut wajahnya berubah menjadi kesal.

“Yah Eomma mengagetkan ku saja, bagaimana kalau aku mati kena serangan jantung” protes Sooyoung lalu mempautkan bibirnya.

“Aishh mana mungkin itu terjadi, kau tidak punya riwayat penyakit jantung” balas Ny Choi tak mau kalah. Bibir Sooyoung malah semakin maju, hari ini ibunya sudah membuat moodnya hancur beberapa kali.

“Yak jangan memanyunkan bibir mu seperti itu, nanti putri Eomma jelek..” ucap Ny Choi lalu mencubit pipi Sooyoung gemas.

“Eomma…” erang Sooyoung semakin bertambah kesal saja pada ibunya ini.

“Sooyoung-ahh Eomma akan memberi tahu siapa lelaki yang akan Eomma kenalkan pada mu” bujuk Ny Choi, seketika saja wajah Sooyoung berubah. Dia tak terlihat marah lagi malah sekarang yang terlihat adalah sebah tanda tanya besar di wajahnya.

“Nuguya?” tanya Sooyoung begitu antusias.

“Kau tahu putra pertama keluarga Lee kan?” tanya Ny Choi berbasi-basi.

“Eomma marga Lee di Korea sangat banyak, mana aku tahu..” jawab Sooyoung lalu melipat kedua tangannya.

“Hahah baiklah…baiklah…Eomma baru sadar putri Eomma yang cantik ini sangat tidak suka berbasa-basi” Ny Choi malah terkikik geli meihat ekspresi putrinya itu.

“Ya sudah cepat katakan Eomma” jawab Sooyoung pura-pura tak perduli lagi.

“Dia adalah…Lee Siwon..”

“Oh jadi namanya Lee Siwon” ujar Sooyoung nampak belum menyadari sesuatu hal.

“Lee Siwon? Nama yang bagus, Lee Siwon. LEE SIWON?? Sooyoung membulatkan matanya setelah beberapa kali menyebut nama “Lee Siwon” sepertinya dia baru menyadari sesuatu hal.

“Siapa Eomma bilang?” ulang Sooyoung masih ragu dengan pendengarannya.

“Lee – Si – Won” ujar Ny Choi mengeja nama Siwon.

“Jinjjayo?” tanya Sooyoung tak percaya.

“Nde, kemarin malam Eomma sudah bertemu dengan ibunya. Dan dia setuju putranya di jodohkan dengan mu Sooyoung-ahh” ucap Ny Choi yang entah mengapa membuat raut wajah Sooyoung benar-benar terlihat begitu bahagia.

“Eomma gomawo”ucap Sooyoung tersenyum bahagia lalu memeluk Ny Choi begitu erat.

“Eomma tahu kau pasti tahu Siwon, dan Eomma juga tahu kau pasti akan menyukainya. Tenanglah putri ku sebenatar lagi dia akan menjadi miik mu. Percayalah pada Eomma…” bisik Ny Choi sambil membelai surat panjang Sooyoung begitu lembut. Sementara itu, Sooyong tersenyum bahagia di pundak Ny Choi. “Lee Siwon? Oh Tuhan ini bukan mimpi kan, akhirnya aku bisa bertemu dia lagi bahkan aku akan di jodohkan dengannya ” batin Sooyoung bahagia.

oOo

Setelah memberitahu jika Siwon – lah yang akan di kenalkan padanya, Ny Choi pun mengajak Sooyoung ke sebuah butik langgangan mereka. Membeli baju untuk menghadiri acara perjodohan, meskipun belum di tentukan kapan waktunya. Tapi, Ny Choi ingin memberikan yang terbaik untuk putri kesayangannya, Choi Sooyoung.

Sudah hampir sepuluh pakaian yang Sooyoung coba tapi tak ada satupun yang cocok menurut Ny Choi, Sooyoung terlihat sudah kesal karena semua baju yang di rekomendasikan oleh ibunya tak ada satu pun yang cocok di tubuhnya. Sampai akhirnya, Ny Choi memberikan sebuah gaun berwarna merah pada Sooyoung. Awalnya Sooyoung nampak ragu untuk mencobanya, pasalnya gaun tersebut mengekspos bagian punggungnya. Sooyoung sempat menolak, tapi apa daya Ny Choi tetap bersihkukuh agar Sooyoung mau mencobanya. Sooyoung pasrah, akhirnya dengan langkah malas dia pun kembali masuk kedalam kamar Pass untuk mencoba gaun tersebut.

oOo

Yoona keluar dari sebuah apotik dengan membawa sebuah kantung plastik berwarna putih di tangan kanannya, kemudian dia berjalan menuju halte bus yang lumayan cukup jauh untuk di tempuh dengan jalan kaki. Sebenarnya bisa saja Yoona naik taxi, tapi karena dia tak niat saja. Entah apa alasannya, mungkin masalah biaya yang mahal bila di bandingkan naik bus? Bisa jadi itulah alasan Yoona kenapa tak mau naik taxi, lebih baik naik bus yang murah walaupun harus menguras tenaga dulu dengan berjalan kaki untuk menuju halte. Mungkin seperti itulah pikiran Yoona.

Yoona berjalan di tengah-tengah kerumunan orang-orang yang berlalu lalang di malam hari, seperti inilah Seoul jika malam hari. Selalu penuh dengan muda mudi, maupun orang dewasa yang menghabiskan waktu mereka bersama. Tak hanya itu saja, kendaraan-kendaran yang tersebar di hampir semua jalanan kota Seoul semakin menambah keramaian, di tambah dengan lampu-lampu mobil yang menyala. Kota Seoul, kota yang tidak pernah mati. Meski larut malam sudah menanti.

Yoona tersenyum melihat dua orang remaja yang berjalan sambil bergandengan tangan, layaknya sepasang kekasih yang tengah di mabuk asmara. Mereka tak perduli jika puluhan pasang mata tengah memperhatikan setiap gerak-gerik mereka, mungkin bagi mereka dunia serasa milik berdua saat ini.

Lalu Yoona melihat lagi segerombolan remaja SMA yang sepertinya baru pulang Les, meskipun wajah lelah sangat terlihat tapi mereka tetap ceria bahkan tertawa saat teman mereka melontarkan banyolan-banyolan yang dapat mengocok perut. Yoona tersenyum, dia kembali teringat masa-masa SMAnya saat di Busan. Yah kira-kira seperti itulah, pulang malam karena les. Setelah pulang Les pergi jalan-jalan untuk menyegerkan kembali otak, lalu pulang – tidur – bangun pagi dan kembali belajar di sekolah. Pada waktu itu memang Yoona merasakan jenuh, setiap hari harus berhadapan dengan buku-buku mata pelajaran. Apalagi saat akan menghadapi ujian, mungkin tak ada istirahanya untuk belajar. Tapi Yoona menyadari jika masa SMA itu hanya akan terjadi sekali dalam seumur hidup, maka pantas saja saat melihat reman-remaja SMA itu Yoona jadi merindukan lagi seragama SMA-nya, terutama Yoona sangat meridukan masa-masa saat masih berstatus sebagai pelajar SMA.

Yoona tersadar dari lamunannya, dia kembali melangkahkan kakinya berjalan di kerumunan orang-orang menuju halte bus yang masih cukup jauh.

oOo

Sooyoung perlahan keluar dari dalam kamar Pass, gaun berwarna merah kini sudah ia kenakan. Cantik. Yah dia cantik, tubuhnya yang semampai membuat dia terlihat anggun. Ny Choi melebarkan senyumannya tak kala putri kesayangannya itu muncul dengan rona merah di pipinya. Maklum saja, gaun yang Sooyoung kenakan memang mengekpos punggung indahnya. Meskipun Sooyoung pernah tinggal di London, tapi rupanya dia tidak terbiasa dengan pakaian yang sedikit sexy.

“Eomma apa gaun ini tidak terlalu mengekpos punggung ku?” rengek Sooyoung memelas. Ny Choi tersenyum lalu mengelus pipi Sooyoung “Kau cantik sayang, Siwon pasti akan jatuh cinta pada mu” ucap Ny Choi yang langsung membuat semberaut merah terlihat di pipi Sooyoung.

“Eomma”

“Kau memang cantik, pelayan aku ambil ini saja..” ujar Ny Choi pada seorang pelayan wanita yang berdiri di belakangnya.

“Baik Nyonya”

Sebelum masuk lagi kedalam kamar pass Sooyoung kembali memasang wajah memelas, memohon agar ibunya tak membelikan gaun ini untuknya. Seakan mengerti, Ny Choi pun menggelengkan kepalanya. Sooyoung membuang nafas, lalu masuk lagi ke dalam kamar pass dengan wajah yang di tekuk.

oOo

Yoona masih berjalan menuju halte bus, langkah kakinya sangat santai. Yoona seakan ingin menikmati suasana malam kota Seoul yang makin malam makin ramai. Sebenarnya jarang sekali Yoona melakukan ini, karena biasanya jam segini dia masih berkutat di coffee shop. Tapi untuk hari ini dia tidak ada lembur jadi bisa pulang lebih sore.

Yoona menghentikan langkah kakinya di depan sebuah butik, melihat beberapa perempuan di dalam sana yang tengah asyik memilih-milih baju, tas, maupun sepatu yang di yakini berharga jutaan won. Yoona tersenyum perih, dia iri. Bagaimana pun juga Yoona adalah seorang wanita, dia ingin merasakan seperti itu. Namun  keadaan yang tidak memungkinkan. Jangankan untuk membeli baju, sepatu ataupun tas yang harganya di taksir jutaan won. Untuk makan sehari-hari saja Yoona harus membanting tulang terlebih dahulu.

Yoona mengalihkan pandangannya pada sebuah gaun cantik berwarna pink yang di pajang di dekat kaca. Gaun yang indah. Batin Yoona. Tak di pungkiri, Yoona pun menginginkan gaun itu. Tapi segera ia jauhkan angan-angan yang sampai kapanpun tak akan pernah menjadi kenyataan.

“Eomma, aku tidak mau memakai gaun itu…” Yoona mengalihkan matanya pada seorang gadis yang tengah merengek pada ibunya. Mereka berdua baru saja keluar dari dalam butik itu.

“Sooyoung-ah, gaun itu sudah cocok untuk mu. Kau tampak cantik memakainya sayang.” jawab sang ibu santai sama sekali tak memperdulikan rengekan putrinya itu.

“Eomma..jebal. Aku tidak mau memakai gaun itu….” rengek Sooyoung untuk kesekian kalinya.

“Sooyoung-ahh percayalah pada Eomma…kau cantik mengenakan gaun itu. Siwon pasti akan langsung jatuh cinta pada mu. Percayalah..” ujar Ny Choi merayu sang putri kesayangan.

“Eomma!!!” panggil seseorang tepat di belakang Ny Choi. Ny Choi menghentikan langkah kakinya yang juga dikuti Sooyoung.

“Eomma!!” kembali panggilan itu terdengar di telinga Ny Choi, Ny Choi terdiam sesaat lalu menoleh kebelakang.

Deg….

Tiba-tiba wajah Ny Choi yang semula tampak cerah, kini berubah menjadi kaget dan memerah. Bahkan paper bag yang ia pegang pun terlepas dari kedua tangannya. Sooyoung mengikuti arah pandang ibunya. Di ujung sana, terlihat seorang gadis yang tengah memandang ibunya dengan mata yang berkaca-kaca. Sooyoung mengerutkan keningnya, merasa heran siapa gadis itu? Dan kenapa dia memanggil Ny Choi “Eomma”?

“Siapa dia Eomma?” tanya Sooyoung menatap Ny Choi bingung. Ny Choi masih belum menjawab, dia seperti tidak mendengar pertanyaan Sooyoung karena tengah kalut melihat seorang gadis yang menatapnya dengan mata berkaca-kaca.

“Eomma” panggil gadisitu lagi kini dengan suara yang serak. Kembali wajah tegang sekaligus ketakutan terlihat dengan jelas di wajah Ny Choi.

“Eomma, siapa dia? Kenapa dia memanggil mu seperti itu?” kini suara Sooyoung makin meninggi, kesal karena ibunya tadi tak menjawab pertanyaannya tapi malah terus menatap gadis yang sama sekali tak ia kenal.

“Dia…” Kalimat Ny Choi tertahan, dia merasakan tenggorokannya tercekat oleh sesuatu sehingga sulit baginya untuk bersuara bahkan untuk mengambil nafas pun rasanya tak bisa ia lakukan saat ini.

“Eomma tidak tahu dan Eomma tidak mengenalnya.” jawab Ny Choi setelah jeda cukup lama. Lalu mengambil kembali paper bag yang jatuh tadi setelah itu menarik tangan Sooyoung untuk pergi.

Kaki dan lutut Yoona lemas seketika, dia tak bisa lagi menopang tubuhnya sendiri. Sampai akhirnya Yoona pun terkulai dan jatuh di atas aspal hitam. Perlahan namun pasti tetesan krystal itu meluncur deras dari kedua matanya seiring dengan rasa sakit dan sesak yang ia rasakan di dadanya. Yoona tak bisa mengontrol lagi emosinya, rasa benci bercampur rindu berkecamuk dalam dirinya. Apalagi setelah menyaksikan dengan mata kepala sendiri, setelah mendengar dengan telinga sendiri jika wanita yang sudah melahirkannya ke dunia ini sama sekali tak mengakui dirinya sebagai putri kandung.

Tik tik tik….

Tetesan air dari langit membasahi tangan Yoona, semakin lama semakin lebat. Semua orang yang semula berjalan santai, tiba-tiba berlomba-lomba mencari tempat yang teduh untuk melindungi diri dari hujan. Tapi tidak dengan Yoona, dia masih duduk terkulai di jalan. Menangisi nasib dirinya yang malang, menangisi kehidupannya yang terlalu sakit. Hujan? Yoona tak perduli, yang pasti dia ingin meluapkan semua rasa yang berkecamuk dalam dirinya dengan menangis.

“Eomma…eomma…” lirihYoona terdengar perih melihat mobil yang di naiki Ny Choi perlahan mulai menghilang di balik air hujan yang kian lebat.

oOo

To Be Countinued

oOo

Akhirnya setelah menghilang dari dunia perff-an selama bulan ramadhan, saya hadir kembali dengan membawa FF ini, bagaimana? Sebelumnya saya minta maaf atas keterlambatan ff ini, jujur udah lama banget chapter 3 ini jadi tapi males ngedit ditambah bulan puasa kan jadi bawaannya pengen tidur kkkk….eh kalau nemu typo maaf yah. Saya udh edit berapa kali tapi gak tahu deh pusing soalnya.kkkkkk

Chapter 3 ini saya aku masih belum banyak YoonWon moment, dan please jangan ada yang protes!!!!! Saya janji bakal bikin YoonWon moment dichapter-chapter selanjutnya, saya pengen ceritanya bertahap gak mungkin kan langsung jlebbbb ada YoonWon moment? Jadi tolong bersabar dan tetap nantikan ff ini *modussss* karena bakal ada YoonWon moment yang gimana gitu, *HaHa gak janti tapi kkk*

Buat Nited yang menunggu FF The Hidden Couple chapter 3/end yang aku publish di blog pribadi, udah jadi ko bener deh!!! Serius ini, tinggal di posting tapi nanti yah aku nunggu time yang tepat.

Dan silahkan waktunya memberikan komentar kalian tentang chapter ini, seperti biasa aku berharap nited memberikan pendapat kalian terserah mau apapun itu yang penting dapat membangun semangat ku dalam pembuatan chapter 4 dan bisa membuatku intropeksi dimana kesalahan-kesalahan ku. Sedikit bocoran aja, chapter 4 udah ada tinggal di edit-edit lagi…nah kalau respon chapter ini tetap bagus, chapter 4 akan segera keluar. Buat kak echa sama resty makasih banyak udah post ff ku. Buat Nited juga makasih sudah bersabar menantikan ff ku.

Karena sebentar lagi idul fitri sekalian saya mengucapkan minal aidzin walfaidzin mohon maaf lahir dan batin, kepada dua admin YWK yang senantiasa mempublish ff ku dan selalu ku repotkan maaf yah kak echa dan resty hehehhe dan semua NITED maaf jika saya pernah melakukan kesalahan baik di sengaja atau tidak di sengaja 🙂 (minal aidzin wal faidzin ^^ )

Sampai berjumpa di chapter 4 annyeong *Bow..

Tinggalkan komentar

332 Komentar

  1. Trnyata siwon yg nolongin yoona… Dan kejadiannya sama kaya waktu mrka kecil… Ntah ini takdir atau apa… Trus.,,aku masih bngung sama 1 hal.,, knpa Siwon bnci bgt sama Jong hyun.,pdahal Jong hyun itu baik bgt sama dia… Dan.,,ada misteri apa sih dibalik kematian ayah kandung Siwon..,?? Huh.,,… Semangat bwt authornya… Fighting.,fighting.,fighting…

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: