[FF] My Silly Engagement (Chapter 9)

Image

Author : misskangen ‖ Length : Sequel ‖ Genre : Romance ‖ Rating : General ‖ Main cast : Im Yoona, Choi Siwon ‖ Support cast : Lee Donghae, Byun Baekhyun, Kwon Yuri , Im Seulong, Han Young Ran (OC) ‖ Disclaimer : This story is mine instead of the plot and characteristics, but the casts are belong to themselves and god. Please don’t do plagiarism or bash anything from the story and sorry for undetection typo(s).

MY SILLY ENGAGEMENT : CHAPTER 9

Empat orang yang saling terkait dalam satu kondisi yang membingungkan masih larut dalam pikiran mereka masing-masing. Donghae, Siwon, Yoona, dan Young Ran masih berdiri di depan pintu ruang kerja Siwon, disaksikan oleh seorang sekretaris yang terdiam karena sama sekali tidak tahu harus berbuat apa.

Yoona menatap kesal pada Young Ran – wanita yang baru saja menjadi ‘sparing partner’ dalam adu jotos yang membuat keduanya masih terus mengibarkan bendera perang sejak pertemuan pertama di Cassino beberapa bulan yang lalu. Yoona merasa kesal bukan hanya karena Young Ran telah membuatnya emosi dan berkelahi seperti wanita yang tidak punya etika di depan orang-orang yang seharusnya selalu menilai Yoona sebagai gadis lembut dan santun, bukannya bertindak seperti brandalan yang tak tahu aturan. Ditambah dengan kenyataan Siwon yang lebih memilih menarik dan menenangkan Young Ran dibanding dirinya sendiri membuat Yoona semakin ingin menendang wanita itu jauh-jauh dari tunangannya. Kekesalannya itu bahkan membuat Yoona tidak mempedulikan penampilannya yang acak-acakan dan sungguh kacau akibat pergumulan singkat dengan Young Ran hingga terdengar suara Donghae yang berusaha membujuknya untuk tenang dan membuyarkan makian dalam hatinya.

“Yoong, apa yang sudah kau lakukan dengan wanita itu? Lihatlah kau mengerikan sekali! Rambutmu acak-acakan, bajumu kusut dan sedikit robek, lalu…” Donghae mengelus rambut Yoona, mencoba merapikan dengan tangannya. Donghae menginentarisir sekujur tubuh Yoona termasuk kemeja lengan pendek yang dipakai Yoona yang terlihat robek di bagian bahu kiri. Pandangan Donghae berhenti pada lengan Yoona yang terdapat garis-garis luka memerah akibat cakaran yang Donghae yakin itu adalah perbuatan Young Ran. “… ya ampun kau lihat lenganmu terdapat luka cakaran seperti ini. Sebaiknya segera kita obati, aku khawatir kau terkena tetanus nantinya.”

Yoona sempat melongo dengan perhatian yang diberikan Donghae. Terasa begitu menyenangkan hingga ia melupakan bahwa ada Siwon juga disana. Kalimat terakhir Donghae membuat Yoona melirik Young Ran sebentar, lalu menahan senyum karena ekspresi tidak senang di wajah wanita itu setelah dianggap sebagai makhluk yang bisa membuat orang terkena tetanus. Yoona memasang wajah cemberut yang manja untuk menanggapi Donghae, “Hah, kau benar Oppa! Aku takut terkena tetanus, pasti kukunya tidak pernah dibersihkan sehingga banyak kuman bersarang disana. Dan… oh Tuhan, aku baru sadar kalau penampilanku berantakan sekali!” pekik Yoona sedikit berlebihan, karena sesungguhnya Yoona ingin menggoda Young Ran hingga wanita itu terpancing lagi emosinya.

Yoona dan Donghae sama sekali tidak menyadari bahwa ada satu orang yang sedari tadi diam dan memandang mereka dengan nanar dan penuh tanya. Siwon, matanya lurus tetancap pada dua orang di depannya yang bersikap begitu cuek dan bercengkerama dengan begitu mudah layaknya dua orang yang sedang bermanja-manja tanpa memperhatikan keadaan sekitar. Bahkan keduanya seperti menganggap tidak ada orang lain disana, terutama dirinya yang merasa mendapat kejutan besar dari kejadian itu.

“Ah, Oppa aku kesal sekali, kalau bukan karena wanita sok modis itu aku tidak akan jadi seperti ini!” keluh Yoona lagi dengan nada manja yang dibalas senyuman oleh Donghae sembari mengacak pelan kepala Yoona. Young Ran menyipitkan matanya, lalu menghentakkan kakinya kesal.

“Oppa, kau dengar tadi kan? Wanita manja itu mengata-ngatai aku. Padahal ini semua terjadi karena wanita kasar yang tidak tahu sopan santun itu!” Young Ran melancarkan aksinya untuk menarik perhatian Siwon dengan mengguncang tubuh kaku pria itu. Sementara Siwon sendiri tidak bergeming dari posisinya yang masih memandang tak senang pada Yoona dan Donghae. “Oppa, coba kau lihat! Lenganku juga penuh goresan karena cakaran wanita gila itu!”

Siwon tersentak dengan perkataan Young Ran lalu menoleh dan menatap tajam wanita itu. “Tutup mulutmu Young Ran. Jangan sembarangan mengatai tunanganku gila. Kau lah yang pantas disebut seperti itu!” ujar Siwon tajam. Young Ran kaget dan menganga. Di sisi lain Yoona dan Donghae juga turut melongo mendengar bentakan Siwon pada Young Ran. “Sebaiknya kau pergi dari sini sekarang. Kau sungguh membuatku muak!”

“Tapi Oppa…”

“Kau tunggu apa lagi? Apa perlu kupanggilkan security untuk menyeretmu dari sini?”

Young Ran cemberut, lalu dengan kesal menghentakkan kakinya ke lantai. “Arraso..tidak perlu memanggil security! Aku akan pergi, tapi aku akan membalas semua ini!” omel Young Ran dan melirik Yoona penuh kebencian. Lalu wanita itu pergi dari tempat itu dan meninggalkan tiga orang yang kini mulai kikuk dengan keadaan di sekitar mereka.

“Siwon-ah, tadi aku mendengarmu menyebut soal tunangan. Apa yang kau maksud adalah—“ Donghae membuka suara, menanyakan pada Siwon tentang hal yang terucap dari mulut Siwon saat pria itu dengan lantang mengucapkannya dan menyudutkan Young Ran.

“Ya, gadis yang ada di sampingmu itu adalah tunanganku, Hae-ah!” jawab Siwon datar. Donghae menoleh pada Yoona yang sedang menatap kosong, dan tatapan itu terarah pada Siwon. Yoona berusaha menelan salivanya dengan susah payah. Wajahnya pun kini memucat setelah menyadari bahwa Siwon dan Donghae adalah dua orang yang saling mengenal.

Keheningan menyelimuti ketiga orang itu. Satu sama lain saling tatap dalam diam. Apalagi Yoona yang merasa terjebak di tengah-tengah ranjau darat, hingga ia sendiri tak tahu harus bagaimana keluar dari situasi itu.

“Yoong, benarkah Siwon adalah tunanganmu?” tanya Donghae yang membuat Yoona tersentak.

“Hah? Oh, itu… itu benar, Oppa.” Jawab Yoona gagap tetapi tak berani melihat wajah Donghae. “Mianhae…” bisik Yoona selanjutnya. Donghae pun kembali terdiam. Ia tidak tahu ingin bereaksi seperti apa pada Siwon bila keadaannya seperti ini.

Siwon berdehem memecah kesunyian di antara mereka. “Jadi kalian saling mengenal? Sepertinya akrab sekali…” dengan tenang Siwon mengucapkannya, membuat Yoona dan Donghae sedikit tercengang. “Apa kalian punya hubungan spesial?”

Yoona meringis mendengar pertanyaan Siwon. Hubungan spesial? Entahlah, yang jelas Yoona dan Donghae memang akrab dan satu sama lain sudah mengetahui perasaan masing-masing. Tetapi mereka belum resmi menjalin hubungan sebagai pasangan kekasih, walau keduanya berharap bisa melakukannya.

“Hei, mengapa kalian diam saja? Benarkah tebakanku kalau kalian punya hubungan khusus yang tidak kuketahui?” tanya Siwon lagi, masih dengan nada tenangnya. Tidak ada seorangpun yang menjawab. Walau Donghae sedang mempersiapkan kata-katanya, tetapi ia masih ragu untuk mengungkapkannya pada Siwon. “Yoona-yah, kau tampak pucat. Kau baik-baik saja kan? Sebaiknya kita masuk ke dalam ruanganku. Sangat tidak nyaman berada disini dan menjadi tontonan orang, bukan?”

Ketiga orang itupun memasuki ruang kerja Siwon. Yoona melangkahkan kakinya dengan begitu berat, tahu bahwa ia sedang memasuki sidang yang akan mengadili sikap dan perasaannya. Yoona berpikir keras bagaimana ia bisa memberikan pembelaan diri maupun alibi yang kuat untuk menghindari kemarahan Siwon, jika pria itu tahu hubungannya dengan Donghae.

“Aku juga tidak menyangka kalau kalian saling mengenal. Ini benar-benar kejutan!” Yoona memaksa tersenyum sekaligus memasang wajah takjub. Padahal Yoona sangat bingung menentukan sikapnya di antara mereka.

“Tentu saja, Donghae dan aku sudah bersahabat sejak lama. Hanya saja aku tidak pernah tahu kalau kalian saling mengenal dan kelihatan cukup mesra.” Siwon menekan kata mesra dan sukse membuat Yoona sesak napas. “Lalu ada hubungan apa di antara kalian?” tanya Siwon lagi penuh kecurigaan.

Donghae ingin menginterupsi pertanyaan Siwon karena ia tahu bahwa Yoona semakin tersudut melihat ekspresi ngeri yang diperlihatkan wanita itu. Apalagi Siwon menatap lurus dan tajam pada Yoona, seperti hendak menelannya.

“Oh, Donghae Oppa itu adalah… dia adalah…” Yoona begitu gugup dan bingung ingin memberikan jawaban apa pada Siwon.

“Donghae itu kekasihmu kan?” potong Siwon. Donghae dan Yoona berbalik menatap horor pada Siwon. “Maksudku, Donghae adalah kekasihmu yang sebenarnya. Pria yang selama ini kau sebut sebagai lelaki idaman. Bukannya seorang Byun Baekhyun yang kekanakkan…”

“Siwon-ah!” tegur Donghae. “Kau berpikir terlalu jauh. Aku dan Yoona memang dekat, tapi kami bukan pasangan kekasih.”

“Tapi Yoona adalah wanita yang kau cintai itu kan, Hae-ah? Wanita yang selama ini ingin kau rebut hatinya setelah sekian lama memendam perasaan?” sindiran Siwon membuat Donghae tak berkutik. Bukannya Donghae tidak ingin membela diri, tetapi semua yang dikatakan Siwon itu adalah kebenaran.

“Tapi sepertinya sayang sekali, karena langkahmu tersendat. Sebab wanita itu adalah tunanganku dan kita sudah terjebak untuk mencintai wanita yang sama.”

Yoona merasakan aura ketegangan yang tersebar di seluruh ruangan itu. Dan apa yang dikatakan Siwon tadi? Dua orang yang bersahabat mencintai wanita yang sama, yaitu dirinya. Yoona tahu persis bagaimana perasaan Donghae padanya, tapi lain dengan Siwon. Selama ini Yoona tahu bahwa Siwon tertarik padanya dan menyukainya, namun untuk pernyataan cinta itu Yoona tak pernah menganggapnya serius – tak ingin menganggap serius adalah hal yang lebih tepat.

Eothokke? Aku sudah menyebabkan kekacauan disini. Apa yang harus kulakukan. Ayo Yoona, berpikir… berpikir!!!” kata Yoona dalam hati. Tiba-tiba satu ide datang ke kepala Yoona, sekilas ia tersenyum licik kemudian sesuatu terjadi dan membuat semua perhatian tertuju padanya.

BRUKKK!!!!

“Yoona…!!”

“Yoong…!!”

~oOo~

“Mwo??!!” serempak dua orang gadis memekik kaget setelah mendengar cerita panjang lebar dari Yoona. Hyeri dan Seohyun menatap Yoona tak percaya dengan apa yang sudah terjadi kemarin hingga membuat temannya itu harus meringkuk di atas ranjang seperti saat ini. Yoona masih betah mengeram di ranjangnya karena saat ini mood nya untuk pergi ke luar benar-benar buruk. Apalagi bila harus mengingat kejadian yang mempertemukan dirinya dengan  Donghae dan Siwon sehingga terkuak sebuah kenyataan yang sesungguhnya sangat tidak diharapkannya.

“Jadi Pengacara Lee dan tunanganmu itu bersahabat?” tanya Seohyun dijawab anggukan oleh Yoona dengan raut wajah polos.

“Dan mereka berdua sama-sama menyukaimu. Kabar buruknya kau dan kedua orang itu sama sekali tidak pernah tahu keterkaitan di antara kalian!” tambah Hyeri dan lagi-lagi Yoona mengangguk, kali ini air mukanya tampak hopeless.

It’s bad! Really.. Really Bad!!” koor Seohyun dan Hyeri membuat wajah Yoona semakin cemberut. Dengan kesal Yoona memukul kedua temannya dengan bantal.

“Lalu, bagaimana kejadian itu bisa berakhir? Aku yakin situasinya pasti menegangkan!” Seohyun melipat dadanya, memasang wajah sok bijak.

“Ya, kau benar. Benar-benar menengangkan! Aku sampai harus berpura-pura pingsan agar dua pria itu menghentikan adu argumen mereka.” Sejenak keheningan terjadi, lalu Seohyun dan Hyeri tertawa terbahak-bahak. “Hey… mengapa kalian menertawaiku?”

“Yoona-yah, kau ini selalu bisa menghindari situasi pelik begitu. Tapi kali ini kau pura-pura pingsan? Ya ampun… aku rasa kau benar-benar kehabisan akal untuk melarikan diri.” Ejekan Seohyun membuat Yoona manyun.

“Kalian saja yang tidak tahu betapa menakutkannya kedua orang itu di mataku pada saat yang sama. Aku memang tidak tahu harus berbuat apa lagi, jadi ya aku pura-pura pingsan saja!” kilah Yoona.

“Lalu, siapa yang mengantarmu pulang setelah itu?” tanya Hyeri.

Yoona menghela napas kasar sembari mengingat-ingat kejadian itu. “Siapa lagi kalau bukan Siwon Oppa. Aku masih jelas mendengar kata-kata dinginnya yang melarang Donghae Oppa untuk menyentuh tubuhku yang sedang pingsan saat itu.”

“Aigoo.. itu pasti sangat tidak menyenangkan. Aku tahu pasti kalau kau berharap Pengacara Lee yang menggendongmu, kan?” lanjut Hyeri.

“Tidak juga.”

“Maksudmu?”

“Maksudku, ada baiknya kalau Siwon Oppa yang mengantarku pulang. Dengan mulut manis dan sejuta alasan yang dimilikinya, orang itu berhasil meyakinkan Eomma bahwa aku baik-baik saja bila melihat kondisi tubuhku yang kacau dan penuh cakaran. Bahkan Eomma membiarkannya membawaku sampai ke kamar ini. Benar-benar membuat kesal!”

“Aku tidak yakin kau merasa kesal. Bukankah tunanganmu itu pria yang sangat romantis. Buktinya kau masih betah memeluk Rilakkuma darinya.” Seohyun mencibir, mengejek Yoona yang tanpa sadar sedari tadi memeluk Rilakkuma berukuran jumbo yang dihadiahkan Siwon padanya. Yoona tersentak lalu segera menyingkirkan boneka itu dari pelukannya.

“Kata siapa dia pria romantis? Boneka ini memang bagus dan ukurannya yang besar memang menyenangkan untuk dijadikan bantal tidur!” gerutu Yoona dengan wajah merona malu.

“Cih, sudah ketahuan memiliki perasaan pada Choi Siwon masih saja berkilah! Memangnya kau tidak menyadari perasaanmu padanya? Aku merasa kau sudah jatuh cinta padanya..”

“Perasaanku pada Siwon? Entahlah.. aku tidak tahu. Kemarin saja aku sempat terkejut waktu dia mengatakan pada Donghae bahwa mereka mencintai wanita yang sama, mencintaiku. Sejak kapan dia pernah bilang cinta padaku?”

“Mana kami tahu kapan Siwon bilang cinta padamu! Kau saja yang kadang suka lupa. Mungkin saja selama ini perhatian yang ditunjukkan orang itu mengisyaratkan bahwa ia mencintaimu. Sekarang tinggal kau yang harus menyelesaikan konflik antara dua orang sahabat yang sama-sama memperebutkan hatimu!” nasehat Seohyun.

“lalu bagaimana caranya?”

Seohyun menepuk dahinya pelan, sementara Hyeri memutar bola matanya menanggapi respon Yoona yang terlalu polos itu.

“Tentu saja kau harus menentukan sikapmu dan mengambil keputusan siapa yang kau pilih untuk sepenuhnya memiliki hatimu!” ujar Seohyun.

“Aku tidak tahu apakah aku bisa mengambil keputusan secepat mungkin. Arrgghhh… ini benar-benar dilema!!” pekik Yoona mengacak rambutnya hingga terlihat sedikit kusut.

~oOo~

Dua orang pria tampan duduk berhadapan dalam keheningan. Tidak biasanya seperti itu, yang lebih nyata untuk sebuah kebiasaan yang mereka lakukan adalah obrolan panjang lebar dan candaan ringan yang membuat siapapun yang melihat akan menilai bahwa mereka adalah sahabat kental yang saling berbagi.

Sahabat yang saling berbagi. Mungkin kalimat itu akan menjadi sangat indah jika bukan menyangkut soal cinta, cinta kepada satu orang yang sama. Sungguh terasa tidak nyaman jika seseorang harus merasakan satu kegilaan yang sama dengan orang lain yang sudah dianggap sebagai orang terdekat, sebab keadaan itu yang memaksakan ditariknya satu garis panjang yang menjadi pembatas.

“Jadi sekarang kita duduk bersama sebagai rival?” tanya Siwon setelah menyesap sekejap espresso nya. Posisi duduknya tetap seperti biasa, bersandar di kursi dengan tangan yang sesekali memutar gelas yang berisi kopi.

“Tidak. Aku tidak pernah menganggapmu sebagai rivalmu. Sampai kapanpun kita ini bersahabat.” Jawab Donghae lurus, sangat tidak menginginkan keheningan berganti dengan ketegangan.

Siwon tersenyum singkat dan mengangguk. “Ya, kita memang bersahabat. Tapi persahabatan itu mulai menemui liku dan tikungan tajam, yang mungkin saja memaksa kita menjadi musuh.”

“Aku sama sekali tidak pernah memikirkan hal itu. Kau tahu, sahabat yang menjadi musuh lebih berbahaya dari pada seseorang yang dari awal kau peroleh sebagai musuh sesungguhnya. Bukan seperti ini untuk menyelesaikan hal itu, masih banyak jalan yang bisa di tempuh.” Donghae membalas pernyataan Siwon dengan satu pemikiran diplomatis.

“Kau benar. Ada banyak jalan dan cara, tapi semua itu pada akhirnya akan menyakiti salah satu dari kita. Ujungnya adalah persahabatan yang ternoda dan noda itu sama sekali tidak bisa hilang begitu saja.” Siwon membetulkan letak duduknya, menjadi lebih tegas dengan siku yang menumpu pada meja.

Donghae mengangguk setuju, tatapan matanya cair seakan membayangkan bahwa rasa sakit itu bahkan sudah mulai terasa sejak kini. “Aku tahu. Semua takkan menjadi mudah seperti halnya kita menyelesaikan masalah di antara sesama lelaki, karena saat ini kita terkait pada wanita yang sama. Bagaimanapun kita harus menemukan kejelasan sebelum kondisi ini merembet kepada hal-hal yang tak diinginkan.”

Siwon menarik kedua alisnya ke atas, lalu mendesah singkat. “Sepertinya kita memang harus memaksa Yoona untuk menentukan hatinya, meski aku tahu sepertinya posisiku jauh di bawahmu.”

“Tidak. Aku tidak ingin memaksanya, Siwon-ah. Aku tidak ingin Yoona tertekan dan merasa disakiti oleh keterpaksaan karena harus memilih. Biarlah waktu berjalan dan menjawab semuanya. Karena pada akhirnya, Yoona memang hanya bisa mendapatkan satu dari kita.” Tegas Donghae penuh keseriusan.

“Kini aku sadar, Hae-ah. Kau memang rivalku yang sesungguhnya. Yoona selalu menyebutkan bahwa ia menyukai pria yang tidak suka memaksa dan ia selalu saja menyudutkanku dengan hal itu. Aku iri dengan tipe lelaki yang disebutnya, dan kini aku tahu siapa orang yang selalu menjadi patokan pandangannya terhadap pria.” Siwon memandang miris pada Donghae. “Sepertinya aku sudah tertinggal beberapa langkah di belakangmu. Kenyataan bahwa Yoona tak pernah memandangku adalah hal yang menjadi batu sandungan terbesarku untuk mendapatkan hatinya.”

“Aku sama sekali tidak merasa tersanjung dengan perkataanmu. Yang aku tahu Yoona memang memiliki perasaan padaku, tapi ia sama sekali tidak ingin menyakiti hatimu. Alasan utama yang membuatnya tak bisa menerimaku sebagai kekasihnya adalah dirimu, Siwon-ah.” Donghae mengatakan dengan berat hati perihal cintanya yang ditolak oleh Yoona beberapa hari yang lalu.

“Aku?”

“Ya, kau. Yoona jelas memandangmu, dia menganggapmu sebagai tunangannya. Dia selalu ingin menjaga hati siapa saja, termasuk hatimu. Yoona pernah mengatakan padaku kalau dia tidak akan bisa menyingkirkanmu begitu saja dari hidupnya.”

Siwon melebarkan matanya, meyakinkan diri pada semua kata-kata Donghae. “Aku baru tahu jika ada hal seperti itu darinya. Itu artinya aku juga memiliki tempat khusus untuknya, hanya saja ia tak pernah mau menyadarinya.” Siwon menegakkan tubuhnya, dan memandang lurus pada Donghae. “Baiklah kalau begitu kita bersaing secara sehat, Hae-ah. Ini adalah satu-satunya cara untuk mengetahui siapa yang benar-benar dicintai Yoona.”

“Jadi kau ingin bersaing? Baiklah… aku tidak keberatan. Aku sudah tahu bagaimana perasaan Yoona padaku, ia mencintaiku. Dan aku akan memanfaatkan itu agar Yoona memilihku sebagai kekasih hatinya. Aku tidak akan mundur untuk mempertahankan cintaku yang telah lama ada, bahkan sebelum kau mengenalnya.” Donghae berkesungguhan menantang Siwon untuk memperebutkan hati Yoona.

Siwon menyeringai, sedikit memandang remeh pada Donghae. “Kau tidak lupa statusku kan? Aku tunangannya, Hae. Aku sudah setengah langkah untuk memilikinya, dan aku hanya perlu untuk meyakinkan hatinya agar ia menyadari bahwa ia mencintaiku.”

~oOo~

Entah kebetulan atau memang disengaja, mobil Siwon dan Donghae sama-sama berhenti di pelataran kampus tempat Yoona kuliah. Tapi satu sama lain tidak saling berpandangan atau melihat, mereka seakan tidak saling mengenal. Persaingan telah dimulai. Persaingan itu memaksa dua orang pria dengan segala pesona yang mereka miliki harus berjibaku layaknya remaja labil yang baru mengenal bagaimana caranya menyukai seorang gadis.

Donghae dan Siwon berpencar ke penjuru kampus, mencari keberadaan Yoona. Donghae tampaknya lebih beruntung – lebih taktis tepatnya – karena sebelumnya telah menelepon Yoona memberitahu kedatangannya. Sementara Siwon baru kali pertama mengunjungi kampus Yoona dan sama sekali tidak berinisiatif memberitahukan gadis itu. Ingin memberi kejutan adalah alasan utamanya. Tapi sepertinya alasan itu telah menjadi kebodohannya, dan memaksanya mendapat kesialan. Karena tak berapa lama kemudian dering dari ponselnya membuat rencananya buyar, Siwon harus kembali ke kantor dan berkutat lagi dengan kesibukannya. Hari ini Siwon benar-benar harus menomorduakan cinta dibanding bisnis. Dan hal itu membuatnya kesal setengah mati.

“kau sudah sembuh? Aku khawatir sekali saat kau pingsan kemarin. Maafkan aku karena tak bisa menjengukmu ke rumah karena jelas ada Siwon yang akan menjagamu sekaligus membentengimu disana.” Donghae membuka pembicaraan dengan Yoona. Mereka duduk bersandar di bemper mobil di bawah naungan pohon rindang yang berjejer tak jauh dari kampus Yoona.

Yoona nyaris tersedak jusnya, lalu bergegas mengambil tissu dari dalam tas sandangnya. Yoona mendengus, merasa pernyataan Donghae tidak menyenangkan. “Oppa, apa yang kau katakan, eoh? Semua itu tidak benar!”

“Memang kenyataannya begitu kan? Kau tahu sendiri bagaimana Siwon. Aku sangat terkejut bahwa dialah yang menjadi alasan mengapa kau menolakku. Kau bertunangan dengan sahabatku sendiri dan aku sama sekali tidak mengetahuinya. Saat itu aku merasa telah menjadi orang paling bodoh di dunia.” Gerutu Donghae, tidak ada sedikitpun nada kesal dalam kata-katanya. Hanya berupa ungkapan datar dari dalam hatinya.

“Jadi Oppa marah? Aku sendiri juga tidak tahu kalau kalian saling mengenal, bahkan sangat dekat. Kalau bisa aku akan pergi menjauh dari kalian berdua, daripada menjadi penyebab kehancuran persahabatan dua orang yang sangat kental.”

“Kau tidak lagi bisa melarikan diri dari situasi ini, Yoong?”

Yoona tersentak, kemudian melayangkan tatapan menyelidik pada Donghae. “Kenapa begitu?”

“Kami sudah memutuskan untuk bersaing secara sehat. Bagaimanapun kau tidak bisa begitu saja membiarkan semuanya terlanjur rusak, kau tetap harus membuat pilihan untuk hatimu dan kebahagiaanmu sendiri.” Mata Donghae berkilat, tetapi sorot matanya yang sendu itu justru membuat Yoona mampu menahan emosi karena tersinggung dengan kesepakatan yang telah dibuat oleh Siwon dan Donghae.

“Jadi kalian menjadikanku bahan taruhan?”

“Demi Tuhan, kami tidak bertaruh apapun, Yoong. Kami hanya ingin menjalani persaingan layaknya rival untuk sebuah kompetisi. Aku harap kau mengerti bahwa jalan ini kami ambil setidaknya untuk mempertahankan persahabatan kami, walau kami tahu hasil akhirnya tidak akan mengembalikan kehangatannya seperti sedia kala.” aku Donghae pada Yoona yang membuatnya hanya bisa menghela napas sesal.

“Kau lihat sendiri kan, Oppa? Aku sudah menjadi duri dalam persahabatan kalian, aku sudah merusaknya. Harusnya kalian menjauhi aku, meninggalkan aku, atau memusuhiku. Bukannya membuat keputusan bodoh untuk bersaing seperti itu.” Yoona masih sanggup memberikan omelannya di kala hatinya merasa jengah.

“Tidak akan ada seorangpun dari kami yang akan membenci atau memusuhimu, Yoong. Kami berdua mencintaimu, meskipun kami berdua tidak tahu seberapa besar yang bisa kami korbankan untuk itu. Yang kami butuhkan adalah ketetapan hatimu. Aku tak ingin dan tak akan memaksamu, kau hanya perlu mencari kesadaran dalam dirimu mengenai pilihan hatimu.” Donghae berhadapan dengan Yoona dan memegang kedua bahunya. Donghae menatap Yoona dalam, mencoba memberik keyakinan padanya bahwa semua itu bisa dilakukan dengan baik.

Yoona menggeleng pelan, matanya menjauhi tatapan Donghae dan nyalang ke sekeliling mereka. “Tidak akan semudah itu, Oppa. Ini bukan hanya menyangkut soal aku, kau, dan dia. Aku tidak ingin keputusanku nantinya akan membuat banyak pihak kecewa dan tersakiti. Aku tidak ingin membuatmu terluka, Oppa. Sudah cukup situasi pelik ini menyudutkanku dan membuatmu susah hati. Sebaiknya akhiri saja persaingan konyol kalian.”

“Aku tidak akan merasa tenang sebelum kau bisa menentukan pilihan dan mendapatkan jawaban sesungguhnya dari hatimu. Kau sudah tahu bagaimana isi hatiku dan aku merasa itu adalah harapan besar bahwa aku masih memiliki kesempatan untuk bersamamu.” Donghae mengguncang pelan tubuh Yoona dan sesekali mengelus bahunya. “karena itu berilah aku kesempatan itu. Beri aku waktu untuk meyakinkan hatimu bahwa memang akulah yang kau cintai.”

“Oppa…” panggil Yoona pelan dengan sorot mata pedih bertumbukan dengan mata sendu milik Donghae.

Donghae tersenyum, menyangka bahwa keheningan yang ditunjukkan Yoona adalah jawaban bahwa ia diberi kesempatan itu meski dengan bumbu keraguan. Donghae mengelus pipi kiri Yoona, lalu perlahan mendekatkan wajahnya. Donghae memberi kecupan di kening indah itu hingga sedikit membuai Yoona. Donghae tersenyum dengan reaksi singkat itu lalu melanjutkan dengan menekankan bibirnya pada Yoona.

Satu detik…

Dua detik…

Yoona mendorong dada Donghae hingga sentuhan bibirnya terpisah. Yoona menatap Donghae nanar namun disertai kebingungan. “Oppa, apa yang kau lakukan?” pekik Yoona sedikit kaget. Sedangkan jantungnya berdetak cepat.

“Kenapa? Kau tidak suka aku menciummu?”

Yoona tergagap, “Itu… itu karena kita ada di tempat umum!” Dada Yoona berdesir menyertai kebohongan yang diucapkannya. Yoona tidak tahu apa yang dirasakannya. Sentuhan intim Donghae membuatnya takut dan ragu. Dia merasa kedekatan itu sungguh di luar perkiraannya hingga ia sulit untuk menerima begitu saja perlakuan itu dari Donghae.

~oOo~

Diiringi keraguan Yoona terus melangkahkan kakinya menuju ruang kerja Siwon. Persaingan yang tadi diungkapkan oleh Donghae membuatnya gusar. Kekesalan langsung merayapinya, dan Yoona juga tidak menyangka ada rasa kecewa dalam hatinya dengan keputusan yang dibuat tunangannya itu dengan Donghae. Yoona tidak rela karena harus membiarkan situasi panas dan tidak menyenangkan terus-terusan melingkupi kehidupannya sehari-hari. Seperti gangguan dan kejahilan Siwon padanya sudah cukup membuat Yoona harus selalu waspada dan perasaan khusus yang dimilikinya pada Donghae juga memaksanya siaga.

Dua hari yang lalu, Yoona baru saja datang kesini. Pandangannya Yoona teralih pada tempat kejadian perkara dimana ia bergumul ria dengan seorang wanita yang sok merasa dekat dengan Siwon. Mereka saling memaki dan menghujani tubuh keduanya dengan cakaran maupun pukulan. Yoona tak menyangka ia berperilaku seperti itu. Tanpa disadarinya ketidaksukaan Yoona terhadap kepercayaan diri yang ditunjukkan Young Ran soal statusnya yang mengaku sebagai kekasih Siwon menjadi satu dorongan besar hingga Yoona nekat menghajar wanita itu.

Benarkah ia cemburu? Benarkah ia sudah mulai menyukai Siwon atau lebih jauh lagi Yoona sudah mulai menerima kehadiran pria itu di hatinya? Lalu bagaimana dengan Donghae?

Sepertinya Yoona memang harus mengikuti bagaimana perasaannya akan terarah seiring berjalannya waktu. Tapi Yoona datang kesini bukan untuk mendukung persaingan bodoh yang disebutkan oleh mereka. Yoona datang untuk melayangkan protes pada Siwon, mengapa pria itu menjadi begitu kekanakkan dengan keputusannya menjadi rival dari sahabatnya sendiri. Yoona juga kecewa pada Siwon, tapi untuk alasan apa Yoona sendiri tidak tahu bagaimana mengungkapkannya. Hal terpenting ia harus bertemu dengan Siwon. Jika pertengkaran dan perdebatan memang harus terjadi, setidaknya Yoona bertemu dan melihat wajah tunangannya itu.

“Bisakah aku bertemu dengan Choi Siwon?” tanya Yoona begitu melihat Sekretaris Kim yang tampak baru kembali dari suatu tempat ke meja kerjanya.

“Maaf Nona Im, saat ini sajangnim sedang berada di kantor Presdir Choi.” Sesal pria paruh baya itu.

Yoona mengerucutkan bibirnya, berpikir sejenak. “Apakah masih lama? Aku akan menunggu saja hingga selesai.” Dengan asala Yoona menarik satu kursi yang tersampir di sisi meja kerja Sekretaris Kim. Pria itu mengerutkan dahinya lalu menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Saya tidak tahu akan selama apa pertemuan mereka. Sedari tadi mereka hanya berdebat dan suasananya sedikit tegang. Apa anda datang untuk menumpahkan kekesalan pada Sajangnim, Nona Im?”

Yoona menoleh pada Sekretaris Kim, lalu memandangnya takjub bagaimana pria itu mampu menebak maksud kedatangannya kesana. Yoona mencoba mengatur sikapnya, merubah mimik mukanya menjadi lebih calm hingga tidak sedikitpun ada raut antagonis yang terlihat disana. “Aniya… aku kesini karena ada hal penting yang harus dibicarakan dengannya. Kenapa kau bisa berpikir kalau aku datang hanya untuk marah-marah padanya?”

“Bukan apa-apa. Hanya saja, menurut saya saat ini bukanlah saat yang tepat untuk anda berunding dengan Sajangnim. Biasanya setelah bertemu dengan Presdir, Sajangnim menjadi orang yang sedikit emosian dan tidak berkepala dingin. Saya takut anda menjadi sasaran kekesalannya, Nona Im.” ujar Sekretaris Kim.

“Kenapa bisa begitu? Bukankah Presdir adalah ayahnya? Lalu kenapa Choi Siwon harus bersikap seperti itu bila bertemu dengan ayahnya?” tanya Yoona dengan penuh penasaran. Pikirannya melayang pada kejadian pertama kali ia bertemu dengan ayah Siwon. Saat itu Siwon tiba-tiba saja bersikap sangat dingin tak tidak bersahabat karena perdebatan kecil dengan ayahnya yang Yoona sendiri tidak tahu apa yang mereka bicarakan.

“Ini seperti tradisi. Setiap kali terjadi perdebatan sengit, selalu saja berujung pada ketegangan antara ayah dan anak. Sajangnim selalu mengalami perubahan moodyang buruk setelah itu. Ia akan menjadi orang yang sangat menyebalkan dan semua harus berhati-hati padanya.” Terang Sekretaris Kim dibalas anggukan setuju dari Yoona.

“Ah… kalau itu aku tahu. Aku sudah pernah sekali menjadi korban kemarahannya setelah bersitegang dengan ayahnya. Tapi.. apakah kau tahu sesuatu yang menjadi penyebab hal itu?” Yoona menatapa Sekretaris Kim sambil menyipitkan matanya.

“Tentu saja ada alasannya. Tapi saya bukanlah orang yang tepat untuk memberitahu anda, Nona Im. Sebaiknya anda tanyakan langsung pada tunangan anda, karena ia sendiri yang mengalami hal itu.”

Yoona mendengus kesal. “ Kalau itu aku sudah tanya, tapi ia tak mau mengatakannya padaku. Ayolah Sekretaris Kim, ceritakan padaku…” pinta Yoona sambil tersenyum manis, merayu pria paruh baya itu untuk memberitahunya rahasia antara Siwon dan ayahnya.

“Apa yang kau lakukan disini, Yoona-yah?” teguran Siwon membuat Yoona kaget. Yoona langsung berbalik dan melihat Siwon berdiri menjulang di belakang punggungnya.

“Oppa…” sapa Yoona dengan sedikit cengiran di wajahnya. Sebenarnya Yoona hendak menghujani Siwon dengan berbagai protesnya begitu melihat sang tunangan, tetapi karena keadaan Siwon sendiri saat itu begitu menakutkan – dengan rahang mengeras dan pandangan gelap – jadi Yoona mengurungkan niatnya tersebut.

“Untuk apa kau mencariku?” Siwon pasti tahu untuk apa Yoona datang, siapa lagi yang ingin ditemuinya disini jika bukan dirinya. Hanya ekspresi kikuk Yoona yang membuat Siwon masih harus menebak-nebak, tidak biasanya Yoona datang kepadanya dengan cengiran aneh seperti itu.

“Oh… aku datang karena ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu.” Dengan terbata-bata Yoona menyatakan maksudnya.

“Tumben sekali. Memangnya hal penting apa yang ingin kau bicarakan?” suara Siwon terdengar sangat ketus, membuat Yoona mengerucutkan bibirnya kesal. Tabiat Siwon persis sekali seperti malam itu, ketika dengan mudahnya pria itu menurunkan Yoona dari mobilnya di jalanan sepi.

“Sepertinya tidak usah saja. Aku rasa saat ini kau bukan orang yang tepat untuk diajak bicara melihat suasana hatimu yang sedang buruk. Aku tidak mau lagi jadi korban salah sasaran darimu.” Jawab Yoona sambil menggerutu, memikirkan cara melarikan dari tempat itu secepatnya. “Kalau begitu aku pulang dulu. Kita bicara lain kali saja.”

Yoona sudah ingin melangkah pergi dan kabur dari Siwon, tapi genggaman keras pria itu sudah menahan lengannya hingga Yoona sama sekali tak bergeming dari tempatnya. “Kau sudah meluangkan waktumu untuk mencariku dan kau mau pergi begitu saja?” Siwon mengangkat sebelah alisnya dan kata-katanya tadi terdengar sinis.

Yoona melirik Siwon dengan sedikit horor, menebak jika pria itu masih sepenuhnya belum kembali normal dari emosinya. “Aku lupa, aku harus menemani Eommashopping hari ini!” dusta Yoona.

Siwon mendengus, tahu pasti jika Yoona sedang membohonginya. “Tak usah banyak alasan, sebaiknya kau ikut aku!” Dengan sigap Siwon menarik tangan Yoona, secara maksa menariknya pergi mengikuti langkah-langkah lebarnya sambil tersaruk-saruk.

“Yak, Oppa!! Kau mau membawaku kemana, eoh? Lepaskan tanganku!” teriak Yoona di sepanjang jalan. Mereka berdua sudah menjadi tontonan setiap mata dari karyawan-karyawan di kantor itu. Yoona enggan menatap sekelilingnya, takut matanya akan bersitatap dengan seseorang dan hal itu akan membuatnya merasa malu. Mau tidak mau Yoona pasrah mengikuti Siwon, walau ia sama sekali tidak tahu mau dibawa kemana dirinya dan apa yang ingin diperbuat oleh pria itu.

Siwon masih terus menyeret Yoona sampai ke pelataran parkir menuju mobilnya. Yoona sudah merasa cukup lelah berusaha melepaskan cengkeraman tangan Siwon dari pergelangan tangannya yang ia yakini sebentar lagi pasti membekas dengan warna merah memar. Yoona berpikir akan memberi balasan apa kepada tingkah Siwon seperti ini. Menginjak kaki atau menendang tulang kering sepertinya bukan ide yang buruk.

Siwon membuka pintu mobilnya dan memaksa untuk mendorong Yoona masuk ke dalam mobil dan terinterupsi oleh panggilan seorang wanita.

“Siwon Oppa…!”

Siwon menoleh pada asal suara itu, begitu juga dengan Yoona.

“Kau…?!!”

To Be Continued…

Pos Berikutnya
Tinggalkan komentar

118 Komentar

  1. EmyPutri

     /  Desember 6, 2013

    Lanjut thor…….
    Makin seru aj😀

    Balas
  2. Wah wonpa mau bwk yoona kemana thu ? Mkin seru dan penasaran ajh ni crta
    next min

    Balas
  3. ayu dian pratiwi

     /  Januari 30, 2014

    Makin seru

    Balas
  4. RannySuryani

     /  Februari 4, 2014

    Cinta segitiga -,- Yoongie dilema.. Yoong , kau harus bisa menentukan pilihanmu eonn ..

    Balas
  5. indah sari

     /  Februari 10, 2014

    Cpa lgee tuh ??
    Kyak.a konfliknya makin panas aja

    Balas
  6. isfa

     /  Februari 10, 2014

    tambah seru…

    Balas
  7. Kim Eun Kyo

     /  Februari 21, 2014

    Siapa tuhh penesaran

    Balas
  8. Kim Eun Kyo

     /  Februari 22, 2014

    Wahhh yoong cemburu ama siwon oppa

    Balas
  9. tia risjat

     /  Maret 2, 2014

    jadi yoona pura-pura pingsan ya? bisa jadi referensi untuk menghentikan pertikaian tuch! xD

    Balas
  10. dede

     /  Maret 8, 2014

    duh yoona jd andilow alias antara dilema dan galauuuuuu.

    Balas
  11. hanna lee

     /  Maret 13, 2014

    Wahhh siapa itu yg manggil siwon oppa? Si perusak itu kah?._. Hahaha next oenni makin seruuu

    Balas
  12. penasaran sma klanjutan ny..
    wonppa pleass jng bkin yoona eoni korbn lgi dong..

    Balas
  13. Rhiiyoonah

     /  April 24, 2014

    Hahaha…kocak jg aksi teatrikal yoona yg pingsan…kira2 cpa yg manggil wonppa tuh?ap si cwek gatel it..alias si young ran

    Balas
  14. Dahlia GaemGyu

     /  Juni 14, 2014

    yoong eonnie pura-pura pingsan haha…

    Balas
  15. orien

     /  Juli 1, 2014

    Siapa lgi tuh perempuan yang ada dikehidupan yoona dan siwon?

    Balas
  16. arum

     /  Juli 2, 2014

    makin seru

    Balas
  17. Makin seru aja nih. Wonppa mau ngajak yoona kemana ?

    Balas
  18. Cha'chaicha

     /  Agustus 29, 2014

    Siapa lagi itu..

    Balas
  19. rita octaria

     /  September 10, 2014

    siwon oppa kalo udah arogan nakutin hihi…. siapa yg dipagl kau oleh siwon….???

    Balas
  20. Persaingan!!
    Sepertinya bakal seru ni
    siapa yg akan di pilih Yoona
    benar2 di bikin jantungan

    Balas
  21. Dwi Sivi Fatmawati

     /  November 5, 2014

    wah wah sapa tuh yg dteng tba2 trus manggil siwon oppa lagi

    Balas
  22. nina

     /  November 14, 2014

    ya elahhhh siapa lgi itu…..mkin rumit aj ih

    Balas
  23. ngomong2 siwon tw dri mana ya klo gadis yg disukai donghae itu tunangannya.nah loh siapa cwe yg manggil siwon? izin bwt lanjut y author. . .

    Balas
  24. Waduuuuuh siapa lg tuh?? Lanjuut next chapter

    Balas
  25. Novi

     /  Februari 12, 2015

    Donghae maniss bangettt…
    Penasaran yoona lebih cinta sama siapa…
    Trus yg manggil siwon siapa yaa??

    Balas
  26. devica nuranda

     /  November 20, 2015

    wkwkwk pingin lihat wajah tegang yoona

    Balas
  27. My labila

     /  April 9, 2016

    bisa aja yoona pake pura2 pingsan segala untung mereka percaya karena yoona kan udah perang tadi coba kalau enggak gimana tuh ?

    Balas
  28. G suka saat donghae main nyosor kiss yoona. *baper

    Ayo Yoong jgn salah pilih! Km sebenar’a udah lama punya perasaan cinta ma wonnie cmn kmu’a aja yg sll menyangkal perasaan kmu sendiri^^

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: