[OS] My Love

mylove

A Fanfiction By GEEtammy

Title: 그날에 우리 (My Love) ‖ Length: Oneshot ‖ Rating: Mature

Genre

 Romance ‖ Friendship ‖ Reality

Starring

Choi Siwon ‖ Im Yoona

Support Cast

Baek Miyoung (OC) ‖ Im Siwan ‖ Noh Minwoo

Disclaimer

Totally, this is my story line. I do not allow anyone to copy-paste my writing. Please don’t do plagiarism. I will protect all that belongs to me, for sure.

그날에우리 (My Love)

Tik.. Tok.. Tik.. Tok.. Bunyi jam dinding membuatku semakin dibuat tak tenang. Jarum jam bahkan sudah mengarahkan pukul 1 siang, orang yang sedari tadi kutunggu belum juga menunjukkan batang hidungnya sampai sekarang. Kemana dia?

Kuraih ponselku dari tas tangan milikku dan memanggilnya untuk kesekian kali. Dan lagi-lagi yang kudengar hanya suara operator, kupastikan ponsel miliknya memang tidak aktif.

Aku menggigit kecil bibir bawahku, waktu terus saja berjalan, sementara aku masih belum melakukan apapun sampai sekarang.

Drrttt..drrttt..

Tiba-tiba ponselku bergetar, aku tersenyum lega saat itu. Akhirnya ia meneleponku balik.

“Oppa, kau sudah sampai dimana?”, tanyaku dengan bersemangat.

“……………..”.

Senyuman yang tadi tersinggung dari bibirku perlahan memudar. “Ah, begitu? Ya sudah, tidak apa-apa. Aku masih bisa pergi sendiri”, jawabku yang sangat kentara dengan perasaan kecewa.

Kututup panggilannya sambil menghembuskan nafas berusaha mengontrol diri. Hari ini adalah hari yang sangat penting, aku akan melamar pekerjaan ke sebuah perusahaan periklanan di Seoul. Jika mood ku dalam keadaan tak baik seperti ini maka semuanya juga tidak akan berjalan sesuai rencana, bukan?

Walaupun kekasihku baru saja membatalkan untuk menemaniku, tapi apa harus aku jadikan sebagai alasan. Dengan susah payah aku mencoba untuk kembali mengumpulkan semangatku. BE FIGHT IM YOONA!

[My Love]

Malam itu aku berada di sebuah restoran yang biasa aku datangi bersama kekasihku. Tiba-tiba saja ia memintaku untuk bertemu. Umm.. mungkin sebagai permintaan maaf?

Sudah sekitar lima belas menit menunggu, aku menopang dagu dengan tangan kiriku sementara tangan yang lain terus bergerak memutar-mutarkan sedotan di minumanku yang bahkan es didalamnya sudah hampir mencair total.

“Sudah lama menunggu?”. Sebuah suara rendah dan sangat akrab ditelingaku terdengar. ku dongakkan kepala menuju kearahnya.

Ya, dia kekasihku. Aku tersenyum, namun senyumanku sepertinya terlihat sedikit aneh. Ya, aneh. Aku merasa bingung melihat seorang wanita berambut panjang bergelombang berdiri disamping kekasihku.

“Nu-gu?”, tanyaku sambil berdiri.

Wanita itu mengulurkan tangannya sambil tersenyum ramah padaku. Jujur dia terlihat sangat cantik. Tidak terlalu tinggi dan postur tubuhnya cukup ideal. Ia mengenakan dress berwarna pink selutut tanpa lengan, rambutnya di jepit dengan jepitan berwarna senada. Terlihat sangat feminim.

“Baek Mi Young imnida”.

Sedikit canggung aku membalas uluran tangannya. “Im Yoon Ah imnida”, balasku sambil sedikit menundukkan kepala. Aku menatap kekasihku.

Dan sepertinya ia menyadari akan sikapku yang benar-benar sedang butuh penjelasan.

“Dia teman lamaku yang baru saja kembali dari Amerika setelah menyelesaikan studinya. Makanya aku jadi tak bisa menemanimu tadi siang, ini gara-gara si Piglet satu ini memintaku untuk menjemputnya ke Bandara”. Choi Siwon―kekasihku mengacak-acak rambut gadis disampingnya sambil tersenyum nakal.

Miyoung berpout bibir sambil memukul lengan Siwon Oppa cukup keras.

Piglet? Bahkan Siwon Oppa mempunyai panggilan khusus untuknya. Terlihat sangat akrab.

“Tadi malam Ibu mu menelepon, sepertinya ia benar-benar menantikan kedatangan ku. Haha. Kau tahu aku benar-benar merindukan masakan buatan Hye Sun Imo (Ibu Siwon)”, ucap Miyoung.

“Hh.. sudah tak asyik lagi lah jika kau ada di rumah. Perhatian Eomma sepenuhnya pasti akan mengarah padamu. Kau ingat saat dulu kita bermain sepak bola sambil hujan-hujanan? Aku tak sengaja membuatmu jatuh sampai kau menangis, Eomma datang dan memarahiku mati-matian. Dia membersihkan badanmu sampai membuatkanmu coklat panas. Sementara aku, bukan hanya mendapat omelan, tapi Eomma juga mendadak cuek padaku. Saat aku meminta bagian coklat ku Eomma malah berkata, ‘Kau buat saja sendiri’”, Siwon Oppa memperagakan gaya berbicara Eomma nya.

Miyoung tertawa. “Tapi kau ingat, gara-gara itu aku harus memakai pakaian mu yang kebesaran untuk tubuhku?”.

Kali ini Siwon Oppa pun ikut tertawa. Obrolan mereka terlihat sangat menyenangkan. Bahkan selama aku berpacaran dengan Siwon Oppa, kami tak pernah mengobrol sampai selepas itu. Sepertinya malam ini aku hanya menjadi seorang yang terabaikan, bahkan oleh kekasihku sendiri.

“Yoona-ssi, kau mungkin tak akan menyangka bagaimana rupa pria yang ada disebelahmu dulu. Sangat kurus dan dekil [?].. Hahaha..”, ucap Miyoung kearahku.

Aku hanya terkikik pelan. Sebenarnya aku sedang tak nafsu untuk tertawa.

“Jangan kau dengar. Dari dulu aku sudah seperti Pangeran nya sekolah. Semua wanita selalu menganggu dan mengikutiku, tapi untungnya ada si Piglet yang selalu melindungiku dari gangguan mereka. Yah, dulu dia sudah seperti suruhanku”, setelah sekian lama akhirnya Siwon Oppa menghadap dan berbicara padaku.

“Mwoga? Yak! Suruhan katamu? Oh jeongmal”, Miyoung hampir menggetok kepala Siwon Oppa dengan sendok yang ia pegang. Namun Siwon Oppa berhasil menghalaunya dan kembali tertawa begitu puas.

Aku hanya terdiam menyaksikan keakraban diantara keduanya.

Setelah acara makan malam berakhir, Siwon Oppa mengantarkanku pulang. Tentunya bersama wanita itu. Sebelum kembali pulang menuju rumah orangtuanya, Miyoung akan berkunjung ke rumah Siwon Oppa terlebih dahulu untuk menemui Hye Sun Ahjumma, Min Sang Ahjussi (Ayah Siwon), dan juga Siwan (Adik Siwon). Jadi mereka pergi bersama.

Aku melambaikan tanganku menyertai kepergian mobil berwarna silver milik Siwon Oppa yang mulai menjauh dari pekarangan rumahku.

Aku menghela nafas panjang, lalu berbalik dan melangkah memasuki rumah.

“Aku pulang”, ucapku lunglai setelah membuka pintu. Terlihat Minwoo―adikku, yang tengah asyik bermain Play Station diruang tengah. Kuhempaskan tubuhku keatas sofa setelah melempar tas tanganku.

“Minwoo-ya”, panggilku pelan padanya.

Namun dia tak mengubrisku sama sekali. Ini lah kebiasaannya memang, jika sudah bergelut dengan hal yang menyangkut game, ia pasti tak akan bisa diganggu.

“Minu-yaaaa”, panggilku lagi, kali ini seraya mencolek pinggangnya.

“AISH.. NOONA!”, bentaknya kesal. Namun tetap saja tak membuatnya berhenti bermain.

Aku tertawa dan bangkit, “Ini sudah malam. Cepatlah tidur”, aku mencubit pipinya gemas.

“Noona, kau ingin aku cium?”, ujarnya dengan nada tinggi, masih dengan mata dan tangan yang fokus pada permainan dihadapannya.

“Silahkan saja jika bisa”. Aku melangkah menuju kamarku yang berada dilantai atas. Saat baru akan menaiki tangga, Eomma datang dari arah dapur.

“Kau sudah pulang?”.

Kuhentikan langkahku dan berjalan kearahnya. “De. Eomma, tadi siang aku sudah mengajukan lamaran pekerjaan. Doakan semoga mereka menerima ku”.

“Tentu saja, Eomma selalu mendoakan yang terbaik untuk putriku yang paling cantik ini”, ia mengelus pipiku sayang.

“Ouh, tubuhku terasa sangat lelah. Eomma, aku pergi tidur dulu, ne? Selamat malam”. Kucium pipinya lalu aku naik ke atas.

“Ne, tidurlah yang nyenyak”, teriak Eomma.

●○●

Seminggu setelah aku mengajukan lamaran pekerjaan, akhirnya mereka mengkonfirmasikan padaku jika aku di terima dan bisa mulai bekerja Senin ini. Aku segera memberitahukan kabar baik ini kepada keluargaku dan tentu juga Siwon Oppa.

Sebagai selamatan, keluarga ku mengadakan makan malam yang sederhana dirumah.

Eomma, Appa, aku dan Minwoo cukup sibuk karena kami sendiri yang menyiapkan semua makanan. Ditengah-tengah kesibukan kami, terdengar suara bel rumah.

Eomma bersiap akan membukakan pintu. Namun sepertinya aku yang seharusnya melakukannya.

“Eomma, biar aku saja”, ucapku sambil nyengir. Eomma sudah mengerti, seolah mengerti, ia kembali menyiapkan makanan dan dihidangkan diatas meja.

Aku berjalan menuju pintu sambil mengulum senyumku, tak lupa untuk sedikit merapikan rambut dan pakaian yang sedang aku kenakan. akan bertemu dengan pangeranku tentu saja aku harus berpenampilan baik didepannya.

“Kau terlambat”, ucapku setelah membuka pintu sambil sok-sok-an marah.

“Jinjja?”, mata indahnya membulat kaget. Membuat aku tak bisa menahan tawa.

“Ani, aku bercanda”. Aku mengaitkan tanganku di lengannya kemudian menggiringnya menuju taman belakang dimana keluargaku berkumpul.

“Siwon hyung”, teriak Minwoo yang membuat tatapan Eomma dan Appa teralihkan pada kami.

“Eo? Kau sudah datang”, ucap Appa menghentikan aktifitasnya dahulu.

“Annyeong Abeonim, Eomeonim”, sapa Siwon Oppa membungkukkan badannya.

“Kau tepat waktu. Makanannya sudah siap. Ayo kita makan”, seru Eomma.

Seperti anak kecil, Appa dan Minwoo langsung menyerbu meja makan. Aku dan Siwon Oppa tertawa.

“Oppa, kajja”, aku menarik tangannya lagi. ia mengangguk sambil tersenyum.

●○●

Minggu pagi ini aku meminta Siwon Oppa untuk pergi keluar. Besok adalah hari pertama aku bekerja, intensitas untuk bertemu pasti akan semakin sulit. Dan hari ini aku ingin pergi jalan-jalan dengannya seharian. Pukul 09.00am ia akan menjemputku.

Sebelum mobil Siwon Oppa tiba aku sudah berdiri didepan rumah, benar-benar sudah tidak sabar untuk pergi.

Lima menit berlalu, suara klakson mobil terdengar. aku mengangkat kepalaku dan tersenyum. Mobil Siwon Oppa berhenti tepat didepanku.

Biasanya ia akan keluar dan membukakan pintu untukku, tapi sekarang ia hanya membuka kaca mobilnya.

“Annyeong, Yoona-ssi”, ucap seorang wanita dari dalam mobil.

Baek Mi Young? Mengapa ada dia?

“Ah? De? Annyeong”.

Setelah mendapat sapaan dariku ia lanjut melepas sepatu kets nya seperti siap untuk pindah ke kursi belakang. Aku yang melihatnya langsung berkata, “Miyoung-ssi, tidak apa-apa. Kau duduk didepan saja. Biar aku yang duduk dibelakang”.

“Umm… gwaenchana?”, tanyanya seperti tak enak.

“Tidak apa-apa”, ucapku seraya membuka pintu mobil belakang dan masuk.

“Yoona-ssi, apa boleh aku ikut pergi jalan-jalan bersama kalian? Kau tahu semua orang hari ini benar-benar tak bisa diajak bersenang-senang. Aku tak tahu lagi harus ikut bersama siapa jika bukan dengan kalian”.

“Hh.. hidupmu memang sudah seperti seorang pengganggu. kau merusak acara kencan kita”, ujar Siwon Oppa dengan ketus sambil menjalankan mesin mobilnya.

“Ne, gwaenchana. Aku tidak keberatan”, jawabku yang sebenarnya tak berani untuk menolak.

“Tuh kan, Yoona saja tidak masalah”, gertak Miyoung memukul lengan Siwon Oppa.

Aku menghela nafas, merasa gerah dengan keadaan ini.

Aku kira hari ini akan menjadi hari yang sangat menyenangkan untukku, tapi ternyata dugaanku salah besar. Kami bertiga pergi kesebuah tempat rekreasi, jujur saja biasanya aku akan bersemangat jika diajak pergi ke tempat seperti ini oleh Siwon Oppa, tapi sekarang mood ku benar-benar hilang.

Sejak tadi diajak oleh Siwon Oppa untuk menaiki beberapa arena permainan aku selalu menolak. Dan akhirnya aku hanya bisa pasrah melihat mereka berdua yang terlihat terus berduaan.

Aku duduk sendiri menunggu mereka selesai bermain rollercoaster. Sangat membosankan. Aku memainkan kuku-kuku jarinya sambil menekuk wajah. Ku dongakkan kepalaku sambil menyipitkan mata karena teriknya matahari saat itu, ternyata mereka sudah selesai. Kupandangi wajah pucat Miyoung dari kejauhan, sementara Siwon Oppa puas mengolok-oloknya. Seperti biasa mereka selalu bercanda, terlihat sangat nyaman satu sama lain.

“Ah kepalaku pusing sekali, aku tidak bercanda”, ucap Miyoung yang terdengar semakin jelas karena mereka sudah mulai mendekat kearah dimana aku terduduk menunggu.

“Miyoung-ssi, gwaenchana?”, tanyaku. Ia duduk disebelahku lalu menyenderkan kepalanya di pundakku.

“Eoh.. kepalaku pusing. Aku mual”, ujarnya sambil menepuk-nepuk dadanya.

“Oppa, belikan Miyoung air. Wajahnya sampai pucat seperti ini”, ucapku pada Siwon Oppa.

“Araso, kalian tunggu dulu disini”.

Sembari menunggu Siwon Oppa, aku memijit-mijit pelan pelipis Miyoung agar membuatnya sedikit lebih baik.

Tak lama Siwon Oppa datang sambil membawa sebotol air mineral. Aku membantu Miyoung untuk meminumnya.

“Apa sudah baikkan?”, tanyaku.

“Hhh entahlah”.

Aku dan Siwon Oppa saling pandang.

“Lebih baik kita pulang saja, lagipula sekarang sudah sore”. Ya, pulang sepertinya keputusan paling baik.

“Iya, aku ingin pulang”, lagi-lagi Miyoung bersuara dengan nada lemas. “Tapi aku tidak kuat…”, ujarnya sambil memandang Siwon Oppa.

Siwon Oppa menaikkan alisnya. “Wae?”.

Miyoung meregangkan kedua tangannya dan berkata, “Gendong aku”.

“Mwoga? Aish shireo”.

Oh Please. Aku benar-benar tak kuat berjalan”.

“Siwon Oppa, gendong saja”, kataku walaupun tak rela sebenarnya.

Perlahan Siwon Oppa berjongkok membelakangi Miyoung, “Aku tahu ini cuma bisa-bisanya dirimu saja Piglet jelek”.

Miyoung tersenyum puas lalu segera mengalungkan tangannya di leher kekasihku dan naik di punggungnya.

Aku berjalan dibelakang mereka. Miyoung terlihat sangat senang, beberapa kali ia memukul pundak Siwon Oppa menyuruhnya untuk berlari lebih cepat. Sesekalinya Siwon Oppa menuruti keinginannya, Miyoung akan tertawa. Sementara aku hanya bisa melihat mereka dari belakang.

●○●

Sekarang aku sudah resmi bekerja, dan itu artinya waktu untuk bertemu Siwon Oppa akan semakin berkurang. Semua waktuku hampir 12 jam aku habiskan di kantor. Weekend tiba pun aku tak bisa keluar dari rumah karna tubuhku hanya bisa terkapar diatas tempat tidur. Selama bekerja perasaanku selalu diselimuti kecemasan terhadap Siwon Oppa dan.. Miyoung. Sebenarnya aku tidak ingin berpikiran yang macam-macam, namun melihat sikap Miyoung selama ini aku jadi was was sendiri. Ada aku saja dengan bebas ia selalu mendekati Siwon Oppa, apalagi jika aku tidak ada. Aku yakin selama aku bekerja mereka sering meluangkan waktu bersama.

Sebenarnya aku cemburu, bahkan sangat sangat cemburu. Tapi apa yang harus aku lakukan. Aku menyadari bahwa Siwon Oppa memang sudah lebih dulu kenal dengan Miyoung dibandingkan aku yang baru saja mengenalnya 5 tahun lalu. bahkan Siwon Oppa dan Miyoung sudah dekat dari mereka kecil, hubungan antara keluarga masing-masing pun kulihat sangat erat. Dulu ketika mereka masih duduk dibangku kanak-kanak, rumah Siwon Oppa dan Miyoung bertetangga. Siwon Oppa sering bermain dirumah Miyoung, begitupun sebaliknya. Eomma Siwon Oppa sangat dekat dengan Miyoung, itu semua karena ia begitu mendambakkan seorang anak perempuan. Itu yang Siwon Oppa ceritakan padaku.

Aku jadi merasa iri hati padanya.

Hari ini aku meminta ijin untuk bekerja setengah hari saja karena kebetulan tempat aku berkuliah dulu mengadakan reuni. Sangat beruntung reuni itu diikuti oleh 5 angkatan, dan Siwon Oppa yang juga salah satu Sunbae ku dulu termasuk. Itu artinya kami bisa datang bersama^^ sepertinya akan menyenangkan. Awalnya aku kurang bersemangat untuk pergi, lagipula seharusnya hari ini aku bekerja sampai lembur. Namun aku tidak ingin melewatkan kesempatan untuk bertemu dengan teman-teman kampusku begitu saja, bukankah moment-moment seperti ini adalah sesuatu hal yang sangat ditunggu-tunggu.

Untung saja Tuan Han―atasanku dikantor sangat baik hari ini. Ia mengijinkanku untuk meninggalkan sejenak tugasku tapi dengan syarat esok hari pekerjaanku bertambah dua kali lipat. Well, itu tak masalah.

Sesuai perjanjian, Siwon Oppa akan menjemputku ke kantor. Aku menunggunya didepan lobi sambil mengobrol ringan dengan Miss Kim yang kebetulan sedang berjaga di bagian resepsionist. Setelah sekian lama mengobrol, kuangkat tanganku untuk melihat jam. Tidak terasa sudah hampir setengah jam aku menunggu.

Sedikit gusar, aku takut sesuatu terjadi. Inilah salah satu sifat jelekku, selalu berpikiran negatif. Sudahlah, mungkin Siwon Oppa mempunyai urusan lain sehingga sampai telat menjemputku.

Aku memutuskan untuk kembali menuju ruanganku lagi. Setidaknya disana aku bisa duduk dengan nyaman sambil menunggunya tiba.

Ddrrrrttttt…ddrrrrtttt…

Ponselku bergetar, tertera nama 내남자 dilayar. Ya, itu number id Siwon Oppa di kontak ponselku. Dengan semangat kuangkat panggilannya sambil berlari menuju jendela bermaksud untuk mencari keberadaannya. Mungkin Siwon Oppa sudah datang.

“De Oppa? Kau sudah tiba?”.

Krrrkkksssskkk…

Ia tak langsung menjawab. Hanya terdengar suara yang tidak jelas. Mungkin signalnya jelek.

“Chagi, sepertinya kita tak jadi berangkat bersama. Kau duluan saja ya, aku harus mengantarkan dulu Miyoung ke stasiun. Biar nanti aku akan menyusul”.

Miyoung? Miyoung lagi?

“Um deh, gwaenchana”.

“Kau marah?”.

“Ani”.

“Sungguh tidak apa-apa?”.

“Ne”.

“Ya sudah kalau begitu. Kau tahu sendiri kan dia baru saja kembali ke Seoul, jadi aku tak tega untuk membiarkannya pergi sendiri”.

Kau bisa merasa tega padanya, lalu kenapa padaku tidak?

“Um aku mengerti”.

Tubuhku terasa lemas mendadak, namun aku harus tetap pergi. aku membenarkan tali tas ku dan melangkah meninggalkan kantor.

Hampir satu jam aku berdiri didalam bus dan harus bersedak-sedakan dengan penumpang lain membuat seluruh badanku terasa akan remuk. Ditambah saat sesudah turun dari bus dan berjalan menuju tempat acara dilakukan―kakiku tiba-tiba saja terkilir. Rasanya memang sangat sakit, tapi tetap aku paksakan untuk berjalan walaupun sedikit timpang, aku tak ingin teman-temanku menunggu terlalu lama.

Saat aku memasuki aula besar yang sudah dipenuhi oleh orang-orang yang tidak asing lagi untukku―mataku langsung menangkap seorang pria yang kini tengah tertawa lepas bersama orang-orang sekitarnya.

Inginnya segera berjalan menghampiri pria itu, namun kakiku yang masih terasa berdenyut bahkan setelah ku paksakan untuk berjalan semakin sakit saja rasanya. Ku dudukkan diri ku di kursi yang untungnya tak berada jauh dari tempatku berdiri tadi. Segera ku memijit-mijit kakiku kecil.

“Chagi?”.

Aku menghentikan aktifitasku setelah mendengar suara yang sepertinya ditujukan padaku. Ku dongakkan kepalaku dan tersenyum. “Oppa?”.

“Apa yang terjadi? Kakimu sakit?”, tanyanya langsung berjongkok didepanku.

Aku menggeleng sambil membenarkan rambut agar tak menghalangi wajahku.

Ia tersenyum sangat manis. Tuhan―inilah sebabnya aku sangat mencintai pria yang berada di hadapanku ini.

“Kau terlihat sangat lelah, akan aku ambilkan dulu air minum”, ucapnya sambil berdiri dan aku hanya membiarkannya mulai meninggalkanku.

Kupandangi ia terus saat mengambil minuman dan melewati beberapa orang yang memenuhi ruangan. Sampai akhirnya kembali ia berjalan mendekat menghampiriku.

“Minumlah”, ucapnya sambil menyodoriku gelas minuman itu lalu duduk disampingku.

Saat aku tengah mengesap air, tangannya mengelus-elus punggungku halus. Rasanya tenaga yang sudah mulai habis karna insiden tadi mendadak terisi penuh kembali.

“Sudah?”, tanya Siwon oppa saat aku sudah berhenti meneguk air.  Aku mengangguk, ia membawa gelas dari tanganku dan menyimpannya di kursi sampingnya. “Kalau begitu ayo kita bergabung bersama yang lain”, ajaknya menarik tanganku.

Ketika aku berusaha berdiri kakiku malah tak kuasa menahan tubuhku, aku terduduk kembali sambil meringis kecil.

“Gwaenchana?”, tanya Siwon Oppa terlihat kaget.

Aku terus menundukkan kepala sambil menutup kedua mataku.

“Chagi, kakimu sakit?”, tanya Siwon Oppa lagi yang kembali berjongkok didepanku. Kali ini aku tak kuat lagi jika harus berbohong dan menyembunyikan rasa sakit kaki ku, aku mengangguk terus terang sambil mengerutkan tanganku pada pundaknya.

“Ayo kita ke emergency room”.

“Tidak usah, aku hanya terkilir”.

“Jangan begitu”, Siwon oppa membantuku untuk berdiri. Ia raih pinggangku untuk membantu memapahku dan aku merangkulkan tangan di pundaknya untuk menjaga keseimbangan. Ia membawaku ke sebuah tempat.

Didalam ruangan itu terdapat satu tempat tidur, ia langsung membantu mendudukkan tubuhku lalu melepaskan sepatu hak yang sangat menggangguku daritadi.

Dengan telaten ia mulai mengopres kaki ku yang memar dan mulai timbul warna biru pucat.

“Kenapa bisa sampai seperti ini?”.

“Sudah kukatakan kan aku hanya terkilir saja”.

“Ya, ‘hanya terkilir saja’. Dan itu membuatmu tidak bisa jalan seperti ini”, suaranya terdengar tegas sekarang.

“Berlebihan, jika aku tidak bisa berjalan mana mungkin sekarang aku ada disini”, kataku lagi agar tak membuatnya khawatir. Ia menatapku marah, aku membalas menatapnya sambil tersenyum. “Wae? Aku tidak apa-apa”.

Ia menatapku semakin dalam, masih dengan ekspresi yang cukup menakutkan bagiku. Dengan tiba-tiba ia menggigit dagu ku dengan cepat. Mata ku membulat, spontan aku memukulnya sambil berteriak.

Kali ini ia yang berbalik menertawaiku.

●○●

“Kau sedang apa?”, terdengar suara serak Siwon Oppa di jalur lain.

“Aku masih di kantor. Mungkin sekarang aku akan pulang telat lagi malam ini”.

“Yasudah, jangan sampai telat makan dan luangkanlah sedikit waktu untuk istirahat”.

“Um..”, aku tersenyum. Senang rasanya diperhatikan. “Oppa, suaramu terdengar aneh. Apa kau sakit?”.

“Hanya demam. Mungkin karna masuk angin”.

“Jinjja? Oppa sudah pergi ke dokter? Lalu apa sekarang demamnya masih tinggi? Kau sudah minum obat?”.

“Aigoo, bertanyanya bisa tidak satu-satu? Aku harus menjawabnya dari mana?”.

“Aku begini karna khawatir”, jawabku kesal.

Terdengar dia tertawa disana.

“Lalu Oppa ada dimana sekarang?”.

“Apartemen”.

“Sendiri?”.

“Tadi Eomma datang, tapi hanya sebentar”.

Di apartemen sendiri dalam keadaan sakit? Oh Tuhan, aku tak yakin dia bisa menjaga dirinya sendiri. makan pun ia masih harus diingatkan.

“Lalu bagaimana?”, tanyaku gusar.

“Bagaimana apanya?”.

“Malam ini aku bekerja lembur, jadi pasti tidak bisa mengunjungimu”.

“Tidak masalah, aku bukan bayi”.

“Ck.. ya sudah, besok pagi aku akan kesana. Jika ada apa-apa jangan lupa untuk menghubungiku”.

“Araso, nae princesseu~”.

Pukul 03.00am aku baru pulang kerumah. Badanku terasa remuk semenjak tadi berhadapan terus dengan layar monitor. Kepalaku sakit sebelah dan dada terasa sesak. Inilah penyakit ku jika sudah terkena angin malam, apalagi sekarang sudah menginjak ke akhir musim gugur. Tinggal menghitung hari untuk menunggu musim dingin tiba.

Sudah saatnya untuk beristirahat sebentar, besok pagi aku harus cepat-cepat bangun kembali dan pergi menjenguk kekasihku.

Alarm berbunyi, tepat saat jam yang berada di atas nakas menunjukkan pukul 06.00KTS. mendengar suara melengking itu cukup membuat kepalaku terasa semakin berat. Mataku bahkan masih sulit untuk aku buka. Hanya tiga jam. Ya, hari ini aku harus merasa cukup dengan waktu istirahat singkat ini.

Sebelum pergi ke apartemen Siwon Oppa, aku akan membuatkan makanan kesukaannya dulu. Dengan bantuan Eomma ku tersayang tentunya.

Dua jam berlalu, sekarang aku sudah sampai di depan apartemen nya. Tak perlu memijit bel atau pula meminta ijin sang pemilik untuk bisa masuk kedalam, aku sudah hafal benar kata sandi pintu miliknya.

Pintu berhasil terbuka, terdengar suara televisi disana. Kulihat juga ada sepasang sepatu hak di tempat penyimpanan alas kaki. Sepertinya ada seseorang  (wanita) didalam. Aku sudah bisa menduga-duga. Pasti orang itu……. (tak perlu disebutkan)

“Oh, Yoona-ssi”.

Suara tak asing itu mengalihkan pandanganku pada sosoknya. Miyoung tersenyum padaku. Aku pun balas menyapanya. “Miyoung-ssi, kau juga ada disini”, ujarku berjalan mendekatinya.

“Ne, Hyesun Imo mengabariku jika Siwon sedang sakit. Makanya pagi-pagi sekali aku langsung kesini”.

“Oh, begitu”.

Bahkan untuk hal ini saja aku sudah terlangkahi.

“Lalu Siwon Oppa ada dimana?”.

“Ada dikamarnya”.

Kami berdua melangkah bersama menuju ruangan serba biru itu, dimana seorang pria terlihat sedang tertidur diatas ranjang. Kulihat di keningnya sudah ada handuk kecil untuk menuruni panas dari tubuhnya. Sepertinya Miyoung benar-benar menjaga Siwon Oppa dengan baik.

“Tadi pagi panasnya tinggi sekali. Mungkin ia akan merasa lebih baik jika aku kompres”, ucapnya dengan nada pelan agar tidak mengusik tidurnya.

“Terimakasih, maaf telah merepotkanmu”.

“Kau tidak seharusnya berterimakasih. Memang sudah seharusnya aku melakukan ini”.

Aku terdiam, mencoba untuk mencerna kata-kata Miyoung barusan. Ini sudah seharusnya ia lakukan? Miyoung memang ‘teman’ Siwon Oppa, bukan? Ya, memang teman.

Karna takut mengganggu waktu istirahat Siwon Oppa kami berdua keluar dari kamar.

“Kalau begitu aku akan menyiapkan sarapan untuk Siwon Oppa dulu”, ucapku setelah mengeluarkan kotak makanan yang sudah aku siapkan dari pagi tadi.

“Siwon Oppa sudah makan”.

Aku yang baru saja membuka tutup kotak makanan yang kubawa langsung terhenti sambil menatap pada Miyoung.

“Sebelum datang kesini aku membawakannya makanan karna aku tahu ia harus cepat-cepat untuk minum obat, kan?”.

“Ah benar. Untung saja ada kau”.

Sepertinya makanan yang sudah susah-susah kubuat harus terbuang sia-sia.

“Karna sudah ada kau sepertinya aku akan pulang saja. Sekarang tugasmu untuk menjaganya”, pamit Miyoung sambil mengambil tas tangannya.

“Ne, berhati-hatilah Miyoung-ssi”, hanya kalimat itu yang bisa kuucapkan. Jujur saja aku memang masih sangat canggung untuk berbicara dengannya, karna aku memang sulit untuk akrab dengan orang baru.

“Umm..”, ia tersenyum sampai membuat matanya hanya terbuka sedikit. “Annyeong”, ia melangkah menuju pintu dan aku mengantar kepergiannya.

BLUK~

Kubuang kotak makanan tak berharga yang telah kubawa tadi ke tempat sampah. Hal ini membuatku berpikir, makanan buatanku ini sudah tak layak untuk Siwon Oppa makan, lalu apa aku juga masih pantas untuk menjadi kekasihnya? Rasanya sekarang aku telah menjadi orang yang benar-benar tidak berguna.

Sepertinya aku akan kalah. Atau memang aku benar-benar sudah kalah?

Kupandangi wajah kekasihku saat tidur. Oppa, kau mendengarnya? Apa kau bisa mendengar jeritan hati ku?

●○●

“Hari ini keluarga kami mengadakan makan malam. Kau ikut ya..”, terlihat dilayar ponselku―Siwon Oppa melambaikan tangannya. Ya, kami sedang melakukan video call.

Terlihat dibelakang tempatnya berdiri, keluarganya sedang bercanda gurau. Sangat menyenangkan.

“Umm.. aku tidak tahu”.

Siwon Oppa terlihat kecewa. “Wae?”.

DUNG

Tiba-tiba sebuah bola plastik terlempar pada kepala Siwon Oppa. Siwon Oppa berbalik kemudian berteriak. “YAK!”.

“Miyoung Noona yang melakukannya”.

“Mwo? Ani, Siwan yang melemparnya. Sungguh! Kau jangan berbohong Siwan-ya!”.

“Aish kalian berdua”. Siwon Oppa menatap lagi kearah layar ponselnya dan melanjutkan obrolan kami. “Chagi, tunggu sebentar”.

Sepertinya ia tengah berlari mengejar kedua orang itu (Siwan dan Miyoung) sekarang.

“Ya hyung, bukan aku…”. (Siwan)

“Wonnie-ya… andwe… aaaaa sakiiiittt…”. (Miyoung)

“Hahahaha”. (Siwon)

“Ya Tuhan, apa yang kalian lakukan?”. (Suara pria dewasa)

“Hyung, ayolah aku lelah…. Woaaaaaa… Eommmaaaaaaa…”. (Siwan)

“Hahaha.. Aw! WONNIEEEEEE…”. (Miyoung)

“Won-ah, kau memukul Miyoung lagi?”. (Suara wanita dewasa)

“Aniya Eomma”. (Siwon)

Aku mendengarkan keakraban mereka. Sekarang aku sadar kedekatan diantara keluarga Siwon Oppa dengan Miyoung memang sangat nyata. Aku sendiri tak yakin bisa diterima se-welcome itu oleh keluarganya.

“Chagi, mau bergabung tidak?”, tanya Siwon Oppa dilayar sana.

Membangunkanku dari lamunan. “Jika tidak bekerja aku mau saja. Tapi untuk hari ini aku benar-benar tidak bisa”.

Sebenarnya aku tidak sibuk. Jika mau aku bisa datang. Hanya saja aku tidak ingin…. Aku tidak ingin jika disana aku hanya akan merasakan… rasa sakit.

●○●

Waktu menunjukkan pukul 07.34pm. itu artinya waktu meeting selesai. Aku bersama para eksekutif muda lainnya berjalan keluar dari ruangan besar itu.

Kembali teringat dengan pesan Siwon Oppa yang ia kirim tadi sore. Ia memintaku untuk bertemu dengannya malam ini di taman dekat kantor ku.

Sekarang aku tengah duduk di kursi yang biasa kami tempati jika bertemu disini. Setengah jam awal aku masih sabar menunggunya. Lama kelamaan kesabaranku pun mulai habis. Tanpa membuang waktu lagi aku segera meneleponnya.

“De, Chagiya?”.

“Oppa, aku sudah sampai di taman dari sejam yang lalu. Kau masih dimana sekarang?”.

“Oh Tuhan, aku lupa. Aku benar-benar tak ingat jika hari ini kita akan bertemu. Aku sekarang sedang ada di….”.

Kututup sambungan telepon kami secara sepihak. Aku muak sekarang. Aku benar-benar marah dan kesal. Sebelum melangkah meninggalkan tempat itu aku berjongkok sambil menangis sejadi-jadinya. Dada ini terasa sesak, badanku pun melemah. Aku tak yakin bisa berjalan menuju halte bus. Kali ini aku tak bisa menopang tubuhku sendiri.

●○●

Sangat sulit mencoba menenangkan diriku sendiri dengan menutup mata. Mencoba untuk melupakan kejadian tadi pun aku tak bisa. Semalaman aku hanya bisa menangis. Bahkan sampai dadaku sakit dan nafasku terasa sesak sekali. Di kamar yang sengaja tak ku nyalakan lampunya, aku terduduk dilantai sambil menyenderkan badan di tempat tidur. Ku pegang dadaku erat-erat. Ya, disini rasanya sakit sekali. Bagaimana caranya untuk menyembuhkan rasa sakit ini? Siapa yang bisa menyembuhkannya?

Untung saja kamarku adalah ruangan kedap suara, jadi sekeras apapun aku menangis, Eomma dan Appa tidak akan mendengarnya.

Beberapa kali ponselku berbunyi. Dan semua panggilan itu berasal dari orang yang sama. Mendengar suara ponselku berbunyi terus, rasa sedihku malah semakin bertambah dan menjadi-jadi. Diluar kontrolku, aku melepaskan batre ponselku dan membuatnya tidak aktif. Itu bertahan sampai keesokkan harinya.

Tak terasa pagi tiba. Ditengah-tengah isakkan ku terlihat matahari yang mulai menyinari ruangan kamarku. Kepalaku sangat pusing. Pasti karna semalaman aku tak bisa menahan tangisku sampai lupa akan tidur. Perlahan aku bangkit lalu berjalan kearah cermin.

Wajahku benar-benar seperti monster. Bukan hanya mataku yang membengkak, tapi bibirku juga. Mataku masih memerah. Dalam keadaan seperti ini mana mungkin aku bisa bekerja. Untuk keluar kamar saja aku tidak akan berani.

Untuk itu aku memutuskan ijin lagi dan sekarang aku sedikit berbohong dengan beralasan sedang tidak enak badan.

“YOONNIE BANGUNLAH. KAU TIDAK BEKERJA”, terdengar suara Eomma dari lantai bawah. Dan aku tak mengubrisnya, biarkan saja Eomma menyangka jika aku masih tidur.

“MINWOO-YA, CEPAT KAU BANGUNKAN KAKAKMU”.

“HH.. ARASO”.

Dug..dug..dug.. (suara langkah kaki menaiki tangga)

“Noona, noona bangun”, dibalik pintu sana terdengar adikku tengah mengetuk-ngetuk pintu.

Lagi-lagi aku tak bersuara dan malah menyembunyikan diriku dibalik selimut. Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka, dengan cepat aku menutup mataku seakan masih tertidur.

“Noona, ireona…”, ia mulai menggoyang-goyangkan tubuhku. Sangat mengganggu.

Akupun bersuara. “Noona sedang tidak enak badan, kau keluarlah”.

“Jinjja?”, tanyanya dengan nada curiga.

“Kau tak dengar suara Noona sampai seserak ini?”.

Tak kusangka ia membuka selimutku, dan pas sekali aku sedang tak menutup wajahku. Alhasil ia pun berhasil melihat wajah ku yang sudah berantakan.

“Noona, kau habis menangis?”.

Ku tarik selimut dan menyembunyikan wajahku lagi, “Ani, kau keluarlah. Noona ingin istirahat”.

“Noona, waegeuraeyo? Kau ada masalah?”.

“Minu-ya, Noona mohon”, ucapku dibalik selimut.

“Araso aku keluar”.

Terdengar derap langkahnya semakin menjauh, dan suara pintu tertutup pun terdengar. sepertinya ia sudah keluar.

Aku masih terdiam dibalik selimut. Semakin lama akhirnya aku pun berhasil menutup mataku dengan lelap.

●○●

 “Noona, tadi Siwon hyung datang. Tapi kau masih tidur”, lapor Minwoo saat aku baru saja keluar dari kamar dan turun ke lantai bawah.

Aku tak mengatakan apa-apa dan berjalan dengan lempeng menuju lemari es untuk mengambil air minum.

“Kau sedang ada masalah?”, tanya Eomma menghampiriku.

Aku menggeleng sambil tersenyum untuk menyembunyikan rasa sedihku. “Aniyo. Eomma, aku akan ke kamar lagi”.

“Makanlah dulu, kau belum makan dari tadi pagi”.

“Ya, nanti”.

●○●

Pagi itu Siwon Oppa datang kerumah ‘lagi’. bilangnya akan mengantarkanku ke kantor. Sebenarnya aku ingin menolak, tapi apa boleh buat, ia sudah ada di bawah tengah mengobrol bersama Appa diruang tamu sekarang.

Selama perjalanan aku terus diam dan memasang wajah dingin. Kami sama-sama tak saling berucap kata. Siwon Oppa sepertinya sudah menyerah karena terus aku acuhkan.

Mobilnya terhenti tepat di depan pintu masuk kantor. Aku mencoba membuka pintu, namun ternyata terkunci. Ya, Siwon Oppa sengaja menguncinya dengan tombol otomatis.

“Sepertinya kita masih perlu bicara”.

Aku menghela nafasku sambil menatap kedepan. “Tak ada sesuatu yang ingin kukatakan, mungkin hanya kau”.

Siwon Oppa menghela nafas dan menghadap padaku. “Kumohon jangan seperti ini”, ucapnya pelan sambil menggenggam tanganku. “Aku minta maaf.. sangat sangat minta maaf”.

“Kau pikir aku harus bagaimana di perlakukan olehmu seperti kemarin? Apa aku harus tersenyum lebar dan tertawa sekarang, begitu?”.

“Tidak juga harus seperti itu… maksudku….”, ucapannya terhenti, sepertinya ia tak tahu lagi harus berkata apa.

Aku mengulum bibir, masih enggan untuk menatap kearahnya.

“Oh ayolah, aku sangat merindukanmu”, ia menarik tubuhku kedalam dekapannya. Pelukannya benar-benar erat, sampai-sampai membuatku tak bisa bernafas.

“Oppa..”. Sepertinya ia mengerti setelah aku bersuara, perlahan ia mulai meregangkan pelukannya.

“Jadi, mau memaafkan ku tidak?”.

Aku menggeleng, sementara ia mengerucutkan bibirnya―sangat lucu. Tiba-tiba telunjuk jarinya menyolok pinggangku. Aku berteriak merasa kegelian, “Oppa”.

“Memaafkanku tidak?”.

“Sudah ku katakan tidak”.

“Sungguh?”, lagi-lagi ia menggelitiki pinggangku, tak tanggung-tanggung kali ini menggunakan kedua tangannya.

“Aish Oppa, hentikan”, aku tertawa. Sejujurnya aku sangat gampang merasa kegelian, bahkan jika disentuh sedikit. Apalagi jika dibagian tertentu seperti pinggang.

Aku tahu, ini salah satu trik nya untuk membujuk ku. Ya baiklah, sekarang aku akan memberikannya kesempatan. Aku memang paling tak bisa marah berlama-lama pada pria yang paling kucintai ini.

Ia terdiam melihatku tertawa, mungkin sudah merasa usahanya berhasil.

●○●

“Lihatlah siapa ini? Putri Eomma benar-benar cantik bukan?”.

Eomma terlihat begitu antusias memamerkan anaknya dengan balutan gaun berwarna biru yang dirancang sedemikian rupa layaknya seorang putri.

 RS54FO38

Dengan bangga aku memutarkan badanku didepan Appa dan juga Minwoo yang berhasil mengalihkan pandangan mereka dari pertandingan sepak bola di televisi.

“Omo, apa benar ini putriku?”, tanya Appa yang menurutku sedikit berlebihan :p.

“Yaaaah… Noona! Kau akan pergi kemana?”, seru Minwoo sambil menyilangkan kaki diatas sofa.

“Dengan pakaian seperti ini tentu saja aku akan pergi ke pesta”, jawabku sambil siap mencubit pipi bayi besar itu.

Minwoo meringis pelan sambil memberi tatapan kesal padaku, ia memang paling tidak suka jika aku memperlakukannya seperti anak kecil. Ya, menurutku dia memang tetap Minwoo-ku yang kekanak-kanakkan.

TING..TONG..

Bersamaan dengan itu, suara bel pintu berbunyi. Ah, dia sudah datang.

Senyumku merekah. Eomma menggiringku menuju pintu.

“Ah, Annyeonghasimnikka Eommeonim”, dengan ekspesi cukup kaget, Siwon Oppa segera membungkukkan badannya saat melihat Eomma menyambutnya dari balik pintu.

Eomma tersenyum sambil memegang pundakku. “Aigooo.. tampaknya calon menantuku juga terlihat sangat tampan malam ini. Kalau begitu cepatlah berangkat, kalian tentu tidak ingin terlambat bukan?”.

tumblr_lxqxcahX5C1qayxtc

Aku dan Siwon Oppa sama-sama tertunduk sambil tersenyum malu. Ia memegang tengkuknya lalu berkata, “Araso, kami pamit pergi Eommeonim”.

“Deh, tolong jaga baik-baik gadis ini”.

“Tentu”.

Setelah berpamitan, kami segera naik kedalam mobil milik Siwon Oppa yang akan mengantarkan kami ke tempat tujuan.

●○●

Selama acara berlangsung, aku terus saja menguntiti kekasihku. Ini adalah acara pernikahan sahabatnya, tentu saja yang datang adalah teman-temannya dan sama sekali tak akrab denganku. Sekedar mengenal mungkin aku tahu.

“Tak kusangka kau lah yang lebih dahulu menikah, ku kira pria yang ada disebelahku ini”.

“Apa? Kenapa kau menatapku, eoh?”.

“Hahaha… tentu saja, kau yang paling tua diantara kita semua”.

“Apa harus diukur lewat umur?”.

“Ah baiklah, sensitif sekali”.

Mereka berbincang sangat menyenangkan, aku hanya membiarkan saja. Lagipula aku mengerti Siwon Oppa pasti ingin menghabiskan waktu bersama teman-teman yang sudah lama tak di jumpainya karna kesibukkan masing-masing. Toh pasangan yang lain juga tampak setia menemani kekasih mereka masing-masing.

Tak lama dari itu seseorang menghampiri lalu menyapa dengan suara yang cukup tinggi. “Annyeoooooong…”.

Semua tampak kaget awalnya, termasuk Siwon Oppa. Namun tiba-tiba saja mereka berhambur menghampiri pria itu.

“Eunhyuk-ah? Kapan kau ada di Seoul?”.

Pria yang dipanggil Eunhyuk itu tersenyum, “Tadi sore. Apa kabar kalian semua?”.

“Aku merasa tersanjung sekali. Kau bela-bela pulang hanya untuk menghadiri pernikahanku, kan?”.

“Hahaha.. tentu saja”.

Aku terhenyak saat tiba-tiba ponselku bergetar. Aku mundur selangkah lalu mulai merogoh isi tas tanganku.

Ternyata pesan dari Minwoo yang minta di belikan pizza sepulang nanti. Aku membalas pesan itu dengan jawaban singkat.

To: Nae Dongsaeng

Baiklah adikku tersayang

“Oh ya, Siwon-ah! Tadi aku bertemu dengan kekasihmu”, perkataan Eunhyuk barusan berhasil membuatku mengalihkan pandangan padanya dengan tatapan bingung, begitupun Siwon Oppa.

“De?”.

“Ya, tadi kulihat Miyoung sedang ada di parkiran. Sebentar lagi juga dia akan datang, kalian tidak berangkat bersama?”.

Aku menahan nafas untuk beberapa detik. Kekasih? Miyoung?

Siwon Oppa tampak kaget, begitupun dengan teman-temannya. Ah Tuhan, apa ini? Bukankah disini aku lah yang berstatus sebagai kekasih Siwon Oppa, kenapa malah…?

“Nah itu dia, Miyoung-ah”, teriak Eunhyuk melambaikan tangan pada Miyoung yang baru saja memasuki gedung. Wanita dengan gaun merah itu tersenyum lalu berlari kecil menghampiri kami.

“Hhhh… Yunho Oppa, maaf sekali aku datang terlambat. Selamat untuk pernikahanmu”, Miyoung menghampiri sang mempelai pria sambil menyalami pria itu memberi selamat.

“Ani… Aniyo.. gwaenchana”, jawab Yunho dengan kikuk. Tiba-tiba matanya mengarah pada Siwon Oppa, Siwon Oppa hanya terdiam sambil menelan salivanya. Bahkan sampai sekarang ia tak memberi penjelasan sama sekali. Siwon Oppa, sebenarnya aku siapa-mu?

“Kau tidak akan terlambat jika kau pergi bersama kekasihmu Miyoung-ah”.

Miyoung menatap Eunhyuk sekilas. “Ya?”.

Semua orang masih terdiam ditempat, Miyoung dan Eunhyuk menatapi kami satu persatu dengan bingung. “Waegeurae?”.

Seseorang tiba-tiba tertawa dengan dibuat-buat. “Hahaha.. Miyoung-ah, tadi Eunhyuk berkata bahwa kau adalah kekasih Siwon”.

Miyoung ternganga, “Mwo?”.

“Ya ampun, berapa lama dia menjadi temanmu Siwon-ah? Soal ini saja dia tak tahu, Siwon dan Miyoung sudah lama putus. Dan wanita yang ada di samping Siwon itu adalah kekasihnya”, ketus pria berbadan agak besar dan tinggi itu, mencoba mencairkan suasana.

Kenapa bukan Siwon Oppa yang menjelaskannya, ia malukah mengatakan bahwa aku adalah kekasihnya?

Miyoung yang ada ditengah-tengah mereka pun mengangkat alisnya, merasa bingung saat namanya ikut di bawa-bawa. “Ada apa?”.

“Jinjja?”, tanya Eunhyuk tampak terkejut.

Satu hal yang baru aku ketahui, ternyata Miyoung bukan sekedar teman biasa, tapi juga mantan kekasih Siwon Oppa, orang yang juga pernah menempati tempat di hatinya sebelum aku?

Tenggorokanku sudah tercekat rasanya, dadaku juga perih sekali. Sebelum aku mempermalukan diriku sendiri lebih baik.. “Aku permisi dulu ke toilet”, ucapku pada teman-teman Siwon Oppa sambil menundukkan kepala.

Siwon Oppa menahan tanganku, “Apa perlu aku antar?”.

Aku menggeleng sambil melepaskan genggamannya, “Ani, aku hanya pergi sebentar”, jawabku sambil tersenyum, walaupun sebenarnya hatiku sedang menjerit saat ini.

●○●

To: 내남자

Oppa, sepertinya aku tidak bisa menemanimu sampai akhir acara. Eomma menyuruhku pulang cepat. Oppa teruskan saja, biar aku pulang sendiri

Aku menepuk-nepuk pahaku saat sudah duduk di halte menunggu kedatangan bus. Mencoba mengatur nafasku sambil sesekali menghembuskannya dengan berlebihan. Oh, aku sudah ingin mundur saja rasanya. Ku pejamkan mataku ketika rasa pesimis mulai datang.

Suara decitan roda membangunkanku dari lamunan, bus yang dinanti sudah tiba rupanya. Aku beranjak berdiri dan siap masuk kedalam bus itu, namun langkahku menjadi terhenti ketika merasakan sesuatu menahan tanganku.

“Oppa?”.

Aku menangkap ada tatapan marah yang tertahan di mata pria itu. Siwon Oppa mengatakan permintaan maaf kepada sang supir bus sambil membungkukkan kepalanya sebelum memfokuskan lagi tatapannya padaku.

“Kau akan kemana?”.

“Sudah kukatakan aku akan pulang”.

“Jangan menyangkal, kau marah karna soal tadi kan?”.

“Aniy.. aku benar-benar disuruh pulang oleh Eomma!”.

“Jika ingin pulang kenapa tidak mengatakannya padaku, kau datang kesini bersamaku, mana mungkin aku akan membiarkanmu pulang sen..”.

Kutarik dua sisi kepalanya lalu membekap mulut itu dengan bibirku. Kupejamkan mataku sambil terus menarik kepalanya agar aku dapat memperdalam ciumanku. Ya, kurasa dia masih kaget sehingga tak jua membalas ciumanku. Namun siapa peduli, sekarang aku sudah berani memulai.

Perlahan aku mulai memperlambat gerakan bibirku untuk melumat bibirnya dan sampai akhirnya aku menghentikan aksi ku yang cukup nekat itu sambil mengambil nafas untuk beberapa detik.

Siwon Oppa masih terdiam, ia menatapku dengan tatapan yang sulit kuartikan. Entah ia bingung, terkejut, atau mungkin jijik karna aku telah menyentuh bibirnya.

Aku menghela nafas cukup panjang, mengulum bibirku dahulu sebelum berkata, “Oppa, antarkan aku pulang”.

●○●

“Apa Oppa pernah mendengar bahwa cinta yang sesungguhnya adalah sesuatu yang dapat membuat kita nyaman?”, tanyaku memulai pembicaraan. Sekarang kami tengah berada dalam mobilnya―menuju rumahku

Dia mengangguk, “Tentu saja, aku selalu merasa nyaman ketika bersama orang yang aku cintai”, jawabnya tanpa memandangku.

Kalimat ‘orang yang aku cintai’ tadi itu bukan ditujukan padaku kan?

“Apa.. kau juga nyaman bersamaku?”.

Mendengar pertanyaan itu, barulah Siwon Oppa memandangku sambil tertawa, “Kenapa bertanya seperti itu?”.

“Aniy.. lupakan saja”, aku menundukkan kepala. Bagus sekali ia malah menimpalkan pertanyaan balik padaku, bukannya menjawab. Tapi itu jauh lebih baik kurasa, lagipula aku sudah tahu apa jawabannya.

“Wae? Tentu saja aku…”.

Aku memotong pembicaraannya, “Aku baru tahu jika kalian adalah mantan kekasih. Kenapa kau tidak memberi tahuku waktu itu?”.

“Maksudmu aku dan Miyoung? Kurasa kau tidak perlu tahu tentang hal itu, lagipula hubungan kami sudah berakhir”.

Tidak perlu tahu? Aku adalah kekasihmu.

“Dulu, kenapa kau putus dengannya?”.

“Karna kami ingin menjalani hidup masing-masing. Ketika ia pindah ke Amerika kami masih berhubungan, hanya saja lama kelamaan aku dan dia sama-sama tidak nyaman untuk melakukan hubungan jarak jauh. Akhirnya kita putus tak lama dari itu”.

Alasan putus hanya karna jarak? Itu artinya kau masih mencintainya?

“Dia cinta pertamamu?”.

Siwon Oppa menoleh padaku lagi. “Omo, haruskah aku berkata jujur pada kekasihku sendiri?”.

Aku memalingkan wajah dan menatap kedepan. “Orang-orang bilang melupakan cinta pertama adalah hal paling sulit. Itu benarkan?”.

“A…”.

Lagi-lagi aku memotong, tak membiarkannya untuk berbicara. “Walaupun status kalian sebagai mantan kekasih, tapi Oppa dan Miyoung terlihat akrab sekali. Hubungan kalian begitu dekat nampaknya. Aku jadi iri, kenapa Tuhan tidak membuat Oppa mengenal ku lebih dulu dibandingkan dengan Miyoung? Aku juga ingin sedekat kalian”, tanyaku sambil tersenyum kecut.

“Kenapa kau berkata seperti itu?”.

“Jika saja Tuhan mempertemukan kita lebih dulu, mungkin aku bisa mendapatkan hatimu lebih besar. Betapa beruntungnya wanita yang menjadi cinta pertamamu”.

“Yoongie-ya, kenapa kau jadi membanding-bandingkanmu dengan cinta pertama. Kau marah padaku?”.

“Aniy.. untuk apa aku marah”, dengan susah payah aku mencoba untuk tidak menangis dan menatap matanya. “Oppa, kita putus saja”, ucapku sedikit serak ketika mengucapkan kalimat itu.

Ia terdiam sambil menatapku dalam, kemudian tertawa dibuat-buat. “Jangan bercanda, hari ini aku sedang tidak berulangtahun, chagi-ya”.

Dadaku semakin sesak saja rasanya, air mata turun begitu saja dari mata kananku. “Aku tahu kau pasti sudah tak nyaman bersamaku, hal itu membuatku menjadi tak nyaman juga. Sesuatu yang di paksakan memang tak akan pernah berakhir dengan baik”.

“Sesuatu yang di paksakan apa maksudmu? Kenapa daritadi kau berbicara sembarangan terus”, kali ia menimpalku dengan wajah yang serius, mungkin baru menyadari bahwa aku sedang tak main-main.

Aku hanya terdiam, menundukkan kepalaku sambil terus menahan tangis agar tak terlalu keluar dengan berlebihan.

“Chagi, kau kenapa?”, ia meminggirkan mobilnya dan berhenti dijalan yang saat itu sudah sepi.

“Aku hanya merasa kau jadi berbeda setelah kedatangan wanita itu. Aku dapat melihat kau lebih nyaman ketika bersamanya dibandingkan aku, kau juga lebih perhatian padanya dibandingkan aku, rasanya akhir-akhir ini kau lebih banyak meluangkan waktu bersamanya dibandingkan pergi bersamaku―bahkan diacara kencan kita pun ia selalu ikut mengganggu. Bukan hanya itu, aku merasa kau juga selalu membatalkan janjimu padaku dengan memakai alasan wanita itu”, ucapku panjang lebar, mungkin selama ini aku sudah cukup untuk selalu bersabar. “Satu lagi, Oppa ingat ketika terakhir aku marah padamu? Soal janjimu untuk bertemu, kenapa Oppa bisa sampai lupa? Apa aku orang yang memang mudah untuk dilupakan, Oppa?”, tanyaku tertunduk sambil tersenyum miris.

“Chagi, aku..”.

“Maaf jika aku bersikap kekanak-kanakkan seperti ini dengan membahas masalah yang dulu-dulu…”, aku menghela nafas dahulu ketika merasakan dadaku semakin sesak. “Sebenarnya aku ingin membuang pikiran-pikiran burukku tentang kalian, hanya saja ketika malam ini aku tahu bahwa kalian adalah mantan kekasih, aku… aku malah jadi… merasa jika aku….jika aku hanya…”, kuhentikan dahulu ucapanku ketika dadaku semakin perih dan tak sanggup lagi untuk membendung air mataku yang sudah mulai berjatuhan. “Oppa, aku bukanlah pelarianmu kan? Apa.. apa kau benar mencintaiku… hkkks??”.

“Tentu saja aku mencintaimu. Kau bukanlah pelarianku dan aku tulus mencintaimu.. tak ada hubungan yang berarti diantara aku dan Miyoung, Chagi”.

Aku membekap mulutku dengan tangan, dengan susah payah aku menahan-nahan tangisku agar tak bersuara keras. Aku merasa malu jika harus menangis didepannya. “Kau jangan ikut keluar”, ucapku sebelum aku membuka pintu mobil dan keluar. Berjongkok di samping mobil seraya menangis dan menekan-nekan dadaku. Apa aku begitu kenakan? Tapi ini benar membuatku sakit hati. Aku takut jika harus menerima kenyataan dan sesuatu yang buruk akan datang. Tuhan, aku belum siap.

BLUK~

Sigap aku segera menghapus air mata dari pipiku ketika menyadari bahwa ia juga keluar dari mobil dan kini tengah berjalan menghampiriku. Walaupun sudah tak ada lagi sisa tenagaku tetap kupaksakan untuk berdiri dan berlagak seolah aku baik-baik saja. Tapi rasanya itu hanya buang-buang tenaga saja, lagipula sekarang wajahku sudah memerah, begitupun mataku.

Entah kapan tepatnya, sekarang aku sudah berada dalam dekapan hangat dari tubuh kekarnya. Ia menenggelamkan kepalaku di dada bidangnya sambil mengelus rambutku lembut. “Sudah ku bilang kau jangan keluar..”, ucapku yang terpotong.

Ia semakin mengeratkan pelukannya lalu berkata, “Jika ingin menangis, menangis saja dan bersandar disini. Jangan hanya kau pendam sendiri, sekarang didalam dirimu juga sudah ada aku”, ia mencium puncak kepalaku cukup lama sambil menepuk-nepuk punggungku.

Pertahananku runtuh, aku tak dapat lagi menahan tangis didepannya. Air mataku terus keluar membasahi tuxedo dan kemejanya. Aku tahu ini adalah tangis yang selalu ku bendung akhir-akhir ini. sementara Siwon Oppa hanya terdiam seolah mengerti dan membiarkanku meluapkan isi hati.

“Sudah merasa baikkan?”, tanyanya ketika tangisan ku berangsur berhenti dan sedikitnya aku sudah merasa lega. Ia meregangkan pelukannya kemudian melepaskan tuxedo nya dan dipakaikan pada pundakku. Perlakuannya begitu manis malam ini, ia menghapus air mataku lalu merapikan rambutku yang sedikit berantakan. “Sekarang masuk kedalam dulu”, ia membukakan pintu mobil untukku. Aku memandangnya dahulu, ia balas menatapku sambil mengulum bibir dan mengangguk. Inginnya aku menolak permintaannya, hanya saja kami memang masih perlu meluruskan masalah ini.

●○●

“Kau masih marah padaku?”, tanya Siwon Oppa berjongkok dihadapanku. Aku tengah terduduk di sofa apartmennya. Aku hanya diam dan terus membuang muka. “Maafkan teman-temanku akan sikap celetukan mereka”.

“Harusnya aku berterimakasih pada mereka, jadi aku tahu hubungan antara Oppa dan Miyoung yang sesungguhnya”, jawabku begitu ketus. “Hanya saja aku kecewa karena ini, kenapa aku tahu bukan dari mulutmu sendiri?”.

“Maaf, harusnya aku mengatakan yang sebenarnya dari awal..”.

“Ya, kenapa tak bilang jujur dari awal. Oppa, kau tak bermaksud untuk merahasiakan sesuatu dariku kan?”.

“Tidak, Chagi. Aku tak punya niatan untuk menyembunyikan sesuatu darimu. Hanya saja aku merasa kau tak perlu tahu tentang itu. aku dan Miyoung memang bernah berpacaran, tapi sebenarnya kita seperti tak sedang berpacaran. Kita hanya terbiasa bersama sejak kecil, kita berdua sahabat dekat yang sudah seperti saudara, makanya kita sudah tak saling canggung satu sama lain. waktu itu kita memutuskan untuk berpacaran karena saat itu kita sama-sama sedang sendiri dan sering meluangkan waktu bersama. Dan seiring dengan berjalannya waktu kita merasa bahwa kita tak cocok untuk menjadi pasangan kekasih. Aku sahabat Miyoung selamanya, begitupun sebaliknya. Kami lebih nyaman dengan hubungan kami sebagai sahabat, bukan kekasih. Maka dari itu kami memutuskan untuk berpisah, tepat disaat Miyoung pindah ke Amerika”, jelasnya panjang lebar. Aku tertegun, benarkah apa yang ia katakan?

“Lalu, apa aku pantas menjadi kekasihmu? Cocokkah kita untuk menjadi sepasang kekasih? Dan apakah… Oppa mencintaiku?”.

“Jika tentang itu aku rasa kau tak usah menanyakannya”, ucapnya dan langsung menciumku singkat.

“Benarkah? Di pesta tadi bahkan kau seakan malu untuk memberitahu pada teman-temanmu bahwa aku adalah kekasihmu”, ucapku mencoba memasang ajah galak namun malah wajah yang menyedihkan yang keluar. Ia menatapku dalam, kemudian mencium bibirku lagi, kali ini dengan durasi yang jauh lebih panjang dibandingkan ciuman tadi.

Awalnya aku mencoba untuk menghentikan ciuman itu sambil menahan dadanya, hanya saja lama kelamaan aku malah terbawa suasana karenanya ketika merasakan bahwa lidahnya sudah terasa dimulutku. Aku dapat merasakan kedua paha Siwon Oppa telah menghimpit pahaku. Ia melumat bibir bawah dan bibir atasku bergantian dengan pelan namun dalam. Kepalanya ia miringkan kearah lain dan mengulum bibirku kembali.

“Oppa hentikan..”, aku mencoba berkata diantara ciumannya.  Aku tak dapat memfokuskan pikiranku, sekarang ia semakin memperdalam ciumannya dan kedua tangannya terus tergerak mengelus punggungku dengan pelukan yang erat. Tanpa kusadari, sekarang aku pun membalas ciumannya yang menggoda. Tanganku yang berada didadanya perlahan naik kearah lehernya dan menarik dengan pasti seolah aku pun ingin semakin memperdalam ciuman kami.

Namun tiba-tiba, ada sesuatu yang begitu mengganggu moment romantis kami. Suara ponsel Siwon Oppa berbunyi, aku lantas menahan pundaknya untuk segera mengakhiri ciumannya dan mengangkat panggilan itu. Siwon Oppa awalnya enggan, namun aku terus mendorong tubuhnya paksa.

Akhirnya ia menghentikan ciumannya dan beralih menatap pada ponselnya yang masih berbunyi. Aku terus memandangnya seolah menanyakan siapa yang menelepon. Ia hanya terdiam dengan wajah yang kaku, kemudian mengangkat panggilan tersebut.

“Ya, ada apa?…. Aku sudah berada di apartemen….. umm.. kami pulang lebih dulu…… tidak apa-apa, kami baik-baik saja….. de, annyeong…..”.

“Nugu?”, tanyaku ketika Siwon Oppa sudah mengakhiri sambungan teleponnya.

“Miyoung..”.

“Ah”, aku menangguk sambil berdiri. “Oppa, bolehkah aku menginap disini?”.

Ia gelagapan mendengar pertanyaanku, “Niat awalku membawamu kesini memang untuk itu”.

Aku tersenyum, senyuman yang akan membuatnya takut kurasa. “Sayang, jika kau ingin marah, marah saja”. ia ikut berdiri dan siap menarik tanganku. Hanya saja aku keburu menjauh dan berjalan kearah kamarnya.

“Aku ingin mandi”.

Rasanya malam ini aku mulai bersikap nakal, setelah mandi di kamar mandi pribadinya yang berada didalam kamar, aku memakai kemeja putih milik Siwon Oppa sebagai baju  ganti. Tapi ini… kurasa ini terlalu nakal, ya Tuhan apa yang telah aku perbuat? Rutukku ketika tengah melihat pantulan diriku didepan cermin besar yang ada didalam kamar Siwon Oppa. kain kemejanya terlalu tipis sehingga bra ku jadi terlihat, ini juga terlalu pendek jika aku pakai sebagai piyama. Ah bodoh, lebih baik aku berganti dengan memakai t-shirt dan celana nya.

CLEK~

Ketika aku berbalik untuk mengganti pakaianku, Siwon Oppa keburu masuk kedalam kamar. Ia sedikit terkejut melihatku dengan kemejanya. Mulutnya terperangah dan matanya tergerak menatap tubuhku dari ujung kaki hingga ujung kepala.

Wajahku terasa panas mendadak, jantungku pun berdetak semakin cepat. “Ah.. aku aneh dengan pakaian ini kan. Aku akan segera menggantinya”, ucapku siap berjalan menuju lemari pakaiannya.

Hanya saja ia keburu menarik tanganku lalu berkata, “Tidak, kau pantas dengan itu”, ucapnya singkat dan dia langsung menciumku lagi.

Kali ini ia melumat bibirku lebih dalam dari ciuman tadi. Aku juga dapat merasakan tangan Siwon Oppa sudah meremas sebelah payudara ku. “Aku mencintaimu”, ucapnya yang lebih tepat seperti desahan yang begitu memabukkan. Ciumannya beralih pada daun telingaku, aku dapat merasakan nafas nya dibelakang telingaku yang membuat bulu romaku berdiri.

Perlahan Siwon Oppa mulai membaringkanku diatas tempat tidur dan menyelimuti tubuhku dengan tubuhnya. “Aku mencintaimu”, katanya lagi sambil menyapu leherku dengan bibirnya. Kemeja yang kupakai sekarang terlalu kebesaran membuat bahuku terlihat. Tangan Siwon Oppa menariknya dan kali ini bahu kananku sudah jelas terlihat tak tertutupi lagi oleh kain. Setelah leher, kali ini ia mengekplorasi bagian bahuku dengan ciuman bibirnya.

Tak sadar bahwa sedari tadi aku mendesah pelan seraya melingkarkan tangan dilehernya, ataupun sesekali mengacak-acak rambutnya.

“Oppa!”, panggilku ketika aku merasa bahwa ini sudah kelewat batas. Ia tak menjawab dan malahmengangkat kepalanya untuk siap mencium bibirku lagi, hanya saja kali ini aku cukup cekatan untuk menghentikannya dengan membekap mulutnya dengan telapak tanganku dan tangan satunya lagi menahan tangan liar yang tengah mencoba membuka kancing kemejaku.

Ia nampak kecewa, matanya merajuk memintaku untuk membiarkannya melakukan apa yang ia mau. hanya saja kali ini aku sedikit bersikap tegas seraya menggelengkan kepala. “Aku belum menjadi milikmu seutuhnya, hanya pria yang sudah bergelar sebagai suamiku saja yang bisa melakukannya”.

Ia masih tak berkata apa-apa karena mulutnya masih di bekap oleh telapak tanganku, yang dapat aku lihat hanya ekspresi pasrah dari matanya. Itu membuatku tertawa, dia benar-benar seperti anak kecil.

“Baiklah, aku akan menikahimu secepatnya”, jawabnya setelah menyingkarkan tangan dari mulutnya.

“Hanya saja aku tidak mau menikah denganmu”.

Alisnya terangkat, matanya membulat dan hidungnya berkedut, “Apa kau bilang?”.

“Apa kurang jelas? aku tidak mau menikah denganmu”.

“Masa bodoh, aku tetap akan menikahimu”, ia menggeliti pinggangku. Aku mengerang ampun sambil tertawa menahan rasa geli. Ya ampun, sudah tahu aku mudah kegelian.

“Ampun… Hahaha hentikan Oppa…. aku menyerah…. Lelah sekali…”.

Akhirnya ia menghentikan aksinya tersebut, jantungku berdetak hebat dan nafasku tersenggal-senggal. Siwon Oppa menatap kearahku seraya menyisikan rambut ku kebelakang telinga. “Baiklah, sudah malam. Istirahatlah”.

Aku meringkuk di dalam pelukannya dan diselimuti oleh tangannya yang besar dan hangat. “Tunggu saja ya, nona.. aku akan segera menikahimu”.

Mataku yang sudah tertutup, terbuka kembali, “Segera menikahiku apanya, bahkan kau belum mempertemukanku dengan orangtuamu”, ketusku dengan nada sebal.

“Siapa yang belum mempertemukanmu dengan orangtuaku? Kau saja yang selalu sibuk dan menolak untuk menemui mereka”, timpalnya membela diri.

“Hh… sebenarnya aku sedikit takut untuk menemui keluargamu. Apa mereka akan menyukaiku? Seperti mereka menyukai Miyoung..”.

Siwon Oppa menghela nafasnya berat, “Lagi-lagi membawa-bawa nama si piglet jelek itu. sudah kubilang kami sudah berteman baik sejak dulu, makanya hubungan keluarga ku pun begitu dekat dengannya karena ia sering datang kerumah. Eomma dan Appa sudah menganggap Miyoung sebagai anaknya sendiri, dan bagiku Miyoung sudah seperti adik keduaku setelah Siwan”.

“Lalu bagi kedua orangtuamu, aku akan ada di posisi yang mana?”.

“Tentu saja menantu mereka yang terbaik”.

“Siapa yang akan menikah denganmu?”, candaku menatapnya serius. Ia balik menatapku dengan ekspresi geram, aku tertawa lagi melihat wajahnya begitu.

Perlahan aku semakin menenggelamkan wajahku didadanya sambil memeluk pinggangnya, “Aku hanya merasa selalu tertekan jika melihatmu dengan Miyoung. Aku tak melarang mu berhubungan dengannya, hanya aku minta kau sedikit membatasi dan mengingat bahwa sudah ada aku disampingmu. Maafkan aku jika cemburuku mungkin terlalu berlebihan, hanya saja aku tidak bisa membohongi diriku sendiri”.

“Ya, mulai sekarang jika kau tak suka, bilang saja tak suka. Jika kau marah, kau boleh memarahiku. Jika kau sedih, kau boleh menangis dan bersandar di pundakku. Jangan selalu memendamnya sendiri, kau juga harus ingat bahwa sudah ada aku didalam dirimu”, tangan Siwon Oppa berada di tengkukku dan mengelus pipiku. “Jika saling terbuka seperti ini, kita masing-masing bisa saling mengintropeksi diri, bukan?”.

Aku mengangguk pelan, yang dikatakan Siwon Oppa memang benar. Aku terlalu tertutup selama ini.

“Tapi apa kau tidak terganggu dengan sikap pencemburuku?”.

“Kurasa sikap percemburumu itu masih wajar-wajar saja untuk pasangan kekasih. Aku juga cemburu karena kau begitu memuja aktor jelek Lee Minho dibandingkan kekasihmu sendiri”.

“Aku hanya mengaguminya, yang kucintai hanya dirimu”.

“Benarkah?”.

“Eoh!”.

Ia semakin mempererat pelukannya ditubuhku.

“Oya..”, kurasakan Siwon Oppa sedikit terhenyak, sepertinya tadi ia sudah mulai menutup matanya. Hanya saja terbangun kembali ketika aku berseru. “Piglet? Kau memberikan panggilan sayang untuk Miyoung. Sementara padaku tidak ada panggilan khusus”.

“Panggilan sayang? Piglet? Ya Tuhan, apa kau tidak bisa membedakan mana panggilan sayang dan panggilan sindiran”.

“Aku tak peduli apa arti panggilan itu, hanya saja kenapa tidak ada panggilan khusus untukku?”.

“Ya sudah, kau ingin aku panggil baby? Dear? Yoongbabe? Ggomaengie (little cutie)? Sweetheart? Atau Yeobeo?”, tanyanya dengan tampang yang errr…. Aku ingin menggigit bibirnya.

“Panggilan apa itu? geli sekali aku mendengarnya”.

“Ah benar, Yeobeo lebih cocok. Sebentar lagi kita kan akan segera menikah”.

“Daritadi Oppa terus saja membicarakan soal pernikahan. Lagipula siapa yang ingin menikah denganmu?”, ucapku sambil berbalik badan dan tidur dengan posisi membelakanginya.

“Yaaaak.. kau kira aku bercanda”, ia menerkamku dari belakang.

“Sudah hentikan, aku ingin tidur”.

“Aku serius akan menikahimu”.

“Dan aku akan menolakmu”.

“Aku tahu kau tak serius”.

Aku tertawa mendengar celetukkannya.

●○●

Minggu pagi, tepatnya tanggal 28 Juli 2013, Siwon Oppa memberiku sebuah pesan..

From: 내남자
Chagi, aku minta maaf untuk acara makan malam nanti akan sedikit terlambat karena ada meeting mendadak. Tapi aku berjanji akan datang. Tadi aku sudah menyuruh Miyoung untuk menjemputmu kerumah, jadi bersiap-siaplah. Pukul 8 malam oke? Berdadanlah yang cantik. Aku mencintaimu.

Sudah seminggu ini aku tidak bertemu dengannya, ia beralasan karena sedang banyak pekerjaan dan selalu pulang pergi keluar kota. Untuk masalah itu aku masih bisa mentelolir, hanya saja kenapa  dihari pertama kita bertemu setelah tak saling bertatap muka selama seminggu ia mengajakku makan malam bersama Miyoung? Makan malam hanya berdua bukankah lebih baik? Aku benar-benar tak mengerti jalan pikiran pria itu.

Dan juga, kenapa harus terlambat datang? Sudah buat janji apa masih saja sibuk? -_- Kesal sekali.

Pukul 8 lebih 10 menit, setelah sekian lama akhirnya Miyoung datang kerumah, ia benar-benar datang menjemputku seperti yang Siwon Oppa janjikan. Tapi ternyata ia datang tidak sendiri, tapi dengan seorang pria berkaca mata. Ternyata pria itu adalah kekasih Miyoung. Jadi makan malam ini bukanlah triangle dinner seperti yang aku kira? Namun lebih tepat dikatakan sebagai double date? ah melegakan sekali, maafkan aku sayang (Siwon) karena telah berburuk sangka padamu. Kkkk~

Awalnya aku pikir tak ada yang spesial dengan acara makan malam ini, tapi tahukah kalian apa yang terjadi sesampainya kami tiba disana?

aku baru menyadari bahwa selama satu minggu ini dia..??

[WAJIB, INI PERLU BANGET BANGET SUNGGUH BUAT YANG BACA FF INI MESTI LIAT VIDEO DIBAWAH INI. KALAU ENGGA KALIAN NGGAK AKAN TAHU APA YANG TERJADI PADA YOONA SETELAH IA SAMPAI DISANA. VIDEO ITU ADALAH MOMENT ENDING DARI FF INI. SO, CHECK THIS OUT RIGHT AWAY, PLEASE.. HHAHA I JUST WANNA SHOW UP THIS MA FANVID TO ALL LOVELY NITED..]

●○●THE END●○●

Nited saya kembaliiiii… saya balik nulis lagi… Niteeeeedddd.. saya dataaaaaang /teriak-teriak ga jelas tapi ga ada yang nyautin/ -_-

Maaf aku lanjutin cerita nya melalui video, bukan tulisan. Jujur, nulis OS yang begini udah panjang jadi males ngetiknya xD kkkk tapi yakin deh, setelah liat video nya pasti bakal ngerti kan.. eh masalah ini video aku serius, wajib liat ya please, aku udah capek2 loh di moment aku comeback (ish sok ngartis banget si resty) spesial aku bikinin video plus OS yang panjang banget nyampe ke awang2 bener -_- kalo aku pas nonton video (versi aslinya) sih ampe nangis, gatau deh kalian setelah aku edit jadi video versi YoonWon jadi terharu apa engga. Tapi bener ya, kalo terjadi di kehidupan nyata YoonWon kek video disana ya Allah, itu mah…… *speechless gatau mau ngomong apa*…. Pingsan, pingsan dah tuh semua Nited..

Ini sebenernya iseng-iseng dibikin, serius.. niatnya mau lanjutin IBL 7 tapi malah jadi bikin OS ini /sumpah, udah siap didepan lappy buat lanjutin IBL malah pindah dokumen jadi nulis nih OS/. Sebenernya gara-gara sesuatu yang bikin galau beberapa hari yang lalu sih.. jadi terciptalah karya asdfghjkl saya ini.. tapi tetepkan ya gue jadiin happy ending, gue mah orangnya selalu ambil aman aja dah [?] /daripada di gebukin Nited/

Gue tahu betul ini cerita emang jelek pake banget, ceritanya datar abis, klonflik cinta yang udah sering terjadi. ini mah bukan cerita sih, tapi lebih tepat disebut curhatan (gak penting).. konflik nya juga, ringan sekaleeeeeeee. kalo ga suka ama ceritanya mohon maaf ya, namanya juga iseng2.. baru selesai test buat masuk PTN langsung bikin ini.. mumpung lagi ga puasa juga jadi aman lah ya walaupun otak agak sedikit ‘miring-miring ga penting’ [?]

Buat yang nunggu IBL 7 (BUAT YANG MENANTI AJA), mohon bersabar ya.. aduh maaf-maaf, aku tahu kalian sudah sangat bosan denger aku ngomong “sabar ya”, “iya ini juga lagi dilanjutin”, “skrg aku juga sedang berusaha buat lanjutin”, “mohon ngerti aku lagi kehabisan ide” dan sampai sekarang ga kelar2! /aku juga kesal dengan diriku sendiri, ide kenapa mendadak mampet kek begini TwT/.. serius kehilangan ide nih, lagian kalo di paksa di beresin cepet2 tapi hasilnya ga bagus kan ga seru :333 sabar ya.. nanti aku kasih photo ddangkoma full naked deh -_- suerrrr.. sabar ya sabar.. please 😥 jangan mencaciku (apasih lebay) setidaknya udah aku kasih OS ini sebagai penambah sabar kalian.. yang sedang puasa, ingat ingat!

maaf juga klo typo bertebaran -_- sumpah males buat edit ulang..

Selesai baca, wajib komentar ya^^ WAJIB KOMENTAR TUH.. WAJIIIIIBBBB!!! /buset itu capslock jebol, pake bold pula/

Eh eh terakhir, buat yang lagi puasa jangan baca ini dulu ya.. entar aja pas udah buka.. nanti pahala puasanya berkurang lagi.. yang udah terlanjur baca jangan nyalahin gue ya… kan udah di ingetin :p wkwkwk /ngingetinnya di akhir tulisan, geblek!/

≫MINTA SARAN: perlu ga ni tulisan aku buat jadi 2S? /9.039 men../ Abis takut terlalu panjang jadi kalian pegel bacanya.. minta sarannya ya. makasih

Iklan
Tinggalkan komentar

236 Komentar

  1. Aku gk tau endingnya???? Q bcnya lwat hp. Jdi ga bsa liat.. Nbaaaa

    Balas
  2. Huwaaaaaaa . . . . . . terharu sma ending-nya.
    daebbak author . . .!!!

    Balas
  3. any

     /  Mei 24, 2014

    Beberapa waktu lalu aku sudah baca os ini, tapi berhub. Kompter kntorku g bisa buat muter video jd g bisa liat endingnya. Ini tadi aku baca lagi lewat hp n liat videonya. Bagus bgt.

    Balas
  4. nurul isnaini

     /  Juni 21, 2014

    daebak thor.. nyesek banget pas yoona eonnie bilang putus sma siwon oppa.. tpi endingnya keren bngett…:)

    Balas
  5. im yoo ra

     /  Juli 26, 2014

    Keren eonni ceritanya.

    Balas
  6. ayu

     /  Oktober 20, 2014

    sempat mewek bacanya ending nya pasti seru

    Balas
  7. Bingung endingnya seperti apa sih

    Balas
  8. swari kartika

     /  Februari 8, 2015

    Entah udh keberapa kalii baca ff ini saking seringnya.. hahaa aku suka bgt.. siwon oppanya romantis penyayang bgt.. aaaaah.. beruntungnya yoona oennie..

    Balas
  9. suka bnagett daebakk (y)

    Balas
  10. sukkaaaa banget baca cerita ini..
    tidak pernah bosan baca ini 😁
    apalagi sikap pengertiannya YoonA dan cinta tulus Siwon. aahhh melting. seperti nyata
    ditunggu lagi karya-karya yang seperti ini

    Balas
  11. marsiah

     /  Maret 13, 2015

    Ff nya daebakk,buat orang nyesek and mewek pas bacany,pasti seru endding….

    Balas
  12. mywon_407

     /  Maret 18, 2015

    Ffnya romantis bget..
    Beneran ngebayangin kalo videonya jdi kenyataan (amin)…

    Balas
  13. Cha'chaicha

     /  Mei 9, 2015

    Dlu dh baca tpi lupa udh komen apa blm, ga bisa buka video’y lgi, tapi crita ini bnr” keren

    Balas
  14. anah sanggy sonelf

     /  Juni 14, 2015

    walaupun udah pernah baca ff ini tapi tetap aja ikut ngrasain kesedihan yoona eonni.
    pokoknya cerita & videonya keren eon

    Balas
  15. Awalnya aku kesel bgt sm wonpa, sampai akuberpikir menyuruh yoona mencari pria laintuk manas2i wonpa.tp ternyata wonpa hanya menganggap miyeong hanya sbgi tmn bkn mantan kekasih.tp akhirnya romantis bgt, apalagi ada adegan ranjang untung mrk tdk melakukannya.krn aku bc ni ff blm buka puasa kan jd merinding bcnya.

    Balas
  16. Zhahra

     /  Juli 3, 2015

    Akhirnya…setelah lama banget berkelana mencarai Ini FF….ketemu juga..
    Gomawo deeeh buat chingu ika..yang udah ngasih tau..
    Dulu pernah baca aku thor..tapi belum ninggalin jejak..jadi sekarang mau nebus hutang gitu…
    Aku suka banget FF ini..beneran deeh..soalnya alur ceritanya keren banget..sebanget bangetnya

    Balas
  17. susi

     /  Juli 7, 2015

    Mulanya agak kessel juga sama si miyoung,, tapi ternyata mereka emang beneran cuma sahabatan,,
    Siwon nya sweet banget dan pengertian banget,,…. Aku suka ending nya…😂
    #berharap suatu saat ini benar-benar akan terjadi di kehidupan nyata…

    Balas
  18. selvarospiyanti

     /  Juli 14, 2015

    Aaaaaahhh sumpah so sweet bgt bgt wonppa, kren cerita nya thor daebak 🙂

    Balas
  19. perasaanku seperti nano nano saat yoona mau nyerah. akhh videonya baguss authorrr.

    Balas
  20. melani

     /  April 3, 2016

    Keren apalagi endingnya.. di tunggu cerita yg lainnya..

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: