[FF] BABY PROPOSAL – Because love does not need a reason (Chapter 1)

[FF] BABY PROPOSAL – Because love does not need a reason (Chapter 1)

 

Author             : Ravikha Indriani

Twitter                        : @pikhapikhu

Length             : Chapter

Rating             : PG 17

Genre              : Marriage Life, Angst & Romance

Main Cast      :

Super Junior’s Siwon

SNSD’s YoonA

Support Cast :

SNSD Tiffany

SNSD Yuri

SNSD Jessica

Super Junior Donghae, etc

 

Annyeong, saya kembali lagi membawa cerita ini. Cerita ini terinspirasi oleh novel yang pernah saya baca. Tapi untuk alur cerita itu murni pikiran saya sendiri. Sebenarnya cerita dalam ff ini juga mungkin pernah terjadi tapi bukan pada saya. Tapi saya berharap kalau kalian yang baca merasa terhibur. So, DON’T BE SILENT READER, OK … !!! PLEASE LEAVE YOUR COMENT AFTER READ THIS. THANK YOU !!!

 

Warning : Typo bersembunyi dimana-mana.

 

#Happy Reading#

 

Sudah setengah jam lebih Yoona berada di kamar mandi apartementnya. Perasaannya kacau. Hampir sepuluh menit lebih ia memegang alat itu, tetapi ia malah memejamkan matanya rapat-rapat. Tidak berani melihatnya. Ia takut pada kebenaran yang akan terhampar di depan matanya.

 

Ini kali kedua ia menggunakan test pack, setelah kemarin tidak dapat melihat hasil yang jelas. Garis yang menunjukkan apakah dia positif atau negatif hamil tidak terlihat dengan jelas. Pagii ini, dia mengulanginya lagi untuk lebih memastikannya.

 

Yoona menarik napas dalam-dalam. Dikuatkan hati untuk melihat hasil yang terlihat. Perlahan, matanya terbuka, dan pandangannya terarah pada alat tes ditangannya. Pekik tertahan ke luar dari bibirnya. Matanya membulat, tangannya mulai gemetaran. Sebelumnya, ia sudah menduga tetapi hatinya terus menyangkal kemungkinan itu. Namun, tanda positif yang ada di testpeck terlihat jelas. Dia hamil! Perasaan Yoona tidak karuan. Takut, panik, dan bingung bercampur jadi satu. Dia masih berharap bahwa tanda positif itu hanyalah khayalannya.

 

Dia tidak mungkin hamil disaat seperti ini. Ini pasti sebuah kesalahan! Dia tidak mungkin hamil! Test pack ini pasti salah. Tangan Yoona masih terkepal kuat. Dia berharap kalau semua ini mimpi. Hatinya makin gelisah.

 

Yoona tidak dapat membayangkan seperti apa hidupnya nanti. Bagaimana dia harus menjelaskan kepada keluarganya apalagi appa-nya. Selama ini dia memilih untuk tinggal di apartement karena dia mau menunjukkan kalau dia bisa mandiri dan dia bukan anak manja. Dia ingin membuktikan itu pada Appa-nya.”Tapi kenapa yang terjadi malah seperti ini?”, batin Yoona menahan air mata yang akan keluar.

 

Yoona bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup dan biaya kuliahnya. Dia ingin mengejar cita-citanya menjadi seorang chef yang handal. Dia rela meninggalkan segala kemewahan yang selama ini orang tuanya berikan, karena Appa-nya ingin Yoona masuk kuliah jurusan bisnis. Yoona memang kuliah dijurusan bisnis seperti keinginan Appa-nya tapi dia juga mengikuti kursus memasak untuk mewujudkan cita-citanya.  Appa Yoona  ingin agar dia bisa menjadi pewaris perusahaan Im. Appa Yoona tidak tahu kalau Yoona mengikuti kursus itu, tapi Eomma juga kakaknya tahu kalau dia mengikuti kursus itu. Yoona juga belum berniat untuk menjalin hubungan dengan lelaki manapun setelah Donghae-mantan kekasihnya- mengkhianatinya. Namja itu berselingkuh dengan teman sekampus Yoona yang selama ini telah menjadi teman curhatnya.

 

Air mata Yoona mulai mengalir deras. Dia menangis sesenggukan, merasa tidak berdaya. Dia merasa tidak sanggup untuk menjalani kehamilannya ini. Dia tidak menginginkan seorang bayi. Tidak pada saat ini! Saat dirinya sedang bersemangat untuk kuliah dan bekerja. Jika ia melepaskan cita-citanya menjadi chef hanya karena hamil, ia tidak akan punya kesempatan lagi.

 

Selain itu, dia juga merasa tidak sanggup untuk menjadi seorang Eomma. Dia yakin, dia tidak akan bisa menjadi seorang Eomma yang baik. Sempat terlintas dalam pikirannya untuk menggugurkan saja, tetapi dengan cepat diralatnya kembali. Baginya, menggugurkan kandungannya itu terlalu keji, tidak manusiawi. Namun, dia juga tidak ingin menikah. Dia tidak ingin terperangkap dalam suatu ikatan pernikahan yang akan membuatnya tidak dapat bergerak bebas, dan akhirnya terpaksa melepaskan semua yang pernah dia cita-citakan. Dia juga masih terlalu muda untuk membangun sebuah keluarga.

 

Apa yang harus dilakukannya dengan bayi ini? Hanya ada dua pilihan; melahirkan dan membesarkannya sendiri, atau memberitahu namja itu. Bukankah namja itu Appa dari bayi yang dikandungnya? Jadi, dia berhak tahu. Yoona bangkit dari toilet dan keluar dari kamar mandi. Sambil mempertimbangkan keputusannya, ia melangkah ke dapur, mengambil segelas air dan meneguknya perlahan. Setengah melamun, ia duduk di sofa di ruang tamu yang juga dijadikan untuk ruang tv.

 

Bagaimana cara mengatakannya? Haruskah dia menelepon namja itu dan mengatakan, ” нǻii…, ini Yoona, yeoja yang pernah sekamar denganmu di kapal pesiar waktu liburan di Pulau Jeju…aku sedang mengandung anakmu,” begitu saja, tanpa basa-basi pikir Yoona. Dia tidak mungkin melakukannya karena itu terlalu aneh. Dia harus mengatakan langsung dihadapan lelaki itu tapi Yoona takut. Masih teringat jelas, reaksi yang timbul di dalam dirinya ketika bertemu dengan namja itu. Tubuhnya yang jangkung dan atletis, serta wajah tampannya mampu membuat perut Yoona mulas. Tatapan matanya yang tajam dan dingin mampu membuat hati Yoona terjungkir balik (?). Namja itu memang sangat mempesona. Yoona mendesah resah.

 

Yoona takut jika namja itu tidak mau bertanggung jawab dan malah balik menuduh kalau dia, yeoja yang tidak baik dan pernah melakukan itu dengan namja lain. Yoona benar-benar akan menghajar namja itu itu kalau berani menuduhnya serendah itu. Namja itu adalah orang pertama baginya, dan dia ingat persis setiap detail kejadian itu hingga musibah ini terjadi. Tiba-tiba gelombang amarah melanda Yoona. Dia marah pada dirinya sendiri karena telah mabuk dan merelakan namja itu menyentuh tubuhnya! Yoona menghela napas panjang. Seandainya semua itu tak pernah terjadi. Seandainya waktu bisa diulang kembali. Seandainya…

 

 

*******

 

 

Dua minggu yang lalu, Yoona sangat gembira saat mengetahui dirinya memenangkan undian berhadiah di hyundai departement yang iseng-iseng diikutinya. Dia mendapat hadiah liburan ke Pulau Jeju selama tiga hari dua malam. Berhubung hadiah itu diperuntukkan bagi dua orang maka Yoona mengajak sahabatnya, Yuri, untuk ikut dalam liburan itu. Tanpa perlu ditawari dua kali, Yuri segera menyambut gembira tawarannya. Yuri dan Yoona memang bersahabat sejak kecil. Karena kedekatan mereka berdua membuat orang-orang yang ada di sekitarnya menyebut mereka Twins Yoonyul. Sebenarnya ada dua orang lagi yang menjadi sahabat Yoona selain Yuri, dia adalah Tiffany dan Jessica yang sudah berselingkuh dengan kekasihnya.

 

Mereka naik jetfoil mewah untuk menyeberang ke Pulau Jeju. Meskipun perjalanan melalui laut itu cukup menyenangkan, tapi perjalanan itu terasa sangat menyiksa bagi Yuri. Dia mabuk laut. Yoona memandangi wajah Yuri yang terduduk lemas di sofa itu dengan wajah geli bercampur bingung. Yuri sama sekali tidak bisa menikmati pemandangan laut yang sangat indah ditambah dengan cuaca yang mendukung. Yuri terus mengeluhkan perutnya yang terasa mual dan pandangannya yang mulai berputar-putar. Yuri juga tak henti-hentinya mengomel tentang perjalanan yang terasa amat panjang dan mulai menyesali keputusannya untuk ikut perjalanan ini. Saat melihat Yuri akan muntah, Yoona segera memapahnya keluar ruangan. Membawanya ke dek kapal.

 

“Kau norak sekali sih Yul, apa kau benar tak pernah naik kapal mewah?” Tanya Yoona.

 

“Aish, aku sedang sakit begini kau masih bisa mengejekku. Aku kira kita akan naik pesawat, apa enaknya juga naik kapal?” Gerutu Yuri sebal.

 

Yuri yang sudah tak sanggup lagi menahan rasa mual yang mendesak hendak keluar dari perutnya bergegas melangkah ke tepi dek. Sambil berpegangan pada pagar dek, dia menumpukan perutnya di pagar, mencondongkan tubuhnya ke depan dan memuntahkan seluruh isi perutnya ke laut. Kakinya yang terjulur menghalangi jalan, membuat seorang namja yang sedang tergesa-gesa tersandung hingga hampir terjatuh. Untung saja, Yoona cukup cekatan. Dia menangkap lengan namja itu dan menahannya dengan seluruh kekuatannya, membantu namja itu menemukan keseimbangannya. Namja itu mengalihkan pandangannya pada Yoona. Sesaat, mata mereka beradu.

 

Mata Yoona membesar saat menyadari betapa tampannya namja itu. Tubuhnya tinggi dan atletis. Matanya yang tajam, hidungnya yang mancung, dan bibirnya yang seksi. Rambutnya yang berantakan tertiup angin membuatnya tampak semakin tampan. Lelaki itu membalas tatapan Yoona dengan pandangan dingin, lalu melengos sambil mendengus kesal, melangkah pergi begitu saja.

 

“Mianhee Tuan…,” teriak Yoona tapi namja itu terus berjalan tanpa memedulikan teriakan Yoona.

 

Tiba-tiba, langkah namja itu terhenti. Namja itu merogoh saku celananya, mengeluarkan Iphone dan mendekatkan ke telinganya. Tak lama kemudian, dia sudah berbicara dengan nada marah.

 

Karina mengangkat bahunya tak acuh dan mengalihkan pandangannya pada Yuri. Di dekatinya temannya yang masih muntah-muntah itu, lalu menepuk pelan punggungnya.

 

“Gwenchana Yul?” Tanya Yoona panik.

 

“Sudah agak lebih baik dari yang tadi. Aish, jinjja. Aku tak akan naik kapal lagi kalo jadinya kayak gini,” gerutu Yuri kesal.

 

Karena suara namja yang sedang menelepon itu terlalu keras, mereka berdua mengalihkan pandangannya untuk melirik namja tampan itu. Namja itu tampak sangat kesal dan suaranya semakin keras hingga Yoona dan Yuri dapat mendengar apa yang diucapkannya.

 

“Aku sudah menunggu lama disini. Seingatku, kita sudah sepakat untuk bertemu disini. Kamu bilang, aku harus berangkat lebih dulu, lalu kamu akan menyusul. Tapi, saat kapalku berangkat, kamu malah baru memberi kabar kalau kamu nggak bisa ikut dalam perjalanan ini!” Seru namja itu. Rahangnya tampak mengeras dan tangan kirinya mencengkeram pagar besi begitu erat. Tampak jelas kalau namja itu sedang berusaha keras menahan amarahnya.

 

Yoona mengalihkan pandangannya dari namja itu. Dia tidak ingin menguping, tetapi suara keras namja itu masuk begitu saja ke telinganya tanpa permisi. Seorang awak kapal lewat di depan mereka berdua.

 

“Mianhee agassi, namja itu siapa ya?” Tanya yuri pada awak kapal itu.

 

“Itu Choi Sajangnim, saya permisi dulu,” kata awak kapal itu sambil berlalu setelah membungkukkan badan pada mereka.

 

“Kamu sudah setuju kita akan bersama untuk terakhir kalinya. Setelah perjalanan ini, kita akan berpisah secara baik-baik. Tapi-” namja itu mengambil napas dalam-dalam untuk mengendalikan kemarahannya, lalu melanjutkan ucapannya, “sekarang, katakan alasanmu kenapa kamu membatalkan rencana ini?” Tanyanya dengan nada melunak.

 

Namja itu terdiam selama beberapa saat. Tampaknya sedang mendengarkan lawan bicaranya mengatakan sesuatu.

 

“MWO?!”

 

Yoona dan Yuri menoleh cepat, terkejut mendengar seruan keras namja itu.

 

“Kamu membatalkan perjalanan kita karena keluargamu menjodohkan kamu dengan pilihan mereka?”Suara namja itu kembali dipenuhi amarah. “Dan kamu setuju untuk menikah dengannya dalam waktu dekat ini?”Namja itu terdiam sejenak, kembali mendengarkan lawan bicaranya. “Mwo?! Kamu tidak bisa berdaya menolak permintaan mereka? Kamu…” namja itu tidak melanjutkan ucapannya.

 

Mata Yoona terbeliak dan kaget saat namja itu mengayunkan tangannya dan melemparkan Iphone-nya ke dalam laut. Dengan wajah murka, namja itu memutar tubuh, memunggungi Yoona dan melangkah pergi. Yoona menatap kosong punggung namja itu hingga namja itu berbelok di ujung dek, dan menghilang dari pandangan.

 

Melihat ulah namja itu, Yoona hanya bisa menggelengkan kepala sambil menghela napas panjang dan tak mengerti dengan sikap namja itu. Lalu ia kembali memusatkan perhatian pada Yuri. “Yul, sebaiknya kita kembali ke dalam. Gwenchana Yul?”Tanya Yoona sambil menggandeng tangan Yuri untuk masuk ke dalam kapal.

 

Ketika kapal merapat di pelabuhan, Yuri sudah mulai pulih dari mabuk lautnya. Dia dan Yoona segera turun dari kapal dan mengikuti tour guide masuk ke dalam bus hotel. Rombongan pun berangkat menuju Hyatt Regency Jeju. Setibanya di hotel, Yoona segera menghampiri meja resepsionis untuk mengecek namanya dan mengurus registrasi, sementara Yuri duduk menunggu di kursi lobi sambil memainkan Iphone miliknya. Setelah mendapat kunci kamar dan dua buah welcome drink card, Yoona mengucapkan terima kasih dan melangkah mundur. Tanpa sengaja, ia menabrak seseorang. Saat Yoona berbalik dan ingin meminta maaf, matanya terbelalak. Ternyata, orang yang ditabraknya adalah namja tampan tadi.

 

“Jeosonghamida tuan, saya tidak sengaja,”ucap Yoona membungkukkan badannya untuk meminta maaf.

Namja itu menatap Yoona kesal sambil terus berbicara di Iphone, yang tampak masih baru. Pandangan Yoona turun ke lantai dan melihat kacamata hitam tergeletak di dekat namja itu. Yoona hendak mengambil kacamata itu. Namun, ternyata namja itu memiliki niat yang sama. Tak dapat dihindari, jemari mereka pun saling bersentuhan. Saat Yoona mendongak, pandangannya bertemu dengan mata namja itu. Dia dapat melihat bola matanya yang indah itu dari dekat. Tanpa disadari, jantungnya berdegup lebih kencang. Perutnya terasa melilit seketika, wajahnya terasa memanas. Cepat, ia menarik tangannya dan berdiri.

 

Setelah memungut kacamatanya, namja itu pun berdiri. Dia menatap Yoona dengan pandangan gusar tanpa sedikit pun menjauhkan Iphone dari telinganya. Kemudian, dia memutar tubuhnya memunggungi Yoona . Yoona menjadi kesal dengan sikap arogan namja itu. Dia memutar tubuhnya dan melangkah ke tempat Yuri yang sedang menahan tawanya karena kejadian tadi.

 

“hahaha, kau lucu sekali Yoong, aku tak pernah melihatmu dengan tampang seperti sekarang. Apa kau suka dengan namja tadi? Aku akan menelepon Fanny dan menceritakan kejadian tadi,” cerocos Yuri.

 

“sepertinya kau puas sekali menertawakanku Yul, awas kau…,”kata Yoona menjitak kepala Yuri.

 

“ Appo Yoong, kau suka sekali menjitak kepalaku,”kata Yuri mempoutkan bibirnya.

 

“Kajja kita ke kamar, aku sudah lelah mendengar ocehanmu itu,”kata Yoona yang langsung menarik tangan Yuri menuju ke kamar mereka berdua.

 

Sebelum meninggalkan lobby, Yoona menoleh. Dia melihat namja itu masih terus berbicara di telepon. Wajahnya terlihat sangat kacau. “Biar tahu rasa! Dasar orang kaya sombong!”gerutu Yoona yang masih dapat didengar oleh Yuri. “Sudahlah Yoong, jangan terlalu benci dia atau kau akan jatuh cinta padanya,”ucap Yuri masih menggandeng tangan Yoona. “itu tidak akan terjadi,”kata Yoona yakin yang hanya dibalas senyuman oleh Yuri. Yuri tahu kalau Yoona tidak suka dengan namja seperti itu.

 

Kamar mereka ternyata memiliki pemandangan yang sangat bagus. Yoona dan Yuri melonjak kegirangan melihat kemewahan dan fasilitas yang disediakan hotel tersebut. Pemandangan di luar balkon pun tak kalah menarik karena langsung dapat melihat pantai yang biru. Tak menyia-nyiakan kesempatan begitu saja, mereka segera berganti baju dan langsung pergi ke Pantai itu.

 

Malam harinya, Yoona dan Yuri pergi ke restorant hotel untuk mengikuti acara yang diselenggarakan oleh pihak hotel. Begitu memasuki restorant, kedua perempuan itu disambut oleh cahaya lilin yang memenuhi ruangan, memberikan kesan romantic. Alunan music dari biola dan piano mengiringi penyanyi berwajah cantik bergaun indah. Suaranya merdu memenuhi ruangan. Yoona dan Yuri segera mencari meja mereka. Begitu duduk, seorang waiter segera menghampiri dan meletakkan hidangan makan malam di hadapan mereka.

 

Usai santap malam, acara pun bergulir ke permainan. Setiap tamu yang duduk diwajibkan untuk menyanyikan sebuah lagu. Satu meja satu lagu, itu yang disampaikan oleh host acara tersebut. Karena Yuri tidak mau terpaksa Yoona yang berdiri dan berjalan ke atas panggung untuk menyanyikan sebuah lagu. Yoona menyanyikan lagu Bruno Mars, Just The way you are. Lagu itu adalah lagu favoritnya dan lagu penuh kenangan menurut Yoona. Setelah selesai menyelesaikan lagu itu, semua orang bertepuk tangan untuknya. Saat menuruni panggung dan kembali ke mejanya, Yoona tidak menemukan Yuri. Saat memandang sekeliling ruangan, dia menemukan temannya itu sedang duduk di sebuah meja di sudut ruangan dengan seorang namja. Mata Yoona terbeliak saat menyadari siapa namja itu. Si namja tampan yang angkuh! Dan, saat menyadari apa yang sedang mereka lakukan, matanya semakin terbelalak. Kedua orang itu tampak sedang bertanding minum. Tanpa membuang waktu, Yoona menghampiri meja keduanya.

 

“Yul! Kamu apa-apaan sih?’ tegurnya saat  telah berada disamping Yuri.

 

Yuri mendongak dan senyum lebar mengembang diwajahnya yang telah merah padam akibat terlalu banyak minum.

 

“kebetulan kamu datang Yoong. Aku mau ke toilet sebentar,”cerocosnya tanpa memedulikan teguran Yoona.

 

Yoona melongo menatap Yuri yang bangkit dari kursinya. Tiba-tiba, tubuh temannya itu terhuyung. Yoona segera menangkapnya, sebelum ia jatuh ke lantai.

 

“ kamu mabuk, Yul!” kata Yoona cemas. “Kita kembali ke kamar saja,”kata Yoona kemudian.

 

Yuri menatapnya gusar. “ kamu mau aku kalah dari namja sombong itu,”bisiknya kesal.

 

“ tapi kamu udah mabuk Yul… kamu juga gak akan mungkin menang lawan dia,” ucap Yoona.

 

Yuri menatap Yoona penuh pertimbangan. Lalu senyumnya mengembang. “kamu benar Yoong, aku tidak mungkin menang lawan dia tapi kamu pasti bisa. Kamu mau kan menggantikan aku?”pinta Yuri.

 

Yoona menggelengkan kepalanya cepat,”aku tidak mau!”jawab Yoona.

 

“ Jebal Yoong, kali ini saja. Apa kau tak ingin balas dendam padanya,”ucap Yuri sambil memohon. Karena kasihan pada Yuri yang sudah  mabuk akhirnya Yoona pun mengiyakan permintaan sahabatnya itu.

 

“ Tuan Choi, apa boleh kalau teman saya yang menggantikan, saya benar sudah mabuk,”Tanya Yuri pada namja yang bernama Choi Siwon itu.

 

“ OOO, baiklah tak masalah…”jawab Siwon.

 

Siwon menatap Yoona dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan wajah dingin. “Apa kau yakin akan megalahkanku?” Tanya Siwon dengan nada sombong. Hati Yoona panas, “ aku akan mengalahkanmu,”tekad Yoona. Namja ini benar-benar menyebalkan, gerutu Yoona. Yoona duduk dihadapan Siwon. Yuri melangkah menuju ke kamar karena dia sudah tidak kuat lagi.

 

Mereka berdua pun minum sampai menghabiskan lebih dari sepuluh botol soju. Kepala Yoona sudah mulai pusing dan matanya pun hampir menutup begitu pun dengan Siwon. Mereka tidak sadar kalau keadaan di sekelilingnya telah sepi.

 

“Maaf, Tuan Muda…”Seorang manager retorant menepuk pundak Siwon pelan. “Beberapa menit lagi, restorant akan tutup,”katanya memberitahu, lalu melangkah pergi.

 

Yoona memusatkan pandangannya pada Siwon. Pandangan mereka bertemu. Tiba-tiba, dia melihat sudut bibir Siwon terangkat. Senyumnya kali ini bukan senyuman sinis yang diperlihatkan waktu pertama bertemu tapi senyuman lembut.

 

“kajja, kita pergi…” Siwon bangkit dari kursinya, dan menjulurkan tangannya pada Yoona.

 

Yoona menatapnya heran. “ Oediga?”tanyanya sambil menyambut uluran tangan Siwon dan bangkit dari kursinya.

 

“kemana pun kamu mau…,”jawab Siwon sambil memapah Yoona.

 

Mereka melangkah terhuyung-huyung sambil tertawa dan ocehan yang tidak jelas dari mereka berdua. Akhirnya, mereka berhenti di depan sebuah kamar. Siwon memapah Yoona memasuki kamarnya dan menutu pintunya. Tiba-tiba, Siwon merengkuh tubuh Yoona dan merapatkan tubuhnya pada tubuh Yoona. “ Rambutmu bagus, seperti rambut Stella…”Siwon menempelkan hidung dan bibirnya di puncak kepala Yoona. “Rambutmu harum…”bisiknya lembut, lalu menjauhkan tubuhnya dari tubuh Yoona.

 

Yoona mendongak, menatap Siwon dengan tatapan terpana. Namja itu menatapnya lembut. Bola matanya berkilau indah, membuatnya sulit bernapas. “ Aku ingin tahu, apakah bibirmu juga selembut bibir Stella?”ucap Siwon.

 

Belum sempat Yoona mencerna ucapan Siwon, tubuhnya sudah kembali ditarik merapat ke tubuh namja itu. Dia hanya mampu terpana saat melihat wajah Siwon semakin mendekat ke wajahnya. Pandangannya nanar. Otaknya terasa kosong. Saat bibir Siwon menyentuh bibirnya, Yoona pun mulai terhanyut. Dia memejamkan mata, menikmati ciuman lembut namja itu. Sesuatu yang tersembunyi di dalam dirinya bergolak hebat saat ciuman Siwon semakin bergairah. Sesuatu yang dikiranya telah lenyap darinya. Tanpa ragu, Yoona berjinjit dan melingkarkan lengannya dipundak Siwon. Pundak yang tegap dan kokoh. Dia tidak dapat menahan keinginannya untuk mencengkeramkan tangannya ke pundak namja itu dan membalas ciuman Siwon dengan gairah yang sama.

 

Saat tangan namja itu membelai tubuhnya lembut, Yoona hanya bisa mendesah. Dia terlena. Dia bahkan tidak peduli saat Siwon membopong tubuhnya dan membawa ke kamar lalu merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur. Kabut kenikmatan terlalu pekat menyelimuti otaknya. Dia tidak merasakan apa-apa saat pakaiannya terlucuti satu demi satu. Yoona mendesah saat Siwon menelusuri setiap senti tubuhnya dengan tangan dan bibirnya. Yoona semakin terhanyut dan lupa akan segalanya.

 

******

Esok paginya, rasa panic melanda Yoona saat mendapati dirinya berada di kamar yang tidak di kenalnya. Apalagi mendapati Siwon berada dalam satu ranjang yang sama denganya dan dalam keadaan tanpa busana. Panik, Yoona segera menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Matanya mulai berkaca-kaca.

 

Apa yang telah dilakukannya? Bagaimana dia bisa berada dalam satu selimut bersama dengan namja dalam keadaan seperti ini? Pasti telah terjadi sesuatu tadi malam. Tangis Yoona pun pecah, membuat namja yang tidur disampingnya terbangun dan menatapnya bingung.

 

“Wae?” Tanya Siwon dengan kening berkerut.

 

“apa yang kau lakukan padaku?” Tanya Yoona dalam isakkannya.

 

Siwon terpaku. Dia mulai memahami apa yang terjadi. “Sudahlah, Uljimma…”Dia duduk di atas ranjang dan mulai membujuk Yoona. Yoona menatap Siwon dengan mata berkilat marah. “Siapa bilang kamu bisa lega sekarang?” katanya gusar masih di antara isakkannya. Kening Siwon berkerut, “maksudnya?”Tanya Siwon kembali.

 

“Ini pertama kalinya aku—“ Yoona menyembunyikan wajahnya didalam kedua telapak tangannya. Tangisnya kembali pecah. Siwon terpaku menatapnya. Wajah namja itu pucat pasi. “Jadi…, jadi…, kau masih…?”tanyanya dengan suara bergetar. Yoona mengangguk.

 

Siwon mengerang kesal, lalu termenung sesaat. Akhirnya dia berkata,”aku akan bertanggung jawab jika terjadi sesuatu padamu. Kamu paham kan maksudku? Jika kami… hamil?”kata Siwon. Sebelum Yoona menjawab Iphone-nya berbunyi.

 

“Yoebseyo,”ucap Yoona dengan suara bergetar.

 

“Yoong, oediga? Gwenchana?”Tanya Yuri khawatir karena mendengar Yoona menangis.

 

“aku akan kembali sebentar lagi Yul,”ucap Yoona dan segera mematikan teleponnya.

 

Sambil terisak, Yoona bangkit dari ranjang dengan memakai selimut masuk ke dalam kamar mandi. Dia segera memakai pakaiannya kembali. Setelah beberapa saat, Yoona keluar dari kamar mandi. Yoona hanya melirik siwon yang sudah memakai pakaian. Dia mengambil Iphone yang ada diatas nakas dan segera pergi dari kamar itu. Sebelum Yoona membuka pintu kamar, “cakkaman, ini kartu namaku, kamu dapat menghubungiku kapan saja kalu terjadi sesuatu,”ucap Siwon menyerahkan kartu namanya.

Yoona mengambil kartu nama tersebut dan segera pergi. Siwon terduduk kembali di ranjangnya. Dia masih terlalu kaget dengan apa yang baru saja terjadi. Kenapa aku jadi bodoh seperti ini, batinnya kesal.Yoona membuka pintu kamar yang ditempati olehnya dan Yuri. Yoona langsung masuk ke dalam dan memeluk Yuri.

 

“Yoong, apa yang terjadi?”Tanya Yuri mengusap punggung Yoona lembut.

 

“Eotteokhe Yul…”kata Yoona yang masih terisak.

“Eotteoke?????”

 

 

TBC

 

 

Akhirnya part ini sampai disini dulu ya J readers. Mungkin akan dilanjutin setiap minggu kali ya, berhubung ini bulan Ramadhan jadi mau focus dulu. Tapi nanti diusahakan buat kirim ff lanjutan ini secepatnya, tapi ga janji J. Ya sudahlah semoga ff ini bisa diterima dengan baik.

Makasih buat dua author kece Resty dan Ka’Echa sudah dipost ff abal-abal ini…

Khamsahamnida JJ

 

 

Tinggalkan komentar

402 Komentar

  1. isna

     /  Mei 7, 2016

    Aku udah baca ff ini tapi gara2 kangen jadi weh baca lagi…

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: