[3S] My Diamond (Chapter 1)

cover my diamondAuthor            : choichoding007 (my new nickhname^^)

Lenght            : Threeshoot

Rating             : General

Genre             : Marriage Life, Angst & Romance

Main Cast      :

  • Super Junior’s Siwon
  • SNSD’s YoonA

Support Cast :

  • Infinite’s Myungsoo
  • 2AM’s Seulong
  • A Pink’s Eunji
  • f(x)’s Krystal

Disclaimer       : This story pure is mine. All cast belongs to themself, family and God. I just use for complete your imagination. Apologize for same story with anyone.

Credit Poster  : “@aisyahwl

Warning!!       : Typo bersembunyi dimana-mana but typo itu SENI^^ because Typo is Donghae’s style LOL

Dislike?

Don’t read!

Don’t bashing!

Don’t be a SILENT READER!!

Yesungdahlah~~ Teukkidot!!^^

ð  Happy Reading^^

*

pict-1 My Diamond

Duduk ia dalam keseriusan yang tergambar pada raut wajahnya. Memfokuskan diri pada objek yang tak pernah lepas sekitar satu jam yang lalu. Dahinya berkerut samar, sesekali kedua bola matanya bergerak ke kanan kemudian kembali pada objek semula. Jari-jarinya bergerak dengan lincah, membolak-balik lembar kertas-kertas putih yang dipenuhi dengan sederet huruf bertinta hitam.

“Hahh~”

Punggungnya bersandar pada sandaran kursi. Ia membuang napas panjang, terdengar layaknya seseorang yang telah seharian bekerja tanpa kenal istirahat. Ia kemudian melemparkan lembar-lembar putih yang dibungkus map hijau itu di atas meja kerjanya. Matanya terpejam sejenak.

“Sekretaris Oh.”

Seseorang yang sedari tadi berdiri di depan meja kerjanya mengerjap, sedikit terhenyak. “Nde?” sahutnya.

“Batalkan pertemuan dengan investor untuk besok.” Sekretaris Oh sedikit membelalakan matanya namun tak besuara. “ Aku ingin mengadakan meeting dengan seluruh pemegang saham. Katakan pada mereka untuk datang ke ruang meeting besok pagi jam sembilan tepat,” sambung orang itu sambil memijit pelipisnya.

Sekretaris Oh mengangguk. Ia kemudian memandang atasannya dengan raut khawatir. “Jwesonghaeyo, Presdir apakah anda baik-baik saja?”

Orang itu meringis merasakan denyutan di kepalanya. Tangan yang tadinya menekan pelipisnya kini telah turun memegang lengan kursi. Seulas senyum ia paksakan, menghiasi wajah rupawannya, “nan gwanchanayo..”

“Kau boleh keluar sekarang,” sambungnya setelah membenarkan letak duduknya.

Geundae..”

Gwenchana, aku baik-baik saja.” Ia berusaha meyakinkan dengan senyum tenang-nya.

Kepala sekretaris Oh mengangguk. Ia kemudian membungkukkan badan, memberi salam hormat. Setelahnya ia berjalan keluar dari ruangan atasannya.

“Ohh~ jinjja!” rintihnya sambil mendorong mundur kursi yang didudukinya. Tangannya memegang perutnya sendiri sembari bergumam, “Aegi-ya mianhae. Eomma pasti membuatmu lelah. Mianhae ne?

Jemari lentiknya mengelus perut yang sudah membuncit. Pandangannya sendu, menyiratkan penyesalan. Belum selesai adegan sendu itu, dering ponsel yang berada di atas meja membuyarkannya.

Yeoboseo?” sapanya begitu menekan tombol hijau pada layar ponselnya.

“Yoona-ya! Astaga Yeobo, kemana saja kau? Kenapa selarut ini belum pulang juga? Apa kau tahu aku begitu menghawatirkanmu?”

Yoona mengulas senyum mendengar suara parau di seberang sana. Ia tahu, yah tanpa sosok itu repot-repot menjelaskannya.

“Aku sudah selesai. Aku baru akan pulang, Yeobo.”

Camkaman! Tunggu disana. Aku akan menjemputmu.”

Yeobo, aku bawa mobil sendiri.”

Ani, ani! Turuti apa kataku.” Suara diseberang sana terdengar terburu-buru. Terdengar sebuah pintu mobil yang baru ditutup. Selang beberapa menit suara deru mesin mobil menyusul.

Yoona menghela napas sejenak, “Yeobo aku—“

“Kubilang aku akan menjemputmu!”

“Siwon—“

Tut… tut… tut..

Suara decakan serta helaan napas keluar dari bibir mungilnya. Kepalanya menoleh pada jam dinding yang tergantung diatas pintu ruangannya. Pukul 23.30 KST, sudah hampir tengah malam rupanya. Pantas saja jika suaminya itu bersikeras ingin menjemputnya.

Mata sendunya kembali mengarah pada perut besarnya. Ia tersenyum kecil. “Aegi-ya, kau senang bukan jika Appa-mu seperti tadi? Dia pasti sedang kalang kabut. Dia begitu menghawatirkan kita bukan?”

Bibirnya kembali menyunggingkan senyum geli. Membayangkan bagaimana saat ini Siwon melajukan mobil dengan kecepatan diatas rata-rata dan raut kecemasan yang menghiasi wajah tampannya.

~~~

Sunyi senyap di kegelapan malam, jam-jam dimana biasa hanya terdengar bunyi binatang malam. Kini tergantikan dengan gemercik air yang berasal dari sudut ruang dalam sebuah kamar. Sekitar lima belas menit yang lalu suara itu menghiasi sepi. Belum sampai pada menit ke tujuh belas, terdengar suara pintu dibuka.

Siwon keluar dari dalam kamar mandi dengan piyama yang sudah melekat di tubuhnya. Rambut yang sedikit basah serta wajah yang nampak segar benar-benar membuat wajah maskulinnya nampak begitu rupawan.

Mata obside-nya bergerak bebas, mencari sumber suara yang menarik perhatiannya sejak ia selesai menyegarkan diri. Ditariknya kaki menuju pada sumber suara tersebut. Ia kemudian duduk di sisi ranjang. Kedua bola matanya mengamati gerak sang istri yang sepertinya tak begitu menyadari kehadirannya. Siwon tersenyum kecil.

“Yeobo..” panggilnya.

“Hmm?” sahut Yoona tanpa menoleh, tetap menatap pada layar notebook-nya.

Helaan napas pelan terdengar dari bibir pria itu. Tanpa sengaja matanya menangkap sesuatu yang menarik perhatiannya, di atas meja. Siwon memandang secara bergantian antara Yoona dan barang itu dengan dahi berkerut.

Mungkin saja jika Yoona tidak terlalu berkonsentrasi pada notebook-nya atau sedikit saja bisa membaca situasi, tentu ia dapat mendengar Siwon berdecak.

Yeobo, kau tak meminum susu-nya?”

Kepala Yoona terangkat, matanya beralih menatap pada wajah manly di depannya. Yoona memutar pandangan, mengarah pada meja di dekatnya dimana gelas susu yang masih penuh itu diletakkan. Ketika matanya kembali bertemu dengan kedua bola mata gelap Siwon, ia menyinggungkan seulas senyum.

Mianhae..

Siwon tak menjawab. Ia menatap dalam mata bening Yoona, berharap dengan begitu sang istri dapat membaca bahwa ia sangat mencintai wanita di hadapannya ini, begitu mencintai hingga sangat menghawatirkannya. Setidaknya ia tak harus mengeluarkan kalimat yang mungkin saja dapat memancing emosinya.

Kepalanya menunduk. Tanpa banyak bicara lagi, Siwon meraih notebook dalam pangkuan Yoona. Diletakkan benda persegi panjang berukuran sedang itu diatas meja. Kemudian ia meraih segelas susu yang telah dingin.

“Minumlah! Kau tahu seberapa besar aku menghawatirkanmu?” katanya berusaha mengontrol emosi, menatap sendu sang istri.

Kalau boleh jujur, sebenarnya Yoona tak ada makasud membuat Siwon se-khawatir ini. Hanya saja terkadang ia bisa menjadi wanita ter-ceroboh di dunia atau mungkin wanita yang tak peka dengan situasi tiap berada di dekat suaminya ini.

Ia beranggapan Siwon suami yang over protective. Tapi ketika Siwon kini menunjukkan senyum tulusnya, Yoona membuang gagasan itu. Ani, bukan membuang. Mungkin sedikit memperbaikinya. Emm Siwon protective di saat-saat tertentu. Dan di banyak waktu ia menjadi sosok pria yang lembut dan hangat.

“Tidurlah! Tidak baik wanita halim tidur terlalu larut,” kata Siwon setelah meletakkan gelas susu yang sudah kosong diatas meja.

Yoona memanggutkan kepala. Dibantu dengan tangan kekar Siwon, ia merebahkan tubuhnya diatas ranjang. Siwon kemudian berjalan ke sisi kanan tempat tidur. Ditariknya kedua kaki naik diatas ranjang, turut menemani kedua kaki mungil Yoona.

“Kau ingin kubacakan dongeng, hmm?” Siwon bertanya dengan menatap wajah sang istri. Yoona hanya menganggukkan kepala seraya menarik kedua sudut bibirnya.

Pria itu membalas dengan seulas senyum, “Arraseo..” tangan maskulinnya meraih buku dongeng yang tergeletak didalam laci. “Apa kau perlu lenganku untuk bantal?”

“Tidak buruk..”

Siwon sedikit mengangkat kepala Yoona lantas meletakkannya tepat diatas lengan kekarnya.

Geurae, simak baik-baik dongeng yang akan dibacakan suami tercintamu ini. Arraseo?

Yoona mendengus namun tak dapat menyembunyikan senyumnya, “arrata!”

Pria itu juga mengulas senyum, “Ahh~ istri penurut.” Dan ia mulai berceloteh, menceritakan isi dari buku dongeng dalam genggaman tangan kanannya. Yoona menyimak sambil memejamkan kedua matanya. Usapan lembut tangan kiri Siwon pada kepalanya semakin membuat kantuk menyelimuti tubuh lelahnya.

Mendengar deru nafas teratur Yoona, Siwon menghentikan ceritanya. Dipandangnya wajah damai sang istri, ia tersenyum kecil. Tangan kanannya bergerak, meletakkan buku dongeng tadi ke dalam laci kembali.

Ia mengelus lembut wajah tirus Yoona, mengamati keelokan wanita yang dicintainya bahkan sejak ia membuka mata untuk pertama kalinya. Wanita yang telah resmi menjadi miliknya sejak dua tahun yang lalu. Juga wanita yang ia yakini bahwa dia, Im Yoona adalah tulang rusuknya.

Tangan besarnya mengusap-usap lengan mungil Yoona, sampai pada telapak tangan wanita itu. Ia beralih mengusap perut buncit Yoona.

Ah, Ya Tuhan. Merasakan ada nyawa dalam perut itu membuat hati Siwon mendesir. Disana, di dalam sana telah tumbuh buah cintanya bersama Yoona. Janin kecil berlumur kesucian.

Siwon mengangkat kepala Yoona untuk menarik lengannya perlahan. Ia kemudian mendekatkan kepalanya pada perut besar Yoona.

Annyeong, aegi-ya..” ia berbisik lembut sambil mengulum senyum. “Nde. Ini Appa, chagi. Bagaimana kau di dalam sana? Apa menyenangkan?” tanyanya kemudian mendekatkan telinganya pada perut Yoona, seperti tengah mendengar bisikan dari dalam sana.

“Ahh~ kau senang? Baguslah. Kau juga berenang di dalam sana? Geurae, itu pasti menyenangkan.”

Layaknya seorang ayah yang tengah berceloteh dengan anaknya, ia terlihat begitu bahagia. Kedua sudut bibirnya tiada henti tertarik membentuk lengkungan indah.

Tangannya mengusap lembut perut sang istri kemudian mendaratkan kecupan sayang, “tidurlah, besok malam kita lanjutkan lagi, hmm?” Ia kembali mengecup perut Yoona sebelum akhirnya membaringkan tubuhnya sambil melingkarkan lengannya pada tubuh sang istri.

Saranghae..” bisiknya sebelum menyusul Yoona ke alam mimpi.

~~~

Matahari masih menggantung rendah di ufuk timur, mulai beranjak dari peraduannya. Langit yang gelap itu kini berganti menjadi biru terang berselubung awan putih. Dan ranting pohon itu mulai menggugurkan dedaunan searah dengan hembusan angin musim semi.

“Indah sekali..” kata pria itu meraih pinggang Yoona. Tak berapa lama ia mengeluarkan suara kembali, seperti tersadar akan sesuatu. “Ahh~ aku lupa ada si kecil diantara kita.” Pria itu memasang senyum sambil memandang kearah perut Yoona yang tepat menempel pada tubuhnya.

Wanita itu hanya mengulum senyum, sekali melirik sambil kedua tangannya mengikatkan dasi pada kerah kemeja Siwon. Ditariknya lebih keatas letak dasi itu. Setelahnya ia mengusap tuxedo hitam Siwon. “Nah, kau terlihat tampan..” ungkapnya seraya mengamati style hasil pilihannya pagi ini untuk sang suami.

Ia belum menyadari bahwa kedua mata gelap Siwon tak lepas mengamati wajahnya. Mata itu bekerja dengan lincahnya hingga menghantarkan gerak bibir yang terangkat keatas.

Menyadari Siwon tak bereaksi, Yoona lantas mendongakkan kepala. Dahinya berkerut samar, “ada apa?”

Bibir tipis itu kian melengkung, mengamati mata indah sang istri yang kini menatapnya bak bocah polos yang tak tahu apa-apa.

Siwon menggeleng, “ani, hanya saja kurasa pagi ini istriku nampak mempesona.”

Decakan kecil serta cibiran lirih terdengar dari bibir wanita itu. Tangan kanannya kemudian mencubit lengan kekar Siwon, “ini masih pagi. Berhentilah membual!”

“Aww.. hei! Aku tak pernah membual. Kau tahu itu, kan?” kata Siwon mengekor dibelakang Yoona yang telah berjalan membelakanginya.

Tangan mungilnya meraih tas kerja Siwon yang tergeletak di atas sofa ruang tengah. Ia kemudian berjalan menghampiri sang suami yang berdiri tak jauh darinya. Yoona melingkarkan tangannya pada lengan Siwon, “arrasseo, kajja kita berangkat sekarang,” katanya menunjukkan senyum menggemaskan.

Menarik kedua sudut bibirnya, Siwon menyahut tak kalah ceria. “Kajja.”

~~~

Mobil Audi R8 itu melaju dibawah terik matahari yang belum begitu menyayat. Cuaca hari ini tidak seperti kemarin yang dibasahi dengan guyuran hujan. Hari ini langit nampak begitu cerah. Daun-daun yang telah menguning terbang bersama alunan angin.

Yoona menghirup dalam udara segar lewat kaca mobil yang ia biarkan terbuka. Senyum tipis seolah tak pernah bosan menghampiri wajah cantiknya. Dan kedua mata indahnya sesekali terpejam merasakan terpaan angin yang menyapu wajahnya.

Yeobo, naikkan kaca mobilnya. Kau bisa sakit.” Suara berat itu mengalihkan pandangan Yoona sekaligus merusak acaranya menikmati angin.

Pria dengan suara berat itu masih saja fokus menyetir. Kedua matanya mengarah kedepan namun wajahnya sedikit mengeras.

“Aku masih ingin menikmati angin musim semi, Yeobo..” sahut Yoona memberikan seulas senyum. Kemudian ia melanjutkan acaranya yang sedikit terganggu.

“Yoona-ya!”

Helaan napas pelan terdengar dari bibir tipis wanita itu. Ia tahu jika Siwon telah menyebutkan namanya maka itu sama halnya pria ini sedang dalam garis serius. Yoona menurut printah Siwon. Ia kemudian menyandarkan punggungnya pada jok sambil mengeluarkan udara dari dalam mulutnya yang ia hirup beberapa detik yang lalu. Kedua bola matanya kini bergerak liar memandang lalu lalang yang dipantulkan kaca jendela bening didekatnya. Bibirnya sedikit mengerucut. Dalam hati dia menggerutu kesal.

Kedua tangan besarnya memutar kemudi begitu bertemu dengan sebuah belokan. “Mianhae,” ungkapnya. Tangan kanannya meraih jemari Yoona, menggenggamnya lembut.

“Oh.”

Wanita hamil memang kadang sulit dimengerti, pikir Siwon.

Siwon ikut menyandarkan punggungnya pada jok kursi sambil menarik nafas dan mengeluarkan lewat mulut, ketika mendapati lampu merah menyala. Dari sudut matanya ia melirik kearah Yoona. Lantas mengulum senyum.

“Kau marah, mm?” tanya Siwon mengetuk-ngetukan jarinya pada kemudi, sambil melirik lampu lalu lintas.

Ani.” Yoona mengangkat kepalanya, “mana mungkin aku bisa marah pada suamiku sendiri.”

Kedua lesung pipitnya kini menghiasi paras tampannya. Pria itu setengah menahan senyum. Dicondongkannya tubuh tinggi itu pada wanita yang masih duduk tenang di sampingnya.

“Jangan memasang wajah seperti itu. Kau terlihat berlipat-lipat lebih jelek.”

“Oh.” Yoona semakin mengerucutkan bibirnya. Matanya bergerak bebas menghindari pandangan Siwon. Pria itu tahu wanitanya sedang dalam keadaan sensitif.

Tangan kanan yang masih menggenggam tangan lembut Yoona kini bergerak, menuntun tangan mungil itu dan menempelkannya di pipi kanannya. “Kau tahu bagaimana aku menghawatirkanmu bukan?” Lalu mengecup tangan lembut itu, “jangan tunjukkan wajah kesalmu lagi. Itu tak baik untuk ibu hamil, mm? Kau mengerti?”

Lagi-lagi ia harus menerima tatapan sendu dari pria ini. Dan lagi-lagi ia harus dihadapkan pada suara mendominasi yang terkesan tak ingin di bantah dari bibir Siwon. Ia tak habis pikir bagaimana bisa ia tertarik bahkan sampai jatuh cinta pada pria berwatak keras seperti Siwon. Hah~ atau mungkin justru karna sikap posesif Siwon-lah yang membuatnya akhirnya menjatuhkan pilihan pada pria ini. Ya, begitulah cinta.

Garis bibir wanita itu perlahan mulai melengkung keatas. Tangan kirinya turut menyentuh lembut pipi kiri Siwon. “Arrasseo. Kau memang perayu kelas kakap, Presdir Choi,” katanya sambil mencubit gemas hidung Siwon.

Mereka tertawa bersama—melepas ketegangan yang sempat muncul—untuk beberapa saat. Sampai saat Siwon tiba-tiba menghentikan tawanya dan memandang lurus dua bola mata Yoona. Wanita itu juga menghentikan tawanya secara berangsur. Beberapa detik berlalu mereka hanya saling pandang, mengenakan pergelakan batin yang saling menyahut.

Yoona menurunkan kedua tangannya yang menempel pada pipi Siwon. Kemudian ia memalingkan wajahnya, merasa hangat pada kedua pipinya.

Astaga! Ini bukan kali pertama saja Siwon memandangnya dengan tatapan seperti itu. Ia telah hidup dengan pria ini selama lebih dari dua tahun tapi kenapa ketika mendapat tatapan seperti itu tetap saja membuat darahnya mendesir kencang?

Yeppeoda..” bisik Siwon menarik dagu Yoona. Ia mengulum senyum kini melihat betapa cantik istrinya itu ketika ia berhasil menggodanya.

Perlahan didekatkannya bibirnya untuk meramu bibir merah Yoona. Mengerti dengan maksud Siwon, wanita itu kemudian mengatupkan kelopak matanya.

Oh hei! Ini juga bukan kali pertama kau berciuman dengan suamimu. Tapi kenapa debaran jantung itu tetap saja sama seperti kali pertama berciuman? Ya Tuhan. Im Yoona, begitu burukkah kau dalam hal berciuman?

Wanita itu sibuk berkutat dengan pikirannya sendiri. Ketika hangat nafas Siwon semakin mendekat, ia merasakan aliran darahnya mendesir lebih cepat. Secepat roller coaster.

‘Pibb… Pibb…!!’

Ah! Gemuruh suara klakson itu seketika membuyarkan acara mereka. Yoona membuka matanya, sedetik kemudian mereka kembali tertawa.

Siwon meluruskan tubuhnya dan siap menginjak pedal gas. Begitu mobil melaju senyum di wajahnya tak juga luntur. Begitu juga dengan wanita yang duduk di sampingnya yang telah kembali mengarahkan pandangan pada jendela mobil sambil mengulum senyum tenang.

“Yeobo..”

“Mmm?” kepala Yoona menoleh kearah Siwon yang memecah keheningan beberapa saat diantara mereka.

“Apa kau tak ingin mengambil cuti?”

Dahi Yoona berkerut samar, “ani..” ia kemudian tersenyum lembut. “Yeobo, kau tentu ingat bagaimana perjanjian kita ketika berencana memiliki anak.”

Pria itu mengangguk, “hajima, kandunganmu sudah memasuki usia tujuh bulan lebih satu minggu, tigapuluh tiga menit lebih satu detik.”

Yoona tercengang mendengar penuturan Siwon. Ia bahkan tidak menghitung hingga sedetail itu. Sejurus kemudian ia tak lagi dapat menyembunyikan senyumnya. “Aku tahu kau begitu menghawatirkanku tapi percayalah aku tidak apa-apa.” Ia memberikan suara meyakinkan.

“Tapi—“

Yeobo.” Yoona mengusap lengan Siwon. Membuat pria itu sekilas menatap kearahnya dan menghela napas berat. “Arraseo.”

“Kadang aku lupa bahkan kepalamu lebih keras dari batu.”

Yoona meledakkan tawanya serta memukul kecil lengan Siwon begitu pria itu melanjutkan ucapannya.

Saling memahami dalam sebuah hubungan memang harus dijadikan prioritas utama. Bukankah begitu?

~~~

“Apa meeting-nya sudah selesai?” Siwon menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi kerjanya sambil tangan kirinya menempelkan ponsel di telinga kirinya. Ia melirik pada jam dinding lalu kembali beralih menghadap pada jendela kaca besar di ruangannya—yang langsung menghubungkannya pada gedung-gedung tinggi kota Seoul.

“E-em, baru saja,” jawab orang di seberang sana.

Geurae, istirahatlah. Nanti setelah meeting-ku selesai, aku akan kesana dan kita makan siang bersama. Arrasseo?

“Baiklah Tuan pemaksa!”

Kedua alis tebal Siwon terangkat begitupun dengan bibirnya, “ya! Kau bilang apa? Seharusnya kau senang mendapat perhatian dari suamimu yang tampan ini. Bukannya meledekku pria pemaksa. Kau tahu bagaimana aku mencintaimu.”

Yoona tertawa renyah di seberang sana. Siwon dapat membayangkan itu, bagaimana wanita-nya mentertawakan ucapannya. Dan ia menyukai tawa itu, ia menyukai suara tawa Yoona.

“Oke, oke. Aku tahu bagaimana Choi Siwon sampai tergila-gila pada Im Yoona—“

Ani. Kau salah.”

“Apanya yang salah? Kau sendiri yang mengatakannya, Presdir Choi.”

“Bukan itu. Kalimatmu ada yang salah.”

“Heuh?”

Bibir Siwon membentuk sebuah lengkungan hingga menimbulkan lesung pipit yang bersembunyi. Ia bisa menerka bagaimana saat ini raut Yoona yang tengah memasang wajah tak mengerti dengan dahi berkerut.

“Choi Yoona! Namamu Choi Yoona bukan lagi Im Yoona,” ucap Siwon menjelaskan diakhiri dengan senyum penuh arti.

Terdengar suara dengusan di seberang telpon. Disusul kemudian decakan lidah Yoona, “baiklah Presdir Choi, kau selalu menang dalam adu mulut. Tak heran jika perusahaanmu maju pesat.”

Kini giliran Siwon yang meledakkan tawanya. Ia selalu merasa puas jika sudah berhasil menggoda istrinya.

‘Tok..Tok..’

“Jwesonghaeyo, Presdir. Direktur sudah menunggu anda untuk meeting.” Suara wanita dari balik pintu itu harus menghentikan tawa Siwon.

Arraseo, aku segera kesana.”

Wanita itu membungkuk sedikit, kemudian kembali menutup pintu ruangan Siwon.

“Sudah waktunya meeting?”

“E-em.” Siwon mengapit ponselnya diantara telinga dan bahu. Ia mengambil tuxedo yang ia sampirkan di kursi kemudian mengenakannya pada tubuh tingginya. “Akan ku hubungi kembali secepatnya.”

Nde. Selesaikan secepatnya karna anakmu sudah merasa kelaparan.”

“Baiklah Nyonya Sikhshin.”

~~~

Tangannya meletekkan kembali ponsel—yang lima belas menit yang lalu menempel pada telingannya—keatas meja. Bibirnya menyunggingkan seulas senyum. Dan matanya memancarkan kebahagiaan.

Aegi-ya..” panggilnya lembut seraya mengusap perut buncitnya. “Sebentar lagi kau akan terlahir ke dunia ini. Kau senang, mm?” Ia menghela nafas sejenak sebelum melanjutkan, “kau tahu kan bagaimana Eomma dan Appa menyayangimu? Jadi kau harus lahir sehat, kau harus kuat, mengerti?”

Yoona tersenyum membayangkan janin yang bersarang di perutnya sebentar lagi akan lahir menjadi bayi kecil yang menggemaskan. Ia sudah tak sabar mendengar tangisan bayi kecilnya, menimanganya atau menyusuinya. Ia benar-benar sudah tak sabar menunggu malaikat kecilnya lahir.

Perasaan bahagia seorang ibu ketika menunggu hari kelahiran anak pertamanya. Ya, ternyata seperti ini rasanya, rasa tak sabar sekaligus senang.

Kepalanya melengok keseluruh penjuru ruang dan pandangannya berhenti pada bingkai foto yang tergeletak tak jauh dari ponsel miliknya—diatas meja.

Jemari lentiknya kemudian meraih bingkai foto itu. Dua sejoli yang memasang wajah bahagia, tersenyum kearah kamera. Foto itu diambil dua tahun yang lalu, ketika dirinya dan Siwon tengah berbulan madu di Paris, berdiri membelakangi menara Eifel.

Kata orang, Paris adalah kota romantis, sangat cocok untuk tempat berbulan madu. Dan Yoona membenarkannya. Mungkin ia harus menyarankan semua orang untuk singgah sejenak disana atau justru melarang semua orang karna sekali kau menginjakkan kaki di kota itu maka kau takkan puas jika hanya berkunjung sekali saja.

Matanya jatuh sayu dengan jari telunjuk yang mengusap-usap foto pria yang tengah tersenyum memamerkan lesung pipitnya sambil memeluk pinggang si wanita yang berdiri di dekatnya.

Ia bisa memahami bagaimana Siwon selama ini meghawatirkannya—meski menurutnya itu berlebihan. Di usia kandungan yang terbilang rentang melakukan aktifitas sepadat orang biasa, seharusnya Yoona menikmati masa-masa kehamilannya dengan berbaring di dalam kamar atau bersantai menikmati senja sore sambil menyeruput teh hangat di taman belakang rumah. Seharusnya ia bisa menikmati masa kehamilan menjelang kelahiran anaknya sambil bermanja-manja pada suaminya.

Ya, itu hal yang seharusnya dialami wanita hamil pada umumnya.

Namun berbeda dengannya. Jika saja satu tahun yang lalu insiden itu tidak terjadi dalam hidupnya, insiden yang mengakibatkan kedua orangtuanya meninggal akibat kecelakaan. Mungkin ia takkan sengotot ini—bekerja dalam masa kehamilan—jika sang Ayah tidak ber-amanat mempercayakan perusahaannya pada dirinya.

Sebenarnya ia bisa saja mengalihkan perusahaan pada kakak satu-satunya. Namun berhubung kakak-nya juga harus mengurus cabang perusahaan di luar negeri maka ia yang harus turun tangan menghandel perusahaan.

Berkali-kali Siwon menjelaskan bahwa dirinya tak perlu bekerja karna Siwon dapat menafkahinya lebih dari kata cukup. Dan berkali-kali pula Yoona menjelaskan pada suaminya bahwa ini bukan masalah menafkahi melainkan sebuah amanat, pesan dari sang Ayah. Hingga akhirnya Siwon dapat mengerti dan mengijinkannya tetap bekerja meski dalam masa mengandung.

Yoona menarik dalam udara masuk kedalam rongga paru-parunya kemudian menghembuskannya perlahan, membiarkan sedikit udara tinggal di dalam sana.

Ia berdiri dari duduknya merasa penat jika harus terus-terusan duduk. Dua langkah dari kursi kerjanya, Yoona merasakan nyeri yang menyerang sekitar perutnya. Matanya terpejam dengan tangan kiri memegangi kuat perutnya.

Tangan kanannya memegang tepi meja ketika tubuhnya mulai terhuyun. Ia mengigit kuat bibir bawahnya saat rasa nyeri itu kian terasa di perutnya.

‘Prang…!’

~~~

‘Prang…!’

Riuh bisik itu seketika tergantikan dengan keheningan dan raut keterkejutan dari orang-orang berjas hitam yang duduk mengelilingi meja lonjong besar dalam ruang itu.

Beberapa detik berlalu belum ada yang mengeluarkan suara sampai Nichkhun—orang yang duduk paling dekat dengan si pengacau—bersuara.

“Siwon-ssi, kau baik-baik saja?” tanya Nichkhun dengan nada khawatir, melihat air muka Siwon yang menegang. Pria itu tanpa sengaja menjatuhkan gelas ditengah meeting berlangsung. Dan kini ia bagai orang yang kehilangan kesadarannya—hanya diam dan tak bergerak.

Nichkhun menggeser kursinya kemudian menepuk pelan pundak Siwon. “Siwon ada ap—“

Belum sampai Nichkhun menyelesaikan pertanyaannya. Pria yang ditanya lantas bergegas bediri dan berlalu begitu saja. Membuat semua kepala menoleh kearah pintu masuk yang diterobos Siwon.

“Ahh,  jwesonghaeyo..” suara berat yang berasal dari kursi pimpinan mengalihkan pandangan semua yang ada disana. Pria paruh baya itu tersenyum hangat, “bisa kita lanjutkan meeting hari ini? Kurasa Siwon ada urusan mendadak,” jelas Choi Kiho, selaku pimpinan rapat.

~~~

Tangan kanannya sibuk mencari kontak nama pada ponselnya sementara tangan kirinya mencengkram kuat kemudi mobil. Sesekali matanya beralih dari jalan raya kearah ponselnya. Setelah mendapatkan kontak nama yang dicari, ia lantas menekan tombol call dan menempelkan ponselnya ke telinga.

Yeoboseo..”

Dahi Siwon berkerut, “Nuguya? Kemana Yoona?”

Orang di seberang sana terdiam sejenak. “Jwesonghaeyo Presdir..” suara sekretaris Oh, terdengar bergetar. “Nyonya Presdir sudah dibawa ke rumah sakit.”

“Rumah sakit?” rahang Siwon mengeras bersamaan dengan cengkraman kuat pada kemudinya. Dibuangnya ponsel itu ke bangku samping. Lantas ia segera membanting stir, memutar arah.

Kakinya menginjak dalam-dalam pedal gas. Kedua tangannya kian mencengkram kuat stir mobil. Keringat dingin mulai melumuri paras tampannya. Matanya tak beralih dari jalanan. Rasanya ia ingin memotong jalan saja supaya bisa cepat sampai ke rumah sakit.

Sungguh saat ini segala pikir buruk tengah bersarang di benaknya. Cemas, khawatir, gusar, gelisah, takut. Rasanya semua itu telah di blander jadi satu kemudian dijejalkan ke dalam perut pria itu hingga membuatnya tak dapat berfikir jernih.

Ketika mobilnya sampai pada halaman rumah sakit, ia segera membuka pintu mobil dan melesat ke dalam gedung tinggi itu. Tidak memedulikan teriakan satpam atau siapalah itu yang menegurnya.

Kaki panjangnya terus melangkah, setengah berlari. Ia bahkan lupa fungsi resepsionis yang ada di rumah sakit itu. Pikirannya kabut. Dan yang ada dalam hati dan otak saat ini hanya Yoona, wanita-nya.

Nafasnya terengah ketika menyusuri lorong-lorong rumah sakit. Kepalanya mendongak, melihat kearah kanan dan kiri. Seketika ia merutuki dirinya sendiri karna tak menyempatkan diri bertanya pada resepsionis.

Ketika kepalanya sekali lagi menoleh ke kanan. Matanya menagkap sosok pria tinggi berbalut jas putih dengan kedua tangan dalam saku jas—baru saja keluar dari sebuah ruang.

Kakinya melangkah cepat kearah pria tinggi tadi. “Myungsoo-ya. Yoona… Yoona….” Siwon mencengkram bahu Myungsoo dan mengguncangnya. Matanya berkabut, menyiratkan kegusaran. “Yoona… Dia…”

Hyung, tenanglah..” Myungsoo balas memegang lengan Siwon. “Dia sudah ditangani. Kau bisa tenang sekarang.” Pria itu mengulas senyum sekilas.

Mata Siwon mengerjap namun ucapan Myungsoo barusan belum bisa menenangkan pikirannya. Ia baru akan membuka mulut untuk mengajukan pertanyaan ketika tiba-tiba Myungsoo bersuara.

Hyung, ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu. Ini serius, mengenai istrimu.”

Jantung Siwon berdetak cepat. Rasanya kalimat Myungsoo barusan seperti mantra yang mencuri jiwa dari dalam tubuhnya. Bukankah baru saja Myungsoo menenangkannya? Lantas apa maksud dari kalimatnya ini?

~~~

Kelopak matanya jatuh menutupi kedua bola matanya. Nafasnya tertahan sejenak bersamaan dengan langkah kaki yang seakan tersaruk-saruk. Punggungnya bersandar pada dinding koridor rumah sakit, seketika dingin pada dinding itu merasuk menembus kemeja putihnya.

Ia menegadakan kepalanya keatas, buliran bening itu hampir saja meluncur mulus dari sudut mata. Kedua telapak tangannya mengusap wajahnya dengan kasar. Rahangnya mengeras bersamaan dengan gertakan giginya.

Kakinya bergerak, menegakkan kembali tubuhnya. Tiga langkah dari tempatnya tadi, Siwon kembali menghentikan langkahnya. Tangan kanannya terulur meraih knop pintu yang berada tepat di hadapannya.

Belum sampai telapak tangannya meraih knop pintu itu, hatinya kembali mendesir. Ia urung memutar knop pintu.

Matanya terpejam dan untuk kesekian kalinya ia kembali menghela napas berat. Pria itu mengepalkan tangannya. Ia menatap sedih pintu berwarna putih di hadapannya itu.

Perlahan tangannya kembali terangkat. Sebelum benar-benar meraih knop pintu, terlebih dahulu pria itu menarik kedua sudut bibirnya, berusaha menampakkan wajah sebiasa mungkin.

‘Klekk’

Siwon mulai melangkah kedalam. Ia menutup pintu di belakangnya dan berhenti sejenak, menatap seorang wanita yang duduk di atas ranjang yang memandang ke luar jendela.

Pria itu mengangkat bahunya dan sedikit memutar ke belakang, berharap sebuah beban itu bisa sedikit saja berangsur hilang. Kaki panjangnya mulai melangkah mendekat kearah ranjang, tempat Yoona duduk.

Siwon duduk di tepi ranjang dengan pandangan yang mengarah pada istrinya. Sementara itu, Yoona tak lantas bergerak. Seolah tak menyadari atau lebih tepatnya berpura-pura tak menyadari keberadaan Siwon.

“Semua akan baik-baik saja,” ujar Siwon mengulas senyum kecil. Tangannya meraih jemari lentik Yoona untuk kemudian menggenggamnya, menyalurkan kekuatan dari sana.

Bibir Yoona mulai bergetar. Ia menepis pelan genggaman Siwon. Kedua bola matanya bergerak liar, menghalau cairan bening yang siap menerobos selaput mata.

Siwon menggeser letak duduknya, lebih mendekat pada Yoona. Kedua lengan kekarnya menoba merengkuh pundak wanita itu namun Yoona menolaknya dengan gerak lemah.

Kepala Yoona menunduk, ia hampir menangis namun sekuat tenaga menahan isakan itu, menahan perih di matanya yang juga menjalar ke seluruh tubuh. Ketika Siwon kembali merengkuhnya ia menepis lagi lengan kokoh itu. Ia takut. Takut jika pertahanannya akan roboh, takut Siwon melihat kerapuhannya dan takut bayi mungil dalam kandungannya akan merasakan kesedihan jika mendengar ia menangis.

Siwon mengabaikan penolakan Yoona. Ia kembali merengkuh tubuh rapuh itu untuk bersandar di pundaknya. “Tidak apa-apa. Menangislah..” tangan Siwon mengusap lembut punggung Yoona. “Tidak ada larangan ibu hamil untuk menangis. Ada kalanya air mata itu perlu keluar untuk menggambarkan perasaan manusia. ‘Dia’ pasti mengerti. Bayi kita pasti mengerti.”

Yoona sudah terisak ketika pria itu menariknya ke dalam dekapannya. Ia menangis, mengluarkan isakan yang tertahan. Air mata yang tak terbendung itu jatuh membasahi kemeja Siwon. Semakin deras seiring dengan cengkraman kuatnya pada kemeja putih milik pria itu.

~~~

Akhir pekan itu menjadi hari-hari yang berat bagi Siwon. Sudah seminggu ini ia tidak bekerja. Yang dia lakukan hanyalah menemani sang istri yang harus dinyatakan sebagai pasien tujuh hari yang lalu. Yoona tak pernah merasa kesepian karna keluarga mereka yang bergantian menjenguknya. Namun tetap saja, Siwon ingin selalu berada di samping wanita-nya. Tidak berkeinginan meninggalkannya barang sedetik pun.

Matahari masih menggantung tinggi di atas awan ketika pria tinggi itu berjalan dengan langkah gontai, menyusuri koridor rumah sakit yang seolah telah menjadi tempat lalu lalangnya selama seminggu terakhir.

Wajahnya menunjukkan bahwa ia sedang tak baik. Terlihat bagaimana kantung matanya menyimpan kegusaran serta lingkaran hitam di sekitar matanya. Dan sorot mata yang kian meredup.

-‘Kecil kemungkinan untuk mencapai harapan itu’-

-‘Ini tidak mudah. Wanita hamil memang rentang mengidap penyakit seperti ini. Gejalanya pun sama seperti wanita hamil pada umumnya. Mual, pusing, kelelahan.’-

-‘Masalahnya ada pada tahap usia kandungan. Jika kehamilan diteruskan maka akan membahayakan ibu dan janin. Dilakukan operasi pun belum bisa dikatakan menyelamatkan kedua nyawa dalam satu tubuh tersebut. Mungkin akan ada yang meninggal diantara mereka.’-

-‘Dia mengidap Infeksi ginjal.’-

-‘Harus segera dioperasi jika tidak, ginjalnya akan rusak’-

Siwon meremas rambutnya frustasi, mengingat ucapan Myungsoo yang berkelabat di otaknya serta membuatnya bak orang gila yang selalu mengerang.

-‘Yeobo, apapun yang terjadi aku ingin melahirkan anak ini secara normal. Melahirkan dengan peluh disekujur tubuhku serta dengan sekuat tenagaku. Aku ingin anak kita bangga memiliki ibu yang melahirkannya dengan tenaganya sendiri bukan dengan operasi.’-

Tatapan sendu Yoona ketika mengucapkan kalimat itu, nyaris mengiris ulu hatinya. Bagaimana mungkin ia bisa melupakan suara lemah namun tersirat tekad berapi itu. Ia tak bisa melupakan apalagi mengabaikannya. Genggaman hangat Yoona ketika kalimat itu terucap serta sorot mata memohon.

Ya Tuhan…

Dia hampir gila menghadapi semua ini.

Ucapan Myungsoo serta permhonan Yoona, rasanya itu tidak lagi di blander manjadi satu namun semua langsung di jejalkan ke dalam otak serta tubuhnya. Membuat seluruh kerja tubuhnya mati seketika.

Lalu apa yang harus ia lakukan? Saat ini kedua nyawa tengah di pertaruhkan. Ia sungguh tak tahu harus berbuat apa. Ini sulit. Ini seperti jalan lurus yang tiba-tiba buntu, begitulah pikirannya saat ini.

Ketika Siwon tengah berkutat dengan pikirannya sendiri, tanpa sengaja seseorang menabraknya. Entahlah siapa yang di tabrak dan siapa yang menabrak. Yang pasti Siwon pikir ia berjalan di arah yang benar.

“Ahh, jwesonghaeyo, Tuan. Aku tak sengaja.” Wanita dengan jas panjang putih itu membungkukkan badan beberapa kali.

Entah mendengarnya atau tidak, namun Siwon tak bereaksi. Ia hanya diam dengan tatapan kosong, seperti orang linglung.

“Oh. Siwon Oppa?”

Mata sayu Siwon perlahan mengarah pada wanita yang menyebutkan namanya.

~~~

 pict 2 My Diamond

Langit itu mulai berangsur menciptakan warna jingga. Siwon menatap kosong gelas kopi dalam genggamannya. Tangannya memutar—memainkan—gelas yang masih berisi kopi tanpa tersentuh bibirnya itu.

“Jadi begitu?” suara seorang wanita yang duduk tak jauh darinya, memecah keheningan diantara mereka. Siwon tak menoleh juga tak menyahut. Ia mendengarnya namun terlalu enggan untuk bersuara.

Wanita itu menyeruput kopi setengah gelas yang sudah mendingin. Ia mengulum senyum kecil. “Kau tahu, Oppa. Dulu ibuku juga mengidap penyakit sama seperti istrimu.”

Kalimat terakhir yang dilontarkan wanita itu mampu membuat kepala Siwon menoleh kearahnya. Pria itu belum juga bersuara namun wanita itu tahu, Siwon menuntut kelanjutan kalimatnya.

Ia mengangkat bahu, “infeksi ginjal. Sebenarnya itu tidak begitu mengerikan jika segera diobati. Dokter bilang, tidak ada harapan jika ibuku bersikeras melanjutkan kehamilannya. Itu sangat berbahaya, mustahil ibu dan janin akan selamat..” wanita itu menunduk, menarik sudut bibirnya kemudian menyesap sedikit kopinya sebelum melanjutkan, “begitu kata mereka, para dokter itu.”

“Lalu?”

Angin musim semi berhembus lembut, menerbangkan beberapa helai rambut kecoklatan wanita itu. Tangan kanannya tergerak, menyelipkan helai rambut ke belakang telinganya. “Ibuku tidak menuruti apa kata dokter. Dia bilang bukan dokter yang menentukan hidup mati manusia. Dia percaya bahwa Tuhan bersamanya. Tuhan tak pernah meninggalkan hambanya.” Matanya memandang lurus ke depan.

“Meski dengan kesakitan yang disembunyikan, pada akhirnya ibuku berhasil membuktikan bahwa dia benar, bahwa dia bisa melahirkanku ke dunia dengan selamat. Dia wanita yang kuat.”

Siwon mengalihkan pandangannya, memandang kearah depan. Kepalanya sibuk mencerna kalimat demi kalimat yang dilontarkan wanita di sampingnya itu.

“Dan kau harus tahu..” kepala Siwon kembali menoleh. “Kebahagiaan terbesar seorang istri adalah dapat memberikan keturunan dan keinginan terbesar seorang ibu adalah melahirkan anaknya dengan peluh keringatnya.” Wanita itu menoleh kearah Siwon serta melemparkan senyum tulus.

Bibir pria itu tertarik keatas lantas kepalanya mengangguk. Ia beranjak dari duduknya serta menarik dalam udara sore ke dalam rongga dada.

“Ternyata kau sudah tumbuh menjadi gadis dewasa, Krystal-ya. Kupikir Minho akan menjadi pria paling malang karna telah melepasmu.” Siwon mengacak-acak anak rambut Krystal. “Baiklah, terimakasih atas ceritamu. Aku pergi, Annyeong..” pamit Siwon sebelum benar-benar beranjak dari taman rumah sakit itu. Krystal hanya memandang punggung pria tinggi itu lalu tersenyum kecil.

Bibir Siwon masih menyunggingkan seulas senyum, mengingat kalimat mantan tunangan adiknya itu. Kalimat Krystal seperti memberi kekuatan padanya, membuat hati yang awalnya bimbang kini berangsur penuh keyakinan.

Ya, Tuhan akan selalu bersamanya. Ia yakin itu.

~~~

Siwon berjalan dengan santai menyusuri lorong rumah sakit. Kini wajahnya nampak lebih cerah daripada siang tadi atau bahkan hari-hari sebelumnya. Ia akan menemui Myungsoo dan mengatakan bahwa istrinya tak perlu dioperasi. Sesuai dengan permohonan Yoona.

Ketika ia berbelok pada lorong kedua, tepat menuju kamar Yoona. Matanya menangkap beberapa orang berlarian dari arah berlawan darinya. Siwon menyipitkan mata sedetik kemudian terbelalak ketika mengetahui orang-orang dengan seragam putih itu berhambur ke dalam kamar rawat Yoona.

Siwon berlari cepat menghampiri Myungsoo yang turut masuk ke dalam. “Myungsoo-ya. Waeyo? Yoona…. Dia kenapa?” Siwon mencengkram bahu Myungsoo sebelum pria berkulit putih pucat itu benar-benar masuk ke dalam.

“Aku akan segera memeriksanya. Tenanglah, Hyung.” Myungsoo menepuk pundak Siwon kemudian ia melangkah ke dalam. Seorang susuter menutup pintu kamar rawat Yoona. Sementara Siwon masih tercengang di depan pintu yang telah tertutup rapat.

Batinnya terus berdoa, semoga tidak terjadi apa-apa..

Semoga Yoona baik-baik saja..

Semoga Tuhan memberi kekuatan pada Yoona..

Semga Tuhan memberi perlindungan pada Istri juga anaknya..

__

Gerak bibir yang menggumam lirih serta remasan tangannya menggambarkan pria itu tengah di rundung kegelisahan. Kepalanya menunduk dalam, kedua sikunya menyangga tubuhnya di atas kaki. Jemarinya bertautan serta mengeluarkan sedikit keringat.

Siwon berdiri dari duduknya. Kemudian berjalan kesana kemari—tak menentu. Pintu berwarna putih serta bertuliskan ICU itu belum juga menunjukkan tanda-tanda seseorang akan keluar dari dalam sana.

Satu jam yang lalu Yoona di pindahkan ke ruang ICU. Siwon tidak tahu pasti karna Myungsoo beserta para suster langsung membawa Yoona ke sana tanpa berkata apapun padanya. Sekarang ia hanya bisa menunggu bertemankan kecemasan.

Derap langkah kaki yang di timbulkan dari gesekan sepatu serta lantai rumah sakit itu sedikit mengalihkan perhatian Siwon.

“Yoona, apa yang terjadi?” tanya Seulong—kakak laki-laki Yoona—dengan nafas terengah.

“Kenapa bisa masuk ICU?” susul wanita di belakang Seulong dengan raut kecemasan.

Siwon mendesah, “Dokter sedang memeriksanya.” Pria itu hanya dapat memberikan jawaban seadanya pada sepasang suami istri di depannya itu.

Eunji, wanita yang berdiri di belakang Seulong mengusap lembut lengan suaminya, berusaha menenagkan kekalutan hatinya.

Detik-detik berikutnya mereka lewati dengan kebisuan. Ketiga orang itu duduk dengan hati gusar. Eunji menggenggam tangan Seulong, disaat seperti ini hanya inilah yang dapat ia lakukan.

Sosok pria yang duduk tak jauh dari mereka kembali berdiri. Entah sudah berapa kali Siwn melakukan hal itu. sebentar berdiri kemudian duduk kembali.

“Oh!” suara Eunji cukup membuat mereka mengalihkan pandangan kearah pintu ruang ICU. Myungsoo keluar dengan raut wajah yang sulit diartikan.

Uisanim, bagaimana keadaan adik saya?” Seulong yang pertama kali bertanya. Ketiga orang itu langsung menghambur kearah Myungsoo.

Dokter muda itu menunduk serta menghela napas sejenak. Ditatapnya ketiga orang di depannya dengan sorot mata menyedihkan. “Kami akan melakukan operasi ceaser untuk menyelamatkan bayinya, setelah itu baru bisa menangani pasien yang mengidap infeksi ginjal.” Myungsoo menatap satu persatu dari mereka yang menunggu lanjutan kalimatnya. “Kami butuh persetujuan kalian—“

“Lakukan!” suara tegas Seulong menghentikan ucapan Myungsoo. “Lakukan yang terbaik untuk adikku. Apapun itu, apapun yang terjadi selamatkan adikku.”

Sementara itu sedari tadi Siwon hanya terdiam. Otaknya tak dapat bekerja dengan benar. Ada banyak pertimbangan yang ia pikirkan.

Kepala Myungsoo mengangguk, mengerti. “Baiklah kalau begitu.” Ia kemudian berbalik, belum sampai dua langkah seseorang mencegah lengannya. Memaksanya harus kembali berbalik.

“Jangan lakukan operasi itu..” matanya menatap sayu kearah Myungsoo. Suaranya lirih dengan nada memohon.

Tercengang, itulah ekspresi dari tiga orang lainnya begitu mendengar kalimat yang keluar dari bibir Siwon.

“Apa?!”

Seulong mendorong tubuh Siwon sampai menghantam dinding. Lengannya menekan leher Siwon. “Kau mau membunuh adikku, hah! Kau menginginkan dia kesakitan! Suami macam apa kau ini!” Mata Seulong merah. Nada suaranya meninggi bersamaan dengan amarah yang tersulut.

Kelopak mata Siwon bergerak, membuat kedua bola matanya menatap mata Seulong yang memerah. “Ini impiannya, Hyung..” suaranya terdengar lemah. “Bagaimana bisa aku mengabaikannya. KATAKAN, BAGAIMANA MUNGKIN AKU MENGABAIKAN IMPIAN TERBESARNYA SEBAGAI SEORANG IBU!!” amarah Siwon juga tersulut.

Seulong mengertakan gigi, tangannya mencengkram kerah baju Siwon. “Saat-saat seperti ini kau masih berbicara mengenai hal seperti itu? Nyawanya dalam bahaya, bodoh! SUAMI MACAM  APA YANG MEMBIARKAN ISTRINYA MATI!! BRENGSEK!” satu pukulan keras mendarat mulus pada wajah Siwon. Membuatnya jatuh terhuyung.

Eunji menjerit, menyaksikan pertengkaran itu. Ia segera meraih lengan Seulong yang akan mendaratkan kembali pukulannya.

Yeobo, hentikan!”

Nafas Seulong memburu. Ingin rasanya ia menghabisi pria yang tersungkur itu.

Tangan kanan Siwon bergerak, menghapus sudut bibirnya yang telah dibanjiri darah segar.

“Lakukan operasi itu sekarang juga! Jangan pedulikan ucapan bajingan ini,” hardik Seulong pada Myungsoo.

Myungsoo menatap sekilas kearah Siwon. Ia harap Siwon dapat memberi perlawanan namun nyatanya pria itu hanya diam. Dalam hati, Myungsoo mendesah. Tidak ada yang bisa ia lakukan kecuali menuruti ucapan Seulong, selaku keluarga pasiennya.

Yeobo, tenanglah..” Eunji mengusap dada Seulong, berharap dapat meredakan kemarahan suaminya.

Pria itu mendudukkan diri di kursi tunggu masih memandang geram kearah Siwon yang belum juga mau berdiri. Ia membuang muka, merasa amarahnya akan kembali memuncak jika melihat wajah Siwon.

Selang beberapa detik, seorang suster keluar dari ruang ICU. Ia berlari seperti tengah terburu-buru. Tak berapa lama kemudian ia kembali bersama dengan seorang wanita yang tak asing di mata Siwon.

“Krystal?” lirihnya dengan dahi berkerut. Setahunya, Krystal adalah Dokter yang biasa menangani persalinan. Kedua alisnya terangkat bersmaan dengan tubuhnya yang juga turut berdiri.

Tepat saat itu, pintu ICU yang tertutup rapat kembali terbuka. Menampakkan seorang wanita yang menyembulkan kepalanya di balik pintu. “Siwon Oppa..” panggil Krystal.

Merasa namanya dipanggil tanpa buang waktu, Siwon segera menghampiri Krystal. Wanita itu tak banyak bicara, ia mempersilahkan Siwon masuk ke dalam ruang ICU.

Siwon bertanya-tanya, ada apa sebenarnya. Jika Yoona harus menjalani operasi ceasar seharusnya ia segera dipindahkan ke ruang operasi.

Pertanyaan Siwon terjawab ketika matanya menagkap sosok lemah Yoona yang terbaring tak berdaya di atas ranjang dengan peluh yang membanjiri wajahnya.

“Bersyukurlah, Tuhan mendengar harapanmu.” Myungsoo membisikkan kalimat itu. Siwon mengerti, bayinya akan lahir prematur.

Yeobo..” Siwon menggenggam tangan Yoona yang sudah basah akan keringat.

Semuanya sudah disiapkan. Krystal sudah memakai sarung tangan serta masker. Ada Myungsoo disana, siap berjaga-jaga jika sesuatu terjadi pada Yoona.

Mata Yoona menatap sendu kearah Siwon. Nafasnya terengah bersamaan dengan genggaman kuat pada tangan Siwon.

Yoona meringis menggigit bibir bawahnya, merasakan perutnya mulai berkontraksi. Siwon semakin mengeratkan genggamannya. “Yeobo, kau bisa. Percayalah.” Tangan Siwon mengusap peluh yang membanjiri wajah Yoona. Menyingkirkan helaian rambut yang menghalangi kening Yoona, Siwon mendaratkan kecupan bersamaan dengan napas Yoona yang tersenggal.

Tentu rasa sakit itu jauh lebih menyakitkan dari apapun. Siwon tahu, Siwon mencoba mengerti. Yang bisa ia lakukan saat ini hanyalah berada di sisi Yoona ketika wanita yang teramat dicintainya tengah mempertaruhkan hidup dan matinya demi melahirkan anak mereka.

Siwon merasa sakit dan perih pada matanya. Serasa sejuta serdadu belati menghujani ulu hatinya. Ia mengecup beberapa kali punggung tangan Yoona ketika wanita itu kesakitan. Matanya basah oleh lelehan krstal bening, menyaksikan secara langsung bagaimana istrinya berjuang, bagaimana perjuangan seorang ibu.

“Ya, sayang. Aku disini. Berjuanglah, kau wanita hebat, kau ibu yang kuat. Berjuanglah untuknya.” Siwon memejamkan mata sambil mencium tangan Yoona bersamaan dengan titik terakhir perjuangan Yoona.

Dan suara tangis itu terdengar begitu nyaring, menggema memenuhi seluruh ruang. Siwon bernafas lega. Ditolehkan kepalanya kearah Yoona. Wanita itu terengah dengan nafas naik turun.

Siwon mengusap dahi Yoona seraya berbisik, “kau berhasil, sayang. Kau berhasil.” Air matanya kembali menetes dari sudut matanya. Yoona mengangguk seraya tersenyum lemah.

Krystal menggendong bayi mungil yang masih berlumur darah itu. Begitu mungil dan suci.

Ia kemudian membawa bayi mungil itu ke dalam gendongan sang Ayah. Mata Siwon kembali berkaca-kaca ketika memandang malaikat kecilnya. Lihat bagaimana makhluk kecil ini menangis, bagaimana mata kecilnya terpejam—berusaha mengenal dunia barunya—dan suara melengking yang serasa benerbangkan hati Siwon.

Dia telah resmi menjadi seorang Ayah, dia seorang Ayah.

Kepala Siwon menoleh kearah wanita yang memandangnya dengan mata basah. Ia lantas membaringkan tubuh mungil malaikat kecil mereka di samping Yoona.

“O-ohh..” suara lemah Yoona ketika menyentuh permukaan kulit lembut anaknya.

“Dia sungguh cantik, sama sepertimu, sayang,” ungkap Siwon.

Yoona mengecup sayang bayi mungilnya. Telunjuknya ia posisikan membuka tangan mungil si malaikat kecil untuk dijadikan genggaman. Perasaan haru beserta bahagia itu serasa membalut hatinya.

Tuhan, dia begitu kecil, begitu mungil, dan suci.

 

Krystal mengusap matanya yang sudah basah. Ia berpaling dan mendapati bahu Myungsoo. Pria itu tersenyum kecil kemudian membawa Krystal menjatuhkan air matanya ke bahu kokohnya.

Siwon membiarkan dirinya menangis memandang haru kedua orang yang teramat dicintainya. Membiarkan air matanya terus meluncur menyaksikan adegan sendu itu.

Tuhan, terimakasih. Telah kau hadirkan mereka sebagai pelengkap hidupku. Mereka anugerah terindah dari-Mu.

jwesonghaeyo, biarkan kami memandikan bayinya terlebih dulu.” Suster itu tersenyum ramah seraya mengulurkan tangannya. Yoona memanggutkan kepala. Kemudian suster tadi menggendong bayi mungilnya dan membawanya keluar. Mata Yoona menatap punggung suster yang membawa anaknya.

Ketika Siwon kembali menatap Yoona, ia mendapati wanita itu kembali meringis. “Yoona!” tangan Siwon meraih jemari Yoona. Sementara tangan kanan Yoona mencengkram perutnya.

Myungsoo segera bergerak. Sementara Krystal mulai menuntun Siwon keluar. “Oppa, sebaiknya kita tunggu di luar.”

Dalam pandangan Siwon, ia menyaksikan Yoona mengerang kesakitan. Begitu sakit hingga membuat jantungnya serasa berhenti berdetak. “Tolong selamatkan istriku..”

 

To be continued…

HOLAAAAAAAAAAA^^ ada yg merindukan tulisanku? HAHA~ iya2 aku tau kalian secuil merindukannya #PD mode on/abaikan!-_-/ wehh, saya bawa 3S nih^^ emm sedikit berbeda dari kebanyakan fic selama ini *menurutku & rencananya* oke, ada yg penasaran dg lanjutan fic ini? Mikirin sadending gak? Ini 3S lhoooo… ^,~ #kedipin mata ala Dongek/sok misterius/

Well, aku cuman mau nyampein kalo part 2 kalian harus menunggu abis lebaran^^ karna saya berhalangan selama bulan ramadhan akan hiatus dari dunia per-ff’an. Mau semedi sekalian jadi anak yg berbakti ama Ibu hoho~ *hanya org2 tertentu yg tau maksudnya^^* Eiitss… ada yg ketinggalan. E-em saya sertakan acc twitter & facebook buat jaga2 kalo suatu hari kalian perlu menghubungi saya^^/maksud terselubung/ Dan tolong jgn panggil saya AUTHOOOOOR L saya Line 95 panggil NURUL aja yahh>,<

Special buat ching Resty/ka Echa yg telah bersedia nampung+ngepost fic ini^^ jeongmal gomawoyoooooooooooooooooooooooooooooooo

Uyeah sebentar lagi ramadhan, kajja kajja sambut bulan penuh berkah dg hati bersih^^ MARHABAN YA RAMADHAN :*******

Tinggalkan komentar

216 Komentar

  1. azzryia noer hayyati

     /  April 9, 2015

    Yoona harus bertahan dan selamat kasian bayinya siwon oppa jg pokoknya yoona selamat dan merasakan jd ibu yg baik dan istri yg sempurna……

    Balas
  2. Y ampun sdh bnget c ni ff siwon bner2 d uji bnget d sni yoona’a yg skit d chptr 2 lauren mudhn brakhr hppy endg deh,oya qu bca’a d chptr 2 dlu c jd bru tau klw yoona ga bs punya ank lg.

    Balas
  3. Eonniii…. yoona eonni knpa eonnni sakitt.. hiks..hiks…hiks.. aku sedih baca ff ini rasanya jiwaku ikut melayang. hiks.. eonn next chapter eonni… aku udh gk sabar.. jngn di proteks ya eonni…Fightinggg!!!!

    Balas
  4. nytha91

     /  Oktober 23, 2015

    Semoga yoona engga kenapa” ….jangan sad ending dong pleaseee…happy ending aja…malah kalo bs yoonwon pny anak lagi heheheh…

    Balas
  5. . Omo ksian bgt yoongi, koq bz yoongi pnya pnyakit yg mmbahayakan nyawa yoona dn bayi y…😂 tp walaupun bgtu yoona tetap berusaha melahirkan normal mudah” gk terjadi app” ma yoona ksian bayi y n siwon oppa… 😭

    Balas
  6. ayana

     /  Agustus 10, 2016

    huft~ jadi ikut deg-deggan baca mulai bagian tengah mpe tbc., jadi ikutan tegang.
    moga semua baik-baik aja.

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: