[FF] Cinderella After Midnight (Chapter 9-Road to Final)

CAM 6

Author : misskangen ‖ Length : Sequel ‖ Genre : Romance ‖ Rating : Mature ‖ Main cast : Im Yoona, Choi Siwon / Andrew Choi ‖ Support cast : Jessica Jung, Bae Suzy, Choi Minho ‖ Disclaimer : This story is mine instead of the plot and characteristics, but the casts are belong to themselves and god. Please don’t do plagiarism or bash anything from the story and sorry for undetected typo(s).

 

CINDERELLA AFTER MIDNIGHT : CHAPTER 9 (ROAD TO FINAL)

 

 

Kedua orang itu masih bertahan di posisi masing-masing. Berdiri diam dan saling menatap. Tetapi hal yang ada dalam pikiran mereka tidak sama. Mungkin benar bila keduanya sedang diliputi ketidakkaruan hati dan pikiran, namun mata dan telinga mereka tidak buta dan tuli. Otak mereka juga masih bisa berpikir dengan baik.

 

“Kau bilang apa tadi, Oppa?” Pertanyaan Yoona membuat Siwon tercekat. Siwon menyadari bahwa dirinya sudah membuat satu kebodohan yang akan membuatnya dalam keadaan genting.

 

Sesungguhnya Siwon sangat ingin mengatakan semua kebenarannya pada Yoona karena dirinya sendiri sudah mulai kehilangan pertahanan dirinya untuk terus bersembunyi dibalik penyamarannya. Siwon sudah mulai tak sanggup menghadapi tekanan yang muncul karena situasi pelik ini. Tetapi saat ini bukan waktu yang tepat untuk membongkar semuanya. Yoona dan bahkan dirinya sendiri sedang kalut. Mereka sedang berada di depan pintu gerbang keputusan yang akan mereka jalani sebagai konsekuensi hubungan mereka yang kompleks.

 

Yoona berbalik, berjalan cepat mendekati Siwon yang kini tertunduk dan masih betah dengan kebungkamannya. Yoona berdiri tegak di depan Siwon, memaksa diri untuk mencari jawaban dari wajah pria itu yang tertunduk lesu. Yoona berusaha mencari tatapan mata Siwon, tetapi sulit di dapat karena pria itu hanya menatap kosong ke tanah.

 

Yoona mengguncang lengan Siwon agar pria itu tak lagi membeku. “Bisa kau katakan lagi kalimatmu yang kau teriakkan tadi padaku?” Siwon mendongak, sudah cukup baginya mengabaikan Yoona dengan terus menunduk. Tetapi Siwon hanya memandang dalam mata Yoona, sorot matanya seolah berkata bila ia ingin mengungkapkan kejujuran. Hanya saja ia terlalu takut jika keadaannya tidak sesuai harapannya. Ia paham bila kondisi Yoona dan dirinya sedang dalam tahap yang tidak tenang.

 

“Kenapa Oppa diam saja? Aku dengar Oppa menyebut soal suami. Oppa adalah suamiku? Apa maksudnya, apakah keputusanku sudah membuatmu jadi gila, Oppa?”

Siwon menghela napas, “Yoona-yah, maafkan aku soal kata-kata tadi. Aku hanya tidak ingin kehilanganmu. Aku mohon kau jangan mengabaikanku.”

 

“Lantas Oppa seenaknya mengaku sebagai suamiku? Omong kosong apa lagi, Oppa!” Yoona meremas rambutnya pelan, ia merasakan frustasi sedikit demi sedikit mulai menyudutkannya. Napasnya terasa sedikit berat, dadanya sesak dan kepalanya kembali pusing. Yoona terlalu marah dan kecewa menghadapi sikap berlebihan yang ditunjukkan Siwon setelah Yoona memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka.

 

“Sudah aku katakan, Oppa. Aku tak bisa lagi menjalani ini semua. Kau dan aku sudah melakukan kesalahan dan kita pulalah yang merasakan kesakitan itu. Oppa kembalilah pada kehidupanmu yang dulu, sebelum kau menyadari perasaanmu padaku. Anggap saja kita tidak pernah bersama ataupun saling mengenal.” Air mata Yoona menetes, menutup kalimatnya dengan penuh kepedihan.

 

Siwon menggeleng cepat, merasa semua ini tidak benar. Siwon sesungguhnya memang tidak harus meninggalkan atau melupakan Yoona. Justru yang harus dilakukannya adalah membuka jati dirinya. Siwon memeluk Yoona dengan sigap, pelukannya erat seolah ia ingin menghancurkan sebuah benda rapuh dengan lengannya. “Tidak. Aku tidak akan melakukannya. Semua ini hanya kebohongan. Kau harus tahu kenyataannya, Sayang!”

 

Yoona memberontak dengan memukul-mukul punggung Siwon dengan satu tangannya. Tenaganya begitu lemah hingga Siwon tak merasakan sakit atau apapun di punggungnya. “Kenyataannya adalah kau dan aku harus berakhir. Sekarang lepaskan aku, Oppa!”

“Aku tidak mau! Aku tidak akan melepasmu!”

 

Yoona mulai menangis keras, masih berusaha melepaskan diri dari pelukan Siwon. Napas Yoona tercekat-cekat dengan tangisannya, bahkan tenaganya habis hanya untuk melakukan pekerjaan yang sia-sia. Siwon sama sekali tak bergeming Pria itu masih saja mempertahankan egonya dan kekerasan hatinya. Tangisan Yoona seolah tak ada karena jelas ia berusaha mengabaikannya. Tetapi Siwon berubah memucat ketika ia tak lagi mendengar tangisan Yoona. Tubuh kekasihnya itu sudah lunglai dalam pelukannya.

 

Siwon memandang wajah Yoona yang matanya tertutup. Pucat pasi dan keringat dingin adalah pemandangan yang terlihat di wajah indah itu. “Yoona-yah…” panggil Siwon.

“Sayang, bangunlah. Buka matamu!” Siwon mulai panik karena tak sedikitpun Yoona memberikan respon. Keadaan Yoona yang tak sadarkan diri membuat Siwon kehilangan ketenangannya. Siwon menggendong Yoona ala bridal style menuju mobilnya yang terparkir tak begitu jauh dari posisi mereka sekarang. Ada sedikit gemuruh dalam dadanya yang sangat mengkhawatirkan kondisi wanita yang begitu dicintainya hingga tangannya sedikit gemetar untuk memegang stir kemudi.

 

♣♣♣♣♣

 

Siwon berdiri mondar-mandir di depan ruang UGD menunggu dokter memeriksa keadaan Yoona yang dibawanya dalam keadaan pingsan. Saat itu pikirannya kacau. Siwon diliputi rasa bersalah karena menjadi penyebab Yoona kehilangan kesadarannya. Seandainya beberapa saat lalu Siwon tidak memaksakan kehendaknya pada Yoona dan tidak terus menerus berkeras mempertahankan Yoona dalam pelukannya yang begitu erat, maka istrinya tidak akan terbujur lemah di dalam ruangan itu.

 

Seorang dokter keluar dari ruangan itu dan Siwon langsung menghampirinya, siap menghujani sang dokter dengan sejuta pertanyaan mengenai keadaan istrinya.

“Bagaimana keadaannya, Dokter?”

“Apa anda orang yang membawa pasien?” tanya dokter tadi dan dijawab anggukan mantap dari Siwon. “Apa anda mengenal pasien?”

“Ya, aku su—“ Siwon menarik napas singkat dan berpikir cepat untuk memutuskan status yang mana yang akan ia katakan kepada dokter tersebut. “Aku suaminya, Dokter.”

 

Dokter itu mendesah, lalu menatap Siwon dengan sorot mata penuh tanya. “Untuk sementara hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa pasien mengalami kelelahan dan dehidrasi sehingga tubuhnya lemas. Hal itu yang menyebabkannya menjadi lemah tak bertenaga hingga akhirnya pingsan.” Satu tangan dokter itu bergerak memasukkan stetoskop ke dalam kantong jas putihnya. “Apakah istri anda makan dan istirahat dengan cukup? Saya khawatir bila pasien sering memforsir tubuhnya untuk bekerja keras.”

 

Siwon tertohok dengan pernyataan dokter barusan. Beberapa bulan belakangan Yoona selalu mengisi waktunya dengan kesibukan kuliah dan bekerja hingga menjelang tengah malam. Yoona memilih mengeraskan hati dengan tantangan yang diberikan Andrew kepadanya. Yoona terlalu memaksakan diri untuk menunjukkan kepada orang-orang yang meremehkannya, bahwa ia juga bisa bersikap mandiri dan tidak ingin merepotkan orang lain. Secara tidak langsung Andrew – juga Siwon – yang telah menyebabkan Yoona bersikap seperti itu. Siwon bahkan melupakan hal kecil berupa pengawasan jam istirahat maupun porsi makan yang cukup. Siwon terlalu sibuk memikirkan cara bagaimana agar ia bisa terus dekat dengan Yoona.

 

“Belakangan istriku sibuk dengan tugas akhirnya hingga ia berusaha keras untuk memfokuskan diri pada kegiatannya.” Siwon mencari alasan akademis untuk menjawabnya. Dokter tersebut mengerutkan keningnya, lalu menggeleng pelan.

 

“Sepertinya anda kurang memperhatikan kondisi kesehatan istri anda. Saya curiga istri anda sedang hamil. Kita akan memastikannya setelah hasil laboratoriumnya keluar. Untuk sementara saya akan memindahkan istri anda ke ruang perawatan dan dokter kandungan akan memeriksanya langsung.”

 

Siwon membulatkan matanya mendengar perkataan Dokter yang memeriksa Yoona tadi. Keadaan Yoona yang diungkapkan olehnya membuat Siwon merasa diberi kejutan besar hingga ia sulit mempercayai semuanya. Benarkah Yoona hamil? Bayangan Yoona sedang mengandung anaknya membuat Siwon tersenyum miris. Bagaimanapun situasi hubungan mereka sedang tidak baik, tidakkah berita menggembirakan ini datang terlalu cepat?

 

♣♣♣♣♣

 

Siwon duduk tepat di sebelah ranjang perawatan Yoona di ruang VIP rumah sakit pusat kota Seoul. Istrinya masih belum sadar, dan Siwon tak pernah sedetikpun berhenti mengkhawatirkannya meski dokter telah menyatakan Yoona baik-baik saja. Laporan pemeriksaan laboratorium dan dokter kandungan telah selesai beberapa menit yang lalu. Hasil yang di dapat pun sesuai dengan prediksi dokter sejak di ruang UGD.

 

Yoona memang hamil, usia kandungannya sudah menginjak empat minggu. Perasaan Siwon benar-benar tercampur aduk saat ini. Di satu sisi Siwon merasa sangat bahagia bahwa kini di dalam rahim Yoona telah tumbuh buah cinta pernikahannya. Bahkan Tuhan mempercayakan mereka untuk menjadi orang tua di usia pernikahan yang masih seumur jagung. Di sisi lain Siwon merasa sangat bersalah pada Yoona terkait kebohongan yang telah disepakatinya dengan Kim Taeyeon. Kebohongan itu sendiri bahkan telah membuatnya tertekan hingga sulit sekali menahan diri untuk tidak berbuat suatu kebodohan yang bisa menghancurkan usaha kerasnya selama ini.

 

Siwon sangat mencemaskan reaksi Yoona nantinya bila semua kebohongan telah terungkap. Siwon takut jika Yoona akan membuat suatu keputusan yang serta merta bisa membuatnya kehilangan nyawa dalam sekejap. Siwon tidak ingin suatu saat nanti Yoona akan meminta kembali perpisahan padanya – pada suaminya – seperti yang terjadi beberapa saat sebelum Yoona pingsan. Siwon tidak akan sanggup jika ia harus berpisah dari Yoona. Apalagi kini akan ada bayi di tengah-tengah mereka.

 

“Aku tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan selanjutnya, Yoona-yah.” Ucap Siwon yang duduk di sebelah ranjang perawatan Yoona. Berulang kali pria itu mencium punggung tangan sang isteri yang digenggamnya erat. “Haruskah aku mengungkapkan semuanya padamu sekarang? Tapi aku takut kau akan membenciku. Aku takut kau tidak mau lagi melihatku.” Siwon berbicara seolah Yoona sedang mendengarkan suaranya dengan seksama.

 

Siwon benar jika ia harus mengungkapkan rahasia yang disembunyikannya selama ini dari Yoona, tetapi pria itu masih sangat ragu untuk melakukannya karena terus dihantui ketakukan demi ketakutan yang menghinggapi pikirannya. Semuanya menjadi terasa semakin berat dengan keadaan Yoona yang lemah. Siwon semakin takut berita buruk yang dibawanya akan memberikan tekanan besar pada Yoona hingga terjadi sesuatu yang tidak diinginkan terhadap calon bayi mereka.

 

“Aku akan mencoba bertahan sedikit lagi, Yoona. Aku tidak tahu seberapa besar lagi kekuatan yang bisa menopangku untuk melanjutkan kebohongan ini. Aku akan mencari waktu yang tepat untuk pelan-pelan mengatakannya padamu. Ya, aku akan mengungkapkannya setelah kau sehat dan kuat kembali.” Siwon menguatkan hatinya sendiri untuk terus mencoba bertahan dan melanjutkan penyamarannya walau harus menjalaninya dengan hati yang sakit.

 

♣♣♣♣♣

Yoona tersadar dari pingsannya dan mendapati tubuhnya terasa sangat lemas. Kepalanya masih terasa sedikit pusing hingga beberapa kali ia memejamkan matanya untuk menghilangkan ketidaknyamanan itu. Yoona mulai memperhatikan tempatnya berbaring, ruangan bernuansa putih dengan bau yang tidak familiar di hidungnya.

 

“Kau sudah sadar, Yoona-yah?” Yoona mendengar suara lembut seorang wanita di sebelahnya. Yoona menoleh dan sedikit kaget mendapati Jessica yang ada di sana.

“Eonni, kenapa kau ada disini bersamaku? Bukankah aku tadi…” Yoona masih dapat mengingat bahwa terakhir kali ia sedang bersama Siwon sebelum ia kehilangan kesadarannya.

“Ya, kau tadi pingsan sepulang dari rumah Suzy.” Jawab Jessica cepat. “Tadi suamimu yang meneleponku. Dia memberitahu kalau kau berada di rumah sakit dan masih belum sadarkan diri.”

 

“Suamiku?” tanya Yoona bingung. “Maksudmu Choi Ahjussi?”

Jessica mengerjapkan matanya, ia heran melihat Yoona yang tampak kebingungan sendiri. “Tentu saja Andrew. Choi Ahjussi. Suamimu! Memangnya kau punya suami yang mana lagi, eoh?”

Yoona mengernyit, seingatnya ia bersama Siwon sepulang dari rumah Suzy, bukannya bersama Andrew. Jadi orang yang sudah membawanya ke rumah sakit pasti Siwon. Tetapi mengapa Jessica mengatakan justru Andrew yang memberitahukan keadaannya? Mungkin Siwon juga yang sudah nekat menghubungi Andrew dan memberi informasi tentang keberadaannya.

 

Tapi bagaimana jika Andrew curiga dengan situasi ini? Setahu suaminya itu, Yoona sedang berada di rumah Suzy bukannya sedang pergi dengan Siwon. Tidak. Hal ini tidak boleh berlarut-larut. Yoona berpikir bagaimana ia harus menjelaskan kepada Andrew perihal hubungannya dengan Siwon nanti. Kepala Yoona kini jadi berdenyut-denyut karena ia terlalu keras memikirkan hal tersebut. Yoona memijat pelipisnya yang terasa sakit. Lalu Yoona teringat dengan Andrew. Bila ia tahu tentang keadaan Yoona, lantas mengapa Yoona tak melihatnya di sekitar sini?

 

“Eonni, dimana suamiku?”

Jessica mendesah keras, sengaja memperlihatkan rasa tidak senang dari dirinya. “Aku sungguh prihatin denganmu, Saeng. Suamimu meneleponku untuk memberitahu keadaanmu dan memintaku secepatnya datang kesini, tapi aku sama sekali tidak bertemu dengannya. Aku bahkan harus mencari tahu sendiri keadaanmu dari dokter yang merawatmu.” Sungut Jessica dengan kekesalan akut. “Aku tidak tahu apa yang dipikirkan Ahjussi itu. Dia bahkan lebih mementingkan kesibukannya dibanding isterinya yang sedang—“

 

Yoona menunggu Jessica melanjutkan kalimatnya yang terputus. Jessica menggigit bibir bawahnya setelah menyadari bahwa ia hampir saja mengatakan sesuatu yang mungkin akan membuat Yoona shock bila ia tahu sedang hamil. “aku sedang apa, Eonni?” tanya Yoona penasaran. Jessica masih terlalu bingung melanjutkan kata-katanya tadi. “Eonni… aku kenapa?”

 

“K-kau kan sedang sakit. Jadi menurutku, sudah seharusnya suamimu yang menemanimu disini. Walau aku sangat tidak keberatan untuk menemanimu, tapi tetap saja Ahjussi itu tidak boleh mengabaikan kewajibannya.” Jessica berbicara cepat untuk menyembunyikan kegugupannya.

 

“Benarkah begitu? Mungkin suamiku memang sedang sibuk sekali, jadi ia terpaksa tidak bisa menemaniku disini. Tetapi kenapa aku merasa Eonni menyembunyikan sesuatu?”

Jessica menggeleng pelan dan tak berani menatap Yoona. Kedatangan dokter ke kamar perawatan sedikit banyak menolongnya untuk keluar dari tatapan penuh tanya sang adik.

 

“Anda sudah sadar, Nyonya Choi? Saya akan memeriksa keadaan anda lagi.” Sapa dokter tersebut lalu melanjutkan kegiatannya memeriksa kondisi Yoona pasca sadar dari pingsannya yang cukup lama. “Sekarang apa yang anda rasakan, Nyonya Choi?”

“Aku masih merasa lemas dan kepalaku pusing, terkadang berdenyut-denyut nyeri.” Jawab Yoona menjelaskan keadaannya. Dokter itu mengangguk mengerti dengan keluhan Yoona. “Tetapi aku tidak sakit parah kan, dokter? Aku baik-baik saja kan?”

 

Dokter itu tersenyum. Walaupun tampaknya pria tersebut terlihat sudah cukup berumur, tetapi ia adalah sosok dokter yang tampak lembut dan ramah. “Ne, anda baik-baik saja, Nyonya Choi. Anda hanya mengalami kelelahan. Apalagi anda sedang hamil muda, jadi sedikit saja anda memforsir tubuh anda maka efeknya akan langsung terasa hingga kondisi anda bisa langsung drop.

 

Yoona membulatkan matanya kaget. Ia tak percaya dengan pendengarannya yang menangkap perkataan dokter tentang keadaannya tadi. “Aku… aku hamil?” leher Yoona tercekat saat menanyakannya kembali pada sang Dokter.

“Ya, anda positif hamil. Usia kandungan anda baru berjalan empat minggu. Saya ucapkan selamat atas kehamilan anda, Nyonya Choi.” Ujar sang dokter masih dengan senyuman ramahnya.

 

Yoona merasakan napasnya sedikit berat. Kenyataan bahwa ia sedang hamil benar-benar membuatnya tak tahu ingin berkata apa. Inilah yang ditakutkannya selama ini. Terus menerus berada dalam kamar dan ranjang yang sama, membuat Yoona sangat sulit menolak pesona Andrew. Bahkan ketika suaminya itu merayu dan memintanya untuk berhubungan, Yoona seolah kehilangan sejuta alasan untuk menolak. Walau selama ini Yoona selalu menuruti Andrew dengan syarat melakukannya dalam lampu yang padam, karena Yoona takut untuk menatap mata Andrew. Bau tubuh Andrew dan sentuhan intim Andrew sudah cukup membuatnya tersiksa dengan fantasi yang membawa sosok Choi Siwon ke dalam pikirannya. Yoona merasa sangat bodoh dengan sikapnya itu. Sungguh keterlaluan bila melakukan keintiman dengan suami tetapi malah membayangkan bercinta dengan pria lain. Kini setelah mengetahui kondisinya yang sedang mengandung anak Andrew, Yoona semakin merasa berdosa. Yoona sudah berbuat keji kepada Andrew, kepada Siwon, kepada dirinya sendiri, dan juga kepada calon bayinya.

 

“Apakah ada sesuatu yang mengganjal pikiran anda, Nyonya Choi? Saya melihat ekspresi yang anda tunjukkan sama seperti suami anda saat saya memberitahu soal kehamilan ini. Ekspresi bingung, marah, kecewa, dan senang. Sepertinya membaur jadi satu. Apa anda sedang memiliki masalah?” tanya Dokter itu lagi yang menyadarkan Yoona dari lamunannya.

 

“Ah, tidak apa-apa dokter. Aku hanya terkejut. Aku merasa ini terlalu cepat, apalagi kami baru menikah selama beberapa bulan.” Jawab Yoona terpaksa berbohong. Yoona tahu pasti bahwa ‘suami’ yang dikatakan dokter tadi bukannya Andrew tetapi Siwon, karena pria itu yang pertama kali membawa Yoona ke rumah sakit. Tentu saja Siwon akan berekspresi seperti yang dikatakan dokter, bingung hingga marah dan kecewa. Siwon sama sekali tidak akan senang dengan kehadiran janin itu. Tetapi Yoona berpikir lain, bahwa kehadiran calon bayinya justru akan menjadi senjata terbaik untuk berpisah dengan Siwon dan tetap bersama suaminya. Siwon harus mau menerima kenyataan ini, bahwa Yoona tak bisa lagi bersama dengannya. Begitulah yang dikatakan batin Yoona.

 

“Syukurlah bila semua baik-baik saja.. Saya harap anda bisa menjaga kondisi fisik dan psikis anda dengan baik, karena kehamilan anda masih sangat muda dan rentan, Nyonya.” Dokter tersebut tampak bernapas lega dengan jawaban Yoona. “Untuk sementara anda akan dirawat inap hingga kondisi anda lebih stabil. Kalau begitu, saya permisi dulu.”

 

Sepeninggal dokter itu, Yoona dan Jessica masih terlarut dalam pikiran masing-masing. Yoona masih memikirkan tentang persiapan dirinya untuk menghadapi Siwon dan tentunya Andrew nanti. Sedang Jessica berkutat dengan prasangka-prasangka yang mungkin akan dilakukan adiknya di masa depan.

“Lalu, apa yang akan kau lakukan setelah ini, Yoona-yah. Aku tak menyangka kau bisa hamil secepat ini.” Jessica mengedikkan bahunya, kejadian ini sungguh jauh di luar prediksinya selama ini. “yang aku tahu kau tidak menyukai ataupun mencintai suamimu, dan sekarang kau sedang mengandung anaknya. Bagaimana dengan janin itu selanjutnya, apa kau berpikir untuk—“

 

“Eonni! Aku masih sangat waras untuk memikirkan hidupku selanjutnya. Aku tidak akan mengabaikannya. Janin ini adalah anakku, walau aku tak menginginkannya secepat ini. Tetapi tetap saja aku punya andil besar atas kehadirannya dalam rahimku, jadi aku juga harus bertanggung jawab untuk semua itu.”

 

Jessica terperangah dengan kata-kata Yoona. Semua ini benar-benar di luar dugaannya. Sungguh ajaib! Yoona bisa berbicara soal tanggung jawabnya sebagai calon ibu. Jessica tersenyum, menyadari bahwa adiknya mulai berubah sikap. “Aku senang kini kau sudah bisa bersikap dewasa, Saeng. Sepertinya pernikahan ini cukup membawa efek positif untuk hidupmu.”

 

♣♣♣♣♣

Dua hari menjalani rawat inap di rumah sakit ternyata membawa kebosanan yang amat besar bagi Yoona. Tidak ingin berlama-lama bertahan dengan bau obat-obatan dan aura tak menyenangkan, Yoona memaksa Jessica untuk membujuk Dokter agar ia bisa segera pulang ke rumah. Jessica hanya bisa menuruti keinginan adik semata wayangnya itu, karena ia sendiri yakin bahwa Yoona sudah cukup baik untuk dipulangkan dari tempat itu.

 

Jessica tidak butuh waktu yang lama untuk bernegosiasi dengan dokter yang merawat Yoona. Sebelumnya dokter itu telah mendapat persetujuan dari Andrew melalui telepon. Yah, suami Yoona itu memang tidak pernah lagi memperlihatkan sosoknya di rumah sakit. Andrew hanya memantau keadaan Yoona melalui dokter yang telah dipercayanya. Andrew beralasan bila ia terpaksa berangkat ke Jepang untuk urusan bisnis hingga harus meninggalkan Yoona sendirian di rumah sakit. Yoona sendiri tidak habis pikir dengan sikap suaminya, tapi kemudian Yoona tak mau ambil pusing karena nanti ia yakin Andrew akan menjelaskannya setelah kembali ke Korea.

 

Di luar dugaan sesampainya Yoona di rumah, ternyata Andrew sudah menunggu di depan pintu rumah. Ekspresinya begitu tenang dan datar, seperti tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari dirinya. Jessica yang menuntun Yoona masuk ke dalam rumah hanya melirik sinis kepada iparnya itu, sosok yang selama ini ingin sekali dimakinya. Namun Jessica menahan dirinya untuk berbuat seperti itu mengingat kondisi Yoona yang baru sembuh dan masih butuh istirahat. Jessica tidak ingin melihat Yoona menjadi stres dan tertekan karena sikap dinginnya kepada Andrew.

 

“Biar aku yang membawanya ke kamar, Sica-ssi,” tawar Andrew seraya mengambil alih raihan tangan Yoona dari genggaman Jessica. Yoona menoleh pada kakaknya, memandangnya untuk meminta persetujuan. Jessica tidak mungkin bisa menolak, jadi dengan setengah hati ia menyerahkan Yoona pada Andrew untuk di bawa ke kamar mereka. “Terima kasih karena sudah menjaga Yoona selama aku tidak ada, Sica-ssi. Maaf telah merepotkanmu.”

 

“Aku tidak pernah merasa direpotkan hanya untuk menjaga adikku. Aku harap kau bisa memberikan lebih banyak waktumu untuk Yoona, Andrew-ssi.” Suara Jessica terdengar ketus. Jessica berusaha tersenyum walau yang tampak hanya sebuah senyuman miring dan sinis. “baiklah, tugasku mengantar Yoona sudah selesai. Yoona-yah, aku pulang dulu. Baik-baiklah di rumah, aku akan sering datang berkunjung.” Jessica undur diri dari hadapan suami-istri itu.

 

Andrew membawa Yoona ke kamar dengan menggendongnya. Yoona merasa tidak nyaman dengan perlakuan itu, tetapi terlalu malu untuk menatap wajah Andrew. Jadi Yoona hanya menyembunyikan wajahnya di dada bidang Andrew.

 

Kamar mereka masih tertata rapi, sama seperti saat Yoona meninggalkan kamar itu untuk terakhir kali sebelum keharusan menginap di rumah sakit. Andrew membaringkan Yoona pelan-pelan di atas ranjang, menarikkan selimut untuknya dengan begitu tenang. Yoona merasa ada sedikit perbedaan pada sikap Andrew yang dinilainya terlalu ‘jinak’. Biasanya suaminya itu tidak pernah lupa menyertai setiap sikapnya dengan keangkuhan ataupun filosofi gunung es nya. Kecuali terakhir kali ketika Andrew meminta Yoona berhenti memaksa diri untuk memberikan pembuktian kepadanya sebagai wanita yang mandiri. Saat itu Andrew tampak kacau dengan sorot mata kesakitan yang membuat Yoona cukup tersentuh.

 

Andrew membetulkan letak selimut dan bantal Yoona sebelum beranjak meninggalkannya. Langkah Andrew terhenti ketika Yoona menangkap pergelangan tangannya. “Tidak adakah yang ingin kau katakan padaku, Ahjussi?” Andrew menoleh, tatapan matanya langsung berpapasan dengan mata sayu Yoona. Tangan Yoona masih memegang pergelangan tangan Andrew dengan erat, seolah memaksa pria itu untuk tetap berada di tempatnya dan membuang semua alasan untuk meninggalkannya.

 

“Maafkan aku.” Dua kata itu yang pertama keluar dari mulut Andrew. Dengan pergerakan lembut, Andrew naik ke ranjang dan duduk di samping tubuh Yoona yang terbaring. Andrew memgang tangan Yoona dan mengcup punggung tangan itu dengan lembut. “maafkan aku yang sudha egois meninggalkanmu di rumha sakit. Aku punya pekerjaan yang sulit sekali untuk ditinggalkan.” Andrew susah payah menelan liur untuk menyembunyikan kebohongannya.

“Kau boleh menganggapku egois. Tapi kau harus tahu bahwa aku sangat bahagia dengan kabar kehamilanmu. Sebentar lagi aku akan menjadi seorang ayah. Aku masih sulit membayangkan akan ada bayi di rumah ini, bayiku sendiri.” Ujar Andrew dengan wajah yang merona dan senyuman lebar.

 

Yoona sebenarnya juga ingin ikut tersenyum, tetapi ia cukup mampu menahan diri untuk bersikap datar dan netral. “Kau memang selalu egois, Ahjussi. Aku sudah tahu kau itu memang gila kerja, bahkan pada hari bulan madumu pun kau memilih bekerja. Kau juga membuat peraturan-peraturan yang membuatku harus bersusah payah mematuhinya.”

 

“Aku tahu aku sudah membuat kesalahan dengan memberikanmu beban berat seperti itu. Tapi niatku hanya ingin kau tidak lagi terlalu bergantung pada semua kemudahan dan kemewahan yang sudah kau dapat sedari kecil. Aku ingin kau tahu bahwa hidup tidak akan berjalan mulus dan datar seperti yang kau inginkan. Akan ada kerikil-kerikil kecil dan tajam yang memaksamu untuk berjuang keras untuk melewatinya.”

 

“Ya, aku sudah memahami maksudmu itu. Lihatlah, aku sudah nyaris berhasil membuktikannya, bukan? Tinggal sedikit lagi, dan kau akan melihat bahwa aku bisa menjadi wanita terhormat seperti yang kau katakan itu.” Gerutu Yoona sebal.

“kau tidak harus melanjutkannya. Aku sudah lihat seberapa keras usahamu untuk mewujudkannya. Bukankah aku sudah memintamu berhenti memaksakan diri? Aku tahu kau lelah, dan aku juga merasa lelah karena tekanan ini.”

 

“hanya karena aku hamil, kau jadi menarik semua aturan konyolmu, Ahjussi? Miris sekali…”

“Bukan itu maksudku Yoona-yah. Ku akui alasan kehamilanmu memang salah satunya. Tapi, aku dan kau sama-sama tahu bahwa kau sudah berubah. Kau bukan lagi Yoona yang manja dan suka berbuat seenaknya. Percayalah, bahwa aku telah mempercayaimu dan aku juga sangat mengkhawatirkanmu.” Sanggahan Andrew membuat Yoona menyeringai geli.

 

“Benarkah? Kenapa aku merasa kalau kau terpaksa melakukannya, Ahjussi? Apa kau punya motif lain di balik itu semua?” tanya Yoona asal. Yoona tidak benar-benar melihat keterpaksaan Andrew, ia hanya ingin menggoda suaminya saja.

“Tidak ada motif apapun, Yoona!” tegas Andrew. “Aku melakukannya karena aku mencintaimu!”

Yoona tersentak mendengar pernyataan Andrew. Itu pertama kalinya Andrew mengatakan kata-kata cinta pada Yoona. Selama ini yang Yoona tahu bahwa Andrew hanyalah seorang pria yang hidup dengan perasaan hampa, bahkan ia menikah karena sebuah perjodohan yang sarat dengan motif bisnis. “kau mencintaiku, Ahjussi?” ulang Yoona.

 

“Ya, aku menicintaimu, istriku.” Andrew mengecup kening Yoona sepenuh hati. Yoona merasakan tubuhnya sedikit merinding dengan kejadian ini. “Dan tentunya aku juga mencintainya, calon bayi kita.” Andrew menyentuh perut datar Yoona dan mengecupnya sekilas. Yoona merasakan sesuatu yang bergetar di dalam dadanya. Perlakuan manis Andrew sudah cukup untuk membuatnya mabuk kembali ke dalam pesona pria itu.

 

♣♣♣♣♣

“Wah… chukkae hyung! Sebentar lagi kau akan menjadi seorang ayah dan aku akan menjadi samchon.” Pekik Minho begitu mendengar kabar gembira yang disampaikan Siwon kepadanya dan ibunya di kantor. Nyonya Choi tak hentinya tersenyum senang dengan kenyataan sebentar lagi ia akan mendapatkan cucu dari Siwon, sesuai keinginannya yang memaksa Siwon untuk segera menikah.

 

“Eomma gembira sekali dengan berita ini, Siwon-ah. Harapan Eomma untuk menjadi seorang nenek akan segera terwujud. Gomawo, Siwon-ah. Kau memang anak yang berbakti.” Nyonya Choi masih tidak bosannya memberi puja-puji pada anak sulungnya itu.

 

“Aku tidak menyangka ternyata kau sungguh hebat di ranjang, Hyung! Kau bisa menghamili istrimu di usia pernikahanmu yang baru berjalan beberapa bulan. Bahkan kau melakukannya dalam wujud seorang pria tua. Aku penasaran, apa yang sudah kau perbuat hingga istrimu bisa menjadi penurut seperti itu?” Minho ceplas ceplos berbicara tanpa memandang situasi kakaknya yang sedari tadi sudah menatap tajam seperti hendak menelannya.

 

“Sejak kapan kau berpikir pendek, kolot, dan yadong seperti itu, Minho-yah?” tanya Siwon dengan nada sarkatis. Minho menghentikan aksi gilanya yang berusaha menggoda Siwon. Minho baru saja menyadari bahwa ia sudah membuat kesalahan dengan tidak mengingat suatu hal yang sedang dikhawatirkan kakaknya itu.

 

“Maafkan aku, Hyung. Aku terlalu gembira hingga melupakan soal penyamaranmu.” Sesal Minho seraya menepuk keningnya pelan. “Tapi sampai kapan kau akan bertahan seperti ini, Hyung? Bukankah kau bilang mulai kesulitan bernapas karena kebohongan yang kau pertahankan itu?”

“Minho benar, Siwon-ah. Jika kau sudah merasa kesulitan sendiri, lebih baik kau mengatakan yang sebenarnya pada istrimu. Jangan sampai ia tahu dari orang lain.” Nyonya Choi memperkuat argumen Minho. “Apalagi Eomma sudah ingin sekali menemui Yoona, menantu Eomma. Apa kau ingin membiarkan istrimu sama sekali tidak mengenali keluarga suaminya?”

 

“Aku ingin secepatnya memberitahukan ini pada Yoona, Eomma. Aku hanya menunggu saat yang tepat. Kondisi Yoona belum stabil. Aku khawatir terjadi sesuatu yang buruk bila ia mengetahui ini dalam kondisinya yang tidak baik.” Siwon mengatakan itu semua dengan ekspresi hampa. Wajahnya sedikit murung karena ia mulai stres.

 

Nyonya Choi mendesah pasrah. Ia merasa bersalah dengan kondisi putranya saat ini karena dirinyalah yang juga memaksa Siwon untuk menerima perjodohan dan kesepakatan yang diajukan Kim Taeyeon. Ia tak menyangka rasa cinta putranya untuk Yoona begitu besar hingga membuatnya selalu merasa tertekan menjalani kehidupan rumah tangganya yang berlandaskan ketidakjujuran itu. “Kau benar, Nak. Kau memang harus memikirkan kondisi istrimu saat ini. Tetapi kau juga harus menjaga kesehatanmu. Kau harus mengambil waktu untuk rehat dan menghilangkan stres. Eomma takut kau jatuh sakit melihat keadaanmu seperti ini.”

 

♣♣♣♣♣

 

Berada di rumah dan tidak melakukan apapun adalah penggambaran yang tepat bagi Yoona. Dia sudah seperti wanita tak berguna yang dilarang melakukan apapun yang membuatnya lelah. Pemikiran bahwa kondisi tubuhnya selemah itu membuatnya jengah. Im Yoona bukan wanita lemah, Im Yoona adalah wanita yang kuat yang sudah bisa berpikir dewasa dan hidup mandiri. Itulah yang mulai dipikirkan Yoona. Ia tidak mau terus-terusan merasa diperlakukan seperti anak manja lagi. Yoona cukup berpikir pendek bahwa kondisinya saat ini tidak boleh membuatnya terhina karena harus dipandang sebagai sosok yang lemah dan butuh perhatian khusus dari orang lain, terutama suaminya.

 

Waktu kosong yang dimiliki Yoona dimanfaatkannya untuk mengerjakan tugas akhir. Yoona meminta Suzy datang menemaninya di rumah dan kembali mengerjakan tugas bersama-sama. Tentunya tanpa sepengetahuan Andrew, Yoona memaksa Suzy membantunya mengumpulkan bahan tugas untuk dikerjakan hingga selesai lebih cepat. Andrew jelas sudah melarang Yoona untuk sementara tidak berkutat dengan skripsinya itu. Apa daya, Yoona benar-benar tidak bisa mengerjakannya saat itu. Kepalanya kembali pusing begitu melihat runtutan data-data yang harus diolah hingga Suzy harus kembali memapahnya berbaring di tempat tidur.

 

“Memangnya kau tidak bisa lebih berhati-hati bila bersama Ahjussi itu, sekarang lihat saja keadaanmu! Kau sama sekali tidak bisa mengerjakan tugasmu dengan baik. Sepertinya kau harus menunda kelulusanmu tahun ini.” gumam Suzy saat menyibukkan dirinya menyusun buku-buku yang berserakan di atas meja.

 

“Yak, kau harusnya mendukung dan menyemangatiku. Bukannya malah menyudutkanku seperti itu. Aku yakin ini tidak akan lama. Setelah aku benar-benar sehat, aku akan mengerjakannya hingga selesai kalau perlu aku akan lembur mengerjakannya. Aku tetap harus lulus tahun ini.” Yoona masih bisa mengomel panjang walau tangannya sibuk memijat kepalanya yang berdenyut.

 

Suzy menghela napas, tidak heran dengan kekeraskepalaan sahabatnya itu. “Ya aku hanya bisa mendukungmu bila kau berkeras begitu. Memangnya kau yakin akan percaya diri tampil di depan mahasiswa dengan perut besar?”

“Aishhh… entahlah. Aku sedang tidak ingin memikirkan itu sekarang.”

 

Begitu selesai dengan perdebatannya dengan Suzy, Yoona kembali lagi dengan rasa sepinya. Berdiam diri di rumah sama sekali bukanlah hal yang menarik baginya. Tetapi jika ia memaksa keluar dan berjalan-jalan, ia takut bila tiba-tiba pingsan di jalan tanpa diketahui seseorang. Setelah Suzy pulang, Yoona sudah tidak betah terus menerus berbaring di ranjangnya. Yoona keluar kamar dengan jalan yang sedikit terhuyung. Tubuhnya lunglai sudah seperti orang yang sedang mabuk.

 

Di luar kamar, Yoona hanya melihat kondisi rumah yang sepi. Hanya ada beberapa asisten rumah tangga yang lewat dan menanyai hal yang mungkin diinginkannya. Yoona hanya akan menggeleng dan meminta pembantunya untuk melanjutkan pekerjaan mereka. Para pembantu terpaksa mengikuti kemauan Yoona dengan berat hati, padahal mereka masih memiliki beban untuk mengawasi Yoona di rumah selama Andrew tidak ada.

 

Yoona mengitari rumahnya, ruang demi ruang dilewati. Langkahnya terhenti tepat di depan sebuah ruangan yang tertutup di lantai dua. Ruangan itu adalah satu-satunya tempat di rumah ini yang dilarang dimasukinya oleh Andrew. Ruang kerja Andrew.

 

Yoona merasa penasaran dengan isi ruangan itu hingga Andrew melarangnya masuk kesana. Ternyata pintunya tidak di kunci, Yoona masuk begitu saja ke dalam ruangan tersebut. Ruangan itu tertata begitu rapi. Setiap rak berisi buku maupun folder yang tersusun runtut. Mejanya yang terbuat dari kayu berukir halus dan dilapisi kaca di atasnya terlihat cukup mewah. Ruangan ini terasa hangat. Andrew sering menghabiskan waktunya berdiam di ruangan ini dengan alasan banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Yoona berpikir bahwa ruangan ini begitu spesial bagi suaminya hingga tak seorangpun boleh menyentuh barang-barang yang ada disana.

 

Memangnya hal apa yang membuatnya kekeuh melarangku masuk dan melihat-lihat tempat ini? pikir Yoona. Semakin penasaran Yoona mencoba membuka-buka beberapa pintu almari yang ada disana. Ada beberapa laci yang tidak berisi, ada pula yang penuh dengan file-file usang. Yoona beranjak mendekati satu lemari yang lebih mirip lemari hias di pojok ruangan. Lemari itu benar-benar menarik perhatiannya dengan tampilan yang sedikit mencolok.

 

“Apa yang kau lakukan di dalam sini?” Yoona kaget mendengar suara berat seorang pria menegurnya. Yoona menoleh dan kaget dengan kemunculan Andrew yang sudah berdiri tegak tak jauh di belakangnya. “Bukankah kau sudah kularang untuk masuk ke tempat ini?”

 

Yoona meringis melihat ekspresi horor yang ada pada wajah Andrew. Pria itu tampaknya kesal dengan perbuatan Yoona yang telah melanggar peraturannya. “A-aku hanya…” Yoona menelan liurnya sejenak sebelum melanjutkan kata-katanya. “Aku merasa bosan jadi aku jalan-jalan. Dan ruangan ini satu-satunya tempat yang belum pernah aku lihat. Jadi dari pada aku penasaran, aku langsung masuk kesini.”

 

“Itu bukan alasan! Kalau aku melarangmu maka kau harus menurutinya, Yoona!” hardik Andrew sedikit membentak yang membuat Yoona terkejut. “Sekarang kembalilah ke kamar dan jangan pernah lagi berpikir untuk masuk kesini.”

 

Yoona memandang Andrew kesal. Mungkin suaminya itu memang marah, tetapi bukan berarti ia bisa berteriak dan membentak seenaknya. “Sudah kukatakan kalau aku bosan berada di kamar terus-terusan. Terserah Ahjussi mau marah atau apa, aku mau pergi keluar!” Yoona balas berteriak. Tiba-tiba saja emosinya naik dan membuatnya kesal setengah mati. Yoona berjalan cepat meninggalkan ruangan itu dan tak menghiraukan panggilan suaminya.

 

♣♣♣♣♣

“Dasar suami tidak punya perasaan! Seenaknya saja marah-marah hanya karena wilayahnya kusentuh. Memangnya sebagus apa ruang kerjanya itu, biasa saja! Aku juga tidak butuh dengan ruangan itu!” Yoona bersungut-sungut dengan gumaman di sela-sela kegiatannya memakan es krim dari mangkuk kaca di atas meja.

 

Yoona memang berhasil kabur dari rumah setelah cekcok dengan Andrew di ruang kerjanya. Yoona bahkan tidak sempat mengganti pakaiannya yang hanya mengenakan dress berbahan linen tipis dipadu dengan sandal jepitnya. Yoona hanya sempat menarik tas dan dompetnya, lalu pergi begitu saja dari rumah saat Andrew masih berdiam di dalam ruang ‘pribadi’nya itu. Yoona tidak peduli orang-orang akan memandangnya seperti apa. Kekesalannya pada Andrew membuatnya berhasil mengabaikan egonya yang biasa selalu memperhatikan penampilan.

 

Yoona tidak peduli lagi dengan kepalanya yang masih terasa berdenyut. Keputusannya untuk berdiam di sebuah ice cream shop sepertinya cukup tepat. Begitu Yoona menyuapkan sesendok es krim stroberi favoritnya, seketika sakit kepala itu hilang. Yoona seperti mendapat ramuan ajaib yang terkandung dalam es krim itu. “Hmm.. mungkin aku sedang ngidam,” gumam Yoona selanjutnya.

 

Sedikit demi sedikit emosi Yoona menghilang. Walaupun ia hanya sendirian di sudut café itu, tetapi itu adalah keuntungannya karena ia pada akhirnya bisa meredam emosi untuk tidak meledak-ledak di tengah keramaian. Sampai seorang pria muda datang menghampiri dan duduk di hadapannya, bahkan tanpa dipersilahkan terlebih dahulu oleh Yoona.

 

Hyungsoo…” sapa pria itu. Yoona mengerutkan dahinya, sepertinya ia mengenali wajah itu sehingga mencoba mengingat-ingat sesuatu. “kau sendirian saja disini?” lanjut pria itu.

“Ya, aku sendirian. Tetapi kenapa kau memanggilku dengan sebutan hyungsoo –kakak ipar?” tanya Yoona kemudian. Pria itu tersenyum lebar, sehingga wajah manisnya sukses terekspos di hadapan Yoona.

 

“Kau lupa padaku? Aku Choi Minho, adik ipar mm… maksudku, aku adiknya Choi Siwon.” Ingin sekali rasanya Minho menggigit lidahnya sendiri karena hampir saja salah mengatakan sesuatu. Yoona hanya ber-o ria setelah mampu mengingat siapakah sosok di depannya itu. “Kau tidak keberatan bila kupanggil hyungsoo kan? Kurasa jika aku memanggilmu gomo itu sangat aneh, apalagi kau masih sangat muda. Atau kau mau kupanggil noona?”

 

Yoona menggeleng lalu tersenyum, “terserah kau saja mau memanggilku dengan sebutan apapun, asal jangan memanggilku eomma atau halmeoni.”

Minho terkekeh mendengar candaan Yoona. Kaka iparnya itu sebenarnya terasa hangat dalam bersikap, bukan seorang wanita yang angkuh dan sombong seperti penggambaran Siwon kepadanya di awal pertemuan mereka. “Kebetulan sekali kita bertemu disini. Aku mau minta maaf karena setelah beberapa bulan kau menikah dengan hyung ani.. maksudku setelah kau menikah dengan samchon aku belum pernah sekalipun mengunjungimu. Maklum saja, aku sangat sibuk dengan urusan kampus.” Kilah Minho hampir membuat kesalahan lagi.

Semoga saja hyungsoo tidak menyadarinya. Kalau tidak, matilah aku! Dasar Minho ceroboh sekali!! Minho merutuki dirinya sendiri dalam hati.

 

“Ah tidak apa-apa. Aku juga sibuk dengan tugas akhir dan pekerjaanku.” Sejenak Yoona terdiam. Ia baru menyadari bahwa selama ia menikah dengan Andrew, tak sekalipun Andrew membawanya bertemu dengan anggota keluarganya yang lain. Pernikahan mereka seperti hanya berorientasi di rumah prbadi milik Andrew yang hanya melibatkan keduanya saja, sama sekali tidak ada jalinan hubungan dengan keluarganya. “Jadi kau juga datang kesini sendirian?”

“Oh itu, sebenarnya aku sedang menunggu pacarku. Tapi ketika aku melihatmu sendirian, aku langsung menghampiri. Anggap saja aku sedang menemanimu hingga pacarku datang.” Minho memberikan cengiran manisnya pada Yoona. “Lalu mengapa hyungsoo datang sendiri kesini? Dimana samchon?”

 

“Entahlah, aku tidak tahu dia ada dimana.” Jawab Yoona cuek sambil mengedikkan bahunya.

“Apa kalian sedang bertengkar? Aigoo… pamanku itu keterlaluan sekali. Istrinya sedang hamil malah diajak bertengkar.” Yoona membulatkan matanya sesaat setelah Minho menyelesaikan kalimatnya.

“kau tahu soal kehamilanku, Minho-ssi?” tanya Yoona. Minho merasakan lehernya tercekat, dia harus cepat memikirkan jawaban yang tepat agar Yoona tidak mencurigai sesuatu.

“Ah… berita itu sudah menyebar di kalangan keluarga besar, jadi aku juga mendengarnya. Bagaimanapun aku ucapkan selamat padamu, hyungsoo.”

“Begitukah? Terima kasih, Minho.” Satu lagi yang baru Yoona sadari, bahwa selama ini keluarga besar Choi tahu tentang keadaannya sedangkan dirinya sendiri sama sekali tidak mengenal keluarga suaminya itu. Apa sebenarnya maksud dari Andrew yang tidak mau mengenalkannya pada keluarga Choi? Mungkinkah Andrew tahu sesuatu tentangnya dan Siwon sehingga suaminya itu ingin menghindarkan pertemuan antara dirinya dan keponakannya itu? Tidak mungkin. Siwon sendiri yang memastikan bahwa tidak ada seorangpun keluarga Choi yang tahu mengenai ‘perselingkuhan’ mereka.

 

Yoona kembali ke rumah setelah lewat petang disambut dengan tatapan dingin dan marah dari Andrew. Tampaknya pria itu terlalu khawatir hingga ia lebih memilih bungkam dan menyembunyikan gejolak emosi di dadanya dengan hanya menanyai Yoona melalui pertanyaan singkat dan remeh. “Kau dari mana saja?” atau “kalau kau ingin pergi ke suatu tempat kau bisa mengatakannya padaku.”

 

Dengan angkuhnya Yoona hanya melewati Andrew tanpa menjawab pertanyaan yang diajukan oleh suaminya itu. Ketika makan malampun Yoona masih tetap dalam mode calm’ nya, tetapi Andrew tahu dengan jelas bila sang isteri sedang dalam mood yang tidak baik setelah ketegangan yang mereka lalui siang tadi. Andrew hanya bisa menghela napas sekaligus menahan diri untuk bertanya lebih jauh kepada Yoona mengenai apa yang dilakukannya, dan pergi kemanakah ia setelah beberapa jam kabur dari rumah tanpa kabar maupun membawa ponsel yang membuat Andrew benar-benar hampir gila.

 

Menjelang tidurpun mereka tetap sama, masih ragu untuk mengajak berbicara pasangannya. Yoona berbaring memunggungi Andrew dengan selimut yang ditarik hampir menutupi kepala. Andrew merasa sedang diumpankan untuk tidur dengan sesosok mayat hidup yang bisu dan dingin. Jadi ia lebih memilih pasrah menerima perlakuan Yoona padanya. Andrew merasa tidak berhak marah, karena kejadian siang tadi adalah murni kesalahannya yang sudah terbawa emosi hingga membentak Yoona tanpa alasan jelas.

 

“Ahjussi, boleh aku bertanya sesuatu?” Andrew menoleh pada Yoona yang akhirnya mengeluarkan suaranya, tetapi Yoona masih bertahan dengan posisi memunggungi Andrew.

“Kau ingin bertanya apa?”

“Mengapa kau tidak pernah membawaku bertemu dengan keluarga besarmu?”

Andrew cukup kaget dengan pertanyaan Yoona. Ini pertama kalinya Yoona menyinggung soal keluarga Choi yang memang selama ini sengaja masih dijauhkan oleh Andrew darinya. “Itu.. karena keluargaku adalah orang-orang yang penuh kesibukkan, jadi sulit untuk menemui mereka hanya untuk berkumpul-kumpul.” Lagi, Andrew kembali berbohong kepada Yoona.

“Bukannya karena kau merasa aku belum pantas dipertemukan dengan keluargamu karena aku belum menjadi wanita terhormat seperti yang kau maksud?” sindiran Yoona membuat Andrew tertohok.

“Tidak, bukan seperti itu maksudku. Yoona-yah, bukankah sudah kukatakan kau tidak perlu lagi melanjutkan pembuktian itu—“

“Ya sudah, Ahjussi tidak perlu tersinggung. Aku hanya bertanya, tidak ada maksud lainnya.” Potong Yoona dan langsung membuat Andrew terdiam. “Kalau begitu selamat tidur.” Yoona menarik selimutya benar-benar hingga menutupi kepala. Yoona menyadari bahwa tingkahnya itu sungguh kekanakan. Tetapi mau bagaimana lagi, Yoona masih sangat kesal pada suaminya itu. Apalagi dengan jawaban yang diberikan Andrew sama sekali tak memuaskan bagi Yoona.

 

♣♣♣♣♣

Pagi harinya Yoona sarapan sendirian. Hanya ada beberapa pelayan yang menungguinya menghabiskan sarapan dengan berdiri setia dan tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Sementara Andrew pagi-pagi sekali sudah pergi ke kantornya dengan alasan bertemu klien penting yang datang dari Eropa.

 

“Dasar workaholic, yang ada dipikirannya hanya kerja dan kerja.” Gerutu Yoona memandangi sisa rotinya yang hanya berkurang sedikit dari kondisi utuh. Yoona sama sekali tidak berselera dengan sajian makanan yang ada dihadapannya. Setiap menu yang terpampang hanya membuatnya mual dan ingin muntah segera. Sepertinya Yoona mulai terserang morning sickness yang membuatnya benar-benar merasa tidak nyaman. Untuk beberapa waktu, Yoona memutuskan berhenti dari kerja part time nya di coffee shop bersama Suzy. Dan mengusahakan waktu dan kondisi tubuhnya untuk mengerjakan tugas akhir dengan cepat.

 

Yoona kembali teringat dengan pertemuannya dengan Minho kemarin siang. Adik Choi Siwon itu sedikit banyak membuka pikirannya tentang sikap Andrew selama ini kepadanya. Mulai dari keengganan Andrew membawanya bertemu keluarganya hingga sikap Andrew yang sering berubah-ubah. Terkadang pria itu dingin dan arogan, terkadang terlihat begitu tersiksa dan seperti memiliki tekana batin yang membuatnya hampir gila. Hanya saja pria itu berusaha sebaik mungkin untuk menyembunyikannya dari hadapan Yoona.

 

Andrew juga tidak pernah sekalipun membahas nama Siwon dalam pembicaraan mereka. Tidak dipungkiri bahwa hal itu membuat Yoona merasa sedikit tenang. Tetapi bila suatu saat Andrew dan Siwon berhadapan dan ada Yoona di tengah-tengah mereka, maka lantas bagaimana seharusnya Yoona bersikap? Yoona tidak bisa membohongi dirinya bahwa ia masih mencintai Siwon walaupun ia berusaha berhenti berharap pada pria itu. Lalu bila Andrew tahu bagaimana hubungan yang terjalin antara dirinya dan Siwon, maka hal itu akan menjadi sebuah bom waktu yang akan meledak dan menghancurkan banyak hal.

 

Tidak boleh. Hal itu benar-benar tidak boleh terjadi. Yoona harus memikirkan cara yang tepat untuk tetap menutup rapat kenyataan yang ada antara dirinya dan Siwon dari Andrew. Bahkan usaha itu harusnya dimulai dari sekarang sebelum semuanya terlambat.

 

Menjelang jam makan siang, Yoona mendatangi kantor pusat Hyundai Group. Ia ingin menemui suaminya, bermaksud memainkan peran sebagai istri sekaligus Nyonya Andrew Choi untuk pertama kalinya di depan publik. Ya, itu adalah pertama kalinya Yoona menginjakkan kakinya di kantor Hyundai Group pasca pernikahannya dengan Andrew.

Bodoh sekali! Itulah yang dimaki oleh Yoona untuk dirinya sendiri. Lima bulan menyandang status Nyonya Andrew Choi, tak sekalipun ia berani memunculkan dirinya di tempat itu. Andrew tak pernah secara spesifik melarang dirinya datang ke kantor, tetapi dirinya sendiri yang berusaha untuk tidak pergi kesana. Membayangkan dirinya bertemu Siwon yang berada di gedung yang sama dengan semuanya membuat nyalinya ciut. Yoona takut akan terbawa suasana hingga sulit bersikap wajar di hadapan orang-orang disana.

 

Saat ini Yoona tidak peduli. Yoona berusaha mengabaikan kengeriannya bertatapan mata lagi dengan Siwon setelah beberapa hari tidak bertemu. Terakhir kali adalah ketika mereka bertengkar hebat hingga Yoona pingsan tak sadarkan diri. Kali ini Yoona tidak akan peduli dengan Siwon. Seharusnya mereka benar-benar telah berakhir setelah Siwon tahu mengenai kehamilan Yoona. Jadi, Yoona datang kesana sebagai Nyonya Choi, isteri dari Andrew Choi.

 

“Aku ingin bertemu dengan Andrew Choi,” ucap Yoona kepada receptionist di bagian lobby kantor. Yoona merasa sangat aneh, ingin bertemu suami sendiri tetapi harus melalui prosedur formal karena ia memang sama sekali tidak tahu seluk beluk kantor ini, apalagi ruang kerja Andrew.

“Andrew Choi? Maksud anda Choi Siwon?” tanya receptionist itu memastikan pada Yoona.

“Choi Siwon? Aku ingin bertemu dengan Andrew Choi, bukannya Choi Siwon.”  Yoona mengerutkan dahinya merasa bingung dengan pertanyaan wanita muda di depannya itu.

“ya, maksud saya Choi Sajangnim, Choi Siwon. Andrew Choi dan Choi Siwon itu sama saja, Nona.”

“Apa?! Apa maksudmu mereka orang yang sama?” tanya Yoona dengan keterkejutan yang membuat tubuhnya kaku. Apa maksudnya semua ini? Aku tidak mengerti… tanya Yoona dalam hati.

 

 

To Be Continued…

 

Hello… Nited, ternyata cerita ini belum berakhir di chapter 9, tetapi akan berakhir pada next chapter. So, bagaimana cerita di chapter ini? Apakah membosankan dan monton?? Semoga tidak begitu yaaa… Don’t forget for comment and like…

NB: thanks for YWK’s admin Resty and Echa… (you’re welcome🙂 )

 

Tinggalkan komentar

180 Komentar

  1. Siti shofiyatun zakiyah

     /  Juli 13, 2013

    Bagus banget. Sampe tegang sendiri dan ketawa sendiri😀 next yaaaa🙂

    Balas
  2. Jung Ha Ra

     /  Juli 13, 2013

    Akhirnya keluar juga kelanjutannya,,,
    Aku baru bisa ngasih komentar di part ini, soalnya komentar sebelumnya yg aku buat gak ke-post” melulu TT,TT

    Pembongkaran masalah mulai nih!!
    Kalau Yoona udah tau Andrew itu ternyata Siwon, gimana tanggapannya nanti?? -,-

    Fanfiction punya author feelnya bener-bener kerasa kayak jadi Yoona thor!!

    SATU KATA BUAT AUTHOR,,, “DAEBAKK” ^^

    Balas
  3. anisahbellai

     /  Juli 14, 2013

    aaaa suka banget sama endingnya chapter ini.. walau bikin penasaran juga tpi seenggaknya udah mulai ngejawab pertanyaan “gimana yoona tahu kalau andrew=siwon”

    Balas
  4. lia yoonwonited

     /  Juli 15, 2013

    akhirnnya nunggu lama-lama dipublishh juga

    sempet kesel baacannya geregetan sama siwon oppa yang gag mau ngaku sama yoona eonnie
    ap lgi yoona eonnie sdah hamil anaknnya
    ksian juga sma yoona eonnie
    sbnrnnya disini yang jahat imo nnya jessica eonnie sma yoona eonnie a.k.a kim taeyeon

    nextt ne

    Balas
  5. wow.. nah lho ahjussi choi hampir ketahuan tuh kkkk tapi syukur deh yoona eonni hamil jadi kalo pun mereka marahan(?) ada alasan buat baikan/? ahaha sok tau saya. lanjut aja lah…😀

    Balas
  6. relly

     /  Juli 17, 2013

    Penasaram thor… Kira2 gmn ekspresi Siwon krn Yoona dah tau bhw siwon n andrew itu ternyt satu org saja… Lanjut thot ditunggu… Hehehe

    Balas
  7. Kelanjutannyaaa bener-bener ditunggu….. ;A; daebak thor!! Dalam sehari aku baca 9 chapter, ga ada nego-nego buat baca besok. Bener2 exiting😄

    Balas
  8. Waaaah Daebak,yona pasti sangat syok pas tau tenyata choi siwon dan andrew choi adalah orang yg sama.trus gimana reaksi siwon pas dia uda ketahuan sama yoona y,makin penasaran thor,lanjut dan tetap semangat.

    Balas
  9. ayo mana part 10???

    Balas
  10. G93

     /  Juli 23, 2013

    feel nya dapat keren banget ni ff
    yoona unnie mulai tau siapa andrew dan siwon choi
    smoga klo yoona marah gak berlebihan
    marahnya …
    autornya JJANG^^
    whaithing.

    Balas
  11. pd kemana..nih, author!
    mungkin krn lg bulan ramadhan makany g satupun cerita yg muncul buat d update…
    pdhal dah g sabar pengen baca cerita-cerita seru ttg YoonWon…
    pdhal dah hampir 2 minggu bulan ramadhan berlalu tp g ada updatean terbaru ttg YoonWon…
    dtunggu..yach secepatny buat author ma admin buat update cerita terbaru YoonWon…

    Balas
  12. pd kemana..nih, author!
    mungkin krn lg bulan ramadhan makany g satupun cerita yg muncul buat d update…
    pdhal dah g sabar pengen baca cerita-cerita seru ttg YoonWon…
    pdhal dah hampir 2 minggu bulan ramadhan berlalu tp g ada updatean terbaru ttg YoonWon…
    dtunggu..yach secepatny buat author ma admin buat update cerita terbaru YoonWon…
    dtunggu…buangetttttt nih, buat ngbuburit baca cerita ttg YoonWon…

    Balas
    • admin YWK nya lagi pada sibuk… jadinya belum bisa posting ff… sabar yaaa… kalau mau baca endingnya sementara di WP aku aja… *cukup klik ID komenku* #peace

      Balas
  13. VynnaELF

     /  Juli 25, 2013

    Lagi enak2 baca,eh tbc..
    Ditunggu next part nya..

    Balas
  14. kana

     /  Juli 28, 2013

    Seru,akhirx yoong tau klw andrew N siwon adlh org yg sma.
    Ditunggu next partx..

    Balas
  15. Bagaimana ini? Akankah terjadi PD3?? PENASARAN

    Balas
  16. zubaidah

     /  September 16, 2013

    Seru nih..
    merinding baca’y
    ff’y daebak eonn
    dilanjut ya eonn..

    Balas
  17. mutiarananda

     /  November 28, 2013

    Ff ini ngangeninnnn:’)

    Balas
  18. Kim Eun Kyo

     /  Februari 17, 2014

    Oww..,, owww A̶̲̥̅̊ρ̩̩̩̩̥a̶̲̥̅̊ .ЎάϞƍ akan terjadi

    Balas
  19. tia risjat

     /  Maret 2, 2014

    yoona hamil! Horeeee… oow.. wonppa ketauan.. terus gimana nich selanjutnya?

    Balas
  20. Detik2 kebohongan akan terbongkar. Moga2 yoona eooni mau mengerti

    Balas
  21. choi eun woo

     /  Juli 15, 2014

    kyaaaaaaa.. bgaaimana inii eonn, waduuh waduuh teganggg

    Balas
  22. im yoo ra

     /  Juli 18, 2014

    wah wah wah. sepertinya akan terjadi perang dunia ke-3, setelah yoona mengetahui kalau andrew itu adalah siwon.!!

    Balas
  23. Perang duniapun akan terjadi :v #pletak

    Balas
  24. mutiaraananda

     /  Agustus 10, 2014

    Gak bosen sama ff iniii keren

    Balas
  25. Wonppa jadi Galau tingkat tinggi
    betapa lelahnya dia menjalankan
    semua penyamarannya
    kasihan bgt ya wonppa
    sepertinya penyamaran wonppa
    bakal ketahuan ni
    Yoona malah datang kekantor
    Hyundai, kira2 apa yg terjadi y
    bakal seru dan Galau lg ni

    Balas
  26. wow.. akhir’y yoona tau bahwa andrew choi dn choi siwon itu org yg sm.. akn bagaimana ya reaksi yoona..
    harus lanjut nee

    Balas
  27. wiwin

     /  Desember 19, 2014

    O,o apa yg akan terjadi,gi mna reaksinya yoona stelah tau smuanya.

    Balas
  28. Hulda Maknae

     /  Februari 26, 2015

    Aigoo kayaknya sebentar lagi bakalan terbongkar….kira2 apa yg akn terjadi????next

    Balas
  29. Nhiina

     /  Maret 23, 2015

    ku pikir di chap ini sdah bkal ketahuan , ternya teh di chap sesudahnya . .
    smakin tegang sja , mdahan gak knpa2

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: