[FF] Cinderella After Midnight (Chapter 8)

CAM 6Author : misskangen ‖ Length : Sequel ‖ Genre : Romance ‖ Rating : Mature ‖ Main cast : Im Yoona, Choi Siwon / Andrew Choi ‖ Support cast : Jessica Jung, Bae Suzy, Choi Minho ‖ Disclaimer : This story is mine instead of the plot and characteristics, but the casts are belong to themselves and god. Please don’t do plagiarism or bash anything from the story and sorry for undetected typo(s).

 

CINDERELLA AFTER MIDNIGHT : CHAPTER 8

 

 

Choi Siwon memandang lurus ke depan, tepatnya kepada cermin yang memantulkan sebagian besar tubuhnya. Pandangannya tertancap pada matanya sendiri, mencoba mencari sesuatu dari sana. Sesuatu yang mungkin memberikan jawaban kepadanya tentang perasaannya saat ini. Hal yang telah terjadi pada malam sebelumnya memberikannya begitu banyak tuntutan dan pertanyaan yang harus ditemukan jawabannya. Bukan oleh siapapun, tetapi hanya dirinya sendiri yang dapat memberikan jawaban itu.

 

Rasanya sulit sekali menggambarkan perasaannya saat ini. Malam tadi, Siwon telah melakukan sesuatu yang tak pernah ia lakukan sebelumnya. Yah… Choi Siwon sudah meniduri seorang wanita, menikmati setiap sentuhan dan membiarkan gairah menuntun pikirannya. Walaupun dalam keadaan setengah mabuk, Siwon masih mampu menyadari apa yang diinginkannya pada pasangannya dan sejauh apa keinginannya tersebut ditumpahkan dalam sebuah emosi yang membawanya pada kenyataan bahwa kini ia telah memiliki wanita itu sepenuhnya.

 

Wanita – ya, kata itu sudah selayaknya disandang oleh Im Yoona. Kini status seorang gadis tak lagi sesuai dengannya. Yoona adalah istri Siwon, walau yang diketahui wanita itu bahwa suaminya adalah Siwon dalam wujud dan nama yang berbeda. Tetapi bagaimanapun, kenyataannya Yoona tetaplah istri sah Siwon dan pria itu berhak melakukan apa saja hal yang berada dalam trek suatu pernikahan.

 

Sudah cukup bagi Siwon menahan beragam gejolak di dadanya. Ingin sekali rasanya ia berada di hadapan Yoona, menyentuhnya dan memperlakukannya layaknya seorang suami kepada isterinya. Bukan memperlakuakn Yoona sebagai kekasih yang harus sangat dirahasiakan keberadaannya. Tetapi semuanya sulit, tidak semudah itu baginya mengakhiri kebohongan yang telah disepakatinya bersama orang-orang yang lebih dulu memaksanya berbuat seperti itu. Harus ada persiapan yang matang, terutama kesiapan mental untuk menerima konsekuensi dari keputusan menerima kesepakatan itu.

 

Aku melakukannya demi Yoona. Kalimat itu yang selalu saja diteriakkan oleh hati palsunya untuk mensugesti pikirannya sendiri ketika akal sehat mulai menuntut dirinya untuk menghentikan semua permainan yang pada akhirnya nanti ia tahu dengan jelas akan menyakiti dirinya sendiri.

 

“Apa kau sudah puas dengan semuanya, Choi Siwon-ssi?” tanya Siwon pada dirinya sendiri. Tatapannya semakin tajam, seolah ia berusaha untuk memecahkan cermin itu melalui sorot matanya. Siwon beruntung karena hanya setengah mabuk ia jadi bisa bangun lebih dulu daripada Yoona. Terkejut? Itu pasti. Siwon membuka matanya dan langsung merasakan kehangatan selimut dan seprai ranjang yang bersentuhan langsung dengan kulit tubuhnya. Matanya nanar memandangi pakaian yang berserakan di lantai, dan hatinya mencelos mendapati Yoona berada di sisinya. Isterinya itu masih terlelap, meringkuk di bawah selimut tebal yang juga menutupi tubuhnya yang tak berbalut sehelai benang. Secepat kilat ia mengecup kening sang isteri, takut akan membuatnya terjaga hingga mendapati keadaan yang tak seharusnya dilihat oleh Yoona lebih cepat.

 

Siwon merenung sejenak. Malam tadi adalah malam yang indah baginya, ketika ia mampu meyalurkan hasrat dan gairahnya kepada seseorang yang tepat dan memang sangat diinginkannya. Namun ia memikirkan bagaimana reaksi Yoona nanti, jika wanita itu tahu dan menyadari perbuatannya semalam. Siwon hanya bisa menebak-nebak. Seperti biasa, Siwon berpikir bahwa Yoona adalah wanita yang penuh dengan kejutan. Dengan berat hati Siwon harus kembali memakai semua aksesoris penyamarannya yang sebenarnya sudah mulai bosan untuk dikenakan. Siwon harus kembali menjadi Andrew – suami Yoona – agar ia mampu mengendalikan situasi mendadak yang akan muncul di hadapannya.

 

Andrew mendengar suara sesenggukan dari luar kamar mandi. Andrew khawatir jika suara itu berasal dari kamarnya yang masih dihuni oleh Yoona sendirian. Bergegas Andrew keluar dan langsung menemui Yoona. Wanita itu tampak duduk sambil bergelung dengan selimut tebal yang menutupi seluruh tubuh hingga sebatas lehernya. Ternyata suara sesenggukan yang didengar Andrew adalah sedu sedan tangisan Yoona dari atas ranjang.

 

“Kenapa kau menangis, Yoona-yah?” tanya Andrew memasang sikap setenang mungkin. Yoona menoleh kepada Andrew dan menatapnya dengan tatapan galak. Perasaannya bercampur aduk melihat sang suami tampak begitu tenang setelah kejadian semalam.

 

“Kau masih bertanya, Ahjussi? Memangnya kau pikir aku menangis karena apa? Tentu saja karena perbuatanmu yang sudah seenaknya meniduriku!” teriak Yoona kesal.

“Perbuatanku? Lebih tepatnya perbuatan kita berdua.” Andrew menaikkan satu alisnya cukup sinis. “Kau tidak bisa menyalahkanku begitu saja, karena kau lah yang memulai semuanya. Kalau saja kau tidak pulang dalam keadaan mabuk, mungkin sekarang kau akan terbangun di atas sofa kesayanganmu itu bukannya di atas ranjangku.”

 

Yoona menyeringai kesal. Jawaban Andrew semakin membuatnya ingin memukul pria itu dengan sesuatu yang keras hingga kepalanya akan dapat berfungsi dengan baik. “Ya, aku mengerti kalau aku mabuk. Tapi bukan berarti kau bisa seenaknya memanfaatkan keadaan kan!”

 

Andrew memutar bola matanya sambil menahan pekikan yang siap keluar dari tenggorokannya. Wanita itu sudah kembali ke sifat sarkatisnya dan membuat Andrew harus berhati-hati memberikan pernyataan agar tak menyulut emosi yang lebih banyak darinya. “Saat itu aku juga setengah mabuk!” Andrew melirik pada botol dan gelas Champagne yang masih berdiri manis di atas nakas sebelah ranjang. Yoona yang mengikuti lirikan Andrew hanya bisa menahan napasnya. “Memangnya apa masalahmu jika kita melakukan hal itu? Aku rasa semua pasangan suami istri melakukannya dengan senang hati.”

 

“Tapi aku tidak mau melakukannya sekarang karena aku belum siap.” Yoona menahan tangisnya lagi agar tidak pecah dan memeriahkan suasana di kamar itu. “Bagaimana kalau aku sampai hamil? Ya ampun… aku tidak pernah membayangkannya.” Yoona menggeleng-geleng gelisah.

 

“Ck, apa yang kau takutkan dari kehamilan sih? Wajar jika wanita yang sudah menikah hamil dan punya anak. Memangnya kau tak ingin mengandung dan melahirkan anak suamimu sendiri, eoh?” Andrew mengatakannya dengan cukup sinis – sama sinisnya dengan nada bicara Siwon pada Yoona saat mereka makan malam.

 

“ish… tentu saja! Tapi tidak sekarang… Sudah aku katakan sebelumnya kalau aku masih kuliah dan belum mau repot menjadi ibu rumah tangga!” omel Yoona.

“Itu hanya alasanmu saja. Ya sudah berhentilah khawatir kalau kau akan hamil. Kita juga baru melakukannya sekali. Selanjutnya kita bisa sepakati bagaimana dan kapan untuk melakukannya.” Sebuah seringaian muncul di wajah Andrew.

“Selanjutnya? Yak, Ahjussi! Kau pikir aku mau melakukannya lagi? Tidak akan.” Ucap Yoona sinis dan penuh keengganan.

“Terserah kau mau berkata apa. Tetapi kau lihat saja, aku akan membuktikan kalau kau tidak akan bisa menghindariku.” Satu teriakan panjang terdengar dari mulut Yoona bersamaan dengan sebuah bantal melayang tepat ke wajah Andrew.

 

“Pokoknya hari ini juga aku mau pulang!!” teriak Yoona dengan suara yang kencang. Andrew menutupi telinganya dari gelegar suara Yoona.

“Dasar manja!!” balas Andrew.

 

∞∞∞∞∞

“Ini rumah kita.” Andrew memberitahu Yoona yang merasa bingung karena dibawa ke tempat asing oleh Andrew. Yoona yang kekeuh meminta pulang lebih cepat dari acara bulan madunya berpikir bahwa berada di Korea akan jauh lebih baik dari pada di Paris dan hanya berdua dengan Choi Ahjussi. Andrew tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menuruti kemauan isterinya untuk pulang, karena ia paham betul bahwa isterinya itu sedang dirundung kekesalan tingkat akut. Bahkan selama perjalanan di pesawat hingga sampai ke rumah pun, Yoona tetap memasang wajah cemberut dan tidak mau berbicara pada Andrew.

 

Yoona memandang pasrah pada sebuah bangunan rumah bergaya minimalis tapi tetap tidak meninggalkan kesan mewah pada setiap detail dan sudutnya. Rumah itu adalah rumah pribadi milik Andrew – atau Choi Siwon – yang memang sudah disiapkan sebelumnya oleh pria itu untuk ditempatinya kelak jika ia menikah bersama isteri dan anak-anaknya. Walaupun rumah utama milik keluarga Choi sangat besar dan cukup untuk ditempati beberapa keluarga sekaliguspun tidak membuat Andrew berminat memboyong isterinya kesana. Andrew tidak ingin kehidupan rumah tangganya diganggu oleh keluarga besarnya, terutama ibunya yang selama ini sudah merecokinya soal cucu dan pewaris keluarga mereka. Apalagi dengan situasi Andrew harus mengamankan Yoona dari lingkungan yang akan membongkar penyamarannya dengan mudah.

 

Yoona berjalan mengikuti Andrew sambil memandangi seisi ruangan demi ruangan yang dilewatinya. Rumah itu sudah didisain apik, ornamen modern-klasik dikolaborasikan dengan baik sehingga tercipta pemandangan yang membuat mata terpukau. Yoona menghentikan langkahnya di depan sebuah pintu yang baru saja dibuka oleh Andrew. Yoona masuk ke dalam ruangan tersebut dan melihat ke sekelilingnya. Ruangan yang indah, sebuah kamar tidur yang sangat besar. Memiliki sebuah ranjang king size yang sangat mewah, meja rias yang indah, dan dua buah sofa single dari kain beludru yang pasti sangat empuk. Kamar ini jauh lebih baik daripada kamarku di rumah, batin Yoona.

 

“Ini adalah kamar kita.” Tukas Andrew singkat. Yoona mengerutkan dahinya, mencoba memahami situasi saat itu.

“Kita? Maksud Ahjussi di kamar ini kita berdua? Dan… satu ranjang?” Yoona menatap ngeri suaminya, berharap bahwa Andrew sedang bercanda dengan kata-katanya.

“Tentu saja.” Andrew tersenyum separuh, mengerti dengan isi hati isterinya itu. “Kenapa? Kuharap kau tidak berpikir untuk meminta kamar yang terpisah. Aku tidak ingin nantinya orang berpikiran miring tentang rumah tangga kita.”

“Tapi…”

“Tapi apa? Kau masih takut tidur satu ranjang denganku? Aigoo… ingatlah sekarang kau bukan perawan lagi Nyonya Choi.” Godaan Andrew dibalas dengusan jijik oleh Yoona, menutupi wajahnya yang memerah malu. Tidak ada pilihan lain kecuali mengikuti semua keinginan Andrew. Ini adalah rumahnya dan tentunya Andrew memiliki kuasa penuh disini.

 

∞∞∞∞∞∞

Saat sarapan Yoona dan Andrew duduk berhadapan dan masih tidak ada banyak pembicaraan di antara mereka. Keduanya masih suka diam dan larut dalam pikiran masing-masing. Yoona berpikir akan seperti apa nantinya kelanjutan rumah tangganya. Bulan madu sudah selesai dan ditutup dengan kejadian yang membuatnya tidak nyaman karena kini statusnya sudah sepenuhnya isteri sah yang dimiliki oleh pria dengan tampilan paruh baya yang duduk di depannya. Yoona berpikir alasan apa yang akan diberikannya jika suatu hari ada teman-temannya yang menanyakan atau parahnya mencemooh karena ia memiliki suami yang usianya sangat jauh darinya.

 

Haruskah ia berkata karena cinta? Yang benar saja! Yoona memutar bola matanya sambil mendesah kecil. Nasibnya sungguh buruk harus menjalani sisa hidupnya dan menghabiskannya dengan seorang pria tua. Mungkin berharap Andrew lebih cepat sehingga ia akan terlepas dari siksaan batin bukanlah ide buruk. Tapi tidak, Yoona tidak mau menyandang status janda di usianya yang masih sangat muda. Yoona menggeleng-gelengkan kepalanya, berusaha membuang pikiran-pikiran tolol dari kepalanya.

 

“Kau kenapa?” tanya Andrew yang merasa aneh dengan tingkah yang diperlihatkan isterinya. Piring yang mereka gunakan untuk sarapan baru saja diangkut oleh pelayan dari atas meja. Andrew kini mulai sibuk dengan I-Pad nya, sementara Yoona hanya melemparkan tatapan malas pada suaminya itu.

 

“Aku tidak apa-apa.” Jawab Yoona singkat. Andrew tersenyum miring sekilas dan memperlihatkan wajah sinisnya. Yoona sangat membenci pemandangan itu.

“Ada sesuatu yang ingin kuberitahukan padamu. Ini tentang peraturan yang akan kita jalani selanjutnya.” Ujar Andrew tenang. Ia baru saja menutup case I-Padnya, berganti dengan memandang serius pada Yoona.

 

“Peraturan?” ulang Yoona kaget. Kini ia membenarkan posisi duduknya menjadi tegak. Yoona seakan merasa tulang belakangnya kaku dan membuatnya seperti mematung dengan posisi itu.

“Kalau kau tidak suka kata peraturan, kau boleh menyebutnya kebijakan-kebijakan yang harus kau ikuti sebagai isteri.” Yoona menyeringai dengan pembelaan tak penting dari Andrew. Yoona merasa akan datang hal-hal baru yang tak terduga dari pria itu yang akan membuatnya tertekan dan semakin menderita. “Kau tidak perlu memasang wajah ketakuan seperti itu. Ini bukanlah sesuatu yang menakutkan. Bahkan kebijakan yang kuberikan padamu akan membuatmu menjadi wanita yang lebih baik.”

 

“wanita yang lebih baik? Jadi selama ini Ahjussi menganggapku wanita yang tidak baik, begitu?” tanya Yoona sinis.

“Bukan tidak baik. Hanya saja sikap manja dan perilakumu yang seenaknya tanpa berpikir panjang terlebih dahulu yang membuatmu terlihat mengenaskan. Kau benar-benar harus merubah semua itu sehingga orang-orang akan memandangmu sebagai Nyonya besar yang terhormat.”

 

Yoona tergelak, tertawa sinis dan penuh ejekan. Jadi Andrew sangat memahami perilakunya yang dikatakan sebagai wanita manja dan suka berbuat seenaknya. Dan itu membuatnya tampak mengenaskan. Ya sangat mengenaskan! Yoona benci sekali dengan pendapat itu. Ia merasa dirinya memang manja, tetapi jika sudah sampai tahap mengenaskan, itu sungguh keterlaluan. “Aku hanya akan mengatakan bahwa aku tidak merasa seburuk itu, Ahjussi!”

 

“Terserah. Tapi yang jelas aku menetapkan bahwa kau belum bisa diserahi tanggung jawab untuk mengelola keuangan rumah tangga. Jadi aku memberimu jatah 500.000 ribu Won untuk sebulan. Kau boleh menggunakannya untuk memenuhi kebutuhanmu, termasuk biaya transportasi dari dan ke kampus karena aku tak akan memberimu mobil pribadi ataupun supir pribadi.”

 

Yoona menganga lebar mendengar kalimat demi kalimat yang diucapkan Andrew. Yoona tampak seperti baru saja dipukul kepalanya begitu keras hingga otaknya tak sanggup berpikir jernih dengan segala sesuatu yang bisa dilontarkannya untuk menyangkal suaminya. “Lima ratus ribu? Ahjussi, jumlah itu sedikit sekali dan… kau menyuruhku naik transportasi umum? Yang benar saja!”

 

“500.000 Won bukan jumlah yang sedikit untuk ukuran mahasiswa biasa. Jumlah itu sudah sangat cukup untuk menopang hidup seorang mahasiswa selama sebulan penuh. Dan transportasi umum, bukankah belakangan ini kau sudah mulai terbiasa dengan hal itu?”

 

Yoona merasa tubuhnya lemas. Keputusan sepihak yang diambil Andrew benar-benar membuatnya seakan kembali dibanting ke bumi setelah sempat diangkat ke langit. Padahal sebelumnya Yoona berpikir bahwa menikahi Andrew sama saja artinya mengakhiri hidupnya yang menjadi upik abu selama beberapa bulan. Tetapi ternyata Andrew Choi tidak ada bedanya dengan Kim Taeyeon alias Bibi Kim yang ingin membuatnya terus-terusan hidup dalam gelombang kesulitan menjadi orang biasa.

 

“kalau kau merasa jumlah itu sedikit, aku tak keberatan jika kau mau melanjutkan kerja part time yang sempat kau jalani sebelum menikah. Anggap saja kau bekerja sambil belajar bagaimana mengelola keuangan yang baik, mulai dari dirimu sendiri. Jika kau sudah mampu dan aku menilaimu telah layak, maka aku akan membiarkanmu sepenuhnya mengurus rumah tangga kita.”

 

Napas Yoona terdengar berhembus berat, menandakan bahwa wanita itu sedang menahan emosinya dengan susah payah. Apalagi wajahnya memerah, dan ada sedikit air mata yang menggenang di matanya. Tetapi tidak ada tangis yang keluar. “Bagaimana mungkin Ahjussi sanggup memperlakukanku seperti itu. Tidakkah kau berpikir bagaimana pandangan orang nantinya. Aku istri seorang Andrew Choi yang kaya raya dan tinggal di rumah besar, tetapi aku menjalani hidup layaknya seorang pengemis.”

 

“Kau salah jika memandang rendah dirimu seperti itu. Ini tidak bertujuan menjadikanmu seorang pengemis, sayang. Sudah kukatakan bahwa kau harus menganggapnya sebagai ajang belajar atau kau bisa menyebutnya tantangan dariku sebagai pembuktian bahwa kau wanita yang layak diberi penghormatan yang besar. Lagipula aku tidak melarangmu melakukan apapun yang kau suka, kau boleh pergi kesana-kemari sesuka hatimu asal kau ingat pulang. Kau juga bebas melakukan apapun dirumah ini karena ini adalah rumahmu. Hanya, aku melarangmu mencampuri urusan pekerjaanku. Kau tidak boleh memasuki ruang kerjaku yang ada di lantai 2, karena aku tidak suka siapapun menyentuh barang-barang yang menjadi pekerjaanku.”

 

Yoona sudah tidak tahan lagi, ia mengepalkan tangannya menahan amarah sekuat mungkin. Ingin rasanya ia berteriak-teriak hingga membuat telinga Choi Ahjussi itu menjadi tuli, mungkin menghujaninya dengan makian kasar akan terlihat menyenangkan. Tetapi ia tidak melakukannya, hal itu akan membuatnya semakin diremehkan oleh Andrew.

 

Yoona kembali tergelak, tertawa dengan nada sarkatis yang membuat Andrew mengerutkan dahinya. “Kau sungguh meremehkanku, Ahjussi.” Suara Yoona terdengar ketus dan dingin. “Baiklah, jika kau benar-benar menantangku. Akan kubuktikan bahwa Im Yoona bukanlah seorang wanita lemah. Aku akan menunjukkan padamu kalau aku bisa melakukannya dengan baik. Ahjussi lihat saja nanti!”

 

“Aku akan menantikan hari itu tiba, Yoona…”

 

∞∞∞∞∞

“Kau bilang apa? Jadi suamimu memaksa kau melakukan semua itu?” pekik Jessica dengan suara keras. Jelas ia sangat kaget setelah Yoona mengadu semuanya. Hari itu Yoona sengaja pulang ke rumah keluarganya karena merindukan Jessica setelah berhari-hari menjalani bulan madu di Paris. “Keterlaluan! Ini benar-benar keterlaluan!” umpat Jessica emosi.

 

Yoona sedang meringkuk di atas ranjang milik kakaknya. Wajahnya ditekuk dan tampak tidak bersemangat. Yoona merasakan kehangatan berada di rumahnya dan sedikit lega bisa mencurahkan isi hatinya kepada sang kakak. Jessica merasa sedih melihat keadaan adiknya, kondisi ini sungguh memprihatinkan dan membuatnya ingin membunuh orang-orang yang menyebabkan semua ini.

 

“Aku tak menyangka kalau Andrew Choi itu sama saja dengan Bibi Kim. Mereka sama-sama ingin membuatmu menderita. Walau yang mereka katakan semua ini demi kebaikanmu… ah persetan dengan semua itu! Tetap saja mereka membuat adikku tertekan seperti ini!” Jessica menghampiri Yoona dan memeluknya penuh kasih sayang. Ia merasa menjadi orang paling lemah karena tidak bisa melakukan banyak hal untuk satu-satunya saudara yang dimilikinya.

 

“Eonni… sudahlah, jangan marah-marah. Aku rasa semua orang berumur memang seperti itu, terobsesi dengan hal yang mereka sebut sebagai ajang pembelajaran untuk kebaikan. Lihat saja Bibi Kim dan suamiku, mereka kan orang-orang dengan usia yang sudah tidak muda dan sama sekali tidak tahu bagaimana dunia anak muda.” Ujar Yoona polos. Dalam kondisi seperti inipun ia tetap berusaha menenangkannya hati kakaknya yang terlanjur emosi.

 

“Yoona-yah, bagaimana kalau kau tinggal saja disini bersamaku? Kau tidak usah pedulikan suamimu yang tak punya belas kasih itu. Jadi kau tidak usah pusing harus menahan diri setiap kali makan hati berada di dekatnya..” tawaran Jessica sungguh menggiurkan bagi Yoona. Ia bangkit dari posisi tidurnya, dan duduk tegak sambil memandang Jessica dalam.

 

Dengan lemah Yoona menggeleng, ekspresi wajahnya terlihat putus asa. “Tidak bisa, Eonni. Walaupun aku sangat ingin, tapi tidak mungkin aku melakukannya. Aku sudah menikah dan suamiku sudah menyediakan rumah untuk kutinggali bersamanya. Dan aku juga…” Yoona menghentikan kata-katanya, berganti menggigit bibir bawahnya karena ragu untuk melanjutkan kalimatnya.

“Dan kau juga apa?”

Yoona menghela napas berat, “….aku sudah menyerahkan sepenuhnya diriku pada suamiku.” Yoona menundukkan kepalanya, tidak berani menatap Jessica lagi.

 

Jessica membulatkan matanya tak percaya. “Ja-jadi kau sudah melakukan itu dengan Andrew? Kau tidur dengannya?” Yoona mengangguk pelan, masih dalam posisi menunduk. Jessica menepuk keningnya pasrah, “Ya Tuhan.. aku tak meyangka kau melakukannya! Apa dia yang memaksamu, eoh?” Jessica bertanya penuh selidik.

 

“Entahlah, semua terjadi begitu saja. Aku terbangun dipagi hari tanpa busana dan merasakan seluruh tubuhku sakit tak menentu. Aku sudah tidak seperti dulu, Eonni. Kini aku bukan lagi adikmu yang bebas dengan semua keinginannya. Ada statusku sebagai istri yang membuatku harus lebih berhati-hati.” Ungkap Yoona dengan suara bergetar. Jessica tidak sanggup menahan sesak di dadanya, ia memang harus membenarkan apa yang dikatakan Yoona.

 

“Ya, aku mengerti. Kau harus menjalaninya dengan penuh semangat, arraso? Ingatlah bahwa kau tidak sendiri, kau masih memiliki aku yang akan selalu mendukungmu.” Jessica menyemangati Yoona sambil membelai rambutnya penuh rasa sayang.

 

“Ne, Eonni. Gomawo…”

 

∞∞∞∞∞

Ternyata Yoona bukan sekedar pepesan kosong mengatakan pada Andrew kalau ia pasti bisa membuktikan bahwa seorang Im Yoona juga bisa hidup dengan baik walau hanya mendapat tunjangan bulanan yang menurutnya sangat sedikit. Lima ratus ribu won baginya dulu adalah uang yang akan habis dalam waktu sekian menit hanya untuk berbelanja barang mewah dengan jumlah item yang dihitung tidak lebih dari tiga jari. Kini, ia harus mampu mengondisikan hidupnya dengan uang sebanyak itu dalam satu bulan.

 

Walaupun Yoona menjalani dengan setengah hati dan masih sering merasa dongkol dengan sikap acuh tak acuh yang ditunjukkan sang suami kepadanya, tetapi Yoona masih tetap berusaha tidak mengeluh. Hanya Bae Suzy lah yang menjadi tempat curahan hati yang paling pas untuknya. Suzy merasa hidupnya penuh teror sejak Yoona kembali bekerja part time di coffee shop yang sama sebelum Yoona menikah.

 

Bagaimanapun Yoona adalah isteri seorang konglomerat, tetapi malah dengan kesukarelaan yang dipaksakan malah kembali menggeluti dunia sebagai seorang pekerja biasa. Kalau orang lain mungkin memandangnya sebagai seseorang yang rendah hati dan ringan tangan, tetapi Suzy sangat memahami apa yang sedang dialami oleh sahabat baiknya itu. Dua minggu Yoona kembali pada pekerjaannya di coffee shop, sesering itu pula Suzy berusaha membujuknya untuk membatalkan niat bekerja lagi sebagai karyawan café.

 

“kau tidak seharusnya berada disini, Yoona-yah. Tempatmu berada di restoran mewah dengan hidangan super mahal dan dilayani oleh waiters yang profesional.” Begitulah pernyataan enteng Suzy pada Yoona. Meski terdengar cukup tajam dan sangat menyindir, tapi Yoona hanya membalasnya dengan wajah manyun atau tatapan penuh ancaman.

 

“Aku tidak akan bisa menikmati semua itu kalau aku tidak bekerja dulu. Kau tahu, bahkan aku harus menggunakan transportasi umum. Jika aku pergi ke tempat yang kau katakan itu, maka mereka akan mengira seorang gembel glamour datang dengan ke tempat mereka. Aku tidak sudi mempermalukan diriku sendiri seperti itu, Suzy-ah!” balas Yoona sarkatis tapi sarat makna dan kebenaran.

 

Semua yang dikatakan Yoona tentu saja membuat Suzy terperangah. Semenjak menyandang status sebagai wanita yang menikah, sedikit demi sedikit sepertinya pola pikir Yoona mulai berubah menjadi lebih dewasa. Yah, walaupun hanya sepersekian persen yang berubah tiap harinya. Tetapi itu semua sudah cukup bagi Suzy untuk mulai mengubah pandangannya terhadap Yoona.

 

“Lalu bagaimana dengan pria yang masih saja tidak menyerah menemuimu setiap hari? Aku heran kenapa orang itu masih saja mengharapkanmu padahal ia tahu kau sudah menikah dengan pamannya sendiri.” Suzy membahas soal Choi Siwon yang kerap kali mengunjungi coffee shop di jam kerja Yoona.

 

“Entahlah. Mungkin dia sudah gila. Atau lebih tepatnya aku yang gila. Aku justru memberinya harapan bahwa aku mencintainya setelah aku menikah dengan pamannya. Aku seakan sudah benar-benar berselingkuh dengan baik di belakang punggung suamiku.” Jawab Yoona dengan nada gusar. Ia sadar bahwa semua sudah mulai menjadi duri dalam daging bagi hubungannya dengan Siwon maupun dengan Andrew.

 

“Aku rasa kau bisa disebut gila karena kenekatanmu itu. Sekarang, apa kau mencoba membuat pria itu berhenti berharap? Aku lihat kini kau lebih sering mengabaikannya dibanding sebelum kau menikah.”

 

“Suzy-ah, aku mulai berpikir untuk menyerah. Aku rasa sudah saatnya aku kembali berjalan lurus. Tidak seharusnya aku menyiksa diriku sendiri dan perasaannya hanya karena keegoisanku yang ingin memiliki pasangan seorang pria yang tampan dan muda. Tetapi rasanya aku tak ingin melepasnya, aku sudah terlanjur mencintainya. Apa yang harus aku lakukan, Suzy-ah?” tanya Yoona dengan keseriusan mencapai seratus persen dan membuat Suzy tergagap bingung mencari jawaban.

 

“Hmm… aku tidak paham dengan apa yang kau rasakan. Tapi menurutku kau harus menunggu waktu yang menjawab. Mungkin suatu saat pelan-pelan kau bisa melepaskannya, dan beralih memberikan cintamu untuk suamimu.” Solusi itu mungkin memang bukan yang terbaik, tapi setidaknya Yoona bisa mencoba melakukan seperti apa yang dikatakan Suzy. “Yoona-yah, memangnya seperti apa hubunganmu dengan suamimu setelah lebih dari dua bulan kalian menikah?”

 

“Aku masih merasa seperti orang asing. Ingin sekali aku membuka diri, tetapi bayangan Choi Siwon sering kali memberatkanku untuk melakukan itu. Walau aku berada di kamar yang sama dan di ranjang yang sama, tetapi aku sama sekali tidak punya keberanian untuk mendekati Ahjussi itu. Setiap kali Ahjussi itu mencoba menyentuhku, maka aku akan merasa sekujur tubuhku merinding tak karuan.” Ungkap Yoona penuh keprihatinan.

 

Begitulah, Yoona menjalani harinya dengan kesibukan sendiri. Yoona pagi-pagi berangkat ke kampus dan menjelang sore menjalani shift bekerja di coffee shop bersama Suzy. Sebagian besar waktunya lebih banyak dihabiskannya berkutat dengan masalahnya sendiri, mulai dari skripsinya yang sudah mulai pada tahap pengerjaan hingga usaha pembuktiannya kepada Andrew dan Bibi Kim.

 

Jessica yang selalu mengkhawatirkannya, sering mengunjungi Yoona ke tempat kerjanya hanya untuk memberikan dukungan dan vitamin untuk menjaga kesehatan. Jessica sama sekali tidak mempercayai Andrew melakukan semua itu kepada adiknya, dan sepertinya Jessica sangat tidak bisa menerima perlakuan Andrew pada Yoona. Jelas terlihat jika Jessica membenci pria itu, bahkan Jessica memilih membangun tembok permusuhan dengan Bibi Kim sebagai penyebab pernikahan konyol Yoona dengan Choi Ahjussi.

 

Lalu bagaimana dengan Andrew? Pria itu masih hidup dalam kebimbangan dan tekanan yang dimunculkannya sendiri. Perasaannya sangat sakit melihat isterinya masih sulit menerima kehadirannya. Hal itu sudah dicoba ditepiskannya dengan merayu Yoona setiap malam untuk menghabiskan waktu bersama dan saling mengenal lebih jauh. Tetapi usahanya itu hanya membuatnya terlihat seperti seorang pria hidung belang yang berniat memakan gadis polos yang tak berdosa.

 

Andrew lebih memilih memunculkan dirinya yang lebih nyata di hadapan Yoona, apalagi kalau bukan sosok Choi Siwon. Menemui Yoona setiap hari, berdekatan dengannya, menyentuhnya dengan penuh kasih dan tanpa beban merupakan hal yang membuatnya seperti mendapat hadiah lotre milyaran Dollar. Sulit untuk digambarkan bagaimana kebahagiannya.

 

Tetapi Siwon mulai merasa ada yang berubah dari Yoona. Wanita itu terkesan mulai menghindarinya pelan-pelan. Yoona mulai belajar mengabaikannya, bahkan mungkin belajar menghapus cintanya. Tidak. Itu tidak boleh terjadi. Siwon merasa sangat takut jika hal itu benar-benar terjadi. Tidak akan ada lagi kesempatan baginya untuk merengkuh Yoona untuk selalu berada di sisinya.

 

 

∞∞∞∞∞

 

“Siwon-ah, kau baik-baik saja? Kau tampak pucat.” Tegur Ny. Choi pada Siwon di sela makan siang mereka di rumah besar keluarga Choi. Minho melirik kakaknya dengan tatapan penuh tanya.

 

“Hyung, kau tampak tidak baik. Apa isterimu tidak merawat Choi Ahjussi dengan baik?” Minho berniat mencairkan suasana yang sedikit kaku dengan candaannya. Tetapi Siwon tampak tidak berselera menanggapi sang adik. Sangat berbeda dari biasanya.

 

“Aku memang tidak baik-baik saja. Aku merasa tersiksa. Lihatlah, sekarang saja aku tak bisa membawa isteriku sendiri untuk bergabung bersama keluarga kita. Aku merasa sudah sengaja mengasingkannya, ini sungguh tidak benar,” gerutu Siwon dengan nada bicara ketus.

 

Minho dan ibunya saling bertatapan, seolah saling melemparkan tanya soal keadaan Siwon saat itu. Putra sulung keluarga Choi itu jelas terlihat sedang dirundung kegelisahan yang disembunyikannya sendiri. “Siwon-ah, bersabarlah. Bukankah kau katakan Yoona sudah mulai berubah. Sebentar lagi semuanya akan baik-baik saja.” Rayu Ny. Choi agar Siwon lebih tenang.

 

“Eomma benar, Hyung. Aku rasa kau akan bahagia nantinya. Yoona akan mencintaimu dan kau akan punya anak-anak yang lucu dan keluargamu akan lengkap.” Ucap Minho dengan nada gembira, berniat membangkitkan semangat sang kakak. “Oh ya, bicara soal anak… kau sudah melakukan ‘itu’ dengan isterimu kan?”

“Minho-yah!!” hardik Ny. Choi atas kelancangan putra bungsunya. “Kau ini masih kecil. Kau tidak pantas menanyakan itu pada hyung-mu!”

 

“Eomma… kenapa malah menyudutkanku seperti itu? Aku hanya ingin menanyakan perihal kemunculan keponakanku nantinya. Bukankah Eomma sendiri juga sudah tidak sabar untuk menimang cucu dari Hyung?” Minho mendapat pelototan dari ibunya dan membuat nyalinya sedikit ciut.

 

“Aku rasa kau tidak perlu tahu urusan ranjangku, Choi Minho!” ujar Siwon sambil melirik sinis pada Minho.

“tapi dari wajahmu yang sedikit memerah, aku yakin kau sudah beberapa kali melakukannya, Hyung…” gerutu Minho dengan suara pelan, tapi masih bisa di dengar dengan baik oleh Siwon yang duduk di sebelahnya hingga Minho mau tak mau menerima satu jitakan di kepalanya.

 

Nyonya Choi menghela napas berat, ia memang tidak bisa mengabaikan perasaannya yang prihatin pada kondisi psikis Siwon akibat tekanan yang diterimanya. Tetapi Ny. Choi juga tak bisa begitu saja menghalau keinginannya untuk segera memiliki cucu, tepat seperti yang dikatakan Minho. “Eomma hanya berharap apapun yang kau alami, kau tidak lupa pada kewajibanmu untuk memberikan keturunan pada keluarga ini, Siwon-ah.”

 

Siwon berganti menatap ibunya tajam, “Tanpa Eomma peringatkanpun aku tahu, bahkan aku selalu menginginkannya setiap ia berada di dekatku. Tapi aku bisa apa, aku harus sering merasakan sakit setiap aku tak punya kesempatan untuk menyentuhnya.” Ujar Siwon dengan kata-kata yang terdengar dingin. “Tapi bukan masalah anak yang kupikirkan. Aku sangat cemas, jika nantinya Yoona telah mengetahui kenyataan yang sebenarnya maka ia akan berbalik membenciku. Aku tidak tahu bagaimana aku nantinya…”

 

“Eomma mengerti kegelisahanmu, Siwon-ah. Kau harus mengungkapkan terlebih dahulu sebelum ia tahu dari orang lain dan ia merasa sangat tersakiti dalam hal ini.” ucap Nyonya Choi sedih.

“kalau begitu Eomma tidak mengerti aku. Hal itu adalah hal yang paling sulit untuk kulakukan. Sangat sulit…” Siwon berlalu meninggalkan meja makan dalam keadaan yang sulit digambarkan. Mungkin ia merasa marah, sedih, gelisah, dan kecewa.

 

∞∞∞∞∞

Seperti biasa Yoona pulang bekerja menjelang tengah malam. Yoona mendapati kamarnya masih terang benderang dengan pencahayaan lampu yang lengkap. Tidak biasanya ruangan ini berpendaran cahaya di jam yang sama. Yoona mendapati Andrew duduk di sofa single sambil memijat pelipisnya. Yoona berinisiatif mendekati suaminya.

 

“Ahjussi, kau baik-baik saja?” Andrew mendongak mendengar panggilan Yoona. Andrew hanya menatap Yoona sekilas kemudian mengangguk pelan. Yoona merasa Andrew bersikap agak berbeda. Wajah Andrew tampak menanggung kesedihan, tetapi ia tahu bahwa pria itu tidak akan mau berbagi cerita dengannya. “kalau begitu aku mau mandi dulu.” Ucap Yoona kemudian melangkah memasuki kamar mandi.

 

Andrew memandangi Yoona yang sedang menyisir rambutnya dari cermin rias. Yoona tahu bahwa Andrew sedang memperhatikannya. Tetapi ekspresi wajah Andrew yang seolah sedang dirundung masalah sangat berat membuatnya bertanya-tanya, hanya saja Yoona terlalu kikuk untuk menanyakannya langsung pada suaminya itu.

 

“Apa kau merasa lelah?” tanya Andrew. Yoona menaikkan sebelah alisnya, bingung dengan pertanyaan Andrew yang tampak sederhana itu.

“Apa maksud Ahjussi?’

“Apa kau lelah hidup seperti ini bersamaku? Apa kau merasa letih harus berusaha keras menjadi seperti yang aku inginkan, menjadi wanita kelas atas yang terhormat? Apa kau masih ingin melakukan itu semua?” lanjut Andrew.

 

Yoona berbalik, dan kini ia membelakangi cermin riasnya. Yoona berjalan mendekati Andrew yang duduk tegak di sisi ranjang. “Ahjussi ingin aku menyerah begitu saja?”

“Bukan. Jika kau memang merasa lelah, maka berhentilah. Aku tidak akan lagi memaksamu, seolah kau adalah tawanan yang sedang menjalani proses hukum.”

Yoona mengernyit heran dengan sikap Andrew malam ini. “Berhenti? Tidak. Aku tidak akan melakukannya. Aku sudah sejauh ini, dan Ahjussi bisa lihat sendiri kalau aku sudah nyaris berhasil membuktikan semuanya. Bahwa aku bisa menjawab tantanganmu.”

 

Andrew bangkit dari duduknya. Pria itu menyentuh pipi Yoona, menyusuri rahangnya dengan lembut melalui kulit tangannya. “Aku hanya tidak ingin kau terus-terusan merasa tertekan karena ini. Aku tak ingin kau membenciku karena caraku mendidikmu yang terlalu keras. Maafkan aku, Yoona-yah.”

Yoona menyambar tangan Andrew yang masih betah di pipinya. “Membencimu? Aku tak pernah membenci Ahjussi. Aku hanya tidak bisa bersikap manis layaknya seorang isteri yang menyayangi suaminya. Itu saja.”

 

Andrew memeluk tubuh Yoona dengan erat. “kalau begitu aku mohon kau jangan membenciku, Yoona-yah. Aku tahu, aku mungkin bukan sosok suami yang kau inginkan. Tapi aku menyayangimu, bahkan sangat menyayangimu.” Napas Andrew terasa berhembus di leher Yoona, membuatnya sedikit begidik.

Yoona menatap mata Andrew yang telah melepaskan pelukannya. Mata itu menyorotkan kecemasan yang tak terungkapkan. Entah kenapa Yoona dapat merasakan kerisauan hati Andrew. Mungkinkah Yoona sudah mulai merasakan kedekatan batin dengan suaminya itu?

 

Andrew mendaratkan satu kecupan di bibir tipis Yoona yang membuat gadis itu merasakan gelenyar aneh di sekujur tubuhnya. Tangan Andrew menyusuri tulang selangka Yoona hingga ke punggung, memberikan sentuhan hangat sebagai ungkapan hatinya.

 

Andrew membaringkan Yoona ke ranjang, sementara tubuhnya masih berada di atas Yoona. Andrew masih menghujani wajah Yoona dengan kecupan-kecupan ringan. Hingga Yoona menahan bahunya dan menggelengkan kepalanya perlahan. “Aku tidak bisa melakukannya, Ahjussi!”

“Kenapa? Bukankah sudah beberapa kali kita melakukannya?”

“Kita melakukannya dalam kegelapan. Dan saat ini lampunya masih menyala terang.”

“Biarlah. Aku ingin bisa menatap wajahmu di bawah cahaya seperti ini. Bukannya harus meraba dalam kegelapan.” Andrew tidak bergurau dengan kata-katanya, karena setelah itu ia benar-benar tidak dapat mengendalikan lagi dirinya untuk menghabiskan waktu bersama sang isteri.

 

∞∞∞∞∞

 

Sudah dua minggu Suzy dan Yoona disibukkan dengan kegiatan kampus untuk pengerjaan skripsi mereka. Keharusan membuat karya ilmiah yang baik membuat mereka berusaha keras untuk berkonsentrasi penuh untuk tugas akhir tersebut. Kegiatan ini bahkan memaksa mereka beberapa kali bolos kerja part time, dan menghabiskan waktu untuk safari perpustakaan. Sepertinya tidak cukup jika hanya mengandalkan buku-buku tertentu.

 

Kesibukan Yoona sedikit banyak membuatnya lupa dengan masalahnya di rumah, dengan Andrew ataupun dengan Siwon. Yoona setidaknya cukup bersyukur bahwa ia memiliki alasan untuk sementara waktu menjaga jarak dengan kedua orang itu, terutama Siwon. Pria itu selalu menemui halangan untuk menemui Yoona belakangan ini, dan tak dipungkiri lagi membuatnya cukup frustasi. Siwon terlalu merindukan isterinya, yang bahkan di rumahpun tak punya cukup waktu untuk bercengkerama atau sekedar menyapa. Hubungan mereka tampaknya benar-benar menjadi dingin dan mulai menjauh.

 

“Huh. Lihatlah tumpukan buku-buku ini! Aku sudah hampir muak dan ingin sekali rasanya menyingkirkan apapun yang berkaitan dengan penelitian karya ilmiah itu jauh-jauh dari pandanganku!” gerutu Suzy setelah melakukan aksi banting tumpukan beberapa buku setebal kamus bahasa Inggris ukuran jumbo.

 

“kau pikir hanya kau sendiri yang merasa seperti itu? Aku juga merasakan hal yang sama. Apalagi ada beberapa poin yang tidak aku mengerti.” Omel Yoona sambil membolak-balik tumpukan kertas laporannya. “Suzy-ah, kenapa kau tidak meminta bantuan Soo Hyun sunbae? Bukankah dia itu sangat jenius, apalagi yang aku lihat sepertinya dia menyukaimu.”

 

“Apa? Soo Hyun sunbae? Kau bercanda, Yoona-yah! Mana mungkin aku meminta bantuannya, aku masih harus jaga gengsi.” Dalih Suzy menyembunyikan kegugupannya. Yoona tersenyum simpul melihat tingkah kikuk Suzy saat Yoona membahas soal pria yang menyukai Suzy.

 

“Ya ampun, singkirkanlah gengsimu itu. Ini semua demi tugas akhir kita. Setidaknya kau bisa memanfaatkannya untuk mengajari kita, daripada kita terus-terusan stres karena tidak mengerti soal ini.” Yoona mencoba meyakinkan Suzy untuk meminta bantuan Kim Soo Hyun. “Sudah, cepat telepon dia dan suruh datang kesini.”

 

“Tidak. Aku tidak akan membiarkannya datang ke rumahku – jangan dulu. Kita tidak akan berada di rumah ini kalau kau tidak memaksaku untuk sama-sama bersembunyi dari pria selingkuhanmu itu!” Kini berganti Suzy yang mengomel tidak senang karena harus ikut-ikutan menyembunyikan Yoona dari Siwon karena pria itu yang tidak pernah bosan berusaha memaksa menemui Yoona walaupun telah diberi alasan sibuk.

 

“Ah, sudahlah. Berhentilah membahas soal orang itu. Anggap saja kita impas karena aku sudah membawa-bawa nama sunbae kesayanganmu itu disini.” Yoona kembali menyibukkan dirinya dengan membaca buku yang telah terbuka dihadapanya. “Suzy-ah….”

“ada apa?”

“Apakah kesulitan mengerjakan tugas akhir ini memberikan efek pusing-pusing dan mata berkunang-kunang?”

“Hah?? Apa maksudmu?” Suzy menoleh pada Yoona yang terlihat pucat dan sedang memijat keningnya. “Omo! Yoona-yah, kau mimisan!” Suzy memekik cemas dan bergegas mendekati Yoona untuk memberikannya tissue. Suzy berusaha membantu Yoona menghilangkan darah yang keluar dari hidungnya. Lalu memapah Yoona menuju ranjang yang ada di kamarnya itu. “Aku rasa kau kelelahan. Lebih baik kau berbaring saja dulu disini.”

 

∞∞∞∞∞

 

“kau yakin bisa pulang sendiri? Kelihatannya kau masih sakit. Lebih baik minta saja suamimu menjemputmu, dari pada kau harus pulang naik bus sendirian.” Suzy menahan tangan Yoona yang sudah bersiap-siap hendak pergi. Acara belajar bersama mereka hari ini berakhir lebih cepat karena Yoona sedang sakit.

 

“Aku tidak apa-apa. Aku tidak mau dinilai lagi sebagai anak manja, jika sakit sedikit saja sudah merepotkan banyak orang. Dan  maafkan aku jika tadi aku sudah merepotkanmu.” Ujar Yoona dengan suara lemah dan masih terlihat pucat.

“tapi Yoona-yah….” Kata-kata Suzy terinterupsi oleh kedatangan sebuah mobil sedan mewah ke halaman rumahnya. Suzy membulatkan matanya karena ia cukup mengenali mobil itu. Suzy mengalihkan pandangannya pada Yoona, dan jelas sekali terlihat Yoona tidak cukup senang dengan kedatangan si pengemudi.

 

“Yoona-yah…” sapa Siwon yang baru saja turun dari mobilnya dan langsung menghampiri Yoona yang masih berdiri terpaku. “Apa kau mau pulang? Aku akan mengantarmu.” Siwon terdengar begitu bersemangat. Sambil menarik pelan lengan Yoona, Siwon mencoba menuntun Yoona masuk ke mobilnya.

 

“Tidak. Aku tidak ingin pu—“

“aaahhh… Yoona memang mau pulang, Siwon-ssi. Dia sedang kurang sehat.” Suzy membantu Siwon untuk mendorong Yoona dan memaksanya masuk ke dalam mobil.

“Yak! Bae Suzy apa yang kau lakukan, eoh!” protes Yoona.

“Sudahlah, kau memang butuh tumpangan kan…” sahut Suzy dengan senyuman singkat.

>>>>>>>

 

“Darimana Oppa tahu kalau aku ada di rumah Suzy?” tanya Yoona ketus membuka suara setelah cukup lama mereka terdiam di dalam mobil.

“Aku hanya menebak, dan ternyata feelingku tidak pernah salah tentangmu.” Jawab Siwon tenang. “Yang tidak aku tahu adalah alasan mengapa kau menghindariku. Apa kau tidak tahu kalau aku sangat merindukanmu? Kau selalu saja menyibukkan diri dan berusaha melupakanku. Apa aku sudah membuat kesalahan, Yoona-yah?”

 

“Tidak. Oppa sama sekali tidak membuat kesalahan. Aku lah yang sudah membuat kesalahan. Aku sudah melibatkan Oppa dalam kebodohanku, dan sekarang aku ingin mengakhirinya.”

Mendengar kalimat itu Siwon buru-buru mengerem mobilnya hingga terdengar bunyi decitan ban yang menggesek aspal. Mereka beruntung karena saat itu sedang berada di jalanan yang sepi sehingga tidak ada orang yang akan protes dengan aksi teatrikal Siwon barusan.

 

“Apa? Kau ingin kita berakhir dan berpisah? Tidak! Sampai kapanpun aku tidak akan setuju.” Sergah Siwon cukup keras karena keterkejutannya. Siwon mencengkeram lengan Yoona kuat dan membuat wanita itu meringis kesakitan.

“Oppa, aku tidak butuh persetujuanmu. Sejak awal ini sudah salah. Aku sudah menikah dan tidak seharusnya aku bermain api denganmu. Oppa, kita akhiri saja semuanya.”

“Tidak dan tidak. Aku mencintaimu, Yoona-yah. Aku tak bisa berpisah denganmu…” Siwon semakin mempererat pegangan tangannya. Yoona berusaha keras melepaskan tangannya, hanya saja tubuhnya yang memang sudah terasa lemas hingga tak memiliki tenaga untuk melawan pria itu. Siwon seakan kehilangan akal sehatnya malah menciumi Yoona secara paksa, menyudutkan wanita itu dalam kuasanya.

 

Yoona mencoba berteriak dan menghindar sebisa mungkin dari perilaku tak terduga dari Siwon hingga pria itu akhirnya melepaskan tangannya. Siwon berhenti memperlakukan Yoona dengan begitu kasar. Kini ia menatap Yoona, mata Siwon tampak memerah menahan amarah.

“Kau sungguh keterlaluan, Oppa!” pekik Yoona kesal dan bergegas membuka pintu mobil. Tanpa mempedulikan panggilan Siwon, Yoona terus berjalan menjauh dari mobil Siwon. Tidak ingin kehilangan Yoona, Siwon turun dari mobilnya dan mencoba menyusul Yoona.

 

“Yoona-yah! Aku mohon maafkan aku kalau sikapku selama ini sudah menyakitimu. Tapi please, jangan katakan jika semua ini berakhir!” Siwon berjalan cepat menyusul langkah Yoona yang sudah cukup menjauh.

 

Yoona menoleh sekilas, memandang Siwon dengan tatapan kecewa dan marah. “Ini sudah berakhir, Oppa! Aku memutuskan untuk memilih suamiku.”

“TAPI AKULAH SUAMIMU!!” teriak Siwon putus asa, bahkan tidak lagi mempertimbangkan apa yang dikatakannya.

 

Yoona menghentikan langkahnya, begitupun dengan Siwon. Sejenak Yoona diam, mencoba meyakinkan dirinya bahwa ia tidak salah dengar dengan perkataan Siwon tadi. Yoona menarik napas panjang, ekspresi wajahnya berubah ketat dan tampak amarah sudah muncul disana. Yoona berbalik, menatap lurus pada Siwon dengan sorot mata yang tajam.

“Kau tadi bilang apa, Oppa?”

 

To Be Continued…

 

 

Annyeong readers… tahu ga kalau ini adalah chapter terpanjang yang pernah aku buat untuk cerita ini? (ga tanya thor -_-) sekedar info aja, kalau cerita ini sudah hampir sampai di ujungnya alias sudah mau ending. Jadi anggap aja aku lagi kejar tayang jadi buat chapter yang super panjang.

And then… bagaimana cerita untuk chapter ini? Mungkin sedikit membosankan dan malah garing serta tak ada feeling nya… tapi aku harap readers tetap suka. Plus, jangan lupa ya Like and Comment tetap ditunggu..!!

Thanks for admin Gee and Resty for posting this story…^^

Pos Sebelumnya
Tinggalkan komentar

189 Komentar

  1. choi eun woo

     /  Juli 15, 2014

    haduuhh semoga yoona gaa benci oppa
    cuusss part 9

    Balas
  2. im yoo ra

     /  Juli 18, 2014

    eonni kenapa endingnya pas scene yang itu?

    Balas
  3. Jeng Jeng Jeng, komentar somplak datang :v *padahal cuma mau bilang panjangin lagi ffnya :v*

    Balas
  4. Sepertinya Yoona sudah mulai menerima Andrew sbg suaminya
    ya.. Meskipun Andrew adlh
    Choi Si Won jg
    tapi wonppa benar2 prustasi
    banyak sekali kegundahan
    di dlm dirinya
    aku suka bgt cerita yg begini
    ceritanya penuh dgn tantangan

    Balas
  5. mungkin kah ini saat’y wonpa mengatakan kebenaran’y.
    semoga yoona mau nerima alasan wonpa.. yoona yg sabar ya..

    Balas
  6. wiwin

     /  Desember 19, 2014

    SiWwon tidak terkendali,tapi gk tau knapa aku lagi ska klau ANdrew Choi kebanding siwon,wlaupu keduanya sma,aku lebih suka moment Andrew sma yoona karena berasa mereka ntu suami istri kali yae.

    Balas
  7. tiffany

     /  Desember 31, 2014

    Aaahhhhh….ini the best ff

    Balas
  8. Hulda Maknae

     /  Februari 26, 2015

    Siwon keceplosan…..aigooo yoona jangan marah ya….saat semuanya sdh terbongkar????

    Balas
  9. Nhiina

     /  Maret 23, 2015

    Wonppa sdah mengakuinya ? ?
    Mudah mudahan sja yoing gga bkal marah

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: