[FF] My Silly Engagement (Chapter 8)

MSE 5-2

Author : misskangen ‖ Length : Sequel ‖ Genre : Romance ‖ Rating : General ‖ Main cast : Im Yoona, Choi Siwon ‖ Support cast : Lee Donghae, Byun Baekhyun, Kwon Yuri , Im Seulong, Han Young Ran (OC) ‖ Disclaimer : This story is mine instead of the plot and characteristics, but the casts are belong to themselves and god. Please don’t do plagiarism or bash anything from the story and sorry for undetection typo(s).

MY SILLY ENGAGEMENT : CHAPTER 8

 

Pintu besar yang terbuat dari kayu tempa dan dilengkapi ukiran klasik itu terbuka, memberikan pemandangan yang tidak biasa bagi Yoona. Mata gadis itu terpaku pada satu bentuk benda yang sangat dikenal namanya oleh Yoona.

 

Kejutan? Inikah kejutan yang diberikan Siwon untuknya? Yoona menyukai benda itu, apalagi ia belum memiliki ukuran yang sebesar itu dalam koleksinya. Tetapi dari mana Siwon tahu tentang hal yang satu itu, Yoona merasa tidak pernah mengatakan apapun soal hobi uniknya pada Siwon. Ah… Yoona, jangan lupa kalau Siwon dapat melakukan segala cara untuk mendapatkan hal yang dia inginkan!

 

“Kkuma…” pekik Yoona begitu melihat sebuah boneka Rilakkuma berukuran sangat besar terpampang di depan pintu rumahnya. Begitu besarnya boneka itu hingga menutupi wajah seseorang yang membawanya. Sosok pria yang membawa boneka itu masih berdiri diam. Tangan kanannya membawa Rilakkuma, sementara tangan kirinya membawa sebuket mawar merah yang sangat indah.

 

“Jadi Siwon Oppa sengaja mengirimkan Rilakkuma dan bunga mawar untukku? Romantis sekali!” Dengan tidak sabar Yoona mengulurkan tangannya hendak mengambil Rilakkuma raksasa itu dari tangan si pengantar. Tetapi Yoona gagal mencapai boneka kesayangannya tersebut, sebab sudah berpindah tempat hingga memperlihatkan wajah pria si pengantar benda itu.

 

“Benarkah sangat romantis?” Yoona membeku mendengar suara pria itu. Siwon tersenyum lebar di depannya, dan menahan kedua benda yang dibawanya dari jangkauan Yoona. Spontan wajah Yoona berubah ketat da senyumnya menghilang. Ia tidak menyangka bahwa Siwon sendiri yang membawa benda-benda itu kehadapannya. Padahal Yoona berpikir bahwa Siwon masih berada di luar negeri, jadi pria itu tidak akan muncul di hadapannya untuk beberapa waktu yang lama.

 

“Tidak, aku salah bicara tadi! Menurutku kau kurang kerjaan, Oppa!”

Siwon mengangkat sebelah alisnya sinis. “Ya sudah kalau memang menurutmu kurang kerjaan, aku kembalikan saja Rilakkumanya ke toko!” seru Siwon seraya bergerak, membalikkan tubuhnya ke arah mobil yang terparkir tak jauh di belakangnya.

 

“Eh, kenapa dikembalikan? Sudah sejauh ini sampai di depan rumahku.” Yoona mengejar Siwon dan menahannya sejenak. Kemudian Yoona langsung mengambil Rilakkumanya secara paksa. Siwon membiarkan Yoona melakukan itu semua. Pria itu hanya menahan senyumnya, ia sudah yakin kalau Yoona tidak akan menolak hadiah yang satu itu.

 

Siwon menyerahkan buket mawar merahnya dan Yoona mau tak mau menerima hadiah keduanya malam itu. Sambil memeluk erat Rilakkuma yang baru diterimanya, Yoona memandang Siwon sambil menyipitkan matanya. “Lalu untuk apa Oppa kesini?”

 

“Bukankah kau merindukanku, jagiya?” Siwon berjalan mendekati Yoona yang masih berdiri sigap di depan pintu rumahnya. “Dan tentunya aku ingin mengatakannya secara langsung bahwa aku juga mencintaimu, Sayang.” Siwon mengedipkan sebelah matanya, menggoda Yoona yang sudah memasang wajah manyun sedari tadi.

 

“Oppa, soal pesan singkat itu… aku minta maaf! Itu… aku benar-benar salah kirim.” Ujar Yoona takut-takut. “Aku tahu Oppa pasti akan salah paham, jadi aku harap Oppa mau melupakan kejadian tadi.” Yoona tertunduk, tidak berani menatap mata Siwon.

 

“Aku yakin aku tidak salah paham.” Siwon melipat lengannya di depan dada, dan menatap lurus pada Yoona. Kini Yoona mendongak, keheranan langsung menyelimuti pikirannya. “Ada banyak keganjilan jika kau bilang itu salah kirim. Pertama, mengapa kalimat cinta itu bisa terkirim ke ponselku? Itu artinya kau selalu memikirkanku, hingga kau hanya ingat untuk mengirimkan pesanmu padaku. Kedua, saat aku mengatakan ‘jika kau merindukanku, segera bukalah pintu rumahmu’, kau bergegas datang kesini dan membuka pintunya. Bahkan tidak sampai satu menit sejak aku memutuskan panggilan teleponku. Lalu apa alasanmu untuk itu, Yoona-yah?”

 

Yoona meringis kesal karena sulit untuk menemukan jawaban. Semua yang dikatakan Siwon sedikit banyak membuatnya terpojok. “Aku tidak perlu memberikan alasan untuk itu. Kalau aku bilang salah kirim, berarti memang salah kirim. Titik.” Sembur Yoona ketus.

 

“lalu siapa sebenarnya yang ingin kau kirimi pesan itu jika bukan aku?” Suara Siwon terdengar sangat dingin, dan ekspresi wajahnya berubah mengeras. “Apa untuk kekasihmu yang lain? Byun Baekhyun?” pekik Siwon sarkatis.

 

Yoona merasa gentar menghadapi perubahan emosi Siwon, tapi kekeraskepalaannya yang memaksa Yoona untuk mempertahankan ego. “Itu bukan urusanmu…”

“Itu jelas urusanku, Im Yoona! Kau tunanganku, jadi aku berhak tahu siapapun yang berniat mengganggu kedamaianku. Termasuk pria-pria yang dekat denganmu.” Siwon memotong kalimat Yoona dengan kalimatnya yang penuh ancaman.

“Kau selalu saja begitu! Tidak bisakah kau menghilangkan sikap sok berkuasamu itu, Oppa? Aku benar-benar tidak bisa berpikir bagaimana harus hidup dengan orang sepertimu jika….”

 

“Siapa yang datang, Yoong?” suara lembut Ny. Im terpaksa mengakhiri ketegangan di antara mereka. Yoona dan Siwon kini serempak memasang sikap seolah semua baik-baik saja. “Oh, kau datang Siwon-ah?” sapa Ny. Im begitu sampai di depan pintu dan melihat kehadiran Siwon disana.

“Ne, Eomonim.” Siwon memperlihatkan senyumnya dan membungkuk singkat kepada Ny. Im.

 

“Kenapa kau tidak mempersilahkan Siwon masuk, Yoong? Kalian ini senang sekali mengobrol di depan pintu.” Tegur Ny. Im pada putrinya. Yoona hanya memasang wajah cemberut untuk menjawab teguran ibunya. “Apa kalian berencana makan di luar, Siwon-ah?”

Siwon menggeleng lemah, “Kami tidak berencana pergi keman-mana, Eomonim.”

Ny. Im tersenyum ramah dan mengangguk mengerti. “Baguslah, kalau begitu kau bergabung bersama kami untuk makan malam ya… hari ini kami mengadakan makan malam spesial menyambut kepulangan Oppanya Yoona dari luar negeri.”

 

 

♣♣♣♣♣

Semua keluarga Im berkumpul di meja makan untuk menikmati makan malam yang disebut-sebut sangat spesial untuk merayakan kepulangan kakak laki-laki Yoona yang selama ini tinggal dan bekerja di luar negeri. Im Seulong sengaja pulang ke Korea karena minggu depan adalah hari pernikahan Yuri. Seulong membawa serta istri dan kedua anak kembarnya yang tentu saja menambah kebahagiaan Tuan dan Nyonya Im. Sebab selama ini mereka berjauhan dengan cucu pertama, dan kini mereka ingin menikmati kebersamaan dengan cucu dan menantunya.

 

“Maafkan aku karena tidak bisa menghadiri acara pertunangan kalian tempo hari, Siwon-ssi.” Seulong membuka pembicaraan selepas mereka menyelesaikan makan malamnya. Kini mereka tengah bersantai di ruang keluarga.

 

“Itu tidak masalah, Seulong-ssi. Yang penting acaranya terlaksana dengan baik dan lancar.” Siwon tampak sering memperlihatkan senyumnya di tengah keluarga Im, sepertinya pria itu tampak senang dan bersemangat berada di dalam kehangatan keluarga itu.

 

“Syukurlah bila semuanya lancar. Sebelumnya aku cukup khawatir adik kecilku itu akan mengacaukan banyak hal. Dia sering meneleponku dan mengomel tidak jelas, aku sampai pusing mendengar suara cemprengnya itu.” Godaan yang dilemparkan Seulong sama sekali tidak membuat Yoona tertarik. Ia malah melirik tajam pada kakaknya itu, sementara Seulong hanya membalasnya dengan tatapan mengejek.

 

“Aku ini bukan troublemaker, Oppa. Seenaknya saja menuduhku ingin mengacaukan banyak hal.” Gerutu Yoona kesal. Bibirnya dikerucutkan memperlihatkan bahwa ia sama sekali tidak tertarik dengan topik pembicaraan itu. Apalagi bila harus kembali membahas kenakalannya yang sudah meminta Hyeri menggantikan dirinya untuk bertemu Siwon pada pertemuan pertama.

 

“Hey lihatlah wajahnya memerah!” tunjuk Seulong pada Yoona yang sedang meyandar malas di sofanya. Semua mata tertuju pada Yoona dan membuatnya salah tingkah hingga tanpa sadar ia merapatkan posisi duduknya dengan Siwon yang ada di sebelahnya. “Mungkinkah kau malu karena kami membahas hubunganmu dengan tunanganmu?” godaan Seulong kali ini lebih frontal.

 

Yoona membelalakkan matanya tidak senang, sekilas tampak seringaian di wajahnya. Ingin sekali rasanya Yoona menghampiri Seulong yang duduk berseberangan dengannya dan kemudian mencekik leher kakaknya itu. “Yak, Oppa!! Berhentilah berbicara hal yang aneh begitu!” omel Yoona kesal. Semua orang yang melihat tingkahnya itu menjadi susah payah menahan tawa. Suatu pemandangan yang tidak biasa melihat Yoona merasa terpojok karena urusan cinta di dalam keluarganya.

 

“Kau tidak perlu mengelak, Yoong. Lihat saja sekarang kau sudah menempel erat seperti perangko dengan Siwon. Hmm… jadi sekarang kau ingin menunjukkan kemesraan kalian ya?” timpal Yuri membuat semua orang semakin menatap lekat pada Yoona yang duduk rapat dengan Siwon di sofa. Bahkan Yoona tak menyadari sedari tadi tangan memegang lengan Siwon. “Manis sekali bukan? Tadi saja aku lihat Yoona baru mendapat hadiah Rilakkuma dan sebuket mawar merah. Bukankah Siwon itu romantis sekali, Yoong?”

 

Siwon menoleh pada Yoona dengan mengulum senyumnya susah payah. Yoona membalas Siwon dengan tatapan yang seolah berkata ‘kau-sedang-lihat-apa?’. Siwon sudah tidak bisa menahan senyumanya. Matanya beralih kepada tangan Yoona di lengannya. Yoona mengikuti arah pandangan mata Siwon dan baru manyadari apa yang menjadi tertawaan keluarganya. Praktis Yoona melepaska tangannya dan menjauhkan tubuhnya dari Siwon. Namun sepertinya Yoona gagal menjauh karena tubuhnya sudah terhalang lengan sofa.

 

Gelak tawa akhirnya memenuhi ruangan itu, membuat Yoona semakin tersudut karena tingkah keluarganya. Sementara Siwon mengacak rambut Yoona pelan, dan memandang Yoona dengan penuh kemenangan seperti halnya meneriakkan pada Yoona bahwa ia mendapat dukungan besar dari keluarga Im. Yoona hanya bisa mendesah pelan, pasrah menerima perlakuan keluarganya yang benar-benar kompak menggodanya di depan Siwon.

 

“Siwon-ssi…” panggil Yuri setelah mereka selesai dengan acara tertawa bersama itu. Siwon mengedarkan pandangannya kepada Yuri, memberitahukan bahwa ia mendengar panggilan Yuri. “Kau akan datang ke acara pernikahanku minggu depan kan? Aku tahu kau orang yang sibuk, tetapi aku harap kau tidak akan membiarkan Yoona sendirian tanpa pasangan pada momen indah keluarga kami.” Yuri menggigit pelan bibir bawahnya seraya melirik Yoona. Adiknya itupun melemparkan tatapan membunuhnya.

 

“Tentu saja aku akan datang. Keluarga Im sebentar lagi juga akan menjadi keluargaku.” Semua anggota keluarga Im mengangguk setuju – kecuali Yoona yang masih bertahan dengan menekuk wajahnya. Tuan Im sangat senang dengan Siwon yang terlihat sangat nyaman berada di tengah keluarga mereka. “Tetapi aku tidak menyangka kau mempercepat pernikahanmu, Yuri-ssi.”

 

“Oh, itu… Tadinya aku tidak berniat mempercepatnya, tapi orang tua Jong Woon Oppa yang menginginkan agar tanggal pernikahannya dimajukan karena untuk beberapa bulan ke depan mereka akan sibuk dengan urusan pekerjaan.” Ujar Yuri mendapat anggukan paham dari Siwon. “Setidaknya aku akan merasa lega tidak akan dilangkahi oleh adikku!” tiba-tiba Yuri memekik gembira.

 

“Ya, kau benar, Yuri-ssi. Kalau kau sudah menikah, itu artinya aku juga bisa lebih cepat menikahi Yoona tanpa halangan kan?! Segera setelah Yoona menyelesaikan kuliahnya, aku bisa langsung menculiknya untuk…aww!!!” erangan Siwon membuatnya batal melanjutkan kalimatnya. Yoona mencubit perutnya tanpa ampun karena kesal dengan Siwon yang tiba-tiba saja mengatakan sesuatu yang membuat telinganya panas. Sesaat keluarga Im terperangah, tetapi setelah itu mereka kembali menahan senyum dengan tingkah pasangan yang duduk bersebelahan di depan mereka itu.

 

♣♣♣♣♣

Yoona duduk dengan gelisah di sebuah sofa dalam ruangan yang terasa hangat dengan cat putih dan tatanan rapi di setiap sudutnya. Tangannya berulang-ulang mengelus sebuah undangan bewarna silver yang di atasnya terukir nama Yuri dan Jong Woon. Yoona berniat mengantarkan undangan pernikahan kakaknya untuk Donghae. Ia memutuskan untuk memberikannya sendiri saat mendapati ada nama Donghae dalam daftar undangan yang akan disebar. Donghae diundang sebagai salah satu partner kerja Seulong yang pernah terjalin beberapa tahun yang lalu. Dan karena hubungan partner itu juga Yoona akhirnya bisa bertemu dengan Donghae.

 

Saat ini pikiran Yoona sedang bercabang kemana-mana. Ia bersikukuh mengantarkan undangan kepada Donghae. Yuri sempat menatapnya curiga, namun dengan beragam alasan manis yang diajukan Yoona akhirnya mampu meyakinkan Yuri bahwa tidak ada niat terselubung dari permintaannya itu.

 

Berulang kali Yoona menghela napas, menghilangkan kegugupannya. Ini pertama kalinya Yoona datang ke kantor Donghae, setelah sebelumnya ia menelepon ingin bertemu. Donghae meminta Yoona datang ke kantornya karena cukup sibuk dan tidak bisa berlama-lama meninggalkan pekerjaannya. Dengan langkah berat Yoona menyanggupi permintaan Donghae. Sebenarnya niat Yoona menemui Donghae tidak hanya sekedar mengantarkan undangan tetapi juga melanjutkan pembicaraan terkait kejelasan hubungan mereka yang sempat tergantung. Yoona menyadari bahwa perasaannya untuk Donghae masih ada dan cukup besar untuk diperjuangkan. Tetapi semua jadi sedikit sulit dan rumit ketika ia menyadari bahwa Siwon sudah mulai mengganggu pikiran dan hatinya. Yoona tidak ingin salah mengambil keputusan dan melukai banyak orang terutama Donghae. Pria itu terlalu baik hingga Yoona akan merasa melakukan dosa besar bila ia menyakiti perasaan Donghae.

 

“Maaf bila kau menunggu lama, Yoong.” Suara Donghae membuyarkan lamunan Yoona. Donghae mengambil posisi duduk di sebelah Yoona di sofa yang sama dengan memberi jarak di antara tubuh mereka. Yoona tersenyum kaku menyambut Donghae yang baru saja kembali dari ruang meeting. “Jadi kau bersedia datang ke kantorku untuk mengantarkan apa? Aku penasaran sekali…” suara Donghae tetap saja terdengar hangat dan lembut di telinga Yoona.

 

Sedikit tergagap Yoona menyodorkan undangan pernikahan Yuri pada Donghae. Kernyitan di dahi Donghae menyiratkan bahwa pria itu merasa bingung dan nyaris mencelos hatinya ketika satu ide bahwa yang menikah adalah Yoona spontan membuatnya panas dingin. “Ini… undangan pernikahan kakakku, Yuri. Oppaku yang mengundangmu datang ke acara resepsi pernikahan ini.”

 

Tidak dipungkiri Donghae sedikit bernapas lega karena yang ia takutkan ternyata hanya sekedar pikiran buruk semata. “Oppamu? Maksudmu Im Seulong-ssi?” tanya Donghae meyakinkan dirinya. Yoona mengangguk mantap dan Donghae tampak sedikit berpikir. Kernyitan di keningnya memperlihatkan bahwa pria itu  masih tidak percaya dan merasa cukup beruntung.

 

“Ternyata Im Seulong-ssi masih mengingatku? Ah.. Bagaimana kabarnya sekarang? Aku dengar perusahaan yang dijalankannya di Macau sangat baik dan sukses.”

 

“Ne, Seulong Oppa baru saja kembali untuk menghadiri pernikahan Yuri Eonni. Tentu saja Seulong Oppa masih mengingatmu, dia bilang Oppa adalah partner kerja yang hebat.” Puji Yoona untuk Donghae.

 

“Benarkah begitu? Wah, aku sunggu tersanjung mendengarnya.” Donghae merasakan ada sesuatu yang membuncah di dadanya. Entah mengapa ia merasa sangat senang dengan undangan yang dikirmkan Seulong padanya melalui Yoona. Donghae mulai berpikir bahwa sudah tiba saat baginya untuk mengambil kesempatan mendekatkan diri pada keluarga Im, tentunya demi kelanjutan hubungannya dengan Yoona. Apalagi selama ini Yoona selalu menolak bila Donghae hendak melakukan kunjungan ke rumahnya.

 

“Oppa akan datang kan?” tanya Yoona ragu.

“Tentu saja aku akan datang. Suatu kehormatan bagiku mendapat undangan dari keluarga Im.” Donghae memberanikan diri untuk menyentuh tangan Yoona. Kemudian memberinya sedikit tekanan hingga menularkan rasa hangat yang selanjutnya menyebar di seluruh tubuh Yoona.

 

Sedikit tarikan napas yang panjang, Yoona kemudian menoleh dan menatap Donghae dalam. “Oppa, ada yang ingin aku beritahukan padamu dan ini ada hubungannya dengan kita.” Suara Yoona terdengar kikuk dan ada keraguan yang tersirat di dalamnya.

 

“Apa kau akan memberiku jawaban Yoong?” Donghae seketika tampak bersemangat, tetapi juga jantungnya berdegup kencang. Yoona menatap Donghae dengan sorot mata penuh penyesalan. Donghae mampu menangkap sinyal tidak menyenangkan dari tatapan mata itu. Ia mulai merasa mimpi buruk akan segera menghampiri.

 

“Sebelumnya, maafkan aku bila nantinya kau menganggapku sudah mengecewakanmu karena sikapku yang tidak jelas. Tapi sesungguhnya aku memang menyukaimu sejak lama, bahkan ketika Oppa masih berada di London aku masih tetap berharap pada Oppa. Seandainya Oppa kembali ke Korea, aku akan menyatakan perasaanku padamu. Tapi…” leher Yoona tercekat hingga sulit rasanya melanjutkan kalimatnya. Sedangkan Donghae tetap diam menatapnya sekaligus menyiapkan hatinya untuk mendengar kabar terburuk.

 

“…tapi semuanya rusak seketika karena Ayahku berniat menjodohkanku dengan anak sahabatnya. Saat itu aku merasa tertekan, dan aku juga tidak bisa berbuat apa-apa. Aku terpaksa menerimanya, walau tak sedikitpun aku mengenal siapa pria itu. Apalagi saat itu aku tak punya alasan apapun untuk mempertahankan egoku karena aku tak bisa membawa siapapun untuk kujadikan penolakan.”

 

“Yoong…”

“Oppa, tolong dengarkan aku dulu. Ketika kau kembali, aku merasa aku punya harapan. Tetapi seiring berjalannya waktu dan saat aku tahu perasaanmu, aku merasa sangat bersalah. Aku sudah terjebak. Aku tahu bagaimana perasaanku padamu, tapi aku juga tak bisa menyingkirkan orang itu begitu saja.”

 

“Jadi, aku sudah kalah? Apa aku sudah kehilangan kesempatanku?” tanya Donghae pelan. Yoona menggeleng lemah. Wajahnya tampak kuyu, dan matanya berkaca-kaca. Hanya kata maaf pelan yang berbisik dari mulutnya. Yoona menyentuh tangan Donghae yang masih berada di atas tangannya dengan tangan satunya yang bebas.

 

“Aku mohon padamu, Oppa. Jika kau memang menyanggupi undangan itu, saat kau hadir dan melihatku disana bersama orang itu, aku mohon… bersikaplah seolah kita tak saling mengenal. Aku mohon… lakukanlah demi aku dan dirimu sendiri. Aku tahu ini mungkin menyakitkan, dan aku pun merasa sakit. Oppa boleh memakiku sekarang karena aku sungguh tak pantas menerima perasaanmu.” Yoona tertunduk sedih dan menatap pada genggaman tangannya dan Donghae.

 

Donghae menghela napas berat. Tanpa pikir panjang, Donghae memeluk Yoona erat. Itu adalah pelukan pertama di antara mereka, yang pertama dan terasa menyakitkan. “Aku mengerti, Yoong. Tidak ada yang perlu disalahkan, karena siapapun pasti sulit mengendalikan perasaan. Justru aku prihatin karena kau pasti sangat tertekan. Aku mengerti Yoong…”

 

“Mianhae, Oppa… Mianhae…” bisik Yoona seraya menenggelamkan wajahnya di bahu Donghae. Air matanya menetes di atas kemeja Donghae, tapi Yoona sangat mampu menahan sedu sedannya saat itu. Donghae Oppa, kenapa kau terlalu baik? Kau selalu saja mampu bersikap lembut dan pengertian. Kalau begini sulit rasanya bagiku untuk melangkah maju. Maafkan aku yang sudah menyakitimu dengan kebimbanganku dan kebodohanku, sesal Yoona dalam hati.

 

“Saranghae… Im Yoona,” Donghae membisikkan kalimat itu di telinga Yoona, sementara satu tangannya masih dengan lembut mengelus kepala Yoona. Donghae kecewa merasakan tubuh Yoona menegang dalam pelukannya. Aku tahu kesempatan untukku masih ada, Yoong. Aku akan memanfaatkan celah sekecil apapun itu untuk membuatmu berada di sisiku. Dan satu hal yang menjadi kekuatanku, bahwa kau mencintaiku, Donghae membatin.

 

♣♣♣♣♣

Setelah momen pengungkapan hatinya kepada Donghae, Yoona merasa hari-harinya berlalu dengan tidak menyenangkan. Sungguh sulit rasanya untuk meyakinkan hatinya bahwa yang sudah ia lakukan tempo hari bukanlah suatu kesalahan. Yoona telah mencoba jujur, dan memberi pengertian pada Donghae. Tetapi hatinya terkadang merasa tidak rela, ia takut setelah ini Donghae akan membencinya dan benar-benar menjauhinya.

 

Yoona sangat sadar bahwa sangat tidak mudah membunuh perasaannya pada Donghae. Yoona jelas masih menyukainya, mencintainya, bahkan mengharapkannya. Lantas bagaimana dengan Siwon? Pria itu memang mengurangi intensitas kerepotannya mengganggu Yoona selama beberapa hari terakhir. Bahkan Siwon yang biasanya menelepon seperti jadwal minum obat, kini tak satupun panggilan atau pesan yang datang darinya. Apakah Yoona merindukan Siwon? Ah, lihatlah Yoona menggeleng-gelengkan kepalanya kuat, berharap bisa menyingkirkan bayangan wajah Siwon dari pikirannya.

 

Rasanya Yoona sudah berminggu-minggu terus berada di rumah dan itu membuatnya bosan. Apalagi jika ia dipaksa menjadi babysitter untuk keponakan kembarnya yang berusia lima tahun. Sungguh merepotkan! Itulah yang dikeluhkan Yoona. Dua keponakannya itu terkadang membuatnya stres. Ingin sekali Yoona mengepak kedua anak laki-laki itu dalam kotak dan mengirimkannya kembali ke rumah mereka di Macau. Tapi itu sangat tidak mungkin mengingat orang tua Yoona sangat menyayangi kedua cucu mereka, justru bisa jadi Yoona yang didepak dan dikirim ke Antartika karena bertindak yang aneh.

 

Sudah tiga hari belakangan Yoona sering menghubungi Baekhyun, namun sesering itu juga Baekhyun tidak menjawab teleponnya atau membalas pesan singkatnya. Yoona heran dengan anak itu, tidak biasanya ia menghindari Yoona bahkan pada saat Yoona ingin mengajaknya bermain. Mungkinkah Baekhyun malas bila nantinya kembali dipaksa Yoona untuk berperan menjadi kekasih palsunya? Yoona menyeringai yakin bila itu alasan Baekhyun menghindarinya.

 

Yoona memutuskan untuk menjemput Baekhyun langsung ke rumahnya. Ia ingin tahu apa sebenarnya yang sedang dilakukan sepupunya itu saat menghindarinya. Pelan-pelan Yoona melangkahkan kakinya memasuki rumah Baekhyun. Ia disapa oleh seorang asisten rumah tangga yang memberitahu bahwa Baekhyun sedang asyik bermain Playstation di ruang keluarga.

 

Baekhyun memang tampak tidak menyadari kehadiran Yoona di ruangan itu, ia masih asyik berpetualang dalam dunia virtual. Hingga ia mengeluh karena TV dan Playstationnya mati begitu saja. “Omo, kenapa mati? Apa terjadi pemadaman listrik?”

 

“Oh… Bacon!!!” teriak Yoona sambil mengacung-acungkan kabel power yang baru dicabutnya dari saklar. Baekhyun merinding mendengar suara yang sangat ia kenali itu, ia menoleh dan langsung membelalakkan matanya. Ternyata Yoona bukan khayalannya, tetapi memang sudah muncul di hadapannya dan tentunya menebarkan ancaman baginya.

 

“Hey… Yoona! Wah… kau datang mengunjungiku?! Ayo kita bermain Playstation bersama-sama!” sapa Baekhyun sok riang, berusaha menyembunyikan kekhawatirannya dan bersiap-siap disembur oleh Yoona dengan kata-kata setajam golok Cina.

 

“Aku datang kesini bukan untuk bermain Playstation! Aku kesini mencarimu dan ingin menginterogasimu. Jadi sebaiknya kau memberikan alasan yang tepat kenapa kau mengabaikan semua telepon dan pesan dariku, eoh!” Yoona berjalan dengan pose angkuh sambil melipat lengannya di depan dada mendekati sofa yang diduduki Baekhyun.

 

“Ah tidak apa-apa! Aku hanya…sibuk. Ya, aku sibuk sekali belakangan ini.” Baekhyun memberikan cengiran lebarnya sambil menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal. Yoona telah sampai di depan Baekhyun kemudian duduk tepat di sebelah Baekhyun.

 

“Benarkah kau sibuk? Apa yang kau maksud sibuk bermain game dan tidur-tiduran di rumah?” Yoona menyipitkan matanya, dan mendekatkan wajahnya pada Baekhyun. Sementara sepupunya itu hanya bisa menelan liur dan memundurkan kepalanya teratur karena terdesak oleh Yoona.

 

“I-itu a-aku…” Baekhyun ternyata tidak menemukan alasan yang tepat untuk menjawab Yoona. Segera ia mendorong bahu Yoona dan beringsut berdiri, untuk sementara kabur menjauhi Yoona. “Yak, kau ini kejam sekali pada sepupumu sendiri. Kau memang cocok dengan tunanganmu itu, kalian sama-sama mengerikan!” pekik Baekhyun.

 

“hah, tunangan? Maksudmu Choi Siwon? Ada apa dengan orang itu, bukannya kau sudah tahu sendiri bagaimana sikapnya kan?” Yoona menaikkan sebelah alisnya santai.

“Tidak! Choi Siwon lebih mengerikan dari yang kubayangkan. Selain ia berkuasa, orang itu juga penuh dengan obsesi!” lanjut Baekhyun dan cukup mengejutkan Yoona yang langsung duduk tegak serta memandang tajam pada Baekhyun.

 

“Apa maksudmu berbicara seperti itu? Ada yang kau sembunyikan dariku, Baekhyunnie?” tegas Yoona. Baekhyun menggeleng-geleng, namun tak mampu menyembunyikan kebohongannya dari mata Yoona. “Cepat ceritakan apa yang sudah terjadi, Baekhyunnie! Atau kau mau kucincang hidup-hidup?!!”

 

Flashback

 

“Baekhyun-ssi…” sapa seorang pria pada Baekhyun yang baru saja tiba di tempat parkiran kampusnya. Seorang pria tengah berdiri di sisi kanan kiri mobilnya, melipat tangannya dan tentu saja pria itu terlihat sangat keren.

 

Baekhyun membuka helmnya, menyempatkan diri melirik spion motornya untuk membenahi tatanan rambutnya yang dicat berwarna perunggu. Sebenarnya Baekhyun sangat ragu untuk berjalan mendekati pria yang sudah memanggilnya tadi, tetapi sangat tidak mungkin pula baginya untuk melarikan diri mengingat hal apa yang mengaitkan dirinya dengan pria itu.

 

“Choi Siwon-ssi, kau datang kesini untuk mencariku?” tanya Baekhyun dengan suara seriang mungkin, padahal jauh dalam hatinya Baekhyun bergetar khawatir dengan situasi ini. Siwon membalasnya dengan senyum simpul sekilas. Kini wajah pria itu tampak memasang mimik serius dan tentunya aura dingin dan horor menyebar begitu saja di antara mereka. “Untuk apa kau menemuiku, Siwon-ssi?” tanya Baekhyun lagi.

 

“Membuat perhitungan denganmu!” Siwon berkata singkat saja.

“Perhitungan? Aku rasa aku tidak berhutang padamu. Jadi untuk apa kita berhitung-hitung, aku tidak suka matematika.” Ujar Baekhyun polos. Siwon menyeringai geli melihat tingkah Baekhyun.

 

“Aku sungguh tidak tahu apa yang dilihat Im Yoona dari seorang Byun Baekhyun. Menurutku kau sama sekali tidak menarik. Mungkin kau memiliki babyface tapi kelakuanmu juga ikut menjadi childish. Kau sama sekali bukan orang yang tepat untuk Yoona.” Kata Siwon dengan nada tajam. Baekhyun paham betul jika kedatangan Siwon akan membahas soal hubungan Yoona dan dirinya.

 

“Apa maksudmu, Siwon-ssi? Kenapa kau membahas wajahku? Aku rasa Yoona punya hak penuh untuk menyukai siapa saja dan berhubungan dengan siapa saja. Kau ini berbicara seolah kau adalah orang yang paling tepat untuk Yoona.” Protes Baekhyun penuh kekesalan.

 

“Tentu saja! Kau tahu siapa aku kan, Baekhyun-ssi. Aku adalah orang yang tepat untuk Yoona karena aku bisa menyayanginya, mencintainya, dan menjaganya. Aku tak suka ada orang yang berusaha menggangguku. Oleh karena itu, aku harap kau bersedia menjauhi Yoona. Putuskan hubunganmu dengannya dan jangan pernah lagi muncul di hadapannya.” Tegas Siwon dan mentapa tajam pada Baekhyun.

 

“Kenapa aku harus menjauhinya? Bagaimana kalau aku tidak mau?” Baekhyun jadi sewot karena memang tak ada seorangpun yang bisa melarangnya bertemu dengan Yoona, sepupunya sendiri.

“Maka kau akan mendapati hidupmu menjadi sulit… penuh kesulitan. Kau bahkan tidak akan merasa tenang berada di kampus ini, Baekhyun-ssi.”

 

“Jadi kau mengancamku, Siwon-ssi? Hahaha… Lucu sekali! Kau memang orang yang berkuasa, tapi kau seperti tak berdaya bila berurusan dengan Yoona!” Baekhyun tergelak, padahal sesungguhnya ia menyembunyikan rasa takut dan khawatir dalam dirinya. Ia tahu bahwa Siwon sangat serius dengan kata-katanya. Tetapi menjadikannya sebuah lelucon pasti akan menyenangkan. Yah… setidaknya melihat Siwon merasa tertindas dan tertipu dengan semua rencana dan muslihat yang dibuat oleh tunangannya sendiri. “Aku tidak bisa menjauhi Yoona, tidak akan bisa. Karena aku adalah sepupu Yoona, bukan kekasih Yoona seperti yang kau bayangkan. Kau sudah tertipu, Siwon-ssi.”

 

Mwo? Jadi semua hanya sandiwara?” jelas terlihat kalau Siwon merasa sangat kesal. Ia mengusap wajahnya dan berpikir sebentar. Baekhyun merasa cukup puas mendapat sedikit kesempatan untuk memojokkan Siwon. Hal itu merupakan satu hal istimewa baginya setelah untuk beberapa lama ia sungguh menghindari berurusan dengan pria itu. “Kalian berani sekali mempermainkanku! Aku yakin ini semua ide Yoona.”

 

“Ya begitulah. Kau kan tahu sendiri kalau Yoona tidak bisa diremehkan begitu saja.” Baekhyun mengeluarkan cengiran imutnya tetapi sama sekali tak mendapat perhatian Siwon. “Hyung… sudahlah. Kau jangan terlalu memaksakan diri pada Yoona. Tidak ada seorang wanitapun di dunia ini yang suka dipaksa. Justru hal terburuk yang bisa terjadi, Yoona akan benar-benar lari darimu.” Baekhyun langsung berganti ‘mode’ menjadi anak manis yang sok bijaksana. Ia tampak antusias mengelus-elus lengan Siwon, seolah memberikan dukungan bagi pria itu.

 

“Aku tidak butuh nasehatmu, Baekhyun-ssi!” Siwon berbicara ketus. “Dan tetap lakukan seperti yang kukatakan tadi. Untuk sementara jauhi Yoona. Aku ingin melihat bagaimana reaksinya. Dan aku juga ingin gadis itu tahu bahwa ancamanku padanya bukan hanya sekedar gertakan.”

“Bagaimana kalau aku tidak mau?”

“Maka aku akan melaksanakan ancaman yang kukatakan tadi padamu!”

 

End of Flashback

 

♣♣♣♣♣

 

Terdengar suara perdebatan yang cukup berisik di depan pintu ruang kerja Siwon di kantor pusat Hyundai Group. Tak lama kemudian terdengar suara debum dari pintu yang sengaja dibanting oleh seseorang. Yoona berjalan sedikit kesulitan karena lengannya yang masih berusaha ditarik oleh seorang pria paruh baya yang tak lain adalah sekretaris Siwon.

 

“Oppa!!” teriak Yoona menggema di seluruh ruang kerja Siwon, membuat pria itu mengalihkan perhatiannya dari berkas-berkas yang sedang dibacanya. Yoona berdiri di depan meja Siwon, memandangnya sinis dan penuh amarah.

 

“Maafkan saya, Sajangnim. Nona Im memaksa untuk masuk, dan saya kesulitan mencegahnya,” sesal Sekretaris Kim.

“Tidak apa-apa Sekretaris Kim. Tunanganku memang keras kepala dan sulit dikendalikan. Sekarang tolong tinggalkan kami berdua.” Perintah Siwon pada sekretarisnya. Pria paruh baya itu kemudian meninggalkan ruang kerja Siwon dan menyisakan kedua orang yang tampak sudah menyiapkan golok terasah.

 

“Keras kepala dan sulit dikendalikan? Jadi itu yang kau pikir tentangku, Oppa?” tanya Yoona sarkatis. Siwon hanya menaikkan sebelah alisnya sinis. “Baguslah kalau begitu! Aku kan jadi bebas melakukan apa saja sesukaku…”

“Ada apa kau datang kesini dalam keadaan emosi tingkat tinggi begitu, Sayang?”

Yoona menyeringai sebal, pria di depannya itu sungguh kebal intimidasi. “Tentu saja ini soal Baekhyun! Apa yang sudah kau lakukan padanya hingga Baekhyun tidak mau menemuiku? Bahkan menjawab teleponku saja ia tidak mau!” sembur Yoona.

 

“Aku hanya mengatakan padanya tentang hal-hal yang seharusnya dilakukannya. Menjauhimu dan meninggalkanmu.” Ucap Siwon santai.

“Menjauhiku dan meninggalkanku? Kenapa Baekhyun harus melakukannya? Dia itu kan…”

“Sepupumu?” potong Siwon begitu saja. “Aku sudah tahu. Ternyata anak itu penurut juga. Jadi sekarang kau tahu kan kalau semua ancaman yang pernah kukatakan padamu tidak main-main?”

 

Yoona menarik napas panjang kemudian menghelanya. Ia tidak habis pikir bahwa tunangannya benar-benar penuh obsesi dan sangat posesif. “Ya Tuhan, kenapa harus seperti ini!” Yoona menarik rambut atasnya dan menyisirnya kebelakang sebagai ungkapan frustasi. “Oppa, apa kau sudah gila, hah? Tidakkah kau berpikir kalau kau sudah keterlaluan?”

 

“Semua yang kulakukan masih dalam batas wajar. Tidak ada yang salah dengan itu.” Jawab Siwon penuh ketenangan.

“Kalau begitu sebentar lagi aku yang akan jadi gila!” teriak Yoona kesal, dan berlalu meninggalkan ruang kerja Siwon.

“Yoona-yah!!” tak sedikitpun Yoona menggubris panggilan Siwon. Ia terus saja membuka pintu dan keluar dari ruangan itu.

 

Sampai di luar ruangan, Yoona yang ingin segera berlalu pergi tak sengaja menabrak tubuh seorang wanita. “aww!!” erang wanita itu. “Hey, kalau jalan gunakan matamu!” hardiknya kasar. Yoona melirik sinis wanita itu dan tak mengeluarkan suara apapun. “Kau bukannya wanita murahan yang ada di Cassino waktu itu kan?”

 

“Apa? Wanita murahan? Mulutmu itu pantas untuk disekolahkan! Benar-benar tidak sopan!” umpat Yoona yang sedari awal memang sudah emosi, ditambah dengan kehadiran Young Ran di hadapannya membuatnya semakin illfeel.

 

“Yak, memang kenyataannya begitu! Kau berani-beraninya mencium pria-ku di depan umum dan sudah berani menamparku pula. Dasar tidak tahu diri!” balas Young Ran memaki Yoona.

“Cih, aku menamparmu karena kau yang tidak tahu diri sembarangan menamparku. Kau bilang apa tadi, aku mencium pria-mu? Hei… justru orang yang kau sebut pria-mu itulah yang lebih dulu memaksa menciumku! Kau saja yang bodoh, mau saja menjadi mainan Choi Siwon. Dasa wanita penggoda murahan!”

 

Plakk!! Pipi mulus Yoona menjadi sasaran tamparan Young Ran. “Kau jangan sembarangan menghina kekasihku, bitch!” Young Ran meneriakkan kalimatnya tetapi langsung terhuyung karena sebuah tinju melayang dari Yoona, tepat dihidungnya.

 

“Aku sudah pernah memperingatkan padamu untuk berhati-hati jika berurusan denganku. Sebutan ‘bitch’ lebih pantas untuk kau yang menyandangnya. Dan aku sungguh kasihan padamu, kau merasa menjadi kekasih Choi Siwon? Cih, kau itu hanya kekasih yang tak dianggap. Sampai kapanpun Choi Siwon hanya akan tertarik padaku, Tu-na-ngan-nya!!” Yoona menatap galak pada Young Ran yang sedang berusaha menghapus darah yang keluar dari hidungnya akibat pukulan Yoona barusan.

 

“Kau pikir aku percaya? Kau hanya wanita murahan yang merasa menjadi tunangan kekasihku! Aku tidak akan mengampunimu!! Yaaaakkk….” Secara mengejutkan Young Ran menerjang Yoona hingga pergumulan tak dapat dielakkan. Kedua wanita itu saling serang, memukul, menjambak, dan mencakar. Bergantian mereka meneriakkan umpatan dan makian sambil berguling-guling tidak karuan. (udah kayak Jupe sama Depe hehehe –___–)

 

Dari dalam ruangan Siwon mendengar jeritan-jeritan wanita. Suara-suara itu sungguh mengganggu dan membuat keributan di dekatnya. Siwon bangkit dari kursi kebesarannya dan bergegas keluar ruangannya untuk melihat apa yang sedang terjadi. Alangkah terkejutnya Siwon melihat pertengkaran dua wanita di depannya.

“Hey, apa yang kalian lakukan!” teriaknya. Tetapi tak sedikitpun pergumulan Yoona dan Young Ran berhenti, mereka seolah sama sekali tidak mendengar teriakkan Siwon.

 

Donghae yang baru saja tiba di kantor Siwon pun tak luput menyaksikan kejadian itu. Donghae kaget melihat salah satu wanita yang sedang aktif berkelahi itu adalah seseorang yang dikenalnya. “Ya ampun, Yoong!!” pekiknya. Secara bersamaan Donghae dan Siwon berusaha melerai perkelahian itu. Keduanya berusaha menarik satu sama lain agar Yoona dan Young Ran terpisah dan menghentikan perkelahian mereka.

 

Akhirnya mereka berhasil terpisah. Donghae sukses menarik Yoona menjauhi Young Ran yang ditarik oleh Siwon. Tetapi keduanya masih terus memberontak minta dilepaskan untuk melanjutkan perseteruan mereka yang berisi teriakan-teriakan yang memekakkan telinga.

“Donghae Oppa, lepaskan aku! Biar aku beri pelajaran pada wanita kampung murahan itu!” Yoona memberontak sekuat tenaga untuk melepaskan diri dari pelukan Donghae.

“Yoong, tenanglah! Kita bisa menyelesaikan semuanya tanpa harus adu pukul!” rayu Donghae sambil terus memeluk pinggang Yoona erat.

 

Sementara di sisi lain, Siwon dengan mudah menghentikan aksi teatrikal Young Ran dengan satu bentakan keras, “Hey, Young Ran diamlah dan berhenti berteriak!” Young Ran secara ajaib langsung tenang karena merasa senang dengan sentuhan Siwon di kedua bahunya. Young Ran tersenyum licik dan menatap penuh kebencian pada Yoona. Sedangkan Siwon masih melihat dengan tak senang pada pemandangan di depannya, Donghae dan Yoona.

Donghae memeluk Yoona begitu erat sambil berusaha menenangkannya! Dan Yoona menyebut-nyebut nama Donghae di sela teriakannya. Ada apa ini, apa mereka saling mengenal? Siwon bertanya-tanya dalam hati.

 

Yoona yang sudah merasa tenang dan berhenti memberontak kini juga melemparkan sorot mata galak dan penuh kebencian pada Young Ran. Sesekali ia melirik pada wajah Siwon yang berada di belakang kepala Young Ran. Yoona mengatupkan bibirnya dan merapatkan giginya.

Kenapa Siwon Oppa lebih memilih menarik wanita murahan itu dibanding diriku? Benar-benar mengesalkan dan sulit dipercaya!, gerutu Yoona dalam hati.

 

Sekarang Siwon, Yoona, dan Donghae telah bertemu dan berada dalam satu tempat yang sama. Mereka saling berhadapan dan bertatapan. Satu sama lain memiliki cara pandang, pemikiran, dan pertanyaan yang berbeda-beda dalam diri mereka. Apakah takdir yang telah mempertemukan mereka semua akan segera membuka segala rahasia yang tersimpan baik selama ini? Apakah semuanya akan tahu seberapa rumit hubungan mereka selanjutnya setelah pertemuan ini? Sepertinya mereka semua harus mempersiapkan diri dan mental dengan baik untuk mengahadapi semua kemungkinan yang akan terjadi selanjutnya.

 

To Be Continued…

 

Segitu dulu deh untuk chapter ini, semoga readers suka dan tidak kecewa. Sorry kalau ada adegan-adegan aneh dan garing. Kira-kira bagaimana kelanjutan ceritanya? Donghae – Yoona – Siwon sudah bertemu di satu tempat dan saling bertatapan, apakah situasi dan rahasia yang selama ini tersembunyi akan terbuka lebar? Bagaimana reaksi mereka semua? Nantikan di Chapter selanjutnya…

NB: Thanks for posting this story again, Resty and Echa,,, ^^ (you’re welcome 🙂 )

Iklan
Tinggalkan komentar

188 Komentar

  1. Ow..ow..ow… Peperangan akan segera dimulai…

    Balas
  2. Novi

     /  Februari 12, 2015

    Ceritanya makin seru…
    Yoona galak bangett..
    Kekeke..
    Gag sabar next chapt nya… 🙂

    Balas
  3. Zhahra

     /  Maret 25, 2015

    Yaaaah….. Apa” an young ran ituu…
    Berani”nya dia mukul yoona unni….
    Awas aja dia…
    Wonpa juga gitu…
    Kenapa malah narik young ran bukan yoona unni…
    Gawat hae oppa dan wonpa udah ketemu…

    Balas
  4. jessica natasya

     /  Juli 11, 2015

    Wah… Daebak!!! Akhirnya YoonSiHae bisa bertemu tanpa di duga. Jadi mkn penasaran bc chpter sljntnya!
    Semangat ya author!!!

    Balas
  5. devica nuranda

     /  November 20, 2015

    daebak baca ff ini membuat perasaan ikut campur aduk

    Balas
  6. My labila

     /  April 9, 2016

    serep yg tengah dan akhir aja bacanya mumpung sinyal lagi sadar, kasihan baekhyun di ancam dan akhirnya ngaku kalau dia cuma sepupunya yoona, yoona cemburu ya.

    Balas
  7. Cerita’a makin seru..perang dunia YoonWonhae akan segera di mulai..hohoho😁

    Balas
  8. AuliaYW

     /  Juli 13, 2016

    Siwon oppa romantis ne..
    Terungkap sudah law baekhyun adlh sppunya Yoona eonni bkan kekasih Yoona eonni..
    Sbel sami Siwon oppa malah mlih narik tu Yeoja genit & murahan itu drpda Yoona eonni..
    Bakalan terungkap nhe di antra hub.an YoonWonHae..

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: