[FF] Cinderella After Midnight (Chapter 7)

cinde copyAuthor : misskangen ‖ Length : Sequel ‖ Genre : Romance ‖ Rating : Mature ‖ Main cast : Im Yoona, Choi Siwon / Andrew Choi ‖ Support cast : Kim Tayeon, Bae Suzy ‖ Disclaimer : This story is mine instead of the plot and characteristics, but the casts are belongs to themselves and god.

CINDERELLA AFTER MIDNIGHT : CHAPTER 7

“Kau ingin aku menyingkirkan Choi Ahjussi? Itu tidak mungkin dan tidak mudah!”

“Kenapa tidak mungkin? Aku pikir itu mudah saja. Ketika kau bersamaku, hanya aku yang akan ada dalam pikiranmu. Hanya aku yang perlu kau ingat dan hanya akan ada cerita tentang kita berdua di saat kita bersama.”

“Jadi kau ingin aku mengkhianati suamiku, bahkan sudah dimulai saat aku masih menjalani bulan madu? Kurasa pikiranmu sedang terganggu.”

“Kau begitu mudah mengakuinya sebagai suamimu, tapi sepertinya sulit sekali mengakuiku sebagai kekasihmu. Apa aku salah jika aku menginginkan wanita yang kucintai selalu ada di sisiku dan hanya ada aku di hatinya?”

“Kau memang tidak salah dalam hal itu, Oppa. Tetapi keadaanlah yang salah, jika saja aku bisa memutar balik waktu maka aku akan berlari lurus ke pelukanmu tanpa memikirkan bencana apa yang mungkin menimpaku. Tapi aku sudah menikah, dan tak semudah itu membuatku selalu memikirkan kekasih yang notabene adalah keponakan suamiku.”

“Kau bisa melakukannya. Aku berani menjamin jutaan persen kalau Samchon tidak akan pernah ‘memprotes’ apapun soal hubungan kita yang ‘tersembunyi’ ini.”

Yoona masih terus terngiang-ngiang dengan percakapan terakhirnya dengan Siwon sebelum mereka berpisah setelah beberapa jam menghabiskan waktu bersama. Pikiran Yoona benar-benar terkuras untuk terus mempertimbangkan semua perkataan Siwon padanya. Apa mungkin baginya menjalani hubungan tersembunyi dengan pria yang baru saja mengakui perasaan cintanya saat dirinya berada dalam ikatan suci pernikahan? Sulit. Itu adalah jawaban yang akan dikatakan oleh setiap orang yang berpikir normal, yang sangat menghormati sumpahnya sendiri di depan Tuhan.

Tetapi Yoona, berpikir bahwa pernikahannya adalah suatu keterpaksaan tanpa diikuti rasa cinta maupun ketertarikan. Yoona hanya sempat mengagumi suaminya – Andrew Choi – si pria paruh baya yang memiliki sejuta pesona dari ketampanan wajah dan segala kekayaannya. Statusnya baru saja menyandang gelar ‘Nyonya’ untuk salah satu anggota keluarga Choi dari Hyundai Group yang terhormat, tetapi baru beberapa jam hal itu diresmikan kini sudah muncul godaan saat anggota keluarga Choi yang lainnya meminta Yoona menjadi seorang ‘kekasih’ dengan sejuta janji surga untuk dilimpahi cinta.

Haruskah Yoona mengikuti egonya, memilih menggapai cintanya dan secara terang-terangan menyelingkuhi sang suami dengan pria muda nan rupawan yang telah merebut hatinya sejak lama? Tidak akan semudah itu. Yoona meyakinkan dirinya bahwa jawabannya adalah kesulitan luar biasa untuk terus menerus menyembunyikan perasaannya maupun hubungannya dengan Siwon – yang ia tahu adalah ‘keponakan’ Andrew Choi. Lalu bagaimana kelanjutannya di masa depan? Entahlah, itu hanya akan membuat kepala Yoona pusing.

Sekarang yang harus dipikirkan Yoona adalah bagaimana kembali menjalani harinya dari waktu ke waktu ketika ia sedang bersama Andrew. Tanpa ia sadari, sedari tadi menatap Andrew dengan beragam pikiran. Sambil menikmati hidangan fusilli dengan saus mayonnaise dan mustard, Yoona mencoba membiasakan diri untuk berhadapan dengan Andrew ketika makan malam, setidaknya dalam rangka menghabiskan jatah bulan madunya di Paris.

“Mengapa kau memandangku seperti itu? Apa ada yang salah dengan wajahku?” tegur Andrew dan membuat Yoona tersadar dari lamunannya. Andrew membetulkan letak kacamatanya, kemuadian meminum segelas air putih tanpa melirik Yoona.

“Tidak ada yang salah dengan wajahmu, Ahjussi. Aku hanya berpikir ternyata kau tampan juga.” Jawab Yoona asal sambil menggigit bibir bawahnya menutupi kegugupannya akibat ketahuan memandangi wajah sang suami.

Jawaban Yoona membuat Andrew mengerutkan dahinya, tak lama kemudian ia mengangguk seolah mengerti apa yang dimaksud Yoona dengan kata-kata absurdnya. “Tentu saja, semua pria di keluarga Choi sangat tampan. Keluarga kami didominasi oleh pria-pria rupawan dengan beragam karakter dan daya tarik masing-masing.” Ujar Andrew dengan begitu percaya diri.

Spontan Yoona memutar bola matanya, ia tak pernah mengira bahwa pria berumur 42 tahun ini masih sangat mampu mengagung-agungkan kelebihan dari gen para pria yang berasal dari keluarga besarnya. Mungkin saja Andrew Ahjussi sedang promosi, terlebih untuk dirinya sendiri di hadapan wanita yang berstatus sebagai istrinya, pikir Yoona singkat.

“Mungkin kau ada benarnya, Ahjussi. Aku sama sekali tidak pernah melihat anak perempuan dari keluarga Choi. Aku hanya pernah bertemu Minho, adiknya Siwon.” Kalimat Yoona terhenti sesaat ketika menyadari ia menyebut nama Siwon. Hal itu membuatnya kikuk sendiri. “Ah, tapi mungkin karena aku masih baru mengenal keluarga Choi, jadi aku tidak terlalu tahu banyak hal,” dalih Yoona.

“Tidak, kau tidak salah. Memang sulit menemui wanita di keluarga Choi selain menantu-menantu. Hanya ada satu anak perempuan, namanya Choi Sulli, saudara kembar Minho. Saat ini dia sedang kuliah di luar negeri, suatu saat kau pasti akan bertemu dengannya.”

“Oh, aku yakin dia juga pasti sangat cantik, bila melihat gen turunan keluarga Choi yang kau katakan sangat istimewa itu,” puji Yoona sedikit tak ikhlas. Itu sama saja menerima kenarsisan Andrew walau mungkin kenyataan memang benar adanya. Yoona kembali menyendokkan fusilli ke dalam mulutnya dengan sikap secuek mungkin.

“Ya, Sulli termasuk anak yang manis sebagai satu-satunya anak perempuan keluarga Choi. Kau tahu, karena begitu sedikitnya makhluk perempuan di keluarga kami membuatku ingin punya beberapa anak perempuan. Kurasa tidak ada salahnya kalau anak pertama kita nanti perempuan…”

“uhukk..uhukk…” Yoona tersedak makanannya begitu mendengar perkataan Andrew. Cepat-cepat Yoona mengambil segelas air dan meminumnya dengan sedikit terburu-buru. Setelahnya, Yoona menarik napas untuk menenangkan diri dari serangan shock yang bisa saja datang menimpanya.

“Kau tidak apa-apa?” tanya Andrew sok khawatir, padahal sedari tadi pria itu mengulum bibirnya menahan senyum sekuat tenaga.

“Ne, aku tidak apa-apa. Aku hanya sedikit terkejut.” Jawab Yoona dengan senyum terpaksa.

“Kenapa kau terkejut? Apa karena aku menyebut ‘anak’? Aku pikir itu hal yang wajar untuk pasangan yang sudah menikah. Memangnya kau tidak ingin mempunyai anak dariku?” tanya Andrew setenang mungkin.

“Eh..itu..” tiba-tiba Yoona jadi panas dingin. Pertanyaan Andrew membuatnya tak berkutik. Semudah itu Andrew menyebutkan keinginan mempunyai anak pada wanita yang begitu ketakutan dengan pernikahannya sendiri. Lidah Yoona terasa kelu untuk memberikan jawaban, ia sama sekali tak bisa memberikan alasan yang tepat pada suaminya.

“Sudahlah, kau tak usah memaksa dirimu untuk menjawab pertanyaanku. Aku mengerti kalau kau belum siap. Lama kelamaan juga nanti kau akan terbiasa denganku dan sentuhanku.” Ucap Andrew dengan seringaian di wajahnya berupa senyuman indah. Namun apa yang telah dikatakan Andrew justru membuat wajah Yoona memerah.

“Ne, tentu saja.” Jawab Yoona pelan dengan gigi yang rapat dan senyuman kecut. Terbiasa? Ya ampun, bagaimana mungkin bisa begitu. Ternyata benar si Ahjussi pedofil ini sedang promosi, dan ujung-ujungnya aku yang menjadi korban, gerutu Yoona dalam hati.

♥♥♥♥♥

“Jadi semua kantong-kantong itu hasil kegiatan berbelanjamu seharian ini?” tanya Andrew dengan nada keterkejutan yang dibuat-buat sambil menunjuk ke arah tumpukan kantong belanjaan milik Yoona, seolah ia baru mengetahui apa yang dilakukan Yoona seharian penuh tanpa dirinya. Saat itu mereka sudah kembali ke kamar setelah menikmati makan malam dan berjalan-jalan sebentar mengunjungi L’Arc de Triomphe dan Palace de La Concorde.

Yoona mengangguk mantap dan menebarkan senyuman, “Ne, semua itu adalah barang-barang branded dengan kualitas selangit. Aku senang sekali bisa memiliki semua itu. Ahjussi, terima kasih atas kebaikanmu membebaskan aku membeli apapun yang aku inginkan.” Nada manja terdengar begitu kental dalam suara Yoona.

Andrew geleng-geleng kepala pasrah. Ternyata penyakit sophaholic yang dimiliki isterinya benar-benar sudah akut dan sepertinya perlu usaha super keras untuk menyembuhkannya. Meski Andrew tidak merasa keberatan atau akan bangkrut dalam sekejap karena hobi isterinya itu, tetap saja kebiasaan Yoona berbelanja tanpa pertimbangan tetap merugikan, setidaknya bagi Yoona sendiri. Jadi, Andrew sudah mulai memikirkan cara mengatasi kebiasaan ‘istimewa’ isterinya itu – tepat seperti yang diinginkan oleh Kim Taeyeon, bibi Yoona sendiri.

“kau yakin akan menggunakan semua itu? Memangnya kau membutuhkan semuanya?” tanya Andrew lagi. Yoona menghela napas kasar, ia merasa Andrew tidak senang dengan barang-barang yang baru dibelinya siang tadi. Kini Yoona memandang Andrew dengan tatapan kesal.

“Bukankah kau bilang aku boleh membeli apa saja yang aku inginkan?” gerutu Yoona.

“Tapi kan aku bilang ‘belilah sesuatu yang kau butuhkan’, bukannya membeli beragam aksesoris tidak penting seperti itu!” jawab Andrew ketus. “Lain kali kau harus pikir-pikir dahulu jika ingin menghabiskan uang untuk berbelanja.”

Yoona mencebikkan bibirnya kesal, ia berpikir bahwa lama kelamaan Andrew sudah seperti Bibi Kim yang suka sekali menginterupsi hobi belanjanya. “Terserahlah. Ternyata selain kaya dan gila kerja, kau juga orang yang pelit, Ahjussi!” teriak Yoona berbarengan dengan pintu kamar mandi yang tertutup dan Andrew masih dapat mendengarnya meskipun ia telah berada di dalamnya.

Yoona tampak duduk di atas ranjang sambil melipat tangannya di depan dada. Ia membuang muka saat Andrew keluar dari kamar mandi dan telah mengganti pakaiannya dengan piyama berwarna biru donker. Andrew berjalan mendekati Yoona dengan gaya arogannya.

“Kau ingin tidur dimana? Di ranjang bersamaku atau di sofa kesayanganmu?” goda Andrew dengan seringaian jahil. Yoona membalasnya dengan tatapan tajam.

“Aku dengan senang hati memilih menguasai sofa empuk dari abad 15 itu!” jawab Yoona memekik. Kemudian ia bangkit dan menarik selimut serta sebuah bantal dari atas ranjang. Yoona berjalan sedikit kesulitan dengan barang bawaannya itu. Andrew terkikik melihat tingkah Yoona yang dinilainya lucu.

“Tunggu sebentar, Yoona-yah.” Panggil Andrew. Yoona berhenti dan menoleh ke belakang, melemparkan tatapan penuh tanya pada pria itu.

“Besok aku masih harus berurusan dengan klien ku lagi. Sepertinya akan memakan waktu seharian, bahkan mungkin sampai menjelang malam. Kau ingin ikut bersamaku?”

Dengan cepat Yoona menggelengkan kepalanya. Ide Andrew untuk ikut bersamanya sama sekali tidak menarik. Yoona akan dengan senang hati memilih menghabiskan waktu menjadi turis tontonan gratis di tepian sungai Seine daripada lumutan menunggu negosiasi bisnis yang membosankan.

“Ah tidak, terima kasih atas tawaranmu, Ahjussi. Aku akan menghabiskan waktu untuk berjalan-jalan lagi saja. Kau bekerjalah dengan tenang, tak perlu mengkhawatirkan aku.” Ucap Yoona dengan cengiran aneh di wajahnya.

Andrew tersenyum penuh arti, sudah mengira kalau Yoona akan langsung menolak ajakannya. Andrew mengangguk pasrah, menerima penolakan sang isteri untuk pergi bersamanya. Itu artinya akan ada peristiwa-peristiwa lainnya yang terjadi di antara Siwon-Yoona-Andrew. “Baiklah, terserahmu saja. Aku harap kau bisa menggunakan uang secara bijak.”

Begitu selesai, Yoona segera berjalan cepat menuju sofa tidurnya. Sedikit merasa kesal karena lagi-lagi ia harus berakrab ria dengan sofa setiap malam selama bulan madunya, kecuali ia bersedia tidur bersama Andrew dan terus was-was jika pria itu melakukan hal-hal aneh padanya.

Yoona teringat bahwa esok hari ia akan ditinggal lagi oleh Andrew untuk urusan bisnis. Tidak sepenuhnya ditinggal karena Yoona lah yang ingin ditinggal. Jadi, Yoona mulai berpikir hal apa yang akan ia lakukan besok untuk membunuh waktu. Tak lama kemudian ia mengambil ponselnya dari atas meja di dekat sofanya dan menuliskan sebuah pesan. Yoona mengirimkan pesan itu kepada seseorang dengan jantung berdebar-debar. Yah, akhirnya Yoona nekat untuk melakukan hal yang satu itu.

Di sisi lain, Andrew mendapati ponselnya bergetar. Segera ia mengambil ponselnya dari atas nakas di sisi ranjang, dan membaca pesan yang masuk kesana. Usai membaca pesan itu, Andrew tampak tersenyum penuh kemenangan. “Sepertinya besok akan menjadi hari yang menyenangkan untuk kita, Yoona-yah.”

♥♥♥♥♥

Yoona melangkahkan kakinya sedikit tergesa-gesa setelah memastikan bahwa suaminya telah berangkat lebih dulu menuju tempat pertemuan bisnisnya. Yoona berjalan sedikit menjauh dari hotel tempatnya menginap, dan berhenti di sebuah persimpangan jalan di depan sebuah restoran Italia. Di sini ia janji bertemu dengan seseorang yang telah dikiriminya pesan malam sebelumnya.

Yoona melihat-lihat kanan dan kiri, mencari sosok orang yang sedang ditunggunya. Sesekali Yoona membenahi syal putih yang melilit di lehernya, sementara sebelah tangannya dimasukkan ke dalam kantong jas panjangnya yang berwarna biru laut. Sudah lebih dari dua puluh menit Yoona menunggu dan orang itu tidak juga hadir. Yoona mulai mengumpat-umpat pelan, ingin sekali meneriaki orang itu bila muncul nanti.

Sebuah buket bunga mawar merah tiba-tiba terpampang di depan wajahnya, terulur dari tangan seorang pria yang berdiri di belakangnya. “La plus belle fleur du monde est sans valeur compare a ta beaute” (Bunga yang paling indah di dunia tidak ada apa-apanya dibanding kecantikanmu), suara itu begitu lembut berbisik di telinganya. Yoona menolehkan wajahnya kepada pria tersebut. Wajah kesalnya langsung berubah begitu melihat suguhan senyuman manis dari seorang pria yang telah ditunggunya sejak tadi.

“Oppa, kau terlambat!” keluh Yoona seraya mengambil buket bunga yang diberikan Siwon. Yoona memasang wajah yang ditekuk dengan suara kesal yang sedikit manja.

“Maafkan aku, Sayang. Tadi aku baru selesai bertemu dengan klien.” Rayu Siwon sambil memegang kedua pipi Yoona, lalu mengecup singkat bibir wanita itu. Seketika wajah Yoona memerah atas perlakuan Siwon tadi. Sedangkan pria itu terlihat sangat senang telah membuat wajah wanita yang digilainya itu semerah kepiting rebus. “jangan marah lagi, ya. Sekarang ayo kita jalan.” Siwon membalik tubuh Yoona, kini mereka berdiri sejajar. Keduanya berjalan ke arah timur sambil berangkulan mesra.

“Sayang..?” panggil Siwon memecah keheningan saat mereka berjalan.

“Hmm..” jawab Yoona singkat.

“Kenapa diam saja? Kau tidak senang bertemu denganku?”

“Tidak. Kalau aku tidak senang, mengapa aku mengirimu pesan untuk bertemu hari ini? Aku tidak apa-apa.” Mereka menghentikan langkah sejenak. Siwon menatap mata Yoona sebentar, lalu tersenyum sambil mengacak rambutnya pelan.

“Lalu kau ingin pergi kemana hari ini? Apa kau mau berbelanja lagi?” tanya Siwon.

“Ah aku sedang tidak ingin berbelanja. Kemarin malam Ahjussi menceramahiku panjang lebar karena tahu aku sudah belanja banyak dan menghabiskan sekian ribu Euro. Katanya aku menghabiskan uang untuk hal-hal yang tidak penting. Ternyata Samchon­-mu itu pelit juga, Oppa!” omel Yoona panjang. Tanpa sepengetahuan Yoona, Siwon menyeringai sebal karena dikatai pelit.

“Oh baiklah kalau begitu, aku mengerti. Sekarang tidak usah pikirkan Samchonku. Kita sudah berjanji tidak akan memikirkan orang lain di saat kita sedang bersama, bukan?” suara riang Siwon itu terdengar sedikit aneh di telinga Yoona, tetapi mau tak mau tetap saja Yoona mengangguk setuju dengan pernyataan Siwon. “Kalau begitu hari ini kita jalan-jalan, keliling Paris hingga puas. Kau mau?”

“Tentu… mari kita kunjungi tempat-tempat romantis yang ada disini. Tapi aku ingin sekali mengunjungi Châteaux de Versailles, juga istana dan kebun Luxembourg, Oppa.” Pinta Yoona dengan aegyo nya. Tentu saja Siwon tidak bisa menolak.

“Baiklah. Sepertinya kau tahu sekali tempat-tempat yang indah dan romantis di Paris.”

 

Mereka berdua benar-benar menikmati waktu berdua dengan mengunjungi Châteaux de Versailles atau lebih dikenal sebagai istana Versailles, salah satu benteng tertua dan termegah di dunia. Arsitekturnya indah, taman-tamannya yang menakjubkan, dan berdasarkan sejarah panjang yang dimilikinya membuat tempat itu sangat layak dikunjungi banyak turis yang datang ke Prancis. Di dekatnya terdapat kebun-kebun yang indah dan spektakuler dihiasi dengan patung-patung berbagai bentuk serta air mancur yang membuatnya begitu sedap dipandang.

 

Siwon dan Yoona begitu gembira dengan momen yang ada pada mereka, berjalan-jalan berdua mengunjungi tempat yang sangat indah seperti itu. Senyuman Yoona terus terpatri di wajahnya. Yoona sepertinya benar-benar melupakan statusnya, bahkan siapa orang yang seharusnya menggenggam mesra tangannya saat itu.

“Setelah ini kau mau kemana lagi? Bagaimana kalau kita pergi ke Châteaux de Chatilly atau Petit Palais?” tanya Siwon pada Yoona tentang destinasi mereka selanjutnya.

“Itu kan museum? Aku tidak mau, aku kesini bukan sebagai anak kuliahan, Oppa. Sebaiknya kita mengunjungi Sacre-Coeur dan Moulin Rogue saja..” ucap Yoona sambil berjalan meninggalkan Siwon di belakang.

“Tapi kan kau sendiri yang mengatakan masih anak kuliahan hingga menggagalkan malam pertamamu.” Gerutu Siwon mempercepat langkahnya mengejar Yoona yang telah jalan lebih dulu. Beruntung Yoona tak mendengar gerutuannya itu.

 

Merekapun sepakat megunjungi Sacre-Coeur Basilic, sebuah gereja gothic peninggalan zaman pergolakan Paris. Tempat itu berada di atas bukit Montmartre – bukit terbesar di Paris. Jalan menuju Sacre-Coeur yang bertangga-tangga membuat Yoona tertinggal cukup jauh di belakang Siwon.

“Yak, Oppa!! Kenapa kau jalan cepat sekali, eoh?! Aku lelah, kau tidak lihat aku memakai high heels begini?!” Siwon menoleh ke belakang melihat Yoona yang mengeluh letih. Siwon berbalik menyusul Yoona ke bawah, menghampiri wanita yang sudah memasang wajah kesal tidak tertolong itu.

 

“Bukankah kau sendiri yang ingin pergi kesini, Sayang?” ejek Siwon sambil menggoda.

“Memang benar, aku yang meminta. Tapi bukan berarti kau seenaknya berjalan meninggalkan aku di belakang kan? Jadi kau ingin bersenang-senang sendiri?” tanya Yoona ketus.

“Okay, maafkan aku. Kalau begitu aku akan terus menggenggam tanganmu seperti ini dan tidak akan aku lepas supaya kau tidak tertinggal atau tersasar lagi.” Siwon kembali menggandeng tangan Yoona. Meskipun kesal, akhirnya Yoona tersenyum lagi dengan rayuan Siwon yang tidak cukup romantis itu.

 

Begitu mencapai atas, Yoona sangat terkesima dengan pemandangan yang terpampang di depannya. Bukan hanya kemegahan bangunan Sacre-Coeur Basilic yang berwarna putih itu saja, tetapi dari sana juga Yoona dapat melihat keseluruhan Paris dari atas bukit. Bahkan menara Eiffel tampak begitu kecil.

Wow, it’s amazing!!” teriak Yoona kagum.

Tak lama kemudian, Siwon menarik tangan Yoona, mengajaknya masuk ke dalam Sacre-Ceour tepatnya ke ruang utama dimana terdapat kubah besar yang megah. Mereka berjalan menuju altar yang juga tampak begitu mengagumkan.

 

Siwon menghentikan langkahnya, begitu juga dengan Yoona tepat di depan altar. Mereka berdiri berhadapan. Siwon memandang Yoona begitu dalam dan hangat. Ia memegang erat kedua tangan Yoona dan mengecup keduanya begitu lembut. Yoona terperangah dengan perlakuan Siwon padanya. Tiba-tiba saja pria itu menjadi sangat romantis dan tingkahnya sangat manis.

 

“Aku tahu kau pasti berpikir mengapa aku menarikmu ke dalam sini?” tanya Siwon dan mendapat anggukan pelan dari Yoona sebagai jawaban. “Kau pasti menyadari bahwa kita berada di depan altar di sebuah gereja tua yang penuh sejarah. Dan aku juga ingin mengukirkan sejarah disini. Sejarah tentang kita, tentang cinta kita. Walaupun kau mungkin menganggap ini cinta terlarang, tapi bagiku semua itu tidak salah. Tidak ada sedikitpun kesalahan dalam cinta kita. Aku mencintaimu dan kau mencintaiku. Semuanya murni, tulus, dan mengalir bagai air.”

 

“Lalu?” Yoona bersuara pelan. Saat ini ia benar-benar berusaha menangkap maksud kata-kata Siwon yang begitu runtut, rapi dan penuh makna. Sebenarnya Yoona tidak begitu menyukai konotasi ataupun puisi. Terkadang bahasa yang mendayu-dayu memang bisa membuatnya terbang, tapi terkadang juga membuatnya bingung hingga merasa bahwa otaknya tidak bisa berjalan dengan baik.

 

“Lalu disini, di depan Tuhan dan Sacre-Coeur sebagai saksi, aku mendeklarasikan cintaku padamu, Im Yoona. Aku Choi Siwon, akan mencintaimu sampai jiwaku berpisah dari raga. Aku akan mencintaimu walaupun nanti aku tak lagi sanggup menatapmu dengan mataku, menyentuhmu dengan kulitku, dan memanggilmu dengan suaraku.” Yoona tersenyum lebar dengan kalimat manis nan memabukkan yang diucapkan Siwon. Sepertinya Siwon sudah berhasil membuat Yoona melayang-layang jauh ke langit ke tujuh. “Tapi aku mohon padamu, Im Yoona.”

“Memohon? Padaku?” tanya Yoona, bingung.

“Ya, aku mohon agar kau juga bisa mencintaiku seperti aku mencintaimu. Bila itu terasa sulit, setidaknya kau bisa belajar untuk terus menatapku dengan segenap hatimu. Aku tidak akan sanggup bila kelak kau menatapku dengan kebencian atau kau menghindar, menjauhiku bahkan meninggalkanku. Aku mohon  agar kau akan tetap disisiku walau mungkin nantinya semua kebohongan yang kujalani akan terbongkar dan kau menjadi pihak yang tersakiti. Aku mohon tetaplah bertahan pada keyakinanmu bahwa akulah satu-satunya pria yang mencintaimu dengan seluruh hatiku.”

 

“Kebohongan?? Kebohongan apa?” Yoona melepaskan kedua tangannya dari genggaman Siwon. Kini ia menatap penuh tanya pada pria itu. Siwon sendiri merasa sudah membuat kesalahan besar dengan menyembunyikan banyak hal, tapi ia belum bisa mengakui. Tidak, ia tidak akan sanggup bila harus menghancurkan usahanya yang baru setengah langkah lebih maju. Sedangkan hal yang begitu disyukurinya bahwa ia telah mampu menyatakan cinta bahkan mendapatkan cinta Yoona.

 

Siwon memegang kedua bahu Yoona, ia menatap tepat pada manik mata gadis itu. “Sayang, di dunia ini ada begitu banyak rahasia yang kita tidak tahu bahwa kebohongan demi kebohongan telah tercipta untuk tetap menjaga rahasia itu tertutup dari siapapun. Begitu pula dengan kita, sadar atau tidak kita telah membuat kebohongan itu menjadi nyata dan selalu mengganggu pikiran. Aku hanya ingin kau menjawab kegelisahan hatiku yang takut akan kebohongan itu, hanya dengan mengatakan bahwa kau berjanji akan tetap mencintaiku meski sulit bagimu nantinya untuk memaafkanku.”

 

Yoona menarik napas yang terasa sedikit berat. Sejujurnya ia belum begitu mengerti, tetapi pikirannya mengatakan bahwa kebohongan yang dimaksud Siwon adalah hubungan ‘gelap’nya dengan Siwon dimana Yoona telah mengkhianati suaminya dan ikatan pernikahannya. Sampai akhirnya Yoona mengangguk pelan dan membalas tatapan Siwon walau dengan sedikit keraguan. “Aku berjanji padamu, Oppa.”

 

Keduanya kini tersenyum, saling menatap dalam kehangatan dan kasih sayang. Dilanjutkan dengan sebuah ciuman yang manis dan penuh cinta. Bibir yang saling melumat menunjukkan betapa besar rasa yang sulit dibendung dan menyatu dalam satu aura bahagia yang sulit untuk digambarkan. Keduanya begitu menikmati momen itu, bahkan tidak peduli jikalau ada puluhan pasang mata yang menonton atau bahkan menjadi saksi pengungkapan cinta mereka. Adakah yang berpikir bahwa momen itu layaknya sepasang pengantin yang baru mengucapkan sumpah pernikahan di depan altar?

 

♥♥♥♥♥

 

Perjalanan mereka yang menyenangkan seharian itu ditutup dengan makan malam spesial di L’Atelier de Joël Robuchon. Restoran Prancis yang terletak di St. Germain des Pres itu tampak romantis dengan dominasi warna hitam dan merah, tampak begitu sempurna untuk mengakhiri hari yang penuh kebersamaan di antara mereka.

“Oppa..” panggil Yoona pada pria yang sibuk dengan menu le Ris de Veau clouté de laurier frais à la feuille de romaine farcie nya. Siwon mendongak, melihat Yoona sedang memandangnya dengan senyum simpul.

Ne..Jagiya..”

“Aku merasa bahwa disini justru aku berbulan madu denganmu, bukannya dengan suamiku sendiri.” Yoona mengucapkan itu saat raut wajahnya kembali datar. Sementara Siwon ingin sekali rasanya berteriak bahwa dirinyalah suami Yoona, dirinyalah sosok yang seharusnya memang diakui Yoona sebagai suami sah dan berhak memberikan apapun yang diinginkan isterinya.

“Lalu kau berharap menghabiskan waktu dengan suamimu yang sebenarnya?” Siwon tak menyangka ia akan berbicara sedingin itu. Sedangkan Yoona hanya mematung tak menjawabnya. “Kau masih saja memikirkan orang itu – suamimu – yang begitu saja membiarkanmu sendiri? Lalu kau menanggapku apa, hanya sebuah pelampiasan kekecewaan pada suamimu?”

“Oppa, aku tidak pernah bermaksud seperti itu! Kau salah paham. Aku hanya ingin mengatakan bahwa semua ini di luar dugaanku, aku pergi berbulan madu tapi aku menghabiskan waktu bukan bersama suamiku. Bukankah itu sangat tidak biasa?!” pekik Yoona kecewa.

“Ternyata kau memang belum bisa mencintaiku sepenuhnya, Yoona-yah. Kau masih memikirkan orang lain.” Entah kenapa Siwon merasa sakit. Walaupun Andrew juga dirinya, tetapi ia menginginkan Yoona memandang dirinya sebagai Choi Siwon. Sehingga sulit sekali baginya untuk menampik rasa kecewa dan tentunya cemburu buta.

“Dia bukan orang lain. Dia suamiku, Oppa.”

“Tapi bagaimana kalau aku lah suamimu, apa kau masih akan memikirkan orang lain?” nada tinggi terdengar begitu ketus dari mulut Siwon. “Lantas apa kau bersedia tidur denganku tanpa memikirkan orang lain?” sepertinya emosi Siwon tersulut karena pikirannya sendiri yang mulai kacau.

“Apa maksudmu berkata seperti itu, Oppa?”

“Kau masih tidak mengerti rupanya. Seandainya aku yang menjadi suamimu, apa kau dengan sukarela memberikan semuanya padaku, termasuk untuk tidur denganku?” kata Siwon dengan rahang yang mengeras dan tatapan tajam.

Yoona membelalakkan matanya, tidak menyangka Siwon berlaku frontal seperti itu. “Apa segelas wine sudah membuatmu mabuk, Oppa? Bicaramu ngawur!”

Siwon mengelap mulutnya dengan serbet makannya, dan meletakkannya sedikit kasar. “Aku tidak mabuk, hanya aku kecewa. Aku merasa sakit saat kau justru membandingkanku dengan orang lain.” Siwon berdiri dan merapikan jasnya sekelak. “Aku rasa aku sudah selesai. Kau bisa kembali ke Hotel sendiri kan? Dan terima kasih untuk seharian ini. Bagaimanapun kau tetap satu-satunya wanita yang kucintai.” Siwon melangkah pergi meninggalkan Yoona yang menganga dan terperangah karena sikap pria itu yang langsung berubah 180 derajat hanya karena satu kalimat sepele.

Yoona termenung setelah kejadian Siwon meninggalkannya begitu saja di restoran. Yoona terus berpikir dan berpikir bahwa semuanya memang kenyataan. Satu hari penuh Yoona menghabiskan waktu dengan Siwon, berjalan-jalan melihat beragam keindahan Paris tetapi semua juga berakhir dengan singkat saat malam menjelang. Saat itu bahkan juga belum tengah malam, dan tidak seharusnya Cinderella kehilangan semua keajaibannya secepat itu.

“Aku bukan Cinderella…” gumam Yoona pada dirinya sendiri. “Aku tidak pernah menjadi Cinderella dan sampai kapanpun aku takkan menjadi Cinderella…” Tanpa disadari, Yoona meneteskan air mata. Ia teringat perkataan Suzy dulu, bahwa ia menjadi Cinderella untuk menemui Siwon di pesta dansa. Tapi kenapa bila ia adalah Cinderella justru sang pangeran begitu sulit didapatkan, bahkan ketika pangerannya telah berdiri di depan mata.

Dengan gemetar, tangan Yoona menuang wine dari botolnya ke dalam gelas. Yoona menggoyangkan gelasnya hingga membuat wine yang hanya tertuang hingga setengah gelas itu pun berguncang. Yoona memandanginya dengan tatapan hampa, lalu meminumnya dalam sekali tegukan. Lagi dan lagi, Yoona terus menambah porsi minumannya hingga kepalanya mulai terasa pusing.

Sementara Siwon, berdiri termenung di balkon kamarnya – kamar yang ditempati Andrew dan Yoona – juga merasa perlu untuk merenungkan kejadian yang baru saja menimpanya. Ketika ia takluk oleh emosi sesaat dan kecemburuan yang tak beralasan. Setali tiga uang dengan Yoona, Siwon menyesap sedikit Sparkling Wine atau yang lebih dikenal dengan Champange dari gelas kristal di tangannya.

“Harusnya kita bisa menikmati ini bersama, meminum Champange di kamar yang terasa hangat ini.” keluh Siwon, berkata pada dirinya sendiri. “Jika saja aku bisa mengontrol kecemburuanku. Cih… bahkan aku cemburu pada Andrew – diriku sendiri – si pria malang yang bertekuk lutut pada sebuah kesepakatan.” Siwon menjambak kasar rambutnya sendiri, merasa frustasi dengan keadaan. “Kalau seperti ini terus, aku rasa aku akan menjadi gila dalam tempo semalam.”

Brakk!!! Suara pintu yang terhempas mengejutkan Siwon. Ia yakin yang baru saja masuk ke kamar adalah Yoona, segera ia menyambut kedatangan isterinya itu.

“Ahjussi…” teriak Yoona yang tampak berjalan sedikit sempoyongan. Sesekali gadis itu memegang kepalanya yang terasa pusing. Yoona berusaha keras untuk dapat berjalan normal tanpa menghiraukan pandangan matanya yang terkadang mengabur. “Ahjussi…” teriak Yoona lagi saat ia melihat Siwon berdiri tak jauh darinya.

Yoona sedikit berlari dan menghambur memeluk Siwon yang langsung kaget karena perlakuan Yoona. Gadis itu menepuk-nepuk punggungnya pelan, masih dalam posisi memeluknya erat. “Ahjussi.. tu me manques!” (Ahjussi…aku merindukanmu!).

Siwon membulatkan matanya heran. Segera ia melepaskan pelukan Yoona dan mengguncang tubuh isterinya, “Yoona-yah, kau mabuk?”

Yoona mengedipkan matanya beberapa kali, ia memastikan bahwa pandangannya terang benderang. “Eh, Siwon Oppa. Kau ada disini, dikamarku?” tanya Yoona. Siwon mengangkat sebelah alisnya, ia terkesiap saat menyadari bahwa ia sama sekali tidak memakai aksesoris penyamaran Andrew. Namun keterkejutannya terinterupsi oleh gelak tawa Yoona. “Bahkan di saat-saat seperti ini, aku melihat wajah Choi Siwon. Apa aku terlalu mabuk hingga sulit membedakan Choi Siwon dan Andrew Choi?” racau Yoona sambil menepuk-nepuk kepalanya.

Siwon diam terpaku untuk sesaat, ia menyesali hal yang sudah menimpa Yoona. Isterinya memilih pelampiasan pada minuman memabukan akibat merasa tersudut dengan sikapnya yang tiba-tiba tak stabil. “Yoona-yah, mengapa jadi begini? Kau tak seharusnya minum wine terlalu banyak,” ucap Siwon lembut sambil membelai pipi sang isteri.

“Mianhae… Ahjussi, mianhae. Aku sudah membuat kesalahan, aku mencoba menjadi pengkhianat. Aku ini benar-benar bodoh. Kau mau memaafkanku kan, Ahjussi?”

“Sudahlah, jangan kau pikirkan. Sekarang istirahatlah. Kau mabuk dan aku juga mulai merasa pusing karena terlalu banyak minum champange.” Siwon menuntun Yoona mendekati ranjang. Beberapa langkah sebelum menyentuh tepi ranjang, Yoona berhenti dan berbalik menatap Siwon.

“Ahjussi, kenapa kau membawaku ke ranjang? Kau ingin apa, eoh?” tanya Yoona sambil menyipitkan mata, menatap Siwon dengan kepala berkunang-kunang akibat pengaruh mabuknya. “Oh, jangan bilang kau mau mengajakku tidur bersama, benarkan?” Yoona merapatkan tubuhnya dengan Siwon, meletakkan kedua telapak tangannya di dada Siwon, lalu mengusap pelan dada bidang pria itu. “Ahjussi, sepertinya kau tidak sabar sekali ingin bermain denganku. Baiklah, aku sudah siap dan malam ini aku milikmu.” Yoona kembali memeluk Siwon, menyandarkan kepalanya di dada sang suami.

Jantung Siwon berdetak cepat, dan pikirannya mulai menuntunnya untuk mengikuti nafsu dan gairah yang telah dibangkitkan oleh kata-kata manis dan pengakuan kepemilikan yang dikatakan oleh Yoona. Siwon ingin membuang jauh pikirannya yang lain yang masih mengingatkan bahwa saat ini Yoona sedang mabuk, dan ia tidak menyadari apa yang dikatakannya. Tapi bukankah terkadang orang mabuk mengatakan kejujuran? Siwon, apapun yang akan kau pilih nantinya akan beresiko untuk dirimu dan Yoona.

“Yoona-yah…” bisik Siwon di telinga Yoona.

“Hmm… Ahjussi,” Yoona mendongak, menatap wajah Siwon. “Ahjussi, kenapa diam saja? Apa kau tidak menginginkanku?” Yoona mengalungkan lengannya ke leher Siwon, lalu dengan sedikit kasar menarik tengkuk pria itu mendekati wajahnya. “Kalau begitu haruskah aku yang memulai?” Dalam waktu sepersekian detik, Yoona sudah menempelkan bibirnya kepada bibir Siwon. Beberapa saat berganti kini kecupan-kecupanpun berganti dengan lumatan demi lumatan.

Siwon benar-benar sudah terpancing, bahkan pria itu memutuskan membuang jauh-jauh akal sehatnya. Ya, hanya untuk malam itu ia akan mengisolir akal sehatnya. Ia ingin menikmati malam itu sesuai keinginan hatinya, menghabiskan waktu untuk bergumul dalam gairah dan pemenuhan kewajiban sebagai pasangan suami-isteri.

“Kau lah yang telah menyulut api dalam diriku, dan aku terbakar karenamu Yoona-yah. Aku harap kita bisa menikmati malam ini tanpa penyesalan di esok hari. Malam ini hanya kita berdua, dan kau menjadi milikku seutuhnya.” Erang Siwon pelan, kemudian menjatuhkan tubuh keduanya di atas ranjang empuk yang mewah. Arsitektur indah dari zaman Perancis kuno dan kehangatan Paris di malam musim gugur seolah menjadi saksi bisu bagaimana penyatuan dua anak manusia dalam cinta, walaupun ada campur tangan anggur memabukkan juga disana.

To Be Continue

 

Dear readers… sorry banget kalau ceritanya berjalan lambat dan membosankan, apalagi kalau jalan ceritanya gampang ditebak. Semoga saja untuk chapter selanjutnya bisa menghadirkan cerita yang lebih menarik (itupun kalau ada yang menantikan -_-). Tapi sementara saya mau menghilang dulu dari dunia tulis menulis ff, karena mulai memasuki minggu-minggu yang penuh kesibukan. Jangan lupa ya untuk kasih komentar, kritik dan saran….

 

For my lovely dongsaengs as the admin of YWK, thank you very much muachhh muachhh… hihihi

Tinggalkan komentar

168 Komentar

  1. So sweet :’)

    Balas
  2. VynnaELF

     /  Juli 24, 2013

    Apa yg mau YoonWon lakukan…
    *tutup mata*
    deg”an bacanya…

    Balas
  3. kana

     /  Juli 28, 2013

    Lnjt..

    Balas
  4. OMOOO!! bagaimana kalau Yoongie eonni tahu kebohongan itu? #penasaran!

    Balas
  5. jasmin

     /  September 19, 2013

    ceritanya sangat bgus ,sprtnya yoona sdh mulai jtuh cinta sama andrew choi.smkin seru nich cerinya

    Balas
  6. ayu dian pratiwi

     /  Januari 31, 2014

    Jadi penasaran sama lanjutannya. . Keren

    Balas
  7. tia risjat

     /  Maret 2, 2014

    tutup mata!!! Yoonwon lagi “itu”!!!

    Balas
  8. tia risjat

     /  Maret 2, 2014

    aduh.. merinding baca part ini… uppsss.. wonppa keceplosan!

    Balas
  9. yuli

     /  Maret 15, 2014

    hem keliatanya…………………………………..

    Balas
  10. im yoo ra

     /  Juli 18, 2014

    sebentar lagi kebohongan besar akan terbongkar!!

    Balas
  11. OMG *tutup hidung eh tutup mata* :v

    Balas
  12. Kya… Kasihan sekali wonppa
    dia begitu prustasi dgn pernikahannya dgn Yoona

    Balas
  13. hoho.. akhir’y mlm perrtama’y trlasana jg hihi… biar pun antra sadar gk sadar.. slamat wonpa..

    Balas
  14. raraputi19

     /  Oktober 12, 2014

    Aaaaaaaa masih was was gimana kalo yoona tau yang sebenarnya

    Balas
  15. wiwin

     /  Desember 19, 2014

    Hohhohho gk nyangka akan seperti itu,yoona aw laki” mna sih yg gk mau klau di pancing.

    Balas
  16. tiffany

     /  Desember 31, 2014

    Bisa difilmkan gak sih ni fF….bagussss

    Balas
  17. Hulda Maknae

     /  Februari 26, 2015

    Aigooo…..semakin rumit….

    Balas
  18. Nhiina

     /  Maret 23, 2015

    Sulit jga klo harus nyamar kek gitu .
    wonppa , fighting . . kau hrus bsa buat yoong eonn bnar2 jtuh cinta pdamu

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: