[2S] Conquered The Heart Of Bride (2/2/ END)

cover conquered the hearts of bride

Tittle               : Conquered The Heart Of Bride / 2S (2/2/ END)

Author            : Tika Pink / Tika Sheila EverlastingFriend

Email/Twitter : tika_pinky@rocketmail.com / smantikalove@gmail.com / @SangRa_ELF (Mention ForFollback)

Main Cast      : ImYoona, Choi Siwon

Other Cast     : Uchie90 as Jusschie Quinnelia Sheldon, Lee Yoon Hee as Im Yoonhee, Choi Seung Hyun, Rindu Willia (Miss Kangen), Lee Min Ho, Park Si Hoo, etc

Genre             : Romantic, Friendship or Set byYour self ^^

Length            : Two Shoot

Rating             : PG + 15

Cover              : Special ArtDesign by “Illah_Iluth”

 

 

Annyonghaseyoyeorobeun ^^ … Hi HiHi, Tika Pinkdatang melunasi salah satu hutang ff yang pastinya super duper nggak menarik alias ngebosenin. But, aku tetap berharap banyak yang akan menyukai ff ini #Ujung-ujungnyaTetapNgarep #Abaikan … Ok, nggak mau banyak cuap-cuap biar nggak disangka bawel buat yang penasaran silahkan membacanya but Jangan lupa RCL yaw … Don’t be SIDERs or PLAGIATOR, arachiii???!!! ^o^

 

#Let’s Reading

Siwon Pov

Sudah hampir sejam berlalu tapi Yoona sama sekali belum keluar dari kamar. Sikapnya ini membuatku semakin frustasi. Apa sebenarnya yang dilakukannya di kamar? Kenapa dia begitu betah mengurung diri dalam kamar itu?

Jika berada di rumah aku hanya bisa melihat wajahnya ketika sarapan, makan malam dan sepanjang malam saat dia tertidur lelap di sampingku dengan jarak yang aku rasa cukup jauh mengingat kami adalah sepasang suami istri. Selain itu dia akan mengurung diri di kamar entah melakukan apa akupun tidak tahu. Aku ingin mengenalnya lebih dalam. Mengetahui apa yang dia lakukan sehari-hari di rumah, apa yang diinginkannya. Ahh, kenapa kekecewaannya pada satu orang pria bodoh membuatnya harus melakukan hal ini? Bagaimana aku bisa menaklukkan hatinya jika dia sendiri tak mau melirikku?

Setelah apa yang aku lakukan tadi di pesta perayaan pernikahan mantan kekasihnya yang bodoh itu dia masih tetap diam. Sepanjang perjalanan pulang tadi pun begitu menyiksa karna dia tidak mengatakan sepatah kata apapun meski aku mencoba mengajaknya berbicara. Dia hanya duduk diam di kamar saat aku mandi dan sampai saat ini dia masih tetap betah mengurung diri di kamar. Apa dia tidak ingin mengatakan sesuatu padaku? Kenapa kekecewaannya membuat hatinya terasa begitu dingin seperti ini? Tak bisakah dia melihat kesungguhanku saat aku mengatakan aku mencintainya di depan mantan kekasihnya itu? Ahh, aku benar-benar frustasi jika dia terus seperti ini. Aku ingin bicara dengannya.

Suara bel pintu mengusikku. Aku yang memang sedang berada di ruang tamu menekan tombol pada interkom dan melihat Yoonhee berdiri di depan pintu.

“Ahh, Yoonhee. Masuklah!” kataku seraya membuka kunci pintu dan tak lama kemudian sosok wanita itu muncul dari balik pintu.

“Hujannya lebat sekali.” Ujarnya sambil melepas mantelnya yang sedikit basah. “Yoona mana oppa?” tanyanya.

Ya, semenjak aku membatalkan perjodohanku dengannya dan memintanya untuk digantikan dengan Yoona, aku menjadi lebih dekat dengan gadis itu. Dia bahkan tak ragu-ragu memanggilku dengan sebutan oppa saja padahal aku saat ini adalah adik iparnya.

“Dia ada di kamar. Apa kau datang kesini untuk menemuinya?” tanyaku.

“Lebih tepatnya kalian berdua.” Jawabnya seraya mengganti sepatunya dengan sendal rumah yang tersedia di dekat pintu lalu berjalan menghampiriku. “Ayah memintaku untuk mengunjungi kalian dan mengundang kalian untuk makan malam di rumah. Sepertinya ayah dan ibu merindukan Yoona.” Lanjutnya.

Aku merenungi perkataan Yoonhee. Jika kami menerima undangan itu, maka aku punya kesempatan untuk lebih dekat dengan Yoona, merangkul wanita itu dengan mesra seperti yang biasa aku lakukan jika kami berhadapan dengan orangtua atau harus menghadiri acara bisnis. Berpura-pura seakan kami adalah pasangan suami-istri yang bahagia. Tapi sekarang yang lebih penting, aku akan memanfaatkan kesempatan ini untuk mengungkapkan isi hatiku yang sebenarnya terhadap Yoona, membuatnya percaya kalau aku benar-benar mencintainya, membuatnya percaya kalau aku adalah orang yang cukup tepat untuk dijadikannya tempat mempercayakan seluruh hidupnya dan orang yang akan selalu bersedia melakukan apa saja untuk membuatnya bahagia.

“Oppa, kau kenapa?” teguran Yoonhee membuyarkan pikiranku. Aku jadi sedikit salah tingkah.

“Ahh, mian. Duduklah dulu. Kau ingin minum apa? Biar aku minta ahjumma menyiapkannya.”

Yoonhee menggeleng. “Tidak perlu. Aku hanya sebentar.” Jawabnya.

“Baiklah. Aku akan memanggil Yoona dulu.” Kataku. Yoonhee mengangguk. Lalu aku pun menuju ke kamar di mana Yoona sangat senang mengurung dirinya. Ahh, rasanya aku ingin meruntuhkan setiap dinding kamar yang tersedia di rumah ini agar tak ada tempat bagi Yoona untuk mengurung diri dan aku bisa menghabiskan waktuku di rumah bersamanya dengan memandangi wajahnya yang membuatku selalu merindukannya itu.

Dengan pelan kuketuk pintu kamar. Tak ada jawaban. Aku memilih untuk membukanya karena Yoona memang sering tidak menjawab meski sedang berada di dalam kamar.

Saat membuka pintu itu aku bisa melihat sosoknya yang cantik sedang berdiri menatap ke arahku.Ahh tidak, lebih tepatnya Yoona melihat ke arah pintu untuk melihat siapa yang masuk meski kemungkinan 99 persen yang akan masuk kamar itu adalah aku. Dia menatapku penuh tanya. Aku hampir saja melupakan maksudku karena terpana melihatnya.

“Aku hanya ingin memberitahu kalau Yoonhee datang ingin menemuimu.” Ujarku memberitahu.

“Yoonhee?” tanyanya.

“Eo. Dia sedang menunggu di ruang tamu.”

“Baiklah. Tolong temani dia dulu. Aku akan menyusul sebentar lagi.” Ucapnya tenang dan terkesan lembut. Tidak seperti biasanya jika dia berbicara denganku yang biasanya begitu sinis.

Tanpa sengaja sebuah tulisan samar di kaca jendela di belakangnya menarik perhatianku. Aku mencoba menajamkan penglihatanku. Untunglah saat ini sedang hujan sehingga kaca itu sedikit berembun yang membuatku bisa begitu jelas melihat tulisan itu.

Ya Tuhan, tulisan itu …

Tanpa sadar aku tersenyum melihat tulisan itu. Yoona … Yoona menuliskan kata yang sama sekali tak pernah aku pikirkan akan dilakukannya.

“Apa masih ada lagi?” tanyanyamembuyarkan pikiranku.

Aku sedikit salah tingkah karena tertangkap diam di depannya. “Ahh, ani. Baiklah, aku akan menemani Yoonhee.” Jawabku. Sebelum aku meninggalkan kamar itu aku menyempatkan diri sekali lagi melayangkan pandanganku ke tulisan samar di kaca itu.

Hatiku membuncah bahagia mendapati kenyataan itu. Tulisan itu cukup jelas membuktikan kalau sebenarnya Yoona juga mulai mempunyai perasaan padaku. Atau mungkin juga dia sudah mencintaiku tanpa disadarinya. Bukankah dia pernah cemburu saat Uchie datang ke rumah dan memasak bersamaku?! Ya benar, aku yakin dia cemburu saat itu hanya saja dia tidak ingin mengakuinya. Mungkin karena kekecewaannya dikhianati dulu membuatnya takut kalau perasaannya padaku bisa menghancurkannya. Tidak, itu tidak akan terjadi. Aku mencintainya dan sepertinya ini memang saatku untuk menunjukkan padanya.

Aku menemui Yoonhee yang masih menunggu di ruang tamu. Gadis itu sedang memperhatikan rinai hujan dari jendela di ruangan itu. Aku menghampiri dan berdiri di sampingnya. Dia menoleh.

“Dia akan menyusul.” Kataku.Aku ikut memperhatikan rinai hujan di luar yang masih turun dengan derasnya. “Sepertinya hujan iniakan lama reda.” Ujarku kemudian.

“Iya, sepertinya begitu.” Dia menanggapi seraya mengangguk pelan. “Oppa, bagaimana hubunganmu dengan Yoona saat ini? Apa dia sudah mulai bersikap baik padamu?” tanyanya sambil menatapku ingin tahu. Selama ini selain Uchie aku juga sering menceritakan kebenaran hubunganku pada Yoonhee. Aku melakukannya karena menurutku Yoonhee adalah orang yang paling dekat dengan Yoona sehingga aku bisa mengetahui beberapa hal darinya.

Aku mendesah lalu menggeleng pelan.

“Jadi Yoona sama sekali belum merubah sikapnya padamu? Apa kau sudah menyatakan perasaanmu yang sebenarnya padanya? Bukankah kau pernah menceritakan padaku kalau kalian sudah berciuman?” tanya Yoonhee beruntun.

“Aku belum menyatakan perasaanku secara jelas, Yoonhee-ya. Tapi aku sudah jelas mengatakan padanya kalau aku begitu menginginkannya di sisiku. Tapi dia masih tetap sama seperti hari pertama kami menikah bahkan makin dingin setiap harinya. Aku bingung apa lagi yang harus aku lakukan agar dia bisa melirikku.” Jawabku.

Yoonhee menyentuh pundakku lembut seakan ingin menyabarkanku.

“Mungkin itu karena dia terlalu kecewa pada mantan kekasihnya yang meninggalkannya di hari pernikahan sehingga dia sulit untuk menerimamu, oppa. Tapi aku harap kau tidak menyerah. Aku yakin Yoona suatu saat akan membuka hatinya untukmu. Tetaplah pertahankan pernikahan yang kau inginkan ini.”

Aku menatapnya. Seketika aku juga teringat akan tulisan yang aku lihat di kaca tadi dan tersenyum. Aku mengangguk. “Aku yakin aku pasti bisa menaklukkan hati pengantinku yang keras kepala itu.”

“Pengantin? Kenapa kau selalu menyebutnya pengantinmu? Yoona kan sudah menjadi istrimu?!” tanya Yoonhee ingin tahu.

“Itu karna bagiku dia masih seorang pengantin wanitaku. Aku belum benar-benar mendapatkannya sebagai istriku.”

Yoonhee tertawa kecil. “Kau tahu sampai sekarang aku masih bingung bagaimana kau bisa jatuh cinta pada Yoona hanya dengan sekali melihatnya berlari di tengah salju dengan memakai gaun pengantin sehingga kau memilih untuk membatalkan perjodohan kita.” Dia mendesah pelan. “Mungkin aku egois dan terkesan telah mengorbankan adikku untuk menggantikanku, tapi aku bersyukur kau melihat wallpaper foto di ponselku saat pertemuan keluarga itu dan kau ingin melanjutkan pernikahan asal yang menjadi pengantinnya adalah Yoona. Kau terlihat begitu antusias dan aku bisa melihat cinta di matamu. Meski saat itu aku juga sebenarnya ingin membatalkan perjodohan kita, tapi aku tidak begitu yakin bisa melakukannya karena ayahku masih menginginkanmu sebagai menantunya dan untungnya kau yang menyelamatkanku. Kalau tidak, mungkin aku tetap menikah denganmu dan yang menyandang status sebagai istrimu meski aku begitu mencintai kekasihku.” Ujarnya lagi.

Aku terkekeh pelan. “Kau benar. Jika bukan karna hal itu kau mungkin yang menyandang status sebagai istriku!”

“Lalu kenapa kau menikahiku bukannya dia?” suara Yoona yang berasal dari belakang membuatku dan Yoonhee sontak menoleh ke belakang dan mendapati Yoona yang sedang menatapku dan Yoonhee dengan penuh kemarahan.

“Yoong …” Yoonhee merasa sedikit salah tingkah. “Yoong, jangan salah paham. Siwon oppa …”

“Oppa …?? Huh … rasanya kau begitu dekat dengannya, eonni! Kau bahkan memanggilnya dengan sebutan OPPA …” kata Yoona seraya tersenyum geli namun jelas ucapannya itu begitu sinis.

Aku berjalan menghampiri Yoona. “Yoona, aku dan Yoonhee sedang membicarakan …”

“Jangan mendekatiku!” hardik Yoona sehingga menghentikan langkah Siwon. “Kau jangan coba-coba berani mendekatiku! Aku merasa ini sudah cukup. Aku tidak tahu kenapa kalian melibatkanku ke dalam permainan yang memuakkan ini. Yang jelas ini sudah cukup. Aku ingin kita bercerai.” Lanjutnya seraya menatapku tajam dan begitu menghujam. Dia lalu berbalik menuju ke arah kamar seraya berlari. Aku mencoba mengejarnya.

“Yoong, sepertinya kau salah paham. Aku bisa menjelaskannya padamu.” Ujarku. Tapi dia sama sekali tidak menggubrisku. Aku lihat dia menyambar mantelnya dan dompetnya yang terletak di meja rias. Lalu berjalan hendak melewatiku. Aku mencekal tangannya.

“Yoong …!!!

“Lepaskan aku!” hardiknya.

“Dengarkan penjelasanku dulu …”

“Sirreo! Aku tidak ingin mendengarkan apapun dari orang-orang yang sudah mempermainkanku!” bentaknya seraya menghempaskan tanganku dengan kasar. Lalu dia kembali melanjutkan langkahnya menuju ke ruang tamu.

“Yoong kau mau kemana?” tanya Yoonhee saat Yoona melewatinya dan berjalan keluar rumah. Tapi Yoona juga tidak menggubrisnya.

“Yoona, kau mau kemana di saat hujan seperti ini?” tanyaku frustasi karena Yoona sama sekali tidak berniat menoleh ke arahku dan Yoonhee. Dia menhentikan langkahnya di ujung teras.

“Kemana saja dimana aku bisa melupakan kesalahanku telah membiarkan kalian mempermainkan kehidupanku.” Ujarnya lalu pergi tanpa perduli meski hujan mengguyur dengan deras dan membuatnya basah kuyup. Tanpa memperdulikan Yoonhee, aku pun segera berlari mengejar Yoona.

“Yoona … tunggu !” kucekal tangannya tapi sebuah tamparan keras mendarat di pipiku sebagai gantinya. Dia menatapku marah tapi diwajahnya … apa itu … air mata???

Aku terpaku melihat wajahnya yang meski tampak marah tapi tak bisa menyembunyikan kesedihan di sana. Apa aku … apa aku telah menyakitinya?

Di dalam keterpakuanku, kulihat dia telah pergi bersama taksi yang entah akan membawanya kemana.

Saat ini aku tak tahu harus melakukan apa. Rasanya hatiku terhujam pisau yang sangat amat tajam dan menusuknya terlalu dalam saat melihat kesedihan di wajah itu. Aku sangat yakin dia ada air mata yang mengalir di wajahnya meski tersamarkan oleh air hujan. Apa aku benar-benar telah menyakitinya?

Siwon Pov End

***

Yoona Pov

“Apa yang sekarang kau lakukan padaku?” aku menatap marah ke arah patung salib yang di depanku. Gereja itu sepi. Tak ada orang bahkan pastur pun tak ada. Membuaku leluasa berteriak di depan Tuhan yang selama ini aku percayai. “Kenapa kau melakukan ini padaku? Pertama aku dikhianati oleh orang yang aku cintai di hari pernikahanku. Kedua, karena aku membuat keluargaku malu akibat gagalnya pernikahanku aku dipaksa menikah dengan orang yang tak aku kenal menggantikan kakakku. Dan sekarang, sekarang … sekarang kenapa aku harus merasakan ini lagi? Kenapa kau membangkitkan perasaan di hatiku yang ingin aku kubur selamanya hanya karena pria itu? Pria yang bahkan tidak mencintaiku. Pria yang masih menginginkan kakakku sebagai pengantinnya. Kenapa perasaan ini tiba-tiba tumbuh di dalam hatiku lagi? Kenapa aku harus jatuh cinta dan ingin kembali mempercayayai cinta itu? Dan kenapa semuanya hancur di saat yang sama? Kenapa? Setelah ini apa lagi yang akan kau lakukan padaku? Apa kau akan puas jika aku sudah benar-benar hancur? Jawab aku! Jawab aku!” pekikku marah. Air mata entah kenapa tak bisa aku bendung.

Aku tak tahu kenapa aku harus merasakan ini. Rasa ini bahkan jauh lebih perih dari saat Minho meninggalkanku. Kenapa aku bisa jatuh cinta pada Choi Siwon? Apa yang membuatku bisa merasakan hal ini padanya? Sejak kapan aku merasakan hal ini? Aku juga tidak tahu pasti. Tapi entah kenapa jika melihatnya dengan wanita lain membuatku merasa terkhianati dan tidak rela.

“Rasa sakit dan kecewa yang telah kau berikan pada Yoona membuat dia lebih cantik di mataku. Dan itu membuatku ingin lebih mencintainya. Aku mencintai dia dengan cara yang tak akan pernah bisa kau lakukan. Mencintai dia dengan cara yang seharusnya.”

Kenapa ucapannya itu begitu mempengaruhiku? Kenapa harus berulangkali terngiang di telingaku? Itu hanya acting. Dia hanya ingin terlihat baik di depan orang lain. Itu sama sekali tidak sungguh-sungguh. Ahh, kenapa aku begitu bodoh?! Dia tidak mungkin bersungguh-sungguh. Tak ada pria yang pernah bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Aku tidak ingin berlanjut. Tidak. Tidak lagi. Tapi kenapa aku tidak yakin?

Yoona Pov End

***

Author Pov

Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam tapi Yoona belum pulang juga. Siwon mondar-mandir di ruang tamu dengan pintu yang terbuka. Tapi belum ada tanda-tanda Yoona. Diliriknya ponsel Yoona yang terletak di meja ruang tamu lalu mendesah. Yoona tak membawa ponselnya, itu yang membuatnya tak bisa menghubungi Yoona. Dia juga telah berkeliling Seoul untuk mencari Yoona, tapi dia tak bisa menemukan sosok istrinya itu meski sudah hampir 3 jam berkeliling mencari. Maka dia memutuskan untuk pulang ke rumah dengan harapan Yoona mungkin sudah ada di rumah. Tapi ternyata hasilnya masih tetap nihil.

“Yoong, sebenarnya kau di mana?” Siwon mengusap rambutnya frustasi. Lalu matanya terpaku saat melihat Yoona melangkah dengan lunglai memasuki rumah sambil menunduk. Baju dan rambut Yoona terlihat basah bahkan air masih menetes dari pakaiannya sehingga membasahi lantai. Hujan memang baru saja reda. Tapi apa Yoona berjalan kaki pulang ke rumah dengan hujan yang mengguyur deras.

Siwon menghampirinya. “Yoong, kau darimana saja? Dan kenapa kau basah kuyup seperti ini?” tanyanya.

Yoona mendongakkan wajahnya menoleh marah melihat Siwon. Mata itu tampak sembab tapi tersirat kemarahan di sana. Siwon menyadari hal itu.

“Yoong …”

“Jangan memanggilku seperti kau benar-benar dekat denganku Choi Siwon-ssi!” ujar Yoona sinis. Kemudian dia melangkah melewati Siwon. Tapi baru beberapa langkah tiba-tiba tubuh Yoona ambruk jatuh di dekat Siwon.

“Yoona …?” dengan cemas Siwon segera menghampiri Yoona yang kini terkulai di lantai. Di angkatnya tubuh Yoona ke pangkuannya. Wanita itu pingsan. Wajahnya tampak begitu pucat dan suhu tubuhnya begitu tinggi. “Ya Tuhan !!!” Siwon segera membopong tubuh Yoona dan membawanya ke kamar.

Sesampai di kamar, Siwon membaringkan tubuh Yoona ke atas tempat tidur dengan hati-hati. Melepaskan sepatu dan mantel yang dipakai Yoona dengan tak kalah hati-hatinya. Tapi saat melepaskan kancing atas blus yang dipakai Yoona, tangannya ragu-ragu. Di tatapnya Yoona yang masih belum sadarkan diri. Bibir gadis itu begitu pucat bahkan nyaris berwarna biru.

“Yoong, berapa lama kau membiarkan dirimu diguyur hujan hingga kau jadi seperti ini?” tanya Siwon dalam hati. Di usapnya pipi Yoona lalu di daratkannya sebuah kecupan di samping bibir Yoona. Setelah itu dia berjalan keluar kamar.

“Ahjumma … Ahjumma …!” panggil Siwon. Tak berapa lama seorang wanita paruh baya yang menjadi pembantu rumah tangganya datang menghampiri.

“Iya, ada apa Tuan?” tanya wanita tua itu.

“Tolong gantikan pakaian Yoona. Dia pingsan dan semua pakaiannya basah. Tolong gantikan dengan hati-hati. Aku akan menelfon dokter untuk datang memeriksanya.” Kata Siwon pada wanita paruh baya itu yang dijawab dengan anggukkan wanita itu.

“Baiklah Tuan!” lalu wanita itu masuk ke dalam kamar untuk melakukan apa yang diminta oleh majikannya. Sedang Siwon turun ke bawah sambil menelfon dokter keluarganya agar datang ke rumah. Setelah itu dia menyiapkan es cube yang diambilnya dari kulkas untuk mengompres Yoona jika diperlukan.

~~~

“Dia hanya demam saja. Mungkin karena dia masuk angin. Minumkan obat yang aku tinggalkan setelah makan. Akan lebih baik kalau kau juga mengompresnya. Dia hanya perlu istirahat. Tapi kalau demamnya tetap belum turun juga sampai besok pagi, kau bisa menghubungiku lagi atau langsung membawanya ke rumah sakit.” Ujar Yoo Jaesuk, dokter keluarga Siwon.

“Ne, kamsahabnida ahjussi.” Ucap Siwon mengerti seraya menunduk formal.

“Kalau begitu aku pergi dulu!”

“Ne, maaf saya tidak bisa mengantar ke depan.”

“Gwenchana. Jagalah istrimu dengan baik.”

“Ne, sekali lagi terima kasih karena sudah datang!” ucap Siwon sekali lagi seraya mengantar kepergian dokternya sampai ke depan kamar. Lalu pembantu rumah tangganya yang mengantar dokter itu ke bawah.

Siwon kembali masuk ke kamar tanpa lupa menutup pintunya. Dia menarik kursi ke samping tempat tidur. Yoona sudah sadarkan diri saat dokter memeriksanya. Saat ini wanita itu sedang duduk setengah berbaring sambil bersandar di tempat tidur.

“Bagaimana keadaanmu? Apa sekarang …”

“Pergilah! Tinggalkan aku sendiri!” ujar Yoona memotong kalimat Siwon. Yoona sama sekali tak melirik Siwon. Wanita itu masih betah memasang ekspresi datar di wajahnya.

Siwon mendesah pelan. “Aku tidak akan kemana-mana. Aku akan ada di sini menemanimu, menjagamu!” bantah Siwon. Dia lalu mengambil mangkuk yang berisi bubur yang tadi telah dibuatnya sementara Yoona masih tak sadarkan diri. Siwon memang menyiapkannya karena dia merasa Yoona pasti belum makan apapun setelah keluar dari rumah tadi.

“Sekarang kau harus makan dulu.” Tangan Siwon bergerak ingin menyuapi Yoona tapi Yoona memalingkan wajahnya.

“Aku tidak lapar!” tukas Yoona.

“Yoong, kau harus makan dan minum obat. Jadi sekarang bukalah mulutmu!”

Yoona menatap Siwon sinis. “Sudah kubilang aku tidak lapar dan aku tidak ingin makan. Aku hanya ingin kau keluar dari kamar ini dan membiarkanku sendiri!”

Siwon meletakkan sendok kembali ke mangkuk bubur yang masih dipegangnya. Dia tersenyum kecut. “Kenapa aku harus keluar dari kamar ini? Ini kamarku, rumahku. Aku bebas berada di mana saja di dalam rumah ini sesuka hatiku, begitupun dirimu. Sekarang kau sedang sakit dan butuh istirahat dan aku akan ada di sini menjagamu. Kita tidak akan keluar dari kamar ini malam ini. Sekarang kau harus makan.”

“Aku tidak …”

“Jika kau masih keras kepala tidak mau makan, maka aku akan menyuapimu dengan cara yang lain. Aku akan memangkumu sambil menyuapimu. Apa itu yang kau inginkan?” Siwon menyela kalimat bantahan Yoona dengan sebuah ancaman yang dia tahu pasti tidak diinginkan Yoona.

Yoona menggigit bibirnya kesal. Tapi saat Siwon mulai menyuapinya lagi dengan enggan dia pun membuka mulutnya dan mengunyah bubur suapan Siwon.

Setelah suapan ketiga, Yoona merasakan mual dan ingin muntah. Mungkin karena dia memang terlalu lama berjalan di hujan yang lebat sehingga membuatnya masuk angin.

“Aku tidak bisa makan lagi.” Ujarnya seraya menolak suapan keempat Siwon. Siwon mengangguk mengerti. Diletakkannya kembali mangkuk yang masih berisi bubur itu ke atas meja kecil yang terdapat di samping tempat tidur. Lalu dia mengambil obat dan segelas air yang juga terletak di sana.

“Kalau begitu minumlah obatmu agar kau bisa lebih baikan.” Siwon menyerahkan obat itu ke tangan Yoona. Mau tidak mau Yoona harus meminumnya.

“Sekarang tidurlah!” ujar Siwon lagi seraya membantu Yoona merebahkan diri.

Yoona mencibir. “Kenapa malam ini kau begitu sering memerintahku?”

“Aku tidak memerintahmu. Aku hanya memintamu melakukan hal yang akan membantumu untuk memulihkan diri.” Jawab Siwon. Ditariknya selimut hingga ke dada Yoona. Lalu matanya terpaku saat menatap kedua manik mata Yoona yang juga sedang menatapnya. Mata itu masih telihat sembab. “Seharusnya kau tidak menangis untuk sesuatu yang belum kau tahu kejelasannya. Tapi aku tidak akan membahasnya malam ini. Kita masih punya banyak waktu. Kau perlu istirahat. Selamat tidur!”

Siwon menundukkan kepalanya dan sebuah ciuman ringan mendarat di bibir Yoona. Yoona membelalakkan matanya. Tapi entah kenapa dia tidak bisa mendorong Siwon menjauh. Setelah beberapa saat, Siwon akhirnya mengakhiri ciumannya dan mengusap pipi Yoona lembut.

“Beraninya kau mengambil kesempatan seperti ini untuk menciumku.” Ujar Yoona sinis.

Siwon tersenyum kecil. “Aku tidak mengambil kesempatan, tapi aku melakukan apa yang memang seharusnya aku lakukan sejak awal.” Jawab Siwon. Lalu dia meletakkan handuk kompresan ke dahi Yoona. Setelah itu dia mengitari kasur dan berbaring di samping Yoona. Yoona ikut mengawasinya dengan matanya. Terlebih lagi saat Siwon memiringkan tubuhnya menghadap ke arah Yoona, Yoona semakin memicingkan matanya.

“Tidak perlu menatapku seperti itu. Mulai sekarang aku tidak akan diam lagi. Aku akan menunjukkan padamu apa yang aku rasa sebenarnya saat bersamamu dan akan melakukan apa yang ingin hatiku lakukan. Tidurlah.” Ujar Siwon seraya mengatupkan matanya.

Yoona mendesis kesal lalu memiringkan badannya membelakangi Siwon. Sedangkan Siwon tersenyum melihat tingkah Yoona itu.

~~~

Yoona merasa kedinginan merasuki seluruh tubuhnya. Penghangat ruangan pun terasa tak bisa menghalau rasa dingin yang dirasakannya. Yoona bergerak dengan gelisah ingin mencari kehangatan sampai akhirnya dia mendapatkan kehangatan itu dari sesuatu yang kekar dan bidang. Di rapatkannya tubuhnya, bergelung di dalam kehangatan itu.

“Yoong … !!!” sebuah suara maskulin mengusiknya tapi Yoona tidak ingin menggubrisnya. Dia semakin merapat terbuai akan kehangatan yang didapatnya itu.

“Yoona …” suara itu kembali memanggil namanya dan kali ini terasa ada yang menyentuh pipinya dengan lembut. “Yoona …” lagi-lagi suara itu mengusiknya dan Yoona benar-benar terusik kali ini. Yoona membuka matanya dengan enggan. Setelah beberapa saat akhirnya dia menyadari apa yang dia lakukan. Saat ini dia sedang bergelung dengan nyamannya di dada Siwon yang bidang dan pria itu sedang menatapnya seraya mengusap pinya dengan lembut. Sontak saja Yoona langsung bergerak menjauh tapi lengan Siwon yang bebas itu langsung menahan geraknya dan menarik tubuhnya hanya dengan sekali hentakan yang pelan.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Yoona.

“Aku melakukan apa yang kau inginkan. Sepertinya kau kedinginan. Aku akan memelukmu!”

“Jangan coba-coba! Aku tidak sudi dipeluk olehmu!” tolak Yoona dengan nada suara yang lebih keras.

“Ucapanmu saat ini begitu bertolak belakang dengan apa yang kau lakukan beberapa saat lalu. Kau begitu nyaman bergelung di dalam pelukanku.”

“Aku tidak sengaja melakukannya.”

“Sengaja atau tidak sengaja aku tidak perduli, Yoong. Aku sudah pernah memperingatkanmu bahwa aku tidak akan membiarkanmu lepas dariku jika kau mulai mendekatiku. Dan itu adalah hal yang seharusnya aku lakukan sejak dulu. Hanya karena aku tidak ingin kau semakin membenciku, aku memilih untuk menahannya. Tapi sekarang tidak lagi. Aku tidak perduli kau akan membenciku atau tidak, aku akan tetap menahanmu di sisimu.” Ujar Siwon lalu meraih Yoona ke dalam pelukannya. Memeluk istrinya itu dengan erat tapi tidak menyesakkan. Yoona sempat menolak tapi Siwon yang memang lebih kuat tetap menahannya berada di pelukan pria itu. Lagipula Yoona tidak punya begitu banyak tenaga untuk melawan. Sehingga dia memilih untuk menyerah. Setidaknya untuk sementara.

“Tidurlah, Yoong! Aku akan memelukmu agar kau tidak kedinginan lagi! Aku mncintaimu!” bisik Siwon lirih. Yoona yang sudah berniat tidak ingin mempercayai Siwon dan tidak akan dengan mudah membiarkan perasaannya jatuh lagi, entah kenapa mengabaikan niatnya dan terbuai dengan ucapan Siwon itu. Bagaikan terhipnotis, Yoona pun memejamkan matanya dan membiarkannya terbuai dalam kenyamanan pelukan Siwon. Jika dia akan menyesali ini, maka dia akan menyesalinya esok hari. Tapi saat ini dia benar-benar butuh kehangatan dan kenyamanan. Semua itu didapatkannya saat ini dalam pelukan Siwon. Itu yang penting untuknya sekarang.

***

Setelah malam itu, Siwon semakin menunjukkan perhatiannya kepada Yoona. Siwon bahkan memilih untuk tidak ke kantor hanya untuk menjaga Yoona yang sedang sakit. Jika ada sesuatu yang penting dan memerlukan tanda tangannya, maka Siwon akan menyuruh asisten pribadinya untuk mengantarkannya ke rumah. Tak sedikitpun Siwon ingin beranjak dari sisi Yoona. Baginya Yoona adalah hal yang sangat penting. Dia juga tidak ingin terus-menerus membuat Yoona teguh pada pendiriannya untuk membenci semua laki-laki hanya karena kekecewaannya di masa lalu. Siwon berbeda. Mengecewakan dan menyakiti Yoona adalah hal yang ingin dia hindari selama sisa hidupnya. Meski dia menikahi Yoona dengan cara yang sedikit salah, memaksa menikah tanpa memberitahu apapun pada Yoona.

Sedangkan Yoona mulai merasa tidak nyaman pada dirinya sendiri. Dia tidak pernah membiarkannya hilang kendali dan mudah tergoda. Tapi dengan Siwon dia merasa berbeda. Apalagi selama dia sakit, dia benar-benar merasa bukan seperti dirinya. Perasaannya yang ingin dia bunuh malah semakin berkembang dan membuncah tiap kali Siwon ada di dekatnya. Bahkan dia tak pernah lagi menolak jika pria itu memeluknya atau memberi kecupan-kecupan ringan di wajahnya.

“Hai sayang! Maafkan aku hari ini banyak menghabiskan waktu di ruang kerja. Ada beberapa pekerjaan yang butuh perhatianku!” ujar Siwon seraya memeluk Yoona dari belakang yang saat itu sedang membaca novel roman di balkon kamar mereka. Yoona tidak menjawab. Siwon melepaskan pelukannya dan duduk di kursi malas yang berada di sebelah Yoona.

“Baca novel lagi?” tanya Siwon meski dia sudah tahu pasti jawabannya. Yoona hanya mengangguk sebagai jawabannya. Siwon memperhatikan Yoona. Sepertinya kondisi Yoona sudah mulai fit. Wajah wanita itu mulai merona. Tidak pucat seperti beberapa hari lalu.

“Yoong, hyung-ku mengundangku untuk datang ke pestanya besok malam. Aku ingin kau ikut denganku.” Siwon mengutarakan maksudnya. Yoona meliriknya dengan dahi berkerut.

“Hyung? Bukankah kau anak tunggal?” tanya Yoona.

Siwon tersenyum dan mengangguk pelan. “Dia kakak sepupuku yang baru datang dari Paris beberapa hari yang lalu. Besok malam dia akan mengadakan pesta di rumahnya dan aku ingin mengenalkanmu padanya. Kau mau kan?”

Yoona terlihat menimbang selama beberapa saat lalu akhirnya mengangguk.

“Terserah kau saja.” Jawabnya. Lalu dia beranjak dari tempat duduknya. Entah kenapa akhir-akhir ini tiap kali berhadapan dengan Siwon membuat jantungnya menjadi berdetak tak karuan. Meski dia pernah mendengar Siwon mengatakan cinta padanya dan pria itu sekarang selalu memperhatikannya, Yoona tidak mau dengan mudahnya melupakan kenyataan bahwa pernikahan mereka dibangun di atas pondasi yang rapuh. Ketidaknyamanan di hatinya membuatnya ingin segera menentukan sikap agar tidak begitu terbuai akan perhatian dan sikap Siwon padanya. Setidaknya dia bisa melakukannya secara tidak langsung. Jika Siwon memang sungguh-sungguh mencintainya, maka dia akan memastikannya secara perlahan. Bukan menerimanya mentah-mentah.

“Kau mau kemana?” tanya Siwon seraya menahan tangan Yoona ketika wanita itu ingin melewatinya.

Yoona mendesah pelan. “Aku ingin berbaring.” Jawabnya. Jawabannya itu membuat Siwon sontak berdiri lalu membalikkan tubuh Yoona agar menghadap ke arahnya. Ditangkupnya wajah Yoona dengan kedua tangannya lalu di rabanya dahi Yoona apa masih terasa panas. Tapi suhunya biasa saja.

“Apa kau sakit lagi? Tapi suhu badanmu biasa saja! Apa ada yang sakit?” tanya Siwon. Yoona menyingkirkan tangan Siwon dari wajahnya dengan pelan.

“Aku tidak apa-apa. Aku hanya ingin berbaring saja.” Jawab Yoona tanpa mau menatap ke mata Siwon langsung.

Siwon merasa sikap Yoona mulai aneh lagi. “Kau berusaha menghindariku kan?” matanya menyipit mencoba meneliti sikap Yoona.

“Aku lelah. Aku ingin berbaring!” Yoona sama sekali tidak ingin menjawab pertanyaan Siwon itu. Dia melangkah masuk ke kamar tapi tiba-tiba Siwon memeluknya dari belakang yang membuat langkahnya terhenti.

“Jangan menghindariku, Yoong! Aku sedang berusaha untuk menunjukkan cintaku padamu, jadi jangan menghindariku, Yoong! Tapi jika kau tetap keras kepala dan melakukannya maka aku akan selalu menahanmu seperti ini. Aku akan menahanmu sehingga kau takkan sanggup melangkah sedikitpun dariku. Meski begitu aku tidak ingin kau bersikap seperti dulu lagi. Aku tidak ingin kau menghindariku apalagi membohongi perasaanmu padaku.” ujar Siwon lirih di telinga Yoona. Hangat nafas pria itu seolah meniupkan sebuah perasaan yang membuat sekujur tubuh Yoona berdesir hangat.

Yoona mendesah. Debaran jantungnya semakin tak karuan dan mungkin tangan Siwon yang kini ada tepat di dadanya bisa merasakan hal itu dengan jelas. Yoona menepis tangan Siwon dengan pelan dari tubuhnya.

“Aku butuh waktu untuk meyakinkan diriku.” Ujar Yoona dengan tetap membelakangi Siwon. “Sejujurnya sikapmu mulai membuat hatiku goyah dan mungkin mulai menumbuhkan perasaan yang kau inginkan. Tapi kenyataan bahwa kau termasuk orang yang telah membuat hidupku serasa dipermainkan membuatku tak bisa mengabaikannya dan sebisa mungkin ingin membunuh perasaanku padamu. Kepercayaanku terlalu sering di sia-siakan oleh orang yang ada di dekatku. Jadi maafkan aku jika aku tidak bisa dengan mudahnya melakukan apa yang kau inginkan.” Tambahnya dingin.

“Yoong, aku bisa menjelaskan padamu jika ini hanya masalah tentang pembicaraanku dengan Yoonhee tempo hari. Kami …”

“Saat ini aku tidak ingin mendengar apapun.” Sela Yoona. “Aku tidak ingin mendengar apa yang kalian bicarakan. Aku sudah jujur padamu kalau hatiku saat ini sedang goyah padamu tapi bukan berarti aku bisa percaya padamu. Tolong jangan terlalu mendesakku. Aku bisa melakukan hal yang lebih parah dari yang aku lakukan kemarin.” Tambah Yoona lagi. Lalu masuk ke kamar mandi tanpa lupa mengunci pintunya dari dalam. Mencoba menenangkan debaran hatinya yang membuatnya semakin sesak.

Dia mengakui saat ini dia tidak bisa mengingkari hatinya yang mulai menyukai Siwon. Tidak, lebih tepatnya dia telah merasakan perasaan itu entah sejak kapan dan sekarang perasaan itu telah berkembang menjadi sebuah perasaan yang tidak diinginkannya lagi dalam hidupnya setelah pengkhianatan Minho padanya.

Cinta itu hanya sebuah kamuflase dari perasaan sakit yang akan dirasakannya setelah kesan indah yang ditinggalkannya nanti, dan kepercayaan adalah sikap yang akan menghadapkannya lagi pada pengkhianatan yang begitu pahit. Yoona tidak ingin itu terjadi lagi. Dia sudah berjanji tidak akan bertindak bodoh lagi meski Tuhan menentangnya. Kebodohan karena telah mencintai dan mempercayai sehingga membawa hidupnya menjadi seperti ini, Yoona tidak ingin merasakannya lagi. Maka mulai saat ini dia ingin kembali meneguhkan pendiriannya. Jika Siwon benar-benar mencintainya maka dia perlu melihat seberapa besar cinta yang dirasakan pria itu untuknya. Apa itu benar cinta atau hanya perasaan sesaat yang timbul karena kehadirannya di hidup pria itu.

***

“Kau kenapa lagi?” tanya Uchie pada Siwon setelah hampir satu jam lamanya mereka berada di caffe langganan mereka setelah Siwon mengajaknya untuk makan siang, tapi Siwon hanya diam dan sesekali menghembuskan nafas berat seakan sedang menderita beban yang begitu besar. Makanannya pun hanya diaduk-aduk tak karuan dengan sumpitnya. “Sudah hampir sejam kita di sini. Makanan dan minumanku juga sudah tandas tak bersisa, tapi yang kau lakukan hanya diam mengaduk-ngaduk makananmu dan mendesah tak karuan. Sebenarnya kau kenapa lagi Choi Siwon?” tanya Uchie lagi saking penasaran dan tidak tahan melihat tingkah Siwon di depannya. Makanan Siwon yang diaduk-aduk pria itu tak karuan membangkitkan rasa mualnya sehingga dia menjadi tidak sabaran.

Siwon menghentikan tindakannya itu dan memindahkan piring makanannya dari hadapannya. Lagi-lagi dia mendesah dengan nafas berat.

“Menurutmu aku ini orang seperti apa?” tanya Siwon sambil menatap Uchie.

Uchie mengangkat alisnya tak mengerti. “Maksudmu?”

“Apa menurutmu aku termasuk pria yang tidak bisa dipercaya? Apa menurutmu aku akan tega menyakiti hati seorang gadis?” tanya Siwon lagi.

“Kenapa kau bertanya seperti itu? Apa ini ada hubungannya dengan Yoona lagi” Uchie malah balik bertanya. Siwon hanya mengangguk sebagai jawabannya. Wajah pria itu tampak murung bahkan lebih murung dari saat terakhir kali dia menceritakan perihal hubungannya dengan Yoona pada Uchie di tempat yang sama dengan yang mereka tempati saat ini.

“Bukankah baru dua hari yang lalu kau menelfonku dan mengatakan kalau hubunganmu dengan Yoona mulai membaik. Dia juga tidak menolakmu lagi. Lalu sekarang apa lagi yang menjadi masalahnya?” tanya Uchie lagi.

Lagi-lagi Siwon mendesah. Di arahkannya pandangannya keluar jendela tapi fokus pandangannya tidak benar-benar ada di sana. Mata itu justru menerawang dan terlihat putus asa.

“Itu hanya berlangsung selama beberapa hari. Tapi hari ini, dia mulai bersikap dingin lagi padaku meski tidak secara langsung.” Jawab Siwon murung.

Uchie mengernyit. “Pourquoi? (Kenapa?)”

Siwon mengangkat bahu sepintas. “Molla. Mungkin dia masih berpikir kalau aku tidak sungguh-sungguh mencintainya. Mungkin juga karena dia belum bisa mempercayaiku.” Jawabnya. “Uchie-ya, kau adalah sahabat yang paling dekat denganku dan yang paling mengenalku. Menurutmu apa aku memang pria yang tidak bisa dipercaya dan tega menyakiti hati wanita?”

Siwon menatap Uchie yang kelihatannya seperti sedang berpikir.

“Menurutku kau adalah pria yang bisa dipercaya tapi bicara soal menyakiti hati wanita, kau adalah salah satunya.” Ujar Uchie.

“Mwo? Kapan aku menyakiti hati seorang wanita?” protes Siwon tidak terima.

Uchie terkekeh pelan. “Yak, apa kau tidak ingat berapa banyak gadis yang kau buat patah hati saat mendekatimu? Kau begitu dingin dan jika kau tahu ada gadis yang mencoba mendekatimu maka kau akan menghina atau menolak mereka dengan kata-katamu yang setajam pisau.” Cibir Uchie. “Aku salut pada Yoona. Dia adalah wanita yang membuatmu jatuh cinta setengah mati hanya dengan melihatnya sekali. Dia bahkan mampu membuat seorang Choi Siwon begitu kelimpungan memikirkan cara agar bisa mendapatkan hatinya. Mungkin ini karma untukmu.” Imbuhnya lagi.

Siwon diam. Dia memikirkan ucapan Uchie yang memang ada benarnya. Ya, mungkin ini karma untuknya karena tidak pernah menghargai perhatian dan perasaan dari orang-orang yang pernah menaruh simpati padanya. Hatinya terlalu dingin dan sombong untuk menerima perhatian dan simpati dari orang yang tidak diinginkannya. Dan sekarang dia harus merasakan bagaimana menghadapi kedinginan hati dari wanita yang dicintainya untuk pertama kalinya dan diniatkannya akan menjadi satu-satunya dan terakhir di dalam hidupnya.

“Kau benar.” Ucap Siwon kemudian. “Aku memang terlalu angkuh dan dingin. Aku tidak pernah perduli pada perasaan orang-orang yang telah kusakiti. Dan sekarang akhirnya aku yang merasakan sakitnya karena cintaku tidak begitu diperdulikan.”

“Siwon-aa …”

“Tapi …” Siwon menatap Uchie dengan tatapan yang menyiratkan keinginan yang kuat. “Aku bukan orang yang bisa membiarkan cintaku pergi tanpa pernah melakukan apapun. Aku akan berusaha mendapatkannya. Aku yakin jika aku mau berusaha lebih keras lagi aku pasti bisa meluluhkan hatinya. Aku mencintainya dan aku akan membuatnya mencintaiku.” Tekad Siwon.

“Aku seperti pernah mendengar hal yang sama beberapa waktu lalu saat kita bertemu tempo hari di sini. Aku harap kali ini tekadmu lebih kuat dari yang kemarin. Jadi jika kau mendapat penolakan sepele dari istrimu itu tidak akan membuatmu uring-uringan lagi seperti ini.”

Siwon mengangguk antusias. Uchie tersenyum melihat semangat sahabatnya yang telah kembali itu. Diliriknya arlojinya sepintas.

“Ahh, maaf aku tidak bisa lama-lama lagi. Aku harus mengecek kandunganku lagi hari ini. Kemarin sempat terjadi masalah.” Ujar Uchie seraya berdiri dan menyampirkan tasnya di salah satu bahunya.

“Masalah? Apa ada yang salah dengan kandunganmu?” tanya Siwon ikut berdiri. Dia juga agak khawatir dengan keadaan sahabatnya itu. Dia pernah mendengar terkadang wanita sering mengalami masalah saat kehamilan pertama.

Uchie tersenyum lalu menggeleng pelan. “Bukan masalah besar. Aku hanya mengalami kram perut saja semalam. Dan itu tidak apa-apa. Tapi hyung-mu yang keras kepala itu terus saja memintaku untuk memeriksanya ke dokter. Bahkan semalam dia hampir menyeretku ke rumah sakit tapi untungnya aku masih bisa meyakinkannya untuk menunggu.” Uchie tertawa kecil sambil membayangkan bagaimana ekspresi suaminya yang begitu cemas.

“Yak, itu karena dia terlalu mencntaimu makanya dia mencemaskanmu seperti itu. Lalu kau akan ke rumah sakit sendirian?”

Uchie mengangguk. “Eo. Seunghyun oppa tidak bisa mengantarku karena hari ini dia ada meeting penting membahas kepindahannya ke sini.” Jawab Uchie. Lalu dia mengernyit. “Bukannya kau juga seharusnya kembali ke kantor sekarang?”

“Aku sedang tidak ingin masuk kerja hari ini.” Siwon tersenyum. “Bagaimana kalau aku saja yang mengantarmu ke rumah sakit? Setelah itu aku akan pulang untuk menjemput Yoona. Malam ini kan aku dan dia harus menghadiri pestamu.”

Uchie menepuk dahinya. “Oh ya ampun aku hampir lupa tentang pesta malam ini. Aku masih harus mengecek kembali persiapan di rumah.”

“Kau kan punya banyak pekerja di rumahmu. Yang terpenting sekarang adalah memeriksakan kandunganmu dulu.”

“Yoong, di sini!” tiba-tiba Siwon mendengar teriakan seseorang dari belakang mereka. Dia menoleh dan melihat seorang gadis sedang melambai-lambaikan tangannya pada seseorang. Siwon tanpa sadar menoleh ke arah pintu masuk caffe dan Uchie juga mengikuti pandangannya.

Seketika mata Siwon membelalakkan matanya melihat sosok wanita yang berdiri kaku tak jauh dari tempatnya berdiri. Mata wanita itu berkilat-kilat seperti menahan amarah.

“Yoona …?”

“Yoong …?”

Uchie dan Siwon mengucapkan nama Yoona hampir bersamaan saat menyadari siapa yang berdiri di hadapan mereka.

Uchie yang lebih dulu tersenyum dan menghampiri Yoona.

“Hi, Yoona. Aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu di sini. Kebetulan sekali.” Sapa Uchie dengan senyuman manisnya. Namun Yoona sama sekali tidak berniat untuk membalas sapaan itu.

“Yoong … sedang apa kau di sini?” tanya Siwon yang juga kini sudah berada di dekat Yoona.

Yoona tidak menjawab. Dia berjalan melewati Siwon dan Uchie. Namun dengan cepat Siwon menahan tangannya.

“Yoong, aku bertanya padamu.” Siwon mencoba menuntut jawaban.

Yoona tersenyum kecut. Ditepisnya tangan Siwon dari tangannya.

“Maaf, aku sudah ditunggu!” Hanya itu yang keluar dari mulut Yoona sebagai jawaban dari pertanyaan Siwon. Dia lalu melangkah menuju ke arah gadis yang tadi dilihat Siwon melambai-lambaikan tangannya.

“Siwon, sebaiknya kau hampiri Yoona saja. Aku punya perasaan dia terlihat sedikit salah paham akan hubungan kita.” Ujar Uchie lirih. “Aku akan ke rumah sakit sendiri dan akan meminta Seunghyun oppa menjemputku nanti.” Imbuhnya.

Siwon menggeleng lalu mengalihkan pandangannya pada Uchie.

“Ani. Aku akan mengantarmu.” Putus Siwon.“Aku akan menghadapi Yoona di rumah nanti. Lagipula malam ini aku akan mengajaknya ke pestamu. Jika dia salah paham dengan hubungan kita, maka malam ini dia akan menemukan jawaban yang lebih tepat.”

“Tapi Siwon …”

“Sudahlah. Ayo kita ke rumah sakit sekarang. Aku dan Yoona pasti akan baik-baik saja.” Ujar Siwon meyakinkan. Setelah berpikir sejenak, akhirnya Uchie mengangguk.

Siwon tersenyum. Lalu dia dan Uchie pun meninggalkan caffe itu.

Yoona sempat melirik melihat kepergian kedua orang itu. Tangannya terkepal di sisi tubuhnya. Hatinya begitu sakit melihat Siwon dengan wanita lain. Bahkan setelah melihat Yoona, Siwon tetap memilih untuk pergi dengan gadis Pranciss itu. Apa pria itu ingin menunjukkan bagaimana melakukan perselingkuhan dan pengkhianatan di depan matanya. Baru beberapa hari yang lalu Yoona merasa dirinya seperti wanita pengganti kakaknya di dalam kehidupan pria yang bernama Choi Siwon itu. Lalu pria itu membuainya dengan segala perhatian dan ungkapan cintanya. Dan sekarang pria itu kembali mengiris hatinya dengan berkencan dengan gadis pirangnya itu.

“Sialan. Dia pikir dia siapa berani mempermainkanku seperti ini. Apa dia pikir aku terlalu mudah untuknya. Sialan!!!” rutuk Yoona dalam hati.

“Yoong …? Yoong, kau kenapa?” teguran dari gadis di depannya menyadarkan Yoona yang sempat larut dalam pikirannya. Yoona tersenyum kecil dan menggeleng pelan. Tapi pikirannya kembali melayang, memikirkan Siwon.

Yoona segera berdiri dan menyambar tasnya.

“Yoong, ada apa?” tanya gadis cantik berparas Indo di depannya.

“Ahh, Rindu maaf aku tidak bisa menemanimu hari ini. Aku ada urusan yang lebih penting. Tapi aku akan mengundangmu nanti ke rumahku sebelum kau kembali ke Indonesia. Aku pergi dulu.” Yoona beranjak meninggalkan temannya yang bingung harus berbuat apa.

“Yoong, kau mau kemana?” tanya seorang pria yang menghampiri meja di mana tadi dia duduk.

Yoona berhenti sejenak. “Sihoo oppa … ahh, aku harus pergi. Aku tidak bisa menemani Rindu hari ini. Temanilah dia. Aku akan mengundang kalian makan malam di rumahku nanti. Aku pergi. Mian …” ujar Yoona seraya berlalu meninggalkan kedua orang temannya yang menatap kepergiannya dengan bingung.

“Dia kenapa? Kenapa terburu-buru seperti itu?” tanya pria yang bernama Park Si Hoo seraya duduk di depan gadis yang tadi dipanggil Yoona dengan nama Rindu itu.

Rindu hanya mengangkat bahunya tanda dia juga tidak tahu.

“Molla. Tadi dia hanya diam saja setelah berpapasan dengan seorang pria tampan dan gadis asing. Lalu tiba-tiba dia pamit seperti itu.” Jawab Rindu.

“Benarkah? Apa itu suaminya?”

“Suami?” tanya Rindu memastikan. “Tapi itu bukan Minho oppa.”

Si Hoo menatap gadis di depannya itu seraya tersenyum. “Yoona tidak menikah dengan Minho. Dia menikah dengan salah satu pengusaha ternama di sini. Apa kau belum tahu?”

Rindu mengangguk. “Eo. Terakhir kabar yang aku dapat darinya kalau dia akan menikah dengan Minho oppa. Lalu kenapa dia malah menikah dengan orang lain bukannya dengan Minho oppa?” Rindu semakin penasaran dengan kisah sahabatnya yang sudah selama setahun tidak bertemu dengannya itu karena dia harus kembali ke Indonesia setelah mengambil gelar sarjananya. Dan sekarang dia kembali ke Korea untuk liburan.

“Aku juga tidak tahu bagaimana jelasnya karena saat itu aku juga sedang ada di Jepang mengurus pekerjaanku. Dari kabar yang berhembus Minho membatalkan pernikahan di hari pelaksanaannya dan pergi entah kemana.”

“Benarkah? Minho oppa melakukan itu?” tanya Rindu tidak percaya.

Sihoo mengangguk. “Sudahlah, kita tidak usah membahasnya.” Katanya seraya tersenyum kepada gadis yang selama ini dia kagumi dan diam-diam telah tersimpan di dalam hatinya sejak awal pertemanan mereka.

“Sekarang untuk mengisi hari pertama liburanmu di Korea, kau ingin kemana? Aku akan menemanimu dan menjadi tour gate spesialmu hari ini.”

Rindu tersenyum mendengar tawaran dari pria tampan di depannya itu. Dia tampak berpikir sejenak. “Baiklah, karena kau sudah menawarkan diri maka aku akan menerima tawaranmu itu, oppa. Aku ingin mengunjungi beberapa tempat hari ini. Kau benar-benar tidak boleh menarik tawaranmu itu.”

Sihoo mengangguk. “Tentu saja aku tidak akan menariknya. Bisa bertemu denganmu lagi saat ini membuatku takkan menyia-nyiakan sedetikpun untuk bersamamu.” Batin Sihoo.

***

Siwon menghentikan mobilnya di depan teras rumahnya dengan bunyi rem yang berdecit. Dilihatnya mobil Yoona sudah terparkir juga di sana. Dia segera berlari masuk ke dalam rumahnya dan langsung menuju ke kamar. Sosok Yoona yang berdiri di depan cermin rias besarnya dengan mengenakan gaun tanpa lengan berwarna soft blue dengan potongan yang cantik dan elegan dan terbuka di bagian punggungnya sehingga punggung Yoona yang putih mulus itu terlihat dengan jelas. Gaun itu begitu indah dan sangat pas membalut tubuh Yoona.

Siwon terpana melihat penampilan Yoona di depannya itu.

“Kau kenapa?” tanya Yoona menyadarkan Siwon yang masih berdiri diam di samping pintu.

Siwon tampak sedikit salah tingkah. Tapi dia segera berjalan menghampiri Yoona.

“Kenapa kau berpenampilan seperti ini?” tanya Siwon mengabaikan pertanyaan Yoona sebelumnya.

Yoona tersenyum. “Bukankah malam ini kita harus menghadiri sebuah pesta?! Aku juga sudah menyiapkan pakaianmu.” Jawab Yoona seraya melirik setelan jas di atas kasur. Siwon juga ikut melirik jas itu. Lalu dia kembali menatap wajah Yoona seraya mengangkat salah satu alisnya. Dia merasakan ada suatu keanehan dari sikap Yoona saat ini.

“Apa kau tidak ingin mengatakan sesuatu padaku?” tanya Siwon ingin tahu. Setelah Yoona melihatnya dengan Uchie tadi dan mungkin jika Yoona salah paham, seharusnya wanita itu mengatakan sesuatu padanya. Itulah yang membuatnya segera mengebut pulang ke rumah setelah mengantarkan Uchie pulang. Hatinya begitu tidak tenang meskipun tadi dia mengatakan pada Uchie bahwa itu bukanlah masalah besar.

Lagi-lagi Yoona tersenyum. Disentuhnya dada Siwon dan memain-mainkan tangannya di dasi yang dipakai Siwon. Lalu dia menatap lembut ke wajah Siwon yang sedang menatapnya heran.

“Aku tak ingin mengatakan apapun. Mandilah. Kita akan terlambat ke pesta jika kau hanya terus memandangiku seperti ini.” Ujar Yoona.

“Yoong, kau terlihat mengkhawatirkan saat ini.” Ucap Siwon. “Sikapmu membuatku sedikit takut.”

“Eo?” tanya Yoona memasang tampang bingung.

Siwon menangkup wajah Yoona dengan kedua tangannya, menatap mata istrinya itu langsung ke manik matanya seolah menilik sesuatu yang tersembunyi di sana.

“Yoong, aku tahu kau saat ini sedang menyimpan kemarahan padaku entah karena masalah yang sebelumnya atau karena apa yang kau saksikan tadi di caffe. Tapi aku berharap kau tidak terlalu salah paham dengan hubunganku dan Uchie. Sebentar lagi kau akan mendapatkan penjelasannya. Yang harus kau yakini bahwa hanya kaulah satu-satunya wanita yang ada di dalam hatiku saat ini. Wanita yang akan aku cintai seumur hidupku.” Ujar Siwon mantap dan sungguh-sungguh.

Yoona mengangguk dan tersenyum sebagai jawabannya. Lalu dengan sekejap Siwon mendekatkan wajahnya dan memangut bibir Yoona sepintas.

“Aku mandi dulu.” Ucap Siwon lagi seraya mengecup kening Yoona sebelum akhirnya masuk ke kamar mandi.

Yoona masih berdiri di tempatnya. Diusapnya bibirnya dengan kasar seakan ingin menghilangkan jejak ciuman Siwon baru saja di tempat itu. Sebuah senyum sinis terlukis di wajahnya. “Penjelasan? Aku tidak membutuhkannya! Malam ini adalah akhir dari pernikahan sialan ini dan akan aku pastikan kau akan menyesali apa yang telah kau perbuat padaku.”

***

Pesta itu terlihat begitu meriah tapi terkesan anggun. Banyak pengusaha-pengusaha muda yang menjadi tamu di pesta itu. Yoona memperhatikan tamu-tamu dan matanya akhirnya menangkap sosok wanita yang dicarinya. Wanita itu sangat mudah dikenali karena wajahnya yang memang mempunyai ciri khas orang asing dan rambutnya yang pirang. Ya, sejak memasuki ruangan pesta itu sosok yang di cari Yoona adalah Uchie. Wanita yang diakui sebagai teman oleh Siwon tapi pendengarannya di caffe tadi tidak bisa ditipu.

“Kau kan punya banyak pekerja di rumahmu. Yang terpenting sekarang adalah memeriksakan kandunganmu dulu.”

Kalimat Siwon itu masih terngiang jelas di telinganya. Jadi wanita yang dikatakan temannya itu sedang mengandung. Dan Yoona yakin wanita itu mengandung anak Siwon. Kalau tidak pria itu tidak akan terlihat cemas dan lebih memilih mengantar wanita itu daripada menjelaskan sesuatu kepada Yoona, istrinya.

Siwon menggamit Yoona menghampiri Uchie, pastinya. Seperti yang sudah diduga Yoona.

“Hai Siwon, Yoona … Ahh, aku pikir kalian tidak akan datang.” Sapa Uchie saat Yoona dan Siwon sudah di dekatnya.

“Hyung mana?” tanya Siwon.

“Dia ke toilet sebentar.” Jawab Uchie. “Yoona, bagaimana kabarmu?” tanya Uchie seraya beralih menatap ke arah Yoona.

“Tidak cukup baik setelah melihat perselingkuhan kalian berdua.” Jawab Yoona dingin. Diraihnya gelas yang berisi minuman yang terletak di meja tak jauh darinya dan menyiramkannya ke arah Uchie dengan kasar.

Uchie memekik kaget saat minuman dingin itu menyentuh tubuhnya. Gaunnya yang berwarna putih kini ternoda dengan warna minuman berwarna merah. Sedangkan Siwon dan seluruh tamu spontan terpusat memperhatikan mereka.

“Yoong, apa yang kau lakukan?” tanya Siwon. Matanya masih membelalak dengan apa yang baru saja dilakukan Yoona pada Uchie.

Yoona menatap Siwon dan tersenyum sinis. Di letakkannya kembali gelas yang kini sudah kosong itu ke meja. “Aku melakukan apa yang ingin hatiku lakukan setelah mengetahui hidupku dipermainkan berulangkali oleh orang-orang yang tidak aku kenal.” Jawabnya sinis.

“Yoong …”

Plakkk … !!!

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Siwon sehingga membuat pipi pria itu memerah.

“Jangan mengatakan apapun lagi di depanku, Choi Siwon-ssi. Aktingmu sama sekali tidak bisa menipuku lagi. Kau pikir aku bisa diam saja setelah kau berulang kali membohongiku? Tidak! Aku tidak bisa menahannya lagi.” Ujar Yoona tenang namun tersirat kesinisan di sana. Di lepaskannya cincin dari jari manis tangan kirinya dan menyerahkan cincin itu dengan kasar ke tangan Siwon. “Aku menuntut cerai darimu. Pernikahan konyol ini berhenti sampai di sini dan silahkan menikahi kekasihmu itu.” Tambahnya lagi seraya melirik Uchie.

“Yoona, sepertinya kau salah paham.” Uchie mencoba menyela.

“Jangan bicara denganku! Aku sama sekali tidak mengenalmu dan aku tidak ingin lagi berbicara dengan orang yang tidak aku kenal apalagi ikut mempermainkan hidupku.” Tukas Yoona.

“Ada apa ini?” tanya seorang pria yang menerobos kerumunan orang itu untuk melihat apa yang terjadi. Lalu dia mengalihkan perhatiannya pada Uchie. “Sweety, apa yang terjadi denganmu?”

Yoona tersenyum kecut lalu pergi menerobos kerumunan orang itu untuk meninggalkan pesta yang telah dia kacaukan. Tak disangka seseorang menarik tangannya dengan kuat untuk mengikuti langkah orang itu meninggalkan pesta. Tapi itu bukan Siwon melainkan pria lain yang pernah menyakiti hatinya.

“Apa yang kau lakukan? Kenapa kau menarik tanganku?” tanya Yoona marah saat dia dan pria itu sudah berada di luar pesta itu dan cukup tenang untuk berbicara. Pria yang berdiri di hadapannya adalah Lee Min Ho. Pria pengecut yang meninggalkannya di hari pernikahan mereka.

“Aku merindukanmu, Yoong!” ucap Minho setelah beberapa saat. Sontak Yoona menatap pria itu sedikit terkejut dengan ucapan Minho itu.

Yoona tertawa pelan dan setelah itu tatapannya menjadi sinis.

“Merindukanku? Yang benar saja! Apa kepalamu baru saja terbentur sampai kau bisa mengatakan rindu padaku?!”

Minho mendekati Yoona. “Aku tahu kau marah padaku atau mungkin membenciku, Yoong. Tapi aku mencintaimu dan aku sama sekali tidak berniat meninggalkanmu!” ujar Minho.

Lagi-lagi Yoona tertawa. “Yak, kau meninggalkanku di hari pernikahan kita dan hanya mengirimiku sebuah sms untuk membatalkan pernikahan kita. Kau juga tidak pernah datang untuk menjelaskannya padaku, kau menorehkan rasa malu yang harus kutanggung bersama keluargaku karena aku dicampakkan di hari pernikahanku sendiri. Dan sekarang kau mengatakan kau mencintaiku? Apa kau tidak punya malu? Apa kau pikir aku akan mempercayaimu setelah apa yang aku alami? Setelah hidupku dipermainkan?”

Minho tiba-tiba saja menarik Yoona ke dalam pelukannya.

“Yak, apa yang kau lakukan?! Lepaskan aku!!!” bentak Yoona seraya meronta di dalam pelukan Minho tapi pelukan Minho malah makin erat sehingga membuatnya sesak.

“Aku tahu kau marah dan membenciku, Yoong. Maafkan aku. Semua itu terjadi bukan atas kehendakku. Kau tahu ayahku tidak menyetujui hubungan kita bahkan sampai akhir. Sehari sebelum pernikahan kita penyakit jantung ayahku kambuh dan akhirnya aku dipaksa untuk menjauhimu. Aku terpaksa melakukannya, Yoong. Lalu kau menikah. Kenyataan itu membuatku begitu terpukul. Tapi setelah melihatmu tadi aku tidak perduli lagi, Yoong. aku bisa meninggalkan semuanya. Meninggalkan semuanya yang penting aku bisa kembali bersamamu. Aku mencintaimu, Yoong! Aku mencintaimu!” ujar Minho panjang lebar seraya lebih mengeratkan pelukannya lagi.

Yoona merasa hatinya sesak. Sesak karena penjelasan Minho dan juga sesak karena pelukan yang erat itu.

Tiba-tiba pelukan itu terlepas dan sebuah pukulan keras mengenai rahang Minho sehingga pria itu tersungkur jatuh.

“Jangan berani-beraninya kau menyentuh istriku!” bentak pria yang baru saja memukul Minho itu. Pria itu tak lain adalah Siwon. Lalu Siwon menarik Yoona ke sampingnya. “Jika kau melakukannya lagi maka aku bisa melakukan hal yang lebih buruk dari ini. Aku bisa mneghancurkanmu hingga tak ada yang bisa kau lakukan lagi.”

Minho berdiri dan menatap Siwon sengit seakan ingin menantangnya.

“Choi Siwon-ssi, aku tahu kau cukup berkuasa. Tapi kau tidak bisa memaksakan kehendakmu pada Yoona. Yoona sama sekali tidak mencintaimu. Lagipula di dalam juga ada kekasihmu. Seharusnya kau kembali padanya dan tinggalkan Yoona.”

Sebuah pukulan yang keras kembali mendarat di wajah Minho setelah dia mengucapkan kalimat itu.

“Kau pikir kau siapa berani mengatakan hal seperti itu padaku. Aku bukan orang sepertimu yang akan meninggalkan orang yang aku cintai. Yoona adalah satu-satunya untukku. Kekasih? Wanita di dalam yang kalian pikir kekasihku itu adalah sahabatku dan juga istri dari kakakku. Jadi jangan mencari-cari alasan untuk mencoba merebut Yoona dariku. Karena aku tidak akan membiarkannya sampai kapanpun!”

“Maaf, sebaiknya anda pergi dari pesta saya!” ujar seorang pria bertampang dingin. Yoona melihat pria itu dan mendapati Uchie yang berdiri di samping pria itu seraya menggamit lengan pria itu. “Saya mengadakan pesta ini untuk merayakan kepindahan saya ke sini. Bukan menjadi tempat perkelahian seperti ini.”

“Hyung?!” Ucap Siwon lirih saat melihat pria yang tak lain adalah Choi Seung Hyun, sepupunya.

“Seunghyun-ssi …?!” rupanya Minho juga mengenali pria itu.

“Maafkan saya. Saya bukannya ingin ikut campur dan berlaku tidak sopan kepada tamunya. Tetapi sebagai tuan rumah, saya sama sekali tidak ingin ada orang yang berkelahi di rumah saya. Jadi maafkan saya jika saya terpaksa meminta anda untuk meninggalkan rumah ini. Saya tidak ingin istri saya ini terganggu dengan perkelahian kalian.” Ujar Seunghyun lagi dengan sorot matanya yang tajam yang mampu membuat Minho tak ingin mencari masalah lagi. Minho pun meninggalkan tempat itu setelah dia melayangkan tatapannya pada Yoona untuk terakhir kalinya.

Kejadian itu begitu cepat sehingga Yoona bahkan tidak tahu harus melakukan apa selain berdiri bingung melihat orang-orang itu.

“Yoona, kau tidak apa-apa?” tanya Uchie saat melihat Yoona yang masih berdiri diam saja di samping Siwon.

“Yoona? Hmm, jadi ini istri Siwon?!” tanya Seunghyun seraya melihat ke arah Yoona.

“Hyung, maaf. Kami pergi dulu. Maaf karena telah mengacaukan acaramu.” Ujar Siwon pada Seunghyun. Lalu dia menatap Uchie. “Uchie-ya, maaf soal gaunmu.”

Uchie mengangguk. “Tidak apa-apa. Yang terpenting sekarang adalah kalian menyelesaikan masalh diantara kalian dulu.” Ucap Uchie tulus. Lalu dia melihat ke arah Yoona. “Yoona, kuharap kau tidak akan salah paham lagi pada Siwon. Dia begitu mencintaimu. Dan aku bukanlah pacarnya. Aku adalah istri dari kakak sepupunya.” Uchie menambahkan.

Yoona menunduk menyesal. Dia telah salah paham dan melakukan kesalahan yang begitu konyol.

“Kami pergi dulu!” pamit Siwon seraya menarik Yoona ikut bersamanya.

Sepanjang perjalanan tidak ada yang berani membuka suara. Perjalanan itu begitu menyiksa untuk Yoona. Perasaan bersalah karena telah mencurigai Siwon entah kenapa membuat Yoona sangat tersiksa. Apalagi sepanjang jalan itu Siwon begitu fokus menyetir dan wajahnya menyiratkan kemarahan.

“Ada apa ini? Kenapa aku menjadi seperti ini? Kenapa hatiku begitu lemah? Seharusnya aku tetap marah tapi kenapa kini rasa bersalah yang lebih menekanku? Apa aku benar-benar telah mencintainya?” batin Yoona.

Perasaan Yoona tidak tenang. Ada perasaan takut yang seketika menghantuinya. Dia takut kalau Siwon yang selama ini bersikap sabar dengannya, dengan sikapnya akan berubah dan akan membuatnya kehilangan pria itu. Entah kenapa Yoona tidak mau.

Mobil berhenti dengan bunyi rem berdecit. Siwon segera turun dari mobil dengan membanting pintunya. Tapi dia tidak masuk ke dalam rumah melainkan tetap berdiri di samping mobilnya. Terlihat jelas oleh Yoona kalau Siwon sedang mengendalikan emosinya. Yoona ikut turun dan menghampiri Siwon dengan takut-takut.

“Ayo kita masuk. Kita bicara di dalam!” kata Yoona yang membuat Siwon langsung menatapnya tajam.

“Bicara? Apa sekarang kau sudah bersedia untuk bicara?” tanya Siwon sinis.

Yoona menunduk. “Maafkan aku. Selama ini aku terlalu salah paham padamu. Aku menuduhmu …”

“Aku tidak perduli dengan berbagai macam tuduhanmu padaku.” sela Siwon. “Aku tahu pernikahan kita terkesan dipaksakan karena kau tidak mencintaiku dan aku berusaha mengerti sikapmu. Tapi hari ini kau membuatku sadar kalau aku tidak seharusnya terus-terusan mendiamkanmu. Apa sikap manismu sebelum kita ke pesta adalah manipulasi untuk melakukan hal bodoh di depan semua tamu tadi?”

“Maafkan aku. Aku tidak tahu kalau sebenarnya kau dan Uchie …”

“Itulah kenapa kau tidak pernah mau mendengarkan penjelasanku.” Hardik Siwon menyela kalimat Yoona. “Kau tidak pernah mau mendengarku bahkan tak pernah mau melirikku walau kita hidup di satu atap yang sama. Sudah kukatakan aku mencintaimu tapi kenapa hanya karena kau begitu kecewa pada pria bodoh itu membuatmu sulit untuk mempercayaiku?”

“Itu karena aku memang tidak bisa percaya!!!” pekik Yoona. Dia lalu menatap Siwon. “Aku tidak bisa percaya. Kau adalah orang yang tiba-tiba masuk ke dalam hidupku dengan menikahiku tanpa pernah aku kenal sebelumnya. Kau hadir di saat luka dihatiku belum begitu sembuh. Aku dikecewakan oleh orang yang aku cintai. Tanpa penjelasan apapun dia mencampakkanku di hari pernikahan kami. Seharusnya yang menikah denganmu adalah Yoonhee tapi Yoonhee mencintai orang lain dan akhirnya aku yang diminta untuk menggantikannya. Apa kau pikir apa yang bisa aku lakukan di saat aku merasa kehidupanku begitu dipermainkan? Aku tidak bisa percaya pada siapapun lagi!”

“Kau bukannya tidak bisa tapi kau mencoba membunuh keinginanmu untuk mempercayaiku, Yoong!” tukas Siwon. “Aku tahu sebenarnya kau juga mencintaiku.”

“Tidak. Aku tidak mencintaimu. Seperti yang kukatakan kemarin padamu kalau aku mungkin sedikit goyah tapi bukan berarti itu cinta.” Bantah Yoona. “Aku minta maaf jika aku telah melakukan kesalahan tadi di pesta itu dan mempermalukanmu. Tapi untuk cinta, aku sama sekali belum yakin. Aku tidak bisa percaya meski hatiku sebenarnya kini memiliki perasaan itu terhadapmu.”

“Jika kau merasakan hal yang sama kenapa kau malah mencoba mengikarinya?”

“Itu karena aku takut. Aku menikah denganmu karena menggantikan kakakku yang seharusnya adalah calon istrimu. Mungkin kau akan mencintainya jika dia tidak lebih dulu menjalin kasih dengan orang lain. Aku takut jika aku hanya sebuah pelampiasan dan pengganti saja. Aku juga takut jika aku harus jatuh lagi karena cinta. Aku takut jika aku hancur lagi. Aku membenci diriku sendiri yang tiba-tiba saja mulai merasakan cinta itu padamu. Meski kau telah mengatakan kau mencintaiku dan aku juga telah mengetahui mengenai hubungan sebenarnya antara kau dan Uchie, aku tetap tidak bisa mengabaikan bahwa aku hanya pengantin yang dijadikan sebagai pengganti kakakku.” Yoona meneriakkan semua isi hatinya yang tidak bisa dia tahan lagi.

“Apa kau tahu apa yang sebenarnya terjadi padaku setelah bertemu denganmu?” tanya Siwon. Dia membalikkan tubuh Yoona agar benar-benar menghadap ke arahnya dan menatap langsung ke matanya. “Aku mengatakan aku mencintaimu itu karna memang kaulah yang aku cintai. Selama hidupku aku baru pertama kali merasa cinta menyapaku saat aku melihatmu berlari pagi itu di tengah salju dengan pakaian pengantinmu dan saat aku tahu kau ternyata adik Yoonhee dan kau batal menikah hari itu, aku memutuskan untuk menerima perjodohan diantara keluarga kita yang sebenarnya ingin kubatalkan.”Yoona terperangah mendengar penuturan Siwon itu.

“Aku menerimanya dengan syarat yang aku akan nikahi itu kau bukan Yoonhee. Mungkin Yoonhee juga mencintai orang lain maka dia dengan senang hati melakukannya meski dia sempat ragu karna harus membuatmu menjadi penggantinya. Tapi aku meyakinkannya kalau aku akan mencintaimu dan aku akan membahagiakanmu. Aku mencintaimu sejak pertama kali aku melihatmu dan begitu bahagia akhirnya bisa menikah denganmu. Tapi penolakanmu cukup menyakitiku. Meski begitu aku tidak pernah sedetikpun berhenti mencintaimu. Yoonhee hanyalah salah satu orang yang membuatku berterima kasih karna telah mempertemukanku denganmu dan aku juga begitu bersyukur mantan kekasihmu itu mencampakkanmu, dengan begitu kau akhirnya bisa menjadi istriku. Untukku kaulah yang pertama, satu-satunya dan akan menjadi yang terakhir dalam hidupku. Yang aku cintai selamanya seperti sumpah janjiku di hadapan Tuhan saat hari pernikahan kita!” jelas Siwon panjang lebar.

Yoona menggeleng. Ini tidak mungkin. Dia masih belum bisa mempercayai ungkapan Siwon yang panjang lebar itu.

“Bohong!!!” pekik Yoona. “Kau bohong! Aku tidak percaya padamu! Aku tidak percaya padamu! Kau hanya ingin menaklukkanku dan ketika aku menyerah kau akan mencampakkanku. Tapi kenapa … tapi kenapa … kenapa rasanya aku ingin percaya padamu? Kenapa?” isak Yoona seraya menutup wajahnya dengan kedua tangannya frustasi.

Siwon mencoba merengkuhnya tapi Yoona menepis tangan Siwon dengan kasar.

“Jangan dekati aku! Aku tidak mau jatuh! Aku tidak mau terjatuh lagi. Aku bisa hancur berkeping-keping jika aku jatuh lagi. Aku tidak mau!”

“Yoong, kenapa kau harus seperti ini? Apa tidak cukup kalau aku mencintaimu? Apa kau tidak bisa sedikit percaya bahwa aku memang benar-benar mencintaimu? Kenapa kau harus menyangkal perasaanmu di saat perasaanmu juga dengan jelas menunjukkan kalau kau mencintaiku?!”

“Tidak …!!! Ini tidak mungkin!!!”

Siwon segera menarik Yoona. Menahan tubuh gadis itu agar tetap dekat dengannya. Matanya menatap tajam langsung ke manik mata Yoona.

“Aku mohon jangan menyangkal lagi, Yoong! Semua sudah terlihat jelas. Kau begitu cemburu saat melihatku bersama Uchie. Kau juga begitu cemburu saat mendengar ucapanku pada Yoonhee.”

“Aku …”

“Jangan katakan tidak. Kalau kau tidak cemburu kau tidak mungkin menarikku malam itu. Kau juga tidak akan berlari di tengah hujan seperti tempo hari. Lalu malam ini kau begitu bersikap tidak sopan pada Uchie karena kau merasa seperti dikhianati olehku.” Siwon menghela nafas sesaat. Ditangkupnya wajah Yoona.“Selain itu, aku sudah melihat tulisanmu di kaca jendela kamar kita. Apa itu masih belum cukup? Bagiku itu sudah lebih dari cukup, Yoong! Aku tidak akan menahan diri lagi. Aku akan merengkuhmu jika aku ingin merengkuhmu. Aku akan menciummu jika kita memang sudah tak bisa menyelesaikan apa-apa lagi dengan kata-kata dan aku akan mengatakan aku mencintaimu setiap hari selama sisa hidupku. Menunjukkan padamu kalau aku bisa kau percayai untuk berada di sisimu selamanya. Untuk mencintaimu selamanya. Yang harus kau lakukan saat ini hanyalah mengakuinya. Mengakui perasaanmu bahwa kau juga mencintaiku maka saat itu aku akan langsung merengkuhmu ke dalam pelukanku dan tak akan pernah aku lepaskan. Jadi katakanlah kalau kau mencintaiku Yoong! Katakan kau mencintaiku! Katakan …!!!” Siwon semakin gencar menekan Yoona.

“AKU MENCINTAIMU!!!” akhirnya kata itu dengan lantang keluar dari mulut Yoona yang membuat Siwon tersenyum lega.

“Katakan lagi, Yoong! Katakan lebih jelas lagi.”

Yoona membuka matanya yang tadi sempat terpejam saat meluapkan emosi perasaannya. Di tatapnya Siwon yang masih menunggu pernyataan cintanya penuh harap.

“Aku mencintaimu. Aku tidak tahu sejak kapan yang jelas aku merasa aku mencintaimu. Mencintaimu sampai membuatku begitu frustasi karna takut aku akan hancur lagi.” Ungkap Yoona.

Siwon tersenyum seraya membelai rambut Yoona yang menutupi wajah cantik istrinya itu.

“Percayalah itu tidak akan terjadi lagi. Aku adalah suamimu, seperti halnya kau milikku, aku juga adalah milikmu. Aku tidak akan melakukan hal bodoh dengan mencampakkanmu.” Janji Siwon. “Saranghae, Choi Yoona.”

Yoona tersenyum. Tanpa sadar air mata haru mengalir dari dipipinya bercampur dengan air hujan yang masih mengguyur. Dan tanpa diduga-duganya juga, Siwon langsung membungkam mulutnya dengan sebuah ciuman yang dalam. Melumat bibirnya dengan lembut dan tidak menuntut namun begitu intens sehingga membuat tubuh Yoona lemas karna saking begitu bergairahnya ciuman Siwon itu. Yoona pun mengalungkan tangannya ke leher Siwon dan membalas ciuman itu. Dia tidak ingin menolak lagi. Dia merasa sudah cukup dia menyangkal. Meski menurutnya terlalu cepat dia jatuh cinta pada Siwon tapi dia yakin kalau cintanya dan Siwon akan berlangsung selamanya.

“Yoong, aku tidak ingin menahan keinginan dan hasratku lagi saat ini.” Kata Siwon saat tautan bibir mereka terlepas. Tatapan mata Siwon tampak lebih pekat dan penuh gejolak saat itu. “Maukah kau menerimaku sebagai suamimu yang sebenar-benarnya? Dan demi Tuhan kau harus menjawab YA, Yoong. Karna jika kau menolak maka aku akan mendesak dan memaksamu untuk menerimaku sampai kau menyerah!” dengan arogannya Siwon menambahkan.

Yoona mengusap pipi Siwon dengan lembut membuat Siwon merasakan getaran yang menyusuri seluruh tubuhnya. Lalu tanpa disangka Yoona mencium bibir Siwon lembut sebagai bentuk penerimaannya akan pria itu. Dia tidak perlu menjawab. Tindakannya saat ini telah menunjukkan jawabannya dengan jelas.

Siwon tersenyum lega. Dia langsung mengangkat tubuh Yoona dalam bopongannya dan tanpa tanggung-tanggung langsung melumat bibir istrinya itu dengan gairah yang ingin meledak. Lalu tanpa melepaskan ciumannya dia membawa Yoona masuk ke dalam rumah mereka untuk melepaskan semua perasaan dan hasrat yang selama ini terpendam. Malam itu mereka lalui dengan mengayungi samudera cinta yang penuh gairah. Meluapkan perasaan masing-masing untuk saling mengisi dan melengkapi. Menghilangkan segala bentuk sakit, kekecewaan, kebencian dan menggantinya dengan kebahagiaan yang penuh gairah cinta dan kenikmatan.

***

Oho ini belum berakhir di sini ya! Kita simak beberapa flashbacknya #gubrak ^o^

Flashback (First Moment Siwon saw Yoona)

Siwon melajukan mobilnya menuju ke kediaman keluarga Im. Setelah mendapat kabar bahwa ayahnya dengan seenaknya mengatur perihal pernikahannya dengan keluarga itu membuatnya mengambil penerbangan dari Paris ke Korea pada saat itu juga dan ketika sampai di Korea dia langsung bertekad ingin menemui keluarga itu untuk membatalkan perjodohan konyol ini.

Sebuah bayangan tiba-tiba melintas di depan mobilnya sehingga dia harus mengerem mobilnya dengan tiba-tiba.

“Merde (Sialan)!” makinya dalam bahasa Pranciss. Dilihatnya seorang gadis cantik dengan wajah tanpa ekspresi berdiri tepat di depan mobilnya. Lalu setelah beberapa saat gadis itu kembali berlari meninggalkannya yang masih terpana melihat gadis itu berlari dengan memakai gaun putih panjang yang bagian atasnya ditutupi mantel yang hanya di sampirkan begitu saja menutupi punggungnya.

Tiba-tiba perasaannya berdesir hangat dan degub jantungnya semakin kencang. Siwon mengernyit aneh. Di sentuhnya dadanya yang berdegub tak beraturan. Lalu kembali melihat ke arah gadis yang belum terlalu jauh sedang berlari di tengah putihnya salju dengan gaun putihnya yang panjang itu.

“Ada apa ini? Apa aku jatuh cinta pada pandangan pertama?”

***

(Matchmaking Meeting)

“Yoonhee-ssi, apa aku bisa melihat foto yang menjadi wallpaper handphonemu itu lebih jelas?” tanya Siwon seraya menunjuk ponsel Yoonhee yang terletak di meja. Menyela pembicaraan di antara orangtua mereka. Siwon dan Yoonhee duduk berdampingan sehingga dia tertarik untuk memperhatikan ponsel Yoonhee yang sering mendapat panggilan masuk tapi karna ponsel itu dalam mode silent maka diabaikan saja. Namun bukan ponsel atau panggilan-panggilan itu yang menarik perhatiannya tapi melainkan foto yang menjadi wallpaper ponsel itu.

Yoonhee menyerahkan ponselnya dengan ragu-ragu. Namun setelah ponsel itu ada dalam genggaman Siwon, pria itu langsung memperhatikan foto itu dengan lebih seksama. Sebuah senyum kecil tersungging di sudut bibirnya.

“Gadis bergaun putih. Ini benar dia!” gumamnya pelan.

“Ne?” Tanya Yoonhee penasaran.

“Ini siapa?”

“Itu … itu adikku.” Jawab Yoonhee.

“Benarkah? Bagaimana pernikahannya?” tanya Siwon lagi.

Tn. Im berdehem menyela pembicaraan itu. “Hmm, dia belum menikah.” Jawabnya.

Siwon sontak saja mengarahkan pandangannya kepada Tn. Im. Wajahnya berseri.

“Benarkah? Aku pernah melihatnya memakai baju pengantin belum lama ini.” Siwon semakin tertarik membicarakan gadis bergaun putihnya.

Tn. Im mendesah. “Dia memang hampir menikah. Tapi pernikahan itu tidak terjadi karena calon suaminya menghilang entah kemana.” Ujar Tn. Im murung. Tn. Choi menepuk-nepuk bahu sahabatnya itu sebagai bentuk simpati.

Siwon tampak berpikir. Matanya terpaku menatap foto yang menjadi wallpaper ponsel Yoonhee itu. “Gadis bergaun putih, kau mungkin memang adalah jodohku!” batinnya.

“Aboji, Eomma, Abonnim, Eommonim dan Yoonhee … aku menarik kembali ucapanku untuk membatalkan rencana pernikahan ini.” Ujar Siwon tiba-tiba yang membuat semua menatapnya heran. Baru beberapa saat lalu Siwon mengajukan pembatalan perjodohan dan sekarang tiba-tiba dia menarik ucapannya. Yoonhee yang tadinya sedikit lega kini mulai cemas lagi.

“Siwon-aa, apa maksudmu? Kenapa kau menarik ulur ucapanmu?” tanya Tn. Choi.

Siwon tersenyum. “Aku menerima perjodohan ini tapi bukan dengan Yoonhee. Aku ingin menikah dengan adiknya.”

“Apa?” tanya Yoonhee tidak percaya akan apa yang baru di dengarnya. Begitupun dengan yang lain. Namun Siwon hanya tersenyum menanggapi kebingungan orang-orang yang ada di ruangan itu.

Flashback End

***

Sekalian aja ya … !!! ^o^

Epilog

Yoona dan Siwon akhirnya menyempatkan waktu mereka di akhir pekan untuk makan malam bersama keluarga Yoona di kediaman keluarganya. Selain mereka (YoonWon & Keluarga Im), Changmin juga ikut hadir di acara makan malam keluarga itu mendampingi Yoonhee. Bulan depan Yoonhee dan Changmin akan melaksanakan pernikahan mereka.

“Hai, apakah kalian merindukanku?” sapa seorang gadis yang masuk ke ruang makan bersama seorang pria di belakangnya.

“Rindu? Kau …” Yoona tampak sumringah melihat kehadiran temannya itu.

“Aku yang menyuruhnya datang. Aku dengar dia ada di Korea, jadi malam ini aku undang sekalian.” Ujar Yoonhee menjawab pertanyaan yang timbul di benak Yoona.

“Rindu-ya, Sihoo-ya, duduklah!” pinta Tn. Im.

Rindu dan Sihoo menuruti permintaan Tn. Im dan duduk di sisi yang berhadapan dengan Yoona dan Siwon.

“Yak, Im Yoona, apa kau tidak ingin mengenalkan suamimu padaku?” tanya Rindu.

Yoona tersenyum tapi Siwon langsung mengambil inisiatif sendiri. Dia berdiri dan mengulurkan tangan kepada Rindu.

“Aku Choi Siwon, suami Yoona!”

Rindu ikut berdiri dan menyambut uluran tangan itu. “Rindu Willia. Aku teman kuliah Yoona dan ini Park Si Hoo, tunanganku.” Ujarnya seraya ikut memperkenalkan Sihoo yang juga ikut berdiri dan menjabat tangan Siwon.

“Park Si Hoo!” ujarnya singkat. Lalu mereka kembali duduk.

Tapi Yoona menatap kedua teman yang duduk di hadapannya itu dengan tatapan menyelidik.

“Tunangan?” tanya Yoona memastikan apa yang didengarnya tadi dari ucapan Rindu saat memperkenalkan Sihoo pada Siwon.

Rindu tersenyum lalu gadis itu dan Sihoo berpegangan tangan dan saling berpandangan dengan penuh cinta. Lalu Rindu kembali mengalihkan pandangannya pada Yoona.

“Dua hari lalu Sihoo oppa melamarku dan aku menerimanya.” Ujarnya begitu bahagia.

“Benarkah? Ahh, chukkae Rindu-ya, Sihoo oppa!” ucap Yoonhee yang duduk di samping mereka.

“Ne, gomawoyo eonni.” Balas Rindu.

“Lalu bagaimana soal pernikahan kalian?” tanya Tn. Im. Dia tahu Rindu berkebangsaan lain, tentu saja itu akan membuat pernikahan perlu dipersiapkan dengan matang jika mereka menikah antar negara.

“Minggu depan kami akan terbang ke Indonesia. Aku akan melamar Rindu secara resmi di sana dan mungkin kami akan menikah di sana lalu kembali untuk mengadakan pesta juga di sini.” Sihoo yang memberikan jawaban.

“Indonesia? Berarti aku tidak bisa menghadiri pernikahan kalian nanti.” Ujar Yoona murung.

Siwon merangkul istrinya itu. “Kita juga bisa ikut ke sana kalau kau mau sayang.”

“Benarkah?” tanya Yoona bersemangat dan Siwon mengangguk sebagai jawabannya.

Tn. Im tersenyum melihat Yoona dan Siwon yang kini tampak begitu akur. Dia tahu sebelum ini Yoona dan Siwon menampakkan kemesraan mereka dengan kepura-puraan karena putri bungsunya itu memang sedikit keras kepala. Namun melihat sikap mereka berdua kali ini Tn. Im yakin kalau telah hadir cinta diantara mereka. Dan Tn. Im bersyukur telah menikahkan dan mempercayakan Yoona kepada Siwon yang dia yakin akan selalu membahagiakan Yoona, anaknya.

~~~

“Oppa, sebelum pulang ke rumah aku ingin kita mendatangi satu tempat terlebih dahulu!” ujar Yoona saat dia dan Siwon dalam perjalanan pulang.

Siwon mengernyit. “Di mana?” tanyanya ingin tahu.

Lalu Yoona menunjuk ke arah depan yang tidak jauh dari mereka. Ke sebuah gereja.

Siwon pun menghentikan mobilnya di sana.

“Gereja?” tanyanya.

Yoona mengangguk “Ayo turun!” ajaknya. Yoona turun lebih dulu dan Siwon menyusulnya. Dia masih tidak mengerti kenapa Yoona memintanya berhenti di gereja. Lalu Yoona menariknya masuk ke gereja sambil berlari-lari kecil.

Gereja itu tampak sepi. Tak ada satu orangpun di sana. Yoona menarik Siwon hingga ke altar.

“Yoong, apa maksudmu mengajakku ke gereja larut malam begini?” tanya Siwon bingung.

Yoona tersenyum. “Oppa, kau ingat kan kalau beberapa bulan lalu kita dipertemukan di sini dan mengikat janji di sini saat pernikahan kita?” tanya Yoona mengabaikan pertanyaan Siwon.

Siwon meneliti sebntar dan akhirnya dia sadar ini adalah gereja tempat dia dan Yoona menikah. “Eo. Lalu kenapa?” tanyanya masih tidak mengerti.

“Oppa, aku ingin kita mengulang kembali sumpah janji pernikahan kita.” Ujar Yoona.

Siwon makin terperangah “Mwo?”

“Dulu aku mengucapkan sumpah janji itu dengan sedikit enggan dan tidak tulus. Makanya aku ingin mengulangnya kembali dan melakukannya dengan benar kali ini.” Jawabnya. “Jadi oppa, silahkan ucapkan sumpah janjimu dulu.”

“Eo?” Siwon masih kebingungan.

“Ahh, ayo cepat …!” desak Yoona dan setelah bisa menyadari apa yang benar diinginkan Yoona, dia pun segera melakukan seperti yang diminta Yoona. Seraya menghadap ke patung salib dan mengakat tangan kanannya dengan telapak tangan tangan yang terbuka, Siwon pun mengucapkan sumpah janjinya.

“Aku Choi Siwon berjanji akan menjaga Im Yoona istriku dalam suka maupun duka, sakit maupun sehat dan dalam keadaan apapun akan selalu mencintainya hingga kematian memisahkan.” Ucap Siwon lantang.

“Aku Im Yoona berjanji akan mendampingi Choi Siwon suamiku dalam suka maupun duka, sakit maupun sehat dan dalam keadaan apapun akan selalu mencintainya hingga kematian memisahkan hingga kelak kami bisa bersama lagi di tujuh kehidupan selanjutnya.” Ikrar Yoona. Mereka kembali berhadapan.

“Apa kau tidak ingin mencium pengantinmu yang kini telah berhasil kau taklukkan?” tanya Yoona malu-malu.

Siwon tertawa kecil melihat tingkah istrinya itu. Dengan cepat dia menarik tubuh Yoona hingga merapat ke pelukannya. “Aku bukan menaklukkan hati pengantinku tapi aku mendapatkan hati pengantinku yang akan selalu kujaga dan aku cintai sepanjang sisa hidupku. Aku mencintaimu, Choi Yoona!” ujarnya lalu Siwon langsung melumat bibir Yoona tanpa tanggung-tanggung. Yoona tersenyum. Yoona merapat ke pelukan Siwon dan mengalungkan tangannya di leher suaminya itu. Membalas setiap kecupan dan lumatan Siwon yang sarat akan kepemilikan dan cinta yang begitu kuat.

Untuk pertama kalinya Yoona bersyukur atas pengkhianatan Minho padanya sehingga dia bisa dipertemukan dengan Siwon, pria yang benar-benar mencintainya dengan tulus dan begitu sabar menghadapinya. Dia sadar dia tidak pernah benar-benar membenci pria dan dia tahu Tuhan begitu menyayanginya sehingga memberikan anugerah seperti ini di dalam hidupnya. Kini baginya cinta bukan lagi sebuah kamuflase dari rasa sakit tapi cinta adalah anugerah dari Tuhan selama dia mau mempercayainya.

***

THE END

 

Author Said: Fiuh, akhirnya selesai juga … #mijitinTangan … Oke, chapter ini sangat panjang karena aku menyertakan flashback dan Epilognya sekalian. Jadi jangan pelit-pelit ngasih komennya meski ff ini malah terkesan tidak memuaskan. Love Is You nanti aja ya buat yang udah nagih-nagih JDon’t forget to RCL after read this story yaw my lovely readers … ^o^

 

                        Ok, aku juga minta maaf ke salah satu author favoritku yang udah aku gaet juga dalam ff ini tanpa minta ijinnya dulu. Jeongmal mianhae yaw kakakku sayang. Aku menyertakanmu untuk menemani eonniku di sini #lirik Uchie Eonni sambil sujud minta maaf k’ Kak Rindu* Hohoho ^o^

 

Buat Echa / Resty yang udah bersedia publishin ff-ku ini, aku ucapin terima kasih banyak loh udah mau direpotin lagi #hug J (sama2 #hugback🙂 )

 

Peluk jauh dariku : Tika Pink ♥

Tinggalkan komentar

260 Komentar

  1. Yehet!Happy ending!!Wah ff kamu mmg daebakSenang akhirnya yoonwon bersatu!!

    Balas
  2. Ridha Alifa

     /  Maret 17, 2015

    Gregettttttt,, ff nya keren. Endingnya aku suka🙂

    Balas
  3. Sebelumnya, mian author-nim comment-nya dirangkum dichapter ini.
    That’s really a nice story …
    feelnya dapet, konfliknya oke, tokohnya pas banget. Terus, it’s a happy ending story …. betapa bahagianya aku as a reader.
    Yoonwon is always jjang !!!
    untuk author-nya, ditunggu ff2 Yoonwon selanjutnya …(^_^)

    Balas
  4. Susi

     /  April 9, 2015

    Hahh akhirnya happy ending juga 😄#fiuhh 😪

    Balas
  5. selvy

     /  Mei 18, 2015

    yeyeyeyeye happy ending, sempet sebel ma yoone eonnie yg keras kpla ga mau dngerin pnjelasan wonppa, tpi seneng akhir nya mau ngakui jtuh cinta jga ma wonppa

    Balas
  6. dedewjasmin

     /  Mei 26, 2015

    Wah ahirnya yoona sadar dengan perasaannya sendiri kpada siwon.,,semoga mantan pacar yoona tidak kembali lgh dan pergi jaug*knph epilognya dikit bngt??sebenar aku yg pengn mereka sampai pnya anak hehe #ngarep…tapi ceritanya bagus keren..

    Balas
  7. Nur khayati

     /  Juni 1, 2015

    Akhir.a dgn prjuangan penuh usaha & kesabaran, Siw0n bisa memiliki hati Y00na yg super keras dlm menyadari cinta.a yg tlh tumbuh buat Siw0n,,
    Dan bisa Happy Ending,^_

    Balas
  8. Perjuangannya siwon bener” hebat, sampe akhirnya bisa membuat yoona suka ma dia n hidup bahagia..
    Keren ceritanya n happy ending, di tunggu ff yg lainnya🙂

    Balas
  9. Huwaaaaa akhirnya YoonWon hidup dengan bahagia!! Ceritanya benar-benar menarik! Salut buat kegigihannya Siwon Oppa!!!

    Balas
  10. Bagus bgt aku suka. Ditunggu ff yang lain. Keep writting

    Balas
  11. Mudah YoonAddict sone

     /  Agustus 21, 2015

    Aq suka bnget a5 crita’a . . Ampe gk bsa coment apa” . .

    Pko’a Keren bnget crita’a . , ‘ .🙂

    Balas
  12. ria

     /  September 27, 2015

    Bagus bgt cerita’a,
    Seneng bgt pst jika ada laki-laki yg bgt sayang & cinta

    Balas
  13. Seneng banget lihatnya…
    Akhir yg bahagia…
    Tidak ada kesalah pahaman lagi, dan mereka saling mencintai…

    Good Job Thor…

    Balas
  14. rindafishy

     /  November 20, 2015

    yeayyy yayy happy ending setelahh pertengkaran2 yang begitu rumit dan semua berakhir indahhh
    masih kurang momen calon yoonwon junior thor
    terima kasih sblmnya sudah ngasih kesempatan bisa baca thor , ditunggu karya karyaaa kereen selanjutnya …

    Balas
  15. Yeeeey happy ending!! 😂🙌🙌👍

    Balas
  16. nhia

     /  Januari 25, 2016

    Bagus bgt lemgkap dpt bonus epiloq and flashback, akhir nya yoona mau juga ngebuka hatinya buat siwon, ya tp knp minho nongol lagi pake acara peluk yoonagsk sadar yoona kyk gitu gara gara sapa dasar cowok gak punya perasaan

    Balas
  17. diah fibri

     /  Januari 29, 2016

    akhirnya yyyeeeeyyyy happy ending …. suka bgt sm endingnya …. lanjut trs thor bwt ff berikutnya yg lebih keren …..
    HWAITIIING ….. !!!!!!!

    Balas
  18. YoongNna

     /  Februari 7, 2016

    Yeee akhrnya yoona dan siwon hidup bhagia stlh ngakuin persaannya msing2 bhwa mreka saling mencintai..
    Seneng yg dilakuin siwon dgn sbar buat dapetin cinta yoona ..

    Balas
  19. Ceritanya keren banget.. jd berasa kya lg nonton drama hehe 👍👍 ditunggu FF yoonwon lainnya🙂

    Balas
  20. ayana

     /  Juli 15, 2016

    akhirnya perjuangan siwon buat dapaetin hati yoona terbayar sudah. yah meski harus melewati berbagai rintangan akhirnya yoona bilang kalo “aku mencintaimu” waktu didesak siwon buat ngaku.
    yah meski untuk mendengar pengakuan itu musti melewati kejadian yang memalukan.
    hahahaha… fell nya dapet dan jadi terbawa ke dalam cerita. apalagi semua berakhir happy end. good job!

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: