[OS] Message of Heart

massege of heart Message of Heart

by

Nurul  HytChoi

Main Cast : Super Junior’s Siwon & SNSD’s YoonA ||  Genre : Romance, Friendship & Angst || Length : Oneshoot || Rating : General || Disclaimer : Inspired by Ilana Tan’s “Sunshine Becomes You”, Dewi Lestari’s “Perahu kertas”, Japanese ancient legend and many fanfics that i have read.

Dislike?

Don’t read!

Don’t bashing!

Don’t be a SILENT READER!!

Yesungdahlah~~ Teukkidot!!^^

ð  Happy Reading^^

~*~

Ketika cinta dengan lembutnya membisikkan kata demi kata

Menuai butiran ayat-ayat pembangun jiwa

Ketika dua hati yang terpaut dalam keterbelenggungan

Menyeruak dalam sekeping harapan

Seperti alunan lembut sebuah gesekan biola

Terpejam, terkatup, dan terbuai

dfMessage of Heartpd

Ditariknya nafas dalam-dalam melalui lubang hidungnya, membiarkan udara pagi memenuhui rongga dada. Setelah dirasa udara menyeruak kedalam paru-parunnya, ia menghembuskannya lewat mulut, terlalu keras.

Gadis itu menyunggingkan seulas senyum sebelum meraih keping CD dari dalam tas selempengan yang ia letakkan di atas lantai. Kemudian ia memasukkan keping CD itu ke dalam CD player. Ia mulai berjalan ke tengah ruang setelah menekan tombl play pada player tadi.

Ruang itu kosong, tidak begitu luas namun juga tidak sempit. Tidak ada barang apapun disana kecuali cermin besar yang memenuhi dinding. Gadis itu menghembuskan napas pelan menghadap pantulan dirinya dari cermin besar di hadapannya.

Ketika suara musik mulai mengalun, tubuhnya mulai bergerak. Lagu L’Aura, Irraggiungibile yang terdengar dari player itu juga mulai memenuhi seluruh ruang.

Gadis itu bagai bangau putih yang menari di atas air. Gerakannya lembut teratur. Tubuhnya yang lentur membuat siapa saja yang melihatnya pasti akan terkagum-kagum dengan kemampuan menarinya.

Ia terbang bagai merapati putih dengan sayap yang merebah. Ia melompat bagai kelinci putih dengan lonjakkan indah ketika kakinya mendarat anggun. Ia berputar bagai ular kecil yang melilit batang daun.

Menari adalah hidupnya, menari adalah nafasnya dan menari adalah sebuah impian baginya.

Ketika lagu selesai mengalun dan ia akhiri dengan lompatan cantik, suara tepuk tangan yang begitu keras langsung terdengar di gendang telinganya.

Gadis itu menoleh kearah pintu, tepat seorang pria berpawakan tinggi berdiri disana dengan seulas senyum yang menawan. Dua lesung pipit di kedua pipinya seolah menjadi pelengkap kesempurnaan yang menawan itu. Ditambah dengan balutan kemeja putih yang menutupi tubuh atletisnya serta celana jens yang turut membalut kaki panjangnya.

“Wow!! Giving aplause untuk penari terbaik kita!” kata pria itu mulai berjalan menghampiri gadis tadi, masih dengan senyum lebarnya.

“Tidak diragukan lagi kau memang mengagumkan, Im YoonA. Penari terbaik lulusan ‘Juilliard’,” imbuhnya dengan menekan kalimat ‘lulusan Juilliard’.

Yoona hanya tersenyum kecil. Ia berjalan ke sisi pinggir untuk meraih sebotol air mineral kemudian meneguknya. Diraihnya tas yang ia letakkan diatas lantai. Tangannya membuka tas berwarna putih gading itu dan mengambil handuk kecil untuk mengelap keringat yang mulai membanjiri tubuhnya.

“Oh, aku sungguh tersanjung mendapat pujian dari seorang violinist terkemuka yang juga lulusan terbaik Juilliard,” balas Yoona dengan menampakkan mimik terkesima yang dibuat-buat. Sontak saja membuat pria tadi terkekeh geli. Gadis ini sungguh lucu dengan ekspresi seperti itu.

The Juilliard School, atau yang lebih dikenal dengan Juilliard, adalah salah satu sekolah seni pertunjukan paling bergengsi di dunia. Devisi tarinya sangat terkenal di dunia tari-menari karena kualitas pendidikan dan pelatihan artistik-nya yang sangat baik.

Yoona bisa dikatakan beruntung dapat diterima di sekolah kebanggaan kota New York itu. Bayangkan saja dari sekian banyak orang yang mendaftar disana hanya akan diterima 250 mahasisiwa saja dan Yoona termasuk didalamnya. Entah apa yang dicari Juilliard dari seorang penari padahal Yuri, teman satu profesinya—yang pandai menari atau mungkin dapat dikatakan lebih pandai darinya—tidak diterima di sekolah bergengsi itu. Bukankah ia dapat dikatakan satu dari segelincir orang beruntung?

Ia berteman dengan Siwon ketika mengetahui mereka berasal dari satu negara yang sama, meski beda jurusan. Yoona pada tari sementara Siwon pada musik.

Sebenarnya usai menyelesaikan study dari Juilliard, Yoona telah mendapat banyak tawaran untuk bergabung pada kelompk tari terkenal di Amerika, namun ia menolaknya dengan berat hati. Ia memilih untuk mengabdikan diri pulang ke negara asal dan membagi ilmu yang telah ia terima selama belajar menari di Juilliard. Meski ada alasan yang lebih kuat dari itu.

Yoona melirik Siwon sambil menyipitkan mata, “berhentilah tertawa sebegitu keras, Choi Siwon-ssi!” kemudian ia melemparkan handuk kecilnya hingga mengenai wajah Siwon.

Masih dengan sisa tawanya, Siwon berjalan menghampiri Yoona kemudian mendudukkan diri disampingnya. Sementara gadis itu masih sedikit terengah dan menatap kedepan. Tangan Siwon terulur, mengelapkan handuk kecil—yang dilemparkan Yoona tadi—pada leher gadis itu.

“Butuh bantuan mengeringkan keringat, Nona Im?” tawarnya dengan senyum jenaka.

Yoona langsung merenggut handuk kecilnya, “tidak, terimakasih.” Ia berkata sinis.

Siwon mengangkat bahu serta tersenyum kecil, “Ngomong-ngomong, aku ingin mengenalkan seseorang padamu.”

Pernyataan Siwon membuat Yoona menoleh kearahnya dengan dahi berkerut dan sebelah alis terangkat, “Nugu?”

“Seorang gadis,” jawab Siwon menunjukkan deretan gigi putihnya.

Gadis itu memutar kedua bola matanya, “oh ayolah Choi Siwon, gadis mana lagi yang akan menjadi incaranmu. Tidak cukupkah kemarin kau mengencani dua gadis sekaligus?”

Siwon tertawa keras kemudian merangkul pundak Yoona, “dia salah satu anggota orkestra juga, seorang violist,” jelas Siwon. “Kukatakan padamu, dia sangat cantik, lugu, rambutnya panjang, kulitnya putih seperti susu dan…. dia pandai bermain musik..”

Senyum kecil tersungging di bibir Yoona ketika melihat raut wajah Siwon menceritakan sosok gadis itu.

Menyadari perubahan wajah Yoona, Siwon lantas menoleh kearahnya, “kau cemburu ‘kan?”

Mendengar pertanyaan Siwon yang begitu gamblang membuat Yoona memukul dada bidang pria itu tanpa pikir panjang lagi. “Lelucon konyol macam apa itu!” Ia kemudian berdiri, meninggalkan Siwon.

Lagi-lagi Siwon hanya mengangkat bahu seolah masa bodoh dengan ucapan Yoona. Ia kemudian berdiri menyusul Yoona.

“Hei, sudahlah akui saja bahwa kau mencintaiku.”

“Tidak!”

“Yoona-ya!”

“Tidak! Tidak! Tidak!”

***

Kota Seoul dengan gemerlap lampu-lamu terang di malam hari. Lalu lalang kendaraan masih dapat dilihat memadati jalan raya. Langit hitam pekat berwarnakan bintang dan terangnya sang rembulan. Percayalah bahwa di malam hari kota-kota besar seperti Seoul akan nampak lebih indah.

Mobil Audi R8 itu melaju di tengah kegemerlapan malam. Seorang pria yang duduk di balik kemudi tengah memfokuskan diri menyetir. Sesekali matanya melirik kesamping, kearah gadis yang duduk di bangku sampingnya. Sesekali pula ia berdecak kesal.

Come on, Nona. Tidak bisakah kau berhenti tertawa? Demi Tuhan, suaramu sungguh mengganggu konsentrasiku.” Siwon berdesisi kesal.

“Oh ya Tuhan, perutku sakit sekali..” Gadis itu masih saja tertawa sambil memegangi perutnya yang tiba-tiba serasa di serbu oleh gelitikkan yang menggelikan. Ia mencoba untuk memperbaiki posisi duduknya serta menahan tawa yang telah menyerangnya beberapa menit yang lalu, namun semunya gagal ketika menatap wajah pria disampingnya itu.

“Aku akan menurunkanmu disini.”

“Oke, oke.” Yoona mencoba menghenetikan tawa, kemudian ia berdehem pelan untuk menetralkan suaranya, ia takut tawanya akan kembali meledak ketika ingin melanjutkan ucapannya.

“Bagaimana perasaanmu, hmm?” tanya Yoona memukul lengan Siwon dengan kepalan tangannya, sedikit menggoda pria ini mungkin memang menyenangkan. Oh tidak, bukan ‘mungkin’ akan tetapi ‘sangat’ menyenangkan.

Pria itu menolehkan kepalanya kearah Yoona dengan ekspresi datar. Ia kembali berdecak sebelum mengarahkan pandangannya ke depan.

“Kau harus tahu bagaimana ekspresimu tadi ketika gadis itu… siapa tadi namanya? Ssee… Sseo—“

“Seohyun!”

“Ah! Seohyun berkata ‘kenalkan dia Yonghwa, namjachingu-ku’.” Kemudian Yoona meledakkan tawanya lagi.

“Begitukah caramu menghibur sahabatmu?”

“Ouh, kasian sekali pria ini. Kau pasti sedang patah hati saat ini..” Yoona mengusap-usap pipi Siwon kemudian mencubitnya gemas.

“YA!!”

Tawa Yoona kembali membahana ketika Siwon menangkis tangannya. Mereka baru saja bertemu dengan gadis yang akan Siwon kenalakan padanya, di sebuah restoran Jepang. Namun siapa sangka bahwa gadis itu, Seohyun telah memiliki kekasih. Yoona tidak bisa menahan tawanya ketika tiba-tiba saja Siwon langsung menarik tangannya, berpamitan pada sepasang kekasih itu.

Dalam cahaya lampu mobil yang temeram, Siwon dapat melihat raut wajah Yoona yang nampak tertawa lepas. Ia menyunggingkan senyum kecil. Setidaknya ini jauh lebih baik daripada raut wajah Yoona beberapa minggu terakhir.

“Antarkan aku makan!” Suara Yoona memecahkan keheningan yang terjadi beberapa detik saja diantara mereka. Gadis itu memberenggut memegangi perutnya. Kali bukan karna menahan tawa melainkan menahan rasa lapar yang teramat. Memangnya siapa yang tidak lapar, ia belum sempat makan ketika tiba-tiba saja Siwon mengajaknya untuk menemui gadis yang akan Siwon kenalkan padanya. Dan ternyata acara perkenalan sekaligus makan gratis itu harus dibatalkan hanya karna Siwon yang lagi-lagi dengan seenaknya menarik tangannya pergi—sebelum ia menyentuh makanan yang telah ia pesan.

Siwon tidak protes. Ia tahu gadis ini pasti kelaparan. “Baiklah nona shikshin.” Ia memutar kemudi ketika bertemu belokan, memasuki daerah Itaewon.

“Kau harus menteraktirku!”

“Oke.”

“Tidak boleh protes.”

“Baiklah.”

“Sepuas yang aku mau.”

Siwon menatap Yoona dengan alis terangkat, sedetik kemudian ia mendesah ketika gadis itu mengerutkan bibirnya dengan tatapan mengancam. “Nde se-pu-as-mu!” kata Siwon sambil melepas sabuk pengaman begitu mobilnya sampai pada restoran Italia.

Dengan senyum rekah, Yoona membuka pintu dan keluar dari mobil Siwon. Ia segera berjalan menghampiri Siwon dan mengapit lengan pria itu.

“Kalau seperti ini kita jadi terlihat layaknya sepasang kekasih,” kata Siwon memberikan cengiran di akhir kalimatnya. Satu pukulan kecil langsung mendarat pada lengannya, namun seulas senyum tersungging pada bibir tipis Yoona.

Ketika mereka memasukki restoran Italia itu, banyak pasang mata yang memperhatikan mereka. Entah karna kekurangan bahan obrolan atau memang kehadiran mereka yang telah mencuri perhatian sebagian pengunjung.

“Kau lihat bagaimana Ahjussi itu menatap kita?” Yoona berkata sambil menyipitkan mata. Seorang pelayan resto menghampiri mereka dan menyodorkan daftar menu.

“Ya, itu karna Ahjussi berkepala botak itu tertarik padamu. Kau memang tipe ideal para Ahjussi,” balas Siwon setelah pelayan tadi pergi dengan mencatat pesanan mereka.

Yoona sudah akan menuntut protes atas ucapan Siwon namun semuanya tertahan. Ia kembali mengatupkan mulutnya yang sudah terbuka dan hanya terdengar dengusan kecil dari bibirnya. Akan sangat membuang tenaga jika menghadapi pria ini.

Siwon terkikik geli, “Ngomong-ngomong, bagaimana kabar sekolah musik tempatmu mengajar?”

“Baik, sejauh ini segalanya berjalan baik-baik saja,” tukas Yoona setelah memberikan senyum terimakasih pada pelayan resto yang baru saja mengantarkan pesanan mereka. Tidak tanggung-tanggung lagi, Yoona langsung melahap spaghetti yang terlihat begitu menggiyurkan di hadapannya itu.

Mengamati cara makan Yoona membuat Siwon menggelengkan kepala. Tidak habis pikir, bagaimana bisa seorang gadis cantik makan dengan rakusnya? Sudah seperti orang yang tidak diberi makan selama bertahun-tahun saja.

“Oh ya, kau juga masih mengajar les balet?” tanya Siwon usai memasukkan lilitan spaghetti—pada garpu—kedalam mulutnya.

“Mwashi..”

Siwon meringis melihat Yoona yang menjawab dengan mulut penuh spaghetti. “Aisssh…! telan dulu makananmu!”

Yoona mengangkat bahu seolah tidak memedulikan ucapan Siwon. Biarkan saja, dia sedang dilanda kelaparan. Dan siapa suruh pria ini mengajaknya pergi tapi baru memberikan makan pada cacing-cacing dalam perutnya jam segini.

“Ah~ aku sudah selesai.”

Pria itu membelalakan matanya ketika melihat gadis di depannya ini sudah membersihkan mulut serta meneguk Vanilla Milk Shake sebagai hidangan terakhir. Hei, mereka baru makan beberapa menit yang lalu. Dan apa yang dikatakan gadis ini barusan? Sudah selesai? Ah ya, dia lupa bahwa gadis ini memiliki mesin penghancur tercepat dalam perut kecilnya itu.

Melihat ekspresi Siwon yang menurutnya berlebihan, Yoona mengajukan protes, “apa? Kau seperti tidak tahu aku saja.”

“Aku bahkan mengenalmu jauh daripada dirimu sendiri.”

Yoona mencibir atas ucapan Siwon yang seolah sudah mengenal dirinya betul. Namun tidak dapat dipungkiri pria ini memang lebih mengenal dirinya ketimbang Yoona sendiri. Entah bagaimana cara pria ini untuk membaca pikirannya, apapun itu ia selalu tahu apa yang dipikirkan Yoona. Mungkin pria ini memiliki darah peramal yang mengalir di sekujur urat nadinya.

Ketika hendak meraih gelas Vanilla Milk Shake-nya, tiba-tiba saja tubuhnya terhuyung. Pandangannya mulai mengabur. Yoona memejamkan mata, merasakan pening yang menjalar di kepalanya. Tangan kanannya terangkat meremas pelipis serta terdengar ringisan kecil dari bibirnya.

Mengabaikan makanannya, Siwon lantas menghampiri Yoona, “Yoona-ya, gwenchanayo?” tanya Siwon meraih pundak Yoona. Ada nada kekhawatiran dalam suara beratnya.

Gadis itu menutup matanya rapat-rapat, mencoba untuk menghalau rasa sakit yang teramat. “Pusing,” sahutnya setelah membuka kelopak matanya.

Arasseo, kita ke rumah sakit sekarang.”

Yoona menggelengkan kepala, menolak usul Siwon. “Antarkan aku pulang saja,” kata Yoona dengan suara parau.

Tidak ingin lebih membuat Yoona tersiksa dengan menahan rasa sakit itu, Siwon menganggukkan kepala, menyetujui permintaan Yoona.

Ia membantu Yoona berdiri. Wajah gadis itu sudah terlihat pucat pasi, ia menggigit bibir bawahnya. Mengantisipasi rasa sakit untuk yang kesekian kalinya.

Namun rasa sakit itu ternyata justru semakin menyerang kepalanya, matanya sayu, tubuhnya melemah. Dan entah dalam hitungan berapa menit kakinya sudah tak dapat menyangga tubuhnya sendiri. Mungkin jika saja tidak ada Siwon disampingnya, ia sudah tersungkur di atas lantai.

“Yoona-ya.. Yoong…!” sayup-sayup ia mendengar suara Siwon yang memanggilnya sebelum ia benar-benar tak sadarkan diri. Pria itu pasti sangat panik.

***

Bau obat-obatan langsung menyeruak kedalam hidunganya begitu kedua kelopak matanya terbuka. Warna putih pada langit-langit ruang menjadi objek yang ditangkapnya pertama kali. Ia meringis merasakan nyeri yang menyerang kepalanya.

Diedarkannya pandangan keseluruh ruang. Tepat ketika itu ia mendengar suara pintu di buka, “oh, kau sudah bangun..” Siwon menyunggingkan seulas senyum kemudian meletakkan sebuah bungkusan plastik di atas meja. Ia lantas menarik kursi dan duduk tepat di samping ranjang Yoona.

Mianhae..

Dahi Yoona berkerut, “untuk apa?”

Senyum paksa Siwon tergambar di bibirnya, “aku membawamu pergi malam-malam padahal aku tahu penyakitmu—“

“Sudahlah, jangan merasa tak enak seperti itu.” Gadis itu tersenyum tulus. Walau tidak terlalu yakin dapat mengalihkan pembicaraan namun Yoona tetap mengajukannya. “Apa yang dikatakan Dokter Cho?”

Siwon memutar bahunya kebelakang, “kau kelelahan. Dia mengancamku jika aku mengulangi perbuatanku—mengajakmu seenaknya—ia akan benar-benar mematahkan leherku.”

Tawa renyah Yoona terdengar begitu nyaring ketika Siwon menyelesaikan ucapannya. Namun entah mengapa tawa itu justru bagai serdadu belati yang menghujan ulu hati Siwon. Pria itu hanya menarik sudut kanan bibirnya, “kamar ini akan menjadi kamar tidurmu untuk sementara, yah hanya hingga penyakitmu sembuh,” katanya kemudian.

“Benarkah? Hmm..” Yoona mengangguk-anggukan kepala.

“Tenang saja, aku akan sesering mungkin berkunjung, bahkan setiap hari atau bahkan setiap waktu.” Siwon tidak ingin melihat raut kesedihan pada gadis ini. Sebisa mungkin ia akan membuat gadis ini kembali bersemangat.

“Ck! Kau ini. Apa kau lupa, seminggu yang lalu aku sudah menginap di kamar ini. Tentu aku akan baik-baik saja. Kau tak perlu menghawatirkanku, Tuan Choi.” Yoona mengibas-ibaskan tangannya, memaksakan sebuah senyum yang membuat Siwon tersenyum getir.

Arasseo.”

***

“Bagaimana hari ini?”

“Hmm?” Yoona mengalihkan pandangannya dari PSP dan memandang Siwon dengan alis berkerut.

“Hari—oh!”

Tepat ketika Yoona membuka mulutnya, Siwon menyuapkan sesendok bubur kedalam mulut gadis itu. “Kau tidak kabur lagi ‘kan?” tanya Siwon.

Gadis itu menggelengkan kepala seraya beralih pada PSP milik Siwon yang ada pada genggamannya. “Suster-suster itu sudah memerlakukanku layaknya tahanan. Mereka tidak membiarkanku pergi sendiri.”

“Baguslah,” gumam Siwon sambil mengaduk bubur.

Mendengar suara Siwon membuat Yoona kembali menoleh kearah pria itu.

“Apa?” Siwon mengangkat bahu, “mereka bilang kau adalah pasien paling susah untuk diatur jadi ada bagusnya jika mereka menjagamu dengan baik,” jelas Siwon bijak. Ia kembali menyuapkan sesendok bubur pada Yoona.

“Lalu terapimu?”

“Tidak berubah dari terapi sebelumnya, masih saja sakit.” Yoona menjawab sekenanya dan menyibukkan diri bermain game lagi. “Mungkin setelah beberapa terapi lagi kau sudah bisa melihatku dengan kepala botak.”

Kalau boleh jujur, sebenarnya ia tidak suka dengan pembicaraan ini. “apa Dokter menyebalkan itu tidak punya obat untuk menghentikan kerontokannya?” tanya Siwon kemudian.

Yoona mengangkat bahu, “kurasa tidak.” Meski menjawab dengan nada seolah acuh tak acuh namun Siwon dapat menangkap kekhawatiran dalam nada suara Yoona.

“Aku akan sama seperti Ahjussi botak yang beberapa waktu lalu kita bicarakan.” Ia tersenyum samar, “dan… akan menjadi gadis lemah tak berdaya yang hanya bisa berbaring di atas ranjang kemudian  akan mati cepat atau lambat.”

Siwon memandang wajah Yoona dengan muram. Ia kemudian meletakkan mangkuk bubur di atas meja. “Dokter menyebalkan itu bilang penyakitmu belum pada stadium lanjut. Kau masih punya banyak kesempatan untuk hidup.” Ia menggenggam tangan Yoona, menarik mata Yoona untuk beradu dengan mata gelapnya. “Tidak ada yang tahu batas usai manusia ‘kan? Bisa saja kau berumur panjang.” Kemudian seulas senyum menghiasi wajah maskulinnya. “Kau akan sembuh. Percayalah padaku.”

Entah bagaimana kalimat Siwon barusan bagai mantra yang membuat Yoona merasakan sebuah ketenangan, ketentraman hanya dari beberapa suku kata saja. “Gomawoyo,” ucapnya balas menggenggam tangan hangat Siwon. Pria itu turut memberikan senyum tenang.

“Bagaimana dengan konsermu? Kudengar kau dan anggota orkestra-mu akan mengadakan tour Asia?”

Kedua alis tebal Siwon terangkat, seolah sudah memberi jawaban atas pertanyaan Yoona. “Minggu depan kami akan memulainya di Jepang.” Ia berkata dengan nada lirih.

Yoona menangkap raut kecemasan pada wajah Siwon. Ia tahu pria ini pasti menghawatirkan keadaannya. Sambil menarik kedua sudut bibirnya, Yoona menepuk punggung tangan Siwon, “hei, tidak perlu kuatir. Masih ada Eomma yang akan menjagaku. Kau harus mewujudkan impianmu. Bukankah ini yang kau tunggu-tunggu? Berdiri diatas panggung, disaksikan oleh orang banyak ketika kau menggesekkan busur biolamu.”

Kepala Siwon mendongak, matanya menatap gadis di hadapannya dengan tatapan yang sulit diartikan. “Kalau begitu kau juga harus berjanji padaku.”

Dahi Yoona membentuk kerutan samar, “berjanji apa?”

Sepasang mata gelap Siwon memandang dalam sepasang mata bening Yoona. “Berjanjilah kau harus menjadi penari hebat. Kau juga harus mewujudkan cita-citamu, berdiri diatas panggung dan menari di hadapan semua orang.”

Untuk sepersekian detik, Yoona terdiam. Ia tertegun dengan ucapan Siwon. Ia ingin memenuhi janji itu, ia ingin mewujudkan impiannya namun apakah mungkin? Apakah mungkin semua itu dapat terwujud dengan keadaannya seperti sekarang ini? ia tidak yakin.

“Hei, ayolah..”

Yoona menghembuskan napas berat, “baiklah,” jawabnya, akhirnya.

Bibir Siwon kembali tertarik menciptakan dua lesung pipit di kedua pipinya. Kali ini bukan lagi senyum getir ataupun senyum paksaan. Ia tersenyum senang mendengar satu kata yang terlontar dari bibir gadis yang dicintainya.

Sebenarnya Yoona tidak mengerti bagaimana hubungannya dengan Siwon. Mereka tidak pernah berkomitmen dalam sebuah hubungan yang bisa dikatakan layaknya sepasang kekasih. Ah, tidak. Bukan mereka namun lebih tepatnya dirinya-lah yang tidak bersedia untuk berkomitmen. Yah, dia memang tertarik pada pria ini. Siwon juga tak pernah tanggung-tanggung menunjukkan ketertarikannya pada dirinya. Namun sekali lagi kenyataan menyadarkannya. Sebuah fakta layaknya tamparan keras untuk dirinya.

Karna penyakit ini dia tidak bisa menjalin sebuah hubungan dengan pria ini. Dia takut ketika tiba waktunya nanti ia akan semakin melukai pria ini dengan kepergiannya.

***

Pagi itu langit Seoul mendominasi dengan warna biru cerah. Hanya sedikit awan putih yang menemani sang mentari. Yoona memeluk lutut yang terbalut selimut tebal rumah sakit sambil menumpukkan dagu diatasnya.

“Apa itu?” tanya Yoona mengarah pada Siwon yang tengah asik melipat sebuah kertas.

“Ini?” Siwon mendongakkan kepala. “Ini namanya kertas origami. Aku akan membuat bangau kertas,” jelas Siwon setelah menyelesaikan bangau kertas pertamanya.

Yoona memutar kedua bola matanya, “ne, aku tahu itu, tapi untuk apa kau membuat bangau kertas ini?” gadis itu mengambil bangau kertas pertama Siwon dan mengamatinya sebentar.

Tanpa menghentikan gerak tangannya, Siwon sedikit mencondongkan tubuhnya. “Kudengar…” ia berdehem pelan kemudian meletakkan bangau kertas keduannya di dekat Yoona dan mengambil kertas origami lagi. “Ada sebuah legenda yang sangat populer di Jepang..”

“Legenda?” Yoona sedikit memiringkan kepala dengan dahi berkerut.

Satu anggukan Siwon menjawab pertanyaan Yoona. “Katanya jika kita berhasil membuat seribu bangau maka satu permintaan kita akan terkabul.” Tangan Siwon kembali meraih kertas origami dan mulai melipat-lipatnya lagi.

“Dan kau percaya legenda itu?” Yoona bertanya setengah tak percaya.

Sekali lagi Siwon memanggutkan kepala, “setelah menyelesaikan seribu bagau aku akan memohon permintaan agar kau sembuh dan memiliki umur panjang….. lebih panjang dariku kalau bisa.”

Yoona melemparkan bagau kertas itu pada wajah Siwon dengan dengusan kesal. “Sejak kapan kau percaya pada mitos seperti itu, huh?”

Kepala Siwon mendongak pada langit-langit kamar, alisnya berkerut samar seolah tengah berpikir keras. Ia kemudian menghela napas panjang dan melipat kedua tangan di muka dada. Dicondongkannya tubuhnya menghadap Yoona dan menatap serius pada gadis itu. “Anggap saja begini, ketika seseorang—contohnya aku—mengusahakan banyak cara untuk terus percaya bahwa kau kelak akan sembuh maka kau harus berusaha sebisamu untuk mewujudkannya juga. Turuti nasehat Dokter, lakukan kemoterapi dengan teratur, minum obat dan percayalah bahwa kau akan sembuh, arasseo?

Mata Yoona mengerjap mendengar penuturan Siwon. Pria itu sudah kembali melakukan aktivitasnya, melipat kertas-kertas origami. “Siwon-ah..”

“Hmm?” sahut Siwon sekenanya.

“Besok, aku ingin menari diiringi oleh permainan biolamu..”

Tangan Siwon yang tengah sibuk melipat kertas tiba-tiba berhenti bergerak. Ditolehkannya kepalanya pada Yoona. Gadis itu telah memasang senyum manis, meski dengan balutan wajah memucat.

***

Hembusan angin menerbangkan surai rambutnya. Tangan kiri Siwon memegang erat biola kesayangannya sementara tangan kanannya mencengkram busur biola.

“Kau boleh memainkan biolamu sekarang,” ucap gadis itu menampakkan senyumnya. Saat ini mereka tengah berada di lantai teratas rumah sakit. Meski harus ada perjuangan untuk sampai di lantai atas ini. Tentu saja para susuter serta dokter tidak akan mengijinkan pasien yang masih harus menjalani kemoterapi malah menari di lantai teratas rumah sakit. Jadi Siwon harus mengerahkan kemampuan berbohongnya untuk mengelabuhi mereka semua.

Yoona sudah berdiri di hadapannya dengan mengenakan baju penari seperti pada umunya, baju ketat yang membentuk lekuk tubuh.

Siwon mengangkat biolanya, memposisikan di antara bahu dan lekungan lehernya. Busur biola yang berada di tangan kanannya perlahan mulai menggesek senar biola yang terbuat dari bulu domba itu.

Ketika melodi pada gesekan biola itu mulai mengalun, tubuh Yoona menyesuaikan nada yang diciptakan dari biola Siwon. Fairy Tale, lagu karya Ludovico. Bernada lembut sesuai dengan gerakan Yoona.

Siwon harus mengakui puluhan kali bahwa teknik menari Yoona memang luar biasa hebatnya. Tidak heran jika dulu ia mendengar salah satu guru di Juilliard mengagung-agungkan kemampuan menari gadis ini.

Ia menari dengan terampil dan tekendali. Keseluruhan tubuhnya bergerak. Kedua tangan serta kakinya mengayun dengan anggun. Senyumnya juga tak pernah pudar dari bibir tipisnya.

Siwon dapat merasakan emosi pada tarian itu ketika ia berjalan memutari Yoona sambil terus memainkan biola. Gadis itu sampai pada piroutte, dimana ia bergerak memutar dengan bertumpu pada satu kaki. Yah, Siwon merasakan ambisi yang memuncak dari gerakan itu.

Dan ketika alunan melodinya berakhir, Yoona jatuh pada tubuh Siwon. Tangannya memegang bahu pria itu agar tubuhnya tidak jatuh, nafasnya masih sedikit terengah namun rona bahagia tak dapat ia sembunyikan. Rasanya ia baru saja terbebas dari sangkar burung, bebas mengepangkan sayapnya ke udara.

Gomawoyo…” katanya setelah beradu pandang dengan Siwon cukup lama yang hanya berjarak beberapa senti saja darinya.

__

“Besok jangan datang kemari.”

Sedikit mendogak, Siwon menautkan kedua alisnya, “kenapa?”

Siwon membantu Yoona bebaring di atas tempat tidur, mengusahakan gadis itu senyaman mungkin.

Yoona menarik udara masuk kedalam rongga dadanya, “pokoknya kubilang jangan ya jangan!” Ia membuang muka ke sembarang arah.

Siwon mendesah kemudian menggeser tubuh Yoona untuk memberikan ruang padanya. “Kau tidak mau aku melihatmu botak?” tanya Siwon menolehkan kepalanya kearah Yoona.

Semburat merah menghiasi kedua pipi Yoona. Kalau boleh jujur, sebenarnya Siwon sangat menyukai ketika pipi Yoona bersemu merah seperti itu. Ia terlihat lebih cantik.

“Tenang saja aku tidak akan mengolok-olokmu.”

Tidak ada respon dari Yoona, gadis itu masih saja membuang muka.

Terdengar kembali suara helaan napas berat. “tidurlah, sudah jam sembilan malam. Besok kau masih harus melakukan kemoterapi.” Kemudian Siwon mengusap kepala Yoona yang tertutup topi rajut. Gadis itu sedikit bergerak serta menolehkan kepalanya kearah Siwon.

“E-eh kau tidur disini?” tanyanya dengan nada gugup.

“Hmm.. aku akan menemanimu tidur untuk malam ini.” Pria itu sudah memejamkan kedua matanya namun tangannya masih setia mengusap-usap lembut kepala Yoona.

Merasakan debaran jantungnya, Yoona menelan saliva-nya secara susah payah. Bau maskulin pada pria ini langsung menyeruak kedalam lubang hidungnya, menghantarkannya keseluruh urat nadi lalu menjalarkan getaran aneh yang tidak Yoona mengerti.

“Aneh… sangat aneh..”

***

Yoona menghirup dalam udara segar pagi itu. Garis bibirnya terangkat ketika memandangi awan putih yang bercahaya.

“Senang?”

Kepala Yoona mengangguk, “rasanya sudah lama sekali aku tidak keluar dari kamar.”

Seseorang yang berada dibelakangnya—yang mendorong kursi rodanya lebih tepatnya—bergumam pelan, “tentu saja kau merasakan hal seperti itu. Sudah dua minggu ini kau mengurung diri terus di kamar. Apa kau tidak bosan?” wanita dengan seragam putih itu terkekeh pelan. “Oh ya, kemana kekasihmu itu? Dia tidak pernah datang berkunjung setelah terakhir kali kau menolak bertemu dengannya. Apa dia sakit?”

“Dia bukan kekasihku!” bantah Yoona. Tiba-tiba saja perkatan suster Ahn membuat Yoona dilanda kegelisahan. Benar juga, sejak kepalanya sudah tak ditumbuhi rambut lagi, ia selalu menolak bertemu dengan Siwon meski pria itu terus memaksa namun Yoona tetap kekeuh tidak mau menemuinya.

Kalau dipikir-pikir Yoona jadi merindukan pria itu. Dan ketika ia sudah merasa siap bertemu dengan pria itu, kini justru Siwon yang tak kunjung menemuinya.

“Hei, kau tidak merindukannya?”

Yoona terkesiap dengan pertanyaan susuter Ahn. “Eh! Ng… sedikit,” lirihnya pelan.

Sepertinya suster Ahn belum begitu puas dengan jawaban Yoona, ia mendorong kursi roda Yoona dengan sangat lamban, seperti seekor siput. “Apa kau yakin hanya sedikit?” tanyanya menggoda.

Membutuhkan udara lebih, Yoona kembali menarik nafas, “Ya, aku memang merindukannya. Sangat merindukannya mungkin tapi—“

“Aku tahu kau memang tidak pernah bisa lepas dari pesonaku.”

Yoona mendengus kesal, seharusnya ia tahu lebih awal bahwa ini semua telah direncanakan oleh Siwon, orang yang sekarang sudah berdiri di belakangnya. “Imbalan apa yang kau berikan pada susuter Ahn sampai dia mau menjalankan misi konyolmu ini?”

Senyum lebar Siwon langsung ditangkap retina matanya ketika Yoona mendongakkan kepala. Pria itu kemudian berjongkok di depan Yoona. “Hanya foto bersama.” Ia mengangkat bahu, “tidak ada salahnya bukan membagi gambar pria tampan ini?”

Yoona memutar kedua bola matanya. Pria ini memang selalu mengutamakan ke-percayaandiri-nya.

Mengabaikan dengusan Yoona, Siwon lantas menyerahkan paper bag di pangkuan Yoona.

“Apa ini?” Yoona mengintip paper bag yang diberikan Siwon dan ada banyak bangau kertas di dalamnya.

“Aku sudah menyelesaikan delapan ratus tiga  puluh bangau kertas. Sisanya akan kuselesaikan secepatnya. Mungkin besok atau lusa.” Pria itu menyunggingkan seulas senyum cerah.

Tangan Yoona terulur menyentuh bangau-bangau kertas itu, bibirnya bergetar seolah hendak mengatakan sesuatu.

“Tidak usah berterimakasih. Sudah kubilang ini akan setimpal dengan usahamu untuk sembuh dan terus melakukan kemoterapi,” sela Siwon sebelum gadis itu bersuara. “Ngomong-ngomong, aku ingin menunjukkan sesuatu padamu.”

Bola mata Yoona bergerak mengarahkan pandangan pada pria di depannya, dahinya mengernyit. Ia melebarkan matanya ketika Siwon menarik topi hoodie yang menutupi kepalanya. Menunjukkan kepala yang telah dicukur habis. “Bagaimana? Jika seperti ini kita nampak seperti kembaran bukan?” Pria itu kemudian terkekeh. “Lain kali kita harus jalan bersama sambil mengenakan baju couple, agar kita lebih terlihat seperti sepasang kekasih berkepala botak.” Cengiran jenaka mengakhiri kalimatnya, “tidak terlalu buruk bukan?”

***

“Bagaimana keadaanmu?”

“Mulai membaik.” Yoona mengulas senyum, ia meremas selimutnya dan terdengar menghela napas pelan, “kapan kau pulang?”

Suara tawa diseberang sana memenuhi gendang telinga Yoona. “Aku baru akan konser nanti malam dan kau sudah menanyakan kapan aku pulang? Sebegitu ridukah kau padaku, nona Im?”

Kali ini Yoona tidak memutar kedua bola matanya ataupun mendengus kesal sama seperti tiap kali mendengar nada percaya diri pria ini. Ia mengulum senyum. “Ya, cepatlah kembali. Kurasa aku mulai merindukanmu.” Yoona memejamkan mata, merasakan pipinya mulai memanas mengatakan hal itu.

Sementara diseberang sana, kedua sudut bibir Siwon teratarik menampakkan seulas senyum. Ia tahu gadis itu merasakan ia turut tersenyum meski mereka hanya berbicara lewat telepon.

“Besok aku akan pulang bersama dengan anggota orkestra yang lain.” Pria itu menjeda kalimatnya, “oh ya, aku sudah menyelesaikan seratus enam puluh sembilan bangau kertas dan untuk bangau kertas yang terakhir akan kuselesaikan ketika sampai di Seoul nanti, tepat di depanmu.”

Sudut bibir Yoona kembali terangkat, “sepertinya kau tidak akan tidur nyenyak nanti malam karna terlalu merindukanku.”

Siwon tertawa keras, “ne, aku sudah tak sabar menunggu hari esok,” tukasnya. “Emm kau sudah membacanya?”

Yoona mengernyit, “membaca apa?”

“Di tiap bangau kertas yang sudah kuserahkan padamu. Aku menuliskan sesuatu disana. Bukalah bangau-bangau kertas itu tapi jangan lupa untuk kembali melipatnya.”

Yoona membenarkan posisi duduknya dan mengambil satu bangau kertas. Ia mengapit ponselnya diantara bahu dan telinganya, “oh! Ne aku sudah membacanya satu.”

Siwon tersenyum mendengarnya, “itu doa-ku untukmu mungkin memang tak se-manjur obat yang diberikan Dokter menyebalkan itu padamu tapi bisa kujamin setidaknya kau akan selalu tersenyum tiap kali membacanya,” jelasnya. “oh ya, jangan lupa dosisinya satu hari sekali, kau hanya boleh membuka bangau kertas itu sehari sekali, arasseo?

Butuh beberapa detik bagi Yoona untuk menjawab ucapan Siwon, ia mengerjap begitu mendengar teguran Siwon. “Ya, tentu.”

“Baiklah, sepertinya konsernya akan segera mulai, kututup dulu sambungannya.”

Ne, semoga konsernya berjalan lancar.”

“E-em, tunggu aku besok aku akan langsung ke rumah sakit begitu sampai di Seoul.” Siwon berdaham pelan. “Sampai jumpa..”

Begitu sambungan hampir terputus, suara Yoona menghentikan gerak tangan Siwon, “Nde?”

Ada jeda cukup lama setelah Siwon menyahut. Tidak terdengar lagi suara Yoona. Siwon kemudian menjauhkan ponselnya dari telinga, melihat pada layar ponselnya dan sambungan belum diputus. Ia kemudian menempelkan lagi pada telinganya.

“Yoona-ya..”

Saranghaeyo..”

Siwon tertegun untuk beberapa saat. Kalimat yang baru saja diterima oleh gendang telinganya seolah masih terhambat oleh laju kupu-kupu yang mulai menyeruak dalam dadanya.

“Aku menunggumu pulang.” Satu kalimat Yoona sebelum gadis itu memutuskan sambungan telpon. Senyum bahagia terus terpancar di bibir pria itu. Pada akhirnya, Yoona mengungkapkan perasaannya juga.

***

“Lipatan terakhir sudah selesai.” Suaranya terdengar gembira. Ia memandang lipatan terakhir bangau kertasnya dengan mata berbinar.

Kepalanya melengok kedepan. Terlebih dulu ia menarik nafas dalam-dalam untuk mengisi rongga dadanya dan kemudian menghembuskannya lewat mulut, “bagaimana kabarmu?”

Hening. Hembusan angin musim semi yang membawa dedaunan seolah menjawab pertanyaannya. “maaf, baru mengunjungimu hari ini.” Ia menundukkan kepala dalam.

“Tidak terasa, sudah satu bulan lamanya kau meninggalkan kami..” Ia menengadakan kepalanya keatas, menahan air mata yang siap meluncur. “Tidak perlu kuatir, aku sudah tidak menangisi kepergianmu lagi.” Bibirnya tertarik menyunggingkan senyum getir.

“Oh ya, kemarin aku bertemu dengan Ibumu, dia masih saja menangisi kepergianmu. Kukatakan padanya bahwa jangan sedih karna aku adalah anaknya juga.” Matanya sudah memanas, ada rasa sesak yang menghimpit dadanya hingga ia sedikit kesulitan untuk bernafas.

Tangannya yang semula memegangi batu nisan di depannya, bergerak mengusap kepalanya yang tertupup topi rajut, “kalau kau masih hidup tentu saat ini rambut kita memiliki panjang yang sama. Iya ‘kan, Choi Siwon?”

Tepat ketika nama itu begitu mulus keluar dari mulutnya, air matanya tak lagi dapat terbendung. “Aku tidak akan menagis lagi…. tidak akan lagi…” Yoona menggigit bibir bawahnya. Isakan kecil mengiringinya.

Gadis itu kemudian mengusap matanya yang telah basah dengan lengan sweater panjangnya. “Aku sudah menepati janjiku. Minggu depan aku akan mulai menari di hadapan semua orang bersama dengan kelompok tari dari New York. Ya, mereka menawariku untuk turut bergabung. Kau senang ‘kan mendengarnya?”

Gadis itu tahu hanya kebisuan yang akan ia dapatkan tapi setidaknya, ia ingin mengatakan bahwa ia menepati janjinya dengan Siwon.

“Aku sudah membaca pesan-pesan pada bangau kertas-mu,” gadis itu kembali menggigit bibir bawahnya, rasa sakit pada bibirnya tak juga dapat menghalau linangan air mata yang meluncur mulus dari sudut matanya. “Maaf aku melebihi dosis tapi aku tidak mati, ya tentu saja.” Ia memaksakan senyum.

Jemari lenteiknya kembali mengusap batu nisan di depannya, menghantarkan sebuah getaran perih yang mengiris ulu hati. “Aku akan berkunjung lagi besok. Hari ini aku harus kembali mengajar.” Yoona mengusap pipinya yang tergenang air mata. “Baiklah, sampai jumpa.”

Gadis itu beranjak dari rumah abu itu. Tepat ketika ia berbalik, setetes cairan bening kembali meluncur dari matanya. Ia setengah berlari ketika isakan yang semakin keras keluar dari bibirnya.

Flashback on

“Choi Siwon-ssi!” sebuah panggilan mengalihkan perhatiannya dari ponsel yang digenggamnya. “Ne?

“Kau yakin akan pulang malam ini juga?” teriak seorang pria paruh baya dari jarak agak jauh dari tempat Siwon berdiri.

Siwon memberikan senyumnya, “Ya, tiba-tiba saja aku ada urusan mendadak,” jawabnya ikut berteriak. Takut suaranya tertelan oleh suara bising kendaraan yang berlalulalang di belakangnya.

Pria paruh baya itu berkecak pinggang serta menghela napas, “Yasudah, berhati-hatilah di jalan.”

Siwon menganggukkan kepala serta tersenyum menginyakan, “gomawo ahjussi.”

Pria paruh baya itu hanya mengangkat tangan sebagai jawaban sembari ia membalikkan badan. Tepat ketika ia melangkahkan kaki selangkah, suara dentuman keras menghentikan langkahnya. Tiba-tiba saja firasat buruk menghampiri perasaannya. Pria paruh baya itu berbalik dan seketika matanya terbelalak mendapati seorang pemuda yang tergeletak di atas jalan raya dengan semburat darah segar di sekitar tubuhnya.

“Choi Siwon!”

Flashback of

“Tetaplah menjadi Im Yoona yang senantiasa tersenyum.”

“Teruslah menari hingga dunia tak semanis yang kita inginkan.”

“Kau itu bagai melodi indah dalam senar biolaku.”

“Kau adalah busur biola dan aku meletakkan diriku sebagai biola. Biola tanpa adanya busur tidak akan menciptakan melodi yang indah.”

“Aku selalu berdoa bahwa aku ingin melihat mata indahmu sampai detik nafas terakhirku. Jadi, jangan pernah mengatakan bahwa hidupmu tak lebih lama dariku.”

“Jangan menangis! Kau pikir adil ketika semua orangtua melarang anak laki-laki menangis sementara anak perempuan boleh menangis.”

“Ketika kau merindukanku, kau bisa membuat bangau kertas kemudian menerbangkannya ke udara dari gedung tertinggi. Percayalah bahwa pesanmu akan sampai padaku^^”

“Terimakasih……. Saranghaeyo.”

~FIN~

Astagaaaaaaaa! Apa ini!!!!!! Ah! Ini Absurd pakek banget >m< Oke, ini ide dadakan ketika aku selesai membaca sebuah fic, yah adalah scene yg rada mirip tapi aku gk COPAS loh ya#SUMVEH!# Dan setelah baca novelnya Ilana Tan ama diceritain novel Perahu Kertas maka jadilah fic absurd bin gaje ini. Well, ini bukan cerita Mia Clark dan Alex Hirano ataupun kisah Kugy dan Keenan^^ ini kisah Yoona dan Siwon versi-ku hoho… ^o^

Tujuan aku yg sebenarnya tidak ingin menumpahkan air mata kalian *Ya, ini memang gak sedih kok-_-* oke, jadi sebenarnya aku pengen kalian dapat menikmati alur yg aku ciptain di fic ini. aku ingin kalian merasakan alur-nya seperti air yang mengalir, yah layaknya bersantai menikmati sapuan angin yang melambai-lambai(?) Tapi sepertinya aku gagal menciptakannya di bagian2 akhir yah? Iya gak? Haha… nyadar sih soalnya yg bagian akhir rada buru-buru^^

Jadi initinya pesan dalam fic ini “Jangan pernah merasa pesimis, harus selalu optimis. Tanpa kita ketahui sebenarnya banyak kok orang yg men-support kita. Ada begitu besar cinta yang dihadiahkan untuk kita. Jadi patut untuk selalu disyukuri^^ *lah kok kyaknya keluar jalur-_- #sebodo amat dah. Tiap orang punya kesimpulan masing2 Kkkk~

Thanks to; Resty/ka Echa, yg telah meluangkan waktu untuk nge-post fic absurd ini^^ Gomawoyoooooooooo🙂

(you are welcome sistaaaa^^)

Tinggalkan komentar

152 Komentar

  1. ayana

     /  Juli 15, 2016

    hhh…… sedih banget.
    awal baca ff ini jadi keinget ma sunshine becomes you, alurnya hampir sama.
    tapi nggak nyangka kalo akhirnya siwon yang meninggal. karna ang sakit kan yoona.
    saat bagian dialog “lipatan terakhir sudah selesai” aku kira itu dialog siwon waktu ketemu yoona, eh malah itu dialog yang diucapkan yoona didepan makan siwon.
    ff yang cukup menguras air mata. fellnya ngena dan dapet banget.

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: