[OS] Love a Happy Ending

[OS]  Love a Happy Ending

Author            :           Hyuna Choi / Rina

 Cast               :           Im Yoona & Choi Siwon                                                     

Rating             :           PG 13

Type               :           OneShoot

Genre             :           Romance, Sad, Friendship

è Warning : boring stories and scattered typo. so, if you do not like it suggest not reading.

Yoona POV

Lagi-lagi aku melihatnya, melihatnya tertawa begitu gembira bersama yeoja-yeoja yang selalu mengelilinginya kemanapun dia pergi. Hatiku hancur berkeping-keping, dadaku sakit hingga aku tidak kuasa menahannya. Kenapa dia tega melakukan ini padaku, sakit ini membuat aku terbunuh secara perlahan.

“Siwon-ah…jeruk ini asam. Tapi kalau aku makan jeruk ini sambil melihat wajahmu, rasanya berubah menjadi manis.” Ujar Yeoja itu, Tiffany dengan wajahnya yang menatap Siwon dengan manja.

Siwon mendekati Tiffany kemudian tersenyum ramah kepada Yeoja itu. saat ini kami sedang berkumpul bersama di taman belakang kampus, untuk sekedar mengisi waktu luang karena Dosen yang mengajar hari ini tidak hadir.

“Kau bisa saja merayuku, kalau begitu aku akan duduk lebih dekat denganmu.” Siwon duduk di sebelah Tiffany, kemudian mereka memakan jeruk bersama sambil sesekali tertawa.

“Hey, kalian berdua membuatku iri saja..” kata Yuri dengan nada sedih yang di buat-buat membuat semua yang ada disini tertawa.

“Untuk apa kau iri Yul? Kau kan punya Yesung Oppa, yang harus iri itu aku…aku kan tidak punya pacar.” Celetuk Seohyun polos membuat gelak tawa mereka semakin menjadi-jadi, kecuali aku. Mendengar perkataan Seohyun membuatku merasa tersindir.

“Tidak punya pacar apa? Jadi kau sama sekali tidak menganggapku Seo?” tanya Kyuhyun sedih, Seo memutar bola matanya malas. Menghindari tatapan Kyuhyun yang bisa di bilang memilukan.

“Mianhae aku lupa.” Jawab Seohyun malas.

Ku lihat Kyuhyun mendengus kesal, wajar memang. Mereka menjalin kasih tapi sama sekali tidak pernah akur satu sama lain. Kembali ku lirik kearah Tiffany dan Siwon yang malah asik sendiri tanpa memperdulikan teman-teman yang lain berceloteh ria.

Pemandangan itu jelas saja membuat aku semakin jengah, ingin rasanya aku segera pergi dari tempat membosankan ini. Suasana ini benar-benar tidak menguntungkan bagiku, tapi aku tidak mungkin pergi begitu saja karena tidak enak dengan teman-teman yang lain.

Tapi tingkah mereka benar-benar membuat dadaku sesak, aku mencoba menetralisir rasa sakit ini tapi aku benar-benar tidak sanggup. Rasanya sangat sakit sekali.

Siwon adalah Pangeran kampus di kelas kami, selain tampan dan kaya dia juga pintar, baik, tidak sombong dan taat beribadah. Itulah yang membuat Siwon menjadi Idola di kampus ini, ku rasa semua yeoja tertarik padanya. Termasuk aku.

Aku memang sudah tertarik padanya sejak pertama kami bertemu, awalnya aku pikir perasaanku padanya hanya sekedar rasa kagum saja. Tapi semakin lama sampai saat memasuki tahun ketiga kami satu kelas, rasa itu semain jauh saja.

Aku selalu merindukannya saat dia tidak ada, aku selalu merasa cemburu saat dia bersama gadis lain, ketika dia mengajakku bicara aku hanya menanggapinya singkat, mungkin dia menyangka aku cuek atau sombong karena tidak mau berbicara banyak dengannya tapi semua itu aku lakukan karena aku malu.

Jantungku selalu berdegup kencang saat dia menataku dan tersenyu manis padaku, membuat lidahku kelu sehingga sulit sekali lidah ini mengucapkan kata-kata . dan aku merasa sangat sedih saat dia mengacuhkanku seperti sekarang.

Aku tiak pernah tau apa penyebabny sehingga membuat Siwon mengacuhkanku, apa aku berbuat salah padanya? Atau dia merasa bosan dengan sikapku yang cuek terhadapnya sehingga membuatnya bersikap dingin padaku? Entahlah aku tidak mengerti.

Yang jelas dia mulai merubah sikapnya padaku semenjak dia semakin dekat dengan Tiffany. Tiffany adalah sahabatku sekaligus saudara sepupuku, namun karena masalah keluarganya yang tega mengkhianati keluargaku, hubungan kami sudah tidak seakrab dulu, bahkan sekarang kami tidak saling berbicara.

“Yoona-ya…kenapa melamun?”

Pertanyaan itu sontak membuatku tersadar dari lamuanan panjangku, kulihat Taeyoen menatapku cemas. Aku tidak menjawab pertanyaannya, aku hanya tersenyum singkat padanya.

“Kau kenapa? Apa kau sakit?” tanya Taeyoen khawatir.

“Aniya..gwenchana.” jawabku singkat.

“Kalau ada masalah berbagilah dengan kami, jangan memendamnya sendiri.” Ujar Taeyoen, aku hanya tersenyum sebagai jawaban.

Taeyoen adalah sahabatku yang paling mengerti aku, namun untuk masalah ini aku tidak bisa memberitahukannya. Bukan aku tidak percaya padanya, hanya saja aku terlalu malu untuk mengungkapkan apa yang aku rasakan. Biarlah aku menganggung sakit atas perasaan yang tak terbalaskan ini sendirian.

“Yoona-ya, kau juga boleh bercerita padaku jika kau ada masalah. Aku siap menjadi tempatmu mencurahkan isi hatimu.” Celetuk namja bernama Donghae, dia baik juga perhatian. Ku dengar dari teman-temanku kalau dia menyukaiku, tapi bagiku dia hanya seorang sahabat.

“Gomawo Donghae-ya, kau memang namja yang baik.” Balas ku tersenyum hangat padanya, tapi kurasa dia menanggapinya terlalu berlebihan. Donghae tersenyum sumringah dan menghampiri semua teman-teman.

“Kalian lihat…? Yoona memujiku, ah rasanya aku ingin terbang…” serunya membuat teman-teman mencibir kemudian melemparinya dengan kertas. Aku hanya tersenyum melihat tingkah konyolnya.

“Baru di puji begitu saja kau sudah bertingkah seperti itu? Tck!” Tiba-tiba suara Tiffany membuatku mengalihkan perhatian pada yeoja menyebalkan itu, dia menatapku dengan pandangan jijik.

“Memangnya apa urusanmu?” tanya Donghae dengan nada kesal, mungkin dia juga tidak terlalu suka dengan Tiffany.

“Tidak ada. Aku hanya heran, kenapa kau bisa jatuh hati pada yeoja seperti dia?” Pertanyaan Tiffany membuat hatiku mencolos seketika, apa menurutnya aku memang tidak pantas di sukai oleh namja?

“Lebih baik aku menyukai yeoja lembut seperti Yoona daripada yeoja genit sepertimu yang bisanya hanya menggoda namja, Cih. Namja yang menyukaimu pasti sudah gila.” Ujar Donghae menatap tidak suka pada Tiffany dan Siwon.

“Sudah-sudah, kenapa jadi ribut begini? Kita kesini bukan untuk bertengkar tapi untuk melepas kepenatan.” Potong Taeyeon menghentikan perdebatan kecil antara Donghae dan Tiffany.

“Ne, Taeyeon benar. Lagi pula kau tidak berhak berbicara begitu Fany-ah.” Sambung Kyuhyun.

Mereka membelaku, tapi apa yang dilakukan Siwon? Dia hanya diam saja. Itu membuat hatiku semakin sakit, begitu acuhnya dia padaku sehingga disaat Tiffany menginaku seperti itu. aku hanya diam tak menanggapi ocehan-ocehan mereka yang terus berbicara. Rasanya aku ingin menangis sekarang juga, aku benar-benar tidak sanggup.

“Yoona-ya, kau kenapa?” tanya Donghae yang tiba-tiba duduki di sebelahku.

“Aniya, gwenchana.” Aku hanyam tersenyum menanggapinya.

###

Semakin hari Siwon semakin dekat dengan Tiffany, banyak yang mengatakan mereka pasangan yang begitu serasi. Mereka selalu bersama dan kerap kali berlaku mesra, Aku pernah memberanikan diriku untuk bertanya pada temanku yang juga sahabat dekat Tiffany, apakah mereka berpacaran? Tapi mereka mengatakan tidak.

Berteman saja kenapa mereka bisa semesra itu? entahlah aku tidak mengerti. Aku merasa cemburu? Tentu saja. Siapa yang tidak hancur hatinya melihat orang yang di sukainya terus mengumbar kemesraan dengan yeoja lain. Aku mungkin bisa terima jika mereka berpacaran, tapi ini? Mereka hanya berteman.

Aku tau Siwon adalah orang yang mudah akrab dengan orang lain, dia akaran dengan semua teman sekelas kami bahakan dia juga berteman dengan semua mahasiawa di kampus. Tapi kenapa? Hanya dengan aku dia tidak bisa akrab?

Bagiku tidak masalah jika memang Siwon tidak membalas perasaanku, tapi apa tidak bisa aku menjadi temannya? Aku hanya ingin dia memperlakukan aku seperti dia memperlakukan teman-teman yang lain. Mengajakku bercanda kemudian tertawa bersama seperti layaknya ia tertawa bersama teman-teman yang lain. Apa ada yang salah denganku?

Tuhan mengapa kau pertemukanku denganya jika pertemuan itu hanya membuat ku terluka, mengapa kau tumbuhkan cinta di hati ini jika cinta itu hanya membuatku menangis. mengapa semua ini harus terjadi padakutuhan jika boleh ku meminta aku ingin mengenalinya lebih dekat aku ingin dia merubah sikapnya padaku karna sikapnya selalu membuatku kecewa, tuhan jika boleh ku berharap aku sangat ingin memilikinya, tuhan jika boleh aku jujur sungguh aku merindukannya tuhan izinkan aku merasakan dan mendapatkan semua itu walau itu hanya untuk sekejab saja.

Hari ini Tiffany tidak masuk kuliah, entah kenapa aku tidak peduli. Aku bersama Taeyeon, Kyuhyun, Seohyun, Yuri dan Eunhyuk sedang makan sian bersama di kantin. Tapi tiba-tiba namja itu datang menghampiri kami.

“Annyeong…boleh aku bergabung?” tanpa persetujuan dari yang lain Siwon segera mengambil posisi kursi kosong di hadapanku.

Mata kami sempat bertemu sekilas, tapi aku buru-buru mengalihkan pandanganku.

“Siwon-ah, tumben sekali kau sendirian? Kenapa Tiffany tidak masuk?” tanya Eunhyuk.

“Dia ada urusan keluarga.” Jawab Siwon singkat.

Mereka terus saja mengobrol sambil makan, banyak cerita yang mereka perbincangkan. Sesekali ku lirik Siwon yang tertawa lepas, aku segera menundukkan wajahku. Hanya denganku Siwon bersikap dingin, andai aku berani bertanya apa yang menyebabkan dia melakukan itu padaku.

Dia benar-benar mengacuhkanku, dia menganggap aku tidak ada di antara mereka. Mereka terus saja berbicara tanpa memperdulikan aku yang sepertinya akan mati bosan. Aku hanya bisa mengaduk-aduk makananku. Rasanya bosan sekali.

Hingga pada akhirnya mataku secara tak sengaja melihat Donghae yang duduk di meja yang bersebelahan dengan meja kami. Kulihat ia tersenyum padaku dan melambaikan tangannya seolah mengisyaratkan agar aku menghampirinya. Ku pikir ada baiknya juga aku menurutinya, dari pada aku mati bosan disini.

Aku beranjak dari dudukku membuat mereka mengalihkan perhatiannya padaku, tak terkecuali namja itu.

“Mau kemana Yoona-ya?” tanya Seohyun mewakili semua teman-teman.

“Mianhae, kulihat Donghae sendirian disana. Jadi ada baiknya aku menemaninya, karena kulihat kalian tidak begitu membutuhkanku.” Jawabku dengan nada sedikit menyidir.

Aku segera pergi dari hadapan mereka sebelum aku di cecar pertanyaan-pertanyaan yang malas aku jawab. Aku segera menghampiri Donghae kemudian duduk di hadapannya.

“Aku senang kau mau menemaniku Yoona-ya, jadinya aku tidak kesepian lagi.” Ujarnya sembari tersenyum.

“Kenapa tidak bergabung saja dengan kami disana?” tanyaku.

“Lebih baik aku sendiri saja dari pada harus bergabung dengan mereka.” Jawabnya melihat tidak suka pada teman-teman yang lain.

“Wae?” tanyaku penasaran.

“Sudahlah tidak penting. Ku lihat kau juga sepertinya bosan bersama mereka?” tanya Donghae tepat sasaran. Aku mengangguk membenarkan.

###

Hari ini tidak ada dosen lagi? Benar-benar menyebalkan.padahal aku sudah bersusah payah berangkat dari rumah, aku pikir aku akan terlambat tapi nyatanya saat aku sampai di kampus malah tidak ada dosen, bukankah itu sangat menyebalkan? Semua teman-temanku sudah tidak ada di kampus. Ada yang sudah pulang ke rumah, ada yang pergi berkencan mungkin.

Aku berjalan menelusuri setiap koridor kampus hingga aku sampai pada lorong terakhir dari gedung universitas yang sangat luas ini. Aku berhenti di ujung koridor, entah apa yang membuat kakiku melangkah kesini.

Aku mengalihkan pandanganku pada sebuah lorong yang menghubungkan ke gudang, tanpa sengaja kulihat sepasang namja dan yeoja sedang bercumbu mesra. Bukannya ingin ikut campur, hanya saja aku merasa seperti mengenal keduanya. Aku memincingkan mataku guna mempertajam penglihatanku.

Saat itu juga tubuhku membeku, kakiku sangat sulit untuk di gerakkan. Kalian pasti tau bagaimana sakitnya hatiku saat yang kulihat dengan mataku saat ini adalah Siwon namja yang aku cintai secara diam-diam, sedang berciuman panas dengan Tiffany di lorong gudang.

Aku ingin lari segera tapi kakiku sulit di ajak kompromi, Siwon menghentikan ciuman itu dengan paksa. Di dorongnya tubuh Tiffany kasar. Aku meliahtnya, Siwon menyadari kehadiranku dengan begitu terkejut. Matanya membulat sempurna.

Aku segera berlari meninggalkan pasangan itu, hatiku benar-benar remuk. Sudah cukup sampai disini saja dia menyakitiku. Jika mereka tidak berpacaran tapi kenapa mereka melakukan itu? aku sudah muak melihatnya. Ternyata pandanganku selama ini terhadapnya salah besar, ku pikir dia namja yan baik tapi nyatanya dia namja brengsek.

Aku terus berjalan dengan langkah cepat, sebenarnya aku ingin menangis. Tapi berusaha sekuat tenaga untuk menahan butiran air mata itu agar tidak membasahi pipiku. Untuk apa aku menangisi namja seperti dia? Benar-benar tidak berguna.

Langkahku terhenti seketika saat kurasakan sebuah tangan mencenkram erat lenganku. Aku berbalik dan menatap terkejut namja yang berdiri dihadapanku dengan tatapan yang sulit di artikan.

“Lepaskan tanganku Siwon-ssi.” Pintaku berusaha menahan emosiku.

“Ku mohon dengarkan dulu penjelasanku.” Ucapnya dengan nada memohon. Apa aku tidak salah dengar? Penjelasan?

“Kau tidak perlu menjelaskan apa-apa padaku Siwon-ssi, bahkan aku tidak berhak mendengar penjelasan apapun darimu. Aku minta maaf, aku benar-benar tidak sengaja melihatnya.” Ucapku dingin.

“Aniya, ini semua tidak seperti yang kau lihat. Tiffany memaksaku.” Bantahnya, apa katanya? Tiffany memaksanya. Aku tersenyum kecut.

“Siwon-ssi kau ini kenapa? Ku lihat kau seperti orang yang baru saja ketahuan selingkuh.” Ujarku dengan nada menyidir. Orang ini benar-benar aneh, aku sama sekali tidak mengerti jalan pikirannya.

Mendengar perkataanku sontak membuat Siwon melepas cengkraman tangannya di lenganku, ia membuang mukanya dan terlihat salah tingkah. Dia terlihat gelagapan, sepertinya aku hanya bermimpi jika mengharapkan dia merasakan rasa sakit yang kurasakan saat melihatnya berciuman dengan Tiffany.

Aku langsung pergi dari hadapannya, aku benar-benar tidak sanggup jika terlalu lama berada di dekatnya. Aku takut semakin tidak bisa mengontrol perasaanku, bagaimana pun aku mencintainya dan hatiku rasanya terkoyak melihat semuanya di depan mataku.

Aku yang tak pernah jujur pada hatiku, dan aku yang selalu mengingkari rasa yang ada.Aku yang telah memuntahkan semua rasa, dan menguburnya dalam sumur jiwaku. Aku berharap aku punya nyali, nyali untuk memintamu menetap dalam hatiku.

Aku berharap aku punya waktu, waktu dalam hidupku untuk bersamamu, tapi.. Tak banyak yang bisa kulakukan untukmu saat aku menyadari, aku mulai merapuh. dan mungkin aku takkan pernah sempat meyakinkanmu bahwa nafas terakhir dalam hidupku adalah kebahagiaan dalam dirimu..

Tuhan, aku mencintainya. Amat sangat mencintainya. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa jika memang dia bukan Kau ciptakan untukku. Rasa ini, cinta yang terlanjur tumbuh di dada ini sangat sulit untuk ku hapuskan, meskipun dia telah memberiku luka yang perih.

Tuhan, tolong buang rasa cintaku jika tak kau izinkan aku bersamanya. aku hanya bisa berharap dia bahagia dengan pilihannya dan akupun ingin bahagia walau tidak bersama dia.

Yoona POV end

Siwon POV

Im Yoona, dia adalah gadis yang sudah membuat hatiku tak menentu. Awalnya aku tidak mengerti apa yang aku rasakan padanya, entah kenapa saat dia ada di dekatku aku merasa seperti tidak menjadi diriku sendiri.

Dia gadis yang sangat dingin dengan laki-laki, dia sangat tertutup dan jarang berbicara. Dia tidak akan berbicara jika tidak ada yang perlu ia bicarakan.  Begitu juga denganku, dia hanya bicara seperlunya. Itupun hanya jika aku yang memulainya.

Sejak saat itu aku mulai menyadari bahwa aku mulai menyukai gadis pendiam itu. dia cantik tapi tidak sok cantik seperti kebanyakan yeoja, dia itu berbeda dan special. Sifat dingin dan pendiamnya membuatku penasaran dan berusaha mendekatinya.

Tapi ternyata mendekati yeoja model Yoona itu sangat lah sulit. Karena dia type yeoja yang sulit berdekatan dengan namja. Hingga pada akhirnya aku memutuskan untuk mendekati Tiffany, sebenarnya aku sama sekali tidak pernah menyukai Tiffany. Aku hanya ingin melihat bagaimana reaksi Yoona.

Aku sengaja mengacuhkannya, menganggapnya tidak ada saat dia sedang berada di antara kami. Tapi ternyata rencanaku tidak membuahkan hasi, gadis itu tetaplah bersikap biasa saja. Kadang aku berfikir apa aku sama sekali tidak menarik dimatanya? Padahal seluruh yeoja yang ada di kampus sangat mengagumiku terutama fisikku.

Hingga pada saat itu Tiffany mengajakku ke lorong dekat gudang, aku tidak tau apa maksudnya mengajakku ke tempat sepi itu.

“Siwon-ah…aku ingin memastikan sesuatu darimu.” Ucap Tiffany memulai pembicaraan.

“Apa?” tanyaku singkat.

“Tentang hubungan kita.” Lanjutnya semakin membuatku tidak mengerti.

“Apa maksudmu, dengan hubungan kita?”

“Selama ini kita sangat dekat, bahkan semua orang bilang kita pasangan serasi. Tapi kenapa tidak ada kejelasan dalam hubungan kita.?”

Aku menghela nafas mendengar penuturan yeoja dihadapan ku kini, dia menatapku penuh harap. Oh Tuhan dia sudah salah mengartikan kedekatanku dengannya.

“Tiffany-ah, kita hanya berteman. Hanya sebatas itu hubungan kita.” Jawabku sekananya. Dia mentapku dengan tatapan terluka.

“Jadi hanya sebatas itu? berarti selama ini kau hanya mempermainkanku, begitu? Apa aku hanya sebagai boneka untukmu?” ujar Tiffany dengan nada kecewa, matanya memerah menahan tangis. Aku jadi merasa bersalah, bagaimana pun ini salahku yang membuatnya salah memahami hubungan kami.

“Bukan seperti itu maksudku Fany-ah..”

“Aku tidak peduli…” potongnya.

Dia berjalan mendekatiku, memusnahkan jarak di antara kami.

“Aku mencintaimu, aku tidak peduli walau pun kau hanya menganggapku teman.”

Tiba-tiba saja dia menjinjitkan tubuhnya lalu menempelkan bibirnya di bibirku, tanpa menungu aku menjawab sepatah katapun. Dia melumat bibirku dengan ganas, aku tidak membalas ciumannya tapi aku berusaha untuk melepasnya. Tidak ku sangka gadis ini ternyata gadis yang liar, dia tidak melepas ciumannya begitu saja, dia malah menggigit bibir bawahku.

Aku tidak sengaja membuka mulutku, Tiffany tidak membuang kesempatan. Dia langsung memasukka lidahnya dalam mulutku, mengabsen gigiku satu persatu. Tiba-tiba sudut mataku menangkap siluet sosok yeoja yang telah mencuri hatiku, dia menatap kami dengan pandangan terluka.

Aku membelalakkan mataku saat menyadari dia melihatku berciuman dengan Tiffany, ku dorong tubuh Tiffany dengan sedikit kasar. Aku benar-benar muak melihatnya.

Yoona berlari meninggalkan kami, aku langsung mengejarnya. Aku yakin dia sudah salah sangka padaku, dan aku yakin dia pasti sangat terluka. Saat aku berhasil mengejranya, aku langsung menghentikan langkahnya dengan mencengkram erat pergelangan tangannya.

“Lepaskan tanganku Siwon-ssi.” Pintanya seperti sedang berusaha menahan emosinya.

“Ku mohon dengarkan dulu penjelasanku.” Pintaku dengan nada memohon. Entahlah rasanya aku perlu menjelaskan yang sebenarnya padanya. Aku tidak ingin dia salah sangka.

“Kau tidak perlu menjelaskan apa-apa padaku Siwon-ssi, bahkan aku tidak berhak mendengar penjelasan apapun darimu. Aku minta maaf, aku benar-benar tidak sengaja melihatnya.” Ucapnya dingin membuat aku tertohok.

“Aniya, ini semua tidak seperti yang kau lihat. Tiffany memaksaku.” Bantahku, ku rasa dia sudah benar-benar salah paham.

“Siwon-ssi kau ini kenapa? Ku lihat kau seperti orang yang baru saja ketahuan selingkuh.” Tuduhnya dengan nada menyidir. Andai saja kau tau yang kau katakan itu memang benar, aku memang merasa seperti orang yang ketahuan selingkuh. Aku hanya diam tak tau apa yang harus ku katakan, mungkin aku terlihat bodoh di matanya sekarang.

Aku hanya diam membiarkannya pergi dari hadapanku. dia benar, aku tidak berhak memberi penjelasan apapun padanya. Ini memang salahku yang terlalu bodoh, bahkan untuk mengungkapkan perasaanku padanya sangat sulit. Salahku juga yang terlanjur memberikan harapan kosong pada Tiffany sehingga membuatnya salah dalam mengartikan hubungan kami.

###

seminggu berlalu setelah kejadian itu, kejadian yang membuat hatiku gelisah setiap waktu. Semenjak kejadian itu hari-hariku semakin berat saja. Aku tidak lagi dekat dengan Tiffany meski dia terus berusaha mendekatiku. Aku hanya tidak ingin terus memberinya harapan kosong.

Sedangkan gadis pujaan hatiku, Im Yoona. Semakin menjauh dariku. Hatiku sakit melihatnya menatap dingin padaku, jantungku remuk saat melihatnya semakin dekat denga Lee Donghae. Apa ini yang dirasakan Yoona saat aku mengacuhkannya, dan saat aku dekat dengan Tiffany? Sesakit inikah?

Saat ini aku hanya terdiam melihat Yoona bersama Donghae, mereka terlihat sangat akrab. Sesekali Yoona tertawa lepas dan itu membuatnya semakin manis. Tanpa sadar aku tersenyum melihatnya, kenapa aku tidak bisa membuatnya tertawa seperti itu?

“Siwon-ah, kau kenapa?” tanya Kyuhyun yang tiba-tiba saja duduk di sampingku, dia menatapku heran.

“Astaga, kau membuatku kaget.” Desisku kesal.

“Habisnya ku lihat dari tadi kau terus melihat Yoona dan Donghae tanpa berkedip. Ada apa?” pertanyaannya membuatku gelagapan.

“Ah..kau sok tau sekali. Aku tidak melihat mereka.” Bantahku terbata, Si evil ini benar-benar memiliki rasa penasaran yang tinggi. Aku harus berhati-hati dengannya, jangan sampai dia tau tentang perasaanku pada Yoona.

“Aishh..kau tak pandai berbohong, ku lihat matamu terus menatap mereka. Ada apa? Kau cemburu eoh?”

Byurrrr

Uhuk…uhuk…

Tiba-tiba aku menyemburkan minumanku dan tersedak mendengar perkataannya.

“Aishh Siwon-ah kau jorok sekali, untung tidak mengenai bajuku.” Protesnya. Mungkin aku lupa satu hal, selain memiliki rasa penasaran yang tinggi, si evil ini ternyata juga mempunyai kemampuan membaca fikiran orang.

“Benarkan apa yang aku katakan, kau menyukai Yoona ya?” tanyanya dengan nada menggoda. Aishh jinja, anak ini benar-benar.

“Apa yang kau katakan, jangan bicara yang tidak-tidak.” Sanggahku dengan memasang tampang dingin.

“Buktinya kau tersedak mendengar ucapanku.” Dia masih tetap ingin membenarkan perkataannya.

“Itu karena kau mengatakan hal yang tidak-tidak.” Ucapku dan akhirnya ku putuskan untuk meninggalkannya. Tidak ku perdulikan teriakannya yang memanggil namaku.

###

Mata kuliah kali ini adalah mata kuliah yang terakhir untuk hari ini, aku bergerak gelisah dalam dudukku. Hatiku berdebar-debar tak karuan, mataku tak lepas dari sosok gadis yang duduk di barisan paling depan. Sepulang kuliah nanti aku berencana ingin mengajaknya berbicara.

Aku benar-benar gelisah, aku tidak tau bagaimana harus memulai. Tapi aku harus bicara dengannya, aku tidak sanggup jika harus menahan perasaan ini lebih lama lagi. Tapi aku takut, bagaimana jika dia menolak ajakanku? Aku benar-benar gila di buatnya, Im Yoona kau adalah yeoja pertama dalam hidupku yang berhasil membuat jantungku berdetak tak karuan.

“Siwon-ah wae? Kau sakit?” tanya Eunhyuk yang duduk tak jauh dariku.

“Ani. Gwenchana.” Jawabku singkat. Kau lihat Im Yoona, kau adalah gadis pertama yang membuatku terlihat seperti orang bodoh.

“Baik. Mata kuliah hari ini kita cukupkan, kita lanjutkan minggu depan. Terima kasih atas perhatiannya.” Ucap Kim songsaenim menutup perjumpaan kami hari ini.

Huufft.. jantungku berdetak semakin tak terkontrol. Ya Tuhan kenapa aku jadi gugup begini. Setelah membereskan buku-buku ku aku lansung berjalan menghampirinya yang sedang memasukkan buku kedalam tasnya.

“Yoona, punya waktu sebentar? Aku ingin bicara, sebentar saja.” Ucapku gugup. Dia menatapku, kemudian beranjak dari duduknya.

“Mianhae. Aku tidak, bisa.” Tolaknya, aku menatapnya kecewa.

“Sebentar saja, ku kohon.” Pintaku sedikit memelas.

“Tapi aku benar-benar tidak bisa, aku ada janji dengan Donghae.” Dia mengambil tasnya kemudian berjalan melalui ku. Tidak lama kemudian Donghae datang menghampiri Yoona.

“Kajja kita pergi.” Kata Yoona, Donghae tersenyum kearahku.

“Siwon-ah, kami duluan ya.” Ujar Donghae, kemudian mereka berlalu dari hadapanku.

Aaaarrrrggg…aku memukul meja dengan kesal. Kenapa? Kenapa dia tidak mau memberiku sedikit saja waktu untuk berbicara dengannya, apa tidak ada kesempatan lagi untukku? Apa benar-benar sudah terlambat?

Aku berjalan ke parkiran tempat mobilku terparkir.  Baru saja aku hendak membuka pintu mobilku, tapi seorang yeoja yang tiba-tiba muncul di hadapanku membuatku menghentikan gerakan tanganku.

“Ada apa Fany-ah?” tanyaku tanpa basa-basi.

“Bolehkah aku pulang bersamamu?” pintanya penuh harap.

“Mianhae Fany-ah, aku ada janji dengan seseorang.” Tolakku.

“Tapi..”

“Mian aku harus pergi sekarang.” Aku langsung membuka kenop pintu mobilku dan segera meninggalkannya.

Maafkan aku Tiffany, aku tidak pernah bermaksud menyakiti hatimu. Ini semua memang salahku, aku hanya tidak ingin memberikan harapan kosong padamu, aku tidak ingin membuatmu semakin terluka.

Siwon POV end

Yoona POV

Hari-hari ku lalui kin tanpa memikirkan namja itu lagi, jujur perasaanku padanya masih sama. Tapi aku berusaha untuk tidak memikirkannya lagi, karena aku pikir mungkin saja Siwon bukan jodoh yang di takdirkan untukku. Jadi untuk apa aku terus memaksakan diri untuk mencintainya, karena itu hanya membuat waktuku tersia-siakan.

Saat ini aku sedang menyendiri di taman belakang kampus, biasanya kami berkumpul bersama disini. Tapi hari ini semua teman-temanku sudah pulang terlebih dahulu dan tinggallah aku seorang diri disini.

“Hey…Yoona-ya.”

Jantungku berdegup kencang mendengar suara bariton itu menyapaku, aku mengenal suara itu. aku mendongak untuk menatap si pemilik suara itu. benar, Siwon tersenyum manis padaku.

“Boleh aku duduk disini?” pintanya, masih menatapku dengan lembut. Tatapan yang sangat aku ingin lihat sejak dulu, ini bukan tatapan dingin seperti dulu.

Tanpa menunggu persetujuanku dia langsung duduk disampingku, aku tidak bisa berkata apa-apa. Aku sibuk menetralkan rasa gugupku. Dia masih saja tersenyum, membuat darahku berdesir.

“Sedang apa disini sendirian? Kau tidak pulang?” tanyanya.

“Aku tidak tau, tiba-tiba aku ingin kesini.” Jawabku asal.

“Yoona-ya, kejadian tempo hari itu. sebenarnya aku dan Tiffany…”

Kenapa dia mengungkit kejadian itu lagi? Dan kenapa harus menyebut nama Tiffany. Aku hanya diam menunggunya melanjutkan kata-katanya.

“Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Tiffany, kami hanya berteman tapi dia ternyata salah memahami hubungan kami. Tentang kejadian waktu itu, itu benar-benar di luar dugaanku, bukan aku yang menginginkannya.” Lanjut Siwon panjang lebar.

“Siwon-ssi, kenapa kau harus menjelaskannya padaku? Dan aku fikir, kau dan Tiffany itu cocok. Kenapa tidak mencoba memulai hubungan dengannya?”

Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutku, meski hatiku tak sesuai dengan apa yang aku ucapkan. Dalam lubuk hatiku, aku masih mengharapkannya. Dia tersenyum.

“Karena hatiku bukan untuknya, sudah ada gadis lain yang berhasil mencuri hatiku. Dia gadis yang cantik dan manis, pendiam, dingin terhadap namja, dia itu gadis yang misterius, tertutup dan membuatku penasaran. Dia gadis yang berbeda, aku menyukainya karena dia gadis yang spesial, tidak mudah untuk meluluhkan hatinya. Tapi itulah nilai plus yang dia punya, aku mencintainya.” Ceritanya panjang lebar.

Gadis itu, siapa dia? Kenapa ciri-cirinya menjurus padaku? Ah. Kau terlalu percaya diri Im Yoona, itu bukan kau. Dia tidak mungkin menyukai gadis sepertimu. Aku menggeleng berusaha menghalau khayalanku yang sudah terlalu tinggi.

“Im Yoona, aku tidak berharap untuk menjadi orang yang terpenting dalam hidupmu. Karena itu adalah permintaan yang terlalu besar bagiku. Aku hanya berharap suatu saat nanti, jika kau melihatku…kau akan tersenyum dan berkata ‘Dialah orang yang selalu menyayangiku’…”

Aku terdiam mendengar ucapannya, aku berusaha mencerna setiap untaian kata yang meluncur dari bibir manisnya. Apa maksud dari semua itu? otakku terus berputar mencari maksud dari perkataannya.

“Apa maksudmu Siwon-ssi?” akhirnya aku berani menanyakannya.

“Kau pasti mengerti Yoona-ya. Gadis itu adalah kau, kau adalah gadis pertama yang berhasil merebut hatiku. Kau gadis pertama yang berhasil mebuat jantungku berdegup kencang, hanya kau Im Yoona. Aku mencintaimu.”

Tuhan, apa aku tidak salah dengar. Atau aku hanya bermimpi? Namja ini? Namja impianku menyatakan cintanya padaku? Tuhan tolong katakan ini hanya mimpi, bagunkan aku dari mimpi ini.

Aku tidak tau harus menjawab apa, air mataku mengalir begitu saja. Perasaan bahagia bercampur haru menyeruak didadaku. Aku menatap lekat manik matanya berusaha mencari kebohongan disana, tidak ada. Matanya menyiratkan ketulusan.

“Tapi kenapa baru sekarang?” tanyaku yang mulai terisak.

“Maafkan aku, aku memang bodoh. Harusnya aku mengatakannya lebih awal, maah. Aku tidak bermaksud melukai perasaanmu.”

Dia mengenggam tanganku hangat, tangan kanannya terulur menghapus buliran air mataku. Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan? Hatiku mulai goyah.

“Aku mencintaimu, aku mohon beri aku satu kesempatan.”

Apa yang harus aku lakukan? Apa aku sanggup menolaknya, jika selama ini aku sangat menginginkannya. Aku tidak menjawab, dia terus menatapku. Aku tidak sanggup membalas tatapannya.

“Apa aku sudah terlambat?” tanya nya lagi, aku menggeleng.

“Aniya, kau tidak terlambat. Terima kasih sudah membalas perasaanku selama ini?” ukarku, dia tersenyum manis padaku dan aku membalsnya.

“Jadi selama ini kau juga mencintaiku?” tanyanya dengan meta yang berbinar, aku mengangguk malu.

“Kalau begitu, kau mau menjadi yeojachinguku?”

Mendengar permintaannya membuat bunga-bunga cinta bermekaran dalam hatiku, kata-kata itu selama ini yang aku harapkan dapat aku dengar. Dulu, rasanya bermimpi pun aku merasa tidak pantas, tapi sekarang aku mendengarnya secara langsung.

“Apa aku sanggup untuk menolakmu? Kurasa aku tidak sanggup menolakmu.” Ujarku, dia tersenyum kemudian meraihku dalam pelukan hangatnya. Sangat nayaman. Ini benar nyata.

“Gomawo, aku benar-benar mencintaimu. Saranghae.”

“Nado Saranghae.”

Jika hidup adalah pilihan Maka engkau adalah harapan yang akan menjadi tumpuan, Pendamping hati dalam kehidupan, Ku serahkan jiwa dan raga hanya untukmu kekasih tercinta. Dengan cinta kasih sebening kaca, Ku harap selalu kan kau jaga

Mentari tak selalu bersinar indah, Bunga tak selamanya akan merekah. Selama hati masih tetap kukuh, Cinta suci tak akan runtuh. Tepiskan semua ragu dan bimbang, Menghargai cinta dengan kasih dan sayang. Mudah mudahan hatimu tak terbagi hingga tak ada yang merasa tersakiti.

Terima kasih Tuhan, ternyata di balik semua kepedihan dan air mata. Kau telah menyipan kejutan yang begitu indah untukku, aku tidak akan menyia-nyiakannya. Dia yang telah kau jadikan milikku, aku berjanji cinta ini akan selalu ke berikan hanya untuknya. Dan aku mohon jagalah hatinya untukku selamanya.

END

Gimana ceritanya??? Gaje iya? Membosankan pasti. Awalnya mau bikin sad ending, tapi gak tega sama YW. Nanti readers pasti pada protes. Ff ini aku buat untuk selingan aja kok sambil nunggu sad marriage part 8 #emang ada yg nunggu??? T.T kalo suka monggo di baca, kalo ngga suka yowess tinggalin saja.

OH IYA HAMPIR LUPA… saengil chukkaehamnida Yoona eonni…tambah cantik, pnjang umur…langgeng dg siwon oppa amiiiiiinnnnn…….

Ucapan terimaksih sebesar2nya buat Resty/Echa… thank you so much :> (my pleasure c:)

 

Tinggalkan komentar

134 Komentar

  1. erin

     /  April 24, 2014

    lah donghaenya apa kabar? o.O

    Balas
  2. Cha'chaicha

     /  Mei 1, 2014

    wah bgus crita’y, tpi kra” gmna reaksi fany sma haeppa ya..

    Balas
  3. Dwi.Syw

     /  Mei 11, 2014

    woww daebakk , , , awalnyaaa nyakitin bangett , , , tapi akhirnya😀 bahagia . Knp gg di ceritakan hub.Yoonwon stlah jadi spasang kekasinya thor ?

    Balas
  4. ayu

     /  Agustus 2, 2014

    so sweet ceritanya

    Balas
  5. choi han ki

     /  Oktober 11, 2014

    Hah kirain siwon gk menyukai yoona, eh ternyata dia juga memendam perasaan pada yoona, coba kalo gk ada kejadian ciuman itu pasti siwon blm berani ngungkapin perasaannya ke yoona

    Balas
  6. Anggun YoonAddict SY

     /  Oktober 11, 2014

    Keren🙂

    Balas
  7. Awal ceritanya agk sedikit galau
    tapi di akhir ceritanya benar2
    membuat bahagia
    mereka memiliki cinta terpendam
    tapi syukur deh mereka bisa
    mengungkapkan perasaannya

    Balas
  8. mia rachma

     /  Januari 10, 2015

    aaaaaa so sweet…… akhirnyaaa yoonwon jadian juga

    Balas
  9. Omonaa😀 sempat nyeseekk yg awal tapii endingnya ternyataa huaah happy🙂🙂

    Balas
  10. wiwin

     /  Mei 7, 2015

    Wow,happy Ending

    Balas
  11. So sweet
    kren ffx eonni
    suka bget akhirx yoonwon bersatu

    Balas
  12. Akhirnya yoonwon saling mengungkapkan perasaan masing” dan mereka bersatu..
    Sempet nangis waktu baca awalnya karna sama kyk ceritaku tp akhirnya happy ending.. di tunggu ff selanjutnya..

    Balas
  13. si tyaak

     /  Desember 11, 2015

    Good.wah jd ikut baper haha

    Balas
  14. ayana

     /  Maret 20, 2016

    di angan-anganku akhirnya sad ending. tapi seneng banget akhirnya happy ending.

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: