[FF] Still With You (Chapter 2)

cover still with you

Author            : Nurul HytChoi (@NurulChoi407)

Lenght            : Chaptered/Series

Rating             : PG 16

Genre             : Romance, Marriage Life, Friendship etc

Male Casts     :

  • Choi Siwon [Super Junior]
  • Nichkhun Horvejkul [2PM]
  • Lee Jonghyun [CN Blue]
  • Choi Minho [SHINee]
  • Kang Minhyuk [CN Blue]

Female Casts  :

  • Im Yoon Ah [SNSD]
  • Tiffany Hwang [SNSD]
  • Kwon Yuri [SNSD]
  • Jung Soojung [f(x)]
  • Choi Jinri/Sulli [f(x)]

Disclaimer      : All cast milik Yang Maha Kuasa. Saya hanya meminjamnya guna melengkapi imajenasi readers. Alur cerita ASLI sekolah dari otak saya^^ Jika ada kesamaan judul, alur, ide cerita serta nama tokoh itu dikarenakan faktor ke-TIDAK SENGAJA-an! Sungguh!

Warning!!      : Typo bersembunyi dimana-mana, but typo itu SENI^^ *sekali lagi ini fic tanpa edit jadi mohon maaf sekali jika menjumpai banyak TYPO L *

Credit Poster : (@Illah_Iluth)

Dislike?

Don’t read!

Don’t bashing!

Don’t be a silent reader!!

Yesungdahlah~~ Teukkidot!!^^

ð  Happy Reading^^

Still With You (2nd Chapter)

 

“Dia cantik…”

Sayup-sayup laju angin menghembus masuk dalam cela-cela kecil sebuah ruang, mengajak gorden putih itu turut menari bersamanya. Awan putih berpadukan biru langit begitu mendominasi, membawa mentari pagi di antara perbukitan laksana si raja langit, membusungkan dada naik pada tahtahnya.

Kicauan burung pada pohon mapple itu mengiringi deru nafasnya yang teratur. Wanita itu belum terjaga. Matanya masih terkatup rapat. Menyembunyikan diri di balik selimut tebal yang menghangatkan. Ia melenguh kecil ketika sentuhan lembut menyapu permukaan kulit wajahnya.

Pria itu tersenyum. Tak melepas pandangannya pada wanita yang damai dalam bunga tidurnya, bak putri Aurora yang tengah menapaki hidup dalam tidur panjangnya. Menunggu sang pangeran berkuda putih menciumnya, membebaskannya dari kutukan kegelapan.

“Tiap kali melihat wajahmu aku selalu merasa bersalah. Kau tahu? Sebenarnya aku juga tidak ingin melibatkanmu dalam masalah ini…” Siwon menghela napas sejenak, “maafkan aku, sayang..” dikecupnya dahi Yoona, menghantarkan getaran rasa bersalah dalam dirinya.

Ia memandang sendu wajah lelap Yoona yang berpantulkan sinar sang mentari pagi. Dielusnya lembut pipi tirus wanita itu.

Terusik dengan sentuhan Siwon, wanita itu menggerakkan kelopak matanya. Menyesuaikan cahaya yang menerobos dalam retina mata, ia melenguh.

“Selamat pagi, sayang..” bisik Siwon menempelkan bibirnya pada telinga Yoona.

Wanita itu belum sepenuhnya terjaga. Butuh beberapa detik untuk menerima signal yang dihantarkan Siwon padanya. Ia bagai bayi kecil yang mengerjap-ngerjapkan matanya lucu, menelusuri langit-langit kamar. Ditolehkan kepalanya kesamping kanan. Tepat!

Disana seorang pria tengah memandangnya dengan memamerkan senyum lesung pipitnya. Yoona merasa mungkin karna semalam Siwon tidak pulang dan ia terlalu memikirkan pria ini makanya pagi ini ia berhalusinasi, terbawa mimpi yang masih tersisa.

Yoona menggeleng samar, mengubah posisi tidurnya menghadap Siwon. Ia menyamankan letak kepala serta tubuhnya senyaman mungkin, “mimpi yang indah..” gumamnya kembali menutup mata.

Tak lama Yoona kembali membuka mata. Ia mengernyit, kenapa mimpi itu masih ada?

Ia mengubah posisinya, melihat langit-langit kamar lagi. Sedetik kemudian ia menoleh kekanan. Bayangan Siwon masih saja ada disana, menatapnya dengan snyum yang tidak pudar sedari tadi. Menyangga kepalanya dengan siku bertumpu pada bantal.

Yoona memejamkan mata kemudian kembali menoleh kekanan. Kejadian itu terjadi berulang-ulang sampai Yoona mengucek-ucek kedua matanya.

“Bermimpi indah, Nyonya Choi?”

Dan tepat ketika itu Yoona membulatkan mata dan mulutnya, membuat Siwon tersenyum geli. “Jangan menampakkan wajah seperti itu. Kau membuatku seolah akan melahapmu..” Siwon beringsut menenggalamkan kepalanya diatas bantal empuk, memejamkan matanya seolah-olah ia baru saja pingsan.

Yoona mendudukkan tubuhnya, menatap Siwon bingung. “Berbaringlah..” suara Siwon seperti igauan namun ada nada tegas didalamnya.

“Eoh?” Yoona belum sepenuhnya mengerti.

Belum sampai menguasai kesadaran seutuhnya, tangan kekar Siwon sudah melingkari pinggangnya, menariknya untuk kembali berbaring dan mendekat pada pria itu sementara mata Siwon masih terpejam. Sedikit terperanjak namun Yoona tak menolak.

Yoona menatap wajah Siwon yang setengah tertanam dalam bantal. Pria ini sudah rapi dengan tuxedo hitam dengan kemeja putih didalamya. Ia sudah sangat rapi untuk berangkat bekerja.

Dengan senyum simpul yang mengembang, Yoona menghadap pada Siwon, “Lelah?” jemari lentiknya menelusuri rambut hitam Siwon. Mengusap pipi pria itu. Ibu jarinya mengusap-usap lembut sekitar mata Siwon seperti penghapus yang membersihkan kerutan pada wajah lelah itu.

Dia tahu pria ini sedang memikirkan sesuatu. Dia tahu pria ini tengah terhimpit dalam pilihan yang sulit. Dia tahu ada sebuah beban berat yang tengah di pikul pria ini. Namun satu hal yang dia yakini, apapun yang terjadi pria ini tidak akan pernah meninggalkannya.

~[]~

 

“Hmm.. mmwho? Ah hhye..” Soojung berbicara sambil menggosok gigi di depan cermin westafle dengan tangan kiri menempelkan ponsel pada telinganya.

Soojung berkumur dan membersihkan sisa busa yang menempel di sekitar bibirnya. “Ya! Kang Minhyuk, mana boleh seperti itu! Turuti apa kata sahabatmu. Aku tidak mau tahu!”

‘Klik’

Sambungan ia putus. Soojung melihat pantulan dirinya pada cermin, memastikan wajahnya sudah bersih dan segar. Setelah merasa puas, ia berjalan keluar dari kamar mandi.

Sedikit tergesah-gesah ia menuruni tangga, melangkahkan kaki keluar rumah.

Matahari belum sepenuhnya beranjak tinggi. Embun pagi masih menyelimuti dedaunan. Hawa sejuk menyeruak ke dalam rongga dada ketika Soojung menghirup dalam udara pagi. Ia telah siap dengan celana treaning dan hoodie biru dongkernya. Rencananya pagi ini ia akan joging layaknya pagi-pagi sebelumnya. Soojung terlebih dulu melakukan pemanasan. Lari di tempat dan melenturkan otot-ototnya. Ia terlonjak ketika tanpa sengaja matanya menangkap sosok pria melintas di depannya.

“Oh itu dia!” desis Soojung tersenyum cerah.

Sebenarnya alasan yang sesungguhnya ia melakukan lari pagi bukan semata-mata untuk menyehatkan tubuhnya. Tentu saja bukan!

Soojung akan lebih memilih meringkuk dalam selimut hangatnya. Berguling-guling di atas kasur empuknya asik melenelusuri mimpi-mimpi manis di pagi buta, memanjakan tubuh mungilnya terbungkus dalam semilut dan sibuk berkencan dengan bantal kesayangannya. Tidak berdiri disini! Bersusah payah bangun pagi, dan berlarian mengeluarkan keringat.

Tapi…

Tidak ketika di pagi buta sebelumnya ia menemukan sosok yang di kaguminya tengah melintas di depan rumah. Tidak ketika Soojung mendapati Choi Minho joging di setiap pagi.

Dia mengagumi Minho, sudah sejak kapan? Eumm… entahlah. Pria itu langsung menarik perhatiannya ketika kali pertama bertemu. Soojung belum dapat memastikan ini perasaan cinta. Ia hanya bisa menyimpulkan dirinya ‘kagum’ pada pria dingin itu.

Soojung tersenyum kecil ketika memerhatikan tiap gerak gerik Minho. Ini sudah menjadi rutinitasnya sejak sebulan terakhir. Mungkin ia dapat dikatakan sebagai penguntit? Ah sepertinya bukan. Dia hanya mengamati sebuah objek yang menarik perhatiannya. Si kapten basket sekolah.

Seorang kapten basket sekolah, sosok yang di agung-agungkan oleh hampir seluruh sisiwi sekolah, berparas tampan, tinggi dan berkarisma. Ah~ memang siapa yang tidak setuju dengan simpulan itu? Hanya gadis yang memiliki selerah rendah yang tidak satu simpulan dengan Soojung.

Kalau saja dia memiliki keberanian lebih mungkin saat ini dia sudah berdiri di dekat Choi Minho. Asik mengobrol, membicarakan seputar dunia photography. Mereka memang memiliki ketertrikan pada bidang yang sama. Setidaknya begitu yang Soojung tangkap dari informasi mengenai Choi Minho.

Ah ya! Kalau bisa dia harap setidaknya sosok dingin bernama Choi Minho itu mengenalnya. Atau mungkin mengenali wajahnya. Soojung tersenyum gei, menggelengkan kepala sambil terus berlari kecil.

Dagh~!

“Aww… aww… appoyo..” Soojung mengusap kepalanya yang terbentur tiang. Dia bahkan sampai tersungkur, terduduk di atas tanah. Wajahnya memerah, seketika dia menoleh kekanan dan kekiri, memastikan bahwa tidak ada orang yang melihatnya. Setelah itu ia kembali mengusap dahinya yang masih terasa sakit.

“Gadis bodoh!” Soojung mengangkat kepala. Wajah Minhyuk sudah berada di hadapannya, pria itu mencondongkan tubuhnya dengan tangan bertumpu pada lutut.

“Wajah macam apa itu! Seharusnya kau membantu sahabatmu ini. Bukannya mengatainya dengan wajah datar seperti itu.”

Minhyuk meluruskan badannya, menghela napas panjang sebelum akhirnya mengulurkan tangannya pada Soojung. Gadis itu meraihnya lalu berdiri.

“Pagi-pagi sekali sudah menelfonku, menyuruhku datang ke rumah tapi begitu datang ke rumahmu. Ibu mu justru berkata bahwa anaknya yang cantik itu sudah pergi joging. Tidakkah kau merasa telah mengganggu tidur nyenyak seseorang, Nona Jung Soojung?” Minhyuk menatap serkastik pada Soojung.

Sementara gadis itu hanya menunjukkan deretan gigi putihnya. Soojung mengapit lengan Minhyuk, “Kang Minhyuk-ssi, kau tahu Sulli tidak bisa menemaniku joging selain itu juga aku tak enak kalau harus menyuruhnya ke rumahku yang jaraknya cukup jauh dari rumahnya. Jadi hanya kau satu-satunya harapanku. Ini kan bukan pertama kalinya kau kuajak lari pagi bersama. Dan kau kan sahabat terbaikku.” Soojung mengerlingkan matanya, tersenyum lebar.

Minhyuk memutar bola matanya dan lagi-lagi meenghela napas panjang. Gadis ini selalu saja memanggilnya dengan embel-embel ‘ssi’ jika ada maunya saja. “Arraseo…”

~[]~

 

Wanita berkacamata hitam itu tengah asik bermain dengan ponselnya. Sesekali ia melihat ke luar jendela mobil. “Ahjussi, setelah ini tolong belok kiri,” katanya pada sopir mobil yang menjemputnya beberapa menit yang lalu.

“Tapi nona, tuan besar telah menyuruh saya agar mengantar anda samp—“

“Ahjussi!” hertakan dari wanita itu sudah cukup untuk membungkam mulut sang sopir. Pria paruh baya itu mengangguk, sedikit melirik kearah spion. Wanita itu menatapnya tajam dibalik kacamata hitamnya. Buru-buru pria paruh baya itu mengalihkan pandangannya pada jalanan.

Terdengar helaan napas berat dari wanita itu. Ia masih kesal dengan kejadian di bandara tadi. Memangnya pria itu tidak tahu siapa dirinya ini. Aisssh! Benar-benar pria tidak tahu sopan santun. Menabrak wanita, tidak bertanggung jawab. Dan dia benci di abaikan!

“Ah, berhenti disini!” pria paruh baya itu mengangguk.

Wanita itu turun dari mobil dengan anggun. “Bawakan koperku,” suruhnya pada sopir itu. lagi-agi si pria paruh baya menuruti perintah wanita berkacamata hitam itu. Tentu saja, karna wanita ini adalah anak dari majikannya.

Mereka berjalan memasuki sebuah apartemen di daerah Cheongdam-dong. Melewati lorong-lorong apartemen hingga akhirnya sampai pada pintu nomor 311. Wanita itu menekan beberapa tombol nomor apartemen yang sudah ia hapal.

“Kau boleh pergi.” Wanita itu berkata begitu pria paruh baya tadi menaruh koper dan tasnya di atas lantai ruang tamu.

Pria paruh baya itu baru akan beranjak ketika wanita tadi kembali berkata, “jika Appa bertanya, bilang saja aku pulang ke apartemen. Nanti malam aku akan menemuinya.”

“Baik nona.”

Begitu pria paruh baya itu pergi, wanita itu mengangkat koper dan tasnya ke dalam kamar. “Oh, ini sangat melelahkan. Dan kenapa kedatanganku disambut oleh insiden seperti tadi? Ini benar-benar tidak dapat dimaafkan.”

Satu hal yang begitu melekat pada wanita ini. Dia tipe orang pedendam. Sangat tidak menyukai yang namanya kata maaf yang begitu enteng.

Wanita itu terus menggerutu sambil mengeluarkan barangnya dari dalam koper. Dia tidak menyadari sepasang mata telah mengamatinya sedari tadi, duduk besilah sambil menyesap secangkir kopi panas.

Sosok itu tersenyum tenang. Begitulah wanita ini, terkadang suka mengabaikan atau tidak menyadari hal kecil di sekitarnya.

“Lelah?” tanyanya enteng, masih memandang wanita tadi. Wanita itu mendongak, melepaskan kacamata hitam yang sedari tadi menutupi mata indahnya. Ia sedikit terlonjak kaget membuat sosok yang duduk di sofa tadi kembali tersenyum kecil.

“ Jonghyun Oppa, kau mengagetkanku saja!” katanya kemudian menghampiri Jonghyun.

Pria itu berdiri kemudian merentangkan kedua tangan yang disambut oleh wanita tadi. “Bogoshipo..” wanita itu berkata manja sambil menghirup dalam wangi parfum sang kekasih.

Jonghyun menyunggingkan senyum, “Fany-ah, kita hanya tidak bertemu selama dua minggu..”

Fany atau wanita dengan nama lengkap Tiffany Hwang itu mengangkat kepalanya menatap Jonghyun. “Dua minggu aku di London, kau tak merindukanku eoh? Kau bahkan tak menghubugiku selama itu, Oppa..” Tiffany mengerucutkan bibrnya membuat Jonghyun kembali mengulum senyum.

“Tentu saja aku merindukanmu. Maaf untuk dua minggu itu aku benar-benar sibuk. Ada banyak pasien yang harus ku tangani. Kau tahu sayang—“

Arraseo. Sudah, jangan bicarakan masalah pasien-pasien mu itu, aku bosan.” Tiffany kembali menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Jonghyun. Ia sangat merindukan pelukan hangat pria ini. Ia ingin berlama-lama memeluk pria ini, meluapkan kerinduan yang tertahan selama dua minggu tak bertemu.

~[]~

 

“Presdir Choi, ayo bangun. Kau sudah terlamat!” Yoona berbisik pelan. Ia baru saja bangun dari acara tidur yang terpotong akibat kedatangan Siwon.

Sementara pria itu hanya melenguh. Tak berniat untuk benar-benar membuka kelopak matanya yang terasa berat.

Yoona mempoutkan bibirnya. Pasalanya sekarang selain kesal karna pria ini tak mau bangun ia juga jadi tidak bisa beranjak karna tangan kekar Siwon telah mengunci geraknya. Sudah beberapa kali ia mencoba untuk melepaskan tangan Siwon yang melingkar di pinggangnya tapi percuma saja tenaganya tak cukup kuat untuk mengalahkan tenaga Siwon. Hei, pria ini sudah bangun hanya saja dia tak juga mau membuka mata. Mana ada orang tidur tapi memeluk orang dengan sangat erat begini.

Yoona berfikir sejenak, memikirkan kiranya apa yang bisa ia lakukan untuk membuat pria pemalas ini segera bangun. Yoona menjentikkan jari ketika sebuah ide bersarang di kepalanya.

Jemari lentik Yoona menggelitik sekitar pinggang Siwon. Namun pria itu tak juga mau bergerak malah semakin mengeratkan pelukannya, seperti sedang memeluk guling kesayangannya.

Yoona mengerucutkan bibirnya namun dia tidak juga menyerah. Kali ini dia mengehimpit hidung Siwon dengan jari telunjuk dan ibu jarinya, jika pria ini tidak bisa bernafas pasti dia akan meronta dan membuka kedua matanya. Namun simpulan Yoona salah. Buktinya pria ini tidak juga mau membuka kedua matanya. “Eiii… benar-benar pria pemalas.”

“YA!!!”

Yoona tersenyum penuh kemenangan ketika akhirnya dia berhasil membuat Siwon membuka mata bahkan membuka mulutnya.

“Kau senang sekali mencubit perutku. Tidak tahukah kau bahwa aku sangat menjaga bentuk perutku ini..” Siwon menampakkan wajah kesal yang dibalas tatapan enteng dari Yoona.

Ani. Aku tidak tahu,” jawab Yoona merajuk, “siapa suruh pura-pura tidur di ranjangku.”

Sebuah senyum penuh arti mengembang di bibir Siwon. Sejurus kemudian dia langsung mendekap tubuh Yoona, “kau harus dihukum. Dan eumm… kalimat terakhirmu itu harus diralat. Ini juga ranjangku, ranjang kita. Arraseo?

Yoona tekekeh, “aku tahu kau tidak akan pernah tega untuk menghukumku.”

Ucapan Yoona membuat Siwon mengerutkan dahi lalu beralih menatap Yoona, menempelkan dahinya dengan kening wanita itu. “Siapa bilang aku tidak tega menghukummu, hmm?” Siwon mengecup bibir Yoona beberapa kali, menggoda si pemilik bibir tipis itu.

Yoona menjauhkan kepalanya dari Siwon. “Presdir Choi, tidakkah kau malu dengan pakaianmu. Kau hanya tinggal berangkat kerja tapi saat ini kau masih berada disini.”

Ani. Jangan salahkan aku, salahkan bibirmu yang begitu menggoda.” Siwon berkata dengan nada santai.

“Aisssh! Cepat lepaskan tanganmu dari pinggangku. Lihat ini sudah jam berapa. Kau akan terlambat,” ucap Yoona memperingati, mengganti topik pembicaraan lebih tepatnya.

“Berikan aku morning kiss dulu maka aku akan melepaskan tawanan cantik ini.”

Yoona memutar kedua bola matanya. Pada akhirnya dia akan tetap mengabulkan permintaan Siwon. Tidak heran jika perusahaan dibawah naungan Choi Siwon akan maju pesat. Pemimpinnya saja sangat jago dalam ber-negosiasi dan memanfaatkan kelemahan lawan.

Aigoo, manis sekali..” Siwon berkata setelah mendapat satu kecupan dari Yoona, seperti seseorang yang baru saja mendapatkan undian.

Ia melepaskan pelukannya lalu berdiri, “hahh, tidur beberapa jam denganmu sudah membuat staminaku pulih, terimakasih sayang..” Siwon mengerlingkan sebelah matanya pada Yoona membuat Yoona bergidik.“Sebaiknya kau segera mandi. Aku akan menyiapkan sarapan untuk kita.”

Yoona membulatkan matanya, “kau akan memasak?” Siwon mengangguk mantap.

“Sebaiknya tidak usah, sebelum kau benar-benar akan merusak acara sarapan kita dengan keahlian masak seperti itu..” Yoona mengibas-ngibaskan tangannya.

Dengan kesal Siwon berkacak pinggang dan berdecak, “benar-benar wanita cerewet..” Siwon mencibir kemudian menarik tubuh Yoona sampai berdiri. Ia mendorong tubuh Yoona sampai pada kamar mandi.

“Pastikan mandi dengan bersih sebelum aku yang akan memandikanmu.”

Mwo!” Yoona menganga dengan mata terbelalak. Siwon hanya menunjukkan senyum terbaiknya. Ia segera menutup pintu kamar mandi setelah sebelumnya memberikan kecupan di bibir Yoona.

__

Yoona berjalan menuju meja makan. Dia telah siap dengan pakaian kerja nya. Sedikit terlonjak ketika sampai di meja makan. Well, sepertinya kalimat nya tadi pagi harus ia ralat mengenai kemampuan masak Siwon.

Siwon tersenyum kemudian berjalan mendekati Yoona. Pria itu sepertinya sudah mengganti tuxedo serta kemejanya yang sudah kusut.

“Silahkan duduk tuan putri..” Siwon menarik kursi untuk Yoona. Dengan senyum geli Yoona memukul lengan Siwon, “kau berlebihan.” Yoona mendudukkan dirinya dengan anggun.

Dengan gagahnya Siwon turut mendudukkan dirinya di seberang kursi, didepan Yoona. “Selamat mencoba masakan dari Chef Choi Siwon,” ujarnya dengan nada dibuat-buat dan senyum yang menurut Yoona sangat aneh.

Arraseo..” Yoona mulai menyuapkan sesuap makanan ke dalam mulutnya, “Oppa, darimana kau belajar masak? Yang kuketahui kau tidak seahli ini dalam bidang memasak..”

Siwon berdaham kemudian membetulkan letak dasinya dan mengangkat dagu, “satu hal yang harus kau ketahui Nyonya Choi, bahwa Choi Siwon adalah sosok multi talenta. Selain ahli dalam mengelola perusahaan dia juga jago dalam membuat seorang Im Yoona mengaguminya.”

Mendengar pernyataan Siwon, Yoona menghela napas pelan. “Hentikan Tuan Choi. Sebelum kau merusak selera makanku. Arraseo?”

“Oke, oke.” Siwon juga tidak ingin terlalu panjang berdebat dengan Yoona atau terlalu panjang bercanda dengan wanita yang dicintainya ini mengingat jarum jam sudah menunjukkan pukul 08.45 KST.

Sesekali Siwon melirik Yoona ketika menyantap sarapan. Ia selalu merasa tenang ketika menatap wajah cantik wanita ini. Entahlah~ rasanya seakan beban berat yang ia pikul akan terasa ringan jika ia sudah bersama Yoona. Yoona adalah hidupnya, Yoona adalah oksien baginya, Yoona segalanya baginya. Dan dia tidak bisa hidup tanpa wanita ini.

“Aku sudah selesai..” Yoona bersuara, berdiri dari duduknya dan berjalan menuju wastafel.

Siwon baru menyadari sedari tadi ia memandangi Yoona terus sampai lupa akan sarapannya. Namun tiba-tiba saja ia seakan tersadar akan sesuatu yang lebih…

Siwon segera menyusul Yoona. Ia terlonjak ketika mendapati Yoona berdiri menghadapnya sambil menyilangkan kedua tangan di muka dada dan menatapnya intens.

“Apa itu?” Yoona menunjuk sebuah paper bag—dengan label restoran yang tergeletak di tempat sampah—dengan mulutnya.

Siwon menggaruk kepalanya yang tidak gatal kemudian memamerkan cengirannya. “Eng… ani bukan apa-apa. Tadi aku…” Siwon tidak melanjutkan kalimatnya begitu matanya menatap tatapan Yoona. Dia tahu dia telah berbohong soal sarapan tadi dan Yoona paling tidak suka dibohongi.

“Oke, oke aku berbohong dan aku minta maaf untuk itu..” Siwon menunjukkan wajah memelas. Ia melirik arloji yang melingkar pada pergelangan tangan kirinya. “Sebaiknya kita segera berangkat. Ini hanya masalah kecil, oke?” Siwon merangkul pundak Yoona, menuntunnya untuk segera keluar dari dapur.

Sepanjang perjalanan mereka hanya diam, sibuk dengan pikian masing-masing. Siwon sibuk fokus pada kemudi dan Yoona sibuk menatap jalanan.

“Sayang..” Siwon melirik Yoona. Namun Yoona tak menyahutnya. Pria itu kembali mengarahkan pandanganya kearah depan sambil menghela napas panjang.

Mereka sampai di tempat kerja Yoona. Sebuah perusahaan kecil. Sebenarnya Siwon sangat tidak tega membiarkan Yoona berkerja di perusahaan kecil seperti ini. Dia memiliki kekuasaan yang bisa saja langsung memperkerjakan Yoona di perusahaannya. Namun beberapa kali juga Yoona menolak ajakannya bekerja di perusahaan naungannya. Yoona hanya ingin berkerja dengan usahanya sendiri, begitu alasan yang diberikan wanita itu.

“Aku akan menjemputmu jadi—“

“Aku pulang naik taxi.” Yoona menyela lalu keluar dari mobil.

“Dia bahkan tidak memberiku kecupan? Oh benar-benar wanita sensitif..”

~[]~

 

Tangan kanannya menenteng subuah tas berukuran sedang sementara tangan kirinya memegang sebuah kertas lusung. Ia melihat pada kertas lusung itu kemudian berganti pada pagar rumah besar di depannya. Setelah memeastikan alamat itu benar, ia menekan bel rumah besar itu.

Belum ada sahutan. Ia kembali memencet bel. Sampai beberapa kali hingga akhirnya seseorang membukakan pagar besar dan kokoh itu.

Seorang ahjumma menatapnya dengan mengerutkan dahi, “ada yang bisa saya bantu?”

Tiffany membungkuk, “Annyeonghaseo, ah benarkah ini rumah Nichkhun Hor… hor… horejvkul?” Tiffany sedikit kesulitan dalam mengingat naman asing itu. Jelas itu bukan nama orang korea. Ah~ persetanlah jika ia salah menyebutkan namanya. Siapa suruh memiliki nama yang suit untuk di hafal.

Wanita setengah baya itu memandang Tiffany dari atas sampai ke bawah. “Anda siapa? Ada urusan apa dengan tuan muda?”

Tiffany mengeluh dalam hati, kenapa harus begitu sulit untuk bertemu pria itu? ini akan segera selesai jika Ahjumma ini segera mempertemukannya dengan pria bernama sulit itu.

“Ah, ani. Aku…. teman lamanya. Jadi, bisakah anda memanggilkannya sekarang?”

Tiffany mengeram, melihat ekspresi wanita paruh baya di depannya. Hei, memangnya ada apa dengannya? Apa penampilannya seperti seorang teroris? Kenapa wanita ini begitu lama melihatnya?

“Oh~” wanita paruh baya itu tersenyum hangat membuat Tiffany tersenyum lega. Sudah seperti tawanan yang baru saja diintrogasi.

“Tuan Nichkhun sudah tidak tinggal disini lagi..”

“APA?” Tiffany memekik keras. Membuat wanita paruh baya itu sedikit terlonjak.

“Ah, mianhae ahjumma..” Tiffany membungkukkan badan. “Boleh aku tahu sekarang dia tinggal dimana?”

~[]~

 

“Apa kau tahu, bagian apa yan membuatnya begitu tampan? Ah, kau pasti tidak tahu. Aku juga tidak tahu. Tapi begitu melihatnya, hanya melihatnya saja sudah membuat jantungku berdetak kencang. Seperti ada bom atom yang meledak-ledak disana. Itu… ah, aku tidak tahu namanya apa…”

Minhyuk tidak memdulikan ocehan Soojung. Kedua telinganya telah tersumbat earphone. Tangannya asik memainkan stick, memngetukkan pada meja sesekali mengetuk kepala Soojung seolah-olah itu adalah drum. Dan Soojung tidak begitu menghiraukan stick Minhyuk yang entah sudah keberapa kali mendarat di kepalanya. Ia terlalu asik menceritakan tentang pesona Choi Minho.

Sampai pada pukulan keberapa, Soojung menghentikan ceritanya dan menatap Minhyuk dengan tatapan datar.

“Oh, maaf.” Minhyuk mengedikkan bahu kemudian memperbaiki posisi duduknya. Dia menyilangkan kedua tangannya di atas meja. “Hei, nona Jung. Tidakkah kau bosan selalu saja membicarakan orang yang sama setiap hari?” Minhyuk menampakkan wajah seolah-olah berfikir keras. “Kau tahu, Choi Minho itu tidak se-keren yang kau bicarakan. Bisa saja dia itu anak mommy atau—“

‘Pletak!’

“A-aww… aww… kepalaku..” Minhyuk mengusap-usap kepalanya yang ia letakkan diatas meja. Seperti batu bata baru saja menyerbu kepalanya tanpa memberi kesempatan untuknya memakai helm.

“Ya!” Minhyuk mendongakkan kepalanya, menatap kesal kearah Soojung. Sedetik kemudian Minhyuk membulatkan mata melihat benda apa yang dipakai gadis ini untuk menghantam kepalanya tadi. “Kau…. memakai kamus tebal itu? Jung Soojung, kau tidak tahu betapa berharganya kepalaku ini!”

Ani..” Soojung menggeleng enteng dan tersenyum tenang.

Neo jinjjayo!!” Minhyuk menahan geram. Belum sampai ia meluapkan kekesalannya, Soojung sudah berdiri dari duduknya.

“Minhyuk-ya. Kau lihat siapa yang barusan lewat? Ch—“

Ne aku tahu, pria berdarah dingin. Atau mungkin bisa disebut berdarah vampire..” Minhyuk kembali membenarkan earphone yang menempel di telinganya sementara Soojung sudah memasang tatapan mematikan. “Wae? Aku tidak salah ‘kan? Dia memang orang yang dingin.”

Soojung berjalan menghampiri Minhyuk. “Ya! Kau sudah bosan hidup, huh!”

~[]~

 

Minho berjalan menyusuri koridor sekolah dengan melangkah santai. Dia tidak peduli dengan bisikan para gadis yang bersimpangan dengannya. Toh itu sudah menjadi hal yang biasa baginya.

‘Perpustakaan’

Semua orang termasuk guru penjaga perpustakaan pasti akan heran melihat seorang Choi Minho. Sosok yang biasa berulah di lapangan basket, sang penguasa lapangan basket. Kini justru memasuki sebuah ruang penuh buku itu.

“Lee Jinki, kalau saja kau tidak lupa meminjam buku sains tentu aku tidak akan dipandang seperti itu..” desisi Minho melirik sekilas beberapa pasang mata yang menatapnya. Sebenarnya dia agak risih tapi ia mencoba untuk menghiraukannya. Ia berjalan mencari sebuah kata ‘sains’ pada rak-rak buku yang menjualang tinggi.

‘Brakk~’

Minho terlonjak mendengar dentuman keras itu. Sepertinya seseorang menjatuhkan beberapa buku dari raknya. Perlahan Minho mencari asal suara. Tepat ketika ia berjalan menuju rak di depannya, seorang gadis tengah terduduk dengan beberapa buku berserakan di sekitarnya. Benar apa yang Minho duga.

“Gadis ceroboh..” desisi Minho tanpa mau membantu gadis itu. Dia segera membalikkan badan dan berjalan melenggang pergi.

__

Sulli berjalan menelusuri rak-rak buku yang menjulang tinggi. Ada beberapa buku yang harus ia cari. Selain karna Minhyuk yang harus meladeni Soojung makanya tidak bisa menemaninya, dia juga tak enak kalau harus menyuruh Minhyuk untuk menemaninya terus.

“Ah, itu dia!” Sulli berseru ketika mendapati buku yang ia cari. Buku sejarah.

Tapi, ada sedikit masalah. Ini… terlalu tinggi, dia tidak bisa meraihnya.

Sulli menoleh kekanan dan kekiri. Ia menggigit bibir bawahnya. Sebenarnya ia berharap ada orang yang mau berbaik hati mengambilkan buku itu untuknya namun melihat semua siswa sibuk sendiri sekarang ia barharap tidak ada orang disekitarnya. Ia melirik seragamnya. Kalau dia melompat-lompat pasti roknya akan sedikit terangkat atau kalau tidak, bajunya akan keluar.

Sekali lagi Sulli menolah kesekeliling. Setelah memastikan keadaan cukup aman. Dia melompat sekali. Masih belum tercapai. Dia melompat untuk kedua kali sampai akhirnya lompatan ketiga kali buku itu berhasil ia gapai namun memang malang nasibnya. Bukan hanya buku yang ia inginkan yang ia tangkap sekarang bahkan beberapa buku tebal turut berjatuhan mengenai kepala dan tubuhnya.

“Aww..” Sulli meringis kesakitan. Buku-buku ini dengan mulusnya menghantam kepalanya sampai pening sedikit terasa. Dia bersumpah jika saja ada orang yang melihatnya mungkin orang itu akan mentertawakannya.

Gwanchanayo?

Perlahan tapi pasti, Sulli mendongakkan kepala dan betapa terkejutnya dia mendapati sosok pria tinggi tengah berdiri di depannya. Dia… dia…

“Kau terluka..”

“Eh?” Sulli mengalihkan pandangannya dari pria itu. Ini keadaan yang buruk pastinya. Rambut berantakan karna kejatuhan buku, posisi duduk yang tidak baik. Ah tidak, tidak. Dia tidak merasa make up-nya rusak atau tatanan rambutnya yang tidak bagus akan menghancurkan image-nya di depan pria ini.

Dia hanya merasa malu—dalam artian tidak mau dikasihani dan pastinya pria ini tengah mentertawakannya—mengingat siapa pria yang sekarang berada di depannya ini.

“Kuantar kau ke UKS..” pria itu menarik tangan Sulli.

“Eh? Ng… Minho-ssi, tidak—“

“Sudah ikut saja.” Minho memotong ucapan Sulli dengan memberikan tatapan mengancam. Dan Sulli hanya menganggukkan kepala.

__

“A-aw.. pelan-pelan..” Sulli meringis ketika Minho membersihkan luka di pelipisnya. Matanya terpejam rapat.

Mian..” Minho meniup pelan pelipis Sulli. Gadis itu sedikit terlonjak, “emm… bisa kau pasang sekarang plasternya?” Sulli mencoba untuk mengembalikan suasana yang ia rasa menjadi canggung untuknya.

“Oh, yah..” Minho mulai membuka plaster. Namun belum sampai ia menempelkan plaster itu ke pelipis Sulli, geraknya terhenti. Mata yang tadinya fokus pada pelipis Sulli kini beralih pada wajah cantik gadis itu. Warna kulit putih susu itu benar-benar nampak bercahaya berpantulkan sinar mentari. Mata indah yang terpejam, hidung mancungnya, kedua pipi dengan semu merah dan…. bibir merah muda yang menyala.

Minho menelan salivanya, berusaha keras untuk menampik pikiran yang tiba-tiba bersarang di otaknya.

“Choi Minho-ssi, apa kau tertidur?” pertanyaan Sulli membuat Minho gelagapan. “Ah, eh.. ahaha… aniyo aniyo…” Minho tersenyum kecil sebelum akhirnya menempelkan plaster di pelipis Sulli.

~[]~

Tiffany menggerutu sepanjang perjalanan menyusuri lorong-lorong. “Omona!!..” nafasnya naik turun ketika sampai pada pintu sebuah apartemen yang ia cari.

“Sebenarnya apa yang ia bawa dalam tas ini? Bebatuan atau barbel.” Ia menggerutu kesal. Ya, satu jam setelah Jonghyun meninggalkannya karna ada urusan dengan pekerjaannya sebagai seorang dokter. Ketika ia membuka tas berukuran sedang di dekat kopernya, ia harus terlonjak kaget.

Ia bahkan tidak menemukan beberapa kosmetiknya, aksesoris yang ia beli ketika di London. Dan apa? Dalam tas itu malah dipenuhi dengan pakaian dalam pria. Hei, sejak kapan dia membeli pakaian dalam itu? dia tidak hobi membelikan oleh-oleh Jonghyun sebuah pakaian dalam. Lalu…

Ah! Ingatannya kembali pada kejadian saat di bandara. Ketika seseorang yang tidak tahu cara berjalan dengan baik, menabraknya. Bahkan tidak mau mengganti rugi ponselnya yang rusak. Dan yah, tas itu pasti tertukar ketika pria menyebalkan itu terburu-buru mengambil tas sembarangan.

Dan, dan kenapa dia yang harus susah-susah mendatangi pria itu? Jawabannya pasti pria menyebalkan itu belum menyadari bahwa tas mereka tertukar. Memanganya pria itu menjabat sebagai apa? Sampai-sampai tidak ada waktu untuk membuka tas nya.

Tiffany menghela napas berat, mencoba meredam amarahnya. Dia mengetuk pintu apartemen dengan anggunnya. Sekali, dua kali, sampai ketiga kalinya belum juga ada sahutan. Dengan kesal ia mengetuk kasar pintu apartemen itu.

Ada satu hal yang ia lupakan. Apartemen itu memiliki bel -_-

Tiffany berdehem pelan. Ia melonggarkan kacamata hitamnya kemudian melengok kekanan dan kekiri. Untung tidak ada orang.

Ia menyibakkan rambut hitamnya kemudian bersikap sebiasa mungkin. Tiffany mulai memencet bel. Dan benar saja baru dua kali ia memncet bel, pintu apartemen sudah terbuka menampakkan sosok pria dengan rambut berantakan dan mata setengan terpejam.

Nuguya?” suaranya serak, pria ini baru bangun tidur.

Tiffany mengangkat dagu, “kembalikan tasku!” katanya tenang.

Nichkhun mengerutkan dahi lalu meluruskan tubuhnya, karna tadi ia hanya menyumbulkan kepalanya saja.

“Ya! Apa yang kau lakukan! Pakai bajumu sekarang!” pekik Tiffany menutup matanya dengan kedua tangan.

Butuh beberapa detik untuk Nichkhun menyadari ucapana wanita asing di depannya. Sampai ia melihat kearah bawah. Oh ya! Dia lupa, masih bertelanjang dada dan hanya mengenakan boxer di atas lutut.

Buru-buru Nichkhun menutup pintu dengan cukup keras.

“Apa dia gila? Seperti itukah caranya menyambut tamu. Errr… tidak punya sopan santun sekali.”

Pintu apartemen itu kembali dibuka. Nichkhun sudah memakai kaos biru dengan celana pendek di bawah lutut, dan wajah yang lebih segar.

“Apa yang kau bicarakan tadi? Tas? Tas apa?” tanya Nichkhun.

Tiffany menendang tas disampingnya. “Tasmu tertukar dengan tasku. Kau lupa, saat kau menabrakku tadi pagi di bandara. Kau mencuri tasku!”

Mwo? Hei, apa yang kau bicarakan. Aku tidak mencuri tasmu!” Nichkhun menjeda kalimatnya, mengingat-ingat kejadian di bandara tadi pagi. “Oh, itu aku hanya sedang terburu-buru makanya tidak sengaja mengambil tasmu.”

“Sekarang kembalikan tasku! Dimana kau menyembunyikannya!”

Nichkhun meringis ngeri mendengar cacaran wanita ini. Dia terlalu galak untuk ukuran wajah seperti itu. “Arraseo..”

Nichkhun baru akan mengambil tasnya ketika tangan Tiffany lebih dulu meraihnya. Nichkhun membulatkan mata ketika Tiffany dengan entengnya mengeluarkan seluruh pakaiannya di depan wajanhya. “YA!!” Nichkhun memunguti pakaian dalamnya. Masalahanya saat ini tidak hanya mereka berdua saja yang berada disana. Beberapa gadis tengah melewati lorong itu dan terdengar suara tawa dianatara mereka.

Tiffany tersenyum puas. Itu hukuman karna telah mengabaikanku waktu itu,tandasnya dalam hati.

“Sekarang kembalikan tas—“

‘Brak!’

Belum sampai Tiffany menyelesaikan kalimatnya, pintu apartemen telah ditutup dengan kasar oleh Nichkhun.

“Ya! Apa-apaan kau ini! Kau tidak tahu siapa aku, huh? Aku ini Tif—“

Sebuah tas begitu saja terlempar dari balik pintu apartemen itu. “Jangan pernah menampakkan wajahmu di depanku lagi nona angkuh,” kata Nichkhun sebelum membanting pintu apartemen.

“A-apa? Nona angkuh katanya? Hei, kau pria tidak tahu sopan santun! Aku pun tak sudi untuk bertatap muka denganmu lagi.”

Tiffany menendang pintu itu. Ia kembali menyibakkan rambutnya, meraih tasnya kemudian melenggang pergi, meninggalkan pintu apartemen itu dengan langkah anggun.

~[]~

 

Dibukanya album foto bersampul biru itu. Ia tersenyum tipis melihat gambar dirinya disana, bersama dengan pria yang dicintainya. Jemari lentiknya mengelus foto itu. Ada keperihan yang tiba-tiba saja menyayat hati. Setetes cairan bening mengalir di pelupuk mata. Perasaan berat yang teramat menyelubungi hatinya. Saat ini ia merasa telah gagal.

“Yuri-ya..” panggilan suara lembut itu menyadarkannya. Segera ia mengusap air mata.

“Oh, Eomonim..”

Wanita paruh baya itu mendudukkan dirinya di samping Yuri, “Waegeurae chagi?” tanyanya lembut seraya mengelus surai rambut Yuri.

Yuri menggelengkan kepala, ia mencoba tersenyum tenang, “Aniya Eomma.”

Wanita paruh baya itu melirik album foto dalam genggaman Yuri, ia mengusap-usap punggung sosok yang sudah ia anggap sebagai anaknya itu.

“Kau harus banyak bersabar. Dia hanya butuh waktu untuk menerimamu. Eomma yakin Siwon bisa menerimamu sebagai istrinya..” kata wanita paruh baya itu, meyakinkan.

Eomma tapi..”

Eomma yang melahirkannya jadi Eomma tahu bagaimana dia.” Tatapan sendu dari Ny. Choi membuat Yuri meyakini akan kalimat yang baru saja diucapkan mertua sekaligus wanita yang sudah ia anggap sebagai ibu kandungnya itu.

“Gomawo Eomma..”

Ny. Choi tersenyum hangat serta menganggukkan kepala.

~[]~

 

Matahari telah beranjak ke peraduannya. Sang dewi malam telah siap menggantikan sang mentari. Gelapnya langit Seoul menghantarkan wanita itu berjalan gontai.

“Dia bilang dia akan menjemputku tapi mana buktinya. Dasar pria pembual!” ia terus menggerutu sepanjang memasukki gedung apartemen tempanya tinggal.

Belum sampai ia puas menggerutu sosok gadis kecil menghampirinya, menarik-narik roknya. Yoona menoleh kebawah.

Waegeurae?”

Gadis kecil itu memberikan setangkai bunga mawar untuk Yoona. “Untukku?” tanya Yoona seraya mengambil bunga mawar itu. Si gadis kecil hanya tersenyum kemudian melenggang pergi.

Yoona baru akan memanggilnya namun si gadis kecil sudah menghilang di balik lorong. Tidak mau mengambil pusing, Yoona melanjutkan langkahnya. Ia memasuki lift bersama dengan beberapa orang. Samapai di lantai dua beberapa orang itu keluar lalu masuk satu orang yang lain.

Lagi, Yoona dibuat keheranan karna seorang remaja pria memberikannya setangkai bunga mawar padanya. Oh~ apa dia masih seperti gadis remaja yang ditaksir oleh remaja pria ini? Eiii.. apa yang kau pikirkan Im YoonA! hah~ remaja pria ini sama saja dengan gadis kecil tadi. Begitu pintu lift terbuka dia langsung keluar kemudian seorang gadis yang lebih dewasa memasuki lift bersamanya. Dan gadis ini juga sama, memberikannya setangkai bunga mawar

Begitu terus kejadiannya sampai pada seorang kakek tua yang memberikannya setangkai bunga mawar tepat ketika ia sampai pada lantai apartemennya.

“Ada apa dengan semua orang? Apa ada hari bunga?” Yoona menggelengkan kepala. Sudah ada banyak tangkai bunga kini berada di tangannya. Ia rasa malam ini ia butuh istirahat. Pekerjaan tadi siang cukup menguras tenaganya.

Ketika hendak berbelok pada lorong dimana pintu apartemennya. Tiba-tiba saja tetangga yang tingal disebelah ruang apartemennya memberikan bunga.

Yoona berdecak kesal, “Hei, sebenarnya ada apa ini?”

Pria itu menunjuk lantai atas apartemen. Oh, jangan bilang ini semua perbuatan Choi Siwon.

Yoona berjalan menuju lantai teratas gedung apartemen. Sampai pada sebuah tangga yang menghubungkan pada lantai teratas ia menaikinya dengan sedikit menghentakkan kaki. Begitu sampai pada lantai teratas apartemen, ia menemukan sosok pria berdiri membelakanginya.

Angin malam berhembus perlahan, menerbangkan anak rambut Yoona yang tergerai. Seperti menyadari akan kedatangan seseorang pria itu membalikkan tubuhnya.

Dia tersenyum manis dengan kedua tangan ia masukkan ke dalam saku celana. Siwon berjalan menghampiri Yoona. Pria itu begitu manly dengan tuxedo hitam, kemeja putih didalamnya dan dasi kupu-kupu yang mengerat di lehernya.

Yoona terus memandangi Siwon hingga ia tidak menyadari pria itu telah berdiri dibelakanganya. Ketika kedua tangan kekar Siwon melingkar di pinggangnya ia baru tersadar. Dan pria itu telah menyandarkan dagunya di bahu Yoona.

“Maafkan aku..” bisik Siwon menghirup bau tubuh Yoona.

“Beginikah caramu meminta maaf?”

Siwon memanggutkan kepala. “Kau mau memaafkanku ‘kan?” nada Siwon memelas. Yoona tidak bisa menahan tawanya. Dia tertawa geli dengan perlakuan Siwon. “Arrseo..

Kini giliran Siwon yang tersenyum cerah. “Ada sesuatu yang akan kutunjukkan padamu..” Siwon menuntun tubuh Yoona untuk maju ke depan, masih dengan posisi memeluk Yoona.

“Hmm apa itu?”

“Kau akan tahu nanti..”

Yoona baru menyadari ada meja kecil berbentuk bundar disana. Lengkap dengan dua buah steak diatas piring, dua buah gelas berisi wine, beserta lilin cantik yang menghiasi meja bundar itu. Oh pasti tadi Yoona melewatkan pemandangan itu karna telah terhipnotis oleh tatapan Siwon.

Yoona pikir Siwon akan membimbngnya pada meja bundar berukuran sedang itu namun ia salah. Siwon menuntunnya sampai pada pagar pembatas. “Oppa..” Yoona tidak mengerti maksud Siwon. pria itu lagi-lagi tersenyum tenang. Ia meraih beberapa tangkai bunga mawar yang masih Yoona pegang. Diletakkannya bunga mawar itu kemudian kembali menatap Yoona.

“Pejamkan mata indahmu, sayang..” katanya lembut. Yoona mengerutkan dahi tapi ia tetap menuruti perkataan Siwon. Ia menutup kedua matanya, menunggu aba-aba selanjutnya dari Siwon.

“Jangan buka matamu sebelum kusuruh, oke?” Yoona memanggutkan kepala. Dirasakannya tangan Siwon menutup matanya.

Tak berapa lama tangan Siwon telah lepas dari kelopak matanya. “Sekarang buka matamu..” ucap Siwon berbisik lembut.

Angin musim semi di malam hari langsung menyambut Yoona begitu ia membuka kedua matanya. Ia terkesima dengan pemandangan di hadapannya. Lampu-lampu kota Seoul entah bagaimana bisa tersulap bagai kunang-kunang yang berkelap-kelip di kegelapan malam. Sebuah gedung yang menjulang tinggi, memantulkan sinar yang mengukirkan namanya.

Oppa..”

“Kau menyukainya, hmm?”

Yoona mengangguk cepat. “Indah…”

“Yah, tak seberapa indah ketika melihat senyummu..” Yoona menatap Siwon dengan mata yang telah basah. “Gomawo..” ucapnya tulus.

Siwon menarik sudut bibirnya. Ia kemudian mundur satu langkah, membungkuk dalam dan mengulurkan tangan kanannya, “kalau begitu maukah Nyonya Im Yoona menerima ajakan dansa saya?”

Yoona tidak bisa untuk tidak tersenyum geli, melihat semua perlakuan Siwon terhadapnya. “Oppa, tak ada musik. Bagaimana bisa berdansa?”

Pria itu kemudian meluruskan tubuhnya dengan alis berkerut, “Tidak masalah, angin malam sudah menjadi cukup penghantar gerakan kita..” Ia menarik pinggang Yoona.

“Tapi aku tidak bisa berdansa..” Yoona besikeras.

“Kau pikir aku bisa?” Siwon menaikkan sebelah alisnya. Dia menuntun kedua tangan Yoona untuk melingkar di lehernya.

“Aku akan menginjak kakimu, Oppa..”

Sekali lagi Siwon memberikan senyumnya, “Bukan masalah..” jawabnya enteng. “Kau hanya harus mengikuti gerak sesuai irama angin.”

“Tap—“

“Tatap mataku, Im Yoona.” Siwon berkata didiringi dengan gerakan pertama mereka.

Yoona menurut, ia menatap dalam mata Siwon. Benar, apa kata pria ini. Dia hanya harus menatap kedua bola mata gelap itu maka semua akan menjadi baik-baik saja. Tubuhnya ikut bergerak mengikuti alunan musik yang diciptakan oleh hembusan angin malam. Suasanan yang begitu melankolis namun Yoona sangat menyukainya. Menghabiskan malam bersama pria ini. Yah, seakan atmosfir berhenti saat ini juga. Menyisahkan mereka yang tengah dimabuk cinta.

Masih dengan alunan suasana yang melankolis. Siwon memeluk tubuh Yoona, menyembunyikan wajahnya diantara rambut kecoklatan Yoona. Ia suka wangi rambut Yoona. Ia suka segalanya yang ada pada wanita ini.

Mianhae..” lirih Siwon bagai gumaman yang ditelan angin. Entah Yoona mendengarnya atau tidak. Wanita itu masih menikmati momentum ini dengan memejamkan mata, menghirup dalam wangi tubuh Siwon.

~[]~

“Kau tahu, kenapa Eomma ingin bertemu denganmu malam-malam begini?”

Pria itu mengangguk. Ya, setelah menghantarkan Yoona sampai tertidur tiba-tiba saja ibunya menelfon dan menyuruhnya segera pulang.

“Siwon-ah. Kau bukan lagi anak remaja yang harus terus diingatkan. Kau tahu apa yang telah kau perbuat pada istrimu? Kau membuatnya sedih, dia menangisimu.”

Siwon memejamkan mata. Ini bukan kali pertama saja ibunya menasehati hal yang sama. Selalu saja bersangkutan dengan Yuri, wanita yang menyandang status sebagai istrinya.

Eomma, sudah kukatakan aku tidak pernah mencintainya maka tidak heran—“

“APA?” Ny. Choi memekik keras.

Di lantai dua Yuri mendengarkan percecokkan antara anak dan ibu itu. Dia tidak tahu harus bagaimana. Dia ingin mencegahnya namun itu akan memperburuk permasalahan. Siwon akan marah dan emosinya akan tak terkendali jika ia ikut campur. Lalu ia harus bagaimana?

“Choi Siwon! Kau sudah membina rumah tangga hampir dua tahun dan kau masih mengatakan tidak mencintainya? Lalu dimana kau menaruh hatimu selama ini?”

Eomma, yang namanya cinta tidak dapat dipaksa. Dan aku memang tidak bisa mencintai Yuri..”

“Omong kosong!” Ny. Choi membuang muka.

“Aku lelah jika harus berdebat dengan Eomma, selalu saja masalah ini. Ini masalah rumah tanggaku jadi biarkan aku yang menyelesaikannya sendiri, Eomma.” mata Siwon menyiratkan ia benar-benar memohon pada ibunya.

“Bagaimana mungkin Eomma  tidak ikut campur. Eomma juga seorang wanita. Dan wanita mana yang tidak sakit hati ketika malam hari tak mendapati suaminya berada di ranjang? Wanita mana yang tidak sakit hati ketika di pagi hari sudah tidak melihat suaminya lagi? Wanita mana yang tidak sakit hati ketika dia tidak mendapat nafkah batin dari suaminya, huh?” nafas Ny. Choi memburu, seperti melepaskan amarah yang tertahan selama ini. “Houh~ kau membuat Eomma pusing..” desisi Ny. Choi menyandarkan tubuhnya di sofa sambil memijit pelipisnya.

Siwon beranjak dari duduknya, manatap sekilas ibunya. “Eomma…

Oppa!” seorang gadis menghampiri ibu dan anak itu. Ia langsung duduk disebelah Ny. Choi dan menatap tajam kearah Siwon.

Oppa, kenapa kau tidak bisa sedikit saja menyenangkan hati Eomma? Tidakkah kau puas dengan keadaan Appa, sekarang kau juga ingin membuat Eomma seperti itu, eoh?”

“Sulli-ya..” Ny. Choi menegur. Biar bagaimanapun Siwon adalah kakak Sulli dan Sulli harus bicara sopan pada kakaknya. Ia tidak pernah mengajarkan bicara keras pada orang yang lebih tua.

Siwon menundukkan kepala. Ia menghela napas berat. Jika mengungkit masalah ayahnya ia pasti akan merasa paling bersalah. Ini keadaan yang sangat tidak ia inginkan. Ini situasi yang buruk.

Dengan langkah gontai, Siwon meninggalkan ibu beserta adiknya.

“Siwon-ah, kau masih ingat pesan Appa-mu?”

Siwon menghentikkan langkahnya namun tidak menjawab pertanyaan ibunya.

“Jangan pergi..” Ny. Choi memohon. Ia menggenggam kuat tangan Sulli yang mengelus lengannya.

Siwon terdiam sejenak. Kemudian melanjutkan langkahnya, pergi dari kediaman Choi. Ia hanya butuh ketenangan atas kegundahan hatinya. Ia butuh sendiri untuk saat ini. Yah, dia hanya butuh menenankan hati dan pikirannya. Ia butuh pengertian.

 

To Be Continue…

Or

THE END??!

Holaa holaa Chap 2 dateng nih hohoho…^^ ehkem-ehkem sepertinya saya suka sekali yah dengan adegan ranjang 0.0 udah 3 Fic yg saya suguhi dengan adegan ranjang ckckck~ gpp anggep aja sebagai balasan Love Rain #eh?

Oke, udah kejawab ‘kan siapa yg bilang istri Siwon itu dan siapa wanita di bandara itu? dan jreng jeng jeng jeng.. emang niat dari awal gak libatin Fany jadi orang ke-3 hub. YoonWon sih. Wae? Udah bosen yg jadi org ke-3 mbak Ppany mulu-_- pan My Fany eonni juga pen eksisi jdi pemeran utama^^ noh2 saya libatin diantara dua namja kece (red. Nichkhun&Jonghyun)

Menurutku titik kesulitan dalam Fic dengan Cast banyak itu adalah bagaimana si penulis dapat mengenalkan karakter dari masing-masing tokoh. Aku tidak bisa menjamin dapat mengenalkan mereka namun aku akan berusaha memberi gambaran dari ke-10 tokoh dengan karakter mereka masing-masing. Catat! BE-RU-SA-HA! Jadi kalau gagal yesungdahlah namanya juga udah usaha (alamak, pasrah baget dah-_-)

Well, gak ketingalan ucapan makasih pada semua pembaca atas respon yg baik di chap pertama. Kalo chap awal aja bisa lebih dari 100 respon berarti gpp dong kalo chap ini saya ngasih standar kurang dari 100 komentar FF-nya gak dilanjut^^ hehe… udah saya bilang ‘kan keputusan ada di tanagan readers^^

Finally,*kebiasaan banyak bacot-_-* saya ucapkan banyak terimakasih pada Resty/ka Echa yg telah bersedia nge-post fic absurd ini^^ jeongmal gomawoyooooo :) (you are welcome c:)

FF ini bertepatan dengan berita kelulusan-ku^^ Yeah! SAYA LULUS!!😀 terimakasih atas doa kalian, saya sayang kalian semua muach muach :* hihii.. ini juga bertepatan dengan Anniv grup ‘YoonWonited 4EVER’ Rumah penuh cinta para Niteds, tempat berbagi dan… dan ah~ suka duka bersama^^ sekalian deh kado buat My Yoongie tgl 30 Mei hohoho…. *tuh ‘kan bacotannya keluar lagi-_-*

Oke, oke sampai ketemu di chap berikutnya *kalo pada mau lanjut^^* ppai ppaii J

Pos Berikutnya
Tinggalkan komentar

228 Komentar

  1. Yaa yoona nya kesian bangett,lanjuut

    Balas
  2. ndashof

     /  Agustus 18, 2014

    terjawab sdah ras penasaranku…
    istrinya wonppa itu yuri eonni ternyta,,
    minho-sulli lucu sekali kalian…
    romantis bngt sih yoonwon^^
    lnjut baca🙂

    Balas
  3. Hf

     /  Agustus 20, 2014

    Jadi yoona itu…

    Balas
  4. Endingnya masih agk Galau gini terutama pada Yoonwon, apa Yoona dan Si Won itu sudah menikah apalagi dia punya istri

    Balas
  5. sebener.nya sih aku masih bingung sama konflik.nya, tapi cerita ini menarik bikin mau baca terus sampe selesai karna penasaran ..
    bagus thor ..

    Balas
  6. im yoo ra

     /  September 16, 2014

    Yang jadi orang ke tiga itu yoona atau yuri?

    Balas
  7. rara

     /  September 27, 2014

    Oh ternyata yoona jd org ktiga..

    Balas
  8. Shatia

     /  Oktober 16, 2014

    Ternyata istri yang diakui keluarga Choi itu Yuri..sedih..bingung..walaupun ku suka couple Yoona-Siwon..tapi klo Yoona harus jadi orang ketiga, aku gak rela..kasian juga sama Yuri yang dikhianati..

    Balas
  9. raratya19

     /  November 9, 2014

    Sebenarnya ada masalah apa sih siwon dg yuri? Aku takut ternyata siwon tidak benar2 mencintai yoona dan hanya menjadikan dia pelarian

    Balas
  10. Author emg pinter bikin pensaran….tp apa yoonwon bs bersama terus???

    Balas
  11. suka sama moments yoonwon tapi siwon kenapa harus uda nikah

    Balas
  12. susi

     /  Februari 20, 2015

    Oh ya ampun apa yang akan terjadi pada yoona ku,,😭 Tolong jangan pisah kan mereka aku mohon🙏 😭

    Balas
  13. Wahhhh aku kira fany yg jadi istrinya siwon ternyata yuri kkk~
    Aku jadi kepo knp siwon nikah sama yuri kalo dianya gak cinta? Trs knp ayahnya siwon errrr lanjut baca ajadeh^^

    Balas
  14. Zhahra

     /  Maret 23, 2015

    Harus lanjut donkz unni…
    Suka banget pas yoonwon dansa…ihh romantis banget daah…
    Unni bener…bosen juga sihh klau fany unni slalu jdi orang ke 3 dlam hubungan yoonwon

    Balas
  15. Aku terharu sama chapter ini..😥 Jadi tuh sebenernya Yoong Eonni jadi orang ketiga… ^0^ Kasihan juga sih sama Yuri Eonni. Aku takut kalau WonPa gak bener bener cinta Yoong Eonni. Cuma buat pelarian doang. Sebenernya apasih masalahnya WonPa sama Yuri Eonni…

    Balas
  16. mywon_407

     /  Mei 16, 2015

    Ternyata yg jdi istrinya siwon itu yuri, ff ini hubungan cinta castnya bener2 rumit, siwon bener cinta ama yoona atau cman pelarian aja, tkut bget klo ff ini sad ending n yoonwon ga bersatu…

    Balas
  17. YoongNna

     /  Desember 30, 2015

    Aaahhh so sweet bgt sh momen yoonwonnya syng dsni siwon udh nikah…
    Gmn nnti kalau istri atw ibu siwon tw ttg yoona yaaahhh..

    Balas
  18. Kalau di posisi yuri pasti sakit banget. tapi kalau Siwon oppa ninggalin Yoona eonni, itu nambah menyesakkan dada.

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: