[OS] Being a Happy Marriage?

cover BAHM

Tittle               : Being a Happy Marriage?

Author            : Tika Pink / Tika Sheila EverlastingFriend

Email/Twitter : tika_pinky@rocketmail.com / smantikalove@gmail.com / @SangRa_ELF (Mention For Follback)

Main Cast      : Im Yoona, Choi Siwon

Other Cast     : Song Joong Ki, July (#nyempil) J

Genre             : Marriage Life, Angry, Romantic,Sad, Friendship or Set Your self #plakk^^

Length            : One Shoot

Rating             : PG + 15

 

 

Annyonghaseyo yeorobeun ^^ … Hi Hi Hi, aku kembali menyapa kalian dengan membawa satu ff terbaru.Kali ini sedikit beda dengan ff yang pernah aku bawa ke sini. Yah, mungkin ceritanya sebenarnya sudah umum, tapi aku berharap ff ku ini juga bisa cukup menghibur kalian my lovely readers. So, DON’T BE SILENT READER, OK … !!! PLEASE LEAVE YOUR COMENT AFTER READ THIS. THANK YOU !!! ^^

 

Warning : Typo bersembunyi di mana-mana!!!

 

#Happy Reading#

 

Author Pov

Hembusan angin senja menyibakkan wangi bunga-bunga yang semerbak dan menyegarkan.Musim semi. Musim dimana banyak cinta yang bermekaran dan harum seperti layaknya bunga-bunga cantik yang bermekaran di taman atau dimanapun. Musim dimana akan banyak kebahagiaan yang menghampiri. Bahkan dimusim itu, banyak gadis-gadis menyusun berbagai harapan untuk menemukan kebahagiaan cintanya.Benarkah?

Tapi kenapa saat melihat indahnya bunga-bunga yang bermekaran itu justru ada seorang yeoja yang merasa seperti tidak ikut merasakan apapun.Tampangnya yang cantik malah terlihat murung seperti orang yang sedang menghadapi masalah yang berat yang seakan tak bisa ditanggungnya lagi. Duduk di taman di saat senja seperti itu dan melihat orang-orang berlalulalang dengan gembira di depannya justru malah mebuat yeoja itu semakin murung. Ada apa?

Yeoja itu menyesap kopi yang sejak tadi di genggamnya. Tiba-tiba dering ponselnya mengalihkan perhatiaannya. Yeoja itu melihat siapa yang menelfonnya tapi tangannya enggan untuk menggeser icon answer di ponselnya. Tampak dia sedang meringis.Tapi setelah beberapa saat akhirnya dijawabnya juga panggilan telfon itu.

“Yoeboseyo?” dia membuka percakapan.

“Kau ada di mana?” terdengar suara dingin seorang namja yang membuatnya seakan merinding.

“Aku sedang dalam perjalanan pulang ke rumah.Ada apa?”

“Apa perjalanan pulang dari kantor menuju rumah itu bagimu membutuhkan waktu hampir sejam? Jarak kantor dan rumah hanya bisa ditempuh kurang lebih 15 menit dengan mobil dan salah satu rekan kantormu mengatakan kalau kau sudah pulang sejak 30 menit yang lalu dan sampai sekarang kau belum juga tiba di rumah. Di manapun kau saat ini, kau harus tiba di rumah dalam jangka waktu 5 menit.” Ujar namja itu dengan nada tenangnya tapi sangat mendominasi.

“Tapi itu tidak mungkin. Aku baru bisa sampai di rumah kira-kira …”

“4 menit!”

Tuuttt … Tuuttt… Tuut …!!!

Percakapan telfon itu diakhiri secara sepihak oleh sang namja yang terkesan begitu arogan. Yeoja itu mengumpat kesal sepintas lalu segera berlari keluar taman dan langsung menyetop taksi yang pertama kali lewat di depannya.

Dan benar saja, yeoja itu baru bisa sampai di rumah kurang lebih 10 menit.Bahkan mungkin 12 menit.Entahlah.Yeoja itu tak mau mempermasalahkan itu dulu. Dia langsung berlari masuk ke dalam rumah mewah nan megah itudan dia nyaris saja terjatuh di hadapan namja yang sedang melipat tangannya di depan dadanya dengan begitu angkuhnya. Tatapan dingin namja itu seakan langsung menembus jantung yeoja itu sehingga yeoja itu merasa seakan tidak bisa bernafas.

Namja itu melirik arlojinya sepintas lalu kembali menatap sang yeoja yang tampak terengah-engah karena seperti baru saja lari marathon hanya untuk sampai ke rumah secepat dia bisa.

“Kau darimana saja?” dengan nada yang tenang namja itu bertanya. Tapi ekspresi wajahnya yang datar membuat sang yeoja malah merasa ngeri berhadapan dengan namja itu. Dia yakin namja itu sedang menyimpan kemarahannya.

Yeoja itu menghembuskan nafas berat sepintas.

“Aku dari kantor.” jawabnya singkat seraya melangkah masuk ke dalam melewati namja itu.Yeoja itu sebisa mungkin berupaya untuk tetap tenang.

Namja itu menyusul yeoja itu dan mencekal tangannya dengan keras.

“Kau sudah meninggalkan kantor lebih dari 30 menit. Jarak rumah dan kantor tidak sejauh itu. Jadi jawab yang jujur kau darimana Choi Yoona?” tanya namja itu keras. Cekalannya semakin erat sehingga membuat yeoja yang dipanggil dengan nama Choi Yoona itu meringis kesakitan.

“Awww, Choi Siwon, kau menyakitiku!Lepaskan tanganku!” pintanya seraya berusaha sebisa mungkin melepaskan cekalan itu tapi nihil.

“Tidak, sebelum kau menjawab pertanyaanku dengan jujur. Kau darimana saja?” nada suara namja itu makin keras membuat Yoona tak ada pilihan lan selain menjawab yang sebenarnya. Meski dia yakin yang akan dia dapatkan pasti akan lebih buruk dari ini.

“Aku hanya singgah di coffe shop sebentar lalu duduk di taman sepulang kerja hanya untuk beberapa menit. Apa itu salah?”

“Dengan siapa? Dengan siapa kau di sana?” tanya namja yang bernama Choi Siwon itu. Tatapannya semakin mengerikan di mata Yoona.

“Aku tak bersama siapa-siapa.Aku hanya sendirian. Aku hanya ingin menikmati pemandangan taman saat sore hari untuk sejenak. Apa itu tak bisa? Tolong lepaskan cekalanmu ini.tanganku sakit.” Pinta Yoona memelas.

Tapi Siwon belum mau menurutinya.

“Sudah kubilang kau jangan keluyuran tanpa aku!Aku sudah berbaik hati mengijinkanmu tetap bekerja setelah pernikahan kita tapi bukan berarti aku mengijinkanmu untuk bertidak seperti kau masih seorang gadis tak bersuami.Jika kau sudah selesai dengan pekerjaanmu seharusnya kau menungguku menjemputmu atau langsung pulang ke rumah. Bukannya keluyuran apalagi dengan orang lain selain aku!”

“Aku tidak keluyuran. Aku hanya sedikit menghilangkan penatku di taman itu. Aku juga tidak bersama siapa-siapa.”

“Sayangnya aku tidak percaya akan alasanmu itu!”Dengan sekali hentakan Siwon langsung menarik Yoona dengan kasar menuju ke kamar tidur mereka dan langsung menghempaskannya dengan kasar sehingga Yoona jatuh ke lantai.Siwon membanting pintu kamar di belakangnya.Lalu berjongkok di samping Yoona.Di dongakkannya wajah Yoona agar menghadapnya.

“Katakan padaku, sepulang kantor kau kemana dan bersama siapa?! Katakan padaku!”

“Aku sudah menjawabnya. Aku hanya duduk sebentar di taman dan sendirian. Kenapa kau tidak percaya padaku?”

“Ani. Aku tidak percaya padamu! Kau pasti bertemu seseorang di sana. Katakan padaku!” bentak Siwon dengan mata yang menyala-nyala.

Yoona semakin ketakutan menghadapi suaminya itu.

“Aku benar-benar berkata yang sebenarnya.Kenapa kau seperti ini?Tak bisakah kau mempercayaiku?”

“Kau sudah membohongiku tadi.Saat aku menanyakan kau ada dimana seharusnya kau langsung mengatakan keberadaanmu.Jadi aku tidak bisa mempercayai alasanmu yang kau katakan sekarang. Katakan padaku yang sebenarnya! Kau darimana dan bersama siapa?!”

“Apa yang harus aku katakan sedangkan aku telah menjawab yang sebenarnya?Aku tidak berbohong padamu, Siwon-ssi!!!” jawab Yoona dengan nada suara yang juga mulai meninggi.

Siwon menatapnya nyalang dengan masih mendongakkan kepala Yoona padanya.

“Siwon-ssi?Siwon-ssi? … Yakk, aku ini suamimu bukan orang asing! Kau seharusnya memanggilku yeobo.Kenapa kau memanggilku hanya dengan namaku seperti itu? Kau pasti sudah punya namja lain yang bisa kau panggil seperti itu kan? Kau berencana untuk pergi dariku, eo?” kemarahan makin terpancar di raut wajah Siwon.

“Aniya.Ini tidak seperti itu. Aku tidak …”

“Bohong!!!” bbentak Siwon. “Kau pasti sudah mempunyai namja lain! Kau tidak lagi memanggilku yeobo barusan.Dan kau mulai keluyuran tanpa aku. Kau pasti baru saja bertemu dengan kekasihmu kan? Kau pasti ingin pergi dariku kan? Katakan padaku!!!”

“Gurre, gurre!!!Aku memang bertemu dengan seseorang.Aku memang punya kekasih.Aku memang ingin meninggalkanmu!!!” tanpa sadar Yoona mulai berteriak mengatakan yang dituduhkan Siwon meski hal itu tidak benar.Tanpa disangka pernyataannya itu langsung dihadiahi sebuah tamparan keras di pipinya sehingga pipi itu langsung memerah dan terasa sangat perih.Air mata mengalir menyusul kemudian.

Siwon yang tersadar beberapa saat kemudian telah menampar istrinya menatap nanar tangannya.Lalu segera kembali menangkup wajah Yoona dengan tangannya untuk menatapnya. Dilihatnya air mata yang mulai membanjiri wajah istrinya dan pipi yang tadi di tamparnya memerah menyisakan gambaran telapak tangannya di sana. Sesal langsung merasuki hatinya.

“Yoong … mi … mianhae!!! Aku tidak bermaksud ingin menyakitimu! Mianhae! Aku mohon jangan menangis!” sesalnya.Wajahnya kini mulai sedih.“Kau tahu aku begitu mencintaimu. Aku tidak ingin kehilanganmu, Yoong! Mianhae, jeongmal mianhae! Maafkan aku, Yoong! Maafkan aku!”

Siwon meraih Yoona ke dalam pelukannya.Memeluknya begitu erat seakan memang tak pernah ingin melepaskan Yoona.Hati Yoona serasa sakit hingga terasa begitu perih.Tangis makin menjadi di dalam pelukan suaminya itu.Tapia pa yang bisa dia lakukan di saat suaminya kini malah terisak juga karna menyesal telah menyakitinya? Tak mungkin dia bisa menerima semudah itu tapi tak mungkin juga dia menolak di saat dia tahu kalau kemarahan Siwon akan kembali muncul karna penolakannya. Yang bisa dia lakukan saat ini hanya pasrah saja menangis dipelukan suaminya. Bingung harus melakukan apa.

Author Pov End

***

Yoona Pov

Lengan itu melingkar dengan begitu posesivenya di perutku. Pelukan dari namja yang tak lain adalah suamiku. Choi Siwon, itulah namanya. Seorang namja tampan dari kalangan konglomerat yang punya cukup kekuasaan di dunia bisnis Korea bahkan manca negara.Aku pertama kali bertemu dengannya kurang lebih 17 bulan yang lalu.Dan hari itu adalah hari pemberkatan upacara pernikahan kami.Aneh bukan? Kedua mempelai ternyata baru saling bertemu di saat pemberkatan pernikahan, tanpa saling mengenal sebelumnya, tanoa tahu bagaimana sosok satu sama lainnya sebelumnya?! Tapi inilah yang terjadi di dalam hidupku.Pernikahan yang merupakan impian terindah dari setiap yeoja manapun dan salah satu moment sakral yang hanya ingin aku alami sekali seumur hidupku bersama orang yang aku cintai dan mencintaiku malah harus aku lakukan bersama namja yang sangat asing.

Ya, aku melakukan pernikahan ini bukan atas dasar cinta.Aku tak mengenal namja itu.Seminggu sebelum pernikahan, tiba-tiba saja orangtuaku mengatakan kalau mereka telah menerima sebuah lamaran dari keluarga bermarga Choi yang memintaku untuk menjadi menantu di keluarga chebol itu.Tentu saja saat itu aku menolak. Aku tidak ingin menikah dengan orang yang sama sekali tak aku kenal. Lagipula kenapa aku harus dinikahkan dengan anak dari keluarga itu?Aku cukup yakin orangtuaku bukanlah orang yang masih menganut paham siti nurbaya (#ehh?#emangIndonesia #abaikan).Tapi anehnya untuk keluarga yang satu itu orangtuaku langsung menerima bahkan tanpa menanyakan persetujuanku lebih dahulu.Dan setelah aku tahu, ternyata aku adalah sebuah bentuk pelunasan semacam hutang budi keluargaku kepada keluarga itu karna keluarga itu telah menolong keluargaku dari keadaan perusahaan yang collaps.Pernikahan itu semacam transaksi.

Aku kecewa.Tapi aku tidak bisa menolak. Jika aku menolak tentu saja itu akan berakibat buruk untuk keluargaku. Aku berharap yang menolak adalah namja itu.Tapi tidak.Dia menerimanya dan akhirnya pernikahan itu terjadi.Aku yakin dia juga baru melihatku di hari pernikahan kami saat kami mengucap sumpah pernikahan di hadapan Tuhan dan Jemaat yang hadir untuk menyaksikan moment sakral itu.Sumpah yang aku rasa merupakan kebohongan terbesar yang aku ucapkan di hadapan Tuhan. Kami mengucapkan akan selalu mencintai, menyayangi, setia dalam suka maupun duka, sehat maupun sakit hingga ajal memisahkan. Padahal saat itu tak ada cinta bahkan kami belum kenal. Oh Tuhan!!!

Selama sebulan pernikahan dia bersikap sangat baik padaku.Meski terkadang aku merasa tatapannya begitu dingin.Raut wajahnya pun sering tak bisa kubaca.Tapi dia bersikap lembut padaku. Aku pun berusaha untuk menjadi istri yang baik. Aku berpikir mungkin ini adalah jalan Tuhan mempertemukanku dengan jodohku. Lagipula aku juga tidak sedang menjalin hubungan cinta dengan siapapun sehingga aku merasa pernikahan ini tidak cukup buruk. Mungkin awalnya aku hanya mengantisipasi penolakan dari namja itu. Tapi karna dia bersikap lembut dan memang seperti sangat menginginkanku, aku mulai berpikir ini akan baik-baik saja sampai akhirnya dia berubah di bulan kedua pernikahan kami.

Dia berubah menjadi sosok yang begitu arogan, kasar dan sangat amat posesif. Semua aktifitasku seakan dikontrol olehnya. Aku dikekang, terlalu dibatasi. Meski dia tidak berhasil menyuruhku berhenti bekerja, tapi dia yang selalu mengantar jemput aku ke kantor. Aku harus selalu bersamanya dan jika aku sedikit hilang dari jangkauannya atau dia melihatku sedang berbicara dengan orang lain selain keluargaku terutama namja lain, dia pasti akan langsung naik pitam. Menyakiti orang itu dan juga menyakitiku. Kekuasaannya yang mungkin begitu dominan membuat tak ada orang yang berani mencari gara-gara dengannya atau melawannya. Aku terkadang ingin melawan karna aku terkadang tidak bisa menerima sikapnya. Tapi pasti dia akan menyakiti seseorang yang dekat denganku setiap kali aku melakukannya. Itulah sebabnya aku mulai kehilangan sahabat bahkan jauh dari keluargaku sendiri. Tapi setelah menyakitiku dia akan kembali bersikap manis dan begitu menakutiku dengan sikapnya yang mudah berubah itu. Aku tidak bisa salah bicara. Sungguh, dia adalah orang yang sangat posesif. Aku tersiksa dengan sikapnya. Tapi aku tidak bisa melakukan apa-apa karna takut dia menyakiti orang lain. Sehingga selama sudah hampir 2 tahun (17 bulan) ini aku mencoba bertahan. Bertahan ada di sisinya meski ketakutan selalu menghantuiku.

Aku mendesah. Ku singkirkan lengannya yang memelukku dari belakang dengan pelan agar dia tidak terbangun. Aku bangkit dari tempat tidur pun dengan sama pelannya. Kutatap wajahnya yang sedang tertidur itu. Wajah bak malaikat. Tapi ternyata dibalik wajah itu ada sifat yang begitu menyeramkan.

Tamparan dipipiku masih terasa begitu perih. Ini bukan pertama kalinya. Dia sudah sering melakukannya dan memohon penuh sesal setelah dia melakukan kekerasan fisik padaku. Dia akan mengatakan begitu mencintaiku dan takut kehilanganku. Setelah itu akan membuaiku bercinta dengannya dengan sikap yang sangat lembut. Hatiku berteriak, sebenarnya dia orang seperti apa? Sebenarnya suamiku orang yang seperti apa? Kenapa aku harus terjebak dengan orang yang seperti itu di dalam ikatan pernikahan?

Aku memalingkan wajah. Dan berjalan perlahan keluar dari kamar menuju dapur. Meneguk segelas air putih sampai tandas hanya dengan sekali tegukan. Aku seperti orang yang baru saja mengalami dehidrasi.

Pernikahan ini semakin menyiksa. Rasa sakit tamparan dan kekerasan yang sering kudapat tidak seberapa dengan begitu tertekannya batinku berada di sini. Hidup bersama namja yang begitu posesif. Air mata kembali mengalir membasahi pipiku. Rasa sesak di dadaku semakin parah. Sampai kapan aku …

“Kenapa kau lama sekali, yeobo?” tiba-tiba sepasang lengan kekar melingkari pinggangku. Membuatku sedikit terkejut.

“Aku … aku …”

Sial, aku bingung harus menjawab apa. Sontak saja dia membalikkan tubuhku agar menghadapnya. Dia menatapku tajam. Salah satu tangannya menyentuh wajahku membuatku langsung waspada. Tapi ternyata dia mengusap sisa air mata yang masih membekas di sudut mataku.

“Kau kenapa, yeobo? Kenapa kau menangis?” tanyanya.

Ahh, apa yang harus aku katakan? Aku selalu waspada jika dia sudah mulai seperti ini. Pertanyaan itu seperti bentuk perhatian tapi entah mengapa aku merasa mengandung unsur menyeramkan di dalamnya.

“Aku … aku … aku hanya kelilipan!” jawabku akhirnya dengan gugup.

Dia menggeleng. “Ani. Tidak mungkin kau kelilipan sampai menangis! Kau … apa kau belum memaafkanku? Kau pasti belum memaafkanku makanya kau menangis seperti ini kan? Kau pasti sedang berpikir untuk pergi meninggalkanku kan? Iya kan?” nada suaranya kini meninggi.

Oh Tuhan, kenapa dia selalu seperti ini?

“Aniya. Tolong jangan berpikir seperti itu!”

“Bohong! Aku merasakannya saat kau berjalan keluar kamar. Kau menatapku lama sebelum itu. Aku tidak tidur karna aku tahu kau sedang berkutat dengan pikiranmu. Dan aku yakin kau sedang berpikir untuk pergi. Kau ingin meninggalkanku. Jadi aku menyusulmu kesini! Benar kan?!” tanyanya sambil melempar gelas bekas minumku dengan keras ke lantai sehingga gelas itu pecah.

Aku memekik keras. Untung saja para pembantu tinggal di paviliun belakang sehingga keributan ini tidak begitu mengundang perhatian karna yang ada di rumah hanya kami berdua, meski aku tahu semua pembantu di rumah ini sudah tahu bagaiamana keadaan kami yang sebenarnya.

“Jawab aku Yoong!!!”

“Terserah … Terserah apa yang ada di pikiranmu tentangku! Kau terlalu curiga padaku! Selalu seperti ini! Apa yang aku katakan selalu coba kau sangkal dan kau alihkan sampai begitu menekanku. Aku harus bagaimana? Aku harus menjawab apa agar menjadi seperti yang kau inginkan? Selama ini aku berusaha menjadi istri yang baik untukmu. Aku bahkan seperti kehilangan semua sahabatku, keluargaku, kebebasanku setelah menikah denganmu dan karna berada di sisimu. Tapi setiap kau dipengaruhi oleh apapun yang ada dipikiranmu tentangku, aku tak tahu harus mengatakan apa. Setiap ucapanku tak ada yang benar. Jika aku jujur kau menganggapku berbohong, mendesakku dan membuatku akhirnya membenarkan ucapanmu yang tak masuk akal. Tapi saat itu kau langsung menyakitiku. Kenapa kau tidak bunuh saja aku, eo? Biar kau puas sekalian? Kenapa? Kenapa kau harus mengikatku dalam pernikahan ini?” keluhku seraya terisak.

“Itu karna aku mencintaimu!!!”

“Cinta? Kau mencintaiku? Jangan bercanda! Pernikahan kita diawali tanpa cinta! Kau juga selalu menyiksaku dan menyakitiku, apa itu yang kau sebut dengan cinta?!” pekikku. Kekesalan itu mulai keluar dari dalam hatiku. Aku beranjak melangkah untuk kembali ke kamar tapi tanpa sengaja kaki kananku menginjak beling pecahan dari gelas yang tadi dilemparnya. Aku tadi memang sengaja tidak memakai sandal rumahku karna tak ingin dia terbangun. Tak kusangka dia sama sekali tidak tidur.

Darah mulai keluar dari telapak kakiku. Dia yang melihatnya segera berjongkok untuk melihat kakiku yang terluka. Perlahan dia mengeluarkan pecahan beling yang masih tertancap di telapak kakiku. Darah makin menyeruak keluar. Tapi aku tak ingin meringis. Segera ku tarik kakiku darinya dan ingin melangkah lagi. tapi dia buru-buru menahanku.

“Kau terluka! Aku akan mengangkatmu!”

“Tidak perlu.” Tolakku. “Ini hanya luka kecil. Aku bahkan tidak merasa sakit sama sekali.”

“Yoong, kau berdarah! Tak mungkin aku membiarkanmu berjalan dengan kaki yang terluka seperti itu!” tanpa menunggu persetujuanku dia langsung mengangkat tubuhku dan membopongku menuju ke kamar. Darah menetes mengotori sepanjang jalan menuju kamar. Dia segera mengambil air bersih dan handuk serta kotak P3K untuk membersihkan dan mengobati lukaku.

Aku tak bersuara. Tidak juga menolak. Dia mengobati lukaku dengan lembut.

“Maafkan aku, Yoong! Lagi-lagi kau terluka karna aku. Darahmu …” dia tidak melanjutkan kalimatnya. Aku pun tak berniat untuk menyela. Aku membiarkannya. Aku lelah jika harus berdebat lagi. Setelah selesai mengobati kakiku, dia segera mebereskan peralatan-peralatan itu lalu segera kembali ke hadapanku kurang dari 5 menit.

Di bimbingnya aku untuk berbaring lalu menyelimutiku. Setelah itu dia menyusul naik ke tempat tidur dan merebahkan diri di tempatnya. Dia memelukku dan menghadapkanku padanya.

“Mianhae, Yoong!” ucapnya lalu mendaratkan sebuah kecupan dibibirku. Tapi beberapa saat kemudian kecupan itu berubah menjadi lumatan-lumatan ciuman yang dalam dan menuntut. Pelukannya pun kian mengetat.

Oh Tuhan, Choi Siwon … sebenarnya apa yang dia inginkan dariku? Bagaimana agar aku bisa mengerti dia?

Bagaimana agar aku bisa mengerti dia?

Yoona Pov End

***

Author Pov

Sudah hampir sebulan sejak kejadian malam itu Siwon berusaha untuk sedikit bersikap longgar apda Yoona. Mungkin perkataan Yoona malam itu telah sedikit menyadarkannya kalau dia memang sudah sangat keterlaluan.

Yoona merasa sedikit lega. Setidaknya Siwon sedikit merubah sikapnya. Namja itu berusaha untuk lebih mengontrol emosinya. Tak lagi menelfonnya setiap jam mengganggu jam kerjanya di kantor hanya untuk menanyakan keberadaannya dimana atau dengan siapa. Siwon juga kembali bersikap lembut seperti di awal pernikahan mereka. Meski sikap manisnya masih sering menakuti Yoona. Yang membuat Yoona takut adalah jika Siwon sedang bersikap manis, terkadang sedikit kesalahan baik dari kata atau tingkah Yoona, namja itu pasti akan cepat tersinggung dan mulai menuduh yang bukan-bukan lagi. Yoona takut namja itu akan berubah lagi dengan tiba-tiba ketika dia lengah. Meski masih waspada, Yoona merasa kelonggaran yang diberikan Siwon sedikit melegakan.

Yoona berdiri di trotoar depan kantornya menunggu Siwon datang menjemputnya. Meski diberi sedikit kelonggaran bukan berarti Yoona bisa lepas dari aturan antar jemput Siwon kemanapun dia pergi. Siwon adalah orang yang cukup sibuk, tapi dia selalu meluangkan waktu hanya untuk Yoona. Bahkan untuk masalah kerjaan keluar kota atau keluar negeri jika memang tidak perlu ditanganinya secara langsung maka dia hanya akan menyuruh asisten kepercayaannya untuk menangani. Tapi kalau memang sangat penting dan membutuhkan penanganannya, maka dia akan pergi dengan membawa Yoona bersamanya. Dan Yoona menyadari hal itu. Tapi Yoona masih sedikit meragukan cinta suaminya itu untuknya. Mereka memang telah menjalani ikatan rumah tangga selama hampir 2 tahun tapi awalnya mereka tidak saling mengenal. Bahkan mungkin sampai saat ini. Jadi Yoona tidak yakin namja itu mencintainya atau tidak.

Sebuah mobil secara perlahan berhenti di depan Yoona. Tapi itu bukan mobil Siwon dan Yoona tidak mengenali mobil itu. Kaca jendela depan mobil itu bergerak turun. Yoona tak ingin memperdulikannya. Mungkin hanya orang yang iseng karna melihat seorang yeoja berdiri sendirian di trotoar, pikirnya.

“Im Yoona?” panggil sebuah suara dari dalam mobil itu. Yoona terusik. Dia membungkuk sedikit untuk melihat sang pemilik suara dan tampaklah sosok seorang namja tampan dengan senyuman yang begitu menawan.

“Joongki oppa?” ternyata dia mengenali namja itu.

“Annyeong!” sapa namja yang bernama Joongki itu. Beberapa saat kemudian namja itu turun dan sudah berdiri di hadapan Yoona. “Bagaimana kabarmu, Yoong?”

Yoona masih terperanjat. Tak menyangka namja itu ada di depannya.

“Oppa? Ini benar-benar kau kan? Kau bukannya sedang ada di London?” tanya Yoona masih menganga.

Sebuah jitakan pelan mendarat di jidatnya.

“Aigoo, jelas-jelas aku sedang berdiri di hadapanmu masa kau masih tidak percaya! Ne, ini benar-benar aku. Song Joong Ki, namja yang paling tampan yang kau miliki. Apa aku harus menciummu untuk menyadarkanmu?” goda Joongki yang mendapat pukulan pelan di lengannya.

“Aisshhh, kau masih belum berubah. Aku dengar kau sudah bbekerja di salah satu rumah sakit terkenal di London. Aku yakin kerjaanmu di rumah sakit bukanlah mengobati pasien. Tapi menggoda mereka, terutama gadis-gadis bule.”

“Hmm, bisa jadi.” Joongki tertawa kecil saat melihat Yoona mencibirnya.

“Jadi kenapa kau sekarang ada di Korea? Kau bahkan tak pernah mengabariku selama setahun ini.”

“Mwo? Bukankah aku sering mengirimimu email? Aku juga sering menghubungi nomor handphonemu tapi tidak bisa di hubungi. Aku berpikir mungkin kau ganti nomor. Aku bahkan menanyakan hal itu pada beberapa teman kita tapi mereka tidak ada yang tahu. Jadi aku hanya mengirimimu email saja tapi sekalipun tak pernah kau balas. Apa kau sesombong itu?”

Yoona diam. Dia tidak pernah mendapat satu email pun dari Joongki. Otaknya langsung berputar. Tak ada lagi keterkejutan jika dia mendengar hal seperti itu. Dia pernah mengalaminya beberapa kali hal seperti ini sejak menikah dengan Siwon. Namja itu bisa mengakses akunnya entah bagaimana caraanya. Dan menghapus inbox dari siapapun yang diangapnya tidak penting. Mungkin itu juga yang terjadi pada mail-mail Joongki untuknya.

“Yoong?” Joongki menyentuh lengan Yoona sepintas. Mengusik Yoona yang terdiam beberapa saat itu.

“Ahh, mian. Lalu kenapa kau ada di Korea sekarang?” Yoona mencoba mengalihkan pertanyaan.

“Aku datang untuk menikahimu.”

Sebuah tendangan pelan di hadiahi Yoona di kaki Joongki menyusul ucapannya itu.

“Ahh, wae?” keluh Joongki sambil memegang kakinya yang ditendang Yoona. Ternyata terasa sedikit sakit.

“Itu karna kau terus-terusan bercanda.”

“Bercanda?” tanya Joongki pura-pura tidak mengerti. Sebuah jitakan lagi mendarat di dahinya.

“Aigoo, kau masih belum juga berubah. Mana bisa kau bercanda seperti itu sedangkan kau tahu sendiri kalau aku sudah menikah. Aishhh … !!!”Yoona kembali memukul lengan Joongki pelan berkali-kali.Lalu mereka tertawa.

“Tapi, kenapa kau berdiri sendirian di sini? Kau menunggu seseorang?”

Yoona mengangguk. “Aku menunggu Siwon oppa. Dia akan datang menjemputku. Tapi sepertinya dia terlambat.”

“Memangnya kalian mau kemana?”

“Tidak kemana-mana. Hanya pulang ke rumah. dia, memang selalu menjemputku sepulang kerja.”

“Hmm, kalau begitu hari ini biar aku saja yang mengantarmu pulang. Sekalian aku ingin berbincang lebih lama denganmu. Itu lebih baik daripada kau berdiri sendirian seperti ini di pinggir jalan. Bagaimana?” Tawar Joongki.

“Ne? Ahh, dwaessoyo oppa! Sebentar lagi Siwon oppa akan datang. Jadi kau sebaiknya pergi saja, ne?!” tolak Yoona.

“Yaa, kau ini. Bagaimana bisa kau mengusirku di saat aku menawarkan diri untuk mengantarmu?! Ahh, ayolah. Aku ingin berbincang denganmu lebih lama. Kedatanganku ke Korea selain mengurus beberapa hal juga karna ingin bertemu dengan sahabat terbaikku, dan itu dirimu. Jadi, biarkan aku mengantarmu pulang.”

“Ahh, mianhae. Tapi aku harus menunggu Siwon oppa. Kita bertemu lain kali saja, ne?”

“Kenapa kau seperti ini? Dulu meski kau sedang menunggu orang sepenting apapun jika aku mengajakmu pergi kau pasti langsung mengikutiku. Tapi sekarang kenapa? Ayolah! Apa kau takut suamimu akan marah?”

“A…aniyeyo. Tidak seperti itu. Aku hanya tidak ingin dia akan khawatir jika dia tidak menemukanku di sini saat dia menjemputku.” Yoona mencoba beralasan. Tapi sebenarnya dia memang takut pada Siwon. Dia takut jika namja itu akan kembali berubah menjadi namja yang menyeramkan jika mengetahui Yoona pulang diantar oleh namja lain.

“Yaak, kau tahu kau tidak bisa mengakaliku dengan alsan seperti itu Im Yoona. Kau kan bisa menelfonnya dan mengatakan kau pulang lebih dulu tanpa menunggunya. Jika kau tidak berani, sini aku yang mengatakannya untukmu.” Joongki mengambil ponsel Yoona yang sejak tadi di genggam gadis itu. Dibukanya log panggilan dan memanggil sebuah kontak yang dia yakini adalah kontak milik Siwon. Yoona sedikit menganga melihatnya.

“Yaak, apa yang kau lakukan? Oppa, andwae!” Yoona mencoba merebut ponselnya kembali tapi Joongki mengelak.

“Yoeboseyo? … Choi Siwon-ssi? … Ahh, ne. Ini memang ponsel Yoona. Aku Song Joong Ki. Kau ingat aku kan? Aku sahabat istrimu. … Ahh, aku hanya ingin mengatakan padamu kalau aku akan mengantar Yoona pulang. Kau sepertinya terlambat menjemputnya. Tidak apa-apa kan? … yeoboseyo? Choi Siwon-ssi? Yeoboseyo? …” Joongki melirik ponsel itu sekilas untuk melihat apa panggilan itu sudah ditutup. Tapi panggilan itu masih berjalan. “Yeoboseyo? Choi Siwon-ssi kau masih disana?”

Yoona memperhatikan Joongki sampai namja itu mengakhiri percakapan dan mengembalikan ponselnya. “Apa yang dia katakan?”

“Dia tidak mengatakan apapun selain menanyakan apa itu ponselmu. Setelah itu dia diam saja. Apa mungkin dia sedang rapat atau tidak mendapatkan signal yang bagus? Ahh, molla. Sekarang lebih baik kau kuantarkan pulang saja. Kakimu bisa kesemutan jika tetap aku biarkan berdiri terus di sini. Kajja!”

Tanpa menunggu persetujuan Yoona, Joongki langsung menarik Yoona untuk naik ke mobilnya. Lalu setelah beberapa saat Joongki pun menjalankan mobilnya meninggalkan tempat itu.

Sepasang mata sejak tadi menatap dua orang itu dengan amarah yang memenuhi kepalanya. Kedua tangannya menggenggam roda kemudi dengan sangat erat sehingga buku-buku tangannya memutih. Tanpa menunggu lama dia pun melajukan mobilnya untuk menyusul mobil yang dipakai Joongki dan Yoona dengan kecepatan tinggi. Yang ingin dia lakukan saat ini adalah menghajar namja yang berani berbincang bersama istrinya, memakai ponsel istrinya untuk menelfonnya dan menarik istrinya masuk ke dalam mobil namja itu. Dia benar-benar akan menghancurkan namja itu dengan sekali pukulan.

~ ~ ~

“Wah, daebak! Kau benar-benar menjadi istri konglomerat sekarang. Kawasan ini benar-benar terisolir dari umum dan hanya dikususkan untuk keluargamu. Aku tak menyangka harus menempuh jarak 250 meter dari gerbang utama menuju rumahmu. Ani, ini bukan rumah tapi mansion mewah.” Joongki terpana saat melihat tempat tinggal Yoona itu. Mereka sudah sampai dan saat itu sedang berdiri di teras. Yoona masih merasa ragu untuk membuka pintu. Sepanjang perjalanan dia tidak bisa tenang mengkhawatirkan respon Siwon.

“Oppa, sebaiknya kau pulang saja!” pinta Yoona hati-hati.

Joongki mengernyit. “Yaah, kau benar-benar keterlaluan. Kau bukannya menawarkanku masuk tapi malah mengusirku!”

“Ani oppa. Aku … aku … aku hanya …”

Belum sempat Yoona menyelesaikan kalimatnya, decit mobil Siwon yang dihentikan dengan tiba-tiba itu langsung mengalihkan perhatian mereka. Mata Yoona membelalak ketakutan saat menyadari raut wajah Siwon yang menyeramkan saat namja itu turun dari mobilnya dan berjalan menghampiri mereka.

Joongki tidak menyadari perubahan ekspresi Yoona. Dia malah tersenyum menyambut kedatangan Siwon. “Ahh, kau sudah datang rupanya. Hi, lama tidak bert …”

BUKKK~~~

Sebuah pukulan langsung mendarat di wajah Joongki dengan kerasnya dan tanpa diduga yang membuat namja itu jatuh tersungkur ke lantai.

Yoona terkejut dan memekik keras melihat kejadian itu. Siwon bahkan masih melanjutkan aksinya dengan kembali memukuli Joongki berulang kali dengan amarah yang meluap-luap.

“Kkumanhae … !!! KKUMANHARAGO …!!!” pekik Yoona keras sehingga Siwon menghentikan pukulannya. Kemudian dia berdiri di samping Yoona dengan masih memandang nyalang ke arah Joongki yang sudah dalam keadaan babak belur. Darah menguncur dari hidung dan bibirnya yang terluka.

Yoona menatap Siwon marah. Memang Siwon sering kali menyakiti orang-orang yang berusaha dekat dengan Yoona, tapi ini pertama kalinya Yoona melihat langsung Siwon memukul orang di depan matanya.

“Kau … kau … APA YANG KAU LAKUKAN???” tanya Yoona sambil berteriak.

Siwon menatapnya dengan tatapannya yang menusuk. Tapi entah mengapa kali ini dia merasa tatapan kemarahan Yoona jauh lebih besar darinya. Tapi dia tidak boleh kalah.

“Kau masih bertanya? Apa kau tidak sadar akan apa yang telah kau lakukan? Kau berselingkuh dariku!!!” Siwon menjawab Yoona dengan suara yang tak kalah tingginya.

“Mwo? Berselingkuh? Yaah, kau kenapa selalu curiga padaku? Siapa yang berselingkuh?”

“Kau masih mau mengelak setelah buktinya ada di depan mataku? Aku sudah berbaik hati memberikan sedikit kelonggaran. Aku tidak terlalu mengekangmu akhir-akhir ini. Tapi apa yang kau lakukan? Kau tidak menungguku menjemputmu dan memilih untuk pulang bersama namja ini. Kalian bahkan bercanda saat di jalan tadi. Apa kau pikir aku tidak melihatnya?… Ya, aku melihat semuanya. Aku baru saja ingin menghampirimu saat aku lihat namja itu turun dari mobilnya dan berbincang denganmu. Kau bahkan tersenyum di hadapannya. Senyum yang tak pernah kau tampakkan padaku. Dan terlebih lagi kau membiarkannya menggunakan ponselmu untuk menelfonku. Lalu kalian pergi semobil berdua. Apa yang kalian lakukan kalau bukan berselingkuh?”

“Siwon-ssi, ini tidak seperti yang kau pikirkan!!! Kenapa pikiranmu selalu sepicik ini terhadapku? Kau benar-benar sudah keterlaluan!”

Yoona menoleh ke arah Joongki yang berusaha berdiri.

“Oppa, gwenchana?” tanya Yoona seraya mendekati Joongki. Dia meringis melihat wajah Joongki yang babak belur seperti itu. Air matanya mengalir merasa ikut sakit hanya dengan melihat luka yang diperoleh Joongki dari pukulan-pukulan Siwon.

Siwon tertawa kecil. Dia langsung menarik Yoona untuk menghadapnya.

“Mwoya? Oppa? Kau memanggilku dengan namaku tapi kau memanggilnya oppa? Yakkk!!!” Siwon hendak menampar Yoona tapi tangannya tertahan di udara karna Joongki dengan sigap menahannya.

“Choi Siwon-ssi, apa yang hendak kau lakukan pada Yoona?” tanya Joongki.

Siwon menepis tangan Joongki dengan kasar. “Bukan urusanmu!” sebuah pukulan lagi mendarat di rahang Joongki hingga namja itu terhuyung mundur beberapa langkah. Siwon mengalihkan perhatiannya ke Joongki dengan penuh amarah. “Kau, berani-beraninya memasuki rumah tanggaku. Mendekati istriku. Kau pikir kau siapa?” Siwon kembali melayangkan tinjunya ke wajah Joongki.

Yoona semakin ketakutan. Melihat Joongki yang sudah babak belur membuatnya tak ingin diam saja. Maka dia pun segera menghampiri Joongki untuk menghalangi Siwon yang ingin memukul lagi. Tapi tanpa disangka saat dia mencoba menahan tangan Siwon, Siwon justru menghempaskannya dengan kuat sehingga Yoona terhuyung beberapa langkah dan karna posisinya yang sudah mendekati tangga teras, salah satu kakinya terpeleset dan membuatnya jatuh berguling di 5 anak tangga keramik itu hingga jatuh ke aspal. Kepalanya terbentur dengan keras sehingga membuatnya merasakan pening yang amat kuat.

“Yoong!!!” pekikan Joongki di dengarnya seperti suara dengungan. Joongki terhuyung-huyung menghampirinya.

Rasa sakit mulai merasuk ke seluruh tubuhnya. Yoona masih berusaha mengejapkan matanya yang rasanya ingin menutup. Di lihatnya Siwon berlari menuju ke arahnya. Tapi Joongki dengan kesalnya meninju lelaki itu.

“Apa yang kau lakukan pada Yoona???” suara hardikan Joongki masih sedikit terdengar di telinganya. Matanya mulai berat. Rasa pening dan sakit itu membuat matanya berkabut hitam sehingga sampai beberapa saat kemudian Yoona tak bisa lagi menahan matanya untuk terbuka. Kesadarannya mulai menghilang.

“Sayang, tolong jangan tutup matamu! Yoong, jebal …!!!” itulah suara terakhir yang didengarnya sebelum akhirnya semuanya sunyi dan gelap. Sebelum akhirnya dia tak sadarkan diri.

Siwon melihat ada darah mengalir dari kepala Yoona. Dia hendak mengangkat tubuh Yoona tapi Joongki langsung mendorongnya.

“Menjauhlah dari Yoona, brengsek!!!” bentak Joongki sambil melayangkan tinjunya yang tepat mengenai rahang Siwon. “Kau bukan manusia. Kau melukai istrimu seperti ini. Kau physocopat!!!”

Joongki benar-benar marah. Rasanya dia ingin membunuh Siwon saat itu juga tapi mengingat keadaan Yoona yang terluka, dia segera mengalihkan perhatiannya ke Yoona. Di angkatnya tubuh gadis itu dan segera membaringkan Yoona ke jok belakang mobilnya. Sebelum dia masuk ke mobilnya, Joongki masih sempat memberikan tatapan sarat akan ancaman ke arah Siwon. Seolah ingin menegaskan agar Siwon jangan pernah muncul lagi di hadapan Yoona. Setelah itu dia melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit.

Author Pov End

***

Siwon Pov

Apa yang telah aku lakukan? Apa yang telah aku perbuat? Kenapa aku seperti ini? Kenapa semua menjadi seperti ini?

Perjalanan menuju ke rumah sakit sudah cukup menyiksaku. Dia tak sadarkan diri. Dia terluka. Dan aku yang telah membuatnya seperti itu!!!

Sesampai di rumah sakit tak ada yang bisa kupikirkan selain langsung menuju ICU untuk mengetahui keadaan Yoona. Meski namja yang bernama Joongki itu mengancamku, aku tidak perduli. Dia bukanlah orang yang bisa menghancurkanku dan aku bukanlah orang yang takut hanya karna ancaman dari namja itu. Maka dari itu aku tetap mengikutinya sampai ke rumah sakit dan melihat Yoona di bawa ke ICU.

Dia sempat menatapku marah saat melihatku ternyata juga ada di sini. Tapi rupanya dia juga butuh perawatan karna luka-luka yang diterimanya setelah aku hajar tadi sehingga seorang perawat langsung menariknya untuk menerima pengobatan.

Sudah 10 menit dokter memeriksa keadaan Yoona sampai akhirnya muncul dan bertanya siapa keluarga pasien. Tentu saja aku langsung maju menghalangi Joongki yang seakan ingin mengajukan diri menggantikanku.

“Saya suaminya, dokter! Bagaimana keadaannya?” tanyaku cemas.

“Istri anda kehilangan banyak darah akibat luka di kepalanya yang ternyata cukup besar. Jadi saat ini kami mebutuhkan donor darah. Sayangnya stok golongan darah B di rumah sakit kami sedang kosong. Kami perlu mengambilnya ke bank darah dulu. Tapi yang mengkhawatirkan kondisi istri anda …”

“Tak perlu harus mengambilnya ke bank darah, dokter.” Sela Siwon memotong kalimat dokter itu. “Anda bisa mengambil darah saya. Golongan darah saya juga B, dokter. Jadi ambillah darah saya sebanyak mungkin sesuai kebutuhan kalian dan tolong selamatkan istri saya!” ujar Siwon cepat.

“Baiklah kalau begitu. Silahkan ikut saya!” aku mengangguk dan mengikuti dokter itu. Setelah harus melewati beberapa tes akhirnya darahku di ambil dan di transfer ke tubuh Yoona melalui selang infus yang tersambung. Yoona terbaring lemah dan pucat di ranjang di seberangku. Matanya tertutup, masih tak sadarkan diri. Dokter-dokter langsung menanganinya dan aku menyaksikan semuanya sendiri bagaimana alat-alat kedokteran yang tajam-tajam itu menyentuh kepala Yoona yang terluka. Rasanya aku ingin membunuh dokter dan perawat itu karna ikut merasa ngeri melihat istriku di lukai dengan peralatan medis mereka. Tapi aku tahu itu demi kebaikan Yoona. Bukan untuk melukainya tapi untuk mengobatinya.

Tuhan, apa yang telah kuperbuat? Aku benar-benar brengsek! Aku memang bukan seorang manusia! Mana mungkin ada seorang namja yang mencintai istrinya tapi malah melukai istrinya seperti itu?!

“Cinta? Apa ini yang kau sebut cinta, Choi Siwon?” umpatku pada diriku sendiri dalam hati.

Ya, aku mencintai Yoona. Sangat mencintai gadis itu. Aku tak ingin kehilangan dia. Aku tak ingin dia pergi dariku.

Aku tahu mungkin Yoona selama ini menganggap pernikahan kami tanpa cinta dan kami bertemu pertama kali pada saat hari pernikahan. Tapi tidak bagiku. Pernikahan ini berpondasikan cintaku bukan hanya karna sekedar perjodohan orangtua.

Aku bertemu dengannya beberapa bulan sebelum pernikahan kami. Saat itu aku terluka karna menjadi korban tabrak lari oleh orang yang memang menjadi sainganku di dunia bisnis. Seperti dia saat ini, aku juga dibawa ke rumah sakit dalam keadaan tak sadarkan diri. Aku juga kehilangan banyak darah dan membutuhkan darah segera sedangkan stok darah sedang kosong. Kata ibuku, ada seorang gadis yang kebetulan sedang membawa ayahnya berobat karna dianfal penyakit jantung, begitu iba melihat ibuku yang menangis sesenggukan dan akhirnya menawarkan diri mendonorkan darahnya untukku. Sehingga akhirnya aku selamat. Setelah aku sadar ibuku menceritakan perihal gadis itu dan aku melihatnya untuk pertama kali yaitu di ruang rawat ayahnya yang masih sakit. Aku hendak mendekat dan mengucapkan terima kasihku tapi entah kenapa aku malah menahannya. Aku hanya memandanginya dari balik pintu. Dan pada saat itu juga aku menyadari hatiku berdesir indah saat melihatnya.

It’s love at the first sight. Pikirku saat itu. Dia yang tanpa mengenalku tanpa ragu menyumbangkan darahnya untuk menyelamatkanku. Itu berarti aku hidup juga karna darahnya telah menyatu di tubuhku. Mulai saat itu aku menyerahkan hati dan pikiranku hanya untuknya. Sehingga aku meminta orangtuaku untuk melamarnya. Mungkin faktor kekuasaan keluargaku di dunia bisnis juga sangat berpengaruh sehingga keluarganya tak perlu waktu untuk memikirkan lamaran itu lagi dan langsung menerimanya. Dunia seakan menjadi milikku saat di mana akhirnya Yoona sah menjadi istriku. Meski dia merasa canggung dan risih karna menikah dengan orang yang tak dikenalnya tapi dia berusaha menjadi istri yang baik untukku.

Hanya saja sikapku yang terlalu arogan membuatku menjadi seperti ini. Aku membuatnya menjadi sebuah obsesi terbesar dalam hidupku. Aku tahu dia tidak mencintaiku meski dia tetap menjadi istri yang baik dan melayani serta menghormatiku. Hal itu menimbulkan ketakutan tersendiri untukku. Aku takut kehilangan dia. Aku takut dia pergi dariku karna dia tidak mencintaiku dan ketakutan itu akhirnya membuatku menjadi begitu posesive. Aku jadi tidak suka dia bergaul dengan siapapun. Aku jadi tidak suka dia pergi keluar rumah tanpa aku. Aku menjauhkannya dari teman-temannya bahkan setelah ayahnya pulih, aku memberikan cabang perusahaan di Jepang untuk keluarganya sehingga mereka pindah ke negara sakura itu dan Yoona jauh dari mereka. Jika saja dia tidak mengancam akan bunuh diri waktu itu, mungkin aku juga mengurungnya tiap hari di rumah karna tidak ingin dia bekerja. Itu semua karna aku terlalu mencintainya.

Tapi kenapa? Kenapa cintaku malah menyakitinya dan mencelakainya seperti ini? Aku memang phsycopat. Aku suami yang jahat. Oh Tuhan, tolong selamatkan dia! Aku menyesal Tuhan! Aku berjanji tidak akan pernah seperti ini lagi asalkan Kau menyelamatkannya Tuhan! Tolonglah beri aku kesempatan untuk sekali lagi meminta maaf padanya secara langsung! Dan bila memang dia sudah tidak menginginkan untuk ada di sisiku, aku akan berusaha melepaskannya! Membebaskannya dari penjara pernikahan yang aku buat di hidupnya! Tolong aku Tuhan! Tolong selamatkan dia!

Aku tak henti-hentinya berdoa hanya untuk keselamatannya. Dulu dia yang telah menyelamatkanku, sekarang giliranku! Jika nanti dia memilih berpisah, setidaknya aku bisa cukup puas karna di dalam tubuhnya kini sedang mengalir darahku. Sama seperti darahnya yang juga mengalir di dalam tubuhku dan menopang hidupku selama ini.

~ ~ ~

Akhirnya setelah menunggu kurang lebih 3 jam, aku bisa melihat matanya mulai terbuka. Dia mulai sadar. Sejak tadi Joongki juga menungguinya. Aku sudah meminta maaf padanya dan menceritakan semua yang kurasakan padanya tanpa ada satupun yang aku tutupi seakan Joongki juga adalah sahabatku. Joongki hanya memberi tanggapan bahwa dia begitu sangat ingin membunuhku mendengar aku telah begitu menyakiti sahabatnya selama ini. Aku juga mengaku padanya kalau aku yang selama ini menghapus semua email yang dia kirimkan pada Yoona karna aku sering begitu terbakar cemburu. Rasanya sekarang hatiku cenderung lebih lega setelah menceritakan semuanya.

Sekarang perhatianku kembali pada Yoona yang mulai membuka matanya. Kugenggam tangannya dengan erat. Dia menatapku. Melihatku untuk pertama kali saat dia sadar.

“Yeobo, gwenchanayo?” tanyaku masih cemas. Tapi dia tidak menjawabku dan malah mengalihkan pandangannya dariku. Bahkan dia menepis tanganku yang menggenggamnya dengan sisa tenanga yang dia punya. Anehnya kali ini aku tidak lagi emosi mendapati hal itu seperti biasanya. Jika dulu aku pasti akan langsung menamparnya saat itu juga.

Dia memandang ke arah Joongki yang berdiri di sisi lain ranjangnya.

“Oppa, bisakah kau membawanya keluar? Aku tidak ingin melihat wajah namja kejam itu lagi di depanku selama hidupku. Tolong usir dia dari sini!” ujarnya yang dengan serta merta menikam hatiku dengan begitu perihnya.

Joongki tampak sedikit kebingungan dengan apa yang harus dia lakukan terhadapku.

“Sebentar … !!! Sebentar saja … Aku ingin … berbicara berdua dengan istriku!” aku memberanikan diri untuk mengatakan hal itu pada Joongki. Namja itu sepertinya mengerti. Dia mengangguk.

“Yoong, mungkin kau sedang marah tapi aku rasa kalian perlu waktu untuk membicarakannya. Aku akan keluar sebentar!” kata Joongki lalu pergi keluar dari kamar rawat meninggalkan kami berdua.

Selama beberapa saat yang ada hanya keheningan. Dia masih tidak mau menatapku. Aku menghela nafas berat.

“Mianhaeyo, Yoong!” kata itu yang memang harus keluar pertama kali dari mulutku. Dia masih diam tak memberikan tanggapan. “Mianhae, jeongmal mianhae Yoong. Aku telah menyakitimu. Aku bersalah padamu. Mianhae … !!! Ani, aku bahkan tidak pantas lagi untuk minta maaf karna selalu menyakitimu. Aku hanya ingin kau tahu bahwa aku melakukan semua ini karna aku sangat mencintaimu. Aku sangat takut kehilanganmu! Aku menyesal, Yoong…!!!”

“Kau sudah sering kali mengucapkannya, Siwon-ssi. Tapi kau sama sekali tidak pernah menunjukkan kalau kau benar-benar menyesal.” Yoona akhirnya mau menanggapiku.

“Yoong, maafkan aku. Aku mulai menyadari kalu tindakanku selama ini salah. Kali ini aku benar-benar menyesal dan berjanji akan bersikap lebih baik, Yoong. Aku tidak akan lagi mengekangmu. Aku tidak akan lagi membatasi pergaulanmu. Aku berjanji akan merubah sikapku, Yoong. Tak bisakah kau memaafkanku dan memberiku kesempatan sekali lagi???”

“Mianhae, aku rasa aku sudah tidak bisa lagi!”kalimat Yoona benar-benar semakin menusuk hatiku. “Mungkin aku bisa memaafkanmu tapi aku tidak bisa lagi bersamamu. Aku merasa sudah di ujung batas kesabaranku. Aku tidak bisa bertahan lagi denganmu. Aku lelah. Sangat lelah bersama denganmu. Selama ini aku bertahan karna aku berharap kau bisa berubah. Setidaknya kau menghilangkan sedikit keposesivanmu padaku. Aku juga memikirkan orang-orang terdekatku yang pasti akan kau sakiti jika aku pergi. Tapi sekarang aku benar-benar sudah tidak sanggup. Aku tidak bisa kembali ke sisimu.Sebagai imbalannya kau bisa langsung menyakitiku bahkan kau bisa langsung membunuhku saat ini. Lebih baik aku mati daripada harus bersamamu lagi. Banyak yang mengatakan kalau aku begitu beruntung karna diperistri oleh seorang konglomerat tapi mereka tidak pernah tahu betapa tersiksanya aku hidup bagai di neraka bersamamu. Jika kau memang mencintaiku, maka aku mohon lepaskan aku. Biarkan aku! Jangan pernah muncul di hadapanku lagi! Atau aku bisa bunuh diri karna saking tersiksanya karna harus melihatmu!!!” ujarnya seakan meluapkan seluruh emosi yang selama ini terpendam di hatinya. Kulihat air mata mulai membasahi pipinya.

Hatiku semakin tercabik. Ternyata dia memang begitu tersiksa. Aku bukannya memberikan kebahagiaan untuknya tapi malah membawanya ke neraka karna hidup bersamaku. Aku adalah orang yang paling ingin melindunginya tapi ternyata justru aku yang membunuhnya secara perlahan. Oh Tuhan, hatiku begitu teriris perih mendengar kaliamt demi kalimat yang baru saja dia ucapkan. Aku tak ingin kehilangannya. Aku mencintainya. Tapi … tapi aku tidak bisa bersikap egois lagi. Aku tidak ingin menyakitinya lebih parah lagi. Aku tidak ingin melukainya lagi. Sudah cukup. Ya, semuanya sudah cukup. Jika aku memang mencintainya, aku memang harus berhenti di sini. Tidak, aku tidak ingin melihatnya lebih terluka lagi.

Aku mendesah pelan.

“Baiklah, Yoong!” ucapku yang membuat dia akhirnya mau menatapku. “Aku … aku akan melepasmu. Aku akan melakukan seperti yang kau mau. Aku minta maaf karna selama ini telah membuatmu hidup seperti layaknya ada di dalam neraka. Aku benar-benar menyesalinya.” Aku mencoba menarik nafas pelan. Mengisi paru-paruku dengan sedikit udara karna rasanya saat ini aku seakan tak bisa bernafas saking beratnya apa yang ingin au katakan.

“Aku sadar aku tidak pantas lagi mendapatkan maaf dan kesempatan darimu. Aku begitu menyiksamu selama ini. Aku … aku tak tahu harus berkata apa lagi untuk mengungkapkan betapa besarnya penyesalanku saat ini. Maafkan aku, Yoong!” aku berdiri dari tempat dudukku. Kucoba tegarkan hatiku menerima kenyataan pahit yang harus aku terima saat ini.

“Aku akan menjauhimu, Yoong jika itu yang kau inginkan. Meski aku masih sangat mencintaimu dan tidak ingin kehilanganmu tapi aku akan melakukannya. Aku akan melakukannya … jadi kau harus hidup dengan baik. Kau satu-satunya wanita yang aku cintai setelah ibuku. Satu-satunya wanita yang ingin aku lindungi sepanjang hidupku. Jadi, jika perpisahan ini adalah satu-satunya cara untuk melindungimu dan membuatmu tetap hidup, maka aku akan melakukannya. Hanya aku tidak akan pernah mengajukan surat cerai untukmu. Jika kau ingin bercerai, kau … kau yang harus mengantarkan lansung surat cerai itu. Aku berjanji takkan menyakitimu dan siapapun lagi. Satu hal lagi yang perlu kau tahu, Yoong. Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu jauh sebelum pernikahan kita. Mungkin bagimu pernikahan kita dijalani tanpa perasaan itu tapi bagiku itu sudah ada sebelum kita menikah. Aku mencintaimu dan aku yakin selamanya aku hanya akan mencintaimu.” Ujarku. Lalu dengan cepat aku menundukkan kepalaku untuk mengecup bibirnya sebelum dia sempat mengelak. Mengecup setiap inci bibirnya untuk terakhir kalinya. Bibir yang akan aku rindukan rasanya selama hidupku. Aku memberanikan diri untuk memperdalam ciumanku dengan melumat bibirnya, menautkan lidahku dengan lidahnya. Dia tidak menolak dan tidak juga membalasnya. Tapi aku sudah cukup puas. Ya Tuhan, aku benar-benar tidak sanggup jika harus kehilangan dia.

Segera kuakhiri ciuman itu. Tanpa aku sadari air mataku mengalir seiring dengan berakhirnya ciuman itu. “Jaga dirimu, Yoong! Saranghae!” ucapku seraya memberi kecupan singkat di keningnya dengan penuh khidmat. Lalu aku segera melangkah keluar dari ruangan itu. Meninggalkan cintaku. Meninggalkan dia yang akan selalu aku cintai agar dia bisa meraih kebahagiaan yang selama ini terhalagi olehku.

Siwon Pov End

***

Author Pov

Sudah sebulan lebih Yoona lepas dari Siwon. Dia tidak lagi tinggal di rumah mewah itu. Dia juga tidak kembali ke rumah orangtuanya yang sudah tidak berpenghuni karna orangtuanya sudah menetap di Jepang. Saat ini dia tinggal di apartement Joongki. Dia berencana pindah setelah dia menemukan apartement lain untuk dia tinggali. Semua barang-barangnya masih berada di rumah Siwon. Yoona lebih memilih membeli barang-barang baru daripada dia harus pergi ke rumah yang dulu serasa penjara baginya. Mengenai perceraian, dia akan segera mengurusnya.

Yoona merasa mulai mendapatkan kebebasan lagi. Dia cukup senang dengan keadaannya saat ini. Tak ada lagi ketakutan karna diintimidasi oleh seorang suami yang posesive. Dia mulai bisa menikmati hari-harinya yang kini bisa sedikit melegakan. Tapi entah mengapa dia merasa ada yang kurang. Terkadang dia merasa merindukan sikap lembut itu. Merindukan perhatian dari orang itu?

Yoona menggeleng-gelengkan kepalanya. Mencoba menepis perasaannya. Disesapnya vanila latte yang mulai dingin. Lalu melirik arlojinya sepintas.

“Mianhae Yoong, aku terlambat!” kata Joongki yang langsung mengambil tempat duduk di hadapan Yoona. Namja itu terengah-engah seperti habis berlari. Diteguknya sisa vanila latte dari cangkir Yoona hingga tandas.

“Kau memang tidak pernah tepat waktu. Jadi aku tidak heran lagi. Ayo kita pergi sekarang. Aku merasa sedikit lelah hari ini, jadi ingin cepat-cepat beristirahat.”

Joongki mengangguk. “Arasso. Kajja!” Joongki berdiri dan menggandeng tangan Yoona keluar dari caffe itu.

Mereka menuju ke sebuah toko perhiasan seperti yang telah mereka rencanakan sebelumnya.

“Selamat datang!” sapa seorang pramuniaga toko perhiasan itu ramah. Yoona dan Joongki membals dengan ramah dan segera menghampiri pramuniaga itu.

“Ada yang bisa saya bantu?” tanyanya.

“Ne. Kami sedang mencari cincin pernikahan dengan desain simple tapi elegan.” Joongki mengutarakan maksud kedatangan mereka.

Pramuniaga cantik itu mengangguk lalu menunjukkan beberapa desain cincin pernikahan yang terpajang di etalase. “Ini adalah desain-desain terbaru kami.”

Yoona dan Joongki memperhatikan beberapa pasang cincin itu.

“Menurutmu mana yang paling bagus, Yoong?” tanya Joongki meminta pendapat. Yoona meneliti cincin-cincin itu lalu akhirnya tertuju pada sepasang cincin berlian dengan struktur yang cantik dan arsitik.

“Aku pikir yang itu sangat cantik.” Katanya sambil menunjuk sepasang cincin itu. Gadis paramuniaga itu mengambilkan cincin itu untuk memperlihatkannya dengan jelas.

“Ahh, rupanya Nyonya punya pengihatan yang sangat bagus. Ini adalah cincin terbaru dengan desain seorang desainer perhiasan terkenal dari Paris.” Ujar pramuniaga itu.

Joongki mengambil cincin untuk wanita dan dipasangkannya di jari manis Yoona. Lalu dia mengambil cincin pria dan memasangkannya di jarinya.

“Wuah, ini benar-benar cantik. Aku rasa ini sangat cocok! Ukurannya juga sangat pas.” Kata Joongki seraya mengamati cincin itu.

Yoona mengangguk. Lalu setelah beberapa saat mengamati cincin itu ditangannya dia pun melepasnya. Begitupun halnya dengan Joongki.

“Kami ambil yang ini.” Kata Joongki pada pramuniaga itu lalu menuliskan sebuah note untuk menambahkan inisial nama di dalam cincin itu pada sang pramuniaga bersama dengan kartu debitnya untuk pembayaran.

“Wedding dressnya bagaimana?” tanya Yoona.

“Hari ini akan diantar ke apartemen.” Jawab Joongki singkat.

Hanya butuh waktu 5 menit proses pembayaran selesai dan pramuniaga itu mengembalikan kartunya.

“Barang anda bisa di ambil besok, Tuan!”

Joongki mengangguk. “Baiklah! Terima kasih!”

Pramuniga itu menunduk formal “Ne, kamsahabnida! Terima kasih atas kunjungan anda!”

Joongki dan Yoona keluar dari toko perhiasan itu. Tanpa mereka sadari Siwon sejak tadi mengikuti mereka. Tidak, lebih tepatnya mengikuti Yoona. Dia begitu merindukan yeoja itu. Tapi ternyata kenyataan yang dia dapat begitu menyakitkan. Yoona, yeoja yang dia cintai akan menikah dengan Joongki. Mereka akan menikah. Dan sebentar lagi dia pasti akan menerima gugatan cerai dari Yoona.

“Tuhan, apa aku akan sanggup?”tanyanya dalam hati.

~~~

“Kau baik-baik saja, Yoong? Aku merasa wajahmu sedikit pucat?!” tanya Joongki saat mereka sampai di apartement. Sejak tadi dia perhatikan wajah Yoona memang terlihat pucat.

Yoona menghempaskan dirinya di sofa. “Molla. Aku juga tidak tahu oppa. Sejak tadi aku merasa tidak enak badan. Kepalaku terasa pusing dan aku juga sedikit mual.” Keluh Yoona.

“Benarkah?”

“O. Apa kau punya obatnya?”

“Aku harus memeriksamu dulu sebelum memberimu obat.” Joongki segera mengambil perlengkapan medisnya yang terletak di laci sebuah rak yang ada di ruang tamu itu. Lalu kembali duduk di samping Yoona dan mulai memeriksa keadaan yeoja itu dengan stetoscopenya dan memeriksa yang lainnya dari fisik Yoona yang sama sekali tidak dimengerti Yoona (#aku juga gk ngerti -__-).

Joongki melepaskan stetoscopenya. “Aku rasa kau sedang hamil, Yoong!”

Serta merta Yoona terkejut mendengar kalimat itu. “Mwo? Hamil?” tanyanya ingin memastikan.

“O. Sepertinya kau sedang hamil. Apa periodemu sudah lewat?”

Yoona berpikir sejenak. Lalu meraih kalender yang terletak di meja. Dia melihat sekilas urutan tanggal-tanggal itu, dan …

“Aku … Aku … Aku sudah terlambat 18 hari.” Kata Yoona lemas. “Aku akan memastikannya dulu.” Lanjutnya lalu segera berlari keluar apartement. Dia pergi ke sebuah apotik yang letaknya memang tak jauh dari apartement itu. Lalu kembali masuk ke apartement 10 menit kemudian. Langsung menuju kamar mandi untuk menguji kebenaran dari keadaannya saat ini.

 

“Oh Tuhan … Aku … aku benar-benar … hamil!” ucapnya sambil menatap 3 buah testpack yang semuanya menunjukkan tanda positif.

Dia hamil. Dia mengandung sebuah janin di rahimnya. Secara refleks Yoona menyentuh perutnya yang masih rata. Di dalam sana telah tumbuh janin. Hasil hubungannya dengan Siwon, suaminya. Tapi mereka sudah berpisah. Sekarang apa yang harus dia lakukan?

“Yoong, gwencahana?” tanya Joongki dari luar. Dengan langkah gontai Yoona keluar dari kamar mandi dan kembali duduk di samping Joongki.

“Aku … aku benar-benar hamil.” Ucapnya lirih.

Joongki tersenyum. “Kau harus mengatakannya pada Siwon!”

Sontak Yoona langsung menatap Joongki. “Kenapa aku harus mengatakannya padanya?”

“Karna dia berhak tahu, Yoong! Bukankah itu buah cinta kalian?”

“Ani.” Yoona buru-buru menyanggah. “Ini memang anak Siwon tapi bukan buah cinta kami. Aku tidak pernah mencintainya.”

“Jinjja? Aku tidak berpikir seperti itu. Aku malah merasa kau mencintainya.”

“Oppa???” Yoona menatap Joongki kesal.

“Jangan membohongi dirimu sendiri, Yoong! Kau tahu kau tidak bisa berpura-pura di hadapanku. Kau mencintainya, Yoong. Kau mencintai suamimu! Aku bisa melihatnya dari matamu, Yoong. Aku juga sering mendapatimu termenung dan menangis. Itu pasti karna kau sedang mengingatnya. Kau hanya sedang mencoba mengelak dan menolak perasaan yang timbul di hatimu. Aku tahu kau merindukannya, Yoong!”

“Itu tidak benar, oppa!” sangkal Yoona keras kepala.

“Apanya yang tidak? Jika memang kau tidak mencintainya kau tidak mungkin masih menyimpan fotonya di ponselmu. Jika kau tidak mencintainya kau pasti sudah menghapus nomornya dari ponselmu atau mungkin mengubahnya. Jika kau tidak mencintainya, mana mungkin kau menerima sentuhannya apalagi bertahan dengannya selama hampir dua tahun. Bahkan saat ini kau masih mengenakan cincin pernikahan kalian yang kau samarkan menjadi liontin kalungmu itu.”

“Itu karena aku …”

“Jangan mengatakan kalau alasanmu adalah karna kau ingin melindungi orang-orang terdekatmu!” Joongki menyela kalimat Yoona. “Aku tidak akan terlalu mempercayai alasan itu. Mungkin benar, kau memang ingin melindungi orang-orang itu tapi sebenarnya dibalik itu kau menutupi perasaanmu yang memang ingin bersamanya. Mungkin Siwon orang yang arogan dan posesive, tapi itu karna dia terlalu mencintaimu Yoong. Dia mencintaimu jauh sebelum kalian menikah. Dia hanya keliru mengapresiasikannya padamu.”

“Oppa ???”

“Dia mungkin salah Yoong. Tapi dia sudah menyesalinya dan aku rasa kali ini dia bersungguh-sungguh. Buktinya dia mencoba merelakanmu. Dia tidak lagi mengekangmu. Dia sudah menyadari kesalahannya, Yoong dan aku tahu di dalam hatimu kau sudah memaafkannya. Kau selalu memafkannya. Jadi berikanlah dia kesempatan, Yoong. Aku yakin kali ini dia akan mencintaimu dengan cara yang benar. Apalagi sekarang sudah ada janin yang kau kandung. Dia pasti akan lebih mengontrol dirinya.”

“Kenapa kau menjadi berpihak padanya, oppa?”

“Aku tidak berpihak padanya. Aku hanya mengatakan apa yang harus aku katakan. Kau tidak tahu betapa menyesalnya dia saat melihatmu terluka hari itu. Dia juga seperti ikut terluka, ikut sakit saat melihatmu seperti itu. Kau kehilangan banyak darah dan dia langsung menolongmu. Saat kau belum siuman, aku melihatnya berkali-kali mengusap air matanya dan berharap agar kau cepat sadar. Dia juga meminta maaf padaku dan menceritakan semuanya. Semua yang dia rasakan dan akhirnya kalau dia sadari rasa cintanya sedikit ditujukkan dengan cara yang salah. Dia tak henti-hentinya bergumam dan berdoa. Bahkan dia berjanji akan menuruti semua yang kau minta asalkan kau cepat sadar meski permintaanmu adalah hal terburuk yang tak paling tidak ingin dilakukannya.” Ujar Joongki panjang lebar. Yoona menganga mendengar semua itu. Sebenarnya tanpa dijelaskan Joongki pun, Yoona tahu dengan jelas kalau Siwon mencintainya. Dia bisa merasakannya hal itu baik di saat Siwon dalam keadaan mood yang baik ataupun buruk. Dan sikap Siwon itu sedikit demi sedikit merasuk ke dalam hatinya. Mengisi hatinya dengan sosok namja itu. Tapi karna acap kali menerima perlakuan yang sedikit kasar dari Siwon, perasaannya itu tertutupi dengan rasa tertekan.

“Yoong, temuilah dia. Berikanlah dia kesempatan sekaligus dirimu sendiri. Kesempatan untuk menujukkan perasaan kalian dengan cara yang benar. Saling memberi dan menerima cinta dengan benar. Demi kalian, demi pernikahan kalian, dan demi janin yang sedang kau kandung, Yoong! Tuhan saja selalu memberikan kesempatan kepada setiap manusia, kenapa kita yang hanya manusia tidak bisa memberikan kesempatan kepada orang lain? Terutama pada orang yang kita cintai.” Joongki mencoba memberi sebuah keyakinan pada Yoona.

Yoona merenungi kalimat-kalimat Joongki yang dirasanya memang benar. Dia mendesah perlahan. “Oppa, bisakah aku meminjam mobilmu?” tanyanya kemudian yang membuat Joongki mengernyit. “Aku harus pulang ke rumah suamiku untuk membahas hal ini dengannya. Nanti aku akan menyuruh orang untuk mengantarnya kembali.” Lanjutnya tersenyum. Joongki ikut senang mendengar hal itu. Dia pun langsung memberikan kunci mobilnya pada Yoona.

“Gomawo!” Yoona memeluk Joongki dengan penuh perasaan terima kasih. Di sambarnya tas tangannya yang terletak di meja lalu segera berlari keluar apartement.

Ya, dia sudah memutuskan akan memberikan kesempatan lagi untuk Siwon, untuk dirinya sendiri, untuk pernikahannya. Kali ini dia akan pastikan tidak akan ada yang salah. Lagipula dia memang mencintai Siwon. Entah sejak kapan yang jelas dia memang merasa cintanya ada untuk Siwon. Itulah dia merasa akhir-akhir ini serasa lebih sulit bernafas daripada dia terkungkung saat bersama Siwon dulu. Dia merasa sesak karna merindukan namja itu. Merindukan pelukan dan sentuhan namja itu di tubuhnya. Merindukan wajah namja itu yang meski sering terkesan dingin. Merindukan segala sesuatu tentang namja itu. Dia merindukan suaminya, Choi Siwon.

***

Siwon melangkah gontai masuk ke dalam rumahnya. Hari ini dia merasa lemah. Lebih tepatnya hatinya yang terasa lemah karna seakan telah banyak mengeluarkan darah setelah ditikam berkali-kali di tempat yang sama. Kenyataan yang dia dapat hari ini setelah mengikuti Yoona, begitu terasa menyakitkan. Yoona akan menikah lagi. Dia sempat melirik jemari Yoona sewaktu di toko perhiasan itu. Tak ada cincin pernikahan darinya. Yoona sudah melepasnya. Dan mungkin sebentar lagi surat cerai akan diantarkan kepadanya. Kenapa mengingat hal itu begitu menyakitinya?

Suara decit mobil yang berhenti di depan rumahnya menarik perhatiannya. Dia menoleh melihat mobil itu. Mobil Joongki. Siwon mengenalinya. Beberapa saat kemudian dia sedikit terpana karna yang keluar dari mobil itu bukanlah Joongki. Tapi melainkan sosok yang sedang dipikirkannya saat ini. Istrinya, Im Yoona. Benarkah?

Tapi sedetik kemudian Siwon merasa sedikit was-was. Bertanya-tanya apa maksud kedatangan Yoona saat ini. Apa yeoja itu mengantarkan surat cerai untuk dia tanda tangani? Dalam hati dia berdoa semoga itu tidak akan terjadi.

Yoona mulai berjalan perlahan menghampirin Siwon yang masih berdiri mematung di dekat pintu yang terbuka. Wajah namja itu terlihat sedikit lesu dan kusut. Ada raut kesedihan jelas terpancar di balik wajah yang menawan itu.

Saat itu Siwon sedang berkutat dengan perasaannya. Ingin rasanya dia langsung menarik Yoona ke dalam pelukannya. Mencurahkan segala kerinduan pada sosok wanita itu. Tapi dia dengan sekuat hati menahannya.

“Apa … ani … kenapa … kenapa kau kesini?” tanya Siwon akhirnya setelah mereka hanya terdiam selama beberapa saat meski sudah saling berhadapan. Entah kenapa dia merasa itu pertanyaan paling bodoh yang pernah dia ajukan.

Yoona menarik nafas dalam lalu menghembuskannya perlahan.

“Aku … aku kesini … hmm, aku kesini untuk mengatakan bahwa …”

“Kau pasti ingin membahas soal perceraian.” Sela Siwon tanpa membiarkan Yoona menyelesaikan kalimatnya. “Aku sudah menduganya, Yoong. Baiklah, aku akan menurutinya. Mana surat-surat yang harus aku tangani? Kau pasti sudah tidak sabar ingin menikah lagi bersama kekasihmu. Chukkae!”

Bodoh. Siwon merutuki dirinya sendiri dalam hati menyadari ucapannya yang terasa begitu angkuh dan bertolak belakang dengan apa yang diinginkannya.

Yoona mengernyit. “Perceraian? Apa kau begitu menginginkannya?” tanya Yoona. “Aku datang kesini dengan sisa-sisa keyakinan yang kumiliki bahwa kau mencintaiku. Tapi ternyata … aku malah di sambut dengan pertanyaan perihal perceraian! Aku rasa aku telah salah memutuskan datang kesini untuk memberi kesempatan lagi pada pernikahan kita.”

Siwon terbelalak mendengar perkataan Yoona itu.

“Mworagoyo? Barusan apa yang kau katakan? Kau kesini bukan untuk membahas perceraian tapi … apa?” Siwon ingin memastikan pendengarannya.

“Aku … aku ingin memberikan kesempatan untuk pernikahan kita. Karna … karna aku merasa … aku merasa aku mencintaimu.” Ucap Yoona lirih.

Siwon menganga. Tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

“Mwo? Kau bilang apa? Kau … kau mencintaiku? Katakan sekali lagi, eo? Aku tidak salah dengar kan?” Siwon memberanikan diri untuk menangkup wajah Yoona agar menatap langsung ke matanya.

“Ne, aku mencintaimu. Aku mencintai namja arogan dan posesive yang sedang berdiri di hadapanku. Aku mencintai suamiku. Aku mencintaimu Choi Siwon!!!” ungkap Yoona dengan air mata yang mulai mengalir. Siwon masih merasa tidak percaya dengan apa yang didengarnya.

“Tapi bukankah kau akan menikah dengan Joongki? Aku bahkan melihat kalian memesan cincin pernikahan bersama tadi. Bukankah itu karna kau akan menikah dengannya dan menceraikanku?” tanya Siwon ingin tahu.

Yoona menggeleng pelan. “Ani. Itu bukan untuk pernikahan kami. Kenapa aku harus menikah dengan Joongki oppa sedangkan aku mempunyai suami yang begitu mencintaiku?”

“Tapi tadi …”

“Kami memang memesan cincin pernikahan tapi itu bukan untukku. Itu untuk pernikahan Joongki oppa dengan kekasihnya. Bukan aku. Aku hanya ingin menikah sekali seumur hidupku dan aku sudah memilih untuk menikah denganmu. Hanya denganmu, oppa. Aku tidak ingin bercerai denganmu. Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu!”

“Jeongmal? Kau benar-benar mencintaiku?”

Yoona mengangguk. Dan tanpa disangka Siwon langsung melumat bibirnya tanpa tanggung-tanggung. Meluapkan segala kerinduan dan cinta yang ada di hati namja itu untuknya. Menggoda lidahnya dengan ciuman hangat yang memabukkan dan dalam. Ciuman yang juga sangat dirindukannya.

Lama mereka berciuman sambil memeluk erat. Saat Siwon mengakhiri ciuman itu nafas mereka sedikit terengah-engah karna saking dalamnya ciuman itu. Dahi mereka saling menempel satu sama lain. Tanpa di sangka mata Siwon tertuju pada liontin kalung yang di pakai Yoona. Dia sangat mengenal liontin itu. Itu adalah cincin pernikahan mereka.

“Aku pikir kau sudah melepas dan membuangnya!” ujarnya seraya menyentuh cincin yang menggantung di dada Yoona.

Yoona tersenyum lalu melepas kalung itu dan mengeluarkan cincin dari rantai kalungnya. Di serahkannya cincin itu ke tangan Siwon yang membuat namja itu mengernyit kebingungan.

“Kenapa kau menyerahkannya padaku? Bukankah kau harus kembali memakainya? Tidak akan ada perceraian kan?” tanya Siwon beruntun. Yoona tersenyum sambil menggeleng. Dia lalu menjulurkan tangan kirinya ke arah Siwon.

“Tidak akan ada perceraian selama kau berjanji akan sedikit merubah sikapmu yang posesive itu. Kau tahu di mana kan tempat cincin itu berada, oppa? Kau harus memasangkannya dengan benar di sana.”

Senyum merekah di wajah Siwon. Senyum yang sangat menawan dan bahagia yang baru kali ini dilihat Yoona dengan jelas.

“Aku, Choi Siwon berjanji akan menjadi suami yang lebih baik dan akan selalu percaya pada cintaku maupun cinta istriku kepadaku seumur hidupku.” Ucapnya seraya memasangkan cincin pernikahannya kembali ke jari manis kiri Yoona.

Mereka tersenyum. Lalu Yoona mengeluarkan sebuah benda dari sakunya dan menyodorkannya pada Siwon.

“Apa ini?” tanya Siwon tidak mengerti.

“Aku hamil.” Jawab Yoona singkat. Siwon terpana.

“Jinjja? Jinjja jinjja jinjja?” tanyanya begitu girang. Yoona mengangguk.

Serta merta Siwon langsung merengkuh tubuh Yoona ke dalam pelukannya. Memutar-mutar tubuh istrinya dalam pelukannya. Dia begitu gembira mendapati kenyataan ini. Selain Yoona kembali dia juga akan menjadi seorang ayah. Ahh, ini benar-benar begitu menggembirakan.

“Yoebo, gomawo! Kurigu, saranghanda!” di kecupnya singkat bibir Yoona.

“Nado saranghae, oppa!” balas Yoona.

Siwon kembali memeluk Yoona. “Apa tidak sebaiknya kita mempercepat tumbuhnya janin itu? Aku ingin menyentuhmu lebih dari ini. Lebih dalam dari ini! Aku merindukanmu, Yoong! Aku tidak ingin menahannya lagi!”

Yoona mengerti dengan apa yang dimaksud suaminya itu. Diusapnya pipi suaminya dan dengan perlahan dia mengangguk. “Kalau begitu jangan di tahan, oppa!” jawabnya memberi persetujuan.

Tanpa menunggu waktu lama Siwon langsung melumat bibir Yoona lagi. Di tariknya tubuh istrinya ke dalam pelukannya dan menggendong tubuh mungil itu dari depan tanpa melepas ciumannya. Pintu di tutupnya dengan kaki sehingga terkunci otomatis. Lalu dibawanya Yoona yang ada dalam pelukannya itu menuju ke kamar tidur mereka.

Yoona mengetatkan pegangannya di leher Siwon dan membalas setiap pangutan dan lumatan Siwon dengan sepenuh hati dan cintanya.

Mereka mengayungi samudra cinta yang penuh gairah malam itu. Meluapkan perasaan masing-masing yang memang tercipta untuk satu sama lain dan saling melengkapi. Cinta yang tumbuh dari berbagai sakit dan luka serta kemarahan dan kecemburuan. Menggantinya dengan kenikmatan dan kebahagiaan yang mereka rengkuh dengan penuh gairah.

***

One mouth later

Suasana pesta begitu meriah di hadiri oleh banyaknya tamu undangan. Hari ini Tuhan kembali mempersatukan banyak pasangan yang saling mencintai dan salah satunya adalah pasangan yang baru saja selesai mengikrarkan sumpah cinta yang sakral di hadapan Tuhan melalui ikatan pernikahan. Yoona tersenyum bahagia melihat kebahagiaan yang dirasakan oleh kedua mempelai yang sedang berciuman di altar setelah pendeta menyatakan pasangan itu telah sah menjadi suami istri. Dulu dia mungkin tidak merasa sebahagia itu saat hari pernikahannya, tapi sekarang pernikahan itu telah membuahkan kebahagiaan yang manis di hidupnya.

“Apa kau iri dengan mereka karna kau tidak merasakan kebahagiaan seperti itu saat hari pernikahan kita?” tanya Siwon lirih seraya merangkul pinggang Yoona dengan posesive. Yoona menoleh dan menggeleng.

“Ani. Aku sama sekal tidak iri. Pernikahan kita mungkin saat itu jauh dari bayanganku tapi saat ini yang terpenting aku bahagia. Aku mendapatkan suami yang baik, tampan dan begitu mencintaiku dalam hidupnya. Dan aku merasa beruntung akan hal itu.” jawab Yoona seraya tersenyum manis.

Siwon ikut tersenyum. “Aku juga beruntung bisa memilikimu kembali, yeobo!”

“Aku mencintaimu, suamiku!”

“Aku lebih mencintaimu!” balas Siwon lalu mengecup bibir Yoona singkat.

Yoona mencubit perut suaminya pelan. “Yaak, ini pernikahan Joongki oppa. Kenapa kau juga malah menciumku di sini?”

“Ahh, wae? Aku mencium istriku. Apa yang salah dengan itu?”

“Aissh, apa kau tidak malu? Di sini banyak orang, oppa!” jawab Yoona risih karna ada beberapa orang yang sempat memperhatikan mereka.

“Ahh, benar juga. Baiklah, aku akan menciummu lagi setelah kita sampai di rumah dan takkan membiarkanmu tidur sepanjang malam ini. Kita akan mempercepat pertumbuhan anak kita di dalam.” Bisik Siwon menggoda. Semburat merah muncul perlahan di kedua pipi Yoona.

“Aissh, oppa …!!!”

Siwon tergelak pelan melihat wajah istrinya itu.

“Hi, Yoong!” sapa Joongki saat dia dan istrinya sudah berada di dekat Yoona dan Siwon.

“Kau juga harus menyapaku jika ingin menyapa istriku. Kau tahu kan aku orang yang seperti apa?!” Siwon memasang tampang dinginnya. Joongki tersenyum lalu memukul pelan lengan Siwon.

“Yaak, kau sudah tidak cocok memasang tampang seperti itu.” Kata Joongki.

Siwon kembali tersenyum lalu merangkul Yoona lagi. “Chukkae!!!” ucapnya tulus pada Joongki.

“Oppa, chukkae.” Yoona ikut memberi selamat pada Joongki lalu pandangannya beralih pada yeoja bule yang berdiri di samping Joongki. Yeoja itu bernama July Fransisca Smith, yeoja berkebangsaan Inggris yang telah dikencani Joongki selama 2 tahun terakhir ini hingga akhirnya mempersunting gadis itu menjadi istrinya. Tampak cincin pernikahan yang beberapa waktu lalu sempat dipilihkan Yoona telah melingkar di jari manis tangan kiri wanita itu. “July, happy weeding. May your marriage with my best friend always be happiness.” Tambah Yoona pada July.

Gadis itu tersenyum. “Thank you, Yoona. I also wish the same for you.”

Yoona mengangguk. Dia lalu menatap Siwon dengan penuh kasih. Ya, sekarang pernikahan mereka akan menjadi pernikahan yang membahagiakan. Cinta itu kian tumbuh merekah sehingga mengikis berbagai sakit dan luka yang pernah terjadi dalam pernikahan mereka. Mereka kini saling percaya dan saling menguatkan. Suaminya yang posesive telah berubah menjadi lebih penyabar dan lebih lembut bahkan sudah sering tersenyum dan bercanda dengannya. Dia pun telah berubah menjadi istri yang benar-benar mencintai suaminya dengan sepenuh hati. Mencoba mengerti kedalaman cinta Siwon untuknya.

Mereka berdua akan hidup bahagia sekarang. Kalaupun nanti akan ada badai yang mengguncang kehidupan mereka, mereka akan berupaya sekuat mungkin untuk mengatasinya bersama dengan kekuatan cinta mereka. Lagipula apa arti cinta tanpa rasa sakit? Rasa  cemburu juga merupakan hal yang menunjukkan cinta. Cinta jika tidak pernah ada kecemburuan, maka bukan cinta namanya. Bukankah cemburu adalah tanda cinta? Asal kecemburuan itu tidak terlalu berlebihan dan mengalahkan cinta kita.

Yoona bersyukur dia sudah melewati saat itu. Sekarang waktunya dan Siwon untuk merengkuh kebahagiaan dari pernikahan mereka. Akan saling mencintai dengan cara yang benar sampai akhir hayat mereka dan juga membesarkan anak-anak mereka nanti dengan penuh cinta dan kasih.

***

FIN~~

 

Author said :Fiuh, done done done !!! akhirnya bisa menyelesaikan OS ini. Sebenarnya aku nggak kepikiran bisa buat ff dengan karakter Siwon yang seperti ini. Tapi ide itu udah nangkring aja dan begitu lancar bak air yang mengalir dari otakku #lebay.

                          Ok, so, bagaimana pendapat kalian? Pasti gaje banget ya? Alurnya juga seperti nggak teratur. Yah, mau gimana lagi. Saya hanyalah seorang penulis amatir yang ingin menghibur kalian para peminat ff YoonWon. Jadi aku berharap kalian nggak akan pelit memberikan komentar atas ff yang satu ini. Yach yach yach??? HARUS KUDU WAJIB RCL loh … !!!

                          Di atas juga sempat nyempilin sii aunty July (pasti senyam-senyum tuch anak sekarang di jadiin istrinya Joongki). Hohoho ^o^

 

Buat Echa atau Resty yang udah mau publish ff ku lagi, aku nggak bosan-bosan berterima kasih pada kalian. Karna kalian aku bisa berbagi apa yang ada dalam imajinasiku kepada Niteds or reader YWK yang tersayang. Thank you sista #hug ^^ sama2🙂 #hugback

 

Tika Pink ^^

Tinggalkan komentar

229 Komentar

  1. nur khayati

     /  November 24, 2014

    Siwon cinta mati sama Yoona, tp cara.a tuh salah bgt,
    jd kasian sama Yoona n orang2 d dkat.a Yoona,,
    Trnyata Siwon udah lama suka sama Yoona,,
    Akhir.a Yoona hamil,,
    Happy ending
    Semangat buat nulis.a Chingu

    Balas
  2. aldiana elf

     /  Januari 6, 2015

    siwon bersikap kayak gitu soalnya dia terlalu mencintai yoona
    soswett

    Balas
  3. mia rachma

     /  Januari 8, 2015

    kirainnn siwon jahat. ternyata dia kayak gituu gara2 cinta mati ma yoona. so sweet……….

    Balas
  4. Hah, panjang sekale,😀 pas eonni post judul ff mu di fb aku langsung buka ff os ini, dan ternyata wahh daebakk siwon kasar binggou, dan aku kira young yang akan nikah sama joongki, eh ternyata joongly,😀 chukkae joongly wkwkwkw😀

    Ff nya keren banget, membuat aku emosi sama siwon karna terlalu kasar sma young! Tapi akhirnya bisa bernafas lega krn happy end!😀

    Balas
  5. kadang cinta diungkapkan dengan cara yang salah….
    tapi menyadari kesalahan dan mencoba memperbaikinya itu sangat mengagumkan….
    yoonwon forever

    Balas
  6. Hikss untung happy ending😀

    Balas
  7. Dirin panggaliningtyas

     /  Maret 6, 2015

    Akhirnya happy ending:-*…
    Keren bgt,kayak berasa real gitu:-)…
    Sempet sebel ama sifatnya wonpa yg terlalu over protektiv+posesive bgt ama yoong eon sampek segitunya,wonpa cinta mati bgt ama yoong eon…
    Tapi suka bgt ama karakter semua tokoh terutama karakternya wonpa,sampek ak ngerasa ikut sebel ama wonpa hehe:-D…
    Gomawo ne eon udah buat ff YW yg keren,dan buat Ff YW lagi ne eon,FIGHTING:-)…

    Balas
  8. yoongtae

     /  Agustus 5, 2015

    Waahhh… akhirnya hepi ending…..

    Balas
  9. Awalnya agak gak suka ma sikapnya siwon mungkin karna terlalu mencintai yoona jd dia melakukan itu walaupun dg cara yg salah..
    Ahh akhirnya happy ending..
    Di.tunggu ff yg lainnya yg bagus dan keren..

    Balas
  10. nytha91

     /  September 3, 2015

    bikin kelanjutannya dong thor…hehehe

    Balas
  11. ambar.syw

     /  November 3, 2015

    갸~~~ seleraku banget ini.. dan tetap hnya 1 hal kurang, kau tau kan.. kurang panjaaaaang! yah, krna emang 1S juga sih, hehe. sbnrnya agak kurang tertarik baca ff 1S, tpi krna pas dibaca” ceritanya benar” seleraku bnget, jadi yah.. dilanjutin smpe akhir ㅋㅋㅋ tpi kok ketemu lgi yah sama siwon oppa yg karakternya gini banget ㅜㅜ kasihan yoongku, kdrt nya.. omg!! untungnya sih happy end^^~

    Balas
  12. mawadah

     /  November 14, 2015

    sumpah keren bgt ff ya
    mengharukan bgt cerita ya
    siwon oppa sebenarya baik
    tapi dia gk bisa mengekspresikan perasaan ya
    jadi ya yoona eonnie salah paham deh
    tapi seneng mereka bisa beraatu lagi

    Balas
  13. susi

     /  November 29, 2015

    Awalnya siwon nya emang keterlaluan..
    Dia emang udah kaya psyco aja sering ngebentak yoona kasarb banget dan jugabanget sering main tangan, duuuh kasian banget yoona nya,,
    Saking cinta nya siwon sama yoona ampe segitunya, dia menunjukkan cintanya dengan cara yang salah..
    Untung aja dia akhirnya sadar dan mau berubah dan mau memperbaiki cara dia menunjukkan bahwa dia sangat mencintai istrinya..^^

    Balas
  14. Waw keren ihh ffnya akhirnya mereka berdua bersatu kembali^^

    Balas
  15. Wahh kirain tadii yoong onnie mau nikah ama joongki oppa,, ternyataa nggak.. suka suka suka kereeen ffnya!! And happy ending🙌😂😂

    Balas
  16. diah fibri

     /  Januari 28, 2016

    daebak karena cinta bgt dan takut kehilangan makanya choi siwon jd posesif bgt sm yoona, tp krn sikap yg berlebihan itu jd fatal bwt kehidupan pernikahan mereka …. keren bgt ceritanya , keep fighting ya thor utk bwt ff berikutnya …. HWAITIING.

    Balas
  17. YoongNna

     /  Februari 8, 2016

    Yeee Akhrnya happy ending juga dan yoona ma siwon segera memiliki ank..
    Untng siwon sadar dg sifat posesivnya pd yoona malah bkin pernkahannya jd berntkan dan skrg mreka bsa rukun dan bahagia..

    Balas
  18. sahwa purem

     /  Agustus 4, 2016

    kreenn kok crta nya, happy ending walau awalnya agak keras,tpi akhirnya bahagia

    Balas
  19. Aigoo siwon….greget deh… suka ceritanya, puanjang lagi..akhirnya happy ending

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: