[OS] Our Love

 PicStory-2013-05-13-07-54

 Our Love by Uchie  ||  Cast : Im Yoona , Choi Siwon , Kwon Yuri , Cho Kyuhyun  ||  Genre : Drama , Romance , Sad  ||  Type : OS (One Shoot: 4422words)  ||  Rate : Mature  ||  Disclaimer : Inspiration from comic, novels and some of the FF i have ever read. But the plot and story are pure from my mind. I just borrowed the name of idol above for complete this story and hope Yoona and Siwon become a real couple in the real life. (Aamiin)

Lihat ratingnya kan, bagi yang merasa belum berpikiran dewasa(?) tolong jangan dibaca.

FYI tema dan jalan cerita terinspirasi dari komik “YOKOHAMA”

Typo(s) Maafkan, Happy Reading^^

Our Love

 

 

“Di hadapan Tuhan, kalian berdua resmi menjadi pasangan suami istri.”

 

Dengan mulusnya air mata mengalir membasahi pipi tirus itu. Mungkin tak ada yang menyadari kalau yang menjadi ratu dipesta pernikahan ini kalut dan tidak ikhlas dengan pernikahannya sendiri. Hanya lelaki didepannya yang mengetahuinya, yang sekarang telah resmi menjadi ‘suami’ nya dan seorang sahabat sekaligus saudaranya yang duduk dibarisan pertama tempat diselenggarakannya pernikahan itu. Sama seperti sang pengantin, ia menangis. Tangis yang tertahankan. Ia tahu beban yang ditanggung sahabat sekaligus saudaranya itu, tapi ia tak bisa berbuat apa-apa. Hanya bisa berdoa dan mendukung. ‘Semoga ini yang terbaik, Yoona-ya.’

~•~

 

“Puas kamu sekarang eoh? Puas!! Sekarang aku menjadi milikmu, semua keinginanmu sudah tercapai Choi Siwon.” Sinis Yoona setelah acara pemberkatan pernikahan mereka. Baru acara pemberkatan, belum resepsi. Pesta resepsinya sendiri akan diadakan malam ini di sebuah hotel bintang lima dan yang pasti milik lelaki itu.

 

Siwon tersenyum simpul, “Belum semua Im Yoona sayang. Kau lihat saja nanti.” Perlahan Siwon melangkah meninggalkan Yoona dikamar sendiri. Yoona terduduk masih mengenakan gaun pernikahannya. Tangis yang enggan ia tunjukan dihadapan seorang Choi Siwon itu kini mendesak keluar, Yoona terisak. Ia kalah, setelah sekian tahun bertahan dengan harga dirinya sekarang harga diri itu tak berarti lagi.

 

Lelaki itu sejak kecil telah ia kenal, berandalan jalanan yang tak sengaja menabraknya saat menyusuri jalan yang biasa membawanya ke sekolah. Ia tak mengerti kenapa hanya karena beberapa pertemuan yang sangat singkat dan tidak disengaja bisa membuat lelaki itu begitu terobsesi padanya. Lima tahun yang lalu mereka kembali bertemu, lelaki itu telah berubah, ia sekarang memiliki segalanya. Tubuh yang kurus dan tampang acak-acakannya sekarang digantikan dengan tubuh atletis dan tampilan rapi yang menimbulkan kesan dandy dalam dirinya. Yoona tak tahu dari mana semua harta serta bagaimana perubahan itu terjadi. Dari yang ia dengar Siwon pergi keluar negeri mengadu nasib diumur yang masih muda, ya dia ingat saat itu Siwon tak lagi menampakkan diri di hadapannya. Lalu dari pembicaraan orang-orang yang ia ketahui Siwon angkat menjadi anak oleh seorang konglomerat. Dan sekarang orang tua angkatnya itu meninggal, karena mereka tak punya anak kandung dan saudara maka otomatis kekayaan itu jatuh ke tangan Siwon. Entahlah, apa kabar itu benar atau tidak.

 

Siwon mencoba melamar Yoona yang dikenal sebagai gadis angkuh yang punya level tinggi. Seorang anak dari pemilik perusahaan tekstil tradisional di daerah pinggir kota Seoul. Karena perusahaan tersebut lumayan ternama dan terkenal di Korea jadi bukan hal aneh jika orangtua Yoona selalu memanjakan putri mereka itu dengan segala kemewahan dari hasil perusahaan mereka. Tak disangka, lamaran Siwon ditolak mentah-mentah oleh Yoona, orangtua Yoona pun tak bisa menolak keputusan Yoona. Yoona sudah memiliki pujaan hati dan dia tetap akan menjaga hatinya untuk lelaki itu, tekadnya.

 

Namun keadaan berbalik ketika dalam sebuah kecelakaan, nyawa orangtua Yoona terenggut. Yoona merasa sangat terpukul saat itu. Tak tahu apa yang akan ia lakukan tanpa orangtuanya. Tapi untunglah, sahabat sekaligus saudaranya Yuri selalu berada disampingnya. Dia yang mengetahui Yoona luar dan dalam. Sedari kecil mereka selalu bersama. Namun nasib mereka berbeda, Yuri seorang yatim-piatu sejak kecilnya, lalu orang tua Yoona mengasuhnya hingga tak heran kalau mereka berdua sangat dekat seperti layaknya saudara.

 

“Yoona-ya.” Yuri memasuki kamar Yoona, memeluk saudaranya itu. “Aku benarkan Yul? Aku mengambil keputusan yang benarkan?” Airmata Yoona makin mengalir deras. “Ini keputusanmu Yoong, dan sudah kau pikirkan matang-matang. Kau harus kuat, dan buktikan pada orang-orang itu kalau kau mampu.”

 

Yoona merenggangkan pelukan Yuri. Tangisnya reda, perlahan diusapnya bekas-bekas airmata yang mengaliri pipinya. Yuri benar, semua ia lakukan untuk mendapat sokongan dana dari Siwon, demi mempertahankan perusahaan peninggalan ayahnya, demi mematahkan anggapan orang-orang yang mencapnya anak manja yang tak mengerti apa-apa. Memang sejak orangtua Yoona meninggal, perusahaan mengalami kemunduran saat dibawahi Yoona yang kala itu masih labil dan tak tahu apa-apa tentang bisnis. Tapi karena teringat akan kerja keras orang tuanya Yoona akhirnya belajar keras untuk mengelolanya. Yoona jadi tahu seluk beluk perusahaan, dan mengerti arti kerja keras. Dan disaat ia mempunyai ide untuk mempertahankan perusahaannya itu, Yoona didera kendala keuangan. Ia butuh sokongan modal. Ia mencoba mengajukan proposal rencana pengembangan usahanya, tapi selalu ditolak karena ia tak berpengalaman dan lagi proposalnya tidak menyakinkan, itulah alasan yang selalu dikemukakan para investor itu.

 

Hanya Siwon kala itu yang malah mengajukan diri untuk menjadi investor disana dengan tawaran yang membuatnya jijik. Tentu saja Yoona menolak, tapi karena keadaan perusahaan makin memburuk, Yoona tak punya pilihan lain. Ia akhirnya menerima bantuan Siwon, sekaligus menerima rencana busuk pria yang ingin memilikinya itu. Ya, ini demi perusahaan ayahnya yang dirintis sejak awal. Jadi apa salahnya berkorban sedikit Yoona, mengorbankan harga dirimu. Dan pada akhirnya merasa kalah.

~•~

 

Pesta yang didominasi warna biru putih sesuai dengan warna kesukaan Yoona. Dalam hal persiapan pesta ini, Siwon yang banyak berperan. Bukan begitu! Tapi Siwon lah yang menyiapkan segalanya, Yoona tak pernah mau terlibat dan melibatkan diri. Dia sudah cukup mau mengalah, bersedia menjadi istri seorang Choi Siwon dan untuk selanjutnya terserah Siwon bagaimana menyiapkan pesta pernikahan mereka.

 

Yoona sempat terkagum-kagum, manakala memasuki aula tempat resepsi pernikahannya. Tak dapat ia sangkal ia takjub dengan berbagai ornamen dan rangkaian bunga anggrek putih yang dipadu dengan hiasan-hiasan dinding berwana biru, warna kesukaannya. Buru-buru ia buang pikiran tentang Siwon yang mengetahui warna kesukaannya. Ini pasti hanya kebetulan.

 

Yoona memasang wajah ‘bahagianya’ , berusaha bersikap sewajarnya orang berbahagia dihari pernikahannya, menerima ucapan selamat dari semua tamu yang hadir. Tak bisa ia hindari tatkala tatapan iri jelas terlihat dari para gadis-gadis yang begitu memuja ‘suami’nya, Yoona hanya bisa tersenyum penuh kemenangan. Tapi ada juga yang berbisik-bisik mengatakan kalau ia menjual dirinya kepada pria ini. Yoona hanya bisa tersenyum miris, benar yang mereka katakan. Ia memang menjual dirinya.

 

“Tuan Choi, akhirnya Anda melepas status lajang Anda. Beruntung sekali Anda Yoona-ssi. Apa Anda tahu, bos besar kita ini tak pernah terlihat menjalin hubungan dengan wanita manapun, bahkan aku sempat berpikiran macam-macam padanya. Untunglah semua sudah terjawab sekarang.”

 

“Anda berpikir saya penyuka sejenis begitu?” Mereka berdua tertawa bersamaan. Yoona hanya tersenyum menanggapi. Benarkah Siwon tak pernah terlibat dengan wanita manapun? Terbersit rasa bangga dalam diri Yoona mengetahui fakta itu. Jadi selama ini Siwon benar-benar hanya menginginkan dirinya.

 

~•~

 

Siwon meneguk minuman yang sudah di sediakan pihak hotel di kamar pengantinnya. Pesta sudah berakhir dua jam yang lalu. Jam di atas nakas sudah menunjukkan pukul tiga dini hari. Matanya belum menyiratkan kelelahan. Perlahan ia melirik wanita yang sedang tidur dengan nyamannya di atas tempat tidur king size yang berada tak jauh dari sofa yang ia duduki. Ia tersenyum, Yoona, wanita impiannya itu telah menjadi miliknya sekarang. Kesabaran dan kerja kerasnya untuk mendapatkan wanita itu akhirnya terbalas sudah.

 

Tapi seketika senyum itu berubah menjadi senyum kepiluan, ia sadar Yoona belum menjadi miliknya sepenuhnya, belum. Caranya mendapatkan Yoona memang sedikit licik. Ia berusaha meyakinkan para investor-investor yang pernah Yoona datangi untuk tidak menerima proposal Yoona. Dan dia berhasil, Yoona tak akan punya pilihan lain, selain menerima bantuannya dengan menerima syarat menjijikkan yang dia ajukan tentunya. Melihat Yoona yang dengan harga diri tinggi mendatanginya dan menerima lamarannya dengan terpaksa dan wajah tidak ikhlas membuat Siwon hampir putus asa. Ingin sekali dia murni hanya menolong Yoona tanpa memberikan syarat yang menyakitkan itu, Tapi mengingat betapa besarnya keinginan untuk menaklukan Yoona, membuat Siwon terlecut, ia harus lebih berusaha mendapatkan hati wanita ini. Dengan menikahinya, dengan membuat Yoona selalu berada disampingnya mungkin akan menyadarkan Yoona betapa lelaki ini sangat memujanya dan akhirnya berbalik mencintainya. Nanti, pasti ada saatnya Yoona akan menjadi wanitanya, menjadi miliknya seutuhnya.

 

~•~

 

“Apa? Kau ingin mengajakku ke Paris? Lalu bagaimana dengan perusahaanku?”

 

“Kau bisa mempercayakannya pada Yuri.”

 

“Tidak! Kalau aku pergi maka Yuri juga harus ikut denganku.” Siwon mendesah pelan. “Baiklah, kalau begitu biar tuan Park yang mengelolanya, bukankah ia orang kepercayaan ayahmu? Jadi tidak ada alasan lagi kau menolak pergi bersamaku.” Yoona menelan ludahnya. Paris, negara yang paling ingin ia kunjungi. Apakah akan ada kesempatan untuk menemuinya nanti?

 

“Lagipula kita hanya beberapa bulan disana, jadi kau tak usah khawatir.” Mendadak nada bicara Siwon melembut, tapi sepertinya Yoona tak menyadarinya. Yoona malahan berdiri dan sebelum ia keluar dari ruang kerja Siwon ia menoleh, “Kapan hari keberangkatan?”

 

“Lusa, jadi bersiap-siaplah dari sekarang.”

 

Tiga hari setelahnya, Yoona, Siwon dan Yuri telah berasa di kota yang merupakan pusat mode dunia itu. Yoona telah memikirkan bagaimana cara dia bisa bertemu dengan seseorang yang sangat berarti baginya. Dengan hanya bermodalkan nama apartemen orang itu Yoona bertekat mencarinya. Ia perlu bicara padanya, menjelaskan semuanya.

 

Apartemen yang lumayan mewah dengan fasilitas lengkap telah disiapkan Siwon untuk tempat tinggal mereka dalam beberapa bulan kedepan. Tak hanya itu, Siwon juga telah menyediakan seorang pekerja rumah tangga yang siap melayani mereka setiap hari.

 

“Bibi, apa sudah lama bekerja di apartemen ini?” Tanya Yoona dengan logat inggrisnya saat ia tengah asyik melahap ice cream yang ada di hadapannya, sedangkan sang pekerja sedang mencuci piring membelakangi Yoona.

 

“Ya, begitulah Nyonya.” Jawab nya singkat juga menggunakan logat inggris rayanya. Yoona enggan bertanya lebih jauh karena sepertinya sang pekerja rumah tangga itu tak terlalu senang berbincang-bincang, atau karena tak senang berbincang-bincang dengannya? Apa pedulinya. Yoona beranjak kekamar Yuri dan membujuk Yuri agar mau menemaninya menemukan apartemen yang ada ditangannya. Yuri tampak terkejut, tapi ia berusaha bersikap normal.

 

“Kamu benar-benar akan pergi menemuinya Yoong?” Yoona mengangguk pasti, Yuri tampak menahan pergolakan hatinya. “Aku tidak bisa menemanimu Yoong, ini salah. Kau sudah menikah.”

 

“Persetan dengan pernikahan ini Yul, kau tahu benar aku tak pernah menginginkannya. Ku mohon bantulah aku. Aku hanya perlu bertemu dan menceritakan semua padanya, hasilnya biar dia yang putuskan.” Yuri menelan ludahnya, kerongkongannya tercekat. “Yoong….”

 

“Ayolah, kita harus kembali sebelum Siwon pulang dari pekerjaannya.” Tanpa persetujuan Yuri, Yoona menarik tangan Yuri lalu berpamitan kepada penjaga rumahnya dengan mengatakan mereka akan berjalan-jalan sebentar.

 

~•~

 

Sudah tiga minggu mereka berada di Paris dan selama itu pula Yoona ditemani Yuri mencari-cari apartemen yang mereka maksud. Sekarang mereka berada dipinggir kota Paris, harapan mereka satu-satunya hanya apartemen ini. Di kertas yang tertulis, nama apartement tersebut memang ada beberapa di paris dan inilah apartemen terakhir yang namanya juga sama dengan yang tertulis di kertas kecil itu.

 

Setelah mengetuk pintu beberapa kali, akhirnya sang empunya apartemen membukakan pintu. “Anda mencari siapa?” Ujar seorang lelaki yang berwajah asia, tapi Yoona yakin bukan berasal dari Korea.

“Apa ada orang yang bernama Cho Kyuhyun disini?” Tanpa mempersilahkan tamunya masuk, lelaki itu langsung berjalan kedalam rumah meninggalkan Yuri dan Yoona bingung, dengan pintu yang masih terbuka. Mereka memutuskan menunggu sebentar.

 

Sepertinya usaha mereka tidak sia-sia. Sekarang pria yang bernama Cho Kyuhyun itu telah berdiri dihadapan mereka. Mata Yoona berkaca-kaca melihatnya, ingin rasanya ia berhamburan kepelukan pria itu.

 

“Yoona-ya? Yuri-ya!” Kyuhyun terlalu kaget, tak menyangka wanita-wanita yang sejak kecil menjadi sahabatnya ini sekarang berada disini. Ditempatnya mengadu nasib.

 

“Op…” Belum sempat sebutan itu meluncur dari bibir Yoona, Kyuhyun telah dahulu menarik Yuri kedalam dekapannya.

 

Buuzz…

 

Seketika hati Yoona mencelos, Kyuhyun ternyata lebih merindukan Yuri dari pada dirinya. Yuri, tentu saja tak bisa berbuat apapun. Ia hanya pasrah dipeluk pria ini. Pria yang telah berulang kali menyatakan cinta padanya, tapi jawabannya selalu mengambang. Ia mencintai pria ini juga, tapi ia juga tahu kalau saudara sekaligus sahabatnya Yoona juga sangat mencintai pria ini. Ya, mereka memang terlibat kisah cinta segitiga yang rumit, sayang, hanya Yuri yang mengetahuinya sejak lama. Ia bungkam, tak mau menyakiti hati siapapun. Tapi sekarang, sepertinya semua sudah terbongkar. Yoona akhirnya harus mengetahui yang sebenarnya.

 

~•~

 

Yoona berjalan tak tentu arah, sendirian di tengah salju yang baru saja turun dari langit kota paris malam itu. Ia memutuskan pergi meninggalkan Yuri dan Kyuhyun setelah ia tahu ternyata pria yang selama ini dia cintai diam-diam mencintai wanita lain. Yuri sangat beruntung! Teriaknya dalam hati. Tangis Yoona tak tertahankan, mana kala mengingat kembali kebersamaannya dengan Kyuhyun, ia selama ini ternyata lupa kalau dimana ada dia dan Kyuhyun disana pasti juga ada Yuri. Jadi tidak heran Kyuhyun juga dekat dengan Yuri malah memendam perasaan kepada saudara tak sedarahnya itu. Bodohnya dia yang baru mengetahuinya sekarang, Yuri pasti menolak Kyuhyun gara-gara dia. Dialah orang ketiga diantara Yuri dan Kyuhyun. Ia harus menerimanya.

 

Yoona mendudukan dirinya disebuah bangku kosong, jalanan tampak sepi hanya ada beberapa pejalan kaki yang berlalu lalang, kendaraan pun jarang yang lewat. Apa ini sudah terlalu malam? Yoona menekuk wajahnya, kembali menangisi nasib hidupnya.

 

Diseberang jalan seorang lelaki dari tadi menatap intens Yoona, ia memutuskan untuk mendekati Yoona, perlahan ia menyeberangi jalan dan melangkah mendekat ke arah bangku yang sepertinya bisa menampung tiga orang itu. Payung yang ia bawa dia arahkan menutupi tubuh kurus Yoona. Merasakan seseorang berada di sampingnya, Yoona segera mengangkat kepalanya, Siwon, lelaki itu menatapnya tajam.

 

“Apa yang kau lakukan disini Im Yoona!” Kalimat tanya yang terkesan dingin, sampai-sampai membuat bibir Yoona kelu untuk menjawabnya.

 

“Kau menangisinya? Kau menangisi pria yang sangat kau cintai itu?” Nada sinis Siwon, membuat Yoona membuang muka. “Apa urusanmu eoh? Aku menangisi siapapun itu hak ku. Kau tak berhak menanyakannya, memangnya kau siapa?!” Emosi Siwon naik, ia menggenggam tangan Yoona kasar lalu menyeretnya menuju mobil yang terparkir tak terlalu jauh dari bangku tersebut. Kalimat penolakan Yoona ia abaikan. Bahkan saat Yoona mengancam akan melompat dari mobil pun, Siwon tak mengacuhkannya. Ia tetap fokus mengemudi.

 

~•~

 

Sekarang mereka berada disebuah kamar hotel, Siwon memaksa Yoona, menyeretnya walau wanita itu meronta tetap saja Siwon berhasil memasukkannya kedalam kamar hotel tersebut.

 

Yoona tampak ketakutan, ia melihat kemurkaan di mata Siwon. Apa ia bicara terlalu kasar sehingga lelaki itu begitu murkanya padanya?

“Kau bilang aku tak berhak atasmu, begitu? Aku suamimu Im Yoona! Suamimu!!” Siwon mendekati Yoona yang berdiri kaku didepan pintu masuk kamar hotel. Seakan tahu maksud Siwon, Yoona memelas. Ia tak ingin Siwon berbuat macam-macam padanya.

 

“Jangan mendekat, kumohon jangan mendekat!” Teriak Yoona. Airmata mengaliri wajah tirusnya, “Kumohon, jangan mendekat.” Terlambat, Siwon sudah merengkuhnya dalam pelukan hangat. Hangat, bukan posesif. Napas Siwon, terasa berhembus kencang ditelinga wanita itu.

 

“Kenapa kau tak pernah melihatku Yoona-ya? Kenapa kau membenciku?”

 

“Apa aku tak pernah berarti dimatamu? Aku mencintaimu, bahkan karena obsesi ku akan dirimu aku bekerja keras agar bisa sepadan denganmu. Kau menolakku mentah-mentah. Aku berusaha menerima, tapi keinginanku untuk memilikimu terlalu besar hingga akhirnya ada jalan untukku bisa memilikimu.” Yoona bisa merasakan lelaki itu tengah menangis.

 

“Namun semua sia-sia.” terdengar kekehan dari mulut Siwon. “Tak ada gunanya, kau tetap tak melihatku. Kau tetap membenci diriku. Aku memang lelaki bodoh ya, mencintai seseorang yang jelas-jelas membencinya.” Yoona terpaku, bahunya terasa basah karena aliran airmata Siwon.

 

“Semua telah selesai, terimakasih telah bertahan disampingku selama ini. Sekarang kau bebas.” Siwon melepas pelukannya dan berjalan melewati Yoona keluar dari kamar tersebut. Yoona masih terpaku, pipinya basah oleh tangisan. Sebegitu teganya kah dia? Sampai-sampai membuat seorang lelaki yang terkenal dingin itu menangis? Yoona terhuyun duduk, dia memeluk kakinya. Tangisnya lagi-lagi pecah. Ia tak tahu harus berbuat apa. Siwon, apa yang Siwon katakan tadi? Melepaskannya? Kata itu entah kenapa menyakiti hati Yoona. Malam itu Yoona menangis, menangis sepuas-puasnya. Berharap rasa sesak dan sakit dihatinya besok menghilang dengan sendirinya. Besok, semoga hanya hari indah yang akan menyambutnya.

 

~•~

 

Keesokan harinya Yoona memutuskan untuk langsung kembali ke Korea. Ia sudah meninggalkan pesan kepada pelayan untuk mengatakan kepada Yuri dan Siwon kalau ia akan kembali ke Korea, dan sepucuk surat ia titipkan kepada pelayan itu untuk diberikan kepada Siwon. Pagi itu saat ia akan berangkat, Yuri sepertinya tidak berada di apartemen, Siwon pun sama tidak jua terlihat. Yoona sepertinya tidak berniat bertanya kepada pelayan apakah Siwon dan Yuri pulang ke apartemen atau tidak.

 

Yoona menyeret kopernya melewati pihak imigrasi melihat sekali lagi kebelakang seperti memastikan sesuatu sebelum akhirnya memasuki ruangan yang harus ia lewati menuju pesawat penerbangan ke Seoul pagi itu.

 

~•~

 

Ditempat lain, di apartemennya Siwon mengusap kasar wajahnya. Tampilannya acak-acakkan, sepertinya semalaman ia pergi minum-minum. Pagi itu ia menerima surat yang dititipkan Yoona kepada pelayannya. Ia menghela napas, “Itukah pilihanmu Im Yoona?”

 

~•~

 

Yoona memberhentikan sebuah taksi dan langsung memasukinya. Kacamata hitam tampak menutupi mata yang ia yakin membengkak karena tangisannya kemarin dan tangisannya diatas pesawat tadi. Ia tak bisa mengendalikan dirinya untuk tidak menangis, sepertinya penyesalan atas sikapnya kepada Siwon selama ini membuatnya merutuki dirinya sendiri. Obsesi Siwon terhadapnya selama ini ia salah artikan. Ada cinta disana, dan Yoona tak pernah menyadarinya. Kini hanya penyesalan, kesempatan untuk memperbaiki sepertinya sudah tak ada. Siwon telah melepasnya.

 

~•~

 

Yoona tiba di rumahnya dan disambut para pelayan yang biasa melayaninya. Ada tatapan tanya yang tertuju padanya, tapi Yoona mengacuhkannya.

 

Sekarang hari-harinya disibukan dengan pekerjaan, beberapa minggu meninggalkan perusahaan ternyata tak terlalu masalah. Buktinya usahanya berjalan lancar dan apa yang Siwon katakan memang benar, tuan Park memang bisa dipercaya.

 

Sebulan sejak kepulangannya dari Paris, Yoona dikejutkan dengan kedatangan Siwon. Siwon memasuki rumah itu dengan santai, dibelakangnya seorang pelayan membawa dua buah koper yang diyakini milik lelaki tampan itu. Ia tak melihat Yoona sama sekali, atau memang sengaja tidak melihat? Siwon langsung pergi kekamar ‘mereka’. Yoona yang sedang menyiram tanaman sore itu di pekarangan rumahnya berjalan cepat menyusul Siwon kekamar. Yoona heran, kenapa Siwon kesini? ‘Mereka harus bicara,’ gumam Yoona.

 

Yoona memasuki kamar lalu menutup pintunya, pandangannya menyapu isi kamar, namun ia tak menemukan sosok Siwon. Mungkin ia dikamar mandi, pikir Yoona. Yoona memutuskan duduk diatas tempat tidur menunggu Siwon keluar dari kamar mandi. Selang beberapa menit, Siwon keluar dengan handuk yang terlilit di pinggangnya.

 

Yoona membuang muka, wajahnya memerah. Ini pertama kalinya ia melihat tubuh Siwon. “Aku akan menunggu sampai kau selesai berpakaian. Kita harus bicara.” Yoona beranjak dari ranjang melangkah menuju pintu kamar. Sesaat ia merasakan seseorang memeluknya dari belakang. “Aku merindukanmu, Yoona-ya” Yoona terpaku ditempatnya, berusaha menolak. Namun tangan kekar Siwon menahannya. Hembusan napas Siwon begitu teratur terdengar ditelinganya.

 

Siwon menciumi tengkuk Yoona. Sebulan tidak bertemu dengan Yoona membuatnya tersiksa. Sepertinya keinginan untuk melepaskan wanita itu tidak akan pernah bisa ia wujudkan. Obsesinya terlalu dalam, kalimat perpisahan yang ia ucapkan itu ia tarik kembali. Sungguh, ia tak sanggup bila tidak berada didekat wanita ini.

Siwon menjelajahi tiap lekuk leher Yoona. Yoona mendesah pelan, saat Siwon menciumi leher jenjang itu. Merasa tak mendapat penolakan, Siwon membalikkan tubuh Yoona supaya menghadap padanya. Langsung di ciumnya bibir tipis Yoona. Ciuman pertama mereka, hanya kecupan singkat tapi Siwon kembali menciumi Yoona tapi kali ini dengan lebih dalam, dengan lembut melumat bibir merah itu.

 

Sesaat Yoona ingin sekali melarikan diri namun bibir Siwon menguncinya, sampai akhirnya dia pun terlena akan permainan bibir Siwon. Ia perlahan membalasnya. Makin dalam, dan tanpa sadar hasratlah yang mengendalikan mereka sore itu.

~•~

 

Deru napas teratur menggelitik indera pendengaran Yoona. Perlahan ia membuka matanya menatap seseorang yang tertidur dengan pulas sambil memeluknya posesif. Perlahan sebuah senyuman tersungging dibibirnya. Kembali ia tatap pria tampan itu, ya sangat tampan. Kenapa baru sekarang ia menyadarinya?

Yoona mengulurkan tangannya perlahan-lahan agar tidak menganggu tidur Siwon. Ia menelisik wajah Siwon mulai dari alisnya yang tebal, mata bulat yang terkatup sempurna, hidung mancung yang meminta dicubit itu dan bibir tipis yang tadi menciuminya tanpa ijin. Yoona tak sampai menyentuh bagian-bagian itu, hanya menjelajahinya dalam jarak beberapa senti dari ujung jarinya.

 

Sepenuhnya, Siwon telah memiliki dirinya. Tidak hanya status, tubuh bahkan hatinya pun ternyata telah dimiliki pria itu. Betapa bodohnya ia baru menyadarinya sekarang. Ia merasa bahagia, memberikan semuanya pada Siwon. Siwon mengatakan ia merindukan Yoona, ternyata wanita itu juga merasakan hal yang sama. Selama sebulan ini, ia mencoba melepaskan perasaannya terhadap Kyuhyun dan meresapi setiap perlakuan dan kebersamaannya bersama Siwon selama ini. Hanya satu kata “TAKDIR”, jalan Tuhanlah yang membuat mereka terhubung satu sama lain terjerumus dalam suatu hubungan yang rumit.

 

Sebuah erangan menyadarkan Yoona, buru-buru ia menutup matanya lagi. Belum siap rasanya menatap Siwon yang ia yakin akan segera terbangun, mengingat kejadian yang baru saja mereka alami.

~•~

 

Siwon perlahan membuka matanya, senyumnya mengembang melihat sosok Yoona yang dia kira masih tidur. Ia mengeratkan kembali pelukannya di balik selimut pada tubuh polos Yoona. Seperti mimpi, wanita cantik ini berada dalam dekapannya. Sangat dekat. Sepertinya Tuhan menjawab doanya.

Siwon mencium lembut pipi Yoona, Yoona tak bergeming masih bertahan dalam kepura-puraanya. “Buka matamu, aku tahu kau sudah bangun sayang.” Yoona tentu saja kaget bercampur malu, dengan enggan ia membuka matanya. Senyum merekah Siwon menyambutnya. Siwon terkekeh geli melihat raut malu-malu yang tergambar jelas di wajah Yoona. Yoona memukul pelan perut Siwon, setelah menyadari pria itu menertawakannya.

“Sakit Yoong…”

 

“Siapa suruh menertawaiku eoh?”

 

Wajah Siwon berubah serius, “Yoong, tak apa-apa bukan? Apa kau ikhlas memberikannya padaku?” Ada rasa bersalah yang Siwon rasakan, ia merasa Yoona belum sepenuhnya menerimanya tapi hasrat yang dalam membuatnya tak dapat menahan diri untuk tidak menyentuh Yoona.

 

Siwon terkejut saat Yoona mengecup bibirnya singkat lalu melingkarkan tangannya keleher pria itu, “Jangan berkata begitu, aku juga merindukanmu Oppa. Maaf selama ini sikapku membuat hatimu sakit. Aku sadar sekarang, aku memang milikmu.”

 

“Yoong…”

 

“Bukan hanya raga ku tapi hatiku juga telah menjadi milikmu. Apa kau mau memaafkanku Oppa?”

 

Kalimat yang dari dulu ingin Siwon dengar, kalimat yang dari dulu dengan sabar ia nantikan akhirnya meluncur dari bibir manis itu. Siwon melepas pelukan Yoona, matanya berbinar menatap kedalam manik mata Yoona seperti mencari kebenaran dari apa yang ia dengar barusan. Seperti dimintai pembenaran, Yoona tersenyum mengangguk.

 

Siwon kembali memeluk Yoona, bahagia tak terkira. Perjuangannya selama ini tak sia-sia. Wanita ini akhirnya melabuhkan hati padanya.

 

“Aku mencintaimu Yoona-ya.”

 

“Aku juga mencintaimu Oppa.”

 

~•~

 

Seorang wanita dengan wajah gusar dan ragu berdiri didepan pintu sebuah rumah yang telah menjadi tempat tinggalnya semenjak kecil. Disampingnya seorang pria mengeratkan genggamannya memberi keyakinan kepada wanita itu kalau ia memang harus menemui penghuni rumah ini. Akhirnya dengan mengumpulkan semua keberanian yang ia miliki ia berhasil menekan bel yang terpasang di depan pintu.

 

Seorang wanita paruh baya membukakan pintu, “Nona Yuri?” Yuri mengangguk dan tersenyum. Wanita yang biasa dipanggil bibi Ahn itu mempersilahkan Yuri dan Kyuhyun, pria yang datang bersamanya tadi memasuki rumah.

 

“Siapa yang datang Bi?” Yoona sedang menuruni anak tangga ketika bibi Ahn membukakan pintu.

 

“Yoona-ya.” Yoona sesaat terpaku dengan apa yang ia lihat, Yuri dan Kyuhyun datang kerumahnya. Rasa sakit itu memang masih ada, bukan karena rasa cinta yang masih ada untuk seorang Kyuhyun. Rasa itu sudah hilang saat Yoona menyadari perasaan Siwon yang sangat mencintainya. Perasaan dibohongi, itulah yang membuatnya sakit. Tapi Yoona berusaha bersikap wajar, perlahan ia berjalan mendekat. Sebuah senyuman ia patrikan di sudut bibirnya.

 

“Kemana saja kau Yul?” Yoona memeluk Yuri. Ia tahu Yuri pasti amat merasa bersalah padanya.

 

“Yoong, maafkan aku.” Yoona merenggangkan pelukannya, dan mendudukan Yuri di atas sofa ruang tamu. Kyuhyun pun ikut duduk, ia hanya diam.

 

“Apa yang harus aku maafkan, kau tidak punya salah padaku. Aku yang egois, dan tak mengerti dirimu. Selama ini kau selalu menjaga perasaanku, aku tahu. Aku dulu memang mempunyai perasaan pada lelaki disebelahmu itu.” Yoona mengarahkan dagunya kepada Kyuhyun, “Tapi, sekarang tidak lagi. Aku sudah punya cintaku sendiri. Dan baru aku sadari kalau dia begitu berharga, dia yang patut untuk aku cintai.”

 

“Yoong…”

 

“Siwon, dia cintaku sebenarnya Yul. Betapa bodohnya aku baru menyadarinya sekarang.” Mata Yoona berbinar saat menyebut nama Siwon.

 

“Yul, sekarang kau harus selalu jujur padaku, janji!” Yuri tersenyum mengangguk. Mereka semua akhirnya tersenyum senang. Kesalahpahaman diantara mereka sudah berakhir.

 

“Oppa! Kau harus menjaga Yuri dengan baik, awas saja kalau aku sampai melihatnya menangis. Kau akan habis olehku.” Ancam Yoona. Membuat mereka tertawa.

 

“Kau meninggalkan pekerjaanmu di Paris Oppa?”

 

“Aku memutuskan mencari pekerjaan disini saja Yoong, Yuri tak mau tinggal di sana.” Yoona mengangguk paham, “Kalau begitu Oppa bisa bekerja dengan Siwon-Oppa aku akan merekomendasikan dirimu kepadanya. Tenang saja.”

 

“Kau yakin Yoong, apa suamimu itu tak akan cemburu? Goda Kyuhyun.

 

“Kalau cemburu, mungkin saja. Tapi bukankah itu tandanya ia mencintaiku.” Yoona tampak memikirkan sesuatu, ‘sepertinya menarik’. Sebuah senyuman tipis ia sunggingkan disudut bibirnya.

~•~

 

“Mwo? Istriku memintaku memperkerjakan orang yang pernah dicintainya?”

 

“Oppa!”

 

“Tidak! Tidak akan!”

 

“Oppa, kumohon.” Siwon mendelik kesal ke arah Yoona. “Oppa cemburu?” Siwon diam tak menjawab, tentu saja dia cemburu. Bagaimana mungkin ia mempekerjakan lelaki yang jelas-jelas pernah membuat istrinya itu tergila-gila.

 

Yoona tertawa renyah, merasakan kemenangan dihatinya. Ia memeluk tubuh Siwon dari samping. “Aku senang Oppa cemburu.”

 

“Siapa yang bilang aku cemburu eoh?” Yoona mencubit hidung Siwon gemas, “Katakan saja kalau memang kau cemburu tuan Choi.”

 

“Aku hanya mencintaimu, aku sudah mengatakannya bukan? Apa itu belum cukup.” Siwon menanggapinya cuek.

 

“Aku mencintaimu Oppa, aku mencintaimu, aku mencintaimu. Sangat mencintaimu.” Ucap Yoona diselingi kecupan-kecupan singkat di pipi suaminya. Siwon tak bisa menahan senyumannya.

 

“Baiklah nyonya Choi, kau menang. Kyuhyun akan bekerja di perusahaan ku, apa kau puas?”

 

“Benarkah? Terimakasih Oppa. Aku mencintaimu.”

 

“Jangan hanya dipipi, disini belum kan?” Siwon menunjuk bibirnya.

 

“Tidak mau.” Yoona berlari meninggalkan Siwon yang terlihat gemas dengan kelakuan Yoona.

 

~•~

 

Cuaca sore itu tampak cerah, disebuah bangku ditaman kota tampak seorang wanita tersenyum menatap sepotong kertas kecil ditangannya. Ia bahagia, sangat. Dan sore ini ia ingin membagi kebahagiaannya itu kepada pria yang ia tunggui.

 

“Sayang…” Yoona, wanita itu menoleh, “Kenapa menyuruhku kesini? Kita bisa bertemu dirumah kan?” Yoona tersenyum menyerahkan kertas yang ia pegang kepada Siwon, pria yang ia tunggu sejak tadi.

 

“Yoong, ini….” Yoona mengangguk, “Kita akan punya bayi Oppa. Dirahimku akan tumbuh buah cinta kita.”

 

Siwon tak dapat menyembunyikan kebahagiaannya, airmata tanpa sadar menetes dari pelupuk matanya. Ia merengkuh Yoona kedalam pelukannya, “Terimakasih Tuhan, Kau telah mempercayakannya kepada kami. Terimakasih Yoong, terimakasih.”

 

Siwon dan Yoona larut dalam perasaan bahagianya. Perjalanan cinta yang berat pernah mereka alami. Tapi takdir dan usaha merekalah yang menentukan kemana cinta itu akan membawa mereka.

 

Tabrakan tak disengaja yang dilakukan Siwon kepada Yoona 10 tahun yang lalu adalah awal dari kisah cinta mereka. Siwon terpesona akan sikap angkuh dan sinis yang dimiliki wanita yang kala itu masih berusia 15 tahun. Sejak itu, Siwon selalu menyempatkan diri mengikuti kegiatan Yoona. Dari sana juga dia mengetahui warna biru yang menjadi favorit Yoona serta bunga anggrek putih yang ia lihat selalu dipetik Yoona secara diam-diam di taman sekolahnya.

 

“Kalau saat itu Oppa tak menabrakku, apa kita masih berjodoh Oppa?”

 

“Tentu saja, walaupun aku tak menabrakmu aku tetap akan terpesona pada keangkuhanmu itu nyonya Choi.”

 

“Apa aku sesombong itu?”

 

“Kau bisa tanya kepada Yuri kalau kau mau.”

 

“Ah, sudahlah aku tak mau dengar lagi. Aku mau tidur.”

 

“Tidur?”

 

“Iya, tidur. Good night suamiku tercinta.” Yoona membaringkan tubuhnya setelah sebelumnya mengecup singkat bibir Siwon. Perlahan matanya terpejam sempurna.

 

Siwon melihat sosok bidadari itu penuh kekaguman. Kecantikannya sempurna, tak heran ia tergila-gila pada wanita ini. Dibalik sifat angkuhnya, Siwon bisa merasakan ada hati yang lembut disana. Ia pun mencium kening indah Yoona, bergumam “Terimakasih sayang atas semuanya.” Lalu ikut membaringkan diri di samping Yoona, memeluk tubuh itu erat tapi tetap memberikan kenyamanan pada Yoona.

 

Mereka terlelap dengan perasaan bahagia. Perjalanan panjang yang harus mereka lewati untuk sampai ketitik ini memang penuh liku, namun hasilnya melebihi rintangan itu. Dan esok mereka tak akan pernah tahu apa yang akan menjadi rintangan mereka selanjutnya. Yang jelas mereka sekarang hanya perlu menikmati, dan menjalaninya dengan cinta yang mereka miliki. Perjalanan panjang untuk cinta mereka tak akan berhenti sampai disini…

 

~FIN~

 

Sudah lama sebenarnya pengen bikin cerita ini tapi idenya baru mengalir sekarang. “Yokohama” judul komik paling berkesan dari pada komik-komik lain yang pernah aku baca di jaman SD #plak (padahal cerita berat). Sebenarnya jalan ceritanya sangat berbeda lebih panjang dan rumit, kepikiran mau dibikin chapter tapi sepertinya sangat sulit karena latar belakang cerita jaman restorasi Meiji, jadi hanya ngambil sedikit isi cerita aja.

Aahh, jadi kebayang Mariko-Ryusuke kisah yang dibumbui intrik politik dan kekuasaan serta bagaimana pengaruh seorang wanita bagi seorang pria, kisah cinta yang tidak mudah tapi berakhir manis dan penuh haru *ngayalin komik (abaikan).

 

Dimohon untuk selalu ninggalin jejak kalau membaca cerita ini. O iya, dimohon juga jangan ngeBash bagi yang gak suka KyuRi. Jujur aku juga menyukai mereka di pairingin selain YesYul tentunya.

Jangan lupa follow twitterku @RahmahUchi (ganti nama acc), ngingetin lagi aku line 90 jadi JANGAN panggil author ya, biar kita lebih akrab hehehe.

 

For our lovely Admin Resty and Echa Thank U so much, Love U… #hug (you’re welcome #hugback)

Tinggalkan komentar

184 Komentar

  1. so sweet, ayo thor di buat sequel bagus lho ceritanya pengen tau babynya yoonwon

    Balas
  2. lasmae

     /  Agustus 11, 2016

    So sweet. Akhir yg bahagia lowpun berawal benci

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: