[OS] Nothing Impossible (Sequel Roman Picisan)

cover nothing impossible1

Nothing Impossible

by

Nurul_Choi

Main Cast : Super Junior’s Siwon & SNSD’s YoonA || Other Cast : U’ll find it ||  Genre : Romance, Drama & Life || Length : Oneshoot (Sequel Roman Picisan) || Rating : General || Disclaimer : This story pure is mine. All cast belongs to themself, family and God. I just use for complete your imagination. Apologize for same story with anyone

Warning!! : Typo bersembunyi dimana-mana but typo itu SENI^^ *sumveh ini gak aku edit sama sekali jadi maaf jika banyak banget typo-nya L *

Yesungdahlah~~ Teukkidot!!^^

Dislike?

Don’t read!

Don’t bashing!

Don’t be a silent reader!!

ð  Happy Reading^^

 

~*~(n_n)~*~

 

Dia kembali…

Membuka kisah lama yang membekas

Menghantarkannya dalam hamparan jiwa

Tertanam dalam memori

Terkubur dalam kalbu

Dia kembali…

Dewi bumi yang sempurna

Teteskan bening-bening cinta

Terpercik, tumbuhkan bunga yang telah layu

Dia kembali…

Gadis bermata indah nan senyum menawan

Sudikah ia menatap diri?

Sanggupkah diri menatap ia?

 

Siang menjelang sore. Langit mendung dengan sejuta awan hitam. Duduk dalam kebisuan seorang pria pada sudut cafe. Matanya tak lepas dari layar laptop, tangannya menari di atas keyboard. Begitu serius tergambar dari wajahnya. Kepalanya menoleh begitu mendengar nada dering dari ponselnya berbunyi. Diambilnya benda mungil itu yang berada di atas meja.

“Yeoboseo…”

“…….”

“Hmm.. Ne, arra arra!”

“…….”

Ye! Ku pastikan tidak sampai mengganggumu!”

‘Pib’ sambungan ia putus begitu pembicaraan berakhir. Siwon menghela napas panjang, menyandarkan tubuhnya pada sofa. Tangannya bergerak meraih cangkir yang berisi espresso kemudian menyesapnya, sudah dingin rupanya.

Matanya menyapu keseluruh sudut ruang. Nampaknya pengunjung sudah mulai sepi. Hanya terlihat beberapa pemuda pemudi di setiap bangku cafe. Rintik hujan terdengar membentur genting cafe. Siwon baru akan beranjak dari duduknya ketika mendengar suara lonceng yang terpasang diatas pintu cafe berbunyi, menandakan seseorang baru membuka pintu. Sudut bibir Siwon tertarik menciptakan sebuah lengkungan indah. Rasanya akan sangat rugi jika saja ia lebih memilih untuk beranjak tadi.

Gadis itu seperti biasa. Duduk di kursi dekat jendela sisi kanan pintu. Ujung mantelnya mengalirkan setetes air. Ia seperti buru-buru dari rumahnya. Hari ini ia mengenakan dress selutut berwarna putih tulang dengan sweeter kuning membungkus tubuh mungilnya.

Ah~ tidak ada yang berubah darinya. Ia masih saja seperti dulu. Tetap cantik.

Kelopak matanya mengerjap membuat bulu mata lentiknya bergerak. Dahi indahnya berkerut membuat kedua alisnya menyatu.

‘Eng…….’ begitulah yang Siwon yakini suara gadis itu saat ini. Ia sedang menentukan menu apa untuk hari ini.

Siwon mengulum senyum lantas mengambil secarik kertas kecil berwarna kuning, sehati dengan warna sweeter gadis itu, bukan?

Hitam tinta itu mulai melumuri kuning kertas kecilnya. Untaian kata tergores dalam secarik kertas pembawa syahdu, syair indah meski dengan kata sederhana.

Siwon tersenyum senang melihat tulisannya sendiri. Ia berdiri dari duduknya lantas menghampiri pelayan cafe, “Tolong berikan ini pada gadis itu..” Siwon menunjuk pada gadis tadi. “Berikan ia segelas decaf caffe,” lanjut Siwon kemudian.

Pelayan itu mengangguk lantas melakasnakan perintah Siwon.

Siwon kembali ketempatnya, duduk pada sebuah sofa yang berada di ujung ruang. Posisi yang memungkinkannya untuk mengamati seluruh pengunjung cafe terutama si gadis cantik itu.

Gadis itu masih sibuk dengan buku menu dalam genggamannya. Tak berapa lama ia mendongak ketika pelayan cafe meletakkan segelan decaf caffe di mejanya. Dahinya mengernyit membuat Siwon tersenyum geli. Pasti gadis itu kebingungan kenapa selalu ada decaf caffe tiap kali ia berkunjung kemari. Alisnya makin menyatu ketika pelayan cafe itu menambahkan secarik kertas berwarna kuning pemberian Siwon.

Sebuah senyum tersungging dibibirnya. Gadis itu mengedikkan kepala pada pelayan cafe tadi.

“Hai… apa kabar? Masih ingat denganku? Tuan lokermu^^ Kau pasti mengira aku seorang stalker yah? Menguntitmu dari dulu sampai sekarang. Hehe.. jangan terlalu percaya diri dulu nona Im. Kau tahu, pada kenyataannya hal itu memang benar adanya.” Gadis itu kembali mengulum senyum. Diedarkannya pandangan keseluruh ruang. Percuma saja jika ia tidak mengetahui ciri-ciri si Tuan Loker, pikirnya kembali memandang secarik kertas kuning cerah itu.

Siwon mencuri pandang dari balik buku menu yang menjadi temengnya ketika gadis tadi mencari-cari si penulis. Tidak, gadis itu tidak boleh tahu akan keberadaannya. Setidaknya biarkan ia mengagumi keindahan si gadis cantik dari sudut pandangnya dan ia tidak mau merubah itu. Biarkan ia tetap mencintai Im Yoona sebagai si Tuan Loker. Hal itu merupakan kesenangan tersendiri baginya. Ah ya, jika Tuhan kembali mempertemukan mereka, maksudnya Siwon sebagai pria berkacamata. Apakah gadis itu masih tetap mengingatnya? Sepertinya tidak.

Siwon meneguk habis sisa espresso-nya sambil mengamati lekuk indah wajah Yoona. Pemandangan yang memanjakan mata.

~[]~

Siwon POV

Aku kembali pada posisiku, mengamati pengunjung cafe dalam kebisuan. Nampaknya hari ini sedikit berbeda dari kemarin. Sesekali aku tersenyum tipis, melihat gelagat para remaja yang menjadikan cafe ini tempat berkencan. Sekedar untuk membahagiakan kekasihnya. Dan melihat wajah para gadis yang merona merah ketika para remaja pria menggoda, membuatku merasa diri ini sangat bodoh. Para remaja pria itu begitu mudah melontarkan kata cinta dan kalimat-kalimat membual. Begitu lihai dalam mengutarakan perasannya.

“Sepertinya aku harus berguru pada mereka..” kembali sebuah senyum tipis tersugging dibibirku.

Pandanganku teralihkan ketika dia, gadis pujaan hatiku melangkahkan kakinya masuk kedalam cafe. Entahlah, tiap kali menyadari kehadirannya hatiku bergemuruh. Seperti ada sebuah ledakan yang menculat-culat disana. Ah~ Im YoonA, mengapa kau begitu cerdik dalam mencuri hatiku? Bahkan untuk sekedar mengedipkan mata pun rasanya aku tak tega. Mata ini tak dapat lepas dari objek terindahnya. Membidiknya kemudian memasang lukisan indah itu pada dinding kalbu.

Apa aku berlebihan? Tidak, tidak. Bukankah memang begini ketika sesorang diderai asmara? Jangan bilang kalian tidak pernah mengalaminya!

Sticky note, secarik kertas itu seolah telah menjadi sejarah dalam kisah asmaraku. Lembar kertas kecil yang menjadi jembatan sebuah pesan hati. Kecil namun begitu bermakna bagiku.

Kutoreng ulasan kalimat didalamnya. Aku tak pernah tahu apakah dia bosan membaca puluhan bahkan ratusan kalimat dariku. Akupun tak pernah tahu apakah dia merasakan ketidak nyamanan atas kertas-kertas kecil ini. Apa kertas kecil ini sudah seperti sebuah teror untuknya? Kurasa tidak, melihat bagaimana senyum mengembang dibibir merahnya ketika menerima tiap bait kepingan-kepingan nuansa hati.

“Sudut mata yang begitu elok menggariskan keindahan dua bola mata kecoklatan. Dan aku kini terdiam bagai karang tak bersapukan ombak. Adanya engkau tak mengalikan si karang yang gersang. Hadirmu telah sirnakan sunyi sepiku, duhai dewi bumi.”

Dia tersenyum, menciptakan kurva melengkung di matanya ketika telepati berupa kertas kecilku telah sampai pada tangan mungilnya. Dan senyum itu tak jua berubah. Senyum itu tetap sama ketika tercipta maka orang yang melihatnya pun dapat merasakan bahagia dan turut tersenyum.

Apa kau bahagia, Im YoonA? Bagaimana kabarmu selama di Belanda sana? Seperti apa kau selama di negeri kincir angin itu?

Sungguh aku ingin menanyakan perihal tentangnya selama ia tak terjangkau oleh pandangan mataku.

Namun… pada akhirnya aku hanya tersenyum getir. Menggeleng samar.

Percayakah kau bahwa tidak setiap perasaan cinta bisa terungkap lewat tutur kata? Pernahkah kau merasa, terkadang sulit untuk menemukan kata, kalimat, waktu yang tepat. Dan terkadang hatimu hampir meledak menahan sejuta kata yang siap kau lemparkan acap kali melihatnya. Namun segalanya berakhir tertahan diantara kedua belah bibirmu, menyisahkan sebuah helaan napas berat.

Saat ini, ah bukan! Tepatnya sejak kali pertama menulis bait-bait kalimat tentangnya, aku merasakan hal itu. Ketika segalanya sudah diatur sedemikian rupa, kalimat-kalimat yang tersusun begitu saja sirna jika harus dihadapkan padanya.

Aku melewatkan sebuah kesempatan, melewatkan satu hal terpenting dalam hidupku. Pecundang? Mungkin ‘Yah’ katakanlah aku seperti itu. Ketidak berdayaanku untuk menghadapi sebuah rasa dalam dada. Menghadapinya karna segala perasaanku terkatup di ujung bibirku, tak menyisakan sebuah gerak lidah.

Ini seperti….

Kau tahu mengapa ada orang yang mau susah-susah menulis di buku padahal mereka memiliki mulut untuk bercerita sebuah kisah? Mengapa para sastrawan mau repot-repot menuai sejuta kata pada karya sasatranya padahal mereka mengerti akan fungsi mulut?

Bukan karena ketidaktahuan akan sebuah kata yang ingin dilontarkan. Bukan juga sebuah ketidakmampuan kalimat singkat yang mewakili perasaan.

Akan tetapi….

Semua itu karena sebuah gambaran perasaan cinta tidak cukup dengan ungkapan ‘aku mencintaimu’. Tidak sesingkat dengan kalimat ‘maukah kau menikah denganku?’ Tidak, tidak!

Tidak semua dapat kau jabarkan melalui mulut. Shakespeare jatuh cinta dan dia menulis puisi diatas kertas. Leonardo Da Vinci melihat objek yang membuatnya kagum, maka dia melukis diatas kanvas.

Dan yah~ aku menulis perasaanku diatas secarik kertas mungil yang mungkin bagi orang lain tak berharga namun bagiku sangatlah bernilai. Bahkan tidak terbayang seberapa banyak sticky note yang kukirim untuknya. Mungkin saja jika semuanya dijadikan satu akan menciptakan untaian puisi-puisi cinta. Setebal rangkup buku geografi yang pernah kubaca beberapa waktu lalu. Oke, lupakan kalimat terakhir!

Pandanganku padanya tak teralihkan sedari tadi. Entah ia merasakan sepasang mata tengah mengawasinya atau tidak, akupun tak tahu. Dan kuharap ia tak menyadarinya.

Mungkin karna itu ia tak pernah menyadari seseorang menjadi bayang semu baginya. Ia telah larut dalam dunianya sendiri. Membaca buku setebal batu bata serta sesekali menyeruput decaf caffe yang kupesankan. Dia memang tak pernah berubah.

Mataku sedikit teralihkan ketika dua sejoli menghampiri gadis pujaan hatiku. Oh yah, mereka adalah Nichkhun dan Tiffany. Kudengar mereka telah meresmikan hubungan mereka satu bulan yang lalu. Entahlah aku tak begitu mengenal mereka akupun dapat kabar itu dari teman kampusku dulu.

Aku mengernyit ketika Tiffany memeluknya. Bukan pelukan biasa tapi sebuah pelukan untuk menenagkan. Nichkhun pun mengusap lengan Yoona. Ada apa sebenarnya? Apa terjadi sesuatu pada Yoona? Apa Yoona tengah dirundung kesedihan?

Aku bertanya-tanya yang tentu otakku pun tidak dapat menjawabnya.

~[]~

 

Siang itu terik matahari begitu membakar tubuh. Kurasa harus ada tambahan AC di ruanganku. Aku akan mempertimbangkannya nanti.

Merasa kebosanan mengurung diri setengah hari di ruang kerja. Aku pun memutuskan untuk keluar, sedikit merilekskan tubuh yang kaku.

“Oh, anak manis. Sedang apa disini, sayang?” aku bertanya pada seorang gadis kecil di depan ruanganku. Kusejajarkan tubuhku untuk menyamai tingginya.

Awalnya ia menoleh kekanan dan kekiri lalu bertatap kearahku. Ia tersenyum cerah lantas memeluk leherku membuatku sedikit terperanjat.

Aigoo apa kau terpisah dari Ibumu?” Ia mengangguk namun tak melepas pelukannya di leherku. “Arasseo, Ahjussi akan mengantarmu menemui Ibumu..” gadis kecil itu mengangguk dan kembali tersenyum cerah. Oh, aku baru menyadari dia punya lesung pipit sama sepertiku.

Kuedarkan pandanganku keseluruh penjuru cafe. Sepanjang mata memandang tak jua kujumpai seorang wanita baya ataupun sesosok terlihat seperti orang yang tengah kehilangan. Aku kembali menoleh pada gadis kecil dalam gendonganku, ia tegah asik memainkan kerah bajuku.

“Dengan siapa kau kemari, gadis manis?” Dia tak menjawab, masih bermain dengan ujung kerah bajuku sampai mata bulatnya menatap kearahku sedetik kemudian menoleh kearah samping.

“Imo!” Aku mengikuti arah pandangnya dan menemukan sosok wanita cantik tengah tergesa-gesa menghampiri kami.

Gadis kecil itu turun dari gendonganku lalu berlari keci kearah wanita itu.

“Oh astaga, Yeonwoo. Demi Tuhan, kau membuat Imo khawatir sayang..” wanita itu memeluk si gadis kecil dengan sangat erat.

“Kau tidak apa-apa ‘kan? Kau terluka, hm?” Dengan kecemasan yang tergambar di wajahnya, wanita itu memeriksa tiap inch tubuh gadis kecil tadi.

Sementara si gadis kecil menggelengkan kepala. Tak berapa lama ia menoleh kearahku membuat wanita itu juga menoleh kearahku.

Ia berdiri perlahan, tak melepas kontak mata kami. Tubuhku seketika membeku bagai bongkahan Es, bahkan sejak wanita cantik ini menghampiri kami.

“Kau….?”

“H-hai…”

Si gadis kecil menarik tangan Yoona untuk menghampiriku. Semenatara aku masih kesulitan mengatur kerja jantungku.

Imo, kenalkan dia namjachingu-ku..” celetuk si gadis kecil sambil menarik-narik kemejaku. Spontan membuatku dan dia terlonjak kaget. Dan kemudian kami tertawa bersama.

Kupikir Tuhan memang baik menghadirkan gadis kecil ini sebagai jembatan pertemuanku dengannya.

~[]~

 

Entah bagaimana, saat ini ia sudah duduk di depanku, menyeduh secangkir decaf caffe. Satu hal yang tak pernah terbayangkan dalam hidupku. Setidaknya setelah terakhir kali kami mengobrol, sekitar tiga tahun yang lalu.

“Bagaimana kabarmu?”

Aku merutuki kebodohanku. Memang stempel ‘Pecundang’ telah tertempel permanen didahiku. Mungkin teramat kecil hingga diriku sendiri pun tak bisa melihatnya.

“Baik..” aku menahan napas. Ini sebuah kesempatan untuk lebih dekat dengannya maka aku tak boleh melewatkannya.

“Kau bekerja disini?” Ia bertanya lagi.

Aku mengangguk, “Aku pemilik cafe ini..” kuulas sebuah senyum.

Jinjja-yo?” Dia meletakkan decaf caffe-nya kemudian menatapku tak percaya. “Aku tak pernah melihatmu sebelumnya. Kau tahu, cafe ini selalu kukunjungi setiap hari. Dan jika tahu sejak awal ini merupakan cafe-mu aku akan meminta minuman serta makanan gratis disini..” Dia tertawa diakhir kalimatnya yang kubalas dengan senyum lebar.

Aku tahu Im Yoona. Bahkan tiap jam berapa kau berkunjung pun aku mengetahuainya. Dan kau memang selalu mendapat minuman gratis dariku, ah ani! Mungkin harus kuralat, secangkir decaf caffe dari si Tuan Loker.

“Kupikir kau meneruskan bisnis Ayahmu. Keluarga kalian sangat terkenal di masyarakat Korea..”

Aku tersenyum simpul. Apalah arti ketenaran itu jika diri ini tidak pernah mampu mengutarakan cinta didepan gadis yang dicintainya.

“Aku hanya ingin membuka usaha sendiri, mencoba peruntungan. Lagipula aku lebih tertarik pada bisnis ini..”

“Sejak kapan kau membuka cafe ini?”

“Satu bulan yang lalu..” Tepat ketika kali pertama aku menemukanmu berada di cafe ini maka kuputuskan untuk membelinya.

Ia menganggukkan kepala serta menyeruput decaf caffe-nya.

“Kau sendiri, bagaimana kabarmu?” aku mencoba bicara serileks mungkin. Kuseduh secangkir espresso yang sudah hangat.

“Aku baik.” Dia tersenyum manis membuat kerja jantungku memompa berkali-kali lipat.

“Belanda?” meski satu kata yang kutanyakan, aku yakin ia sudah tahu maksudku.

“Menyenangkan..” senyum serta anggukan kecil menemani jawabannya.

Yah, tentu saja menyenangkan. Dia pasti melewatkan hari-hari yang menyenangkan bersama tunangannya. Pria beruntung yang dapat memenangkan hati gadis pujaan hatiku.

Ia melirik alroji yang melingkar di tangan kirinya, “Yeonwoo…”

Gadis kecil yang sedari tadi bermain bersama anak gadis salah satu pengunjung, berlari menghampiri kami.

“Kita pulang sayang, Ayah dan Ibumu pasti sudah menunggu..” si gadis kecil memanggutkan kepala.

“Ah, Choi Siwon-ssi. Sepertinya aku harus segera pulang. Orangtua dari gadis ini sangat cerewet jadi aku harus segera mengembalikan si tuan puteri ke kandangnya..” aku terbahak mendengar kalimatnya, “Baiklah hati-hati dijalan.”

Dia sudah berdiri dan aku menyusulnya, “Senang bertemu denganmu Siwon-ssi. Aku akan berkunjung lagi besok..” katanya sebelum benar-benar berbalik dan menggandeng Yeonwoo. Aku memenggutkan kepala dan melambaikan tangan.

Belum sampai menuju pintu keluar tiba-tiba Yeonwoo menghentikan langkahnya. Ia berbalik dan berlari kearahku. Aku berjongkok untuk menyamai tingginya, belum mengerti dengan maksudnya. Namun kemudian ia mengecup pipi kananku membuatku tersenyum simpul.

Gadis kecil itupun kembali berlari kearah Yoona, “Eiii… kau genit sekali, Yeonwoo..” samar-samar kudengar ucapan Yoona yang sudah keluar dari cafe ini.

~[]~

 

Segalanya berjalan dengan cepat. Aku tak tahu kapan tepatnya, setahuku pertemuan kami setelah tiga tahun yang lalu masih serasa kaku waktu itu namun hari ini dan hari-hari seterusnya dia dengan mudahnya mengajakku untuk keluar dari tempat persembunyianku. Tempat biasa aku mengamatinya serta mencuri-curi pandang kearahnya.

Kami banyak menghabiskan waktu bersama, sekedar hanya untuk mengobrol ataupun bertukar cerita. Tak banyak yang dapat kuceritakan. Karna cerita hidupku adalah menulis tentangnya, menjadikannya sebuah objek hidupku. Tentu saja aku tak menceritakan bagian itu. Aku masih menjadi si Tuan Loker. Membagi peranku menjadi dua. Menjadi pengagum rahasianya sekaligus temannya.

Aku tak pernah mendengar ia bercerita tentang tunangannya itu. Entahlah akupun tak tertarik untuk membahasnya. Aku lebih menikmati bagaimana ia bercerita atau mungkin menikmati lekuk garis wajahnya dari jarak sedekat ini. Dia, didepanku. Hanya berjarak beberapa meter saja.

Aku menahan senyum geli ketika salah seorang pelayan cafe-ku menghampiri kami, mengantarkan segelas decaf caffe serta secarik kertas. Bukankah aku sangat bodoh? Aku terlihat seperti orang yang tengah menertawakan dirinya bahakan tingkahku sendiri.

Dia dengan antusias menceritakan tentang Tuan Loker yang tidak pernah absen mengirimkan sticky note kepadanya. Oh andai kau tahu Im YoonA, bahwa orang itu adalah aku. Sosok yang kau ceritakan dengan semangat menggebu-gebu itu adalah aku.

Dan aku hanya menghela napas pelan, teramat pelan agar ia tak mendengarnya. Aku pernah bilang ‘kan? “Bahwa bagian terbaik dari sebuah hubungan adalah sebelum hubungan itu benar-benar terjadi.”

Aku bahagia dengan hubungan kami saat ini, sebagai seorang sahabat untuknya sudahlah menjadi cukup untukku. Bahkan ketika dapat melihat ia mamandangku, menarik manik mataku untuk balas menatapnya. Semua itu sudah menjadi perihal yang patut kusyukuri.

Pertemuan-pertamuan kami menghasilkan kisah baru dalam hidupku. Aku merasa sudah sangat dekat dengannya, mengenal baik kepribadiannya. Bahkan kami sering keluar bersama sekedar untuk menonton film dan menghabiskan waktu senggang.

Hingga suatu hari ketika aku baru saja keluar dari ruang kerjaku. Pemandangan buruk langsung tersuguhkan didepan mataku. Gadis itu, si peri tak bersayapku. Dia menangis, menangis tersedu-sedu bahkan bahunya sampai bergetar.

Pemandangan didepan mataku tak hanya diriku yang menyaksikan namun juga seluruh pengunjung cafe, kurasa ini mereka jadikan sebuah hiburan tersendiri.

Entah bagaimana renten kejadiannya, yang pasti saat ini aku menyaksikan sebuah pertengkaran hebat. Antara Yoona dan seorang pria yang kuyakini itu pasti tunangannya.

Aku ingin menghampirinya. Menghajar pria terkutuk itu yang telah tega membuat gadis-ku menangis. Baru selangkah kaki ini berjalan, Yoona telah berlari keluar cefe dengan derai air mata.

Rasanya ingin sekali kulayangkan sebuah tendangan pada wajah lelaki itu. Namun sebisa mungkin kutahan. Tidak! Jangan membuat onar, bukan disini tempatnya.

Tak membutuhkan waktu lama lagi. Aku berlari mengejar Yoona. Saat ini dia pasti sangat rapuh, butuh pundak kokoh untuk menyangga kerapuhannya.

Langkahku terhenti didekat sungai Han. Dia berlari sejauh ini.

Aku masih mengatur nafasku ketika mulai berjalan mendekatinya. Tubuhnya melingkup, dan bahu itu masih bergetar. Oh, Tuhan. Tidakkah ini begitu menyiksa untukku?

Setelah berkutat dengan pikiranku, kuputuskan untuk duduk disebalahnya. Sedikit keraguan ketika tangan ini hampir menggapai bahu yang rapuh itu. Kupejamkan mata kemudian telapak tanganku benar-benar menyentuh bahunya.

Ia mendongak, menoleh kearahku. Matanya berair, seperti menyimpan sebuah luka. Dan luka dalam hatiku tak kalah perih ketika mendapatinya dalam keadaan terpuruk seperti ini.

Tangisnya pecah ketika ia menghambur dalam dekapanku. Aku bisa merasakannya. Aku bisa merasakan baru secuil kelegaan dihatinya. Aku bisa merasakan perih hatinya mendengar ia meraung dalam isakkan tak tertahankan.

Kuusap lembut punggungnya yang masih bergetar, mencoba memeberikan ketenangan. “Menangislah sepuasmu. Tidak apa. Aku takkan memberitahukan pada siapapun..” kuhalau bulir air mata yang siap meluncur dari sudut mataku.

Aku bodoh! Menyuruhnya menangis sepuasnya namun mencegah diriku sendiri untuk menangis.

Isakkannya semakin keras, seperti berjuta belati yang merajam ulu hatiku. Sungguh aku ingin mencengkram kedua pundaknya, memaksanya untuk melihat kedalam bola mataku lalu berkata, “Untuk apa kau menangisi pria brengsek itu? Apa kau tak pernah menyadari bahwa ada aku disini yang selalu berjanji tidak akan membuat setespun air jatuh dari sudut matamu.”

Tidak Choi Siwon! Jangan gunakan egomu! Yang harus kau lakukan saat ini adalah menjadi temeng baginya. Menjadikan dirimu sandaran untuk menampung segala kerapuhannya.

Kubiarkan ia menangis dalam dekapanku. Menemaninya melukiskan luka lara. Bahkan aku tak keberatan ketika mendapati ingusnya menempel pada jas hitam hadiah dari Sooyoung yang dibelikannya dari Paris.

__

 

Kubaringkan tubuh mungilnya diatas ranjangku. Ia terlalu banyak minum, dan aku tahu ia bukan tipekal peminum melihat bagaimana caranya minum tadi. Hanya dengan segelas wine sudah membuatnya mabuk.

Aku duduk di tepi ranjang, memandang sendu gurat kesedihan yang masih jelas tergambar di wajahnya. Kuusap surai rambut coklatnya, “Sebegitu besarkah cintamu padanya?”

Aku tidak tahu pokok permasalahannya namun yang kuyakini mungkin ini menyangkut status hubungan mereka. Aku juga tidak ingin terlalu ikut campur kedalamnya. Biarkan Yoona sendiri yang bercerita nanti.

Meski tertidur pulas namun wajahnya tetap saja menunjukkan ada kepedihan disana. Bibir yang biasa kulihat melengkung bagai bulan sabit kini mendatar dengan sudut seratus delapan puluh derajat. Ini jauh lebih buruk dari kepergiannya tanpa mengetahui perasaanku tiga tahun yang lalu. Jika ada sebuah pilihan maka aku memilih lebih baik dia tidak pernah mengenalku namun aku selalu dapat melihat senyum rekahnya daripada ia mengetahui keberadaanku namun justru air mata yang tergambar di wajahnya.

Senyum getir terulas dibibirku. Kutarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Sebelum benar-benar beranjak kusapukan sebuah kecupan lembut di keningnya. Kuharap itu dapat menjadi obat manjur pengantar bunga tidur terindah.

“Good night, have a nice dream..”

Siwon POV End

 

Dari celah-celah jendela masuk sebuah cahaya menembus gorden putih bersih. Yoona melenguh, merasakan sinar sang mentari yang menembus menyorot wajahnya.

Mata itu perlahan terbuka. Sedikit mengedikkan kepala lantaran pening yang tiba-tiba menjalar. Matanya menyapu keseluruh penjuru ruang. Ia merasa asing dengan ruang ini. Kamar siapa ini? Dimana ia sekarang? Apa ia diculik?

Yoona buru-buru mengintip tubuhnya dibalik selimut tebal yang membungkus tubuhnya. Hela napas kelegaan keluar dari mulutnya. Pakaiaannya masih lengkap.

Pelan-pelan ia mengingat renten kejadian sebelum ia berakhir tertidur di kamar ini. Terakhir kali ia ingat setelah pertengkarannya dengan Joongki—tunangannya. Setelah itu dia menangis, lari kearah sungai Han kemudian menumpahkan segala tangisnya disana. Tak lama.. ah! Siwon menenangkannya lalu….

‘Cklekk’

“Oh, kau sudah bangun?”

Yoona menoleh pada pintu kamar. Ia bangun kemudian bersandar pada sandaran ranjang. Dilihatnya Siwon berjalan kearahnya sambil membawa nampan.

“Apa itu?”

Siwon duduk di sisi ranjang, dekat dengan Yoona. “Semalam kau mabuk berat karna tubuhmu tidak terbiasa menerima minuman beralkohol makanya suhu badanmu naik. Kau ini, sudah tahu tidak kuat minum masih saja memaksakan diri. Dasar..!” Siwon berdecak kesal sambil mengaduk bubur dalam mangkok.

Ada semburat merah mengulas pipi Yoona. Saat mabuk apa ia banyak bicara? Biasanya ia akan banyak meracau ketika tak sadar. Oh, semoga saja ia tak bicara yang aneh-aneh bahkan sampai membocorkan rahasianya.

“Ini kamar—“

“Buka mulutmu!” Yoona membuka mulutnya ketika Siwon menyodorkan sesendok bubur.

“Kau tinggal sendiri di apartemen ini?” Siwon mengangguk tak menatap kearah Yoona. Sementara gadis itu mengunyah bubur sambil menelusuri sekeliling kamar. Kamar bernuansa manly, sangat lelaki.

“Aku tidak bicara yang aneh-aneh ‘kan ketika mabuk semalam?” tanya Yoona setelah melahap satu suapan lagi dari Siwon.

“Kau hanya berkata tidak ingin diantar oleh siapapun kecuali aku.” Siwon memberikan cengiran yang dibalas pukulan Yoona di lengannya.

“Dia…. memutuskan hubungan kami secara sepihak..” Siwon menghentikan aktivitasnya mengaduk bubur, sejenak mendengarkan cerita Yoona.

“Sebulan yang lalu kami kembali ke Seoul untuk membicarakan lebih lanjut hubungan kami sekaligus ia mengurus perusahaannya yang ada disini. Sejak awal memang hubungan kami tidak dibangun dengan baik. Semua karna keterpaksaan..” Yoona menahan napas, menjeda kalimatnya.

“Dia bilang aku perempuan tidak tahu diri yang bermain dengan pria lain padahal sudah memiliki tunangan..” gadis itu menerawang kearah jendela tidak menyadari perubahan raut wajah Siwon.

“Tentu saja aku menangis. Aku bukan wanita seperti itu. Dia orang yang pecemburu dan terlalu egois. Aku coba menjelaskan bahwa kau hanyalah sahabatku tapi dia tak juga percaya. Kurasa memang hubungan kami tidak layak lagi untuk dilanjutkan..”

Siwon menghela napas pelan. Oke, Siwon. Kau hanya dianggap sebagai sahabat, tak ada perasaan lebih darinya untukmu.

Yoona tersenyum kecil meratapi kisah cintanya. Tidak pernah terbayang akan berakhir seperti ini. Yah, kisah asmara yang rumit.

Matanya menangkap sebuah benda yang menarik perhatiannya, “Cinta tak harus memiliki..” gumamnya membaca secarik kertas diatas meja dekat jendela. Sontak Siwon terhenyak, ia tolehkan keplanya kearah Yoona, “Mwo?”

Yoona menatapnya dengan memincingkan mata, “Eiii… kau sedang jatuh cinta yah? Iya ‘kan?” goda Yoona menoel-noel bahu Siwon.

Siwon memalingkan wajah dari Yoona. Wajahnya sudah bersemu merah, menahan malu. Apalagi kalimat yang tertera diatas kertas kecil itu. Sudah pasti siapa saja yang membacanya akan menyimpulkan bahwa cintanya tak terbalaskan.

Yoona memiringkan kepala, mencoba melihat wajah Siwon, “Hei, mengaku saja. Tidak apa. Aku tidak akan memberitahukan pada siapapun..” kata Yoona tersenyum lebar.

Sementara Siwon mengatur gurat wajahnya agar terlihat biasa-biasa saja, “Kau ini bicara apa!” katanya dengan nada datar sambil menyuapkan sesendok bubur lagi.

Yoona menerima bubur itu dengan mengerucutkan bibirnya, “Jangan bohong. Aku tahu kau se—“ satu suap bubur langsung disodorkan Siwon ke mulutnya.

“Habiskan buburnya dulu baru bicara!” titah Siwon.

Yoona mengunyah serta menelan habis bubur dalam mulutnya, “Siapa gadis be—“ Siwon menyuapkan sesendok bubur lagi ke mulut Yoona bahkan ketika Yoona telah menghabiskan bubur itu ia terus menyuapkan bubur berikutnya tanpa memberi kesempatan Yoona bicara.

“YA!!” Yoona berteriak dengan mulut penuh bubur.

Siwon tersenyum geli. Ia tidak ingin gadis ini sampai tahu reaksi wajahnya jika dihadapkan pada pertanyaan mengenai secarik kertas itu padahal jelas-jelas gadis yang dicintainya ada di hadapannya.

 

Siwon POV

Sudah satu minggu semenjak kejadian itu. Dia tak lagi mengungkit tunangannya itu. Mungkin terlalu menyakitkan mengingat seseorang yang membentakmu.

Orangtuanya masih berada di Belanda untuk mengurus bisnis mereka disana. Itu kudengar dari ceritanya. Dia juga berkata bahwa putusnya hubungan pertunangan mereka awalnya sangat ditolak oleh kedua keluarga mereka. Namun enatah bagaimana, baik Yoona maupun pria bernama Joongki itu dapat meyakinkan bahwa keputusan mereka memang yang terbaik bagi mereka sendiri.

Aku termenung duduk di kursi kerjaku, memikirkan perkataan Sooyoung yang terus menghantui pikiranku. Sooyoung terus mendesakku untuk mengutarakan perasaanku yang terpendam selama kurang lebih sepuluh tahun ini. Ini konyol! Masih adakah pria sepertiku? Yang mencintai seorang gadis hingga sepuluh tahun lamanya bahkan tak pernah sanggup mengutarakan perasaannya. Kuarasa hanya aku seorang.

Apa aku harus mengutarakan perasaanku? Lalu bagaimana jika dia menolakku? Tidak, maksudku bukan aku takut dia menolakku. Hanya saja yang kutakutkan jika aku menyatakan perasaanku padanya namun dia tak memiliki perasaan yang sama denganku, dan itu akan berdampak pada persahabatan kami. Aku tidak ingin persahabatan kami menjadi renggang setelahnya. Tidak! Aku sudah bahagia dengan hubungan kami yang seperti ini.

Tapi….

“Arrgghh..!!” kutarik rambutku frustasi. Kenapa begitu sulit mengerti akan cinta? Aku tidak ingin menodai persahabatan kami tapi aku juga tidak bisa menyiksa diriku sendiri. Berada sedekat itu dengannya justru menambah perasaanku padanya.

Ini tidak bisa dibiarkan. Setidaknya aku harus mencobanya dulu. Yah, aku telah melewatkan kesempatan di masa lalu. Mungkin memang Tuhan memberi kesempatan bagiku untuk keluar dari sikap pecundang ini.

Setelah berkutat dengan pikiranku sendiri. Kulirik secarik kertas diatas meja kerjaku. Kakiku melangkah kearahnya. Kugenggam sticky note berwarna merah itu. Well, segala hal bisa saja terjadi.

Siwon POV End

 

Yoona duduk dengan gelisah, matanya sibuk melihat sekelilinga cafe. Diliriknya alroji yang melingkar di tangan kirinya. “Sudah satu jam. Tidak biasanya Siwon belum juga muncul..” gumamnya pelan. “Oh, mungkin dia sibuk.” Yoona menyimpulkan.

Tak lama seorang pelayan cafe datang menghampirinya, meletakkan segelas decaf caffe serta secarik kertas berwarna merah. Yoona mengucapkan terimakasih serta menundukkan kepala pada pelayan cafe itu. Belum sempat ia meraih secarik kertas mungil itu, pelayan tadi memberinya sepucuk surat. Yoona mengerutkan dahi namun si pelayan cafe hanya tersenyum seraya permisi melenggang pergi.

“Biasanya Tuan Loker hanya memberi sticky note, kenapa ada surat juga..” Yoona membolak-balikkan kertas yang terlipat rapi dalam genggamannya.

Sedikit menimang-nimang dibukanya lipatan surat itu. Belum sampai satu kata terbaca olehnya, perhatiannya teralihkan pada sticky note berwarna merah marun di dekatnya. Tangannya tergerak mengambil kertas kecil itu.

“Menekan cahaya yang tersambut sang mentari. Menghalau kerasnya peluru yang menembus perisai hati. Kau tahu aku sudah bertahan berapa lama. Yah, sejak kali pertama kutulis bait-bait kalimat untukmu. Sejak pertama kali mata ini menemukan objek terindahnya. Entah Tuhan telah menciptakan mata ini untuk menjadi kamera pembidik ciptaan terindah-Nya atau sekedar hanya untuk menikmati maha karya-Nya saja namun pada kenyataannya mata ini memang kembali dipertemukan pada objek terindahnya setelah tiga tahun berlalu. Aku meyakini bahwa kau pasti mengerti arti sesungguhnya dari ulasan kalimatku. Ketika kau menerima secarik kertas kecil ini, aku sedang menunggumu di taman dekat sungai Han tepat dibawah pohon besar. Jika kau merasa ingin melihatku, memastikan siapa diriku maka temui aku sekarang juga. Salam manis, Tuan Loker mu^^”

Yoona membeku ditempat usai membaca kertas kecil itu. Beberapa kali matanya mengerjap. Menemui serta mengetahui siapa Tuan Loker nya selama ini? Tentu saja ia ingin.

Ketika matanya bergerak liar, berusaha menenangkan perasaannya. Tak sengaja kedua bola matanya menangkap sepucuk surat yang tergeletak diatas meja, belum sempat dibacanya. Mungkin itu juga dari Tuan Loker, pikir Yoona meraih kertas putih itu.

Dear Im YoonA,

Sahabatku yang terkasih. Maaf, hari ini aku tak bisa menemanimu seperti biasa. Duduk di tempat favorit kita, mendengar segala kisahmu, serta menghabiskan waktu senggang. Lucu bukan, ketika aku tak dapat menemanimu justru malah menulis sepucuk surat ini.

Ini bukan hanya sepucuk surat yang kutulis diatas putih kertas. Kau tahu, terkadang seseorang tidak dapat mengutarakan apa yang ia rasakan. Bukan karna ia tidak berani atau tidak menemukan kalimat yang tepat. Tapi… karna terlalu banyak kata yang tidak bisa dijelaskan. Ada beribu bahkan jutaan isyarat hati yang tak dapat disampaikan oleh gerak lidah.

Dan aku mengalaminya.

Aku mencintaimu, Im YoonA. Tidak tahu kapan tepatnya. Perasaan itu menjalar begitu saja. Membungkus hati dengan rangkaian bunga-bunga kecil yang tak terhingga banyaknya. Setiap kali menghabiskan waktu bersamamu rasa itu kian bertambah. Mungkin kau bisa memberikan stempel pecundang di dahiku. Dan aku yakin hanya aku seorang, pria yang pernah kau temui yang menyatakan perasaannya pada sepucuk surat.

Yah, kau berhak beranggapan seperti itu. Namun surat ini bukan sekedar surat yang ditulis dengan berjuta kata yang hampir meledak. Karna aku menulis perasaanku disini, ditiap kata yang telah kau baca.

Aku mencintaimu, Im YoonA. Jika kau mengizinkan diri ini menjadi benteng penyangga rapuhmu, jika kau mengizinkan diri ini menjadi payung kokoh yang siap melindungimu dari kelebatan perih maka temui aku di sebuah taman pusat kota Seoul. Aku menunggumu dan aku tidak akan pernah kecewa dengan jawabanmu. Sahabatmu sekaligus sosok yang telah lancang mencintaimu, Choi Siwon.

 

Siwon POV

Aku duduk disebuah bangku taman. Merasakan sejuk angin musim semi yang sebentar lagi akan tergantikan. Berangkai bunga-bunga cantik menjulang. Ini indah. Yah, seindah sebuah bunga tidur.

Kuhela napas panjang. Aku telah memutuskan. Memberinya sebuah pilihan. Menemui si Tuan Loker yang selama ini menjadi pengagum rahasianya atau memilih untuk menemui sahabatnya, si pria berkacamta.

Dan sekarang aku termenung disini. Duduk bersilah sebagai diriku sendiri, pria berkacamata.

Aku tersenyum miring. Jelas ini lebih dari kata konyol. Meski Yoona menemui si Tuan Loker yang berarti diriku juga namun aku lebih memilih menjadi sahabatnya, rang yang beberapa minggu ini bersamanya.

Jika dalam waktu lima menit dia tak datang itu berarti dia lebih memilih datang ke sungai Han, menemui Tuan Loker. Aku sudah menyuruh rang untuk menunggunya disana kalau-kalau dia benar datang ke sungai Han. Tentu aku takkan menyuruh orang itu berperan sebagai Tuan Loker. Aku hanya menyuruhnya jika Yoona benar-benar datang maka ia harus mengatakan bahwa si Tuan Loker cukup tahu jawaban dari pernyataannya dan akan menemuinya esok.

Kulirik jam tanganku. Well, ini sudah lebih dari cukup. Sepertinya memang dia lebih tertarik pada diriku sebagai Tuan Loker.

Aku menarik nafas dalam kemudian berdiri dari dudukku. Bersamaan dengan langkah kakiku, maka kisah ini telah berakhir. Kisah pria pecundang yang tak terbalaskan perasaannya. Pada akhirnya segalanya tidak ada bedanya dengan tiga tahun lalu. Masih sama.

“Kau…”

Kuhentikan langkahku ketika mendengar sebuah suara yang tak asing di telingaku. Ah, pasti itu hanya halusinasiku semata. Dia tidak mungkin datang kemari.

Aku maju selangkah lebih cepat.

“YA!!”

Kali ini suara itu benar-benar nyata terdengar di telingaku. Kubalikkan badan sedikit ragu. Seketika tubuhku menegang. Dia? Disini? Berdiri tepat di depanku?

Aku masih tak percaya maka aku mendekat kearahnya. Ia tengah menatapku dengan tatapan yang tak bisa diartikan sementara aku, pasti semua orang sudah dapat menatap raut keterkejutan di wajahku.

“Kau datang?” suaraku sedikit bergetar. Ia mengangguk.

“Jadi….?” aku tak sanggup melanjutkan ucapanku. Ia terdiam sejenak seperti sedang berfikir. Ia menghembuskan napas pelan. Wajahnya menunjukkan raut penyesalan.

Oh tidak. Ini lebih buruk daripada ia tak menemuiku.

“Maaf…”

Cukup. Yah~ satu kata itu sudah mewakili segalanya. Dia…. menolakku!

Aku mengangguk, mencoba untuk tersenyum meski yang tercipta hanyalah senyum tipis.

Gwenchana..” lirihku pelan.

Baiklah ini tidak buruk. Tidak begitu buruk. Setidaknya aku sudah ada kemajuan dengan menyatakan perasaanku yang terpendam selama sepuluh tahun ini. Walaupun rasanya sakit sekali. Perasaan selama sepuluh tahun yang tak terbalaskan. Sungguh mengenaskan.

“Maaf, aku tidak bisa menolakmu..” aku terperanjat ketika sebuah bisikan lembut menggelitik indera pendengaranku. Ia sudah berada tepat didepanku dengan senyum manisnya.

“M-mwo? Bisa kau ulangi sekali lagi?”

Ia mengangguk dan mendaratkan sebuah kecupan di pipi kananku. “Nado saranghae, Choi Siwon..”

Aku masih terdiam untuk beberapa menit. Rasanya rohku baru saja terbang menembus langit berlapis tujuh lalu menari-nari di atas awan bersamaan dengan jutaan bunga yang menculat dalam rongga dada. Oke, itu berlebihan!

“Jadi, kau membalas perasannku?” aku seperti orang bodoh yang terus bertanya sebelum benar-benar mencerna satu persatu kalimatnya.

“Iya Choi Siwon. Aku juga mencintaimu..”

Dan kini aku sudah seperti seekor kuda yang baru lepas dari kandangnya. Berteriak, meloncat-loncat kegirangan. “Yohhuuu! Dia mencintaiku! Dia membalas perasaanku!”

Siwon POV End

 

Ini belum berakhir. Kisah ini masih berlanjut.

Yoona masih mengingat betul kenapa dia lebih memilih menemui Siwon daripada si Tuan Lokernya. Orang biasa menyebutnya karna sebuah kebiasaan. Ketika seseorang merasakan kecockan dengan orang lain. Ketika seseorang merasakan kenyamanan berada didekat orang itu. Ketika rasa takut kehilangan saat orang tersebut jauh darinya. Apa itu tidak cukup disebut dengan perasaan cinta?

Oke, mungkin tidak cukup. Namun yang namanya perasaan cinta itu datang tanpa terduga, benar ‘kan? Dan karna mengikuti seruan hati kecilnya, Yoona memutuskan untuk menemui Siwon ketimbang pria misterius yang sebenarnya sangat membuatnya penasaran. Well, hati kecil tidak pernah berbohng ‘kan?

Hampir tiga bulan menjalin hubungan bersama Siwon membuatnya tahu, sedikit banyak pria itu lebih senang memendam masalahnya sendiri ketimbang berbagi. Berkali-kali Yoona mendesak ketika mengetahui raut wajah Siwon yang seperti memikirkan sesuatu namun berkali-kali juga Siwon membantah dan mengatakan bahwa ia tidak apa-apa, selalu saja berkata begitu.

Hal ini juga membuat Yoona marah. Sudah seminggu terakhir, ia menghiraukan Siwon. tidak pernah membalas pesannya, tidak mau mengangkat telfon dari pria itu. Ia ingin Siwon mengerti bahwa sekarang ini dia adalah kekasih Siwon. ia hanya ingin menjadi tempat berbagi untuk Siwon tapi sepertinya pria itu masih kekueh menutup dirinya.

Siang itu Yoona merenung, duduk di kursi cafe Siwon. Ia tak berniat bertemu dengan si pemilik cafe. Lagipula si pemilik cafe sepertinya juga tak berada di tempat.

Dan ia kemari hanya ingin menerima secarik kertas dari si Tuan Lokernya sambil menyeduh segelas decaf caffe. Yah, si Tuan Loker masih setia mengirimkan bait-bait bersajak indah untunya. Entah bagaimana, bait-bait sajak puisi ataupun ulasan kalimat dari si Tuan Loker sudah menjadi sisi manis hidupnya. Tercatat sebagai perjalanan hidup paling menyenangkan mendapat kertas-kertas kecil berwarna-warni.

“Oh, Im YoonA! Aku mencarimu kemana-mana ternyata kau ada disini..” Yoona menoleh kesamping, “Soo? Waeyo?” tanya Yoona tak mengerti. Selama menjadi kekasih Choi Siwon. Ia cukup dekat dengan Sooyoung, adik satu-satunya Siwon.

Sooyoung berkacak pinggang, “Apa kau sedang bertengkar dengan Siwon Oppa?” Sooyoung menyipitkan matanya.

Yoona memanyunkan bibirnya, “Dia yang mulai..” sahutnya.

Sooyoung menghela napas panjang kemudian menarik tangan Yoona untuk berdiri. “Ya! Apa yang kau lakukan?” Yoona protes.

“Tidak ada waktu lagi. Gara-gara kau marah padanya, dia jadi ingin bunuh diri..”

“MWO??” Sooyoung menepuk dadanya, “Astaga kecilkan suaramu!”

“D-dimana dia sekarang?” Yoona jadi kalang kabut. Apa yang ada dalam pikiran pria itu. kenapa pikirannya sempit sekali. Hanya di diami begitu saja sudah mau bunuh diri. Benar-benar pria dengan otak kecil.

“Katanya dia akan meloncat dari atas gedung rumah sakit—“

Yoona langsung berlari keluar sebelum mendengar lanjutan kalimat dari Sooyoung. Pikirannya benar-benar kalut saat ini.

“Ya ya ya! Dasar..” Sooyoung bedecak kesal, “Setelah ini pria pecundang itu harus benar-benar menteraktirku karna telah berdusta untuknya..”

__

 

Yoona mematung ditempat. Nafasnya tersenggal karna naik tangga darurat untuk sampai di lantai teratas rumah sakit terdekat dengan cafe Siwon.

Disana, di ujung sana Siwon berdiri, dekat dengan pagar pembatas. Apa pria ini benar-benar akan bunuh diri? Dia gila atau apa?

Siwon mengulas senyum melihat Yoona perlahan berjalan kearahnya. “Hai..”

Dia masih menyapa dengan kata ‘Hai’? dengan nada santai pula? Oh astaga apa dia tidak tahu bahwa aku sudah hampir mati karna menghawatirkannya. Yoona menggerutu dalam hati.

“Kau gila, untuk apa berdiri disitu? Cepat kemari dan kita selesaikan baik-baik.” Yoona membujuk.

Siwon menggelengkan kepala, “Yah aku memang gila.”

“Apa? Hei, Tuan! Ini hanya masalah sepele dan kau….?”

“Tidak, ini bukan masalah sepele. Ini menyangkut kisah cintaku. Aku tidak akan bunuh diri kecuali kau mau menikah denganku..”

Yoona menganga setengah tak percaya lalu mendengus, “Lamaran macam apa itu? Sama sekali tidak romantis!” ketusnya menyilangkan kedua tangan di muka dada sambil mengalihkan pandangannya.

Siwon mengedikkan bahu, “Yasudah, kalau begitu dalam hitungan ketiga aku benar-benar akan terjun. Hana…. deul….s—“

“Camkaman!” Yoona berseru keras dengan wajah panik, “Arra arra aku akan menikah denganmu asalkan kau segera kemari. Jauh-jauh dari pagar pembatas itu.”

Siwon melebarkan senyumnya, “Jinjjayoa? Ah, aku sudah menyiapkan cincin. Tunggu dulu..” Siwon merogoh saku celananya dengan tak sabar. Senyum rekah diwajahnya semakin lebar.

“Ini kubeli… woahh…!”

Yoona membelalakan matanya ketika Siwon mulai berjalan kearahnya namun tak dapat menjaga keseimbangan dan mengakibatkan… PRIA ITU TERJATUH!!

“ANDWEEE!!” Yoona menjerit dan berlari pada pagar pembatas. Segala pikir buruk bersarang di otaknya. Tidak, jangan seperti ini. Disaat ia benar-benar menemukan pria yang mampu memberikan kenyamanan untuknya kenapa Tuhan berkehendak lain. Disaat dia berkeinginan menjadikan pria itu satu tujuan dalam hidupnya mengapa dengan cepat Tuhan merenggutnya. Jangan! Ini terlalu buruk untuk sekedar dibayangkan.

Nafas Yoona masih memburu ketika berhasil sampai pada pagar pembatas bahkan ia telah meneteskan air mata.

“Im YoonA, will you marry me?” suara keras itu berasal dari bawah sana.

Yoona masih setengah tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

Disana, dibawah sana. Ada puluhan suster dan dokter berseragam putih berbaris dengan rapi membentuk sebuah kotak. Kemudian setengah dari mereka mengeluarkan seikat bunga mawar merah yang jika dilihat dari atap gedung akan menciptakan bentuk hati.

Sementara itu Siwon, pria yang ia kira terjungkal kebawah itu saat ini tengah memegang pengeras suara dan tengah menunggu jawabannya.

Yoona terdiam sejenak membekap mulutnya dengan tangan sebelum akhirnya ia mengangguk, ia yakin kepalanya masih terlihat dari bawah sana. Ia terlalu…… terharu dan sampai tidak dapat mengeluarkan sepatah katapun.

Melihat respon Yoona sontak orang-orang dibawah sana bersorak gembira, menghambur saling memeluk satu sama lain.

Jadi semua ini sudah direncanakan? Siwon tak benar-benar berniat bunuh diri? Oh astaga, pria itu sudah membuatnya kesal sekaligus senang.

 

Siwon POV

Hal yang tak pernah terbayang olehku sebelumnya. Menikah dengan gadis pujaan hatiku, si peri cantik tak bersayap. Adakah anugerah lebih indah daripada ini? Kurasa tidak. Ini kado terindah dalam hidupku.

Ketika janji suci terucap, ketika kami disatukan dalam sebuah ikatan sakral di hadapan Tuhan dan ketika kuramu bibir manisnya di hadapan semua orang. Jantungku berpacu cepat, bedetak berpuluh kali cepat. Aku gugup, yah tentu saja. Ini akan menjadi sebuah gerbang yang membuka kehidupan baruku dengannya.

Demi Tuhan, Im YoonA. Aku tidak akan menyakitimu, sedikitpun.

Malam itu kami bercinta. Untuk pertama kalinya dalam hidupku. Dan kupastikan hanya dengannya seorang. Gadis yang teramat kucintai. Sinarnya sang rembulan yang terpantul dari gorden menemani tiap siratan percintaan kami yang telah terbuai dalam pusaran hasrat terpendam. Momentum terindah dari sepasang suami istri.

__

 

Rasa lelah menjalar keseluruh tubuhku. Malam ini, kami baru saja menghadiri acara keluarga sekaligus membicarakan pernikahan Sooyoung. Waktu berjalan bagitu cepat. Rasanya baru kemarin aku dan Sooyoung bermain layangan di taman belakang. Sekarang justru aku sudah memiliki seorang istri. Wanita yang menjadi teman hidupku selama kurang lebih dua bulan. Pernikahan yang masih bisa dibilang seumur jagung. Biar begitu kami mampu membangun rumah tangga yang harmonis apalagi dengan sikap terbuka dari keluarga kami. Tak jarang Ibuku dan Ibu mertuaku selalu saja meminta cepat-cepat ingin menimang cucu. Ya Tuhan, mereka semangat sekali jika sudah membicarakan hal itu. Memang mereka pikir membuatkan mereka cucu sama halnya dengan membuat kue-_-

Kududukkan tubuhku di tepi ranjang, menyandarkan tubuh lelahku. Mataku menerawang kearah langit-langit kamar. Aku tersenyum kecil, mengingat bagaimana kisah cintaku yang pada akhirnya berlabu pada gadis yang selama sepuluh tahun kucintai.

Pandanganku menyapu ke seluruh ruang, tak sengaja menangkap benda yang manarik perhatian. Sepertinya aku mengenal benda apa itu.

Sticky note?” gumamku begitu membuka kotak sepatu yang tergeletak di dekat lemari. Ada banyak sticky note disana. Tunggu dulu! Jadi…? Jadi Yoona tidak pernah membuangnya? Dia mengumpulkannya? Dia menyimpannya.

‘Ceklek’

Yeobo…”

Aku menoleh kebelakang. Ia baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melingkar di sekitar lehernya.

“Oh itu, itu dari Tuan Loker yang kuceritakan waktu itu…” ia berkata sambil mengeringkan rambut basahnya di depan cermin.

“Kau masih menyimpannya?” kubuat nadaku seperti sedang cemburu. Aku ingin mengetahui bagaimana reaksinya.

Yoona membalikkan badan, menghadapku lalu menghela napas, “Aku hanya menghargai apa yang dia berikan padaku.” Dia beranjak dan menghampiriku, mengambil alih kotak sepatu itu. Begitu ia membalikkan badan, aku tersenyum kecil. Kupeluk tubuh rampingnya dari belakang.

“Padang tak bertepi, seperti itulah senyummu. Tak ada batasan untuk setiap senyum indahmu. Jadi, tetaplah tersenyum jika dunia bahkan tak seperti yang kau ingini,” bisikku padanya. Kurasakan tubuhnya menegang. Ia pasti kaget dengan kalimatku barusan.

“Kau membacanya?” tanyanya memastikan. Memastikan aku membacanya atau memastikan aku si penulis?

“Tidak. Aku yang menulisnya..” jawabku santai.

Yoona melepaskan tanganku yang melingkar pada pingganganya lantas ia berbalik menghadapku, “Kau….. benarkah?” ia setengah tak percaya.

“E-em. Apa aku perlu membacakan semua tulisan-tulisan itu. Aku masih hafal dengan tulisanku sendiri..” kusilangkan kedua tanganku di muka dada lalu menatapnya dengan memincingkan mata.

“A-aww… appo!. Aissh..! Yoong, berhenti memukulku! Kau bisa kulaporkan KDRT..” kutahan tangannya yang menhajarku tanpa ampun. Dia nampak lebih buruk dari induk rusa yang sedang mengamuk.

“Kau! Kau tahu kau sudah seperti mempermainkanku, huh? Dasar jahat!!” tangan mungilnya tak berhenti melayang disekitar tubuhku bersamaan dengan kalimat umpatan yang terus meluncur dari mulutnya.

“YA!!” ia berteriak ketika kuraih tubuhnya ke dalam pelukanku.

Bugh!

Ouuuhh! Aku harus menahan rasa sakit ketika pukulan terakhirnya yang cukup keras.

“Maaf. Aku tidak bermaksud seperti itu. Yang terpenting sekarang aku tahu bahwa kau lebih memilih pria berkacamata dari pada si Tuan Loker..” bisikku lembut.

Ia tak membalas atau sekedar mengangguk. Kulepaskan pelukanku lalu menatap kedua matanya. Ia tersenyum manis lantas memanggutkan kepala, “Jangan ulangi perbuatan konyolmu itu lagi!” katanya dengan lirih.

Kutangkup kedua pipinya kemudian mendaratkan kecupan hangat di keningnya. “Arraseo..”

“Sebaiknya kita tidur sekarang, sebelum sang mentari benar-benar tak mengizinkan kita menutup mata..” kutuntun tubuhnya menuju ranjang. Kubaringkan tubuhnya disana kemudian membaringkan tubuhku sendiri tepat di sampingnya. Kami saling berhadapan, mata kami masih saling memandang.

Dia tersenyum, “Aku bahagia..”

“Yah, aku tahu. Tergambar jelas di wajah cantikmu..” kuusap lembut surai rambutnya. Ia memejamkan mata, menggenggam tanganku yang mengusap rambutnya. Nampak menikmati sentuhanku.

“Aku… ada kabar gembira untukmu..” ia berujar masih dengan senyum yang sama. Aku mengerutkan dahi, “Apa itu?”

Tangannya menuntun tanganku, perlahan sampai kuketahui tanganku berhenti di perutnya. Untuk sepersekian detik aku masih tak mengerti namun detik berikutnya aku menganga dengan ekspresi tak percaya. “Yeobo… kau?”

Ia mengangguk seperti mengerti dengan pertanyaanku. Aku tak tahu bagaiamana mengekspresikan kebahagian ini. Ini….. ini berkah terindah dari Tuhan.

Kucondongkan tubuhku dan beralih pada perutnya. Kuusap perut istriku, “Hai jagoan. Kau baik-baik saja disana? Yah, ini Appa, sayang..”

Yoona tertawa, “Yeobo, dia masih menjadi janin kecil..”

Aku mendongak menatapnya, memberikan senyum geli kemudian kembali mengusap perutnya. “Kau harus berjanji pada Appa jangan sampai membuat Eomma-mu kelelahan. Kau harus tumbuh menjadi anak yang kuat, Arraseo? Dan Appa juga berjanji akan menjaga kalian dengan baik..” kukecup sayang perut istriku yang masih datar itu. Setelahnya aku beralih ke posisi semula, menatap mata indah wanitaku.

“Kau tahu, aku sangat bahagia. Kau dan anak kita adalah anugerah terindah dalam hidupku. Kalian pelengkap kebahagiaanku..” Ia mengelus pipiku memberikan kehangatan di permukaan kulitku.

“Yah, aku tahu. Tergambar jelas di wajahmu..” aku tersenyum kecil mendengar kalimatnya yang mengutip kalimatku tadi.

“Tidurlah sayang. Kau harus selalu sehat. Aku akan terus berada di sisimu..” kukecup jemari lentiknya. Ia tersenyum dan mengangguk kecil. Matanya perlahan mengatup. Tanganku tanpa lelah mengelus lembut rambut halusnya, menghantarkannya pada mimpi terindah.

Deru nafas yang teratur terdengar dari hidungnya. Kupandangi elok wajahnya, membuatku tersenyum kecil ketika bibirnya mengunggingkan sebuah senyum. Semua yang ada padanya begitu sempurna. Rambut kecoklatannya, kedua alisnya, bulu mata lentiknya, hidung mancungnya serta bibir merahnya. Aku tergerak, mengecup bibir tipis itu. Bibir yang biasa menimbulkan hasrta untuk terus menjadikannya prioritas nomor satu dalam hidupku, takkan meninggalkannya barang sedetikpun.

Aku masih menulis untuknya, tentangnya. Karna hidupku memang di takdirkan sebagai seorang penulis tentangnya. Hanya saja kali ini aku tak lagi menuliskan bait kalimat di atas secarik kertas, tak lagi menggoreskan tinta hitam merembas pada sticky note.

Aku menulis tentangnya di kepalaku, dalam pikiranku.

Aku menulis tentang bagaimana rasa haru itu menyelimuti perasaanku. Aku menulis hal-hal kecil tentangnya yang belum kuketahuai. Aku menulis tentang bagaimana ia tersenyum bahagia. Aku menulis segala hal tentangnya. Mencatatnya dalam memoriku. Terkadang memang lebih mudah membayangkan daripada merangkai kata-kata di atas kertas.

Aku akan terus menulis tentangnya. Tidak ada kata ‘To be continue’. Tidak ada kata THE END. Akan selalu menulis hingga waktu menutup usia kami.

Karna menulis tentangnya bukan sekedar merangkai kata-kata namun juga meletakkan perasaan di setiap kata.

Sepertinya aku harus mengganti judul cerita ini dengan ‘Write About You’

Emm tapi….

Kurasa tidak perlu. Karna judul cerita ini lebih pantas dengan ‘Nothing Impossible’ memang tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Segala hal bisa saja menjadi mungkin.

Bukan begitu, Nurul??

Nurul : Eh? Eoh…? E-em *angguk-angguk ala ayam* #numpang nongol😀

Menulis membawaku dalam dunia tersendiri, kebahagiaan tersendiri. Menulis adalah satu dari kebahagiaan terbesar dalam hidupku.^^

~FIN~

 

Alhamdulillah, cerita ini selesai pada hari rabu tanggal 15 mei 2013 tepat pada pukul 08.05 WIB*gak penting banget* Well, ada yang satu spesies ama Prince Siwon? Sayalah satu spesies. Yeah~ terkadang memang ada beberapa hal yg tdk bisa diungkapkan lewat tutur kata, nulispun kadang males #nahloh trus ungkapin pake apa dong LOLo_O

Sebelumnya saya mau mengucapkan beribu-ribu terimakasih atas respon kalian terhadap FF seriesku STILL WITH YOU ;( saya terharu bener2 terharu lihat komentarnya, terlebih kepada pembaca yang meninggalakan komentar lebih dari satu kali. Terimakasih banyak sebanyak banyaknya *sedot ingus* jujur itu iseng loh buatnya #ngekk# angka 70 disana juga awalnya aku tulis 80 tapi menyadari ke-absurd-an fic itu maka kuubah dan ternyata oh ternyata… sekali lagi terimakasih banyak, saya akan segera membuka Microsoft Word dan mengetik satu huruf. Karna saya belum merencanakan kelanjutannya #pletak!-_- #Oke, itu lebay!

Finally, yang minta Sequel ‘Roman Picisan’ WAJIB RCL!!^^ satu lagi, jangan panggil saya AUTHOR yah. Saya Line 95^^ dan akan sangat senang membaca komen kalian jika memanggil saya ; KAK/DEK/EONNI/SAENG atau NURUL aja^^ kita keluarga, kita sahabat, oke?😉

Spesial for Resty/kak Echa : “Makasih banyak udah mau nampung sekaligus nge-post fic absurd ini^^ jeongmal gomawoyo.” *bow*  (sama2🙂 )

Tinggalkan komentar

156 Komentar

  1. happy ending..
    yoonwon forever

    Balas
  2. So sweet bget
    wktu wonpa melamar yoona eonni
    tpe lucu juga pkae acara mau bnuh diri
    hehehe

    Balas
  3. Linda_addict

     /  Agustus 2, 2015

    Inspirasi dan imajinasimu benar2 hebat

    Balas
  4. nytha91

     /  November 22, 2015

    Akhrnya happy ending jg thor…setelah penantian panjang…oh ya chingu yg still with younya dilanjut dong…engga tega kalo nggantung gt ceritanya😦

    Balas
  5. Ah..,,,gila so sweet bgt……. Akhirnya cinta terpendam selama 10 tahun trblas jga…. Bgus bgt…….. Ngga tau deh hruz komen apa slain blg BAGUS BANGET… TOP BGT.,dah….

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: