[FF] Love Is You (Chapter 9)

Cover LIY 9

Tittle               : Love Is You / Chapter 9

Author            : Tika Pink / Tika Sheila EverlastingFriend

Email/Twitter : tika_pinky@rocketmail.com / smantikalove@gmail.com / @SangRa_ELF (Mention For Follback)

Main Cast      : Im Yoona, Choi Siwon

Other Cast     : Heo Young Saeng (Im Young Saeng), Tiffany Hwang, Lee Seung Gi, Yesung, Tika Pink (Tika Park – Author ikut nimbrung 🙂 ), Choi Sooyoung, Shim Chang Min, Taeyoon, Yuri

Genre             : Romantic, Sad or set by your self.

Length            : Chapter

Rating             : PG + 15

 

 

Annyonghaseyo yeorobeun ^^ … adakah yang menunggu ff ini? (#aduh, udah lumutan kali -_-) … Ahh, jeongmal mianhae kalau aku selalu membuat kalian menunggu terlalu lama bahkan sampai kebosanan. Entah aku harus memberi alasan apa lagi karna aku tahu kalian juga pasti sudah bosan mendengar alasanku. Jadi yang bisa aku lakukan hanyalah minta maaf kepada kalian semua. Tolong maafin yaw …

Please don’t be SILENT READER yaw … !!! Tinggalkanlah jejak kalian setelah membaca ff yang membosankan ini. ^^

 

 

#Let’s Reading#

 

Author Pov

“Gomawo karna kau sudah mau mengantarkanku pulang!” ucap Yoona. Saat ini dia dan Siwon sudah berada di depan kediaman keluarga Im.

“Kau tidak perlu berterima kasih. Sudah seharusnya aku mengantarkan tunanganku pulang dengan selamat setelah bertemu denganku.” Jawab Siwon seraya tersenyum. Mendengar kata Tunangan, entah kenapa Yoona masih merasa sedikit risih.

“Aku bukan tunanganmu. Kita belum bertunangan, ingat?!”

“Mwo?”

Yoona segera turun dari mobil.

“Yaak, Im Yoona apa maksudmu mengatakan kau bukan tunanganku?” Siwon ikut turun dan segera menghadang Yoona yang hendak ingin masuk ke dalam rumah. Siwon menutup kembali pintu yang pagar yang sudah terbuka itu.

“Yak, minggir. Aku mau masuk!”

“Aku tidak akan minggir sebelum kau menjelaskan maksudmu mengatakan kau bukan tunanganku padahal baru beberapa jam yang lalu kau mengatakan kau mencintaiku!” siwon menyadarkan Yoona bahwa yeoja itu telah mengungkapkan perasaannya tapi sekarang gadis itu mulai mengelak lagi.

“Aku memang mengatakan aku mencintaimu. Tapi kita memang belum bertunangan. Jadi aku bukan tunanganmu!”

“Yak, kau mau mengelak lagi rupanya. Kau tunanganku. Kita akan bertunangan minggu depan.”

“Benar. Pertunangan itu masih seminggu lagi. Saat ini aku masih bukan tunanganmu. Lagipula kita tidak tahu apa yang akan terjadi selama seminggu ini. Bisa saja kita jadi bertunangan, bisa juga tidak. Maka kau belum berhak mengklaimku sebagai tunanganmu. Kita bahkan tidak berkencan.”

“Mwo? Mworagoyo?” Siwon menatap Yoona kesal. Decakan kesal pun ikut keluar dari mulutnya. “Yak, Im Yoona kenapa kau seperti ini? Kau mengatakan kau mencintaiku, berciuman denganku dan sekarang kau bilang kita tidak berkencan? Apa itu masuk akal?”

Yoona mengangguk yang membuat Siwon membelalakkan mata. “Aku mengatakan aku mencintaimu karna kau hanya menanyakan itu. Ya, benar aku mencintaimu tapi kita tidak menyatakan untuk berkencan kan? Kau juga tidak memintaku untuk jadi kekasihmu. Jadi  anggap saja kita hanya dua orang yang akhirnya mengakui kalau kita saling mencintai. Just it.” Yoona tersenyum sepintas. “Sekarang, bisakah kau minggir Choi Siwon-ssi? Aku ingin masuk ke dalam.”

Siwon mendesah “Ahh, jinjja …” tanpa diduga Yoona, Siwon serta merta menariknya ke dalam pelukan namja itu dengan sekali hentakan.

“Yyakk, apa yang kau lakukan?” Kali ini Yoona yang membelalakkan matanya. Siwon tersenyum. Tatapannya berubah lembut. Lalu dia mengecup pipi Yoona singkat. “Yaakk …!!!” pekik kecil Yoona seraya mendorong dada Siwon tapi tidak berhasil karna Siwon kembali menariknya merapat ke pelukan namja itu. Siwon mengusap pipi Yoona dengan jemarinya lembut yang membuat jantung Yoona semakin berdetak lebih kencang.

“Im Yoona, gadis keras kepala yang aku cintai. Maukah kau menjadi kekasihku?” tanyanya lembut. Ada sedikit pengharapan terpancar dari kedua matanya dan Yoona bisa menangkapnya.

Yoona diam sejenak. Dia tidak lagi berusaha melepaskan diri dari pelukan Siwon. Sebuah senyum manis terlukis di wajahnya yang cantik. Siwon juga ikut tersenyum. Tanpa dia sadari dia mulai meloggarkan pelukannya.

Bukk~~

Yoona menendang kaki kiri Siwon sehingga namja itu meringis kesakitan seraya menyentuh kakinya. “Aku rasa perngakuan cintaku tadi membuatmu jadi banyak berhayal dan berharap Choi Siwon-ssi. Aku tidak mau menjadi kekasihmu. Selamat malam!” kata Yoona lalu segera masuk ke dalam rumah dan menutup pintu pagar tanpa memberi kesempatan pada Siwon untuk menyuarakan apapun lagi untuk mencegahnya. Tapi dia masih mendengar teriakan Siwon sesaat kemudian.

“Yaak, Im Yoona kau harus menjawab pertanyaanku dengan benar!!! Aku tidak akan melepaskanmu!!!”

Yoona tertawa kecil mendengar kalimat Siwon itu. Young yang sedang duduk di teras sambil berhadapan dengan laptopnya mengalihkan pandangannya menatap adiknya dengan penasaran.

“Yaa, kenapa kau cekikikan begitu? Siapa yang berteriak di luar? Siwon?” tanya Young beruntun. Yoona mengangguk.

“Oo.”

“Kau pulang bersamanya?” Yoona mengangguk lagi. “Lalu kenapa kau tidak menyuruhnya masuk? Kau tidak seharusnya meninggalkan tunanganmu di luar.”

“Oppa, dia bukan tunanganku. Kami belum bertunangan!” sanggah Yoona kesal.

“Tapi kan seminggu lagi pertunangan kalian akan dilaksanakan. Jadi apa salahnya mengatakan kalau dia tunanganmu?!”

“Aisshhh, kau dan temanmu yang arogan itu sama saja. Mencoba mengklaim hal yang belum tentu terjadi.”

“Mwo? Yaa, apa kau masih berpikir untuk tidak melakukan pertunangan itu? Bukankah kalian berkencan?”

“Anigeteun!”

“Kalau memang tidak kenapa dia mengantarkanmu pulang? Lalu dia juga dengan seriusnya meminta orangtuanya untuk melamarmu. Apa itu masih kurang cukup untuk menyatakan kalau kalian berkencan? Kalian bahkan sudah tidur bersama saling berpelukan sewaktu di rumah sakit.” Ujar Young yang membuat Yoona terpana. Dia lupa kalau Tika mengatakan kalau sahabatnya itu dan kakaknya melihat dia dan Siwon tidur bersama saat di rumah sakit.

“Oppa … itu … itu sama sekali tidak seperti yang kau dan Tika pikirkan. Aku dan Siwon sama sekali tidak berkencan. Malam itu … malam itu …” Yoona tidak tahu harus menjelaskan bagaimana pada kakaknya. Dia sedikit gugup. Dia tidak mau kakaknya berikiran yang tidak-tidak masalah di rumah sakit itu. Meski Yoona termasuk wanita modern, tapi untuk soal tidur bersama seorang pria yang tidak punya hubungan apapun dengannya itu pantang baginya. Entah kenapa malam itu dia tidak bisa berbuat apa-apa pada Siwon. Tapi mereka juga tidak melakukan hal yang tidak seharusnya mereka lakukan.

“Kau gugup. Sepertinya memang benar kalian berkencan. Apa hubungan kalian sudah seserius itu?”

“Yakk, Im Young Saeng! Apa kau menganggap adikmu seperti itu? Aku gadis baik-baik yang bisa menjaga diriku. Malam itu dia hanya menjagaku dan memaksa berbaring di sampingku. Tapi kami tidak melakukan apa-apa selain berbaring dan tertidur. Temanmu itu mengintimidasiku. Dia arogan, suka seenaknya sendiri dan memaksa. Tapi aku bukan perempuan yang mudah jatuh oleh pesona namja seperti itu. Aku tidak berkencan dengannya dan tidak dalam hubungan serius dengannya. Kenapa kau sebagai oppaku malah ikut menyudutkanku dengan mengatakan kalau aku tunangannya. Aku bahkan belum terlalu mengenal temanmu yang aneh itu. Bagaimana aku bisa bertunangan dengan orang yang tak begitu aku kenal?” ujar Yoona kesal. “Dan anehnya aku malah jatuh cinta padanya dengan cepat tanpa kusadari.” Tambah Yoona dalam hati.

Young menganga mendapati kekesalan adiknya itu. Setelah sedikit bisa menganalisis keadaan Young pun mulai berujar lagi. “Yaa, aku kan tidak mengatakan hal yang aneh. Aku hanya mengatakan apa yang ada dipikiranku tentang hubungan kalian. Tapi sebagai oppamu, orang yang terdekat denganmu selama ini, aku tahu kau tidak mungkin melakukan hal yang tidak seharusnya dengan seorang namja. Lagipula aku juga mengenal Siwon dan aku juga percaya kalau dia bukan namja yang bisa melakukan sesuatu di luar batas pada seorang gadis. Dia selama ini selalu menutup diri dari godaan gadis manapun. Dan selain Taeyeon kakaknya, kau adalah gadis pertama yang bisa dekat dengannya. Lagipula kenapa kalau kalian berkencan? Aku yakin Siwon mencintaimu mengingat dia begitu marah padaku dan memukulku setelah dia tahu kalau aku membohonginya soal hubungan kita. Aku juga yakin kalau kau juga menyukainya kan? Kalau tidak, mana mungkin kau membiarkannya untuk berbaring di sampingmu malam itu. Saat pembicaraan tentang pertunangan kalian meski wajahmu sedikit menunjukkan keterkejutan dan ingin protes, tapi kau diam saja. Kau mencintainya atau tidak, yang jelas tak ada cela lagi untukmu menghindarinya. Kau tahu kan Yoong, karna kau diam saat itu berarti kau menyetujui perihal pertunangan kalian. Dua pihak keluarga sekarang sedang menyiapkannya dan kau tidak bisa mundur apalagi mengelak.”

“Kelihatannya oppa lebih berpihak padanya daripada aku adikmu sendiri.” Cibir Yoona meski dia membenarkan beberapa hal dari perkataan Young barusan. Dalam hati dia juga ikut tersenyum karna memang sebenarnya dia mencintai Siwon seperti dugaan kakaknya.

“Itu karna aku yakin kalau Siwon adalah pria yang tepat untuk adikku yang keras kepala ini.” Young meraih Yoona ke dalam pelukannya dengan penuh kasih. “Aku tahu aku bisa mempercayai Siwon untuk menjagamu, mengasihimu dan mencintaimu. Sehingga aku tidak perlu terlalu khawatir jika aku jauh darimu karna aku tahu aku meninggalkanmu pada orang yang tepat dan bisa menjagamu melebihi aku.” Tambahnya lirih seraya menahan kepedihan di hatinya.

Yoona mengernyit merasa ada yang aneh dengan kalimat kakaknya itu. Dia melepaskan diri dari pelukan Young dan menatap Young menyelidik.

“Oppa, kenapa kau berkata seperti itu? Apa ada sesuatu yang salah? Kau tidak berniat untuk pergi jauh meninggalkanku kan? Kau tahu aku tidak bisa jauh darimu kan?”tanya Yoona sedikit cemas kalau kakaknya akan berencana pergi ke suatu tempat yang tidak diketahuinya. Sama seperti saat kakaknya memutuskan untuk belajar di luar negeri beberapa tahun lalu, orang tuanya bahkan menutup mulut di mana tepatnya kakaknya belajar karna tahu Yoona pasti akan langsung menyusul saat itu juga. Untung Young rutin menelfonnya sehingga dia bisa sedikit terhibur.

Young tersenyum seraya menatap Yoona dengan lembut. “Ani. Aku sedang tidak berencana pergi kemanapun. Aku hanya mengungkapkan kepercayaanku pada Siwon untuk menjadi pasanganmu.”

“Benarkah? Oppa tidak sedang berencana untuk pergi kemanapun meninggalkanku dalam waktu yang lama kan?” Yoona masih sedikit ragu. Namun Young mengangguk meyakinkannya.

“Oo. Aku tidak berencana pergi kemanapun.” Ucapnya. Yoona mendesah lega.

“Syukurlah, karna aku tidak akan mengijinkanmu. Meski aku punya sahabat dan orang yang menyayangiku di sekelilingku, oppa adalah orang yang selalu menjadi andalanku. Menjadi sandaranku yang paling kuat. Mungkin aku akan sedikit mengurangi rasa ketergantunganku padamu kalau kau sudah menikah nanti karna aku tahu aku tidak bisa terus-terusan bermanja-manja pada oppaku seperti ini. Oppa akan menikah dengan yeoja yang oppa cintai dan aku juga akan menikah dengan namja yang aku cintai. Tapi sebelum itu, aku akan tetap seperti ini. Setelah menikah nanti aku akan beralih kepada suamiku dan oppa juga pasti akan lebih memanjakan kakak iparku.” Ujar Yoona sumringah. Tapi tiba-tiba keningnya mengernyit seakan memikirkan sesuatu. “Tapi, apa Siwon bisa memanjakanku kalau kami menikah nanti ya? Dia terkesan begitu arogan dan pemaksa.” Gumam Yoona lirih tapi jelas terdengar oleh Young.

“Yahh, kau tadi kesal saat mengatakan kalian berkencan dan tentang pertunangan. Tapi kau malah sudah memikirkan untuk menikah dengannya. Hmm, apa itu yang kau katakan kalian tidak sedang dalam hubungan apa-apa?”

“Eo?” Yoona menatap Young gelagapan. Dia baru sadar kalau dia tadi menyuarakan apa yang ada dalam pikirannya. Wajahnya memerah karna malu telah keceplosan.

“Oho, wajahmu memerah. Jadi kau memang benar ingin menikah dengannya eo?” Young makin menggoda adiknya itu.

Yoona memegang pipinya malu dan kesal pada dirinya sendiri.

“Aku benar kan?” goda Young.

“Aisshhh, molla … !!!” kata Yoona lalu melangkah masuk ke dalam rumah sambil bersungut-sungut dan menjitak-jitak kesal dirinya sendiri. Young tertawa melihat tingkah adik kesayangannya itu. Lalu beberapa saat kemudian tawanya hilang berganti dengan raut kesenduan. Dia teringat ucapan Yoona tadi kalau adiknya itu takkan mengijinkannya untuk pergi kemanapun tanpa ijinnya.

“Tuhan, apa yang harus aku lakukan?”

Young mendesah berat seakan ada beban yang berat yang sedang ditanggungnya.

***

Siwon masuk ke dalam kamarnya dengan perasaan yang dia sendiri bingung. (Sebenarnya author yang bingung ngejelasinnya #gubrak). Dan semua itu lagi-lagi karna Yoona. Dia heran, sebelum dan sesudah mendapat pengakuan bahwa Yoona juga mencintainya, dia masih juga bingung seperti ini karna gadis itu. Gadis itu seakan mengaduk-ngaduk perasaannya dengan sangat ahli.

“Dasar yeoja itu. Dia mengatakan mencintaiku tapi mengelak lagi di saat aku memanggilnya tunanganku. Mwo? … Aku bukan tunanganmu. Kita belum bertunangan, ingat? Kita bahkan tidak berkencan? … Aisshhh, jinjja …!!!” sungutnya.

“Oppa, darimana saja kau? Kenapa kau meninggalkanku di restoran tadi? Dan siapa gadis yang kau tarik bersamamu itu?” tanya seorang yeoja yang tiba-tiba masuk ke kamar Siwon tanpa mengetuk dulu dan langsung memberondongnya dengan pertanyaan-pertanyaan itu.

Siwon memegang dadanya yang terkejut karna tindakan yeoja itu yang tiba-tiba masuk ke kamarnya.

“Yaak, kau mengagetkanku! Tak bisakah kau mengetuk pintu sebelum menerobos masuk ke kamarku?” protes Siwon tapi tidak diperdulikan yeoja itu.

“Jawab pertanyaanku oppa!”

“Ahh, mwol?”

“Kenapa kau meninggalkanku di restoran tadi dan malah menarik yeoja lain yang hendak pergi? Kau bahkan membawanya pergi tanpa menoleh lagi padaku. Siapa yeoja itu?” tanya yeoja itu menuntut jawaban.

Siwon melonggarkan dasinya seraya duduk di tepi ranjangnya.

“Mianhae karna aku telah meninggalkanmu di sana, Sooyoung-a. Yeoja itu Im Yoona. Dia kekasihku. Ani, tepatnya dia calon istriku.” Jawab Siwon. Sebuah senyum terukir di wajahnya saat mengatakan Yoona adalah calon istrinya. Tapi gadis yang dipanggilnya dengan nama Sooyoung itu malah mengernyit tidak suka mendengar jawaban itu.

“Calon istri? Dia tunanganmu, oppa?” tanya Sooyoung lagi. Siwon semakin sumringah.

“Resminya belum. Tapi aku sudah menganggapnya seperti itu. Lagipula minggu depan pertunangan itu akan dilaksanakan.”

“Oppa, kau kekasihku. Kenapa kau malah ingin bertunangan dengan orang lain?”

Siwon mengernyit menatap yeoja di hadapannya itu. Wajah yeoja itu begitu serius dan tampak menyimpan kemarahan.

“Sooyoung-aa, jangan bilang kau masih pada obsesi masa kecilmu yang ingin menikah denganku? Kau tahu kan aku tidak pernah mencintaimu lebih dari perasaan seorang kakak kepada adiknya? Selamanya akan seperti itu!”

Sooyoung menggeleng. “Ani. Nan molla. Kurigu sirreo! Aku tak pernah ingin dianggap sebagai adik olehmu oppa. Aku mencintaimu dari dulu sampai saat ini. Aku tidak akan mengijinkanmu bersama yeoja lain selain aku.” Pekik Sooyoung.

Siwon berdiri menghadapi Sooyoung. “Yaa, Choi Sooyoung, aku pikir aku sudah memperingatkanmu kalau kau tidak boleh memiliki perasaan seperti itu padaku. Kita ini keluarga. Kau adik sepupuku. Mana mungkin kau bisa mencintai kakak sepupumu seperti itu?”

“Wae? Wae andwae? Kita hanya sepupu jauh oppa. Kenapa kau tidak bisa melihatku sebagai seorang gadis bukan sebagai adik? Kenapa kau tidak bisa mencintaiku? Apa kalau aku bukan sepupumu, kau bisa mencintaiku oppa?”

“Ani.” Siwon menjawab dengan cepat dan tegas. Membuat gadis itu merasakan sakit di hatinya saat itu juga. “Ani. Aku tidak akan mencintaimu Soo-ya. Meskipun kau bukan sepupuku, aku tetap tidak akan mencintaimu. Aku hanya mencintai gadis itu. Kalaupun aku belum bertemu dengan gadis itu, aku yakin aku tidak akan mencintaimu atau gadis lain. Kau tahu kan aku begitu menutup diri dari gadis-gadis. Aku bukan namja yang mudah jatuh cinta dan tergoda. Tapi terhadap gadis itu, hatiku bergetar. Cinta itu muncul seketika. Makin lama makin besar hingga ingin meluap dari dalam hatiku. Hatiku hanya bergetar untuknya. Aku tidak begitu tahu apa arti cinta selama hidupku. Tapi saat bertemu dengannya aku mulai meyakini kalau dalam hidupku makna cinta itu adalah dia. Cinta bagiku adalah dirinya dan aku yakin ini akan berlangsung selamanya. Jadi, sebaiknya kau melupakan perasaanmu padaku Soo. Aku menyayangimu tapi hanya sebatas kasih sayang seorang kakak pada adiknya. Tidak akan pernah lebih dari itu. Tapi jika kau tetap memaksakan diri untuk tetap seperti itu, maka aku tidak akan segan-segan meminta ayahmu untuk membawamu pergi sejauh mungkin dariku dan akan aku pastikan aku tidak akan mau mengenalmu lagi. Kau mengerti kan?!” ujar Siwon tenang. Tapi dalam nada suara Siwon yang tenang itu, Sooyoung bisa menangkap bahwa kalimat-kalimat itu sarat akan ancaman yang dia yakin takkan segan-segan dilakukan Siwon padanya. Air mata tanpa bisa ditahannya mulai mengalir membasahi pipinya.

“Oppa, kau benar-benar kejam!” ucapnya sebelum akhirnya pergi meninggalkan kamar Siwon dengan perasaan yang hancur berkeping-keping.

Siwon mengunci pintu kamarnya dengan perasaan sedikit bersalah karna telah menyakiti Sooyoung, gadis yang sudah dianggapnya seperti adiknya sendiri. Tapi dia memang harus bersikap tegas agar Sooyoung tidak lagi menyimpan perasaan yang tidak seharusnya terhadapnya. Saat ini yang ada di hati dan pikirannya adalah Yoona, Im Yoona. Gadis yang dicintainya dengan sepenuh hatinya dan entah kenapa dia meyakini bahwa perasaannya terhadap Yoona akan berlangsung selamanya.

Siwon mendesah pelan lalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dan menyegarkan tubuhnya.

***

“Bagaimana perasaanmu setelah kembali lagi ke rumah?” tanya Seunggi seraya menyerahkan sebutir obat ke tangan Fanny dan segelas air. Fanny meminum obat itu dalam sekali teguk. Lalu menyerahkan gelas itu kembali kepada Seunggi.

“Aku merasa lebih baik, oppa. Rumah sakit terasa begitu sesak.” Jawab Fanny tersenyum. “Gomawo oppa.”

“Eo? Untuk apa?”

“Karna oppa sudah menjagaku dengan baik selama ini. Aku bukanlah saudara kandung oppa, tapi oppa begitu menyayangiku. Jeongmal gomawo, oppa!” ucap Fanny tulus.

Seunggi membelai rambut Fanny dengan sayang.

“Kau tidak perlu berterima kasih untuk itu. Kau tahu kan saat ini keluarga yang kupunya hanyalah dirimu. Appa dan eomma telah mempercayakanmu padaku sebelum mereka meninggal setahun yang lalu. Kau adalah adikku Fanny-ya. Jadi sudah kewajibanku untuk menjagamu.”

“Tapi meski begitu aku tetap ingin berterima kasih oppa. Aku sadar Tuhan masih menyayangiku karna di saat aku mendapat cobaan yang berat ternyata Tuhan juga memberikanku seorang kakak yang begitu menyayangiku. Aku juga bisa mulai belajar menerima kenyataan atas yang terjadi pada diriku. Terima kasih karna selalu ada di sisiku, oppa.”

Seunggi mengangguk lalu menggenggam tangan Fanny dengan kedua tangannya. Menyalurkan kasih sayang yang penuh kehangatan.

“Aku senang melihatmu seperti ini. Kita akan memulai hidup kita dari awal lagi Fanny-ya. Kali ini kita tidak boleh hidup lagi dalam kesedihan, kemarahan apalagi kebencian. Kita akan melupakan semua luka dan kesedihan yang pernah hadir dalam hidup kita dan menggantinya dengan kebahagiaan. Kau setuju kan?”

Fanny mengangguk. “Ne, oppa. Ayo kita mulai dari awal lagi.” Seunggi tersenyum lalu meraih Fanny ke dalam pelukannya.

Di balik pintu kamar yang terbuka itu Eunjung ikut tersenyum bahagia melihat kedua saudara yang kini sudah melepaskan diri dari rasa sakit dan kebencian yang mereka derita selama ini. Kedua saudara itu memang sudah menanggung penderitaan yang cukup besar. Kejadian yang menimpa Fanny lalu disusul dengan meninggalnya orang tua mereka pada kecelakaan kebakaran setahun yang lalu yang juga merenggut orang tua Eunjung saat itu membuat kedua bersaudara itu lebih terpukul daripada dia. Tapi sekarang mereka akan memulai hidup yang baru. Ya, semoga Tuhan tak lagi memberikan cobaan yang menyakitkan untuk kedua bersaudara itu. Pinta Eunjung dalam hatinya.

Author Pov End

***

Yoona Pov

Hari ini aku sudah harus mulai dengan kegiatan penelitianku. Aku baru saja mendapatkan surat ijin penelitian ke lokasi yang aku ajukan di tugas akhirku. Aku akan mulai menobservasi langsung ke lokasi mulai hari ini juga. Seharusnya aku sudah mulai melakukan ini dua minggu yang lalu. Tapi karna insiden hari itu dan aku harus dirawat di rumah sakit, jadi hal itu tertunda. Sayangnya, kali ini aku dan Tika harus terpisah karna lokasi penelitian kami berbeda. Aku rasa enakan Tika, karna sahabatku itu memilih perusahaan keluargaku sebagai lokasi penelitiannya. Aku yakin Young oppa dan appa yang akan membantunya di sana. Dia juga sudah memulai penelitiannya sejak seminggu yang lalu dan mulai sibuk mengerjakan laporannya sehingga kami minggu ini jarang bertemu. Sedangkan aku harus mendatangi lokasi yang sama sekali tak ada satupun orang yang aku kenal di sana. Apalagi itu adalah salah satu hotel bintang lima yang sangat terkenal di Seoul. Ahh, rasanya aku harus berjuang keras untuk mendapatkan segala informasi penelitian yang aku perlukan.

Hotel itu begitu megah. Keadaannya masih tetap mengagumkan. Ini kali kedua aku datang ke hotel ini. Sebelumnya aku pernah datang untuk mengantarkan berkas appa saat beliau meeting dengan Toro Ahjussi beberapa waktu lalu. Mengingat hari itu aku jadi teringat Siwon lagi. Bagaimana tidak, dia nyaris saja melakukan sesuatu yang tak seharusnya dia lakukan padaku saat itu. Saat itu aku begitu membencinya dan serasa ingin membunuhnya saja. Aku heran kenapa sekarang aku malah beralih mencintainya. Ternyata ucapan Tika dulu benar-benar terjadi padaku. Ahh, sudahlah, lupakan. Saat ini aku harus fokus pada tujuanku datang ke sini.

Aku menghampiri meja resepsionist. Seorang resepsionist cantik menyambutku dengan ramah. Wah, karyawan-karyawan di hotel ini cantik-cantik dan ramah.

“Selamat siang, Nona! Apa ada yang bisa dibantu?” tanya resepsionist itu dengan senyum ramahnya.

“Ne. Saya mahasiswa jurusan manajemen perhotelan di universitas Seoul. Saya ingin melakukan observasi dan wawancara dengan beberapa pihak terkait.” Jawabku.

“Apa saya bisa lihat surat ijinnya?”

“Ahh, tentu saja.” Aku segera menyerahkan surat ijin penelitian yang kudapat dari kampus untuk aku gunakan sebagai rekomendasi. Resepsionist itu membacanya sekilas.

“Baiklah. Saya akan buat surat pengantarnya dulu untuk diajukan ke bagian manajemen. Mohon tunggu sebentar.”

Aku mengangguk. “Ne, mohon bantuannya!”

Resepsionist itu tersenyum lalu mulai menyibukkan diri untuk memproses surat ijinku.

Aku mengedarkan pandanganku. Tak kusangka aku bisa mendapatkan sosoknya di sini. Apa yang sedang dilakukannya di sini?

Selain itu ada seorang yeoja yang mengejarnya diikuti oleh seorang namja lagi dibelakangnya. Aku yakin yeoja itu mengejarnya. Karna aku mengenali yeoja itu.

“Oppa, tunggu aku! Oppa …!!” panggil yeoja itu seraya berlari-lari kecil dan akhirnya bisa mencekal tangan namja itu. Namja di belakangnya juga akhirnya bisa bergabung dengan mereka dengan sedikit terengah-engah karna berlari mengejar mereka. Aku bisa dengan jelas melihat mereka karna mereka berdiri tak jauh dari tempatku.

“Ahh, wae? Kenapa kau mengejarku?” tanya namja itu sedikit tidak suka. Sedangkan yeoja itu malah bergelayut manja menggandeng lengannya.

“Kau mau kemana? Aku ikut.” Kata yeoja itu.

“Soo-ya, aku harus pergi menemui orang penting.”

“Tapi ini kan jam makan siang? Setidaknya temani aku makan siang dulu, oppa.” Rengek yeoja itu.

“Yaak, kau itu bukan gadis kecil lagi! Kenapa kau bertingkah seperti ini padaku, eo?”

“Sudah kubilang karna aku mencintaimu, oppa!”

“Yaak, Sooyoung, aku sudah memperingatkanmu semalam sewaktu kau menerobos masuk ke kamarku kalau aku …” kalimat namja terhenti saat matanya tanpa sengaja melihatku yang berdiri kaku memperhatikan mereka. Ada sedikit rasa terkejut yang terpancar di matanya saat melihatku. “Yoong …!?” ucapnya lirih. Yeoja dan namja yang satu lagi ikut menoleh ke arahku.

Namja yang mengenaliku itu tersenyum dan langsung berjalan menghampiriku meninggalkan dua orang yang berdiri bersamanya.

“Yoong, kenapa kau ada di sini? Kau datang untuk menemuiku? Wah, kau ingin mengejutkanku ya?” tanya namja itu setelah berdiri di hadapanku. Senyumannya yang menawan terukir dengan manis di wajahnya.

Mwoya? Untuk apa aku harus menemuinya di sini? Ingin mengejutkannya dengan kedatanganku? Yang benar saja! Aku mana tahu kalau dia ada di sini. Aku saja terkejut melihatnya di sini. Memangnya dia siapa? Lalu siapa gadis yang bergelayut manja padanya? Yang menerobos masuk kamarnya semalam? Aissh, namja ini benar-benar … dia mengatakan kalau dia mencintaiku dan malah bersama gadis lain malam harinya. Di hotel? Choi Siwon, kau benar-benar … !!!

“Yoong …?!” seketika aku tersadar dari pikiranku. Ku pasang tampang yang super dingin dan tidak ingin menanggapinya. Gadis yang tadi bercakap dengannya menatapku.

“Yoong, kau belum menjawab pertanyaanku!” Namja itu yang tak lain adalah Choi Siwon sii namja mesum yang membuatku mengakui kalau aku mencintainya bertanya lagi.

“Aku kesini bukan untuk menemuimu.” Jawabku dingin. Dia mengernyit.

“Lalu siapa yang ingin kau temui di sini? Yeoja atau namja?” tanyanya penasaran sekaligus menatapku curiga.

Aisssh, seharusnya aku yang melakukan hal itu padanya. Kenapa dia ada di sini? Siapa yeoja itu? Kenapa aku bisa dua kali melihatnya bersama yeoja itu yang terkesan manja padanya? Dan … yeoja itu tadi bahkan mengatakan kalau yeoja itu mencintainya. Belum lagi di tambah dia sendiri menyebut perihal yeoja itu yang menerobos masuk ke kamarnya semalam. … Itu seharusnya terlontar dari mulutku saat ini. Tapi tidak. Aku tidak akan melakukannya. Saat ini aku harus fokus terhadap tugas akhir kuliahku. Bukan pada namja yang sedang berdiri di hadapanku ini.

Untung saja akhirnya sang resepsionist yang memproses suratku segera menyela.

“Nona …?!” panggil resepsionist itu. Aku segera menoleh dan tersenyum padanya. Ku dapati dia sedang membungkuk hormat dan Siwon yang membalasnya dengan sedikit mengangguk. Aku sedikit mengernyit. Tapi aku tak mau ambil pusing. Resepsionist itu pun kembali fokus padaku.

“Silahkan naik lift ke lantai 5. Anda bisa menunjukkan surat ini lalu Anda akan diantarkan oleh salah satu orang karyawan menuju ke ruangan manajer kami. Dari situ anda bisa mendapatkan informasi yang anda perlukan untuk bahan penelitian anda.” Jelasnya sambil menyerahkan surat penelitianku kembali yang sudah disertai oleh surat disposisi di atasnya.

“Benarkah? Ahh, ne. Kamsahabnida.” Ucapku pada resepsionist itu sambil menunduk formal.

“Itu tidak perlu.” Kata Siwon tiba-tiba yang membuatku mengurungkan niatku untuk melangkah pergi. Aku menoleh dan menatapnya heran. Begitupun sang resepsionist. Siwon mengambil surat yang ada di tanganku dan melihatnya sekilas. Lalu kembali menatapku.

“Kau tidak perlu ke ruang manajer jika ingin mencari informasi untuk penelitianmu. Kau bisa langsung mendapatkannya dariku. Aku akan memberikan informasi sesuai yang kau perlukan dalam penelitianmu. Tapi sebelum itu, temani aku makan siang dulu. Aku tadi hendak menemuimu tapi tak menyangka kau malah sudah muncul di hadapanku seperti ini.” katanya seraya tersenyum tapi membuatku semakin mengernyit.

“Yaak, Choi Siwon-ssi apa maksudmu? Aku sedang tidak mood untuk meladenimu. Aku sedang sibuk saat ini. Jadi jangan menggangguku, arasso!?”

“Ahh, wae. Bukankah kau memang lebih baik mendapatkan informasi dariku daripada orang lain? Aku yang lebih tahu tentang manajemen hotel ini karna aku adalah pemilik hotel ini. Bukankah mendapatkan informasi langsung dari pemilik hotel lebih baik daripada dari seorang manajer hotel atau karyawan?!”

Aku membelalakkan mata mendengar kalimatnya itu. Mwo? Pemilik hotel? Choi Siwon pemilik SM hotel? Kenapa aku tidak mengetahuinya?

“Yaa, kenapa kau terkejut begitu? Jangan katakan kau tidak tahu kalau hotel ini adalah milik keluargaku?!”

“Eo. Nan molla.” Jawabku lirih. Kali ini dia yang terlihat terkejut.

“Mwo? Aisshh, kau ini kekasihku dan kita akan bertunangan beberapa hari lagi. Tapi kenapa kau bahkan tidak tahu soal pekerjaanku?”

“Yaak, mana aku tahu kalau tidak ada yang pernah mengatakannya padaku. Aku hanya tahu kau adalah teman dan partner kerjasama Young oppa untuk proyek pembangunan resort baru itu.”

“Ahh, sudahlah. Sekarang yang penting temani aku makan siang dulu. Aku sudah sangat lapar.” Katanya seraya menggamit tanganku ke lengannya. Aku mencoba melepaskan tapi tangannya yang satunya lagi langsung menahan tanganku agar tidak lepas.

“Yakk, aku harus menyelesaikan penelitianku secepatnya. Aku tidak punya waktu untuk meladenimu Choi Siwon-ssi.”

“Sudah kubilang aku akan membantumu menyelesaikannya tapi setelah kau menemaniku makan siang.” Katanya lagi. Lalu dia menoleh ke resepsionist yang melayaniku tadi.

“Ahh, ingatlah wajahnya. Dia adalah tunanganku. Jadi kalau dia datang lagi tanpa aku, kau harus segera mengantarnya ke ruanganku, mengerti?”

“Ne, sajangnim.” Ucap resepsionist itu seraya menunduk formal. Siwon tersenyum lalu segera menarikku agar mengikutinya. Dia menghentikan langkahnya saat ingin melewati dua orang yang tadi bersamanya.

“Soo-ya, aku harus pergi. Kau bisa minta Changmin untuk menemanimu.” Kata Siwon pada yeoja yang dipanggilnya dengan nama Soo itu. Lalu dia beralih ke namja yang berdiri di samping yeoja itu. Dia menyerahkan surat penelitianku yang sudah di disposisi itu kepada namja itu. “Changmin-ssi, siapkan semua data yang diperlukan untuk penelitian itu dan letakkan di mejaku. Lalu tolong kau temani Sooyoung.”

Namja yang bernama Changmin itu mengangguk. “Ne.”

“Baiklah, aku pergi dulu. Soo, kau jangan terlalu merepotkan Changmin, ok!” ujarnya lagi lalu segera meninggalkan kedua orang itu. Aku masih bisa mendengar yeoja itu memanggil-manggilnya, namun dia sama sekali tak ingin memperdulikannya.

~~~

“Jadi, SM hotel adalah hotel milik keluargamu?” tanyaku. Saat itu kami sudah berada di sebuah restoran Jepang yang terletak tak jauh dari hotelnya. Dia mengangguk sambil mengunyah makanannya.

“Aku tak menyangka kau bisa memilih hotelku sebagai lokasi penelitanmu.”

“Aku juga. Kalau aku tahu, aku tidak akan memilih tempat itu.” Gumamku lirih.

“Mwo? Yak, Im Yoona, kau seharusnya bersyukur bisa mendapat lokasi penelitian yang ternyata adalah milik kekasihmu. Dengan begitu kau akan lebih mudah mendapatkan informasi yang kau butuhkan langsung dari sumber yang terpercaya dan aku juga akan membantumu menyelesaikannya. Aku akan meluangkan waktuku yang berharga hanya untuk bersamamu.”

“Dwaesso. Aku tidak butuh bantuanmu. Kenapa kau tidak meluangkan waktumu dengan gadis itu saja? Aku rasa dia akan dengan senang hati menerimanya.” Ujarku tanpa sadar mengungkit soal gadis di hotel itu.

“Gadis? Nugu? Apa yang kau maksud itu Sooyoung, gadis yang kau lihat tadi di hotel?”

“Cih … Siapa lagi kalau bukan dia?! Dia bahkan mengatakan dia mencintaimu …!!!”

Siwon meletakkan sumpitnya. Meneguk minumannya sedikit lalu menatapku intens.

“Yoong, kau tidak perlu salah paham padanya. Sooyoung itu sepupuku. Dia sepupu jauhku yang datang dari Amerika untuk berlibur di sini selama beberapa pecan. Aku dan dia tak ada hubungan apa-apa dengannya selain itu. Jadi kau tidak perlu mengkhawatirkannya.”

“Siapa bilang aku khawatir?”

“Benar. Kau tidak khawatir. Tapi kau cemburu!” ucapnya menggodaku.

“Mwo? Anigeteun! Kenapa aku harus cemburu?!” sanggahku.

“Jinjja? Tapi wajahmu mengatakan hal sebaliknya. Kau tidak perlu menutupinya. Karna aku juga pernah merasakan hal seperti itu jika aku melihatmu dengan namja lain.”

“Aisshh,,,”

“Sudahlah, ayo makanlah. Makanannya akan dingin kalau hanya kau diamkan seperti itu. Atau kau mau aku menyuapimu?” godanya lagi.

“Dwaessoyo. Aku akan makan sendiri.” Kataku seraya meraih sumpitku dengan sedikit kesal lalu mulai menyantap makananku. Aku bisa melihat dia sedang mengulum senyumnya dari sudut mataku.

Aisshh, kenapa pria ini malah makin menyebalkan?

***

Ku tatap gaun sutera berwarna putih bercampur dengan warna pink yang kini terletak di atas ranjangku. Gaun itu sangat cantik dan elegan. Sejam lagi aku sudah harus siap dengan mengenakan gaun itu sebelum turun ke ruangan bawah untuk menghadapi tamu-tamu yang akan datang malam ini.

Akhirnya malam ini tiba. Setelah beberapa hari belakangan ini aku sempat menyibukkan diri dengan kegiatan penelitianku. Meski sebenarnya Siwon juga membantuku untuk menyelesaikannya sehingga aku bisa menyusun laporanku dalam waktu singkat. Dan sebagai gantinya aku tidak boleh menolak apalagi mengelak dengan berbagai alasan untuk menghindari malam ini.

Ya, ini adalah malam pertunanganku dengan namja yang bernama Choi Siwon. Sebenarnya aku senang tapi bercampur was-was. Entah kenapa ada yang sedikit mengganjal di hatiku. Seakan ada sesuatu yang tak mengenakkan akan terjadi padaku hari ini. Tapi tepatnya aku belum tahu.

Pintu kamarku diketuk beberapa kali lalu Tika muncul dari balik pintu.

“Ya ampun Yoong, kau belum mengganti pakaianmu?!” tegurnya seraya masuk ke kamar tanpa lupa kembali menutup pintunya. Dia duduk di kursi di sampingku.

“Apa aku harus memakainya?” tanyaku yang mendapat tatapan heran dari sahabat karibku itu.

“Tentu saja kau harus memakainya. Tamu-tamu mulai berdatangan jadi kau harus segera siap. Ini kan malam pertunanganmu!”

Aku tersenyum tipis sepintas lalu mendesah.

“Yoong, ada apa? Kenapa kau terlihat seperti enggan begini? Apa kau masih tidak ingin bertunangan dengan Siwon? Bukankah kau mencintainya?” tanya Tika beruntun.

“Nado molla, Tika-ya! Bukan pertunangan ini yang membuatku seperti ini. Aku hanya merasakan sesuatu yang tidak baik akan terjadi malam ini. Semacam ada firasat yang tak enak yang merasukiku. Tapi ini tidak berkaitan dengan pertunangan ini. Ada sesuatu yang lain yang aku juga tidak tahu apa itu yang membuat hatiku merasa seperti ini.” ujarku. Tika berdiri di sampingku lalu memelukku.

“Yoong, tidak akan ada apa-apa. Mungkin kau hanya terlalu gugup malam ini. Takkan ada sesuatu yang buruk yang akan terjadi, eo?! Sekarang kau harus segera siap-siap. Kau adalah tuan rumah dan ini adalah pertunanganmu. Kau harus segera turun untuk menemui tunanganmu, keluargamu dan para tamu.”

Tika mencoba menenangkanku. Aku mengangguk dan segera mengikuti apa yang dia katakan untuk bersiap-siap. Dia juga membantuku. Kurang lebih 20 menit kemudian kami berdua keluar bersama.

Ternyata tamu-tamu undangan sudah banyak yang hadir. Pesta itu diadakan di pekarangan samping rumahku yang memang cukup luas sesuai dengan tema garden party yang telah di dekor dengan interior yang elegan dan eksotik sehingga tampak cantik. Lampu-lampu dengan aneka warna juga menambah kesan eksotik dan menawan untuk acara malam ini.

Siwon segera menghampiriku saat dia melihatku. Namja itu tampak sangat tampan dengan tuxedo berwarna abu-abu dan celana hitam pekat yang membalut tubuhnya. Dia tanpa malu-malu menatap mataku dengan begitu intens yang membuat aku merasakan pipiku memerah seketika sehingga aku harus menunduk malu.

Tika dengan bijaknya menggenggamkan tangan kananku ke tangan kiri Siwon.

“Choi Siwon-ssi, tolong temani sahabatku yang cantik ini ya! Jangan sampai kau melepaskannya!” kata Tika seraya menggodaku dengan tatapannya.

“Kau tenang saja Tika-ssi. Aku tidak mungkin akan melepaskannya meski tanpa diminta.” Sahut Siwon tanpa mengalihkan pandangannya dariku.

“Yoong, karna aku sudah meninggalkanmu pada orang yang tepat, maka aku harus meninggalkanmu sebentar. Kalau tidak dokter Kim akan kelabakan mencariku.” Ucap Tika. Tentu saja Dr. Kim yang dia maksud adalah tunangannya Yesung oppa. Lalu tanpa menunggu persetujuanku dia segera pergi meninggalkanku berdua berhadapan dengan Siwon.

“Jadi, kau sudah siap untuk menghadapi tamu-tamu kita kan?” tanya Siwon lirih. Aku hanya mengangguk malu menyembunyikan semburat merah di pipiku. Lalu diapun segera menarikku mengikuti langkahnya untuk menyalami beberapa tamu yang menghampiri kami.

Ternyata tamu yang hadir cukup banyak. Mungkin itu karena relasi bisnis dan kerabat dari kedua keluarga juga cukup banyak. Selain itu tampak juga Seunggi oppa yang datang bersama Tifanny dan seorang gadis yang hampir sebaya denganku. Yeoja yang diakui Siwon sebagai sepupu jauhnya yang bernama Sooyoung itu juga hadir bersama Changmin, asisten sekaligus teman Siwon. Aku masih sering menangkap tatapan tidak suka dari yeoja itu. Orangtuaku dan orangtua Siwon juga sibuk menyalami tamu-tamu yang datang.

 

Aku baru melihat Young oppa saat acara inti dimulai. Dia yang memberikan cincin yang akan aku dan Siwon kenakan. Acara pertunangan itu berlangsung khidmat. Tentu saja kebahagiaan menyelimuti hatiku saat ini. Orangtua kami bergantian memelukku dan Siwon mengungkapkan kebahagiaan yang turut mereka rasakan.

“Choi Siwon, tolong jagalah adik kesayanganku ini. Dia memang agak keras kepala tapi dia adalah gadis yang lembut. Aku mempercayakannya padamu!” ucap Young oppa pada Siwon setelah acara pertukaran cincin selesai.

Siwon mengangguk. “Tentu saja, Young! Kau tidak perlu khawatir!” jawabnya.

Young oppa tersenyum seraya menepuk lengan Siwon pelan. Lalu Young oppa beralih menatapku. Dia memelukku sedetik kemudian.

“Kau harus berbahagia, eo?! Mulai saat ini kau tidak boleh lagi begitu bergantung padaku, bermanja-manja padaku. Siwon akan menjadi tempat yang kokoh untukmu bersandar selain aku. Jadi kau harus berbahagia karna aku telah memberikan orang yang tepat untukmu, adik kecilku!” bisik Young oppa lirih. Dia melepaskan pelukannya lalu mengecup keningku sepintas. Perasaan tidak enak yang tadi sempat aku rasakan kembali merasuk bersamaan dengan hal itu. Young oppa kembali tersenyum.

“Aku akan menghampiri tamu-tamu yang lain dulu.” Ucapnya kemudian. Dia berbalik hendak menuruni tangga podium.

BRUKKKK~~

Tiba-tiba saja Young oppa jatuh ambruk ke tanah saat melangkah turun dari tangga yang hanya terdiri dari tiga anak tangga itu. Sontak saja aku, Siwon dan semua orang yang ada di situ terkejut melihat kejadian yang tiba-tiba.

“Oppa ….!!!!!” Pekikku langsung berlari menghampiri tubuh Young oppa yang sudah tak sadarkan diri itu. Siwon dan orang tuaku juga sudah berada di samping kami dalam sekejab. Tamu-tamu berkerumun ingin melihat apa yang sebenarnya terjadi.

“Oppa, waegure? Oppa, tolong bangunlah! Ada apa denganmu?” Aku meraih kepala Young oppa ke pangkuanku.

“Young, kau kenapa nak?” eomma menggenggam tangan oppa dari sisi yang berlawanan denganku.

“Tolong minggir! Tolong minggir!” aku mendengar suara Yesung oppa mencoba menerobos tamu-tamu yang berkerumun di sekeliling kami sampai akhirnya dia dan Tika sudah berada di dekat kami. “Tolong jangan berkerumun seperti ini agar tidak sesak!” ujarnya lagi sehingga tamu-tamu itu mulai sedikit mundur. Dia lalu berjongkok di samping Young oppa dan mulai memeriksa denyut nadi Young oppa di bagian pergelangan tangan maupun di lehernya. Yesung oppa yang notabennya adalah seorang dokter pasti selalu bersikap tanggap dimanapun dan kapanpun jika melihat kejadian seperti ini.

“Yesung oppa, bagaimana? Apa yang terjadi pada oppa, eo?” tanyaku tidak sabaran. Eomma juga ikut menanyakan hal yang sama.

“Sebaiknya kita segera membawanya ke rumah sakit!” jawabnya singkat. “Siwon-aa, cepat telfon ambulans! Young harus segera ditangani!” titahnya pada Siwon.

“Arasso, hyung!” jawab Siwon lalu segera melaksanakan apa yang diminta Yesung oppa.

10 menit kemudian ambulanspun datang untuk membawa Young oppa. Eomma dan appa ikut naik ke dalam ambulans untuk menyertai Young oppa ke rumah sakit. Yesung oppa dan Tika juga ikut pergi dengan mengendarai mobil Yesung oppa. Begitupun halnya denganku dan Siwon. Sedangkan orangtua Siwon dan Taeyeon eonni akan menyusul setelah tamu undangan pulang.

“Apa yang terjadi pada oppa? Kenapa dia bisa ambruk seperti itu? Oppa tidak apa-apa kan? Oppa akan baik-baik saja kan? Oppa … oppa …!!!” isakku saat dalam perjalanan menuju ke rumah sakit bersama Siwon. Aku tak bisa menahan tangisku. Entah kenapa aku merasa ada yang tidak beres dengan kondisi Young oppa. Aku yakin pasti ada sesuatu dengannya.

Siwon menggenggam tanganku dengan salah satu tangannya. “Yoong, tenanglah. Young akan baik-baik saja. Dia pasti akan baik-baik saja, eo?!”

“Ani … aku merasa dia tidak baik-baik saja. Akhir-akhir ini dia selalu mengucapkan hal-hal yang menunjukkan seolah dia akan pergi meninggalkanku. Dia bertingkah aneh. Ani … aku yakin dia sedang tidak baik-baik saja!” aku semakin terisak meski Siwon mencoba menenangkanku. Firasat itu semakin kuat. Ya, inilah firasat burukku. Apa inikah arti bahwa Young oppa selalu menyinggung bahwa dia akan meninggalkanku pada orang yang tepat untuk menjagaku melebihi dia? Apa pertunangan ini memang adalah tujuannya agar tenang meninggalkanku?

Andwae!!! Dia tidak boleh meninggalkanku! Aku tidak akan mengijinkannya meninggalkanku seperti ini!!!

~~~

Hampir setengah jam tim dokter memeriksa keadaan Young oppa. Kami menunggu dalam ketegangan. Eomma terisak dipelukan appa. Eomma memang selalu rapuh jika melihat anak-anaknya sakit. Siwon dengan setia menenangkanku. Seunggi, Fanny dan gadis yang bersama mereka juga ikut ke rumah sakit. Aku juga bisa melihat kecemasan di wajah Fanny. Aku tahu gadis itu juga pasti mencemaskan Young oppa. Kim Jae Suk ahjussi yang tak lain adalah dokter keluargaku sekaligus ayah dari Yesung oppa segera menghampiri kami diikuti Yesung oppa dibelakangnya.

“Jae Suk-aa, bagaimana keadaan Young?” tanya appa pada Jaesuk ahjussi. Selain dokter keluarga kami, Jae Suk ahjussi juga bersahabat dengan ayahku.

Jae suk ahjussi menghela nafas berat. Dia menatap appa serius. “Young … dia menderita Thalasemia.” Ujarnya.

Thalasemia???” tanya appa lagi yang masih belum mengerti tentang jenis penyakit itu.

“Itu adalah penyakit langka yang sangat berbahaya dan sering diderita oleh anak-anak tapi sering juga bisa menimpa pada orang dewasa. Penyakit ini karna tubuh kurang menciptakan sel darah merah sehingga pasien akan sering mengalami anemia. Sebenarnya ini merupakan penyakit bawaan gen. Karna kurangnya timbul gejala maka ada orang yang takkan menyadarinya. Tapi Young sudah tahu dia menderita penyakit ini kurang lebih 3 tahun yang lalu.” Jelas Jae suk ahjussi.

“Mworago? Putraku sudah tahu kalau dia menderita penyakit ini sejak 3 tahun yang lalu? Tapi kenapa dia tidak mengatakannya pada kami? Kau … kau juga kenapa tidak pernah mengatakannya?”

“Mianhae. Aku sudah mengatakan padanya untuk segera memberi tahu kalian tapi dia sama sekali tidak mengindahkan permintaanku. Dia tidak ingin kalian khawatir. Dia bahkan melarangku untuk mengatakannya pada kalian.”

“Tapi penyakitnya bisa disembuhkan kan?” kali ini eomma yang bertanya.

Jae Suk ahjussi menunduk sepintas. Dia kembali mendesah berat.

“Mungkin iya, mungkin juga tidak!” jawabnya

“Mwo? Jae Suk-aa …?!” appa kembali menatap Jae Suk ahjussi penasaran.

“Penyakit yang di deritanya sudah cukup parah. Selama ini setiap pekan, dia hanya sering melakukan transfusi darah untuk menunjang sel darah merah dalam tubuhnya. Tapi sudah sebulan terakhir ini dia tidak melakukannya sehingga membuat sel darah merahnya semakin sedikit dan limpahnya juga mulai membengkak. Satu-satunya jalan untuk menyelamatkannya adalah melakukan operasi donor sumsum tulang belakang.”

“Kalau begitu aku bersedia menjadi donornya.” Appa langsung mengajukan diri.

Jae Suk ahjussi menggeleng yang membuat kami semua mengernyit.

“Seperti yang aku jelaskan tadi penyakit ini adalah bawaan gen turunan bisa dari kalian orangtuanya langsung. Satu-satunya yang bisa dan tepat untuk menjadi donornya adalah, Yoona, adik kandungnya.”

“Kalau begitu lakukanlah ahjussi. Aku tentu saja bersedia menjadi pendonornya.” Kataku.

Lagi-lagi Jae Suk ahjussi menggeleng. “Tidak semudah itu, Yoong!”

“Ahh, wae?” tanyaku menuntut penjelasan.

“Operasi ini terlalu beresiko. Ini beda dengan mendonorkan sumsum tulang belakang untuk penderita leukemia. Sangat kecil kemungkinan kau bisa melewatinya. 5% efek samping yang akan kau dapatkan adalah amnesia parsial dan sisanya lagi bisa membuatmu mengalami kelumpuhan total atau bahkan meninggal.” Jae Suk ahjussi menjelaskan. Eomma nyaris saja ambruk kalau tidak di tahan appa. Sedangkan Siwon langsung merengkuhku erat mendengar penjelasan itu.

“Selama ini Young sengaja menyembunyikan penyakitnya selain tidak ingin membuat kalian khawatir, dia juga tahu kalau obat yang paling dia butuhkan untuk sembuh adalah donor sumsum tulang belakang dari Yoona, adiknya. Dia juga tahu resiko yang akan dialami Yoona kalau melakukan operasi ini. Dia tidak ingin sembuh tapi malah membahayakan adiknya.” Lanjut Jae Suk ahjussi lagi.

“Young sudah sadar dan ingin bertemu kalian. Dia mungkin sudah mengira hal ini akan terjadi. Dia juga ingin mengatakan sesuatu padamu, Yoong!” ujar Yesung oppa.

Aku terdiam sejenak. Sebulir air mata jatuh membasahi pipiku. Rasa sakit merasuki hatiku saat mendengar kalimat demi kalimat yang dilontarkan oleh Jae Suk ahjussi dan Yesung oppa.

Oppaku sakit. Sakit parah dan satu-satunya cara untuk menyelamatkannya adalah aku. Tapi oppa memilih untuk merahasiakannya karna tidak ingin aku ada dalam bahaya. Apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku mendiamkannya dan mengikuti sesuai keinginan oppa?

Aku menggeleng keras.

Andwae!!! Aku tidak boleh seperti ini! Oppa sedang sekarat! Aku tidak bisa membiarkannya!

“Yoong, ayo temuilah dia!” pinta Yesung oppa lagi.

Aku menggeleng. Menolak melakukan itu.

“Aku tak ingin menemuinya. Aku tak ingin menemuinya agar dia tidak berpikir untuk meninggalkanku sebelum bertemu denganku … Ani … aku takkan mengijinkannya bertindak semaunya. Ambillah apa yang diperlukan. Aku bersedia memberikannya untuk keselamatannya. Kalian harus menyelamatkannya!!!” ujarku.

“Tapi itu sangat beresiko untukmu, Yoong. Keselamatanmu yang akan jadi jaminannya.” Yesung oppa mencegahku.

“Aku tidak perduli. Kalau hanya aku yang bisa menyelamatkannya, membuatnya tetap hidup, maka aku tidak perduli meski keselamatanku yang menjadi taruhannya. Aku bersedia. Lakukanlah apa yang harus dilakukan!!!” tegasku.

“Yoong …!!!” Eomma menatapku seraya menggeleng. Aku tahu perasaan eomma saat ini. Dia pasti juga ingin menyelamatkan putranya tapi bukan berarti dia harus mengorbankan putrinya.

Tapi keputusanku sudah bulat. Aku akan menyelamatkan kakakku satu-satunya yang sanagt aku sayangi dan juga menyayangiku. Selama ini oppa selalu menjagaku dengan baik. Banyak berkorban untukku. Kali ini giliranku.

“Katakan apa saja yang harus aku lakukan untuk bersiap menghadapi operasi itu! Aku akan melakukannya dengan baik.”

“Yoong, setidaknya kau temui Young dulu.” Saran Yesung oppa.

“Sirreo! Aku tidak mau. Aku akan menemuinya setelah operasi selesai dilaksanakan. Dengan begitu dia tidak akan menyerah. Dia akan berjuang untuk melewati oprasi itu untuk bertemu denganku. Begitupun halnya denganku. Aku akan berjuang melewatinya hanya untuk bisa bertemu dengannya lagi. Dia akan sembuh dan aku akan baik-baik saja. Jadi, lakukanlah!” tegasku lagi.

“Ahjussi, tolong selamatkan oppa! Selamatkan dia! Selamatkan kami! Jebalyo!!!”pintaku memelas. Siwon segera memelukku dan akhirnya tangisku pecah dipelukannya.

***

TO BE CONTINUED

 

Author said : Ok, segini dulu bisa kan? Otthe? Aku rasa ff ini makin ancur. Alurnya juga makin berantakan. Typo bahkan ada di mana-mana. Jeongmal mianhae! Tapi aku berharap readers sekalian tetap bersedia menyempatkan diri untuk memberikan komentarnya atas ff ini. anggaplah sebagai bentuk penghargaan atas usahaku untuk tetap memberikan yang terbaik buat kalian meski aku juga selalu kelamaan melanjutkan ff ini. So, please RCL yaw … ^^ … Kamsahabnida #bows

Buat yang udah ngepublish ff ini entah Echa ataupun Resty, gumawo masih mau nampung dan ngepublish ff gajeku ini. Nomu kamsahaeyo saeng J (cheonmaneyo eonnie 🙂 )

 

See you in next chapter.

 

Tika Pink ^^

Pos Berikutnya
Tinggalkan komentar

261 Komentar

  1. 😥 😥 😥 😥 young dan yoong memang sepasang soudara yang membuat ku menangis 😥 tapi apa mungkin yoona benar2 akan jadi pendonor? Kalo bener, aku takut ia tak selamat, 😥 semoga semua baik baik saja 😦 🙂

    Balas
  2. Waduuuh baru jg happy2 bertunangan knp skrg hrs dihadapkn dgn pilihan yg sulit.
    Klo yoona berkorban demi kakaknya terus trjadi hal buruk sama dia,siwon gmn??
    Please jgn sad ending dong … Biarin semuanya bahagia…

    Balas
  3. desy amanaf

     /  Maret 8, 2015

    baru sebentar aja happy happnya, malah ada masalah yang laen
    please happy ending yaa, don’t be a sad ending!

    Balas
  4. anggre debora

     /  Maret 8, 2015

    Yoona eooni sayang banget sama kk nya

    Balas
  5. dyah

     /  April 6, 2015

    aigoo nyesek bcanya…gimana y hasil operasinya apa young n yoona selamat trus hubungan youn n fany ?

    Balas
  6. Tuh kan young oppa sakit paraah 😵
    Yoona kasian,, smpe2 rela jadi donor walaupun risikonya gede 😖

    Moga aja endingny bisa happy ending,,

    Balas
  7. Susi

     /  April 11, 2015

    Tuh kan benner young oppa yang sakit,, ko jadi gini sih,, sekarana malah di bikin khawatir banget sama yoona nya,, semoga yooba selamat juga young oppa nya….

    Balas
  8. dyah

     /  April 26, 2015

    author boleh minra PW untuk chapter 10 ?

    Balas
  9. YoonaChoi

     /  Agustus 29, 2015

    Ga nyangka ternyata young menderita penyakit berbahaya kaya gtu, dan yoona satu”nya yg bisa nyelametin young, apa nanti akhirnya yoona jdi ngedonorin buat young? Atau akhirnya young meninggalkan mreka buat slama lamanya? Penasaran bgt sma chap slanjutnya…

    Balas
  10. Yoona bener” menyayangi kakaknya, sampek rela ngorbanin dirinya. Semoga aja yoong dan young bisa selamat menjalani operasi.
    Waah mudah”an aja happy ending, jadi gk perlu ada yang merasa kehilangan.

    Balas
  11. ambar.syw

     /  November 4, 2015

    Hhh, sudah kuduga klaj young oppa sakit. aku pikir sih leukemia. ahh~~ penasaran bnget sama endingnya.. Padahal bru aja, kebahagiaan ada dikeluarga mereka-___- Berharapnya sih young oppa bisa smbuh dgn donor dari org lain. bgaimana jadinya kalau yoona unnie yg donorin trus malah mmberikan dmpak yg tdk baik? huhu, andwe~~ yoona unnie jga harus baik” saja.

    Balas
  12. Nhiina

     /  November 5, 2015

    Aiss ! yoong eonn kerjaannya bikin kesal wonppa melulu ! bukan hanya wonppa ! tapi aku juga !
    huh ! sudahlah yang penting intinya yoong udah ngaku klo dia cinta ama wonppa . .
    .
    Young oppa harus kuat , dia sudah janji klo gga bkal ninggalib yoong !
    aku sangat suka sama persaudaraannya young oppa dan yoong eonn . .
    bertahanlah young oppa

    Balas
  13. arum

     /  Desember 29, 2015

    Chapter ini bikin nangis. Bagus dan jadi penasaran sama chapter selanjutnya.

    Balas
  14. Deery00ng

     /  Januari 7, 2016

    Selalu dapet feelnya . .
    Young n Yoong emang contoh saudara the best
    nangis lagi bacanya
    YOONWON JJANG

    Balas
  15. nhia

     /  Januari 19, 2016

    Aihs kenPa jadi.gini sih ad aj lg masalahx, yoona kenapa km baik bgt sih padahal kan dia br aj tunangan aduh bakal sembuh kan younng juuga yoona jg ad sedih deh thor

    Balas
  16. diah fibri

     /  Februari 2, 2016

    hubungan kk adiknya solid bgt, jd sedih bacanya … mudah2an jgn sad ending dech …. keren bgt ceritanya feelnya ngena bgt smp kita bner2 terbawa perasaan wktu bacanya …. next aja dech biar cepet2 tau endingnya ….

    Balas
  17. Ohh tidak kenapaa jadi seperti inii,, waa daebak thorr ampek bikin aku nangis huhuhu 😭😭😭😭

    Balas
  18. YoongNna

     /  Februari 8, 2016

    Sediiihh bcanya aplgi pas yoong dan kluarganya tau ttg penyakit young bhkan yoona rela mendonor agr young sembuh wlapun akan berisiko ma kesehtan yoona…
    Akhrnya trjwab deeh knpa young mtusin fany dlu dan brubah akhr2 niii..
    Trus nnti gmn nasib hubungn yoona ma siwon kalau smpe yoona anemsia atw lumpuh..

    Balas
  19. yhanies_Nited

     /  Februari 14, 2016

    Aigoo , , , semangat buat Im family , , moga selamat dua2nya 🙂
    unnie harus selamat karna ada tunangan mesummu, dan young oppa juga harus bertahan n selamat karna orang yg oppa sayangi ada disamping oppa

    Balas
  20. Anggita

     /  April 29, 2016

    Young punya sakit separah itu..
    Yoong sayang banget sama kakaknya😭

    Balas
  21. jangan sampai sad ending dong. moga young sama yoona nya selamat. suka sama karakter yoona

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: