[OS] Amour Incroyable

Cover AI

Author : misskangen ‖ Length : One Shot ‖ Genre : Romance ‖ Rating : Mature ‖ Main cast : Im Yoona, Choi Siwon ‖ Support cast : Jessica Jung ‖ Disclaimer : This story is mine instead of the plot and characteristics, but the casts are belongs to themselves and god.

 

 

AMOUR INCROYABLE

 

 

Plug!!

Satu sentilan di dahi sudah cukup untuk membuatnya tersadar dari lamunan. “Yah, berhentilah memasang ekspresi bodoh itu. Aku bosan sekali!” celetuk seorang wanita berambut pirang yang baru saja melakukan aksi jitak kening tadi.

 

“jadi kau bosan dengan ceritaku?”

 

“Hei, Nyonya Choi… memangnya kau tidak bosan dengan kisahmu yang kau bilang ‘mengenaskan’ itu? Aku saja yang mendengarnya bosan…”

 

“haruskah aku menyandang marganya juga? Menyedihkan sekali!! Aku Im Yoona, tetaplah Im Yoona!! Dan kau Jessica Jung, berhenti memanggilku dengan sebutan itu!” umpat wanita yang menyebut dirinya Yoona pada orang di depannya yang sudah memasang wajah kesal yang tertahan.

 

Jessica memonyongkan bibirnya, menggerak-gerakkannya. Seperti upaya mengejek Yoona – wanita yang sedari tadi duduk di sudut coffee shop dan membiarkan Vanilla Latte nya menjadi dingin hanya untuk melamun. “Lalu bagaimana dengan statusmu, kau kan memang wanita yang sudah menikah, jadi sudah sepantasnya menyandang marga suamimu!”

 

“Haruskah? Orang yang kau sebut sebagai ‘suami’ saja tak pernah menganggap aku istrinya dan aku harus kemana-mana memakai plakat marganya supaya orang-orang tahu aku istrinya! Bukankah itu sangat menyedihkan?” Yoona mengangkat dagunya, memasang ekspresi angkuh yang dipaksakan. Jessica menyeringai pelan dengan tingkah sahabatnya itu.

 

“Ckckck, yaa itu sangaaat menyedihkan!” Jessica memutar bola matanya. “Benarkah Choi Siwon seperti yang kau katakan? Aku tidak percaya sampai separah itu…”

“Kau kan sudah lihat sendiri bagaimana dia memperlakukan aku di depan banyak orang?”

“Dia terlihat cukup manis, romantis dan….” Yoona mendekatkan kepalanya ke wajah Jessica membuat tenggorokan wanita pirang itu tercekat. “…dan dia sedikit…me- mengabaikanmu.” Jessica bisa juga menyelesaikan kalimatnya di bawah tatapan mengancam Yoona. Jessica menghembuskan napasnya kuat saat Yoona telah kembali ke posisi duduknya yang tegak dan kaku. “Lalu kau akan melakukan apa? Kau mau terus-terusan menyudut di sebuah coffee shop sambil merenungi nasib pernikahanmu?”

 

“Sepertinya itu lebih baik, dari pada aku harus tinggal di rumah menunggunya pulang kerja dengan ekspresi lelah dan berlalu tanpa menganggapku ada disana.” Sahut Yoona datar sambil mengaduk-aduk minumannya. “Kalau tahu begini, aku tidak mau cepat-cepat menikah!”

 

Jessica kembali menggelengkan kepala, tidak habis pikir dengan jalan pikiran Yoona. “Bukannya kau sendiri yang memaksanya untuk menikahimu secepatnya? Padahal jelas kau tahu sendiri bagaimana sikap orang itu.”

 

Decakkan lidah terdengar nyaring dari mulut Yoona, “iya, aku memang bodoh seperti yang kau katakan! Menikah dengan pria paling populer di antara wanita hanya karena ia punya pekerjaan mapan yang mampu menghidupiku dengan baik. Sekarang lihatlah, aku menyandang status istri tak dianggap!”

 

Jessica tidak bisa bicara apa-apa lagi, sahabatnya yang satu itu sudah mentok merasa jengah dengan kehidupan pernikahannya yang baru seumur jagung. Padahal seingatnya Yoona terlihat acap kali mengumbar senyum menjelang pernikahannya beberapa bulan yang lalu. Ya, gadis itu memutuskan untuk menikah di usianya yang ke dua puluh empat dengan seorang pria lajang dengan margin usia lima tahun diatasnya.

 

Pria itu, Choi Siwon, adalah pria dengan sejuta daya tarik dan selalu digandrungi oleh banyak wanita. Usia boleh hampir kepala tiga, tapi wajah tampannya semakin memperlihatkan gurat pesona yang bisa mempengaruhi pandangan setiap orang. Hal itu menjadi salah satu alasan Yoona menyukainya di awal mereka bertemu beberapa tahun yang lalu di sebuah acara gathering perusahaan tempat Yoona bekerja magang.

 

Bulan demi bulan dilewati Yoona untuk menarik perhatian Choi Siwon – seorang eksekutif muda dengan segenap relasi bisnis. Awalnya Yoona hanya iseng mendekatinya untuk membangun koneksi dengan dunia kerja selepas kuliah, tapi tak disangka kebiasaan pria itu bersikap manis dengan wanita-wanita yang ditemuinya membuat Yoona berubah pikiran.

 

Yoona cantik, pintar, dan mempunyai daya tarik seorang wanita di mata pria. Begitu banyak pujian sering diterimanya. Namun ketika ia berada di lingkungan Choi Siwon dengan berbagai tipe wanita kelas atas yang ada di sekitar pria itu, ‘termarjinalisasi’ adalah kata yang tepat untuk mendeskripsikan situasinya. Karena itu Yoona bertekad untuk menaklukkan hati seorang Choi Siwon, meskipun harus bersaing dengan ratusan wanita yang siap menyikutnya kapan saja.

 

Yoona merasa langkahnya semakin dekat dengan kemenangan ketika berhasil memasuki perusahaan milik keluarga Siwon dan bekerja disana sebagai staff marketing. Yoona yang sudah kenal dengan Siwon walau hanya sekedar ‘say hi’ atau bercengkrama dalam obrolan tak penting ketika bertemu di sebuah club yang sering mereka datangi – Yoona yang sengaja masuk ke club demi misi mendekati Siwon – sehingga sedikit banyak membuat orang memandangnya memiliki hubungan khusus dengan Siwon.

 

Pertemuan yang tidak ‘sengaja’ antara Yoona dan Siwon membuat keduanya cukup akrab dan Yoona pun mulai menebar ancamannya kepada para wanita yang mengejar-ngejar Siwon. Ada begitu banyak wanita yang akan rela memberikan segalanya untuk Siwon, tapi pria itu hanya senang untuk bermain dengan mereka dan Yoona sadar betul akan hal itu.

 

Seolah dibutakan oleh ambisi menggandeng pria mapan seperti yang diungkapkannya kepada Jessica sejak mereka masuk kuliah, Yoona menepis segala anggapan miring dan bersikap masa bodoh dengan reaksi orang-orang terhadapnya. Yoona semakin gencar melancarkan aksinya untuk memikat Siwon dengan cara-cara tak terduga yang bisa dilakukan oleh seorang Im Yoona. Biarpun terkesan sedikit memaksa, tapi Jessica tak perah menginterupsi setiap rencana konyol yang ada di kepala Yoona. Sahabatnya itu tak pernah bosan mengingatkan Yoona untuk mengontrol diri atau setidaknya berhati-hati untuk setiap langkah yang diambilnya.

 

Jessica hanya menganga tak percaya ketika suatu hari Yoona berjingkrak mendatanginya dan mengatakan bila ia resmi menjadi kekasih Choi Siwon. Selama seminggu Yoona larut dalam euforia, selama seminggu pula telinga Jessica panas karena bosan dengan segala cerita Yoona tentang kisah cintanya yang tak terduga.

 

‘Cinta? Entahlah… yang aku tahu aku senang bisa berada di dekatnya dan masa bodoh dengan semua wanita yang kecewa dan patah hati karenaku!’ Yoona berbicara begitu cuek saat itu. Jessica semakin bingung menghadapi kebiasaan Yoona yang suka mengabaikan segala bentuk kemungkinan buruk yang akan menimpanya. “Aku tidak peduli, Sica. Terserah dia mau mencintaiku atau tidak. Yang jelas kau harus membantuku agar aku tak jatuh dalam jurang cintanya. Kau tentu tak ingin aku menjadi wanita ‘pungguk merindukan bulan’ kan?”

 

Ada banyak hal tak terduga yang terjadi di dunia ini tanpa ada seorangpun yang bisa memprediksinya. Ibarat mendapat durian runtuh, Yoona merasa mimpinya menjadi pendamping seorang pria yang memiliki segalanya akan segera tercapai. Saat itu Siwon didesak untuk segera memilki istri oleh keluarganya, dan Siwon sulit untuk menolak. Jika bukan karena status keluarga terpandang dan berlimpah materi, Siwon akan dengan senang hati menolak mentah-mentah atau beralasan panjang lebar untuk itu. Meskipun Siwon mapan dari finansial itu semua didapat dari nama besar keluarganya.

 

Siwon yang tak ingin kehilangan kemapanannya sebagai seorang pria mau tak mau harus mencari calon istri secepatnya untuk diperkenalkan kepada keluarga. Siwon kenal dengan begitu banyak wanita, tapi ia tidak memilih mereka. Siwon memilih seorang Im Yoona yang notabene berstatus sebagai ‘kekasih’ sementaranya, karena gadis itu yang sering kali muncul di sekitarnya seperti hantu.

 

Menjelang pernikahan, Jessica masih saja mendesak Yoona untuk berpikir ulang. Tetapi seperti yang telah diduga, gadis itu adalah orang paling keras kepala yang pernah ditemuinya. Jessica hanya bisa mengelus dada, berharap kehidupan sahabatnya itu kedepannya bisa berjalan dengan baik sesuai keinginannya.

 

~~**~~

 

Ponsel yang berderit di atas meja membuat si empunya melihat ID sang penelpon, begitupun orang yang duduk di depannya. “Omo! Suamimu menelpon… cepat angkat, Yoong!” pekik Jessica membulatkan matanya. Yoona mengernyit, melanjutkan kegiatannya bermain dengan sendok kecil di dalam cangkir kopinya. “Yak, kenapa kau diam saja? Cepat angkat!”

“Haruskah?” tanya Yoona sambil melirik ponselnya yang berdering kembali.

“Ya ampun, kau masih bertanya harus atau tidak. Angkatlah, siapa tahu itu penting.” Ucap Jessica merasa gemas dengan nada cuek Yoona.

“Aku tidak tahu ada hal penting juga bagiku…” celoteh Yoona, mengambil ponselnya dan menjawab panggilan masuk. “Yoboseyo…

“…….”

Mwo? Kau serius, Oppa?”

“……”

“Arasseo. Aku akan segera pulang.” Yoona menutup ponselnya kemudian menarik napas panjang. Sesaat berikutnya ia berberes-beres, memasukkan beberapa barang miliknya yang tergeletak di atas meja ke dalam tas tangannya.

“Kau terburu-buru? Apa yang dikatakannya?” tanya Jessica yang heran melihat tingkah Yoona.

“Dia bilang mertuaku akan datang malam ini, jadi ia memintaku untuk bersiap-siap.” Yoona bangkit dari duduknya, menarik sedikit ujung kemejanya di bagian bawah agar tampak rapi. “kau lihat sendiri kan, dia hanya akan mencariku saat sedang terdesak saja, selebihnya ia tak peduli padaku.” Yoona masih sempat menggerutu sebelum meninggalkan Jessica yang masih duduk manis di meja coffee shop itu.

 

Dengan santai Yoona membuka pintu rumahnya, melongok ke dalamnya yang terlihat sepi. Hanya ada seorang pembantu yang menyambutnya dengan bungkukan badan yang singkat dan senyuman ramah. Langkah kakinya tampak terlalu malas saat ia menaiki tangga rumah minimalis yang hanya ditinggali olehnya bersama Siwon dan tiga orang asisten rumah tangga. Saat ia masuk ke dalam kamarnya, Yoona mendapati Siwon sedang duduk di sisi ranjang menatap kosong ke arah jendela. Sadar dengan langkah kaki Yoona, Siwon menoleh dengan ekspresi datar di wajahnya.

“kau dari mana saja?” tanya Siwon seraya bangkit mendekati Yoona yang berdiri terpaku tak jauh dari ranjang.

“Aku bertemu dengan Jessica di tempat biasa.” Jawab Yoona enteng.

“Memangnya kau tidak punya kegiatan selain berdiam diri sambil melamun di sebuah café?” seringaian Siwon sangat jelas bahwa pria itu sedang menyindir Yoona.

“Kau kan tahu sendiri kalau aku sudah kehilangan pekerjaanku sejak menikah denganmu karena perusahaan melarang suami istri bekerja di tempat yang sama. Dan kau juga melarangku bekerja di perusahaan besar lainnya karena takut keluargamu mengetahui hal itu. Lalu dimana salahku bila tiba-tiba aku jadi pengangguran paling glamor se-Korea?” cibiran Yoona membuat Siwon tergelak sambil mengacak pelan rambut Yoona.

 

Seraya membenarkan rambutnya yang kusut, Yoona memandang suaminya dengan menyipitkan mata. Siwon serta merta menghentikan tawanya setelah meyadari ekspresi tak senang di wajah sang istri. “Mengapa wajahmu beriak aneh seperti itu? Kau terlihat jelek kalau raut wajahmu seperti nenek-nenek yang sedang mengamuk begitu.” Ejek Siwon sambil mengedipkan sebelah matanya.

 

Dengan kesal Yoona memukul lengan Siwon, berpikir bahwa lelaki itu tidak sadar dengan candaannya yang tidak lucu. Siwon terkesan sama sekali tidak pernah peduli bagaimana Yoona menghabiskan harinya sebagai Nyonya Choi muda yang merasa kesepian dan terabaikan – setidaknya begitulah yang dirasakan Yoona.

 

“Memangnya hal apa yang membuatmu melarang keras aku bekerja di tempat lain untuk beberapa tahun ke depan? Bukankah hal yang wajar di zaman sekarang kalau istri juga bekerja? Orang tuamu itu kolot sekali!” gerutuan Yoona mendapat balasan raut wajah serius dari Siwon. Yoona mengernyit, berpikir bahwa sesuatu yang besar ada di balik alasan semua ini bila melihat apa yang ditunjukkan oleh suaminya.

 

“Aku tidak bisa mengatakannya padamu – aku tidak sepercaya diri itu untuk mengungkapkannya padamu. Nanti kau pasti akan tahu sendiri..” jawaban yang sangat tidak memuaskan. Yoona menatap Siwon tajam, merasa sangat kesal dengan kebingungannya atas kata-kata sang suami.

 

“Aku sama sekali tak menyangka bahwa seorang Choi Siwon adalah anak manja yang takut pada kedua orang tuanya. Kau bahkan hidup di bawah bayang-bayang kekuasaan orang tuamu. Apa kau tidak bisa menentukan jalan hidupmu sendiri? Bukannya aku ingin membuatmu menjadi anak durhaka, tapi setidaknya kau bisa mempunyai prinsip yang menjadi landasan hidupmu.”

 

“Ini bukan soal aku takut pada orang tuaku ataupun prinsip hidupku. Tapi ini tentangmu, tentang bagaimana kau melanjutkan hidupmu!” nada suara Siwon mulai meninggi namun ada kegusaran terselip di dalamnya.

 

“Tentangku? Oh tentu saja… kau kan memang tidak pernah peduli padaku. Yang kau tahu aku hanyalah wanita yang kau beri status sebagai istri dan sisanya hanya sebagai pajangan apik di rumah. Kau terus saja sibuk di luar sana bermain-main dan menggoda wanita-wanita yang cantik dan sexy. Kau memang tidak pernah peduli dengan perasaanku!” Yoona berkecak pinggang, menunjukkan emosinya sambil berusaha menahan air mata yang ingin keluar dari pelupuk matanya.

 

Siwon tertegun dengan pernyataan Yoona, ia tidak menyangka Yoona akan tersulut emosinya semudah itu. “Jadi itukah yang kau pikirkan tentang aku selama ini?” Yoona diam, hanya menatap Siwon tajam. “Kau sudah membuat kesalahan, Yoona. Kau terlalu naif untuk memahami apa yang kulakukan untuk kita selama ini.” Siwon menghela napasnya kasar. Tangan pria itu membuka kancing kemejanya satu persatu dengan cepat, sedangkan matanya masih bersinggungan dengan tatapan Yoona yang tajam. Setelah berhasil membuka kemejanya, Siwon berbalik dan berjalan ke arah kamar mandi dan meninggalkan Yoona yang berdiri terpaku dalam diam. “Aku tidak ingin merusak acara keluarga ini hanya untuk bertengkar denganmu. Berusahalah untuk bersikap manis dan tersenyum di depan orang tuaku.”

 

“Kau sungguh keterlaluan, Oppa. Kau memang tidak punya perasaan!” teriak Yoona ketika pintu kamar mandi baru saja tertutup. Air matanya menetes, menahan sesak dalam dadanya. “kau bahkan tidak pernah mengungkapkan perasaanmu padaku yang sesungguhnya..” pekik Yoona pelan seraya mengusap air mata dipipinya dengan punggung tangannya. Dengan kesal ia membanting tasnya ke atas ranjang, selanjutnya ia melakukan hal yang sama dengan tubuhnya.

 

~~**~~

 

Sepertinya Im Yoona memang tidak punya pilihan lain selain berakting dengan baik di depan kedua mertuanya. Menghadapi ibu mertuanya adalah hal yang sedikit menguras pikiran dan hati. Nyonya Besar Choi adalah seorang wanita berkarakter cukup keras, dengan perangainya yang suka mengintimidasi orang lain membuat Yoona harus memutar otak tiap kali bertemu dengannya. Itu semua dilakukan agar Yoona tidak salah berbicara sehingga menyinggung ibu mertuanya yang terkadang memiliki kesan galak.

 

“Mengapa wajahmu terlihat pucat, Yoona?” Yoona mendongak dengan sapaan ibu mertuanya saat menyantap dessertnya.

Aniya…Eomoni, aku baik-baik saja.” Jawab Yoona dengan sedikit kegugupan. Siwon sempat menoleh pada Yoona, hendak menanyai keadaannya. Hanya saja wanita itu lebih memilih menuduk dari pada meladeni pertanyaan Siwon yang diutarakan lewat tatapan matanya.

 

“Benarkah? Apa itu suatu tanda-tanda? Kau sudah mulai mengalaminya, kan?” ibu mertua Yoona mulai mencecarinya dengan pertanyaan demi pertanyaan.

nde? Tanda-tanda apa, Eomoni?”

Nyonya Choi meletakkan garpu yang sedang dipegangnya, meninggalkan bunyi denting ketika garpu itu menyentuh piring. “Masa kau tidak mengerti? Tentu saja tanda-tanda kehamilan. Hampir setengah tahun kalian menikah dan kau belum juga hamil. Jangan-jangan kalian sengaja menunda kehamilan.” Suara Ny. Choi terdengar begitu lantang di telinga Yoona.

 

“Eomma, itu tidak benar. Mungkin kami belum saatnya punya anak. Aku harap Eomma bisa bersabar.” Siwon menimpali, menjawab hardikan ibunya yang terkesan menyudutkan Yoona. Sedangkan Yoona sendiri kini duduk dengan tegang, mengepalkan kedua tangan di atas pangkuannya untuk menenangkan diri dan menghilangkan kegugupan.

 

“Jangan buat banyak alasan, Siwon-ah. Kau berhentilah meladeni godaan-godaan wanita di luar sana, kau ini seperti pria lajang saja. Seharusnya kau lebih mendekatkan diri dengan istrimu, lebih banyak menyentuhnya. Bukannya bersenang-senang sendirian.” Ny. Choi semakin getol menghujani Siwon dengan tuduhannya.

“Itu tidak benar, Eomma. Aku tidak seperti itu…”

“Tidak adakah kalimat lain selain ‘itu tidak benar’? Kau sudah tidak punya kosa kata lain, Siwon-ah?” Ny. Choi menatap tajam kepada kedua suami istri itu.

 

“Aku berkata seperti ini karena kami mungkin belum siap untuk mempunyai bayi, Eomma. Ini tidak seperti yang Eomma pikirkan. Aku dan Yoona masih muda dan masih ingin menikmati waktu untuk berdua.” Yoona melirik Siwon, merasa aneh dengan kata-kata pria itu.

Waktu untuk berdua? Yang benar saja’ batin Yoona.

 

“Cih, itu bukan alasan, Choi Siwon. Saat ini adalah masa produktif bagi Yoona, usianya sudah cukup matang untuk mengandung dan melahirkan bayi. Sudahlah, hentikan kekeras-kepalaan kalian. Aku akan membawa kalian konsultasi kepada dokter terbaik di Seoul untuk melakukan program memiliki bayi. Aku sama sekali tidak ingin mendengar penolakan dari kalian.” Yoona terkesiap dengan perkataan ibu mertuanya. ‘

‘Program bayi? Ya ampun… haruskah aku melakukannya?’ pikir Yoona dalam diamnya.

 

“Eomoni, aku rasa tidak harus seperti itu. Apakah kehadiran bayi begitu menjadi prioritas saat ini? Aku rasa kita tidak seharusnya tergesa-gesa.” Yoona memberanikan dirinya bersuara meskipun terdengar getaran karena kegugupannya.

 

Ny. Choi menaikkan sebelah alisnya, lalu tersenyum miring. “Tergesa-gesa? Mungkin bisa dikatakan begitu. Tapi saat ini keluarga kita memang sedang diburu waktu untuk memiliki keturunan sebagai pewaris. Memangnya apa yang kau pikir membuatku merestuimu begitu saja menjadi istri anakku, Yoona? Tidak sesederhana itu. Tentunya aku sudah menyelidiki latar belakang keluargamu terlebih dahulu. Aku percaya kau memiliki bibit yang baik, oleh karena itu aku menerimamu sebagai menantuku.”

 

Yoona menganga, tidak percaya dengan apa yang sudah dilakukan oleh sang ibu mertua. Menyelidiki latar belakangnya, bahkan silsilah keluarganya. Semua itu sama sekali tidak pernah ada dalam pikirannya. Begitu juga dengan Siwon, ia juga baru mengetahui alasan kesediaan ibunya menerima Yoona menjadi istrinya. Padahal saat itu Siwon tidak pernah mengenalkan seorang wanitapun kepada ibunya sebagi kekasih ataupun calon istri. Tapi saat dia membawa Yoona, ibunya hanya butuh beberapa hari sebelum memberinya restu dan meminta untuk dilakukan pernikahan secepatnya.

 

“aku mengerti kau merasa bosan menjadi istri yang menunggu suaminya di rumah. Tapi jangan pernah berpikir untuk bekerja dulu, Yoona. Aku sudah memberi ultimatum pada Siwon untuk melarangmu bekerja. Bukan karena kau tidak pantas. Aku sangat tahu kau adalah wanita dengan potensi besar untuk mengembangkan karirmu di dunia bisnis. Itu bisa kau lakukan setelah kau memiliki anak pertamamu. Jadi lebih baik kau berkonsentrasi agar bisa hamil secepatnya.” Tambah Ny. Choi lagi. Kali ini Yoona semakin tersudut. Namun di sisi lain Yoona mengerti alasan mengapa Siwon melarangnya untuk mencari pekerjaan di perusahaan lain.

 

~~**~~

 

Im Yoona masih duduk termenung di depan meja riasnya. Sedari tadi menyisir bagian rambut yang sama, tanpa berniat pindah ke sisi lainnya. Siwon yang sedari tadi memperhatikan Yoona yang sering melamun sejak pertemuan dengan kedua orang tuanya saat makan malam tadi. Siwon tahu persis itu semua karena ancaman ibunya yang menginginkan kehadiran cucu secepatnya.

 

Siwon menyentuh Yoona di bahunya, menyadarkan Yoona dari lamunan. Yoona mendongak, menatap Siwon dari cermin di depannya. Siwon tersenyum manis, memperlihatkan wajah indahnya serta kedua lesung pipinya. “Kau jangan terlalu memikirkan perkataan Eomma. Aku yakin Eomma hanya emosi karena merasa iri dengan saudara-saudaranya yang sudah memiliki cucu.”

 

Yoona menyeringai dan menatap tajam ke arah cermin tepat ke pantulan mata Siwon. “jangan membohongi dirimu sendiri, Oppa. Aku tahu kau juga merasa tertekan dan terpojok dengan semua tuntutan ibumu. Jadi ini alasan utama kau menikahiku dalam waktu singkat, hanya untuk memenuhi permintaan ibumu soal cucu yang diidamkannya? Mengapa kau tak pernah mengatakannya padaku?”

 

Siwon membelai kepala Yoona, ia berpikir bahwa ini adalah saat yang tepat untuk mengungkapkan semua yang dirahasiakannya. “Maafkan aku soal itu, Yoona-ya. Awalnya aku juga tidak ingin ‘memaksamu’ menikah denganku secepat itu. Jika saja ibuku tidak mengalami tekanan psikologis karena merasa terancam, aku tidak akan melibatkanmu dalam situasi rumit ini.”

 

Yoona mengerutkan dahinya, tak mengerti dengan maksud Siwon. Yoona bangkit dan berdiri menghadap suaminya. “Tekanan psikologis? Aku tidak mengerti.”

 

“Ibuku adalah putri tertua di keluarganya dan sama sekali tak memiliki saudara laki-laki. Kedua saudara perempuannya saat ini sudah memiliki cucu dan mereka berharap bisa mendapatkan kekuasaan atas perusahaan keluarga dari kehadiran cucu mereka sebagai pewaris. Ibu yang selama ini menjalankan perusahaan dengan kerja kerasnya tak ingin begitu saja kecolongan dengan segala obsesi adik-adiknya. Oleh karena itu ia merasa tertekan sehingga memaksaku untuk sesegera mungkin menikah dan memberikannya seorang cucu. Aku tidak sanggup terus menerus melihat wajah murung ibuku dari hari ke hari. Walaupun ia suka menekanku dan membuatku terpojok dengan sikapnya, tapi ia adalah ibuku dan aku sangat menyayanginya,” ujar Siwon mengungkapkan semua alasan hingga terjadi situasi yang tak mengenakkan tersebut.

 

“lalu bagaimana dengan aku? Kau sama sekali tidak peduli padaku. Kau bahkan tidak pernah memberitahuku soal ini.” sahut Yoona pelan dengan nada sedih.

 

“Tidak. Aku sangat peduli padamu. Aku merasa bersalah telah membawamu dalam masalahku. Saat malam pertama kita, aku berharap kau bisa langsung hamil dengan sekali bercinta. Tapi karena kenyataan berkata lain, aku hanya bisa berharap dari setiap kali kita melakukannya. Aku tidak menceritakannya padamu karena aku takut kau tertekan dan menjadi stres sehingga aku juga tak pernah memaksamu untuk bercinta sesering mungkin. Bukannya aku tak peduli tapi aku hanya berusaha untuk tidak membebanimu.” Siwon menjelaskan alasannya panjang lebar sambil menangkup wajah Yoona yang kini telah memerah karena malu.

 

“Maafkan aku, Oppa. Aku pikir kau sama sekali tak pernah menganggapku istrimu karena kau lebih memilih menghabiskan waktu dengan wanita-wanita cantik dan sexy diluar sana.” Gerutu Yoona. Siwon tergelak dan kembali mengacak rambut Yoona.

 

“Aku sibuk diluar bukannya menghabiskan waktu dengan wanita-wanita yang kau bilang cantik dan sexy itu. Aku sibuk bekerja di kantor, setidaknya ingin meyakinkan ibuku bahwa saat ini aku sudah cukup untuk mendukungnya, walau tanpa kehadiran cucu yang diinginkannya itu. Lagi pula untuk apa aku menghabiskan waktu dengan wanita yang tidak jelas bila istriku di rumah sangat cantik dan… sexy.” Yoona kembali memerah wajahnya akibat godaan sang suami. Yoona mencoba mengabaikan kata-kata Siwon, tapi sepertinya susah sekali.

 

“Benarkah? Aku tidak percaya…” Yoona terkesiap saat Siwon mendekatkan wajahnya hingga tersisa sekitar 1 atau 2 senti saja.

 

“kau harus percaya padaku, my wife. Kau adalah wanita yang sudah membuatku jatuh cinta dan berhenti melirik wanita lain di luar sana. Jadi kau harus bertanggung jawab untuk itu.” Siwon mendaratkan bibirnya kepada bibir Yoona. Melumatnya begitu intens, merasakan manis dan lembutnya tekstur bibir itu dengan lidahnya. Yoona juga tampak menikmati setiap sentuhan Siwon dan membuatnya melupakan segala keresahannya seharian ini, termasuk pertengkarannya dengan Siwon siang tadi.

 

“Sepertinya kita tidak perlu menunggu dokter pilihan Eomma, kita bisa membuat program bayi sendiri. Bagaimana…?” Siwon menatap Yoona dengan menaikkan sebelah alisnya disertai senyuman nakal di bibirnya. Yoona ikut tersenyum malu, dengan sedikit menundukkan wajahnya iapun mengangguk.

 

~~**~~

Dengan satu langkah cepat Yoona memasuki kamar Jessica, dan membaringkan tubuhnya di ranjang milik wanita berambut pirang itu. Jessica yang sedang membaca majalah tampak kaget dengan tingkah Yoona yang seenaknya masuk tanpa aba-aba.

 

“Tumben kau datang ke apartemenku? Biasanya kau lebih memilih menyendiri dan melamun di coffee shop…” celoteh Jessica melirik Yoona sekilas dan kembali memfokuskan pandangannya pada majalah fashion  di pangkuannya.

 

“Aku hanya mulai bosan dan… sedikit pusing dengan aroma kopi.”

Jessica menghentikan kegiatan membacanya. Ia menutup majalah itu dan mengalihkan tatapannya pada Yoona yang sedang berbaring sambil memejamkan mata. “Eoh? Apa yang terjadi? Terakhir kali aku melihatmu di coffee shop itu seminggu yang lalu sebelum kau tiba-tiba pulang karena suamimu menelepon. Katakan padaku, apa kau sedang memiliki masalah?”

 

Yoona mengangguk masih dengan matanya yang dipaksa terpejam. “Ne, aku memang dalam masalah besar.” Jessica mengguncang tubuh Yoona agar ia membuka matanya. Jessica menarik paksa tangan Yoona sehingga Yoona terduduk dari posisi berbaringnya. “Yak… apa yang kau lakukan hah?” pekik Yoona sebal.

 

“Hei Im Yoona, cepat katakan masalahmu. Apa yang aku tidak tahu? Palliwa…

“Ck, aku pikir ada apa… kau ini suka sekali memaksa. Kau tahu, ternyata Choi Siwon menikahiku karena tuntutan ibunya yang ingin segera memiliki cucu demi mendapatkan pewaris untuk perusahaan keluarganya. Aku baru saja mengetahui hal ini seminggu yang lalu dan itu membuatku gila!”

 

Jessica melongo, sesaat kemudian ia menggeleng-geleng tak percaya. “Ya… ini benar-benar gila. Bahkan suamimu baru mengatakannya padamu. Jadi bagaimana lanjutannya, kau masih ingin bertahan?”

 

Yoona mengangguk lugu lalu tersenyum lebar. “Selain itu aku juga baru tahu kalau suamiku ternyata mencintaiku. Yahhh… walau ibu mertuaku galak, tapi bila suamiku menyayangiku itu semua cukup bagiku untuk bertahan.”

 

“apakah itu berarti kau juga jatuh cinta pada suamimu? Wah… selamat, Yoong. Itu artinya kau tidak perlu lagi menghiasi sudut coffee shop itu dengan begitu manis setiap harinya.” ujar Jessica dengan cengiran khasnya.

 

“ah, kau ini bisa saja.”

“Lalu bagaimana dengan keinginan ibu mertuamu itu? Aku rasa kau belum sepenuhnya siap untuk hamil dan punya anak. Aku pikir kau akan lebih memilih untuk berkarir dulu”

 

“nah, itu dia yang sedang kucari solusinya sekarang. Aku akan mendapat izin melanjutkan karirku setelah aku memiliki anak. Jadi aku harus berusaha untuk secepatnya memberikan ibu mertuaku yang galak itu seorang cucu. Kau tahu, belakangan ini aku merasa…..” ucapan Yoona terhenti saat ia melihat Jessica mengambil gelas berisi jus sayuran dari nakas di sebelah ranjang.

 

“kau merasa apa?” tanya Jessica sebelum meneguk isi gelas itu yang membuat Yoona susah payah menelan ludahnya.

“Aku merasa…. Hueekkk,” Yoona kembali tak dapat melanjutkan kata-katanya. Sekarang ia malah berlari menuju wastafel di dekat kamar mandi Jessica sambil menutup mulutnya. Yoona mencoba memuntahkan isi perutnya, tapi tidak ada yang keluar dari sana. Hanya saliva yang terasa pahit.

 

Jessica mengikuti Yoona sampai ke depan wastafel, menepuk-nepuk punggung sahabatnya itu. “Yah… kita baru saja membicarakan tentang kehamilan sekarang kau malah muntah-muntah seperti ibu hamil.”

“Sica, jauhkan jus anehmu itu dariku. Aromanya sungguh tak mengenakkan!” protes Yoona pada Jessica. Tanpa aba-aba lebih jauh, Jessica langsung mengungsikan jusnya ke dapur. Saat kembali ke kamar, ia mendapati Yoona kembali berbaring lemas di ranjangnya.

 

“Yoona-ya, kau yakin baik-baik saja? Tiba-tiba wajahmu pucat begitu.”

“Entahlah, aku juga tidak mengerti. Sejak dua minggu yang lalu aku mulai sering merasa tidak enak badan. Aku tidak berselera makan, bahkan aroma kopi pun membuatku mual.” Terang Yoona sambil mengusap keningnya, berharap bisa menghilangkan pusing di kepalanya.

 

“Mungkinkah itu tanda kehamilanmu?” Jessica beringsut mendekati Yoona, duduk di ranjang tepat di sebelahnya.

“Mungkin saja. Karena periodeku juga sudah terlambat 5 hari. Tapi aku tidak mau terlalu berharap, nanti aku jadi kecewa sendiri.”

 

“kau ini pintar, tapi terkadang kebodohanmu datang di saat yang tidak tepat. Bagaimana kau akan tahu hamil atau tidak kalau kau tidak berusaha mencari tahu. Sebaiknya kau coba saja dulu dengan testpack, siapa tahu kau akan dapat jawabannya.” Ujar Jessica kesal.

“Haruskah?”

“Ya, harus!!”

“Baiklah…akan kucoba.”

 

~~**~~

“Oppa….!!!” Teriakan Yoona dari kamar mandi membuat Siwon yang sedang sibuk memakai dasinya menoleh ke arah suara itu. Yoona berjalan cepat keluar dari kamar mandi dan langsung menghambur ke pelukan Siwon (author juga mau -,-)

 

“Ne, Jagiya. Ada apa, mengapa kau teriak-teriak seperti itu?” tanya Siwon seraya membalas pelukan Yoona. Wajah Yoona tampak sangat sumringah, merah merona dengan senyuman menawan di wajahnya. Yoona melepaskan pelukannya dan menatap suaminya dalam.

 

“Aku punya kejutan. Tadaaa!!!” Yoona mengangkat tangan kanannya yang memegang tiga buah testpack dengan dua garis merah. Siwon mengerutkan keningnya sambil bergantian memandang Yoona dan testpack itu. “Lihatlah, Oppa. Aku positif hamil. Kita akan punya bayi!!”

 

Seketika wajah datar Siwon berubah, ia tersenyum dengan senyuman yang lebar. Siwon merasa takjub dan sangat gembira. “Benarkah?” Yoona mengangguk mantap. Siwon kembali memeluk Yoona erat, menyalurkan energi kebahagiaan itu bersama istrinya. “Kita berhasil, jagiya. Kita akan punya bayi!”

 

Setelah puas berpeluk-pelukan, Siwon membimbing Yoona duduk di ranjang. Ia memegang keuda bahu Yoona, menatapnya masih dengan senyuman terpatri di bibirnya. “Bagaimana kalau sekarang kita ke dokter untuk memastikan dan memberi bukti pada Eomma. Setelah itu baru kita beritahu Eomma. Aku yakin Eomma akan merasa senang sekali.”

 

“Ne, Oppa…”

 

Ternyata setelah diperiksa dokter, Yoona benar positif hamil dan usia kandungannya sudah menginjak empat minggu. Itu artinya Yoona sudah hamil bahkan sebelum ia tahu obsesi sang ibu mertua yang menginginkan pernikahan kilat Siwon dan Yoona.

 

Sikap dingin dan galak Ny. Choi serta merta berubah begitu mengetahui kehamilan Yoona. Ny. Choi bahkan seperti ibu kandung bagi Yoona karena sikapnya yang begitu perhatian dan hangat. Siwon sangat tak menyangka ibunya berubah seratus delapan puluh derajat hanya karena kehadiran seorang bayi di tengah-tengah keluarga mereka. Meskipun begitu Siwon tetap merasa bahagia dengan perubahan sikap ibunya baik terhadap istrinya dan dirinya sendiri.

 

Siwon dan Yoona kini hidup bahagia, mereka telah dapat menimati suka duka mereka menjadi suami istri dan calon orang tua. Siwon sudah meninggalkan kebiasaan lamanya yang berusaha mengabaikan Yoona, kini ia sangat perhatian dan lebih memilih menghabiskan waktu bersama sang istri. Sedangkan Yoona tidak lagi merasa perlu menghabiskan waktunya di sudut sebuah coffee shop untuk merenungkan nasib pernikahannya. Akhirnya rahasia itu tidak lagi menjadi beban untuk Yoona dan Siwon, justru rahasia itu membawa mereka pada kebahagiaan yang sempurna.

 

FIN

 

This is just an ordinary one shot…. Yah, cerita ini adalah cerita yang mungkin sudah sangat biasa ditemukan oleh readers. Cerita ini hanya sebuah cerita yang tiba-tiba saja muncul ide untuk membuatnya. Mungkin tema ceritanya klise dan biasa saja, tapi aku ingin membuatnya menjadi versiku sendiri dan berusaha agar tampak berbeda dengan cerita lainnya (walau kelihatannya gagal (T.T) hikss). Anggap sajalah untuk meramaikan YWK -_- hehehe…

Okay guys, jangan lupa kasih pendapat soal cerita ini yaa… setiap review dari pembaca akan sangat berarti dan menjadi penghargaan tersendiri untuk penulis. Terima kasih untuk semua readers dan special thanks juga buat admin YWK, (siapa kah yang publish, Gee atau Echa?) sama saja… yang pasti terima kasih banyak… (sama2🙂 )

Tinggalkan komentar

180 Komentar

  1. tiffany

     /  Agustus 2, 2014

    Daebak…senyum2 sendiri bacanya…

    Balas
  2. Dedewjasmin

     /  Agustus 4, 2014

    Seru ahirnya yoona hamil juga.pastinya yoonwon bahagia bngt?

    Balas
  3. Any

     /  Agustus 13, 2014

    Cerita dari misskangen emang bagus2 semua. Bikin senyum2 gak jelas yg baca. Cerita yg ini simple tapi bagus bgt.

    Balas
  4. Micka yoon A

     /  Agustus 19, 2014

    Happy family :-D:-D:-D

    Balas
  5. keren lhooo, hehe😀 keep writting ne thor😉

    Balas
  6. Daebakk nae suka ff’y.

    Balas
  7. Baguss biingiit *mendadak alay 😆

    Balas
  8. Baguss biingiit *mendadak alayy 😆

    Balas
  9. Oh God,, so sweet banget jalan ceritanya.. Ahh,, jadi ikutan seneng nih.. Haha

    Balas
  10. Hh,, so sweet banget.. Kirain sad ending.. Sebenarnya,, aku bertanya2 apakah siwon itu udh mencintai yoona dri awal.. Tapi yah,, gpp deh.. Udh berhasil kok programnya.. Haha

    Balas
  11. choi han ki

     /  Oktober 9, 2014

    Ohh ternyata krn obsesi ibunya siwon toh jadi yoona sana siwon buru2 nikah dan yoona merasa terabaikan… Tapi sukurlah yoona hamil dan mendapat perhatian penuh dari keluargany

    Balas
  12. Anggun YoonAddict SY

     /  Oktober 9, 2014

    Keren ceritanya

    Balas
  13. Cha'chaicha

     /  Oktober 23, 2014

    owh bagus bgt crita’y, dan konflik’y pun ga berat..

    Balas
  14. ayu

     /  Oktober 25, 2014

    ceritanya ringan konflik nya gak berat next ff di tunggu

    Balas
  15. Aku suka ni ide ceritanya
    benar2 mengesankan

    Balas
  16. Yaampun ini udah lama bgt ya?
    Ceritanya menarik, apa lagi genre nya aku sukaa!

    Balas
  17. dedewjasmin

     /  Desember 9, 2014

    Ahir yoona hamil juga dan ibu mertuanya berubah mnjd baik…siwon pun makin perhatian sm yoona.

    Balas
  18. Yoong407

     /  Desember 10, 2014

    Gabakal bosen deh baca ceritanya huaaa kangen ff yoonwon:((z

    Balas
  19. aldiana elf

     /  Januari 4, 2015

    berharap cerita ini jadi kenyataan

    Balas
  20. mia rachma

     /  Januari 8, 2015

    aaaaaaaa sweet bgt thor…. yoona gigihhh bgt bwt dapetin siwon.

    Balas
  21. azzryia noer hayyati

     /  Januari 30, 2015

    Cuma satu kata ” kereeenn”” bner2 sweet deh!!!

    Balas
  22. Ahh seruu bangett wkwkwkwk ngakak atuh bacanya😀

    Balas
  23. Cha'chaicha

     /  April 17, 2015

    Keren bgt…

    Balas
  24. Hilmy

     /  April 17, 2015

    daebak!! bagus banget.. aku suka:D suka senyum gaje kalo lg baca..

    Balas
  25. wahhh daebak…
    akhirnya nyonya choi bisa berubah juga…
    berkat anak dari yoona eonnu dan siwon oppa

    Balas
  26. krn bget…eonnie👍…mian waktu itu egk ksi komen soalnya aku bru baca stngh tpi ps aku lnjutin ff nya kren👏…eonnie bkin bru donk ff nya mau tau crta bahagia YooWon dgn baby mrka…plsed😞

    Balas
  27. Keren author. So sweet moment yoonwonnya
    konfliknya juga ndak berat,
    keep writing🙂

    Balas
  28. So sweet , ceritanya keren..
    Di tunggu ff yg lainnya yg keren”

    Balas
  29. Aku kayaknya udah pernah baca ff yang mirip banget sama ff ini.. tapi entah judulnya apa aku lupa… tapi klo ga salah cast nya Yoona sama Max Changmin..

    Balas
  30. vellaok

     /  Agustus 6, 2016

    senengnya liat yoonwon bahagia

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: