[Ficlet] Capturing The Beauty

Capture YW

Author : misskangen ‖ Length : Ficlet ‖ Genre : Romance, Angst ‖ Rating : Mature ‖ Main cast : Choi Siwon ‖ Support cast : Im Yoona ‖ Disclaimer : This story is mine instead of the plot and characteristics, but the casts are belongs to themselves and god. Some scenes inappropriate may be you find here as parts of mature point of view.

CAPTURING THE BEAUTY

 

Aku tidak pernah berpikir apa yang membuatku mempertaruhkan banyak hal untuk melakukan ini semua. Aku meninggalkan satu sesi foto penting yang telah diamanatkan padaku dari jauh-jauh hari. Dengan begitu mudahnya aku menunda kegiatan pemotretan untuk kepentingan iklan sebuah agensi brand pakaian ternama di Korea. Aku tidak tahu, tiba-tiba saja aku yang selalu perfeksionis untuk setiap pekerjaan menjadi begitu tidak peduli konsekuensi dari keputusan yang aku ambil. Aku tidak peduli bila aku akan diberi cap sebagai fotografer yang tidak profesional karena meninggalkan pekerjaanku begitu saja. Ini semua karena dia…

 

Dia… Im Yoona…

Satu panggilan darinya cukup membuatku kehilangan semua kredibilitas yang kumiliki. Saat aku mengangkat satu panggilan telepon darinya beberapa jam sebelum pemotretan itu, saat ia memintaku datang menemuinya… aku tidak mengerti apa yang kupikirkan.

 

Im Yoona, hanyalah seorang mantan kekasihku. Seorang model berwajah cantik dan berbakat, tapi bagiku dia adalah wanita yang sempurna. Yoona begitu istimewa di mataku, ia memiliki segala hal yang kuinginkan dan yang paling aku kagumi dari seorang Im Yoona adalah kesederhanaannya.

 

Lantas bila kenyataannya hubungan kami harus kandas itu semua tidak terlepas dari ego dan keadaan. Aku dan Yoona sama-sama memiliki kesibukan sendiri. Semuanya begitu indah selama kami menjalaninya bersama, hingga memasuki tahun ketiga dan kami berdua mulai jengah dengan segala rintangan. Bersama-sama merasa lelah hingga akhirnya memutuskan untuk berpisah, walau sesungguhnya aku masih mencintainya.

 

Beberapa bulan setelah kami memutuskan untuk menjalani hidup masing-masing, kini ia membuka celah untukku melihatnya kembali. Ia memulai semuanya melalui satu panggilan telepon, memperdengarkanku suara lembutnya yang telah lama kurindukan. Tapi ada hal yang mengganjal di hatiku saat mendengar suaranya, nada kesedihan dan putus asa. Aku benar-benar berharap itu semua hanya halusinasiku dan sangat ingin tak mempercayai telingaku yang telah menangkap gurat kerisauan dalam suaranya. Tapi hatiku malah menuntunku untuk menuruti keinginannya untuk bertemu, dan aku meninggalkan semuanya hanya untuk melihatnya, bersama dengannya.

 

Bunyi ketukan di sebuah kamar hotel mewah hanya sempat berdentang dua kali sebelum pintunya terbuka dan memperlihatkan sosok Im Yoona yang berdiri menyambutku.  Jantungku seakan ingin melompat saat kedua mataku telah mampu melihat rupanya yang indah kembali. Setelah sekian lama aku merindukannya, kini ia secara nyata telah berdiri di hadapanku. Sambutannya padaku hanya sebuah senyuman singkat dan raut wajah datar. Aku tidak pernah melihat Im Yoona yang seperti ini, aku tak tahu apa yang sudah terjadi dan mengubah semuanya.

 

Aku mengikutinya masuk ke dalam kamar. Namun hanya berjalan beberapa langkah, ia berbalik dan berlari kecil untuk memelukku. Aku cukup kaget dengan tingkahnya. Dan sepertinya sambutan Yoona dengan sikap yang tak biasa masih berlanjut ketika ia memagut bibirku, memberikan ciuman intim yang dalam layaknya yang dulu kami lakukan sebagai pasangan kekasih. Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak membalas ciumannya saat kurasakan ada gairah dan ketidaksabaran dalam ciuman itu.

 

Ciuman itu tidak cukup lama untuk terus dinikmati sebagai curahan rasa rindu dan nafsu. Ujung hidung dan dahi yang saling bersentuhan mengakhiri kontak bibir yang saling menikmati. Aku merasakan desahan napasnya menerpa wajahku. Matanya yang terpejam memperlihatkan barisan bulu mata yang hitam dan panjang.

 

“Kau datang…”

“Ya. Dan aku membawa kameraku seperti permintaanmu.”

Yoona melepaskan pelukannya dan beranjak menjauhiku. Aku menahan tangannya, memaksanya kembali menatapku.

 

“Apa sebenarnya yang kau inginkan?” Yoona jelas tahu bahwa aku akan menanyakan hal itu, apa yang menjadi tujuannya mengundangkan datang ke sebuah suite room di lantai teratas hotel mewah ini. Yoona tersenyum singkat lagi setelah ia cukup lama memandangku dengan tatapannya yang tak bisa kuartikan.

 

I just want you to take beautiful photos of me.” Katanya begitu lembut. Aku masih diam di tempatku dengan beragam pikiran tentang alasan remeh yang ia katakan. Mataku mengikuti gerakannya, mengawasinya yang duduk di depan meja rias. Wanita itu memoles wajahnya dan tatapannya di cermin itu terlihat sangat dingin.

 

Tersadar dari lamunan, aku segera mempersiapkan kamera andalanku untuk memotret. Dalam hati aku masih bertanya-tanya, adakah maksud lain dari keinginannya yang tidak biasa itu. Saat semuanya telah siap, Yoona mendekatiku – memberikan aba-aba bahwa ia juga telah siap untuk melakukan pemotretan seperti yang diinginkannya.

 

Sekejap aku memperhatikannya, kembali ada hal yang tak biasa kutemukan pada dirinya. Ia memakai gaun berwarna ungu – warna yang paling dihindarinya – dan make up tipis dengan warna lipstik merah menyala. Apa maksudnya dengan tampilan ini? Aku sungguh tidak mengerti, tapi aku tidak ingin bertanya lebih jauh padanya.

 

“Pastikan aku terlihat cantik dan indah dalam hasil fotomu.” Itu pesan yang dikatakannya sebelum aku memulai mengambil gambarnya.

 

Aku mengarahkan lensa kameraku dengan fokus hanya pada dirinya. Aku memperhatikan setiap ekspresi yang ditunjukkannya. Tidak ada senyuman lebar yang terlukis di wajahnya. Hanya senyuman singkat yang dipaksakan, selebihnya ia terlihat begitu sempurna dengan eksotisme wajahnya. Aku baru menyadari bahwa Yoona juga memiliki sisi eksotis pada dirinya. Selama ini image yang melekat padanya adalah gadis manis atau wanita dengan sejuta pesona kesederhanaan dari kecantikannya.

 

Aku terus saja menekan shutter pada kameraku. Suara klik terdengar berulang-ulang serentak dengan bidikanku mengikuti tiap gerakannya. Berbagai pose yang diperlihatkannya semakin memperjelas bakatnya di dunia modeling. Aku masih berfokus pada tiap gerakannya yang berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain dalam satu ruangan yang sama. Sampai dia berada di hadapanku, mendekatiku semakin rapat. Aku sedikit terkejut tapi kelihatannya ia hanya menggodaku karena sedetik kemudian ia telah berjalan menjauhiku.

 

Tiba-tiba ia berhenti, terdiam dan memandangku. Aku tak bisa mengartikan tatapannya maupun ekspresi di wajahnya. Mungkin saja itu raut kesedihan, kebingungan, atau mungkin ia sedang berpikir. Entahlah aku tak mengerti.

 

Ia kembali berjalan mendekatiku. Aku memperhatikannya melenggang dengan angkuh hingga jaraknya denganku hanya beberapa senti. Aku teringat kembali untuk mengambil fotonya, maka aku kembali mengarahkan lensa kameraku pada wajahnya. Aku tidak peduli dengan gerakan tangannya yang mulai membuka kancing kemejaku satu persatu. Aku masih saja berfokus pada wajahnya, mengambil setiap momen keindahannya.

 

Mataku menatap tiap inchi wajahnya yang begitu dekat denganku. Mata indahnya memancarkan aura kesedihan dan kini aku menangkap raut sendu di wajahnya. Bibirnya mulai bergerak-gerak seakan ingin berbicara sesuatu, aku terus memperhatikan bibirnya yang merah merekah itu hingga satu kalimat terucap dari mulutnya.

 

“Aku sekarat.”

Seketika tanganku berhenti menyentuh tombol shutter. Kameraku pun turun begitu saja dari depan wajahku berganti dengan pemandangan wajahnya yang kini berekspresi datar – seolah ia baru saja tidak mengatakan sesuatu yang membuatku terkejut. Kami saling berpandangan. Hanya ada tatapan mata yang beradu dalam diam.

 

“Aku sakit. Kanker otak. Penyakit yang sangat mengerikan.” Aku berusaha mencerna setiap kata-katanya. Aku mencoba mencari kebohongan dari matanya, tapi aku tak menemukan apapun disana. Air mukanya dan sorot matanya sekalipun tidak memberitahukan apa-apa. Semuanya datar dan sungguh misterius. “Dokter sudah memvonis bahwa mungkin aku hanya bisa bertahan sebulan lagi.”

 

“Kau pasti sedang bercanda kan?” kataku sambil tertawa. Tapi Yoona tidak tertawa, ia masih terus bertahan dengan ekspresi datarnya dan sorot matanya kini memancarkan kesedihan. Saat ini aku merasa seolah ada ribuan jarum yang menusuk jantungku. Aku tidak bisa menerima kondisi ini begitu saja, ini terlalu cepat bagiku. Aku baru saja kembali bertemu dengannya – wanita yang bertahun-tahun kucintai. Aku mulai bisa menjawab pertanyaanku sendiri tentang maksudnya memintaku mengambil foto-foto yang indah darinya, dari kecantikannya.

 

Aku tersentak saat Yoona tiba-tiba mengambil paksa kamera dari tanganku dan dengan cepat menekan shutter pada lensa yang di arahkan ke wajahku. Dengan kesal aku mengambil kamera itu kembali dari tangannya, “kau seharusnya mengambil gambar dengan cara yang benar.”

 

Sungguh berat rasanya bagiku untuk melakukan semua ini, tapi aku tidak ingin mengecewakannya. Aku kembali mengambil berbagai gambarnya dengan pose-pose berbeda. Aku ingin mengabulkan keinginannya. Aku ingin menyimpan semua kenangan indah tentang dirinya ke dalam kepalaku. Aku terus menekan shutter tanpa berpikir untuk menghentikan aksi itu.

 

Yoona terlihat sangat cantik. She’s very beautiful. Dan aku tidak percaya bahwa mahakarya secantik dirinya akan meninggalkan dunia ini lebih cepat. Aku terus saja berkonsentrasi pada tiap momen yang tertangkap pada kameraku. Tapi kameraku kini telah berembun dan aku tidak bisa melihat apapun. Tanganku gemetar dan tubuhku terasa lemas. Aku terjatuh di atas lututku, dengan satu tangan aku mencoba menopang tubuhku dari lantai berpegangan pada kameraku sendiri.

 

Aku tak percaya aku menangis – menangisi keadaannya yang segera meninggalkanku lagi. Aku bahkan tidak menyadarinya bahwa aku menangis tersedu-sedu. Yoona datang menghampiriku, memeluk tubuhku yang yang meringkuk lemah. Aku tak membalas pelukannya. Aku hanya melanjutkan tangisanku di bahunya yang terbuka.

 

“Kenapa…? Kenapa… kau harus mati?” aku mengucapkan kata-kataku dengan begitu putus asa. Ia diam, tidak sedikitpun mengeluarkan suara untuk menjawabku. Yoona jelas tidak mengetahui jawaban untuk pertanyaan bodohku itu, siapapun tidak akan ada yang bisa menjawabnya.

 

Ia melepaskan pelukannya, menatapku dalam jauh pada manik mataku. Aku bisa merasakan hembusan napasnya di wajahku. Yoona membelai lembut rambutku – hal yang sudah lama tidak kurasakan darinya. “Oppa, lakukanlah untuk yang terakhir kalinya…”

 

Aku tercengang. Aku tak menyangka di saat-saat yang kacau seperti ini, di saat yang menyedihkan seperti ini… ia masih menginginkanku. Ia masih mengharapkanku yang memenuhi dirinya. Ia memilihku untuk mengahbiskan waktu dengannya, menikmati setiap detik waktu yang terlewati dengan berbagi gairah. Tentu saja aku tak akan menolak, aku tak ingin melewatkan setiap kesempatan yang bisa kulalui bersamamu, Yoona.

 

Kami mulai berciuman. Ciuman panas yang saling berbalas. Aku beralih mengecup lehernya, sedikit kehilangan kendali emosi hingga aku meninggalkan kiss mark disana. Aku memberi kecupan untuk setiap inchi tubuhnya. Aku tidak tahu kapan aku melepaskan gaun yang dipakainya, atau sejak kapan kami bisa berada di atas ranjang.

 

Aroma manis menguar dari lehernya. Bahunya yang kurus terlihat begitu rapuh. Kulitnya yang lembut seolah menarikku, memberikan kehatangan, maupun kelembaban dari keringatnya. Ketika kau meletakkan bibirku di permukaan kulitnya, semua terasa manis seperti susu yang tumpah di atasnya.

 

Aku ingin jika semua ini hanyalah mimpi buruk. Yah… aku harap ini adalah mimpi buruk walaupun aku dengan jelas bisa merasakan tiap sentuhanku di kulitnya. Tiap ciumanku di bibirnya. Dan tiap desahan lembut dari mulutnya. Aku menghabiskan sisa hari itu untuk bercinta dengannya. Menikmati waktu yang terlewat untuk setiap sentuhan kepuasan dan kegelisahan. Sebagai satu ungkapan rasa gundah yang tidak rela untuk melepaskannya pergi. Sebagai satu bentuk kesedihan yang sulit diungkapkan hanya dengan kata dan air mata.

 

Setiap kenanganku bersamanya seakan terputar kembali saat aku menyatukan tubuh kami menjadi satu jiwa di bawah selimut sutra yang berhiaskan gairah. Semua memori saat aku bertemu dengannya pertama kali, bagaimana hari-hari kuhabiskan dengannya sebagai pasangan kekasih, hingga kejadian hari ini ketika ia memberi kabar menyedihkan itu kepadaku. Seakan kenangan manis dan pahit menjadi satu cerita yang akan menjadi satu ingatan penting dan tentunya sulit dihapus dari kepalaku. Juga hal itu semakin panas membara sejalan dengan desahannya yang memanggil namaku dengan lembut.

 

Remember me for being beautiful – Ingatlah aku sebagai sesuatu yang indah.” Itu adalah kalimat yang terus menerus dibisikannya kepadaku selama bercinta hingga aku menyelesaikan semuanya pada puncak gairah yang meledak-ledak.

 

Aku terbangun dari tidurku dan menyadari bahwa aku sendirian. Yoona telah menghilang dari pandanganku. Aku tidak mencoba untuk mencarinya, karena aku tahu itu hanya pekerjaan sia-sia. Aku masih terus berharap bahwa ini semua hanyalah mimpi. Sebuah mimpi buruk yang kuharap tidak akan datang lagi menghampiriku. Tapi bagaimana aku bisa meyakinkan diriku lagi bila aku masih berada di kamar itu, suite room sebuah hotel mewah. Dan aku terbangun di atas ranjang empuk dengan berselimutkan sutra tanpa sehelai pakaian melekat di tubuhku.

 

Sebulan sudah berlalu, aku tak pernah lagi bertemu dengannya. Aku mengalihkan perasaan gundahku dengan melihat langit senja yang begitu indah. Memotretnya dengan angle terbaik yang bisa ku dapatkan. Disini, di dalam mobilku yang terhenti di pinggir jalanan sepi di dekat pantai. Aku memandangi satu foto indah yang menampilkan sosok Im Yoona dengan wajah eksotis yang pernah kulihat darinya. Satu foto dari hasil ratusan jepretan kameraku.

 

Aku memandang penuh tanya. Mungkin sebuah foto tidak bisa menjawab pertanyaanku ini. Mengapa kau melakukannya Im Yoona? Beberapa hari yang lalu, seorang teman yang juga mengenalmu memberitahuku bahwa kau telah kembali ke kampung halamanmu dan menikah dengan seorang pria pilihan orang tuamu.

 

Apakah cerita soal penyakit yang kau derita hanyalah sebuah kebohongan?

Apakah kau tidak ingin aku melihatmu menjadi tua dan bertambah usia secara normal?

Kau hanya menginginkanku untuk mengenalmu sebagai seseorang yang cantik dan indah.

 

Aku merasa mendengar suara lembut Im Yoona memanggil-manggilku. Tidak… aku rasa itu hanya halusinasiku. Sekarang yang harus kulakukan adalah menyingkirkannya pelan-pelan dari hidupku. Tetap mengingatnya sebagai sesuatu yang indah mungkin hal yang masuk akal. Namun aku tidka tahu apakah hal itu bisa berlaku untuk selama-lamanya.

 

 

FIN

 

Annyeong… misskangen datang dengan membawa FF aneh dan ga jelas. Maklum misskangen sedang dalam masa abu-abu yang diselimuti awan keanehan. Bukannya melanjutkan FF yang menjadi hutang malah buat cerita lepas yang genrenya biasa dan klise, tapi ratingnya… wow!! Sebenarnya ingin diletakkan rating NC, tapi kayaknya lebih ke dewasa aja yang sedikit lebih netral karena adegan di dalamnya juga bukan sesuatu yang vulgar (betul???)Buat readers yang masih di bawah umur, jangan dihayati kali yaa bacaannya. Jangan tergoda dengan bahasa planetnya yaa….

Thanks for admin YWK… biasanya kalau Echa yang publish bakalan nanya dulu mau di password atau ga… tenang Cha, kali ini ga usah pake password lagi. Ntar aku tak bisa melayani permintaan pembaca. Sibuk..sibuk.. ^^ lagian ceritanya bukan sesuatu yang vulgar kok (secara aku ga berbaka buat yang begitu…) Gomawooo…  (heheheee, cheonma 🙂 )

Tinggalkan komentar

115 Komentar

  1. daebak thor..tapi bikin pensaran.. sebenernya ada apa dengan yoona? kira0kira bakal dibuat sequelnya gak thor? kalo iya ditunggu ya! 😀 hehe

    Balas
  2. iqda

     /  Mei 17, 2013

    yoonwon <3<3<3

    Balas
  3. Mela Robsten

     /  Mei 17, 2013

    Sequell donkk thor??! 😉

    Balas
  4. DaebakKk 🙂
    sequel.x dtnggu unN n ff.u yg lain jg jngan lama” 🙂
    YOONWON JJANG . .
    Fighting!!!

    Balas
  5. berta

     /  Mei 20, 2013

    krean bgt thor, bnr2 daebak deh…
    lnjut sequel’y thor … dtnggu ya

    Balas
  6. kimy

     /  Mei 20, 2013

    wah iya nih penasaran yoona knpa sbenernya thor

    Balas
  7. daebak,dibikin sequelnya thor,memang yoona kenapa thor jdi penasaran lnjut

    Balas
  8. keren chingu.,,,

    Balas
  9. aekenpoh

     /  Mei 20, 2013

    uchh..ceritanya lumayan hot kok gak dibikin se hott hot hot sekalian chingu ? ^^
    nih ep ep bnyk misteri cerita di pihak yoona yang belum terungkap, jadinya penasaran and apa bakal ada sequelnya engak chingu ? Aku berharap ada, dan berakhir happy ending ya ya ya

    Balas
  10. Kwon Liia (liia_sa)

     /  Mei 22, 2013

    ini udh FIN ? bneran ?
    tp msih gntung authorr ksih sequel yya ^^ *eyesmile
    gntungnyaa itu Yoona udh meninggal krn kanker/hrus nerima jdoh & jg hrus brbhong sama Wonpa -.-
    sumpah FINnyaa msih gntung thorr ..
    tp buat alur & kata* yg dipake suka bgett mlah kyaknyaa gaada typo tuh *itusihmnrutsaya 😉 ..
    yauda ditunggu FF authorr miss kangen yg lain dehh =) keep writing & fighting 😉

    Balas
  11. eonni, ini mah gantung banget.. sebenernya yoona eonni beneran sakit apa nggak???
    bkin sequel nya yah eon.. #puppyeyes

    Balas
  12. rostina fince manalu

     /  Juni 2, 2013

    ceritanya gantung …
    bkin squelnya eon ….
    ok ditunggu .
    fighting

    Balas
  13. Kalau menurutku nggak nyambung ma cerita awalnya..

    Balas
  14. bagus ceritanya

    Balas
  15. arahajeng

     /  Juli 31, 2013

    Eonni! Aku masih bingung sama Yoona, sebenernya Yoona nya bohong kalau dia sakit atau temennya Siwon & Yoona yg bohong ke Siwon?
    Terus halusinasi nya Siwon itu?
    Aahh, gak tau deh ah._.
    Btw, sekuel please deh eon, misteri banget sih Yoona nya–”
    Gomawo! 😀

    Balas
  16. suzi

     /  Agustus 24, 2013

    Ceritanya seperti film jepang hampir mirip q pernah nonton tapi lupa judulnya apa?

    Balas
  17. imaniarimoi

     /  November 26, 2013

    Waw daebak!!! Jadi sbnernya yongnie sakit atau ngga? Ah kurang puas hahahaahahhaha *pngennya happy end terus* mehehehehe
    Yoonwon jjang!!

    Balas
  18. thor,q pernah baca ficlet ni serupa pie pemeran siwonnya diganti ma donghae
    thor bikin sequelnya pokoknya wajib bikin thor sequelnya
    q tunggu ya

    Balas
  19. mutiarananda

     /  Desember 2, 2013

    Ngarep bgt ini ada lanjutannya:(

    Balas
  20. nunung

     /  Desember 3, 2013

    Kasian ditinggal siwon oppanya

    Balas
  21. kereenn bingittzzz tor jdi baca’a gx bosen2 .
    Di buatin sequel donx di jelasin gitu yoona kemana apa udh menikah tw mati itu kan jelass pliss ne penasaran penasaran penasaran sekaliii..
    Gomawo

    Balas
  22. ayu dian pratiwi

     /  Februari 24, 2014

    Keren . PenasRan ama jalan ceritanya. Next ff di tunggu

    Balas
  23. Rhiiyoonah

     /  April 23, 2014

    Wow…fantastic…
    Tp msh gantung,thor…yoona eonni yg bener yg mana tuh?
    Ad lnjtan’a gk? Ada donk ada donk donk donk…

    Balas
  24. yaaaaah kok yoona ninggalin kak won sih T^T btw itu pake ninggalin kenangan yang errrrrr. Kalo kaya gitu ya Kak Won gabisa lupa dong, malah makin kesiksa. Yah semoga aja di reallife mereka bener-bener ‘One’. Amiin^^

    Balas
  25. melani

     /  Februari 22, 2016

    Endingnya kenapa gantung kyk gitu.. trus yoonanya kenapa.. bikin sekuelnya dong..

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: