[FF] Noona, I Love You (Chapter 2)

cover noona i love you

Noona, I Love You Chapter II by @uchie90  ||  Cast : Choi Siwon, Im Yoona, Choi Hanjoon, Kim Yoojin, Moon Joowon, Kim Youngwoon aka Im Youngwoon, ect  ||  Genre : Romance, Comedy a little Sad  ||  Lenght : 2/?  ||  Rate : PG 13+  || Disclaimer : This story pure is mine, please don’t copy or bashing the cast in this story. I just borrow the name of idol above for complement in this story and wishing Yoona and Siwon to be a real couple in the real life (Aamiin).

Ini link cerita sebelumnya:

yoonwonitedkingdomstory.wordpress.com/2013/04/29/ff-miss-i-love-you-chapter-1/

 

Ini nulisnya setengah-setengah hati, karena beberapa sebab. Maaf kalau banyak typo dan cerita tak sesuai harapan. Happy Reading^^

 

 

 

Noona, I Love You Chapter II

 

 

Yoona menatap Joon yang tengah asyik melumat ice cream cokelat yang tadi sempat ia belikan untuk bocah tersebut. Ia merasa ada yang aneh dengan tatapan Joon saat melihatnya tadi. Sorot matanya sendu tapi….  Yoona sendiri juga bingung bagaimana menjelaskannya.

 

“Kau yakin akan membawanya pulang?” Yoona menoleh ke arah Yoojin yang ternyata juga sedang memperhatikan Joon. “Entahlah Yoojin-ah, aku merasa kasihan padanya.” Yoojin menyipitkan matanya. “Kasihan? Kalau aku lihat dari tampilannya sepertinya ia bukan anak gelandangan yang tidak punya orangtua atau orang yang mengasuhnya, pakaiannya sepertinya bukan pakaian biasa. Aku yakin dia punya orangtua yang mapan. Sebaiknya kau serahkan saja dia ke kantor polisi Yoong, mana tahu orangtuanya sudah melaporkan kehilangannya.” Bujuk Yoojin. Yoona tampak berpikir.

 

“Ya sebaiknya memang begitu, tapi aku akan melakukannya esok hari, sekarang sudah malam. Tak mungkin aku biarkan ia menginap di kantor polisi.” Yoojin menghela napasnya dan mengangguk setuju. Yoona berjalan menghampiri Joon dan duduk disampingnya. “Kamu tak tahu dimana alamat rumahmu, Joon?” Yoona bertanya hati-hati.

 

“Aku tinggal di daerah Cheongdamdong, tapi aku tak tahu tepatnya Noona.” Yoona tersenyum mengerti dan Joon pun membalasnya. Yoona masih saja heran, Joon tetap saja menatapnya dengan pandangan yang sama, sendu walau terukir senyum yang memperlihatkan lesung pipitnya itu.

 

“Noona, apa aku boleh bertanya?”

 

“Nde, mau tanya apa Joon?”

 

“Apa Noona sudah punya pacar?” Yoona hampir tersedak karena ia sedang meneguk air saat Joon bertanya. Yoona menepuk-nepuk dadanya berharap nyeri didadanya mereda akibat sedakkannya itu. Setelah dirasa tak nyeri lagi, Yoona menoleh ke arah Joon. “Dari mana Joon tahu kata pacaran? Apa orangtuamu yang mengajarkannya?” Joon menggeleng. “Lalu?”

 

“Teman-temanku disekolah.” Yoona menepuk jidatnya memikirkan masa depan anak-anak seumuran Joon nantinya. Baru enam tahun saja sudah mengenal pacaran.

 

“Noona, apa mau jadi pacarku?” Joon bertanya dengan wajah tersenyum polosnya.

 

“Mwoo??!”

 

~•~

 

Kepanikan tergambar jelas dari wajah Siwon. Sudah lebih dari 12 jam Joon belum juga ditemukan, ia sudah melapor polisi namun belum ada tanda-tanda kalau polisi-polisi tersebut sudah menemukan petunjuk tentang keberadaan Joon. Siwon teringat akan Joowon dengan cepat ia menghubungi adik almarhum istrinya itu dan menceritakan kronologis bagaimana Joon menghilang.

 

Setelah berbicara panjang lebar dengan Joowon, Siwon menutup teleponnya dan terduduk mengusap wajahnya. Ia merasa gagal menjadi ayah, bukankah dia telah berjanji akan menjaga Joon. Tapi lihat, Joon menghilang tanpa ada yang tahu.

 

Ditempat lain, Joowon menutup teleponnya dengan wajah tak kalah paniknya dengan Siwon. Ia meraih jaketnya dan meninggalkan kantornya tanpa memperdulikan teriakan rekan kerjanya. Joowon mengendarai motornya dengan kecepatan diatas rata-rata sehingga banyak yang mengumpat karena hampir saja menjadi korban motor gedenya. Joowon mengarahkan motornya menuju kantor polisi terdekat tempat Joon menghilang. Ia memarkir motornya dan kemudian langsung memasuki kantor polisi.

 

Pertamanya para petugas disana menatap Joowon bingung karena Joowon dengan sedikit emosi menanyakan apa ada berita tentang Joon. Tapi setelah Joon menunjukkan kartu identitasnya akhirnya para petugas itu pun menunduk hormat. Tapi hanya rasa kecewa yang Joowon dapatkan karena memang belum ada kabar berita tentang keberadaan Joon. Joowon frustasi, ia bingung mau kemana mencari Joon.

 

“Samchon?”

 

Joowon menoleh, “Joon-ah.” Dengan wajah lega Joowon berlari ke pintu masuk dan memeluk Joon erat. “Kemana saja kau anak nakal, kenapa pergi tanpa minta ijin haelmonimu eoh?”

 

“Aku hanya mengikuti Noona itu.” Joowon melonggarkan pelukannya. “Noona?”

 

“Permisi.” Yoona yang ternyata tak disadari Joowon berdiri di samping Joon akhirnya membuka suara. “Aku yang menemukan Joon kemarin, kata Joon ia tak ingat dimana alamat rumahnya.” Joowon tampak shock karena ia bertemu lagi dengan yeoja sama beberapa hari yang lalu.

 

“Samchon, apa Samchon mengerti maksudku?”

 

“Eoh? Oh iya, Samchon tahu apa yang Joon maksud.” Joowon berusaha tersenyum menekan perasaannya, Joon sudah tahu dan ini akan berdampak tidak baik, mungkin.

 

“Apa yang kalian bicarakan?” Yoona heran dengan percakapan dua orang yang ada dihadapannya.

 

“Ani, o iya terimakasih karena telah menjaga Joon sejak sore kemarin, maaf kalau dia merepotkan Anda.” Yoona hanya mengangguk kikuk, karena masih ada rasa bersalah karena kejadian tempo hari, menduga yang tidak-tidak pada namja didepannya ini.

 

“Joon!!” Siwon yang beberapa saat yang lalu mendapatkan telepon dari petugas kepolisian langsung bergegas datang  ke kantor polisi.

 

“Appa!!!” Siwon berjalan dengan wajah sedikit geram ke arah Joon. Tiba-tiba ia memukul kaki putranya, “kenapa kau jadi nakal begini ah? Kenapa kau pergi tidak bilang-bilang pada Haelmoni?” Siwon terus memukul Joon. Joon tampak meringis menahan sakit dalam diam, ia menahannya karena memang benar ia bersalah.

 

“Hyung sudahlah.” Joowon mencoba menghentikan aksi Siwon namun Siwon tak mengindahkannya. “Kau tahu, orang-orang sudah panik mencarimu.”

 

“Maafkan aku Appa.” Siwon berhenti memukul dan menatap geram putranya. “Maaf? Appa akan menghukummu lagi dirumah.”

 

“Ahjussi!!”

 

Siwon menoleh ke sumber suara. Sesaat ia membeku, tapi secara cepat kesadarannya kembali menguasai.

 

“Aku yang salah karena tidak cepat membawanya ke kantor polisi. Aku yang menemukannya, dan ia bilang ia tak ingat alamat rumahnya. Jadi aku membawanya pulang dulu karena hari telah larut kemarin, baru sekarang aku membawanya ke sini, mohon maafkan saya. Dan jangan marahi atau melakukan hal seperti tadi kepadanya. Apa Anda tidak kasihan?” Siwon tetap diam, ia tak tahu harus mengeluarkan kalimat yang seperti apa. Ia terlalu kaget.

 

“Tapi dia anak saya, jadi terserah saya mau memperlakukannya seperti apa. Terimakasih telah berbaik hati menjaga Joon.” Siwon berjalan pergi meninggalkan kantor polisi tersebut setelah sebelumnya berterima kasih kepada polisi yang menghubunginya. Yoona menatap keduanya heran, “Apa dia benar-benar Appa Joon?” Joowon yang masih berdiri disamping Yoona berdehem pelan. “Ya, Joon adalah anak kandungnya. Kenapa kau meragukannya…..”

 

“Im Yoona, panggil saja Yoona.”

 

“Oh, ya. Aku Moon Joowon, panggil saja Joowon. Aku samchon Joon.” Yoona hanya mengangguk mengerti. Lalu ia melihat ke arah jam tangannya. “Omoo, aku terlambat! Bisa-bisa aku dibunuh Yoojin.” Joowon yang sepertinya mengerti situasi Yoona, menawarkan bantuannya, “Aku mau mengantar.” Yoona menoleh, “nde? Oh, ani. Tidak usah.”

 

“Tidak apa-apa dari pada kau terlambat Yoona-ssi.” Akhirnya dengan pertimbangan dimarahi Yoojin, Yoona menerima tawaran Joowon dan mengantarkannya ke butik.

 

Yoona memasuki butik Yoojin dan berhasil datang tepat waktu, ia tak menyadari sepasang mata yang menatapnya penuh tanya. “Yoong..” Yoona menoleh, “Yoojin-ah aku tak terlambatkan?” Yoona mengeryitkan dahinya karena pandangan Yoojin padanya, “Kenapa kau memandangku begitu?”

 

“Kau diantar namja yang membuatmu takut tempo hari, tentu saja aku jadi bertanya-tanya. Kenapa kau bisa diantar olehnya?” Tanya Yoojin menyelidik, tapi Yoona mendengar nada aneh dari pertanyaan Yoojin. Yoona tersenyum menggoda, “Kau cemburu??”

 

“Aahh?? Aniyo, kenapa aku harus cemburu?”

 

“Kau tak usah berpura-pura Yoojin-ah, aku tahu apa yang kau rasakan. Tempo harikan kau bilang ia tampan, itu saja sudah menunjukkan kau tertarik padanya.” Yoona tertawa menggoda. “Mengaku saja.” Yoojin tetap diam.

 

“Kau mau aku ceritakan sebuah rahasia?” Yoojin tampak tertarik dan menganggukkan kepalanya. Akhirnya Yoona menceritakan kalau Joon adalah keponakan dari Joowon dan ia bertemu dengan ayah Joon yang menurutnya memperlakukan Joon dengan buruk.

 

“Tunggu-tunggu, Joon keponakannya? Dan kakaknya yang meninggal itu mirip denganmu kan? Apa jangan-jangan Joon anak kakaknya?” Yoojin mencoba menduga-duga. “Ah, sudahlah apa urusannya dengan kita. Ayo cepat kau ganti pakaian disana Yoong, sepertinya tak ada yang tertarik dengan pakaian itu.” Yoojin berdiri dan kembali ke meja kerjanya. Sedangkan Yoona masih mencerna kata-kata Yoojin. Ia teringat cara Joon memandangnya, dan ibu Joon?

 

“Yoona!!” Yoona tersadar , “Aisshh… Kau memperlakukanku seperti aku bukan sepupumu saja.” Yoona menggerutu dan bergegas melakukan apa yang diperintahkan Yoojin.

 

~•~

 

“Appa…”

 

“Joon, ini terakhir kali kamu membuat semua orang cemas, kalau sampai kamu melakukannya lagi Appa tak segan-segan mengirimmu ke asrama sekolahmu.” Siwon terlihat sangat marah, sebenarnya ia tak ingin mengancam seperti itu. Tapi setelah mendengar alasan Joon pergi tanpa pamit membuat kemarahan Siwon makin menjadi.

 

“Appa, aku benarkan. Ia mirip dengan Eomma.” Joon berusaha menahan airmatanya. “Tidak Joon, tak ada satu orang pun yang bisa menyerupai Eommamu.” Nada Siwon lirih. Ada rasa sakit dihatinya, ia membohongi hatinya dan sekarang berbohong pada putranya. “Sekarang cepat masuk ke kamar, kamu tak boleh keluar kamar sampai Appa mengijinmu untuk keluar.”

 

“Appa…”

 

“Masuk Joon!” Joon tak dapat membantah lagi, ia berjalan menuju tangga dan airmata yang tadi sudah menetes makin deras mengairi pipi cubbynya. Nyonya Choi yang sedari tadi diam hanya memandang sendu cucunya tersebut, ia tak bisa membantah atau menyela berkataan Siwon karena ia tahu karakter anaknya yang memang tak suka dibantah.

 

“Boleh Eomma bertanya Siwon-ah?” Siwon mendudukkan dirinya setelah melihat Joon menghilang dibalik pintu kamarnya. Ia mengusap wajahnya, tampangnya masih kusut. “Nde Eomma.”

 

“Apa maksud dari kalimat Joon tadi?” Siwon dapat menangkap arah membicaraan ibunya itu.

 

“Tak ada Eomma, ia hanya mengada-ngada, khayalan anak-anak.”

 

“Apa kau yakin?” Siwon mengangguk dan sedikit memperlihatkan senyumnya, supaya ibunya percaya dengan apa yang ia katakan. ‘Maafkan aku Eomma.’

 

~~

 

Seperti biasa sabtu ini Joowon menjemput Joon ke rumah Siwon. Sejak kejadian itu, Joowon sebenarnya khawatir akan kondisi Joon. Tapi ia berusaha menahan diri untuk tidak menelepon Siwon, karena ia yakin Siwon tak mau siapapun ikut campur terlalu dalam terhadap sikapnya pada Joon.

 

Joowoon disambut nyonya Choi dengan senyum hangat. Sambil menunggu Joon keluar kamar Joowon berbincang-bincang sedikit dengan nyonya Choi. Sampai arah pembicaraan mereka menyangkut kakak Joowon yang membuat Joowon terdiam. Ia ingat insiden beberapa hari yang lalu dan berniat memceritakannya. Tapi nyonya Choi ternyata lebih dahulu menanyakannya, mau tak mau Joowon pun menceritakan semua. Nyonya Choi tampak terkejut, dan tak menyangka Siwon berusaha menutupi semua. Ia tahu Siwon amat mencintai mendiang istrinya, tapi dengan melimpahkan emosinya kepada Joon bukankan itu sangat tidak benar.

 

Joon telah siap dengan tas ranselnya, semua kebutuhannya untuk menginap di rumah keluarga ibunya sudah ia masukkan kedalam. Joowon dan Joon berpamitan pada nyonya Choi. Siwon seharusnya juga ada disana seperti biasa, namun sejak kejadian itu ia seperti menyibukkan diri dengan pekerjaannya. Dan biasanya hari ini adalah hari libur yang ia habiskan bersama dengan Joon, tapi Siwon malah pergi ke kantor. Nyonya Choi seakan tahu apa yang dipikirkan putranya dan apa yang dirasakan cucunya.

 

Didalam mobil, Joon tak bersuara sedikitpun. Ia hanya bersuara bila ditanya oleh Joowon. Itu membuat Joowon merasa heran, keponakannya ia pribadi yang ceria dan tak bisa diam. Apa karena kejadian kemarin ia berubah? Ia berniat mengembalikan senyuman Joon, sepertinya mengajaknya bermain akan lebih baik.

 

“Joon! Kamu ingin pergi kemana, sebelum kita kerumah kita jalan-jalan dulu bagaimana?” Joon menoleh mendapati senyum hangat Joowon kepadanya. “Samchon, apa aku boleh ke tempat Yoona-Noona?” Joowon terdiam, ia sendiri telah menjebak dirinya sendiri pada situasi sulit. Kalau ia mengabulkannya, Joowon yakin Siwon pasti akan marah kalau mengetahuinya. Tapi ini demi Joon, ia akan melakukannya. Bibir Joowon membentuk sebuah lengkukangan. “Tentu saja, ayo kita kesana. Tapi Joon ingat ya, jangan bilang-bilang Appa.” Raut wajah yang tadinya murung berubah menjadi senyuman merekah. Joon mengangguk dan memeluk Joowon yang sedang menyetir.

 

“Terimakasih Samchon.”

 

“Sudah, lepaskan pelukanmu Joon nanti kita tak jadi ke tempat Yoona-Noona loh gara-gara kita kecelakaan akibat ulahmu ini.” Joon buru-buru melepas pelukannya sadar apa yang ia lakukan salah. “Mianhae Samchon, aku terlalu senang.”

 

 

~•~

 

Yoona duduk dengan santai didepan Yoojin yang sedang meneliti hasil rancangannya. Tidak disangka rancangannya dua minggu lalu laris manis, dan hari ini Yoona dengan kepercayaan diri yang tinggi menyerahkan hasil karyanya lagi kepada Yoojin. Yoojin tampak memperhatikan dengan seksama, detail kancing yang Yoona gambar dan detail corak kain yang dipakai untuk rancangannya Yoona itu. Ia menghela napas sejenak, “Kau yakin dengan yang ini Yoong? ini terlalu sederhana dan kau menambah aksen bunga-bunga ini pun tetap saja kelihatan simpel.” Yoona meraih kertas rancangannya lagi. “Benarkah? Kalau begitu aku akan perbaiki lagi. O, iya tak ada telepon keluhan lagi kan dari si penuduh itu?” Yoojin mengernyitkan dahinya. “Itu loh orang yang menuduhku menciplak.”

 

“Oo, si Chaewon. Tidak, tidak ada. Mungkin dia sudah menerima kemenanganmu.” Jawab Yoojin asal. “Bukan kemenangan, tapi memang akulah pemilik rancangan itu.” Yoona bersungut pergi dari hadapan Yoojin. Yoona kembali sibuk menata-nata pakaian-pakaian di butik. Ia melirik jam tangannya, malam minggu. Ia menghembuskan napas berat dan kembali melanjutkan pekerjaannya.

 

“Noona!” Joon berlari riang ke arah Yoona. Senyum senangnya tergambar jelas dari wajahnya. Yoona tampak terkejut, “Joon-ah.” Yoona mensejajarkan tingginya dengan Joon, dan Joon langsung memeluknya. Yoona tampak makin terkejut dengan perlakuan Joon. “Bogoshippo Noona.” Yoona hanya tersenyum mananggapi. Yoojin yang mendengar suara anak kecil dibagian depan keheranan melihat Yoona dipeluk bocah laki-laki.

 

“Yoong.” Yoona melepaskan pelukan Joon.

 

“Joon? Kamu kesini lagi?” Nada Yoojin terdengar antusias. “Dengan siapa kamu kesini?”

 

“Denganku.” Yoojin mendengar suara namja yang beberapa hari ini ia berusaha hafal suaranya. Yoojin berbalik mendapati Joowon sudah bersandar di pintu masuk butiknya. Yoojin terlihat gugup, padahal ini baru pertemuan kedua mereka. Yoona yang menyadarinya langsung mencairkan suasana.

 

“Annyeonghaseo Joowon-ssi, kita bertemu lagi. Ada keperluan apa kalian kesini? Apa ingin membeli pakaian?” Yoona bertanya dengan polosnya membuat Joowon melongo, “aku tidak melihat satupun pakaian namja disini.” Yoona menepuk dahinya. “Hehehe, jadi ada maksud apa kalian kesini?”

 

“Joon merindukanmu, Yoona-ssi. Katanya dia ingin bermain denganmu.” Yoona melirik Joon. “Benarkah Joon?” Joon mengangguk, “Appamu sudah tahu, kamu kesini?” Seketika wajah Joon berubah murung.

“Itulah masalahnya, Joon ingin bertemu denganmu tapi kalau sampai Siwon-Hyung tahu, Joon mungkin tak akan diijinkan lagi bertemu denganmu.”

 

“Memangnya kenapa? Akukan orang baik.”

 

“Ada alasan tersendiri yang belum aku yakini dan itu juga tak bisa aku jelaskan sekarang.” Yoona hanya mengangguk acuh. “Ya sudah, memang Joon mau main kemana eoh?”

 

“Kemanapun asal bersama Noona,” Ujar Joon sambil mengedipkan sebelah matanya. “Aigoo, anak ini. Dari mana lagi kamu belajar mengedipkan mata seperti itu?” Joon hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Yoona. Membuat Yoojin dan Joowon tertawa bersamaan.

 

“Yoojin, apa boleh aku duluan?” Yoojin tampak berpikir.

 

“Lebih baik kau tutup lebih awal, karena aku tak ingin hanya dijadikan nyamuk diantara mereka berdua. Dapat aku bayangkan mereka pasti tak akan mengacukkanku, kalau kau ikut aku kan jadi ada teman.” Yoojin tak percaya dengan apa yang barusan ia dengar, Joowon mengajaknya ikut? Ya walau bukan kencan tapi setidaknya bersama Joowon, ia tak mungkin menolak. Akhirnya Yoojin menutup butiknya lebih awal, membuat Yoona tersenyum menggoda kepada sepupunya itu.

 

Sekitar 20 menit kemudian, mereka tiba ditaman bermain. Walau hari mulai gelap tapi taman bermain tersebut tetap dipadati pengunjung mungkin karena ini akhir minggu. Tangan Joon tak pernah lepas dari genggaman Yoona. Tanpa mempedulikan sepasang namja dan yeoja yang mengekorinya dari tadi, Yoona dan Joon masih saja asyik dengan kegiatan mereka.

 

Wajah Yoojin ditekuk lemah, sepanjang menyusuri dan mengekori Yoona dia hanya diam dan tak bersuara. Joowon yang berjalan beriringan dengannya merasa heran. Pertemuan pertama mereka, Yoojin tampak seperti gadis yang ceria sedangkan sekarang kenapa ia jadi pendiam seperti ini.

 

Joowon meraih tangan Yoojin dan sukses membuat Yoojin menoleh menatapnya. “Ayo kita kesana, biarkan saja mereka. Kita bisa menikmati waktu sendiri dari pada mengikuti mereka begini. Yoojin mengangguk malu, dan setelah mengatakan kepada Yoona, mereka akhirnya menikmati waktu berdua.

 

Lelah mencoba semua permainan, Yoona dan Joon mendudukkan diri mereka di atas bangku ditemani ice cream di tangan masing-masing. Joon, lagi menatap Yoona dalam. Bocah tersebut tak dapat memungkiri perasaan nyaman yang ia rasakan bersama Yoona, dan wajahnya, wajah Yoona seperti replika ibunya. Joon sudah tahu dari awal, kalau Yoona begitu mirip dengan ibunya dan tanpa sadar saat itu mengikuti Yoona. Akibatnya ayahnya khawatir dan menghukumnya. Ayahnya pasti juga melihat kemiripan itu, Joon yakin.

 

“Noona, aku rasa aku menyukaimu, Noona.” Yoona menatap Joon. “Apa maksudmu boy.”

 

“Noona tahu, aku selalu di ejek teman-temanku kalau aku tak akan bertemu dengan yeoja idealku. Tapi mereka salah, buktinya aku kini bersamamu.”

 

“Joon-ah, kamu ini masih kecil jangan berpikiran begitu.” Yoona kembali fokus pada ice creamnya. ‘Noona sehangat eomma.’ Batin Joon. “Noona itu tipe ideal ku, apa Noona mau jadi pacarku??” Yoona kembali tersedak gara-gara pertanyaan yang sama yang dilontarkan Joon.

 

“Joon, kamu ini!.”

 

“Kalau menjadi Eommaku?”

 

“Mwo?? Joon-ah!” Joon memandang kedepan dengan wajah sendu. “Eomma sudah meninggal waktu umurku 4 tahun Noona, tapi aku berusaha menerimanya.” Joon tersenyum, “Karena aku tahu Eomma pasti bahagia disana, benarkan Noona?” Yoona mengangguk, matanya tampak berkaca-kaca.

 

Yoona kagum akan ketegaran yang dimiliki bocah lelaki ini. Biasanya bocah-bocah seusianya selalu menangisi kepergian ibu mereka, tapi Joon berbeda. Yoona tahu sebenarnya Joon pasti kesepian, walau ia punya ayah dan nenek yang menyanyanginya tetap saja kasih sayang seorang ibu itu berbeda.

 

“Joon, kapanpun kamu ingin bertemu dengan Noona kamu boleh menghubungi Noona. Nanti Noona akan memberikan pada Samchonmu nomor telepon Noona.” Mungkin dengan menjadi teman Joon, Yoona bisa sedikit mengurangi rasa kesepian di hati bocah itu. Joon tersenyum tak percaya, “Jeongmal? Apa Noona tak merasa terganggu?” Yoona menggeleng. “Tentu saja tidak, mana mungkin Noona menolak bertemu dengan namja tampan sepertimu?” Yoona tersenyum menggoda, sukses membuat wajah Joon bersemu merah.

 

“Jangan salahkan aku kalau sampai aku menyukai Noona,”

 

“Mwo? Bukankah kamu sudah menyukai Noona?” Lagi, Yoona menggoda. Joon tersenyum malu. “Noona, I love you!!”

 

~•~

 

Joowon, Yoojin, Yoona dan Joon sekarang telah berada di dalam mobil menuju rumah Joowon. Sebenarnya Joowon berniat mengantarkan Yoona dan Yoojin dahulu tapi Joon memohon agar Yoona mengantarkannya kerumah dulu. Yoona mau tak mau menuruti permintaan Joon.

 

Mereka telah sampai dipekarangan rumah keluarga ibu Joon. Mewah tapi terkesan sederhana. Joon menarik tangan Yoona menuju pintu utama. “Haelmoni! Imo! Lihat aku membawa teman wanitaku.” Yoona geleng-geleng kepala mendengar penuturan Joon. Bocah ini ternyata tak bisa di nasehati. Dari atas tangga terdengar derap langkah beriringan menuruni tangga.

 

“Joon-ah kamu sudah datang? Kenapa lama sekali?” Ujar seorang yeoja yang sepertinya sepantaran Yoona. Satu lagi yeoja paruh baya, berjalan cepat ke arah Joon dan langsung memeluk cucunya itu. Mereka berdua belum menyadari ada seseorang yang berdiri agak jauh di samping Joon. Namun saat yeoja yang dipanggil Imo oleh Joon itu mengalihkan pandangannya, matanya terlihat kaget. “Omo!!” Keterkejutan Fany, imo Joon itu membuat nyonya Moon, nenek Joon juga melihat ke arah yang dituju putrinya. Tak kalah terkejut dengan Fany, nyonya Moon menutup mulutnya tak percaya.

 

“Dia teman wanitaku Haelmoni. Yoona-Noona. Teman dekatku.” Ucap Joon enteng tanpa mempedulikan reaksi nenek dan bibinya itu. Nyonya Moon mendekat ke arah Yoona, matanya berkaca-kaca ia menyentuh wajah Yoona lembut membuat yang punya wajah gugup.

 

“Annyeonghaseho, Im Yoona Imnida.” Nyonya Moon seperti tak mendengar ucapan Yoona. Ia masih terpaku menatap tak percaya sosok Yoona.

 

Fany mendekat dan mengulurkan tangannya, “Moon Minyoung Imnida, tapi kamu bisa memanggilku Fany.” Yoona menyambutnya, dan tersenyum senang. “Eomma, apa Eomma tak mau berkenalan dengan teman Joon ini?” Nyonya Moon sepertinya kembali tersadar, ia tahu didepannya ini orang lain bukan Hyena. Putrinya.

 

“Saya Neneknya Joon, senang berkenalan denganmu, Nak.” Yoona akhirnya bernafas lega, ternyata ia diterima baik karena sebelumnya sempat berpikiran macam-macam.

 

“O iya, Joowon siapa itu yang disampingmu?”

 

“Oh, dia sepupu Yoona Eomma, Kim Yoojin.”

 

~•~

 

Siwon sedang duduk memikirkan perlakuannya pada Joon akhir-akhir ini. Ia merasa keterlaluan, memarahi putranya itu hanya karena emosi yang tak tahu dari mana datangnya. Kembali ia teringat sosok yeoja yang mengantar Joon ke kantor polisi tempo hari. Apa karena yeoja itu emosinya menjadi labil? Seharusnya dia tak perlu melampiaskannya pada Joon. Joon benar, mereka memang mirip. Ia tahu benar, Joon memang sengaja mengikuti yeoja itu karena memiliki kemiripan dengan ibunya. Dan apa yang ia lakukan? Memukul putranya dan melarangnya keluar kamar?

 

Siwon beranjak dari tempatnya, meraih kunci mobil. Ia harus minta maaf pada putranya itu. Ia akan kerumah -mantan- mertuanya, karena Joon memang disana.

 

Dirumah keluarga Moon, Yoona, Yoojin dan Fany tampak asyik berbincang tentang fashion dan mode pakaian. Fany, ternyata seorang fashionista jadi tak heran ia sangat-sangat antusias saat mengetahui kalau Yoona dan Yoojin seorang desainer dan memiliki sebuah butik yang lumayan ternama. Sebelumnya Fany agak ragu karena melihat tampilan Yoona, tapi setelah berbicara tentang pakaian Fany jadi yakin Yoona memang seorang desainer.

 

Joon tampak asyik bermain dengan Joowon sedangkan Nyonya Moon tampak menikmati suasana rumahnya yang ramai itu.

 

“Joon.” Sebuah suara berat membuat semua orang menoleh. Siwon, heran bercampur terkejut mendapati yeoja yang ada dipikirannya itu sekarang berada di hadapannya. Joon nampak tertunduk.

 

“Maafkan aku Hyung, aku yang mengajak Joon bertemu….” Belum sempat Joowon menyebutkan nama Yoona, Siwon menyela. “Joon mendekat ke Appa.” Joon dengan langkah was-was mendekati Siwon. Siwon mensejajarkan tinggi badannya dengan Joon, lalu memeluk purtanya itu, “maafkan Appa, karena memukulmu karena memarahimu waktu itu. Maafkan sikap Appa ya Joon?”

 

Joowon, Yoona dan Yoojin bernapas lega. Tapi Fany dan nyonya Moon tentu tak mengerti dengan kejadian ini. Senyum Joon mengembang, “Appa tidak marah lagi?” Siwon mengangguk. “Jadi Joon boleh berteman dengan Yoona-Noona?” Sesaat Siwon terdiam, ia tak tahu harus menjawab apa. Joon menarik Siwon mendekat ke kerumunan yeoja tadi.

 

“Noona, kenalkan ini Appaku yang paling tampan. Kalian memang pernah bertemu tapi belum berkenalan bukan?” Yoona berdiri dari dudukannya dan mengulurkan tangannya “Im Yoona Imnida, senang berkenalan denganmu Ahjussi.” Siwon membalas uluran tangan Yoona. “Choi Siwon imnida, Appa Joon.” Tampak suasana canggung menyelimuti keduanya. Siwon yang dengan tegas menolak kemiripan Yoona dengan mendiang Hyena sekarang seperti tak berkutik, jelas sekali Yoona memang mirip Hyena tapi ada yang berbeda darinya. Sedangkan Yoona seperti merasakan debaran yang tak biasa saat menjabat tangan Siwon, entahlah sepertinya Ahjussi didepannya ini memiliki aura yang sedikit aneh(?) Menurut Yoona.

 

“Siwon-ah, kau juga pernah bertemu Yoona?” Pertanyaan dari nyonya Moon membuat Siwon terhenyak. Perlahan ia mengangguk, dan nyonya Moon hanya tersenyum sambil mencerna kembali semua hal yang terjadi hari ini.

 

~•~

 

“Appa ayolah….” Joon tampak menarik-narik tangan Siwon untuk kesekian kalinya. “Appa! Antarkan aku, kumohon.” Siwon tetap tak mengubris permintaan Joon.

“Ada apa Joon?”

“Haelmoni, Appa tak mau mengantarku ketempat Yoona-Noona aku kan merindukannya.” Siwon merilik sebal putranya itu, “Memangnya ada hubungan apa kamu dengan Yoona-Noonamu itu Joon-ah?”

 

“Dia yeoja impianku Appa, apa Appa tak melihat kriteriaku ada semua padanya?” Siwon melongo mendapatkan alasan dari putranya itu.

 

“Kalau Appamu tak mau menemanimu, biar Haelmoni yang temani.” Siwon bersigap, “Ani, biar aku yang temani Joon, Eomma.” Siwon lantas menarik Joon menjauh dari nyonya Choi dan langsung menghidupkan mesin mobilnya. Kalau sampai ibunya tahu siapa Yoona, maka ia yakin rencana-rencana yang tidak dia inginkan akan terpikir oleh wanita paruh baya itu.

 

Setelah memarkir mobil, Siwon dan Joon lantas langsung menuju butik Yoojin. Jumat sore dan sepertinya pengunjung lumayan ramai. Siwon dan Joon berdiri diluar butik melihat kesibukan yang terjadi didalamnya, sambil mata mereka mencari-cari sosok yang menjadi tujuan mereka ke sini.

 

Yoona tampak sibuk melayani pengunjung, sesekali tersenyum dan berbicara menjelaskan pakaian yang ada ditangannya. Siwon lagi-lagi tak bisa menolak untuk tak tertarik dengan yeoja itu. Tatapannya dalam memperhatikan tingkah Yoona. Ia tahu ini salah, ia mungkin sudah mulai menyukai yeoja itu karena kemiripannya dengan Hyena. Dan ia harus mengenyahkan secepatnya, sebelum perasaannya jatuh terlalu dalam. Ini gila!

 

Joon, sama. Menatap lekat sosok Yoona. Matanya berkaca-kaca kala melihat senyum merekah Yoona. Ia menyukai Yoona, dan memang benar Yoona adalah tipe idealnya. Bukan karena cantiknya tapi lebih karena Yoona memiliki sesuatu yang membuat Joon merasakan kehangatan, kenyamanan dan tentunya perhatian seorang ibu terhadapnya. Dan yang lebih membuat Joon terkesima adalah, kemiripannya dengan ibunya. Sejenak Joon mengalihkan tatapannya ke Siwon, ia tersenyum penuh arti.

 

Joon menarik tangan Siwon memasuki butik membuat para pengunjung sedikit keheranan. Seorang namja bersama seorang bocah memasuki butik khusus yeoja, tentu saja membuat para pengunjung yang sebagian besar wanita usia 20-30an itu bertanya-tanya. Tapi diam-diam mereka tetap terpesona pada Siwon, siapa yang bisa menolak pesona yang tersirat dari wajah tampan itu?

 

“Noona!” Joon melepas pegangan tangannya dari Siwon dan berlari ke arah Yoona. Yoona memutar pandangannya dan tersenyum senang kala mendapati Joon telah memeluk kakinya.

“Joon-ah, dengan siapa kamu kesini?” Joon menunjuk Siwon yang berdiri kikuk diantara para wanita-wanita yang menatapnya heran sekaligus kagum. Yoona cekikian geli melihat tingkah Siwon. “Apa dia benar-benar Appamu Joon?”

 

“Molla.”

 

Yoona berjalan mendekati Siwon, tapi baru beberapa langkah seorang wanita mendekati Yoona, “Nona, apa dia namjachingumu? Wah beruntung sekali dirimu, dia sangat tampan.” Yoona hanya tersenyum terpaksa menanggapi pertanyaan wanita tadi sambil melanjutkan langkahnya.

 

Yoona membungkukkan badannya menyapa Siwon. “Maaf menganggu pekerjaanmu Yoona-ssi, Joon memaksaku mengantarkannya menemuimu.”

“Tak apa-apa Ahjussi, aku malah senang sekali bertemu dengannya. Aku juga sedang merindukannya, kebetulan sekali Joon.” Joon cengegesan mendengar penuturan Yoona. “Makanya aku kesini karena aku tahu Noona merindukanku.” Seketika tawa Yoona pecah, ada-ada saja cara bocah ini mengombalinya. Sempat terpikir oleh Yoona, kenapa hanya Joon yang berani mendekati dan merayunya? Apa namja yang dewasa tak ada yang berniat mendekatinya? Hingga membuat ia menjomblo sampai saat ini?

 

“Noona, ayo kita ketaman bermain lagi, kita bertiga pasti akan lebih seru.”

 

~•~

 

Akhirnya permintaan Joon tak dapat dihindari. Dengan terpaksa Yoojin harus mengijinkan Yoona pulang cepat, sebenarnya ia tak rela ditinggal dengan pegawai-pegawainya. Ia berharap kalau Joon datang dengan Joowon tentunya biar dia bisa kembali menikmati waktu bersama namja itu seperti minggu lalu. Tapi Joon malah membawa ayahnya yang membuat Yoojin sedikit kecewa.

 

Yoojin menekuk wajahnya diatas meja kerjanya yang terletak di salah satu sudut butiknya. Ia memainkan pensil dan mengetuk-ngetukkannya keatas meja. “Kenapa ia membawa Appanya? Kenapa tidak Samchonnya?” Frustasi Yoojin.

 

“Siapa yang kau maksud?” Yoojin mengangkat kepalanya, Ya Tuhan! Betapa malunya dia saat ini. Didepannya, Joowon sedang memandangnya dengan tatapan menyelidik. Yoojin berusaha menenangkan hatinya, semoga Joowon tidak mendengar atau setidaknya tidak mendengar jelas apa yang ia ucapkan tadi.

 

“Ani, tidak ada apa-apa.” Yoojin tersenyum paksa, “Ada apa kau kesini Joowon-ssi?”

“O, aku menemani Eommaku, itu.” Joowon menunjuk dengan dagunya dimana nyonya Moon berada. Yoojin jadi semakin gugup, ‘Yoojin kau harus melayaninya secara maksimal,’ tekad Yoojin.

 

Dengan menyakinkan dirinya akhirnya Yoojin bisa mengendalikan perasaannya, ia berupaya seramah mungkin melayani nyonya Moon dan bersikap semanis mungkin di depan Joowon. Mana tahu itu bisa menarik perhatian kedua orang penting ini, setidaknya Yoojin berusaha sebaik mungkin hasil akhir, nanti kita lihat.

 

Ditempat lain, tepatnya disalah satu sudut taman bermain, Yoona dan Siwon sedang duduk menikmati makanan kecil yang sempat mereka beli tadi sebelum akhirnya memutuskan istirahat disebuah bangku di taman bermain itu. Joon berdiri dibelakang mereka, tampak asyik melihat-lihat wahana yang sedang dimainkan.

 

“Uhmm… Sebenarnya ada sesuatu yang ingin saya beritahu. Saya harap Anda tidak beranggapan yang macam-macam setelah mendengar cerita ini.”

 

“Saya tahu, tentang Eomma Joon kan?” Siwon tampak terkejut, “Eomma Joon sudah meninggal, begitu? Saya sudah tahu.” Siwon menghela napasnya. Ia mengira Yoona telah mengetahui semuanya.

“Bukan hanya itu, tapi ini juga menyangkut diri Anda, Yoona-ssi.” Menyangkut dirinya? Yoona jadi penasaran, hal apa yang berhubungan dengan dirinya mengenai Joon?

“Eomma Joon, Hyena memiliki persamaan dengan Anda.”

“Persamaan?” Siwon mengangguk. “Maksud Anda persamaan yang bagaimana? Saya tidak mengerti.” Siwon mencoba merangkai kata-kata agar wanita didepannya ini tidak berpikiran buruk tentang Joon atau dirinya.

 

“Joon mengatakan, Anda begitu hangat, dan ia merasa nyaman bersama Anda. Dan itu pasti juga ia rasakan dulu pada Eommanya.” Siwon tersenyum mengingat perkataan Joon, “Malah ia bilang Anda adalah tipe idealnya.” Siwon tertawa kecil. Yoona tersenyum, “dia sudah mengatakannya pada saya, malah dia menginginkan saya menjadi yeojachingunya, hahaha.” Giliran Yoona yang tertawa. Siwon terdiam sejenak, mengatur agar kalimat yang akan diucapkannya ini didengar baik oleh Yoona.

 

“Anda memiliki kemiripan dengan eommanya.”

 

“Ya, Anda sudah mengatakannya kan barusan, Ahjussi.”

 

“Bukan hanya sifat, tapi juga wajah Anda.” Siwon perlahan merogoh dompet dari saku nya dan mengeluarkan sebuah foto. Yoona menerimanya, dan betapa terkejutnya dia mendapati seseorang yang memang mirip dengannya tergambar jelas di foto itu. Mungkin tidak 100% kalau diperhatikan benar-benar, namun bila orang melihatnya pasti menyangka dia yang ada difoto itu walau gaya rambutnya berbeda. Yang difoto terlihat anggun dengan rambut lurusnya sedangkan Yoona terlihat sedikit lebih kasual dengan rambut ikalnya.

 

~•~

 

Yoona menghempaskan tubuhnya di kasur king size miliknya. Kamar yang lumayan besar bernuansa biru langit yang menenangkan. Jam di atas nakas menunjukkan pukul 10 malam, hampir enam jam ia habiskan untuk menemani Joon bermain. Dan saat diantar pulang oleh Siwon tadi, Joon sudah terlelap dalam tidurnya di kursi belakang. Jadinya Yoona hanya berpamitan pada Siwon dan mengucapkan terimakasih karena sudah diantar Siwon. Saat itu Siwon tersenyum tulus, dan langsung membuat Yoona salah tingkah.

“Harusnya saya yang berterima kasih Yoona-ssi, karena Anda mau berteman dengan Joon. Walau sebenarnya tidak seharusnya Joon berteman dengan wanita yang jauh lebih dewasa dengannya.” Siwon tertawa lepas saat itu. Yoona makin terpesona.

 

Buru-buru ia menepis bayangan Siwon dari pikirannya. ‘Kau gila Im Yoona, masa kau menyukai Ahjussi-Ahjussi? Tapi tunggu, umur kami kalau dilihat-lihat tidaklah begitu jauh. Umurnya mungkin sekitar 32 tahun, cuma beda sembilan tahun kan? Ya ampun, apa yang aku pikirkan.‘ Yoona bergumam sambil memukul pelan kepalanya tanpa menyadari kakaknya Youngwoon sedang memperhatikannya dengan ekspresi heran.

 

“Hei, apa dongsaengku ini sudah tak waras lagi?” Yoona terlonjak kaget mendengar suara berat sang kakak. Ia memegang dadanya dan menatap tajam Youngwoon. “Wae? Anggap saja aku tak mendengar apapun.” Ucap Youngwoon cuek sambil memasuki kamar Yoona.

 

“Yak! Kenapa Oppa kekamarku eoh?”

“Aku merindukanmu dongsaeng cantikku.” Youngwoon mengerlingkan matanya kepada Yoona, membuat Yoona bergidik jijik. “Jangan bilang Oppa mau minta bantuanku, aku tak akan mau. Jadi keluarlah, sana-sana.” Yoona mendorong tubuh Youngwoon menuju pintu kamarnya.

 

“Yoong, please….. Sekali ini saja ya.”

 

“Oppa, aku tahu kau baik-baik padaku memang ada maunya. Baiklah katakan apa bantuan yang Oppa perlukan, tapi ingat! Kalau macam-macam aku tak akan membantu.”

 

“Kau hanya perlu berdandan cantik dan menemaniku ke pesta perusahaan temanku, bagaimana?” Yoona mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan yang akan merugikannya bila datang ke pesta. Ia pasti akan menggunakan gaun yang akan membuatnya tidak nyaman dan tentu saja sepatu highheels yang akan membuat kaki-kakinya sakit. Belum lagi make up, memikirkannya saja Yoona sudah ngeri duluan.

 

“Aku tahu apa yang kau pikirkan,” Youngwoon menghela napasnya, “Bayarannya aku akan meminjamkan mobilku seminggu penuh.” Mata Yoona mengerling senang. “Benarkah Oppa? Kalau begitu aku mau.” Youngwoon menggeleng-gelengkan kepalanya, “Dasar! Dibujuk dengan mobil saja kau langsung mau, ingat ya cuma seminggu.”

“Oke, Oppaku sayang.”

 

“Pestanya besok malam, jam tujuh jangan lupa. Dan minta ijinlah pada Yoojin agar pulang cepat agar kau bisa berdandan secantik mungkin. Aku tak mau didampingi wanita aneh nantinya.” Yoona melempar bantal guling ke arah Youngwoon. “Oppa cerewet sekali sih, aku sudah tahu jadi cepat keluar!” Dengan hati tak rela Youngwoon akhirnya meninggalkan kamar Yoona.

 

“Hufh… Kenapa aku punya Oppa se cerewet itu.”

 

 

~•~

 

“Eomma! Mana jas ku!” Dari dalam kamar Siwon mengacak-ngacak isi lemari pakaiannya. Mencari jas yang senada dengan kemeja yang ia pakai. Nyonya Choi memasuki kamar Siwon dan mendekati putranya. Dengan sekali lihat isi lemari Siwon saja nyonya Choi langsung mengambil jas yang sebenarnya tergantung rapi diantara jas-jas lainnya.

 

“Ini, makanya kamu harus segera mencari wanita yang bisa mengurusimu. Jangan harapkan Eomma lagi, Eomma sudah tua.” Ujar nyonya Choi sambil memberikan jas ditangannya kepada Siwon.

 

“Eomma…”

 

“Eomma tahu kau begitu mencintai Hyena, tapi ini sudah bertahun-tahun. Tak seharusnya kau berlama-lama menyendiri seperti ini, kau juga harus memikirkan Joon. Walau dari luar dia kelihatan ceria tapi Eomma yakin dia pasti menginginkan sosok Eomma yang memberinya kasih sayang, bukan hanya darimu.” Nyonya Choi beranjak bersiap meninggalkan kamar Siwon, “Pikirkan baik-baik apa yang Eomma katakan.”

 

Siwon menatap punggung nyonya Choi, “Aku juga menginginkan hal itu Eomma, tapi apa aku bisa?” Lirih Siwon pelan.

 

~•~

 

Yoona menarik-narik dressnya kebawah, merasa risih karena ia merasa dress yang ia pakai terlalu pendek. Padahal itu dress selutut tapi tetap saja itu kependekan menurutnya. Youngwoon menghampiri Yoona, “Apa yang kau lakukan eoh? Ayo ikut Oppa.” Youngwoon mengapit tangan Yoona dan mulai mendatangi kolega-koleganya di pesta tersebut.

 

Youngwoon dengan ramahnya berbincang-bincang dengan rekan-rekan bisnisnya. Ia tak menyadari kalau Yoona, sudah merasa tidak nyaman berada diantara kerumunan orang-orang berjas tersebut.

 

“Youngwoon-ssi siapa yeoja disampingmu ini? Apa kekasihmu?” Pertanyaan spontan dari teman bicara Youngwoon membuat Yoona memandang lekat orang tersebut.

“Oh, saya lupa memperkenalkannya. Dia Im Yoona, yeodongsaengku.” Yoona tersenyum terpaksa memperkenalkan diri. Ia berkenalan dengan rekan-rekan Youngwoon, dan tak sedikit yang memperhatikannya intens. Membuat Yoona merasa makin tak nyaman dan gerah diantara mereka.

 

“Apa Anda sudah punya kekasih?” Belum sempat Yoona menjawab. Seorang namja datang bergabung dengan mereka.

 

“Hai Siwon-ssi, kenapa Anda bisa terlambat?” Siwon hanya tersenyum kikuk dan menyalami semua rekan-rekannya. “Hai Youngwoon-ssi lama tak bertemu.” Siwon menyalami Youngwoon, “Ya, begitulah. Anda pengusaha paling sibuk sepertinya diantara kita.” Membuat semua yang ada disana tertawa, kecuali Yoona tentunya. Hatinya menjadi resah, ia tahu siapa yang ada dihadapannya saat ini, Appa Joon. Yoona terus menunduk, berharap Siwon tidak mengenalinya.

 

“Sepertinya Anda membawa pasangan Youngwoon-ssi?” ‘Matilah aku!’ Rutuk Yoona.

 

“Ya, dia pasanganku malam ini.” Yoona mengangkat kepalanya menatap Siwon, membuat Siwon sedikit kaget, “Yoona-ssi?” Yoona mengangguk kikuk.

 

“Kalian sudah saling kenal?” Yoona mengangguk, sedangkan Siwon masih terpaku pada pandangannya menatap perubahan tampilan Yoona.

 

“Kenapa kalian bisa saling kenal?” Bisik Youngwoon pada Yoona.

 

“Ceritanya panjang Oppa.”

 

“Aku tak sabar mendengarkannya nanti.” Ujar Youngwoon yang sukses membuat Yoona merona. Entah apa yang ia pikirkan, tapi kata-kata Youngwoon membuatnya salah tingkah.

 

~•~

 

“Saya tak menyangka bertemu Anda disini.”

 

“Saya pun begitu Ahjussi.” Siwon dan Yoona sedang berdiri di salah satu sudut tempat dimana pesta dilaksanakan, Youngwoon meninggalkan mereka karena ada seseorang yang harus ia temui di tempat lain. Dan Youngwoon dengan tanpa malu meminta bantuan Siwon untuk dapat menemani Yoona sampai pesta selesai, tapi sepertinya itu terlihat sebaliknya. Siwonlah yang merasa berterima kasih karena Yoona mau menemaninya.

 

Mereka terlihat canggung satu sama lain. Tak tahu harus membicarakan apa. Tapi bukan Yoona namanya, kalau otaknya tidak langsung bekerja mencairkan suasana.

“Ehm… Soal foto waktu itu, saya benar-benar tak tahu ternyata Joon mendekati saya karena Eommanya.”

 

“Tepatnya bukan itu, tapi ia merasa sesuatu yang beda dari Anda. Kalau kemiripan itu mungkin alasan tambahan baginya.” Yoona tersenyum, mungkin benar.

 

“Apa Anda mempunyai kekasih, Yoona-ssi?”

 

“Nde? Oh itu….”

 

“Hahaha, sebenarnya aku tak berhak bertanya. Hanya saja mengingat Joon yang begitu menyayangimu aku takut ia akan patah hati bila mengetahuinya. Jangan terlalu dipikirkan, dia hanya seorang bocah kan, hahaha.” Tawa Siwon berbeda, jelas sekali berbeda. Ia menyela jawaban Yoona karena ia tak ingin mendengar pengakuan Yoona. Dari cara Yoona menjawab ia sudah yakin kalau Yoona sudah memiliki seseorang dihatinya. ‘Siap-siaplah patah hati Joon-ah’ gumam Siwon dalam hati. Tapi sepertinya kalimat itu lebih tepat ditujukan untuk dirinya sendiri.

 

~•~

 

“Oh, Yoona jangan katakan kau menyukai duren itu?”

 

“Duren?”

 

“Duda keren, benar kan?”

 

“Oh, Yoojin ayolah, apa benar aku menyukainya?” Yoojin menyentil kening Yoona membuat Yoona mengaduh kesakitan. “Dengar! Kau merasa canggung dihadapannya, kau menyukai senyumannya, jantungmu bekerja abnormal didekatnya. Jadi apa lagi namanya kalau bukan menyukainya?”

 

“Kagum mungkin.” Jawab Yoona ogah-ogahan, Yoona kembali fokus menggoreskan pensil yang ada ditangannya diatas sebuah kertas.

 

“Malah itu yang lebih berbahaya Yoonaku. Coba kau bayangkan, kau mengagumi sosok duren itu dan otomatis kau juga akan menginginkan namja yang setipe dengannya. Syukur kalau memang ada yang satu kriteria dengannya kalau kau tidak menemukannya bagaimana?” Yoojin menatap Yoona kesal, “Yak! Apa kau mendengarkan ku!”

 

“Eoh? Memangnya kau mengatakan apa Yoojin-ah?” Hampir saja Yoojin mencekik sepupunya itu kalau saja tidak menyadari kalau dibutiknya ada beberapa pengunjung. Yoojin mengacak rambutnya frustasi lalu berjalan keluar meninggalkan Yoona. Panggilan Yoona tidak ia hiraukan.

 

~•~

 

Yoona terlihat mondar-mandir dikamarnya, raut wajahnya jelas menggambarkan keresahan dan kejengkelan. Yoona merutuki dirinya saat dengan mudahnya dibujuk pulang cepat dari pekerjaannya sore itu. Appanya meneleponnya dengan mengatakan kalau memerlukan Yoona untuk mengantarkannya ke rumah sakit. Yoona tanpa basa-basi langsung pulang ke rumahnya. Namun saat Yoona memasuki rumah, yang ada ia mendengar tawa renyah yang berasal dari ruang tamu. Karena penasaran akhirnya Yoona mendatangi ruang tamu dan tanpa diduga, Appanya langsung menyeretnya untuk berkenalan dengan teman bisnisnya. Tepatnya sih orang yang mau dijodohkan dengannya dan orangtua namja itu. Tentu saja Yoona sangat kesal dibuatnya, dengan senyuman pura-pura dan mengeluarkan alasan yang terdengar masuk akal akhirnya Yoona bisa terbebas dari kerumunan orang-orang itu.

 

“Belum ada pembicaraan Yoona jadi kau tak perlu seresah itu.” Tiba-tiba sosok Youngwoon telah memasuki kamar Yoona tanpa permisi. “Oppa kenapa kau tak memberitahuku tentang rencananya ini eoh?”

 

“Aku juga baru mengetahuinya tadi, jadi jangan menyalahkan Oppa tampanmu ini.” Yoona serasa ingin muntah mendengar kenarsisan Youngwoon.

 

“Kenapa Yoong? Kau sakit? Ayo berbaring.” Yoona segera menepis tangan Youngwoon, “Aku merasa tak sehat karena mendengar kalimat narsismu itu Oppa.” Youngwoon mencibir, namun seketika wajahnya berubah serius. Sejak pesta kemarin malam, inilah yang ingin ia tanyakan, tapi selalu tak ada waktu.

 

“Sekarang coba kau ceritakan apa hubunganmu dengan Choi Siwon itu? Kenapa kau bisa mengenalnya eoh?” Yoona tampak sedikit terkejut, padahal ia berharap kakaknya itu melupakan pertemuan mereka saat itu.

 

“Hubungan? Tak ada hubungan apapun. Kami hanya sebatas saling kenal saja kok.” Jawab Yoona sesantai mungkin.

 

“Kau yakin?” Yoona mengangguk pasti, “Tapi kenapa seorang Choi Siwon malam-malam begini datang berkunjung?”

 

“Mwo? Oppa! Kau pasti bercanda.”

 

“Tidak, tuh dia sedang berbincang-bincang dengan Appa dan Eomma serta keluarga calon suamimu itu.”

 

“Mwoya??” Yoona merasa dunianya akan runtuh, orang yang dijodohkan dengannya dan orang yang mungkin dia sukai sedang berbincang-bincang dengan orang tuanya? Suasana macam apa yang akan terjadi dibawah sana kalau dirinya ikut bergabung?

 

“O iya, juga ada seorang bocah kecil yang datang dengan tuan Choi itu. Dia putranya, ku harap kau telah mengetahui statusnya Yoong.” Yoona merasa tersudut dengan pernyataan Youngwoon.

 

“Ottokhe?”

 

 

To be continued

 

 

Hohoho~ akhirnya part 2 selesai. Lumayan panjang ini hampir 6000an kata, apa alurnya kecepetan??

Seamburadul apapun ceritanya, wajib ninggalin koment bagi yang udah buka halaman ini! Apresiasi kalian sangat berpengaruh pada lanjutannya. Kemarin banyak yang bingung dengan castnya ya? JooJin couple alias Joowon (actor) dan Yoojin (Uee Afterschool), pernah nonton Ojakgyo Brother? #ngaak!! T_T, sekedar kasih tau kalau mereka dipasangkan disana, dan gara-gara tu drama aku menyukai mereka jadi couple #korbanDrakor.

 

Oke sekian dulu cuap-cuap gak pentingku ini.

Untuk Resty atau Echa yang ngepost, thank u very much. LOVE U!! (sama2, LOVE U TOO :* )

Ampe jumpa di chapter 3 nya, kalau kelamaan harap maklum kkk~ annyeong

#hug lovely readers satu-satu….

Tinggalkan komentar

195 Komentar

  1. Untuk ke sekian kalinya senyum-senyum sendiri meskipun ini untuk kedua kalinya aku membaca FF ini
    Bener2 Ga bosen ….

    Balas
  2. Ternyata yoona unnie mirip sama istrix wonpa dn jd deg degan sama ceritax

    Balas
  3. yoona akan di jodohkan? gimana reaksi joon n appa’y ganteng itu ya..
    walopun blom mengakui klo siwon tertarik sm yoona tp, gimana dgn joon.. makin seru.

    Balas
  4. Yaya

     /  Juni 6, 2015

    omo,,yoong unni akan di jodohkan gimana ya reaksi joon dan wonppa??? pasti kaget bgt

    Balas
  5. Zhahra

     /  Juli 23, 2015

    Yak…yak…yak..
    Tn im yoona unni harus di jodohkan sama wonpa bukan dengan yang lain..
    Bacanya gag ada rasa bosen soalnya ada unsur comedy nyelip dikik..hehehe aku suka….!!!

    Balas
  6. Ngakak banget moment yoona ama youngwoon..aigoo yoona pasti batal…next

    Balas
  7. feby choi

     /  November 8, 2015

    yang mau dijodohin ama yoona siapa kok ada siwon segala gawat”
    yoona mulai suka nih ama abang siwon cieh cieh
    moga” aja deh gk jdi perjodohannya kecuali kalo ama siwon ya setuju” aja daahh

    Balas
  8. ria

     /  November 17, 2015

    Sdh mulai tumbuh cinta nih,
    Smg yoona g jd dijodohkan

    Balas
  9. arum

     /  Januari 3, 2016

    Ceritanya makin seru aja dan sangat menarik untuk dibaca.

    Balas
  10. kusumaa11

     /  Januari 4, 2016

    Bakal seru nih ceritanya..

    Balas
  11. Nhiina

     /  Maret 9, 2016

    Omonaa ! apa daddy akan melamar mommy ? ?
    jiaah… si joon makin menjadi jadi…..😀😀

    Balas
  12. ayana

     /  Maret 16, 2016

    jangan-jangan yoona mau dijodohin ama siwon., omg., kayaknya keinginan joon bakalan tercapai nih.,

    Balas
  13. desy amanaf

     /  Maret 19, 2016

    gak bisa tebak kelanjutan ceritanya, lucu banget tingkahnya joon hahaha
    apa siwon daddy udah mulai suka sama yoona? seru nh ceritanya, aku suka

    Balas
  14. raratya19

     /  Agustus 20, 2016

    Duhhh siapa yg mau dijodohin sama yoona, semoga siwon deh yaa,,,please bykin moment yoonwonnya ya thor hhe

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: