[FF] FAMILY (PART6)

(FF) FAMILY (PART6)

 family

JUDUL: Family

Type: SEQUEL

Chapter:6

Author: yoonwonfp

Genre: romance, comedy, family

Rating: PG(15+)

Main cast: Choi Siwon, Im Yoona

Support cast: Tiffany Hwang

                        Kyuhyun

                       Sooyoung

                      Nickhun

 

Disclaimer: GUYS, I’m sorry y updatenya aga lama. Soalny aku br pulang dari nperpisahan… Hehe… Anyway, I hope u like it^^. I’M sorry kalo ada typo. Thx buat Admin y^^ and don’t forget to comment.

KYUHYUN P.O.V

Saat makan siang, aku sadar ada sesuatu yang berbeda pada Yoona. Tidak biasanya Yoona akan menolak jika aku dan Taeyeon mengajaknya makan siang bersama kecuali jika dia sedang sibuk. Tapi beberapa hari ini dia selalu menolak dengan alasan lelah. Bukan hanya itu saja, bahkan hari ini saat dia ikut makan bersama pun, dia juga tidak memesan makanan apapun. Padahal, dia adalah penggemar berat makanan Italia. Sebenarnya, aku sudah merasa perubahan yang terjadi pada dirinya saat kami pulang dari Jeju. Semenjak kami pulang dari Jeju, dia selalu terlihat murung. Beberapa kali aku mencoba bertanya apa yang terjadi padanya, tapi dia selalu berkata bahwa semuanya baik-baik saja. Dan, entah kenapa beberapa hari ini aku merasa bukan hanya tingkahnya saja yang aneh, tapi wajahnya juga semakin pucat dan aku sering melihat dia mual beberapa kali. Tapi setiap aku bertanya, dia akan selalu bilang maagnya kambuh. Namun, setiap kali aku mengajaknya makan siang dia akan selalu menolak. Dan yang aneh juga, ketika aku memberinya obat maag dia akan selalu menolak dengan alasan dia tidak mau terlalu sering minum obat. Aku benra-benar tidak mengerti apa yang  terjadi padanya.

“Yah! Cho Kyuhyun! Kenapa kau menatapku seperti itu?”Tanya Yoona kepadaku yang sedang menatapnya tajam dan membuyarkan lamunanku.

“Ah.. Ani. Kau tidak makan Yoong?”Tanyaku pada Yoona yang sedang meminum teh hangat miliknya.

“Ani. Aku tidak lapar Kyu.”

“Tapi bagaimana kalau nanti maagmu kambuh lagi?”

“Tapi sekarang aku benar-benar tidak merasa lapar… Lebih baik urus saja makananmu. Lihatlah, spaghettimu sudah dingin.”Ujarnya sambil menunjuk makanan yang ada di hadapanku yang dari tadi belum tersentuh sama sekali.

“Iya dokter Im.. Tapi kau jangan coba-coba mengeluh padaku jika nanti maagmu sudah kambuh..”

“Tenang, aku tidak akan mengeluh pada siapapun. Terutama kau Cho Kyuhyun. Lebih baik kamu makan saja, aku sedang malas berdebat denganmu..”

“Tapi..”

“Sudahlah, kalian berdua ini. Lagipula Yoona kan dokter, dia pasti bisa menjaga dirinya sendiri. Kau tidak usah terlalu mengkhawatirkannya. Dan, dia kan juga sudah punya suami. Biarkan suaminya saja yang mengurusnya. Iya kan Yoong?”Ujar Taeyeon yang berusaha menengahi perdebatan kami.

Mendengar kata-kata Taeyeon menyadarkanku kalau memang sekarang Yoona, wanita yang masih aku cintai sudah berstatus sebagai istri seseorang.

“Sudahlah Taeng, aku tidak berminat membicarakannya.”Ujarnya dingin.

Baru saja aku ingin mengalihkan pembicaraan kami, tiba-tiba saja HP yang berada di jas dokterku berdering menandakan sebuah Telepon masuk.

“Kyuhyun-sshi aku sudah tiba. Aku tunggu kau di Lobby sekarang.”

“Neh. Aku akan ke lobby sekarang.”

“Yoong, Taeng, aku keluar dulu ya.. Aku ada urusan. Nanti kalau kalian sudah selesai makan, dan aku belum kembali, kalian naik saja dulu. Bye..”Ujarku pada Yoona dan Taeyeon kemudian melangkah keluar dari kafe menuju Lobby rumah sakit.

Aku terus mengitari lobby rumah sakit mencari seorang wanita yang akan mengembalikan Hpku. Setelah beberapa menit, akhirnya aku melihatnya sedang duduk sambil memainkan HP di tangannya. Akupun langsung berlari menghampirinya.

“Sooyoung-sshi, mana HPku?”

“Iya. Ini HPmu..”Ujarnya samba memberikan Iphone yang dari tadi dipegangnya ke tanganku.

“Sekarang kembalikan HPku?”Tanyanya.

“Ini HPmu.”Ujarku kemudian menyerahkan HP galaxy S3 yang ada dikantong jas putihku.

“Baiklah.. Sekarang kita tinggal menukar simcard kita.”Katanya kemudian membuka back casing belakangnya.

“Tunggu.. Kyuhyun-sshi. Memory cardku kenapa tidak ada?”

“Ah.. Itu. Sepertinya aku menaruhnya di ruang praktekku. Aku akan mengambilnya sebentar ya.”

“AISH! Siapa suruh kau mengeluarkan memory card ku!”

“Jadi aku harus bagaimana? Menatap foto-fotomu setiap hari? Haha.. Yang benar saja! Aku akan mengambilnya sekarang. Kau tunggu di sini saja.”

Aku pun meninggalkannya kemudian berjalan menuju ruang praktekku yang berada di lantai 3. Sesampainya di ruanganku, aku mulai mencari-cari memory card yang sepertinya aku letakkan di dalam laci mejaku.

“Aduh. Kenapa memory cardny tidak ada di laci ini ya?”Gumamku bingung.

Setelah lebih dari 20 menit aku mencari, akhirnya aku menyerah. Aku memutuskan untuk turun dan meminta maaf pada Sooyoung karena memory card miliknya sepertinya telah hilang di tanganku. Saat aku tiba di lobby dan ingin menemui Sooyoung, aku melihat Yoona sedang berbicara dengan Sooyoung. Aku sungguh penasaran dengan apa yang mereka bicarakan, karena setelah mereka bicara, aku bisa melihat raut wajah Yoona yang berubah, wajahnya tampak sedih dan kecewa. Pandangannya pun seperti kosong.

“Sooyoung-sshi, mianhae. Sepertinya memory cardmu hilang.”

“MWO? Apa katamu? Hilang?”

“Neh. Mianhae. Jeongmal Jeongseohamnida..”

“Yah! Kenapa kau bisa menghilangkannya? AISH!!”

“Seingatku aku meletakkannya di laciku. Tapi  saat aku mencarinya, aku tidak dapat menemukannya. Sepertinya hilang..Atau tertinggal di rumah.”

“AISH! Kau menyebalkan! Kau harus tanggung jawab!”

“Iya. Aku akan tanggung jawab. Bagaimana kalau aku membelikan memory card untukmu?”

“Tapi, bagaimana dengan foto-foto dan data-dataku yang lainnya?! Masa semuanya harus hilang begitu saja!”

“Lalu kau mau bagaimana lagi! Aku benar-benar minta maaf.”

“Begini saja, bagaimana kalau kita membuat kesepakatan seperti waktu di Jeju?”

“Maksudmu?”

“Berikan HPmu!”

“Hah? Sebenarnya apa maumu?”

“Sudah cepat berikan!”

Akupun memberikan HPku kepadanya. Aku melihatnya mematikan HPku, kemudian mengeluarkan memory card HPku, setelah itu dia menyimpannya di dalam tasnya.

“YAH! Kenapa kau mengambil memory cardku?!”

“Aku hanya ingin kau merasakan bagaimana perasaanku sewaktu kau mengambil HPku dengan seenaknya. Jadi sekarang aku akan mengambil memory cardmu sampai kau bisa mengembalikan memory cardku.”

“Tapi bagaimana kalau aku tidak bisa menemukannya?”

“Kalau begitu ucapkan saja selamat tinggal pada memory cardmu.”

“Baiklah! Tapi jangan sekali-kali kau berani membuka memory cardku!”

“Aku mau membukannya atau tidak itu urusanku! Sudahlah, aku mau kembali ke kantor. Ingat hubungi aku jika kau menemukan memory cardku.”

“Ah! Sooyoung-sshi, tunggu sebentar.”

“Apa lagi maumu?!”

“Aku mau bertanya, apa kau kenal dengan Yoona?”

“Yoona?”

“Iya, orang yang tadi berbicara denganmu.”

“AH! Maksudmu istri Sajangnim. Tentu saja aku mengenalnya.”

“Tadi apa yang kalian bicarakan?”

“Kenapa aku harus memberitahumu?”

“Karena aku sahabatnya.”

“Kau memang sahabatnya, tapi masalah ini tidak berhubungan denganmu. Lagipula tidak ada gunanya juga kau tahu. Sudahlah, aku mau pergi. Aku sangat sibuk.”

Sooyoung berjalan meninggalkanku keluar lobby rumah sakit ini. Sementara aku masih sibuk dengan pikiranku sendiri. Aku benar-benar penasaran apa yang telah mereka bicarakan.  Akupun memutuskan untuk menemui Yoona di ruangannya.

YOONA P.O.V

Aku terus menangis meratapi kehidupanku. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan sekarang. Di satu sisi aku tahu aku tidak mungkin memberitahu Siwon akan kehamilanku, terutama jika  memang anak Tiffany itu adalah anak Siwon. Tapi di satu sisi, anakku sendiri juga membutuhkan sosok ayah.  Tapi sebagai wanita, aku mengerti perasaan Tiffany, dia pasti sangat membutuhkan Siwon, apalagi anaknya sakit, tentu saja dia membutuhkan sosok ayahnya. Tapi bagaimana denganku sendiri? Bagaimana dengan bayi yang kukandung? Apa mungkin aku harus melakukan hal yang paling kejam yaitu menggugurkan kandunganku? Lagipula dari awal aku memang tidak pernah siap akan kehamilanku kan? Mungkin ini jalan terbaik untuk saat ini. Sebelum kehamilanku semakin tua, mungkin akan lebih baik jika aku membuangnya sekarang. Setelah itu, aku akan menceraikan Siwon dan membiarkannya kembali dengan Tiffany. Yah, aku rasa itu lebih baik. Aku tidak mau anak ini lahir tanpa mendapat kasih sayang dari Appanya.

“Aegi-ya, mianhae. Tapi eomma benar-benar belum siap menerimamu dalam kehidupan Eomma. Begitu juga dengan Appamu. Mianhae. Tapi Eomma juga tidak ingin kau terlahir tidak bahagia… Eomma mohon maafkan Eomma..Mianhae.. Jeongmal mianhae.” Aku mengelus perutku yang masih rata ini dan meminta maaf pada calon anakku karena tidak bisa melahirkannya ke dunia ini.

Saat aku menangis, tiba-tiba saja seseorang mengetuk pintu praktekku.

“Yoona-ya, kau baik-baik saja?”Tanya seseorang di luar sana. Aku tahu betul itu adalah suara sahabatku, Kyuhyun. Tapi untuk saat ini aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Aku hanya ingin sendiri. Aku pun tidak menjawab panggilannya. HPku pun terus berdering.

“Yoong, aku mohon buka pintunya. Jangan membuatku khawatir.”

“Yoong, kalau kau tidak membuka pintinya, aku akan menyuruh mendobrak pintumu.”

Aku tahu Kyuhyun benar-benar khawati mendengarku menangis di balik pintu. Tapi, dia memang tidak pernah menyangkali ucapannya. Aku rasa saat ini lebih baik aku membuka pintu dan membiarkannya masuk, sebelum semuanya bertambah parah karena ulahku.

“Masuklah..”Ujarku pelan sambil menghapus air mata yang masih mengalir.

“Yoong, kau kenapa?”Tanyanya khawatir.

“Aku tidak apa-apa Kyu. Aku hanya lelah…”

“Yoong, aku mohon ceritakanlah masalahmu. Jangan menanggungnya sendiri..”

“Kyu, untuk saat ini aku tidak bisa memberitahumu. Dan, aku rasa kau tidak pernah tahu. Aku akan menghapus akar dari masalahku, sehingga masalahku akan selesai. Bukankah itu akan lebih baik?”

“Maksudmu apa Yoong? Aku tidak mengerti.”

“Sudahlah Kyu, lupakan saja. Aku sendiri juga tidak mengerti apa yang kukatakan.”

“Hm.. Yoong, bagaimana kalau kau ikut aku ke suatu tempat?”

“Sekarang?”

“Iya.. Sekarang.”

“Tapi sekarang masih jam praktek. Aku tidak mungkin meninggalkannya.”

“Jangan khawatir. Kau tahu kan kepala rumah sakit ini pamanku? Aku akan meminta izin padanya. Lagipula kau tidak mungkin bisa berkonsentrasi dengan keadaanmu seperti ini…”

“Baiklah..”

AUTHOR P.O.V

Sepanjang perjalanan, Yoona terus memandang jalanan sepi yang dilalui oleh mobil mereka. Pemandangan yang sepi yang cukup membuatnya bisa menenangkan pikirannya sejenak. Tidak ada sedikitpun keinginannya untuk mengetahui kemana Kyuhyun akan membawanya pergi. Bahkan jika boleh memilih, mungkin dia ingin dibawa sejauh mungkin dan tak perlu kembali ke dunia yang penuh masalah ini. Sementara di sampingnya, Kyuhyun tampak tersenyum menatap Yoona yang terlihat menikmati jalanan yang sepi itu. Setidaknya dia tahu, dia telah membawa Yoona keluar dari masalahnya, walaupun hanya sebentar.

Kyuhyun menghentikan mobilnya di sebuah taman yang terletak ukup jauh dari pusat kkota Seoul. Taman itu memang bukan taman yang luas ataupun ramai. Bahkan taman itu hanyalah taman yang mengelilingi beberap rumah kecil.  Tapi taman itu merupakan taman yang memiliki kenangan tersendiri di hati Kyuhyun.

Yoona tampak takjub memandang hamparan penghijauan yang ada di hadapannya sekarang. Taman ini memang bukan taman yang luas, tapi taman ini memiliki keindahan yang sederhana yang setidaknya akan memberikan dia ketenangan. Beberapa anak kecil yang tampak bermain dengan bahagia membuatnya tersenyum.

“Kyu, benda apa yang paling kau inginkan di dalam dunia ini?”

“Hm.. Sebagai laki-laki aku ingin alat yang bisa menggaet wanita manapun yang aku inginkan. Bagaimana menurutmu? Haha..”

“Alat yang bagus untukmu. Dengan begitu kau bisa punya pacar secepatnya. Haha..”

“Kalau kau sendiri apa?”

“Kalau bisa aku ingin memiliki mesin waktu. Mesin yang akan membuatku menjadi anak kecil yang polos, yang bebas dari masalah.. Menurutmu bukankah  itu lebih baik?”

“Tapi apa kau tidak ingin menjadi dewasa pada nantinya?”

“ Aku memang akan menjadi dewasa, tapi setidaknya aku dapat merubah keputusan-keputusan yang aku pilih. Setidaknya, aku bisa membuat Eonnie dan Oppaku tidak meninggal. Dan..”

“Kau tidak perlu menikah dengan Choi Siwon kan?”

“Neh.. Aku kelak tidak perlu menikah dengannya.”

“Yoong, apa kau benar-benar menyesal menikah dengan suamimu itu?”

“Entahlah. Sejujurnya, sehari setelah aku menikah dengannya pun aku sudah menyesal. Tapi entah kenapa setiap kali aku melihatnya menggendong Yoo Jin, rasa menyesalku seakan menghilang. Aku tahu bagaimanapun dia adalah Appa yang tepat untuk Yoo Jin.”

“Apa kau tidak pernah terpikir laki-laki lain yang mungkin saja bisa menggantikan posisi Siwon sebagai suamimu?”

“Mungkin pernah sebagai suamiku. Tapi, jika untuk Yoo Jin, aku tidak pernah. Aku tidak bisa mengelak kenyataan bahwa dia adalah Appa yang terbaik yang bisa menggantikan Donghae Oppa..”

“Kalau seumpama ada seseorang yang berjanji padamu akan menyayangi Yoo Jin sepenuh hatinya dan terutama dia juga sangat mencintaimu, apakah kau akan menerimanya?”

“Andaikan di dunia ini ada pria yang seperti itu, tentunya aku akan menerimanya. Tapi nyatanya tidak ada. Menyedihkan bukan?”

“Yoona-ya.. Aku.. Hm.. Ah! Aku hampir lupa. Ayo ikut aku!”

Yoona pun mengikuti langkah Kyuhyun yang mengajaknya menuju ke suatu rumah kecil yang berada di sekitar taman itu. Rumah yang terlihat asri dengan tanaman-tanaman kecil yan menghiasi sekeliling rumah itu.

“Annyeonghasaeyo. Apa halmeoni ada?”Sapa Kyuhyun pada seorang wanita paruh baya yang membuka pintu.

“Neh. Tapi Anda siapa?”

“AH.. Saya Kyuhyun. Apa bisa saya bertemu dengan Halmeoni?”

“Bisa. Halmeoni sedang berada di kamarnya. Silahkan masuk.”

Kyuhyun dan Yoona pun masuk ke dalam kamar Halmeoni. Nenek tua itu tampak duduk di kursi roda dan menatap keluar jendela yang berada di kamarnya. Kyuhyun berjalan mendekati Halmeoni dan menyapanya, tapi sepertinya Halmeoni sama sekali tidak mengenalinya.

“Sudahlah Kyuhyun-sshi. Halmeoni memang seperti itu sejak cucu kesayangannya pergi.”

“Ah! Iya, aku sampai lupa. Anak kecil yang dulu selalu bermain bersamaku ada di mana?”

“Dia sudah pergi. Semenjak dia berumur 7 tahun, orang tuanya membawanya pergi ke Amerika. Semenjak itu, kami sama sekali tidak pernah mendengar kabarnya. Dan, semenjak itu Halmeoni kesepian. Beberapa kali, aku membawa anak kecil lain, tapi tidak ada anak kecil yang tulus menyayangi Halmeoni, dan justru membuat Halmeoni kecewa… Dan ada satu, Halmeoni terkena penyakit kanker.”

“Mwo? Apa Anda membawa Halmeoni ke rumah sakit? ”Tanya Yoona.

“Saya sudah pernah  membawanya ke rumah sakit. Tapi nyatanya dokterpun tidak bisa berbuat banyak.. Terkecuali Halmeoni mau menjalankan kemoterapi walaupun harapannya tipis. Tapi, halmeoni tidak mau.”

Mendengar semua yang terjadi pada halmeoni di rumah itu membuat Yoona dan Kyuhyun sedih. Setelah berbincang-bincang sebentar merekapun memutuskan untuk pulang mengingat hari sudah cukup malam.

“Kyu, kalau boleh tahu, gadis kecil yang kau maksud itu siapa?”

“Dia cucunya Halmeoni, kalau tidak salah dulu dia dipanggil Summer, karena dia lahit saat hari musim panas. Gadis kecil itu adalah temanku sewaktu aku liburan di sini ketika aku masih berumur 7 tahun. Gadis itu sangat polos dan cantik.”

“Oh.. Hm.. Aku punya ide. Bagaimana kalau aku mencoba membawa Yoo Jin ke rumah Halmeoni?”

“Ide yang bagus. Tapi bagaimana kalau Halmeoni tidak menyukai Yoo Jin?”

“Yoo Jin anak yang manis dan cantik. Aku yakin Halmeoni akan menyukai Yoo Jin.”

“Baiklah.. Yoong, kau mau aku antar pulang?”

“Hm.. Neh. Lebih baik kau antar aku pulang saja. Aku sedang malas bawa mobil.. Tapi kita makan dulu ya… Aku lapar..”

“Baiklah dokter Im..”

Merekapun makan di sebuah restoran sebelum mereka pulang. Setidaknya, karena moodnya yang membaik, malam ini Yoona masih dapat memakan semangkuk bubur untuk mengisi perutnya. Setelah itu, Kyuhyun pun mengantar Yoona pulang ke rumahnya. Baru saja Yoona ingin turun dari mobilnya, tiba-tiba saja, Kyuhyun menahan tangannya.

“Yoona-ya, tentang pembicaraan kita tadi.. Jikalau kau bisa menemukan laki-laku yang mencintaimu dan Yoo Jin. Apa aku boleh bertanya?”

“Hm.. Katakanlah..”

“Aku.. Apa boleh aku menjadi laki-laki itu?.. Aku tidak tahu sejak kapan aku mulai menyukaimu.. Tapi yang pasti.. Aku mencintaimu..Saranghaeyo Im Yoona”

Pernyataan yang diucapkan oleh Kyuhyun seakan membuat dunia terhenti dalam sejenak. Yoona yang duduk di sampingnya berusaha mencerna kata-kata yang baru saja diucapkan oleh pria yang selama ini dia anggap sebagai sahabat baiknya, tidak lebih.

“Yoona-ya, aku mencintaimu, dan aku berjanji akan menyayangi Yoo Jin. Apa kau mau menerimaku sebagai pengganti Siwon?”

“Kyuhyun-ah, aku lelah.. Hm.. Aku masuk  dulu ya..”

“Yoona-ya, aku mohon jawab aku. Apa aku bisa menggantikan posisi Siwon?”

“Kyu, aku tidak bisa menjawabmu untuk saat ini. Keadaanya tidak semudah yang kau bayangkan. Sudahlah, ini sudah malam. Aku lelah. Kau juga harus pulang. Gomawo..”

“Baiklah kalau kau tidak menjawabku sekarang. Aku akan membuktikan apa yang kukatakan… Aku harap seiringnya waktu kau akan menerimaku..”

“Percayalah Kyu, kalau kau masuk ke dalam kehidupanku, kau akan kecewa. Aku bukanlah wanita yang pantas kau cintai. Aku mohon jangan menambah masalahku.”

Kyuhyun membiarkan Yoona keluar dari mobilnya. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Tapi dia sadar satu hal, hubungannya dengan Yoona tidak mungkin lagi akan seperti dulu. Tapi, setidaknya dia sudah mengatakan isi hatinya, dan satu hal yang pasti dia tidak akan menyerah sebelum ada sesuatu yang benar-benar menghentikannya. Dia hanya ingin melihat Yoona tersenyum seperti ketika teman kecilnya tersenyum.

YOONA P.O.V

Aku masih tidak percaya dengan berita yang baru saja kudengar. Bagaimana mungkin, Kyuhyun, sahabat yang paling kupercaya bisa menyukaiku. Selama ini, tidak pernah terbersit sedikitpun dalam pikiranku Kyuhyun akan menyukaiku. Baru saja aku merasa tenang sejenak, tapi kenapa seakan masalah baru datang lagi. Aku benar-benar tidak tahu bagaima sikapku besok ketika bertemu dengan Kyuhyun.

Dengan langkah pelan, aku berjalan menuju pintu rumahku dan membukanya. Keadaan rumah sudah gelap menandakan semua orang sudah tidur, terkecuali Siwon yang saat ini berdiri di hadapanku dan menatapku tajam.

“Kau dari mana saja?”Tanya Siwon kepadaku dengan nada dinginnya.

“Aku…”Belum sempat aku menjawab apa-apa, Siwon sudah menyela perkataanku.

“Kau tahu sekarang sudah jam berapa?”Tanyanya dengan suara yang menahan marah.

“Aku tahu..“Jawabku dingin.

“Kau tahu berapa lama aku dan Yoo Jin menunggumu? Kau juga tak menghubungiku sama sekali. Aku mengetahui kau belum menjemput Yoo Jin pun sudah jam 10 malam!”

“Ah, Itu.. Aku minta maaf.. Aku sedang sibuk..”

“Kau sibuk? Apa pergi bersama pria bernama Cho Kyuhyun itu termasuk bagian dari pekerjaanmu? Hah? Jawab aku!”

“Aku rasa bukan urusanmu kemanapun aku pergi! Sudahlah, aku lelah…”Baru saja aku ingin melangkahkan kakiku ke kamar, tapi cengkeraman tangan Siwon menghentikan langkahku.

“Apa lagi maumu! Aku benar-benar tidak mau berdebat denganmu!”

“Kau! Cepat jawab aku! Apa yang kau lakukan bersama pria itu!”

“Sudah kukatakan berkali-kali. Apapun yang kulakukan bersama Kyuhyun bukan urusanmu!”

“Kau itu istriku! Jadi apapun yang terjadi padamu itu tanggung jawabku!”

“Baiklah.. Kalau begitu katakan apa hubunganmu dengan Tiffany! Cepat!”Teriakku tak kalah kencang dan tanpa sadar air mata yang dari tadi kutahan mulai menetes di pipiku.

“Apa maksudmu? Dia hanyalah mantan kekasihku!”

“Mantan? Kau yakin? Sudahlah. Aku benar-benar lelah.”

“Apa maksudmu?”Tanyanya bingung.

Aku berusaha melepaskan cengkeraman tangan Siwon. Aku yakin dia pasti tidak berani memberitahuku apa yang selama ini mereka tutup-tutupi. Aku rasa lebih baik aku meninggalkannya menuju kamar Yoo Jin dan mengistirahatkan tubuhku saat ini.

“Aegi-ya, kau lihat sendiri kan? Eomma benar-benar tidak mau kau tumbuh di keluarga seperti ini. Mianhae…”

Keesokan harinya, aku memutuskan untuk pergi kembali berkonsultasi ke dokter Kim untuk menggugurkan kandunganku. Mengingat kejadian semalam, membuatku benar-benar yakin akan keputusanku. Menurutku ini adalah keputusan yang terbaik.

“Ny. Im, apa anda yakin dengan keputusan Anda?”Tanya dokter Kim kepadaku.

“Saya yakin dokter.”

“Anda yakin tidak akan menyesal?”

“Saya yakin. Jika bayi ini lahir, dia justru akan semakin menderita.”

“Hm… Baiklah, begini saja. Bagaimana kalau Anda ikut saya ke suatu tempat?”

Aku mengikuti dokter Kim mengitari rumah sakit yang cukup luas ini, dan langkahnya terhenti di depan ruangan kaca yang berisi bayi-bayi mungil yang masih tertidur pulas di ranjang-ranjang kecil masing-masing.

“Apa yang kau lihat dari bayi-bayi mungil itu?”Tanya dokter Kim yang masih menatap bayi-bayi mungil itu.

“Mereka sangat manis dan polos.”

“Kau benar. Mereka sangat polos. Apa menurutmu orang-orang akan bahagia memiliki mereka?”

“Aku rasa mereka akan bahagia. Bayi-bayi ini sangat mungil dan cantik. Siapapun yang memilikinya pasti akan menyayanginya.”

“Mungkin seharusnya begitu. Tapi nyatanya tidak seperti itu, banyak dari mereka yang menangis sedih ketika menatap bayi yang lahir dari rahim mereka sendiri. Kau tahu kenapa?”

“Ani..”

“Karena beberapa mereka menganggap bayi ini hanya akan menjadi aib. Beberapa dari mereka harus melahirkan tanpa suami di samping mereka. Tapi mereka tetap memilih melahirkannya, karena mereka tahu setiap bayi adalah anugrah dari Tuhan. Ketika Tuhan sudah membrikannya dalam rahim mereka, maka artinya Tuhan sudah siap menjadikan mereka sebagai seorang ibu.”

“Tapi, bagaimana kalau kelak bayi itu hanya akan merasakan penderitaan?”

“Penderitaan? Bukankah semua orang kelak mengalaminya?”

Aku benar-benar tidak bisa menjawab perkataan dokter Kim. Tiba-tiba saja dokter itu mengajakku berjalan lagi dan menatap seorang ibu yang berada di atas kursi roda yang didorong oleh suaminya. Pasangan itu sedang menatap bayi mungil yang berada di ruangan incubator.

“Kau lihat pasangan itu?”

“Neh..”

“Pasangan itu sudah menantikan anak selama 5 tahun. Wanita itu pernah mengalami keguguran dan membuatnya sulit hamil, tapi setelah menunggu selama 5 tahun, akhirnya Tuhan memberikannya seorang malaikat kecil dalam rahim wanita itu. Tapi sayangnya bayi mereka tidak sehat dan terlahir jantung lemah. Kau tahu, bayi mungil itu baru saja menjalani operasi jantung 2 hari yang lalu, dan kondisi bayi itu tidak juga membaik. Pasangan itu sangat sedih, tapi mereka tidak berhenti berharap. Mereka berdoa setiap saat berharap Tuhan akan mengizinkan mereka merawat bayi mereka hingga dewasa. Tapi nyatanya tidak ada yang tahu rahasia Tuhan bukan? Kapanpun Tuhan mengambil bayi mereka, mereka harus siap.”

Aku kali ini hanya mendengarkan perkataan dokter Kim. Dokter Kim kemudian mengajakku menuju sebuah kamar pasien. Di ruangan itu terdapat seorang wanitaparuh baya yang sedang tertidur pulas. Wajah wanita itu tampak sendu dan kesepian.

“Kau tahu, wanita ini mengalami depresi berat. Dia baru saja menjalani operasi pengangkatan rahim. Dan bukan hanya itu, suaminya juga menceraikan dia karena dia sama sekali belum dan tidak akan bisa memberikannya seorang anak. Menyedihkan bukan?”

“Neh..”Jawabku pelan.

“Yoona-sshi, saya tidak tahu masalah apa yang Anda hadapi. Tapi anak dalam rahim Anda tidak bersalah apa-apa. Lihatlah mereka yang kehilangan bayi mereka atau bahkan tidak bisa mempunyai anak sama sekali? Bukankah hidup mereka begitu menyedihkan? Tapi coba kau lihat mereka yang mungkin tidak mempunyai suami, mereka akan tetap bahagia ketika menatap bayi mereka sendiri bukan? Jadi saya harap Anda bisa memikirkan keputusan Anda sekali lagi.”

Sepanjang perjalanan aku terus memikirkan setiap nasihat dokter Kim. Ada perasaan bersalah dalam diriku. Bagaimana mungkin aku bisa berpikir untuk membunuh darah dagingku sendiri. Pikiranku melayang kepada bayi-bayi yang tadi aku lihat di rumah sakit. Ada perasaan bahagia jika membayangkan bagaimana rupa bayiku sendiri. Pasti akan tampak sangat cantik dan manis. “Aegi-ya.. Mianhae. Eomma benar-benar jahat… Mulai sekarang Eomma akan menjagamu…”Ujarku sambil mengelus lembut perutku.

SIWON P.O.V

Kejadian semalam di mana aku melihatnya bersama Kyuhyun, hubunganku dengan Yoona  semakin memburuk. Aku tak bisa berbohong, sepertinya aku memang cemburu melihatnya pulang bersama Kyuhyun. Apalagi dengan sikapnya yang dingin seakan menutup sesuatu, tentu saja membuatku juga lebih memlih tidak berkomunikasi dengannya. Tentu saja membuatku juga tidak bisa berkonsentrasi dengan pekerjaanku. Hal ini membuatku lebih memilih pulang ke rumah di siang hari. Saat aku masuk ke dalam rumah, suasananya tampak berbeda.

“Daddy!!!!!!!”Teriak Yoo Jin sambil berlari ke arahku.

Akupun langsung menaruh tas kerjaku dan menggendong putri kecilku ini dan menciun pipinya singkat.

“Yoo Jin dijemput siapa di sekolah?”Tanyaku pada Yoo Jin.

Pasalnya setahuku seharusnya jam segini dia masih berada di rumah orang tuaku.

“Yoo Jin dijemput Mommy.”

“Mommy?”

“Iya..”

“Mommy ada di rumah?”

“Iya, Mommy ada di dapur Daddy..”

“Oh.. Ya sudah Yoo Jin turun dulu ya. Daddy mau ganti baju dulu. Nanti kita makan siang bersama..”

“Neh..”

Sesudah Yoo Jin turun dari gendonganku, aku masuk ke kamar dan mengganti pakaianku dengan pakaian rumah. Setelah itu aku berjalan ke arah dapur. Aku terus menatap Yoona yang sedang sibuk memasak makanan di dapur dibantu oleh Ahjumma. Dia meletakkan makanan di hadapanku tanpa berkata apapun. Setelah siap, diapun ikut duduk di hadapanku dan Yoo Jin.

“Yoo Jin, ini hadiah buat Yoo Jin..”Kata Yoona memecahkan kehkeningan emudian mengeluarkan sekotak boneka Barbie dan memberikannya pada Yoo Jin.

“Thanks Mommy..”Kata Yoo Jin kemudian berjalan kea rah Yoona dan mencium pipi Yoona siangkat .

Aku hanya bisa mengerutkan keningku bingung. Setahuku ini bukan hari ulang tahun Yoo Jin, tapi kenapa rasanya hari ini berbeda sekali. Mulai dari Yoona yang tidak biasanya pulang cepat hingga hadiah yang baru saja diberkan Yoona untuk Yoo Jin.

“Sebenarnya hari ini ada apa?”Ujarku bingung.

“Yoo Jin dapat juara 1 Daddy di kelas..”Kata Yoo Jin senang.

“Chinjja?”

“Neh..”

“Wah.. Anak Daddy pintar sekali..”

“Thanks Daddy.. Lalu mana hadiah untukku?”

“Neh.. Daddy belum membelinya. Bagaimana kalau nanti Yoo Jin saja yang memilihnya sendiri? Nanti kita ke toko mainan. Eotte?”

“Hm.. Ani.. Bagaimana kalau kita pergi ke Lotte World? Yoo Jin kan belum pernah pergi ke sana bersama Mommy dan Daddy.”

Melihat Yoo Jin yang sudah semakin merengek di hadapanku dan Yoona, membuat kami berdua menyerah. Walaupun aku yakin sebenarnya kami berdua pasti ingin menolak dengan alasan lelah dan juga karena hubungan kami yang masih dingin seperti ini ynag seharusnya tidak memungkinkan kami untuk pergi bersama. Tapi kami juga tidak bisa berkomentar banyak mengingat hari ini kami sama-sama bisa berkumpul, terlebih lagi memang sudah seharusnya kami meluangkan waktu untuk Yoo Jin.

Selama perjalanan aku melihat Yoona hanya memandang pemandangan di jalanan Seoul sambil sesekali menaggapi celotehan Yoo Jin. Wajahnya tampak sedikit pucat dan lelah. Sebenarnya aku curuiga di sakit, tapimelihat hubunganku dengannya yang memburuk membuatku mengurungkan niatku untuk bertanya.

Sesampainya di Lotte World, wajah Yoo Jin tampak berseri-seri. Begitupun Yoona. Dia tampak melihat ke sekelilingnya dengan senyuman merekah. Seperti ini pertama kalinya dia datang kesini. Melihatnya tersenyum setidaknya membuatku tenang, sepertinya dia akan menikmati rekreasi kami hari ini dan melupakan masalah semalam.

“Jadi seperti ini Lotte World..”Gumamnya pelan yang membuatku menatapnya yang masih melihat sekeliling Lotte World ini.

“Kau tidak pernah kemari?”Tanyaku yang mendapat gelengan pelan darinya.

“Ini pertama kalinya aku kesini. Menyedihkan bukan?”

“Bagaimana mungkin kau belum pernah sama sekali kemari?”

“Kau tahu kan kalau orang tuaku bercerai? Sebelum mereka bercerai saja mereka tidak pernah mengajakku dan Oppa kemari, apalagi setelah mereka bercerai?”

Mendengarkannya bercerita membuatku dapat merasakan penderitaanya selama ini. Selama ini aku selalu menganggap kehidupannya cukup sempurna sebelum dia menikah denganku. Dia cantik, pandai, dan baik hati. Menurutku dia  adalah sosok wanita yang sempurna. Dan, hari ini aku menemui sosoknya yang baru, yaitu sosoknya yang kesepian. Sosok yang kehilangan kehangatan keluarga yang sangat dibutuhkannya.

“Karena ini pertama kalinya kau datang kemari, aku akan membuatmu tidak menyesal datang ketempat ini. Kajja.”Ujarku kemudian menggegam tangannya.

YOONA P.O.V

Aku benar-benar merasa bahagia ketika Siwon mengajakku ke tempat ini. Temapat yang selama ini selalu ingin aku kunjungi.Dulu aku selalu berharap mengunjunginya bersama orang tuaku dan Oppaku, tapi sayangnya keinginan itu tidak mungkin terwujud. Terlebih lagi setelah mereka bercerai. Melihat wajah Yoo Jin yang bahagia membuatku juga bahagia, setidaknya aku bisa memenuhi keinginannya untuk saat ini.

Kami terus berkeliling di sekitar Lotte world. Mataku seakan berbinhar-binar menatap wahana-wahana yang ada di Lotte World ini. Terutama menatap roller coaster menjulang tinggi. Aku benar-benar iingin menaikinya. Tapi mengingat aku sedang hamil, sepertinya aku hanya bisa mengurungkan niatku.

“Kau ingin naik roller coaster itu?” tanya Siwon kepadaku.

“Aku ingin.. Tapi..”

“Kau takut?”

“Aniya. Sudah kita naik yang lain saja. Yoo Jin juga tidak mungkin naik wahana seperti itu.”Ujarku berusaha mengalihkan pembicaraan kami.

“Kalau kau injgin naik, naik saja. Aku dan Yoo Jin akan menunggumu.”

“Tidak usah. Lebih baik kita naik yang lain saja.”

“Yoo Jin ingin naik apa sayang?”Tanyaku pada Yoo Jin.

“Yoo Jin ingin naik itu..”Kata Yoo Jin sambil menunjuk komedi putar yang berjarak tak jauh dari tempat kami berdiri.

Mau tidak mau aku harus mengikutinya.Setidaknya permainan ini tidak berbahaya untuk wanita hamil sepertiku. Walaupun sebenarnya aku tidak suka menaiki wahana ini. Sesudah menaiki wahana ini, Kepalaku pusing seketika.Sepertinya benar kata beberapa orang, wanita hamil akan sensitif dengan hal-hal seperti ini.

“Kau kenapa? Kau baik-baik saja?”Kata Siwon yang langsung menahan tubuhku yang hampir saja terjatuh akibat kepalaku yang pusing.

“Aku lelah. Kepalaku pusing..”

“Kalau begitu kita istirahat didulu,” Siwon membimbing langkahku menuju salah satu bangku kosong, dibawah sebuah pohon yang lumayan rindang.

Aku menyandarkan kepalaku dibahu Siwon dan  memejamkan mataku sejenak.

“Apa kita pulang saja? Sepertinya kau kurang sehat.Wajahmu juga pucat.”

“Aku tidak apa-apa. Aku hanya butuh istirahat sebentar. Oppa main saja dulu bersama Yoo Jin..”

“Yoo Jin, kamu temani Mommy sebentar ya.. Daddy mau membeli air minum dulu.  Bagaimana kalau aku beli makanan juga. Kau mau?”

“Aku tidak berselera untuk makan.”

Aku melihat Siwon melangkah pergi meninggalkanku dan Yoo Jin. Yoo Jin terus sbuk dengan PSP yang dibawanya semntara aku terus menatap seluruh tempat ini dan melihat banyaknya keluarga-keluarga bahagia yang bermain bersama. Aku sangat iri melihat anak-anak yang lain bisa pergi bersama orang tuanya. Ingin sekali aku membalikkan waktu sehingga aku bisa menikmati masa kecilku seperti anak-anak yang lain.

“Ini mumanmu..”Ujar Siwon kemudian duduk di sampingku dan memberikanku ssebotol air mineral.

“Gomawo…”

“Kau menangis?”

“Ani.. Aku hanya merasa iri kepada anak-anak kecil itu. Ingin sekali aku merasakan masa kecil seperti itu..”Air mata yang sedari di tahan mulai mengalir dari mataku.

“Jangan menangis. Setidaknya sekarang kita masih bisa pergi bersama-sama sebagai keluarga.Walaupun bukan saat kau masih kecil.”

“Neh. Aku tahu. Dan, setidaknya aku bersyukur aku tidak seperti orang tuaku. Aku masih bisa mengajak Yoo Jin kemari dan merasakan indahnya tempat ini.”

“Neh..”

Entah kenapa aku merasa nyaman di dekat Siwon. Perkataannya dan sentuhannya membuatku merasa tenang. Apa mungkin ini karena bawaan bayiku? Entahlah. Yang pasti aku ingin menikmati saat-saat ini.  Setelah beristirahat, kami menaiki beberapa wahana lain yang cukup aman untukku. Setelah hari cukup malam, kamipun memuuskan untuk makan malam di sebuah kafe.

Melihat menu-menu di restoran ini membuat nafsu makanku menurun. Aku sama sekali tidak memesan apapun. Sementara Siwon dan Yoo Jin menikmati makan malam mereka dengan lahap.

“Yoona-ya, kau yakin tidak ingin makan apapun?”

“Tidak. Aku tidak lapar..”

“Tapi ini sudah malam dank au belum makan apa-apa. Bagaimana kalau maagmu kambuh?”

“Tapi aku benar-benar tidak lapar..”

“Kenapa belakangan ini nafsu makanmu menurun? Kau sakit?”

“Aniya. Aku baik-baik saja.”

Selama makan, Siwon terus memperhatikanku yang duduk di hadapannya. Aku terus memperhatikan HPku sembari mengelus perutku yang masih rata. Setidaknya dengan tidak menatap makanan mereka rasa mualku berkurang.

“Mommy, Daddy, lihat adik bayi itu sangat lucu..”Kata Yoo Jin yang membuatku mengalihkan pandanganku ndari HPku kea rah seorang ibu yang duduk tak di sebelah meja kami. Tanpa sadar aku menatap bayi itu dan tersenyum. Bayi itu masih terlelap di kursi dorongnya. Wajahnya tampak sangat cantik.

“Yoo Jin mau mempunyai adik seperti itu..”

“Yoo Jin benar-benar ingin memiliki adik ya?”Tanya Siwon tiba-tiba kepada Yoo Jin yang duduk di sampingnya..

“Neh. Yoo Jin ingin mempunyai adik bayi.”

“Sabarlah sayang.. Yoo Jin pasti akan mendapatkannya nanti…”Ujar Siwon tenang kemudian tersenyum.

Aku benar-benar tidak mengerti perkataannya. Apa maksudnya Yoo Jin akan mendapatkannya? Apa jangan-jangan anak Tiffany benar-benar anaknya? Lalu satu saat nanti dia akan menceraikanku dan membawa anaknya tinggal bersama Yoo Jin? Aku hanya menatapnya bingung.

Saat makan, tiba-tiba saja HPku berbunyi. Aku benar-benar ragu untuk mengangkat telepon itu. Bagaimana tidak, telepon itu dari Kyuhyun. Semenjak kejadian semalam aku sama sekali tidak berkomunikasi dengannya dan tiba-tiba saja dia menghubungiku.

“Apa benar ini No. Im Yoona?”Tanya seorang wanita di seberang sana.

“Neh. Ini dengan siapa ya?”

“Saya adalah pelayan di Club X. Nama saya Kim Sera. Pemilik Handphone ini mabuk berat. Dan semenjak tadi dia menggumam nama anda terus. Sudah sejak tadi pagi dia seperti ini. Bisakah Anda datang kemari? Dia juga tidak berhenti minum sejak tadi.”

“Baiklah, aku akan kesana. Kalau ada apa-apa dengannya hubungi aku saja..”

“Iya..”

Sesudah menutup teleponku, Siwon langsung menatapku seolah ingin menginerogasiku dengan siapa aku telepon tadi.

“Ah.. Tadi dari temanku, dia ingin bertemu denganku. Katanya ada hal penting.”

“Bertemu? Tapi ini kan sudah malam… Memang di mana?”

“Di rumahnya. Oppa dan Yoo Jin langsung pulang saja. Aku tidak akan lama.”

“Bagaimana kalau aku yang mengantarmu saja?”

“Tidak usah Oppa.. Aku benar-benar tidak apa-apa. Hanya sebentar. Neh?”

“Baiklah.. Kau akan aku tunggu di rumah.”

Sesudah meminta izin dari Siwon, aku langsung naik taksi menuju Club X. Sebenarnya, aku merasa bersalah harus berbohong pada Siwon, tapi aku rasa itu lebih baik, setidaknya dari pada melihat mereka bertengkar lagi.

AUTHOR P.O.V

Yoona menghentikan langkahnya di sebuah pintu bernomor 201. Dia segera masuk dan menatap sahabatnya yang masih duduk di sofa luas itu dan meneguk segelas bir yang ada di tangannya. Yoona segera duduk dan menahan tangan Kyuhyun yang membuat Kyuhyun menyadari keadatangan Yoona.

“Kyu, kumohon jangan minum lagi..”

“Kenapa aku tak boleh meminumnya? Kau mau?”

“Kyu, kau sudah minumm ini sejak tadi pagi. Aku mohon hentikan.Kau bisa sakit.”

Mendengar kekhawatiran Yoona, Kyuhyun hanya tertawa.

“Memang kalau aku sakit kenapa? Kau mau merawatku?”

“Maksudmu apa Kyu?”

“Aku mau melakukan apapun asal kau bersamaku. Sekalipun aku harus menyakiti diriku sendiri.”

“Kyu, apa maksudmu?Aku mohon kau jangan seperti ini.”

“Kau tahu maksudku. Aku mencintaimu Im Yoona. Sejak dulu aku sudah mencintaimu.”

Yoona hanya diam dan terus menatap Kyuhyun yang masih menangis. Wajahnya tampak kacau. Rambutnyapun sangat berantakan.

“Kyu, aku bukanlah orang yang pantas kau cintai. Percayalah Kyu, kau akan mendapatkan wanita yang lebih baik.”

“Tapi kenapa? Kau tak mencintainya kan? Katakan kau tak mencintainya Im Yoona. Katakan kau mencintaiku. Aku berjanji aku akan menyayangi Yoo Jin seperti anakku. Aku janji.”

Yoona hanya terdiam mencerna semua perkataan Kyuhyun. Dia menatap mata sendu Kyuhyun. Mata yang menggambarkan kesedihan.

“Kyu, aku minta maaf. Tapi, kau akan menyesal jika mencintaiku. Sampai akhirpun aku tidak mungkin bersamamu..”

“Tidak mungkin? Bagaimana kalau kita buktikan?”

Yoona mulai ketakutan melihat Kyuhyun yang mulai membalikkan badannya dan menyentuh pundak Yoona. Dengan tiba-tiba mulutnya sudah membekap mulut Yoona dengan ciumannya yang kasar. Dia menindih tubuh Yoona dengan kasar di atas sofa itu dan membuat Yoona menangis. Yoona berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Kyuhyun, tapi sayangnya kekuatan Kyuhyun lebih besar. Di hadapannya Kyuhyn mulai membuka kacing kemejanya satu per satu. Perutnyapun sudah mulai terasa sakit karena tindihan tubuh Kyuhyun yang cukup kuat. Di dalam hatinya, Yoona hanya bisa menjerit. Dia benar-benar takut sesuatu terjadi pada kandungannya. Dia benar-benar berharap seseorang datang menolongnya.

”Tuhan.. Aku mohon lindungi anak yang berada dalam rahimku ini..”

SIWON P.O.V

Aku benar-benar penasaran kemana Yoona akan pergi. Jadi aku memutuskan untuk mengikutinya melalui mobilku. Dan, aku membelakkan maataku ketika melihatnya turun dari taksi dan masuk  kedalam club X. Hal ini tentu saja membuatku semakin curiga dan memutuskan untuk mengikutinya langkahnya. Dan langkahnya terhenti di sebuah ruangan khusus. Aku melihatnya masuk ke dalam ruangan itu dan aku hanya bisa menatapnya dari kaca yang terdapat di pintu dengan hati-hati.

Aku melihat tingkah Kyuhyun yang mulai membuatku curiga, aku melihat dia mulai mencium istriku. Dan yang paling membuatku marah adalah ketika aku melihat dia dengan berani menindih tubuh Yoona. Aku melihat Yoona menangis dari balik kaca. Dengan emosi, aku langsung membuka pintu dan menerobos masuk ke ruangan itu. Aku langsung menarik Kyuhyun yang berada di atas Yoona. Aku tidak peduli lagi saat ini, aku melampiaskan semua kemarahanku padanya. Aku memukul wajahnya berkali-berkali hingga dia terjatuh di atas lantai. Tapi kegiatanku terhenti mendengar rintihan Yoona yang berda di atas sofa. Aku melihatnya meingkuk sembari memegangi perutnya, wajahnya benar-benar pucat seperti menahan sakit yang luar biasa. Tapi yang membuatku membelakkan mata adalah melihat darah yang segar yang mengalir dari bawah kakinya.

TBC

Thx n GBU

Tinggalkan komentar

255 Komentar

  1. yahh jangan keguguran dong 😥 kasian eonni ku

    Balas
  2. dedewjasmin

     /  Desember 18, 2014

    Untung aj yoona berubah pikiran dan tidak jd menggugurkan kandngan nya….
    Knph sih yoona blm blng juga sm siwon klu dia lgh hamil…..kira2 apa yg akan terjd sm yoona nya?

    Balas
  3. siska primadani

     /  Januari 2, 2015

    Kenapa kyu tega ama yoona. Huh untung aja ada wonpa, tpi yoona pendarahan kayaknya. Aku harap kandungan baik”aja

    Balas
  4. Jenjeje

     /  Januari 18, 2015

    Omo 😮
    smga yoong eonni gga
    keguguran
    ksihan yoong eonni 😥

    Balas
  5. Aaahhh tidaaak… Yoona knp tuh?jgn2 keguguran? Iiiihhh kyuhyun jahat banget sih….

    Balas
  6. Aigoo semoga yoong baik2 aja dan gk keguguran ..
    Aish !! Kyuhyun oppa knpa jahat bgt smpe berbuat seperti itu

    Balas
  7. Ya semoga yoona gak kenapa kenapa ya,kyu jahat bgt sih ama,yoona untung siwon ngikutin yoona klo gak, gak tau deh ap yg terjadi, semoga setelah kejadian in siwon tau yoona hamil ye jadi mereka bisa,bersatu lagi

    Balas
  8. apa yang akan kau lakukan cho kyuhyun???

    Balas
  9. ih.. kyuhyun jahat banget.. untung siwon datang, tp bagaimana dengan kandungan yoona.. moga baik2 saja..

    Balas
  10. amalia an

     /  Mei 11, 2015

    kyuhyun Benar2 gila gra2 cintanya ditolak.
    kyu sma sooyung adja yaaaa, jgn ganggu yoonwon.

    Balas
  11. Rumini

     /  Mei 29, 2015

    Moga kandungannya gpp…. hadeh kyuhyun kejam amat..

    Balas
  12. Ais kyu oppa keterlaluan-_- untung ada siwon oppa.smoga saja yoo a eonni baik2 saja dehh

    Balas
  13. dias puspita

     /  Agustus 28, 2015

    Atagaaaa kyu knp kau jd sprti itu??
    Yoona gag keguguran kaan??
    Lanjut lanjuuut..

    Balas
  14. yoonaddict

     /  Mei 29, 2016

    Yoona oenni kasian amat..
    moga gak ada apa apa sama baby choi .
    Siwon appa cepet tolongin ..

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: