[FF] I Believe in Love (Episode 6)

boating-under-night-sky-wallpaper_1024x768_15023Main Cast:

Choi Si Won

Im Yoon Ah

Kim Sang Bum

Kim So Eun

Kim Soo Hyun

Baek Su Ji

Genre: Romance, Friendship, Drama

Rating: G

A Story By Resty Meidalita Utami

Episode 1

Episode 2

Episode 3

Episode 4

Episode 5

♥♥♥

BLUG~

Snapshot - 24

….Mereka tersungkur dan terjatuh. Sangat beruntung tubuh Yoona tak berada dibawah, karna jika saja posisi mereka terbalik pasti Yoona akan merasakan hantaman yang amat sakit dipunggungnya. Seperti yang Siwon rasakan sekarang.

“Aaaakh…”, terdengar suara ringisan pelan di telinga Yoona. bahkan suara itu sampai membuat leher Yoona meremang. Ia baru menyadari bahwa bibir Siwon bersentuhan dengan telinganya.

Dag..Dig..Dug..

Dada mereka yang bersentuhan menimbulkan irama cepat dari detakan jantung masing-masing.

Sedetik kemudian, Yoona mengangkat kepalanya dan berkata, “Mian..”. ia tak sanggup untuk menatap kearah Siwon sekarang. Sepertinya ia harus cepat-cepat berdiri.

Namun tiba-tiba saja Siwon menahan tangannya dan menarik Yoona kembali ke posisinya tadi. Kali ini mereka saling bertatapan intens, masih dengan nafas yang memburu. Perlahan tangan Siwon merapikan rambut Yoona, mengaitkannya kebelakang telinga agar Siwon dapat melihat wajah gadis itu lebih jelas lagi.

 Snapshot - 25

Detakan jantung Yoona semakin menggebu-gebu, ia rasanya sudah ingin mati saja ditempat. Bisakah ia tak hanya berdiam diri seperti ini? Sebelum pria itu kehilangan akal sehatnya dan melakukan hal yang diluar batas.

Terlambat, sepertinya Siwon benar-benar sudah kehilangan akal sehatnya saat kepalanya mulai ia angkat. Tangan Siwon juga menarik kepala Yoona.

Mengiringi semakin sempitnya jarak diantara keduanya, mata mereka tertutup begitu saja seakan menikmati dan saling menerpa wajah dengan hembusan nafas masing-masing.

 Snapshot - 26

Hangat, itulah yang Yoona rasakan. Nafas mereka seakan telah menyatu, hidung mancung pria itu bahkan sudah bersentuhan dengan miliknya.

“Im Yoona-ssi!”.

Mendengar suara yang agak ditekankan itu, Yoona pun membukakan matanya terkejut. Ia menoleh kearah Siwon yang juga tengah memandangnya sedikit terengah-engah. “Bisakah kau segera turun, punggungku sakit sekali”.

Yoona masih diam, mengalihkan pandangannya pada tangan Siwon―tangan yang sejak tadi tak menyentuhnya sama sekali. Juga posisi mereka yang tidak sedekat ‘tadi’.

‘Tadi’? ‘Tadi’ itu apa? Bukankah hidung kita berdua sudah…?? …Oh bagus, jadi itu hanya fantasi Yoona saja?

Yoona tak beranjak juga dari tempatnya dan malah mengerutkan wajah sambil menutup matanya sibuk mengutuk diri sendiri dalam hati. Siwon sudah hampir gila dengan kelakuan gadis didepannya itu, jika ia terus saja bertahan dalam posisinya seperti ini, mungkin sebentar lagi Siwon sudah akan menerkam tubuhnya tanpa ampun.

“Yoona-ssi, aku serius”, Siwon semakin menunjukkan wajah tak berdayanya membuat Yoona memekik―membuka mulutnya begitu lebar kemudian berdiri dengan gerakan super cepat.

“Mi..mian, Siwon-ssi”, ia menggigit jari-jari tangannya dengan gusar. Merasa tak enak hati dan…. benar-benar merasa seperti orang bodoh kala itu. Sepertinya otak yang ada didalam kepalanya ini bukan miliknya, ia tak pernah berpikir semesum itu, sebenarnya ia kenapa? Apa mungkin ia telah mengalami gegar otak akibat terjatuh tadi? Ya, mungkin saja. aduuuh.. aduuuh… bodoh! Yoona terus saja mencerca dirinya sendiri sambil memukul-mukul kepalanya.

“Kau baik-baik saja?”, tanya Siwon beranjak berdiri sambil memegangi tulang belikat kirinya. Tak jarang terdengar ringisan pelan dari bibir itu.

“Punggungmu sakit? Apa ada yang terluka?”, Yoona malah balik bertanya. Tentu ia baik-baik saja, ya―tubuhnya memang tidak apa-apa, kecuali otaknya yang sedikit tidak beres -_-.

Siwon mengerjapkan matanya sekali kemudian berkata, “Ini sudah hampir menjelang pagi, lebih baik kita segera pulang”, ucapnya mengalihkan pembicaraan.

“Ya, sebaiknya pulang. Mungkin besok otakku sudah sadar kembali”, kata Yoona berguman pelan.

Samar-samar Siwon dapat mendengar dan melihat gerakan bibir Yoona―membuatnya bertanya. “Apa? Kau mengatakan apa?”.

“Khmm…khmm…”, Yoona merasa tenggorokkannya menjadi geli mendadak. “Ah, aniyo. Aku akan ganti baju dulu”, selesai berkata begitu ia langsung saja berlari menjauh meninggalkan ruangan gelap itu―mendadak lupa akan phobianya akan gelap.

Lampu merah di rambu lalu lintas menyala, Siwon segera menginjak rem untuk menghentikan lajuan mobilnya tepat di simpangan jalan. Terlepas memandang lampu lalu lintas, ia mengalihkan perhatiannya kearah gadis yang baru ia sadari ternyata sudah tertidur dengan pulas. Senyuman tipis mengembang begitu saja diwajahnya, jadi teringat kata-kata sebelum pulang tadi. Yoona meminta agar ia saja yang menyetir, sebagai permintaan terimakasih pada Siwon―katanya. Namun untung saja Siwon menolak, karna jika ia membiarkan gadis itu yang menyetir dalam keadaan mengantuk seperti itu mungkin mereka berdua sudah menabrak trotoar jalan sekarang. Itu jauh lebih beruntung, bagaimana jika sampai menabrak tiang jembatan dan mobil tercebur kedalam sungai.

Siwon tersenyum lagi sambil menggedikkan kepalanya, mencoba menghentikan imajinasinya yang kemudian melirik kembali pada lampu lalu lintas. Warna merah masih bertahan, ia menghela nafas dan menoleh lagi kearah Yoona. Tidurnya terlihat nyaman sekali. Siwon pun melepaskan jaket birunya dan kemudian menjadikannya sebagai selimut untuk Yoona.

♥♥♥

Seorang pria dewasa bertubuh besar dan agak menyeramkan terlihat tengah mengawasi gerak gerik Minho. Sejak berangkat dari rumahnya menuju sebuah restoran yang menyediakan makanan khusus untuk sarapan, pria itu terus saja membuntuti Minho. Entah apa yang tengah ia incar.

“Boleh saya duduk disini?”, tanya pria itu meminta ijin menghampiri.

Minho mendongakkan kepala, keningnya langsung berkerut, ia terlihat heran. Ya, tentu saja. Ia seperti baru melihat orang itu. Tanpa menunggu persetujuan dari Minho, pria itu langsung saja duduk dikursi yang bersebrangan dengannya. “Ah, kau pasti General Manager di perusahaan SPAO milik Choi Group, bukan? Tuan Lee Minho?”.

Lagi-lagi Minho menatapnya heran, dari mana orang ini tahu?

Tiba-tiba pria itu tertawa, Minho berpikir ia sudah seperti orang gila. “Ngomong-ngomong, marga barumu terlihat lebih bagus”.

Marga baru? Apa  maksudnya?. Oh Ya Tuhaaan… Minho mendesah sambil menarik ujung bibirnya. Sial sekali ia harus bertemu dengan orang gila ini. tanpa mengubris sedikitpun apa yang ia bicarakan, Minho kembali menunduk untuk membaca majalahnya.

Pria itu memiringkan pandangan―menoleh kearah majalah yang sedang Minho baca. “Apa kau sangat menyukai fashion?”, tanyanya berbasa basi. Minho hanya tersenyum seadanya tanpa menjawab. “Aku juga sama. Dulu aku adalah mantan pegawai ditempatmu bekerja”.

Minho mengangkat kepala, menatap kearah orang itu dengan rasa tak percaya. Mungkinkah orang dengan berperawakan seperti ini mantai pegawai di SPAO? Rasanya aneh sekali.

“Ya, itu benar, berpuluh-puluh tahun lalu aku bekerja disini. Bahkan aku kenal baik dengan presdir nya. Oh, maksudku mantan presdir nya”.

Lagi-lagi Minho menoleh padanya dengan tanda tanya besar. Ia terlalu beromong kosong daritadi. Minho menutup jilid majalahnya sambil berkata, “Sepertinya aku harus pergi”.

“Bertahanlah disini untuk sebentar, kenapa kau terburu-buru sekali”, pria itu bahkan sudah berani menahan tangan Minho agar tak beranjak dari duduknya. “Aku hanya ingin menanyakan bagaimana kabar ayahmu?”, tanyanya sambil menarik sebelah bibirnya.

Minho rasa orang didepannya ini memang orang sinting, daritadi pembicaraan yang ia katakan tak ada yang ia mengerti satupun. “Maaf, aku benar-benar harus pergi sekarang”. Tanpa banyak berkata-kata lagi Minho segera meninggalkan pria itu berusaha menghindar.

Minho berjalan meninggalkan restoran menuju parkiran sambil mempersihkan tuxedo-nya, takut-takut terkena virus gila dari pria tadi. Sial! Ia baru menyadari jika pria itu daritadi memang sengaja mengikutinya. Selama perjalanan menuju kantor, lewat kaca spion mobilnya Minho mendapati sebuah mobil jeep berwarna hijau tua terus mengikutinya, dan bisa ia pastikan jika orang didalamnya adalah pria gila tadi.

Snapshot - 188

“Apa kita harus masuk kedalam?”.

“Tidak, bodoh! Mereka tidak akan membiarkan kita masuk”.

“Lalu apa yang harus kita lakukan?”.

“Setidaknya sekarang kita sudah mendapatkan umpan..”.

Minho menghela nafas panjang sambil menyandarkan tubuh di senderan kursi kerjanya. Setelah rapat bersama para supervisor tentang masalah promosi dan pemasaran, sekarang kepala Minho terasa sangat berat. Bukan hanya itu saja sebenarnya, tetapi karena selalu terpikirkan akan kejadian tadi pagi. ya―si pria gila yang terus membuntutinya, sebenarnya siapa dia? Dan apa maksudnya sampai harus memata-matainya?

Ia menatap kearah laptopnya, terlihat waktu makan siang telah tiba lewat jam digital disana. Tanpa buang waktu lagi, Minho segera bangkit dari duduknya lalu keluar dari ruangan.

Selang setelah itu ia berpapasan dengan Yoona, nampak tengah melangkah dengan wajah yang berbinar. Minho tahu jelas apa yang membuatnya begitu ceria hari ini.

“Yoona-ssi!”, panggil Minho.

Yoona menoleh kearahnya, “Ah, Kwajangnim Lee”, dan menunduk setelah itu.

“Aku sudah melihat rancangan bajumu tadi. Benar-benar bagus, kau sangat jenius”.

“Sebagus-bagusnya pakaian rancanganku tetap saja masih kalah jauh dari Nona Stella. Itu tidak seberapa, Kwajangnim”, balasnya merendah diri.

“Ani, ini masih permulaan. Sebentar lagi mungkin kau juga sudah bisa menandingi Stella”.

“Itu sangat tidak mungkin”. Mereka pun tertawa bersama.

“Mau makan siang bersama?”, tawar Minho.

Yoona terdiam dahulu, nampak tengah menimbang-nimbang. “Ah josonghamnida Kwajangnim. Sebenarnya aku ingin sekali, hanya saja aku sudah terlanjur ada janji dengan seseorang”.

“Nugu?”.

“Hmm.. nae chin-gu!”.

“Ah geurae? Sayang sekali”, lengguh Minho terlihat kecewa.

“Kita… bisa makan bersama lain waktu”, ucap Yoona mencoba membujuk. “Kwajangnim Lee, aku benar-benar minta maaf”, dengan penuh penyesalan Yoona menundukkan kepalanya dalam-dalam.

Minho tertawa, “Ani, aku hanya bercanda. Pergilah, sebelum temanmu menunggu terlalu lama”.

Dengan pipi memerah, Yoona membungkukkan kepalanya sekali lagi sambil berpamitan. “Gomapseumnida”, saat itu juga ia langsung ngeluyur pergi sambil berlari.

Suara ketukan meja terdengar ketika Siwon mendudukkan dirinya dikursi dengan terengah-engah, “Lama menunggu?”, ia mencoba mengatur nafasnya sambil merebut lemon tea dari tangan gadis yang ada dihadapannya―kemudian meneguknya dengan cepat, bahkan tanpa memakai sedotan.

Tak terdengar jawaban dari orang yang diajaknya bicara tadi. Selepas puas meminum setengah gelas lemon tea, ia menatap kearah Yoona yang tengah menekuk wajahnya tampak kesal. “Aku minta maaf, tadi ada sedikit urusan. Kau sudah pesan makanan?”.

“Hhh.. terserahlah! Aku sudah tidak nafsu makan sekarang”, gerutu Yoona sambil memalingkan wajah dari Siwon, begitu judes.

Siwon tertawa, “Ya, mana boleh begitu. Kau berjanji akan mentraktirku makan, bukan? Lagipula perutku sudah sangat keroncongan sekali”, ujarnya seraya menepuk-nepuk perut.

Terlihat belum ada perubahan. Siwon terdiam, sepertinya ia tengah berpikir.

“Bagaimana kalau kita makan di tempat lain saja?”, perkataan Siwon barusan sukses mengundang perhatian Yoona. Ia menatap Siwon seakan bertanya –kemana?-. Siwon hanya tersenyum, dan yaaaa… sangat manis. Wajah geram Yoona perlahan memudar akibat lesung pipitnya. Sampai akhirnya sesuatu telah menarik tangannya, menyeret Yoona keluar dari cafetaria tersebut.

“Kita akan pergi kemana?”.

Tarikan tangan Siwon begitu erat, membuat langkah kaki mereka juga cepat.

Yoona melengguh berlebihan saat berhasil mendudukkan diri di sofa nyamannya. Kakinya sudah terasa pegal-pegal sekali. Jelas saja, daritadi ia mengelilingi supermarket mencari bahan-bahan makanan. Ya, bukannya mengajakaknya pergi kesebuah restoran mewah atau setidaknya rumah makan di pinggir jalan, Siwon malah mengajak Yoona ke supermarket untuk berbelanja.

“Disini ada pamanggangan kan?”, tanya Siwon yang sudah sibuk menggeledah dapur Yoona. “Celemeknya ada dimana? Im Yoona?”.

“Hufh!! Siwon-ssi, kenapa kau terlihat sangat bersemangat sekali”, lengguh Yoona berjalan dengan lunglai dan wajah yang sudah tak bisa di atur lagi. “Ini”, ia menyodori celemek biru putih bermotif kotak-kotak seperti papan catur.

“Jika kau lelah, lebih baik duduk dengan manis saja disana (meja makan). Biar aku yang memasak”.

Yoona menatap tak percaya, “Jinjja? Kau bisa melakukannya?”.

Siwon tertawa dan balik menatap pada Yoona, “Kau meragukan kemampuanku?”.

Yoona semakin menyipitkan mata, ketidak percayaannya terlalu berlebihan. ia membawa celemek bermotif sama berwarna merah dan memasangkan tali pada tengkuk dan belakang pinggangnya. Siwon terus saja menoleh kearahnya kemudian berujar, “Kita memakai celemek couple? Hh.. haha sudah seperti sepasang suami istri saja”.

Aktifitas tangan Yoona yang masih sibuk memasang tali di belakang pinggangnya menjadi terhenti. Ingin ia segera melepaskan celemek yang hampir terpasang itu, tapi apa boleh buat, ini sudah terlanjur. Ia tahu Siwon hanya bercanda saja. berpura-pura tak peduli, Yoona segera mengambil talenan dan pisau untuk mengiris daging sapi yang masih berada dalam bungkusan sebelum di panggang nanti.

Menyadari bahwa Siwon terus menatap kearahnya, Yoona pun berkata, “Daripada diam lebih baik kau kerjakan yang lain”.

Siwon tertawa sambil berkacak pinggang. “Oh baiklah nona..”.

Diam-diam Yoona ikut tersenyum. ‘Dia aneh’.

Beberapa kaleng minuman kosong sudah memenuhi meja yang berada dihadapan mereka. Setelah menghabiskan makan malam dengan daging sapi panggang, sashimi dan juga kimchi, rasanya sudah lebih dari cukup untuk mengisi perut mereka.

 Snapshot - 161

“Kau tinggal sendiri? Keluargamu dimana?”, tanya Siwon disela-sela obrolan mereka.

Yoona menengok kearah Siwon dahulu, kemudian menelan saliva nya sebelum menatap lagi kearah jendela yang memperlihatkan pemandangan gedung-gedung kota dimalam hari. “Ya, orangtuaku ada di Jinan”.

“Kenapa kau pindah ke Seoul? Apa ada saudara disini?”.

Yoona mendesah, kenapa tiba-tiba Siwon jadi banyak bertanya soal keluarganya?

“Eopseo, aku kesini memang sengaja ingin bekerja”.

Siwon menganggukkan kepalanya, “Ah, arata”.

“Kau sendiri?”, kali ini Yoona yang balik bertanya. “Keluargamu tinggal dimana?”.

“Ditempat yang sangat jauh”, jawabnya tersenyum miris sambil menunduk dan memutar-mutarkan kaleng di genggamannya. Yoona hanya terdiam, ia menyimpulkan bahwa maksud yang dikatakan Siwon tadi adalah orangtuanya mungkin sudah meninggal. Yoona jadi merasa tak enak hati, sepertinya ia salah bertanya. Akhirnya ia hanya terdiam, lebih baik jangan semakin memperpanjang.

 Snapshot - 327

Siwon menghela nafasnya, entah kenapa tenggorokkan nya terasa tercekat. Dengan gerakan cepat ia segera meneguk minuman bersoda itu kedalam mulutnya. Suasana pun berubah menjadi kaku dan dingin.

“Kau tahu, sesuatu yang kita miliki terkadang tak dapat kita nikmati. Hhh.. semua itu malah tak berarti, bukan?”, sekali lagi Siwon meneguk minuman kaleng itu sampai habis.

Yoona menaikkan alisnya, tadi ia tak begitu mendengar dengan seksama perkataan Siwon. Apa maksudnya?

“Siwon-ssi, maaf aku bertanya seperti ini. Hanya saja aku merasa heran denganmu. Oh tidak, maksudku dengan tingkah lakumu yang selalu berubah-ubah. Kadang-kadang kau menjadi Choi Siwon yang banyak tingkah dan amat menyebalkan, tapi tak jarang kau juga berubah dengan bersikap super duper dingin. Dan akhir-akhir ini sepertinya kau berubah lagi. (didalam hati: Menjadi pria yang begitu perhatian dan baik, itu juga termasuk). Bukan aku sok tahu, hanya saja sekarang kau selalu menunjukkan sikap layaknya orang yang tengah memikirkan masalah. Selalu berpura-pura tersenyum padahal didalam hatimu….”, Yoona tak melanjutkan perkataannya. Ia baru sadar bahwa ia sudah terlalu mencampuri urusan pribadi Siwon yang bukan siapa-siapa-nya. “Ah mianhae, aku tak bermaksud begitu”.

Siwon menaikkan sebelah bibirnya, “Sepertinya kau begitu mengerti tentang aku. Apa sekarang kau memang sudah mulai memperhatikanku?”.

Yoona termanga untuk beberapa saat, aliran darahnya naik seketika membuat wajah putihnya sudah nampak merah samar. “Apa yang kau katakan? Aku.. aku tentu saja menyadari itu. Semua orang bahkan akan langsung tahu dengan melihat sikapmu yang selalu berubah. Besok-besok apa lagi? apa mungkin kau akan bermetamorfosa menjadi pria pemarah?… atau jangan-jangan jadi pria yang cengeng?”.

Siwon menunduk sambil bergumam, “Itu mungkin saja terjadi”.

Yoona menoleh kearahnya, suara Siwon terdengar sangat pelan tadi. “Mworago?”.

“Aigooo… tak kusangka keingintahu-anmu ternyata sangat tinggi sekali”, Siwon mencubit dengan gemas kedua pipi Yoona.

“Yaish! Choi Siwon!”, Yoona meronta sambil melepaskan cubitan tangan Siwon dari pipinya. Kini pipi itu makin-makin memerah. Setelah meringis beberapa saat ia berujar, “Siwon-ssi, apa kau mempunyai kepribadian ganda?”.

Minuman yang berada dalam mulut Siwon berhambur keluar sedikit dan menerpa wajah Yoona.  tentu sekarang ia tengah menahan tawa, setelah minuman berhasil turun kedalam tenggorokkannya, barulah tawa Siwon meledak. “Apa katamu?”.

“Kau jorok sekali”, pekik Yoona sambil membersihkan semburan air dari mulut Siwon di wajahnya.

“Hahaha… salahmu sendiri berbicara yang tidak-tidak”, ia mengambil tishu dan membantu membersihkan wajah Yoona.

Yoona terpaku untuk beberapa saat, sampai akhirnya ia mencoba memulai topik pembicaraan baru untuk mengalihkan kegugupannya. “Oh ya, ini sudah malam kedua kau menumpang makan di apartementku. Besok giliranmu untuk mentraktirku makan di restoran Bokchun”.

“Mwoga? Kenapa harus makan diluar? Di apartementku saja”.

“Shireo, apartementmu terlihat sangat menakutkan. Aku yakin kau memelihara banyak roh jahat disana. Seperti yang pernah kulihat”.

“Dia tidak jahat, kau saja yang penakut. Oh benar, sudah lama aku ingin menanyakan tentang hal ini, kenapa kau bisa masuk ke apartementku waktu itu? Dari siapa kau tahu password pintu rumahku? Ayo cepat jawab!”.

“Itu… itu.. karna aku punya indra ke-enam”.

“Mwo? Jinjja? Jangan berbohong, cepat katakan darimana kau tahu?”.

“Aku tak akan memberitahumu”.

“YAK!”.

“HAHAHAHA”.ibl 6 l

♥♥♥

Kenapa ia tiba-tiba menjelma menjadi pria yang begitu menawan? Apa mungkin ia menyukaiku sehingga membuatnya berubah menjadi sangat perhatian seperti sekarang? Ya, mungkin dia menyukaiku. Bukankah cinta dapat mengubah sifat seseorang? Pertama kali bertemu dia selalu ugal-ugalan tiap malam, pulang dalam keadaan mabuk sudah hal biasa ku lihat, apalagi bermain-main dengan wanita-wanita malam di club. Hanya saja akhir-akhir ini aku sudah tak pernah melihat nya pergi keluar dengan wanita yang berbeda seperti dulu. Cap playboy yang kuberikan padanya sepertinya akan langsung aku ‘delete’.

Selain pergi kekantor, melakukan pemotretan, dan ‘berkunjung ke apartementku!’ ia tak akan pergi keluar. Alasan yang terakhir itu paling sering ia lakukan, entah kenapa aku merasa hubunganku dengannya jadi semakin dekat. Aku merasa nyaman, jujur sangat nyaman. Di Soeul ini aku tak punya siapa-siapa, selain Soeun―sahabatku yang tentu punya kesibukan sendiri. tak setiap waktu ia menemaniku. Hanya ‘dia’, sekarang ku katakan hanya dia yang selalu ada mengisi dalam setiap kekosongan. Saat libur kerja, kami selalu pergi keluar dan menghabiskan waktu bersama.

Perubahan ini aku sadari saat kepergian kami ke Nami beberapa bulan lalu. Momen-momen disana adalah awal kedekatan kami berdua. Dia terlihat nyaman bersamaku, aku juga sebaliknya. Sekarang dia tak pernah menyentuhku (nakal) seperti dulu, aku merasa dia memang menghormati ku.

Jadi apa artinya semua ini? Dia menyukaiku kan? Jika memang benar dia menyukaiku….

Aku juga menyukainya!

(Catatan tangan Yoona di diary nya)

♥♥♥

Matahari terlihat belum nampak sama sekali, bahkan langit masih terlihat gelap. Namun pagi ini Yoona sudah terjaga dan siap dengan pakaian olahraganya. Benar, ia akan pergi berolah raga dengan seseorang.

 ibl 6 2

Dengan wajah sangat ceria, ia berlenggak-lenggok didepan cermin. Dilihatnya jam sudah menunjukkan pukul 04.02KTS. Mata coklatnya membulat, segeralah ia berlari untuk mengambil sepatu olahraganya dan bergegas keluar.

real099

Sesampainya ia di halaman gedung apartementnya, dengan berjarak beberapa meter, Yoona dengan nafas nya yang sedikit tersenggal menghentikan dahulu langkahnya. Dari sana terlihat Siwon yang sedang berdiri sambil memegang puching bag tanpa memainkannya.

Sekali lagi Yoona berlari menghampiri, sepertinya ia memang sudah membuat Siwon menunggu lama disana.

“Siwon-ssi”.

“Eo?”, Siwon mengangkat kepalanya dan menoleh. “Sudah siap?”.

Dengan mantap Yoona menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Merekapun memulai olahraga hari ini dengan bersepeda menuju Han-gang Park, taman yang terletak di sepanjang sungai Han dan dibangun sebagai tempat berolahraga dan juga untuk rekreasi.

Bergaul dengan Siwon yang notabene senang berolahraga membuat Yoona terbiasa mengeluarkan tenaga dan keringatnya. Setiap hari Minggu seperti ini mereka akan pergi berolahraga bersama, tentunya ke tempat yang sama juga.

Setelah beristirahat untuk beberapa saat di kursi taman, Siwon dan Yoona meninggalkan sepeda mereka di tempat penitipan dan melanjutkan aktifitas mereka. Selama ber-jogging di sekitar jalan kecil di taman itu, tak jarang sepasang mata mengamati keduanya. Mengira bahwa mereka adalah sepasang kekasih. Bagaimana tidak, bahkan mereka memakai baju olah raga dengan warna senada. Dan itu baru mereka sadari saat setengah matahari sudah nampak. Benar-benar sesuatu yang kebetulan.

Setelah sudah merasa lelah dan puas berlari, keduanya pergi kesebuah kedai ice cream yang sering mereka kunjungi. Satu mangkuk besar yang berisikan ice cream dalam berbagai rasa mereka nikmati bersama. Tak jarang mereka saling menjahili dengan mencolekkan ice cream ke wajah, gelak tawa pun tak terhindarkan. (Too romantic :’3)

Kini sudah waktunya mereka untuk pulang. Sambil mendorong sepeda masing-masing, keduanya berjalan dengan tenang beriringan. Terlihat seorang anak yang tengah bermain sepatu roda berada dibelakang mereka semakin mendekat, sampai akhirnya ia tak dapat menghentikan lajuan sepatu nya yang melaju makin cepat. Anak itu kehilangan keseimbangan dan menabrak Yoona. Tubuh Yoona dan anak laki-laki bertubuh gemuk itu terhempas kedepan.

Siwon panik, bersamaan dengan ibu anak itu―yang daritadi mengawasi sang anak membantu anaknya yang menindih tubuh Yoona untuk berdiri. Disini korban yang terluka parah adalah Yoona, tapi kenapa malah anak itu yang menangis sangat keras.

“Maafkan anak saya agassi”, ibu anak itu menundukkan kepalanya beberapa kali dengan nada menyesal. “Ya Tuhan, pelipismu berdarah. Apa yang harus kita lakukan?”, lanjutnya berubah panik.

Dengan susah payah Yoona hanya tersenyum, mencoba meyakinkan ibu itu bahwa ia baik-baik saja. sang anak tak berhentinya menangis, mungkin ia kaget. “Sudahlah aku tidak apa-apa, ini hanya luka kecil”.

“Sekali lagi aku minta maaf”, pamit ibu itu kemudian menyeret anaknya pergi sambil memarahinya.

“Gwaenchana?”, Siwon menunduk sambil melihat luka yang berada di pelipis Yoona dan memegang kepalanya. “Setelah sampai dirumah nanti aku akan membersihkan lukamu. Kajja”.

♥♥♥

“Aw..aw.. appoya..”, Yoona meringis sambil menjauhkan tangan Siwon yang tengah memberi alkohol dengan kapas untuk lukanya.

“Jika tidak di bersihkan akan infeksi”, dengan satu tangannya Siwon memegang erat kedua tangan Yoona agar ia diam.

“Aw..aw… appo!”.

“Diamlah!”, sentak Siwon sedikit keras. Yoona mempoutkan bibirnya dan terdiam. Siwon sibuk membersihkan luka pada pelipis Yoona, sementara Yoona malah sibuk menatap hidung dan bibir pria yang berada hanya beberapa senti saja dengannya.

“Siwon-ssi, tatap aku”, celetuk Yoona tiba-tiba. Siwon menghentikan aktifitasnya dahulu dan mematuhi perintah Yoona barusan dengan tatapan bingung. “Kenapa kau begitu baik padaku?”. Sepertinya ini sudah saatnya untuk Yoona menanyakan tentang hubungan mereka selama ini.

Siwon terdiam untuk beberapa saat, kemudian tertawa. “Tentu saja harus seperti itu”.

Tak ada keseriusan sama sekali di wajah Siwon saat menjawab pertanyaannya tadi. Karna belum puas Yoona pun berkata, “Bukan itu maksudku”.

Siwon terdiam lagi, tulang jakun di lehernya bergerak keatas. Aktifitas tangannya yang tengah mengobati luka Yoona menjadi terhenti, begitu pula genggaman pada kedua tangan Yoona pun terlepas begitu saja. sampai akhirnya suara bel pintu berbunyi, seakan menjadi penolong dalam suasana mencekam seperti ini, Siwon segera mengalihkan pembicaraan.

“Siapa yang datang?”.

 Snapshot - 227

Bibir Yoona membisu, entah kenapa matanya terasa memanas. Perlahan ia pun mulai berjalan menuju pintu, melihat dahulu tamunya lewat interkom dan Siwon mengikuti dibelakangnya.

Alis Yoona terangkat bingung melihat seorang perempuan berada didepan pintunya, lebih tepatnya perempuan asing yang tak Yoona kenal. Siapa dia?

Baru saja tangannya akan membukakan pintu, Siwon segera mendahuluinya dengan gerakan cepat.

Setelah pintu terbuka, mata Siwon dengan wanita itu terbelalak lebar, sama-sama terlihat sangat terkejut satu sama lain.

“Shiyuan”.

“Ariel”.

Yoona menatap kedua orang itu dengan bergantian. “Nugu?”.

“Kenapa kau kesini?”, tanya Siwon berbicara dalam bahasa mandarin.

“Oh.. tadinya aku ingin menemuimu, tapi ternyata kau tidak ada dirumah. Jadi aku pergi kemari untuk menanyakan… Ya, begitu”.

Yoona hanya terpaku melihat perbincangan yang tak ia mengerti sedikitpun.

♥♥♥

“Kenapa kau bisa ada di Soeul?”.

“Aku mengantarkan Donghae, dia ada urusan disini”.

“Lalu kemana dia sekarang?”.

“Sebenarnya saat sampai di Seoul, Donghae langsung pergi ke Dorasam untuk menemui client nya dan mengantarkanku ke apartemetmu. Maaf jika tak memberitahumu dulu”.

Siwon menarik nafas, “Tidak, tidak apa-apa”.

“Shiyuan, bagaimana kabarmu? Sudah lama kita tidak bertemu”.

“Ya, benar. sudah lama sekali”, jawab Siwon sambil menunduk dan tersenyum. “Kabarku baik-baik saja”.

“Aku senang mendengarnya”, Ariel menatap kedepan sambil menyimpulkan senyuman di bibir kecilnya. Rambutnya melayang seiring dengan besarnya angin saat itu.

Perlahan Siwon mulai mencuri-curi pandang kearah gadis itu, ia masih cantik, sama seperti dulu, batinnya dalam hati.

“Udara disini sangat dingin, lebih baik kita kedalam. Kau bisa kena flu nanti”, ucap Siwon sambil beranjak dari duduknya.

Ariel tersenyum lalu berkata, “Aku senang kau masih perhatian padaku”. Perlahan ia merentangkan kedua tangannya dan melingkarkan lengannya di pinggang Siwon. “Maafkan aku”.

Siwon cukup kaget dengan pelukan yang ia lakukan secara tiba-tiba ini, namun pada akhirnya ia pun membalas pelukan Ariel, gadis yang sempat memenuhi ruang di hatinya, dan mungkin sampai sekarang.

ibl 6 3

Dari jendela kamarnya, Yoona melihat adegan itu. (Siwon dan Ariel berada di halaman gedung apartement).

♥♥♥

Ternyata aku yang terlalu percaya diri, dia tak pernah melihatku, dia juga tak pernah memperhatikanku, dan dia tak mungkin menyukaiku.

Baru saja tadi pagi kita melewati waktu bersama, sekarang dia sudah bersama perempuan lain. hatiku sakit sekali, Tuhan.

Aku salah menilai orang..

♥♥♥

“Yoong, kenapa ponselmu tidak aktif?”, tanya Soeun saat menghampiri Yoona didalam kamarnya.

 Snapshot - 235

Yoona hanya diam dan berdiri bak sebuah patung, wajah dan matanya mulai memerah.

“Yoong, kau kenapa?”, Soeun mulai panik, ia berjalan mendekat kearah Yoona.

Snapshot - 236

Yoona tak juga menjawab. Dengan gerakan cepat, ia memeluk sahabatnya itu dengan erat, cukup membuat Soeun sedikit terkejut.

“Waegeurae? Apa yang terjadi?”.

Dibalik pundak sahabatnya itu, Yoona menangis segukgukkan. “Tidak apa-apa, aku hanya merindukan keluargaku”.

Soeun menggigit bibirnya, merasa cemas akan sahabatnya ini. “Oh Yoong, kalau begitu kau kembalilah. Mereka juga pasti sangat mengkhawatirkanmu”, ucapnya sambil mengelus-elus pundaknya.

Sekali lagi, Yoona hanya bisa menangis dengan keras.

INI ADALAH PROSES UNTUK PENDEWASAANMU, IM YOONA!

♥♥♥

“Donghae-ah, apa kau akan pergi begitu saja? Bahkan baru beberapa jam saja kita bertemu”, seru Siwon saat mengantarkan kepulangan sahabat dan mantan kekasihnya itu ke bandara.

“Mianhae, tapi ini sudah tuntutan pekerjaan. Lain waktu aku akan mengunjungi mu lagi, aku berjanji”, jawab sang sahabat sambil menepuk pundak Siwon.

Siwon hanya tersenyum dan bergumam dalam hati, ‘Ya, lain kali datang berkunjunglah. Tapi bisakah kau jangan membawa wanita ini lagi?’.

Selang setelah itu pengumuman bahwa pesawat menuju Beijing akan segera take off.

“Siwonnie, sepertinya sekarang sudah saatnya kami pergi”.

“Um.. berhati-hatilah”, ucapnya sambil melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan.

Donghae dan Ariel segera berbalik menuju pintu keberangkatan. Siwon tetap berdiri ditempatnya, menatapi kepergian mereka. Tiba-tiba saja Ariel memutarkan kepalanya, dengan wajah penuh penyesalan ia menoleh pada Siwon.

Hanya beberapa detik ia berjalan sambil kepalanya ia tengokkan kebelakang seperti itu hanya untuk melihat Siwon yang kini tengah tersenyum perih, setelah itu ia kembali menatap kedepan kemudian mengaitkan tangannya pada lengan Donghae.

Pasangan yang serasi.

Setelah keduanya sudah benar-benar hilang dari jangkauan Siwon, Siwon menundukkan kepala, menatap sebuah amplop berwarna pink tua di tangannya. Bukan amplop biasa, itu adalah sebuah undangan pernikahan Ariel dan Donghae.

“Jadi, kau menemuiku hanya ingin memberi ini?”.

♥♥♥

Malam ini kota Soeul diguyur hujan yang sangat lebat. Seperti biasa, Yoona akan pulang dengan bus angkutan umum menuju apartementnya.

 Snapshot - 221

Sepanjang perjalanan ia tak dapat konsen. Beberapa hari ini ia memang selalu terlihat murung, semenjak kejadian itu. Kejadian yang telah membuat luka besar dan belum dapat terobati oleh siapapun sampai sekarang. Bahkan seorang Lee Minho yang dulu ia anggap sebagai orang paling menawan yang pernah ia temui, pria paling baik dari pria mana pun tetap saja tak dapat memberikan pengaruh apa-apa padanya. Mungkin memang benar Siwon telah berhasil, ini yang dinamakan cinta, tapi kenapa harus cinta yang penuh dengan kepiluan seperti ini yang harus ia rasakan?

Karma sepertinya memang masih berlaku. Ia juga pernah menolak pria yang mencintainya. Cinta yang bertepuk sebelah tangan benar-benar terjadi padanya.

Lajuan bus berhenti. Yoona dan beberapa penumpang lainnya turun dari bus tersebut. Yoona mendongak, menatap langit gelap yang masih saja menangis. Mungkin langit juga merasakan kesakitan yang tengah ia rasakan sekarang.

Dari halte bus, ia masih harus berjalan agar bisa sampai di gedung apartementnya. Untung saja dia membawa payung, walaupun tetap saja bajunya akan terkena percikan air nanti, karna hujannya memang sangat lebat.

Berjalan dengan payung kuning sambil menunduk kebawah, menatapi aspal hitam yang sudah tergenangi oleh air hujan, suasananya benar-benar melankolis sekali.

Saat mendeteksi ada orang yang akan masuk, pintu gedung apartement itu terbuka secara otomatis. Yoona dengan kaki jenjangnya melangkah masuk. Sesampainya didalam ia langsung di suguhi dengan keributan di bagian resepsionist. Ada apa ini?

Dengan rasa penasaran, Yoona pun menghampiri tempat kejadian untuk mencari tahu.

Choi Siwon―dalam keadaan basah kuyuk, pria itu terlihat tak sadarkan diri.

♥♥♥

Snapshot - 372

Setelah di bantu oleh beberapa security dan penjaga gedung, Siwon sudah berada di tempat tidurnya sekarang. Yoona, yang saat itu juga mendampingi masih terlihat berada menemani Siwon. Karena pria itu sedang demamlah membuat Yoona tak tega jika harus meninggalkannya sendiri. semalaman suntuk wanita itu mengkompresi kening Siwon dan memastikan demannya akan turun. Entah dari mana pria itu pergi sampai-sampai membuat seluruh badannya sangat panas seperti ini.

Yoona menatap kesekeliling kamar Siwon. Ruangan ini tidak terlihat seperti kamar pria, rapi sekali. Ia tersenyum saat mendapati sebuah topeng hantu yang pernah membuatnya jatuh pingsan. Oh, sudah tertipu ternyata.

Dengan posisi yang sangat tidak nyaman, Yoona tertidur di samping ranjang. Mungkin karena baru pulang bekerja membuat seluruh tubuhnya juga terasa lelah. Ia tertidur disana semalaman, dan baru tersadar keesokkan paginya.

Matanya menyipit ketika mendapati sinar matahari yang menelusuk mata nya. Sepertinya diluar sudah siang. Ia menoleh kearah tempat tidur, pria itu masih terlelap. Yoona memutuskan untuk memeriksa keadaannya, ia berjanji ini untuk yang terakhir kalinya. Setelah ini ia akan segera kembali ke apartemetnya.

Masih hangat. Yoona menggigit bawah bibirnya, kemudian bergegas menuju dapur untuk membawa air es yang baru. Setelah menaruh kain yang sudah di celupkan kedalam air es pada kening Siwon, pria itu terbangun.

 Snapshot - 380

Snapshot - 370

Yoona sedikit terkejut, kenapa harus bangun di waktu yang tidak tepat. Dengan segera ia menggeser tempat duduknya agar sedikit menjauh dari tempat Siwon berada, kemudian menarik nafas panjang sebelum berkata, “Semalam kau tidak sadarkan diri. Dokter sudah memeriksamu dan ia bilang kau hanya demam biasa. obatmu ku taruh diatas meja… kau harus memakannya”. Ia bergegas berdiri, “Aku pergi”.

Langkah Yoona terhenti ketika sesuatu telah menahan tangannya kuat.

 Snapshot - 354

“Aku ingin makan, bisa kau buatkan aku makanan?”, suara Siwon terdengar bindeng. Yoona membalikkan kepala akhirnya menatap pada pria yang di benci nya itu. Inginnya ia menolak, hanya saja hatinya malah tak mampu melakukannya.

 Snapshot - 140

Siwon memandangi punggung Yoona yang tengah memasak di dapur miliknya. Susu gingseng yang ada di hadapannya belum ia teguk sama sekali.

Setelah beberapa saat ia segera melemparkan pandangannya kearah lain ketika Yoona sudah selesai dan membawa sebuah mangkuk menuju Siwon. Ia menaruh mangkuk itu tepat di hadapan Siwon lalu ia duduk didepannya.

Siwon menoleh kearah mangkuk berisikan bubur nasi dengan potongan daging ayam dan juga irisan telur dadar di atasnya. Terlihat enak, segera ia mengambil sendok alumunium dan mulai menyantap hidangan yang telah di buat oleh Yoona.

Lidah Siwon yang terasa pahit, tak membuatnya berhenti untuk menghabiskan bubur itu.

“Wanita yang kemarin adalah Ariel, mantan kekasihku”, ucap Siwon tanpa menoleh pada Yoona, ia kembali melanjutkan acara makannya.

Yoona terdiam, ia bahkan tak ingin tahu mengenai itu, kenapa Siwon harus memberitahunya. “Lalu?”.Snapshot - 355

“Ah, tidak!”, pria itu menggeleng, lagi-lagi tanpa menoleh pada Yoona.

Yoona menghela nafasnya lalu bersiap untuk berdiri. “Kupikir sudah tak ada lagi yang kau butuhkan. Aku pergi”. Tanpa banyak berkata-kata lagi Yoona pun meninggalkan kediaman Siwon.

♥♥♥

“Kim Sang Bum, kapan kau akan menikah?”, pertanyaan sang ayah yang cukup membuat telinga Kimbum panas. Bahkan pertanyaan itu sudah berpuluh-puluh kali ia dengar.

“Sudah kukatakan tinggal menunggu waktu yang tepat saja, Appa!”, jawab Kimbum dengan datar. Kali ini bagian sang ayah yang dibuat bosan dengan jawaban putranya yang selalu menjawab pertanyaannya dengan jawaban yang sama.

“Sampai kapan? Umurmu jelas sudah cukup untuk membina rumah tangga, kau adalah putra pertamaku. Segeralah memberi keturunan untuk keluarga kita”.

Kimbum mengerang, menikah saja ia belum, kenapa ayahnya sudah memintanya untuk memberi keturunan. Daripada terus mendengar ocehan dari sang ayah, lebih baik Kimbum menghindar. Baru saja ia berdiri, ayahnya berkata, “Putri rekan kerja Appa banyak yang cantik, kau tak tertarik untuk berkenalan dengan mereka?”.

Ayah Kimbum adalah seorang dokter di sebuah Rumah Sakit di Soeul, ia terbilang ayah yang super sibuk. Jarang berada di rumah, membuatnya sedikit tidak dekat dengan putra pertamanya itu. Mereka yang sama-sama pendiam, jarang melakukan interaksi jika itu tidak terlalu penting. Beda ketika bersama dengan Suji yang sangat cerewet dan banyak bicara, percis seperti ibunya.

Kimbum tersenyum sinis, “Apa Appa lupa jika aku sudah bertunangan dengan Soeun?”.

“Masih bertunangan, kalian belum menikah. Apa perlu menjalin hubungan selama itu tanpa status yang pasti? Apa kau tahu dengan seperti itu kalian berdua hanya buang-buang waktu saja? contohlah Appa dan Eomma mu, berpacaran tak lebih dari setahun kami langsung menikah dan pernikahan kami masih bertahan sampai sekarang”.

Kimbum menghela nafas berlebihan, “Tolong jangan selalu membandingkan aku dengan Appa”. Dengan kaki di hentak-hentak, Kimbum meninggalkan sang ayah di ruang keluarga.

Dari balik tembok, Suji menyaksikan ketegangan diantara kakak dan ayahnya itu. Ia menelan saliva nya, kadang-kadang sang ayah memang akan terlihat sangat menyeramkan seperti monster jika sudah marah.

“Appa”, panggil Suji menghampirinya dan duduk di sebelah ayahnya itu.

“Waeyo?”.

Suji menarik-narik lengan baju ayahnya dengan manja, “Itu… aku.. aku butuh uang untuk membeli buku”. Tuan Kim menaikkan alisnya, ia merasa baru beberapa hari yang lalu memberi uang pada putri bungsunya ini untuk membeli buku. Seakan tahu pikiran ayahnya, Suji pun segera berujar, “Kali ini untuk membeli buku tahun ajaran baru”.

Tuan Kim menghela nafas, “Yah, butuh berapa?”.

Suji tersenyum lebar. Ayahnya memang tak akan berani untuk menolak permintaannya.

♥♥♥

 ibl 6 6

“Bodoh, kalian salah orang. Pria ini bukan keponakanku!”.

“Tapi Tuan, menurut sumber-sumber yang sudah kita kumpulkan, memang dia orang yang sedang kita cari”.

“Aaargh, percuma aku membayar kalian. Benar-benar kumpulan orang yang tolol. Pergi kalian dari ruanganku!”, pria itu memukul meja dengan sangat keras. Membuat para anak buahnya menunduk ketakutan.

“Ah baiklah, Tuan. Kami permisi”.

Setelah para anak buahnya meninggalkan ruangan pribadinya, pria itu mengerang kembali sambil menopangkan kepala dengan tangannya. “Awas saja Choi Kihan, jika sampai sekarang kau menutup mulutmu, aku tak akan segan untuk memotong lehermu di tanganku!”.

♥♥♥

“Akhirnya waktu pulang tiba”, Jihyo menghela nafas panjang kemudian membereskan barang-barangnya ke dalam tas. “Yoona-ssi, apa kau akan ikut makan malam bersama yang lain? Kwajangnim Lee, si tampan itu juga akan ikut”.

Yoona hanya tersenyum kecil, “Aku sedang tidak ada mood, badanku juga sudah lelah sekali rasanya. Jadi ingin segera pulang saja, mungkin aku akan bergabung lain waktu”.

“Aah.. sayang sekali. Makanan gratis kok kau tolak. Yasudah, kalau begitu aku duluan..”.

“Deh, selamat bersenang-senang”.

Yoona terdiam, beberapa detik kemudian ia membalikkan badan untuk pulang. Namun tiba-tiba seseorang sudah berdiri saja didepannya.

“Tak pergi?”, tanya Siwon.

Yoona hanya menggelengkan kepalanya lalu lanjut melangkah.

“Aku akan mengantarkanmu pulang”.

Yoona mengangkat kepalanya dan menatap geram kearah pria bertubuh jangkung itu. “Tidak perlu!”.

 ibl 6 7

Seorang diri di malam yang dingin, Yoona melangkahkan kakinya mengitari jalanan di sekitar jembatan Banpo yang terkenal karena merupakan jembatan terpanjang di Seoul itu. Ia terlihat sangat linglung, bahkan jalanan yang ia tapaki sekarang bukanlah arah menuju apartementnya. Entah kemana ia akan pergi.

Pikirannya seakan kabur, bahkan ia tak memperhatikan arah jalanan dihadapannya. Perasaanya mungkin ia tengah berjalan di troroar jalan, namun kenyataannya ia sudah menginjak aspal jalan raya.

“Tiit…tiiit…tidiiiiiittt….”, sebuah klakson mobil berbunyi dengan keras membuat Yoona terlonjat kaget. Namun seseorang telah menarik tangannya dan membawanya ke pinggir jalan. Padahal jika saja telat beberapa detik, mungkin Yoona sudah tertabrak mobil tadi.

“Yak! Apa kau ingin bunuh diri? Berjalan di tempat ramai seperti ini”, sang supir mobil mengoceh hebat. Nada kesal begitu kentara terdengar.

“Mianata, ahjussi. Teman saya yang salah”, Siwon menundukkan kepalanya.

Sang supir itu pun mulai melajukan kembali mobilnya dan pergi.

Sekarang, giliran Siwon yang nampak kesal dengan sikap gegabah Yoona barusan. “Apa yang kau lakukan? Tadi kau hampir saja mempertaruhkan nyawamu”.

Yoona balik menatap Siwon dengan emosi yang memuncak. “Seharusnya aku yang bertanya mengapa kau ada disini? Apa kau mengikutiku, eoh?”.

Siwon menghela nafas sambil berkacak pinggang. “Ya, aku memang mengikutimu”.

“WAE?”.

“KARNA AKU MENGKHAWATIRKANMU!”, jawab Siwon, bahkan tanpa berpikir.

Yoona tersenyum getir, “Sejak kapan kau mengkhawatirkanku, Choi Siwon?”.

“Apa masih perlu dibahas. Sekarang sudah larut malam, lebih baik cepatlah pulang”.

“ANDWAE!”, Yoona menghempaskan tangan Siwon di pundaknya. “Choi Siwon-ssi, apa sebenarnya kau memang ingin membunuhku pelan-pelan? Di hadapanku kau selalu berpura-pura baik dan berlagak sangat peduli padaku, jika pada akhirnya kau hanya ingin mempermainkan aku lebih baik kau pergi jauh-jauh dari hidupku. Kau tahu, melihatmu di dekatku, pertahananku semakin jatuh. Aku mencintaimu. Aku berkata aku memang mencintaimu. Namun kau tak juga merasakan hal yang sama bukan? maka dari itu, buat aku melupakanmu, jauh-jauh lah dari hidupku, walapun kau tak dapat membalas apa yang ku rasakan sekarang, setidaknya kau membantu aku untuk melupakanmu! Jika pada akhirnya kau selalu saja menunjukkan dirimu di hadapanku itu sama kau sudah menyiksaku”, ucap Yoona dengan nada tinggi dan mulai terisak. Ia sudah tak dapat lagi menahan emosinya.

“Jangan menyukai pria sepertiku, aku tak pantas untukmu”, ucap Siwon sepelan mungkin.

“Kau mengatakan kau tak pantas untukku, atau sebenarnya aku yang tidak pantas untukmu? Katakan saja yang sejujurnya”.

Siwon mulai ikut terbawa emosi sekarang. “Jika kau tahu dengan menyukaiku akan membuatmu tersiksa lalu kenapa kau lakukan? Kau tahu aku bukan pria baik-baik, aku hanya seorang pria berandalan yang tak butuh cinta”, ucapnya, kali ini dengan nada yang tak kalah tinggi dengan Yoona.

“Kau benar-benar seorang pria yang brengsek.. tidakkah kau mengerti sedikitpun bagaimana perasaan ku sekarang?”.

“Tidak”.

“Sungguh pria jahat..”.

“Aku memang jahat”.

“Aku …sangat membencimu Choi Siwon…”.

“Bencilah aku, aku memang pantas untuk itu”. Bahkan seperti tanpa penyesalan Siwon mengutarakan kalimat itu lalu pergi meninggalkan Yoona begitu saja.

Dada Yoona terasa semakin sesak, inginnya ia menangis dengan sekencang mungkin. Tapi ini adalah tempat umum, tentulah ia harus bisa mengontrol diri.

Setelah menenangkan diri untuk beberapa saat, Yoona mulai melangkah lagi. kakinya terasa sangat lemas, ia tak pernah menyangka jika ia akan di sakiti oleh seorang pria sampai seperti ini.

Sampai akhirnya seseorang dari belakang berlari kearahnya kemudian menarik tangan Yoona dan memeluknya dengan begitu posesif cukup lama.

“Aku takut.. sekarang harus bagaimana?”, ucap Siwon dengan bergetar. perlahan Siwon mulai melonggarkan pelukannya dan beralih mencium pipinya dalam, setelah itu memeluknya kembali. Ia tahu gadis itu akan sangat kaget dengan sikapnya tadi, namun entah kenapa hati Siwon tergerak untuk melakukan itu. Ia tak pernah mengijinkan siapapun untuk mencintainya (benar-benar mencintainya), hanya saja untuk sekarang, hatinya seolah tak rela untuk melepaskan gadis ini.

 ibl 6 4ibl 6 5

***To Be Countinued***

#Behind The Scenes

Yoona: Ouh mataku sakit sekali.. di episode kali ini aku banyak menangis..

Siwon: (Memberikan obat tetes mata)

Soeun: Ini semua gara-gara dirimu Choi Siwon! Kau sudah apakan anakku ini? (berteriak dan merangkul Yoona)

Siwon: (Melotot) Ah mianhae eommonim, aku sudah salah (menundukkan kepala)

ketiganya tertawa..

Yoona: Siwon-ssi, apa kau mempunyai kepribadian ganda?

Siwon: (Minuman yang berada dalam mulut Siwon berhambur keluar sedikit dan menerpa wajah Yoona)  Prrrttt…prtttt… HAHAHAHA

Yoona: Oppaaa serius, kau sudah melakukannya beberapa kali!

Siwon: ne..ne.. mianhaee…  (mengambil tishu dan membantu membersihkan wajah Yoona.

(Setelah pintu terbuka, mata Siwon dan Ariel terbelalak lebar, sama-sama terlihat sangat terkejut satu sama lain)

Areil: Shiyuan

Siwon: Ariel

Yoona: (menatap kedua orang itu dengan bergantian) Nugu?.

Siwon: Kenapa kau kesini? (berbicara dalam bahasa mandarin)

Ariel: Oh.. tadinya aku ingin menemuimu.. Nggg.. saya lupa

CUT!

Mereka kembali ke posisi awal..

Tiba-tiba seseorang berteriak: YOONA-SSI, WAJAHMU KENAPA?

Para Kru tertawa..

Yoona: Aniyooo…

Siwon: (tertawa sambil mengacak-acak rambut Yoona)

(Saat istirahat, Siwon dan Yoona terlihat berada di restroom berduaan. entah apa yang Siwon lakukan, namun Yoona terlihat begitu marah sambil memukul-mukul lengan Siwon dengan cemberut. sementara Siwon malah tertawa terbahak-bahak)

Asisten Sutradara: Ya Ya kalian.. syuting akan segera dimulai.. jangan bermain-main terus.

(Namun mereka berdua tak menghiraukan..)

Asisten Sutradara: Aeuh… Aigooo.. lihatlah tingkah artis kita! (menggaruk2 kepala frustasi)

Siwon: Sekarang sudah larut malam, lebih baik cepatlah pulang

Yoona: ANDWAE! (menghempaskan tangan Siwon di pundaknya). Choi Siwon-ssi, apa sebenarnya kau memang ingin membunuhku pelan-pelan? Di hadapanku kau selalu berpura-pura baik dan berlagak sangat peduli padaku, jika pada akhirnya kau hanya ingin mempermainkan aku lebih baik kau pergi jauh-jauh dari hidupku. Kau tahu, melihatmu di dekatku, pertahananku semakin jatuh. Aku mencintaimu. Aku berkata aku memang mencintaimu…

Siwon: (menyela) ya sudah.. aku juga mencintaimu.. (tersenyum geli)

Para Kru: Eeeeiiiiiiiii…… ada cinta lokasi disini.. hahahahaha

Yoona: (mengulum bibirnya menahan senyum)

(Siwon mencium pipi Yoona sangat dalam sambil memejamkan matanya Yoona masih terisak kemudian mereka berpelukan. setelah beberapa lama suara CUT! tanda take gambar sudah selesai, keduanya langsung saling melepaskan diri)

Kru: SUDAH BEKERJA KERAAASSS!!!

Siwon dan Yoona: (menundukkan kepala mereka)

#######

AKU TAHU INI AMBURADUL BANGET, AKU BIKINNYA CUMA BEBERAPA JAM AJA COBA BAYANGKAN.. KARNA MAU PERGI KELUAR KOTA JADI GAMAU SEMAKIN DITUNDA-TUNDA MAKANYA AKU SUPER NGEBUT.. MAAF KALO BANYAK KEKURANGAN.. AKU MENYADARI AKAN HAL ITU.. TOLONG KOMEN YA TEMAN-TEMAN [?]… SIANG INI MAU PERGI BANGET.. KA ECHA AKU TITIP BLOG :***** SAMPAI KETEMU LAGI MINGGU DEPAAAAAAAN .. ANYYEONG.. ANYYEONGGGGG *langsung mandi* xD kkkkk perlu banget gitu ya ditulisss…

Tinggalkan komentar

228 Komentar

  1. Cha Wang

     /  Desember 9, 2014

    cepet lanjutin eonnie,, aku sudah tidak sabar untuk menunggu kelanjutan ny

    Balas
  2. avicenna

     /  Desember 14, 2014

    siwom jangan terlalu keras hati dong kan kasihan yoona
    ,

    Balas
  3. ririn

     /  Desember 24, 2014

    Ya gila gila gua nggk ngerasa thor ternyata gua baca sampe jam 2malem hahah soalnya ff ya keren, episot ini gua nangis feelnya kena bgt pas yoona ngungkapin prasaannya huaaak😥 siwon kau begitu ahhh😥
    udah deh thor asli gua baru nemu ff yg ada behind the scean hahah berasa kaya syuting2 aja tapi itu unik berbeda sama2 ff lain, pertahanin thor, cepet dilanjut ceritanya thor, keep spirit!!

    Balas
  4. ayufebry

     /  Januari 4, 2015

    Cptan d’lnjut donx part.na,udh g’sbar nich nnggu” crita slanjut.na,gmna 5 ayah.na siwon ya?♬αƥα♬ bkal sdar ntar?bwt siwon.na jgan jdi plyboy lg ♬αƥα♬!udh mlai jtuh cinta bneran gt og!

    Balas
  5. RELLY

     /  Maret 5, 2015

    Yoonwon…. pilihlah akhirnya wonpa ga bisa melepaskan yoona so sweet… penasaran ama lanjutannya… ditunggu….

    Balas
  6. author yg bAik hati , kog g di truzin lg , pdahal saya dah nungGu nungGu ampe ngakar nie . ayolah autor yg baik hati lanjtin lg please please..

    Balas
  7. Rumini

     /  Maret 22, 2015

    Ceritanya bgus thor…
    Ku penasaran ma kisah yoonwon dan hyunzy….
    Hbis ini yoonwon jadiankah???
    Aaagghh… tlong lnjutin dong thor…
    Jaebal..;-)

    Balas
  8. Han Eun Sub

     /  Maret 26, 2015

    Aku suka ceritanya , author chapter selanjutnya dong

    Balas
  9. Keren nih ff mantap, semoga aj siwon yoona cepet jadian, wah ariel mantan siwon, jadi yg ngejar ngejar kelg siwon sendiri ya pasti gara gara harta atau malah berebut harta wariasa ah kesian siwon ama bokap nya, semoga appa siwon segera sadar ya dr koma , kira kira siwon bakal cerita kah ke yoona, penasaran nih am next lanjut ya thor

    Balas
  10. Kim eun ah

     /  April 22, 2015

    Aku suka banget sama nih cerita😀 ,kelanjutannya apa yang akan terjadi yah? Apakah yoonwon bakal jadian? Aku masih penasaran cerita tentang keluarga wonpa

    Balas
  11. theopanti

     /  Juni 30, 2015

    Gak sengaja gitu liat foto siwon sm yoona, trus buka blog ini. Kali pertama jg gue baca ff. Sumpah keren banget. Btw next episodenya blm keluar apa ada dmna ya??? Hehee mau tau kelanjutannya thor. Big applaus buat authornya😄👏👏

    Balas
  12. theo

     /  Juni 30, 2015

    Please😓 kasih tau episode 7 dan selanjutnya dmna? Penasaran sumpah😥
    Lanjut thor😊

    Balas
  13. nytha91

     /  September 27, 2015

    Ohh nooo…knp to be continuenya disaat mau romantis sih….huhuhu…lanjutin pleaseee

    Balas
  14. paris

     /  Desember 2, 2015

    Ah seneng banget ngeliat mereka🙂 akhirnyaa yoona ngungkapin juga kalau di mencintai siwon🙂 ngga sabat nunggu cerita selanjutnyaaa🙂

    Balas
  15. Deery00ng

     /  Januari 7, 2016

    Berharap ni ff bkal dilanjut . .
    Sumpah kangen bgt ma karya2 mu unN . .

    Balas
  16. jessica sonelf

     /  Februari 9, 2016

    Kangeennnnn :”(
    Dilanjutin dongggg thor i believe in love nya hiksssss ..
    Sesepuh banget ff ini… haha
    Ayolaahhh kerennn ceritanya sayang bgt thor kalo “digantungin” (?) .. lg seru2 nya nih part terakhirnya part 6 ini… pleaseeeeeee T.T
    Ini aku baca lg untuk yg kesekian kalinyaa, sukaaaaaa ..😄
    Part 7 pleaseeeee admin gee :”(

    Balas
  17. adenyaYOONA

     /  Maret 23, 2016

    ditunggu part 7 nyaaa😉

    Balas
  18. simiati

     /  April 15, 2016

    ceritanya keren thor, jadi nggak sabar nunggu cerita selanjutnya

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: