Really Love You (Flashback : Loveliest Gift)

cover really love you

Tittle               : Really Love You (Flashback : Loveliest Gift)

Author            : Tika Pink / Tika Sheila EverlastingFriend

Email/Twitter             : tika_pinky@rocketmail.com / smantikalove@gmail.com / @SangRa_ELF

Main Cast      : Im Yoona, Choi Siwon

Other Cast     : Kim Taeyeon

Genre             : Romantic, Sad or set by your self

Length            : One Shoot

Rating             : PG + 15

 

Hi Hi Hi … author pink kembali menyapa readers YWK tersayang … ^^

Aku datang membawa ff yang mungkin ngebosenin. Kemarin waktu baca coment-coment Loveliest Gifts banyak yang bilang penasaran kok bisa langsung kayak gitu. Nah, jadi aku bawa flashbacknya kesini untuk menjawab rasa penasaran itu. Mungkin ff ini udah cukup basi tapi gak apa-apalah. Jadi kalau kalian ngerasa gimana soal ending ff ini silahkan kembali baca Lovelist Gift aja #plakkk. Sequelnya masih dalam proses pengerjaan. So, buat kalian yang penasaran teukidot aja. Don’t be SILENT READERS ya … !!!^^

 

#Enjoy#
Yoona Pov

Aku terpaku menatap pekarangan depan rumah dari balik tirai jendela kamarku. Menatap dengan tatapan kosong, seakan sudah tak ada gairah lagi untuk hidup. Hatiku yg kini hampa & kesepian seakan tak bisa lagi menyembunyikan bahwa sebenarnya ada luka di dalamnya. Luka yg tercipta karna orang yg tidak seharusnya ak…u biarkan masuk dgn seenaknya dalam kehidupanku & sekarang org itu juga yg seenaknya pergi & meninggalkan luka yg begitu dalam & sulit untuk kusembuhkan.
Entah berapa lama aku terpaku sampai akhirnya dikagetkan dengan dering HP-ku. Aku segera meraihnya dari tempat tidurku. Dilayar muncul nama Taeyeon Eonni, aku segera menjawabnya.
“Yeoboseo!!!”sapaku.

“Yoong, kau ada dimana?”tanya Taeyeon dari seberang.

“Aku dirumah, eonni. Wae?”

“Aniya, aku hanya ingin tau saja. Oh ya, jangan lupa kau harus datang malam ini.”

“Ne. Aku pasti datang. Aku tak mungkin melewatkan acara ulangtahunmu.”

“Joah. Nanti akan ada surprise juga untukmu.”

“Surprise? Yg ultah kan eonni, knapa aku jga dapat surprise?”

“Nanti saja kau lihat. Pokoknya kau harus datang.”kata Taeyeon eonni lalu memutuskan hubungan telfon.

***
Suasana pesta yg meriah begitu terasa dikediaman keluarga Taeyeon. Aku masuk di tengah-tengah keramaian & langsung mencari sosok Taeyeon eonni. Aku sudah tak sabar ingin segera mengucapkan selamat ulangtahun kepada sahabatku yg telah aku anggap seperti kakakku sendiri. Pasti malam ini dia tampil cantik sekali & pasti Jungsoo oppa dengan setia bersamanya. Maklum lagi kasmaran. Tapi sebelum aku menemukannya, justru dia yg lebih dulu menemukanku.

“Yoong, akhirnya kau datang juga. Kenapa lama sekali?”tegurnya sambil tersenyum manis. Seperti dugaanku dia memang tampil cantik dengan balutan gaun berwarna violet.

“Mian eonni, tapi aku kan tidak terlambat. Ini untukmu. Saeng-il chukkae eonni.”kataku seraya menyerahkan kado yg aku bawa & mencium kedua pipinya.

“Kumao!”ucapnya senang.

“Jungsoo oppa dimana?”tanyaku karna tak melihat Jungsoo oppa.

“Dia sedang bicara dgn tamu lain. Oh ya, acaranya akan dimulai. Kita ke tempat pemotongan kue, kajja!”ajaknya sambil menarik tanganku. Aku pun hanya bisa pasrah mengikutinya.
Setelah acara pemotongan kue, aku memilih untuk memisahkan diri karna Taeyeon eonni juga harus melayani tamunya yg lain. Meski ditengah-tengah keramaian seperti itu tapi aku tetap saja merasa kesepian. Aku mengambil minuman yg ditawarkan pelayan lalu membawanya ke halaman samping rumah yg tidak begitu ramai karna tamu-tamu yg lainnya masih menikmati santapan malam di dalam ruangan. Aku menatap kolam renang yg dihiasi dgn balon-balon dengan beraneka macam warna. Aku berusaha menikmati ketenangan dari tempat ini. Entah berapa lama aku berdiri diam sambil menatap kolam sampai akhirnya seseorang mengusikku.

“Ternyata apa yg dikatakan noona tentangmu yg berubah menjadi penyendiri itu benar.”ujar sebuah suara dari belakangku. Suara itu terasa sangat familiar. Meski rasanya aku telah lama tak mendengarnya, tapi suara itu tak bisa aku lupakan. Serta merta akupun menoleh ke asal suara itu & ternyata memang benar. Suara itu adalah miliknya.

“Sedang apa kau disini?”tanyaku dingin. Marah & rasa benci tiba-tiba merasuki tubuhku sampai ke tulang-tulang sumsum. Dia berjalan menghampiriku. Menatapku dan tersenyum memperlihatkan lesung pipitnya.

“Noona mengundangku.”jawabnya santai. “Apa kabarmu Yoong?”tanyanya setelah itu. Aku hanya tersenyum sinis. Lalu hendak pergi meninggalkannya. Tapi dia lebih cekatan. Dia mencekal tanganku.

“Apa yg kau lakukan? Lepaskan tanganmu dariku.”kataku sambil menatapnya sengit. Aku berusaha melepaskan tangannya tapi cekalannya cukup kuat.

“Aku ingin bicara denganmu Yoong.”

“Sayangnya aku tak ingin bicara denganmu & mendengar apapun darimu.”kataku ketus.

“Apa kau membenciku?”

“Kau bisa merasakannya sendiri. Lepaskan aku!”

“Sirreo! Aku tak akan melepaskanmu sebelum kita bicara Yoong.”

“Sejak tadi aku telah membuang waktuku dengan mendengar semua kata dari mulut namja brengsek sepertimu.” aku sudah tidak bisa menahan emosiku lagi.

“Yoong, aku tau kau marah padaku karna aku meninggalkanmu. Tapi aku tak pernah bermaksud seperti itu. Aku tak pernah sedikitpun ingin pergi dari kamu. Saranghaeyo Yoong…!!!”ujarnya mantap. Aku menatapnya lekat.

“Mworago? Saranghae? Aisshhh…”aku benar-benar kesal & muak mendengar ucapannya itu.

“Tutup mulutmu Choi Siwon!!! Aku bukan lagi gadis yg bisa kau bodohi seperti dulu. Saranghaeyo? Dulu kau jga pernah mengatakan hal yg sama. Tapi apa? Kau pergi meninggalkanku d’saat aku mulai merasakan cinta itu. Kah bahkan tak pernah memberi kabar meski hanya sebuah titik. Kau bahkan seperti menghilang begitu saja.”

“Yoong…”

“Jangan sebut namaku dengan mulutmu itu. Aku muak mendengar kau menyebutkan namaku. Apa kau tau bagaimana tersiksanya aku? Apa kau tau apa yg aku rasakan? Sekarang kau tiba-tiba muncul dihadapanku dan bilang cinta.?! Neo jeongmal nappeun saramia …!!!”ujarku sengit tanpa memberikan kesempatan untuknya bicara. Aku merasakan kelonggaran ditanganku & tanpa membuang waktu aku segera menghempaskan tangannya dengan keras. Aku berjalan menjauh darinya.

“Yoong, aku tau kau mungkin membenciku karna hal itu. Tapi aku tak pernah menginginkannya. Aku juga tersiksa & aku benar-benar mencintaimu.”katanya setengah berteriak. Tapi aku tetap melangkah dengan pasti tanpa mau menoleh padanya. Tapi tiba-tiba Taeyon eonni menghalangiku.

“Yoong, tolong beri siwon kesempatan untuk menjelaskannya. Kau jangan egois seperti ini!”kata Taeyeon.

“Eonni?! Apa eonni sekarang ada dipihaknya? Apa eonni lupa dengan apa yg telah diperbuatnya padaku?”tanyaku emosi.

“Yoong, bukan seperti itu. Aku…”

“Kumanhae. Aku tidak ingin mendengar apapun lagi. Ternyata eonni sama seperti dia. Kalian tak pernah memperdulikan perasaanku. Kalian hanya ingin menyakitiku. Apa maksud eonni mengundangnya kesini? Padahal eonni tau seperti apa usahaku untuk melupakannya. Aku benci kalian!!!”kataku setengah menjerit saking emosinya. Amarah itu kian merasuk ke dalam tubuhku. Aku segera melangkah pergi dari tempat itu tak perduli dengan semua tatapan para tamu padaku.

***

Marah, sakit, perih seakan menusuk hatiku. Luka ini bahkan belum sembuh. Luka yang berusaha aku obati, kututupi dengan rapat kini seakan terkoyak kembali. Berdarah dan semakin perih. Kenapa namja itu harus datang ke kehidupanku? Kenapa aku harus merasakan sesakit ini? Kenapa dia hadiir lagi?

Aku tak tahu lebih tepat apa yang sebenarnya aku rasakan. Aku marah, sakit, tapi aku tak mampu untuk membencinya. Wajahnya, senyumnya, suaranya bahkan semua kenangan indah bersamanya masih selalu terbayang dibenakku. Aku tak bisa melupakannya. Aku merindukannya.

***
“Yoong, kita perlu bicara.”kata Taeyeon. Aku hanya menatapnya sinis dan meneruskan langkahku menuju ke parkiran. Sudah seminggu ini aku tak pernah menggubrisnya meskipun dia datang untuk minta maaf. Aku masih merasa sangat marah.

“Yoong…Jebal…!!”Taeyeon mencekal tanganku. Aku menghempaskan tangannya dengan keras.

“Tak ada yang ingin aku bicarakan denganmu eonni. Jangan ganggu aku.”

“Yoong, aku minta maaf kalau aku sudah mengecewakanmu. Tapi tolong jangan seperti ini. Aku sama sekali tak berniat untuk menyakitimu.”ujarnya sambil terisak. Apa aku menyakitinya? Apa aku keterlaluan?

“Eonni, kau yang paling tau apa yang aku rasakan selama setahun ini karna orang itu. Tapi kenapa kau melakukannya juga padaku? Aku mempercayaimu eonni!”kataku kesal. Tapi justru pada diriku sendiri karna tak tahan melihat Taeyeon yang menangis.

“Mianhae, jeongmal mianhae Yoong. Aku melakukannya karna aku ingin kalian menyelesaikan kesalahpahaman diantara kalian. Siwon masih sangat mencintaimu Yoong.”

“Eonni, kumanhae. Aku tak ingin mendengar segala sesuatu tentangnya lagi.”
“Tapi Yoong…”

“Eonni, jebal. Jangan buat aku sampai membencimu karna kau terus-terusan membahas orang itu.”kataku memotong kalimat Taeyeon. Dia pun mencoba mengerti.

“Arasso. Aku tak akan membahasnya lagi. Tapi aku mohon padamu tolong beri dia kesempatan setidaknya untuk menjelaskan semuanya kepadamu. Aku hanya tak ingin kau menyesal nantinya.”ujar Taeyeon sambil menggenggam tanganku. Aku hanya diam. Tak tahu harus menjawab apa.

***
Aku merebahkan tubuhku di atas pembaringan. Tanpa sengaja pandanganku tertuju pada sebuah miniatur piano kaca yang terletak di rak buku. Aku berdiri dan meraih miniatur itu. Masih teringat dengan jelas saat Siwon memberikannya di anniversary kami yang ke-3. Tak terasa air mataku mengalir.

Kenapa aku tak bisa membenci orang itu bahkan setelah dia menyakitiku? Kenapa?
Aku merindukannya. Aku merindukannya. Tuhan, aku sakit bukan karna dia meninggalkanku. Aku sakit karna aku merindukan namja itu. Aku merindukan Choi Siwon.

“Yeppeun eonni, bunchawasoyo” Bunyi itu mengalihkan perhatianku. Sebuah sms masuk ke handphoneku. Aku merogoh saku mengambil Hp. Sebuah sms dari nomor yang tak kukenal. Aku segera membacanya.

Yoong, aku ingin menemuimu.

Aku menunggumu di tepi sungai Han.

Aku akan menunggumu sampai kau datang.


Siwon

 

Apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus menemuinya?

Aku bingung. tiba-tiba saja aku teringat kata-kata Taeyeon tadi.
“Aku mohon berilah dia kesempatan untuk menjelaskan padamu. Aku tak ingin kau menyesal nantinya.”
Tuhan, apa yang harus aku lakukan? Jika ini salah, tolong katakanlah padaku.

***
Aku berjalan menghampiri seorang namja yang berdiri di samping mobil audi berwarna silver. Ya, aku akhirnya memutuskan untuk menemuinya. Menemui namja yang pernah menyakitiku. Ani…lebih tepatnya aku berjalan menemui sosok yang aku rindukan selama ini. Dia menoleh ke arahku & tersenyum. Senyuman yang sangat aku rindukan. Aku menghentikan langkahku. Dapat aku lihat senyuman itu hilang perlahan dari wajahnya.

“Tuhan, jika ini salah tolong biarkan ini menjadi benar.”batinku. Seketika itu juga aku berlari dan langsung menghambur dalam pelukannya. Aku tak ingin kehilangannya.

“Yoong!”suara itu terdengar lembut ditelingaku. Aku dapat merasakan tangannya akhirnya memeluk pinggangku. Pelukan itu semakin erat seakan mencurahkan semua rindu yang selama ini tertahan. Untuk beberapa saat aku membiarkan diriku hanyut dalam pelukannya. Bahkan saat ini aku telah melupakan semua rasa sakit yang pernah aku rasakan. Yang ada hanya rasa rindu dan cinta yang masih melekat dalam hatiku untuk namja ini. Untuk Choi Siwon. Perlahan kami saling melepaskan diri. Dia menatapku lekat.

“Yoong, mianhae. Jeongmal mianhae. Aku selama ini telah melukaimu. Aku hanya …”

“Oppa, tolong jangan membahasnya. Aku tidak perduli dengan apa yang telah kau lakukan padaku. Aku tidak ingin mendengarnya apalagi membahasnya. Aku telah melupakannya Oppa.”kataku dengan pasti.

“Yoong …”

“Oppa, kau tidak menyakitiku. Aku yang menyakiti diriku sendiri.”air mata tak tertahan lagi.

“Oppa, bogosippoyo. Aku sangat merindukanmu sampai rasanya aku akan mati.”ujarku sambil terisak. Dia kembali meraihku ke dalam pelukannya. Aku menangis.

“Na do Yoong. Aku juga terasa ingin mati karna merindukanmu. Mianhae, telah membuatmu menunggu terlalu lama. Saranghaeyo Im Yoona.”ucapnya.

“Tuhan, aku tak perduli jika semua ini akan sakit lagi. Aku tak perduli jika kebahagiaan ini hanya sesaat. Yang aku tahu aku sangat merindukannya, aku sangat mencintainya, aku tak ingin kehilangannya lagi. Tolong biarkan aku Tuhan merasakan kebahagiaan ini bersamanya.”ucapku dalam hati.

***
Setelah malam itu hari-hariku seakan ceria kembali. Aku maupun Siwon menikmati kebersamaan kami yang sempat hilang. Tak ada lagi sakit, tak ada lagi perih apalagi benci. Luka dihatiku seakan sembuh seketika tanpa bekas. Saat ini yang paling penting adalah menikmati hari-hariku bersamanya. Hari-hari yang hanya ada cinta dan kerinduan. Sama seperti halnya malam ini, aku begitu merindukannya. Ku tekan angka 1 di handphoneku, fast call untuk My Lovely Simba .

“Yoboseo.”sapanya setelah menjawab telfonku.

“Oppa, kau sedang apa?”tanyaku sambil tersenyum kecil.

“Aku sedang berdiri di depan rumahmu.”

“Mwo?”tanyaku tak percaya. Sekilas aku melirik jam dindingku. Sudah jam 10 malam. Mengapa dia datang selarut ini?

Aku membuka tirai jendelaku dan benar saja Siwon oppa sedang berdiri sambil menatap ke arah jendela kamarku.

“Kenapa oppa datang selarut ini?”

“Aku merindukanmu. Cepatlah kesini. Apa kau tega membiarkanku berdiri kedinginan di luar tanpa memelukmu?”

“Arasso.”kataku seraya mematikan telfon lalu turun untuk menemuinya.

“Oppa, kenapa kau datang selarut ini?”tanyaku lagi setelah berhadapan dengannya.

“Bogosipda my deer. Apa kau tidak mendengarnya tadi?”katanya seraya meraihku ke dalam pelukannya. Aku tersenyum senang.

“Mwoya? Sejak kapan kau menjadi namja yang gombal Choi Siwon?”tanyaku sambil mendongakkan kepalaku untuk melihat wajahnya.

“Sejak aku mencintaimu.”aku tersenyum kecil mendengar jawabannya. Dia mengecup keningku dengan lembut dan tindakannya itu berhasil membuat pipiku terasa hangat. Aku melepaskan diri dari pelukannya.

“Yoong, kau sangat cantik. Senyumanmu, jangan sampai hilang lagi ya!”ucapnya. Entah kenapa aku merasa ada yang aneh dengan nada bicaranya.

“Oppa, waegure?”tanyaku agak khawatir.

“Ani… aku hanya merasa bersalah pernah membuatmu kehilangan senyuman itu. Mianhae!”

“Oppa, aku kan sudah katakan untuk tak membahasnya lagi.”kataku tulus. Dia hanya tersenyum dan mengangguk.

“Arasso. Tapi aku ingin kau berjanji satu hal padaku maka aku juga berjanji takkan membahasnya lagi.”

“Janji seperti apa?”

“Kau harus janji jangan lagi menyakiti dirimu sendiri hanya karna memikirkanku. Bahkan kalau aku sekarat sekalipun aku tak ingin melihatmu terluka dan menangis. Aku ingin kau selalu tersenyum seperti ini untukku dan untuk semua orang. Jangan membiarkan orang melukai hatimu lagi. Terutama aku.”katanya dengan begitu serius sambil menatapku dalam.

“Oppa, kenapa kau berbicara seakan-akan kau akan menyakitiku lagi. Aku bahkan tak ingin bertanya keberadaanmu selama kau menghilang. Apa kau berniat untuk pergi meninggalkanku tanpa kabar lagi?”tanyaku khawatir. Aku mencoba mencari tahu jawaban dari pertanyaanku lewat matanya. Namun nihil.

“Aniya. Aku takkan meninggalkanmu seperi itu lagi. Aku hanya tidak ingin melihatmu terluka lagi. Maka dari itu tolong berjanjilah padaku Yoong.”pintanya tulus.

“Arasso, aku janji akan melakukan seperti yang kau katakan tadi. Tapi kau juga harus berjanji jangan pernah meninggalkanku tanpa kabar lagi oppa.”

“Ne, ne my lovely deer.”ucapnya seraya tersenyum. Aku membalas senyumannya dengan tulus. Perlahan dia mulai mendekatkan wajahnya ke arahku. Aku tahu apa yang akan dia lakukan dan aku tak ingin menghindar. Perlahan ku katupkan kedua mataku dan seketika itu juga aku merasakan sentuhan lembut bibirnya dibibirku. Dia mencium bibirku dengan lembut. Mengulum bibirku tanpa memaksa. Perlahan Aku membuka sedikit mulutku, memberinya celah untuk membuat ciuman itu lebih dalam lagi. Selama beberapa menit kami terhanyut dalam ciuman yang memabukkan itu sampai akhirnya melepaskan diri. Dia mengecup puncak kepalaku.

“Sudah larut. Kau harus segera masuk dan aku harus pulang.”katanya sambil membelai pipiku.

“Ooo. Hati-hatilah di jalan oppa.”

“Oo. Masuklah.”katanya. Aku mengangguk. Baru saja aku berbalik dan melangkahkan kakiku, tiba-tiba dia langsung menarikku lagi ke dalam pelukannya.

“Saranghae Yoong. Jeongmal saranghaeyo.”ucapnya sambil memelukku lebih erat lagi.

“Na do saranghae oppa.”kataku. Perlahan pelukan itupun dilepaskan.

“Masuklah. Kau akan sakit jika terlalu lama di luar.” aku mengangguk. Lalu berjalan masuk ke dalam rumah. Setelah sampai di kamar, aku mengintipnya dari jendela kamrku dan beberapa saat kemudian. Dia pun menjalankan mobilnya meninggalkan rumahku.

***
Sowoneul malhaebwa! Ni maeumsoge inneun jageun kkumeul malhaebwa.

ni meorie inneun isanghyeongeul geuryeobwa.

Geurigo nareul bwa. Nan neoui Genieya, kkumiya, Genieya. (Genie_SNSD)
Suara dering handphone mengusik tidurku. Dengan malas aku menjawabnya tanpa melihat siapa yang menelfon di tengah malam seperti ini.

“Yoboseo!”sapaku malas dan dengan suara yang berat karna masih setengah tertidur.

“Yoong, cepatlah siap-siap dan tunggu aku di depan rumahmu. 10 menit lagi aku akan sampai. Sekarang aku masih dalam perjalanan ke sana.”kata si penelpon yang ternyata adalah Taeyeon. Aku melirik jam wekerku. Baru pukul 1 dini hari.

“Apa yang terjadi eonni? Kenapa kau ingin menjemputku selarut ini? Memangnya kita mau kemana?”tanyaku.

“Kau tak perlu bertanya. Cepatlah Yoong.”katanya lalu sambungan telfon itu diputus secara sepihak. Dengan malas aku bangun.

“Apa yang sebenarnya terjadi? Taeyeon eonni ingin mengajakku kemana selarut ini?”aku bertanya-tanya dalam hati. Ada sedikit keanehan yang tiba-tiba saja aku rasakan. Tapi aku tak mengetahuinya dengan jelas.

***

Aku berdiri di depan gerbang rumahku. Udara yang sangat dingin kian menusuk. Bahkan dengan memakai mantel dan syal saja tak cukup unt…uk menghalau rasa dingin itu. Tapi sebenarnya apa yang terjadi hingga Taeyeon eonni mengajakku pergi disaat seperti ini? Apa ada sesuatu yang penting sehingga dia tak bisa menunggu hingga hari terang?

Rasa penasaran kian menghantui kepalaku. Ada sedikit rasa aneh juga dengan perasaanku. Entahlah, aku akan mengetahuinya setelah bertemu dengan Taeyeon eonni.
Aku mengedarkan pandanganku dan beberapa saat kemudian Taeyeon menghentikan mobilnya di depanku tanpa mematikan mesinnya.

“Naiklah, palli.”katanya dengan nada sedikit memerintah.

“Tapi kita mau kemana eonni?”tanyaku penasaran.

“Kau akan tau nanti. Ayo naik, palli.”aku pun mengangguk dan segera naik ke mobilnya.

“Eonni, apa hal ini sangat mendesak sehingga kau bahkan tak bisa menunggu pagi?”tanyaku. tapi Taeyeon tidak menjawab. Dia lebih fokus mengemudi.

“Eonni?!”tegurku, tapi tetap saja tak digubris olehnya. Akhirnya aku menyerah dan memilih untuk duduk diam di sampingnya. Selama perjalanan kami hanya diam. Tak ada yang bersuara.

Entah sudah berapa menit berlalu sampai akhirnya Taeyeon menghentikan mobilnya di area parkir sebuah rumah sakit.

“Kita sudah sampai. Ayo!”ajaknya sambil melepaskan seatbeltnya dan turun dari mobil. Aku pun mengikutinya.

“Eonni, kenapa kita ke sini? Siapa yang sakit?”tanyaku penasaran. Tapi dia tak menjawabnya malah menarik tanganku dan dengan sedikit berlari kami masuk ke dalam rumah sakit itu. Aku semakin penasaran dengan apa yang terjadi saat ini. Tanpa bertanya pada suster piket, dia terus saja menarikku dan dengan masih berlari sehingga tak ada pilihan bagiku selain mengikutinya. Dapat aku lihat kekhawatiran tersirat dari wajahnya. Tapi, ada apa ini?

Taeyeon akhirnya berhenti berlari saat kami sampai disebuah lorong rumah sakit. Secara perlahan dia pun melonggarkan genggemannya di tanganku tapi tak melepaskannya. Aku mengarahkan pandanganku ke depan. Aku melihat dua orang paruh baya yang sangat aku kenal sedang berdiri di depan sebuah ruangan. ICU.

Ada apa ini?

“Ommonim?!”dengan ragu-ragu aku menegur seorang ahjumma yang berdiri di depan pintu ruangan ICU dengan dipeluk oleh suaminya saat aku & Taeyeon sudah berada di dekat mereka.

Wanita itu memandangku dan segera menghambur memelukku.

“Yoona-ya,,, kenapa ini harus terjadi? Aigoo, sesanghae …!!!”katanya sambil terisak dalam pelukanku.

“Ommonim, waegure?”tanyaku. Dia melepaskan pelukannya dan kembali lagi terisak dipelukan suaminya.

“Yeobo, tenanglah!”ujar suaminya sambil mencoba menenangkan istrinya yang masih terisak.

“Abonnim, apa yang terjadi? Siapa yang ada di dalam ruangan ini?”tanyaku semakin penasaran. Tiba-tiba saja kekahawatiran menyelimutiku.

“Yoona-ya, Siwon sedang berjuang melawan penyakitnya!”jawab orang itu yang tak lain adalah Tn.Choi, ayah Siwon oppa. Mendengar kalimat itu membuat tubuhku terasa lumpuh seketika. Taeyeon eonni langsung menahan tubuhku agar tak jatuh. Sedangkan Ny. Choi semakin terisak dipelukan suaminya.

Aku menatap Taeyeon eonni yang berada di sampingku. Dia menangis.

“Eonni,… bisakah kau menjawab pertanyaanku sekarang? … Sebenarnya,,, sebenarnya apa yang sedang terjadi saat ini?”tanyaku terbata-bata. Dia memelukku. Aku segera mendorongnya, melepaskan pelukan itu.

“Eonni, tolong jawablah pertanyaanku! Apa yang sebenarnya terjadi?”tanyaku agak lebih keras dan agak menuntut. Dia menatapku. Mungkin mencoba menerka kesiapan hatiku.

“Yoonggi-ya, Siwon … Siwon …” Air matanya kian deras mengalir.

“Siwon oppa kenapa? Ada apa dengannya? Jawab eonni! Kenapa kau menangis?”tanyaku sambil mencengkeram bahunya. Dia kembali menatapku.

“Siwon…dia sakit Yoong. Dia sakit parah.”jawabnya dan mulai terisak. Seketika itu juga aku terduduk lemas di lantai rumah sakit yang dingin itu. Kakiku seakan lumpuh. Tak sanggup menahan berat badanku lagi. Taeyeon segera merangkulku.

“Yoong…!”

“Aniya, maldo andwhae. Eonni, kau hanya bercanda kan? Ini semua tidak benar kan?”tanyaku coba menyangkal. Tapi pertanyaan itu sebenarnya aku tujukan untuk diriku sendiri.

“Ini kenyataan Yoong. Siwon sedang berjuang di dalam. Dia mengidap kanker hati Yoong. Itulah mengapa dia pergi menghilang tanpa kabar Yoong.”jelas Taeyeon. Aku tidak percaya semua ini. Lebih tepatnya aku tidak ingin percaya dengan apa yang baru saja aku dengar.

“Kenapa hal ini harus terjadi pada Siwon? Kenapa hal ini harus terjadi pada anak kita?” Suara tangisan Ny. Choi kian menyayat hati.

“Tenangkanlah dirimu yeobo. Ini semua sudah takdir dari yang di atas. Tuhan memberikan cobaan ini pada kita karna Tuhan tau kalau kita pasti akan sanggup melewati semua ini. Yang harus kita lakukan sekarang adalah berdoa semoga Siwon bisa selamat.” ujar Tn. Choi mencoba untuk lebih tenang dan mencoba memberikan ketabahan pada istrinya itu. Sedangkan aku hanya bisa duduk dengan lemas bersandarkan pada Taeyeon eonni.

“Tuhan, tak bisakah kau menyelamatkannya untukku? Aku tak ingin kehilangannya lagi Tuhan…”pintaku dalam hati.

***
Aku tak tau sudah berapa lama aku, Taeyeon eonni dan kedua orangtua Siwon oppa menunggu. Orangtuaku juga ikut menunggu bersama kami di luar ruangan ICU. Setelah Taeyeon eonni menelfon ke rumah mengatakan apa yang terjadi, mereka langsung menyusul kesini.
Akhirnya pintu ICU terbuka dan seorang dokter dan timnya keluar dari ruangan itu. Aku berdiri dengan dibantu oleh Taeyeon eonni. Sedangkan orangtua oppa segera menghampiri dokter itu.

“Seungmin-aa, bagaimana keadaan Siwon?”Tanya Tn. Choi pada Seungmin ahjussi. Dia merupakan dokter keluarga Choi dan juga paman dari Taeyeon eonni.

“Dia selamat kan? Siwon masih hidup kan?”Ny.Choi ikut bertanya. Seungmin ahjussi melepaskan masker dan kaca matanya. Aku memandangnya dengan penuh harap. Tapi Seungmin ahjussi hanya menghembuskan nafas yang berat.

“Mianhaeyo, aku dan timku sudah berusaha melakukan yang terbaik.”ucapan Seungmin ahjussi mematahkan harapanku dengan sekali pukulan. “Saat ini Siwon memang masih hidup tapi kondisinya sangat kritis. Sel kankernya sudah menyebar hingga ke seluruh fungsi hati bahkan sudah menyebar ke organ vital yang lain. Dia ingin bertemu dengan kalian semua. Mungkin ada yang ingin dia sampaikan. Masuklah!”kata Seungmin ahjussi. Dia menepuk pelan pundak Tn. Choi lalu beranjak pergi bersama timnya. Meninggalkan kami berempat yang masih berdiri di depan pintu ruangan itu.

Aku tak tahu apakah aku masih bisa bertahan setelah mendengar hal itu. Seluruh tubuhku terasa sangat lemas seketika. Aku bahkan tak sanggup melangkahkan kakiku untuk masuk ke ruangan itu untuk menemui Siwon oppa. Aku merasa benar-benar tak sanggup sampai Taeyeon eonni membimbingku masuk.

“Yoong, kau harus kuat. Setidaknya di hadapan Siwon saat ini. Karna dia pasti tidak mau melihatmu lemah dan rapuh. Itu tidak akan memudahkan jalannya Yoong.”kata Taeyeon eonni mencoba menguatkanku. “Kau harus tunjukkan padanya bahwa kau baik-baik saja, bahwa kau cukup tangguh untuk menghadapi semua ini. Aku yakin itu bisa jadi kekuatan juga untuknya, Yoong!”lanjutnya masih mencoba memberi kekuatan padaku. Tiba-tiba terngiang kembali ditelingaku kalimat yang diucapkan Siwon oppa semalam.

“Kau harus janji jangan lagi menyakiti dirimu sendiri hanya karna memikirkanku. Bahkan kalau aku sekarat sekalipun, aku tak ingin melihatmu terluka dan menangis. Aku ingin kau selalu tersenyum untukku dan semua orang. Jangan membiarkan orang melukai hatimu lagi. Terutama aku.”

Aku memeluk Taeyeon sesaat. Lalu aku mengangguk. Aku mencoba mengumpulkan sisa-sisa kekuatan yang masih ada ditubuh dan pikiranku. Benar, aku harus kuat. Aku tidak boleh terlihat rapuh apalagi menangis di hadapannya. Aku sudah berjanji padanya. Aku akan memberikan kekuatan untuknya. Meskipun rasanya sangat menyakitkan, aku harus bertahan. Setidaknya untuk saat ini dan karna aku sudah berjanji padanya.

Dengan penuh keyakinan aku memasuki ruangan itu. Taeyeon eonni menggenggam erat tanganku. Mencoba menyalurkan sedikit kekuatannya padaku. Aku menghampiri Siwon oppa yang terbaring dengan berbagai macam alat medis terpasang ditubuhnya. Ny. Choi masih saja terisak dipelukan suaminya. Siwon oppa tersenyum dan mencoba menenangkan ibunya dengan sisa-sisa kekuatan yang masih dia miliki. Dengan perlahan dia mengalihkan pandangannya padaku saat aku berada di dekatnya. Dia meraih tangan kananku dan menggenggamnya erat. Bahkan dengan kondisinya yang lemah dan wajah yang pucat pasi seperti itu dia masih bisa menatapku dan tersenyum dengan manis padaku.

“My deer, kau datang juga! Kumao Yoong.” Ucapnya masih tetap tersenyum. Aku pun berusaha tersenyum padanya dan membendung air mataku yang rasanya tak tahan lagi ingin mengalir.

“Tentu saja aku harus datang. Aku tidak ingin kalau aku sampai tak melihat oppa pergi seperti saat oppa meninggalkanku dulu. Aku takkan membiarkan oppa pergi tanpa mengatakan apapun padaku. Bukankah oppa sudah janji padaku? Apa oppa tak ingat janjimu semalam?”kataku berusaha sedikit bercanda.

“Kau benar. Aku sudah berjanji. Kumao, karna telah mencegahku untuk mengingkarinya.” Ucapnya. Aku mengangguk pelan.

“Kenapa kau tidak pernah mengatakan hal ini padaku oppa?”aku tak tahan untuk tidak bertanya mengenai rahasia yang telah dia sembunyikan dariku selama ini. “Kenapa kau merahasiakannya oppa? Sebenarnya kau menganggapku apa sampai kau merahasiakan hal sepenting ini dariku? Aku bahkan nyaris membencimu. Aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri jika kau kembali setelah semua terlambat. Mianhae oppa karna aku tidak begitu peka.”sesalku.

“Sudahlah Yoong. Bukankah kau tak ingin kita membahasnya? Kau yang memintaku untuk tak membahs lagi mengenai kepergianku.”ucapnya tersenyum. Benar, aku yang memintanya untuk tak membahasnya. Aku tak seharusnya bertanya seperti itu. Yang terpenting saat ini adalah berdiri tegar di sisinya.

“Aku disini untukmu oppa.”kataku masih berusaha untuk tersenyum tegar didepannya.

“Kumao Yoong sudah mau menepati janjimu untuk tetap tersenyum di saat seperti ini. Lihatlah omma sangat cengeng. Aku mulai takut jika kau juga akan menjadi seperti itu karna aku.”katanya seraya menunjuk ibunya yang masih terisak dipelukan Tn.Choi.

“Aku bukan orang yang suka melanggar janjiku oppa. Kau bahkan baru bertemu denganku semalam tapi sekarang aku yang harus menemuimu di tempat seperti ini.”

“Ooo. Kau memang selalu menepati janjimu. Jika saja waktu bisa diputar kembali, aku tidak akan pernah melakukan hal bodoh dengan menyia-nyiakan waktuku meninggalkanmu dulu. Jeongmal mianhae Yoong.”

“Oppa…”

“Kau tau Yoong, aku sangat bersyukur karna Tuhan masih memberiku kesempatan untuk melihatmu tersenyum seperti ini. Meskipun kesempatan yang diberikan-Nya sangat singkat, tapi ini lebih dari cukup untukku. Aku bersyukur telah dilahirkan dan dibesarkan oleh orangtua yang sangat baik dan mencintaiku. Aku punya teman-teman yang baik dan terlebih lagi aku sangat bersyukur karna bisa mencintai dan dicintai olehmu, Yoong! Kalian semua benar-benar anugerah yang tak ternilai yang telah diberikan Tuhan untukku.” Ucapnya dengan suara yang mulai terdengar berat. Meskipun begitu dia tetap menatapku dengan tersenyum. Dia lalu mengalihkan pandangannya ke orangtuanya.

“Omma, kenapa kau masih menangis? Tak bisakah kau tersenyum untukku?”tanyanya pada ibunya. Itu lebih seperti permintaan daripada pertanyaan. Perlahan Ny. Choi melepaskan diri dari pelukan suaminya. Kemudian menghapus air matanya dan mencoba tersenyum menghampiri Siwon.

“Aniya, omma tidak menangis. Omma hanya kelilipan.” Kata Ny. Choi tersenyum tipis. Siwon oppa terlihat senang dengan perubahan ibunya itu.

“Omma, kau harus jaga kesehatanmu. Selama ini omma mengabaikan diri sendiri hanya karna merawatku. Mianhae, karna aku selalu menyusahkan kalian dan terima kasih karna kalian telah merawatku, mencintai dan menyayangiku selama ini. Aboji, tolong jaga omma. Butakhaeyo! Mianhae, karna aku tak akan bersama kalian lagi. Aku sangat mencintai dan menyayangi kalian, omma, aboji.” Ucap Siwon dengan penuh ketulusan. Ny. Choi tak sanggup lagi menahan air matanya. Seketika itu juga Ny. Choi memeluk Siwon oppa dengan perasaan yang tak terungkapkan. Dia mencium kening Siwon oppa dengan penuh kasih sayang. Lalu kembali menangis dipelukan suaminya. Aku bisa membayangkan bagaimana rasa pilu seorang ibu sepertinya yang tau akan kehilangan anaknya sebentar lagi. Orangtuaku pun tak bisa menahan rasa haru mereka melihat kejadian itu. Aku melihat omma yang juga menangis dipelukan appa.

“Abonnim, Ommonim, kamsahabnida karana telah baik padaku selama ini dan memberiku kesmpatan untuk mengenal Yoona lebih dalam. Nomu kamsahabnida.” Katanya sambil menatap omma & appa.

“Siwon-aa, kau tak perlu berterima kasih untuk itu. Kau juga anak yang baik.” Kata omma. Siwon tersenyum. Lalu dia menoleh pada Taeyeon eonni.

“Noona, kumao. Selama ini kau menjadi sahabat dan kakak yang sangat baik untukku dan Yoona. Kumao, karna berkat noona aku bisa mengenal Yoong. Kurigu, mianhae karna telah menyusahkanmu selama ini untuk menjaga Yoong & memberiku semua informasi tentangnya saat aku tak ada di sisinya. Kau adalah salah satu orang yang sangat berjasa dalam hidupku noona. Mianhae kalau aku harus menyusahkanmu lagi. Tolong jaga Yoong, noona. Karna…”kalimat Siwon oppa mulai terbata-bata. Nafasnya juga semakin berat. Aku mulai khawatir dan menggenggam tangannya dengan erat. “Karna… a… ak…ku tak bisa lagi menjaganya!”lanjutnya dengan susah payah.

“Yaaa, Choi Siwon, jika kau terus berbicara seperti itu kau bisa membuatku menangis.” Jawab Taeyeon eonni sambil mencoba bercanda. Siwon oppa tertawa kecil. Lalu dia kembali menatapku. Genggamannya makin erat tapi tetap lembut dan penuh kasih.

“Yoong, kumao karna telah hadir dalam hidupku dan menjadi salah satu orang yang sangat berarti untukku. Aku benar-benar merasa menjadi orang yang paling beruntung di dunia karna memilikimu di sisiku. Jika Tuhan memberikan kesempatan pada kita untuk terlahir kembali, aku ingin tetap terlahir sebagai Choi Siwon yang nantinya bisa bertemu denganmu dan mencintaimu seumur hidupku. Jeong…mal…sarang…haeyo…Im Yoona…!!!” ucapnya dengan nafas yang kian berat dan lemah.

“Na do oppa! Nan neol saranghae! Jeongmal saranghae Choi Siwon…!!!”kataku membalas pernyataannya. Aku mengecup keningnya yang mulai terasa dingin dengan segenap perasaan cinta dan sayangku terhadapnya. Dia menahan kepalaku sejenak dan memberikan kecupan yang lembut dan sepenuh hati di keningku. Lalu mengecup bibirku singkat. Kecupan-kecupan seperti ini mungkin tak akan aku dapatkan lagi darinya.

Dia tersenyum sambil mengusap lembut pipiku. Sekuat tenaga aku menahan air mata yang sudah ingin mengalir. Dia tak boleh melihatku menangis. Sesaat dia mengambil sesuatu di bawah bantalnya dan menyerahkannya padaku. Sebuah amplop yang berwarna pink & biru cerah bercorakkan gambar hati kecil-kecil.

“Jangan dibuka sekarang! Besok sa..ja…!!!” aku mengangguk dan segera menyimpan amplop yang kemungkinan berisi surat itu ke saku bagian dalam mantelku.

“A…aku…pengen kau tetap menjadi Im Yoona…yang aku ke…nal slama…ini…!!! Tetap ce…ria dan te…gar! Saranghayo Yoong! Jeongmal saranghae!”katanya terbata-bata dan dengan napas yang semakin lama semakin berat. Setelah itu dia menggumamkan kalimat yang lemah dan nyaris tak terdengar. “Jangan menyakiti dirimu sendiri lagi, Yoong. Mianhae, kumapda, kurigu saranghaeyo my little deer.”

Aku merasakan genggaman tangannya melemah dan dengan perlahan dia menutup matanya. Mata yang takkan pernah dia buka lagi. Dia tlah pergi dengan senyum tersungging manis di wajahnya. Meninggalkan semua orang yang dia sayangi dan menyayanginya. Dia telah pergi meninggalkanku.

Seketika itu juga Ny. Choi memeluknya dengan perasaan sedih. Ruangan itu menjadi penuh kesedihan dan tangis dari orang-orang yang ditinggalkannya. Orang-orang yang menyayanginya.
Aku terduduk lemas disisi pembaringan dengan masih menggenggam tangannya yang kini telah dingin dan kaku. Tatapanku kosong. Aku merasa jiwaku ikut terbawa bersamanya sehingga raga ini ikut tak bisa bergerak. Sama seperti raganya yang kini terbujur kaku tanpa nyawa. Aku tak tahu dan tak perduli lagi dengan apa yang terjadi di sekelilingku saat ini. Bahkan air mata yang sejak tadi coba kutahan, tak mengalir juga. Sehingga tangisan itu hanya bisa kulakukan dalam hati saja.

Dia telah pergi meninggalkanku dan kali ini dia tidak akan pernah kembali lagi. Choi Siwon, namja yang mencintaiku dan yang aku cintai…telah pergi untuk selama-lamanya.

***
Aku duduk di samping peti mati yang kini terbaring tubuhnya yang dingin dan kaku. Dia telah mengenakan kemeja putih yang dilapisi setelan tuxedo hitam lengkap dengan dasi berwarna biru favoritnya. Dasi yang pernah aku berikan untuknya. Kakinya sudah memakai sepasang sepatu yang berwarna hitam mengkilat. Aku menatap tubuhnya lalu wajahnya yang tersenyum kaku.

“Kau sangat tampan oppa! Bahkan kau masih bisa tersenyum seperti ini! Senyuman yang selalu aku rindukan dan takkan pernah aku lihat lagi setelah ini. Aku juga takkan merasakan pelukan hangatmu yang penuh kasih dan juga sentuhan bibirmu yang lembut di wajahku. Padahal baru semalam kau melakukan semua itu padaku tapi beberapa jam kemudian kau sudah meninggalkanku dengan semua kenangan itu. Apa kau tidak berpikir kau telah melakukan hal yang kejam padaku?” ucapku dalam hati.

“Yoong, Siwon akan segera ditutupi dan dibawa ke tempat pemakaman. Ayo berdiri” Kata Taeyeon eonni yang sejak tadi duduk di sampingku. Aku mengangguk. Aku menatap wajah Siwon oppa yang telah tertutup dengan tirai kain berwarna putih transparan. Ku singkap sedikit kain itu.

“Annyong, oppa! Baik-baiklah disana! Jika Tuhan mengijinkan kita untuk terlahir kembali, kau harus menemuiku dan mencintaiku lagi. Karna aku akan mencintaimu bukan hanya dikehidupan ini, tapi juga di tujuh kehidupan yang akan datang! Saranghaeyo, jeongmal nomu saranghayo my lovely simba!!!” ucapku seraya mengecup kening Siwon oppa untuk terakhir kalinya dengan seluruh rasa cintaku yang ada untuknya. Setelah itu aku bangkit berdiri di sisi Taeyeon eonni. Tn. dan Ny. Choi ikut memberikan kecupan terakhir di keningnya sebelum akhirnya peti itu ditutup dan wajah Siwon oppa tak terlihat lagi.

***
Pemakaman berlangsung sangat khidmat. Semua orang terdekat, keluarga, teman-teman maupun kerabat ikut hadir mengantarkan kepergian Siwon oppa.

Aku merasa ada yang telah hilang dari hidupku dan ikut pergi bersamanya. Sesuatu yang sangat berarti. Amat sangat berarti. Cinta dan separuh jiwaku telah hilang dan pergi bersamanya. Aku merasa hanya seperti punya raga tanpa jiwa. Benar-benar hampa. Aku sendiri tak tahu apakah aku masih bisa bertahan setelah kehilangan cinta dan separuh jiwaku itu. Aku seakan berada di suatu tempat asing yang aku tak tahu kemana arah tujuanku.

Setelah pemakaman aku tidak langsung pulang, melainkan mampir sebentar di rumah duka. Aku beristirahat mencoba menghilangkan beban yang terasa sangat berat ini di kamar Siwon oppa. Melihat suasana kamarnya yang rapi dan identik dengan warna biru cerah. Warna favoritnya. Di setiap sudut dindingnya terpajang beberapa fotoku dan fotonya. Di meja belajarnya dan samping pembaringannya juga ada fotoku bersamanya. Aku meraih foto yang terletak di samping pembaringannya. Fotoku bersamanya saat merayakan hari jadi hubunganku dengannya yang ketiga. Foto yang diambil sebelum dia pergi meninggalkanku tanpa pamit dan kabar karena tak ingin aku tahu tentang penyakitnya. Dan kali ini dia telah pergi meninggalkanku untuk selamanya. Aku berbaring di pembaringannya dan mendekap foto itu erat. Seakan itu bisa menggantikannya. Aku benar-benar ingin memeluknya. Aku merindukannya.

Untuk beberapa saat aku terlena dalam lamunan dan kenangan tentangnya. Setelah itu aku pamit. Aku juga merasa tidak seharusnya aku berlama-lama di kamar Siwon oppa karna aku sadar bukan hanya aku saja yang berduka dan kehilangan dia, tapi masih ada yang lebih berduka dan lebih kehilangan daripada aku.

Aku meminta Taeyeon eonni mengantarkan aku ke taman. Tempat favoritku bersama Siwon oppa. Tempat di mana aku bisa meluapkan semua rasa sedih ini. Taeyeon dengan setianya mengantarkanku tanpa mengeluh sedikitpun. Aku benar-benar beruntung bisa punya sahabat seperti dia.

Sesampai di taman, aku duduk di sebuah bangku yang terdapat sebuah pohon mapple rindang di sampingnya. Kemudian aku merogoh tas tanganku, mengeluarkan sebuah amplop yang diberikannya semalam. Aku membuka amplop itu dengan sangat hati-hati dan dugaanku ternyata benar. Ada sepucuk surat yang didalamnya. Aku pun mulai membacanya.
Dear My Little Deer (Im Yoona)

Only One in My Heart


Yoong, surat ini sengaja aku tulis untukmu. Jika kau membaca surat ini, itu berarti aku sudah tak ada di sisimu lagi. Aku sudah pergi meninggalkanmu dan semua yang ada di dunia ini untuk selamanya menuju ke peristirahatan yang panjang.

Yoong, mianhae kalau dulu aku pernah meninggalkanmu. Aku tahu tindakanku itu sangat bodoh dan egois. Aku tahu kau sedih, hatimu sakit, terluka, bahkan mungkin akhirnya kau membenciku sehingga kau tak ingin melihatku lagi saat kita bertemu di pesta ulang tahun Taeyeon. Aku benar-benar takut saat itu dan yang perlu kau tahu, hal yang paling aku takuti adalah kalau kau akan membenciku. Karna aku tidak akan sanggup dan tak akan bisa jika harus dibenci olehmu. Saat dokter mengatakan tentang penyakitku, aku sama skali tak takut karna aku bisa saja meninggal sewaktu-waktu, tapi aku takut kalau sampai kau tahu. Aku tak ingin kau sedih dan ikut memikirkan hal ini. Aku tak ingin tiap kita bersama akan ada yang memikirkan soal penyakitku. Maka terlintas dipikiranku untuk meninggalkanmu. Aku berpikir mungkin dengan meninggalkanmu, kau akan terbiasa tanpa aku. Kau akan sakit hati dan akhirnya membenciku. Itu adalah tujuannya. Jadi kau tak akan terlalu bersedih jika aku harus meninggal karna kita nggak punya hubungan apa-apa lagi. Tapi ternyata malah aku yang tak sanggup dan tak ingin jika aku harus dibenci oleh orang aku cintai. Akhirnya aku memutuskan untuk menemuimu lagi. Meski harus menerima resiko kau tak akan mema’afkanku. Aku tidak sanggup jika aku tak melihatmu. Na neol saranghae, Yoong.

Yoong, selama ini sebenarnya aku tidak terlalu jauh darimu. Aku hanya bersembunyi darimu bukan pergi darimu. Aku tetap selalu melihatmu meskipun hanya dari jauh. Aku juga selalu berhubungan dengan Taeyeon noona beberapa bulan terakhir ini agar bisa slalu tahu keadaanmu. Taeyeon noona banyak membantuku agar bisa bersamamu lagi. Dia sudah mengetahui soal penyakitku sejak setahun terakhir ini. Itu pun tanpa sengaja karna dia sempat melihatku saat aku melakukan chek up di RS. Sejak itu aku mulai berhubungan dengannya. Dia benar-benar sahabat juga sosok kakak yang baik untuk kita.

Yoong, aku tahu selama kepergianku waktu itu kau jadi berubah. Kau tidak ceria lagi. Kau sering murung. Jeongmal mianhae untuk semua itu dan juga untuk tangis yang pernah kau keluarkan karna perbuatanku. Kau tahu, aku juga sebenarnya tersiksa dengan hal itu. Aku ingin ada di sampingmu, ingin memelukmu, ingin jadi sandaranmu jika kau sedih. Tapi ternyata aku menjadi orang yang membuatmu terluka. Aku mulai takut jika aku akan kehilanganmu yang aku kenal. Aku takut jika aku harus melihat yeoja yang aku cintai bersedih karna aku. Bahkan di pesta ultah Taeyeon noona, aku pikir aku benar-benar sudah kehilanganmu. Tapi aku bersyukur karna ternyata cinta itu juga masih ada di hatimu. Aku bersyukur karna kau masih mencintaiku. Kumao my deer!

Yoong, meski aku pergi bukan berarti aku meninggalkanmu. Aku akan selalu ada Yoong. Selalu ada untukmu. Cinta kita akan terus hidup bersama kenangan kita di hatiku juga di hatimu.

Yoong, jeongmal kumaoyo atas perkenalan kita. Kumaoyo karna kau telah memberikan kesempatan untukku agar bisa bersamamu. Kumaoyo untuk semua detik yang paling indah dalam hidupku yang pernah kau berikan. Kumaoyo untuk semua perasaan yang ada diantara kita. Kumaoyao untuk semua kenangan kita. Kumaoyo untuk cinta ini. Semuanya akan aku bawa sampai aku mati. Hanya jiwaku yang pergi Yoong, hanya ragaku yang kaku, tapi semua perasaanku akan selalu tetap hidup bersama cinta kita.

Yoong, aku ingin kau tetap menjadi yeoja yang tegar dan ceria. Meski aku tak bisa lagi bersamamu, tapi aku akan senang jika tahu kalau yeoja yang aku cintai dengan seluruh hidupku bisa melanjutkan hidupnya. Aku tidak ingin kau sedih karna kepergianku. Masih banyak orang di sekelilingmu yang mencintaimu. Aku akan selalu berdoa semoga kau bahagia dan akan mendapatkan sosok namja yang terbaik meski aku sedih karna bukan aku yang menjadi orang itu. Tapi aku bersyukur pernah menjadi bagian dari hidupmu. Saranghaeyo Yoong.

Aku tak tahu harus menulis apa lagi. Semua perasaanku padamu seakan tidak akan ada habisnya jika harus aku ungkapkan apalagi harus kutulis. Intinya, nomu kumoyo untuk semua yang pernah terjadi antara kita. Relakanlah aku Yoong.

Aku menyayangimu dan mencintaimu Im Yoona. Jeongmal nomu saranghaeyo Im Yoona.

Aku berharap Tuhan akan bermurah hati dan akan mengijinkan aku memilikimu di kehidupan kita yang selanjutnya. Semoga Tuhan tak akan memisahkan kita seperti in dan membiarkan kita bersatu diseribu kehidupan kita selanjutnya. Saranghae … Saranghae … Jeongmal Nomu nomu nomu Saranghandago, Im Yoona. Just Only You The Girl in My Heart. Always and Forever. I Will Always Love You.


YoonWon Forever

Love You

Choi Siwon
Aku mendekap surat terakhirnya itu dengan segenap perasaanku. Air mataku akhirnya mengalir setelah semalam terbendung. Taeyeon eonni segera meraihku ke dalam pelukannya. Dia juga menangis dan mencoba menenangkanku.

“Yoong, relakan kepergian Siwon. Dia juga pasti tak ingin jika kau terpuruk karna kepergiannya. Kau masih punya keluargamu, teman dan aku sahabatmu yang cinta dan sayang padamu. Kau pasti bisa Yoong.”kata Taeyeon eonni masih memelukku. Menepuk-nepuk pundakku agar aku lebih tenang. Aku mengangguk seraya masih terus terisak. Meluapkan seluruh kesedihan yang membebani sejak kepergiannya beberapa jam yang lalu.

Tiba-tiba saja aku merasakan semilir angin yang lembut membelai wajahku seakan ikut mencoba menenangkanku. Sesaat aku melihat bayangannya berada tepat di depanku. Tersenyum memperlihatkan lesung pipitnya yang begitu manis. Angin itu seakan merupakan wujudnya yang mulai tak bisa kusentuh.

“Uljima Yoong.”tiba-tiba terdengar suara yang sayup di telingaku. Sosok dalam wujud angin itu seakan berbicara. Entah aku yang berhalusinasi ataukah ini memang kenyataan, aku pun tak tahu. Khayalan atau bukan, aku tetap akan menganggapnya nyata. Siwon berada di depanku meski aku tak bisa meraihnya lagi.

“Aku akan selalu ada untukmu Yoong. Cintaku akan selalu menyertaimu seperti halnya cintamu yang akan selalu menyertaiku dimanapun aku berada. Mungkin Tuhan tak ijinkan sekarang kita untuk bersama tapi percayalah kita akan bertemu lagi di tempat yang lebih indah. Saat itu kau harus menjadi milikku Yoong.” Suara itu kembali terdengar & sosok yang tak nyata di depanku masih tersenyum.

“Hiduplah dengan baik Yoong. Karna aku akan sangat bahagia jika kau melakukannya. Neoneun naega saranghaneun yuilhan yeoja ya. Saranghanda Yoong.” Ucap suara itu ditelingaku yang aku yakini adalah milik Siwon oppa. Perlahan angin itu membelai wajahku dengan lembut dan memberikan sentuhan yang sejuk di keningku. Perlahan sosok Siwon oppa memudar hingga akhirnya menghilang. Air mataku kembali mengalir dengan deras.

“Oppa, aku janji akan terus melanjutkan hidupku dengan baik. Aku tetap akan menjadi yeoja yang seperti kau kenal. Meskipun rasanya sangat menyakitkan, aku akan tetap tegar. Aku juga akan selalu mencintaimu oppa. Meskipun nanti akan ada yang mengisi ruang kosong di hatiku, kau tak akan pernah tergantikan. Karna sebenarnya ruang kosong itu tak ada. Dia hanya tersamarkan dan kau akan slalu berada di sana dan senantiasa mengisinya sampai kapanpun. Aku akan menjadi milikmu di kehidupan kita yang akan datang. Aku juga akan memohon pada Tuhan agar menyatukan kita nanti. Aku berjanji padamu oppa. Neoneun ttohan naega saranghaneun yulhan saramiya, oppa. Saranghae, jeongmal nomu saranghaeyo Choi Siwon!”batinku seakan menjawab pernyataan Siwon dalam surat maupun bisikan yang barusaja terdengar ditelingaku.

***

Special (Bonus)

Siwon Pov

“Siwon-aa, setelah melihat hasil laboratorium dan CT scan, saat ini kau sedang mengidap kanker hati stadium akhir.”kalimat dari Seungmin ahjussi bagaikan petir yang menggelegar di pendengaranku. Aku mencoba untuk menyangkal pendengaranku tapi inilah kenyataannya. Aku melihat omma yang kini mulai menangis di sampingku.

***
“Aboji, Omma, aku akan ikut ke Jepang. Aku ingin pindah.”kataku pada orangtuaku. Keputusan ini benar-benar adalah keputusan yang sangat sulit untukku.

“Baiklah, terserah kau saja. Kalau begitu kita akan berangkat besok dengan penerbangan pagi.” kata Appa langsung menyetujuinya.

“Ne.” ucapku pelan. Aku kemudian masuk ke kamarku, merebahkan diriku yang sudah tak punya semangat untuk hidup lagi. Tapi, aku memang akan meninggal cepat atau lambat. Aku meraih sebuah frame foto yang ada di samping pembaringanku. Aku menatap foto itu. Fotoku bersama yeoja yang sangat aku cintai tapi akan segera aku sakiti. Aku tak pernah menghubunginya lagi sejak mengetahui hasil penyakitku seminggu yang lalu. Bahkan tak pernah berani menunjukkan wajahku di depannya. Aku takut jika harus melihatnya menangis. Itu akan lebih berat untukku. Mianhaeyo Yoong…!!!

***
Setelah beberapa bulan di Jepang aku memutuskan untuk kembali ke Seoul. Jika aku harus mati, aku akan mati di tempatku berasal. Bukan di negeri orang. Aku memutuskan untuk menjalani perawatan di rumah sakit tempat Seungmin ahjussi bekerja. Tapi yang lebih penting, aku ingin mati dengan melihat wajahnya.

Akhir-akhir ini aku bersikap seperti penguntit hanya karna ingin melihat wajahnya. Tapi kenapa dia menjadi seperti itu? Senyumannya tak lagi seperti dulu. Dia lebih sering terlihat murung dan sedih. Kemana perginya keceriaan itu? Kemana perginya senyuman itu? Aku sangat merindukanmu Yoong. Aku merindukanmu yang dulu.

***
“Siwon-aa, kau harus segera memulai therapymu.” Ujar Seungmin ahjussi. Hari ini aku harus melakukan chek up di rumah sakit tempatnya bekerja.

“Tapi aku tak ingin melakukannya ahjussi. Aku tak ingin kehilangan setiap detik kehidupanku hanya dikarenakan menahan rasa sakit dari therapy itu.”

“Tapi Siwon…”

“Aku baik-baik saja ahjussi. Apa kau tidak melihat fisikku yang atletis seperti ini? Aku sehat-sehat saja. Tak perlu khawatir. Ahjussi hanya perlu memberikan obat penghilang nyeri seperti biasa. Aku masih bisa mengatasinya dengan obat itu.” Kataku sambil tersenyum.

“Shamchon … apa yang sedang kau laku..kan?” tiba-tiba saja pintu ruangan Seungmin ahjussi terbuka dan Taeyeon saat ini sedang berdiri terbelalak di depanku.

“Siwon-aa. Kau …?” hanya itu yang keluar dari mulutnya. Aku tau dia merasa terkejut melihatku di sini. Aku tahu aku tidak akan bisa mengelak dari Taeyeon karna dia tidak akan berhenti mencari tahu kebenarannya jika tidak dariku maka dia akan mendapatkannya dari Seungmin ahjussi, pamannya. Maka akhirnya aku memilih untuk menceritakan semuanya pada Taeyeon noona.

“Siwon-aa, kita harus membertahu Yoona mengenai hal ini. Dia harus tahu.”kata Taeyeon setelah mendengar semua ceritaku.

“Ani… jangan memberitahukan hal ini padanya. Aku memutuskan pergi meninggalkannya karna tak ingin dia tahu mengenai hal ini.”

“Tapi …”

“Noona, aku mohon jangan katakan padanya. Aku percaya padamu noona.”bujukku. akhirnya dia mengerti dan menerima keputusanku.

***
Selama beberapa bulan ini aku hanya bisa mengintainya. Melihat wajahnya dari jauh. Tak jarang Taeyeon menceritakan hal tentangnya dan itu bisa sedikit mengobati kerinduanku kepadanya. Tapi aku sendiri merasa tak tahan jika hanya bisa seperti ini. Setiap aku melihatnya, perasaanku hancur. Bukan karna dia, tapi karna aku telah menyebabkan dia bersedih dan murung. Saat melihatnya menangis dan bersedih, rasanya aku ingin segera berlari meraihnya, mendekapnya dalam pelukanku. Tapi aku takut jika hal itu akan lebih membuatnya terluka. Aku mencoba menahan diri sampai akhirnya aku tak bisa menahannya lagi.

***
Aku melangkah masuk ke dalam hiruk pikuk pesta. Taeyeon ulang tahun dan aku memilih untuk datang. Aku tak ingin mengurung diri lagi meski aku tahu aku akan bertemu dengannya disini. Tapi itulah tujuanku. Aku tidak ingin sembunyi lagi. Aku ingin melihat wajahnya dari dekat dan jika mungkin memeluknya meski aku tahu dia akan sangat marah.

***
Hatiku hancur, aku terluka. Yoona membenciku. Pertemuan kami di pesta ulang tahun Taeyeon tadi benar-benar menyakitkan. Dia marah, dan bahkan mengatakan membenciku.
Yoong, apa kau tak tahu bagaimana perasaanku terhadapmu? Apa kau tidak bisa merasakannya? aku tersiksa Yoong. Hatiku juga sakit karna harus jauh darimu. Tolong jangan membenciku Yoong. Aku merindukanmu. Aku mencintaimu.

***
Gara-gara pertemuan malam itu dia bahkan tak ingin bertemu dengan Taeyeon dan aku yakin dia juga tak ingin menemuiku. Aku yang telah menyakitinya, aku yang telah menghancurkan hatinya. Aku yang bersalah padanya. tapi aku benar-benar sudah tak tahan lagi. Maka aku memutuskan untuk mengajaknya bertemu.

Segera kuraih handphoneku dan mengetik beberapa kalimat di kolom sms.

Yoong, aku ingin menemuimu.

Aku menunggumu di tepi sungai Han.

Aku akan menunggumu sampai kau datang.


Siwon

Lalu kukirimkan pesan singkat itu ke nomor handphonenya yang aku dapatkan dari Taeyeon.

“Aku akan menunggumu di sana Yoong. Tolong datanglah!” harapku.

***
Aku berdiri di samping mobilku sambil mengarahkan pandanganku ke arah sungai. Gemerlap lampu-lampu diseberang terlihat sangat indah dari sini. Aku hanya punya sedikit keyakinan Yoong akan datang. Tapi aku tidak perduli. Aku akan menunggunya sampai dia datang. Meski begitu aku hanya bisa berharap.

Sudah hampir dua jam berlalu tapi dia belum muncul juga.

Apakah dia tidak akan datang?

Seketika aku merasa sedikit takut. Tapi ketakutan itu hilang saat aku melihat seorang yeoja turun dari taksi yang berhenti tak jauh dari tempatku. Aku melihatnya perlahan berjalan ke arahku. Aku tersenyum padanya. Tiba-tiba saja dia menghentikan langkahnya. Terlihat seperti sedang menimbang-nimbang sesuatu dalam pikirannya. Seketika aku menegakkan tubuhku.

“Tuhan, tolong jangan biarkan dia berbalik meninggalkanku. Tolong berikan sedikit kebahagiaan untukku di saat-saat terakhir hidupku, Tuhan.” batinku. Sedetik kemudian dia menatapku dan berlari ke arahku. Memelukku tiba-tiba. Aku terkejut tapi aku tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Aku pun membalas pelukannya.

“Yoong …”kataku seraya melepaskan pelukannya.

“Oppa, kau tidak menyakitiku. Aku yang menyakiti diriku sendiri.”air matanya mengalir “Oppa, bogosippoyo. Aku sangat merindukanmu sampai rasanya aku akan mati.”ujarnya sambil terisak. Aku segera meraihnya kembali ke dalam pelukannya. Air matakupun ikut jatuh membasahi pipiku.

“Na do Yoong. Aku juga terasa ingin mati karna merindukanmu. Mianhae, telah membuatmu menunggu terlalu lama. Saranghaeyo Im Yoona.”ucapku dengan tulus.

“Tuhan, terimakasih karna telah mengembalikan dia padaku.”ujarku dalam hati.

***
Akhirnya hari-hari yang membahagiakan kembali kurasakan. Dengannya di sisiku membuatku sangat senang. Tapi selain itu aku juga merasakan ketakutan. Karna akhir-akhir ini penyakit itu kian parah dan menggerogotiku. aku merasa waktuku takkan lama lagi. Tapi kali ini aku siap jika Tuhan akan menjemputku kapan saja.

Entah aku mendapat ide darimana, tapi inilah yang terlintas dalam pikiranku. Ku ambil bolpoin dan mulai menggoreskan beberapa kalimat pada secarik kertas.

Ya, aku menulis surat. Aku tak tahu aku bisa bertahan sampai kapan tapi kali ini aku takkan meninggalkannya tanpa mengatakan apapun. Ku ungkapkan perasaanku terhadapnya meski semua itu tidak semuanya. Rasa cintaku tak terhingga untuknya. Aku benar-benar mencintainya bahkan hati dan pikiran ini terasa penuh olehnya. Aku tak ingin menyakitinya lagi.

***
Tubuhku terasa sangat sakit hari ini. Sejak tadi entah sudah berapa kali darah keluar dari mulutku. Aku tahu orangtuaku semakin khawatir melihat keadaanku yang kian memburuk. Tapi aku selalu mencoba menenangkan mereka.

“Siwon-aa, ayo kita ke rumah sakit. Kita harus memeriksakan kondisimu.” ajak omma. Tapi aku hanya tersenyum. Aku memegang kedua pundak omma.

“Gwenchana omma. Tak ada gunanya kita memeriksakannya. Hasilnya akan sama saja.”

“Tapi Siwon-aa…”

“Tenanglah omma, gwenchana.” kataku menenagkannya. “Aku keluar dulu omma. Aku ingin menemui Yoong. Aku tak ingin jika tak dapat melihatnya lagi.”kataku. Omma hanya mengangguk pasrah.

***
Aku berdiri di depan gerbang rumah Yoona. Aku mengarahkan pandanganku ke jendela kamarnya yang ada di lantai 2. Lampu kamarnya masih menyala.
cause I can’t stop thinking about u girl

neowa hamkke itkko shipeo

no I can’t stop thinking about you girl

nal yeogi dugo gabeorijima
Handphoneku berdering. Ternyata My Little Deer .

Selama beberapa menit kami hanya bercakap-cakap dengan serius. Aku hanya mengungkapkan betapa aku tidak ingin dia terluka lagi.

>Skip conversation

Aku menatap manik matanya. Rasanya aku takkan puas melihat wajahnya meski harus menghabiskan seluruh hidupku. Perlahan aku mendekatkan wajahku ke arahnya dan secara perlahan juga dia mengatupkan kedua matanya yang indah. Aku menyentuh bibirnya dengan bibirku. Merasakan aliran cinta yang dalam diantara kami. Dia menyambut ciumanku dengan tulus. Mengalungkan tangannya ke leherku dan membalas ciumanku dengan manis. Selama beberapa menit kami terhanyut dalam ciuman yang memabukkan itu sampai akhirnya melepaskan diri. Aku mengecup keningnya. Hal ini mungkin takkan aku rasakan lagi.

***
Rasa sakit kian menyiksaku. Aku tak tahu berapa lama aku tak sadarkan diri. Tapi saat ini aku terbangun di ruang ICU sebuah rumah sakit. Seungmin ahjussi memberi perintah kepada seseorang untuk kembali membiusku dan perlahan aku pun tak sadarkan diri lagi.

Aku membuka perlahan mataku. Rasanya semakin sesak. Aku melihat raut kekecewaan di wajah Seungmin ahjussi. Aku tau operasinya tak berjalan lancar.

“Ahjussi, gwenchanayo. kopjongmaseyo.”kataku menggenggam tangannya dengan hangat.

“Siwon-aa, kenapa kau bersikap seperti ini? Jika saja kau mengikuti saranku …”

“Sudahlah ahjussi. Aku tak ingin menyesalinya. Tolong panggilkan keluargaku kesini. Aku merasa tak punya banyak waktu lagi.”

“Siwon-aa…”
“Ahjussi, pakaianku di mana?”tanyaku. Aku menginginkan surat yang aku tulis tadi untuk Yoong. “Tolong ambilkan amplop yang ada di saku mantelku.” Seungmin ahjussi mengangguk dan kembali seraya memberikan amplop yg kumaksud.

***
>Skip

Aku melihat Yoona terisak setelah membaca surat yang aku tulis untuknya. Saat ini aku memang tak lagi menempati ragaku. ragaku telah kutinggalkan dan telah dimakamkan. Aku hanya meminta pada Tuhan untuk memberiku waktu melihat Yoona sebelum utusannya membawaku ke sebuah tempat yang akan menjadi tempatku setelah ini.

“Uljima Yoong.”bisikku. Aku memang saat ini tak beraga tapi aku tahu Yoona menyadari keberadaanku dihadapannya.

“Aku akan selalu ada untukmu Yoong. Cintaku akan selalu menyertaimu seperti halnya cintamu yang akan selalu menyertaiku dimanapun aku berada. Mungkin Tuhan tak ijinkan sekarang kita untuk bersama tapi percayalah kita akan bertemu lagi di tempat yang lebih indah. Saat itu kau harus menjadi milikku Yoong. Hiduplah dengan baik Yoong. Karna aku akan sangat bahagia jika kau melakukannya. Neoneun naega saranghaneun yuilhan yeoja ya. Saranghanda Yoong.” bisikku lembut. Perlahan memberikan kecupan dikeningnya, meski aku tahu mungkin dia hanya akan merasakan semilir angin sejuk dikeningnya. Setelah itu tubuhku mulai memudar hingga akhirnya menghilang dan terbang bersama semilir angin yang berhembus.

Aku bahagia karna memilikimu Yoona. Saranghanda!

***

FIN~
Author Said: Otthe? Udah kejawab kan rasa penasaran tempo hari waktu nanya kenapa Siwon meninggal?! Kalau pada mewek, silahkan kembali membaca Loveliest Gift yang udah di publish beberapa waktu lalu dan jangan lupa comentnya #Plakk #D’tabokinReaders ^o^

Sequel Lovelist Gift masih dikerjain. Tapi belom kelar karna ada beberapa ide yang ngilang. So, please bersabar yach!!! #banyakBacot … ^^

Sekarang, please tinggalkanlah jejak kalian untuk ff ini. Bagi yang udah tahu, mian kalau aku buat kalian bosen sama ffku ini. Aku hanya memenuhi request beberapa readers YWK aja sehingga aku mampir bawa ff ini. pengen ngajak mewek bersama #ehh? #gubrak #d’tendangReaders … Hohoho ^o^ #AuthorMakinAneh

Buat Echa / Resty, nggak bosan-bosannya aku ngucapin terima kasih karna udah mau repot lagi publish ffku yang nggak menarik ini. Saranghae #ehh? #hug ^o^ #hugback

See You in Next FF ^o^ #CabutBarengYeppa

Tinggalkan komentar

77 Komentar

  1. wuah lagi lagi baca ff sad ending,,
    terharu bacanya..

    Balas
  2. Kwon Liia (liia_sa)

     /  Mei 17, 2013

    sad end eonnie ,, ga nguati ampek netess😦😥
    ada typo sdkit eonnie ^^
    ditunggu FF lainnyaa yya ,, keep writing & fighting =))

    Balas
  3. kimy

     /  Mei 20, 2013

    sedih sedih sedih berat

    Balas
  4. sedih banget eonni.. ampe nggak sadar netes nih air mata..😥
    aku tunggu ne sequel dari loveliest gift nya..

    Balas
  5. Eon,ceritamu menyentuh banget sampai buat nangis 😥 apalagi pas won oppa di ICU

    Balas
  6. Weny

     /  Juli 11, 2013

    sedih ceritanya

    Balas
  7. dina

     /  Agustus 4, 2013

    So sad…

    Balas
  8. Chika Choi

     /  September 15, 2013

    hwaa pngen nangis aq,jdi krn i2 wonppa ninggaln yoongie

    Balas
  9. aprilyoonwon

     /  November 2, 2013

    Hiks…hiks..hiks jdi nangis gni,
    Tpi bener dech nyentuh bnget….

    Balas
  10. nyesek nyesek nyesek
    kata itu yg aku ucpkan stelah baca ff mu ini

    Balas
  11. Merisa Hermina putri

     /  November 23, 2013

    Ya tuhaaan baru nemu Cerita ini , ya ampunnn knp sih bikin cerita2 siwon oppa meninggal ? Gak suka deh , aku takut ngebayanginnya beneran . Jang ada yg bikin cerita siwon oppa / yoona meninggal2 gini donk , aku sedih beneran bacanya , tapi over all ceritany bagus author😦

    Balas
  12. Rosiie

     /  Desember 18, 2013

    Lagi2 galau,.😦
    Kirain siwon oppa kecelakaan ternyata kanker, aaaaa….sedih bgt T_T

    Balas
  13. ayu dian pratiwi

     /  Januari 31, 2014

    Sad ending. . Tapi feel nya kurang kerasa chingu. Semangat ya nulis ff lainnya

    Balas
  14. Any

     /  November 26, 2014

    Pagi2 baca yg sad end itu jian g banget…meskipun ceritanya bagus tp sad end gitu looohhh#sakitnya tuh disiniiiii#

    Balas
  15. sumpah nyesek banget ni ff qhu baca sambil menguras air mata. yoona eonni yang kuat ya walapun tidak bersama siwon oppa…

    Balas
  16. Sedih bgt ya ceritanya, kenapa cinta mereka berakhir sampai di sini. Gk rela deh ending ceritanya mereka gk bersatu, hiks… Hiks…
    Aku jadi menangis bacanya ;(
    tersentuh bgt baca ff ini

    Balas
  17. Hiks… Hiks……… Ceritanya kok sedih bgt begini, kenapa wonppa malah skt parah dan meninggal………
    Endingnya benar2 menguras air mata

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: