[OS] Don’t Think You’re Alone

[OS] Don’t Think You’re Alone

Story By: Nita Rahayu

Main Cast: Choi Si Won & Im YoonA

Other Cast:Da Som, Myungsoo, Kangta, Suzy, Jiyeon, etc

Genre:  Romance, Family, School,

Rating: PG 15+

[]

Note: Karena judul ff ini sama dengan judul lagu Kim Bo Kyung – Don’t think You’re Alone maka silahkan baca ff ini sambil mendengarkan lagunya! #hanya saran.

WARNING:Typo bertebaran!

Don’t be silent readers!

Happy reading!!!

[[]]

Kring….kring…..kring…..

Suara bel berteriak-teriak memanggil para siswa untuk segera meninggalkan panasanya ruangan kelas di siang hari, mentari terik yang menggantung di atas sana membuat udara siang hari ini cukup panas, bahkan bisa di kategorikan sangat panas. Puluhan rombongan siswa berjalan di koridor sekolah saling ingin mendahului, akibatnya acara desak-desakan kembali terjadi, sebenarnya hal ini sudah menjadi pemandangan yang wajar setiap hari setelah bel berbunyi.

Maklum saja, para siswa SMA ini mungkin merasa jenuh karena hampir seharian ini otak mereka di jejali dengan berbagai macam mata pelajaran, mulai dari ilmu pengetahuan eksakta sampai dengan non eksakta, semua itu harus mereka telan mau tidak mau, suka tidak suka. Itulah pelajar.

Ternyata kehebohan pun tidak terjadi di koridor saja, tapi di pintu gerbang juga sama. Beberapa mobil mewah sudah menunggu di luar sana, seperti biasa menjemput anak mereka, atau anak majikan mereka setelah usai menuntut ilmu. Ada juga beberapa anak yang memilih berjalan kaki menuju halte bisa, atau mungkin stasiun kereta api, tapi ada juga beberapa anak yang pulang dengan menggunakan sepeda motornya, dan tidak ketinggalan ada juga yang pulang memakai kendaraan yang mungkin bisa di bilang sederhana yaitu sepeda.

[[]]

Seorang gadis keluar dari gerbang sekolahnya setelah keadaan cukup lengang, dengan sebuah tas berwarna merah marun yang menempel di punggunya dia berjalan hanya seorang diri, berjalan dengan menundukan kepalanya ke aspal hitam. Sesekali sepatunya yang berwarna hitam itu menendang kerikil-kerikil yang bertemu dengannya di jalan. Gadis itu menghela nafas, namun entah apa maksudnya. Dia kembali melanjutkan langkah kakinya setelah sebelumnya berhenti sejenak melihat siswa lain yang pulang bersama teman-temannya, meskipun mereka tak pulang dengan mobil Mercedes Benz E-class, Toyota Camry, MBW, atau pun Audi R8 tapi mereka semua terlihat sangat gembira.

Mungkin gadis itu berpikir “Betapa malangnya diriku, selalu pulang sendiri tak ada satu orang pun yang mau berteman dengan ku. Kasihan sekali.”

Saat gadis itu berjalan lagi, tiba-tiba sebuah mobil berwarna merah cabai berhenti tepat di sampingnya. Sontak saja, dia menghentikan laju kakinya saat mobil mewah yang di yakini berharga milyaran Won itu mengganggu jalannya.

“Eonni ayo ikut aku…” tiba-tiba kaca jendela mobil itu terbuka, memperlihatkan seorang gadis berpipi cubby tengah melaimbaikan tangan sambil tersenyum padanya.

“Kajja Yoona Eonni, sekarang cuaca panas sekali, kajja. Kita pulang bersama…” ajak gadis itu lagi dari dalam mobil. Yoona – nama yang di sebut gadis itu, terlihat menimbang-nimbang ajakan adik kelasnya ini untuk pulang bersama. Bagaimana tidak, Yoona sampai berpikir seperti saat ini, pasalnya dia hampir setiap hari numpang pulang naik mobil merah cabainya milik orang tua Da Som, gadis berpipi cubby itu. Setelah sepersekian menit bergulat dengan pikirannya, akhirnya tanpa mengucapkan sepatah katapun Yoona membuka pintu mobil itu lalu masuk kedalam, duduk bersebelahan dengan Da Som yang memang duduk di kursi belakang. Tak berapa lama, mobil itu sudah membawa Yoona dan Da Som pergi meninggalkan asap kenalpot yang perlahan menghilang karena tiupan angin.

[[]]

Setelah menempuh perjalanan sekitar 20 menit akhirnya Yoona sudah sampai di rumahnya, jika tak menggunakan kendaraan bisa-bisa dia pulang sore hari, untung saja hari ini ada Da Som.

“Gomawo…” ucap Yoona singkat, kedua sudut bibirnya sedikit tertarik menampakan sebuah senyum tipis. Da Som mengangguk lalu tersenyum. “Tidak usah sungkan-sungkan Eonni, aku senang bisa mengantarkan mu pulang…”

“Tapi kau te…..”

Belum sempat Yoona melanjutkan kalimatnya tiba-tiba sebuah suara di dalam rumahnya terdengar sampai keluar.

“AKU LELAH MENIKAH DENGAN MU, SETIAP HARI KAU BERJUDI. SEMENTARA AKU, AKU BEKERJA MEMBANTING TULANG UNTUK MENGHIDUPI KELUARGA KITA. APA GUNANYA KAU SEBAGAI KEPALA RUMAH TANGGA!!!!!”

“KALAU KAU LELAH MENJADI ISTRI KU, SEBAIKNYA KAU PERGI DARI SINI!!!”

Tiba-tiba saja tangan Yoona bergetar, dia menundukan kepalanya berusaha untuk menyembunyikan wajahnya dari Da Som yang ia yakini saat ini tengah memandangnya iba. Benar saja, Yoona tiba-tiba merasakan tangan Da Som memegang kedua bahunya mungkin inilah cara Da Som untuk menenangkan dirinya.

“Eonni, gwanchanayo?” tanya Da Som pelan. Yoona menggelang lalu segera bersuara.

“Pulanglah, terima kasih sudah mengantarkan ku….” ucap Yoona lalu tanpa mengangkat kepalanya dia segera melepaskan kedua tangan Da Som dari bahunya lalu berjalan dengan lemah menuju rumahnya. Da Som, gadis itu hanya bisa menatap iba akan nasib kakak kelasnya itu.

[[]]

Setelah melepas sepatu, Yoona pun masuk ke rumahnya yang sederhana ini. Sebenarnya ini adalah rumah peninggalan kakeknya yang sudah meninggal sekitar 2 tahun yang lalu, rumah bergaya khas Korea ini memiliki dua kamar, satu kamar mandi yang tidak terlalu luas, satu dapur yang juga tak terlalu luas, serta ruang tamu yang sederhana.

Masuk kedalam rumahnya, Yoona kembali menyaksikan pertengkaran kedua orang tuanya. Sebenarnya ini bukanlah pertengkaran yang pertama, bisa di bilang hal seperti ini sering terjadi bahkan hampir setiap hari. Yoona tak bisa menengahi pertengkaran kedua orang tuanya ini, sebab jika ia lakukan maka sang ayah tak akan segan-segan melayangkan tamparan di pipinya, ataupun pukulan di kakinya. Seperti kejadian beberapa hari lalu,saat Yoona pulang larut malam karena sudah bekerja paruh waktu di sebuah cafe yang jaraknya cukup jauh dari rumah. Saat pulang, Yoona kembali di suguhkan dengan percekcokan kedua orang tuanya.

Pada saat itu Yoona benar-benar sudah tak bisa menahan rasa prustasinya melihat orang tuanya berdebat karena masalah ekonomi, maka dia berusaha menengahi pertengkaran itu. Apa hasilnya? Bukannya berhasil Yoona malah mendapatkan sebuah tamparan keras di pipinya, sang ayah yang kala itu setengah mabuk melakukannya tanpa ampun pada anak peremuan satu-satunya itu.

Inilah yang membuat Yoona diam saat ini, bukannya tak mau memisahkan tapi ia takut jika ia yang akan kembali menjadi amukan Ayahnya lagi, meskipun itu bukanlah tamparan yang pertama kalinya tapi ternyata kejadian itu adalah yang paling membekas dan mungkin tak akan pernah Yoona lupakan.

[[]]

Yoona masuk kedalam kamarnya, ekspresinya begitu dingin. Itulah yang selalu terpancar dari wajah cantik gadis yang masih berstatus sebagai pelajar SMA ini. Rasanya urat senyumnya sudah benar-benar hilang dari wajah yang tak pernah tersentuh oleh kosmetik itu, sekali pun dia tersenyum. Hanya sebuah tarikan kecil dari kedua sudut bibirnya. Itu pun hanya kepada Da Som, maklum saja Da Som selalu mengajaknya untuk pulang bersama.

Yoona melempar tasnya ke atas meja belajar, lalu menjatuhkan tubuhnya ke ranjang berukuran sedang miliknya. Bola matanya yang hitam pekat itu memandang langit siang hari yang cerah berwarna biru, Yoona melamun memandang langit biru yang di hiasi dengan awan putih yang bergerak karena tiupan angin yang berhembus kencang. Tiba-tiba kedua sudut bibirnya tertarik, menampakan sebuah senyuman. Namun, bukan senyum yang terlihat bahagia tapi senyum yang terlihat pahit. Mungkin Yoona berpikir, “Hidup ku tak secerah langit itu, biru serta di temani awan-awan putih yang selalu setia menamani. Sementara aku, bagaikan langit yang gelap. Tak pernah berubah menjadi jingga apalagi biru, juga tak pernah ada orang yang menamani ku”

Tiba-tiba satu tetes krystal bening itu jatuh melalui sudut matanya, mungkin Yoona merasa lelah menghadapi kehidupannya yang selalu berwana hitam, tak ada sinar sedikt pun. Lelah karena tak ada seorang pun yang bisa mengerti perasaannya, seorang? Mungkin yang Yoona maksud adalah teman.

Yoona merasa kesepian? Mungkin. Sekolahyang seharusnya menjadi tempat yang menyenangkan bagi remaja seusianya, seharusnya menjadi tempat dimana dia mempunyai banyak teman. Tapi rupanya harapan itu sia-sia saja, Yoona malah ku kucilkan di sekolahnya, tak ada satu orang pun yang mau berteman dengannya, mereka menjauhi Yoona karena mengetahui jika Yoona berasal dari keluarga broken home. Serta ayahnya yang suka berjudi dan mabuk.  Di tambah dengan Ibunya yang suka meminjam uang. Sebenarnya Yoona prustasi dengan keadaan seperti ini, di cemooh setiap saat,dan di intimidasi teman-temannya. Yoona sempat berpikir atau lebih tepatnya sering berpikir untuk keluar dari sekolah terkutuk itu, tapi segera ia urungkan niatnya itu tak kala dia berpikir lagi dengan akal sehat, maklum saja Yoona bisa sekolah karena mendapatkan beasiswa atas prestasinya.

Setelah beberapa menit merenungkan nasib dirinya, Yoona menghapus air matanya lalu bangkit berdiri. Kemudian, dia berjalan menuju lemari pakaian yang terdapat di sudut kamar sederhananya itu. Membuka pintu lemari lalu mengeluarkan satu t-shirt berwarna biru muda serta celana jeans pendek berwarna hitam.

Setelah Yoona berganti pakaian, dia hendak keluar dari kamarnya. Namun sayang kembali pertengkaran kedua orang tuanya terdengar.

“TERSERAH! MULAI SEKARANG AKU TIDAK MAU LAGI PEDULI PADA MU. SEKARANG PERGI DARI RUMAH KU!!!”

“MWORAGO? RUMAH MU? INI RUMAH AYAHKU, KENAPA AKU HARUS PERGI. CEPAT PERGI…..”

“TIDAK…TIDAK…INI RUMAH KU….”

Yoona buru-buru menarik pintu untuk keluar, sepertinya pertengkaran kali ini lebih parah dari pertengkaran-pertengkaran sebelumnya, terbukti saat Yoona menghampiri kedua orang tuanya di kamar ibunya tersungkur dengan luka lebam di sudut matanya. Kali ini Yoona tak bisa lagi mentolerir kelakukan kejam ayahnya, Yoona segera mengambil guci yang terdapat di atas nakas lalu membanting guci tersebut ke lantai. Sorot matanya mengarah pada sang ayah, yang nampak kaget melihat kedatangannya.

“Hentikan!….” ucap Yoona berbisik namun bernada ancaman pada sang ayah. Tn Im tersenyum kecut, laki-laki berbadan sedikit gemuk itu terlihat acak-acakan serta bau alkohol yang menyengat berasal dari bajunya yang nampak lusuh.

“Apa kau mau seperti ibu mu?”tanya Tn Im tersenyum meremahkan.

“Ku bilang hentikan, kalau tidak aku akan membunuh mu. Seharusnya kau yang pergi dari sini, ini rumah kakek. Rumah ibu ku, pergi….KU BILANG PERGI! KAU BUKAN AYAHKU, PERGI….”

Plak..

Serpihan kaca yang di berada di tangan Tn Im dengan mulusnya mendarat di pelipis Yoona, tak berapa lama darah merah nun segar mengucur dari pelipis gadis itu. Dengan sekuat tenaga Yoona menahan air matanya agar tak terjatuh di depan ayahnya.

“APA YANG KAU LAKUKAN! KAU JANGAN MENYAKITI ANAK KU BAJINGAN! SIKSA SAJA AKU, BUNUH SAJA AKU…!”

“DIAM!!! Kalian berdua benar-benar….” Tn Im menatap garang istri serta anaknya yang terluka akibat perbuatannya yang kejam. Tak ada sedikit pun raut rasa bersalah yang di tampakan wajahnya. Begitu datar, tanpa dosa. Seperti itulah.

Tn Im keluar dari kamar itu, meninggalkan luka fisik maupun luka di hati Ny Im apalagi Yoona. Ny Im memangis sambil memeluk kaki Yoona yang masih bertahan berdiri, sementara Yoona menangis dalam diam. Darah yang masih mengucur dari pelipisnya tak ia hiraukan, mungkin sakitnya tak seberapa dengan rasa sakit di hatinya yang terlalu dalam.

[[]]

Setelah mengobati luka di pelipisnya, Yoona pergi ke pantai. Pantai ini adalah tempat dirinya untuk merenung sekaligus menangis, hanya di temani dengan ombak yang tenang serta sang surya yang akan segera kembali keperaduannya. Seperti inilah Yoona, menjadikan pantai ini sebagai tempat untuk melepaskan air matanya.

[[]]

Pukul 08.00 KST, Yoona baru saja tiba di sekolah. Hari ini dia terlambat lagi. Tadi sebelum berangkat sekolah, Yoona bekerja mengantarkan koran pagi. Memang seperti itulah kegiatannya sebelum berangkat sekolah, bekerja terlebih dahulu untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. Saat Yoona masuk kedalam kelas, guru Han tak mengijinkannya masuk. Guru super kejam itu tak segan-segan memarahi Yoona di depan kelas, menjadikan Yoona sebagai bahan tertawaan satu kelas. Setelah puas memarahi Yoona, guru Han mengusir Yoona menyuruhnya berdiri di depen kelas sampai pulang sekolah. Tak ada pilihan, Yoona pun hanya bisa mengangguk tanpa bersuara.

[[]]

Pintu gerbang sekolah terbuka lebar, satpam berkumis dan bertubuh kurus itu tersenyum menyambut mobil hitam mewah itu masuk dengan gagahnya di ikuti dengan mobil berwarna silver.

Kedua mobil itu terparkir manis di tempat parkir khususdewan guru, tak berapa lama keluarlah dua orang dari mobil silver serta satu orang dari dalam mobil hitam.

“Sepi sekali apa sedang jam pelajaran?” ujar seorang pria sambil membuka kacamata hitamnya.

“Ini masih pagi Tuan, jelas saja para siswa masih belajar…” ujar salah seorang laki-laki paruh baya berpakaian tuxedo rapi.

“Aku ingin lihat-lihat sekolah ini. Kajja…” ajak nya lalu melenggangkan kakinya terlebih dahulu.

[[]]

Saat ini, pria tadi tengah berjalan di koridor yang sepi, sesekali dia mengintip kedalam kelas melalui kaca jendela sehingga membuat para murid wanita berteriak histeris tak kala dia tersenyum memperlihatkan diple manis yang semakin membuat wajahnya tampak rupawan. Bukan rupawan, lebih pantasnyadi bilang tampan. Setelah puas membuat kegaduhan di setiap kelas, dia kembali berjalan.

“CHOI SIWON!!” teriak seseorang di ujung sana. Pria itu seketika menghentikan langkah kakinya lalu berbalik ke belakang.

“HYUNG!” serunya terlihat gembira.

Orang di ujung koridor sana segera berlari menghampiri pria bernama Siwon itu, lalu segera berhambur memeluk pria bertubuh atletis itu.

“Kapan kau kembali dari Paris? Kenapa kau tak bilang padaku? Mungkin aku bisa menjemput mu?” cecar pria berkacamata itu sambil menepuk-nepuk punggung Siwon gemas.

“Ya….Ya….bagaimana aku bisa jawab, aku tidak bisa bernafas”

Pria itu segera melepaskan pelukannya lalu tersenyum menampakan deretan giginya yang seperti biji mentimun itu, rapi berderet, serta putih.

“Heheh mianhae, aku merindukan mu….”

“Kau ini, dasar! Mana Ayah? Aku ingin bertemu dengannya?” tanya Siwon.

“Presdir sedang rapat dengan dewan guru…” jawab pria itu.

“Lalu kau Hyung? Bukankah kau juga guru di sini?”

“Ne, tapi hari ini aku ada tugas mengajar jadi aku tidak ikut rapat…” jawab pria itu. Siwon hanya meresponnya dengan anggukan kepalanya serta mulutnya yang berbentuk hurup “O”

“Siwonie, sembari menunggu Ayah mu bagaimana kalau kita minum coffe…” ujarnya kemudian sambil merangkul bahu Siwon.

“Bukan hal yang buruk, aku tidak keberatan…” ujar Siwon menyetujui.

“Lalu bagaimana study mu di Paris, ku dengar kau sudah mulai menjadi seorang photografer di sebuah majalah, apa itu benar?”

“Tahu dari mana kau Hyung. Aku tidak pernah bilang pada siapa pun…” ujar Siwon. Kini mereka mulai berjalan.

“Dasar anak bodoh, tentu saja aku tahu. Paman yang memberitahu ku….”

“Paman? Ayah ku maksud mu? Apa kau ingin di pecat Hyung? Ayah ku pemilik sekolah ini….” ancam Siwon pada pria berkacamata itu.

“Euh….euh….maksud ku Presdir. Akhhh sudahlah, kau memang hobi mengancam ku..” jawab pria itu yang mampu membuat gelak tawa Siwon pecah seketika.

[[]]

Deringan bel yang tertempel di setiap sudut sekolah terdengar nyaring, belum sempat bel itu berhenti bersuara puluhan anak sudah berhambur keluar kelas menuju tempat favorit mereka jika jam istirahat tiba apalagi kalau bukan kantin, tidak mungkin perpustakaan. Hanya siswa yang kutu bukulah yang akan menghabiskan waktu istrahat di perpustakaan yang selalu terlihat sepi tanpa pengunjung. Namun, sepertinya berbeda dengan hari ini. Entah magnet apa yang membuat para siswa kini berbondong-bondong masuk kedalam perpustakaan, sampai-sampai sang penjaga perpustakaan kewalahan menghadapi para siswa yang semuanya wanita.

Rupanya ada seorang pria yang menjadi pusat perhatian di dalam sana, dengan ramahnya di tersenyum sambil melambaikan tangannya kepada puluhan siswa yang mengintip dirinya dari balik kaca jendela.

“Siwonie, akhh kau membuat keributan di sini. Ini perpustakaan, gara-gara kau sekarang tempat ini seperti kantin saja…” bisik Kangta si pria berkacamata tadi.

Siwon terkikik geli lalu menyimpan buku ekonomi yang sedari tadi di bacanya “lihatlah! Aku sudah seperti seorang selebriti bukan?Sepertinya aku akan mendapatkan seorang gadis di sini…”

“Cih!!! Hanya gadis anehlah yang mau menjadi pacar mu..” cibir Kangta lalu menyilangkan kedua tangannya.

Siwon hanya meresponnya dengan senyuman seperti memberi tanda “Lihat saja nanti” lalu berjalan meninggalkan kakak sepupunya itu.

[[]]

“Anak penjudi….”

Plak….

“Anak pencuri….”

Plak….

“Anak pemabuk…”

Plak…

“Gadis aneh…”

Plak…

Yoona hanya bisa diam tak kala semua siswa tengah membullynya, saat ini Yoona masih di hukum karena telat masuk sekolah. Dia masih berdiri di depan kelas, tidak boleh pergi sebelum jam sekolah usai. Dengan keadaan Yoona seperti ini, para siswa yang tidak menyukai Yoona menjadikan kesempatan emas ini untuk membullynya, melemparinya dengan bekas minuman, makanan ringan, tepung, dan yang lebih kejamnya lagi melempar Yoona dengan penggaris. Dan mereka bersorak gembira tak kala Kim Tae Woo berhasil melempar penggaris plastik miliknya ke wajah Yoona, pengaris itu tepat mengenai luka di pelipis Yoona yang masih belum kering akibat insiden kemarin.

Semua orang mentertawakan Yoona yang hanya diam tak bergeming. Meskipun kedua tangan Yoona sudah mengepal sempurna memperlihatkan urat-uratnya. Tapi Yoona masih tak berkutik, entah apa yang di pikirkan gadis ini? Kenapa dia tak mau melawan? Apa dia takut? Atau dia sudah kebal di perlakukan seperti ini?

“Hai anak pemabuk, anak penjudi. Ayo balas kami? Kau tidak berani heuh?’ Tantang Jiyeon, anak guru matematika yang kebetulan mengajar disini.

“Kau memang sampah….dasar anak seorang penjudi…”

“Apa yang kau lakukan?”

Belum sempat Jiyeon melempar botol minuman bekas pada Yoona tiba-tiba sebuah suara muncul tepat di belakangnya, Jiyeon menoleh. Mendapati seorang pria kini tengah menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan. Namun, dengan melihat mata pria itu Jiyeon bisa tahu jika pria itu marah. Maka, segera ia turunkan botol minuman itu dari tangannya lalu menunduk.

Pria itu berjalan mendekati Jiyeon “Apa seperti ini tingkah laku para siswa di SMA ini?”tanya pria itu sambil berjalan mendekati Jiyeon yang tampak ketakutan.

“Sungguh memalukan…” ucap pria itu sambil mengalihkan kepalanya pada sosok Yoona yang menunduk. Pria itu mendekti Yoona lalu memegang bahunya.

“Gwaenchana?” tanya pria itu khawatir. Yoona diam. Entah diatidak mendengar atau pura-pura tidak mendengar ucapan pria itu.

“Choi Siwon…” tiba-tiba suara Kangta terdengar di ujung sana, pria itu yang ternyata adalah Siwon segera menoleh melihat kakak sepupunya yang tengah berlari kearahnya.

“Hyung….?”

“Euh….semua ini bisa ku jelaskan…” ucap Kangta seakan tahu apa yang akan Siwon tanyakan padanya.

“Jadi seperti ini kelakuan para Siswa di SMA ini, aku benar-benar tak menyangkan…” ucap Siwon bernada kecewa.

Kangta tak bisa bersuara lagi, karena memang hal ini terjadi dan Siwon pun menyaksikannya secara langsung.

“Jiyeon, Tae Woo, Suzy, ikut ke ruangan ku…” ucap Kangta akhirnya.

“Aku akan membereskan mereka bertiga. Ku mohon percayalah, ini masalah sepele.”

“Sepele apanya? Mereka semua sudah membully dia, apa pantas seorang pelajar melakukan ini. Benar-benar tak terpuji…” ujar Siwon yang nampaknya tak suka akan hal seperti ini. Apalagi ini di lakukan oleh seorang pelajar.

“Mianhae, aku memang lalai sebagai guru. Tapi aku sudah memberikan peringatan pada mereka sebelumnya, ya sudah akan ku selesaikan mereka bertiga…” Kangta menepuk pundak Siwon lalu mengiring ketiga siswa provokator itu ke ruang guru untuk di minta pertanggung jawaban atas insiden pembullyan lagi.

Setelah kangta pergi, para siswa yang berkumpul pun mulai membubarkan diri dan pergi ke kelas masing-masing. Kini tinggal menyisakan Siwon dan Yoona.

“Gwanchana?” tanya Siwon lagi. Tapi ternyata Yoona masih diam.

“Baju mu kotor, pakailah ini…” Siwon menyerahkan jaket kulit berwarna hitamnya pada Yoona. Dan sukses Yoona pun mendongakkan kepalanya.

“Astaga, pelipis mu? Kau harus segera di obati…” ujar Siwon panik. Tapi Yoona berbanding terbalik dia malah terlihat santai, mungkin saja Yoona tak merasakan luka di pelipisnya itu.

“Hai…apa kau tidak bisa bicara? Ku bilang kau harus segera di obati. Ayo ikut aku…” tanpa menunggu persetujuan dari Yoona terlebih dahulu Siwon segera menarik tangannya menuju ruang UKS.

[[]]

Setelah selesai mengobati luka serta berganti pakaian dengan baju olah raga, kini Yoona duduk sendiri di halaman sekolah, meskipun matanya tertuju pada sekumpulan siswa pria yang tengah bermain basket tapi sebenarnya tatapan matanya tampak kosong. Yoona melamun, seperti itulah yang selalu ia lakukan, gadis ini memang duduk di bangku ini, tapi pikirannya melayang entah kemana.

Tanpa Yoon sadari sepasang mata dari tadi terus mengintainya, kedua mata tajam itu begitu seksama menyaksikan setiap gerak-geriknya. Sesekali dia tersenyum melihat Yoona, padahal sebenarnya sama sekali tidak ada yang lucu, Yoona juga tidak bergerak hanya duduk saja, malamun dengan tatapan mata kosong. Lalu apa yang membuat pria itu tersenyum melihat sosok Yoona? Apakah dia menyukai Yoona?

[[]]

Beberapa hari telah berlalu, tak ada yang berubah dari Yoona dia masih menjadi gadis murung nan misterius di sekolah. Hanya bicara jika ada orang yang menyapanya, itu pun hanya dua orang Da Som adik kelasnya dan Myungsoo kakak dari Da Som, yang juga kebetulan satu kelas dengannya. Saat Yoona kembali di bully di kelas, Myungsoo selalu bertindak sebagai pahlawan bagi Yoona. Meskipun Yoona tak memperdulikannya tapi Myungsoo tetap membela Yoona, mungkin dia merasa kasihan melihat kondisi Yoona setelah adiknya, Seohyun menceritakan bagaimana dan seperti apa Yoona itu.

[[]]

Saat ini Yoona tengah di perpustakaan, mengerjakan tugas yang belum terselesaikan. Setelah mendapatkan buku yang sesuai dengan mata pelajarannya, Yoona memilih duduk di sudut ruangan. Saat ia tengah serius menulis tiba-tiba sebotol yogeurt berada di dekat tangannya yang tengah menulis, Yoona menghentikan aktifitasnya lalu melihat siapa gerangan yang sudah menganggu acara belajarnya dengan sebotol yogeurt rasa strawberry.

“Cuaca panas seperti ini lebih enak jika minum yogeurt..” ujar Siwon lalu menyedot(?) yogeurtnya. Yoona menghela nafas lalu kembali menulis lagi.

Sebenarnya ini bukanlah pertama kali Siwon mengganggunya, tapi ini sudah kesekian kalinya. Mulai dari kemarin, saat pulang sekolah Siwon ternyata memaksanya untuk pulang bersama, lalu saat masuk kedalam kelas, ternyata Siwon sudah nangkring di pintu menyambut kedatangannya, lalu saat di lapangan Siwon juga ikut berolahraga bersamanya. Dan sekarang di perpustakaan, Siwon kembali mengganggu dirinya dengan menyodorkan yogeurt padanya. Padahal sebuah papan yang terdapat di depan sana sudah jelas tertulis “DI LARANG MAKAN DAN MINUM DI PERPUSTAKAAN” mana mungkin Siwon tak mengetahuinya? Dia pasti mengetahuinya, tapi kerena dia merupakan anak dari pemilik sekolah ini makannya dia berbuat sesuka hatinya, bahkan penjaga perpus pun tak melarangnya.

“Ayolah minum….mumpung masih dingin…” rengek Siwon seperti sudah kenal lama saja dengan Yoona.

“Kau habiskan saja sendiri…” tiba-tiba kalimat itu meluncur dari bibir Yoona. Siwon seketika saja membulatkan matanya, tak percaya sekaligus senang sakarang ia rasakan. Setelah beberapa hari Yoona tak berbicara padanya, kini dia bicara meski terdengar dingin. Tapi seperinya Siwon tak perduli akan hal itu.

“Benarkah? Apa boleh? Ya sudah kebetulan aku masih haus…” tanpa pikir panjang Siwon segera menyambar yogeurt itu lalu kembali menyedotnya dengan nikmat. Tanpa ia sadari ternyata Yoona melihat kelakuannya.

“Wae? Apa ada yang salah?” tanya Siwon heran. Untuk beberapa saat Yoona memandangnya dengantatapan aneh, lalu sedikit kemudian dia menutup bukunya lalu pergi meninggalkan Siwon.

“Hai tunggu…tunggu dulu…nama ku Choi Siwon, Choi Siwon. Apakah sekarang kita berteman Nona Im Yoona…” ujar Siwon tiba-tiba. Volume suaranya yang tinggi membuat perhatian semua siswa yang berada di perpustakaan menjadi teralihkan padanya.

Yoona diam, sebenarnya dia berpikir dari mana pria itu tahu namanya, sedangkan dia tak pernah memberitahukannya…

“Kau tak menjawab berarti kau setuju mulai sekarang kita berteman…” lanjut Siwon lagi tersenyum.

[[]]

Yoona melewati jalan setapak menuju rumahnya, tiba-tiba dia menghentikan langkah kakinya setelah dia merasa kedua kakinya terasa sakit. Yoona berhenti di bawah pohon lalu mendudukan dirinya di sana. Dia melihat kedua kakinya yang penuh dengan luka lebam akibat perbuatan ayahnya yang kembali menyiksa dirinya tadi malam.

“Kau terluka…”

Suara itu membuat Yoona terperanjat, kaget pasti ia rasakan pasalnya suara itu datang tiba-tiba. Yoona menoleh lalu mendapati Siwon tengah duduk di sampingnya.

“Coba sini ku lihat! Akhh ada apa dengan kaki mu? Kenapa luka seperti ini? Jadi ini alasannya kau memakai celana olahraga untuk menutupi luka di kaki mu?….”

“Akan ku obati luka mu, ayo ikut aku…”

Siwon menarik tangan Yoona, namun kali ini Yoona menepisnya.

“Apa yang akan kau lakukan? Lepaskan aku…” tolak Yoona dingin.

“Aku hanya ingin mengobati luka mu, sudahlah ayo cepat ikut aku…”

Kembali Siwon menarik tangan Yoona agar mengikutinya berjalan menuju mobilnya yang terparkir di sebrang jalan sana, Yoona berusaha menolak, tapi sayang tenaganya terlalu lemah untuk melawan Siwon.

[[]]

Mobil yang Siwon kemudikan kini sudah sampai di depan rumah Yoona, setelah sebelumnya Siwon membawa Yoona ke sebuah klinik terdekat untuk mengobati luka-luka di kaki Yoona. Untung saja, Yoona cepat ditangani, jika tidak mungkin kakinya akan terkena infeksi.

Siwon keluar dari dalam mobil mengikuti Yoona yang sudah terlebih dahulu keluar.

“Istirahatlah, jika sampai besok lukanya belum kering. Sebaiknya kau tidak usah sekolah dulu…” pesan Siwon pada Yoona.

“Memangnya kau siapa?” tanya Yoona menatap Siwon begitu dingin, bahkan nada bicaranya pun terdengar sinis.

“Aku?” Siwon menunjuk dirinya sendiri sembari memikirkan rangkaian kata-kata yang pas untuk ia ucapkan pada gadis yang berdiri di depannya. Pantas saja, jika Siwon sulit untuk menjawab pertanyaan Yoona ini. Karena memang benar, siapa dirinya sehingga berani menasehati Yoona? Kakak bukan, kelurga bukan, teman bukan apalagi pacar. Jadi apa hak Siwon sampai-sampai harus bersikap seperti ini pada Yoona? Apalagi mereka baru beberapa hari saling mengenal, salah. Lebih tepatnya Siwon yang selalu mengganggu Yoona beberapa hari ini.

“PERGI KAU DARI RUMAH KU, AKU SUDAH MUAK MELIHAT WAJAH MU!!”

“BAIKLAH AKU AKAN PERGI, DAN AKU TIDAK AKAN PERNAH KEMBALI LAGI KE RUMAH BIADAB INI CUIHH…..”

Lamunan Siwon terbuyarkan sudah saat mendengar suara keras bernada emosi terdengar dari dalam rumah Yoona. Siwon melihat seorang laki-laki keluar dari rumah itu dengan penampilan lusuh, kemeja yang ia gunakan mungkin semula berwarna putih kini sudah berubah menjadi warna coklat. Rambut yang acak-acakan seperti tak di sisir serta mata yang merah layaknya orang yang baru saja mabuk membuat Siwon menyernyitkan dahinya penuh tanda tanya.

Siwon masih memandang laki-laki itu yang kini tengah berjalan kearahnya, dengan membawa tas warna hitam yang di gantungnya di bahu. Sepertinya laki-laki itu di usir oleh perempuan tadi. Pikir Siwon.

“Heh gadis bodoh, mulai sekarang aku tidak akan pernah lagi menyiksa mu. Hiduplah bahagia bersama perempuan itu. Selamat tinggal….” Ujar Tn Im, laki-laki itu pada putrinya – Im Yoona. Yoona tak meresponnya, dia hanya diam bahkan kedua bola matanya tak sudi melirik ayahnya yang kini sudah pergi. Namun, berbanding terbalik dengan Siwon. Dia memandang Tn Im yang perlahan mulai menghilang dari penglihatannya. Setelah Tn Im menghilang Siwon kembali menatap Yoona yang masih tak bergeming sedikit pun.

“Yoona….”

“Pergilah!!” perintah Yoona tanpa memandang Siwon.

Setelah mengucapkan itu Yoona membalikan badannya lalu perlahan pergi meninggalkan Siwon yang terdiam dengan sejuta pertanyaan dibenaknya. Ingin Siwon mengejar Yoona, menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Namun, Siwon segera mengurungkan niatnya tak kala melihat kondisi Yoona yang sepertinya terlihat sedih namun gadis itu berusaha menahan air matanya.

[[]]

Sejak kejadian itu, Siwon menjadi tak berani mengganggu Yoona. Sekarang dia lebih suka memperhatikan Yoona dari jauh, melihat gadis itu dengan berbagai macam pertanyaan di otaknya. Mempertanyakan apa maksud dari ucapan laki-laki paruh baya itu tempo hari pada Yoona. Siwon merasa prustasi, kedatangannya ke Korea malah menjadi seperti ini. Padahal awalnya ia ingin menghabiskan waktu libur dari pekerjaannya yang sangat banyak di Paris sana.

“Apa yang harus ku lakukan sekarang?” gumam Siwon bingung.

[[]]

Senja tiba, matahari kini mulai turun keperaduannya. Langit mulai berubah warna, siap digantikan sang dewi malam yang akan segera datang memberi cahayanya yang indah di malam hari. Seorang gadis masih bertahan di tempatnya, duduk sambil memeluk kedua kakinya di bibir pantai. Isakan kecil dari tadi tak henti-hentiya keluar dari bibirnya, dia menangis.

Yoona-gadis itu kini menumpahkan semua air matanya di tempat ini, kali ini bukan ayahnya lah yang membuatnya menangis, tapi para preman yang mendatangi rumahnya untuk menagih hutang ayahnya yang belum di bayar. Karena ibunya tak mau membayar, maka mereka menjadikan Yoona yang baru pulang sekolah sebagai sasaran pemukulan. Yoona tak bisa berkutik, apalagi balik melawan. Tenagannya terlalu lemah untuk menghadapi 3 orang preman yang memukulnya.

Yoona mengangkat kepalanya, matanya yang penuh air memandang senja sore yang indah. Sedikit hatinya merasa tenang malihat kaagungan Tuhan yang sangat luar bisa itu. Tapi, tetap saja itu tak bisa mengobati luka di hatinya serta seluruh tubuhnya yang lebam.

“Izinkan aku mengobati luka mu…”

Tiba-tiba sebuah suara terdengar, Yoona kaget jika ada seseorang yang mengetahui jika ia menangis. Perlahan Yoona membalikan kepalanya menatap orang tersebut yang berada di sebelah kirinya.

“Kau…” ucap Yoona serak.

Siwon – orang itu, dia tersenyum lalu menghapus air mata yang membanjiri pipi Yoona. Namun aneh, kali ini Yoona tak menolak saat pria ini menghapus matanya. Malah tanpa ia sadari air matanya kembali jatuh begitu saja.

“Kau terluka, kau harus di bawa ke rumah sakit. Naiklah ke punggung ku…” Siwon berbalik menghadapkan punggungnya ke hadapan Yoona.

“Cepatlah Yoona-yaa, sebenatar lagi gelap…” titah Siwon.

Sebenarnya Yoona ragu, apakah dia harus naik ke punggung laki-laki yang baru beberapa hari ia kenal. Tapi melihat kondisinya yang lemah, serta kakinya yang cedera. Yoona merasa tak mampu berjalan, bahkan untuk sekedar menggerakannya pun tak dapat ia lakukan.

[[]]

Siwon menggendong Yoona di punggungnya, mereka berjalan di tepi pantai menuju mobil Siwon yang terparkir di ujung jalan sana. Tak ada perbincangan di antara keduanya, Yoona – mata gadis ini begitu kosong menatap ke depan, tak tahu apa yang sedang gadis pikirkan. Sementara itu, Siwon – pria ini tiba-tiba tersenyum menampakan diple di pipinya yang khas. Entah hal apa yang membuat dia tersenyum. Apakah Siwon senang bisa dekat dengan Yoona? Atau apakah ada hal lain sehingga dia terlihat tampak bahagia? Hanya Siwonlah yang mampu menjawabnya.

[[]]

Siwon membawa Yoona ke sebuah rumah sakit, ternyata Yoona harus menjalai perawatan sehingga ia harus menginap disini sampai kondisinya benar-benar sembuh. Siwon berjalan bersama dengan seorang dokter perempuan di sebuah lorong rumah sakit, ia dan dokter itu baru saja keluar dari ruangan dimana Yoona di rawat.

“Bagaimana keadaannya dokter?” tanya Siwon memulai pembicaraan.

“Keadaannya sangat mengkhawatirkan, selain seluruh tubuhnya terluka sepertinya gadis itu juga mengalami tekanan mental sehingga itu semakin memperparah kondisinya…” jawab Dokter bernama Kang Jun Hee itu.

“Tekanan mental maksud Dokter?” tanya Siwon masih belum mengerti.

“Sepertinya dia gadis yang pemurung, berbeda dengan gadis seusianya. Mungkin apa terjadi sesuatu di lingkungannya, keluarga atau mungkin sekolahnya?” tanya Doter Jun Hee.

Setelah Dokter Jun Hee bertanya tiba-tiba pikiran Siwon melayan pada saat bertemu dengan Yoona pertama kalinya di sekolah, saat itu Yoona di bully habis-habisnya di cemooh sebagai anak penjudi dan pemabuk, lalu saat tempo hari Siwon mengantarkan Yoona pulang ada pertengkaran di rumahnya. Meski Siwon belum paham apa yang terjadi, tapi bisa ia tarik kesimpulan jika pada saat itu yang bertengkar adalah kedua orang tua Yoona. Serta Siwon juga terpikirkan perkataan pria baruh baya yang di usir.

“Heh gadis bodoh, mulai sekarang aku tidak akan pernah lagi menyiksa mu. Hiduplah bahagia bersama perempuan itu. Selamat tinggal….”

“Siwon-ssi…”

“Euh Nde…?” lamunan Siwon buyar saat Dokter Jun Hee mengagetkannya.

“Anda tidak apa-apa?” tanya Doter Jun Hee cemas melihat mimik Siwon yang berubah.

“Aku tidak apa-apa, ya sudah terima kasih Dokter kalau begitu aku temani Yoona dulu…”

“Baiklah tapi biarkan dia istirahat dulu, kalau begitu saya permisi…” ucap Dokter Jun Hee lalu pergi meninggalkan Siwon yang masih berdiri di tempat semula.

Setelah Dokter Jun Hee menghilang di belokan koridor, Siwon memutuskan untuk masuk ke ruang perawatan Yoona. Gadis itu ternyata sudah tertidur begitu lelapnya, Siwon menutup pintu pelan-pelan agar tak menimbulkan suara lalu berjalan mendekati Yoona yang tertidur di ranjang. Siwon melihat dengan iba, wajah gadis itu yang semula putih bersih kini terdapat luka lebam di pipi kirinya, juga terdapat luka jahitan di pelipisnya. Selain itu sudut bibirnya juga terluka, sepertinya tamparan yang di layangkan para preman tadi sangat keras.

Siwon menggenggam tangan hangat Yoona, kembali memadang gadis ini dengan penuh iba. Setelah memikirkan hal tadi, Siwon kembali bertanya-tanya. Siapa sebenarnya gadis ini? Berasal dari mana dia? Dan mengapa sifatnya berbeda dengan gadis seusianya?

[[]]

Siwon membuka pintu ruang perawatan Yoona, pagi ini dia membawa sarapan pagi untuk Yoona yang ia bawa dari rumah. Siwon memang sengaja melakukan ini, karena ia berpikir jika makanan yang rumah sakit berikan biasanya tak begitu enak. Siwon kaget saat mendapati ranjang kosong tanpa Yoona, dia segera menyimpan kotak bekal yang ia bawa di atas meja lalu mencari Yoona di setiap sudut kamar. Tapi sayang Yoona tak ia temukan. Lantas, Siwon segera berlari keluar mencari Yoona, siapa tahu gadis itu sedang mencari udara segara di luar.

Benar saja dugaan Siwon, Yoona ternyata tengah duduk di salah satu kursi panjang yang terdapat di halaman rumah sakit. Siwon menarik sudut bibirnya saat melihat Yoona, lalu perlahan berjalan mendekatinya. Sepertinya kedatangan Siwon di sadari oleh Yoona, gadis itu menoleh saat Siwon baru saja duduk di sebelahnya.

“Ayo kita sarapan, setelah itu kau minum obat…” ajak Siwon tersenyum.

“Wae? Kenapa menatap ku seperti itu?” tanya Siwon heran.

“Setelah makan dan minum obat, aku mau pulang…” ujar Yoona tiba-tiba.

“Pulang? Tapi kau belum sembuh, kau masih perlu beberapa hari lagi untuk di rawat..”cegah Siwon.

“Anio, aku mau pulang sekarang…”ujar Yoona datar lalu berdiri dari duduknya.

“Baiklah….baiklah…tapi kau harus makan dulu, lalu minum obat. Bagaimana…?” tanya Siwon mencegah kepergian Yoona dengan memegang lengannya.

Yoona membalikanwajahnya menatap Siwon yang tengah tersenyum padanya, lalu mengalihkan pandangannya ke bawah. Lebih tepatnya kepada lengannya yang di genggam Siwon. Menyadari arah pandang Yoona, Siwon buru-buru melepaskan tangannya. Lalu tersenyum memperlihatkan deretan gigi rapinya pada Yoona.

“Ekhem…Kajja kita sarapan…”ajak Siwon sambil menggaruk tengkuknya.

[[]]

Yoona kembali ke sekolah, kedatangannya menjadi bahan pembicaraan seluruh siswa. Namun, kali ini tak ada satu orang pun yang berani mendekatinya apalagi membullynya. Mungkin mereka takut kalau-kalau pria yang menolong Yoona saat itu datang lagi dengan wajah marahnya. Maklum saja, kini mereka sudah tahu jika pria yang pada saat itu menolong Yoona adalah anak dari pemilik sekolah ini, Choi Siwon.

Yoona meletakan tasnya di meja lalu duduk di kursinya, matanya yang selalu terlihat dingin mengelilingi kelas ini dengan tatapan intens. Sehingga teman-temannya yang tengah berbisik membicarakannya pun langsung menghentikan aktifitas mereka. Yoona menghela nafas, dia merasa percuma harus melawan mereka semua. Buang-buang tenaga saja. Pikirnya.

Selama mengikuti pelajaran, Yoona begitu serius. Meskipun dia begitu pasif berbeda dengan siswa lainnya yang aktif menjawab seiap pertanyaan guru yang berdiri di depan kelas. Tak terasa, waktu istirahat tiba. Para siswa segera berhambur keluar menuju tempat favorit mereka untuk mengisi perut, apalagi kalau bukan kantin. Namun, berbeda dengan Yoona, gadis ini hanya duduk saja setelah memasukan buku pelajarannya ke dalam tas. Kini suasana kelas sepi, hanya ada dirinya seorang karena semua siswa pergi ke kantin, karena merasa bosan di tambah takut terjadi sesuatu jika ia terus diam di kelas. Yoona memutuskan untuk keluar dari kelas, baru saja keluar tiba-tiba sebuah tangan menarik tangannya. Yoona kegat, karena orang tersebut menarik tangannyamemaksanya untuk mengikuti langkahnya. Yoona berusaha melepaskan tangan orang tersebut yang ternyata adalah Siwon.

“Lepaskan aku…lepaskan ….”

“Diamlah, aku hanya ingin makan siang dengan mu saja…” ujar Siwon dengan santainya.

Yoona masih berusaha melepaskan tangan Siwon, tapi meskipun dia sudah mengerahkan semua tenaganya tetap saja tak bisa. Kejadian ini  menarik perhatian para siswa yang tengah berada di koridor sekolah, ada yang heran kenapa Siwon bisa dekat dengan Yoona, namun tak sedikit juga yang cemburu melihat kedekatan Siwon dengan Yoona.

[[]]

“Tarraaaa…..” Siwon membuka korak bekal makan siangnya dengan riang sambil memperlihatkannya ada Yoona.

“Ayo kita makan siang, aku sengaja buatkan sushi untuk mu. Kajja kita makan…” dengan antusiasnya Siwon meraih sumpitnya lalu mulai menyuapkan satu sushi kedalam mulutnya.

“Emmm masita…’’ ujarnya sambil mengunyah Sushi yang katanya buatnya itu.

“Euh. Kenapa kau tidak makan?” tanya Siwon saat menyadari jika Yoona hanya menatap makanan di depannya.

Yoona tak menjawab, dia hanya menggelengkan kepalanya. Melihat Yoona seperti itu Siwon malah tersenyum lalu mengambil satu sushi miliknya.

“Buka mulut mu AAA…..” titah Siwon pada Yoona sambil membuka mulutnya juga.

Yoona kembali menggelang. Siwon menghela nafas pasrah lalu pura-pura memasang wajah sedih.

“Padahal aku sudah menyiapkan semua ini hanya untuk mu, kau malah tidak mau makan…” ujar Siwon memasang wajah cemberut lalu melahap sushiyang semula akan di berikan pada Yoona. Melihat Siwon yang kecewa, perlahan Yoona menggerakan tanganya mengambil sumpit. Setelah itu, Yoona mengambil satu sushi lalu memakannya. Tiba-tiba senyum Siwon merekah melihat Yoona yang dengan lahapnya menyantap sushi buatannya.

“Habiskan semuanya…” ujar Siwon lalu dia pun kembali melahap sushinya juga.

[[]]

Hari-hari berlalu begitu indah bagi Siwon, tapi mungkin tidak bagi Yoona. Bagaimana tidak, setiap saat dia selalu di buntuti Siwon di sekolah. Yoona sempat berpikir apakah pria itu tidak punya kerjaan selain mengikutinya setiap hari tanpa pernah merasa bosan atau pun kesal meskipun dia selalu mengacuhkan Siwon bahkan tak pernah menganggap Siwon ada. Tapi ya itulah Siwon, entah terbuat dari apa hati pria tampan itu. Batu? Besi? Atau mungkin baja? Sehingga tak pernah merasa sakit hati tak kala Yoona mengacuhkannya.

Seperti yang terjadi hari ini, Siwon memaksa Yoona untuk pulang bersamanya. Tapi dengan dinginya Yoona menepis tangan Siwon maksudnya menolak tawaran Siwon, Siwon tak menyerah dia mengejar Yoona lalu menghadangnya. Yoona merasa lelah, tapi dia tak mengeluarkan kata-kata apapun sebagai ucapan penolakan ataupun kekesalannya pada pria ini, justru Yoona kembali membalikan tubuhnya dan ternyata dia memilih jalan gang sempit sebagai jalur pulangnya.

Siwon menghela nafas, melihat Yoona yang pergi begitu saja meninggalkannya. Kecewa. Pasti ia rasakan, namun Sedetik kemudian pria itu kembali tersenyum entah apa maksudnya?

[[]]

Sore tiba, seperti biasa Yoona kembali menghabiskan waktu sore harinya menikmati suasana nyaman dengan duduk di bibir pantai. Menyaksikan air laut yang berubah menjadi warna kuning emas karena tersinari sang mentari yang siap kembali turun ke peraduannya. Semilir angin yang sepoi-sepoi menyentuh permukaan wajahnya, serta menerbangkan rambutnya yang sengaja tak ia ikat.

Mungkin Yoona terlalu nyaman akan lamunannya, sehingga dia tak menyadari jika seseorang kini sudah duduk di sebelahnya bahkan tengah memandangi wajahnya. Siwon – orang tersebut ternyata membuntuti Yoona dari tadi, dan dia baru menampakan dirinya. Meskipun Yoona masih belum menyadari kehadirannya.

Tiba-tiba senyum yang beberapa menit lalu terlukis di paras Siwon lenyap secara perlahan, saat matanya menatap mata hitam Yoona yang terlihat tengah memikul suatu beban. Kenapa Siwon bisa tahu? Apa Siwon juga merasakan jika gadis ini memang benar-benar tengah memikul suatu beban sehingga membuat dirinya berbeda dengan gadis seusinya? Itulah yang Siwon pikirkan, apalagi saat kejadian pembullyan Yoona serta pertengkaran kedua orang tua Yoona yang ia saksikan sendiri.

“Kenapa kau selalu mengikuti ku?”

Deg….

Siwon tersadar, dia segera membalikan wajahnya kedepan. Dapat ia rasakan wajahnya yang memanas karena malu kepergok memandangi wajah Yoona, sekaligus kaget ternyata Yoona menyadari kehadiarannya namun entah sejak kapan.

“Aku….Aku…..” otak Siwon membeku, lidah Siwon kaku, dia seperti kesulitaan untuk merangkai kata-kata menjadi sebuah kalimat. Setidaknya kalimat alasan agar ia bisa berkilah dari gadis ini, tapi itu tak bisa Siwon lakukan.

“Ku tanya sekali lagi, kenapa kau terus mengikuti ku? Kenapa kau terus berada di samping ku? Apa kau tidak malu? Aku ini anak seorang penjudi, anak seorang pemabuk, anak seorang preman. Kenapa kau terus berada di sekitar ku?”

Ini pertama kalinya Siwon mendengar Yoona berbicara sepanjang ini padanya, tapi Siwon bisa menangkap nada keseriusan di dalam kalimat yang baru saja ia dengar. Siwon kembali memandang Yoona, kini mata gadis itu terlihat berair. Siwon belum bersuara dia masih menunggu apakah masih ada kalimat yang akan Yoona katakan lagi padanya.

“Aku tidak mengerti apa maksud mu?” akhirnya Siwon bersuara setelah cukup lama ia menunggu Yoona untuk kembali melanjutkan kalimatnya namun ternyata Yoona tak kunjung melanjutkannya.

“Aku di benci semua orang, aku di jauhi semua orang. Karena ayah ku adalah seorang penjudi, pemabuk dia preman. Di tambah, ibu ku yang selalu meminjam uang ke sana kemari hanya untuk membiayai kehidupan keluarga. Selain di sekolah aku mendapat tekanan batin, di rumah pun juga begitu. Hampir setiap hari kedua orang tua ku bertengkar, setiap kali aku berusaha memisahkan mereka pastilah aku yang menjadi sasaran kemarahan ayah ku, dia menendang ku, memukul ku, menampar ku, meleparku dengan botol arak, serta hampir membunuh ku. Inilah yang membuat aku menjadi seperti ini.”

Yoona menceritakan semua tentang keluarganya kepada Siwon, entah dia sadar atau tidak saat mengatakan itu yang jelas saat menceritakan itu air mata Yoona meleleh seketika, marasakan sulitnya hidup yang ia alami saat ini serta perlakuan sang ayah yang kasar kepadanya.

“Inilah yang membuatnya seperti ini…” pikir Siwon sambil memandangi Yoona.

Siwon mengelurkan sesuatu dari dalam saku jaketnya lalu membuka telapak tangan Yoona agar menerimanya. Sebuah sapu tangan berwarna biru tua, Yoona menatap Siwon bingung.

“Menangislah jika itu mampu membuat mu tenang, anggap saja aku tidak ada disini. Dan aku juga pura-pura tidak akan tahu tentang hal ini.” Siwon tersenyum hangat lalu berdiri. Siwon pergi meninggalkan Yoona yang menatapnya dengan sejuta pertanyaan di benakny.

[[]]

Hari libur tiba, tidak seperti siswa lainnya yang kebanyakan menghabiskan waktu libur untuk bersantai di rumah atau mungkin masih tertidur pulas di balik selimut tebal sambil memimpikan bidadari cantik atau pangeran tampan. Tapi Yoona, gadis ini sejak pukul 5 pagi sudah keluar rumah. Inilah kegiatannya setiap hari minggu tiba,bekerja dari mulai matahari belum sama sekali menampakan dirinya sampai dengan matahari tergantikan oleh sinar bulan.

Saat matahari mulai merangkak naik, Yoona mulai pergi menguras tenaganya mengantarkan koran pagi serta susu kotak ke rumah-rumah penduduk. Yoona merasa lelah, tentu saja. Berpuluh-puluh kilo meter dia harus mengayuh sepedanya, bahkan tak ada waktu istirahat semenit pun baginya. Dia tidak boleh telat mengantar koran-koran serta susu kotak yang mengisi keranjang sepedanya.

Meskipun lelah, serta kadang dia bertemu dengan teman-teman yang selalu membullynya Yoona tak perduli. Ia berpikir tak ada gunanya membalas hinaan mereka hanya membuang-buang waktu saja. Lebih baik selesaikan bekerja, lalu setelah itu mendapatkan uang.

[[]]

Setelah Yoona menyeselaikan pekerjaannya, dia kembali pulang. Har ini dia mendapatkan bonus dari bossnya sehingga ia bisa membeli bahan makanan untuk di masak ibunya. Kini Yoona tengah berjalan menunggu halte bis, namun langkahnya terhenti saat sebuah mobil hitam tiba-tiba menghalangi jalannya. Tak berapa lama keluarlah si empunya mobil mewah itu, dia tersenyum lalu berjalan menghampiri Yoona.

“Kebetulan sekali aku bertemu dengan mu, kajja…” ucapnya langsung menarik tangan Yoona begitu saja.

“Siwon-ssi kau mau membawa ku kemana?”

Deg..

Orang itu yang tak lain adalah Siwon langsung menghentikan langkah kakinya, dia kaget. Kaget karena ini pertama kalinya Yoona memanggil namanya, walaupun memakai embel-embel ‘ssi’ di belakang namanya, tapi itu tak masalah yang pasti Siwon senang, bahkan bahagia akhirnya namanya di ucapkan gadis ini.

[[]]

“Tempat apa ini?” mata Yoona menyapu sekeliling tempat yang ramai akan berbagai macamwahana permainan ini, dari mulai wahana yang terlihat santai sampai dengan mengacu adrenalin.

“Lotte Word, kita bersenang-senang disini…” riang Siwon kembali menarik tangan Yoona.

Yah, ternyata Siwon mengajak Yoona pergi ke Lotte Word, salah satu tempat hiburan yang cukup terkenal di Korea Selatan. Tidak tahu apa maksud Siwon mengajak Yoona ke tempat ini, apa mungkin berkencan? Mungkin itu terlalu serius jika di lihat dari sebenarap lama mereka kenal, mungkin Siwon hanya ingin mengajak Yoona jalan-jalan saja. Mungkin?

Setelah berkeliing serta mencoba beberapa wahana permainan, Siwon mengajak Yoona untuk duduk. Sekilas Siwon melirik Yoona yang tengah terdiam.

“Apa kau senang?” tanya Siwon.

Yoona menoleh ke arahnya lalu mengangguk dan tesenyum. Tersenyum? Yoona tersenyum. Gadis itu tersenyum, meski hanya sebuah senyum tipis yang terlukis di wajahnya tapi itu sukses membuat Siwon terpana, atau lebih pantasnya terpesona. Bagaimana tidak akan terpesona dengan senyum gadis ini, inilah pertama kalinya Yoona tersenyum di depannya. Siwon bangga, dia merasa bangga karena dia telah membuat Yoona tersenyum.

“Kau cantik jika tersenyum….” ujar Siwon. Dia sadar saat mengucapkan itu. Yoona langsung membalikan wajahnya lalu menundukan kepala, mungkin dia malu mendengar pujian Siwon. Terlihat kini kedua pipi gadis itu memerah bak tomat yang siap di petik dari pohonnya. Sungguh semakin membuat dia cantik.

[[]]

Sejak kejadia di Lotte Word saat itu, perubahan sikap di antara Siwon dan Yoona jelas terlihat. Apalagi pada Siwon, dia nampak gugup saat berpapasan dengan Yoona di koridor sekolah. Biasanya dia selalu menyapa bahkan tersenyum pada Yoona. Tapi, sekarang tidak. Dia hanya menatap Yoona lalu tersenyum canggung. Mungkinkah seorang Siwon gugup menghadapi gadis SMA seperti Yoon? Rasanya itu mustahil, jika Siwon merasa canggung saat berhadapan dengan Yoona si gadis SMA, lalu bagaimana saat ia bertemu dengan gadis-gadis bule di Paris, apakah sama juga?

Setelah Yoona melewatinya, baru Siwon merasa menyesal. Menyesal karena tak menyapanya, tapi ya itulah Siwon. Rupanya dia pria yang terlalu penakut untuk berhadapan dengan wanita yang ia kagumi? Mungkin bukan hanya sekedar mengagumi, tapi…….Mencintai.

[[]]

Yoona berjalan di jalan setapak menuju rumahnya, kini waktu sudah menunjukan pukul 20:00 KST, kini Yoona tak perlu takut lagi di marahi untuk pulang malam, karena ayahnya sudah tidak ada di rumah. Tidak tahu pergi kemana laki-laki itu, yang jelas Yoona sendiri pun tidak tahu dan tidak mau tahu tentang kabar serta keberadaan ayahnya.

Saat tengah berjalan santai, tiba-tiba Yoona menghentikan langkah kakinya. Ia menoleh ke belakang ternyata seseorang dari tadi mengikutinya. Pria itu tersenyum sambil memperlihatkan deretan giginya yang berjajar rapi. Yoona heran, sejak kapan pria itu mengikutinya bahkan hampir sampai ke rumahnya. Yoona benar-benar tak menyadarinya.

[[]]

Setelah mengikuti Yoona tadi, Siwon memutuskan untuk mengajak Yoona duduk di sebuah bangku yang tak jauh dari tempat tadi. Belum sama sekali ada pembicaraan di antara keduanya, Yoona terlihat tengah memandangi benda langit yang bersinar di atas sana. Sementara Siwon, dia terlihat tengah berpikir.

“Cepat katakan, ini terlalu malam aku harus segera pulang…” ujar Yoona tanpa melepakan pandangannya dari langit.

“Ah tiba-tiba aku lupa, mungkin karena aku lapar jadi aku lupa mau mengatakan apa ada mu”

Lupa? Karena lapar? Bukankah itu jawaban yang terdengar bodoh, bahkan sangat bodoh. Siwon pun merutuki dirinya sendiri, dia berharap Yoona tak merasa aneh akan jawabannya.

“Baiklah, kalau begitu aku pulang dulu. Selamat malam…” beruntung Yoona tak merasa aneh akan jawabnya, atau Yoona pura-pura tidak tahu? Tapi rasanya tidak, terlihat tak tergambar sedikit pun rasa aneh dari wajah Yoona. Kini gadis itu berdiri dari duduknya lalu pergi meninggalkan Siwon.

Untuk beberapa saat, Siwon tak dapat melakukan apa-apa dia hanya melihat punggung Yoona yang kian menjauh dari penglihatannya. Sampai akhirnya entah bisikan dari mana Siwon pun berdiri dari duduknya, lalu berlari mengejar Yoona.

Siwon menarik lengan Yoona, yang berhasil membuat Yoona menghadap padanya.

“Aku mencintai mu….”

[[]]

Siwon menunggu di depan kelas Yoona dengan sabarnya, sesekali dia bernyanyi-nyayi kecil mungkin untuk membunuh waktu agar tak merasa kesal menunggu sang kekasih yang belum keluar dari kelas. Sang kekasih? Yap, sejak malam itu Siwon secara berani mengutarakan perasaannya yang terus bergejolak di dalam hatinya, bahwa ternyata dia mencintai gadi itu. Ternyata pada malam itu juga Yoona menerimanya, meskipun pada awalnya Yoona sempat menolak, karena dia merasa ini semua terlalu terburu-buru. Namun, Siwon berusaha meyakinkan jika ia benar-benar serius padanya. Akhirnya, Yoona pun menyetujuinya. Karena bagaimana pun juga ia tak bisa menolak Siwon, pria yang selalu membuatnya merasa tenang saat berada disisinya.

Bel terdengar memanggil-manggil, semua siswa keluar dari dalam kelasnya. Tak terkecuali dengan Yoona, saat keluar dia di sambut oleh Siwon yang sejak tadi berada di luar menunggunya.

“Kajja…”ajak Siwon tersenyum lalu meraih tangan Yoona. Menggendeng tangan gadis ini sambil berjalan beriringan di koridor sekolah, melewati para siswa perempuan yang terlihat cemburu melihat kemesraan yang mereka tunjukan.

[[]]

Siwon kembali mengajak Yoona ke pantai yang sama, mungkin inilah tempat favorit mereka menghabiskan waktu bersama. Sejak Yoona menjadi kekasih Siwon, dia agak sedit berbeda. Kini Yoona selalu tersenyum, bahkan tertawa saat bersama Siwon. hanya Siwon-lah yang mampu membuatnya menjadi seperti ini.

Setelah lelah bermain air, serta kejar-kejaran. Mereka berdua memutuskan untuk duduk di bibir pantai, sembari melepas rasa lelah.

“Apa kau senang hari ini?” tanya Siwon tersenyum..

“Emm, sangat senang…” jawab Yoona balas tersenyum.

Siwon kembali menatap Yoona yang duduk di sampingnya, untuk beberapa saat dia menikmati wajah pujaan hatinya itu. Bagai sebuah pahatan yang indah, matanya yang bulat serta di hiasa dengan kedua bola mata hitam nun jernih, tak lupa kedua matanya di hiasi dengan bingkai hitam yaitu alis yang berbentuk bak bulan sabit. Hidungnya yang mungil serta macung seperti di pahat dengan sangat teliti. Di tambah dengan bibirnya yang merah tipis semakin menambah kecantikannya. Sungguh ciptaan Tuhan yang paling indah. Batin Siwon.

“Yoona-yaa…” panggil Siwon tanpa melepaskan pandangannya menatap gadis cantik itu.

“Hemmm…” Yoona menanggapinya. Meskipun dia masih menatap lurus ke depan menikmati air laut yang tampak tenang.

“Maukah kau ikut bersama ku…” ujar Siwon pelan. Tapi ucapannya itu kali ini mampu mengalihkan perhatian Yoona.

“Ikut bersama mu?” ulang Yoona bernada bingung.

“Aku harus kembali ke Paris…” lanjut Siwon kali ini jelas. Yoona masih menatapnya seperti belum mengerti sekaligus kaget tak kala Siwon mengucapkan itu.

“Aku datang kemari karena libur dari pekerjaan ku sebagai seorang photografer. Tapi, sekarang aku harus kembali lagi ke Paris. Ikutlah bersama ku….” ujar Siwon. Namun, Yoona masih belum mengeluarkan sepatah kata pun. Sepertinya gadis ini merasa sedih, pria yang baru saja beberapa hari berstatus sebagai kekasihnya akan pergi meninggalkannya. Padahal Yoona sudah merasa senang, karena kehadiran sosok Siwon-lah sedikit demi sedikit dia berubah.

“Kalau keputusan mu akan pergi, pergilah. Jangan pikirkan aku….” ujar Yoona akhirnya lalu kembali menatap ke depan.

“Im Yoona…”

“Meski pun hidup ku di sini begitu sulit, tapi aku tidak mau pergi. Aku masih mempunyai ibu di sini, dan juga ayah. Jika aku pergi bagaimana dengan mereka berdua?” jawab Yoona yang langsung membuat Siwon tak bisa bicara lagi. Memang benar apa yang Yoona utarakan, dia masih mempunyai kedua orang tua di sini. Meskipun saat ini kondisi keluarganya sedang goncang tapi Yoona merasa tak sepantasnya dia pergi dengan seorang pria yang berstatus sebagai “kekasih”. Hanya kekasih bukan suami.

[[]]

Siwon menyeret koper berukuran sedang di tangan kirinya, dia berjalan pelan sambil menundukan kepalanya menuju mobil yang sudah menunggunya di depan gerbang sekolah. Kebetulan, kepergiannya hari ini akan di antar oleh Tn Choi serta Kangta, kakak sepupunya. Siwon menghentikan langkah kakinya lalu membalikan badannya melihat sebuah ruangan yang terdapat di lantai 3. Dimana ruangan tersebut adalah kelas sang kekasih berada, sejak pertemuan dua hari yang lalu di pantai Siwon tak pernah lagi bertemu Yoona. Mungkin, dia merasa bersalah pada Yoona kerena mengatakan hal yang tidak mengenakan bagi Yoona. Jadilah Siwon bimbang, ingin dia berpamitan pada Yoona tapi dia malu, tapi jika dia pergi begitu saja meninggalkan Yoona bukankah itu pengecut?

“Apa lagi yang kau tunggu? Kajja, Ayah mu sudah menunggu kita di mobil..” suara Kangta mengagetkannya. Siwon hanya menoleh sekilas ke arahnya lalu kembali melihat ruangan yang berada di lantai 3 itu berharap jika Yoona mengetahui keberadaannya di bawah.

“Hyung tunggu saja di mobil, nanti aku menyusul…” jawab Siwon. Kangta menepuk bahunya, lalu pergi masuk terlebih dahulu ke dalam mobil.

Untuk beberapa menit Siwon masih berdiri di tempatnya, sampai akhirnya setelah ia pertimbangkan akhirnya ia membalikan tubuhnya. Kembali berjalan dengan rasa penyesalan serta bersalah pada Yoona. Kekasihnya.

“Siwon Oppa…”

Saat kaki Siwon baru saja melangkah melewati gerbang sekolah tiba-tiba sebuah suarayang sangat tak asing di telinganya terdengar, Siwon langsung membalikan badannya melihat orang yang sudah bisa ia tebak.

“Yoona…” ucap Siwon tersenyeum lega. Gadis itu, ternyata menemuinya sebelum pergi. Siwon bahagia saat Yoona berjalan semakin mendekat ke arahnya.

“Aku berharap kita akan bertemu lagi…” ujar Yoona lalu mengulurkan tangan kananya pada Siwon. Siwon tersenyum, rupanya gadis ini sangat takut jika mereka tak dapat bertemu lagi. Siwon menerima uluran tangan Yoona lalu menarik tangan itu, sontak saja pemilik tangan itu seketika masuk kedalam dekapannya.

“Tentu, tentu kita akan bertemu lagi. Tunggu aku….aku akan kembali…” bisik Siwon di telinganya.

Yoona mengangguk dalam dekapan Siwon, dengan harapan jika kalimat yang baru saja di katakan pria ini bukanlah bualan semata. Melainkan sebuah janji yang harus di tepatinya. Siwon melepaskan pelukannya, tersenyum lalu mengecup puncak kepala Yoona sebagai salam perpisahan. “Jangan merasa kau sendiri, kau akan tetap berada di hati ku. Aku mencintai mu…” setelah mengucapkan itu Siwon membalikan badannya berjalan dengan hati yang gembira sekaligus sedih, karena harus berpisah dengan wanita yang di cintainya. Sementara itu, perlahan kedua sudut mata Yoona mulai mengeluarkan sesatu air mata beningnya. Yoona menangis, akhirnya ia tak bisa mengontrol air matanya sediri. Jelas Yoona sangat kehilangan sosok Siwon, namun perasaannya sedikit tenang karena Siwon berjanji akan kembali menemuinya.

[[]]

“Aku lulus…..”

“Aku lulus….”

“YEAH AKU LULUS………….”

Teriakan kegembiraan, serta tangisan kegembiraan kini terlihat setelah mereka melihat mading yang menempelkan nama-nama Siswa yang lulus dalam ujian kali ini. Semuanya bersuka cita, akhirnya usaha mereka selama 3 tahun mati-matian belajar siang dan malam tanpa lelah mengenal waku terbayarkanlah sudah dengan hasil yang amat memuaskan.

Yoona yang masih berdiri di belakang sekumpulan siswa lainnya masih belum mengetahui apakah dirinya lulus atau tidak, karena dia belum melihat daptar tersebut. Juga tidak ada yang memberitahunya.

“EONNI KAU LULUS! LULUS!LULUS….” tiba-tiba Da Som yang muncul tiba-tiba itu memeluk Yoona sambil loncat-loncat gembira, Yoona hampir kehabisan nafas akibat perbuatan gadis ini.

“Apa yang kau lakukan …” protes Yoona sambil sedikit mendorong Da Som agar menjauh darinya.

“Eonni kau belum melihatnya? Aigo, palli kita lihat…” kembali Da Som mengagetkan Yoona. Kali ini gadis berpipi cubby ini menarik tangan Yoona menerobos sekumpulan Siswa yang tengah nangkring di depan mading.

“Permisi…permisi..permisi…beri kami jalan….” ujar Da Som berdesak-desakan dengan siswa lainnya. Sampai akhirnya perjuangan Da Som pun berhasil, dan kini ia sudah berdiri di depan mading. Da Som mencari nama “Im Yoona” di deretan paling atas dan……tepat…jari telunjuk Da Som menunjuk nama Im Yoona yang bertengger di urutan paling atas.

“Eonni lihatlah, nilai mu paling besar di antara yang lain. Chukkaeyo….eonni…”

Merasa tak percaya apa yang di lihatnya, Yoona pun melangkahkan kakinya lebih depan lagi. Siapa tahu saja dia salah lihat, atau penglihatannya yang sudah rusak. Tapi, memang benar. Itu namanya, berada di urutan pertama. Tanpa sadar akhirnya Yoona tersenyum bangga akan dirinya sediri, ternyata perjuangan selama ini benar-benar tak sia-sia.

 

6 Years Later

 

“Aku pesan kimchi 3 porsi….”

“Aku pesan 4 porsi mie ramen….”

“Kimchi pesanan ku mana….?”

Kesibukan terlihat di sebuah kedai sederhana, kedai yang terdapat di pinggir jalan itu memang selalu ramai akan pengunjung. Tapi, kebanyakan para pengunjung itu adalah para pria? Jelas saja, selain mereka ingin mengisi perut tapi ada maksud lain di balik itu semua yaitu ingin melihat seorang pelayan wanita yang bisa di bilang menjadi magnetnya.

“Tunggu sebentar, aku ambilkan kembaliannya….” ujar Yoona – si pelayan itu pada pelanggannya yang berseragam SMA.

“Tidak usah Noona, buat kau saja kembaliannya..” ujar pemuda itu sambil tersenyum.

Yoona tersenyum lalu menganggukan kepalanya, sebenarnya hal ini sudah sangat biasa ia alami. Yoona juga tidak tahu kenapa para pelanggan selalu menolak menerima kembalian. Apa mungkin ini cara untuk mendekati dirinya? Mungkin saja.

[[]]

6 tahun berlalu bergitu cepat, kini Yoona sudah tumbuh menjadi seorang wanita dewasa. Tidak hanya itu, kini sifatnya sudah berubah tak seperti SMA dulu. Yoona bekerja di sebuah kedai yang merupakan kedai milik ibunya, sejak Yoona keluar SMA ibunya memutuskan menjual rumah mereka untuk di jadikan modal membuat kedai sederhana ini, sekaligus kedai ini juga menyatu dengan rumah mereka yang terdapat di belakang. Penghasilan dari kedai ini memang tak terlalu besar, tapi bisa di pakai untuk mencukupi kebutuhan mereka sehari-hari.

Sementara itu, ayah Yoona. Sudah 3 tahun dia di penjara karena kasus pemukulan pada seseorang. Kabarnya, Tn Im akan segera bebas tahun depan. Tapi, meskipun ayahnya tengah di tahan. Yoona senantiasa selalu menjengkuk ayahnya itu, hanya untuk sekedar melihat keadannya, serta mengantar makanan kesukaan ayahnya.

[[]]

“Kau lelah?” tanya Ny Im pada Yoona yang tengah mencuci mangkuk-mangkuk kotor.

“Sedikit bu…” jawab Yoona tersenyum.

“Kalau begitu pergilah jalan-jalan, biar ibu yang menjaga kedai hari ini….” titah Ny Im pada purtinya itu.

“Apa ibu tidak keberatan…?” tanya Yoona sambil melepaskan saputangan karet dari tangannya.

“Hari ini kau sudah banyak membantu ibu, pergilah. Ibu tidak apa-apa…”

Yoona mengangguk, lalu mengecup bibi ibunya “Kalau begitu aku pergi…”

“Ne, bersenang-senanglah.” Yoona mengangguk lalu menyambar tasnya yang tergantung. Kemudian dia pergi setelah sebelumnya berpamitan pada ibunya.

[[]]

Untuk melepas rasa lelah, serta penat. Yoona memlih pantai ini lagi, pantai di mana tempat ia melepas semua bebannya. Berjalan-jalan dengan bertelanjang kaki, menelusri bibir pantai sambil bernyayi-nyanyi kecil. Suara ombaklah yang mengirinya bernyayi, serta burung-burung yang berterbangan yang mengiringinya menari. Cukup lelah setelah berjalan, Yoona memutuskan untuk berhenti. Memandang lautan biru yang indah. Yoona tersenyum senang, lalu memejamkan matanya. Merasakan terpaan angin menelusuri setiap inci permukaan wajahnya, merasakan keagungan Tuhan yang sungguh luar biasa.

“IM YOONA…”

Yoona membuka matanya, dia seperti mendengar seseorang memanggilnya. Entahitu hanya halusinanya, atau memang benar seseorang memanggilnya.

“IM YOONA…”

Kembali suara yang sama Yoona dengar, dengan penasaran Yoona membalikan tubuhnya ke belakang tapi tak ada siapa-siapa.

“AKU DI SINI…”

Setelah suara itu terdengar Yoona membalikan lagi badannya, terlihat di ujung sana seseorang melambaikan tangan kanannya begitu bersemangat. Yoona memicingkan kedua matanya, melihat siapakah gerangan yang memanggil-manggil namanya. Sedetik kemudian, kedua sudut bibir Yoona tertarik. Membuat sebuah lengkungan yang manis. Yoona tahu orang tersebut adalah kekasihnya, Choi Siwon yang sudah lama mereka tak berjumpa .

Siwon perlahan berjalan sedikit cepat menghampiri Yoona yang berdiri menunggunya, sampai akhirnya kini jarak mereka tak terlalu jauh. Siwon menjatuhkan ranselnya yang tergantung di bahunya ke atas pasir lalu menarik tangan Yoona, mendekap kekasihnya ini dengan penuh rindu.

“Kau kembali…” ujar Yoona begitu tenang, dia yakin Siwon akan menepati janjinya untuk kembali dan ternyata itu benar.

“Aku kembali untuk mu…” balas Siwon semakin memeluknya erat.

[[]]

Waktu sudah mulai sore, tapi mereka belum beranjak dari tempat itu. Meskipun kini mereka tengah berdiri sambil memandang indahnya ombak bergelombang. Siwon menoleh melihat Yoona, lalu menyentuh tangan Yoona dan menggenggamnya. Yoona tersadar, dia menoleh pada Siwon seakan bertanya “Ada apa?”

“Ayo kita menikah?” kalimat itu terdengar begitu lancar Siwon ucapkan, sepertinya dia sudah benar-benar menghapalnya sejak beberapa tahun lalu. Yoona tak percaya, dia menatap kedua bola mata Siwon untuk meyakinkan.

Tangan kiri Siwon merogoh saku jaketnya, dia mengeluarkan sebuah benda bulat berwarna putih bersinar, benda itu di hiasi dengan mutiara putih di tengahnya, semakin menambah ke eleganannya saja.

“Menikahlah dengan ku…” ulang Siwon setelah menyematkan cincin itu di jari manis Yoona sebagai tanda jika ia telah melamar pujaan hatinya ini.

“Aku mau…” jawab Yoona pelan di barengi dengan senyum di wajahnya.

Siwon tak bisa menyembunyikan rona bahagia di wajahnya, dia tersenyum lalu membawa Yoona lagi kedalam dekapannya.

[[]]

“Im Yoona….” panggil Siwon pada sang kekasih yang tengah bersandar di bahu kokohnya.

“Hem…”

“Setelah kita menikah, aku akan membawa mu ke Paris? Kita tinggal di sana? Bagaimana?” tanya Siwon tanpa melepaskan tatapan matanya dari wajah Yoona.

“Karena setelah menikah kau adalah suami ku, jadi aku harus menuruti mu….” jawab Yoona lalu menatap Siwon

“Jadi?”

“Tentu saja aku mau….” Jawab Yoona tersenyum.

“Terima kasih…” ujar Siwon gantung akan kata-katanya.

“Untuk apa?”

“Telah menunggu ku selama ini….” lanjut Siwon. Yoona hanya tersenyum menanggapinya.

“Aku mencintai mu….” bisik Siwon sangat pelan di telinga Yoona, mungkin takut jika air laut atau pasir, atau mungkin kerang akan mendengar kata cintanya pada Yoona.

“Aku juga mencintai mu…” balas Yoona dengan bisikan juga.

Perlahan telunjuk Siwon menelusuri setiap inci permukaan wajah kekasihnya ini, menyentuh kulit putih mulusnya yang menawan, menyentuh tulang hidungnya yang tinggi dan berakhir di kedua bibir merah milik kekasihnya itu. Siwon menjauhkan telunjuknya dari bibir merah itu, tapi matanya tak bisa lepas sedikit pun. Entah kenapa ada keinginan dalam dirinya untuk merasakan bibir merah itu, tapi dengan sekuat tenaga Siwon berusaha mencegah dirinya.

“Lakukan saja…” titah Yoona yang sepertinya tahu apa ke inginan kekasihnya itu. Tanpa di titah untuk kedua kalinya dan sebelum pemilik bibir berubah pikiran Siwon perlahan namun pasti mendekatkan wajahnya, mengarahkan bibirnya untuk merasakan bibir kekasihnya itu yang menggoda. Tiba-tiba saja, debaran jantungnya bertambah kecepatan, aliran darahnya juga mengalir ke seluruh tubuhnya. Siwon gugup? Yah dia gugup, inilah pertama kalinya dia akan menciuma seorang wanita? First Kiss? Mungkin sebagian orang tak akan percaya, tapi inilah kenyataan. Yoona memang kekasih pertamanya, begitu pula sebaliknya.

Mata Siwon terpejam tak kala bibirnya sudah mendarat sempurna dengan bibir sang kekasih, awalnya terlihat kaku memang, mungkin karena inliah pengalaman pertama bagi mereka. Tapi, setelah cukup lama hanya saling menempelkan bibir saja akhirnya Siwon mulai bermain, mengulum serta melumat bibir Yoona meski masih dalam tempo yang pelan. Yoona juga mungkin ingin menciptakan moment first kissnya yang indah, dia mencoba membalas setiap lumatan, kecupan ataupun kuluman yang Siwon berikan untuknya.

[[]]

Matahari perlahan mulai turun, mungkin dia malu melihat sepasang sejoli yang tengah berbagi cinta di depannya, seperti sekongkol ombak yang awalnya bergelombang kini tampak tenang tak bersuara, mungkin ombak juga tak mau menganggu sepasang sejoli ini yang tengah membuktikan cinta mereka. Tidak hanya matahari dan ombak saja, burung-burung yang biasanya berterbangan kini mereka bersembuyi di balik pohon kelapa, membiarkan kedua sejoli itu melakukan kegitan mereka.

 

The End

 

Nita is back yes!!!!! #tak ada yang menyambut -_- YWK hening *krik…krik….krik

Membawa OS sebagai tuntutan readers karena merasa tak puas akan ending Y Saranghae. Huaaaaa😦 #nangisdipelukanSiwon…..

Emmmm sempat berpikir untuk buat sequelnya tapi…buntu di tengah-tengah idenya, dan jadilah OS ini. Bagaimana? Gak bagus kan? Kata-katanya gak enak di baca dan ada beberapa kata-kata kasar di dalam OS ini. Huft -_- maaf untuk menunjang cerita juga sih kekeke.

Oh yang sebenarnya ini sejarah bagi ku, karena OS ini nyampe ampe 26 Page -_- biasanya aku buat itu di bawah 20 page. Kepanjangan sih menurutku kekekek…

Uh typo bertebaran…..tolong di maafkan.

RCL ne🙂 aku tahu OS ini ceritanya geje abis -_- tapi tolong berikan saran dan kritikan kalian demi perbaikan untuk diriku ke depannya…

Thanks Nited LOVE YA:*

Tinggalkan komentar

126 Komentar

  1. Anggun YoonAddict SY

     /  November 2, 2014

    Yoongie kasian banget😦

    Balas
  2. Ni FF benar2 sangat menyentuh sekali meskipun ada kekerasan fisik pada Yoona, tapi FF ini benar2 sangat bagus bgt. Serasa seperti membaca cerpen

    Balas
  3. Aaaaahhh so sweet, ff nya kereeeeen

    Balas
  4. yhanies_Nited

     /  Januari 16, 2015

    nyesek banget baca kehidupan yoong unnie ,,,, authornya jahat ih bikin yoong unnie sengsara gitu ,,, Hehee*peace V
    tapi dibalik itu semua ada kebahagiaan buat yoong unnie dengan adanya wonppa yang pantang menyerah buat masuk dikehidupan yoong unnie dan bantu yoong unnie biar bisa tersenyum dan bahagia seperti yang laen ,,, gomawo wonppa ^^

    Balas
  5. Hua…aku terharu sama FF ini.Ikutan nyesek pas Yoong Eonni disiksa.Untung ada WonPa yang merubah hari harinya Yoong Eonni.Sukses buat aku nangis dari awal🙂

    Balas
  6. mawadah

     /  November 14, 2015

    ya ampun kasian bgt yoona eonnir di bully
    untang ajah ada siwon oppa yg nolongin….
    yeah akhir ya happy ending….
    seneng deh liat mereka bisa bersatu

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: