[OS] It’s My Life Destiny (Sequel : You’re My Love Story)

Cover

Tittle               : It’s My  Life Destiny (Sequel : You’re My Love Story)

Author            : Tika Pink / Tika Sheila EverlastingFriend

Email/Twitter : tika_pinky@rocketmail.com / smantikalove@gmail.com / @SangRa_ELF (Mention For Follback)

Main Cast      : Im Yoona, Choi Siwon

Other Cast     : Stella Kim, Jessica Jung, Lee Dong Hae

Genre             : Romantic, Sad, Friendship or Set Your self ^^

Length            : One Shoot

Rating             : PG + 15

 

 

Annyonghaseyo yeorobeun ^^ … Hi Hi Hi, aku kembali menyapa kalian dengan membawa satu ff terbaru. Karna banyak yang pada maksa sambil nangis-nangis buat minta sequel dari ff sebelumnya akhirnya aku menyempatkan diri untuk membuat ff ini. Kebetulan feelnya juga lagi dapat karna seminggu penuh aku ketemu namja dari masa lalu itu lagi #Plakk #gknanya … kkkkk ^o^ … Semoga kalian bisa menikmati dan menyukainya. Don’t be SIDERs or PLAGIATOR, arachiii???!!! ^o^

 

Warning : Typo bersembunyi di mana-mana!!!

 

#Happy Reading#

 

Yoona Pov

“Yoona-chan, ayo kita makan siang!” ajak Ran Matsumoto, seorang gadis cantik dengan wajah oriental Jepang yang kini sedang berdiri di sisi pintu ruangan kerjaku.

“Kau pergi saja Ran-chan. Aku sudah membeli makan siangku tadi. Aku ingin menyelesaikan pekerjaanku dulu. Tanggung jika aku harus meninggalkannya. Sebentar lagi selesai.” Jawabku seraya tersenyum padanya. Dia melirik sepintas kantong makanan yang terletak di sisi mejaku sepintas dan mengangguk.

“Baiklah. Aku rasa kau sudah memperhitungkan bahwa kau akan sibuk sehingga sudah menyiapkan makan siangmu lebih dulu. Kau memang selalu seperti ini.” ujarnya lalu pergi meninggalkan ruanganku. Dia tahu takkan bisa memaksaku jika aku sudah serius berhadapan dengan kerjaanku.

Aku kembali menatap layar monitor komputerku. Menyibukkan diri dengan laporan yang diminta oleh appa untuk aku selesaikan.

Ya, setelah memutuskan untuk pindah ke Jepang aku mulai membantu ayah bekerja di perusahaan. Perusahaan keluargaku adalah salah satu perusahaan yang bekerja di bidang kuliner dan resort. Saat ini aku sedang menyiapkan sebuah laporan untuk pengembangan salah satu resort kami yang sudah lama. Aku berniat ingin membuat resort itu agar lebih dikembangkan lagi dengan mengusulkan untuk menambahkan beberapa fasilitas tambahan untuk lebih menarik perhatian orang banyak terutama para turis. Tapi untuk itu dibutuhkan dana yang sangat banyak. Aku telah melakukan survey dan mengerjakan hal ini selama setahun terakhir ini. Ini adalah project pertamaku dan aku mengupayakan yang terbaik untuk pembangunan resort ini. Ayahku juga sangat mendukung bahkan membantuku mengajukan proposal project resort ini ke beberapa investor. Aku bekerja dengan sangat keras dan semua itu tidak sia-sia. Karna seminggu yang lalu appa memberitahukan padaku kalau ada salah satu perusahaan besar yang sangat tertarik dengan proposal yang aku buat dan ingin bekerja sama dalam pembangunan resort ini. Pemimpin perusahaan itu akan datang berkunjung untuk membahas masalah ini 2 hari lagi dan appa mempercayakannya padaku. Maka dari itu aku akan memastikan yang terbaik untuk mengaudit ulang laporanku. Sehingga saat membahasnya nanti dengan pihak investor itu, aku bisa membuat mereka menyepakati dan tanda tangan kontrak kerja akan berhasil aku dapatkan.

Yoona Pov End

***

Author Pov

“Yoong, kau di mana sayang?” tanya Tn.Im saat sambungan telfon itu telah dijawab oleh putrinya.

“Aku masih di jalan, appa. Mianhae, aku kena macet. Tapi sebentar lagi sampai. Apa pihak investor itu sudah datang?” tanya Yoona.

“Iya, dia sekarang sudah menunggumu di ruang meeting.”

Yoona mengernyitkan kening. “Dia? Apa hanya ada satu orang? Bukankah pihak investor seharusnya terdiri dari beberapa orang?”

“Oo, biasanya memang seperti itu. Tapi yang datang ini adalah pemimpin dari perusahaan yang cukup terkenal, Yoong. Appa sudah sangat mengenalnya karna dia cukup terkenal di kalangan bisnis. Katanya dia sangat tertarik saat membaca proposalmu yang sempat ayah ajukan waktu itu. Tapi dia ingin konsep itu lebih dijelaskan lagi dan melakukan survey langsung. Jika dia setuju, kita akan langsung melaksanakan project ini, Yoong.” Ujar ayahnya antusias.

Mendengar keantusiasan ayahnya, Yoona langsung mengambil kesimpulan bahwa dia berhasil menarik perhatian dari perusahaan yang cukup besar dan dia semakin bertekad untuk melaksanakan project ini.

“Appa, aku sudah sampai. Aku akan langsung ke ruangan meeting. Appa temani orang itu dulu agar dia tidak merasa diabaikan.”

“Arasso. Cepatlah!” kata ayahnya mengakhiri percakapan telfon itu.

“Paman, berhenti di sini!” kata Yoona pada sopir taksi yang mengantarkannya. Dia menyerahkan beberapa lembar uang sesuai angka yang tertera dalam argo taksi kepada sopir itu.

“Arigato gozaimazt!” ucapnya sebelum tuurun dari taksi.

Yoona segera menuju ke ruang meeting di lantai 7. Di lihatnya ayahnya sedang berdiri di depan ruangan dan tampak sumringah saat melihat kedatangannya.

“Ahh, Yoong akhirnya kau datang juga. Kajja, Mr. Andrew sudah menunggu di dalam.” Ujar Tn. Im, ayahnya. Yoona mengangguk lalu masuk ke dalam ruangan itu bersama ayahnya.

Tampak seorang namja sedang duduk membelakangi pintu sambil menatap layar monitor Ipad-nya.

“Excuse me, Sir! I have made you wait. I’m sor … ry!!!” Yoona membelalakkan matanya saat melihat dengan jelas namja yang kini juga telah mengalihkan pandangannya dari Ipad ke wajah Yoona.

Namja itu menatap Yoona dengan seksama selama beberapa saat. Lalu dia berdiri dari tempat duduknya agar bisa berhadapan dengan Yoona.

Yoona masih terdiam menatap namja itu. Rasa terkejut tentu saja seketika merasukinya. Dia masih tidak percaya akan apa yang telah dilihatnya saat ini. Namja itu …

“Mr. Andrew, kenalkan ini Miss. Yoona Im. Dia adalah orang yang mengusulkan proposal itu dan sekaligus putri saya. Dan Yoona, ini Mr. Andrew Choi. Beliau adalah pemilik perusahaan terkemuka di Asia dan merupakan orang yang tertarik dengan proposal yang kau buat. Beliau juga berkebangsaan Korea, seperti kita.” jelas Tn. Im tersenyum memperkenalkan Yoona dan Andrew secara bergantian. Tapi Yoona diam saja. Merasa terkejut dan tidak percaya akan apa yang ada di hadapannya saat ini. Namja itu, Andrew Choi yang tak lain dan tak bukan adalah Choi Siwon. Namja yang ditinggalkannya, namja yang coba dilupakannya, namja yang mungkin telah dilukainya, namja yang masih merajai hati dan pikirannya.

“Hi, Nn. Im! Senang bisa berkenalan dengan anda!” ucap Siwon dengan bahasa Korea seraya mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.

Yoona masih diam saja menatap namja itu sehingga Tn.Im merasa sedikit tidak enak.

“Yoong!” tegur Tn.Im lirih yang seketika menyadarkan Yoona. Di alihkannya pandangannya ke tangan kanan Siwon yang terulur itu lalu kembali lagi menatap wajah namja itu. Dengan sedikit ragu Yoona membalas uluran tangan itu.

“Senang juga berkenalan dengan anda, Tuan!” ucapnya dengan nada yang sedikit tercekat. Siwon tersenyum kecil lalu melepaskan tangannya.

“Saya telah beberapa kali mempelajari proposal yang anda buat dan karna anda sudah datang, bisakah kalau kita langsung menuju lokasi yang anda maksudkan untuk melakukan survey sekarang? Saya sudah merasa tidak sabar ingin melihat lokasinya. Mungkin saya juga akan menginap disana agar bisa lebih menikmati suasana resort itu.” kata Siwon ramah. Entah mengapa Yoona malah merasa nada itu terkesan dibuat-buat.

“Baiklah. Kami juga memang telah menyiapkan sebuah cottage untuk anda di sana. Saya akan memanggil salah satu karyawan terbaik kami yang memang telah kami siapkan untuk memandu dan menemani anda ke sana Mr. Andrew. Anda bisa menikmati …”

“Kenapa bukan dengan anda saja Nn. Im?” tanya Siwon memotong kalimat Yoona.

“Ne?”

“Kenapa bukan anda yang menemani saya ke sana?” ulang Siwon.

“Maaf Mr. Andrew, tapi bukan saya yang bertugas untuk itu.” Jawab Yoona.

“Tapi bukankah itu konsep yang anda buat? Jadi anda bisa lebih menjelaskan lagi pada saya secara mendetail jika sudah berada di sana.”

“Itu memang konsep saya. Tapi yang lebih tahu tentang seluk beluk tempat itu adalah rekan saya Nn. Ran Matsumoto. Jadi akan lebih baik jika anda pergi dengan dia. Mungkin saya hanya akan menjelaskan beberapa hal saja.”

“Nn. Im, apa anda sedang beralasan? Proposal itu anda yang buat dan saat membaca proposal itu saya yakin anda telah melakukan survey sebelum mengajukannya. Lagipula memang seharusnya yang mengajukan proposal itu yang menghadapi, menemani dan memandu klien secara langsung. Baru kali ini saya menemui seseorang yang malah menugaskan orang lain untuk menggantikannya melakukan hal itu. Apalagi anda menugaskan seorang Jepang. Perlu anda ketahui saya tidak bisa mengerti bahasa Jepang.” Ujar Siwon panjang lebar penuh penekanan seraya mennatap Yoona dengan tajam.

Tn. Im yang melihat hal itu langsung berusaha menengahi.

“Maaf Mr. Andrew, saya akan berbicara sebentar dengannya.” Kata Tn. Im yang disetujui Siwon dengan anggukannya. Tn. Im seketika menarik putrinya agak jauh dari tempat Siwon.

“Yoong, kau kenapa? Bukankah seharusnya memang kau yang menemani Mr. Andrew? Kenapa kau malah menunjuk orang lain?” tanya ayahnya lirih.

“Kenapa appa tidak katakan padaku kalau yang akan menjadi klien kita itu adalah Andrew Choi?” Yoona malah balik bertanya.

“Appa tidak sempat. Kau juga terlalu sibuk akhir-akhir ini. Tapi apa masalahnya? Apa kau mengenalnya?” Tn. Im mencoba meneliti wajah putrinya yang terlihat lain dari biasanya.

Yoona mengangguk. “Aku mengenalnya tapi aku tidak tahu bagaimana harus menjelaskannya. Tidak bisakah aku digantikan dengan orang lain saja, appa? Aku tidak bisa jika berhadapan dengan orang itu.” Pinta Yoona memelas berharap ayahnya mau mengerti. Tapi ayahnya malah menggeleng.

“Tidak bisa, Yoong! Appa tidak tahu persoalan apa yang terjadi di antara kalian sehingga kau bertingkah seperti ini, tapi ini adalah projectmu. Ini menjadi tanggung jawabmu dank au memang harus bertanggung jawab. Jika kau ingin proyek ini berhasil, maka kau harus melakukannya. Andrew adalah investor yang sangat tepat untuk kita. Jadi appa mohon padamu untuk professional, arrachi?!” tekan Tn. Im pada putrinya.

Yoona mendesah berat. Tapi dia sadar apa yang dikatakan ayahnya memang benar. Dengan perlahan dia mengangguk.

“Bagus. Ayo kita temui dia lagi!” kata Tn Im. Lalu mereka kembali berhadapan dengan Siwon yang masih menunggu mereka.

“Maaf Mr. Andrew telah membuat anda menunggu. Tapi Yoona sudah menyetujui untuk menemani anda ke sana.” Kata Tn. Im.

Siwon tersenyum. “Baguslah! Kalau begitu bisa kita pergi sekarang Im Yoona-ssi? Saya ingin sekali segera sampai di sana dan melihat-lihat situasinya.”

Yoona mengangguk.

“Ne!” jawab Yoona singkat.

***

Resort itu memang bagus dan menarik, hanya saja memang masih perlu dibenahi dan ditambahkan beberapa fasilitas yang lebih baik untuk menunjang kualitas resort itu. Hal itu yang ada dipikiran Siwon setelah berkeliling dan mendapat beberapa penjelasan dari Yoona dan staf karyawan yang bekerja di sana. Tapi sesungguhnya konsentrasinya tidak hanya di situ. Dia justru lebih berkonsentrasi terhadap pertemuannya dengan Yoona saat ini. Yeoja itu tampak baik-baik saja dan bisa mengendalikan situasi dengan baik. Meski sempat beberapa kali Siwon mendapati kecanggungan pada sikap yeoja itu bersamanya saat ini.

“Ternyata di sini tempat pelarianmu, Yoong! Kau meninggalkanku dan bersembunyi di sini selama ini! Tapi sayangnya kau tidak pernah bisa bersembunyi dariku!” batin Siwon. Yoona dan beerapa staf karyawan itu mengantarkannya ke sebuah cottage yang terdapat di resort itu yang ukurannya lebih besar dan mempunyai fasilitas yang lux.

“Ini adalah cottage yang telah kami siapkan untuk anda. Barang-barang bawaan anda telah di letakkan di dalam. Silahkan beristirahat dan menikmati waktu anda di sini. Kami undur diri dulu.” Pamit Yoona.

“Terima kasih telah mengantarkan saya ke sini. Kalian boleh pergi, kecuali Im Yoona-chan. Saya masih perlu berbicara dengan beliau tentang beberapa hal!” ujar Siwon dengan bahasa Jepang yang sangat lancar pada para karyawan itu. Mereka mengangguk lalu pamit pergi dari tempat itu meninggalkan Yoona dan Siwon.

“Kalimatmu cukup fasih untuk orang yang tidak mengerti bahasa Jepang, Mr. Andrew!” tegur Yoona.

Siwon tersenyum sinis. “Aku hanya bilang tidak mengerti bukannya tidak tahu atau tidak bisa berbahasa Jepang.” Jawabnya. Lalu seketika dia menarik Yoona yang masih berdiri di luar untuk masuk ke dalam ruangan itu dan menutup pintu cottage itu.

Yoona merasa kebingungan dan mencoba melepaskan diri. Siwon duduk di sofa yang terletak di ruangan itu lalu menarik Yoona duduk di sampingnya. Setelah itu dia baru melepaskan tangan Yoona.

“Apa yang baru saja kau lakukan?” tanya Yoona kesal.

Siwon mendengus. Aneh. Seharusnya dialah yang merasa kesal bukan Yoona.

“Bukankah kau harus menjelaskan sesuatu padaku?” tanyanya sambil menatap tajam Yoona yang duduk di sampingnya. Yoona menangkap ada rasa marah dari sorot mata itu. Yoona segera mengalihkan tatapannya.

“Aku tidak ingin menjelaskan apapun. Semua yang ingin aku jelaskan sudah aku jelaskan tadi.” Jawab Yoona.

“Aku bukan meminta penjelasan tentang masalah pekerjaan ini. Aku meminta penjelasan tentang apa yang telah kau lakukan selama setahun ini! Penjelasan tentang masalah kita!”

Yoona tahu apa sebenarnya maksud namja itu. Dan sangat tahu. Hanya saja Yoona tak tahu bagaimana dan apa yang harus dia katakana pada namja itu. Baginya tanpa penjelasan pun hal itu sudah jelas dan dia yakin Siwon juga tahu akan hal itu.

“Tidak ada yang bisa kujelaskan karna tidak ada yang perlu dijelaskan!” jawabnya berusaha bersikap dingin.

“Mwo? Mworago? Tidak ada yang perlu dijelaskan?” suara Siwon meninggi. Dia mendengus kesal. “Yoonggi-ya …!!!???”

Yoona segera berdiri saat mendengar Siwon memanggil namanya seperti itu.

“Maaf Mr. Andrew, tapi sepertinya saya harus pergi. Ini laporan yang lebih mendetail yang sudah saya revisi jika anda ingin mempelajarinya lagi.” kata Yoona seraya menyodorkan sebuah map yang sejak tadi di pegangnya.

Siwon melirik map itu sepintas. Lalu dia ikut berdiri. Di ambilnya map itu dari tangan Yoona lalu melempar map itu dengan kasar ke Sofa yang membuat Yoona membelalakkan mata terkejut. Tapi Siwon tidak perduli. Di cekalnya kembali tangan Yoona dan kali ini lebih kuat.

“Mempelajarinya? Untuk apa? Aku sudah cukup mempelajarinya dan melihat keadaan resort ini. Kau ingin aku menyetujui kontrak kerja samanya? Ok, aku setujui. Kalau kau bawa kontrak kerja samanya sekarang dan meminta tanda tanganku, aku akan menandatanganinya saat ini juga jika itu memang maumu. Tapi saat ini kau harus menjelaskan sesuatu padaku yang lebih penting dari sekedar kertas laporan itu atau kontrak kerjasama. Kau harus menjelaskan padaku tentang apa yang kau lakukan terhadap hubungan kita!!!” bentak Siwon.

Yoona semakin terkejut menghadapi kemarahan Siwon di depannya saat ini. Siwon yang dikenalnya tidak pernah membentak ataupun marah seperti ini. Siwon yang di depannya saat ini seperti orang yang tidak dikenalnya.

“Mr. Andrew, apa yang baru saja anda lakukan? Anda memperlakukan apa yang telah saya kerjakan selama setahun ini seperti sebuah barang yang tidak berharga. Jika anda tidak ingin bekerjasama dengan pihak kami bukan seperti ini caranya!” balas Yoona kesal. Tak bisa menerima kalau laporan yang telah dikerjakannya dengan susah payah malah dilempar seenaknya oleh Siwon.

“Mr.Andrew? Saya? Anda?Ck … saat ini kau tidak perlu bersikap formal padaku. Aku tidak ingin membahas pekerjaan. Aku ingin membahas masalah kita!” Siwon mengeluarkan sepucuk surat dari saku dalam jasnya dan menunjukkannya di depan Yoona.

Yoona mengenali surat itu yang tak lain adalah surat yang dikirimkannya pada Siwon sebelum dia berangkat ke Jepang.

“Kau mengenali surat ini kan? Ini surat yang kau kirimkan padaku sebelum kau menghilang. Apa kau tahu apa yang terjadi padaku saat itu? Apa kau tahu bagaimana sakitnya perasaanku saat itu? Kau bilang maaf dan apa … kau memintaku kembali pada Stella? Apa kau sadar saat menulis surat ini? Malam sebelum itu kau mengatakan bahwa kau mencintaiku dan paginya kau pergi meninggalkanku dan memintaku kembali pada Stella? Kau membuatku menjadi orang paling bahagia malam itu dan kau langsung menghancurkannya berkeping-keping keesokan harinya? Dan sekarang … mwoya? Tidak ada yang perlu kau jelaskan? Apa maksudmu tidak ada yang perlu dijelaskan? Jelas-jelas kau harus menjelaskan sesuatu … !!!” suara Siwon kian meninggi. Sadar dia bisa menakuti Yoona, dia mendesah dan kembali melajutkan kalimatnya dengan suara yang lebih pelan.

“Apa kau tahu aku selama ini mencarimu? Mencari tahu keberadaanmu yang bahkan kau sembunyikan dari sahabatmu. Aku sudah seperti orang gila saking frustasinya mencari keberadaanmu sampai akhirnya bulan lalu aku melihat proposalmu itu di meja kerja salah satu rekan bisnisku. Aku mendapati namamu yang tertera sebagai penanggung jawabnya. Aku langsung saja meminta proposal itu dari rekanku. Dan setelah mencari tahu ternyata itu benar proposalmu. Aku segera menghubungi ayahmu dan menawarkan kerja sama hanya untuk satu hal, agar aku bisa bertemu denganmu. Bertemu denganmu dan menuntut penjelasanmu untuk semua ini. Hari ini adalah hari yang aku tunggu-tunggu tapi bukan untuk mendapatkan perlakuan seperti ini darimu, Yoong!!!”

Yoona merasa matanya panas mendengar penuturan Siwon itu. Tapi dia bahkan tidak tahu apa yang harus dia lakukan apalagi dia katakan. Sehingga dia memilih untuk tidak mengatakan apa-apa. Dia melepaskan tangannya dari cekalan tangan Siwon dengan satu tangannya yang masih bebas.

“Mianhae, tapi memang tidak ada yang perlu aku jelaskan. Surat itu aku rasa sudah cukup jelas. Mianhae. Aku harus pergi!” ucapnya lalu berbalik ingin meninggalkan tempat itu. Detak jantungnya mulai abnormal dan matanya semakin panas ingin menumpahkan air matanya. Tapi baru beberapa langkah saja tangannya kembali di cekal. Tapi kali ini bukan itu saja, Siwon menariknya lebih erat ke pelukan namja itu dan akhirnya dengan gerakan cepat yang tak bisa diduganya bibir Siwon kini mendarat di bibirnya. Dia sangat terkejut dan langsung berontak tapi mulut Siwon telah mengunci mulutnya yang ingin meneriakkan protes. Dia berusaha berontak dan melepaskan diri, tapi pelukan Siwon semakin mengetat. Ciuman itu sangat kasar. Siwon menciumnya dengan penuh amarah. Namja itu melumat bibirnya dengan kuat dan jauh dari kesan lembut. Bahkan menggigit kecil bibirnya untuk memberikan celah kepada namja itu agar bisa memasukkan lidahnya ke dalam mulut Yoona, memperdalam ciuman itu, menghukumnya.

Siwon semakin dalam mencium Yoona. Meluapkan emosi, kerinduan dan cintanya yang selama ini terkukung dalam relung hatinya. Sakit, patah hati, dan keinginan untuk menghukum Yoona ikut bercampur menjadi satu. Perlahan Yoona berhenti berontak tapi gadis itu tidak memberikan respon apapun pada ciumannya selain membiarkannya saja. Akhirnya Siwon melembutkan ciumannya dan tak bisa dicegahnya sebulir airmata mengalir keluar dari matanya bersamaan dirasakannya sebuah titik air juga menetes dari mata Yoona yang ikut membasahi pipinya.

Ciuman itu berlangsung beberapa lama, saat Siwon mengakhirinya nafas mereka sedikit tersenggal-senggal. Nampak bibir Yoona yang sedikit bengkak akibat ciumannya tadi. Setelah nafas Yoona mulai teratur, dia langsung mendorong Siwon dan melepaskan diri. Tanpa berkata apa-apa lagi Yoona langsung berlari keluar dari ruangan itu meninggalkan Siwon yang masih diam berdiri di tempatnya dengan segala perasaan yang masih bercampur aduk.

Author Pov End

***

Siwon Pov

Kenapa pertemuanku dengannya hari ini harus seperti ini? Kenapa dia bersikap seperti ini padaku? Apa perkataannya waktu itu hanya sebuah kebohongan? Apa dia berbohong saat mengatakan dia mencintaiku?

Pikiranku kembali penuh dengan pertanyaan-pertanyaan itu. Setahun lebih aku mencarinya, mencari tahu ke mana dia melarikan diri dan bersembunyi. Kenapa dia melakukan semua itu setelah membuatku merasa bahagia malam itu? Apa alasannya masih belum jelas dan kalau alasannya hanya karna wanita itu, aku tidak akan menerimanya dengan mudah. Karna itu memang bukan alasan.

Hati ini masih sakit, perih sejak mendapati dia pergi meninggalkanku. Meninggalkan Korea bahkan tanpa memberitahu keberadaannya pada siapapun. Frustasi ikut merasukiku karna putus asa sampai aku melihat proposal itu. Aku memutuskan untuk tinggal lebih lama di Jepang meski urusanku di sini sudah selesai hanya untuk setitik harapan agar bisa bertemu dengannya lagi. Dan akhirnya penantianku tak sia-sia. Tapi tanggapannya begitu mengecewakan.

“Tak ada yang perlu dijelaskan? Jelas-jelas kau berhutang penjelasan padaku, Im Yoona. Meski begitu aku yakin kau masih mencintaiku, Yoong. Sama seperti aku yang begitu mencintaimu. Kau adalah orang pertama yang membuatku merasakan hal ini dan akan menjadi satu-satunya. Aku takkan membiarkanmu mengelak apalagi melangkah pergi dari hidupku lagi. Seujung kukupun tak akan kubiarkan kau menjauhi hidupku!”

Siwon Pov End

***

Yoona Pov

“Aku pulang!” seruku saat memasuki rumahku. Eomma dan Appa yang sedang duduk di ruang tengah sambil menonton Tv menoleh. Ternyata appa pulang lebih cepat.

“Ahh, Yoong kau sudah pulang. Bagaimana? Apa Andrew menyukai resort kita?” tanya appa antusias. Aku bisa saja mengatakan kalau Siwon mau bekerjasama, tapi aku masih meragukan hal itu. Apalagi setelah apa yang terjadi pada kami tadi.

“Dia akan mempertimbangkannya setelah menginap beberapa hari di sana dan mempelajari revisi laporanku, appa!” jawabku. “Tapi appa, bisakah aku digantikan dengan orang lain saja? Aku merasa …”

“Tidak bisa, Yoong! Project ini tetap kau yang harus menanganinya. Ini usulmu dan appa sudah membantumu untuk mencarikan investor. Jadi sekarang kau harus bertanggung jawab. Kita sudah membahasnya tadi di kantor.” tegas appa. Aku mendesah berat lalu mengangguk. Dengan lunglai aku melangkah ke kamarku dan menguncinya rapat. Aku sedang tak ingin diganggu saat ini. Ku hempaskan badanku ke tempat tidur. Hari ini rasanya sangat melelahkan.

Tangis yang sejak tadi kutahan akhirnya keluar dengan derasnya.

Kenapa namja itu harus datang? Kenapa namja itu harus muncul di depanku saat ini? Sesungguhnya aku sangat merindukannya. Aku merindukan semua tentangnya. Tapi aku sama sekali tidak siap jika harus bertemu dengannya.

Rasa bersalah muncul seketika bersamaan dengan rindu itu. Aku tahu aku salah. Aku tahu aku menyakitinya. Tapi apa yang aku lakukan adalah yang terbaik. Aku meninggalkannya karna aku tidak ingin menyakiti sahabatku. Saat itu yang kupikirkan jika aku harus memilih diantara dia dan Stella, aku lebih baik tidak memilih siapapun sehingga aku memutuskan untuk pergi saja meninggalkan mereka.

Aku tak menyangka jika dia akhirnya menemukanku. Aku tak menyangka kalau investor itu aalah dia. Sekarang apa yang harus aku lakukan untuk menghadapinya? Meski aku mencintainya, aku pikir tak bisa bersamanya lagi.

Tapi … ciuman itu …

Dia menciumku seolah ingin menghukumku. Sifatnya juga tak lagi lembut. Aku tahu dia marah tapi …

Ahh, aku tak tahu apa yang sedang berkecamuk dalam pikiranku saat ini. Rindu, senang, rasa bersalah bercampur adku di dalam hatiku menimbulkan suatu perasaan yang menyakitkan. Dan itu semua karna aku mencintainya. Aku masih sangat mencintainya.

***

Aku menyalakan notebook-ku selagi menunggu Siwon di restoran resort. Ini hari kelima setelah pertemuan hari itu. Ayahku sangat menginginkan project kerja sama ini berhasil sehingga tak ada pilihan lain untukku selain menghadapinya dan berusaha bersikap professional. Bahkan ayah memintaku untuk ikut menginap di resort agar lebih mudah berkomunikasi dengan Siwon. Sedangkan ayah dan ibuku berangkat ke Thailand tadi pagi untuk mengurus beberapa bisnis di sana. Kemana ayah pergi, ibuku selalu setia menemaninya dan menyerahkan urusan Siwon kepadaku.

Sebuah pesan masuk ke emailku. Aku membukanya. Dari Jessica.

 

Yoong … kau di Jepang kan? Iya kan? Saat ini aku dan Donghae oppa sedang dalam perjalanan menuju ke sana. Kau akan mendapat hukumanku jika kita bertemu. Jadi siap-siaplah gadis jahat …!!!

 

Apa maksudnya ini? Jessica sudah tahu keberadaanku? Tapi darimana?

“Apa sudah menunggu lama?” tanya sebuah suara yang terkesan dingin. Aku menoleh dan mendapati sosok Siwon di depanku yang sedang berdiri dengan memakai setelan jas yang sangat rapi dan modis. Dia lalu mengambil tempat duduk di depanku.

“Aku sudah cukup berjalan-jalan dan menikmati suasana resort ini. Aku pikir kita bisa melaksanakan kontrak kerja minggu depan. Bagaimana menurutmu?” tanyanya padaku tanpa ekspresi yang jelas. Ya, setelah pertemuan hari itu dia mulai bersikap seperti ini. Bahkan terkesan dingin. Saat dia tahu aku menginap di resort ini pun dia menampilkan ekspresi seperti itu seolah tak ada yang pernah terjadi di antara kami. Kami hanya membahas masalah pekerjaan dan dia pun tak pernah mengungkit masalah kami sedikitpun.

Aku bisa sedikit lega karna hal itu, tapi aku juga tak bisa menutupi kecanggunganku jika harus berhadapan dengannya. Rasa bersalah kian menggorogotiku jika aku melihatnya.

“Im Yoona-ssi, apa kau mendengarku?” tanyanya yang membuatku tersadar dari pikiranku.

“Ahh, maafkan saya. Baiklah jika anda ingin melakukannya seperti itu. Saya akan menyiapkan segala sesuatunya.” Jawabku sedikit canggung.

“Apa kau sedang memikirkan sesuatu?” tanyanya tiba-tiba seraya menatapku tajam. Dia seakan menilik mimik wajahku dengan seksama.

“Aniyeyo.” Sangkalku. Aku rasa pertemuan ini tidak perlu berlangsung lama. Dia sudah menyetujui untuk melakukan kerja sama jadi sudah tak ada yang perlu dibicarakan lagi. aku ingin segera pergi dari hadapannya sebelum perasaanku semakin kacau. Segera kututup notebook-ku dan berdiri.

“Sepertinya sudah tidak ada yang perlu dibicarakan. Kalau begitu saya pamit dulu ingin kembali ke cottage saya.” kataku sambil membungkuk formal. Tanpa menunggu jawabannya, aku segera pergi meninggalkannya. Tapi sepertinya dia juga tidak menginginkan untuk berlama-lama denganku.

“Yoona-chan!!!” panggil seseorang saat aku hendak keluar dari restorant. Aku menoleh dan melihat seorang namja Jepang yang tampan sedang tersenyum ke arahku. Dia segera menghampiriku dengan senyumannya yang khas yang aku yakin bisa meluluhkan hati gadis manapun.

“Ogori-kun?! Kenapa kau bisa ada di sini?” tanyaku pada namja itu. Ogori Shun adalah seorang jaksa muda yang cukup terkenal. Aku bisa berkenalan dengannya melalui Ran, rekan kerjaku. Katanya mereka sudah berteman sejak kecil.

“Aku baru saja selesai menemui klienku yang menginap di resort ini.” Jawabnya. “Kau sendirian?” tanyanya kemudian. Mungkin maksudnya karna aku tidak bersama dengan Ran. Aku bisa merasakan kalau mereka berdua sebenarnya saling tertarik dan menyimpan perasaan yang lebih dari sekedar teman.

Aku mengangguk. “Ya, aku hanya sedang menyelesaikan beberapa urusan resort.”

“Hmm, begitu! Lalu sekarang kau ingin ke mana?”

“Aku …”

“Sayang, ayo kita pergi!” kata seseorang dengan bahasa Jepang yang fasih yang tiba-tiba saja sudah berdiri di sampingku dan merangkul punggungku dengan posesif. Siapa lagi kalau bukan Siwon. Aku menatapnya heran tapi dia malah membalas dengan sorot mata yang lembut.

“Katamu kau sendirian, ternyata kau bersama kekasihmu!” ujar Ogori seraya tersenyum melihatku dan Siwon bergantian. Aku menjadi sedikit salah tingkah.

“Hmm, ini …”

“Hi, aku Choi Siwon, kekasih Yoona!” kata Siwon memotong kalimatku seraya mengulurkan tangan pada Ogori untuk memperkenalkan diri. Ogori menyambut uluran tangan itu dengan ramah.

“Aku Ogori Shun, teman Yoona-chan. Senang berkenalan dengan anda!” kata Ogori. Siwon mengangguk lalu melepaskan jabatan tangannya.

“Maaf kami harus pergi. Yoona sedang merasa kurang enak badan, jadi aku harus segera mengantarnya kembali ke cottage.” Ujar Siwon seolah merasa menyesal jika harus meninggalkan Ogori.

Ogori mengangguk “Silahkan.” Jawabnya. “Kau harus beristirahat, Yoona-chan. Ran sering mengatakan padaku kalau kau akhir-akhir ini terlalu sibuk.” Ujarnya menambahkan seraya tersenyum padaku.

Aku hanya mengangguk. Siwon pamit sekali lagi dan membimbingku meninggalkan tempat itu seraya merangkulku dengan posesifnya. Seakan tak ingin aku terlepas. Tapi raut wajahnya yang tadi lembut dan ramah saat berada di depan Ogori kini berubah menjadi tak terbaca dan terkesan lebih dingin.

“Terima kasih telah mengantarkanku, meski aku rasa itu tidak perlu.” Ucapku saat kami sudah berada di depan cottage yang aku tempati. Cottage itu hanya berada tepat di sebelah cottage yang ditempatinya.

Dia masih berdiri di dekat pintu seraya menatapku dengan tatapan tak terbaca. Aku tidak tahu apa yang sedang dipikirkannya.

Sudahlah, aku tak ingin berlama-lama di tatap seperti itu olehnya. Aku segera membalikkan badanku, membuka pintu dan ingin beranjak masuk ke dalam untuk beristirahat.

“Hanya beberapa detik tak bersamaku kau bahkan bisa mendapatkan perhatian dari seorang namja seperti tadi. Entah apa yang terjadi selama setahun ini saat kita tidak bersama.” Gumamnya lirih tapi jelas terdengar di telingaku sehingga langkahku tertahan untuk masuk.

“Katakan padaku, apa saat ini, di tempat pelarianmu ini, apa kau sudah mendapatkan seseorang yang menggantikanku? Menggantikan posisiku di hatimu?” tanyanya. “Melihat usahamu untuk menyembunyikan diri dan bersikap biasa saja di depanku, entah kenapa aku merasa kau sudah menggeser jauh diriku dari hatimu!” tambahnya.

Aku menghembuskan nafas dengan susah payah.

“Saya tidak tahu apa yang sedang anda bicarakan saat ini, Mr. Andrew. Tapi saya harap anda tidak tersinggung jika saya ingin masuk ke dalam dan beristirahat.” Kataku tanpa mau menoleh padanya. tapi dengan satu kali hentakan dia menarik tubuhku dengan kasar agar menghadap padanya dan menghimpitku ke sisian pintu.

“Berhenti bersikap formal padaku dan bertingkah seperti tak ada yang terjadi di antara kita!” bentaknya. Matanya kini penuh dengan sorot kemarahan. Rahangnya tampak mengeras menahan amarahnya yang seakan ingin meluap.

“Mr. Andrew???”

“Jangan memanggilku dengan nama itu! Panggil aku Siwon. Choi Siwon! Meski seluruh dunia sering memanggilku dengan sebutan Mr. Andrew tapi aku tidak ingin kau memanggilku seperti itu. AKu ingin kau memanggilku dengan namaku yang sebenarnya. Dengan nama koreakku bukan dengan nama itu!”

Dadaku sesak secara tiba-tiba. Aku ingin menghindarinya tapi aku malah terjepit seperti ini. aku sadar aku takkan mungkin menghindar selamanya di saat hatiku juga ingin menggapainya yang kini ada di depanku.

“Apa yang kau inginkan sebenarnya Choi Siwon? Kenapa kau tak bisa membiarkanku sendiri?”

“Mwo? Kau bukannya ingin menjelaskan sesuatu tapi malah bertanya kenapa aku tak bisa membiarkanmu sendiri? … Yak, Im Yoona …”

Aku mendorongnya sekuat tenaga sehingga aku bisa melepaskan diri dari himpitannya.

“Mianhae, Siwon-ssi. Tapi aku sudah berusaha untuk meninggalkan semuanya termasuk kisahku bersamamu. Aku hanya ingin memulai hidupku yang baru dengan tenang tanpa adanya perasaan bersalah karna menyakiti siapapun.”

“Tapi kau menyakitiku!!!” bentaknya lagi.

“Benar, aku menyakitimu!” tukasku cepat. “Aku memang menyakitimu. Itu adalah rencanaku yang sebenarnya dulu. Menyakitimu untuk membalas dendam karna kau telah menyakiti sahabatku. Tapi dengan bodohnya aku malah ikut terhanyut dalam pusaran yang aku buat. Aku akui aku jatuh cinta padamu. Tapi tidak, aku tidak boleh melakukannya. Karna itu sama saja aku menyakiti Stella. Tiap bersamamu aku mencoba mengabaikan perasaan bersalah telah menyakiti Stella, mengkhianatinya tapi tidak bisa. Perasaan itu selalu menghantuiku dan menggorogotiku kian dalam. Dan saat mendengar Stella membenciku karna merebutmu, aku semakin jatuh karna perasaan itu.” Air mata kian deras menetes di pipiku.

“Kau tidak merebutku, Yoong.”

“Ani, aku merebutmu meski tak secara langsung. Aku membenarkan hal itu. Kenapa? Karna saat kau menyakitinya dulu, aku yang mendesaknya untuk mengakhiri hubungannya denganmu. Aku yang begitu berapi-api ingin dia putus denganmu. Tapi setelah itu malah aku yang berhubungan denganmu! Aku mengkhianatinya. Aku sudah bisa dikatakan merebut sesuatu yang masih dicintainya. Aku merebutmu dari Stella, sahabatku sendiri! Dan aku selalu memikirkan hal itu tiap bersamamu! Jika ini penjelasan yang kau minta, maka kau telah mendapatkannya!”pekikku.

“Kau terlalu menghargai persahabatanmu meski hal itu menyakiti dirimu sendiri. Aku tahu persahabatan memang kadang lebih penting daripada cinta tapi kau juga harus memikirkan persahabatan seperti apa yang tetap harus kau pertahankan dan kau junjung seperti itu! Sudah kukatakan aku tidak pernah mengajak Stella berkencan. Itu hanya pemikirannya sendiri. Aku tidak mencintainya. Jika dia memang merasa sakit itu karna dia menyakiti dirinya sendiri.”

“Kenapa kau begitu picik?”

“Aku tidak picik. Yang saat ini berpikiran picik adalah kau, Yoong!” bantahnya. “Berhenti menyalahkan dirimu sendiri karna kau mencintaiku. Berhenti menyinggung-nyinggung dia, orang yang bahkan tak pernah menjadi masa laluku. Aku mencintaimu. Berulang kali telah aku katakan kalau yang aku cintai itu adalah dirimu. Aku mencintaimu. Kau adalah cintaku di masa lalu, saat ini dan yang ingin tetap aku cintai di masa depanku! Jadi berhenti berpikir seperti itu. Berhenti mendorongku menjauh apalagi kembali pada perempuan itu seperti yang kau tuliskan di surat konyolmu. Berhenti menghindariku! Yang harus kau lakukan adalah kembali ke sisiku karna kau masih mencintaiku!” tambahnya.

Aku tidak tahu harus berkata apa lagi. Tiba-tiba sakit yang luar biasa menyerang bagian perutku. Dadaku semakin sesak. Mataku mulai kabur.

“Yoong …”panggil seorang wanita yang berdiri tak jauh di depan cottageku. Dia bersama seorang namja tampan yang sedang memegang koper. Siwon ikut menoleh. Aku mengenali kedua orang itu. Tapi rasa sakit di perutku semakin terasa perih dan menyesakkan, kepalaku pusing dan pandanganku semakin kabur.

“Jessicca!!!”ucapku sebelum aku limbung dan terjatuh ke lantai. Kudengar suara pekikan Jessica dan Siwon segera berlutut di depanku. Mengangkat kepalaku ke pangkuannya.

“Yoong, kau kenapa? Sayangku, kau kenapa?” tanyanya sambil menepuk-nepuk pipiku. Tapi dadaku semakin sesak. Aku serasa tak bisa bernafas dan dengan perlahan akhirnya aku tak tahu apa-apa lagi.

***

Aku tidak tahu berapa lama aku tak sadarkan diri. Saat aku membuka mataku aku telah berada di sebuah ruangan yang tak aku kenali. Selang infuse terpasang di telapak tangan kananku. Jessica tampak berdiri di sampingku dengan raut wajahnya yang cemas.

“Yoong!” panggilnya lirih. Tiba-tiba rasa sakit yang luar biasa kurasakan lagi di perutku dan menjalar ke seluruh tubuhku. Aku meringis dan ingin menjerit dengan keras saat merasakan rasa sakit itu. Tapi Jessica segera menahanku seakan tahu apa yang akan aku lakukan.

“Andwae, Yoong! Kau tak boleh menjerit dan bergerak dulu. Kau baru saja selesai dioperasi.” Kata Jessica. Aku menatapnya nanar.

“Operasi? Memangnya aku kenapa?” tanyaku tak mengerti kenapa aku harus dioperasi. Jessica tersenyum lembut.

“Kau tadi pingsan dan tak sadarkan diri meski kami mencoba untuk menyadarkanmu. Maka kami langsung membawamu ke rumah sakit. Ternyata appendiksmu kambuh dan nyaris pecah sehingga kau harus di operasi saat itu juga. Kata dokter kau sering terlambat makan dan mungkin banyak pikiran sehingga memicu ketegangan otot perutmu dan membuat appendiksmu parah. Tapi sekarang sudah tidak apa-apa. Kau hanya harus menahan rasa perih di perutmu karna luka oprasi itu.” Kata Jessica menjelaskan.

Aku masih meringis kesakitan. Rasa sakitnya sungguh luar biasa. Bau obat. Ahh, aku sangat benci berada di rumah sakit. Itulah yang membuatku begitu enggan untuk memeriksakan diri ke dokter meski aku sedang sakit dan butuh perawatan.

“Kenapa kau bisa ada di sini?” tanyaku.

“Tentu saja untuk menemuimu. Aku mendapat kabar dari Siwon kalau kau berada di sini dan kebetulan Donghae oppa juga ada sedikit urusan di Jepang, jadi aku ikut dengannya. Mungkin Stella juga akan ke sini besok!”

“Mwo? Stella?” aku sedikit terkejut saat mendengar Stella di sebut. Jessica mengangguk.

“Siwon yang memintanya untuk datang. Mungkin dia ingin Stella lebih memperjelas perasaannya di hadapanmu dan dia. Kau tahu kan Siwon sangat mencintaimu?! Dan dia bersusah payah untuk menemukanmu dan mendapatkanmu lagi!”

“Tapi Stella …?”

“Jangan pikirkan yang macam-macam. Tak akan terjadi apa-apa pada Stella. Sudah kukatakan dulu, Stella akan baik-baik saja. Tapi kau dan Siwon tidak akan baik-baik saja tanpa satu sama lain. Kalian saling mencintai. Sedangkan Stella hanya sedikit termakan keegoisannya saat itu dengan menyalahkanmu telah merebut Siwon darinya. Padahal kau sama sekali tak melakukannya. Dan kau sangat bodoh meninggalkan kami hanya untuk melarikan diri seperti ini.”

“Sicca-ya, aku hanya tidak ingin menyakiti siapapun.”

“Mwo? Jelas-jelas ada yang kau sakiti. Kau menyakitiku dengan pergi tanpa memberitahukan apapun padaku. Kau bahkan tak meninggalkan alamat atau nomor telfon yang bisa aku hubungi. Dan yang terpenting kau menyakiti dirimu sendiri dan Siwon.”

“Sicca-ya …”

“Sudahlah, jauhkan pikiran-pikiran yang sama sekali tidak perlu dari otakmu itu! Aku datang kesini ingin menghukummu tapi kau malah sakit seperti ini. Jadi sekarang kau istrahat dulu. Tak boleh banyak gerak atau luka operasi di perut sebelah kananmu itu akan semakin parah.” Ujar Jessica.

“Apa dia sudah sadar?” tanya seseorang dari balik pintu. Jessica menoleh. Aku sudah tahu siapa pemilik suara itu.

“Ne, dia sudah sadar.” Jawab Jessica tersenyum. Lalu aku akhirnya bisa melihat Siwon dan Donghae di sampingnya. Jessica menyingkir saat Siwon menghampiriku dan berdiri tepat di sampingku.

“Kau baik-baik saja, sayang?” tanyanya lembut seraya mengusap pipiku dengan perhatian. Tampak masih ada sisa-sisa kecemasan di matanya.

“Hi, Yoong! Kita bertemu lagi!” sapa Donghae oppa. Aku mengalihkan pandanganku dari mata Siwon dan menoleh pada Donghae oppa.

“Hi, oppa!” balasku berusaha tersenyum.

“Aigoo, kau membuat kami khawatir dan aku sedikit kerepotan saat sahabatmu ini merengek-rengek memintaku untuk menemukanmu sepanjang tahun ini.” canda Donghae oppa yang dihadiahi cubitan kecil Jessica di pinggangnya. Dia meringis sebentar lalu menarik tunangannya itu ke pelukannya. Aku begitu bahagia melihat mereka berdua. Dari dulu Jessica dan Donghae oppa begitu harmonis. Seandainya saja hubungan cintaku begitu rumit, aku mungkin akan merasakan kebahagiaan yang sama dengan adanya Siwon di sisiku saat ini.

“Yoong, kami harus kembali ke resort dulu. Kami memutuskan untuk menginap di sana. Tapi kami meninggalkan barang-barang kami sembarangan di sana. Kau istirahat ya!” ujar Jessica padaku. Lalu dia beralih menatap Siwon “Choi Siwon-ssi, tolong jaga sahabatku dengan baik ya. Jangan sampai dia kabur lagi!”

Siwon mengangguk. “Kau tenang saja Sicca-ssi. Aku akan memastikan dia takkan bisa kemana-mana tanpa aku lagi.” jawab Siwon tersenyum. Senyuman lembut yang begitu aku rindukan. Bukan seperti senyum yang sering dia tampakkan padaku 5 hari belakangan ini. entah kenapa hatiku dialiri oleh perasaan hangat saat mendengar kalimatnya itu.

Setelah pamit sekali lagi akhirnya Jessica dan Donghae oppa pergi. Meninggalkanku dan Siwon berdua di dalam kamar rawat ini.

Namja itu kembali menatapku dengan lembut. Dia kini duduk di tepi ranjangku.

“Aku baru saja memberitahu keluargamu kalau kau di operasi. Mereka juga baru saja tiba di Thailand dan ingin membatalkan semua planning di sana dan kembali lagi. Tapi aku katakan kau hanya dioperasi appendiks biasa dan sudah baik-baik saja. Mereka tak perlu khawatir karna aku akan menjagamu. Sehingga mereka akan sedikit tenang. Tidak apa-apa kan?” tanyanya.

Aku mengangguk lemah. Ya, memang sebaiknya begitu. Orang tuaku juga punya urusan yang penting di Thailand. Aku juga tidak ingin mereka harus bolak-balik naik pesawat selama berjam-jam apalagi ibuku sering mengalami jet-lag. Aku tidak tega jika ibuku malah akan sakit karna penerbangan antar negara itu.

“Apa rasanya sakit? Apa aku perlu memanggilkan dokter?”

Aku menggeleng. “Rasanya sakit tapi aku baik-baik saja. Tak perlu memanggil dokter ke sini.”

“Baiklah, sekarang kau tidurlah dulu. Aku akan di sini menjagamu.” Katanya seraya menarik selimut hingga ke atas dadaku.

“Siwon-ssi …?”

“Hmm?”

“Aku … aku berpikir … tidak seharusnya kau …” kalimatku menggantung karna telunjuknya kini ada di bibirku. mencegah untuk melanjutkan kalimatku.

“Aku tidak tahu apa yang sedang bersarang di kepalamu yang cantik itu saat ini. Aku hanya ingin kau tahu kalau aku akan memastikan masalah diantara kita selesai dengan caraku dan sesuai dengan keinginan kita. Apapun alasan yang ingin kau keluarkan saat ini takkan mempengaruhiku. Aku sudah menemukanmu, berada di hadapanmu saat ini dan aku semakin tak ingin melepaskanmu dari hidupku. Dan kau … jangan berani mencoba untuk kabur lagi. Kita akan bersama lagi!” ujarnya lalu mengecup keningku dengan lembut. Dia lalu turun dari tepi ranjangku dan beralih duduk di kursi yang terletak di sampingnya.

“Tapi satu hal yang ingin ku pastikan dulu darimu.” Ucapnya tiba-tiba sehingga aku kembali menatapnya bertanya.

“Apa kau juga masih mencintaiku? Apa kau mencintaiku, Yoong?” tanyanya penuh harap.

Aku mencintainya. Sangat mencintainya. Tanpa harus berpikir aku tahu dengan pasti kalau aku sangat mencintainya dan mengharapkannya selalu ada di sisiku.

Dia masih menatapku penuh harap. Dengan perlahan aku mengangguk mengiyakan. Sebersit kebahagiaan terpancar di wajahnya yang tampan.

“Jeongmal? Katakan padaku, Yoong! Kau mencintaiku?”

Sekali lagi aku mengangguk. “Oo. Aku mencintaimu … Siwon-ssi. Aku masih sangat mencintaimu!” airmata mengalir dari mataku saat aku mengatakan hal itu. Rasa sesak karna cinta yang aku pendam dalam hatiku seakan merebak keluar. Memberikan kesempatan padaku untuk kembali merasakan kelegaan.

Siwon tersenyum. Dia mencium punggung tanganku yang digenggamnya dengan khidmat. Lalu kembali menatapku.

“Kau … Kau tidak bisa lagi menarik perkataan itu! Aku tidak akan membiarkanmu melakukannya!”

“Tapi …”

“Tak ada tapi, Yoong! Aku mencintaimu dan kau juga mencintaiku. Kita saling mencintai dan harus bersama. Hanya itu yang perlu ada di pikiranmu saat ini. Aku takkan membiarkanmu memikirkan sesuatu hal yang konyol atau masalah orang lain selain kita berdua. Kita akan bersama.” Ujarnya lagi seraya kembali mengecup punggung tanganku dengan lembut. Entah kenapa aku segera membuang segala keraguanku dan hanya percaya pada kata-katanya saja. Kata dari orang yang kucintai dan mencintaiku.

***

Pagi ini akhirnya aku sudah diperbolehkan untuk makan dan minum. Semalaman aku tidak makan dan hanya meminum beberapa teguk air saja karna dokter yang menganjurkannya seperti itu. Sebenarnya bagiku hanya air saja sudah cukup. Aku enggan memakan bubur yang disediakan rumah sakit. Bubur yang sama sekali tak ada rasanya. Tapi Siwon dengan sabar menyuapiku dan memintaku untuk menghabiskannya. Dia juga tidak mengeluh semalaman tak bisa tidur karna menghadapi kerewelanku yang sering terbangun mengeluh kesakitan. Dia menenangkanku. Dia sudah seperti perawat pribadiku.

“Sekarang kau harus minum obat.” Katanya sambil menyerahkan beberapa butir obat yang telah diresepkan dokter untukku.

Aku mengernyit dan secara spontan menutup mulutku. Mencium bau obat saja bisa membuatku mual.

“Apa tidak boleh disuntik saja? Aku tidak mau minum obat yang pahit ini. Apalagi harus sampai beberapa butir sekaligus.” Keluhku.

“Kata dokter sel tubuhmu belum kuat jika harus disuntik dan dokter hanya meresepkanmu obat-obatan ini. Jadi kau harus meminumnya.”

“Sirreo. Ini pasti rasanya sangat pahit. Baunya saja sudah membuatku ingin muntah bahkan sebelum menelannya.” Aku tetap menolak.

“Baiklah kalau begitu. Jika kau tak mau meminumnya sendiri, tak ada pilihan lain selain aku yang membantumu.” Ucapnya sambil menunjukkan seringai iblisnya.

Aku mengernyit. “Apa maksudmu?”

“Aku akan membantumu seperti waktu itu. Kau ingat kan, aku pernah membantumu minum obat saat kau demam waktu itu di rumahku? Aku akan membantumu dengan cara itu! Aku akan dengan senang hati melakukannya.” jawabnya masih dengan seringai liciknya. Ingatanku melayang ke kejadian itu. Di mana dia membantuku untuk minum obat dengan meniupkan obat itu dari bibirnya ke mulutku. Di mana aku pernah menyesali first kiss-ku yang diambilnya dengan menyisakan rasa pahit.

Aku bergidik. Andwae!!! Itu tidak boleh terulang lagi. Aku tidak mau!

“Dwaesso. Aku akan meminumnya sendiri!” kataku cepat-cepat mengambil obat yang ada di tangannya dan dengan susah payah ku masukkan ke dalam mulutku sekaligus. Lalu dengan cepat-cepat kuteguk air di gelas yang dipegangnya. Saat obat itu berada di tenggorokanku, aku terdorong untuk memuntahkannya karna rasa pahitnya yang luar biasa. Tapi dia segera menahan kepalaku dalam posisi mendongak agar obat-obat itu bisa ku telan habis. Air di gelaspun tandas dengan cepat.

“Ahkkkkkkkkk …!!! Rasanya pahit sekali!” keluhku. Dia tersenyum sambil mengacak-ngacak rambutku dengan gemas.

“Aissh, kau cengeng sekali! Obat itu memang pahit tapi yang terpenting kau bisa sembuh.” Ujarnya sambil tersenyum.

Sebuah ketukan di pintu mengalihkan perhatian kami.

“Sebentar!” katanya lalu beranjak untuk membukakan pintu. Raut wajahnya tiba-tiba berubah dingin.

“Masuklah!” katanya. Lalu aku melihat siapa tamu yang datang itu. Dua orang gadis yang sangat kukenal. Dua sahabatku.

“Hi, Yoong! Bagaimana keadaanmu?” tanya Jessica seraya menghampiriku dan mengecup pipiku sepintas.

“Aku baik-baik saja.” Jawabku seraya tersenyum padanya. Lalu kembali menoleh pada sosok yeoja yang masih berdiri di ujung tempat tidurku dengan sedikit takut-takut.

“Hi, Yoong!” sapanya berusaha tersenyum.

“Hi, Stella! Lama tidak berjumpa!” balasku ramah. Walau bagaimanapun Stella tetap sahabatku.

“Oo, lama tidak berjumpa!”

“Aku tadi menjemputnya di airport sebelum kemari. Dia sengaja kesini untuk mengatakan sesuatu padamu, Yoong!” kata Jessica.

“Aku yang memintanya kesini, Chagi.!” Timpal Siwon. Namja itu kembali menghampiriku dan dengan santainya duduk di tepi ranjang di sampingku.

Stella terlihat sangat canggung berhadapan denganku. Aku menatap Siwon. Namja itu kembali memasang wajah dingin. Sedang Jessica sudah duduk di sofa sambil menatap Stella. Ahh, kenapa suasana ruangan ini terasa mencekam???!!!

Aku berdehem sebentar untuk memecah kebisuan.

“Stella, kenapa kau terlihat canggung begitu?” tanyaku.

“Ne?” Dia kembali menoleh padaku dengan gugup. “Ahh, mianhae. Hanya saja kita sudah lama tak bertemu, aku jadi merasa seperti ini. Aku … aku ingin … minta maaf padamu, Yoong!” ucapnya terbata-bata.

“Minta maaf untuk apa?” tanyaku ramah.

“Semuanya, Yoong! Semua!” katanya. Kali ini dia lebih terdengar yakin akan kalimat yang akan diucapkannya.

“Stella-ya???!!!”

“Aku telah banyak melakukan kesalahan padamu! Aku telah menyakiti sahabatku sendiri yang begitu menyayangiku hanya karna dibutakan oleh kecemburuan yang semestinya tidak perlu. Aku tahu kepergianmu hanya karna aku, Yoong. Sicca sudah mengatakan padaku bahwa kau mendengar percakapan kami hari itu dan itu sebabnya kau pergi meninggalkan kami.” Kini airmata ikut menyertai ucapannya.

“Stella-ya…”

“Ani, Yoong. Biarkan aku selesai bicara dulu.” Cegahnya saat aku ingin mengatakan sesuatu. Dia menhela nafas sebentar lalu kembali melanjutkan.

“Saat kau pergi seketika rasa bersalah merasukiku. Aku tahu kau tidak salah. Aku lah yang salah. Aku lah yang selalu menyakitimu. Kebaikanmu, pengorbananmu, entah kenapa aku malah menganggapnya sebuah kemunafikan. Kau selalu merelakan apa yang kau sukai jika sahabatmu menyukainya. Aku tahu kau tulus, tapi hatiku yang tidak pernah percaya akan ketulusan itu selalu mengelaknya dan membuatku marah akan sikapmu. Aku tidak suka pada orang yang tak ingin memperjuangkan apa yang disukainya dan malah dengan gampangnya merelakan hal itu hanya untuk kebahagiaan orang lain. Aku ingin kau sekali-kali melawan dan keuh-keuh mempertahankan apa yang kau inginkan, apa yang seharusnya kau miliki. Itulah sebabnya aku selalu merebut orang-orang yang kau sukai tapi kau tetap tidak pernah memprotes tindakanku meski aku mempermainkan mereka. Sampai akhirnya aku berkenalan dengan Siwon dan jatuh cinta padanya. untuk pertama kalinya aku merasakan hal itu.” Stella Nampak mengambil nafas sebentar sebelum kembali berbicara.

“Tapi Siwon tidak mencintaiku. Untuk pertama kalinya juga aku merasakan sakitnya penolakan. Hanya saja Siwon terlalu baik dan aku memanfaatkannya. Aku terus mendekatinya dan malah mengklaimnya sebagai kekasihku. Siwon tidak protes tapi sejak dia mengetahui hal itu dia selalu menghindariku. Aku juga sengaja tak pernah mengenalkan kalian karna aku takut jika Siwon melihatmu dia akan jatuh cinta padamu. Aku punya firasat itu saat pertama kali dia melihat foto kita bertiga dan aku bisa melihat ketertarikan Siwon saat melihatmu. Tapi nyatanya tanpa aku sadari aku tetaplah orang yang mengenalkan kalian berdua. Setiap aku merasa kesal dan sakit karna Siwon menghindariku, aku selalu mengeluh padamu dan selalu menggunakan ponselmu untuk menelfonnya. Dan aku tak menyangka kalian tetap bisa bertemu dan Siwon yang menghampirimu. Hingga kalian malah saling mencintai. Aku merasakan sakit yang luar biasa di hatiku. Namja yang aku cintai malah mencintai sahabatku. Aku tidak bisa merelakannya. Aku bahkan mengabaikan pengorbananmu padaku saat merelakan aku menarik perhatian-perhatian namja yang kau sukai. Itulah yang membuatku selalu memanasimu soal masa laluku dengan Siwon. Tapi itu semua bohong, Yoong. Semua yang kukatakan hanya kebohongan agar kau marah dan akan sakit hati sehingga kalian akan putus. Aku tidak pernah berkencan dengan Siwon apalagi diajak ke rumahnya untuk bertemu orangtuanya. Itu hanya karanganku. Tapi saat kau pergi, aku mulai menyesalinya. Aku menyesali perbuatanku. Lagi-lagi kau berkorban hanya karna tak ingin aku terluka. Aku terlalu tamak sehingga tak perduli pada kebahagiaan sahabatku yang selalu menyayangiku. Aku malah menghancurkannya. Dan aku semakin menyesalinya saat melihat betapa tersiksanya Siwon, Sicca dan diriku sendiri karna kehilanganmu. Aku sadar Siwon sangat mencintaimu dan meskipun kau pergi dan merelakannya untukku, dia tetap takkan pernah berpaling apalagi mencintaiku. Cinta tak bisa dipaksakan. Siwon hanya menncintaimu. Dan aku … aku … aku telah berdosa karna membuat cinta itu hancur. Aku berdosa telah menghancurkan kebahagiaan orang-orang yang aku sayangi. Aku bersalah karna aku memisahkan orang yang saling mencintai dan aku juga bersalah karna telah memisahkanmu dari sahabat-sahabatmu. Mianhae, Yoong … jeongmal mianhae … !!!” ujar Stella panjang lebar sambil terisak.

Aku pun tak kuasa menahan air mataku. Aku bisa merasakan kesungguhan dari ucapannya dan aku bisa merasakan penyesalan.

“Stella-ya …” panggilku. Tapi dia masih menunduk dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Masih terisak. Jessica menghampirinya dan memeluknya. Dapat kulihat Jessica juga menangis.

“Stella-ya…” panggilku lagi dan kali ini dia menoleh padaku dengan wajah yang berurai air mata. Aku mencoba tersenyum. “Bisakah kau mendekat padaku? Karna aku sangat merindukan pelukan sahabatku tapi aku tidak mampu bergerak karna luka operasiku!” ucapku di sela-sela tangisanku. Dia menatapku seakan tidak percaya.

Aku merentangkan tanganku, menandakan aku ingin memeluknya. “Apa kau tidak ingin memelukku?” tanyaku lagi. Dia tersenyum lalu berlari memelukku.

“Mianhae, Yoong. Jeongmal mianhae!” ucapnya kembali terisak dipelukanku.

Aku tersenyum dan mengangguk lemah. “Sudahlah, Stella. Aku telah memaafkanmu bahkan tanpa kau minta sekalipun. Karna aku menyayangimu!”

Dia melepaskan pelukannya. “Apa kau benar-benar memaafkanku?” tanyanya. Sepertinya dia maasih sedikit ragu.

“Tentu saja. Mana mungkin aku tidak memaafkanmu! Justru seharusnya aku yang meminta maaf. Aku yang telah mengkhianatimu.”

“Ani, Yoong. Kau sama sekali tidak mengkhianatiku. Semua jalan hidup manusia itu sudah di atur oleh Tuhan. Aku memang pernah mencintai Siwon, tapi Tuhan tidak menakdirkannya untukku. Kau lah yeoja yang ditakdirkan Tuhan untuknya dan dia adalah namja yang ditakdirkan untukmu. Buktinya, meski kau melarikan diri dan bersembunyi, Tuhan tetap menuntunnya menemukanmu. Dan inilah yang terjadi. Kalian bertemu lagi. Sekarang kau tak boleh melarikan diri lagi, Yoong. Sekarang kau tak boleh mengorbankan perasaan dan cintamu lagi. Ini saatmu untuk bahagia dan kali ini aku akan senang untuk mendoakan kalian agar bersama.” Ujar Stella seraya menatapku dan Siwon yang berdiri di sisi ranjang yang berlawanan dengannya secara bergantian.

“Kalian tak boleh berpisah lagi.” tambahnya lagi. Lalu kembali memelukku. Jessica ikut menghampiri dan bergabung dalam pelukan itu.

Dalam hati aku mengucap syukur kepada Tuhan. Akhirnya aku bisa mendapatkan kedua sahabatku lagi dan namja yang aku cintai juga saat ini ada di sisiku.

Terima Kasih Tuhan … !!!

Yoona Pov End

***

Author Pov

Yoona berbaring dengan menatap ponselnya dengan kesal. Tak ada pesan, email ataupun panggilan yang masuk hari ini. Tapi sebenarnya dia hanya menunggu orang itu menghubunginya. Ya, siapa lagi kalau bukan Choi Siwon. Biasanya namja itu selalu menelfonnya sejam sekali atau mengirim sms untuk menanyakan kabarnya. Tapi seharian ini sedikitpun tak ada kabar.

Yoona mendesah. Dia merasa bosan. Sudah seminggu Yoona pulang dari rumah sakit. Tapi dia hanya terkurung di dalam rumah seperti ini. Dia belum diijinkan masuk kerja. Bahkan saat tanda tangan kontrak kerjasama itu, orangtuanya dan Siwon melarangnya dengan keras untuk datang ke perusahaan. Semua aktifitasnya dibatasi. Bahkan untuk makan saja, pelayannya akan mengantarkannya ke kamarnya. Padahal menurutnya dia sudah kuat jika hanya untuk duduk dan berjalan.

“Ahh, namja itu kemana sich? Apa hari ini dia sangat sibuk sampai tidak bisa mengabariku sedikitpun?” keluhnya kesal.

Suara ketukan dipintu kamarnya mengalihkan perhatiannya. Lalu ibunya muncul dari balik pintu. Yeoja paruh baya yang masih tampak anggun dan cantik itu menghampiri putrinya yang sedang berbaring.

“Yoong, ayo bangun! Siwon datang menemuimu!” kata Ny.Im yang membuat Yoona bangun dengan gerakan setengah melompat. Dan hal itu membuat luka operasinya terasa sedikit sakit.

“Aww…” rintih Yoona sambil memegangi bagian yang terdapat luka operasi itu.

“Yaak, lukamu itu baru di lepas jahitannya. Kau masih belum boleh bergerak dengan cepat apalagi bangun seperti itu.” Tegur Ny.Im

Yoona tersenyum meski masih setengah meringis. “Mian eomma!”

“Ya sudah. Ayo temui dia.”

Yoona mengangguk. Lalu dengan perlahan dia turun dari tempat tidur dan menuju ke ruang tamu bersama ibunya.

Senyumnya langsung merekah saat mendapati Siwon sedang duduk di ruang tamu. Tapi ternyata bukan hanya namja itu yang berada di sana. Tapi ada ayahnya dan 2 orang paruh baya lainnya. Yoona mengenali kedua orang itu. Mereka tak lain adalah Tn & Ny. Choi, orang tua Siwon. Mereka pernah bertemu beberapa kali dan Yoona sangat mengingat mereka dengan jelas.

“Yoona-ya … !!!” sapa Ny. Choi sambil berdiri dan menghampiri Yoona. Wanita paruh baya itu bahkan tak ragu-ragu untuk memeluk Yoona singkat.

“Akhirnya kita bisa bertemu lagi. Kenapa kau pergi tanpa memberi kabar?” tanya Ny. Choi. Yoona tidak tahu harus menjawab apa. Dia hanya tersenyum untuk menanggapi pertanyaan itu. Siwon ikut berdiri dan menghampirinya. Lalu merebutnya dari pelukan ibunya.

“Sudahlah eomma, jangan menyinggung hal itu. Sekarang yang terpenting kami sudah bersama lagi.”

Ny. Choi mencibir putranya. “Ck, kau memang selalu merebutnya jika eomma merangkulnya.”

“Lebih baik eomma kembali duduk dan melanjutkan pembicaraan antar orang tua. Aku akan mencari tempat lain untuk berduaan denga kekasihku selama kalian membicarakannya.” Ujar Siwon yang lagi-lagi mendapat cibiran dari ibunya. Tapi akhirnya Ny. Choi kembali duduk di samping suaminya.

Yoona menyapa dan memberi hormat sepintas pada Tn. Choi sebelum Siwon membawanya ke halaman samping rumahnya. Mereka duduk di sebuah bangku ayunan yang ada di sana.

“Oppa, kenapa orangtuamu bisa datang ke sini?” tanya Yoona seraya menatap Siwon.

“Karna aku meminta mereka.” Jawab Siwon seadanya.

“Untuk apa? Lalu apa yang ingin dibicarakan bersama orangtuaku? Apa masalah bisnis? Apa ada masalah dengan kontrak kerja sama itu?” tanya Yoona beruntun dan ingin tahu.

Siwon mencubit hidung Yoona dengan gemas. “Aigoo … Mereka bukan datang untuk masalah bisnis dan tidak ada masalah mengenai kontrak kerja sama itu. Mereka datang ke sini untuk melamarmu dan membicarakan pernikahan.”

“Mwo?” Yoona terlonjak kaget. “Pernikahan? Kita?” tanyanya tak percaya.

Siwon pun ikut kaget melihat tingkah kekasihnya itu.

“Yakk, kenapa kau terkejut seperti itu? Lalu apa maksud pertanyaanmu? Tentu saja mereka datang untuk membicarakan tentang pernikahan kita. Memang siapa lagi?”

Yoona masih membelalakkan matanya tak percaya.

Siwon mendengus. “Yakk, apa kau tak ingin kita menikah? Kita kan sepasang kekasih? Kenapa tatapanmu jadi aneh seperti ini?”

Yoona segera tersadar.

“Ahh, mian oppa. Tapi apa kau tidak salah bicara? Mereka hanya akan membicarakan pertunangan kan bukan pernikahan?”

“Ani. Yang akan mereka bicarakan adalah pernikahan.”

“Mwo? Oppa, apa ini tidak terkesan terburu-buru? Bukankah seharusnya kita bertunangan dulu?”

Siwon tersenyum lalu merangkul kekasihnya itu dengan gemas. Ditatapnya sepasang manik mata yang indah di depannya dengan lembut dan penuh cinta.

“Ani. Kita sudah lama saling mencintai. Jadi untuk apa menunda lagi?! Aku juga tidak ingin bertunangan karna aku ingin langsung mengikatmu denganku dalam ikatan sakral di hadapan Tuhan. Aku tidak ingin membiarkan kau jauh lagi dariku. Aku tidak ingin berpisah lagi denganmu apalagi kehilanganmu. Jadi aku memutuskan untuk segera menikahimu.”

“Tapi oppa …” Yoona baru saja ingin mengatakan sesuatu tapi terhenti karna tiba-tiba Siwon berlutut di depannya sambil menunjukkan sebuah cincin berlian dengan tekstur yang sangat indah.

“Aku tidak tahu bagaimana cara melamar yang benar. Tapi aku hanya ingin kau tahu kalau aku sangat ingin selalu berada di sisimu, menjagamu, melindungimu, mencintaimu dengan seluruh hidupku. Aku menginginkanmu menjadi wanita yang akan selalu berada dalam dekapanku dalam suka maupun duka, wanita yang ingin selalu pertama aku lihat di saat aku membuka mataku di pagi hari, yang ingin aku lihat sepanjang hari dan satu-satunya wanita yang ingin selalu aku peluk saat aku menutup mata di malam hari. Aku mencintaimu. Im Yoona, maukah kau menikah denganku?” akhirnya kalimat lamaran itu meluncur dengan lancar dari mulut Siwon. Dia menatap Yoona dengan penuh harap.

“Oppa …???” Yoona menatap Siwon dengan rasa haru. Namja itu melamarnya.

“Tolong jawab, Yoong! Dan Demi Tuhan, kau harus menjawab Ya. Karna kalau tidak aku akan tetap memaksamu mengucapkannya dan membawamu ke altar untuk menikah denganku!” kata Siwon setengah mengancam bercampur dengan rasa cemas.

Yoona semakin terharu. Sebulir air mata bahagia mengalir dari matanya. Lalu dengan perlahan dia mengangguk.

“Ya … Ya … Ya … aku mau menikah denganmu, oppa!” jawab Yoona akhirnya yang membuat senyum Siwon merekah. Dia berdiri lalu menarik Yoona ke dalam pelukannya. Diangkatnya tubuh Yoona dalam pelukannya dan berputar-putar kegirangan beberapa saat.

“Gomawo Yoong. Gomawo.” Ucapnya bahagia. Yoona mengangguk. Lalu Siwon memakaikan cincin itu ke jari manis Yoona. Cincin itu sangat pas dan tepat. Seakan cincin itu memang telah dibuat hanya khusus untuk Yoona. Mereka kembali bertatapan dengan penuh rasa haru dan bahagia.

“Saranghae, Im Yoona!”

“Nado saranghae, Choi Siwon!” setelah itu tak ada yang perduli lagi. Siwon langsung menarik Yoona lebih erat ke dalam pelukannya lalu melumat bibir Yoona yang ranum dan memang hanya untuknya. Menyalurkan seluruh perasaan cinta yang ada melalui ciuman yang lembut dan manis itu.

Yoona pun tak mengelak dan dia memang tak ingin mengelak lagi. di sambutnya ciuman Siwon itu dengan tak kalah mengebu-gebu. Tangannya pun mulai bergelayut di leher namja yang dicintainya itu. Memberikan kesempatan untuk Siwon agar lebih memperdalam ciumannya.

Ya, sekarang tak ada lagi yang ingin dipikirkan Yoona selain ingin menapak masa depan bersama Siwon. Namja itu mencintainya sebesar rasa cintanya pada namja itu. Mereka saling mencintai dan tak bisa dipisahkan lagi. Dia juga berhak merengkuh kebahagiaannya. Takdir Tuhan telah menggariskannya dan Siwon untuk bersama. Yoona tak akan menghindar lagi. Ini hidupnya, ini kebahagiaanya dan ini takdirnya.

“Right, It’s My Life Destiny.” Batinnya.

***

FIN~~

 

Author said : Fiuh, done done done !!! Udah yach … Lunas satu hutang ffku. Nggak ada lagi permintaan sequel untuk ff ini. End’ny udah great. Yang jelas Yoona & Siwon akan menikah, punya anak dan bahagia selamanya.

                          Ff ini mungkin terkesan nggak menarik sama sekali. Terlalu panjang, gak dapet feelnya dan makin gaje. Typo mungkin bertebaran di mana-mana. Tapi karna aku sudah bersusah payah menyajikannya, jadi bagi yang udah mampir baca atau Cuma sekedar liat doank, HARUS KUDU WAJIB RCL. Please hargailah karya ini seperti aku menghargai permintaan readers yang baca ff sebelumnya untuk mendesakku membuat sequel ini. Seperti ff sebelumnya ff sequel ini juga berisikan kisahku. Yach tapi kali ini hanya sebagian aja. Beda sama yang lalu. Yach, doain aja semoga harapanku agar sahabatku bisa kembali padaku lagi dan bisa berpikiran kayak sii Stella di atas #curcolModeOn #Abaikan … So, buat readers sekalian please sempatkan diri kalian untuk mengisi kolom komentar dengan pendapat kalian mengenai ff ini. please please please, ok! Kamsahbnida ^^

 

#BigHug buat Echa / Resty, yang udah bersedia mempublish ff ini. Jeongmal gomawo. Jangan bosen-bosen yaw say !!! ^^ #hugback

 

Tika Pink ^^

Iklan
Pos Berikutnya
Tinggalkan komentar

171 Komentar

  1. ayu

     /  September 7, 2014

    amiinn semoga harapan nya terkabul feel nya dapet tika sequel nikah nya enak kali ya wkwk . ff lainnya d tunggu

    Balas
  2. Dirin panggaliningtyas

     /  September 12, 2014

    Hua eon DAEBAK:-D…
    Keren ceritanya antara Cinta dan Persahabatan…
    Ak suka semua adegan-adegannya,feelnya dapet deh:-D…
    Pokoknya Keren:-)….
    Ditunggu ff YW karyamu lainnya eon:-)…

    Balas
  3. Ciieee….. Ada yg mau nikah!!!! Hahhahahahahaha

    Senang banget deh jadinya.. Melihat mereka berdua baikan lagi.. Ahhh,, lega rasanya tau?!?! Haha

    Memanglah tika eonnie sangat bagus nih buat2 ff.. Semuanya menyenangkan.. Gak bosen aku.. Aku udh pernah baca yg love is you juga.. Sampe2 mungkin aku akan baca itu ulang lagi.. Tpi liat klo aku ada waktu ya..

    Eon,, buat lagi lah ff yoonwon.. Yang baru… Udh kangen… Haha.. Ditunggu yah eon….

    Balas
  4. choi han ki

     /  Oktober 10, 2014

    Ohh jadi ternyata yoonwon putus gara2 yoona merasa bersalah sama stella.. Tapi alhamdulillah mereka persatu malah mau nikah 🙂

    Balas
  5. Kisah yg benar2 mengharukan
    jln ceritanya benar2 daebak author, so sweet………

    Balas
  6. Dedewjasmin

     /  November 7, 2014

    Wah serunya dan ahir nya yoonwon bisa kmbli bersama.ahirnya stella sadar juga klu selama ini di salah.

    Balas
  7. Cha'chaicha

     /  November 8, 2014

    akhir yg manis, sebenern’y masih berharap ada sequel..

    Balas
  8. aprilyoonwon

     /  November 9, 2014

    Yeye happy ending…
    Duh snenk bnget y yoonie dlmar.
    Ijin bca story yg lain y tika oenni…

    Balas
  9. utycoyumy

     /  Desember 11, 2014

    eonni kisahnya mengharukan banget, rumit banget kisah cinta yoonwon tapi karna kekuatan cinta akhirnya mereka kembali bersatu and yoonwon nikah yeay..
    daebakk!!

    Balas
  10. Akhirnya …. *lega baca endingnya….
    kisah Yoonwon itu memang harus happy ending.
    Great job author-nim ….

    Balas
  11. Akhirnya happy ending, aku seneng akhirnya stella sadar

    Balas
  12. Yeyy~ happy end .. Akhirnya semua masalahnya udh selesai , aku seneng mereka bersatu lgi + mau nikah pula 😀
    semoga stella bsa nemuin pengganti wonppa , dan mereka semua bisa hidup bahagia selamanya ,aamiin ..
    Pokok’a selalu do’a yg terbaik untuk mereka 🙂

    Balas
  13. Dirin panggaliningtyas

     /  Februari 18, 2015

    Huwaa akhirnya happy ending:-)…
    Semua masalah terselesaikan juga…
    Yoona eon,Sica eon,Stella eon akhirx persahabatan mereka kembali ikut seneng:-)…
    Apalagi yoong eon dilamar ama wonpa hehe sayang gk ada cerita pernikahanx,kalo ada pasti tambah bagus,tp gpp udah Keren eon DAEBAK dah buat Tika eon:-)…
    Suka bgt sama alurnya mulai dari awal sampai akhir keren…
    Kalo gk sibuk buat FF YW lagi & yg banyak ne eon:-)…
    FIGHTING:-)…

    Balas
  14. viana

     /  Maret 29, 2015

    ahh,,senangnya akhirnya mereka bisa bersatu kmbalii.
    dan masalahh selesai sudahh,,,persahabatan jg kembali rukun kmbalii.
    semangatt teruss buatt kakaknya.

    Balas
  15. Susi

     /  April 12, 2015

    Cuit-cuit akhirnya siwon melamar yoong juga💑, walaupun aga sedikit memsksa,, 8sebener nya tanpa memaksa pun yoona pasti mau,,, 💏 Hhe
    Di awal-awal siwon mengamuk dan sedikit kasar,, itu karna yoona nya uga sih keterlalu pergi ninggalin siwon gitu cuma gara-gara stella… Thankyou tika🙏 udah di lanjutin jdi ga kepikiran lagi dah..

    Balas
  16. Nur khayati

     /  Juni 2, 2015

    Y00nW0n m0ment.a r0mantis bgt, akhir.a Happy Ending dgn Y00nW0n yg akan nikah & Stella yg mengakui semua kesalahan.a & prsahabatan Y00na-Jessica-Stella mulus lg kyk dulu,,

    Balas
  17. Kren ffx eonni awlx sedih tpe akhrx happy ending
    seru sempat ikutn nangis pas stella minta maaf sama yoona eonni

    Balas
  18. Dwi Swarnita

     /  Juni 25, 2015

    Hahaha saya kira bakal berakhir di kisah keluarga yoonwon eh ternyata cuma sampai lamaran . Tapi udah oke kok thor . Bacanya senyum” sendiri nih :v

    Balas
  19. YoongNna

     /  Februari 9, 2016

    Yeeee akhrnya happy ending deehhh…
    Wlpun di awal2 yoona ttp gk mw nerima siwon lg bhkan ngindarin trus tp untng stella dan jesica nyadarin yoona..

    Balas
  20. ayana

     /  April 30, 2016

    yei… seneng banget yoonwon bisa bersatu, meski melewati melewati jalan yang berliku-liku. stella, gitu dong seharusnya. akhir yang membahagiakan, persahabatan kembali cinta pun kembali. emang bener kata pepatah “segala sesuatu akan indah pada waktunya”. (∩_∩)

    Balas
  21. ayana

     /  April 30, 2016

    yeach… seneng banget yoonwon bisa bersatu, meski melewati melewati jalan yang berliku-liku. stella, gitu dong seharusnya. akhir yang membahagiakan, persahabatan kembali cinta pun kembali. emang bener kata pepatah “segala sesuatu akan indah pada waktunya”. (∩_∩)

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: