[OS/NC 17] Love You More

cover os love you moreTitle : Love You More

Author : Nurul_Choi

Rating : NC-17

Length : Oneshoot

Genre : Romance & Friendship

Main Cast : Super Junior’s Siwon & SNSD’s Yoona

Disclaimer : Cerita ini hanyalah cerita fiksi belaka! Bertujuan hanya untuk menghibur!

Warning!! : Typo bersembunyi dimana-mana but typo itu seni😀 Perhatikan rating fic ini! Di mohon untuk menyesuaikan! Jika anda merasa belum cukup umur dan tidak siap mental maka jangan coba-coba untuk membacanya! Jangan lupa siapkan sabuk pengaman! Siapkan ember buat jaga-jaga kalo mau muntah abis baca fic ini hoho…

Yesungdahlah~~ Teukkidot!!^^

Dislike?

Don’t read!

Don’t bashing!

Don’t be a silent reader!!

ð  Happy Reading^^

 

 

~*~(n_n)~*~

 

Siwon merilekskan tubuhnya bersandar pada sandaran sofa. Matanya menatap pada layar TV yang menayangkan berita pagi hari. Biasanya ia akan memilih untuk membaca koran  namun kali ini ia memilih untuk menonton saja. Ia merasa bosan melihat berita yang itu-itu saja, tangannya meraih remote TV lantas mengganti chanel TV yang menayangkan acara hiburan di pagi hari. Dan yah, pilihannya berhenti pada Chanel TV yang menayang film kartun.

“Siwon Oppa.”

“Hmm?”

“Lihat aku!”

Wae?

“Kau melupakan sesuatu?”

“Heuh?” Siwon yang sedari tadi sibuk menonton kartun Keroro, mengalihkan pandangannya. Matanya menagkap sosok Yoona dengan wajah mengintimidasi di ambang pintu. “Lupa? Lupa apa, Chagi?” Siwon mengernyit tak mengerti.

Ini hari sabtu. Matahari masih terbit dari timur. Kakek tetangga rumahnya juga masih melakukan fitnes pagi tadi. Bahkan si jago merah menampakan dirinya dengan begitu perkasa di hadapan bumi. Membuat Siwon kadang melihat wajah bayi lucu di dalamnya, seperti dalam Teletubis. Langitpun cerah dengan warna biru, sebiru mata Brad Pitt. Tidak ada yang salah.

Nde, kau melupakan sesuatu,” sahut Yoona.

Siwon berpikir apa yang ia lupakan? Pagi tadi ia sudah menggosok gigi. Mandi dengan bersih sampai menggosok punggungnya. Ia juga tak lupa memakai celana dalam, menyisir rambut dan memakai parfum yang dua hari lalu baru dibelikan oleh tunangannya itu.

“Eii… aku benar tak ingat..” Siwon menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Coba ingat-ingat lagi..” Yoona menyilangkan kedua tangannya di muka dada sambil mengetuk-ngetukan kaki kanannya pada lantai.

Sekali lagi Siwon mengingat-ingat apa yang dimaksudkan Yoona. Hari ini ia berangkat siang. Tidak ada pasien yang harus ia tangani karna ia adalah spesialis dokter bedah. Kyuhyun, teman satu profesinya juga tidak menyuruhnya memintakan izin tidak masuk karena harus mengurus anaknya yang baru berusia tiga bulan.

Siwon teringat akan sesuatu yang dimaksud Yoona ketika matanya tak sengaja menatap meja makan. Ia menjentikan jarinya pelan serta tersenyum lebar. “Kau suka sekali main tebak-tebakan. Sungguh tak mau memberiku petunjuk?” tanyanya menyeringai.

Yoona menggeleng cepat namun sedetik kemudian matanya membesar berkali lipat ketika Siwon mulai berjalan mendekatinya. Tatapan itu, begitu mengerikan dari apapun dan siapapun. Tatapan serta smirk evil yang membuat Yoona bergidik.

“Benar-benar wanitaku yang nakal.” Siwon kembali memamerkan smirk-nya.

“Ya! Choi uisanim, a-apa yang kau lakukan!” Yoona berjalan mundur, menghindar dari tatapan mengerikan itu. ‘Dab’ Oh shitt! Punggungnya sudah menatap dinding. Tidak ada lagi jalan untuk mundur. Siwon mendekatkan wajahnya pada wajah Yoona. Tak menyisakan jarak diantara mereka bahkan hidung mereka sudah saling bersentuhan. Yoona dapat merasakan bau mint pasta gigi yang Siwon gunakan. Nafas Siwon yang menerpa wajahnya. Ia hanya mampu mengerjap-ngerjapkan mata. Wajahnya sudah seperti rusa yang diterkam oleh anak singa.

Siwon menyeringai lebar. Mendapati kemenangannya. Melihat bagaimana Yoona mengigit bibir bawahnya karna rasa gugup membuat Siwon menginginkan bibir merah itu. Diraihnya tengkuk Yoona kemudian mendaratkan bibirnya tepat pada bibir tipis milik Yoona. Gadis itu hanya dapat memejamkan mata, menerima morning kiss yang diberikan Siwon.

Siwon melepaskan tautan bibir mereka. Memandang mata Yoona yang masih terpejam dengan mengulum senyum, “Ah~ ya, aku ingat sesuatu itu. Aku lupa meminum susu..” bisik Siwon masih dalam posisi sama seperti tadi. Yoona yang sudah membuka mata harus menelan saliva-nya. Bagaimana tidak, bisikan Siwon lebih ampuh membuat bulu kuduknya berdiri ketimbang bisikan setan.

“M-minum susumu sekarang! Sebelum—“ sebelum aku pingsan dalam posisi seperti ini, lanjut Yoona dalam hati.

Siwon menjauhkan wajahnya dari Yoona, mengerlingkan sebelah matanya sebelum akhirnya berjalan menuju meja makan. Yoona menepuk dadanya, bernafas lega. Benar-benar membuat jantung lemah!

Yoona memerhatikan Siwon yang menghabiskan susu vanilanya dalam satu tegukan. Pria itu seorang dokter tapi dia tidak bisa menjaga dirinya sendiri. Tidak bisa memberikan kesehatan pada dirinya sendiri. Tidak bisa menerapkan resep obat pada dirinya sendiri. Hanya Im Yoona. Yah~ hanya Yoona yang mampu menjadi dokter untuk Siwon.

Biasanya pria itu paling suka menyeduh esspreso untuk menemani paginya sambil membaca koran. Tapi entah mengapa tadi pagi ia ingin dibuatkan segelas susu dan ketika Yoona sudah membuatkannya malah ditinggal menonton TV sampai hampir melupakan susu yang sudah repot-repot Yoona buatkan. Sudah mengkredit masa tua rupanaya pria itu, pikir Yoona.

Siwon sudah akan beranjak ketika Yoona menahan lengannya. Siwon menaikan satu alisnya, meminta penjelasan maksud Yoona.

Yoona menunjuk-nunjuk wajah Siwon, “Itu…”

“Itu? Itu apa?”

“Itu…” Yoona masih saja menunjuk wajah Siwon. “Bicara yang jelas Chagi. Kau melihat hantu di wajah tampanku? Aih~ tentu saja tidak mungkin.”

Yoona mendengus, rasanya ingin sekali ia memecahkan kepala Siwon jika tidak menyadari bahwa ia telah jatuh dalam pusaran cinta pria ini.

Yoona mengambil beberapa helai tissue. Ia mengelap sisa susu yang masih tertempel di sekitar mulut Siwon. “Minum susu saja masih tidak bisa, dasar…!”

Siwon menghentikan gerak tangan Yoona. Matanya menatap intens Yoona. “Jangan menatapku seperti itu!” Yoona memberi peringatan.

“Memangnya kenapa? Apa aku salah menatap tunanganku sendiri?” Siwon kembali mempersempit jarak diantara mereka.

“Apa kau tidak ingin merasakan susu vanila ini?”

“Mwo?” mata Yoona membulatkan matanya, hampir saja terjungkal keluar. Untung saja mata itu masih betah berada di singgasanahnya.

Siwon terkikik pelan kemudian mengecup singkat bibir Yoona. “Eum.. sedikit terasa lebih enak dari susu vanila..” kata Siwon membersihkan sisa susu tadi dengan lidahnya. “Lain kali aku ingin rasa strowberry.”

Yoona sudah siap akan mengumpat pria itu namun Siwon sudah lebih dulu beranjak menuju kamar. “Lama-lama aku bisa terkena serangan jantung, Oh ya Tuhan…”

~[]~

 

Mereka bertemu ketika tahun pertama masuk sekolah menengah. Saat itu mereka masih sama-sama bocah. Siwon merupakan seorang kapten basket sekolah sementara Yoona sosok setengah gadis, ia pintar dan dikenal dengan sikap ramahnya. Kenapa setengah gadis? Yea~ dia tomboy. Menyerupai sifat anak laki-laki, begitulah kesimpulan Choi Siwon. Mereka berteman, banyak hal yang mereka lakukan bersama. Tak jarang mereka sering bertukar cerita mengenai kekasih masing-masing.

Choi Siwon, pria yang menjadi idol seluruh gadis di sekolahnya. Memanganya siapa yang tidak mengidolakan pria sesempurna dia? Berkarisma, cerdas, baik hati dan tidak pernah bersikap tak acuh pada orang lain. Park Jiyeon, gadis beruntung yang dapat meluluhkan hati seorang Choi Siwon. Seorang gadis dari sekolah tetangga. Tak heran jika Choi Siwon jatuh hati pada gadis bersenyum manis itu. Dia juga gadis populer di sekolahannya.

Im Yoona dikenal dengan kepiawaiannya dalam ilmu hitung. Ia pintar mendesain, cita-citanya adalah menjadi seorang desainer. Pria beruntung—ani! Pria malang!, koreksi Siwon—yang mendapat gelar kekasih gadis bermata indah itu bernama Kim Myungsoo, seorang murid dari sekolah musik. Kadang Siwon sampai heran, apa yang disukai Myungsoo dari Im Yoona? gadis yang tidak pernah bersikap layaknya anak gadis pada umumnya.

Kedekatan Siwon dan Yoona tak jarang membuat kekasih mereka menaruh kemcemburuan. Menurut mereka kecemburuan dari kekasih mereka itu sangat berlebihan. Sering kali mereka menjelaskan bahwa tak pernah ada hubungan yang spesial di antara mereka pada kekasih masing-masing.

Sampai tiba waktunya, malam itu bintang bersembunyi dari balik awan. Siwon dan Yoona tengah berbaring di rooftop apertemen Yoona. Lima menit yang lalu Siwon datang ke apertemen Yoona, apertemen sederhana yang ditinggalinya bersama sang kakak. Orangtuanya tinggal di Busan. Ia dan kakaknya memilih untuk tinggal di Seoul.

Naega yeojachingu reul kkaejida..” suara Siwon memecah keheningan. Bahkan menghentikan seekor cicak yang sudah menjulurkan lidah panjangnya siap memangsa serangga. (Aku putus dengan kekasihku)

“Waeyo?”

Siwon menghela napas berlebihan. Ia mengubah posisinya, menghadap pada Yoona yang masih setia memandang ke hitam langit. “Molla…”

Yoona mengangguk dan bergumam kecil, “Aku juga…”

“Hmm? Wae?

“Neoeso geu sarami pitturojida.” (Dia cemburu padamu)

Jinjja? Haha.. kenapa alasan yang diberikan Jiyeon juga sama? Tapi tak heran jika Myungsoo cemburu padaku.”

“Memangnya kenapa?”

Naega geusarameul ilch’ung challadaeso.” Jawaban Siwon membuat Yoona memutar bola matanya, tak hibis pikir kenapa ada orang dengan kadar kenarsisan di atas rata-rata seperti pria di sampingnya ini. (Karna aku lebih tampan darinya)

“Tapi jika Jiyeon cemburu padamu itu harus dipertanyakan.” Yoona mengerutkan dahi atas pernyataan Siwon. “Aku juga tak kalah cantik darinya,” tukasnya masih memandang kearah langit malam.

Ani, bukan itu.”

“Lalu?”

“Kau itukan pendek jadi mana mungkin aku menyukaimu.” Kali ini Yoona benar-benar mendaratkan satu pukulan di kepala Siwon. Kali sekali kepala itu harus benar-benar di pecahkan agar tidak semakin membesar.

Siwon mengaduh, mengusap kepalanya. Ia tak membalasnya melainkan meledakan tawa. Ini malam yang menyenangkan. Malam kebebasannya. Ia tak perlu lagi repot menelfon Jiyeon sebelum tidur, mengatakan good night dengan nada di buat-buat selembut mungkin. Tidak perlu repot mengirim pesan-pesan konyol hanya untuk berbasa-basi. Ini malam yang indah. Ia bisa menghabiskan hari-harinya bersama Yoona, tanpa harus ada rasa tak enak hati pada orang lain. Yah~ kembali menjalani hidup bersama Yoona, sahabatnya.

Siwon tersenyum senang. Ia menoleh kearah Yoona. Gadis itu tengah menikmati angin malam dengan memejamkan matanya. Diam-diam gadis itu juga memiliki satu pemikiran dengan Siwon. Malam kebebasan tanpa ada telfon sebelum ia tidur, tanpa ada nada sinis yang terus mengintrogasinya kemanapun ia pergi. Dan yah~ ia kembali pada asalnya. Menjalani hidup bersama Siwon.

Siwon mengernyitkan dahi, matanya menyipit. Ia mendekatkan wajahnya pada Yoona. Oh~ ada serangga kecil di rambut Yoona. Saat sudah dekat tiba-tiba saja Yoona menoleh kearahnya. Dan ‘dab!’ sukses membuat mata mereka membulat sempurna. Cepat-cepat mereka memalingkan wajah satu sama lain, duduk dari tidurnya. Yoona merasakan jantungnya berdegup kencang. Seperti dipaksa untuk kerja rodi. Begitu tak terkendali hingga ia merasakan aliran darahnya mendesir.

o0o

 

Siang itu langit begitu cerah dengan warna biru mendominasi. Mereka baru pulang sekolah. Siwon dan Yoona berjalan sambil sesekali tertawa. Apapun yang mereka bicarakan akan terasa pantas untuk dibahas jika Yoona sudah mengeluarkan celotehannya. Siwon menghentikan kakinya ketika Yoona tiba-tiba saja berhenti. Ia menoleh pada gadis itu. Kemudian mengikuti arah pandang Yoona.

“Wuah~ layangan!” Yoona setengah berlari menuju pada sebuah pohon besar dengan sebuah layangan menyangkut di rambutnya.

“Aissh! Kenapa tinggi sekali?” gadis itu meloncat-loncat, mencoba menggapai layangan yang tersangkut. Ia hampir berhasil meraih ekor layangan namun tetap saja tidak dapat menggapainya.

“Ya! Pendek, kau harus banyak minum susu agar lekas tinggi.” Siwon terkekeh geli, ia sudah berdiri di samping Yoona.

Yoona menatap galak kearah Siwon, tiba-tiba saja ide segar muncul di kepalanya. Ia menyeringai lebar. “Berjongkoklah!”

Mwo? Kau mau aku menggendongmu di pundakku lalu kau mengambil layangan itu?” tanya Siwon lebih pada bentakan.

Yoona menganggukan kepala. “Shirro!” tolak Siwon cepat dengan memalingkan wajahnya.

Gadis itu menunduk lemas. Ia ingin layangan itu. Ia menginginkannya. Tidak peduli apapun yang terjadi ia ingin layangan persegi dengan gambar Bernard Bear itu. Suara isakan mulai terdengar sedikit keras. Mata Yoona sudah berkaca-kaca, wajahnya kusut seperti anak kecil yang tidak dibelikan mungkin Siwon dapat memebenarkan wajah itu sekusut kertas ulangan Matematikanya.

Siwon menghela napas, pasrah. Ia paling benci melihat pemandangan ini. Ia tidak akan bisa menolak permintaan Yoona. Tidak akan pernah bisa. “Arasseo..” kata Siwon akhirnya—dengan nada menyerah.

Yoona mendongak dengan wajah sumringah, “Jinjjayo?” tanyanya dengan ekspresi berlebihan. Ia senang dan ia tahu bahwa Siwon tidak akan pernah bisa menolak permintaanya. Yoona dengan kegirangan tanpa sadar mencium pipi Siwon, memeluk leher pria itu. Yah~ mereka tidak menyadarinya. Itu gerak refleks.

“Ya! Cepatlah, kakiku sudah pegal!” protes Siwon ditujukan pada Yoona yang belum juga dapat meraih layangan tadi.

“Issshh! Diamlah! Kau tak lihat aku sudah berusaha meraihnya…” tangan Yoona menggapai-gapai[?] layangan itu namun tetap saja tidak bisa.

Siwon mendengus kesal di bawah Yoona. Pundaknya serasa berat, sudah seperti kuli bangunan yang harus memikul semen berton-ton[?]

“Bisakah kau lebih tinggi lagi? Aku benar-benar tidak dapat menggapainya..”

“Mau tinggi seperti apalagi? Kau mau aku berjinjit seperti penari balet kemudian menari sambil memikulmu, begitu?”

“Kenapa kau cerewat sekali sih?”

“Dasar pendek..” dengus Siwon namun masih terdengar oleh Yoona.

‘Pletak! Pletak!’ alhasil Yoona menjitak kepala Siwon beberapa kali sudah seperti menumbu bumbu masakan.

“Ya! Apa yang kau lakukan?” kata Siwon setengah berteriak. Akibat dari jitakan Yoona yang begitu keras di kepalanya membut keseimbangannya tidak terjaga.

Dan ‘Blug’ mereka terjatuh di atas rerumputan. Mereka tidak mengerang kesakitan. Mereka tidak protes satu sama lain. Mereka tertawa. Menertawai hal konyol yang selalu mereka lakukan.

o0o

 

Siwon tidak pernah mengalami hal ini sebelumnya. Ia bingung dengan perasaanya. Ia telah  menjalin hubungan dengan banyak wanita, menceritakan segalanya pada Yoona. Wanita yang dikencaninya pun bukan wanita biasa. Mereka istimewah di mata Siwon.

Namun kali ini sesuatu yang hangat tengah ia rasakan. Desiran halus dalam setiap gerak denyut nadi. Seperti terbawa oleh tenangnya ombak.

Gadis itu yang membuatnya merenung sepanjang malam. Gadis itu yang membuatnya bergulat dengan sejuta tanda tanya dalam otak. Gadis itu telah mampu membuat Siwon menemukan kedamaian yang belum pernah ia rasakan.

“Aku akan mengambil popcorn dulu..” Yoona berujar sambil beranjak dari duduknya menuju kearah dapur. Siwon mengambil remote TV. Malam ini ia dan Yoona berencana menonton film di apertemen Yoona. Sebenarnya ini lebih mengarah pada paksaan. Karna kakak Yoona—Jessica, harus pergi keluar kota untuk menyelasikan pekerjaannya makanya Yoona menyuruh Siwon untuk menemaninya malam ini. Yah, hanya menginap dalam satu atap tidak akan terjadi apa-apa diantara mereka dan mereka menyadari itu kecuali jika salah satu diantara mereka ada yang mencuri start. 0o

Yoona kembali dengan membawa semangkuk besar popcorn. Ia duduk di samping Siwon. “Film nya sudah mulai?”

“E-em..” jawab Siwon tanpa berpaling dari layar TV. Tangannya meraih beberapa biji popcorn dari mangkuk dalam pangkuan Yoona.

Dua puluh menit berlalu Siwon dan Yoona telah terhanyut dalam film yang mereka tonton. Film itu ber-genre romance dengan kisah seorang pria dan wanita yang bersahabat sejak kecil kemudian tanpa mereka sadari tumbuh benih-benih cinta dalam persahabatan itu.

Yoona melirik kearah Siwon. Pria itu nampak khusuk menghayati jalan ceritanya. Terlihat dari wajahnya yang serius. Yoona menghela napas pelan. Sudah lima tahun ia berteman dengan Siwon, dari bangku SMA sampai menginjak perguruan tinggi. Ia merasa kisah dalam film itu sangat klise. Mirip dengan kisah cintanya. Cinta yang tumbuh karna kebersamaan. Cinta yang tumbuh karna terbiasa mendengarnya, melihatnya. Cinta yang tumbuh karna kenyamanan. Dan cinta yang tumbuh dalam sebuah persahabatan. Sayangnya ia merasa tidak bernasib sama dengan gadis dalam film itu. Cintanya hanya bertepuk sebelah tangan.

“Tadi pagi aku bertemu dengan Yoseob..” tiba-tiba Siwon bersuara, matanya masih terfokus pada layar TV.

“Yang YoSeob? Teman satu tim basket mu saat SMA dulu?” tanya Yoona mengingat-ingat. Siwon mengangguk.

“Kami mengobrol banyak hal tadi. Dia bercerita bagaimana serunya menjadi seorang seniman. Melukis adalah hidupnya, katanya. Dia mengingatkanku pada diriku yang dulu. Aku juga sempat bercita-cita menjadi seniman tapi setelah beranjak lebih dewasa kurasa Dokter lebih baik. Ah ya, dia juga berencana akan melanjutkan S2 ke Swiss..”

Sepanjang Siwon bercerita, Yoona tidak benar-benar mendengarkannya. Ia bersandar pada sandaran sofa. Ia tak tahu kenapa Siwon harus menceritakan temannya itu. Siapa namanya tadi?… Yang Yoeseb? Atau siapalah itu. Dia tidak terlalu menganal pria itu.

Yoona menghela napas pelan. Matanya kembali mengarah pada layar TV, membiarkan Siwon meneruskan cerita yang entah kapan berujungnya.

Siwon menyesap coklat panas yang di buatkan Yoona sebelum menonton film tadi. Ia menghela napas sejenak. Mengatur sedemikian rupa kalimat yang akan ia keluarkan. Ia sudah mengaturnya tadi. Tadi sebelum berangkat kemari ia sudah berulang-ulang menghafalakan naskah yang dibutnya sendiri dan ia sudah hafal di luar kepala. Yah~ ia ingin membicarakan sesuatu pada Yoona. Sesuatu yang menganggunya selama beberapa hari ini. Ah, ani! Ani, beberapa bulan lebih tepatnya.

“Ehemm!!” Siwon berdehem lumayan keras. Entah mengapa tiba-tiba saja ia menjadi gugup. “Eng… Yoong, sebenarnya ada sesuatu yang ingin ku bicarakan denganmu…”

“…. eng sebenarnya aku…” Siwon memutar-mutar cangkirnya di atas meja. Sedikit bermain untuk mengurangi rasa gugup yang menderainya.

“Sebenarnya aku….. menyukaimu.” Siwon memejamkan mata setelah menyelesaikan kalimat itu. Ada sedikit kelegaan akhirnya ia dapat mengutarakan perasaanya selama ini. Ia tahu mungkin ini salah, mungkin Yoona tidak mau lagi berteman dengannya karna telah merusak persahabatan diantara mereka. Bahkan Siwon dapat membayangkan bagaimana ekspresi Yoona saat ini. Ia pasti terbelalak tak percaya dan sebentar lagi akan meledak-ledak. Tapi biarlah, biarlah gadis ini tahu bagaimana perasaanya. Yang terpenting ia tidak lagi tersiksa dengan sejuta gejolak jiwa tiap kali berada di sisi gadis ini.

Lama Siwon menunggu namun tak ada sahutan. Hanya terdengar sebuah suara, seperti suara dengkuran. Siwon menoleh kearah Yoona. “Ck! Dasar..!” Siwon berdecak mendapati Yoona sudah tertidur pulas. Jadi sedari tadi ia mengoceh, gadis ini sama sekali tidak mendengarkannya? Sia-sia saja tadi ia memukul-mukul kepalanya sendiri karna terlalu bodoh dalam mengungkapkan perasaan. Benar-benar memalukan!-__-

Siwon tersenyum simpul melihat wajah polos Yoona saat tertidur. Begitu damai membuat orang yang melihatnya seperti merasakan mimpi indah yang dialaminya.

Dengan perlahan Siwon mengambil mangkuk popcorn yang berada dalam pangkuan Yoona, meletakkannya di atas meja. Kemudian Siwon menggendong tubuh Yoona. Ia berjalan menuju kamar Yoona, membuka pintu lalu masuk kedalamnya.

Siwon membaringkan tubuh Yoona di atas ranjang dengan sangat hati-hati, takut jika gadis itu terjaga. Siwon menarik selimut sebatas dada untuk menyelimuti tubuh Yoona. Ia duduk di tepi ranjang, memandang tiap inch wajah cantik itu. Bibirnya menyunggingkan senyuman.

Siwon mengelus pipi tirus Yoona.  menyingkirkan helai rambut yang menghalangi wajah cantik gadis ini. Siwon mencondongkan badannya mendekat pada Yoona. “Saranghaeyo..” bisiknya lembut tepat di telinga Yoona. Gadis itu menggeliat kecil, seperti mendengar kalimat itu bibirnya sedikit tertarik. Sebelum beranjak terlebih dulu Siwon mengecup kening Yoona. Mengutarakan perasaanya agar si pemilik kening turut merasakannya.

Ia mencintai gadis ini. Ia tidak tahu kapan tepatnya. Perasaan itu tiba-tiba saja muncul menghampirinya. Menusuk-nusuk meminta tempat yang lebih di hatinya. Gadis ini telah tumbuh menjadi dewasa. Dia bukan lagi si pendek tapi berubah menjadi si cantik. Dia bukan lagi sosok setengah gadis tapi telah berubah menjadi seutuhnya gadis yang modis dan feminim. Dan dia bukan lagi Im Yoona yang suka merengek, kini ia sudah berubah menjadi gadis mandiri meski terkadang bersikap manja padanya. Yah~ hanya padanya dan Siwon pastikan hanya harus padanya Yoona menunjukkan sikap manjanya.

Tidak, tidak! Ia tidak mencintai Yoona karna perubahan pada gadis ini. Ini karna…. terbiasa. Yah~ terbiasa bersama Yoona membuatnya cemburu ketika mendengar teman kampusnya berniat mengajak Yoona berkencan. Ia tidak suka melihat Yoona dekat dengan pria lain selain dirinya. Ia marah ketika dengan sengaja teman kempusnya mencari perhatian Yoona. Yoona hanya miliknya! Tidak ada yang boleh mendekati gadis itu kecuali dirinya seorang!

Dan cinta itu perlahan telah mereka sadari. Membuka sebuah titik terang ketika segalanya menculak seiring dengan berjalannya waktu. Ketika dua hati yang bersembunyi kini menyatakan cintanya dan mendeklarasikan kata demi kata dalam sebuah hubungan. Mereka bersama, bukan sebagai dua orang bersahabat lagi melainkan sebagai sepasang kekasih. Bahkan kini dua jari manis telah tersemat cincin yang indah.

~[]~

 

“Haahh~ melelahkan sekali.” Yoona baru saja keluar dari dalam kamar mandi. Kemarin ia baru mengadakan Fashion Show hasil rancangannya. Dan ia baru pulang jam tiga dini hari karna harus bolak balik Jinan-Seoul.

Yoona berjalan menuju lemari besar di kamarnya. Ia membukanya dan mengambil baju serta pakaian dalam. Yoona melepas baju handuknya kemudian mulai memakai satu persatu kain untuk menutupi tubuhnya. Ia tidak menyadari sedari tadi ada sepasang mata yang mengawasinya dengan seksama. Yoona mencoba untuk meraih resleting bagian belakang, bajunya. Ia nampak kesulitan.

“Butuh bantuan?”

“A-ah iya..” Yoona mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang. Membiarkan orang tadi membantunya menaikan resleting bajunya. Yoona terdiam beberapa saat seperti orang dalam pikiran kosong, sampai ia merasakan sebuah kecupan di pundaknya, ia terlonjak. Dengan keterkejutan serta kesadaran bahwa sedari tadi ia tak sendiri di kamar ini. Sedari tadi ia mengganti baju ada orang yang mengawasinya. Yoona bangkit dan membalikkan tubuhnya. “Ya!!!” jantungnya berpacu berpuluh kali lipat. Mungkin jika ia sadar lebih awal ia akan menghajar orang itu sampai mematahkan hidungnya.

Siwon tertawa keras melihat perubahan air muka Yoona. Ia terbaring di atas kasur sambil memegangi perutnya.

“Kau menertawakanku? Kau menertawakanku heuh? Beraninya kau!” Yoona mengambil guling kemudian memukul tubuh Siwon dengan guling itu. “Dasar namja sialan! Beraninya kau masuk ke dalam kamarku tanpa ijin…” Yoona masih saja mencecar serta tak memberi ampun Siwon.

“Ya! Hentikan itu. Im Yoona berhenti..!” Siwon menangkis pukulan Yoona dengan lengannya. “Kita belum menikah saja kau sudah berani mengintipku. Dasar lelaki hidung belang…!” masih belum puas dengan pukulannya, Yoona menendang kaki Siwon yang menggelantung[?] di dekat ranjang.

Jika seperti ini terus ia benar-benar akan mati oleh pukulan Yoona. Yoona sudah akan memukulnya lagi ketika ia berhasil menggenggam pergelangan tangan Yoona dan menariknya, membuat Yoona jatuh di atas tubuhnya.

Aigoo… kenapa kau kasar sekali, Chagi..” kata Siwon seduktif.

Oh, jangan! Jangan seperti ini Choi Siwon! Kau membuatku merinding.

Yoona mencoba melepaskan diri dari pelukan Siwon yang semakin mempersempit jarak di antara mereka. “Wae?” tanya Siwon semakin melebarkan senyumnya.

“Kau… mengerikan!”

Siwon terbahak mendengar jawaban Yoona. “Bukankah kau mencintai pria mengerikan ini?” godanya pada wanita itu. “Nde, mau bagaimana lagi. Aku sudah tak memiliki pilihan lain..” jawab Yoona.

“Geurae? Ah, arasseo. Akan ku buat kau benar-benar tidak memiliki pilihan lain..” Yoona mengerjap-ngerjapakan mata. Ia tahu apa yang akan Siwon lakukan dengan senyum menyeringai itu.

Yoona merasakan napas Siwon yang menggelitik indra penciumannya sebelum akhirnya bibir itu menempel pada bibirnya. Siwon mengecup beberapa kali bibir Yoona sebelum akhirnya melumatnya dalam. Yoona memejamkan mata menikamati sentuhan hangat yang di berikan Siwon untuknya. Benar, ia tidak bisa menolak sentuhan Siwon. Tidak bisa jika di depan pria ini.

Lumatan Siwon semakin dalam dengan ritme pelan. Ia menyesap bibir Yoona memberikan sensasi lebih pada wanita itu. Tangan Siwon meraih tengkuk Yoona. Menekannya kuat seolah-olah berkata bahwa wanita itu tak boleh lepas dari terkamannya. Siwon mengigit kecil bibir bawah Yoona membuat wanita itu mendesah, merasakan perih atas gigitan Siwon. Mengerti dengan maksud Siwon, Yoona membuka mulutnya, memberi akses bagi Siwon untuk menjelajahi mulutnya. Tak ia sia-siakan lagi lidahnya bereksplorer dalam rongga mulut Yoona, mengabsen satu persatu gigi rapi itu. Serta mengajak si pemilik untuk berperang lidah.

Yoona sudah merasakan sesak pada pernafasannya. Ia membutuhkan oksigen. Ia benar-benar akan mati karna sesak napas akibat ulah pria ini. Dengan sekuat tenaga Yoona mendorong tubuh Siwon. Begitu ia berhasil keluar dari sangkar pria ini, Yoona berdiri dengan napas terengah.

“Sebenarnya kau berniat menciumku atau membunuhku…” katanya sambil memegangi dada. Siwon tergelak tawa. Begitu menggema dalam kamar itu.

“Salah sendiri memiliki bibir yang begitu menggoda..” katanya enteng.

“Aissh!” Yoona beranjak pergi begitu saja meninggalkan Siwon. Ia kesal pria itu selalu tahu bahwa ia tidak pernah bisa menolak segala perlakuan pria itu pada dirinya.

~[]~

 

Chagiya, mwo yori?” hampir saja Yoona menjatuhkan pisau yang di pegangnya karna tiba-tiba merasakan sesuatu melingkar di pinggangnya serta bisikan yang dapat membutnya bergidik. (Masak apa, sayang?)

Siwon menyandarkan dagunya pada pundak Yoona. Bibirnya mulai beraksi mencumbu leher jenjang Yoona dan kebetulan Yoona menggulung rambut panjangnya. Membuat Siwon semakin bebas berkreasi disana.

Oppa, naei congyeongi hasiyo! Apa kau tak puas di kamar tadi kau sudah membutku sesak napas..” kata Yoona sambil memotong sayuran. (Jangan menggangguku, Oppa)

“Tidak denganmu…” Siwon menghiru dalam leher Yoona, menciumnya sesekali menyesapnya kuat. Menciptakan kissmark di sana.

“Eiih… kenapa kau sulit sekali diperingatkan!” Yoona membalikkan badan, menghentikan aksi Siwon. Ia mendorong tubuh Siwon mendudukannya di kursi. “Tunggu disini! Aku akan memasakan sesuatu untukmu. Ini spesial..” Yoona mengerlingkan matanya membuat Siwon mengulum senyum.

“Apa kau bisa masak?”

“Aisshh! Diamlah, Oppa.” Siwon menggeleng-gelengkan kepala. Yoona memang tak pandai memasak. Ia gadis yang payah dalam hal masak karna sejak dulu saat tinggal bersama kakaknya, memang Jessica lah yang memasakan untuk mereka. Yoona terlalu sibuk bermain dengannya.

Bukan lagi mahasiswa yang ia sandang. Bukan lagi pria lajang yang ia sandang melainkan seorang Dokter sekaligus tunangan dari desainer terkenal, Im Yoona. Mereka tinggal dalam satu atap. Ini adalah usul dan kemauan Siwon. Ia ingin selalu berada di dekat Yoona. Selain karna orangtua Yoona yang tinggal di busan, tiga bulan yang lalu kakaknya juga harus pindah, menjalankan tugasnya sebagai seorang istri—tinggal bersama suaminya.

Ia tak mungkin membiarkan wanita yang dicintainya tinggal seorangkan diri. Lagipula mereka tidak satu kamar. Mereka cukup tahu batasan-batasan tertentu.

“Ta-da!” seru Yoona memberikan semangkok berisi makanan pada Siwon. Pria itu menatap ngeri makanan di hadapannya. Sebenarnya itu makanan atau lumpur? Kenapa bentuknya seperti itu?

“Kimchi?” tanya Siwon sedikit ragu. Yoona mengangguk cepat, “Euh? Kau tak suka, Oppa?” tanya Yoona dengan wajah kusut. Dan Siwon paling tidak suka memandang wajah Yoona seperti itu.

“Eo? Aniyo, aniyo! Bentuknya boleh jelek tapi baunya sangat sedap. Dan pasti ini enak..” Siwon mencoba membangkitkan keceriaan di wajah Yoona. Ia sudah mengambil sendok, meraup makanan itu. Ia meneguk saliva-nya terlebih dahulu. Ya Tuhan~ cinta memang butuh pengorbanan.

Yoona memandang Siwon dengan wajah penuh harap. Siwon tersenyum kikuk sebelum akhirnya memasukan makanan itu ke dalam mulutnya. Dalam hati ia berdoa semoga Tuhan membumi hanguskan kimchi—untuk saat ini saja.

“Eottokhae?” rahang Siwon bergerak perlahan, giginya mengunyah makanan itu. “Enak?” tanya Yoona memasang wajah polos, menunggu jawaban Siwon. Siwon tersenyum kikuk dan mengangguk cepat.

Yoona mengernyit seperti tak percaya pada jawaban Siwon. Ia meraih sedok, meraup makanannya kemudian memasukkannya kedalam mulut. Sedetik kemudian ia memuntahkan makanan itu ke lantai sampai terbatuk-batuk.

Semetara Yoona berlari kearah westafel, Siwon juga memuntahkan makanan tadi. Cepat-cepat ia minum air putih sebanyak-banyaknya. “Akh~ makanan macam apa ini?” desisinya kemudian meminum air putih lagi.

Mianhaeyo Oppa,” Yoona duduk di kursinya sambil menundukkan kepala. Buliran kristal bening itu sudah mengalir dari sudut matanya. “Hiks… hiks…”

Siwon menggeser kursinya mendekat kearah Yoona. “Chagi-ya waegeurae ?” tanyanya lembut, menyingkirkan helai rambut Yoona yang menjulang menghalangi wajah wanita itu.

“Bukankah aku calon istri yang buruk? Bahkan untuk membuatkanmu sarapan saja aku tidak bisa…” Yoona sudah terisak, bahunya bergetar.

“Hei.. hei.. apa yang kau bicarakan, hmm?” Siwon mendekap tubuh Yoona. “Ini hanya masalah masakan, Chagi-ya. Kau masih bisa belajar. Kita akan belajar bersama, oke?” Siwon memandang wajah Yoona. Wanita itu masih menangis sesegukan.

Siwon menyeka air mata Yoona dengan ibu jarinya. “Aku mencintaimu! Aku mencintaimu! Aku mencintaimu! Aku mencintaimu! Aku mencintaimu! Aku mencintaimu! Aku mencintaimu!” katanya sambil menjeda per-kalimatnya dengan mengecup pipi Yoona.

Yoona tersenyum geli merasakan lengkungan senyum Siwon di pipinya. “Bagaimana? Apa masih kurang? Apa kau masih bersedih, hmm?” Siwon bertanya masih dengan posisi tadi. Wanita itu hanya menggelengkan kepala.

Siwon mengulum senyum lantas kembali mencium pipi Yoona. Beranjak kemudian mengecup bibir Yoona, menjilat sisa air mata Yoona. Tanpa di duga Yoona mebalas ciuman Siwon. Ia mengalungkan tangannya pada leher Siwon. Tangan Siwon yang tidak mau menganggur juga meraih pinggang Yoona. Mengunci jarak antara mereka.

Suara decapan terdengar dari mulut Yoona membuat Siwon semakin memperdalam ciumannya. Yoona meremas rambut Siwon mengekspresikan betapa lihai pria ini memainkan bibirnya.

Ditengah ciuman manis itu tiba-tiba saja suara panggilan masuk dari ponsel Siwon—di saku celananya berbunyi keras. Yoona sudah akan melepaskan tautan bibir mereka namun Siwon justru menekan tengkuknya membuat bibirnya kembali beradu dengan bibir Siwon.

Getaran serta bunyi ponsel yang menggema itu sungguh menggangu acara mereka. Setelah beberapa kali mendorong dan memukul dada Siwon akhirnya pria itu mau juga melepaskan ciumannya.

“Akh~ siapa orang menyebalkan yang tidak tahu aturan ini? Menganggu saja!” runtuk Siwon merogoh saku celananya. Tanpa melihat layar ponselnya ia langsung menempelkan ponsel itu pada telinganya.

Ye! Nugu-ya? Kau tak tahu aku sedang dalam situasi yang sibuk! Apa kau tak punya jam di rumahmu, heuh? Kenapa mengganggu sekali…”

Hyung, kau ini kenapa? Kenapa marah-marah begitu? Apa Yoona mentelantarkanmu hingga kau naik pitam seperti ini?”

Siwon menjauhkan ponselnya dari telinga, dilihatnya pada ponselnya tertera nama Cho Kyuhyun.

Waegeurae, Kyu?” tanyanya tanpa memedulikan ocehan Kyuhyun.

“Ck! Cepatlah ke rumah sakit. Kau lupa hari ini ada oprasi!”

“Ah, nde arasseo.”

‘klik’ Siwon memutuskan sambungan sepihak. Ia berani bersumpah saat ini Kyuhyun pasti sedang mengumpat, menegeluarkan sumpah serapah tak jelas.

“Ada apa?” Siwon beralih menatap Yoona, ia tersenyum tenang. “Ani, hanya harus ke rumah sakit. Hari ini akan ada pasien yang di oprasi.” Siwon sudah berdiri dari duduknya. Yoona hanya mengangguk lemah. Padahal ia berharap hari ini dapat pergi jalan-jalan dengan Siwon.

Seperti tahu apa yang di pikirkan oleh tunanganya itu, Siwon mencondongkan tubuhnya kemudian mengecup sekilas bibir Yoona yang sedikit manyun. “Aku tidak akan lama..” katanya meyakinkan. Yoona mengulum senyum balas meyakinkan Siwon bahwa ia tak apa. Sekali lagi Siwon mendaratkan bibirnya pada bibir Yoona. Sedikit lama kecupan itu berubah jadi hisapan. Yoona mendorong kuat dada Siwon. “Isshh! Cepat pergi sana! Kau takkan pergi jika terus seperti itu..”

Siwon menarik sudut bibirnya. Ia mengacak-acak rambut Yoona sebelum akhirnya melenggang pergi.

~[]~

 

“Anda hanya harus lebih dekat dengannya. Saya yakin  Hara akan lekas sembuh dengan keberadaan ibunya.” Siwon memberikan saran kepada ibu dari pasiennya. Mereka tengan berjalan menyusuri koridor rumah sakit.

Wanita baya itu mengangguk lalu berkata, “Ne, algetsimnika Choi uisanim. Terimaksaih banyak. Maaf sudah merepotkanmu..” kata Wanita itu mengedikan kepala. (Saya mengerti)

Gwenchanayo. Itu sudah menjadi tugasku sebagai seorang Dokter.” Siwon berkata sambil memamerkan senyum terbaiknya.

“Ah, kalau begitu saya akan ke kamar Hara dulu. Annyeong..” pamit wanita itu. Siwon menundukkan kepala sopan sambil memamerkan senyumnya. Wanita itu berjalan menuju kamar putrinya di rawat. Namun ia berhenti, nampak sedikit ragu. Ia membalikkan badan.

“Ah, Choi uisanim. Anda benar-benar dokter muda terhebat di rumah sakit ini. Anda tampan dan masih muda. Di usia 28 tahun sudah sesukses ini. Apakah anda sudah memiliki kekasih? Apa… anda ingin ku kenalkan pada kakak sepupu Hara? Dia gadis yang cantik dan berpendidikan. Dia juga….”

Siwon mengulum senyum,

Tanpa sepengetahuan Siwon dari balik dinding Yoona mengintip dan mendengar pembicaraan mereka. Ia meremas ujung bajunya. Kesal dengan pernyataan wanita baya itu yang berniat menjodohkan Siwon dengan kerabatnya. Memanganya dia pikir siapa dirinya itu? Orangtua Siwon? Apa Siwon tidak bisa menolak dengan lantang. Oh~ Yoona sudah sangat bosan dengan semua ini. Ini bukan kali pertama saja ia mendengar para orangtua serta kerabat pasien Siwon yang berniat menjadikannya menantu. Hei! Apa selama ini ia tak dianggap? Mengapa semua orangtua itu seenaknya sendiri. Apa Siwon tak pernah mengatakan bahwa ia sudah memiliki tunangan? Benar-benar menyebalkan!

Sebelum wanita baya itu meneruskan ucapannya—entah akan sampai dimana berakhirnya, Siwon menyela, “Maaf, tapi saya sudah memiliki tunangan,” tolak Siwon halus, bicara sesopan mungkin. Wanita itu sedikit terlonjak sedetik kemudian ia mengangguk. “Ah ye, baikalah kalau begitu saya permisi dulu..” katanya berpamitan. Sekali lagi Siwon memberikan senyum terbaiknya.

Yoona mendecak pelan, “Bagaimana para orangtua tidak ingin menjadikannya menantu, jika tiap detik saja ia suka sekali tebar pesona. Ck!” Yoona sudah akan beranjak dari tempatnya ketika ia melihat seorang wanita semampai menghampiri Siwon. “Apa lagi ini..” kesalnya, kembali pada persembunyiannya. Memerhatikan wanita itu semakin mendekat kearah Siwon. Dan Siwon nampak tak menyadarinya. Lihat, bagaiaman wanita itu berjalan, memamerkan lengkuk tubuhnya.

Yoona membulatkan mata tatkala melihat wanita itu dengan sengajanya menumpahkan coffe yang dibawahnya ke kemeja Siwon.

“Oh! Choi uisanim, mianhaeyo,” katanya dengan wajah terkejut sambil membesihkan kemeja Siwon dengan tisseu. Siwon berusaha untuk tersenyum, ia mencegah tangan wanita itu.

“Kemeja anda kotor. Apa perlu saya cucikan dan menggantinya?” imbuhnya menampakan wajah penyesalan.

Gwanchana Yuri-ssi. Tidak perlu, kebetulan aku juga akan pulang..” Siwon sedikit membersihkan noda kopi itu dengan tangannya. Yah, memang tidak panas tapi kemejanya berwarna putih. Dan dia paling benci warna putih terkena noda.

Geurae? Ah, taedanhi ilch’i. Saya juga akan pulang. Bukankah kita satu jalur?” (Kebetulan sekali)

Siwon menghela napas pelan. Ia sudah tahu bahwa Yuri pasti akan memintanya sekalian mengantar pulang atau mungkin lebih tepatnya wanita ini mau menumpang? Atau… enathalah tujuan sebenarnya apa.

Dengan kesal Yoona menyentakan kaki. Ia tahu pasti Siwon tidak akan tega membiarkan seorang wanita pulang sendirian di tengah malam seperti ini. Terlebih wanita itu salah satu suster di rumah sakit ini. Dengan perasaan kesal bercambur dongkol Yoona meninggalkan tempat itu. Masa bodoh dengan wanita yang sengaja mencari perhatian itu. Awas saja begitu Siwon pulang pria itu benar-benar akan mati di tangannya.

~[]~

 

Siwon mengganti sepatunya dengan sendal rumah begitu ia menginjak rumah yang sedari tadi ingin di kunjunginya. Ia sangat lelah. Ternyata tadi Yuri tak hanya memintanya untuk mengantarkan pulang namun Yuri juga mengajaknya makan malam bahkan mengenalkannya pada orangtuanya. Ia tak tahu pasti apa tujuan wanita itu. Namun ketika kedua orangtua Yuri bertanya apakah ia sudah memilik kekasih dan ia menjawab malah sudah memiliki tunangan, Siwon melihat raut keterkejutan dari wajah ketiga orang itu. Yah, Siwon tak menyalahkan Yuri jika wanita itu belum mengetahui bahwa dirinya sudah mememiliki tunangan karna Yuri baru dua hari bekerja sebagai suster di rumah sakit itu.

Siwon berjalan menuju ruang TV. Ia melihat layar TV masih menyala. Siwon mengernyit, “Kemana Yoona?”

Saat Siwon sudah dekat dengan sofa panjang di depan TV. Ia melihat beberapa botol soju di sana. “Astaga! Yoong, Kau mabuk?” tanya Siwon setengah tak percaya. Ada banyak sekali botol soju yang berserakan. Siwon melihat Yoona bergumam tak jelas di atas sofa. Wajahnya memerah—efek dari minuman beralkohol itu. Siwon tahu betul, Yoona tak kuat minum. Wanita itu memang tidak suka minum.

Yoona berdiri dengan mata sayu-nya. “Ada apa denganmu, Chagi?” Siwon mendekat kearah Yoona. Gadis itu menyandarkan kepalanya pada pundak Siwon sementara Siwon membelai lembut rambut Yoona.

“Kenapa kau mabuk? Ada masalah, hmm?” tanya Siwon setengah berbisik.

Yoona tanpa memedulikan pertanyaan Siwon, melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Siwon. Ia membenamkan wajahnaya diantara leher dan pundak Siwon, mengirup aroma tubuh Siwon. Pria itu mengelus lembut punggung Yoona kemudian mencium pucuk kepala Yoona.

Yoona mengecup leher Siwon beberapa kali kemudian bibirnya naik ke pipi pria itu dan mengecup disana. Ditatapnya kedua mata Siwon lekat-lekat sebelum akhirnya menempelkan bibirnya ke bibir merah milik Siwon. Tangannya bergerak mengalung pada leher Siwon, menarik pria itu agar memperdalam ciuman mereka.

Yoona berkali-kali menghisap bibir Siwon yang terasa manis di bibirnya. Begitupun dengan Siwon yang menghisap bibir atas dan bibir bawah Yoona secara bergantian. Yoona membuka sedikit mulutnya memberikan celah bagi lidah Siwon untuk bermain dengan lidahnya di dalam sana. Ia juga menyapukan lidahnya ke deretan gigi Siwon yang rapi.

Siwon mengeratkan pelukannya pada pinggang ramping Yoona membuat mereka terhanyut dalam ciuman yang panas dan intens. Yoona menurunkan tangan kirinya yang melingkar di  leher Siwon untuk membuka kancing kemejanya satu persatu, membuat pakaian dalam serta tubuh putih mulusnya terekspos. Tangan kananannya terus menekan kepala Siwon, seolah menyuruhnya untuk tidak berhenti menciumnya. Bibirnya semakin menyesap bibir Siwon apalagi pria itu juga tidak mau kalah dalam permainan ini. Membuatya berkali-kali mengeluarkan suara decapan.

Sementara tangan kiri Yoona bergerak membuka kancing kemeja putih milik Siwon. Setelahnya, tanganya mengusap lembut perut kotak-kotak serta dada bidang pria itu tanpa melepas tautan bibir mereka.

Siwon menangkupkan wajah Yoona dengan kedua tangan. Bibirnya beralih menelusuri wajah Yoona dan menciumnya. Mulai dari kening, pipi, hidung, bibir yang sedikit terluka akibat gigitannya, hingga leher gadis itu. Tangan kanannya menyibakan rambut Yoona yang tergerai menutupi leher. Ia menghirup aroma chamomile yang menyegarkan disana. Siwon mencium leher Yoona, menyesapnya dalam, meinggalkan beberapa tanda merah disana.

Saat Siwon mengecup wajahnya tadi, tangan Yoona beralih dari abs Siwon menuju pada kancing celana jeans yang dikenakan Siwon. Dalam waktu singkat ia berhasil membuka kancing itu dan menurunkan resletingnya. Tepat saat ia meraih pinggang Siwon, pria itu melepaskan ciumannya. Tangannya mencegah tangan Yoona.

Yoona mengernyit, Siwon menggelengkan kepala dengan mata menyiratkan keseriusan. Siwon menaikan resleting celana jeans-nya kemudian tangannya bergerak meraih kemeja milik Yoona, memasangkan kancingnya satu persatu. Siwon dapat melihat sorot mata Yoona menyiratkan kekecewaan. Pria itu tersenyum, mengecup kilat bibir merah Yoona.

“Ini sudah malam. Sebaiknya kau cepat tidur.” Siwon memegang kedua pundak Yoona, menuntun wanita itu menuju kamar. Yoona masih terdiam seribu bahasa. Ia hanya menuruti Siwon.

Dengan perlahan Siwon membaringkan tubuh Yoona di atas ranjang. Ia menarik selimut untuk menutupi tubuh Yoona kemudian ia mendaratkan sebuah kecupan hangat di kening Yoona.

“Tidurlah, kau nampak lelah…” kata Siwon mengusap sayang kepala Yoona.

Siwon sudah akan beranjak ketika Yoona menahan lengannya. Siwon menoleh kearah Yoona. “Temani aku…” pinta Yoona dengan suara pelan.

“Baiklah, tapi aku akan membersihkan diri dulu dan mengganti baju.” Yoona melepaskan genggamannya. Pria itu keluar dari kamar Yoona.

Selepas kepergian Siwon, Yoona merutuki kebodohannya. Hampir saja ia menodai cinta suci yang telah dibangunnya bersama Siwon selama ini. Sebenarnya ia tidak terlalu mabuk tadi namun entahlah, ia hanya sedang dikuasai rasa cemburu hingga mengakibatkannya lepas kendali dan menginginkan Siwon hanya menjadi miliknya. Sekarang ia tahu, betapa pria itu mencintainya dengan tulus dan betapa pria itu menjaga sebuah hubungan sebelum yang sepantasnya terjadi.

Yoona tersenyum senang, ia beruntung mendapat calon suami seperti Siwon. Tuhan sangat mencintainya hingga menjadikannya wanita beruntung itu. Sayup-sayup matanya mulai terpejam, merasakan kantuk yang telah tertahan.

Siwon melenggang masuk ke dalam kamar Yoona. Ditatapnya sang pujaan hati telah terlelap. Memerhatikan wajah tertidur itu membuat kedamaian terdendiri. Siwon pikir Yoona sudah tidak membutuhkannya lagi untuk menghantarkan wanita itu ke alam mimpi. Ketika hendak beranjak tangannya kembali ditahan oleh Yoona. “Kau mau meninggalkanku?” pertanyaan Yoona membuat Siwon tersenyum kecil.

Aigoo, ternyata princess-ku belum tidur..” Siwon naik ke atas ranjang Yoona. Dibawanya wanita itu ke dalam dekapannya. Memberikan kehangatan pada sang pujaan hatinya.

Oppa…”

“Hmm..” jawabnya dengan gumaman kecil sambil memejamkan mata, merasakan deru nafas Yoona yang menerpa lehernya.

“Tadi kau… bicara dengan siapa?” tanya Yoona memainkan ujung kerah kaus Siwon.

“Kapan? Tadi? Jadi kau berniat menemuiku di rumah sakit?”

Yoona menganggukan kepala, namun tidak menatap Siwon. Pria itu lagi-lagi dibuat terkikik geli. Diraihnya dagu Yoona, mengangkat wajah itu agar mata mereka bertemu.

“Kau cemburu, eo?” Yoona menatap polos mata gelap Siwon. Ia ingin berkata tidak namun lidahnya kelu. Ia ingin berkata iya tapi otaknya tak mengijinkan.

“Aku suka melihatmu cemburu. Berarti kau sangat mencintai pria tampan ini.” Yoona mencubit perut Siwon. Pria ini benar-benar dengan kadar kenarsisan di atas rata-rata.

Siwon hanya mngaduh kecil namun nampak menikamatinya. “Jangan khawatir. Aku hanya mencintaimu dan akan terus mencintaimu. Sampai kapanpun akan tetap mencintaimu bahkan ketika bulan tak lagi berbentuk bundar dan matahari tak lagi terbit dari timur aku akan tetap mencintaimu. Kau dengar? Choi Siwon akan tetap mencintai Im Yoona!”  Siwon berujar dengan semangat berapi-api membuat pipi Yoona menghangat. Yoona mengulum senyum lantas menenggelamkan kepalanya pada dada bidang Siwon. Hangat dan nyaman. Ini yang disukainya dari Siwon.

Jeongmal Saranghaeyo Siwon Oppa..”

Mwo? Bisa kau ulangi lagi? Telingaku agak bermasalah..” sekali lagi Yoona mencubit perut Siwon namun kali ini lebih keras membuat si pemilik mengaduh keras juga.

“Ya! Kau ingin membunuhku dengan kukumu, Chagi. Aw.. hentikan itu sakit sekali.” Siwon mengusap perutnya begitu Yoona menghentikan cubitannya.

Yoona mengecup bibir Siwon, “Aku mencintaimu! Apa masih kurang jelas?” bisiknya kemudian.

Siwon tersenyum lebar kemudian membenamkan kepala Yoona dalam dada bidangnya. Mendekap erat tubuh Yoona. “Yah aku juga sangat mencintaimu, sayang,” balas Siwon mengecup kepala Yoona. Menghirup dalam wangi rambut Yoona yang disukainya.

Dan malam itu menjadi malam penuh bintang. Malam dengan sejuta cinta. Karna sang dewi malam pun nampak dengan sinar terangnya, memeberi cahaya di tengah langit gelap.

“Bahkan ketika segalanya berubah menjadi yang tidak kita inginkan, aku akan tetap mencintaimu. Menghabiskan sisa hidupku hingga waktu senja, sampai detik nafas terakhir.”

 

       ~FIN~

 

Ini rekor! Saya menyelesaikan dalam waktu 6 jam. Wow! Ini fic tercepat yang pernah saya bikin hohoho… (rekor buat saya sendiri loh) Tidak ada air mata, tidak ada kata sedih, tidak ada yang namanya nge-gantung! Hari ini mari kita ber-happy2 ria yeyy!!😀 *bakar laut #pletak! Huhuhu…. maaf saya sedang didera galau akut T.T makanya menciptakan fic ini. Biasanya itu orang kalo galau bikin.y yg Sad2 ato gak yah yg gantung2, lah ini saya malah bikin yg *wow!* haha.. emang saya rada aneh. Eh tp itu wow gak sih? Udah bisa dibilang nc 17 belum???0.o #author payah!

Kemaren ada yg nagih Child Detective yah? Hihii maaaaaaf banget belum bisa dilanjut, ide mentok jedok^^ Well, ini memang fic dengan genre ringan entah kenapa akhir2 ini lagi pengen bikin yg ringan2 aja dengan bahasa yg sederhana a.k.a gak se-puitis fic sebelum2 nya. Dan maklumilah yah fic ini mungkin gak menyimpan makna se-dalem fic sebelumnya juga. Namanya juga lagi galau jadi yah hah~ Molla…

Finally, komentar tetep ditunggu, kalo bisa yg panjaaaaaaaaaaaang yah yah biar saya semangat bikin HappyEnd mulu^^ #modus banget lu thor! *sirik aja-_-| Oke, saya terlalu banyak omong. Yg pasti setelah membaca fic ini WAJIB tinggalkan komentar! Gak ada negosiasi^^ hayo yg masih bandel dibawah umur tapi tetep baca hoho.. tetep tinggalin jejak loh ya^^ gak boleh ngerusuh😀

See you to the next my fanfic^^ #tebar kiss :******

 

Tinggalkan komentar

207 Komentar

  1. Daebak….So Sweetttttt bangetttt…senyum2 sendiri bacanya..apalgi banyak banget tuh kissing scenenya hahhahah…walaupun ada ncx dikit nggak pa2 deh…yg jelas keren,romantis pokonya bagus bangetttt deh..kasih sequel dong chingu hehhehe so sweet banget soalx.Berharap dikehidupan nyata mereka juga kayak gitu….

    Balas
  2. ana

     /  April 23, 2014

    daebak thor so sweett..

    Balas
  3. Rhiiyoonah

     /  April 25, 2014

    Keren,,,thor !!
    So sweetttt banget…..aku seneng bgt,yoonwon moment’a romantis tis tis tis banget…daebak buat author nd ff’a ^^

    Balas
  4. any

     /  Mei 6, 2014

    Kisah cinta yg menyenangkan. Sama2 memiliki cinta yg kuat untuk pasangannya. Walau terkadang cemburu mengusik hanya untuk mengekpresikan rasa cinta yg mereka miliki. Ihhhiiirrr

    Balas
  5. So sweet banget yoonwon❤ daebak banget ffnya:D

    Balas
  6. Aku udah pernah baca ini sebelumnya gak sih?! (?)
    Tapi gpp deh, comment ulang kan gak papa :p

    Balas
  7. it so sweet❤ yoonwon the best couple that i know in KPOP😀 hihi, aku suka bahasanya indah banget, trus diksinya juga pas, wah apalagi dibuatnya cuma 6 jam, well it's made it more specially❤ lav it

    Balas
  8. Fifa

     /  Juli 12, 2014

    Ahhh so sweet banget !!! Suka banget ffnya.. Ihh aku smpai ngak bisa tidur . Selalu ingat

    Balas
  9. im yoo ra

     /  Juli 17, 2014

    mungkhn aku udah ninggalin komemtar sebelumnya, tapi karna aku baca lagi jadi aku ninggalin komentar lagi.. hohohoho
    aku suka ff ini soalnya dalam ff ini hubungan YW aman-aman aja ngga ada orang ke-3

    Balas
  10. Evi

     /  Agustus 2, 2014

    Ceritanya romantis bnget

    Balas
  11. yoyoona

     /  Agustus 4, 2014

    wah romantis bamget ceritanya,,
    walau dalam situasi yg menggiurkan, tetep siwon oppa masih ingat batasan ,good,good.

    Balas
  12. WINDY

     /  Agustus 5, 2014

    HUAAHAHAHHAHA #Gulingguling di angkot.😀 Ini ff keren banget. lucu, romancenya dapet banget. NC nya bagus ga terlalu hot. dan fellnya dpt banget. keren buat authornya . but keren juga buat Akunya. plak plak plak jdus jduss #digebukin sekampung -_- bikin lg thor. ff lucu romance nc 17 kaya giniiiiii… Aaak author hebattt #teriakalaanakalay😄

    Balas
  13. ayu

     /  Agustus 14, 2014

    pengen ada sequel pas yw nikah dari ff ini . mubgkinkah?

    Balas
  14. Cha'chaicha

     /  September 26, 2014

    Uhh keren cerita’y, banyak yoonwon moment’y, pokok’y daebak deh..

    Balas
  15. choi han ki

     /  Oktober 11, 2014

    Daebakk… (Y) .. Siwon keren dia gk mau ngelakuin hal2 begitu sebelum resmi menikah padahal yoona yg mau heheheh

    Balas
  16. jessica sonelf

     /  November 3, 2014

    Kenapa yaa ga pernah bosen baca ff ini haha.. daebak thor😀
    sukaa banget ama yoonwon. . Romantis :*
    Ditunggu ff lainnya yaa..

    Balas
  17. wulandri

     /  November 10, 2014

    So sweet manis sekali….

    Balas
  18. Anggun YoonAddict SY

     /  November 29, 2014

    Sequel dong thor

    Balas
  19. utycoyumy

     /  Desember 6, 2014

    so sweet banget…
    daebak >.<

    Balas
  20. Good suka suka sama ni ff sederhana simple nge di dihati feel terasa banget bacax bisa ampe merinding pas moment dewasa, trs pas meraka saling goda and cemburu senyum sendiri bacax pokokx top bgt lah, lanjut ya bkin yoonwonx coz klo pairing laen ak gak suka just yoonwon is the best.

    Balas
  21. Sukaaaaa banget, kebersamaan yoonwon nya dpt bgt dan bacanya bikin adem hati hehe…

    Balas
  22. auriel

     /  Januari 24, 2015

    daebak, ceritanya keren, aku jarang nemu ff yang ceritanya kaya gini, keren bangett~ author semangat ya, bikin ff yg kece2 kaya gini lagi, jjang!!!😀

    Balas
  23. wiwin

     /  Januari 27, 2015

    Bagus,cinta karena terbiasa.oh

    Balas
  24. Ga bosen-bosen bacanya….so sweeet banget…. Bacanya enak krn ceritanya ringan tp ngena dihati. Klopun ada konflik jg Ga berat pokoknya suka deh!!!!

    Balas
  25. Han Eun Sub

     /  Maret 27, 2015

    Gemes deh sama siwon oppa ….. yoonwon cinta sejati

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: