[FF] I Believe in Love (Episode 5)

boating-under-night-sky-wallpaper_1024x768_15023Main Cast:

Choi Si Won

Im Yoon Ah

Kim Sang Bum

Kim So Eun

Kim Soo Hyun

Baek Su Ji

Genre: Romance, Friendship, Drama

Rating: G

A Story By Resty Meidalita Utami

Episode 1

Episode 2

Episode 3

Episode 4

♥♥♥

Snapshot - 158

Langit kian gelap, hanya terdengar suara gemuruh ombak dari hadapan mereka. Siwon dan Yoona benar-benar terbawa suasana. Mereka terdiam, tenggelam kedalam pikiran masing-masing.

Sampai langit benar-benar gelap, Yoona merasa sekarang sudah waktunya mereka untuk pulang dan kembali ke hotel. Ia menoleh kearah Siwon, awalnya ia ingin segera berkata untuk mengajaknya pulang, namun tiba-tiba saja mulutnya tak bisa ia gerakkan saat menatap wajah teduhnya.

 yoonwon

Matanya menatap lurus kedepan. Ekspresi wajahnya terlihat sangat menyedihkan, ini pertama kalinya Yoona melihat Siwon seperti ini. Kenapa dengannya? Apa ia sedang memikirkan sesuatu? Atau ada masalah? Beribu pertanyaan berputar-putar di pikiran Yoona.

“Siwon-ssi”, panggilnya pelan.

Entah tak mendengar atau masih tak sadar, Siwon masih saja bertahan dalam posisinya. Yoona merasa tak enak hati melihatnya dalam keadaan seperti ini, ia seakan peduli padanya, padahal Yoona sendiri sama sekali tak ahu apa yang sedang Siwon pikirkan. Tanpa dirinya sendiri sadari, Yoona terus saja memperhatikan Siwon. Menatap mata teduhnya, hidung mancungnya, bibirnya, dan tulang rahang pria itu.

Beberapa saat kemudian Siwon memutarkan kepalanya, membuat pandangan keduanya bertemu. Dan hal itu spontan saja membuat Yoona terlonjat kaget sambil membuang muka dari Siwon secepat mungkin. Ia menenggelamkan wajah yang mulai terasa panas itu, pasti sekarang wajahnya sudah memerah.

“Kau kenapa?”, tanya Siwon nampak heran.

“Tidak, tidak apa-apa”, ucap Yoona mengelak. Kemudian ia bangkit dari duduknya, “Siwon-ssi, lebih baik kita kembali ke hotel sekarang”, ia mencoba mengalihkan pembicaraan untuk menutupi rasa malunya.

“Tidak bisakah kita menghabiskan waktu disini lebih lama lagi?”.

“Ani, aku… aku ingin makan”.

Siwon tertawa, “Apa kau akan terlihat aneh jika sedang lapar, Yoona-ssi?”.

Pertanyaan itu cukup membuat ia mati kutu. Oh ayolah, kenapa dengannya?

“Yasudah, ayo kita pergi mencari rumah makan. Lagipula aku tak ingin melihatmu pingsan karna kelaparan”.

Yoona cemberut kesal. Tapi setidaknya ia beruntung karena tidak di introgasi lebih-lebih oleh Siwon.

Kali ini mereka sudah sampai disebuah rumah makan Seafood yang tempatnya tidak terlalu jauh dari tempat mereka melihat matahari tenggelam tadi. Suasana nya sangat tenang, hanya terdengar suara musik klasik dari restoran berkapasitas mewah itu, Yoona yakin hanya orang-orang berdompet tebal saja yang bisa makan kesini.

Yoona membulatkan matanya saat melihat harga-harga makanan yang berada di buku menu. Tak lama kemudian ia berbisik kearah Siwon, “Siwon-ssi, apa tak seharusnya kita pindah ke restoran yang lain saja?”, ketusnya sambil memicingkan mata. Karna pada kenyataannya Yoona memang agak sedikit tidak yakin Siwon bisa mentraktirnya di tempat seperti ini.

Siwon tersenyum sambil menopangkan kepalanya dengan tangan. “Aku mendapatkan bonus dari Presdir, kau tak usah khawatir”.

“Bonus? Dalam rangka apa ia memberikanmu bonus, setahuku pegawai lain tak mendapatkan itu”.

“Sudah kubilang aku adalah anak emas Presdir. Dia sangat mengistimewakanku karna aku adalah pegawai yang sangat teladan. Bahkan marga kita sama-sama Choi, ikatan diantara kita berdua benar-benar kuat”.

page

 Snapshot - 215

“You say what? Teladan? Jinjja?”, tanya Yoona sambil mendengus.

Siwon tertawa lebar, ia merasa ada kepuasan sendiri jika sudah menggoda atau mengajak Yoona bercanda.

Menatap Siwon yang tengah asyik tertawa, Yoona pun membisu. Ia baru menyadari jika senyum Siwon terlihat sangat manis. Ya, apalagi lesung pipitnya akan langsung terlihat jelas jika ia sedang tertawa seperti ini.

 cats

♥♥♥

Ting tong… ting tong… ting tong…

Pria berkaos oblong putih dengan celana pendek itu terlihat masih tergeletak di atas tempat tidurnya. Ia mengerang keras ketika mendengar suara bel rumahnya berbunyi terus. Menyebalkan. Ia bahkan berusaha untuk tetap bertahan sambil sesekali menggunakan bantal empuknya untuk menutupi telinga. Tapi apa boleh buat, tetap tidurpun ia tak akan merasa tenang―karna sungguh, suara itu benar-benar menganggu.

“YA! YA! AKU DENGAR”, teriak Soohyun sesaat ia menggulingkan diri untuk bangun dari tempat tidur. Dengan kaki di seret-seret, ia berjalan kearah pintu. Penglihatannya masih belum jelas, membuat matanya menyipit.

“Nugu?”, ucapnya setelah membuka pintu. Bahkan ia tidak melihat lebih dulu siapa tamunya lewat interkom. Seolah tak peduli siapa yang datang.

“Oppa!”, sahut seseorang dengan riang, begitu kentara dengan suara cemprengnya. Suji tersenyum begitu lebar di ambang pintu sana.

Oh Tidak, melakukan sedikit keteledoran saja malah jadi fatal begini, keluh Soohyun didalam hati. Menyesali sikapnya tadi yang langsung saja main buka pintu. Jika saja tahu dari awal yang ada diluar tadi adalah Suji, pasti ia akan mengurung diri di kamar dan pura-pura tak ada dirumah.

“Mau apa kau datang kesini? Tidak sekolah?”, tanya Soohyun dengan nada ketus.

Suji mengerucutkan bibirnya kesal kemudian berujar, “Sekolahku diliburkan. Aku datang membawakan sarapan untuk calon suamiku, apa salah?”, rutuknya sambil nyelonong masuk sampai-sampai lengan mereka bertubrukkan. Ia lanjut berjalan kearah dapur, membereskan makanan yang ia bawa ke meja makan.

“Ckck.. calon suami dia bilang?”, cibir Soohyun tanpa terdengar oleh Suji tentunya.

“Oppa, palli!”, teriak Suji memanggilnya. Dengan langkah malas, Soohyun berjalan menghampirinya didapur.

“Suji-ah, sebaiknya kau segera pulang. Karna hari ini aku ada kelas pagi, sebentar lagi aku akan segera berangkat”.

Dengan santai dan seolah tak peduli, Suji menuangkan susu kedalam gelas lalu menghadap pada Soohyun untuk bertatap muka langsung dengan pria pujaannya itu. “Jangan berbohong, hari ini adalah hari Kamis. Kau ada kelas hanya empat hari dalam seminggu. Hari Senin, Selasa, Rabu, dan Jum’at. Jangan salah, aku sudah cukup hafal semua tentangmu, Soohyun Oppa”, walaupun nada bicara Suji sangat lembut namun tetap saja terdengar seperti bisikan hantu yang benar-benar menyeramkan sampai-sampai membuat bulu kuduk nya meremang.

“Ya memang tidak ada, tapi hari ini aku ada kelas tambahan”, imbuh Soohyun beralasan lagi.

“OPPA!”, Suji tiba-tiba mengerang kesal. “Kenapa kau selalu beralasan, tak tahukah aku sudah sangat bersusah payah membuatkan makanan untukmu. Hargai sedikit saja, bisakah?”.

Oke, daripada Soohyun mendapat tinjuan keras dari Kakak gadis ini sebaiknya ia jangan banyak berulah dulu untuk sekarang.

Ia menarik kursi lalu duduk disana, “Araso, aku makan. Tapi setelah ini aku akan mengantarkanmu pulang”.

Suji mendesah, “Ajak aku jalan-jalan dulu”.

“Mwoga? Sudah kubilang aku harus pergi”.

“Oppaaaaaa… waktu-waktu seperti ini sangat sulit didapat, kapan lagi aku dapat libur. Hanya mengajakku jalan-jalan sebentar saja, setelah itu kau bebas akan pergi kemanapun”.

Soohyun menghela nafas dengan berlebihan kemudian melahap semua makanan yang sudah tertata diatas meja makan tanpa nafsu sedikitpun.

“Jawabannya pasti iya kan?”, tanya Suji sambil melingkarkan tangannya di leher Soohyun dari belakang.

“Aaaggghhh… Suji, henti… uhuk uhuk..”, Soohyun tersedak, buru-buru Suji menyodorinya susu.

“Makanya kalau makan pelan-pelan”, ucap Suji tanpa dosa. Padahal sebenarnya, Soohyun sampai terbatuk-batuk seperti itu gara-gara tingkahnya.

Tepat pada saat itu bel pintu berbunyi.

“Oh sialan, siapa lagi yang datang”, gerutu Soohyun berdecak frustasi.

“Oppa diam saja disini, biar aku yang membukakan pintu”.

Soohyun tak menghiraukan dan tetap melahap makanan sampai mulutnya mengembung, nampak masih kesal.

“Omo… oh sialan.. sialan…”, jerit Suji sambil berlari keruang tengah. “Kya.. dimana aku harus bersembunyi… ??”.

Pandangan Soohyun tertuju padanya dengan alis terangkat. “Kau kenapa?”.

Suji nampak sangat panik, ia berlarian kesana-kemari tanpa tujuan. “Oppa, jika ia menanyakanku katakan saja aku tidak ada disini, ya. Oke?”, setelah membentuk O.K dengan tangannya ia masuk begitu saja kedalam kamar Soohyun dan menutupnya rapat-rapat.

Soohyun masih diam ditempat dengan ekspresi kebingungan. Sebenarnya siapa yang ada didepan pintu?

“HEY, KAU KENAPA?”, teriak Soohyun walau makanan masih bertumpuk didalam mulutnya.

Suji mengatakan sesuatu dari dalam sana, hanya saja terdengar sangat tidak jelas. Masa bodohlah. Dengan penasaran Soohyun pun menuju pintu.

“Eo, Kimbum-ah?”.

Mereka berjalan kearah ruang tengah.

“Apa adikku ada disini?”.

Dari dalam kamar, Suji menghimpit tubuhnya dibelakang pintu sambil memejamkan mata tegang, apalagi saat mendengar suara Kakaknya.

“Mwo?”, Soohyun tak langsung menjawab. Ia baru menyadari sesuatu sekarang. “EUH? ADIKMU? KIM SUJI TIDAK ADA DISINI”.

Suji mengelus dadanya merasa lega. Untung saja Soohyun mau diajak kompromi.

Namun diluar dugaan, ternyata Soohyun malah menusuk Suji dari belakang [?], karna setelah itu ia berbisik pada Kimbum. “Dia bersembunyi dikamarku”.

Kimbum menghela nafas, merasa kesal akan sikap Adik satu-satunya ini. dengan pelan Kimbum berjalan menuju pintu kamar Soohyun, dan setelah itu membuka pintu dengan satu hentakan.

“Apa yang kau lakukan disini?”, hujat Kimbum langsung saja memojoki Suji.

Dari situ langsung terdengar suara jeritan. Soohyun tertawa terbahak-bahak diluar, walau dengan suara yang ditahan-tahan. Ia sepertinya sangat puas.

“Oppa?”, Suji terlihat ketakutan untuk berhadapan dengan Kakaknya sekarang.

“Semua orang mencarimu daritadi. Oppa, Eomma, Appa, mereka sibuk menghubungimu, tapi kau malah me-nonaktifkan ponselmu. Kenapa kau bolos sekolah? Ingin belajar menjadi anak nakal hah?”.

Matilah, Suji benar-benar sudah terpojoki sekarang.

“Bolos? Tadi dia mengatakan jika hari ini dia libur sekolah”, tambah Soohyun semakin menyudutkannya.

“Libur katamu? Bahkan kau sudah berani berbohong sekarang”, tanya Kimbum memberikan tatapan yang mematikan pada Adiknya yang tengah ketakutan.

“Mianhae Oppa, aku tak bermaksud…”.

“Sudahlah, ayo cepat pulang”, Kimbum menyeret Suji untuk meninggalkan kediaman Soohyun secara paksa.

Awalnya Soohyun ingin membiarkan, tapi setelah mereka berdua sudah benar-benar pergi barulah ia merasa bersalah. Suji niat sekali bolos hanya untuk datang ke rumahnya pagi-pagi sekali dan membawakannya sarapan. Lalu untuk siapa lagi semua ini ia lakukan kalau bukan untuk Soohyun. Apa aku terlalu berpengaruh untuknya? Batin Soohyun bertanya-tanya pada dirinya sendiri.

Soohyun tahu jelas jika Suji memang menyukai dan mencintainya, jelas kalimat itu sudah beberapa kali ia utarakan kepada Soohyun. Hanya saja apakah bagi gadis berumur 17 tahun sudah benar-benar bisa mengartikan apa arti kata cinta itu sendiri? Soohyun rasa, Suji hanya terlalu mengagumi dan berobsesi pada nya saja.

♥♥♥

Siang itu, sebuah kafe yang masih berada di kawasan Nami terlihat begitu ramai. Bukan oleh para pengunjung yang datang hanya ingin menikmati segelas kopi atau sandwich , namun oleh para staff SPAO yang sengaja menghabiskan makan siang disini sebelum kepulangan mereka ke Seoul. Mereka semua saling mengobrol dan berseru dengan nyaman satu sama lain.

Sementara Yoona tengah sibuk merogoh-rogoh isi dalam tasnya didalam toilet, mencoba memastikan bahwa semua barang-barangnya tidak ada yang tertinggal satu pun. Karna kadang-kadang ia memang pelupa.

Setelah yakin bahwa semua nya sudah berada didalam tasnya, Yoona pun bergegas keluar untuk segera mengambil jatah makan siangnya.

Ia memutarkan pandangannya, mencoba menemukan orang yang beberapa hari ini selalu bersamanya. Ya, hanya dia.

Senyum Yoona merekah begitu saja saat pandangannya berhasil menangkap keberadaan orang yang daritadi ia maksud―Choi Siwon, ia tengah berada ditempat pembagian makanan. Yoona menghampiri pria itu.

Kini ia sudah berdiri disampingnya, hanya saja Siwon seperti tidak menyadari. Daritadi Siwon berada disana―ternyata belum mengambil satupun makanan. Yoona jadi heran, kenapa ia harus kembali melihat ekspresi ini di wajah Siwon? Sebenarnya apa yang terjadi padanya?

 bukan

“Siwon-ssi”, panggil Yoona.

“Eo?”. Siwon langsung mengangkat kepalanya sambil membulatkan mata, nampak sangat terkejut.

“Kau kenapa?”.

“Kenapa apanya?”.

“Wajahmu?”.

“Wae? Aku terlihat tampan?”, tanyanya sambil menghadap kearah Yoona.

Yoona mengerutkan alis sambil meluruskan bibirnya―mencoba untuk menahan senyum namun sayangnya ia tidak berhasil, “Ouh.. berhenti bergurau”.

Siwon tertawa. “Darimana saja? cepat ambil bagianmu”, ucapnya sambil ia sendiripun mengambil makanan untuk dirinya sendiri. “Cepatlah, aku tunggu disana”, tunjuknya dengan dagu, mengarahkan pada bangku yang masih kosong.

Yoona hanya mengangguk pelan, sebenarnya ia masih curiga, Siwon benar-benar pintar mengalihkan pembicaraan dan merubah raut wajahnya.

Setelah mengambil makanan, Yoona berjalan menuju tempat yang Siwon tujukan tadi. Tempat makanannya memang masih ada dan bahkan utuh, seperti belum Siwon sentuh. Hanya saja kenapa tiba-tiba orangnya menghilang?

“Ne, Samchon. Aku baik-baik saja”, ucap Siwon kearah ponsel yang sedang menghubungkan panggilan dengan sang Paman.

“Um, aku tahu kau sudah cukup dewasa untuk menjaga dirimu sendiri. kalian masih dimana?”, balas Choi Kihan dari jalur lain.

“Baru akan berangkat untuk pulang”.

Kihan menghela nafas, ia benar-benar tak dapat menyembunyikan rasa khawatirnya kepada keponakannya ini. bagaimanapun Siwon sudah ia anggap seperti anaknya sendiri. “Setelah sampai di Seoul, lakukan lah aktifitasmu seperti biasa. Mereka tak akan tahu siapa dirimu”.

Siwon tertawa, tertawa miris sebenarnya. “Aku sudah biasa seperti ini Samchon, dan selama ini bukankah aku juga melakukannya dengan sangat baik, bukan? Mereka bahkan sama sekali tak curiga padaku”.

“Yah, memang Samchon yang terlalu berlebihan mengkhawatirkanmu. Kau memang selalu dapat diandalkan. Choi Siwonnie, mianhae”.

“Aniya, jeongmal gomawo―Samchon-a”.

♥♥♥

Yoona berdiri didepan pintu bus, setelah makan siang tadi ia belum melihat Siwon lagi. merasa heran akan pikirannya, kenapa harus ia sebegini mengkhawatirkan Siwon. Namun sekarang bukan waktunya untuk berdebat dengan pikirannya sendiri.

Yoona semakin gusar saja ketika Kangta mengumumkan bahwa sebentar lagi bus akan berangkat, sebaiknya ia menunggu Siwon didalam.

Kali ini ia memutuskan untuk duduk di barisan ke empat dari belakang. Lagipula ia malas jika harus berdekatan dengan Stella, terlebih dengan asistennya.

Tepat saat itu, ponselnya bergetar. Terdapat satu pesan yang masuk.

From: Lee So Eun
Yoong, kau pulang kan hari ini?
(Reply)
To: Lee So Eun
Ne, sekarang baru akan berangkat

Setelah membalasnya, satu pesan kembali masuk.

From: Lee So Eun
Ya sudah, kalau begitu aku akan menunggumu di apartementmu. Bersama Kimbum Oppa tidak apa-apa kan? Hehe
(Reply)
To: Lee So Eun
Terserah saja, asal jangan melakukan hal yang macam-macam di tempatku

Yoona tersenyum geli, pada saat itu juga seseorang tiba-tiba duduk disampingnya.

“Dari mana saja?”, tanya Yoona, mencoba bersikap setenang mungkin.

“Aku menemui seseorang dulu tadi”, jawab Siwon sambil melepas jaketnya. Merasa Yoona terus memperhatikannya, Siwon pun balik menoleh sambil membenarkan posisi duduknya. “Kau tidak menangiskan?”.

“Siapa yang menangis?”, tanya Yoona menaikkan alisnya bingung.

“Aku takut kau kesal lagi karna aku membiarkanmu sendiri, tak marah kan?”.

Sebenarnya Yoona ingin marah, tapi entah kenapa ia malah tersenyum sambil menunduk malu. Karena kejadian saat Yoona tiba-tiba menangis beberapa hari yang lalu, Siwon jadi selalu seperti ini.

“Bisa tidak jangan bahas soal itu lagi?”, karna tak bisa menyembunyikan rasa malunya, Yoona pun memukul lengan Siwon.

“Sungguh, aku tak berniat mengacuhkanmu”, ucap Siwon dengan serius. Sok-sok-an serius lebih tepatnya.

“Aoa… Siwon-ssi”, Yoona mulai merengek. Siwon pun terkikik tak dapat menahan tawa.

“EOMMAAAA… APPAAAA… OPPAAAA.. TOLONG BUKA PINTUNYA, SAMPAI KAPAN AKU HARUS DIKURUNG DIDALAM KAMAR SEPERTI INI? MEMANGNYA AKU ANJING PELIHARAAN APA? AYOLAH, JANGAN SETEGA INI..”, teriakan Suji terdengar sangat keras, tangannya tak berhenti mengedor-ngedor pintu―merengek kepada orangtua dan kakaknya agar segera membebaskannya dari kamar.

Kamar Suji berada dilantai dua, makanya sampai bisa terdengar oleh orang-orang yang berada dibawah―termasuk Soeun yang kini tengah berada diruang tamu di temani sang kekasih.

“Oppa, kenapa kalian tak membebaskannya saja?”, ringis Soeun menyipitkan matanya―merasa tak tega.

Sementara Kimbum terlihat sibuk sendiri dengan laptopnya seolah tak peduli. “Sekali-kali ia harus dihukum biar jengah”.

“Hhh lagipula Suji ini ada-ada saja”, Soeun yang sudah tahu bagaimana asal-muasal kenapa Suji bisa sampai dikurung didalam kamarnya seperti itu dari Kimbum―benar-benar tak habis pikir.

“Sudah waktunya kita berangkat. Kajja”, ucap Kimbum sambil bangkit dari duduk dan mengaitkan ransel ke pundaknya.

Soeun menganggukkan kepala. Setelah berpamitan dengan orangtua Kimbum, keduanya pun bergegas pergi menuju apartement Yoona.

♥♥♥

Tepat pukul 21.45pm KTS, halaman kantor SPAO terlihat ramai dengan beberapa orang yang baru saja tiba dari Nami Island. Ada beberapa orang yang langsung menuju mobil mereka masing-masing yang berada di parkiran khusus pegawai untuk segera kembali ke rumah mereka. Namun ada juga beberapa orang yang berdiam dahulu didalam kantor untuk menunggu jemputan.

“Taruh saja kopermu disitu, biar aku yang bawakan”, titah Siwon pada Yoona kemudian ia lanjut mengangkat barang-barangnya ke bagasi mobil.

Yoona terdiam, jika mengenal Siwon lebih dekat lagi ternyata ia sangat baik dan perhatian. Anggapannya dulu memang keliru. Yoona masih berdiri di tempat, termenung akan pikirannya sendiri. Sampai akhirnya Siwon memanggil-manggil namanya.

“Ah, ya!”, buru-buru Yoona berlari kearah mobil sport berwarna hitam itu.

 Ditengah-tengah perjalanan, tiba-tiba terdengar sebuah suara aneh ditengah-tengah keheningan mereka. Yoona dan Siwon saling pandang saat itu juga, namun beberapa detik kemudian mereka kembali menatap kedepan, apalagi Siwon yang harus buru-buru memperhatikan arah jalanan.

Tak selang beberapa lama, suara aneh itu kembali terdengar. Yoona mengangkat alisnya heran, merasa sedikit curiga dengan teman disampingnya ini.

“Suara apa itu tadi?”.

Swon menatap Yoona sekilas sambil mengulum bibirnya. “Perutku”.

Ah, ya.. pasti Siwon tengah kelaparan sekarang. Yoona baru ingat jika saat makan siang tadi, Siwon tiba-tiba pergi meninggalkan makanannya begitu saja. Pasti selama perjalananpun Siwon belum makan apa-apa.

“Apa perlu kita berhenti dulu di rumah makan? Nanti kau bisa masuk angin, Siwon-ssi”.

“Aniya, aku tidak ingin makan diluar”, jawabnya lalu menoleh ke arah Yoona. “Kau bisa memasak tidak?”.

Sekilas Yoona mengernyitkan dahinya. “Ya, sedikit. Memangnya kenapa?”.

“Kalau begitu setibanya dirumah kau buatkan aku makanan yang sangat enak ya”.

Yoona terdiam, tampak berpikir.

“Wae? Anggaplah sebagai tanda terimakasih mu padaku karna aku tak pernah mengacuhkanmu”.

“Ouh.. kau mulai lagi!”.

♥♥♥

Untuk menyambut kedatangan Yoona, Soeun sengaja menyiapkan beberapa makanan berat untuknya. Setelah menghabiskan waktu berjam-jam dalam perjalanan bukankah itu akan sangat melelahkan?

Walaupun sebenarnya tidak terlalu ahli dalam memasak, namun setidaknya Soeun masih bisa membuat makanan sederhana. Memasak nasi goreng, memanggang daging atau menggoreng telur dadar masih bisa ia lakukan.

Disaat Soeun tengah sibuk memasak didapur, Kimbum yang juga berada di apartement Yoona―terlihat duduk dengan santai di ruang tengah. Walaupun televisi menyala, tapi sepetinya perhatiannya tak tertuju kesana. Ia malah asyik texting bersama seseorang, tak jarang senyum nya merekah begitu saja saat membaca pesan dari teman mengobrolnya dilayar ponselnya.

“Oppa, bisa kau siapkan minuman?”, teriak Soeun dari arah dapur. Namun tak juga terdengar sahutan dari kekasihnya itu. Sekali lagi Soeun berteriak, dan sekarang sambil berjalan menghampirinya. Ia melipat tangan didada sambil menghela nafas berat, masih menggunakan celemeknya. Merasa kesal, disaat ia sedang kerepotan sendiri, Kimbum malah asyik-asyikkan dengan ponselnya. Untuk kesekian kalinya ia berseru kembali dan kali ini dengan nada yang lebih-lebih keras dibanding sebelumnya. “KIM SANG BUM!”.

Kimbum terhenyak kaget, sontak ia mendongak kearah Soeun dengan alis terangkat. “Wae? Hhh.. mengagetkan saja”, desisnya.

“Oh jinjja!”, Soeun mengibaskan tangan sambil membuka mulutnya lebar menarik nafas. “Apa ini? aku sedang kerepotan di dapur, kau malah santai-santai seperti ini. ku panggil beberapa kali pun tak menyahuti. Sebenarnya apa sedang kau lakukan?”.

Kimbum terdiam, mencoba mengingat-ingat apa memang benar Soeun memanggil nya tadi.

“Ah sudahlah”, Soeun memutarkan badan dan kembali ke dapur dengan perasaan dongkol.

Merasa kekasihnya itu mulai marah, Kimbum pun segera bangkit lalu menghampirinya. “Mianhae”, ucapnya merasa bersalah. Ia berhambur memeluk gadis itu dari belakang, “Ada yang bisa saya bantu tidak, Nona cantik?”, tutur Kimbum dengan menggoda membisiki gadis itu tepat di telinganya.

Soeun menggeliat kegelian, “Aish, jangan lakukan”.

Pada saat itu juga terdengar sebuah suara pintu, juga teriakan yang tentu terdengar sangat akrab. “Aku pulang”, Yoona yang saat itu baru saja masuk kedalam apartementnya langsung membelalakkan mata melihat adegan ‘lovey dovey’ ini.

Spontan keduanya saling berjauhan, terlihat sangat risih.

“Eo, kau sudah pulang?”, tanya Soeun buru-buru mengalihkan perhatian Yoona.

Yoona hanya menganggukkan kepala. Kemudian menunduk untuk menyapa Kimbum, begitupun sebaliknya.

“Aku sudah menyiapkan makan malam untukmu, sebaiknya kau segera mandi sekarang”, Soeun berjalan menghampiri Yoona dan mendorong tubuh nya menuju kamar.

“Tunggu”, ucap Yoona menghentikan langkahnya. “Itu… ada seseorang juga yang ingin bergabung dengan kita, bolehkah?”.

“Nugu?”.

“Jadi, kalian berdua adalah rekan kerja?”, tanya Kimbum sambil menatap dua orang dihadapannya secara bergantian.

Yoona mengganggukkan kepala, ia pikir Kimbum sudah tahu soal ini sebelumnya, tapi ternyata ia baru tahu. Sementara pria disebelahnya terlihat tak menghiraukan pertanyaan Kimbum, ia terlalu sibuk untuk mengisi perutnya yang sudah keroncongan daritadi.

“Ah lucu sekali rasanya. Bekerja di tempat yang sama bukan berarti kalian juga sekongkol untuk tinggal di apartement yang saling berdekatan, kan?”, desis Kimbum lagi. senyumannya merekah begitu saja.

“Ani”, koor Yoona dan Siwon bersamaan. Kemudian mereka saling tukar pandang, sedetik kemudian saling buang muka dan sok-sok-an sibuk dengan makanan masing-masing.

“Eung.. yang sangat kebetulan lagi, Yoona adalah sahabat dekatku dan kalian berdua pun (Siwon-Kimbum)..”, ucap Soeun tak melanjutkan kata-katanya. Ia yakin mereka bertiga akan langsung mengerti apa maksud pembicaraannya.

Siwon menghentikan aktifitasnya dan termanga untuk beberapa detik, kemudian ia menghela nafas lalu berujar, “Benar sekali”, ucapnya sambil memasang wajah sok-sok-an serius. Lalu menoleh pada gadis disampingnya, “Ku pikir kita berdua memang di takdirkan bersama. Bagaimana ini, kalau kau benar jodohku kau mau tidak?”.

Spontan mendengar pertanyaan bodoh itu langsung membuat Kimbum dan Soeun tertawa lebar. Sementara Yoona hanya menekuk wajahnya kesal. Ia merasa tak suka dengan candaannya, tadi dia benar-benar tidak serius mengatakan itu.

“Oya, ada cerita yang sangat lucu saat kami berada di Nami kemarin”, seru Siwon sedikit mengagetkan yang lain. Yoona mengerutkan alisnya, mencoba berpikir untuk mengingat-ngingat cerita lucu apa yang Siwon maksud. Kimbum dan Soeun nampak sangat penasaran. “Ada seorang gadis manja yang menangis hebat minta ingin pulang, dia salah satu staff di kantor kami”.

Saat itu juga mata Yoona melotot dan mulutnya ia buka lebar ketika sadar bahwa gadis manja yang Siwon maksud adalah dirinya. Dengan panik segera ia membekap mulut Siwon cepat sebelum pria itu membocorkan lebih banyak lagi.

Siwon meronta, jujur saja ia agak sedikit sesak saat Yoona membekap mulutnya seperti itu. Ah, bukan hanya mulut, namun hidungnya pun ikut tertutupi oleh kedua tangan gadis itu.

“Wae..wae..??”, tanya Soeun mulai curiga dengan sikap Yoona yang langsung terlihat kaget. Kimbum pun merasakan hal yang sama. Sebelum mendengarkan cerita Siwon sampai selesaipun, mereka berdua sudah tertawa lebih dulu.

“Siwon-ssi.. Siwon-ssi.. andwae…”, ringik Yoona masih membekap mulut Siwon sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Jika saja Siwon berani membuka mulut lagi, mungkin Yoona akan langsung menangis saat itu juga.

Siwon menggenggam kedua pergelangan tangan Yoona dan melepaskannya dengan cepat. Tentu itu akan sangat mudah baginya, lagipula tenaganya jauh lebih besar. “Baiklah aku tidak akan cerita lagi”, desisnya sambil mencoba mengambil nafas.

Yoona cemberut.

“Aish mana boleh begitu.. Palli, Siwon Oppa. ceritakan saja”, desak Soeun karena sudah kelewat penasaran. Kimbum hanya tertawa saja.

Karena didesak beberapa kali dan dengan berbagai cara oleh Soeun, akhirnya Siwon pun membeberkan semuanya. Dimulai sejak Yoona yang tiba-tiba menangis dan merengek ingin pulang karena merasa diacuhkan oleh semua orang. Tentulah cerita Siwon mengundang gelak tawa, bahkan yang di bicarakanpun ikut-ikutan tertawa, baru menyadari bahwa waktu itu ia benar-benar melakukan hal yang sangat konyol dan kekanak-kanakkan sekali.

“Makanya dari itu, mulai sekarang jangan ada yang mengacuhkannya. Atau dia akan menangis dengan sangat keras, itu sangat mengkhawatirkan, bukan?”, ucap Siwon berniat mengejeknya. Alhasil ia pun mendapat tepakkan kecil dari Yoona.

Malam itu mereka mengobrol banyak, sampai tak menyadari bahwa waktu telah bergulir dengan cepat.

♥♥♥

Yoona melangkahkan kaki sambil menghadap kedepan dengan tatapan kosong. Entah kenapa pikirannya jadi kalut seperti itu ketika keluar dari ruang meeting bersama para staff bagian Desain lainnya. Waktu di ponselnya telah menunjukkan pukul 05.04pm KTS. Ia mendesah dengan berlebihan, mengingat tugasnya yang begitu menumpuk hari ini.

Ting..

Suara dentingan itu terdengar ketika pintu lift yang tengah Yoona tunggu-tunggu akhirnya terbuka. Namun ia tak juga masuk kedalamnya.

Seseorang yang berada di dalam lift menjadi terheran-heran, ia maju selangkah dan mencondongkan tubuh kearahnya lalu berkata, “Nona, kau tidak ingin masuk?”.

Hal itu refleks saja membuat Yoona tersadar dari lamunannya. “Eo..”, ia merapikan beberapa tumpukkan kain yang berada dalam dekapannya terlebih dahulu sebelum ia melangkah. Kemudian mendongakkan kepala menatap pria yang ada di dalam lift tadi.

“Yoona-ssi, palli”, desak pria itu mulai kesal. Yoona benar-benar lelet sekali.

Yoona tak menjawab, masih dengan ekspresi yang terlihat putus asa. Perlahan ia melangkah masuk, dan itu cukup menguji kesabaran Siwon―si pria yang berada didalam lift.

Selama didalam lift, mereka tak saling tegur sapa sama sekali. Yoona sibuk memikirkan rancangan baju seperti apa yang akan ia buat untuk hari ini, sementara pria disampingnya justru tengah memandangi Yoona sambil mengangkat sebelah alisnya bingung, sebelum akhirnya ia mengalihkan perhatian pada pintu lift―berlagak tidak peduli dan enggan untuk tahu.

Ketika pintu lift terbuka di lantai 8, Yoona melangkahkan kakinya keluar dari lift lebih dulu. Sementara Siwon masih berada didalam, karna memang ini bukan lantai tujuannya. Well, bukan lantai tujuannya. Namun ia langsung berubah pikiran saat pintu lift hampir saja tertutup. Tangannya mencegah pintu agar terbuka lagi, kemudian keluar di lantai yang sama dengan langkah dipercepat.

“Tak pulang?”, tanya Siwon sehabis melihat jam di pergelangan tangannya. Sekarang sudah pukul 08.00pm KTS, disaat orang-orang berhamburan meninggalkan kantor, Yoona masih saja betah diruangan bagian penjahitan pakaian.

“Aku baru akan pulang setelah menyelesaikan ini”, jawab Yoona tanpa mengalihkan pandangan dari pekerjaannya.

“Besok juga bisa”.

“Mulai sekarang aku akan bekerja lebih keras lagi agar diakui”.

Siwon mendesah sambil menarik sebelah bibirnya, “Kalau begitu teruskan saja”, ia duduk di atas sofa putih sambil menyilangkan kaki dan berujar lagi, “Aku akan menunggu”.

Tangan yang tadinya aktif membuat sketsa pakaian di atas kain menjadi terhenti tatkala mendengar penuturan Siwon barusan. Yoona meluruskan badannya sambil menatap pada Siwon, “Tak usah, kau pulang saja”.

“Aku tak ingin pulang sendiri”, alasan yang bodoh sebenarnya.

Yoona menaikkan alisnya sambil menghela nafas, “Kau benar-benar keras kepala”.

Siwon tersenyum lebar, saat itu juga ia langsung berebah di atas sofa.

Berjam-jam sudah Siwon menemani Yoona. Untuk kali ini Yoona patut memberikan nilai plus atas kesabaran Siwon yang begitu setia menunggunya. Bukan menunggu saja, Siwon pun ikut membantu. Mengguntingkan bahan misalnya, dan yang paling penting membuat Yoona merasa aman karena ia tak harus takut berada di kantor sendirian.

Yoona mengalihkan pandangan saat terdengar sebuah suara getaran di susul dengan nada dering dari atas meja. Mendengar dari suara nada deringnya, Yoona menyimpulkan bahwa asal suara itu bukan dari ponselnya, jadi tak ia hiraukan.

Hanya saja yang membuatnya aneh kenapa suara itu terus saja berdering, kenapa sang pemilik ponsel tidak langsung mengangkat nya? Ya, itu pasti milik Siwon. Siapa lagi!

Dengan parno, Yoona mulai melangkahkan kaki untuk kembali keruangan penjahitan pakaian―meninggalkan gudang. Padahal awalnya ia akan mengambil beberapa kain lagi.

Sesampainya disana, Yoona menarik nafas panjang  ketika mendapati Siwon sedang tertidur di atas sofa sekarang. Tinggi badannya yang jauh lebih panjang dibandingkan lebar sofa membuatnya harus menekuk tubuhnya sambil melipat tangan didada karna suhu udara diruangan terasa sangat dingin.

Yoona berjalan semakin mendekat. Memperhatikan pria yang tengah tertidur itu―dengan pakaian yang tidak terlalu tebal. Perlahan Yoona berjongkok. Melihat wajah Siwon dari jarak yang sangat dekat seperti ini membuatnya merasa ada yang aneh pada dirinya. Ia merasa detakan jantungnya berdetak tidak normal. Ouh.. ada apa ini. Hampir saja tangannya mengelus kepala pria berhidung mancung itu, hanya saja segera di cegah oleh akal sehatnya.

Beberapa kali ia mencoba untuk mengontrol nafasnya yang mulai memburu. Dengan susah payah ia kembali menatap kearah Siwon, pria yang kini tengah tertidur dengan mimik muka yang nampak seperti ketakutan. Kepalanya tergerak dan di pelipisnya mulai timbul keringat.

Yoona membulatkan mata dan menatapnya lekat, mungkinkah ia tengah mimpi buruk?

“Siwon-ssi.. Siwon-ssi”.

Mendengar suara lembut itu, Siwon pun terjaga. Hanya saja ia seperti masih sulit untuk membuka mata, alhasil ia pun hanya dapat mengerjap beberapa kali.

Sama-samar ia menyadari bahwa ada seorang wanita yang berada di hadapannya. Siwon mendapati wajah Yoona yang melihat kearahnya dengan cemas. Mata Siwon yang setengah baru terbuka itu terlihat memerah, mungkin karna ia baru saja terlelap kurang dari satu jam.

“Sudah selesai?”, suara Siwon terdengar bindeng, ia memijit kecil pelipisnya dan mengerjapkan kedua matanya sekali lagi.

“Kau pulanglah duluan”, ucap Yoona jadi merasa tak enak. Wajah lelah begitu tergambar jelas di wajah Siwon.

Siwon mengangkat tangannya untuk melihat jam, sudah pukul 02.05 pagi? Dengan cepat ia bangkit dari tidurnya, lalu tanpa berkata-kata ia langsung mengambil mantel nya dan berlalu kemudian. Bahkan sebelum sempat Yoona mengatakan hati-hati padanya.

Ada rasa khawatir, heran, dan kecewa saat Yoona menatap punggung Siwon yang langsung hilang begitu saja ketika pria itu hendak berbelok.

“Selesai juga akhirnya”, suara Yoona terdengar parau, ia menatap pakaian buatannya yang sudah selesai itu terpasang dengan cantik di Mannequin dengan mata berkaca-kaca. Memang sedikit berlebihan, tapi memang inilah yang Yoona rasakan. Ia puas karena akhirnya bisa menyelesaikan tugasnya dengan sangat memuaskan. Tinggal menunggu tanggapan dari para atasannya, semoga mereka juga memuji hasil karya nya ini.

“Yepputaa…”.

Yoona terlonjak seketika saat mendengar suara seseorang dan derap langkah kaki yang semakin mendekat. Ia membalikkan kepala mencari arah suara.

“Ini buatanmu? Lumayan juga”, kini Siwon sudah berdiri disebelah Yoona, memperhatikan Manneguin itu. Ah bukan, tapi pakaiannya. Sementara Yoona masih terlalu kaget mengingat orang yang ada disebelahnya ini baru saja pergi setengah jam yang lalu.

“Kau tak pulang?”.

Siwon balik memandangnya, “Siapa bilang aku pulang? Aku kan sudah mengatakan kalau aku akan pulang bersamamu”.

“Lalu.. tadi kau darimana?”.

Siwon mengangkat dua plastik putih yang berada di kedua tangannya. “Aku membeli mie instan dan kopi hangat, daritadi kau pasti belum makan bukan?”.

Yoona masih berdiri terpaku, bahkan setelah Siwon duduk sambil menata makanan yang ia bawa tadi diatas meja. “Wae? Maaf karna aku hanya bisa membelikanmu ini. Kau tahu, toko-toko makanan sudah tutup. Daripada perutmu kosong lebih baik kau isi dengan makanan yang ada”.

Tidak, Yoona berdiam diri seperti itu bukannya tidak senang dengan makanan yang Siwon bawa. Ia hanya terlalu… terharu. Kenapa pria ini benar-benar baik? Bahkan sampai rela menyita waktu istirahatnya hanya untuk menemani Yoona sampai membelikannya makanan dalam malam yang sangat dingin seperti ini.

“Tidak mau? Ini sangat lezat”, Siwon mulai menyeruput mie dari sebuah cup berukuran kecil.

“Kau kenapa? Membuat aku tak enak saja”, ucap Yoona akhirnya membuka suara.

Siwon membantu membukakan sumpit untuknya lalu menyodori mie dalam cup itu kearah Yoona. “Habiskanlah”.

Yoona terus memandangnya. Oh, Tuhan. Ia hampir gila karna pria yang ada dihadapannya ini.

Setelah menyesap kopi hitamnya, Siwon berdiri dan berjalan menuju Mannequin tadi. “Ini sungguh pakaian hasil rancanganmu?”, tanya Siwon seraya memegang dagunya.

“Kau pikir siapa lagi?”, jawab Yoona singkat dan buru-buru memasukkan mie kedalam mulutnya lagi. Karna pada kenyataannya ia memang tengah kelaparan setengah mati.

Siwon membalikkan badannya dan menatap pada Yoona, “Aku ingin melihatmu memakai ini”.

Mendengar perkataan Siwon barusan membuat Yoona tersedak. Buru-buru ia meminum kopi nya lalu mendongak, “Mwoga?”.

Dengan ragu Yoona keluar dari ruang ganti. Jantungnya berdebar, ia sangat malu. Bagaimana tidak, ia harus memakai pakaian seminim ini didepan Siwon. Yah memang salahnya sendiri membuat gaun dengan panjangnya tak lebih diatas paha. Dengan susah payah, ia pun menunjukkan diri lalu berdiri tepat didepan Siwon.

Snapshot - 20

Saat itu juga Yoona berhasil mencuri perhatian Siwon dari kameranya. Ia menganga untuk beberapa saat. Bagi pria normal mana pun pasti akan merasakan hal yang sama―tersipu dan terkesima.

 Snapshot - 14

Snapshot - 15

“Wae? Aku terlihat… aneh ya?”.

Siwon menggeleng cepat lalu berdiri, “Ani… kau sangat… maksudku, bajunya sangat bagus”, dari nada bicaranya Siwon jelas sangat gugup. Yoona mengangguk-anggukkan kepalanya, ya.. bajunya yang bagus.

Mereka berdua saling berhadap-hadapan cukup lama, tentunya sama-sama tak berani untuk saling bertatap muka.

Sebelum membuka pembicaraan, Siwon pun berdehem. “Itu.. Yoona-ssi, boleh tidak jika aku memotretmu?”, tanya Siwon gelagapan sambil menunjuk kameranya.

“Eo?”, Yoona membentuk huruf ‘o’ dengan mulutnya, kemudian menunduk―mencoba menyembunyikan wajahnya yang mulai memerah dari Siwon. “Aku tidak cukup pandai bergaya”.

“Tidak apa-apa, kau hanya perlu bergaya dengan natural saja. itu sudah cukup. Lagipula aku hanya ingin mengambil gambar bajunya”. Sangat jelas Siwon berbohong, jika ia hanya ingin mengambil gambar pakaiannya, kenapa saat di mannequin tadi ia tak langsung memotretnya saja.

Entah Yoona tengah lumpuh otak malam ini akibat kegugupannya, ia sampai tak terpikirkan kesana dan tidak menaruh curiga sedikitpun. Tanpa bergeming, ia pun mulai berdiri dengan tegap ketika Siwon sudah siap dengan kameranya.

ibl 5

“Santai saja, Yoona-ssi”, ucap Siwon saat menyadari kekakuan Yoona yang begitu kentara di wajahnya.

Yoona menelan salivanya dan tersenyum manis, walaupun memang masih tampak gugup dan kaku.

BLANK~

Tiba-tiba saja lampu di studio padam.

Siwon menghela, “Oh, ada apa ini? Sangat tidak mungkin jika mati lampu”, rutuknya sebelum ia menghampiri wanita yang tiba-tiba menjerit ketakutan. Ruangan begitu gelap, membuat Siwon sedikit kesulitan mencari dimana posisi Yoona sekarang.

“Eoddiga?? Yoona-ssi?”, tanya Siwon sambil melangkahkan kaki dengan perlahan dan tangan yang meraba-raba sekitar, memastikan bahwa tidak ada sesuatu yang akan bertubrukkan dengannya nanti.

“Yoona-ssi?”.

Langkah Siwon terhenti ketika kakinya seperti menempel dengan kaki Yoona, ia berjongkok kemudian. “Waegeurae?”, tanyanya sambil menyalakan ponselnya. Setidaknya itu dapat memberikan sedikit cahaya untuk mereka.

Yoona menekuk tubuhnya sambil memejamkan mata dan menutup telinga dengan kedua tangannya, “Bawa aku pergi dari sini”, ujarnya dengan nada yang cukup tinggi. Sangat jelas ia tengah ketakutan.

BRAK~

Entah suara apa itu, yang jelas terdengar seperti sesuatu yang berjatuhan. Yoona menjerit lagi, kali ini tangannya menarik dan mencengkram pundak Siwon sambil menyembunyikan wajahnya di dada bidang pria itu.

Siwon terhenyak dan matanya membulat. Ia tak pernah segugup ini ketika di peluk oleh seorang wanita, tapi kenapa sekarang rasanya sangat berbeda. Bahkan hanya untuk membalas pelukan Yoona, tangannya mendadak tak dapat di gerakkan.

“Kenapa hanya diam saja? Cepat bawa aku pergi!”, kali ini tarikan tangan Yoona pada baju Siwon semakin kuat.

Dengan susah payah, Siwon pun membantu Yoona untuk berdiri. Memeluk wanita itu sepanjang jalan karena Yoona sama sekali tak ingin melepaskan cengkramannya dari pinggang Siwon.

Siwon menelan ludahnya beberapa kali, jantungnya terasa meledak-ledak. Langkahnya berdecit kaku dan mulai lemas, sampai akhirnya sesuatu yang tak diinginkan akhirnya terjadi. Kaki kanan Siwon menabrak sesuatu―entah apa itu, karena ruangan benar-benar gelap dan ia tak dapat melihat apa-apa.

Siwon kehilangan keseimbangan, bebannya semakin besar saat ia juga harus menahan tubuh Yoona agar tak terjatuh. Namun tetap saja….

BLUG~

Snapshot - 24

….Mereka tersungkur dan terjatuh. Sangat beruntung tubuh Yoona tak berada dibawah, karna jika saja posisi mereka terbalik pasti Yoona akan merasakan hantaman yang amat sakit dipunggungnya. Seperti yang Siwon rasakan sekarang.

“Aaaakh…”, terdengar suara ringisan pelan di telinga Yoona. bahkan suara itu sampai membuat leher Yoona meremang. Ia baru menyadari bahwa bibir Siwon bersentuhan dengan telinganya.

Dag..Dig..Dug..

Dada mereka yang bersentuhan (sebenernya agak-agak yadong ini -_- tp tak apalah, kita lanjutkan), membuat irama cepat dari detakan jantung masing-masing.

Sedetik kemudian, Yoona mengangkat kepalanya dan berkata, “Mian..”. ia tak sanggup untuk menatap kearah Siwon sekarang. Sepertinya ia harus cepat-cepat berdiri.

Namun tiba-tiba saja Siwon menahan tangannya dan menarik Yoona kembali ke posisinya tadi. Kali ini mereka saling bertatapan intens, masih dengan nafas yang memburu. Perlahan tangan Siwon merapikan rambut Yoona, mengaitkannya kebelakang telinga agar Siwon dapat melihat wajah gadis itu lebih jelas lagi.

Snapshot - 25

Detakan jantung Yoona semakin menggebu-gebu, ia rasanya sudah ingin mati saja ditempat. Bisakah ia tak hanya berdiam diri seperti ini? Sebelum pria itu kehilangan akal sehatnya dan melakukan hal yang diluar batas.

Terlambat, sepertinya Siwon benar-benar sudah kehilangan akal sehatnya saat kepalanya mulai ia angkat. Tangan Siwon juga menarik kepala Yoona.

Mengiringi semakin sempitnya jarak diantara keduanya, mata mereka tertutup begitu saja seakan menikmati dan saling menerpa wajah dengan hembusan nafas masing-masing.

 Snapshot - 26

***To Be Countinued***

#Behind The Scenes

(Suasana lokasi syuting nampak sangat sibuk. Ditengah-tengah mereka terlihat Siwon dan Yoona yang sedang berjalan berlawanan arah dan saling mencuri pandang. Ketika posisi tubuh mereka bersejajar..)

Siwon: Ponsel?

Yoona: Di tas ku

Percakapan singkat mereka berlanjut dengan melangkah saling menjauh. Kemudian Yoona mendekati kamera..

Yoona: Hari ini adalah hari terakhir kami di Nami, sebentar lagi kami akan segera kembali ke Seoul (tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepala)

Suji: Ajak aku jalan-jalan dulu

Soohyun: Mwoga? Sudah kubilang aku harus pergi.

Suji: Oppaaaaaa… waktu-waktu seperti ini sangat sulit didapat, kapan lagi aku dapat libur. Hanya mengajakku jalan-jalan sebentar saja, setelah itu kau bebas akan pergi kemanapun

Soohyun: (menghela nafas dengan berlebihan kemudian melahap semua makanan yang sudah tertata diatas meja makan).

Suji: Jawabannya pasti iya kan? (melingkarkan tangan di leher Soohyun)

Soohyun: Ppphhhhttt.. (menahan tawa)

Suji: (melepaskan tangannya lalu ikut tertawa)

CUT!

Kimbum: Jadi, kalian berdua adalah rekan kerja?

Yoona: (mengganggukkan kepala)

Kimbum: Ah lucu sekali rasanya. Bekerja di tempat yang sama bukan berarti.. hahaha Siwon-ah! (menunjuk kearah Siwon yang tengah melahap makanan dengan sangat rakus)

CUT!

Siwon: Waeyo? Aku lapar

Semua orang: (Tertawa)

Kimbum: Jadi, kalian berdua adalah rekan kerja?

Yoona: (mengganggukkan kepala)

Kimbum: Ah lucu sekali rasanya. Bekerja di tempat yang sama bukan berarti kalian juga sekongkol untuk tinggal …. HAHAHAHA.. SIWONNIE..

Siwon: Kenapa lagi? (Dengan wajah tanpa dosa)

Soeun: Oppa, kau selalu saja tertawa (mulai kesal)

Kimbum: (Menunjuk Siwon) Dia menggodaku terus

(Dalam gelap, Siwon dan Yoona saling berpelukan)

CUT!

Siwon-Yoona: (Saling melepaskan diri)

Sutradara: Yoona-ssi, kau berpegangan erat pada Siwon

(Yoona mengangguk)

Sutradara: Setelah itu kalian terus berjalan.. berjalan.. kemudian sampai didepan sana, kakimu (Siwon) menabrak kotak hitam itu sampai akhirnya terjatuh

Siwon: Saat terjatuh itu, posisinya bagaimana?

Sutradara: Yoona menindihmu.

Siwon: Oh.. jinjja? (mengulum senyum dengan ditutupi oleh kempalan tangan)

Yoona: Waeyo? (memukul lengan Siwon sambil tertawa)

(Posisi Yoona berada di atas tubuh Siwon, mereka saling bertatapan. Hingga akhirnya mereka pasti selalu tertawa. Butuh take beberapa kali untuk pengambilan gambar adegan ini. Mereka selalu saja tertawa di tengah-tengah scene)

#####

Nah loooo… YoonWon mau ngapain tuh? Nah.. nah.. (tolong readers jangan jerit2 saat baca adegan tadi :p).

Sebelumnya mau minta maaf kalo photo saat adegan tindih-tindihan [?] itu bukan photo YoonWon asli.. aku cuma mau menunjukkan posisi mereka seperti apa.. hehe lebih terbayangkan kan? Semoga jawab iya :p kkkkkk

Maaf juga kalo mistery2 di balik FF ini belum aku bocorkan sama sekali, dan perkiraan aku kayaknya IBL adalah FF dengan episode terbanyak yang pernah aku buat, tapi tetep ga akan lebih dari 15 episode ‘mungkin’. Menurut kalian, kalo aku bikinnya kayak drama korea banget gapapa kan? Takutnya malah bikin kalian boring dengan alur yang terlalu lamban. Disini aku mohon dengan sangat saran dan kritiknya..

Jangan kaget kalau nanti aku bakal ngprotect salah satu chapter untuk FF ini. bukan hanya untuk menghindari silent reader, tapi juga melindungi tulisan saya dari ‘plagiator’. Itu alasan yang paling mendasar sebenarnya.

Oya, dan terakhir… maaf kalo typo bertebaran😦

Tetep setia buat nunggu kelanjutannya yaa… *wive

Pos Sebelumnya
Tinggalkan komentar

223 Komentar

  1. iyin WiChuRi

     /  Desember 8, 2014

    Manis binggo…
    Akhirnya..

    Balas
  2. Cha Wang

     /  Desember 9, 2014

    keren sekali cerita ny eonnie … eonnie terbaik

    Balas
  3. Sbnarnya aku cemburu sih😦 tapi kalau buat yoona aku kasih sepenuhnya deh heehe

    Balas
  4. paris

     /  Desember 2, 2015

    Apa yoona dan siwon udah saling suka ?
    Disini momen yoona siwon nyaaa lumayan banyak aku suka hehe
    Udah ngga sabar ngeliat part selanjutnyaaa? Apa yoona sama siwon bakalan pacarn?

    Balas
  5. Deery00ng

     /  Januari 7, 2016

    Berharap ni bkal dilanjut unN . .
    Suka bgt ma karya2 mu unN . .

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: