[OS] Unconditional Love

cover os2

Unconditional Love

by

Nurul_Choi

Main Cast : Super Junior’s Siwon & SNSD’s YoonA || Other Cast : U’ll find it ||  Genre : Romance, Drama & Friendship || Length : Oneshoot || Rating : General || Summary : “Apa yang kau sukai dariku?”

Recomanded backsound : ‘You Are So Beautiful’ by Xiah Junsu JYJ |‘It Has To Be’ by Yesung Super Junior

A/N : Annyeong^^ selalu ada sapaan diawal pertemuan. Hohoho…. usai menghadapi pesta nasional a.k.a UN saya kembali sesuai dengan yang saya janjikan^^ Masih bertemakan cerita cinta remaja, cerita ini diadaptasi dari cerita temanku. Kenapa sih saya suka banget bawa tema picisan-picisan seperti ini? Karna saya masih remaja dan masih sangat menikmati masa-msa indah itu hehe… Well, seperti apa sih cerita ini membawa kalian merasakan cinta seorang gadis remaja? berakhir dengan  Happy or Sad?? Penasaran?

Yesungdahlah~~ Teukkidot!!!^^

Dislike?

Don’t read!

Don’t bashing!

Don’t be a silent reader!!

 Warning!! : Typo bersembunyi dimana-mana but, typo itu SENI😀 hihii..

ð  Happy Reading^^

 

 

Kediaman keluarga Im di pagi hari, nampak dengan suasana hangat dalam satu meja makan. Keharmonisan yang diciptakan oleh hadirnya sang kepala keluarga, terlihat tengah membaca koran sambil sesekali menyesap kopi buatan istri tercinta. Sementara itu disampingnya, Nyonya Im sibuk mengolesi roti gandum dengan selai sebagai menu sarapan pagi ini. Sosok remaja pria juga turut melengkapi kesan sempurna dalam hangatnya nuansa sarapan pagi. Beberapa detik kemudian terdengar kegaduhan yang berasal dari lantai atas. Ketiga manusia itu tak lantas mendongak, mereka sudah tahu pasti siapa pembuat kegaduhan di pagi yang tentram ini.

Morning Eomma…” sapa seorang anak gadis sambil mencium pipi Nyonya Im. Nyonya Im menanggapinya dengan gumaman kecil serta senyum hangat. “Morning chagi,” balasnya pada anak gadisnya itu.

Morning Appa.” gadis itu beralih mengecup pipi Tuan Im. Tak beda jauh dengan Nyonya Im, Tuan Im juga membalasnya dibarengi dengan senyum hangat, tak mengalihkan pandangannya dari surat kabar dalam genggamannya.

“Hei cengeng! Bagaimana tidurmu semalam? Apa kau ngompol lagi, huh?” tanyanya yang lebih mengarah pada ledekan, ditujukan pada adik satu-satunya itu seraya mengacak-acak rambut sang adik. “Issshh..! Berhenti bicara yang tidak-tidak, baboIm!” Baekhyun, remaja pria itu merapikan kembali rambutnya lantas melahap sarapannya dengan wajah kesal. Membuat gadis tadi terkekeh geli. “Jangan suka meledek adikmu, Yoong,” nasehat Nyonya Im kemudian memberikan roti gandum dengan selai kacang untuk Yoona. “Arraseo Eomma!” jawab Yoona dengan menirukan suara bayi. Tangannya meraih roti gandum yang diberikan  Nyonya Im.

“Ya! Jangan keluarkan suara jelekmu itu, baboIm!” Baekhyun menatap tajam Yoona namun gadis itu bukannya berhenti malah terus membuat suara-suara menyerupai bayi kecil yang sebenarnya terdengar imut dan lucu tapi sangat dibenci oleh Baekhyun. Nyonya Im menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah kedua anaknya yang hanya beda tiga tahun itu. Rutinitas yang biasa terjadi di pagi hari, sarapan pagi dengan pertengkaran kecil dari Yoona dan Baekhyun telah menjadi tradisi keluarga Im. Begitulah yang justru menjadi pelengkap keharmonisan keluarga.

Gelak tawa Yoona juga wajah kesal Baekhyun masih terus berlanjut sampai suara klakson mobil dari luar pagar rumah menghentikannya. Mengetahui siapa si pemilik mobil, Yoona segera menghabiskan roti gandumnya serta meminum susu buatan sang Ibu. “Eomma, Appa aku berangkat, ne…” Yoona berpamitan dengan mencium pipi kedua orangtuanya. Ia meraih tas selempengannya. “Nde, bilang pada Yuri hati-hati membawa mobilnya!” Tuan Im memperingati. Yoona mengangguk lalu berkata, “Arraseo Appa.” lagi dengan suara bayi, berniat untuk menggoda Baekhyun. Dan benar saja, Baekhyun langsung melemparkan sedok kearah Yoona yang telah berlari dengan tawa menggema yang masih tertinggal di ruang meja makan. “Eomma, kenapa aku punya Noona seperti dia? Sangat menyebalkan!” ucapan Baekhyun mengundang gelak tawa Tuan Im juga Nyonya Im, membut bocah bewajah imut itu mengerucutkan bibirnya.

~[]~

 

Yoona menggeser bangkunya ketika jam istirahat telah tiba. Ia beserta ketiga temannya- Yuri, Tiffany dan Jessica selalu memanfaatkan waktu istirahat untuk sekedar mencurahkan isi hati satu sama lain dan mengobrol layaknya gadis remaja pada umumnya.

“Kau lihat apa ini?” Yuri menunjukan jemarinya. “Ya! Itu tanganmu, Yul! Aku tahu itu.” Jessica menjawab dengan mimik kesal. Dengan tak kalah kesalnya Yuri memutar bola matanya. “Babo! Yang ku maksud ini, sayang!” Yuri menunjuk benda mengkilap dengan batu safir di tengahnya, melingkar di jari manisnya. Jessica, Tiffany dan Yoona mendekatkan kepalanya untuk melihat lebih jelas benda mengkilap itu.

“Wahh Kyeoppta!” seru Tiffany memandang takjup. “Ikan teri itu membelikannya untukmu?”

‘Pletak!’ satu jitakan Yuri telah mampu membuat Jessica meringis, mengusap kepalanya. “Eunhyuk Oppa yang membelikannya, bukan ikan teri!” koreksi Yuri atas ucapan Jessica. Gadis berambut blonde itu masih saja mengusap kepalanya. “Isssh..! Bukankah sama saja,” desisinya kemudian.

Mwo?”

“Ani!!”

“Ya! Kalian ini, begitu saja diributkan! Nama kekasih sama-sama ikan, kenapa harus bertengkar?” sahut Yoona sambil menyilangkan kedua tangannya di muka dada.

‘Pletak!’ kali ini dua jitakan sekaligus mendarat mulus di kepala Yoona. Gadis itu mengusap kepalanya dengan memberikan tatapan mematikan pada Yuri dan Jessica namun tak bertahan beberapa detik karna dua gadis itu lebih menakutkan dari monster sekalipun dengan tampang mereka saat ini. Tiffany yang sedari tadi melihat tingkah ketiga sahabatnya itu meledakkan tawanya, merasa sifat mereka masih saja sepeti anak kecil padahal tahun ini merupakan tahun ketiga mereka menyandang status sebagai siswi SMA.

“Ya! Mi Young-ah, kenapa kau hanya tertawa?” tanya Yuri mengarah pada Tiffany. Gadis bersenyum manis itu tak benar-benar berniat untuk bertanya, lebih tepatnya menggoda Tiffany. Ia tahu pasti, Tiffany sangat tidak suka dipanggil dengan nama koreanya. Yuri memang yang paling jahil diantara keempat gadis itu.

Tiffany, gadis pemilik eyes smile itu mendelik ketika mendengar ucapan Yuri. Lantas tak melakukan apa-apa, hanya menggerutu kecil dengan mimik kesal. Tiffany dapat dikatakan tipekal gadis pemaaf. Ia tak pernah bertahan untuk marah terlalu lama. Karna Ibunya yang sudah meninggal sejak ia masih kecil, membuat gadis itu mudah menangis dan sangat sensitif namun ia selalu berusaha menunjukkan sisi kuatnya di depan semua orang.

Kini giliran Jessica yang tertawa lepas, melihat bibir Tiffany yang terus menggerutu tak jelas dengan tampang yang menurut Jessica lucu. Gadis keturunan Amerika itu dikenal dengan sikap dinginnya. Meski begitu sebenarnya ia sosok dengan pribadi hangat. Ia hanya terlihat cuek saja dari luar namun lihat, ketika seseorang sudah mengenalnya lebih dalam mereka akan merasakan perhatian tulus sosok Jessica, bahkan melebihi kekasih.

Perbincangan serta tawa mereka terhenti, ketika bunyi bel tanda jam istirahat telah habis menggema. Mereka kembali pada tempat duduk masing-masing. Yuri dengan Yoona dan Tiffany bersama Jessica.

~[]~

 

Ye Oppa, hemm…”

“…….”

Mwo? Aissh! Jangan menggodaku!”

“……..”

“Ya! Kau memang perayu kelas kakap.”

“………”

“Hahaha…. nde arraseo, bye Oppa… muaachh..”

Yoona memerhatikan Jessica yang tersenyum terus usai menerima telfon dari seseorang. “Nugu?” tanya Yoona sekaligus memastikan, sebenarnya ia sudah tahu pasti jawabanya. Jessica baru akan menjawab ketika Yuri tiba tiba menyahut, “Siapa lagi kalau bukan Ikan Mokpo nya itu,” kata Yuri enteng, tak mengalihkan pandangannya dari kegiatan mewarnai kuku.

Jessica menyeruput Vanila Milk Shake pesanannya yang beberapa detik lalu baru saja diantarkan oleh pelayan cafe. “Tebak apa yang akan kubicarakan?” tanya Jessica setelah meletakkan Vanilla Milk Shake-nya di atas meja. Mata gadis itu berbinar, mengisyaratkan akan adanya berita baik. Yoona berdecak atas ucapan Jessica. “Kau pikir kami ini peramal? Yang bisa tahu hanya dengan melihat mimik mu itu!” Yoona mencibir, kesal karna Jessica tak bicara to the point.

Jessica balas berdecak, “Donghae Oppa mengajak kita untuk makan bersama di cafe baru temannya,” kata Jessica menjelaskan, kembali dengan rona binarnya. Ketiga gadis itu kemudian memandang Jessica dengan tatapan memastikan. “Mwo? Ikan Mokpo itu mentraktir kita?”

Ye!  Memanganya ikan terimu yang super pelit itu.” Jessica mencibir dengan nada sinis. Yuri berdecak kesal atas ucapan Jessica. “Dalam rangka apa Donghae Oppa mengajak kita makan bersama?” Tiffany yang sedari tadi hanya membolak balikkan majalah fashion-nya angkat bicara. Jessica menggeleng samar, “Tidak ada. Hanya ingin makan bersama saja. Oh ya, jangan lupa ajak namjachingu kalian,” imbuh Jessica dengan senyum rekah. Ucapan Jessica yang terakhir sukses membuat Yoona bungkam. Otaknya mulai berfikir, memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja terjadi. Yoona meraih Hazelnut Macchiato-nya kemudian menyeruputnya. Pandangannya beralih ke jendela kaca yang menghubungkannya langsung pada lalu lalang kendaraan di kota Seoul. “Apa dia bisa datang?” katanya lirih pada diri sendiri.

~[]~

 

‘Kliiiing’ bunyi lonceng yang terpasang diatas pintu cafe menggema ketika Yoona membuka pintu cafe.

Annyeong… selamat datang di cafe Snyellow kami….” sambutan dari pelayang cafe langsung diterima Yoona ketika gadis berambut coklat itu mendudukkan tubuhnya pada kursi meja di cafe sederhana yang di atur seminimalis mungkin itu. Yoona duduk di sudut cafe, memilih tempat yang jauh dari keramaian. Setidaknya disana tidak terdapat pengunjung muda mudi yang tengah bercengkrama.

“ Satu Cappuccino Chiaro,” katanya begitu pelayan cafe tadi menyodorkan daftar menu. Pelayan cafe itu mengangguk lantas beranjak pergi. Yoona menyapukan pandangannya ke penjuru cafe, menjelang malam semakin banyak saja pengunjung yang datang. Sambil menunggu datangnya seseorang, Yoona memilih untuk mengeluarkan novel dari dalam tasnya, sengaja ia bawa dari rumah tadi. Gadis itu mulai membuka halaman yang sudah ditandainya. Sebuah novel picisan, bacaan seorang gadis remaja pada umumnya.

Lima belas menit berlalu Yoona telah larut dalam dunianya sendiri. Sambil sesekali menyesap Cappuccino Chiaro-nya, gadis itu hanya berkonsentrasi untuk membaca. Tepat ketika ia membuka halaman baru tiba-tiba saja pikirannya melayang, mengarah pada obrolannya dengan ketiga temannya tadi. Obrolan ringan yang membuatnya berpikir keras, menimbulkan kegundahan hati.

 

“Kau pikir apa yang membuat pangeran Thailand-mu itu menyukaimu?” Jessica bertanya sambil melipat kedua tangannya diatas meja. Tiffany terdiam sejenak atas pertanyaan Jessica. “Molla, tapi dia suka sekali memuji suaraku. Yeah, tentu saja karna aku cantik.” Tiffany menjawab dibarengi dengan eyes smile yang menghiasi parasnya. Jessica mendengus karna temannya itu selalu saja percaya diri sekali.

“Kau, Yul?” Jessica beralih, bertanya pada Yuri. Sejenak gadis itu menghentikan aktivitasnya mewarnai kuku. “Karna aku pandai menari..” jawabnya mengingat-ingat.

“Ya! Itu karna dia ber-otak yadong,” cetus Jessica yang langsung mendapat tatapan tajam dari Yuri. “Jangan bicara sembarangan, es batu!”

Mwo? Ya! Jangan menyebutku es batu! Aku ini  Ice Princess-nya Tuan Lee!” Jessica menimpali, tak terima di panggil seperti itu. “Memanganya apa yang membuat Ikan Mokpo-mu itu menyukaimu?”

“Tentu karna aku cold woman, dia menyukai tipekal gadis sepertiku,” jawab Jessica membanggakan diri.

“Oh ya, Yoong. Lalu kau? Apa yang disukai Siwon Oppa darimu?” pertanyaan Tiffany yang tiba-tiba itu sukses membuat Yuri dan Jessica beralih menatap Yoona. Gadis itu terhenyak. Matanya mengerjap beberapa kali. Lidahnya terasa kelu seketika.

Apa yang ia sukai dariku? Mengapa ia menyukaiku? Aku tak pernah mendengarnya menyatakan perihal ia menyukaiku. Aku tak mengetahui dia menyukaiku karna apa. Aku tak pernah membahas hal ini dengannya. Apa jika tak ada alasan berarti ia tak tulus mencintaiku? Cintanya akan goyah? Begitukah?

 

“Sedang memikirkanku?” suara itu menyadarkan Yoona dari lamunannya. Baru disadarinya, sosok yang sedari tadi ia tunggu telah duduk di hadapannya. “Oppa, kadar kenarsisanmu semakin bertambah parah saja. Sudah stadium akhir, eoh?” Yoona menimpali, berusaha menghilangkan garis kegusaran di wajahnya. Siwon terkikik geli, tangannya meraih pucuk kepala Yoona dan mengacak-acak anak rambut gadis itu.

“Ya! Kau membuat tatanan rambutku rusak!” Yoona mempoutkan bibirnya, tangannya merapikan anak rambut yang sedikit berantakan. “Apa sudah selesai?” tanya Yoona kemudian.

“Belum, hanya saja karna ada seorang gadis yang tiba-tiba ingin bertemu maka menunda pekerjaan sebentar pun tak menjadi masalah,” jawab Siwon tersenyum tenang, memamerkan kedua lesung pipitnya. “Jadi, apa yang ingin kau bicarakan, Deer?” Yoona tersenyum simpul. Pria ini selalu saja memanggilnya ‘Deer’ jika ditanya kenapa, jawabannya karna itu panggilan sayang darinya. ‘Rusa’? ia bilang panggilan sayang? Sungguh menggelikan. Tapi biar bagaimanapun Yoona senang mendapat panggilan sayang itu.

Deer?” Yoona terkesiap, baru menyadari tujuan utamanya menemui Siwon. Bola matanya bergerak ke kanan dan kiri. Berusaha mencari kalimat yang tepat. Ia sendiri tak tahu mengapa sulit sekali mengeluarkan kata hanya beberapa saja. Sebenarnya yang ia takutkan adalah Siwon tidak bisa menghadiri ajakan Donghae yang di ajukan Jessica tadi siang.

Oppa…”

“Nde?”

“Siwon, Choi Siwon…” Siwon menoleh ke belakang, mendengar seseorang memanggilnya. “Deer, akan segera ku selesaikan pekerjaanku lalu mengantarmu pulang.” Yoona mengangguk mengiyakan. Ia menghela nafas panjang, melihat punggung Siwon yang semakin menjauh. Pria itu terlalu sibuk dengan pekerjaan paruh waktu sebagai pelayan cafe.

~[]~

 

Angin malam yang berhembus kencang membuat Yoona mengeratkan mantel yang membungkus tubuh rampingnya. Setapak demi setapak ia berjalan. Yoona menoleh kearah samping, merasakan sentuhan hangat pada tangannya. Siwon tersenyum simpul. Tangannya menuntun tangan Yoona bersembunyi dari balik saku jaketnya, bermaksud memberikan kehangatan pada kekasihnya itu.

“Sebenarnya apa yang ingin kau bicarakan, Deer?” tanya Siwon menatap lembut mata bening Yoona. Gadis itu terdiam, berdehem pelan. “Donghae Oppa mengajak kita makan bersama dengan yang lain. Emm… apa Oppa bisa datang?” tanyanya hati-hati, menunggu respon Siwon.

“Tentu! Katakan padanya aku akan datang. Aku juga rindu ingin makan bersama dengan mereka,” jawab Siwon kembali tersenyum. Membuat Yoona memandangnya tak percaya. Pasalanya kekasihnya ini sangat sibuk untuk meluangkan waktu bersantai.

Yoona menarik sudut bibirnya, bahagia. Tentu saja! siapa yang tidak bahagia jika akan berkencan dengan sang kekasih yang notabene-nya sosok yang sibuk dengan sejuta kegiatan seorang mahasiswa dan pekerja paruh waktu. “Oh ya, Oppa boleh aku bertanya padamu?”

“E-em.. tanyakan saja..” Siwon menjawab sambil kembali berjalan, menuntun Yoona mengikuti langkahnya. Yoona sedikit ragu, kali ini mengenai perbincangannya tadi siang bersama Yuri, Jessica dan Tiffany.

Oppa, apa yang membuatmu menyukaiku?” Yoona bertanya dengan suara pelan, matanya memandang wajah Siwon. Menantikan sebuah jawaban yang sebenarnya bersarang di otaknya sejak dulu. Siwon tidak pernah menyatakan kata cinta dalam hubungan mereka, pun tidak pernah mengatakan alasan menyukai dirinya.

Siwon terdiam sejenak, menghela nafas kemudian menoleh kearah Yoona. Tak banyak respon yang diberikan, hanya sebuah senyuman. Senyum yang tak dapat diartikan oleh Yoona. Gadis itu mengerutkan dahi, merasakan Siwon kembali menarik tangannya yang masih berada dalam saku jaket pria itu. Namun ia tak dapat mengeluarkan suara untuk bertanya lagi. Entahlah.

Langkah mereka terhenti didepan pagar rumah Yoona. Setelah menekan bel beberapa kali, pagar rumah itu akhirnya terbuka. Menampakan sosok Baekhyun dengan tatanan berantakan. Matanya setengah terpejam dengan rambut acak-acakkan. Ia menguap lebar sambil menggaruk kepalanya. Dimana sikap sopan santunnya? Seenak jidatnya[?] menguap lebar di depan tamu, batin Yoona tak habis pikir. Segera ia mendorong kepala Baekhyun, merasa tak enak hati pada Siwon.

“Isssh..! tidak sopan sekali!” ujarnya risih. Ia menoleh kearah Siwon, “Mianhae Oppa..” Yoona berkata sambil memaksakan senyumnya. “Tidak apa-apa..” kata Siwon balas tersenyum. Sementara Baekhyun tak menaggapi mereka berdua. “Masa bodoh dengan dua orang ini, yang pasti mereka telah mengganggu tidur nyenyakku,” batinnya kemudian hendak beranjak namun terhenti dengan ucapan Yoona.

“Dimana Appa dan Eomma?” Baekhyun menggaruk kepalanya masih dengan mata setengah terpejam. “Engmm… ke Busan.” Jawabnya terdengar seperti gumaman tak jelas. Yoona mencibir ketika adik satu-satunya itu begitu saja melenggang pergi dari hadapannya.

“Ah ya, deer sepertinya aku hanya dapat mengantarmu sampai disini..” kata Siwon melirik arlojinya. “Oh, ne segera pulang dan mandilah, Oppa. Kau pasti lelah.”

Siwon tersenyum lalu maju selangkah mendekat Yoona. “Kau juga dan jangan lupa…” Yoona mengerutkan dahi menunggu lanjutan kalimat Siwon. “Mimpikan aku,” bisik Siwon tepat ditelinga Yoona, membuat gadis itu merasakan pipinya yang menghangat. Siwon terkekeh pelan melihat kekasihnya itu yang tersipu malu. Diusapnya kepala Yoona kemudian mendaratkan sebuah kecupan dikening Yoona. “Good night, deer.”

~[]~

 

“Yoong, kau berencana kencan hari ini?” tanya Yuri dari dalam mobil, duduk di jok depan. Yoona yang sudah di luar mobil hanya tersenyum menanggapinya.

“Isssh.. seharusnya kau mengajak kami, Yoong!” protes Tiffany tiba-tiba. “Mwo? Jika aku mengajak kalian bukan kencan namanya tapi akan menjadi acara piknik keluarga,” celetuk Yoona. Pernyataan Yoona sontak membuat mereka tertawa. “Lain kali kau harus benar-benar mengadakan acar piknik keluarga itu, Yoong,” sahut Eunhyuk yang duduk di jok kemudi, disamping Yuri. “Nde aku menyetujui ide itu..” timpal Nichkhun yang duduk di jok belakang, bersama Tiffany.

Ye, setelahnya akan ku tagih hutang beserta bunga tujuh puluh persen pada kalian,” jawab Yoona kembali mengundang gelak tawa. “Ya sudah kami pergi dulu. Semoga kencanmu berjalan lancar, Yoong..” Eunhyuk sudah akan menjalankan mobilnya.

“Dan kuharap Siwon Oppa tidak mengalami krisis moneter setelah ini..” kata Yuri sebelum mobil Eunhyuk melaju. Yoona sudah akan mengeluarkan cibirannya namun terpaksa harus ia tahan karna Chevrolet putih milik Eunhyuk sudah melenggang pergi menyisakan sisa tawa yang masih dapat Yoona dengar dari mereka berempat. “Cih~ dasar…!”

__

Yoona melirik arloji yang melingkar di tangan kirinya. Pukul 09.00 KST, namun Siwon belum juga menampakkan batang hidungnya. “Kemana pria itu? Dia yang membuat janji, kenapa tak tepat waktu? Isshh….!” Yoona berdiri dari duduknya sedetik kemudian ia duduk kembali, terus seperti itu hingga sekitar lima belas menit. Gadis itu mengetuk-ngetukkan high-heels nya pada tanah. Merasa bosan lama menunggu sang kekaih yang tak kunjung datang.

“Astaga, apa dia lupa bahwa hari ini ada janji denganku?” gerutu Yoona lagi. Sampai pada akhirnya gadis itu menoleh kesamping kiri, merasakan seseorang menepuk pundaknya.

‘Chu~’

Bibirnya tepat mendarat di pipi seseorang membuat si pemilik pipi menyunggingkan senyumnya memamerkan kedua lesung pipitnya. “Aigoo, apa terlalu tampan, sampai-sampai kau tak mau melepaskan bibirmu dari pipiku?” pertanyaan itu sontak membuat Yoona memalingkan wajahnya. Rasa kesal yang terlalu lama menunggu kekasihnya kini bertambah puluh kali lipat.

Siwon menangkap kekesalan pada wajah Yoona. Ia duduk disamping Yoona, berdehem pelan. “Mianhae…” sesalnya namun tak mendapat sahutan dari gadis itu. Yoona melipat kedua tangannya di muka dada seolah berkata ia tak semudah itu memaafkan pria disampingnya ini.

Eo… sayang sekali padahal aku sudah membeli dua buah es krim.” Siwon memegang dua es krim sambil melirik Yoona, mencoba menarik perhatian gadis itu. Yoona sedikit melirik kearah siwon. Ah bukan, lebih tepatnya kearah es krim di tangan Siwon. Sejurus kemudian gadis itu melemparkan pandangannya kearah lain lagi. Menjunjung tinggi gengsi serta harga dirinya.

“Benar-benar tidak mau?” Siwon menjilat-jilat es krimya tepat di dekat Yoona. “Ini enak sekali,” imbuhnya yang masih asik menjilati es krim vanilanya. Ekor mata Yoona kembali mengarah pada Siwon. Pria itu benar-benar menikmati es krimnya sampai-sampai memejamkan mata. Membuat Yoona  meneguk salivanya.

“Ya sudah kalau memang tidak mau. Aku bisa menghabiskannya sendiri.” Siwon menegakkan tubuhnya kembali. Baru saja ia ingin menjilat es krim satunya. Sebuah tangan menyambar es krim itu dengan sangat gesit membuat mulutnya menganga penuh angin. Siwon menoleh kearah Yoona lantas mencibir, “Dasar sikhshin!” Yoona memberikan tatapan tajam pada Siwon.

“Jadi, kau memaafkanku kan?”

“Tidak semudah itu…” Yoona menjawab dengan mulut penuh es krim. Siwon hanya mengulum senyum atas jawaban Yoona. Lantas ia menarik tangan Yoona. “Mau kemana?” tanya Yoona bingung. “Tentu saja berkencan! Kau mau penantianmu tadi menjadi sia-sia, huh?” Yoona mengkerucutkan bibirnya mendengar jawaban Siwon.

~[]~

 

“Tadrraaa!!!” seru Siwon dengan ekspresi berlebihan. Yoona menaikkan satu alisnya. “Apa?” katanya merasa tak ada yang spesial.

“Ya! Deer, apa kau dulu tidak lulus TK? Seperti ini saja tidak tahu. Ini namanya sepeda! Se-pe-da!” Siwon menekankan kata sepeda pada kalimatnya.

Yoona memutar bola matanya kemudian mendengus kesal. “Ye! Aku tahu itu se-pe-da!…” Yoona balas menekankan kata sepeda kemudian lanjut berkata, “Yang ku maksud untuk apa sepeda itu, Oppa?”

“Tentu saja untuk bersepeda! Apa ada sepeda untuk berendam!” ketus Siwon membuat Yoona mengertakkan giginya. Siwon menarik Yoona untuk duduk di boncengan belakang. Gadis itu tak melawan. Dengan semangat Siwon mengayuh sepedanya. Menyusuri taman kota Seoul yang terlihat cukup ramai oleh pengunjung yang juga tengah menikmati hari santai mereka. “Peluk pinggangku!”

Nde?” belum sempat Yoona mendapat penjelassan atas ucapan Siwon. Pria itu telah lebih dulu mengayuh sepedanya kencang, menambah kecepatan yang membuat yoona menjerit keras dan refleks memeluk erat pinggang Siwon. “Ya! Berapa berat badanmu? Kau makan apa huh? Kenapa berat sekali?” Siwon mencibir di tengah kencangnya ia mengayuh sepeda.

Mwo? Aku tak berat!” Yoona memukul punggung Siwon membuat mereka hampir saja terjatuh karna kehilangan keseimbangan namun sedetik kemudian mereka tertawa bersama.

Acara tak hanya berhenti disitu saja. Siwon mengajak Yoona menikmati festival musim semi yang rutin diadakan di nageri Gingseng itu. Festival ini bernamakan ‘Cherry Blossom Festival’ mengingat ini telah memasukki bulan April, tentu banyak bunga bermekaran di musim ini. Benar saja, di sepanjang jalan bunga sakura mendominasi dengan warna merah muda menyala. Sekitar seribu empat ratus pohon sakura menjulang disetiap jalan Yeouido, membentuk layaknya sebuah terowongan.

Ada berbagai pertunjukan di gelar dalam festival ini, sebut saja pungmullori, sebuah pertunjukan seni tradisional Korea yang biasa di adakan tiap tahun musim semi. Banyak pasangan kekasih yang terlihat bergandengan tangan. Tak jarang juga dapat ditemui sepasang kakek nenek duduk di atas tikar di bawah teduhnya pohon sakura. Menikmati mekarnya bunga sakura dan berbagai event festival musim semi. Festival ini turut dimeriahkan oleh stand-stand makanan di setiap ruas jalan.

Siwon dan Yoona menjajaki tiap stand makanan festival itu. Yoona yang paling bersemangat. Mereka hanya mencicipinya saja tak berniat sama sekali untuk membeli. Hal itu jelas membuat beberapa pedagang memandang jengkel kearah mereka. Namun hanya ditanggapi tawa oleh mereka.

Deer, lihat kemari!”

‘Klik!’

“Wahh! Kyeopta!” seru Siwon memandang hasil jepretannya. “Ya! Oppa, itu jelek sekali. Mataku membulat, mulutku penuh makanan. Issshh… cepat hapus!” Yoona mempoutkan bibirnya.

“Hahaha… ini sudah cukup cantik untuk ukuran wajah sepertimu,” ledek Siwon yang dibalas tatapan membunuh dari Yoona. “Ah, arraseo arraseo. Sepetinya gadisku ini akan kembali tersenyum jika berfoto denganku.” Siwon berkata dengan melirik Yoona. Ia merangkul pundak Yoona. Tangan kirinya memegang I-Phone telah siap mengambil gambar. “Senyuuuuuuuum!” Siwon menunjukkan deret gigi putihnya di depan kamera. Tangan kanannya menarik bibir Yoona dan.. ‘Klik!’satu selca berhasil diambil.

Siwon sempat tertawa terbahak melihat ekspresi Yoona yang tak ikhlas tersenyum. Bagaimana tidak, di foto itu bibir Yoona hanya tertarik sebelah itupun karna tangannya yang menarik sementara wajah Yoona nampak seperti orang tak bersemangat. Yoona protes foto itu harus dihapus namun tak di setujui oleh Siwon, justru Siwon mengajaknya foto bersama lagi dengan tantangan ekspresi siapa yang paling aneh. Dan mereka mengabadikan momen ini dengan ber-selca ria. Menciptakan foto-foto lucu dengan ekspresi aneh dari wajah mereka.

“Haaahh… ini sangat menyenangkan!” Yoona berteriak kencang. Sambil berjalan menyusuri pesisir pantai tak henti-hentinya ia mengulum senyum. Puas menikmati pertunjukan festifal musim semi, Siwon kembali mengajak Yoona meneruskan acara kencan mereka. Kali ini ia memilih pantai  Eurwangni sebagai tempat terakhir. Ia ingin seharian ini menghabiskan waktu bersama dengan gadis ini. Yah~ seharian ini.

“Kau senang? Itu berarti kau telah memaafkanku,” ucap Siwon menoleh kearah Yoona. Gadis itu memincingkan matanya menatap Siwon. “Ye, kau berhasil Tuan Kuda!” katanya lalu tersenyum.

“Kalau begitu mari cheers.” Yoona mengerutkan dahinya. “Dengan kembang gula ini?” tanyanya memastikan yang diangguki oleh Siwon. “Untuk kemenangan Choi Siwon! Yeyy!” Siwon mengacungkan kembang gulanya. Yoona tertawa kemudian menempelkan kembang gulanya pada kembang gula Siwon, untuk tanda cheers.

“Ya! Oppa, kau curang! Kembang gulaku menempel semua pada kembang gulamu.” Yoona  mengembungkan pipinya, melihat kembang gulanya tak tersisa sedikitpun. “Itu salahmu sendiri.” Siwon menjulurkan lidahnya kemudian berlari menghindar dari amukan Yoona. “Aissh..!” desisinya lalu mengejar Siwon, berlari menyusuri bibir pantai.

Senyum rekah tanda kebahagiaan terus menghias di wajah mereka. Sesekali mereka saling memercikkan air. Siwon menggendong tubuh Yoona kemudian menghempaskannya ke air, Yoona yang tak mau kalah juga menarik Siwon hingga pria itu terjatuh. Dan tawa mengiringi tiap ulah[?] keduanya *asli, saya kehabisan kata T_____T

Nafas keduanya kini tersenggal. Pakaian mereka basah oleh air.  Mereka berbaring di atas pasir setelah sebelumnya membentuk tanda love besar yang melingkari tempat mereka berbaring. Yoona masih tersenyum dengan nafas naik turun. Siwon menoleh kearah Yoona, gadis itu juga menoleh kearah Siwon membuat mereka saling lempar senyum. Perlahan Siwon mendekat kearah Yoona. Semakin dekat menyisahkan jarak beberapa senti saja diantara mereka. Yoona yang mengetahui maksud Siwon lantas menutup kedua matanya. Jantungnya berdebar kuat. Nafas yang belum stabil kini kembali terasa naik turun.

‘Plukk’

“Aw… appoyo!” Yoona meringis, mengusap keningnya yang disentil Siwon. “Dasar..! Apa kau berharap sekali mendapat ciuman dariku?” Siwon kembali gencar menggoda Yoona. Gadis itu melotot, kesal merasa dipermainkan. Sebelum mendapat ocehan Yoona, Siwon telah lebih dulu bangkit dan berlari.

“Issshh…! Berhenti kau, kuda jelek!” dan kembali terjadi acara kejar-kejaran diantara mereka. Kesan bahagia itu nampak jelas mengiri tawa mereka. Begitu Yoona berjarak beberapa senti saja dari Siwon, ia lalu naik ke punggung Siwon. Dengan tawa yang masih menghiasi wajah keduanya. Siwon berlari kencang menggendong Yoona. Hari ini menjadi hari bersejarah bagi mereka. Tentu saja, setiap hari yang mereka lalui bersama akan menjadi catatan manis dalam diary hidup mereka.

Jingga langit telah menyelubungi kota Seoul. Senja sore di ujung barat membias dalam bayang air. Hangatnya senja mengiringi kebahagiaan mereka. Dan senja itu pula telah menjadi saksi bisu cinta dua insan yang tengah dimabuk asmara itu.

Seoul, dengan hitam langit. Bercahayakan lampu-lampu kota, malam ini sang dewi malam tak menunjukkan cahayany. Seperti tengah bersembunyi dari balik awan hitam. Siwon berjalan menyusuri jalanan setapak. Sosok gadis yang seeharian ini bersamanya masih setia menempel dipunggungnya. Yoona menyandarkan dagunya pada pundak Siwon. Tangannya yang melingkari leher Siwon, menenteng[?] high-heels silvernya. “Oppa…” suara Yoona memecah keheningan diantara mereka.

“Hemm…” Siwon menjawab dengan gumaman kecil. “Soal kemarin, boleh aku menanyakannya lagi?”

“Apa?”

“Emm… boleh aku tahu, apa alasanmu menyukaiku?” tanya Yoona setelah menghilangkan keragannya. Yoona bisa melihat sudut bibir Siwon tertarik membentuk sebuah kurva melengkung. Yah, lagi-lagi pria itu hanya menanggapinya dengan senyum.

Sebenarnya apa yang dipikirkan pria ini? mengapa tiap kali ia bertanya mengenai perihal alasan mencintainya hanya sebuah senyuman yang tersungging di bibir pria itu. Apa dia benar-benar tidak memeliki sebuah alasan yang tepat? Atau memang tidak pernah ada cinta untuknya? Yoona sibuk bergulat dengan pemikirannya sendiri.

Hal ini tak urung membuatya berkerut dahi. Dimana-mana yang ia ketahui seseorang mencintai pasti memiliki sebuah alasan. Segala sesutaunya itu memiliki alasan. Bagaimana mungkin mencintai seseorang tanpa sebuah alasan. Itu merupakan hal konyol yang pernah Yoona dengar.

Pertanyaan atas segala kegundahan hatinya seolah bertambah tatkala tiap kali melihat teman-temannya menceritakan bagaimana kekasih mereka menerapkan kata cinta. Donghae yang selalu bersikap romantis pada Jessica, Nichkhun yang selalu ada ketika Tiffany membutuhkannya, dan Eunhyuk yang selalu memberikan perhatiannya pada Yuri. Belum lagi saat sahabat-sahabatnya itu selalu bercerita bagaimana para kekasih mereka memberikan kejutan istimewah dan mendalihkan alasan cinta.

Jujur saja Yoona sangat iri pada ketiga sahabatnya itu. Diperlakukan bak seorang puteri, mendapat telpon sebelum tidur, sebuah sentuhan hangat, tatapan hangat dan dekapan hangat. Dan yah, ia sadar dari awal mengambil keputusan menjadi kekasih seorang Choi Siwon. Pria sederhana yang mandiri. Ia tahu betul tipekal pria seperti apa kekasihnya itu. Dan karena itulah yang menjadikannya mengagumi akan sosok Siwon. Memberikan hatinya pada pria itu, berharapkan bahagia darinya. Tapi, hei! Lihatlah, dirinya hanyalah seorang gadis remaja. Gadis sekolah menengah yang masih sangat butuh perhatian dari kekasihnya. Apakah dia salah menginginkan sebuah perhatian dari sang kekasih seperti sahabat-sahabatnya? Kekasih mereka juga seorang mahasiswa, lantas apa yang membedakannya? Meski seorang mahasisiwa mereka masih bisa meluangkan waktu untuk orang yang mereka cintai. Sementara Yoona, mendapat pesan berisikan kabar saja tidak.

“Yoong, Gwanchana?” Tiffany yang duduk disebelah Yoona menepuk pundaknya. Membuat Yoona tersadar dari lamunannya. Ia tersenyum paksa, “Gwancahanayo,” jawabnya dengan suara serak, akibat beban pikiran yang belakangan ini terus bersarang di otaknya.

“Ya! Kalian berdua, jangan merusak suasana. Bersenang-senanglah untuk malam ini!” Eunhyuk menyahut dari kursi seberang. “Nde, kau tak boleh menunjukkan wajah seperti itu, Yoong. Jarang-jarang kita dapat berkumpul seperti ini.” Yuri yang duduk di sebelah Eunhyuk menimpali. Sementara Yoona hanya memberikan senyum tipis.

“Ya! Mana boleh bersedih seperti itu. Aku sudah menteraktir kalian untuk bersenang-senang jadi hargai sedikit pengeluaranku ini,” ujar Donghae tiba-tiba, menimbulkan suasana hangat diantara mereka. Yoona memanyunkan bibirnya, “Ne ne ne! Begitu saja diperhitungkan..” cibir Yoona pada Donghae, membuat mereka terkekeh. Setidaknya hal seperti ini dapat menjadi hiburan untuk Yoona.

“Ah~ Yoona-ya, seaindainya saja kau tidak buru-buru menerima Tuan Choi sebagai kekasihmu, mungkin sudah sejak lama aku mengajakmu berkencan..” suara Taecyeon dari meja seberang membuat Yoona mendelik lantas melemparkan kripik nachos ke wajah pria berwajah maskulin itu. Mengundang gelak tawa diantara mereka. Yoona tertawa renyah, ia tahu temannya itu—eum teman kekasih sahabatnya, lebih tepatnya—sedang bergurau. Malam ini Donghae memang tak hanya mengajak mereka berenam saja. Disana juga hadir Taecyeon dan Chansung yang merupakan teman satu fakultas dengan Nichkhun. Mereka tak membawa kekasih hanya teman wanita saja.

“Ya! Taecyeon-ssi, jangan macam-macam dengan Yoona kami!” Jessica angkat suara menanggapi gurauan Taecyeon. “Kau juga harus tahu kemampuan Ok Taecyeon dalam merayu wanita..” Chansung yang duduk didekat Taecyeon dan Nichkhun, turut membumbui. “Ye! Ok Taecyeon yang menangis karna putus cinta..” sahut Nichkhun yang sedari tadi memerhatikan mereka. Sontak pernyataan Nichkhn menjadi senjata untuk terus menggoda Taecyeon membuat pria itu tidak berkutik sama sekali.

Sementara yang lain asik bercanda gurau, Yoona melirik kembali jam dinding yang terpasang di sudut cafe. Gurat keresahan tergambar pada wajahnya. Kemana pria itu? sudah empat jam lamanya namun ia belum juga datang. Yoona menghela napas panjang. Memikirkan kekasihnya membuat kepalanya pusing.

“Kau mau kemana, Yoong?” suara Jessica sontak mengalihkan pandangan semua orang kearah Yoona. Gadis itu sudah berdiri dari sofa, tempatnya duduk. “Tadi Baekhyun mengirim pesan, katanya Eomma sudah pulang dari Busan. Jadi aku harus pulang sekarang..” bohong Yoona, memberikan senyumnya agar tak terkesan beralaskan.

“Kalau begitu biar ku antar.” Taecyeon sudah akan bersiap bangkit dari duduknya ketika Yoona mencegahnya, “Tidak perlu. Aku diantar Siwon Oppa.”

“Dia ada di luar? Kenapa tidak masuk? Kau bilang dia akan datang..” Donghae berkata dengan alis berkerut. Diam-diam Yoona menghela napas, benar yang orang katakan. Sekali kau berbohong maka kebohongan itu akan melahirkan banyak anak kebohongan. Yoona memaksakan senyumnya.

“Tadinya dia juga ingin masuk tapi aku sungguh buru-buru harus pulang jadi ku suruh dia menunggu di luar. Ah ya, kalau begitu aku pulang dulu. Semoga kalian menikmati acara bersenang-senangnya dan jangan merindukanku..” kata Yoona sedikit memberikan gurauan untuk mencairkan suasana. “Ya! Kau terlalu percaya diri nona Im.” Eunhyuk mencibir. Yoona hanya melambaikan tangan saja menaggapinya. Ia sudah keluar dari cafe, lagi-lagi gadis itu menghela napas.

Kakinya melangkah di jalanan setapak. Menyusuri trotoar dengan gelapnya malam. Kepalanya menunduk, kakinya terus berjalan entah kemana. Saat ini hatinya sedang kalut. Sampai ketika ia mendengar suara seseorang dengan nafas tersenggal. Yoona mendongak, menatap pria yang kini berjarak beberapa meter saja darinya tengah mengatur nafas dengan tangan bertumpu di lutut. “Apa sudah selesai..?” tanyannya setelah menegakan tubuh, masih dengan nafas terengah.

Mianhae, tadi cafe sangat ramai dan tadi juga tidak ada satupun taxi yang lewat. Jadi aku berlari dari cafe menuju kemari,” jelas Siwon berjalan mendekat kearah Yoona. Gadis itu memalingkan wajahnya, menutupi rasa kesal. Yah, dia cukup menghargai perjuangan Siwon sampai harus berlari tapi tetap saja ia merasa kesal. Pria itu tidak memberinya kabar, setidaknya ia bisa mengirim pesan. Tidak membiarkannya dalam pikiran yang kalut.

Siwon meraih tangan Yoona, “Kau marah, deer?” tanyanya lembut. Yoona menghempaskan begitu saja tangan Siwon. Dengan perasaan yang berkecambuk, ia berbalik hendak pergi meninggalkan pria itu. “Deer!” langkahnya terhenti mendegar panggilan itu. Yoona menghela napas berat, berharap bebean batin nya bisa keluar bersamaan dengan itu. Ia berbalik kembali menghadap Siwon.

Oppa…” suara Yoona sudah terdengar serak. “Aku lelah..” lirihnya kemudian. Siwon mengerutkan dahi, kurang mengerti dari arti kata itu. “Kau… tidak pernah mencintaiku kan?” pertanyaan Yoona membuat Siwon terhenyak. Gadis itu sedikit mengigit bibir bawahnya, berusaha menahan air mata yang siap keluar. Semuanya harus ia tuangkan saat ini juga. Ia sudah tak sanggup menahan rasa kesalnya, rasa marahnya yang tertimbun selama ini.

“Apa maksudmu, deer?” Siwon mencoba meraih tangan Yoona namun cepat-cepat ditepis oleh gadis itu. “Kenapa kau membohonngiku?” suaranya mulai meniggi. Matanya sudah memerah namun sekuat tenaga ia membendung air mata itu. Tidak! Dia tidak boleh menangis di depan pria ini.

“Sebenarnya apa yang kau bicarakan, Yoona? Berbohong? Berbohong apa?” Yoona memalingkan wajahnya dari Siwon, ia tersenyum meremehkan.

“Hentikan sandiwaramu, Oppa. Aku sudah muak dengan semua ini. Muak dengan topeng yang kau gunakan. Muak dengan cinta palsumu. Selama ini kau tak pernah benar-benar mencintaiku kan? Kau hanya bersandiwara di depanku kan? Aku tak habis pikir kenapa bisa kau menjalani semua ini. Menyiksa dirimu dengan berpura-pura mencintaiku. Tiap kali ku tanyakan apa alasanmu mencintaiku tidak pernah kau menjawabnya dengan sungguh-sungguh. Lalu bagaimana bisa aku yakin bahwa kau benar mencintaiku?” nadanya terdengar sinis namun bulir air mata itu telah jatuh dari pelupuk mata. Yoona segera menghapusnya. Ia benar-benar benci terlihat lemah di depan orang lain terlebih pria di depannya ini.

Deer, jika ini masalah alasan itu aku—“

“Sudah cukup!” teriak Yoona menutup kedua telinganya dengan telapak tangan. “Aku sungguh lelah dengan semua ini. Kenapa harus aku yang mengerti? Kenapa selalu aku yang harus mengerti dengan kehidupanmu, Oppa? Aku juga ingin seperti Tiffany yang bisa mengadu keluh kesahnya pada Nichkhun. Aku juga ingin seperti Jessica yang selalu tersenyum tiap kali Donghae menjemputnya. Aku juga ingin sepeti Yuri yang menceritakan kencan manisnya bersama Eunhyuk. Kenapa aku tidak bisa seperti mereka? Aku juga ingin menceritakan betapa kekasihku mencintaiku, tapi bagaimana aku akan menceritakannya jika alasan kekasihku mencintaiku saja aku tidak tahu…” bening kristal itu mengalir dengan derasnya. Dadanya sesak serasa ada himpitan kuat disana. Nafasnya terasa tercekat. Yoona mengigit kuat bibir bawahnya. Sekali lagi ia tegaskan pada dirinya sendiri untuk tidak menangis. Ia tak boleh lemah.

“Yoona—“

“Aku ingin mengakhiri semua ini…”

‘DEG!’

Siwon tercekat mendengar kalimat yang keluar dai mulut Yoona. Meski gadis itu berkata dengan kepala menunduk  dan sangat lirih hingga terdengar seperti bisikan namun kalimat itu bagaikan hantaman kuat untuk Siwon. Seolah ada jutaan pisau menghujani jantugnya. Begitu sakit, hatinya bahkan merasakan nyeri yang teramat. Tidak pernah terlintas dalam benaknya hal ini akan terjadi. Tidak pernah ia berfikiran Yoona akan mengambil keputusan sepihak begini.

Yoona memejamkan mata, mengepalkan tangannya. Berusaha mengumpulkan kekuatan untuk menatap mata Siwon. Ia menarik napas dalam, “Ku rasa ini yang terbaik untuk kita…” sekuat apapun Yoona menahan air mata itu namun pada akhirnya hanya kesia-siaan yang ia dapat. Bahkan untuk bernafas saja rasanya sulit sekali.

“Selamat tinggal…” tanpa memberi kesempatan Siwon berbicara, Yoona membalikkan badannya. Ia takut jika terlalu lama berdiri disana justru akan membuat pertahanannya roboh. Langkahnya berubah menjadi setengah berlari ketika air matanya tumpah ruah di luar kendali. Yoona menutup mulutnya dengan tangannya, menahan isakan. (You can playing now this song)

Siwon masih terdiam mematung di tempat. Tidak! Dia tidak diam saja membiarkan Yoona pergi, dia hanya terlalu shock. Dia hanya belum mampu sepenuhnya mencerna ucapan Yoona. Siwon dapat melihat kristal bening yang jatuh dari sudut mata Yoona. Ia pun tak kalah sedihnya. Tersayat oleh tajamnya pisau, tergores oleh sakitnya luka. Bagaikan terkikis oleh terjangnya ombak. Apa gadis itu benar-benar tidak mau mendengarkan penjelasannya?

Mendung itu pada akhirnya melahirkan titik titik luka membasahi bumi. Langit turut menangis menemani kepiluan dua insan yang tengah dilanda luka itu. Siwon menatap nanar pungngung Yoona yang telah menghilang. Air matanya menyatu dengan derasnya air langit.

Rasa sesak itu memaksakan keluar menimbulkan bulir bulir bening yang kian jatuh membasahi pipi. Yoona menangis, menangisi akan kata-kata terkutuk yang baru saja ia ucapkan pada pria yang sejujurnya amat dicintainya. Emosi tak terkendali memaksanya berucap yang tak seharusnya. Namun mau bagaimana lagi, nasi telah menjadi bubur. Gadis itu hanya dapat berlari, membawa serpihan luka yang terpupuk dalam jiwa.

Kilas kebersamaannya dengan Siwon hadir dalam benaknya. Bahagia saat berada disisi pria itu. Bahagia saat melihat senyum pria itu. Bahagia bahkan ketika ia harus menunggu pria itu menyelesaikan pekerjaannya. Semua begitu sakit untuk sekedar di ingat. Ia menangis tersedu-sedu.

Yoona menepuk keras dadanya. Merasakan nyeri yang menyerang dadanya. Mengapa cinta begitu menyakitkan? Mengapa harus ada rasa ego didalamnya. Mengapa cinta bersikap tak adil padanya? Bahkan pria itu tak mencoba untuk mengejarnya. Selama sepertsekian menit Yoona mengerang frustasi, menjerit meluapkan luka dalam hati.

Tanpa Yoona sadari dari seberang, sebuah mobil dengan kecepatan tinggi melaju kearahnya. Gadis itu menoleh ketika mendengar suara klakson mobil. Hanya dalam sepersekian detik kemudian terdengar hantaman keras ditengah derasnya hujan.

Tubuh Yoona terpental beberapa meter, membentur pohon besar kemudian mengguling di aspal. Darah segar mengucur deras dari tubuhnya. Gadis itu terbatuk, matanya sedikit buram terhalang oleh darah dari kepalanya. Entah bagaimana saat ini yang ada dalam pikirannya hanya Choi Siwon. “Ak…khu… uhukk… benar… telah berakhir…”

Mata Yoona kian berat untuk terbuka, perlahan mata itu mengatup. Menutup sebuah lembar luka dan membawanya entah kemana.

~FIN~

(Eits! Belum pemirsa! Masih ada lanjutannya kok hehehe… woles_woless😀 #ditipuk sendal)

 

Two Years Later~~

Di sebuah taman belakang rumah mewah nan megah. Duduk seorang gadis yang termangu. Pandangannya lurus kedepan namun tatapan itu hanyalah sebuah tatapan kosong. Dalam pangkuannya terdapat selembar kertas dan pensil. Putih kertas itu tergambar seekor burung kecil namun hanya separuh jadi. Sepertinya ia tengah melukis tapi karna objek lukisannya tak lagi berada di tempatnya, hasil lukisannyapun tak dapat terselesaikan. Sepoi angin membawa anak rambutnya ikut menari, bermain bersama angin musim semi.

Seorang wanita paruh baya berjalan mendekati gadis itu, tersenyum kemudian menyampirkan sebuah selimut ke pundak gadis itu. “Yoong, apa kau tak bosan disini terus? Kau tak kedinginan sayang?” tanya wanita paruh baya itu mensejajarakan tingginya dengan gadis tadi yang tengah duduk. Tak ada sahutan dari gadis itu. Hanya kebisuan dan tatapan kosong dari sorot matanya. Nyonya Im menatap sendu anak gadisnya itu.

Dua tahun yang lalu pasca kecelakaan yang menimpanya, Yoona berubah menjadi gadis pemurung. Yang ia kerjakan hanya melamun dan bicara seadanya. Kecelakaan yang merubah kehidupan Im Yoona. Kecelakaan mengakibatkan kakinya lumpuh total. Kecelakaan yang membuatnya terpuruk.

Hidup dalam kelumpuhan bukanlah perihal yang mudah. Memangnya siapa yang menginginkan dirinya cacat di usia yang masih muda. Kau tak lagi dapat berlari, kau tak lagi dapat berenang, kau tak lagi dapat berdiri tegak. Semua itu sungguh menyiksa.Yoona menganggap hidupnya tak lagi berharga. Setiap hari ia habiskan hanya untuk merenung-merenung dan merenung.

Ini bukan masalah karna ia cacat maka dijauhi oleh sahabat-sahabatnya. Bukan! Bukan itu. Justru ketiga sahabatnya kerap kali mengunjunginya. Mereka tetaplah sahabat terbaik Yoona. Mereka juga sering memberikan Yoona support untuk tetap semangat menjalani hidup. Hanya saja semua itu justru semakin membuat Yoona terpuruk. Ia merasa menjadi orang yang tidak berguna. Hanya dapat merepotkan orang lain. Ia benci keadan ini. Ia benci pada takdir ini.

Chagi-ya, hari sudah semakin gelap. Kita masuk ya?” Nyonya Im mengajak putrinya itu agar segera beranjak kedalam rumah. Sepertinya senja akan bergantikan bulan.

“Biarkan aku lebih lama disini, Eomma.” Yoona bersuara pelan. Nyonya Im menghela napas sejenak, “Baiklah, tapi jangan lama-lama. Nanti kau sakit,” kata Nyonya Im memperingati. Dengan berat Nyonya Im meninggalkan Yoona yang masih setia pada posisinya.

Kicauan burung mengarahkan pandangan Yoona pada senja langit Seoul. Tak sengaja pensilnya terjatuh. Yoona menunduk hendak mengambil pensil itu namun sebuah tangan telah mendahuluinya. Ketika mendongak, gadis itu terperanjat melihat siapa gerangan yang mengambil pensilnya.

Pria itu mensejajarkan tingginya dengan berjongkok di dekat Yoona. “Apa kabar?” tanyanya membuka percakapan. Yoona tak lantas menjawab. Gadis itu memilih untuk bungkam. Pria itu menghela napas kemudian menatap awan jingga. “Bukankah senja itu sangat indah? Warnanya me—“

“Untuk apa kau datang kemari?” potong Yoona dengan nada ketus.

“Aku ingin menemui kekasihku,” jawabnya memandang kearah Yoona. Gadis itu tersenyum meremehkan. “Setelah menghilang dua tahun tanpa kabar lalu kau datang dan seenaknya saja mengatakan aku kekasihmu? Atas dasar apa kau bicara seperti itu?”

Yoona memutar kursi rodanya meninggalkan Siwon. Ia sudah terlanjur kesal pada pria itu. Kemana pria itu selama dua tahun ia membutuhkannya? Bahkan untuk memberi kabar saja tidak pernah. Dan sejujurnya ia memang tidak dapat membenci pria itu. Jelas ia masih mencintai Siwon hanya saja rasa ego masih menguasai hatinya. Terlebih mengingat kejadian terakhir kali pertemuannya dengan Siwon. Ia masih belum mendapat kejelasan yang logis atas sikap Siwon.

Siwon menatap nanar kepergian Yoona. “Tidak bisakah kau mendengar penjelasanku, deer?”

Hari hari berikutnya Siwon selalu mengunjungi Yoona. Acap kali mencoba untuk bicara pada gadis itu alih-alih Yoona malah terus saja menghindar. Gadis itu tak pernah mau menemui Siwon. Ia terlalu sakit jika harus melihat wajah Siwon. Bukan karna apa tapi ini mengenai ketidak sempurnaanya. Karna ia cacat.

Sore itu Yoona kembali merenung di taman belakang rumahnya. Ia memejamkan mata, menghirup dalam angin musim semi yang sebentar lagi akan berganti angin musim panas.

“Penghujung musim semi yang hangat.” Yoona membuka matanya lantas menoleh kesamping. Siwon telah duduk di atas rerumputan, memeluk lututnya sambil menghirup hembusan angin musim semi. Tak ada sahutan dari Yoona. Seperti biasa, gadis itu memalingkan wajahnya dari Siwon.

“Apa kau tahu mengapa dua tahun ini aku tak bisa mengunjungimu?” Siwon berkata tanpa menoleh. Ia tak peduli Yoona akan meresponya ataupun mendengarkan alasannya, yang pasti ia ingin mengutarakan perihal ia menghilang dua tahun belakangan ini.

“Dua bulan yang lalu aku baru saja keluar dari rumah sakit setelah mengalami koma selama satu tahun lamanya. Kau ingat terakhir kali pertemuan kita? Jika kau menganggap aku tidak mengejarmu maka kau salah besar. Saat itu aku benar-benar mengejarmu. Aku tidak mau kehilangan cintaku. Aku masih ingin mempertahankannya. Namun dewi fortuna sepertinya belum berbaik hati padaku. Malam itu di tengah derasnya hujan ketika mengejarmu. Entahlah, aku tidak tahu detail kejadiannya. Yang aku rasakan hanya benturan keras di kepalaku karna sebuah mobil yang menabrakku. Dan akibat benturan itu mengakibatkanku koma.” Siwon menghentikan ceritanya. Ia menunduk, setidaknya ia sudah menjelaskan kejadian sebenarnya pada gadis ini.

Yoona yang sedari tadi mendengarkan cerita Siwon mendadak diselubungi rasa bersalah. Bagaimana tidak, selama ini ia pikir Siwon menghilang karna telah mengetahui bahwa ia cacat. Sesaat aliran darahnya mendesir, jantungnya berpacu tatkala Siwon telah berjongkok di depannya sambil mengenggam tangannya. Sorot mata itu tak pernah berubah dari dulu. Menyirakan sebuah kasih sayang.

“Dulu kau selalu bertanya apa alasanku menyukaimu. Sekarang aku akan menjawabnya..” kata Siwon menatap dalam mata Yoona. “Jika kau bertanya apa yang membuatku menyukaimu maka aku akan menjawabnya dengan….” Yoona menunggu kalimat yang akan Siwon katakan. “Aku tidak tahu…” Yoona mengernyit. Apa maksudnya dengan kata tidak tahu itu?

“Aku tidak menemukan sebuah alasan menyukaimu bahkan mencintaimu.”

“Apa? Bagaimana mungkin…” Yoona setengah tak percaya. Hal konyol macam apa yang dikatakan Siwon.

Deer, dengar! Jika aku mengatakan mencintaimu tanpa alasan bukan berarti aku tidak benar-benar mencintaimu. Aku mencintaimu. Di dasar hatiku aku menyakini bahwa aku mencintaimu..”

“Jika aku mengatakan mencintaimu karna kau cantik maka ketika wajah itu telah keriput dan menua, aku tak lagi memiliki sebuah alasan untuk mencintaimu. Jika aku mengatakan mencintaimu karna kau pandai bernyanyi maka ketika suaramu tak lagi indah cintaku pun takkan seindah suaramu sebelumnya. Jika aku mengatakan mencintaimu karna kau pandai menari dan berenang lalu bagaimana sekarang? Lantas haruskah aku masih dapat mencintaimu tanpa alasan yang kuberikan? Cinta tak membutuhkan alasan mengapa harus mencintai. Cinta tak harus memiliki syarat untuk saling mencintai. Aku mencintaimu, deer. Tidak memerlukan alasan ataupun syarat. Dan rasa ini tak pernah berubah. Dari dulu hingga sekarang bahkan untuk selamanya aku dapat menjamin cinta ini hanya untukmu. Apa kau sudah mengerti, sayang?” mata sendu berpadukan dengan nada lembut Siwon membuat Yoona terhanyut kedalamnya.

Yoona tak dapat berkata apa-apa. Matanya telah berkaca-kaca. Haru serasa menyelubungi hati. Bagaimana bisa ia berpikiran negatif tentang pria ini? Bagaimana bisa ia beranggapan buruk, dengan salah mengartika cinta Siwon selama ini. Dan betapa mata itu menyiratkan ketulusan cinta. Betapa bodohnya ia selama ini yang telah buta akan emosinya sesaat.

“Tapi… aku cacat. Aku hanyalah gadis berkursi roda yang tidak bisa melakukan apa-apa, Oppa. Aku cacat!” Yoona terisak. Bulir cairan bening itu telah menderas membasahi pipi. Ia berusaha meyakinkan Siwon bahwa dirinya bukanlah Yoona yang dulu lagi. Bukan Yoona yang dicintainya lagi. Dan berusaha menyakinkan dirinya bahwa cinta itu hanya sebuah harapan baginya.

Siwon menangkup wajah Yoona. Ibu jarinya menyeka lembut air mata Yoona. “Tatap aku Im Yoona..” katanya masih dengan nada lembut, teratur. Yoona mendongakkan kepalanya. Dari balik air matanya ia dapat menangkap sorot mata Siwon.

“Apa mataku tak cukup mampu membuatmu percaya akan cintaku?”

“Tapi..”

Siwon menempelkan telunjukknya di bibir Yoona, mencegah ucapan gadis itu. Pria itu kemudian mencium pucuk hidung Yoona. “Aku mencintaimu, deer. Tidak peduli sebagaimana keadaanmu. Tidak ada syarat dalam cinta. Yang ada hanyalah kepercayaan saling mencintai. Karna disini…” Siwon menunjuk dada Yoona, “Aku menemukan hatiku, cintaku.”

Yoona tidak tahu akan menampik seperti apalagi. Hanya suara isakan yang semakin keras. Ia menangisi akan kebodohannya. Ia menangisi ketidak pekaannya terhadap cinta Siwon.

Uljimayo chagi-ya..” sekali lagi pria itu menyeka air mata Yoona. Membuat gadis itu kembali menatap mata gelap Siwon. Yoona mencintai Pria ini. Yoona sangat mencintai Siwon. Dan begitu kebahagiaan itu manghampirinya, Yoona tidak dapat mengendalikan diri untuk tidak memeluk Siwon, menghambur dalam dekapan pria ini. Bahkan saking bahagianya pelukan itu membuat tubuh mereka terhempas ke tanah.

Siwon tidak marah, Siwon tidak kesakitan. Senyum rekah tersungging di bibirnya. Ia mengelus punggung Yoona, membiarkan gadisnya menangis—untuk kali ini saja, yah dan untuk meluapkan bahagianya.

Hari ini menjadikan sebuah pelajaran untuk Im Yoona. Gadis belia yang temperament, gadis belia yang masih buta akan cinta, gadis belia yang selalu mengeluh menginginkan bahagia seperti orang lain.

Ah, tidak! Tidak! Dia bukan gadis belia temperament, dia hanya butuh banyak belajar arti cinta dari Siwon. Dia bukan gadis belia yang masih buta akan cinta, dia hanya butuh Siwon untuk menuntunnya dalam bahtera cinta. Dia bukan gadis belia yang selalu mengeluh, ini sebuah pilihan. Dia hanya terkadang lelah, butuh pengertian.

~[]~

 

Yoona mendorong kursi rodanya menuju ruang tamu. Ibunya bilang malam ini Siwon datang berkunjung. Alisnya berkerut ketika tiba-tiba saja Siwon meminta izin pada kedua orangtuanya untuk membawanya keluar sebentar.

Oppa, kita akan kemana?” tanya Yoona ditujukan pada pria disampingnya yang masih fokus menyetir. Siwon menoleh kemudian memberikan senyum hangatnya, “Ke sebuah tempat…” hanya itu jawabannya. Yoona tak akan banyak bertanya lagi. Ia tak akan banyak bicara. Ia hanya akan menuruti kemana pria ini akan membawanya.

Mereka sampai. Di sebuah taman dengan air mancur di tengahnya. Siwon mendorong kursi roda Yoona, menuju pada air mancur itu. Siwon menghentikan langkahnya. Ia meraih kaki Yoona dan tubuh gadis itu, membawanya dalam gendongan. “Oppa, apa yang kau lakukan? Disana ada jalan untuk kursi rodaku. Kau tak perlu sampai menggendongku..” Yoona masih akan protes ketika Siwon memotongnya. “Aku hanya ingin memanjakan gadisku,” katanya lalu tersenyum. Senyum yang selalu Yoona sukai, senyum lesung pipit.

Siwon mendudukkan Yoona pada sebuah bangku taman, “Sebentar biar ku ambil kursi rodamu..” katanya kemudian berlari meninggalkan Yoona. Gadis itu tersenyum kecil, melihat bagaimana kekasihnya itu memerlakukan dirinya.

Siwon telah kembali dengan membawa kursi roda Yoona. Ia kembali mendudukkan Yoona disana kemudian mendorongnya. Berjalan mengitari air macur itu.

Yoona terperanjat tatkala menyaksikan sebuah pemandangan manis di balik air mancur tadi. Siwon tahu gadis itu akan menyukainya, ia tersenyum senang. Terdapat sebuah meja bundar berukuran sedang dengan dua kursi di dekatnya. Ada sebuah lilin dan bunga mawar cantik di atas meja bundar itu. Tak lupa tersaji makanan dan minuman, cukup untuk kesan romantis pada tatanan meja itu.

“Kau suka?” bisik Siwon tepat di telinga Yoona. Gadis itu hanya mengangguk, tidak tahu akan bicara apa.

Suara gesekan biola mengalun mengiringi malam yang tak berbintang namun berderai menjadi romantis bagi Yoona. “Oppa, apa kau yang menyiapkan semua ini? Tanya Yoona pada Siwon yang duduk di kursi seberang. Pria itu tersenyum, ia senang melihat gadisnya menatap dengan pandangan seperti itu. Berlukiskan bahagia dari sorot matanya.

“Apa kau menyukainya, deer?”

“Tentu saja aku menyukainya, Oppa. Ini…. indah dan…. romantis.” Yoona membangembangkan senyum terbaiknya. Ia terhanyut akan alunan biola yang terkesan begitu melankolis.

Siwon berdiri dari duduknya, berjalan menghampiri Yoona. Begitu sampai di hadapan Yoona pria itu menekuk lututnya, berlutut di depan Yoona. Siwon merogoh saku celananya kemudian mengeluarkan kotak beludru merah. Sebuah cincin dengan batu sapphire di tengannya, duduk dalam sinnggasanahnya pada kotak kecil itu.

“Im Yoona, Would you marry me?” tanya Siwon menatap lembut mata gadisnya.

Yoona terkesiap. Untuk yang kesekian kalinya pria ini berhasil membuat debaran kuat pada jantungnya. Berhasil membuatnya terkesiap akan segala perlakuannya. Gesekan biola yang masih mengalun, mengiringi tiap jengkal napasnya. Yoona belum mempercayai semua ini. Siwon melemarnya?

Deer…” panggilan lembut itu menyadarkan Yoona bahwa ini nyata. Ini benar adanya. Maka dengan perasaan bahagia yang telah memuncak gadis itu menganggukkan kepala, “Yes I do, Oppa,” jawabnya diiringi bulir kristal bening yang jatuh dari pelupuk mata. Siwon tidak lagi dapat menyembunyikan senyum bahagia itu. Yoona semakin menitikan air mata ketika Siwon menyematkan cincin indah itu pada jari manisnya.

Siwon meraih wajah Yoona, menghapus genangan air mata itu kemudian mencium tiap inch wajah gadisnya. Dimulai dari kening Yoona. Ia menciumnya penuh kasih lalu beranjak pada kedua mata Yoona yang terpejam. Hidung Yoona, kedua pipi Yoona dan bibir merah Yoona.

Ada perasaan memuncak dalam hati Yoona. Ia bahagia, Siwon adalah cinta pertama dan akan menjadi cinta terakhirnya. Ia beruntung, pria ini tidak pernah sedikitpun menyakitinya, pria ini tulus mencintainya. Dan perasaan bahagia itu semakin menculak ketika Siwon semakin memperdalam ciumannya. Menyampaikan cinta yang dapat Yoona rasakan.

Mencintai tanpa sebuah alasan? Terdengar konyol memang. Namun inilah cinta, kawan. Bahkan hal-hal yang tidak logis pun dapat berubah menjadi sah-sah saja jika itu mengenai cinta. Cinta tidak akan menodaimu jika kau tak lebih dulu menodainya. Karna cinta adalah sebuah ketulusan. Berpasirkan salju, berukirkan putih suci.

~THE END~

 

Yeye lalala… yeye lalala…*goyangin butt bareng KyuMin* Nurul bikin Happy Ending!!^^ *tiup teomper/sumet petasan/bakar kembang api #duorr! duorr! #elpiji meledak #plak!

Hohoho… bagaimana? Apa ini kurang sweet? Apa terlalu bertele-tele? Membosankan? I know! Maaf karna ini jauh dari harapan. Akupun merasakan kebosanan dan gak bisa ngena ‘feel’ dalam epep ini. Entahlah, padahal epep ini sebenarnya sudah ku buat jauh sebelum Roman Picisan yang super duper ancur itu. Dan ternyata ini juuuuuuuuh lebih ancur amburadul kaga karu-karuan-_- maaf sekali jika kalian kecewa dengan epep ini. Ini juga udah ku tulis ulang padahal udah 24 page Microsoft Words tapi ketika ku baca ulang kok jadinya terkesan monoton dan gak banget makanya ku tulis ulang. Tapi nyatanya hasilnya sama aja. Kalo disuruh tulis ulang lagi ohh~ bakal tambah ancur jadinya.

Jujur saja saya semenjak selesai UN malah kena writer’s block T^T inspirasi mampet semampet idung saya sekarang ini. Biasanya tuh dapet inspirasi waktu pelajaran Sastra atau enggak pas ngerjain rumus matematika, lah sekarang udah gak diajar lagi ama guru2 killer itu-_- jadi yah gini. Ide mentok, inspirasi kandas, hasil semerawut. Mianhae!

Oh ya, tentang permintaan sequel Roman Picisan sedang saya pertimbangkan. Tapi saya tak dapat menjanjikannya😀 sebenarnya saya itu tipekal orang yang moody, saya paling anti—eum bukan anti sih tapi paling gak bisa ama yang namanya SEQUEL dan REQUEST. Wae? I write because i want, not to amaze people. Menulis bukan karena karena karena ada paksaan atau mengikuti kemauan orang lain. Tapi menulis karna aku ingin. Menuangkan/membagi imajenasiku yang abstrak bin gaje binti ancur gak ketulungan—dalam sebuah prosa berbentuk Fanfic. Well, aku bukan orang naif yang gak mengharap komentar kalian terkait dengan cerita yang ku buat. Aku orang yang haus akan pujian tapi tidak pernah menutup telinga dengan segala kritikan. Sejelek apapun itu, setidak mengenakan apapun kritikan itu aku tetap akan menerimanya. Tidak akan ada karya yang bagus tanpa adanya kritik dan saran.

Oke, Tidak berekspektasi tinggi. Yeah~ walau fic ini jauh dari kata bagus tapi boleh dong yah minta komentar mengenai epep ini^^ aku tahu masih banyak SIDERS yg merajalela[?] terlebih dengan short story seperti ini, yg langsung tamat dan terkadang bikin males tinggalin jejak. Well, aku hanya dapat berdoa semoga kalian-kalian yg merasa masih menjadi SILENT READERS dpt segera mengakhiri profesi kalian. Percayalah bahwa hukum karma itu masih berlaku^^

Fine, saya terlalu banyak bacot*baru nyadar nurul??* hihii.. terimakasih untuk kalian GOOD READERS pertahankan gelar kalian, dear^^ aku selalu membaca siapa2 saja yg menjadi readers epep ku. Dan aku sangat salut pada kalian yg tidak menilai cerita hanya dari Endingnya saja. Kalian bisa menangkap pesan moral dalam epep ku sebelumnya^^ Terimakasih~ *BOW aku tahu itu butuh kelapangan hati dlm membacanya. Dan kalian yg terbaik^^

Sampai disini dulu. Dan doakan saja semoga aku dpt inspirasi dan masih mau tulis menulis lagi hihiii😀 LOVE YA!! :*

Tinggalkan komentar

139 Komentar

  1. Aigoo… gak nyangka ternyata kecelakaan yang dialami yoongie itu membuatnya lumpuh ;'( dan dihari itu juga ternyata wonppa juga kecelakaan, aisshhh YoonWon kasihan sekali eoh tp untunglah eonn bikin akhirannya happy ending🙂

    Good job eonn…

    Balas
  2. sari

     /  Februari 10, 2014

    Romantis bgt…happy ending.

    Balas
  3. ayu dian pratiwi

     /  Maret 31, 2014

    happy ending yg manis

    Balas
  4. Kim Eun Kyo

     /  April 11, 2014

    Ahhhh DAEBAKKK bangettt

    Balas
  5. Any

     /  Mei 16, 2014

    yahhh,, aku juga membutuhkan seseorang seperti siwon yg mau menerima segala kekuranganku..ceritanya bagus.

    Balas
  6. simoppa

     /  Juni 1, 2014

    darbakk ini seru banget… romantissss omoooooo ^^

    Balas
  7. salut deh dengan kakak!!! … menghargai banget usaha kakak ! walaupun pusing ngerjain nya tapi pasti selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk para readers … thank you !!! dan untuk ff nya ini bagus … kakak aja yg terlalu merendahkan diri dan nggak papa kok aku ngerti bagaimana perjuangan kakak !!! semangat !!! dan semoga menjadi semakin kreatif lagi….

    Balas
  8. kak klu bisa nanti kalau publis ff jgn kelamaan yah !!! gimana aku setiap hari mengunjungi web ini untuk memeriksa mungkin ada ff terbaru nggak !!! menunggunya sampe lumutan hehehe ….

    Balas
  9. ayu

     /  September 24, 2014

    kirain ending nya bakal sad . suka”

    Balas
  10. Choi Han Ki

     /  Oktober 20, 2014

    Ternyata malah itu yoonwon sama2 mengalami kecelakaan toh.. Yoona lumpuh dah siwon koma..😦

    Balas
  11. Tadinya sempat aneh baca FF ini
    aku pikir jln ceritanya berhenti di tengah jln eh gk taunya ada lanjutannya, sumpah ni FF benar2 di bikin kejutan. Endingnya sangat memuaskan, FF nya benar2 daebak jln ceritanya bgs2 bgt

    Balas
  12. yoong407

     /  Januari 4, 2015

    Wahh udah deg2an bacanyaa, finally happy end yeayyy!🎉🎉 ditunggu ff lainnya unn

    Balas
  13. Aku suka banget kata2 di paragraf trakhir, indah banget. “mencintai tanpa sebuah alasan” bukan hal yg konyol menurutku krn cinta berasal dari hati bukan berasal dari pemikiran jd cinta tdk butuh alasan tp butuh pengertian dan kepercayaan. Right?
    Daebak nurul eonni…. Semoga bisa membuat FF yg indah lg ya…

    Balas
  14. Kim eun ah

     /  Mei 2, 2015

    Ya ampun Wonpa romantis bingo😀

    Balas
  15. Cha'chaicha

     /  Mei 5, 2015

    Keren, kata”nya bgs…

    Balas
  16. Riissa Icca

     /  Mei 15, 2015

    wowww wowww woww good job author😀
    tadinya mau marah kirain abis nya pas yoona di tabrak ternyata masih ada lanjutannya hehehe
    hmm gak tau harus koment apa lagi , yang penting kami para readers senang baca nya🙂
    dan aku suka kata2nya , Cinta memang tidak butuh alasan🙂
    Jika cinta sejati mempunyai alasan , dengan alasan tersebut juga dia akan meninggalkan kita🙂

    Balas
  17. ayana

     /  Agustus 13, 2016

    aigooo…
    seneng semua berakhir happy. sebenernya udah sempet mikir kalo bakalan sad end, karna yoona yang kecelakaan dan lumpuh.
    nich ff bikin melting banget, mellow abis. istilah kekinian bikin jadi drama quend.
    good job, ditunggu karyamu yang lain thor.

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: