[FF] Y Saranghae (Chapter 13 – Time Machine – END)

ys

[FF] Y Saranghae (Chapter 13 – Time Machine – END)

Title : Y Saranghae – Time Machine

Type : Sequel

Author : Choi Hyun Mi/Twitter: @Nita_Rahayu22

Main Cast : Choi Siwon, Im Yoon Ah, Lee Donghae

Other Cast : Kwon Yuri, Cho Kyuhyun, Etc……

Genre: Romance , Sad,

Rating : PG 15+

Backsound: Time Machine By SNSD

Aku berada diruangan ini hanya sendiri, walaupun biasanya tidak seperti ini

“ini sudahlah berakhir, tebaklah ini telah berakhir”

Sebuah kesalahan, memperoleh sebuah penyesalan

“Tidak ada seorang pun yang sempurna”

Walau ku mencoba berkata seperti itu pada diriku sendiri

Dan apapun yang kulakukan tidak akan menyembuhkan luka dihati

Bila Mesin Waktu dapat ku naiki saat ini

Aku akan pergi menemui dirimu

Andai Saja ku bisa melakukannya

Ku takkan meminta apapun lagi

Sebelum kenangan kita berlalu begitu saja

Aku butuh Mesin Waktu

Aku butuh Mesih Waktu

Hari-hari yang menemani kesendirianku berlalu begitu lambat

Namun hukuman dari kesalahan ini terasa amat begitu berat

Kata-kata terakhir yang kau ucapkan sebelum kau pergi

Saat ini masih terulang-ulang dibenakku, hatiku masih tetap saja sakit

Hanya sebuah kesalahan, Hanya sebuah Penyesalan

Dengan egoisnya ku masih mencintaimu

Andai saja ku bisa melampaui waktu dan berjumpa denganmu lagi

“Bila saja sama”

Jika Kita memiliki pemecahan masalah yang sama (dalam kejadian ini),

Maka pastilah tidak akan ada penyesalan-penyesalan lagi

[[]]

Y Saranghae – Time Machine

Suasana berkabung terlihat di kediaman Ny Lee, rumah mungil nun sederhana itu telah di datangi banyak pelayat yang ingin memberikan penghormatan untuk terakhir kalinya pada sosok Lee Donghae yang telah di panggil yang Sang Maha Pencipta ke sisi-Nya.

Puluhan rangkaian bunga sebagai ungkapan bela sungkawa telah memadati pekarangan rumah yang tak terlalu luas itu, ini menandakan betapa kehilangannya meraka akan kepergian sosok Lee Donghae.

“Sonsengnim…..sonsengnim….”

Jeritan di sertai isak tangis terdengar di dalam ruangan di mana jenazah Donghae berada, anak kecil berusia 9 tahun itu meronta-ronta ingin memeluk sang guru yang bersahaja untuk yang terakhir kalinya, namun sayang sang ibu mencegahnya.

“Sonsengnim sudah pergi biarkan dia tenang di sisi-Nya..”

“ANDWAE….sonsengnim jangan tinggalkan aku…..” jeritnya lagi. Akhirnya sang ibu membawa anaknya keluar.

Ny Lee mengusap buliran air mata di wajah sayunya, wanita paruh baya ini akhirnya harus merasakan lagi kehilangan sosok yang sangat di cintainya, setelah sebelumnya dia kehilangan sang suami tercinta yang sudah terlebih dahulu pergi menghadap Sang Maha Kuasa.

Changmin, dan Sungmin juga terisak di sebelah Ny Lee. Sedih, sekaligus tak percaya jika Donghae akan pergi secepat itu. Begitu pula dengan Dokter Jung, menangis sedih sekaligus kehilangan sosok Donghae yang sudah ia anggap sebagai putranya sendiri yang dari awal sudah bertekad akan menyelamatkan Donghae dari ganasnya kanker. Namun, takdir berkata lain ternyata Donghae harus pergi.

“Maafkan aku Tae Jun, aku tak bisa menyelamatkan putra mu…” ucap Dokter Jung pelan lalu di susul dengan keluarnya air mata dari kedua sudut matanya.

 

[[]]

Yoona menyentuh wajah Donghae secara perlahan, wajah yang terlihat sendu namun kini berubah pucat tapi tak mengurangi ketampanan sosok Donghae di mata Yoona. Ini adalah terakhir kalinya Yoona melihat wajah Donghae sebelum peti kembali di tutup.

Isakan kecil mulai terdengar dari bibir Yoona saat kembali dia mengingat kebaikan Donghae padanya, serta kesalahan yang pernah ia lakukan pada Donghae di masa lalu. Semua itu membuat derai air mata Yoona benar-benar tak terkendali.

“Oppa…maafkan aku…sungguh aku benar-benar minta maaf…” bisik Yoona di telinga Donghae, seakan Donghae bisa mendengar.

“Tenanglah di sisi-Nya, aku mencintai mu…” ucap Yoona kembali terisak. Di kecupnya pipi Donghae. Kembali butiran-butiran krystal itu jatuh tak terkendali membasahi pipinya. Rasa kehilangan, rasa penyesalan, serta rasa bersalah kini membelenggu batin Yoona. Tapi, itu semua sudah berakhir. Donghae, Dia sudah pergi.

[[]]

Siwon POV

Ku langkahkan kaki ini memasuki pekarangan rumah yang penuh dengan rangkaian bunga sebagai ucapan bela sungkawa, banyaknya rangkaian bunga tersebut menunjukan jika sosok Donghae memang orang yang bersahaja. Semua orang merasa kehilangannya, begitu juga aku. Senyumannya yang hangat, matanya yang selalu terlihat berbinar, itu semua masih jelas ku ingat. Tapi ternyata tanpa ku sadari di balik senyuman itu, dia menderita. Mungkin dia orang terbodoh yang ku kenal di dunia ini, aku benar-benar tak mengerti bagaimana cara berpikirnya. Sehingga dia menyembunyikan semua ini dari semua orang. Tersenyum di balik luka yang ia derita. Donghae kenapa kau lakukan ini?

Aku berlutut di depan peti jenazahnya, ku lihat dirinya di dalam foto. Dia tersenyum, senyuman yang selalu dia tunjukan pada ku. Seandainya aku mempunyai mesin waktu, aku ingin kembali di saat aku berbincang dengannya. Aku ingin kembali di saat aku masih bisa merasakan tepukan tangannya yang hangat di pundak ku, lalu sikapnya yang terlalu baik pada ku.

Kini aku sadar, Bukan Donghae yang bodoh, tapi ku. Aku yang tak menyadari keanehan pada dirinya selama ini. Aku yang terlalu mementingkan diri ku dan perasaan ku pada Yoona, aku tak pernah melihat Donghae yang menyembunyikan penderitaan di balik sikap baiknya.

“Jika kau tahu jika selama ini aku berusaha merebut Yoona dari mu, apa kau akan tetap menganggap ku sebagai saudara mu Donghae-yaa? Aku menyadari kata maaf saja, tak akan bisa merubah semuanya. Tapi aku berjanji aku akan menjaga bibi untuk mu, aku akan menjaganya. Selamat jalan saudaraku, tenanglah disisi-Nya”

Tak bisa ku tahan air mata ini, aku tertunduk. Menangisi kepergiannya, meskipun aku tahu tangisan ku tak bisa membuatnya kembali. Biarlah ini ku lakukan, aku ingin menghukum diriku. Diriku yang terlalu bodoh, diriku yang begitu egois. Dan diriku yang begitu jahat.

[[]]

Author POV

Puluhan orang mengantar Donghae ke tempat peristirahatan terakhirnya, rekan kerja, sahabat terdekat, orang-orang yang pernah kenal dengannya, atau pun para muridnya semuanya mengantar ke pemakaman. Semuanya sangat kehilangan sosok Donghae, bagaimana tidak. Kini mereka tak akan bisa lagi bertemu dengan pria itu, tak bisa lagi melihat senyum yang merakah di wajahnya, tawanya yang renyah saat bercanda, serta tak terlupakan pribadinya yang menyenangkan dan bersaja kepada siapa pun. Meski pun Donghae telah pergi untuk selamanya, tapi kebaikannya akan tetap di kenang oleh orang-orang yang pernah dekat dengannya.

[[]]

Ny Lee menutup mulutnya agar tak terisak saat peti jenazah di masukan ke liang lahat, tak pernah ia bayangkan sebelumnya akan mengalami kejadian ini untuk kedua kalinya, kehilangan sosok suami saja membuat Ny Lee begitu rapuh, namun karena Donghae-lah dia bertahan. Tapi, sekarang justru Donghae pergi. Bagaimana bisa Ny Lee mampu bertahan hidup setelah ini? Sementara penyemangat hidupnya, putra tercintainya, putra kebanggaannya  juga telah menyusul sang suami.

“Donghae-ahh…Donghae-ahh jangan tinggalkan ibu….” lirih Ny Lee penuh kepedihan di setiap untaian kata yang keluar dari bibir pucatnya.

Tak jauh berbeda dengan Ny Lee,  Yoona menyembunyikan wajahnya di bahu Ny Jung. Setelah ini Yoona menyadari, dia tak akan pernah melihat Donghae lagi untuk selamanya. Dia tak akan pernah lagi merasakan hangatnya sikap Donghae untuk selamanya, dia tak akan pernah lagi melihat senyum yang selalu tersungging di wajah sendu Donghae untuk selamanya. Yoona memang pernah di tinggalkan Siwon sebelumnya, saat pergi ke Jerman tanpa berpamitan padanya. Tapi sepertinya di tinggalkan Donghae lebih sakit dari apa pun, karena selain merasa kehilangan Yoona pun harus menanggung rasa bersalah pada Donghae.

[[]]

Langit mendung, awan hitam mulai mengkungkung bumi Seoul. Pagi duka ini menjadi lebih terasa sakit dengan turunnya hujan ke bumi, langit seakan mengetahui jika bumi telah kehilangan seseorang yang bersahaja, terbukti sekarang langit menangis. Menumpahkan rintik-rintik hujan di dedaunan kering, membasahi tanah yang masih terdapat sisa-sisa salju. Serta membasahi sebuah pusara tempat dimana Donghae di istirahatkan.

Siwon masih bertahan, berdiri di tengah-tengar hujan yang kian deras turun dari langit. Air matanya bercampur dengan air hujan yang membasi wajahnya, namun matanya yang merah tetap tak bisa ia sembunyikan.

Siwon berjongkok di depan pusara Donghae, meletakan bouquet bunga yang sejak tadi di genggamnya. Sebouquet Bunga lili yang sudah basah kuyup.

Kepergian Donghae membuat Siwon merasakan bagaimana sakitnya di tinggalkan, bukan hanya itu saja. Siwon semakin sakit tak kala mengenang semua masa lalunya saat bersama Donghae. Meskipun hanya sesaat, tapi semuanya itu membekas di memorinya.

Seseorang tiba-tiba berdiri di samping Siwon, memberikan payung hitamnya untuk melindungi Siwon dari derasnya hujan yang semakin lebat. Siwon menoleh, melihat sosok Changmin yang berdiri.

“Changmin apa yang harus ku lakukan sekarang, bahkan untuk berdiri pun aku sungguh tak bisa. Kenapa Donghae melakukan ini pada ku…” Siwon kembali menunduk menyembunyikan air matanya, meskipun sebenarnya air matanya sudah tersembunyi di balik air hujan.

“Yang harus kau lakukan adalah menjaga kepercayaan Donghae terhadap mu, sekarang ayo pulang” Changmin membantu Siwon untuk berdiri. Changmin memang terlihat lebih tegar di banding Siwon, dia berusaha menerima kenyataan meskipun tetap hati kecilnya merasakan kehilangan Donghae.

Perlahan Siwon meninggalkan tempat pemakaman dengan jalan tertatih di bantu Changmin, berjalan di tengah derasnya hujan.

[[]]

Yoona POV

Aku berdiri di kamar ini, kamar sederhana yang terasa hangat. Kamar ini sama seperti pemiliknya, yang sederhana serta penuh kehangatan. Ku lihat dinding kamar ini, terdapat beberapa foto pernikahan kami. Hati ku kembali sakit melihat senyumannya. Dia tersenyum berpura-pura bahagia menyembunyikan semuanya. Seharusnya aku tahu apa arti senyumannya itu, tapi aku terlalu bodoh.

Ku lihat lagi sekeliling kamar ini, aku seperti melihat sebuah film yang kembali di putar. Aku melihat dia keluar dari kamar mandi dengan wajah pucat pasi. Saat itu aku tak menyangka jika wajahnya yang pucat karena menahan rasa sakit yang ia tahan di depan ku. Namun, seperti biasa dia tersenyum untuk menyembunyikannya.

Lalu aku beralih ke sudut lainnya. Bayangannya ku lihat tengah melukis di dekat jendela, setiap pagi dia selalu melakukan itu hanya untuk melukis mentari yang baru merangkak naik. Kembali ku alihkan pandangan ku, kali ini di ranjang. Ku lihat dia membangunkan ku saat pagi hari, dia memang selalu membangunkan ku setiap pagi. Wajahnya yang pucat di hiasi dengan senyum hangat itu yang selalu ku lihat setiap pagi, kini aku tahu jika setiap pagi dia selalu muntah menahan sakit di kepalanya. Sungguh jahatnya diriku, tak ada di sampingnya saat dia benar-benar terpuruk.

Aku duduk di tepi ranjang, jujur saja aku tak tahu harus melakukan apa. Rasanya kini kamar ini sepi, dingin. Apa mungkin kamar ini juga kehilangan sosok Donghae?

Tiba-tiba ku lihat sebuah tas yang selalu Donghae pakai kemana pun dia pergi, bahkan tas tersebut juga dia bawa saat berada di rumah sakit. Ku ambil tas itu, tas yang sudah lama. Terlihat dari warnanya yang sudah terlihat lusuh karena  termakan usia. “Mungkin ibu yang membawa tas ini” pikir ku.

Ku buka tas tersebut, tak banyak barang di dalamnya. Hanya ada sebuah dompet, beberapa kertas, obat-obatan, serta sebuah novel. Novel?

Aku segera mengambil Novel tersebut, inilah novel kesukaannya. Ternyata dia sampai membawa novel ini ke rumah sakit. Ku buka lembar demi lembar novel ini. Kembali aku menemukan secarik kertas yang pada saat itu ku temukan, namun tak sempat aku baca. Karena Donghae langsung mengambil novel ini seperti ada sesuatu yang ia sembunyikan dari ku.

Ku ambil kertas tersebut lalu ku buka lipatannya.

“A Short Journey – Inilah hidupku, sangat pendek”

Kalimat ini adalah isi dari kertas tersebut. Sekarang aku mengerti, kenapa Donghae menyukai novel ini bahkan sejak duduk di bangku sekolah. Ternyata cerita dari novel ini hampir sama dengan kisah hidupnya.

Tiba-tiba sebuah kertas jatuh saat ku buka lembar berikutnya, segera ku ambil kertas tersebut. Kemarin aku tak menemukan kertas ini, aku segera membuka lipatan kertas tersebut lalu membacanya.

Untuk matahari ku Im Yoona……:)

Saat aku bertemu dengan mu, aku sudah jatuh cinta pada mu. Kau hadir di saat yang tepat, di saat aku benar-benar terpuruk akan kehilangan Ayah tercinta ku. Sejak mengenal mu, aku berubah. Aku kembali bangkit menghadapi kehidupan ini. Aku seperti mempunyai semangat saat melihat mu, aku merasa sangat bahagia.

Tapi aku merasa sedih saat mengetahui ternyata kau masih mencintai Siwon, di tambah dengan kepulangan Siwon dari Jerman membuat ku takut akan kehilangan mu.

Sebenarnya, jika penyakit ini tidak menggerogoti tubuh ku. Aku akan melepaskan mu bersama Siwon. Tapi, aku di vonis mengidap kanker otak. Sebuah penyakit yang sangat ku takutkan.

Sejak saat itu, aku menyadari jika usiaku tak lama lagi. Maka dari itu, aku bertekad untuk menghabiskan sisa hidup ku bersama mu.

Tiba dimana hari pernikahan, aku sungguh sangat bahagia akhirnya aku bisa mempersunting mu. Menjadikan mu sebagai cinta pertama sekaligus cinta terakhir dalam perjalanan cinta ku, meskipun ku sadari tak ada aku di hati mu. Tapi, aku bahagia setidaknya aku bisa menikah dengan mu.

Yoona-yaa jangan berkecil hati, jangan menganggap jika kau bukan istri yang baik. Di mataku, kau adalah yang terbaik.

Yoona-yaa, waktu  itu kau pernah bertanya pada ku kenapa aku tak pernah menyentuh mu?

Bukan karena aku benci pada mu, tapi ku lakukan itu semua karena aku mencintai mu. Jangan merasa bersalah, dan ku mohon jangan menangis.

Yoona-yaa, saat kau membaca surat ini. Berarti aku sudah pergi untuk selamanya. Maaf aku pergi meninggalkan mu, maaf aku tak bisa menepati janji suci pernikahan kita. Terima kasih telah mengajari ku arti cinta yang sesungguhnya, kini aku menyadari. Mencintai seseorang adalah hal yang wajar, dan tak bisa di cegah. Tapi, bukan berarti mencintai seseorang harus memlikinya.

Cukup berada di samping mu, melihat mu tersenyum bersama Siwon. Aku sudah bahagia. Tapi, aku tak menuntut mu untuk membalas mencntai ku, karena aku sadar cinta tak bisa di paksakan. Namun, aku punya satu permintaan, izinkanlah aku mencintai mu Im Yoona, izinkanlah aku membawa cinta ini meskipun aku pergi. Hanya itu saja permintaan ku.

Yoona-yaa, terima kasih telah hadir dalam hidup ku. Membangkitkan semangat hidup ku, memberikan sinar cerah mu di jalan kehidupan ku.

Selamanya kau akan tetap menjadi matahari hidup ku, yang menerangi jalan pendek ku. Menerangi gelapnya hidup ku, dan mengajari ku apa itu arti cinta yang sesungguhnya

Y Saranghae~~~~~~

 

Kembali air mata ku menetes, membasahi kertas ini sehingga tulisannya pudar akibat air mata ku. Satu lagi yang baru ku sadari, ternyata dia sudah tahu hubungan ku dengan Siwon selama ini. Tapi, dia berpura-pura tak tahu apa-apa hanya karena ingin menyembunyikan penyakitnya dari ku.

Aku merasa bersalah, karena ego ku yang terlalu besar kala itu membuat ku harus mengkhiyanati cintanya. Karena aku yang lebih mencintai Siwon, aku sampai mengabaikan dirinya. Sekarang aku tahu semuanya, ternyata aku begitu jahat. Aku begitu bodoh. Mesin waktu, jika aku mempunyai mesin waktu aku ingin kembali di saat-saat aku bersamanya, setidaknya aku ingin belajar mencintainya, dan tak mau mengkhiyanatinya. Tapi, semua sudah berakhir. Percuma. meskipun aku menangis darah sekali pun, tak akan bisa menebus semua kesalahan ku padanya, sekarang aku hanya mempunyai memori tentang dirinya. Serta, rasa bersalah yang mungkin akan terus ku rasakan seumur hidup ku.

“Maafkan aku…maafka ku Donghae Oppa….” lirih ku kembali terisak di kamar yang sunyi sepi ini.

End of Yoona POV

[[]]

Author POV

Hari berikutnya, Siwon termenung di kamarnya. Sejak pulang dari makam Donghae, dia tak beranjak dari kamarnya, hanya untuk sekedar minum apalagi makam tidak Siwon lakukan. Ia menyiksa dirinya dengan cara seperti ini. Beberapa pelayan rumahnya sudah bergantian mengantarkan makanan untuk dirinya, tapi sia-sia saja. Siwon tak menggubrisnya. Dia benar-benar sudah tenggelem dengan lamunannya. Lamunannya akan sosok Donghae, dari mulai pertama kali bertemu sampai dengan terakhir kali bertemu.

Ny Choi masuk ke kamar Siwon, dia menghela nafas menatap iba putra bungsunya itu yang tak berkutik sampai detik ini pun. Perlahan Ny Choi mendekat, lalu mengelus kedua bahu Siwon begitu lembut. Siwon tak terusik, dia masih melamun.

“Maafkan ibu, maafkan ibu Siwon…” kalimat penuh penyesalan itu terucapkan dari bibir Ny Choi. Sepertinya kali ini Ny Choi memang sudah benar-benar sadar akan sikap arogannya selama ini pada Siwon. Terlihat, kalimat yang baru saja ia ucapkan terdengar begitu penuh penyesalan.

“Ibu sadar, selama ini ibu salah. Ibu tak pernah memberikan mu kasih sayang, tak pernah memikirkan perasaan mu. Maafkan ibu…” kembali kalimat penuh penyesalan terucap lagi dari bibir Ny Choi. Kali ini di iringi dengan linangan air mata di pipinya.

“Jujur saja ibu tidak tahu tanggal lahir mu, Ibu tidak tahu apa makanan kesukaan mu, Ibu tidak tahu apa hobi mu, sejak usia 5 tahun ibu juga tidak tahu kau sakit apa, Ibu juga tidak tahu olahraga apa yang kau sukai, dan Ibu tidak tahu apa musim kesukaan mu. Aku memang bukan seorang ibu yang baik, aku tak pantas di panggil ibu. Aku lebih kejam dari seorang  ibu harimau, bencilah aku Siwon. bencilah aku.”

Tumpah sudah air mata Ny Choi, air mata penuh rasa bersalah bergelinang di kedua pipinya. Ny Choi terisak di bahu Siwon, memeluk putra satu-satunya ini dengan rasa bersalah. Sementara itu, Siwon menangis dalam diam. Membiarkan Ibunya menangis di bahu kokohnya.

Perlahan Ny Choi melepaskan kedua tangannya, lalu berjalan meninggalkan Siwon yang masih tak berkutik sama sekali. Ny Choi berjalan sambil menyeka air matanya, namun tiba-tiba.

“Ibu…” panggil Swon pelan. Ny Choi segera menghentikan langkah kakinya.

“Ibu…Ibu…aku sudah kehilangan saudara ku, aku terpuruk. Penyesalan yang teramat besar tak dapat ku tanggung. Bisakah aku menangis di pelukan mu” ujar Siwon di barengi dengan semakin derasnya air mata yang meleleh dari kedua matanya.

Ny Choi tersenyum haru, lalu kembali menghampiri Siwon. Memeluk putra kesayanganya ini. Kali ini Siwon yang menangis di bahu Ny Choi.

“Maafkan aku…” lirih Siwon di sela-sela isakannya.

Ny Choi mengusap penuh hangat punggung Siwon lalu berkata“Kau tak perlu minta maaf, ibu yang salah. Maafkan ibu…”

Taeyeon yang melihat kejadian itu dari celah pintu yang sedikit terbuka, tersenyum haru serta menitikan air mata. Akhirnya, penatiannya selama ini terwujud sudah, sang ibunda sudah berubah.

“Yeobo….” tiba-tiba seseorang merangkul pinggangnya. Taeyeon menoleh. Ternyata sang suami, Lee Teuk tengah tersenyum lembut padanya.

“Yeobo, aku senang akhirnya ibu berubah…” ucap Taeyeon penuh haru. Lee Teuk mengangguk lalu membawa Taeyeon ke dalam dekapan hangatnya.

“Semoga ini akan menjadi awal yang membahagiakan untuk keluarga kita, dan semoga Tuhan segera menganugrahi seorang malaikat kecil di keluarga kita” bisik Lee Teuk memeluk Taeyeon erat.

Taeyeon hanya mengangguk, menyembunyikan air mata bahagianya di dada bidang sang suami.

[[]]

Siwon keluar dari salah satu resturant bersama dengan Changmin dan Sungmin, setelah sebelumnya mereka makan siang bersama sembari sedikit berbincang. Setelah keluar dari restauran, ketiganya berpisah. Masuk ke mobil masing-masing, begitu juga Siwon. Akan kembali ke kantor untuk membereskan pekerjaannya.

Siwon mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, membiarkan angin masuk melalu kaca jendela yang sengaja dia buka agar menerpa permukaan wajahnya. Tak sengaja, Siwon melihat seorang wanita yang tengah berjalan di sisi jalan terjatuh. Siwon segera mengrem mobilnya, lalu turun dari mobil menghampiri orang tersebut.

“Bibi, kau tidak apa-apa?” Siwon berjongkok di depan orang tersebut. Yang ternyata Ny Lee.

Ny Lee tersenyum, dapat Siwon lihat wajah wanita itu yang pucat. Serta terdapat bulatan hitam di kedua bawah matanya, membuat Siwon iba melihatnya. Akhirnya, Siwon memapah Ny Lee untuk berdiri. Siwon mendudukan Ny Lee di sebuah bangku yang tak jauh dari sana.

“Sedang apa bibi disini?” tanya Siwon cemas.

“Bibi, membeli bunga ini. Bibi ingin pergi ke makam Donghae” jawab Ny Lee terdengar parau.

Siwon diam. Menatap iba Ny Lee. Siwon bisa mengerti perasaan Ny Lee, kehilangan seorang putra yang amat di sayanginya pasti membuat Ny Lee merasa sedih bahkan lebih dari itu.

“Kalau begitu aku akan mengantar bibi kesana..” ajak Siwon sembari berdiri. Ny Lee menahan tangannya.

“Tidak apa-apa Siwon-ahh, bibi akan pergi sendiri. Bukankah ini masih jam kerja? Pergilah!..” tolak Ny Lee halus.

“Aku tidak keberatan bi, mari aku antar. Sekalian aku juga ingin melihat Donghae..” ujar Siwon. Ny Lee tak dapat berbicara lagi, akhirnya dia mengangguk lalu berjalan tertatih di bantu Siwon masuk ke dalam mobil.

[[]]

Yoona membuka sebuah ruangan, sebelumnya ia tak pernah masuk kedalam ruangan ini. Maklum saja, Donghae selalu melarangnya untuk masuk ke sini. Entah apa alasannya, Yoona pun tak tahu. Tapi, yang jelas, ruangan ini sama sekali tak pernah di datangi oleh siapa pun kecuali Donghae seorang. Ruangan ini memang berada di belakang, letaknya berdekatan dengan halaman belakang.

Yoona mengedarkan mata sayu nya ke sekeliling ruangan ini, tidak ada yang aneh sama sekali. Ruangan yang tidak terlalu luas tapi tidak terlalu sempit ini terdapat banyak sekali kain-kain putih yang sepertinya di gunakan untuk menutupi sesuatu. Juga ada peralatan melukis yang selalu Donghae pakai kala masih ada.

Yoona menatap tak percaya saat ia membuka kain-kain tersebut, ternyata semuanya adalah lukisan dirinya. Ada lebih dari dua puluh  lukisan yang berada di ruangan ini, dan semuanya adalah lukisan dirinya. Yoona melihat sebuah lukisan, yang dia yakini adalah saat Donghae pertama kali bertemu dengannya. Terlihat, di dalam lukisan itu dirinya mengenakan seragam sekolah serta jepitan rambut pemberian Siwon. lalu Yoona kembali melihat lukisan dirinya yang kali ini terlihat lebih dewasa, dengan pakaian kantor yang rapi serta sebuah tas di tangannya.

[[]]

Siwon turun dari dalam mobil di ikuti Ny Lee, mereka baru saja pulang dari makam Donghae.

“Masuklah  Siwon-ah, kita minum dulu” ajak Ny Lee ramah. Siwon tersenyum. Sebenarnya Siwon bukan tidak mau, tapi dia menyadari pasti ada Yoona di dalam sana.

“Yoona juga ada di rumah, mungkin kau ingin bertemu dengannya?” lanjut Ny Lee seperti tahu isi pikiran Siwon.

“Lain kali saja bi, aku harus kembali ke kantor. Sampaikan saja salam ku pada Yoona” ucap Siwon akhirnya.

“Baiklah kalau begitu, hati-hati di jalan”

“Tunggu sebentar” cegah Ny Lee. Siwon membalikan badannya. Ny Lee mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Siwon heran apa yang sebenarnya akan di ambil oleh Ny Lee dari dalam tasnya..

“Ini..” Ny Lee menyerahkan sepucuk surat beramplop warna biru tua. Walaumasih ragu Siwon mengambil surat tersebut. “Bibi, ini?”

“Sebelum Donghae pergi dia menitipkan surat itu pada bibi, surat itu untuk mu” ujar Ny Lee tersenyum pilu. Sekarang Siwon mengerti lalu berusaha untuk tersenyum.

“Terima kasih bi” ucap Siwon lalu merangkul Ny Lee. Entah kenapa wanita paruh baya itu kembali menangis di pundak Siwon. Entah menangis haru, atau menangis karena merindukan putra tercintanya. Siwon membiarkan Ny Lee menangis di bahunya, Siwon mengerti bagaimana perasaan Ny Lee. Kehilangan sosok putra yang di cintainya memang sangat berat.

[[]]

Yoona masih menatap sekeliling ruangan penuh lukisan ini, dia seperti melihat metemorfosis dirinya dari waktu ke waktu. Yoona juga melihat lukisan dirinya yang tengah mengenakan gaun pengantin, yah itulah lukisan terakhir Donghae sebelum meninggal. Lukisan yang dia buat di hari pernikahan mereka setelah resepsi selesai. Tanpa sadar air mata Yoona kembali jatuh, dia baru menyadari betapa besarnya cinta yang Donghae berikan untuknya. Tapi, selama ini dia tak pernah memperdulikannya.

Yoona terperanjat, ketika sebuah tangan hangat menyentuh bahunya. Yoona menoleh. Di dapatinya Ny Lee yang tengah tersenyum hangat.

“Ibu…” lirih Yoona pelan.

Ny Lee seakan bisa mengerti perasaan menantuanya ini. Segera ia rengkuh Yoona ke dalam pelukannya. Seketika saja air mata Yoona jebol. Mengalir membasahi kedua pipinya. Yoona terisak dalam diam, sementara Ny Lee juga perlahan meneteskan air mata pilu. Meski dia berusah untuk tetap terlihat tegar di depan Yoona. Tapi, tetap saja air mata wanita ini tak bisa di bendung.

[[]]

Setelah mengantar pulang Ny Lee Siwon memutuskan untuk kembali ke kantor lagi. Tapi, bukannya kembali melanjutkan pekerjaannya yang tertunda dia malah diam menatap benda persegi panjang berwarna biru tua di depannya. Yah, sepucuk surat dari Donghae yang di berikan oleh Ny Lee tadi.

Sampai sekarang Siwon belum berani membaca surat itu, entah kenapa dia hanya memandangi surat itu dengan tatapan sulit di artikan. Ingin dia membaca surat itu, Tapi. Segera ia tahan tangannya. Siwon takut, jika surat itu akan semakin membuatnya merasa bersalah pada Donghae.

Beberapa menit Siwon memandangi surat itu, sampai akhirnya dengan tangan bergetar Siwon pun meraih surat tersebut. Merobok ujung amplopnya lalu mengeluarkan kertas putih di dalamnya. Di bukanya lipatan keras itu secara perlahan, lalu Siwon mulai membacanya.

 

Untuk sahabatku, saudara ku. Choi Siwon..

Siwon-yaa, apa kabar? Ku harap setelah aku pergi kabar mu baik-baik sajak. Maaf sebelumnya aku tak mengucapkan kalimat perpisahan sebelum aku pergi, semenjak aku menikah dengan Yoona kau sulit di hubungi. Aku tahu, karena pernikahan ku dengan Yoona membuat mu hancur. Sebelumnya aku minta maaf karena aku merahasiakan semuanya dari mu dan juga Yoona. Sebenarnya, aku sudah tahu jika kalian adalah sepasang kekasih. Aku sengaja menutupi semunya karena penyakit ku ini.

Siwon-yaa, saat kau kembali dari Jerman. Perasaan ku menjadi was-was. Aku takut jika Yoona akan meninggalkan ku. Karena selama bersama ku Yoona masih mencintai mu.

Namun semua ketakutan ku itu musnah tak kala aku tahu siapa diri mu, Changmin dan Sungmin banyak bercerita tentang siapa dirimu. Setidaknya itu membuatku tahu, jika kau adalah pria yang baik dan pantas untuk di cintai Yoona.

Siwon-yaa, sepucuk surat ini memang tidak ada gunanya. Tapi, lewat surat ini aku ingin ucapkan terima kasih telah menjadi teman ku, serta saudara ku. Aku benar-benar iri pada mu, kau mempunyai keluarga yang lengkap, di cintai Yoona. Serta, kau begitu beruntung karena tubuh mu sehat. Tidak seperti aku yang rapuh karena penyakit ini.

Siwon-yaa , jika aku bisa meminta pada Tuhan, aku akan minta untuk setidaknya lebih lama lagi hidup. Aku ingin menikmati kebersamaan bersama mu, bercanda dengan mu serta berbincang-bincang dengan mu. Ku dengar kau sangat jago main basket? Aku ingin sekali bermain bersama mu, tapi melihat kondisi tubuhku yang lemah seperti ini, itu tidak mungkin terjadi.

Siwon-yaa, maaf jika selama ini kau tersiksa karena aku. Maaf, karena aku kau dan Yoona harus terpisah.

Saudara ku, Siwon. Mungkin waktu ku sudah dekat. Tolong jaga ibu ku, tolong sayangi dia. Hanya pada mulah aku meminta ini. Anggap saja ini sebagai permintaan terakhir ku.

Siwon-yaa. Maafkan aku…

Dari saudara mu, Lee Donghae.

 

Siwon kembali menitikan air mata, membaca setiap untaian kata yang Donghae tulis sebelum dia pergi. Sebuah surat yang ia tulis sendiri untuk Siwon, sebuah surat yang mengungkapkan rasa bersalah Donghae karena telah menyembunyikan penyakitkan dari Siwon. Dan surat tersebut juga mengungkapkan rasa bersalah Dongahe karena telah memisahkan Siwon dengan wanitanya, Yoona.

“Bahkan kau meminta maaf untuk sesuatu yang tak salah? Donghae-yaa, apa yang harus ku lakukan? Aku benar-benar menyasal. Maafkan aku…” bisik Siwon terdengar pahit.

Siwon kembali melipat kertas tersebut, dia menghapus air matanya lalu berdiri. Berjalan ke arah lemari yang terletak di sudut ruang kerjanya. Siwon membuka pintu lemari berwarna coklat itu, lalu mengambil sesuatu dari sana.

“Aku harus pergi, tak bisa terus seperti ini. Aku harus membayar semuanya…” ucap Siwon lalu memasukan kertas yang baru saja dia ambil ke dalam amplop putih. Kertas tersebut, adalah surat  pengunduran dirinya dari perusahaan ini. Siwon akan pergi? Pergi kemana dia? Apa semua ini dia lakukan untuk membayar semua kesalahan yang pernah ia lakukan pada Donghae?

[[]]

Yoona bersama Ny Lee mengunjungi sekolah di mana tempat Donghae mengajar siswa-siswanya melukis. Sebuah sekolah sederhana yang terdapat di pinggiran kota Seoul, sekolah dasar yang menjadi tempat Donghae melupakan sejenak rasa sakitnya kala masih hidup.

Kedatangan Yoona dan Ny Lee di sambut hangat para siswa yang tengah bermain, tak terkecuali para dewan guru serta kepala sekolah. Menyambut Yoona dan Ny Lee dengan sangat baik.

Yoona memutuskan untuk berkeliling sekolah sembari mencari udara segar, sementara ibu mertuanya tengah berbincang dengan kepala sekolah. Yoona berjalan di koridor, anak-anak yang berlalu lalang menjadi pemandangan yang membuat setidaknya hati Yoona merasa sedikit gembira.

Yoona menyilangkan kedua tangannya di depan dada, berjalan santai sambil sesekali melihat-lihat keadaan kelas. Tiba-tiba Yoona menghentikan langkah kakinya, saat matanya tak sengaja melihat sebuah lukisan yang terpajang di sebuah ruangan kelas. Perlahan,Yoona masuk kedalam kelas tersebut yang memang kebetulan sedang  jam isirahat, dan hanya beberapa anak saja yang tengah makan siang. Atau pun saling bercengkrama dengan temannya.

Yoona melihat lukisan itu, sebuah lukisan berlatar belakang pantai di sore hari yang di hiasi dengan matahari yang hampir tenggelem. Serta ada sosok laki-laki yang tengah berdiri di bibir pantai tersenyum sambil memandang matahari itu.

“Noona….” sapa seorang anak. Membuat Yoona tersadar dari alam bawah sadarnya.Yoona menundukan kepalanya ke bawah ternyata dia adalah seorang murid laki-laki yang menangis bahkan sampai berteriak histeris saat Donghae meninggal.

“Nde, waeyo?” tanya Yoona lalu mensejajarkan tubuhnya dengan anak tersebut.

“Kenapa Noona terlihat serius melihat lukisan ini?” tunjuk anak itu pada lukisan tersebut.

“Ah, aku hanya terhipnotis saja pada lukisannya, sangat indah. Siapa yang membuatnya?” tanya Yoona.

Anak laki-laki itu memajukan bibirnya, matanya menengadah menatap lukisan itu. Dia terlihat seperti sedang mencari jawaban.

“Lukisan ini memang indah, selain indah aku juga suka akan cerita di balik lukisan ini..” jawab anak itu. Namun, tiba-tiba mimik wajahnya berubah menjadi sedih.

“Wae?” Yoona mengelus pipi mulus anak itu.

Tiba-tiba mata anak itu berkaca-kaca, semakin membuat Yoona heran di buatnya.

“Lukisan ini adalah lukisan Lee Sonsengnim, dia bilang jika matahari itu adalah diri mu Noona, dan laki-laki itu adalah Lee Sonsengnim. Setelah mendengar cerita di balik lukisan ini, aku mulai bertekad jika sudah dewasa nanti aku ingin menjadi seperti Lee Sonsengnim, penyayang, sabar, baik, dan perhatian. Noona, aku merindukan Lee Sonsengnim. Aku merindukannya….”

Anak itu menundukan kepalanya, air matanya jatuh mengenai lantai. Rupanya dia sangat kehilangan sosok Donghae, guru terbaiknya. Ini terbukti, dari sekian banyak siswa disini hanya dia lah yang terlihat rapuh.

Melihat anak itu menangis, Yoona tanpa sadar juga menitikan air mata. Namun segera ia usap. Yoona mengangkat dagu anak itu lalu mengusap kedua pipi anak itu dengan jemari lentiknya.

“Kau memang harus meniru pribadinya. Aku juga merindukan Sonsengnim. Kita doakan saja, agar Sonsengnim bahagia disisi-Nya..”

Anak itu menganggukan kepalanya, lalu mengusap air matanya. “Aku berjanji tidak akan menangis lagi Noona. Aku berjanji…” ujarnya lalu tersenyum lebar. Yoona mengangguk lalu ikut tersenyum.

Bel tanda masuk telah berbunyi, Yoona kembali berdiri lalu berpamitan pada anak tersebut. Tak lupa Yoona tersenyum sembari melambaikan tangannya pada anak itu. Setelah keluar dari kelas itu, Yoona kembali berjalan di koridor, kini suasana koridor sudah sepi hanya ada dirinya seorang. Karena semua murid sudah masuk kedalam kelas.

Saat tengah berjalan santai, tak sengaja Yoona bertemu dengan seseorang. Seorang laki-laki yang di cintainya, seorang laki-laki yang mengisi relung hatinya selama ini. Choi Siwon.

[[]]

Yoona POV

Pertemuan ini membuat ku tak bisa berkutik, aku bingung harus melakukan apa. Berpura-pura tak kenal dengannya lalu berjalan melewatinya rasanya tak bisa ku lakukan, apa boleh buat aku harus menghadapinya.

Kini aku duduk di halaman sekolah, menunggunya yang tengah membeli sesuatu. Entah apa yang akan ia beli aku tak tahu. Lama aku menunggunya, akhirnya dia datang. Ku lihat dia semakin mendekat ke arah ku, kedua tangannya membawa sesuatu yang ku yakini adalah coffe. Tepat sekali dugaan ku, harum coffe sudah bisa ku cium tak kala ia duduk di samping ku. Segelas coffe yang  di genggam di tangan kirinya di berikan padaku.

Ku ambil coffe tersebut lalu menyesapnya sedikit untuk membasahi kerongkongan ku yang terasa kering. Belum ada perbincangan di antara kami, sepertinya dia juga tengah sibuk menyesap minuman kesukaannya itu, aku juga terlalu bingung harus memulai pembicaraan dari mana. Maka ku putuskan saja untuk kembali menyesap coffe sembari masih panas.

“Aku akan pergi …” tuturnya tiba-tiba , hampir saja aku sedak. Ku lihat wajahnya, raut serius dapat ku lihat dengan jelas. Sepertinya dia memang tidak bercanda dengan ucapannya itu.

“Jahat sekali rasanya jika kita langsung bersama setelah dia pergi, bukankah begitu?..” lanjutnya tersenyum kecut. Apa Siwon juga merasakan rasa bersalah sama seperti diriku. Pikir ku.

“Mesin waktu, jika aku punya mesin waktu aku ingin kembali ke masa lalu. Merubah sikap egois ku, serta merelakan mu untuknya.” Lanjutnya kini nada penyesalan dapat ku dengar di dalamnya. Rupanya benar dugaan ku, Siwon juga menginginkan mesin waktu untuk kembali pada saat Donghae masih ada.

“Disilah aku yang paling bersalah, aku yang terlalu plin plan menentukan pilihan. Seharusnya aku tidak mempermainkan perasaan kalian berdua, mungkin jika dari awal aku menentukan siapa yang ku cintai tidak akan seperti ini jadinya”

“Justru aku yang paling bersalah, semua bermula dari aku yang meninggalkan mu tanpa pamit. Lalu aku kembali, dan tanpa merasa berdosa aku berniat merebut mu dari tangannya. Bukankah aku jahat, aku menikamnya dari belakang. Sementara dia, dia menderita.” Tuturnya terdengar pilu.

“Kalau begitu kita berdua yang salah, kita yang terlalu egois, kita yang terlalu memikirkan perasaan kita. Sampai-sampai kita tidak tahu, jika dia menderita”ucapku kembali menerawang sosoknya.

Tiba-tiba ku rasakan hangatnya genggaman tangan Siwon di jemari ku, ku lihat dia. Ku tatap mata tajamnya namun kali ini terlihat sendu. Beberapa detik kemudian, ku lihat matanya berair. Ku yakin bukan debu yang membuat matanya berair tapi dia akan menangis.

“Jika Tuhan mentakdirkan kita untuk bersama, kita akan di pertemukan kembali. Dan sebaliknya, jika kita tidak di pertemukan berarti Tuhan tidak mentakdirkan kita untuk bersama” ucapnya pelan.

“Jadi kau akan pergi sekarang?” tiba-tiba suara ku tercekat. Benarkah aku akan kembali kehilangan Siwon lagi setelah Donghae pergi? Haruskah aku merelakannya? Lalu bagaimana dengan ku?

Dia mengangguk lalu memeluk ku. Tak bisa ku sembunyikan air mata ini, dia akan pergi lagi. Pergi untuk kedua kalinya meninggalkan ku. Aku harus berbesar hati merelakannya pergi, karena kini aku mengerti alasannya pergi adalah untuk menghukum dirinya, mungkin ini adalah yang terbaik untuk kita berdua. Karena, disini aku pun akan menghukum diri ku.

Kini ku serahkan semuanya pada Tuhan, jika memang aku dan Siwon berjodoh maka kita akan di pertemukan kembali. Tapi jika tidak, mungkin inilah takdir dari-NYA. Sebuah takdir yang tak bisa ku elak.

Ku balas pelukan hangatnya, mungkin ini akan menjadi terakhir kalinya aku memeluk dirinya. Setelah ini aku tak tahu apa kita akan bertemu lagi, atau tidak. Tapiaku sungguh bersyukur, karena aku di cintai 2 orang laki-laki yang benar-benar tulus mencintaiku. Meskipun aku harus memilih salah satu dari mereka, tapi sejujurnya aku menyayangi mereka berdua.

Karena mereka, aku bisa tahu apa itu arti cinta.

Karena mereka, aku bisa tahu apa itu arti kesetiaan.

Dan karena merekalah aku bisa tahu apa itu arti kutulusan.

[[]]

5 Years Later….

SMA SM High School seperti hari-hari biasanya selalu terlihar ramai oleh para siswanya yang datang ke sekolah, namun berbeda dengan hari ini. Karena tepat di hari ini, ada sebuah acara yang sangat special bagi para lulusan atau alumni dari SMA yang merupakan salah satu SMA terbaik di Seoul ini. apalagi kalau bukan reuni untuk semua angkatan, bayangkan saja “semua angkatan” sudah berapa ratus ribu atau bahkan puluhan ribu sekolah ini meluluskan para siswanya yang mungkin sudah ada yang menjadi seorang pegawai di kantor, menjadi seorang guru, menjadi seorang suster ataupun dokter dan semua bidang pekerjaan lainnya. Reuni yang bisa di katakan paling akbar yang pernah di laksanakan sekolah SMA di Seoul.

Dan kini, setiap sudut dari sekolah ini pun penuh dengan orang-orang yang bercengkrama ria, bersuka cita dengan teman-teman zaman SMA dulu. Saling berbagi cerita, pengalaman hidup, ataupun berbagi lelucon seputar kejadian-kejadian yang paling mengesankan selama berseragam SMA. Benar-benar masa yang tak akan pernah terlupakan, meskipun kadang harus pulang malam karena pelajaran yang ekstra ketat, guru yang super killer dan berdisiplin tinggi. Membuat para siswa SMA pasti merasa jenuh akan hal itu. Namun, semua cerita pahit itu terbayar dengan kenangan-kenangan yang pasti akan terus membekas bahkan tak akan pernah hilang sepanjang hidup.

[[]]

Seorang wanita memasuki ruang kelas dimana dulu kelas inilah tempat ia menimba ilmu. Dia memilih duduk di bangku dekat dengan jendela tempat dimana dia duduk saat sekolah dulu. Meja dan kursinya memang sudahlebih  bagus,berbeda dengan zaman dulu. Sekarang warnanya juga lebih cerah, serta ukurannya yang sedikit lebih besar.

Yoona-wanita itu, kembali mengenang cerita masa lalunya tak kala menginjakkan kaki ke kelas ini lagi. Kelas yang menyimpan berbagai kenangan manis ataupun pahit. Yoona mengelilingi setiap jengkal ruang kelas ini tanpa ada satupun yang terlewatkan, sangat berbeda. Jelas. Sekarang kelas ini sudah lebih menarik dengan tempelan berbagai hiasan di dinding karya siswa yang mempunyai kelebihan dalam melukis. Juga cat dari dinding kelasini pun berbeda, dulu warnanya putih sekarang menjadi hijau. Membuat kelas ini terasa teduh saja.

Setelah merasa puas, Yoona menoleh ke jendela. Kelasnya yang berada di lantai 2 ini semakin memudahkannya untuk melihat keadaan di bawah sana. Jendela ini juga menghubungkan dengan lapangan basket. Dulu, Yoona selalu melihat sang kekasih Choi Siwon dari kelas ini.

Tanpa sadar Yoona menarik sudut bibirnya, menampakan sebuah lengkungan manis di wajahnya. Tak kala mengingat kenangan manis bersama Siwon kala itu. Namun, dalam hitungan detik senyum Yoona lenyap. Saat tiba-tiba Donghae muncul lagi di pikarannya, sosok pria yang telah pergi selama 5 tahun ini ternyata masih Yoona kenang. Bagaimana bisa Yoona melupakan Donghae, sementara dia masih merasa bersalah pada pria tersebut sekaligus suaminya itu.

“Yoona-yaa” tiba-tiba seseorang menepuk bahunya. Yoona terperanjat kaget lalu segera menghapus air matanya agar tak ketahuan oleh orang tersebut jika ia menangis.

“Euh Yuri..?” ucap Yoona setelah menoleh.

“Ayo kita turun ke bawah, yang lain sedang menunggu mu..” ajak Yuri. Rupanya dia tak menyadari mata Yoona yang masih berair.

“Oh nde. Kajja…” Yoona bangkit dari duduknya lalu mengapit lengan Yuri agar mereka berjalan bersama-sama.

[[]]

Tiba di lantai 1 tepatnya di ruangan seni musik, Yoona segera di sambut oleh beberapa teman semasa SMA-nya dulu. Rupanya mereka sengaja mentata ruangan tempat ekstra kulikuler musik ini sebagai ruangan khusus mereka untuk bernostalgia.

“Bagaimana kabar mu Yoong? Lama kita tak berjumpa? Ku dengar sekarang kau menjadi guru lukis di sekolah dasar apa itu benar?” cecar Eunhyuk. Padahal Yoona belum sama sekali duduk di kursinya. Kyuhyun yang kebetulan duduk di samping Eunhyuk segera menyenggol sikutnya.

“Dasar Monkey, Yoona saja belum duduk kau sudah cecar dengan pertanyaan mu itu. Sabar sedikit kenapa euh?” protes Kyuhyun.

“Diam kau Evil, mulut mu itu memang tidak bisa di jaga. Lagi pula aku bertanya pada Yoona, bukan pada mu. Yoona saja tidak marah. Euh kau ini…”

“Sudah! Hentikan!. Kalian ini, dari dulu sampai sekarang masih saja suka berdebat. Kau Lee Hyuk Jae, apa kau tidak malu? Sekarang kau suduh menjadi seorang pemilik restaurant. Bersikaplah sedikit lebih dewasa” Sungmin angkat bicara, membuatKyuhyun tersenyum penuh kemenangan. Namun, senyum Kyuhyun perlahan lenyap tak kala Sungmin juga menegurnya.

“Kau juga Cho Kyuhyun! Sebentar lagi kau akan menjadi seorang ayah, tapi lihatlah sikap mu masih sama seperti SMA dulu. Apa kau tidak malu dengan istri mu sendiri” ujar Sungmin sambil menunjuk Seohyun dengan ujung matanya.

“Sudahlah tidak apa-apa Sungmin Oppa. Mereka berdua memang selalu seperti itu, oh yah kabar ku baik Hyuk Jae. Iya, sudah 5 tahun aku mengajar anak-anak melukis” kini Yoona angkat bicara. Mencairkan kembali suasana sekaligus menjawab pertanyaan Eunhyuk yang tertunda.

“Yoona sekarang terlihat lebih dewasa, bukankah begitu?” tanya Yuri meminta pendapat teman-temannya. Tak menunggu lama pertanyaan Yuri ini sudah di setujui oleh semuanya.

Yoona hanya tersenyum simpul membalas setiap kata-kata pujian dari teman-temannya itu.

[[]]

Kini semuanya menikmati waktu kebersamaan mereka, berkumpul sambil bercerita. Bercerita pengalaman hidup, baik suka maupun duka. Ataupun kembali mengenang masa-masa indah saat masih menjadi pelajar SMA. Sungguh, masa yang paling indah.

Sebenarnya bukan hanya Yoona saja yang berubah tapi semuanya, mulai dari Kyhyun yang dua tahun lalu mempersunting kekasihnya Seohyun, dan sekarang Seohyun tengah mengandung buah cinta mereka. Begitu pula dengan Sungmin, yang sudah berumah tangga dengan istirinya, Sunny. Mereka kini sudah mempunyai 1 orang anak. Changmin juga sudah berumah tangga, dengan mempersunting kekasihnya asal China yang di nikahinya sekitar 1 Tahun yang lalu, yaitu Victoria.

Berbeda halnya dengan mereka semua, Eunhyuk dan Shindong sekarang mereka menjadi orang sukses. Eunhyuk menjadi pemilik dari sebuah restauran tempat dimana dulu dia bekerja. Karena kejujurannya, akhirnya dia mendapatkan warisan dari pemilik sebelumnya yang tidak mempunyai keluarga. Akhirnya, restauran itu menjadi miliknya. Begitu juga dengan Shindong, sekarang dia tak harus bekerja banting tulang, menjadi pelayan di resturan, menjadi pengantar Koran pagi atau bekerja di pom bensin. Karena sekarang dia menjadi seorang koki di resturan yang di kelola Eunhyuk, karena kepandaiannya dalam hal memasak membuatnya mendapat kepercayaan dari Eunhyuk sebagai kepala Koki.

Sementara itu, Yuri sahabat terdekat Yoona setelah Kyuhyun. Sekarang dia tengah mempersiapkan pernikahannya dengan sang kekasih Yesung yang tengah menjalani wajib militer. Rencananya, bulan depan Yuri akan segera menikah setelah kekasihnya itu selesai menjalankan tugas negaranya.

Yoona, semenjak 5 tahun yang lalu dia menjadi sedikit tertutup. Tak seperti dulu, mungkin benar Yoona terlihat lebih dewasa. Tapi, jauh dari sana sebenarnya dia merindukan sosok Donghae, dia merindukan sosok Siwon. Dua laki-laki yang pergi meninggalkannya. Dongahe pergi karena Tuhan telah memanggilnya, Sementara Siwon. Pria itu menghabiskan waktunya berkeliling dunia menjadi relawan, tujuannya membantu orang-orang yang terkena kanker otak. Ini semua Siwon lakukan karena ingin menebus rasa bersalahnya pada Donghae, sekaligus menghukum dirinya.

Bukan hanya Yoona yang Siwon tinggalkan, tapi keluarga dan juga perusahaan. Sudah 5 tahun Siwon pergi. Namun, Yoona tak pernah mendapat kabar darinya. Terakhir, Siwon mengabari Yoona ketika dia berada di Afrika itu pun sudah 4 Tahun yang lalu, dan semenjak itu Yoona tak pernah lagi mendapat kabar darinya.

[[]]

Yoona POV

Setelah pertemuan tadi selesai ku putuskan untuk pergi ke taman belakang sekolah. Salah satu tempat favorit ku dulu. Taman ini terlihat masih sama, masih terasa sejuk, sepi serta damai. Bangku yang dulu selalu ku duduki juga masih terlihat sama, mungkin hanya warna catnya saja yang berubah. Dulu warnanya putih sekarang menjadi coklat. Rumput-rumput di taman ini juga masih sama, tak ada sampah satu pun. Mungkin yang ada hanya dedaunan kering yang jatuh dari pohon. Taman ini memang sejak dulu tak pernah atau jarang di kunjungi siswa di sini. Mungkin karena suasananya yang sepi, berbeda dengan koridor sekolah, ataupun lapangan baskter yang selalu ramai akan sorak-sorai.

Tapi, bagaimana pun juga bagi ku taman ini adalah tempat terindah yang pernah ku datangi. Pasalnya, di taman inilah kenangan manis ku bersama kedua pria itu cipta. Taman ini selalu ku jadikan sebagai tempat tidur melepas rasa penat bersama Siwon, tempat makan siang bersamanya, ataupun tempat mengerjakan pekerjaan rumah. Selain bersama Siwon, taman ini juga memberikan ku kenangan manis bersama dengan Donghae. Di taman inilah, kami pertama kali bertemu, di taman inilah dia mengajari bagaimana cara melukis, serta di taman inilah dia selalu mengajari ku bagaimana cara mengerjakan soal-soal matematika setelah Siwon pergi.

Oh Tuhan, semua kenangan indah itu tak bisa ku kubur. Tak bisa ku hapus dari memori ku. Semuanya menyimpan sejuta cerita tentang aku dan kedua pria itu. Namun, sekarang yang tersisa hanyalah kenangan bersama mereka. Karena mereka telah pergi. Kau mengambil Donghae dari sisi ku, Kau juga membiarkan Siwon pergi menghukum dirinya. Tapi aku, kini aku sendiri. Tak ada sosok Siwon, apalagi Dongahe.

Tuhan,aku merindukan mereka berdua. Inikah hukuman-Mu karena dulu aku mempermainkan hati mereka, inikah balasan dari semuanya? Sudah 5 tahun aku menjalani kehidupan ku tanpa mereka berdua, hidup ku hampa. Hidup ku sepi. Setelah mereka pergi, kini aku baru menyadari jika cinta memang sebuah pilihan. Setelah mereka pergi aku baru menyadari, jika aku tak bisa membagi hati ku. Tapi semuanya sudah berakhir, memang benar penyesalan selalu datang di akhir cerita. Percuma saja aku menyesali semuanya, karena semuanya tak akan pernah kembali. Kini biarlah aku mengenang kisah ku bersamakedua pria itu, biarlah mereka berdua hidup di hati ku, biarlah aku mencintai mereka meskipun aku tak bisa bersama mereka.

Ku pejamkan mata ini, mencoba meredam luka di hati ku yang menganga akibat ulah ku sendiri. Tapi sepertinya aku merasakan tangan hangat seseorangmenyentuh permukaan wajahnya. Jemarinya perlahan menghapus buliran-buliran bening yang tiba-tiba menerobos kelopak mata ku yang terpejam. Aku masih bertahan, tak berani untuk membuka mata. Takut. Takut jika ini hanyalah perasaan ku saja, aku tak mau kecewa.

“Yoona-yaa” panggilnya lembut. Suaranya terdengar merdu di telinga ku. Benarkah ini hanya khayalan ku saja karena aku terlalu merindukannya.

“Aku ada di sini bukalah matamu…” kembali dia bersuara. Dapat ku dengar dengan jelas dia menekan kata-katanya. Namun, tekanan kata-kata itu terucap menjadi sebuah kalimat yang terdengar pelan sekaligus merdu di telinga ku. Benarkah ini hanya khayalan ku semata? Tapi kenapa rasanya begitu nyata, apa ini karena aku terlalu merindukan sosoknya? Sehingga aku sampai merasakan ini.

Perlahan ku buka mata ini, objek pertama yang tertangkap oleh lensa mata ku adalah seseorang yang tengah memandang ku. Dia tersenyum, senyuman yang selama 5 tahun ini sangat ku ridukan. Aku mencoba menggerakan tangan ini untuk menyentuh wajahnya. Takut yang ku lihat ini adalah khayalan ku saja, tangan ku semakin mendekat hingga akhirnya jemari ku menyentuh pipinya. Ini sungguh di luar dugaan ku, ku pikir tangan ku akan menembus wajahnya. Tapi ternyata tidak. Dia benar-benar nyata.

“Aku kembali, aku merindukan mu, dan aku mencintai mu. Maaf membuat mu menuggu lama”

Tangisan ku kembali tumpah seketika saat dia membawa ku ke dalam pelukan hangatnya, rupaya ini benar-benar nyata. Ini bukan mimpi. Dia kembali setelah 5 tahun lamanya pergi menghukum dirinya. Kami bertemu lagi, apakah ini takdir mu Tuhan? Ku dengar dia juga terisak di bahu ku, apakah selama dia juga sama tersiksa seperti aku?

Setelah untuk beberapa saat kita sama-sama terhanyut dalam isak tangis, dia melepaskan pelukannya. Lalu kembali ibu jarinya menghapus air mata ku. Ku lihat dirinya, tak ada yang berubah. Dia masih sama seperti 5 tahun lalu saat meninggalkan ku.

“Aku menunggu mu selama ini. Kenapa kau tak pernah mengabari ku lagi sejak saat itu? Aku takut kita tak akan bertemu lagi. Aku takut….”

“Maaf, maafkan aku. Sekarang aku berjanji tidak akan meninggalkan mu lagi. Mulai sekarang kita akan selalu bersama. Maaf membuat mu menunggu terlalu lama…”

“Yoona Saranghae” ucapnya lalu mendaratkan sebuah kecupan singkat di kening ku. Sebuah kecupan yang amat ku rindukan, sebuah kecupan yang membuat air mata ini kembali bebas terjun tak terkendali.

“Nado, nado saranghae Oppa…”

[[]]

Inilah perjalanan kisah hidup ku, atau lebih tepatnya kisah cinta ku. Setelah sempat aku merasa berada dalam sebuah labirin yang gelap, akhirnya aku bertemu dengan Donghae. Pria yang memberikan ku cahaya sekaligus menunjukan ku jalan, lalu menunjukan pintu keluar untuk ku. Donghae menunjukan Siwon sebagai pintu untuk aku keluar dari labirin itu.

Donghae Oppa terimakasih telah hadir dalam kehidupan ku, terima kasih atas cinta dan kasih sayang kau yang berikan untuk ku. Selamanya, Selamanya kau akan hidup di hati ku.

Tuhan tempatkanlah dia di sisi-MU yang paling indah..

 

[[]]

Ini bukanlah negeri sihir seperti film Harry Potter, yang bisa kembali ke masa lalu hanya dengan memakai sebuah kalung mesin waktu. Tapi ini adalah kehidupan nyata, kehidupan nyata yang menyimpan sejuta kenangan serta penyesalan di masa lalu. Memang benar, tak ada gunanya menyesali perbuatan di masa lalu. Tapi, jadikanlah masa lalu sebagai pelajaran hidup yang berarti. Jadikanlah masa lalu sebagai guru yang paling berharga. Buanglah semua hal negatifnya, dan ambilah hal positifnya. Maka niscayalah, kau tidak akan pernah menyesal. Malah kau akan bersyukur karena dari pengalaman mu-lah kau bisa belajar menjadi seorang manusia yang lebih baik di masa sekarang.

 

THE END

 

Perjalanan kisah cinta YoonWonHae akhirnya telah usai. Kekekek so puitis banget saya ini. Bagaimana apa ending ini seperti yang kalian harapkan? Saya berharap readers tidak menilai suatu cerita hanya dari endingnya saja. Ngertikan heheheh….

Saya sudah berusaha semakisimal mungkin buat chapter ini, semoga readers suka dan tidak kecewa.

Buat uchie eonni, gimana apa ending ff ini seperti tebakan mu?Sebelumnya makasih eonni selalu mengingatkan ku untuk terus optimis sama ff galau ini hehehhe…. :):)

Buat nited yang suka sms aku atau kontak aku di fb, atau twitter yang nanyain ff you are miracle for me sama the right woman for me. Kedua ff itu lagi aku lanjutin,  ff YAMFM mau chapter ending. Tiba-tiba ide seret bgt. Di tambah aku terlalu fokus ke ff ini -_- untuk ff TRWFM juga lagi aku lanjutin. Mungkin udah pada lupa sama ff itu -_- #kelamaan sih authornya.

Oke jangan lupa RCL yah Nited, ini chapter ending berikan aku semangat buat ff selanjutnya yang akan datang kekekek….

Thanks all…:* LOVE YA!!!!!!!

 

 

 

Tinggalkan komentar

141 Komentar

  1. rayna

     /  Desember 8, 2013

    Dari awal ampe ending aku ngegalau trus 
    walaupun happy krna Yoonwon brsatu tpi ttap aja aku msih sdih atas kpergian haeppa😦

    Balas
  2. endingnya kirain wonppa nggak bakal balik.. ternyataaa.. hmm.. author jjang…!!

    Balas
  3. tia risjat

     /  Maret 10, 2014

    daebak!! dari awal sampe akhir feelnya dpt. galaunya dapet, sweetnya dapet, ngabisin tissuenya juga dapet. hihihi jjang!!!

    Balas
  4. dede

     /  Maret 18, 2014

    ahirnya selai juga?yoonwon rintangan kalia untuk bersama memang sangat rumit dan berliku tp pada ahirnya kebahagian itu datng juga pada yoonwon.sepertinya kebih baik dcintai dari pada mencintai.semoga yoonwon tidak tepisahkan lgh?ff kk sangat keren bagus q suka.tp part 11 blm baca pwnya blm dkasih.semoga kk blz sms q dan kasih pwnya amin?

    Balas
  5. ndashof

     /  April 1, 2014

    wah seru sekali ceritanya,gak trasa udah the end aj ni ff…

    Balas
  6. nina

     /  Mei 4, 2014

    ff ni.bkin galau hbis…..sneng akhirnya happy ending tp msh bkin galau …
    daebak thor, kau brhasil membuat hati q dan pra reader lainnya terombang ambing dgn ff mu thor…….

    Balas
  7. any

     /  Mei 19, 2014

    Dari chapt. 1 – 13 yg bener sweet moment chapt. 1 aja antara yoonwon. Selanjutnya sampe akhir galau.com. knp siwon perginya lama bgt. Hadeuh..

    Balas
  8. Omg sumpah ini keren abis. Ngga nyangka banget. Ketiganya sma2 tersiksa…

    Balas
  9. umu

     /  Juli 2, 2014

    Dari awal sampe akhir ceritanya keren bgt ♥

    Balas
  10. Kerren… Ini ff terkeren di blog ini !!! :’)

    Balas
  11. Dahlia GaemGyu

     /  Juli 31, 2014

    akhirnya insyaf juga tu emak2
    keren bgt ni ff

    Balas
  12. Mia

     /  Agustus 2, 2014

    SELAMAT ANDA TELAH SUKSES DAN BERHASIL MENGURAS AIR MATA SAYA, keren bgt lanjut kan trus ea semangat trus jangan mudah putus asa.

    #SUKSES_TRUS

    Balas
  13. Sari nauli

     /  September 6, 2014

    Wah senangnya akhirny yonwon.tapi rada kasihan ma haepa.*haepa ma aku ja.ceritanya bagus banget:-)

    Balas
  14. Dirin panggaliningtyas

     /  September 7, 2014

    Hua hiks hiks hiks…
    Ngena bgt eon sampek sampek ak dimarahi ama emma gara gara tissiu.a abis+berserakan buat air mataku ini(Curhat)…
    Sumpah komplit feel.a dpt/ngena bgt…
    DAEBAK EON…
    Tapi mianhe ne eon baru coment di chap ini hehe:-D… Maafkan reader mu yg satu ini hehe;-(:-D…
    DAEBAK EON

    Balas
  15. keren sekali ceritanya,bikin terharu banget

    Balas
  16. Omgg terharu.bgt sumpehh.
    Akhirnya yoonwon bersatu jg
    ..

    Balas
  17. ff ini sangat menguras air mataku.
    Daebakkk….

    Balas
  18. marsiah

     /  Maret 1, 2015

    Ending nya ko gak ada kejelasan hubungan yoonwon.tapi gak papalh ff nya tetep bagus ko.

    Balas
  19. Shin ra

     /  Mei 7, 2015

    Ff x bikin terharu..:-“

    Balas
  20. wiwin

     /  Juli 2, 2015

    Happy ending…

    Balas
  21. raratya19

     /  Oktober 20, 2015

    OMG T___T bikin mewek ch ini, tapi syukurlah siwon sudah kembali :’)

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: