[OS] A Chance

A Chance by @uchie90  ||  Cast: Im Yoona, Choi Siwon, etc  ||  Genre: Set By Your Self  ||  Type: OS (One Shoot)  ||  Rate: PG15  ||  Disclaimer: Salah satu potongan cerita terinspirasi dari beberapa novel yang saya baca, namun secara keseluruhan cerita murni hasil pemikiran saya. Saya hanya meminjam nama idol di atas untuk melengkapi cerita dan berharap mereka memang berjodoh dikehidupan nyata ( Aamiin ).

 

Disarankan mendengarkan lagu Fate (Like A Fool) dari Seo Inguk ya untuk bagian yang nyesek(?)

 

Typo? Maafkan, Happy reading^^

 

 

A Chance

 

 

Siwon POV

 

“Kau bisa merasakannya Oppa, jari-jariku menggenggam jari-jarimu.” Aku tersenyum melihat sosoknya yang riang namun anggun itu. “Oppa, kenapa kau hanya tersenyum? Jawablah,” ia merengek. Sedikit bermain-main dengan hatinya, mungkin menyenangkan. Diam, dan hanya tersenyum.

 

Kurasakan, tautan jari-jarinya di jari-jariku perlahan merenggang. Tapi buru-buru aku mengeratkan, menggenggam jari-jari lentik itu lebih erat agar jangan terlepas. “Lepaskan!” Genggamanku makin kuat. “Lebih baik Oppa kembali, aku sudah bahagia hanya dengan genggaman ini dan aku ikhlas melepasmu. Kembalilah Oppa. Semua orang yang menyayangimu menantimu.” Tiba-tiba sosok cantik itu menghilang, genggamanku kosong berganti dengan angin.

 

“Yuri! Kwon Yuri!”

 

Tubuhku merasakan tarikan yang kuat, hingga dada ini sulit bernapas. Dan saat aku membuka mata lagi, aku telah berada disebuah kamar bernuansa putih.

 

“Oppa sudah sadar?” Ia menyapaku tersenyum disertai air yang menetes dari pelupuk matanya. Ia terlihat menekan beberapa nomor di ponselnya dan mulai berbicara. Entah siapa yang ia telepon. Tapi mata ini perlahan terpejam lagi merasakan kantuk yang luar biasa. Aku teringat sosok Yuri yang tiba-tiba menghilang dari pandanganku, membuat rasa kantuk ini ikut menghilang.

 

“Yul! Yuri!!” Aku berteriak. Sosok yeoja tadi memegangi tanganku. “Oppa…” Aku tak kenal dengannya, aku tak tahu dirinya. Yang ku butuhkan Yuri. “Mana Yuri, mana dia!” Ia menangis, terisak.

 

Pintu ruangan itu terbuka,

 

“Eomma….”

 

“Siwon-ah, anakku….” Eomma memelukku. “Mana Yuri Eomma.” Kurasa tubuh Eommaku menegang, aku tahu dia tak pernah menyukai Yuri. Sejak dulu, sejak aku memperkenalkan Yuri, kekasihku. Aku merenggangkan pelukanku dan menatapnya dengan pandangan dingin.

 

“Apa Eomma berhasil menyingkirkannya? Apa Eomma berhasil mencelakainya seperti janji Eomma dulu?”

 

“Oppa…” Yeoja tadi bersuara, “Siapa kau? Aku tak mengenalmu.” Yeoja tadi terdiam, entah apa yang ia rasakan sekarang.

 

Kulihat Eomma geram, “Siwon-ah, dia tunanganmu! Apa kau lupa kalau Eomma sudah memilih calon untukmu?”

 

“Tunangan? Aku merasa tak memiliki tunangan Eomma. Katakan sekarang dimana Yuri-ku, dimana dia!!” Aku berteriak, sudah habis rasanya kesabaranku untuk bertanya baik-baik. Ia tak menjawab pertanyaanku tentang Yuri tapi malah menjelaskan hal yang tak ku harapkan.

 

“Yuri…”

 

“Yoona jangan katakan apapun.” Aku mendelik menatap tajam yeoja tadi, Yoona? Apa itu namanya? “Tak apa Ahjumma, biar semuanya jelas, dan Ahjumma tak perlu disalahkan lagi.”

 

“Yuri sudah tenang disana Oppa.” Disana? Aku belum mengerti apa yang diungkapkan yeoja ini, “apa maksudmu?” Nadaku berusaha terdengar dingin. Aku merasa dia bersekongkol dengan Eommaku, dan ku yakin tebakanku tak mungkin salah. Tunangan? Bukankah itu sudah mengganmbarkan bahwa Eommaku menyukainya. Wanita yang sangat pemilih itu, bisa-bisanya memilih yeoja ini dan langsung mengatakan kalau dia tunanganku.

 

“Yuri sudah meninggal saat kecelakaan dua minggu yang lalu tepat pada hari pertunangan kita.” Agak terbata dan akhirnya isakan itu terdengar lagi. Aku mencerna kembali tiap kata yang meluncur dari bibirnya. Meninggal, kecelakaan, pertunangan? Tiga kata yang masih berusaha ku ingat. Yang aku ingat hanya, saat-saat bersamanya, bersama Yuri.

 

Siwon POV End

 

 

Yoona POV

 

Aku tak dapat menahan airmata yang memang sudah menggenang dari tadi di mataku ini. Aku egois? Mungkin. Tapi aku mencintainya, bahkan sebelum aku bertatap muka dengannya jiwa ini sudah sepenuhnya menjadi miliknya. Milik namja itu. Terdengar tak logis bukan?

 

Seorang yeoja sederhana dan sebatang kara yang sedari kecilnya tinggal di sebuah panti asuhan mana mungkin bermimpi bisa menjadi calon menantu salah satu keluarga terpandang di Korea. Namun, itu bukan mimpi. Menjadi salah satu anak asuh dari nyonya Choi ternyata mengantarkanku kepada impian itu. Nyonya Choi sering menceritakan tentang putranya itu, nada antusias dan kasih sayang jelas terdengar dari rentetan kalimat yang ia keluarkan. Hanya dengan mengetahui kepribadian putranya dari ceritanya telah membuat hati ini begitu mengagumi sosok Siwon.

 

Enam bulan yang lalu, nyonya Choi datang mengunjungiku, bukan kunjungan biasa, dia sengaja memberi ucapan selamat atas kelulusanku dengan nilai tertinggi di bidang desain. Ternyata tidak hanya itu, dia juga mengutarakan keinginannya untuk menjadikanku calon menantunya. Tentu saja aku shock, dan perasaanku tak menentu saat itu. Nyonya Choi akhirnya menceritakan kisah cinta putranya. Dan akhirnya aku tahu, putranya, Choi Siwon berubah sejak berpacaran dengan seorang model papan atas korea yang bernama Kwon Yuri. Yuri, tentu saja nama itu tak asing bagiku selain dia model terkenal dia juga adalah kakak kandungku yang tega meninggalkanku demi impiannya itu. Ada rasa sakit yang menyelubungi hati ini kala mengetahui Siwon ternyata adalah kekasih kakakku. Dan saat nyonya Choi menginginkan aku menjadi menantunya, terbersit keinginan untuk menerimanya dan mungkin sedikit membalaskan dendam, entahlah. Aku putuskan menerimanya, dan rencana-rencana pesta pertunangan itu pun di atur oleh nyonya Choi.

 

Aku hanya melihatnya dari jauh, dan aku tahu dia tak pernah menginginkan pertunangan ini. Pernah suatu hari nyonya Choi berniat memperkenalkanku secara langsung dengan Choi Siwon, namun beberapa langkah sebelum aku sampai di hadapan ibu dan anak itu aku sudah disuguhi tontonan pertengkaran dan percekcokan. “Pertunangan? Yeoja matrealistis mana lagi yang Eomma mau kenalkan padaku?” Hatiku sakit mendengarnya, merasa tak sanggup berhadapan dengannya akhirnya ku putuskan mundur dari rencana ini. Tapi nyonya Choi tak mengijinkannya, ia kembali memintaku dengan sangat agar mau bertunangan dengan putranya. Aku tak lagi sanggup menolak saat nyonya Choi memohon dengan aliran airmata yang membasahi wajahnya. “Aku mohon Yoona-ya, aku yakin kau yang terbaik untuk Siwon. Kau yang bisa mengimbangi sikap tempramennya. Kau adalah jodohnya.” Aku luluh. Pertunangan tetap akan dilaksanakan tanpa kami pernah bertemu bertatap muka layaknya orang kebanyakan.

 

Dan kecelakaan maut itupun terjadi dihari pertunanganku. Nyonya Choi menceritakan kalau Siwon berusaha melarikan diri untuk menghindari pesta pertunangan. Saat mendengar Siwon kecelakaan, nyonya Choi tetap bersikap tenang dan mengumumkan pada semua tamu kalau anaknya tidak dapat hadir karena urusan bisnis yang sangat mendesak. Pesta itu tetap berjalan tanpa kehadiran Siwon. Dan statusku pun saat itu berubah menjadi tunangannya.

 

“Mereka kecelakaan, Siwon mengalami benturan cukup keras di kepalanya hingga menyebabkan dia koma. Kita hanya bisa menunggu kapan dia bisa bangun lagi.” Aku menangis saat itu, aku tak tahu apa aku menangisi Siwon, padahal kami tak pernah saling kenal. Sesaat pikiranku bertanya-tanya bagaimana dengan Yuri, dari hati kecilku berharap ia selamat, ia tetap kakakku.

 

“Yuri tak tertolong, dia terlempar keluar mobil dan kepalanya membentur aspal. Ia meninggal.” Aku menutup mulutku tak percaya, kakakku satu-satunya telah tiada, pembalasan yang tidak setimpal. Aku memang ingin balas dendam tapi tidak dengan kehilangan nyawanya. Aku menangis sejadi-jadinya, aku yakin saat itu nyonya Choi bertanya-tanya kenapa aku begitu histerisnya menangis. Aku tak peduli dan tak berniat untuk menceritakan apapun.

 

Aku merawatnya yang terbaring koma dengan telaten, mungkin ini kesempatan yang diberikan Tuhan untuk bisa dekat dengannya, menatap wajahnya dengan jarak dekat. Menyentuh tangannya, melihat dengan detail tiap ukiran sempurna di wajah tampannya. Tidak salah memang dia dipuja-puja, dia bagai dewa. Dan setelah dua minggu akhirnya dia bangun, dan tak mengenaliku. Wajar bukan? Dia memang tak pernah melihatku, hanya aku yang melihatnya.

 

Ia memandangku dengan sorot mata jijik dan dingin, namun beberapa saat kemudian ia menangis setelah aku menceritakan semua. Dapat ku simpulkan dia mencintai Yuri, sangat mencintai Yuri.

 

~•~

 

“Ahjumma, bolehkah aku mengusulkan sesuatu?” Aku membuka pembicaraan saat kami tengah makan di kantin rumah sakit. Nyonya Choi menoleh dengan wajah penuh tanda tanya. “Aku tak mungkin menikah dengan Siwon karena sampai detik ini dia tidak pernah mengakui pertunangan ini.” Aku menghela nafas, ” Beri aku waktu untuk mendekatinya perlahan, aku akan berusaha tapi kalau sampai pada akhirnya aku tetap tak diterimaku, aku ingin Ahjumma membatalkan pertunangan ini.” Ucapku langsung. Nyonya Choi terdiam, aku tak bisa membaca raut wajahnya itu. Geram namun tenang. Apa aku salah bicara?

 

“Yoona-ya aku yakin kau bisa meluluhkan Siwon, dan aku lihat kau juga telah mencintainya bukan?” Wajahku memerah, apa perasaanku terlihat jelas oleh wanita ini? “Aku lega akhirnya kau bisa mencintai putraku walau tanpa pendekatan khusus. Terserah kau saja mau melakukan apa, aku akan mendukungmu. Namun aku tetap berharap kau akan menjadi menantuku nantinya.” Nyonya Choi tersenyum manis. Aku membalasnya disertai doa yang aku gumamkan dalam hati. Aku juga mengharapkannya Tuhan.

 

~•~

 

Seminggu berlalu, sikapnya masih dingin. Tak banyak bicara. Sekalipun bicara hanya nada makian dan kemarahan yang meluncur dari bibirnya. Tapi tak apa-apa, aku masih bertahan.

 

“Apa yang kau inginkan sebenarnya,” ujarnya suatu hari, baru kali ini dia bicara denganku dengan nada setenang itu walau masih terdengar dingin. Aku yang sedang mengupasi apel untuknya akhirnya menoleh menatapnya. Ia tak menatapku, tak sekalipun pernah.

 

“Menurutmu?” Aku melanjutkan acara mengupas apel yang sudah setengah kupas ini. “Kau ingin kekayaanku? Kalau begitu ambillah aku tak membutuhkannya.” Aku tersenyum pahit. Apa tampangku seperti yeoja-yeoja matre kebanyakan yang ia kenal? Apa aku tampak serendah itu? Haruskah aku mengatakan kalau aku menyukainya? Kalau aku ingin memilikinya? Lupakan Yoona.

 

“Aku tak serendah itu.”

 

“Lalu kenapa kau mau saja menerima pertunangan ini? Aku tahu kau hanya yeoja dari kalangan bawah yang dibiayai oleh ibuku, dan kau mau saja disuruh untuk menjadi tunanganku? Dimana harga dirimu? Apa kau tak memiliki namja impianmu sendiri?!” Aku tertohok, namja impianku? Tentu saja aku punya dan itu adalah dirimu Choi Siwon.

 

“Aku tak punya, dan sudah seharusnya bukan aku membalas kebaikan hati nyonya Choi?” Ia mengeram. “Oh, jadi kau memang ingin menjual harga dirimu hanya untuk balas budi?” Aku mengangguk, namun perlahan airmata yang tertahan meluncur dengan sendirinya. Aku meletakkan apel yang sudah ku kupas tadi di atas piring lalu berjalan menuju pintu. “Makanlah apelnya, kalau terlalu lama tak akan terasa enak lagi.” Ucapku tanpa menoleh.

 

Aku menangis dibalik pintu, sesak. Aku menertawakan nasib diriku sendiri. Apa aku bisa bertahan untuk mendapatkan hatinya? Apa yang harus kulakukan Tuhan.

 

Yoona POV End

 

 

Siwon POV

 

Aku melihat ketulusan dimatanya, tak mungkin rasanya dia mengincar hartaku. Tapi mulutku tak mau kompromi untuk menanyakannya sendiri. Bodohnya aku, karena dia memang tak mengincar itu. Namun jawabannya membuatku sangat kecewa. Balas budi, sungguh menggelikan. Apa yeoja ini tak punya harga diri? Hanya untuk balas budi dia rela mengorbankan masa depannya?

 

Jawabannya tegas tapi tersirat nada pilu disana. Aku tahu dia menderita karena harus merawatku dan status pertunangan ini pasti menyiksanya. Kembali ku teringat akan sosok Yuri, kekasihku. Ia yeoja yang blak-blakkan dan sangat kuat dalam menghadapi hidupnya. Tak bisa aku pungkiri itulah yang membuatku tertarik dan menyukainya. Ia mandiri dan terkadang terlihat rapuh dibeberapa waktu. Ia begitu mirip dengan yeoja itu, Yoona. Tegas, terlihat kuat tapi matanya menyiratkan kerapuhan dan misteri yang tak kuketahui.

 

“Yuri-ya, apa kau sudah tenang disana? Apa kau menginginkanku bangkit dari keterpurukanku karena kehilanganmu?”

 

~•~

 

“Kau sudah boleh pulang Siwon-ah, dan biar Yoona mengantarmu ke apartemenmu. Dia akan merawatmu untuk beberapa waktu sampai kau benar-benar dinyatakan pulih.” Aku menatap dingin ibuku, namun tak ku jawab. Aku berjalan pelan keluar dari kamar rawat itu, sesaat ku merasakan tangan lembut menggenggam lengan atasku membantuku berjalan namun aku menepisnya. Aku ingin berjalan sendiri, aku masih bisa.

 

Hanya keheningan yang terjadi didalam mobil ini, yeoja itu menyetir dengan tenang. Sesekali aku mencuri pandang. Wajahnya sendu, sendu tapi terkesan tegas. “Apa kau memerlukan sesuatu, Oppa? Kita bisa membelinya dulu di supermarket sebelum kita menuju apartemenmu.” Aku diam tak menjawab. “Baiklah aku akan membeli beberapa keperluanku dulu, tunggu sebentar.” Ia menepikan mobilnya dan keluar setelah melepaskan sabuk pengaman. Tak lama, hanya lima menit kurasa dia telah kembali dengan kantong kecil di tangannya.

 

“Bisakah kau tidak memanggilku dengan sebutan Oppa? Aku tak nyaman kau memanggilku sengan sebutan itu.” Dia terdiam, “Apa kau mendengarkanku?”

 

“Baiklah, Siwon-ssi”

 

~•~

 

“Siwon-ssi makan malammu sudah siap, kau mau makan di sini atau di meja makan?” Tanpa menjawabnya aku memutuskan bangkit dari tempat tidur dan berjalan melewatinya menuju meja makan. Aku mencicipi semua makanan buatnya mungkin. Tidak terlalu buruk kurasa. Tak sengaja mataku melirik dia diseberang meja, ia menatapku dan aku sudah menangkap basah dirinya. Sedikit salah tingkah, namun dia cepat kembali menguasai dirinya.

 

Selesai makan malam aku beranjak ingin kembali ke kamarku. Namun suaranya menghentikan langkahku. “Apa kau bisa menceritakan kehidupan cintamu padaku Siwon-ssi?” Aku mengernyitkan dahiku, “Ma… Maksudku, anggap saja aku benda mati yang bisa kapan saja kau manfaatkan untuk mendengar kisah dan isi hatimu.” Aku berbalik mendekati kursinya. “Bagaimana mungkin aku menganggapmu benda mati sedangkan kau bernapas.” Ia menegang mendengar perkataanku, “jadi kuharap kau jangan coba-coba bersikap manis atau seakan-akan ingin menjadi temanku. Aku tak sudi.” Keterlaluan memang tapi aku tak tahu harus bagaimana bersikap terhadapnya.

 

Siwon POV End

 

 

Airmata Yoona kembali mengalir untuk diri Siwon. “Jadi ku harap kau jangan coba-coba bersikap manis atau seakan-akan ingin menjadi temanku. Aku tak sudi.” Kalimat Siwon terdengar menyakitkan untuk dirinya. Tangisnya pecah setelah mendengar suara pintu kamar Siwon yang tertutup. Siwon membencinya, itu yang ia pikirkan. Walau tidak dengan emosi yang meluap-luap tapi ini lebih menyakitkan untuk Yoona. Setelah puas menangis Yoona berdiri membereskan meja makan dan mencuci piring-piring. Yoona berjalan menuju kamarnya, menutup pintu perlahan dan kembali Yoona terduduk dibalik pintu menangisi nasib hidupnya dan cintanya.

 

~•~

 

Yoona yang membuka mata pagi itu merasakan tubuhnya sakit, ternyata dia meringkuk tidur diatas lantai depan pintu bukannya diatas tempat tidur. Pantas saja tubuhnya terasa remuk. Dan matanya pun terasa bengkak, oh pasti akibat menangis semalaman. Ia berdiri berjalan menuju kamar mandi. Didepan wastafel ia membasuh wajahnya. Matanya memang terlihat bengkak. Ia melucuti seluruh pakaiannya dan berendam didalam bathtub berharap rasa penatnya sedikit berkurang. Sejam dirasa waktu yang cukup untuk berendam. Ia meraih handuk kimono yang terlipat rapi di rak dekat wastafel tadi dan memakainya, dan akhirnya keluar dari kamar mandi. Saat membuka pintu ia terkejut mendapati Siwon sudah berdiri dengan tatapan dinginnya. Ia meneliti tubuh Yoona dari atas hingga bawah, wajah Yoona merah padam dan ia merasa tersudut.

 

“Siapkan sarapan untukku.” Siwon berjalan keluar kamar dan menutup pintu dengan sedikit kasar. Yoona menghela napas lega lalu melihat ke arah jam yang terletak di atas nakas sebelah tempat tidurnya. Pukul delapan pagi, pantas saja. Mungkin dia sudah kelaparan jam segini, pikir Yoona.

 

 

 

Siwon POV

 

Dadaku berdegup kencang menyaksikan pemandangan didepanku. Ia hanya mengenakan baju mandi. Keteledoranku memang masuk tanpa ijin ke kamarnya. Tapi aku sudah sangat lapar dan aku tak tahu kalau dia akan keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan baju handuk. Untung saja aku lekas pergi, kalau tidak aku tak tahu apa yang akan terjadi padaku selanjutnya.

 

Sepuluh menit kemudian, aku melihat ia keluar dari kamarnya dan berjalan menuju dapur. Aku tak peduli dan terus saja asyik menggonta-ganti channel tv didepanku. Tak sampai 30 menit aroma masakan telah tercium oleh ku. Aku beranjak menuju meja makan dan mendapati sarapan telah tertata rapi di atasnya. Aku mendudukan diriku dan mulai memakan makanan tersebut.

 

“Aku akan mulai bekerja hari ini.” Ucapku datar, aku merasa memang harus memberi tahunya bukankah dia yg merawatku dan dia juga tunanganku? Tunangan, aku merasa tak menyukai status itu. Ia hanya membalas budi dengan bertunangan denganku. “Tapi kau belum sembuh benar, bukankah dokter mengatakan perlu waktu beberapa hari lagi untuk kau istirahat?” Aku menangkap nada khawatir dari kalimat-kalimatnya. “Aku merasa sudah sehat, dan sudah siap untuk kembali bekerja. Kau tak perlu mengaturku.” Aku kembali fokus pada makananku saat tak lagi ada kata yang terucap dari mulutnya.

 

Siwon POV End

 

 

Yoona POV

 

Aku tak lagi mencoba menahan keinginannya untuk kembali bekerja. Selagi ia dikamar aku menghubungi nyonya Choi, dan sepertinya dia tak mengkhawatirkan lagi kondisi putranya itu. Jadi sepertinya aku harus mencari kesibukan baru untuk mengisi waktu luangku. Melamar pekerjaan, mungkin aku akan mencobanya.

 

Siwon telah berangkat ke kantor dan aku pun mulai bersiap-siap untuk melamar pekerjaan. Namun aku teringat akan sosok kakakku, aku belum mengunjunginya lagi sejak hari pemakamannya. Aku putuskan untuk menemuinya, setidaknya aku ingin minta maaf karena berencana membalaskan dendam dengan cara yang sangat menjijikkan menurutku. Aku melangkah keluar dan berjalan menuju halte bis terdekat.

 

Berdiri didepan batu nisan ini membuat kakiku lemas, ingatan masa kecil yang suram membuatku membenci dirinya, tapi rasa sayang persaudaraan ini terlalu besar. “Bagaimana kabarmu Eonni, kau mengenalku kan? Aku adikmu Im Yoona, adik yang tega kau tinggalkan sendiri di panti asuhan itu. Hingga menganggap dirinya sebatang kara selama ini. Maaf karena sempat terbersit perasaan ingin membalas dendam dengan mendekati kekasihmu itu Eonni. Tapi ternyata Tuhan berkata lain, kau pergi, aku tak ingin kau pergi. Kau seharusnya meminta maaf dulu padaku, kau seharusnya memohon untuk dimaafkan.” Aku tersungkur dengan genangan airmata dipipiku. “Apa kau tak pernah merasa bersalah selama ini?” Aku mengusap airmataku. “Aku juga mencintainya Eonni, maafkan aku. Terdengar egois mungkin. Tapi ijinkan aku mendekatinya dan kalau pun memang dia tak menginginkanku nantinya, aku akan menyerah dan tak akan lagi menganggu hidupnya. Aku yakin kau mengijinkannya kan Eonni.” Aku berdiri dan kemudian perlahan meninggalkan makam itu. Perasaanku sedikit lega sekarang menumpahkan seluruh isi hatiku padanya. Memaafkannya membuat beban di hati ini menghilang seketika. Memang benar kata orang, memaafkan akan membuat hatimu terasa damai.

 

Yoona POV End

 

 

Yoona melangkah menjauhi makam Yuri, dengan perasaan damai hingga senyuman kelegaan tersungging dari bibirnya. Ia tak menyadari dari jauh sepasang mata menatapnya intens, menyiratkan kemarahan disana.

 

Yoona mulai melamar pekerjaan dari satu perusahaan ke perusahaan yang lain. Ternyata memang tak mudah mencari pekerjaan. Walau nilai kelulusannya lumayan tinggi namun itu bukan jaminan ia bisa diterima diperusahaan manapun. Apalagi dia belum memiliki pengalaman dalam bekerja, mungkin ada pada saat praktek kerja lapangan saat kuliah dulu namun itu belum cukup.

 

Dengan langkah lelah Yoona memasuki apartemen Siwon. Ia memutuskan untuk melanjutkan mencari pekerjaan keesokan harinya. Tubuhnya butuh istirahat sepertinya dan ia tak ingin jatuh sakit kalau memaksakan diri dicuaca yang kurang bersahabat itu. Yoona melepaskan sepatunya dan heran melihat sepasang sepatu hitam milik Siwon sudah tergeletak didepan pintu. Mungkin Siwon sudah duluan pulang, pikirnya. Masih ada waktu untuk istirahat sebelum dia menyiapkan makan malam. Yoona berjalan menuju kamarnya, ia membuka pintu kamar dan saat menutupnya Yoona tak bisa menutupi rasa kagetnya mendapati Siwon sudah berada dibalik pintu. Pandangannya dingin, tapi ini lebih menyeramkan menurut Yoona. Siwon mengunci pintu dan memasukan kunci kesaku celananya. “Apa yang kau lakukan dikamarku Siwon-ssi?” Siwon menyeringai. “Harusnya aku yang bertanya, apa yang kau lakukan di makam Yuri tadi pagi Yoona-ssi?” Yoona menelan ludah, bibirnya terasa kelu. Siwon berjalan mendekat ke arahnya dengan raut wajah yang sangat menakutkan. Yoona melangkah mundur dan akhirnya terduduk di atas ranjang miliknya.

 

“Stop! Jangan mendekat!” Yoona ketakutan, ia takut, dan dia sendiri. Ia tak ingin sesuatu terjadi padanya. Siwon tak menggubris peringatan Yoona malah makin mendekat dan menarik tangan Yoona kasar agar berdiri berhadapan dengannya.

 

Siwon tanpa ijin mencium Yoona kasar, Yoona membelalakkan matanya. Bibirnya bermain dengan kasar, dan itu membuat Yoona kesakitan. Yoona mencoba melepaskan ciuman Siwon namun Siwon makin memperdalam ciumannya dengan memundurkan tubuh Yoona ke dinding dan tangannya dipegang erat oleh Siwon. Saat hampir kehabisan napas Siwon baru melepas ciumannya, keningnya menyatu dengan kening Yoona. Napas mereka saling memburu, Yoona akhirnya tak dapat menahan tangisnya. Dirinya merasa dilecehkan, ia menampar pipi Siwon lalu mendorong tubuh Siwon hingga terduduk di atas karpet.

 

“Kenapa kau menamparku ah? Bukankah itu yang kau inginkan dariku? Apa kau mau yang lebih lagi?” Nada Siwon mengejek. Yoona menangis histeris. Ia bukan yeoja gampangan seperti yang Siwon bayangkan, kenapa namja itu memperlakukannya dengan sangat buruk.

 

“Keluar.” Nada Yoona terdengar dingin.

 

“Keluar!!” Sekali lagi dan sedikit berteriak. Siwon berdiri, ia merasa sudah cukup memberi pelajaran pada yeoja itu. Ia berjalan santai merogoh kunci dari sakunya dan kemudian membuka pintu, lalu menoleh sekali lagi dan berakhir dengan dentuman pintu yang lumayan keras.

 

Yoona menangis sejadi-jadinya. Namja itu telah membuatnya membenci dirinya sendiri, kenapa ia harus jatuh cinta pada namja seperti itu. Bahkan setelah kejadian tadi pun rasa cintanya tetap sama. Dia harus mengambil keputusan, Yoona bersusah payah bangkit dari ringkukannya dan meraih tas tangan yang tergeletak asal di lantai kamarnya. Ia merogoh isinya dan mengeluarkan ponsel sederhana miliknya. Menekan beberapa tombol lalu mulai berbicara dengan seseorang yang ia telepon, isakan tangisnya berusaha ia tahan. Lalu ia menutup teleponnya sambil menghapus sisa air mata yang mengalir di pipinya.

 

“Mungkin ini yang terbaik.”

 

~•~

 

Yoona mendorong kopernya yang memang tak terlalu besar melewati ruang tamu. Langkah Yoona terhenti mendengar pertanyaan dari Siwon.

 

“Tugasku sudah selesai, kau sudah sehat sekarang. Jadi aku akan pergi dari sini.” Yoona kembali berjalan namun saat ia hendak membuka pintu, tangannya ditahan Siwon, “apa maksudmu?”

 

“Bukankah kesepakatannya, aku akan merawatmu dan tinggal denganmu hanya sampai kau sembuh?” Siwon termangu tapi tangannya tetap menahan tangan Yoona. “Lepaskan tanganku!”

 

Siwon dengan hati tak rela akhirnya melepaskan genggamannya dari tangan Yoona. Yoona memejamkan matanya, dan airmata itu akhirnya mengalir lagi. Yoona membuka pintu lalu berjalan meninggalkan Siwon dengan perasaan hancur. Siwon, entahlah ia tak mengerti dengan perasaannya. Seharusnya dia membenci yeoja itu, tapi entah kenapa hatinya berkata lain. Apakah ada sesuatu yang ia rasakan? Ia belum memahaminya dan tidak berniat mencari tahu. Siwon melangkah menuju ruang tamu, mendudukan dirinya dengan perasaan kacau dan tak tahu apa yang akan terjadi padanya tanpa ada Yoona di sisinya.

 

~•~

 

Yoona meringkuk diatas tempat tidur sederhananya disebuah kamar kost yang sebelumnya memang telah ditempatinya sejak ia mulai kuliah empat tahun lalu. Kamar kostnya terbilang kecil hanya berukuran 3×4 meter dan semua barang-barang Yoona yang memang tidak banyak itu berada di kamar tersebut.

 

Kemarin sore ia memutuskan meninggalkan apartemen Siwon dan telah memberitahu nyonya Choi kalau Siwon sepertinya sudah pulih dan tak memerlukan bantuannya lagi. Nyonya Choi percaya walau ia merasa ada keanehan dari suara Yoona saat menelponnya kemarin tapi nyonya Choi tak terlalu memikirkannya.

 

Yoona kembali teringat akan kejadian kemarin, bagaimana Siwon dengan kasar dan dinginnya menciumnya tanpa ijin. Bahkan sampai saat ini, perih dibibirnya masih terasa akibat gigitan yang diberikan Siwon. Yoona mengutuk dirinya, menyesali semua yang ada pada dirinya. Kehidupan kini terasa tak berarti lagi baginya. Ia sebatang kara, jadi kalaupun ia mati tak akan ada seorangpun yang akan menangisinya.

 

Tapi akal sehatnya kembali muncul, ia memang sendiri tapi bukan berarti dia lemah. Ia masih bisa hidup dengan tangannya sendiri. Ia harus membuktikan pada dunia kalau dia kuat dan bisa bertahan dari kerasnya kehidupan. Ia harus mencari pekerjaan, bukankah dia sudah lulus menjadi seorang desainer? Walau kemarin ia mendapat penolakan dari beberapa perusahaan, tak mungkin semua perusahaan menolaknya, pasti ada satu dari puluhan bahkan ratusan perusahaan tekstil yang mau menerimanya.

 

Yoona menyibak selimut yang membungkus tubuh kurusnya, lalu berjalan ke arah kamar mandi yang juga berada di kamar kostnya itu. Pemilik kamar kost memang membuatkan kamar mandi disetiap kamar kost yang ia sewakan, jadi mempermudah para penyewanya dalam melakukan aktifitas-aktifitas pribadi.

 

Setelah membereskan diri dan bersiap untuk pergi, Yoona mendengar nada handphone yang menandakan adanya panggilan masuk ke handphonenya itu. Ia meraih ponsel sederhana itu dan melihat siapa yang meneleponnya.

 

“Yoojin?”

 

~•~

 

“Aku membutuhkanmu Yoong, kau tahu aku mencari-carimu karena setelah lulus kau bagai hilang ditelan bumi. Padahal rencana ini sudah terpikirkan olehku sebelum kita lulus.” Yoona tersenyum geli. Yoojin, temannya ini masih sama. Suka ceplas-ceplos dan sedikit tomboy. Namun rambut panjang bergelombangnya membuat ia kelihatan cantik walau kesan arogansi di wajahnya masih kentara. “Kau sungguh-sungguh menawariku bekerja di perusahaan kakakku itu?” Yoojin mengangguk yakin, “Tentu saja, aku tak mungkin bersusah payah mendapatkan nomor teleponmu kalau aku tak sungguh-sungguh. Untung saja ibu panti asuhan menyimpan nomormu ini, kalau tidak aku mungkin tak akan pernah bertemu lagi denganmu Yoong.” Yoona terharu, ternyata masih ada seseorang yang menganggapnya dan berusaha mencarinya saat ia tak menampakkan diri dihadapan orang itu.

 

“Yoojin-ah, gomawo,”

 

“Untuk apa kau berterima kasih, kau saja belum menerima tawaranku.” Dengus Yoojin. “Gomawo, karena telah susah payah mencariku.” Yoona menitikkan airmata harunya. Yoojin yang melihatnya jadi ikut sedih melihat temannya itu. Ia tahu Yoona sebatang kara, dan ia juga tahu selama menjadi temannya Yoona selalu merasa sendirian. Ia berusaha untuk menjadi sahabat terbaik bagi Yoona selama ini, namun Yoona seolah menjaga jarak darinya dan hanya mengijinkannya berteman dengannya sebatas teman bukan sahabat.

 

Yoojin menggeser kursinya mendekat ke kursi Yoona dan memeluk temannya itu. “Aku temanmu kan, jadi jangan pernah merasa sendiri lagi didunia ini.” Yoona tak dapat berkata-kata lagi ia hanya mengangguk, tangisnya pecah untuk beberapa saat sampai akhirnya Yoona melepaskan pelukannya.

 

“Sekali lagi terimakasih Yoojin-ah.”

 

“Iya, dan kau harus berjanji akan menceritakan apapun kesulitanmu, itupun kalau kau memang menganggap aku ini temanmu.”

 

“Pasti, kau tak hanya teman, tapi sahabatku.” Yoojin tersenyum senang akhirnya Yoona mulai membuka dirinya.

 

“Jadi kapan aku bisa mulai bekerja?”

 

“Besok, kau bisa masuk kerja. Aku akan menjemputmu, karena kita akan bekerja di tim yang sama.”

 

“Benarkah?” Yoojin mengangguk. “Pasti menyenangkan bekerja denganmu Yoojin-ah dan mungkin kegugupanku akan sedikit berkurang.”

 

“Kau ini, tak perlu gugup. Aku akan melindungimu.”

 

“Melindungi?”

 

“Ya, aku akan melindungimu sampai ada seorang namja yang bisa aku percaya melindungimu.” Yoona terdiam. Ia teringat akan tunangannya. Tunangan? Apa ia masih berhak menganggap Siwon sebagai tunangannya?

 

“Yoong?”

 

“Ya…”

 

“Apa ada sesuatu yang ingin kau ceritakan kepadaku?” Yoona menggeleng pelan. Yoojin menghela napas, ia yakin ada sesuatu yang dirisaukan sahabatnya itu, namun ia tak ingin memaksa Yoona menceritakannya sekarang. Mungkin nanti Yoona akan menceritakan dengan sendirinya padanya.

 

~•~

 

Empat bulan sudah Yoona bekerja dengan Yoojin, dan selama itu Yoona disibukkan dengan persaingan dengan tim lain diperusahaan itu. Ia dan Yoojin harus bekerja ekstra untuk menghasilkan rancangan sekreatif mungkin dan sesuai dengan tema yang ditentukan perusahaan.

 

Hari ini penentuan atas hasil kerja kerasnya dengan Yoojin. Ia memang baru didunia fashion tapi ia yakin hasil desainnya dengan Yoojin tak kalah bagus dengan hasil desain dari tim-tim lain yang lebih berpengalaman. Tapi sepertinya kepercayaan diri Yoona harus diuji malam ini. Karena acara pengumuman rancangan siapa yang akan menjadi pemenang dan yang akan di pasarkan di toko-toko pakaian nanti diadakan bersamaan dengan pesta ulang tahun perusahaan tersebut. Yoona harus berdandan cantik tentu saja, dan yang jadi masalah ia pribadi yang cenderung kasual dan memakai gaun adalah hal yang ia tak sukai.

 

Yoojin harus mati-matian membujuk Yoona tatkala Yoona menolak datang dan menyuruh Yoojin saja yang menghadiri pesta tersebut. Yoona akhirnya terpaksa mematuhi Yoojin karena Yoojin dengan santainya mengancam akan meminta kakaknya memindahkan Yoona ke divisi lain.

 

Dan sekarang disinilah Yoona, berdiri anggun mengenakan gaun berwarna biru muda pinjaman Yoojin tentu saja. Sepatu high heels berwarna senada dengan gaunnya membuat kaki Yoona terlihat lebih jenjang. Tas pesta berwarna hitam memberi kesan kuat ditangannya. Yoona tampak tak nyaman dalam bergerak tapi ini demi pekerjaan jadi dia pikir ia harus bertahan setidaknya sampai pengumuman pemenang itu berlangsung dan ia bersumpah akan langsung pergi dari pesta itu.

 

“Oh maaf.” Secara tak sengaja Yoona menabrak seseorang. Yoona tadinya ingin membetulkan tali high heelsnya namun karena tak melihat ada orang yang berdiri di depannya akhirnya ia menabraknya. Tanpa melihat siapa yang ia tabrak Yoona membungkuk meminta maaf dan kemudian berjalan cepat menjauh dari orang yang ia tabrak.

 

“Yoona-ssi”

 

Degg…

 

Langkahnya terhenti, Yoona mengenal pemilik suara itu, ia tak mungkin melupakan suara berat tersebut. Suara namja yang beberapa bulan ini berusaha ia lupakan. Yoona memejamkan matanya dan tanpa menoleh ia melanjutkan langkahnya, berharap itu hanya halusinasinya saja, atau telinganya yang salah mendengar. Ya, mungkin ia salah dengar.

 

Yoona mencari-cari sosok Yoojin yang belum juga ia temukan sejak datang ke pesta ini. Ia merutuki dirinya, karena mau-mau saja dipaksa datang ke pesta itu. Ia memang mengenal beberapa orang yang hadir, namun ia merasa tak nyaman bila harus bergabung dengan rekan-rekan kerja nya itu.

 

“Yoong!” Yoona menoleh ke sumber suara yang ia kenali. Yoojin berjalan ke arahnya sambil mengandeng seorang namja disampingnya. Yoona menyipitkan matanya, sejak kapan Yoojin mempunyai namjachingu?

 

“Hei, sudah lama menunggu?”

 

“Nuguya?” Tanya Yoona langsung sambil menetap penasaran namja disamping Yoojin. Yoojin tersipu malu. “Joowon-Oppa kenalkan dia temanku Im Yoona. Yoona dia, hmm Joowon-Oppa.” Yoona menyambut uluran tangan Joowon.

 

“Im Yoona imnida,”

 

“Moon Joonwon imnida, namjachingu Yoojin.” Yoona membelalakkan matanya ke arah Yoojin. Jadi selama ini dia menyembunyikan statusnya yang sudah mempunyai pacar?” Yoojin, menatap Yoona penuh rasa bersalah.

 

 

Yoona POV

 

Bisa-bisanya Yoojin menyembunyikan hubungannya dariku, awas saja dia nanti. Akan aku cecar dengan berbagai pertanyaan dan aku akan menyudutkannya. Kalau dilihat-lihat mereka cocok sih. Semoga akhir kisah mereka nanti bahagia, kuharap.

 

“Joowon-ssi!” Samar-samar dari arah belakang aku mendengar seseorang memanggil nama kekasih Yoojin.

 

“Siwon-ssi! Hai…”

 

Siwon? Apa aku tak salah dengar. Derap langkah mendekat makin terdengar jelas.

 

“Hai, sudah lama kita tak bertemu.” Namja yang memanggil Joowon tadi sudah berdiri disamping kiriku. Ia mengulurkan tangannya ke arah Joowon, dan Joowon menyambutnya. Aku tak berani menoleh, tubuhku terasa lemas sekarang.

 

“Siapa ini Oppa?”

 

“Oh, dia direktur utama Choi Corporation, dan kudengar departemen-departemen storenya akan menjadi tempat pemasaran hasil rancangan yang akan menjadi pemenang hari ini. Begitu kan Siwon-ssi?”

 

“Ah, kau berlebihan.” Kulihat Yoojin mengulurkan tangannya. Namja disampingku menyambutnya.

 

“Kim Yoojin imnida senang berkenalan dengan Anda.”

 

“Choi Siwon imnida, tunangan dari Im Yoona.”

 

“Mwo?? Yoong? Kau sudah bertunangan?” Yoojin dan kekasihnya Joowon tampak tak percaya dengan penuturan Siwon. Kenapa namja ini pura-pura tak mengenalku saja. Kenapa ia malah mengatakan aku tunangannya, bukankah kami sudah tak ada hubungan apa-apa lagi.

 

“Ani, itu tak benar aku tidak bertunangan dengannya.”

 

“Jangan menutupi kebenaran Im Yoona, memang benarkan kita sudah bertunangan lima bulan yang lalu?” Akhirnya aku beranikan diri menatap matanya. Dengan tenang dan dingin, “ya, kami memang sudah bertunangan lima bulan yang lalu, tapi sejak empat bulan yang lalu kami sudah putus hubungan.” Jawabku dingin masih dengan menatap matanya. Siwon terdiam sepertinya, sedangkan Yoojin dan Joowon memandang kami penuh tanya.

 

“Bolehkah aku meminjam Yoojin Joowon-ssi??” Aku harus menghindar dari namja itu dan aku membutuhkan Yoojin. Setidaknya kekasih Yoojin ini bisa menahannya sebelum mengajakku bicara lagi. Setelah mendapat persetujuan dari Joowon, aku pun menyeret Yoojin menjauh dari kedua namja tadi.

 

“Bisakah kau jelaskan apa maksud dari kejadian barusan?” Yoojin sepertinya belum menangkap dengan jelas maksud perkataanku tadi. Aku memang sebaiknya menceritakan semuanya, supaya sahabatku ini tak lagi bertanya yang macam-macam. Namun sepertinya pembacaan pemenang akan segera diumumkan, jadi aku mungkin akan menceritakannya nanti dan Yoojin menyetujuinya.

 

Yoona POV End

 

 

Beberapa hari setelah acara pengumuman pemenang itu, Yoona dan Yoojin disibukkan dengan berbagai pekerjaan yang berkaitan dengan hasil rancangan mereka. Ya, mereka memenangkan kompetisi pada malam itu. Yoona sudah menceritakan dengan detail bagaimana ia mengenal Siwon dan bagaimana bisa ia menjadi tunangan namja itu. Dan yang penting perasaannya pada namja itu, juga ia ceritakan pada Yoojin. Yoojin dapat menangkap dengan jelas kalau Yoona masih mencintai Siwon, walau Yoona dengan tegas menyatakan kalau ia sudah melupakan semua hal yang menyangkut namja itu.

 

“Bisa kita bicara Yoona-ssi?” Yoona terkejut mendapati Siwon telah berdiri didepan meja kerjanya. Ia tahu cepat atau lambat namja ini akan menampakkan diri dihadapannya setelah pertemuan tak disengaja pada pesta malam itu. Sepertinya Yoona tak berniat menghindar, ia berpikir mungkin kinilah saatnya untuk menyelesaikan urusannya dengan Siwon, terlebih lagi nyonya Choi sering menghubunginya sejak ia bertemu lagi dengan Siwon, mungkin Siwon menceritakan kalau ia bertemu dengan Yoona dan dari yang Yoona tangkap nyonya Choi masih menganggap Yoona sebagai tunangan putranya.

 

“Kita bicara diluar.” Yoona berjalan dahulu tanpa memperdulikan tatapan tanya dari rekan-rekan kerjanya, Yoojin hanya diam dan berharap keputusan terbaik yang diambil sahabatnya itu.

 

 

 

Siwon POV

 

“Bagaimana kabarmu Yoona-ssi” sedikit terlambat berbasa-basi sebenarnya namun hanya kalimat itu yang keluar dari mulutku. Terlalu gugup mungkin, Yoona masih terlihat sama. Cantik dalam balutan pakaian yang sederhana tapi tak ketinggalan jaman tentunya.

 

“Aku baik. Apa yang ingin kau bicarakan denganku?” Nadanya ketus, aku tahu dia membenciku namun aku tak peduli. Aku butuh penjelasan atas kejadian empat bulan yang lalu. Aku tak sengaja melihatnya di makam Yuri, menangis lalu saat ia pergi meninggalkan makam Yuri dia tersenyum. Aku menduga ia memang menginginkan kejadian naas itu, dengan begitu aku bisa dengan leluasa ia miliki. Ternyata reaksi saat aku mencium paksa dirinya saat itu diluar dugaan, ia jelas-jelas menolaknya. Jadi apa maksud yeoja ini sebenarnya, apa yang ia sembunyikan dariku.

 

“Aku meminta penjelasan.”

 

“Penjelasan? Sepertinya saat itu aku sudah memutuskan kalau kita tak punya hubungan apa-apalagi.”

 

“Bukan itu, yang aku maksud kenapa saat itu kau mengunjungi makam Yuri.” Wajahnya menegang, aku menunggu alasan apa yang akan ia utarakan. “Bukan urusanmu, kurasa.”

 

Aku geram dengan jawabannya, “Bukan urusanku? Dia kekasihku dan kau bilang bukan urusanku?” Aku membentaknya.

 

“Dia kakak kandungku, apa harus ada alasan lain aku mengunjunginya?”

 

Kakak? Yuri kakak Yoona? Kulihat Yoona menekuk wajahnya, mungkin menahan airmata.

 

“Aku harap kita tak bertemu lagi untuk masalah pribadi. Dan pertunangan kita sudah berakhir empat bulan yang lalu jadi tolong kau sampaikan pada nyonya Choi untuk tidak mengharapkanku jadi menantunya lagi.”

 

“Apa kau mencintaiku?” Aku tak bisa menahan diri untuk tahu perasaannya. Inilah yang sebenarnya ingin aku tanyakan. Sejak kepergiannya entah kenapa perasaan ku tak tenang, rasa bersalah dan kehilangan selalu menghantuiku. Aku tak yakin dengan perasaanku yang dengan begitu mudahnya bisa berpaling dari Yuri. Kuharap jawabannya bisa memberikan kepastian perasaanku ini padanya.

 

“Tidak, aku tidak mencintaimu.” Dengan mantap ia mengucapkan kata tidak. Berarti selama ini memang aku yang terlalu banyak berharap. Yoona hanya ingin membalas budi pada eomma dengan mau bertunangan denganku. Aku menertawai diriku sendiri, bodoh kau Choi Siwon. Apa kau benar-benar telah jatuh cinta padanya sampai-sampai dada ini sangat sakit saat mendengar kata tidak dari bibir yeoja itu?

 

Siwon POV End

 

 

Yoona berlari berurai airmata, ia masih mencintai Siwon, pasti. Namun ia tak ingin mengatakannya, karena ia takut namja itu akan memanfaatkannya atau malah mengejeknya lagi. Sudah cukup ia menderita selama ini, walau perasaannya tak pernah hilang setidaknya Siwon tak akan lagi menampakkan diri dihadapannya.

 

Yoona menatap sendu makam Yuri, entah kenapa langkah kakinya sore itu membawanya lagi ke makam yuri. Disini memang tempat Yoona biasa mengeluarkan isi hatinya dan menangis bila teringat akan sosok Siwon.

 

“Eonni, aku bertemu dengannya lagi. Ia tetap terlihat tampan dimataku. Kau juga melihatnya kan? Kau pasti bahagia menjadi yeoja yang ia cintai sampai saat ini. Aku iri padamu, dari dulu aku memang iri pada semua yang kau punya. Kecantikan, kebebasanmu meraih impian dan cintamu. Maafkan aku.” Yoona berlutut, “Dia bertanya apa aku mencintainya. Tapi aku menjawab tidak karena aku memang tak pantas untuknya dan hatiku tak ingin disakiti lagi. Aku benarkan Eonni? Aku benar kan?”

 

“Kau salah!” Yoona menoleh, sosok Siwon ternyata telah berdiri dibelakangnya. Siwon mendengar semua, semua yang Yoona katakan tadi. Siwon berjalan mendekat ke arah Yoona dan langsung memeluk tubuh Yoona erat.

 

~•~

 

“Kenapa kau tak mengatakan yang sebenarnya?” Siwon menatap Yoona dalam, mereka sedang berada disebuah taman tak jauh dari makam Yuri.

 

“Untuk apa, itu tak mengubah apapun.”

 

“Ada, kejujuranmu akan mengubah hatiku.” Yoona yang sedari tadi memandang kosong kedepan, menoleh ke arah Siwon. “Hatimu? Apa yang bisa dirubah oleh hatimu kalau kau tahu aku menyukaimu.”

 

“Aku akan merasa lega dan tak perlu menahan perasaan ini lagi.” Yoona belum memahami apa makna dari kalimat Siwon. “Aku merasa kehilangan saat kau meninggalkanku dulu, dan kurasa ku tahu jawabannya sekarang.” Yoona mengernyitkan dahinya. “Aku menyukaimu, tanpa sadar kehadiranmu saat itu diam-diam sudah menempati hatiku.”

 

Yoona menatap tak percaya Siwon. Ia ingin pergi dari situ saat ini juga, ia tak ingin lagi mendengar apapun lagi yang membuatnya berharap lebih. Siwon mungkin saja berbohong. Saat Yoona hendak berdiri, Siwon menahan tangannya.

 

“Tunggu, aku serius, awalnya aku memang tak menyukaimu. Tapi di hari-hari kau merawatku, aku melihat ketulusan dimatamu. Tapi aku kecewa saat kau mengatakan kalau kau hanya ingin membalas budi eommaku. Dan saat aku melihat kau pada hari itu di makam Yuri, aku menduga hal yang tidak-tidak padamu. Mianhae.” Siwon menoleh lagi ke depan tak sanggup menatap mata Yoona lebih lama lagi.

 

Yoona melihat ketulusan sekaligus rasa penyesalan di mata Siwon saat menjelaskan semua. Ia tak tahu harus berkata apa atau bereaksi begaimana setelah mendengarnya.

 

“Apa kau mau memulainya lagi denganku Yoona?” Yoona tercegat. “Aku tahu kau masih ragu, tapi ku harap kau mau memberi kesempatan padaku untuk mencintaimu.” Yoona diam, airmatanya mengalir tanpa ia sadari. Siwon menggenggam tangan Yoona lalu perlahan meletakkan tangan lentik itu ke dadanya.

 

 

“Kau tidak mencintai kakakku?” Yoona bertanya terbata.

 

“Aku mencintainya, tapi aku harus melanjutkan hidupku bukan? Dan aku yakin masa depanku ada bersamamu.” Airmata Yoona makin mengalir deras. “Uljima Yoong.”

 

“Kau bersungguh-sungguhkan? Kau tak akan menyakitiku lagi?” Siwon mengangguk yakin. Yoona tersenyum, “Baiklah, mari kita coba lagi dari awal.” Senyum Siwon merekah, hatinya terasa hangat. Ia tak dapat menahan diri untuk merengkuh Yoona ke dalam pelukannya.

 

“Gomawo Yoong, terimakasih telah memberiku kesempatan untuk mencintaimu.”

 

Walau banyak hal yang dilalui, tapi akhirnya kebahagiaan telah menemukan tempatnya. Akhir yang manis adalah impian semua orang, dan untuk Yoona dan Siwon inilah akhir cerita dramatis kehidupan mereka. Untuk selanjutnya, mereka akan melalui hari-hari berdua, tiada yang tahu bagaimana kehidupan mereka setelah ini. Yang jelas kekuatan cinta lebih dari cukup untuk menghalau segala rintangan dalam hidup.

 

 

~FIN~

 

 

Niat mau bikin ff comedy romance dan udah jadi setengah, tapi karena kemarin dalam masa gundah gulana + ngerasa Down banget (curcol) Lahirlah ff ini tapi happy end kan kkk~.

Walau feelny gak dapet dan gak enak buat dibaca, tapi wajib ninggalin jejak ya….

 

To Echa Thank u so much, Mumumu~

Tinggalkan komentar

141 Komentar

  1. Jua Zi

     /  Juni 21, 2013

    akhirnya, yoona ngaku juga klo dia suka sama siwon.
    aku suka author,🙂

    Balas
  2. Weny

     /  Juli 12, 2013

    bagus ceritanya

    Balas
  3. Ceritanya. Bikin air mataku mngalir..awalnya sikap siwon oppa jahat sama yoona eonnie..
    Tapi sukurlah happy ending juga..
    Eonnie bikin squelnya ÐƠ̴̴͡.̮Ơ̴̴͡ñƘ “◦нê◦нë◦нê◦нë◦нê◦” gomawoyo..

    Balas
  4. ayu dian pratiwi

     /  April 4, 2014

    keren ceritanya apa lagi kalau ada sequelnya.

    Balas
  5. any

     /  Mei 7, 2014

    Sebenernya ini cerita cinta. Tapi kenapa aku malah terharu n mbrebes air mata saat part yoona bilang ke yoojin ” terima kasih karena sudah mencariku “. Mencari yoona yg merasa sebatang kara. Hikhikhik

    Balas
  6. Omg aku baru baca ff nih *kayaknya

    sumpeh ini bikin terharu bangettt

    Balas
  7. santy agustini

     /  Agustus 14, 2014

    terharu bgt sama ketegaran hati yoona eonni…
    ff nya keren thor… tlng di buatin sequel nya yaa author ^^

    Balas
  8. Anah sanggy sonelf

     /  Agustus 16, 2014

    Keren. .

    Balas
  9. choi han ki

     /  Oktober 9, 2014

    Huft akhirnya selesai juga, awalnya sedih baca ff ini liat yoona yg diperlakuin gitu ma siwon sampai akhirnya yoona pergi dan mutusin pertunangannya .. Ada sedikit rasa senang jadi yoona gk di perlakuin seperti itu lagi ma siwon… Tapi apa mau di kata sama2 saling suka ya akhirnya bersatu🙂

    Balas
  10. Anggun YoonAddict SY

     /  Oktober 9, 2014

    Keren FF nya…………
    Sampek mau jatuh ni air mata

    Balas
  11. yoonwon emang ditakdirkn bersama… ^_^

    Balas
  12. aldiana elf

     /  Januari 4, 2015

    fell nya dapet banget kayak masuk dalam ceritanya

    Balas
  13. diah Cho

     /  Januari 4, 2015

    🙂 Bagus banget eon feel nya dapet banget suka sama ff nya

    Balas
  14. mia rachma

     /  Januari 8, 2015

    yoona kasiannn bgt siiiii. tapiii untung happy end. ada sequelnya ga eon?

    Balas
  15. mawadah

     /  November 14, 2015

    kerennnnn
    aq baru tau ada web yoowon di sini
    salam kenal eonnie
    numpang baca2 ff yoowon ya

    Balas
  16. dias puspita

     /  Januari 31, 2016

    Mu mu muuu… Love it

    Balas
  17. susi

     /  Januari 31, 2016

    Dapet ko thor feel nya..👍👍🙂

    Makanya siwon kalo ga tau apa-apa ga usah menduga-duga hal yang buruk..
    Yoona ga sejahat itu ko kalo dia emang jahat mana mungkin mau ngurusin dia gitu aja mana di kasarin mulu lagi sama siwon tapi buktinya yoona nya masih sabar aja kan nerima semuanya dan selalu berusaha untuk mendapatkan cinta siwon..
    Akhirnya usahanya ga sia-sia juga..😊
    Happy Ending..😂😂😂

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: