[FF] I Believe in Love (Episode 4)

boating-under-night-sky-wallpaper_1024x768_15023Main Cast:

Choi Si Won

Im Yoon Ah

Kim Sang Bum

Kim So Eun

Kim Soo Hyun

Baek Su Ji

Genre: Romance, Friendship, Drama

Rating: G

A Story By Resty Meidalita Utami

I Believe in Love Cast Hold Initial Script Reading

Press Conference

Prolog/Trailer

Episode 1

Episode 2

Episode 3

♥♥♥

Sepanjang perjalanan pulang sehabis makan malam bersama keluarga Lee, Yoona yang saat itu diantar pulang oleh Minho sendiri―berubah sangat pendiam ketika didalam mobil. Ia terus terpikirkan mengenai kata-kata Soeun tadi, apa benar Minho memang menyukainya?

Mata Yoona teralihkan perlahan manatap wajah serius Minho akan jalanan di hadapannya. Tampan, ya pria disampingnya ini memang sangat tampan. Yoona berkutat dengan pikirannya, sampai akhirnya ia terhentak kaget saat tiba-tiba Minho balas melirik padanya singkat.

“Waeyo?”.

Buru-buru Yoona mengalihkan pandangannya ke kaca depan. “Ani… tidak apa-apa”.

Yoona menggigit bawah bibirnya sambil menepuk-nepuk dada. Sementara Minho hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Kurang lebih setengah jam menempuh perjalanan, Minho menghentikan mobilnya di depan gedung apartement Yoona. Yoona keluar lebih dahulu, sementara Minho menyusul kemudian.

“Gomapta.. aku masuk du…”.

Tak sempat menyelesaikan ucapannya, Minho segera menyela. “Im Yoona”.

Yoona mendelangah bingung, dan Minho malah mengaruk-garuk tengkuknya.

“Waegeurae?”, tanya Yoona menaikkan alisnya tampak bingung.

“Tidak, aku hanya ingin mengantarkanmu sampai depan pintu apartementmu.. boleh kan?”.

Yoona terdiam sesaat, mengantar sampai kedalam? Ah, apa perlu ya. Perlahan Yoona menganggukkan kepalanya, lagipula mana bisa ia menolak permintaan pria ini.

Keduanya berjalan beriringan kedalam.

Yoona mengempalkan tangannya sambil membuang muka dari wajah Minho kemudian matanya tertutup dan bibirnya ia gigit seperti tengah menjerit ketakutan dalam hati. Ah tidak, bukan takut, ia sangat gugup.

“Terimakasih”, ucap Yoona ketika keduanya sudah berada didepan pintu apartement Yoona.

Minho mengangguk sambil tersenyum tipis. Mereka terdiam kembali, sementara mata Minho teralihkan pada pintu disebelahnya.

“Itu, apa apartement itu adalah milik Siwon?”.

Yoona yang sedaritadi menunduk langsung mengangkat kepalanya lalu menatap Minho dan pintu bernomorkan 704 itu secara bergantian. “De”.

“Kau sering mengunjunginya?”.

“MWO?”, tiba-tiba saja sekarang Yoona tak bisa mengontrol dirinya sendiri didepan pria tampan ini. Nada suaranya benar-benar keras dan bibirnya terbuka lebar sampai-sampai membuat Minho jadi sedikit terkejut. “Ah, mianhae..”, Yoona kembali bersikap seanggun mungkin lagi. “Ani, aku tidak pernah datang berkunjung ke apartementnya”, Yoona mengelak sambil tertawa dan mengibaskan tangan.

Snapshot - 192

‘Oh malu sekali’, gerutu Yoona dalam hati. Sebenarnya ini gara-gara pertanyaan aneh yang dilontarkan Minho barusan, ia jadi kembali teringat dengan insiden memalukan saat ia pingsan di kamar Siwon beberapa hari yang lalu.

“Kau tinggal sendiri?”.

Yoona mengangguk saja, lagipula ia sendiri tak tahu harus menjawab apa. Takut-takut ia malah akan salah bicara lagi.

Tanpa disadari Minho memperhatikan sesuatu di rambut Yoona, sampai-sampai matanya menyipit dan tubuhnya semakin dicondongkan perlahan.

Yoona heran, ia merasa bingung sendiri, “Oppa, waeyo?”.

“Diamlah, sepertinya ada serangga dirambutmu”.

“MWO? JINJJA?? KYAAAAA”, Yoona memekik ketakutan sambil menutup matanya. Hal itu jadi membuat Minho tak fokus. Bukannya menyingkirkan serangga kecil itu, Minho malah memperhatikan wajah Yoona yang menurutnya sangat terlihat lucu. Apalagi saat matanya berhenti tepat pada bibir pink Yoona, spontan saja ia menelan ludah. ia mencoba untuk membuang pikiran aneh nya ini, tapi entah setan apa yang telah merasukinya ia malah jadi ikut-ikutan menutup matanya sambil memiringkan sedikit kepala dan semakin menyempitkan jarak dengan Yoona.

Yoona merasakan sesuatu yang janggal, terasa deruan nafas tepat menerpa wajahnya. Sedikit demi sedikit ia membuka mata, dan begitu kagetnya setelah mendapati Minho dengan mata tertutup dan semakin mendekatkan wajah padanya. What the… ini percis seperti awal adegan kissing dalam drama romantis.

Mata Yoona terbuka lebar, dan sedetik kemudian ia pun ikut memejamkan matanya lagi seakan tengah berteriak dalam hati.

Mendapatkan ciuman dari seorang Lee Minho memang suatu keberuntungan untuknya, tapi apa perlu secepat ini?

Saat bibir mereka hampir saja bersentuhan, “Ah Oppa, apa serangganya sudah kau ambil?”, celetuk Yoona dengan nada yang cukup tinggi. Yoona memang ketakutan tak bercanda, ia merasakan sesuatu bergerak diatas kepalanya.

Minho tersadar, ia melihat Yoona yang masih menutup mata. Hufh, untung saja dia tidak melihatnya, pikir Minho.

“Ya―sudah.. tidak apa-apa, serangganya sudah pergi”.

“Hah, serangga apa itu tadi? Geli sekali”, Yoona mengusap-usap rambut ikalnya masih dengan ekspresi ketakutan. “Kenapa bisa ada dirambutku sih?”, ia sibuk membersihkan rambutnya takut-takut terkena kotoran dari serangga tadi. Bahkan Minho pun terabaikan.

“Yoona-ah, kau lucu sekali”, ucap Minho sambil tertawa.

Yoona mengangkat kepalanya dengan pipi memanas. Ah, rasanya ingin sekali ia berlari kedalam apartementnya dan menutup wajah.

“Kkk.. ya, aku memang sangat lucu…”.

♥♥♥

Kimbum berdiri diatas balkon kamarnya, bibirnya tersinggung manis saat tengah bercengkrama dengan kekasihnya lewat sambungan telefon.

“Oppa (Minho) sudah mempunyai kekasih, tinggal menunggunya menikah dan kemudian kita bisa… kita bisa menyusul”, ucap sang gadis dijalur lain dengan pelan. Terdengar jelas dari suaranya ia sedikit malu.

“Eo.. Lee Soeun, apa kau begitu menginginkan menikah denganku?”, tanya Kimbum bermaksud bercanda.

Soeun mendesah kesal disana, “Sepertinya kau tak terlalu berniat ingin mempersuntingku ya Kim Sang Bum?”.

Kimbum terkekeh, “Sudah kubilang, sekarangpun aku bisa menikahimu jika kau mengijinkan”.

“Sudah kubilang, jika restu Appa sudah ditangan, sekarangpun aku bisa menerima lamaranmu”, timpal Soeun.

Lagi-lagi Kimbum dibuat terkekeh. “Sudah malam. Cepatlah tidur”, ucapnya dengan lembut.

“De, Oppa jangan tidur terlalu malam”.

“Um..Jaljayo, Chagiya”.

Kimbum menutup sambungan telefonnya kemudian bergegas masuk kedalam dan menutup pintu.

TING TONG~

Tak lama bel rumahnya berbunyi. Kimbum mengernyitkan dahinya kemudian berjalan menuju pintu depan.

110920poseidon1

“Siwon-ah?”, pekik Kimbum seusai membukakan pintu.

Siwon masih berdiri didepan pintu dengan ekspresi yang datar, mata memerah, dan wajah yang tampak pucat. Kimbum lagi-lagi hanya bisa mengernyitkan dahi bingung, ada yang aneh dengan sahabatnya ini. Sedetik kemudian Siwon melangkah masuk melewati Kimbum tanpa berkata-kata.

Sementara Kimbum mengekori langkah Siwon yang sekarang tengah berjalan menuju kamar Kimbum. Ia langsung terkapar diatas tempat tidur.

“Ada masalah? Kau sakit?”, Kimbum memperhatikan Siwon yang sudah tertidur dibalut selimut tebal miliknya.

“Hanya terserang flu”, jawab Siwon dengan suara serak. Ia semakin mengerutkan seluruh badannya dibawah kain tebal yang menyelimutinya.

“Sudah periksa ke dokter?”.

“Eo”.

“Kau tidak pulang ke apartementmu?”, tanya Kimbum lagi seraya duduk disamping tempat tidur.

“Tadi aku baru saja melakukan pemotretan dekat-dekat sini”.

“Geurae?”. Siwon hanya menjawab dengan anggukkan. “Yasudah, kau menginap saja disini. Aku akan membuatkanmu teh hangat”, ucapnya sambil meninggalkan Siwon dikamarnya.

Siwon terdiam, matanya menatap kosong. Entah apa yang tengah ia pikirkan.

***

Yoona membanting pintu kamarnya, nampak wajahnya masih shock. Ia bersender ke pintu, masih dengan ekspresi tak percaya. Tadi Lee Minho hampir saja menciumnya…?? MENCIUM..?? Oh Tuhan, ini pasti mimpi bukan?? Yoona berkutat dalam hati sambil mencubit-cibut pipinya.

Jelas ini bukan mimpi, ini nyataaa…

Yoona melempar tas nya ke sembarang arah lalu merebahkan diri ditempat tidur. Niatnya ingin menenangkan diri, tapi entah kenapa atmosfir kali ini terasa panas [?]. ia kembali bangkit seraya melepas blazer pink nya kemudian berjalan menuju balkon. Ia geser pintu kaca itu, angin malam mulai berhembus memasuki ruangan kamar Yoona.

Kedua tangannya ia topangkan ke tiang balkon sambil memejamkan mata. Rambutnya terus bergerak mengikuti arah angin.

Snapshot - 127

‘Tadi seharusnya tak ku hentikan…!’, Yoona yang merasa pikirannya mulai macam-macam langsung menggeleng-gelengkan kepala sambil mengacak-acak rambutnya. ‘Jangan aneh-aneh ah!’.

Yoona menghela nafas sambil berdongak menatap bintang-bintang dilangit. Ia terdiam dalam posisi seperti itu untuk beberapa saat. Disaat ia tengah melamun seperti ini pasti pikirannya akan langsung teralihkan pada keluarganya. Tangannya tergerak mengambil ponsel yang berada didalam saku celananya.

Ia mulai menelusuri kontak di ponselnya, sampai akhirnya saat berhenti di id name ‘Eomma’―Yoona terlihat berpikir lagi. Haruskah ia….??

Yoona menggeleng, tidak..tidak.. ini belum waktunya. ‘Kau hanya cukup bertahan sebentar saja. Ya, ini tak akan lama’.

♥♥♥

Siwon terbangun, matanya yang baru saja terbuka itu langsung tertutup lagi akibat sinar matahari yang sedikit memburamkan penglihatanannya. Kepalanya masih terasa berat, ini karena tadi malam ia kurang tidur. Efek dari gejala flu yang menyerangnya, membuat pernafasannya sedikit terganggu.

Sekali lagi Siwon mencoba untuk membuka mata, remang-remang awalnya, namun lama kelamaan ia pun dapat menyesuaikan. Ia bangkit meninggalkan tempat tidur, keluar kamar untuk mengambil air minum. Setidaknya akan sedikit menyegarkan tenggorokkan nya yang kini terasa sangat kering.

Sesampainya di dapur ia menatap potongan kertas kecil yang tertempel di pintu lemari es. Siwon mencabutnya.

‘Pagi ini aku ada rapat, maat tak membangunkanmu karna aku tahu kau lelah. Sarapan sudah ku siapkan, jangan sampai tak dimakan. Sahabatmu, Kimbum~’

Siwon mengangkat alisnya, ternyata masih peduli juga anak ini padanya.

Setelah mengambil air minum dan meneguknya tanpa sisa, ponselnya yang sedari malam berada didalam saku celana jeans nya itu berbunyi. Jujur, sangat malas untuk sekedar mengangkat telefon saja. Tapi apa boleh buat.

“De, Samchon-a?”, jawabnya dengan nada malas.

“Kita harus segera memindahkan Ayahmu ke tempat lain”.

Ada apa lagi ini? Batin Siwon sesaat mendengar penuturan pamannya.

“Mereka telah mengetahuinya”.

Tanpa membuang waktu lagi Siwon segera mengambil jacket kulit coklatnya dan kunci mobil. Wajahnya nampak sangat cemas, ia berlari dengan cepat meninggalkan kediaman Kimbum.

Apa yang terjadi sebenarnya?

♥♥♥

Pagi ini kantor sengaja di liburkan, entah ada apa yang jelas semuanya begitu mendadak. Sebenarnya Yoona tak terlalu ambil pusing, yang jelas hari ini ia free? Haaaaaah ia harus memanfaatkan kesempatan emas ini untuk bersantai. Pergi shopping? Perawatan di salon? Yoona senyum-senyum sendiri saat tengah merias diri didepan cermin sambil memikirkan akan pergi kemana saja nanti.

Soeun? Tentu ia tak akan melupakan sahabatnya yang satu ini. Lagipula mana mau Yoona bepergian sendirian. Hari ini mereka sepakat akan jalan-jalan bersama, mengingat saat kepindahan Yoona ke Seoul, Soeun juga belum pernah mengajak temannya itu berkeliling Seoul. AND IT’S TIME TO HAVE FUN^^.

Pukul 9:45 Yoona sudah sampai ditempat janjian,  ia datang lebih cepat. Padahal waktu janjian yang sebenarnya adalah pukul 10.

Sembari menunggu ia duduk di bangku panjang yang berada didepan sebuah kedai kopi.

Tatapannya tak lepas dari jalanan ramai dihadapannya, juga lalu lalang orang-orang sibuk yang memenuhi kota.

Beberapa menit kemudian terdengar sirine mobil ambulance, yang beberapa detik lagi akan segera melewati tempat Yoona berada sekarang.

Yoona menatap mobil ambulance itu, lambat laun suara sirine itu sudah tak terdengar lagi seiring semakin menjauhnya mobil. Yoona terdiam, mencoba menebak-nebak sepertinya mobil itu menuju rumah sakit atau tempat pemakaman. Yah, mungkin. Bukankah yang selalu diangkut oleh mobil ambulance adalah orang sakit atau orang yang sudah… meninggal?

Ya, pendapat Yoona memang tak ada yang salah. Namun untuk dugaannya harus dikatakan kurang tepat. Mobil ambulance tadi bukanlah menuju Rumah Sakit ataupun tempat pemakaman, melainkan bandara. Bandara?

Choi Kihan, Siwon, dengan seorang  pria berambut putih dan berpakaian sangat resmi (kemeja beserta tuxedo hitam) terlihat sangat tegang didalam mobil ambulance itu. Tentu saja tengah mengkhawatirkan pria yang tengah terbaring koma dihadapan mereka.

Beberapa saat kemudian mereka pun sampai di Bandara, Choi Kihan awalnya yang keluar terlebih dahulu dari mobil. Ia langsung berlari kemudian berteriak, seperti tengah memberi aba-aba. Tak lama dari itu beberapa petugas berlarian menghampiri mobil. Mereka menggusur kasur roda yang mengangkut ayah Siwon―keluar dari mobil.

Siwon dan pria berambut putih tadi pun ikut keluar. Sementara para petugas sibuk membawa ayah Siwon menuju pesawat yang siap terbang beberapa saat lagi.

“Pak Yoo, aku benar-benar mengandalkanmu untuk ini”, ucap Choi Kihan.

Pria berambut putih yang dipanggil Pak Yoo itupun menjawab dengan anggukan sigap tanda siap menjalani apapun sesuai dengan perintah. Sebelum pergi ia memberi hormat dengan menundukkan kepalanya terlebih dahulu kemudian bersiap menuju pesawat diikuti oleh seorang pria dan wanita yang dari penampilan berpakaiannya terlihat seperti bodyguard.

Choi Kihan dan Siwon hanya dapat memandang kepergian mereka dari jauh. Dengan pikiran dan kecemasan yang telah melanda keduanya, mereka hanya saling diam.

Benarkah Abojji akan baik-baik saja? Itu pertanyaan yang terus saja berputar di pikiran Siwon. Entah kenapa ia merasa sangat tidak tenang.

Mengerti dengan apa yang keponakannya rasakan sekarang, Kihan pun merangkul pundak Siwon. Setidaknya hanya ini yang bisa ia lakukan untuk memberi Siwon kekuatan.

“Jangan khawatir. Appa mu akan baik-baik saja disana. Kau bisa pegang janji Samchon”, ujar Kihan mencoba menenangkan.

Siwon menundukkan kepala, ia merasa sudah pasrah. Ia yakin apapun yang akan terjadi ini sudah menjadi takdir dari Tuhan.

♥♥♥

“Ish tidak aktif”, runtuk Soohyun mengomeli ponselnya sendiri, ia terlalu kesal karna daritadi sudah mencoba untuk menghubungi Siwon, namun hasilnya tetap sama.

“Tidak biasanya”, ucap Kimbum yang mulai tak enak. “Tadi Kihan ahjussi juga datang kesini mencari Siwon, apa  sesuatu terjadi? Aku jadi tak enak hati”, Kimbum mengelus-elus tengkuknya.

“Huss.. jangan berpikiran yang tidak-tidak”, sela Soohyun. Sebenarnya ia juga merasakan hal yang sama dengan Kimbum, hanya saja ia tak mau membuatnya tegang sendiri. mungkin ini hanya perasaan mereka saja.

Tiba-tiba terdengar suara ponsel. Keduanya langsung beralih pada ponsel yang tergeletak diatas meja. Kimbum sebagai sang pemilik segera mengambil dan mengangkat panggilan itu.

“De, chagiya… memangnya kau sedang berada dimana?… sendiri?… oh ya sudah aku menuju kesana sekarang…”.

“Soeun?”, tebak Soohyun yang sudah mencondongkan tubuhnya kearah Kimbum membuat Kimbum sedikit menelan ludah karna kaget.

“Siapa lagi”, singkat Kimbum  sambil berjalan menuju kamarnya.

“Kau akan pergi?”, sewot Soohyun.

“Ya”.

“Kemana? Yah, disini masih ada aku. Apa kau akan tega membiarkanku sendiri disini?”.

“Tidak akan lama, hanya menjemputnya saja”, ucap Kimbum keluar dari kamar yang sekarang sudah siap dengan mantel dan kunci mobil.

“Oh ya ampun, dia bukan anak kecil. Kecentilan sekali wanita itu, lagipula apa  susahnya menghentikan taksi dan pulang sendiri. Kim Sang Bum, kenapa kau mempunyai kekasih yang begitu manja seperti dia, kurasa ini mulai tak baik dan…”.

Soohyun menghentikan celotehannya saat mendapat tatapan horror dari Kimbum.

“Oh ayolah, kau diam saja. Mana boleh meninggalkan tamu sendirian”.

“kau sebut dirimu tamu? Ckck.. Kim Soohyun, aku hanya akan pergi untuk menjemput. Kenapa kau begitu cerewet seperti seorang istri yang tengah menahan suami nya untuk pergi sih?”. Ditimpal seperti itu barulah Soohyun tak berani melawan lagi. “Sudah ya, aku tak enak pada Soeun dan Yoona. Mereka sudah menunggu ku”.

“Yoona? kau bilang Yoona? Dia bersama Soeun?”, tanya Soohyun bersemangat.

“Ya, Im Yoona yang kau ceritakan padaku. Dia bersama kekasihku sedang makan siang”.

Soohyun berdiri dengan sigapnya, “Kalau begitu akuuu….”.

Kimbum terdiam. Well, ia mengerti apa yang diinginkan sahabatnya itu.

***

“Yoona..”, panggil Soeun kearah Yoona yang tengah duduk tepat bersebrangan sambil memainkan jus stroberi nya dengan tatapan kosong.

Yang dipanggil malah tak menghiraukan, ia seperti tengah tenggelam didalam lamunannya sendiri.

“Im Yoona”, sekali lagi Soeun memanggilnya namun tak juga membuat Yoona menoleh walaupun dengan nada suara yang lebih tinggi.

Soeun berdecak kesal, sebenarnya apa yang tengah dipikirkan oleh sahabatnya ini.

“Im Yoona‼!”, kali ini Soeun tak tanggung-tanggung memukul meja untuk menggertak wanita dihadapannya itu.

Berhasil, sekarang Yoona mengangkat kepalanya dan menoleh pada Soeun. “Wae?”, tanyanya dengan ekspresi kaget.

“Sedari tadi kau banyak melamun. Apa ada yang sedang kau pikirkan?”.

Yoona terdiam, lebih tepatnya bengong (membuka sedikit mulutnya dengan pikiran kosong), sedetik kemudian ia menggelengkan kepala. “Molla..”.

Soeun menatap heran, ia memegang kening Yoona. “Kurasa kau tak sakit”.

“Entahlah, perasaanku sangat tidak enak”, jawab Yoona sambil memegang dadanya.

“Ada apa? Kau jangan membuatku khawatir”.

“Aninde, tak usah dipikirkan. Mungkin aku hanya merindukan orangtuaku saja”, Yoona mulai mengalihkan pembicaraan dan mulai menyeruput minumannya lagi.

“Kapan kau akan kembali? Atau sekedar memberi mereka kabar pada mereka (keluarga Yoona) bahwa kau ada di Seoul sekarang?”.

“Aku juga tidak tahu. Rasanya serba salah, jika aku pulang sekarang pasti mereka akan…. (menghentikan perkataannya sejenak dan menatap Soeun dalam)… aku tahu kau mengerti apa yang ku katakan”.

“Kau benar-benar tidak ingin melakukan itu?”.

Yoona menggeleng dan menunduk lesu.

“Aku tahu kau sudah dewasa, jadi apapun keputusanmu aku akan berada dipihakmu”.

Yoona tersenyum, “Terimakasih”, kemudian tertunduk kembali.

Soeun mendesah. “hah.. Suasana semakin tak enak saja rasanya. Hari ini kita sudah bersenang-senang bukan? mengapa kau jadi lesu seperti ini?”.

Yoona tersenyum, kali ini dengan senyuman yang lebih lebar dari sebelumnya.

“Oh ya, tadi Oppa (Minho) menanyakanmu tuh”.

“Masa sih?”, pipi Yoona memerah padam.

Disaat keduanya tengah asyik mengobrol, datanglah dua pria yang langsung menghampiri.

“Wah, kelihatannya seru sekali”, ucap Soohyun.

Yoona mengangkat kepalanya dan tersenyum membalas sapaan mereka.

“Eo? Soohyun Oppa juga datang?”, tanya Soeun agak heran.

“Tadi anak ini memaksa ingin ikut karna…”.

Soohyun segera memotong “KARNAAAA….. Karna aku lapar. Hahaha jadi ingin makan sekalian disini”, ucapnya mengarang cerita.

Kimbum mengerutkan keningnya, sepertinya tadi ia tak bilang lapar. Ada-ada saja.

“Biasanya kalian pergi bertiga. Siwon Oppa kemana?”, tanya Soeun.

“Entahlah, daritadi dia sulit dihubungi. Mungkin sedang ada urusan”, jawab Kimbum.

“Pelayan!”, teriak Soohyun yang membuat sedikit kaget ketiganya karna mendengar suara nya yang keras dan tiba-tiba itu. “Oh Yoona, kau mau pesan makanan lagi tidak?”.

“Ani… tidak usah. Aku sudah sangat kenyang”.

“Kau yakin?”.

“Setahuku kau tak pernah sepeduli ini pada wanita”, sela Kimbum.

“Apa? Yoona adalah temanku, tentu saja aku peduli”, timpal Soohyun.

“Aku juga temanmu tapi ini terlihat sangat berbeda”, balas Kimbum semakin menyudutkan.

“Tentu saja beda, kau pria dan Yoona itu.. seorang wanita”.

“Jadi wanita harus lebih di istimewakan?”.

“Oh jelas”.

“Pantas saja ya Suji menyukaimu”.

SKAKMAT!

“Suji? Siapa Suji?”, tanya Yoona.

“Adik Kimbum Oppa, dia sangat menyukai Soohyun”, jelas Soeun.

“Tidak begitu”, ketus Soohyun. Ketiganya langsung memusatkan tatapan padanya. Soohyun yang baru saja akan berdiri menjadi terdiam kembali dan balas menatap mereka. “Kimbummie, Suji apa kabar?”.

♥♥♥

Sabtu pagi itu Yoona benar-benar kaget setelah mendapat telefon dari atasannya Mister Kang―sang asisten pribadi Presdir Choi Kihan yang tiba-tiba menyuruhnya untuk datang ke kantor. Bukankah hari ini weekend? Oh mungkin ini jawaban dari simpang siurnya peliburan perusahaan kemarin yang mendadak, ternyata hanya dipindah alihkan -_-.

Dengan tergesa-gesa Yoona tiba di perusahaan besar itu. Sepi, terlihat hanya beberapa office boy dan pegawai di bagian resepsionist saja yang ada. Tunggu, apa jangan-jangan Mister Kang hanya ingin mengerjainya saja? But it’s imposibble, mana mungkin Mister Kang bercanda untuk hal seperti ini.

“Nona Im, anda sudah ditunggu Presdir diruangannya”, ucap sang resepsionist.

“Naega? Ah araso..”, Yoona menundukkan kepalanya kemudian berlalu.

Sesampainya di depan ruangan Presdir Choi, Yoona dengan diantar oleh sekretaris Presdir masuk kedalam.

“Presdir Choi, Nona Im sudah tiba”, ucap sang Sekretaris setelah membuka pintu.

Yoona mengikuti langkah wanita itu dan masuk kedalam sambil menundukkan kepalanya menyapa sang Boss. “Annyeonghaseyo”.

“Ah Nona Im, silahkan duduk”, ucap Presdir Choi mempersilahkan.

Yoona tersenyum, sejujurnya ia sedikit ragu untuk berjalan memasuki ruangan itu. Lantaran didalam sudah ada Minho, Stella dan Tuan Kangta yang tengah duduk tepat berhadapan dengan kursi Presdir, juga Siwon yang beberapa hari ini tak Yoona lihat sedang duduk di sofa sambil membaca majalah berpisah dengan yang lain. Ada apa ini?

Jarang-jarang sekali Yoona di panggil oleh sang Presdir secara langsung. Oh Tunggu, apa ia akan naik pangkat? Atau naik gaji?

Yoona terlihat bingung, masalahnya orang-orang didalam ruangan itu terlihat sangat kaku satu sama lain. Tiba-tiba matanya bertemu dengan Minho, ia menepuk-nepuk kursi disampingnya. Ah, setidaknya masih ada pria itu yang selalu bersikap ramah tamah padanya. Yoona pun segera duduk sambil melepaskan tas yang mulai terasa berat dibahunya.

“Aku meminta pada kalian semua untuk segera mempersiapkan segala sesuatunya dengan betul-betul tanpa ada kesalahan sedikitpun. Aku percaya kalian semua adalah pegawai-pegawai yang bekerja secara profesional dan dapat dipercaya. Walaupun waktu yang sangat mendadak dan singkat, aku yakin itu tidak akan menjadi sebuah kendala besar untuk kalian semua”.

Apa yang dikatakan Presdir? Pikir Yoona merasa bingung karena disaat ia baru datang Presdir sepertinya sudah mengatakan hal inti dari pertemuan hari ini. Malah setelah perkataannya tadi ia bergegas meninggalkan kantor dan lagi-lagi menyuruh mereka untuk ‘Bersiap-siap’. Bersiap-siap untuk apa?

Yoona bangkit dari duduk, tanpa sengaja ia bertubrukan dengan Siwon yang terlihat terburu-buru. Mata mereka bertemu, tapi sedetik kemudian ia segera memalingkan wajah dan berjalan melewati Yoona begitu saja dengan ekspresi datar tanpa menyapa padanya sama sekali.

Snapshot - 61

 Snapshot - 204

Yoona mendengus―nampak kesal. Biasanya dia tidak seperti ini.

“Yoona-ssi, ayo kita keluar”, suara Minho dari awang pintu. Yoona menoleh, secepat mungkin segera berlari untuk menyamakan langkahnya dengan Minho meninggalkan ruangan itu.

“Na..nami?”, Yoona melebarkan mata dan mulutnya nampak terkejut. “Kenapa aku? Jelas-jelas aku adalah seorang Hoobae yang masih minim untuk masalah pengalaman bekerja, apalagi ini harus keluar kota. Kwajangnim, mungkin Presdir salah menyebutkan nama. Yang ia maksudkan bukan Im Yoona, tapi Nona Kim Yoona”.

Minho yang duduk bersebrangan dengan Yoona―menggelengkan kepalanya. “Tak usah khawatir, lagipula pekerjaan mu disana tidak akan berat. Masih ada Stella yang akan mengarahkanmu”.

Wanita berdarah dingin itu? Yoona bahkan sangat tidak dekat dengannya.

“Eoteokkae?”, desah Yoona pelan sambil menundukkan kepalanya. Tergambar jelas ketidak tenangan dan kegusaran hati di wajahnya.

“Kau nampak sangat gelisah, Yoon-ah”.

Ya, memang betul. Dengan melihat sekilas saja sudah bisa ditebak.

“Apa Kwajangnim juga akan ikut?”.

“Sebenarnya aku sangat ingin ikut, tapi sayangnya posisiku disini adalah sebagai General Manager. Itu bukan tugasku”, ungkap Minho sambil tersenyum.

Ah benar juga. Yoona menghela nafas berlebihan. jika sudah begini apa lagi yang bisa ia lakukan.

♥♥♥

Tepat pukul 07.00pm KTS, satu bus perusahaan terlihat sudah siap di halaman kantor SPAO. Stella Kim, Choi Siwon, Kangta, Yoona dan juga beberapa staff mulai memasuki bus secara bergantian. Kali ini mereka akan pergi ke Pulau Nami untuk melakukan pemotretan outdoor pertama mereka untuk promosi pakaian terbaru bertemakan musim semi.

Stella bersama asisten pribadinya duduk di kursi paling depan dibagian kiri, sementara disisi lainnya ditempati oleh Kangta yang duduk sendirian.

Dikursi barisan kedua, nampak Siwon yang sudah duduk di sisi paling kiri sambil menopang dagu menatap kearah kaca disebelahnya. Lagi-lagi Yoona menatap pria itu dengan sinis. Ia pun memutuskan untuk duduk sendirian di belakang kursi Kangta dan bersejajar dengan kursi Siwon.

Yoona menghempaskan tubuhnya sambil menghela nafas. Ia masih tidak bisa mengontrol perasaannya, ia cukup kalut akan keadaan. Bagaimana tidak, kali ini ia harus pergi ke tempat yang sangat jauh dengan orang-orang yang tidak dekat dengannya. Ya, kecuali Siwon yang hari ini mendadak bersikap super duper jutek. “Masa bodoh lah, aku tak peduli”, gertak Yoona menggerutu pelan sambil mengacak-acak rambutnya frustasi.

Siwon menoleh sambil menaikkan sebelah alisnya dengan tatapan aneh. Namun setelah itu ia kembali mengalihkan pandangannya pada kaca bus sambil menaruh earphone ketelinga yang sedari tadi tergantung di lehernya.

Tiga jam berlalu akhirnya mereka sampai ditempat tujuan sesuai perkiraan. Setelah mendapat penyambutan dan penjamuan dari pihak hotel, Kangta yang menjadi Ketua dari pelaksaan kegiatan ini membagikan kunci kamar sesuai pesanan yang sudah disiapkan sebelumnya oleh pihak perusahaan.

“Im Yoona”.

Saat Kangta memanggil namanya, Yoona segera berlari untuk mengambil kunci kamarnya. 1335, itulah nomor kamar Yoona.

Bersama dengan yang lain, ia mulai mencari kamar miliknya.

Siwon berjalan disampingnya, walaupun seperti menjaga jarak. Diam-diam Yoona menoleh pada pria itu, ia sangat aneh hari ini. Terlihat pendiam dan seperti tengah memikirkan sesuatu, batin Yoona menyimpulkan.

♥♥♥

“Untung saja kau cepat tanggap, aku tak bisa membayangkan jika mereka berhasil menemukan Kiho Oppa”, ucap bibi Siwon, istri dari Choi Kihan yang datang dari arah dapur sambil membawakan kopi untuk suaminya ke ruang tengah.

“Para setan licik itu benar-benar membuatku hampir gila”, gerutu Kihan penuh amarah. Kesabarannya kini sudah berada di ambang batas.

“Sudahlah, cepat atau lambat kita pasti bisa mengakhiri semua ini”, ucap istrinya menenangkan. “Yeobeo, aku akan mengunjungi Siwon. Membawakannya makanan mungkin akan sedikit membuatnya lebih baik”, baru saja ia akan bergegas berdiri Kihan keburu menahannya.

“Siwon sudah pergi ke Nami”.

“Mwoga? Nami?”.

“Ya, aku sengaja mempercepat jadwal pergi dan semakin memperpanjang waktunya disana. Walau bagaimanapun bukan hanya Hyung (Kiho) yang sedang diburu oleh mereka, namun Siwon juga. Walaupun sebenarnya mereka belum tahu siapa sesungguhnya putra dari Hyung, tetapi mereka mempunyai banyak mata-mata. Aku khawatir akan keselamatan Siwon”.

Istrinya terdiam menandakan paham. Mereka benar-benar sedang menghadapi masalah yang sangat rumit.

“Aku jadi kasihan pada Siwon yang harus selalu di asingkan”.

***

“Baju ini sudah sangat cocok untukmu”, ucap Siwon pada seorang model tinggi bertubuh ramping.

“Oppa jangan berbohong, mereka bilang aku terlihat gendut dengan pakaian ini”, rengek wanita itu.

“Siapa bilang, mereka tak mengerti fashion. Malah dengan baju ini tubuhmu terlihat sangat bagus. Percayalah, sekarang kita mulai saja pengambilan gambarnya”.

Dengan segala rayuan akhirnya Siwon pun berhasil membujuk model yang banyak menuntut itu. Yoona kesal sendiri, masih adakah wanita macam seperti dia? Oh Tuhan, membuat repot semua orang saja.

“Cantik.. Ya bagus…. Angkat dagumu…. Okay…. Good….”.

Sembari menunggu pemotretan selesai Yoona menyiapkan pakaian yang lain sambil sedikit mencuri waktu untuk beristirahat sebentar di tenda. Cuaca hari ini memang sangat cerah membuat udara terasa panas, terlebih mereka sedang berada di dekat pantai.

Yoona memperhatikan kegiatan Siwon bersama para model dan juga staff dari kejauhan, sampai akhirnya sebuah suara terdengar memanggilnya. “Nona Im, cepat kau rias dia”, seru Stella.

“Nnn…de”, Yoona berlari secepat kilat menghampiri model yang sedang duduk cantik didepan meja rias.

Yoona sibuk mencari kostum yang cocok dengan model ini. Satu persatu baju ia perhatikan dengan jeli.

Sementara itu sang model hanya diam memperhatikan Yoona dengan tatapan tak suka.

“Ini, kita langsung ganti sa….”.

Tiba-tiba model itu berdiri seraya merebut dress yang telah Yoona pilihkan. “Kau orang baru?”, tanyanya sinis.

Snapshot - 212

“Hhh? Ne”.

“Pantas saja”, ucapnya sambil bangkit dari duduknya dan berlalu.

“Nona, apa kau perlu bantuan?”.

“Tidak, terimakasih”, ujarnya dengan nada meremehkan. Ditawari bantuan oleh Yoona langsung menolak, ia malah meminta bantuan kepada staff lain.

Snapshot - 203

 Snapshot - 214

“Omo… Hhhh jeongmal”, Yoona mempoutkan bibirnya sambil menghempaskan tubuh di kursi dengan kekuatan yang sudah hampir habis. Bagaimana tidak seharian ini ia sepertinya yang bekerja paling berat diantara yang lain. Mulai dari menyiapkan baju, membantu merias para model, sampai membelikan softdrink dan menyiapkan makan siang untuk para staff pun harus Yoona yang melakukannya. Mungkin ia tak akan merasa lelah jika mendapat perlakuan baik dari orang-orang, hanya saja semuanya selalu bersikap sangat menyebalkan. Bahkan asisten Stella saja yang merupakan seorang pria setengah matang [?]―berani menyuruh Yoona untuk mengambil alih tugasnya.

Andai saja Jihyo, Gary, Minho atau Ilwoo juga ada disini, mungkin Yoona tidak akan menjadi orang yang terabaikan seperti sekarang.

Hari demi hari berlalu dengan kegiatan mereka seperti biasa. Sebelum tugas mereka selesai, pihak perusahaan tidak memperkenankan mereka untuk bersenang-senang. Dan di hari ketiga mereka di Nami, akhirnya semuanya sudah terselesaikan sesuai dengan harapan.

Untuk merayakan keberhasilan ini, mereka pun memutuskan untuk mengadakan pesta sederhana dipinggir pantai. Suasana nya cukup ramai, semua orang sangat menikmati. Bahkan ada beberapa orang staff yang bernyanyi lagu trot sambil menari-nari ala penyanyi jaman dulu. Semua orang tertawa, ini merupakan sebuah hiburan setelah mereka bekerja keras tiga hari ini.

Siwon yang diapit oleh dua wanita cantik dan memakai gaun yang minim hanya terdiam menikmati tingkah-tinggah gila para rekan kerjanya sambil meminum sebotol minuman.

Sementara Yoona yang duduk paling pojok cukup menikmati kegiatannya memainkan pasir dengan menggunakan kakinya. Orang bilang, pergi mengunjungi pulau cinta ini akan sangat menyenangkan. Ya, bukan hanya anggapan orang-orang saja, sejak dulu Yoona juga paling senang mengunjungi tempat bak surga ini bersama keluarganya. Hanya saja sekarang lain cerita, mungkin seindah apapun tempatnya tetap tak bisa menjamin kesenangan, yang benar bersama siapa kita pergi. ya, setidaknya itulah anggapan Yoona sekarang, ini bisa dibuktikan olehnya sendiri.

Baru tiga hari? Tak kuduga, rasanya sudah seperti tiga tahun saja, batin Yoona dalam hatinya.

“Aku akan kembali ke hotel duluan”. Lamunan Yoona buyar saat mendengar suara yang tak asing baginya. Ia tolehkan kepala kearahnya. Choi Siwon―pria itu terlihat tengah bersiap untuk bergegas menuju hotel.

Hotel?

Spontan Yoona berdiri kemudian berteriak, “Aku ikut..”.

Siwon terdiam dan berbalik menatap Yoona. Bukan hanya Siwon, tapi juga semua orang.

Yoona tersenyum kaku sambil membungkukkan kepala, “A.. aku akan kembali ke hotel juga bersama Siwon-ssi. Annyeonghigaseyo… jalja yeoreobun..”, ucapnya dengan suara pelan dan terus membungkukkan kepalanya berulang kali. Sampai akhirnya ia berlari dan menyusul Siwon.

Yoona dan Siwon berjalan mengitari trotoar jalan dihiasi lampu-lampu di pinggir kota. Suasananya memang cukup sepi, hanya ada beberapa orang dan juga para turis yang tengah berlalu lalang juga kendaraan yang tidak terlalu memadati jalanan.

Siwon merasa daritadi Yoona berada disampingnya, namun ia baru sadar Yoona sudah tak ada didekatnya ketika terdengar suara menangis. Siwon menghentikan langkahnya sambil membalikkan tubuh, berjarak tujuh langkah dari tempat ia berdiri, Yoona tengah berjongkok dan menelengkupkan kepalanya ke kedua tangan yang ia lipat diatas pahanya sambil menangis.

Kenapa dia?

Segera Siwon menghampiri Yoona dan ikut menjongkokkan badannya. “Gwaenchannayo?”, tanya Siwon khawatir bercampur heran, lantaran Yoona menangis dengan tiba-tiba tanpa tahu alasannya. “Yoona-ssi. Waegeurae?”.

Yoona mengangkat kepalanya dan malah lanjut menangis semakin keras. Hal itu membuat pandangan orang-orang teralihkan pada mereka dan mengakibatkan anggapan salah paham. Mereka mengira bahwa Siwon lah yang sudah membuat Yoona menangis.

Snapshot - 463

“Yoona-ssi, berhentilah menangis”, bisik Siwon yang sudah tak tahu lagi harus melakukan apa hanya bisa menggaruk-garuk tengkuknya.

Tapi tetap saja tidak membuat tangisan Yoona berhenti.

Tak ada cara lain, Siwon membantu Yoona berdiri kemudian dibawanya duduk di kursi yang tak jauh dari tempat mereka tadi.

“Kau duduklah dulu dan katakan apa yang terjadi”, ucap Siwon sambil duduk disamping Yoona.

“Aku ingin pulang”.

Snapshot - 467

Jawaban Yoona yang terdengar seperti rengekan seorang anak kecil itu membuat Siwon tertawa. Namun segera terhenti saat Yoona memberikan tatapan mematikan padanya.

“Kita hanya beberapa minggu saja disini. Lagipula waktu bekerja sudah berakhir, sisanya kita berlibur sepuasnya”.

“Aku tidak peduli, aku sudah cukup muak dengan orang-orang yang ada disini. Mereka sangat menjengkelkan, aku ingin pulang”, lagi-lagi Yoona menangis, dan itu cukup membuat telinga Siwon sakit.

“Muak karna apa? Orang-orang tak melakukan kejahatan apapun padamu”.

Yoona merasa tak terima atas perkataan Siwon barusan. “Tidak melakukan kejahatan? Ya, memang tidak. Maksudku mereka hanya melakukan diskriminasi padaku. Mentang-mentang aku adalah pegawai baru yang mereka pikir kinerjaku masih diragukan atau mungkin pengalaman ku yang masih sangat minim jadi mereka dengan seenaknya bisa memerintahku ini-itu. Untuk masalah satu ini aku masih bisa mentolelir, tapi sikap mereka yang bahkan seperti sangat mengacuhkanku, membuatku sangat kesal. Bukankah aku juga sama dengan mereka, aku adalah seorang desainer hebat yang juga bekerja diperusahaan yang sama dengan mereka. Tapi kenapa harus aku yang menjadi orang paling terabaikan disini. Orang-orang bercikap acuh, mereka hanya mengajakku bicara saat menyuruhku untuk melakukan sesuatu. Aku benar-benar kesal, semua orang tampaknya sudah gila, termasuk KAU!”.

Siwon terlonjak, “Kenapa sekarang aku juga jadi terbawa-bawa?”.

“Ya, memang kau pikir bagaimana sikapmu padaku akhir-akhir ini? Kau sama saja dengan mereka. Huaaaaa… aku ingin pulang!”, tangisan Yoona semakin menjadi-jadi.

Siwon menggaruk-garuk rambutnya, sejujurnya ia ingin tertawa keras mendengar alasan Yoona ingin pulang. Diacuhkan? Hahaha apakah seperti itu ya yang dilakukan orang-orang padanya. Namun ada rasa kasihan pula, sepertinya ia benar-benar tak nyaman.

“Ya sudah, jika kau ingin menangis.. mengangislah, aku tak akan melarangmu. Aku akan menunggumu sampai kau merasa lega”, tutur Siwon sambil bersender dan melipat tangannya didada.

Cukup lama Yoona menangis, dan Siwon tetap menunggu dalam posisi yang sama. Sekarang Yoona sepertinya sudah mulai tenang, hanya terdengar isakan pelan dari sisa-sisa tangisnya.

“Kau sudah merasa baikkan?”. Yoona hanya diam tak bergeming. “Jangan menangis lagi, nanti dadamu sesak”, Siwon merentangkan kedua tangannya siap untuk memeluk Yoona.

Yoona yang sudah sadar akan hal itu malah memiringkan tubuhnya menjauh dari Siwon dengan alis terangkat, “Wae? Apa yang kau lakukan?”, tanyanya dengan isakan yang masih tersisa.

Bagus, hal itu cukup membuat Siwon mati gaya dan salah tingkah. Ia kembali menggaruk-garuk tengkuknya yang tak gatal itu.

“Masa bodohlah, aku akan kembali ke Seoul besok”, sepertinya Yoona cukup keras kepala.

“Mana bisa begitu, kita baru diperbolehkan pulang Sabtu depan”.

Yoona terdiam, merasa kesal dengan keadaan.

Siwon mengerti betul keresahan yang tengah dirasakan Yoona, diluar kesadaan―Siwon tiba-tiba merangkul pundaknya. “Sudahlah, mulai sekarang hanya aku yang tak akan mengacuhkanmu. Dihari-hari terakhir kita disini aku akan mengajakmu jalan-jalan. Lagipula mana boleh datang ke Nami tapi tidak pergi mengunjungi tempat-tempat pariwisata disini, bukankah kita rugi besar?”.

“Aku tak yakin kau mau mengajakku jalan-jalan”.

“Mwo? Memangnya kenapa?”.

“Bukannya kau hanya sibuk menemani model-model menyebalkan diluar sana?”, ujar Yoona polos sambil melepaskan rangkulan Siwon. Entah kenapa Yoona jadi sedikit anti mendengar kata model untuk sekarang-sekarang. “Biasanya juga kau pergi bersama mereka”, kali ini perkataan Yoona semakin ketus. Entah ia sadar atau tidak.

Snapshot - 144

“Wae? Kau cemburu?”, tanya Siwon tersenyum menyeringai.

Snapshot - 191

“Aniyo, untuk apa aku cemburu”, Yoona berdiri dan bergegas pergi.

Siwon menggeleng-gelengkan kepala, lalu berlari menyusulnya. Ia menahan tangan Yoona kemudian memegang kedua pundaknya agar mereka berhadapan. Dengan gerakan cepat tiba-tiba Siwon menyeka air mata Yoona yang masih tersisa di bawah kantung matanya.

“Jangan menangis lagi, kau terlihat jelek jika begini”, Siwon memegang tangan Yoona. “Kajja, aku akan membawamu kesuatu tempat”.

“Eoddie?”, Yoona mengunci kakinya agar tidak bergerak.

“Nanti kau juga akan tahu, lagipula bukankah aku sudah berjanji akan mengajakmu jalan-jalan selama disini?”, sementara Siwon menarik kembali tangan Yoona.

Yoona melepaskan genggaman Siwon lagi, “Yasudah, tapi tak usah memegang tanganku”.

“Memangnya kenapa, aku ingin melakukannya”, lagi-lagi Siwon meraih tangan Yoona dan melangkah.

Yoona hanya terdiam kesal. Siwon ikut menghentikan langkahnya sambil menoleh kebelakang. Dengan wajah cemberut Yoona melepaskan genggaman Siwon untuk kesekian kalinya lalu berjalan begitu saja.

Siwon tertawa.

“Dia benar-benar sudah kembali ke wujud aslinya”, gerutu Yoona dan tiba-tiba saja mengulum senyum tanpa Siwon ketahui.

♥♥♥

 Snapshot - 125-vert

“Wooaaaaa lihatlah wanita seksi disana”.

“Tubuhnya bahkan lebih bagus dari Angelina Jolie”.

Kedua pria yang berada disamping Siwon terus saja berceloteh memandangi wanita-wanita seksi yang hanya berbalut pakaian bikini di sekitar pantai.

Pagi itu Siwon tampil begitu keren, dengan kaos oblong putih dibalut kemeja berwarna senada juga celana pendek merah bermotif bunga dan kacamata hitam membuatnya semakin menarik perhatian para wanita disana. Dengan hanya memberikan lambaian tangan dan kedipan mata saja para wanita itu jatuh dan tersipu. Senyuman Siwon memang sangat memabukkan [?].

Sementara itu Yoona yang sedang duduk di kursi santai hanya mempoutkan bibir, bukannya ikut terpesona oleh ketampanan Siwon ia malah mencibir memperhatikan gelagat pria itu.

“Bisa nya hanya tebar pesona saja”, ketus Yoona sampai-sampai bibirnya mengerucut.

Ia meraih tas tangan lalu mengeluarkan sunblock untuk melindungi kulit mulusnya dari matahari. Hari ini ia tak terikat apapun dengan masalah pekerjaan, jadi sekarang waktunya ia untuk menenangkan diri setelah melewati waktu tersulitnya kemarin.

Disaat gadis ini sibuk mengolesi lation pada sekujur tubuhnya, Siwon memperhatikannya dari kejauhan sambil tersenyum.

Snapshot - 126

Ia berjalan menghampirinya lalu duduk disamping Yoona, tepat dikursi santainya.

Yoona terlonjat kaget, “Ouh, Siwon-ssi!”.

“Daritadi kau hanya diam saja, apa tidak bosan?”.

“Terserah aku”, singkat Yoona lalu melanjutkan mengolesi tangan dengan sunblocknya.

Siwon terkekeh, “Hh, aku bosan disini. Ayo kita pergi ketempat lain”.

“Eoddiga?”.

“Bisakah kau tidak menanyakan itu, setiap aku akan mengajakmu pergi kau selalu bertanya. Ku pastikan aku tidak akan membawamu ke penjara atau ke tempat pembuangan sampah”.

“Tentu saja aku harus, lagipula kau bukan pria baik-baik”, ketus Yoona.

Siwon menarik bibirnya sambil berkacak pinggang. “Yasudah jika kau tidak ingin ku ajak bersepeda dan melihat sunset. Lebih baik aku mengajak oranglain saja”, Siwon berbalik dan melangkah pergi. didalam hatinya ia menghitung. “Hana..dul..set..”.

“Chakkaman!”, teriak Yoona sambil berdiri.

Siwon tersenyum penuh kemenangan.

Yoona terduduk seorang diri sambil memainkan ponselnya. Wajahnya nampak ditekuk, sepertinya ia tengah kesal dan bosan. Tadi Siwon menyuruhnya untuk menunggunya disini, bilangnya akan membawa sepeda. Sudah hampir 15menit Yoona menunggu, dan sampai sekarang pria itu belum menampakkan batang kidungnya juga.

Kriing..kriing..

Snapshot - 110

Yoona mengangkat kepala, terlihat Siwon sudah siap dengan sepedanya. Yoona mengembungkan mulut sambil menunjukkan jam ditangannya mengisyaratkan bahwa Siwon sudah sangat telat.

Siwon terkekeh, melihat Yoona dengan ekspresi marahnya Siwonpun meminta maaf sambil menyatukan kedua telapak tangannya.

“Kenapa hanya membawa satu sepeda?”.

“Bagaimana bisa aku membawa dua sepeda sekaligus”.

“Kan sudah kubilang tadi aku ikut”.

“Sudah jangan banyak bicara, nanti kita malah tidak jadi melihat sunset nya. Ayo naik”.

“Araso!!”.

“KITA BERANGKAAAAT”, teriak Siwon.

“KAJJAAA!”, timpal Yoona tak mau kalah.

 Snapshot - 157

“Ayo, cepatlah goes lebih cepat”.

“Walaupun terlihat kurus, tapi kau cukup berat Nona”.

Yoona mencubit pinggang Siwon. Siwon menjerit kesakitan membuat keseimbangan tangannya mulai hilang dan sepeda mereka hampir oleng. Yoona memegang pinggang Siwon erat, untungnya Siwon berhasil menyeimbangkannya kembali.

“Ya! Jika kau melakukannya sekali lagi aku akan menceburkan sepeda ini ke laut”, ancam Siwon.

Sementara Yoona hanya tertawa geli.

Sesampainya dipantai, sambil menunggu matahari terbenam, mereka melakukan sebuah permainan, semacam ‘batu-kertas-gunting’. Dan yang kalah harus diberi hukuman.

 Snapshot - 160

Hari ini sepertinya Siwon yang sedang kena sial, sesuai kesepakatan ia harus menggendong Yoona beberapa meter disekitar pantai. Yoona tertawa puas melihat Siwon sampai terengah-engah kelelahan.

 Snapshot - 158

Dan kini langit sudah mulai gelap. Itu artinya Siwon dan Yoona berhasil menyaksikan sang raja siang kembali ke peraduannya.

“Indah sekali”, mata Yoona berbinar. Merasa takjub akan keajaiban sang pencipta.

Siwon menghela nafas dan tersenyum perih. “Ya, memang sangat indah”.

‘Tidak seperti..hidupku’.

Seakan mendengar kata hati Siwon, Yoona memandang kearahnya. Wajah itu terlihat sangat menyedihkan, apa ia tengah memikirkan sesuatu?

 yoonwon

***To Be Countinued***

[Behind The Scene]

castle

Yoona: (menatap Siwon yang sedang berbaring di tempat tidur dengan bertelanjang dada)

Sutradara: Nanti kau menindih Siwon dan menjambak rambutnya.

Yoona: Ah geurae? Hahaha (tertawa dengan pipi memerah)

Sutradara: Siwon-ah, sebelum bangun kau tengkurapkan posisi tubuhmu.

Siwon: Araso (mengangguk)

ROLLING! AND ACTION!

PLAP!

Snapshot - 278

Yoona: CHOI SIWON!! KAU SUDAH BERBUAT APA PADAKUU?

Siwon: Ada apa… aku masih sangat mengantuk (menelengkupkan badannya)

Yoona: (berdecak kesal dan naik keatas punggung Siwon sambil menjambak rambutnya) Siwon-ssi! Katakan apa yang terjadi semalaaamm… kkkkkkk (tiba-tiba tertawa)

CUT!

Yoona: Oppa, appoya?

YoonWon: (tertawa)

Minho: (memperhatikan rambut Yoona)

Yoona: Oppa, waeyo?

Minho: Diamlah, sepertinya ada serangga dirambutmu.

Yoona: MWO? JINJJA?? KYAAAAA

Minho: (mengelus telinganya) Yoona-ssi, kau berteriak sangat kencang (tertawa)

Yoona: Hahaha mianhae..

(Minho dan Yoona sedang melakukan take gambar untuk scene yang mereka hampir berciuman. Tanpa sengaja kamera menangkap Siwon yang tengah menyimak adegan tersebut. Siwon berdiri sambil memperhatikan begitu seksama sambil melipatkan tangan didadanya)

Tiba-tiba seseorang berkata padanya: Siwon-ssi, apa yang sedang kau lakukan?

Siwon: Eung..?? ani.. tidak apa-apa (tertawa malu lalu kemudian melarikan diri.. haha)

(Dimeja makan)

Nyonya Lee: Eunnie, apa kau sudah menelefon kakakmu?

Soeun: (menganggukkan kepala)

Tuan Lee: Sudahlah nanti dia juga datang…… apa yang harus kukatakan setelah ini?

CUT!

Kimbum: (tertawa) Ahjussi, kau salah terus dari tadi.

Yoona: Aku tidak peduli, aku sudah cukup muak dengan orang-orang yang ada disini. Mereka sangat menjengkelkan, aku ingin pulang..

Siwon: Muak karna apa? Orang-orang tak melakukan kejahatan apapun padamu.

Yoona: Tidak melakukan kejahatan? Ya, memang tidak. Maksudku mereka hanya melakukan diskriminasi padaku. Mentang-mentang…. Haaaaah, skenarionya terlalu panjang (menggaruk-garukkan kepala)

CUT!

(Siwon menggendong tubuh Yoona dan berlari menyusuri pantai)

Sutradara: SIWON-SSI, KAU BERLARI TERLALU JAUH

(Tapi Siwon maupun Yoona sepertinya tak mendengar)

(Para Kru tertawa)

Sutradara: (kali ini berteriak dengan memakai toa) YAK! CHOI SIWON-SSI, BERHENTI DISANA!!

(Siwon menghentikan langkahnya kemudian menoleh kebelakang dengan wajah bingung. Begitupun dengan Yoona yang masih menempel dipunggungnya)

Siwon: MWOGA? (ia berteriak dari kejauhan)

(Wajah Siwon terlihat sangat polos membuat para Kru kembali tertawa)

Yoona: Apa yang mereka katakan?

###

SHINee singing: GEE IS BACK.. GEE IS BACK.. GEE IS BACK.. BACK BACK BACK BACK BACK.. YEAH..

ANNYEONGHI YEOREOBUN-AAAAA…. SAYA CAMEBACK^O^

Ada yang kangen saya? Atau setidaknya ada yang kangen sama FF ter-absurt ini?

Serius, udah lama ga nulis bikin tangan dan pikiran aku rasanya kaku banget [?].. maaf kalo part ini sedikit membosankan (atau memang sangat membosankan) dan ga menarik, aku menyadari itu.. FF ini memang belum terasa serunya, karna aku belum mengeluarkan konflik yang benar-benar WAH sekali.

Karna saya sudah melewati Ujian Nasional (ga juga bisa dibilang nasional sih -_-), jadi sekarang saya punya banyak waktu luang.. ahihi, senangnya senangnya. Moga aja setiap minggu bisa update FF ini, karna aku juga udah ga sabar pengen cepet2 nyampe ke klimaksnya :p hahaha

Kasih saran dan kritiknya ya, saya akan menerima dengan lapang dada apa yang akan kalian katakan nanti (Insya Alloh)

Ngomong-ngomong ada masalah apa ya antara keluarga Choi? Kok rasanya rumit banget ampe Choi Kiho harus dibawa kabur ke luar negri. Terus Siwon sedang diincar? Diincar siapa? Wah wah, kalian wajib ngikutin terus FF ini untuk memecahkan jawabannya [?] (modus banget sumpah ini authornya) xD

RCL juseyo :3

Oh iya, terakhir.. buat Nited yang sedang menjalani Ujian Nasional, semoga dilancarkan ya.. jangan lupa banyak latihan dan barengi dengan doa.. SUKSES UN 2012-2013^^ doain juga saya lulus :p kkkk SEMANGAT!

Tinggalkan komentar

199 Komentar

  1. Rumini

     /  Maret 21, 2015

    Seru thor….
    Lanjut2… tp jangan lama2 ya….
    Udah pnasaran tingkat kronis bukan akut lg soalna…

    Balas
  2. paris

     /  Desember 2, 2015

    Sebenernyaa apa yang terjadi sama appa nyaaa siwon? Kenapa appa siwon di incer sama orang2, apa ada yang terjdi di masa lalu?

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: