[3S] Need Jealousy (Chapter 3/END)

Cover NJAuthor : misskangen

Length                                     : 3 Shots

Genre                                      : Romance, Drama

Rating                                     : PG 17

Main Cast                                : Im Yoon Ah (SNSD), Choi Siwon (Super Junior)

Support Cast                           : Kwon Yuri (SNSD), Park Yoochun (JYJ)

Disclaimer                               : Cerita ini adalah fiktif dan murni karangan penulis. Bila terdapat kesamaan cerita dengan kehidupan nyata maka itu suatu kebetulan semata.

Holaaaa… adakah yang sudah menunggu lanjutan cerita ini?? *readers: ya elah lama amat ya postingnya, udah pada lumutan ini!!

Maaf yang sebesar-besarnya buat para reader setia yang memang sudah menunggu endingnya. Sebenarnya aku udah mentok banget idenya buat ending cerita. Ga tahu mau klimaksnya bagaimana… jadi inilah hasilnya, semoga readers suka…

Selamat membaca…

 

NEED JEALOUSY : PART 3-END

 

Yoona masih terus berusaha berpikir untuk mencari tahu keberadaan Soo Jin. Hatinya tidak tenang dan pikirannya kacau. Soo Jin adalah harta paling berharga miliknya yang tidak akan pernah ternilai harganya. Yoona merasa sangat takut bila sesuatu yang buruk terjadi pada Soo Jin.

 

Hari sudah senja dan Soo Jin tak juga ada kabarnya. Yuri yang sengaja datang untuk menenangkan Yoona malah mulai merasa cemas. Yuri bisa merasakan kepanikan Yoona yang membuatnya ikut berpikir keras bagaimana cara menemukan Soo Jin. Yuri hanya bisa mengelus punggung dan mengatakan hal-hal yang positif ketika Yoona menangis karena ia sendiri tak tahu harus berbuat apa untuk menemukan Soo Jin.

 

“Apa kita lapor polisi saja? Ini bisa dikatakan penculikan!” pekik Yoona dengan wajah muram yang berlinang air mata.

“Yoong, tenanglah dulu. Hong Ahjumma bilang Soo Jin pergi dengan seseorang yang dikenalnya. Ada kemungkinan orang itu akan mengembalikan Soo Jin pada kita,” sahut Yuri.

“Justru karena aku tak tahu siapa yang disebut handsome uncle itu sehingga aku ragu ia adalah orang baik-baik,” Yuri mengangguk mengerti, memang apa yang dikatakan Yoona ada benarnya. Mereka tak mengenal pria itu, jadi peluang terjadinya penculikan memang ada.

 

Yuri menoleh kepada Hong Ahjumma, sedikit berpikir ketika melihat wanita paruh baya yang sudah ketakutan itu, “Ahjumma, apa kau mengenal pria yang membawa Soo Jin? Setidaknya apa kau pernah bertemu dan mengenali ciri-cirinya?”

Hong Ahjumma mengangguk pelan, “Ne, saya memang pernah bertemu dengannya, Agassi. Pria itu kerap kali datang mengunjungi Soo Jin ke sekolah. Ia menjelaskan padaku bahwa ia bukan orang jahat, aku mempercayainya karena melihat kedekatan Soo Jin dengannya. Soo Jin terlihat sangat senang berada di dekat pria itu. Jadi, aku sama sekali tak menaruh curiga padanya. Aku benar-benar minta maaf, Agassi.”

“Kau bilang Soo Jin mengenalnya? Lalu seperti apa ciri-ciri orang itu?” tanya Yuri lagi, Yoona ikut menunggu jawaban dari Hong Ahjumma.

“Pria itu berperawakan tinggi, tubuhnya agak kekar, mungkin usianya sekitar 28 atau 29 tahun. Ia pria yang tampan dengan dua lesung pipi yang terlihat bila sedang tersenyum. Hanya itu yang bisa ku tangkap darinya,” Yoona dan Yuri terlihat mengerutkan kening, sedang berpikir untuk menyesuaikan karakter tersebut dengan seseorang yang mereka kenal.

 

“Mungkinkah pria itu ayah Soo Jin? Ya, ciri-cirinya cocok dengan Choi Siwon!” ungkap Yuri sambil memandang Yoona, berharap Yoona punya gagasan yang sama dengannya. Yoona membalas Yuri dengan tatapan ragunya. “Apa Siwon tahu bila Soo Jin putrinya, Yoong?”

Yoona menggeleng cepat, “tidak..tidak… yang dia tahu Soo Jin itu anak Seulong Oppa. Tapi bila memang dia orang yang membawa Soo Jin, aku sama sekali tidak bisa menebak motif apa di balik aksinya itu!”

“Sebaiknya kau mencoba hubungi Siwon. Siapa tahu dugaan kita bahwa Soo Jin bersamanya memang benar, jadi kita tidak perlu cemas lagi..” saran Yuri dan mendapat anggukan dari Yoona. Suara deruman mesin mobil yang halus terdengar dari depan rumah Yoona, membuat Yoona bangkit dan bergegas membuka pintu.

 

Yoona membelalakkan matanya saat mendapati Siwon turun dari sebuah sedan hitam sambil menggendong Soo Jin. Anak itu tertidur dalam gendongan Siwon, masih dengan seragam sekolahnya.

“Aku tidak tahu dimana rumah Seulong, jadi aku mengantarkan Soo Jin ke rumahmu.” Kata Siwon begitu sampai di depan Yoona. Wanita itu tidak menyahut, ia masih terlalu kaget melihat kedekatan Siwon dan Soo Jin. Kekhawatiran akan kondisi Soo Jin yang tadi menghilang kini musnah. Yoona tak menyangkal bahwa ada kelegaan dalam hatinya bahwa Soo Jin aman bersama ayahnya.

 

Siwon POV

 

Aku sampai di rumah Yoona untuk mengembalikan Soo Jin. Hari ini aku cukup puas bermain dengan Soo Jin, gadis kecil yang sangat kurindukan kehadirannya di sisiku. Aku mengajaknya pergi ke berbagai tempat dan bersenang-senang bersama. Soo Jin, benar-benar anak yang menyenangkan. Bukan hanya ia manis dan pintar, tapi ia adalah putriku. Sejak pertama melihatnya, sosok Soo Jin mampu menghipnotisku dan membuatku jatuh hati padanya. Ternyata perasaan itu hadir karena ikatan batin antara aku dan anakku.

 

Aku tidak tahu alasan Yoona menyembunyikan keberadaan Soo Jin dariku. Selama lima tahun belakangan, aku tak pernah tahu bahwa aku memiliki seorang anak dari Yoona. Setelah aku menyatukan satu demi satu informasi dan tanda, aku dengan keyakinan penuh menyimpulkan bahwa Soo Jin adalah anak kandungku. Aku merasa begitu bahagia hingga sulit rasanya berjauhan dengan Soo Jin. Aku ingin selalu ada di dekatnya, memeluknya, dan menghujaninya dengan kasih sayang. Namun saat ini masih sulit, aku yakin Yoona tidak akan semudah itu membiarkanku berdekatan dengan Soo Jin. Tapi aku tidak akan menyerah, aku tinggal menunggu waktu yang tepat untuk memaksa Yoona membuka rahasianya dan mengakui status Soo Jin yang sebenarnya.

 

Saat aku mengantar Soo Jin ke rumahnya, Yoona sudah lebih dulu membuka pintu. Ekspresi kagetnya jelas tertangkap olehku, tapi perhatianku lebih kepada kondisi wajahnya yang kacau. Ia terlihat pucat dengan sisa-sisa air mata di kedua pipinya. Aku yakin kondisinya seperti itu karena mengkhawatirkan keberadaan Soo Jin yang kubawa pergi tanpa memberitahu siapapun. Wajar saja bila Yoona sangat mengkhawatirkan Soo Jin, setiap ibu pasti cemas bila anaknya menghilang. Aku merasa bersalah telah menjadi penyebabnya, tapi hal ini semata kulakukan untuk memastikan satu hal antara aku, dirinya, dan Soo Jin.

 

“Oh, Soo Jin-ah!!!” pekik Yuri yang baru saja menyusul Yoona muncul dari balik pintu. Yuri langsung mengambil alih menggendong Soo Jin yang tertidur. Ia menatapku tajam, “kau keterlaluan sekali Siwon-ssi, kau sudah membuat kekacauan dengan membawa Soo Jin tanpa izin!”

 

“Maaf, aku telah lancang membawa Soo Jin seenaknya. Tapi demi Tuhan aku tidak berniat buruk sama sekali kepadanya. Kau lihat sendiri kan Soo Jin  kembali dalam keadaan utuh? Lagi pula mana mungkin aku mencelakakan Soo Jin, aku sangat menyayanginya!!”

 

“Dalam kapasitas apa kau menyayanginya, Oppa?” aku menoleh kepada Yoona, aku belum bisa menjawabnya karena belum mendapat jawaban yang tepat, belum saatnya aku mengatakan bahwa aku menyayangi Soo Jin karena ia putriku.

 

“Yoona-yah, mengapa wajahmu terlihat kacau begitu? Apa yang sudah terjadi?” aku sengaja mengalihkan pembicaraan walau kutahu hanya sia-sia saja.

“Tentu saja aku begini karena aku mengkhawatirkan, Soo Jin!! Kau sudah seenaknya membawa pergi tanpa berpikir ada banyak orang yang akan cemas. Bagaimana bila terjadi sesuatu pada Soo Jin, apa kau berani bertanggung jawab?” Yoona seakan meneriakkan segala kegundahannya saat itu. Yuri yang mulai merasa tak nyaman, membawa Soo Jin masuk agar tak terganggu dengan perdebatan kami.

 

“Aku sadar aku sudah membuat kesalahan besar, Yoona-yah. Aku minta maaf soal itu,” Yoona hanya memandangku kesal. “Tapi kau sungguh terlihat kacau Yoong. Sebegitu cemaskah kau pada Soo Jin?” tiba-tiba tubuh Yoona terlihat menegang.

 

“Semua keluarga tentu mengkhawatirkan Soo Jin.” Katanya dengan nada dingin.

“Tapi hanya kau yang terlihat paling histeris. Seolah kau yang kehilangan anakmu sendiri,” Yoona membelalakkan matanya, tatapannya keras jelas ia tak menyukai kata-kataku.

“Itu bukan urusanmu! Terserah padaku ingin bersikap seperti apa. Dengarkan aku Choi Siwon-ssi, mulai sekarang berhentilah menemui atau mendekati Soo Jin.”

“Mengapa begitu? Seulong yang merupakan ayah Soo Jin saja tidak pernah melarangku. Aku tidak melihat ada sebuah kesalahan dari kedekatanku dengan Soo Jin.” Balasku secara tidak langsung ingin memojokkannya. Aku melihat Yoona menggigit bibir bawahnya, ia terlihat ragu untuk melanjutkan kata-katanya. “Mengapa kau diam? Apakah ada sesuatu hal yang tidak bisa kau katakan padaku soal Soo Jin?”

 

Yoona tersentak, ia hanya melihatku sekilas sebelum pandangannya terlempar ke arah lain. “Tidak ada. Ya sudahlah, sebaiknya kau pulang. Terima kasih karena kau sudah membuat khawatir seluruh keluargaku. Dan tolong pikirkan kembali kata-kataku untuk menjauhi Soo Jin!”

“Maaf sekali, aku tidak bisa melakukannya!” ujarku sambil berlalu kembali menuju mobilku. Sekilas aku melihat ekspresi wajahnya yang ditekuk. Ia pasti kesal setengah mati dengan sikapku. Mianhae Yoona-yah, aku harus bersikap seperti ini dulu. Ini semua demi Soo Jin, aku hanya ingin mendapatkan kejelasan tentang anak itu. Aku sangat yakin bahwa Soo Jin adalah putriku, putri yang yang telah kau sembunyikan identitasnya selama bertahun-tahun dariku.

Siwon POV End

 

“Jadi bagaimana tadi, apa yang kau katakan kepadanya?” tanya Yuri begitu melihat Yoona masuk ke kamar Soo Jin. Yoona duduk di sisi ranjang Soo Jin, memandang anak itu dengan tatapan kosong. “Yoona-yah??” Yoona tersentak dengan panggilan Yuri.

“Oh, itu… aku mengatakan padanya agar menjauhi Soo Jin,” jawab Yoona lemah.

“Mwo?? Kau mengatakan itu padanya? Aku yakin dia tidak akan bersedia. Ada yang aneh dengan sikap Siwon, mungkinkah dia punya maksud tersembunyi?”  Yuri menghambur dengan sigap duduk di sebelah Yoona. Sejenak menoleh pada Soo Jin, takut bila anak itu terbangun karena lengkingan suaranya.

 

Yoona diam sejenak, ia terlihat sedang berpikir keras dari kerutan tipis di keningnya, “sepertinya Siwon mencurigai sesuatu. Aku merasa dia berprasangka bahwa Soo Jin adalah anaknya. Ya Tuhan, bagaimana bila dia tahu yang sesungguhnya?” Yoona menutup wajahnya dengan kedua tangannya, merasa sedikit frustasi dengan pikirannya sendiri.

 

“Bagaimana apanya? Tentu saja Siwon akan meminta haknya sebagai ayah Soo Jin! Sebaiknya yang harus kau pikirkan sekarang adalah keputusan yang akan kau ambil bila dia tahu yang sebenarnya. Bukankah kau sudah memprediksikan hal ini akan terjadi? Lantas kau juga harus memikirkan tentang perasaanmu padanya, aku tahu persis kau masih berharap pada pria itu!”

 

“Eonni… aku takut sekali bila ia ingin mengambil Soo Jin dariku,” Yoona menangis tersedu masih dengan menutup wajahnya. Yuri menarik tangan Yoona yang menutup wajahnya, memandang adiknya dengan tatapan kasihan. Yuri lalu memeluknya, mencoba menenangkannya.

 

“Kau harus berpikir positif. Bukankah kau bilang Siwon sudah mengaku menyesali sikapnya beberapa tahun yang lalu. Aku rasa dia tidak akan berusaha merebut Soo Jin darimu, ia pasti sebisa mungkin menghindari melakukan hal yang akan menyakitimu.” Ujar Yuri sambil membelai rambut Yoona.

 

“Bagaimana kau bisa seyakin itu, eonni?”

“Entahlah, hatiku berkata seperti itu. Semoga saja firasatku tidak meleset.”

 

Yoona POV

 

Semenjak Soo Jin dibawa oleh Siwon beberapa hari yang lalu, kini aku lebih protektif terhadap Soo Jin. Sebisa mungkin aku menghindarkan Soo Jin dari pertemuan dengan Siwon. Terkadang aku bingung karena Soo Jin kerap kali menanyakan perihal handsome uncle yang tak lagi sering menemuinya.

 

Berulang kali aku dan Yuri memberikan pengertian pada Soo Jin untuk tidak dekat-dekat dengan Siwon tapi malah raut kekecewaan yang kudapat dari wajahnya. Aku mengerti bila Soo Jin punya rasa ingin selalu dekat dengan Siwon, ayahnya. Tetapi aku masih diselimuti rasa takut tiap kali Siwon menyentuh Soo Jin.

 

Ibuku sering memperingatkan aku soal itu, bahwa tidak seharusnya aku berlama-lama menyembunyikan rahasia ini hingga aku terus dirundung ketakutan sendiri. Tidak akan ada yang tahu bagaimana reaksi Siwon nantinya bila dia sendiri tak tahu Soo Jin sebenarnya anaknya. Aku mencoba belajar menghentikan rasa takut itu. Aku memberi sugesti pada diriku bahwa Siwon tidak akan merebut Soo Jin dariku. Siwon pernah bilang kalau ia masih mencintaiku, aku harusnya bisa menjadikannya senjata untuk menahan Soo Jin disisiku.

 

Entah mengapa tiba-tiba aku merasa gamang dengan perasaanku pada Siwon. Kalau Yuri bilang aku masih mengharapkannya, justru aku tak tahu apakah memang seperti itu. Ada satu rasa bersalah bila aku benar-benar memiliki rasa itu. Aku akan merasa bersalah pada Yoochun Oppa. Selama ini aku memang memberi harapan padanya, pada perasaannya dan juga masa depannya. Walaupun aku tak pernah mengatakan aku menyukainya atau mencintainya, tapi dari kedekatan kami dia pasti menganggap bahwa rasa itu ada.

 

“Belakangan ini aku merasa kau menghindariku, benarkah begitu? Apa yang sudah terjadi padamu?” suatu ketika Yoochun Oppa menemuiku di butik dan melontarkan pertanyaan itu. Aku sedikit gelagapan untuk menjawabnya. Memang selama ini aku sengaja menghindarinya. Aku butuh waktu untuk memahami perasaanku sendiri terhadapnya dan terhadap Siwon.

“Aniya, aku hanya sedang sibuk Oppa. Mengapa kau bisa berpikir seperti itu?” aku menjawab tanpa memandang matanya.

“Apa ini karena mantan suamimu? Aku dengat beberapa hari yang lalu Soo Jin dibawa olehnya. Apa dia sudah mengetahui kalau kenyataannya ia adalah ayah Soo Jin?” Aku mendongak menatapnya, mendapati raut cemas di wajahnya.

“Oppa, mengapa kau..”

“Sudah sepantasnya aku merasa cemas akan hal itu, Yoona. Aku tahu jauh dilubuk hatimu pria itu masih memiliki tempat khusus. Selain ia adalah ayah kandung putrimu, kau juga masih mencintainya.” Aku menelan salivaku dengan susah payah. Yoochun Oppa tidak sedikitpun membuat kesalahan denga kata-katanya.

 

“Maafkan aku bila Oppa merasa kecewa. Sejujurnya sangat sulit bagiku untuk melupakannya begitu saja. Walau tahap demi tahap kulewati dan rasa itu juga mulai terkikis, aku mulai belajar hidup tanpa mengingat kenangannya. Tapi kembali ke Korea dan bertemu lagi dengannya seolah membuka kembali semua ingatan dan kenangan itu, termasuk kepahitan yang kurasa di masa lalu.”

 

“Setidaknya jangan hancurkan harapan dan kesempatan bagiku untuk bersamamu. Kau tahu dengan pasti bagaimana perasaanku padamu. Aku harap kau masih bersedia menerima keberadaanku di sisimu.” Aku tersenyum kecut, sama sekali tidak punya kata-kata yang bisa aku keluarkan untuk menanggapi pernyataannya.

 

“Permisi… Maaf bila aku mengganggu kalian,” aku dan Yoochun Oppa serentak menoleh ke arah suara itu. Choi Siwon berdiri tegap di depan pintu ruanganku. Dengan membawa sebuah Teddy Bear berukuran cukup besar, aku yakin ia mencari Soo Jin.

“Untuk apa kau kesini, Oppa?” aku tetap menanyainya walau aku tahu apa tujuannya kesini.

“Tentu saja aku ingin bertemu dengan Soo Jin. Kau tidak lihat aku membawa hadiah untuknya?” jawabnya sambil mengacungkan boneka itu.

“Kau tidak akan menemukan Soo Jin disini,” jawabku ketus.

 

“Kau tidak perlu berbohong, Yoona-yah. Sudah cukup kau menghindarkan aku bertemu Soo Jin selama beberapa hari ini. Aku sudah melihat Soo Jin dibawa oleh pengasuhnya kesini. Jadi kumohon pertemukan aku dengannya, aku sudah sangat merindukan Soo Jin.” Aku menatapnya kesal. Ia sudah mengawasi Soo Jin bahkan hingga ke butikku. Soo Jin memang ada disini, setidaknya Soo Jin masih berada di ruangan lain. Jadi aku bisa mengusir Siwon sebelum Soo Jin muncul.

 

“Kau bersikeras sekali ingin bertemu Soo Jin, Siwon-ssi. Aku tidak menyangka kau bisa sedekat itu dengan Soo Jin, padahal dia bukan siapa-siapa bagimu!” ujar Yoochun Oppa membuatku membulatkan mata tak percaya. Aku harap tidak akan ada konfrontasi antara mereka disini.

 

“Ya begitulah. Soo Jin itu anak yang manis. Aku melihat ada banyak Yoona dalam dirinya, jadi aku tertarik untuk berdekatan dengannya.” Jawab Siwon Oppa enteng dan membuat jantungku berdesir. Dari kata-kata yang diucapkannya mungkinkah ia telah mengetahui kenyataan Soo Jin adalah anaknya. Ya Tuhan… sidang pengadilan untuk mengadiliku yang telah menyembunyikan Soo Jin seakan sudah di depan mata.

 

“jawabanmu diplomatis sekali, Siwon-ssi. Kau seperti tahu banyak hal tentang Soo Jin, benarkah begitu?” oh tidak, pertanyaan Yoochun Oppa sama saja memancingnya mengakui sesuatu.

 

handsome uncle!!” teriakkan Soo Jin dari belakang Siwon membuatnya berbalik. Habislah sudah kesempatan untuk menghidarkan Siwon dari Soo Jin lagi. Kini Soo Jin sudah ada dalam gendongannya, tertawa riang sambil memeluk Teddy Bear yang dihadiahkan Siwon padanya. Melihat pemandangan itu ada rasa senang di dalam hatiku. Melihat Soo Jin merasa gembira dalam pelukan ayahnya. Tapi disisi lain aku juga mengkhawatirkan perasaan orang yang ada di sebelahku, Yoochun Oppa.

 

“Oh… yang aku tahu, aku sangat menyayangi Soo Jin. Benar begitukan, Princess?” Siwon Oppa menjawab pertanyaan Yoochun Oppa sambil tersenyum dan menoleh pada Soo Jin. Ia sama sekali tidak menyebutkan status Soo Jin baginya.

 

“Ne!!” jawab Soo Jin begitu riangnya. Aku merasakan ketegangan pada diri Yoochun Oppa selepas Siwon membawa Soo Jin meninggalkan ruang kerjaku.

 

Aku mendengar gelak tawa yang dipaksa dari Yoochun Oppa. Aku menoleh menatapnya, ingin tahu bila ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Ia terlihat sedang tersenyum, senyuman sinis yang membuatku khawatir.

 

“Kau lihat… bahkan Soo Jin seceria itu bersamanya. Soo Jin terlihat sangat nyaman bersamanya. Selama ini aku tak pernah mendapatkan sikap sehangat itu dari putrimu. Ia bahkan terlihat sangat senang saat Siwon memanggilnya ‘princess’. Sudah sepantasnya Soo Jin merasa dekat dengan ayahnya. Haaahhh… sepertinya peluangku semakin tipis.”

Aku menyentuh lengannya, sedikit meremasnya. Aku benar-benar bingung harus bagaimana. “Oppa…”

“Gwenchana, Yoona-yah. Aku baik-baik saja.” Yoochun Oppa melepaskan tanganku dari lengannya, dan pergi meninggalkan aku. Aku mengikutinya pelan-pelan di belakang, aku merasa ia akan mendatangi Siwon yang sedang bersama Soo Jin.

 

Yoona POV End

 

Siwon POV

 

Beberapa hari tak bertemu dengan Soo Jin membuatku sangat merindukannya. Putriku ini memang memiliki daya tarik kuat yang membuatku tak ingin jauh-jauh darinya. Yah, aku sudah tahu kenyataan bahwa Soo Jin memang putri kandungku, anakku dengan Yoona. Terakhir kali aku membawa Soo Jin, aku sengaja meminta bantuan temanku yang seorang dokter si rumah sakit untuk melakukan tes DNA. Dari hasilnya yang kuperoleh kemarin jelas tertera bahwa Soo Jin sepenuhnya putriku. Tapi aku tidak akan menunjukkan hasil tes itu pada Yoona. Aku ingin dia sendiri yang akan mengatakan padaku tentang hal ini. Sampai saat itu datang, aku tidak akan pernah berhenti memberikan pengawasan pada Soo Jin, termasuk berdekatan dengan Park Yoochun.

 

handsome uncle, I miss you. Why you never come to see me?” gerutu Soo Jin begitu ia bertemu denganku. Sambil memeluk boneka Teddy Bear yang kuberikan padanya, ia duduk menghadapku dan memandangku dengan puppy eyes nya.

Sorry princess, I’m so busy so that I can’t meet you. But, I miss you too, baby!” aku mengelus kepalanya bermaksud merayunya agar tak kesal lagi.

Really? But, mommy told me that I shouldn’t meet you again. Was it mean that you will do something weird to me?”

“Mwo? Hahahaha… Soo Jin-ah, it’s not true. I love you and I really never think to do something weird as your mom told you!” jadi Yoona melarang Soo Jin secara langsung untuk tak menemuiku lagi. Aku rasa itu sedikit keterlaluan. Sampai kapanpun aku takkan rela Soo Jin jauh dariku.

thank you, handsome uncle. You’re so kind…” Soo Jin kembali memelukku, meninggalkan teddy bearnya dan bertahan dalam pelukanku. Rasanya ingin sekali aku terus dalam posisi ini, memeluk anakku dan memberinya kehangatan dari seorang ayah yang lama tak pernah dirasakannya.

 

“Wah.. sepertinya kau akrab sekali dengan Soo Jin, Siwon-ssi!” teguran Park Yoochun hanya kutanggapi dingin. Aku berdiri dan berhadapan dengannya. Aku rasa ini saat yang tepat untuk memprovokasinya.

“Memangnya kenapa bila aku akrab dengan Soo Jin? Kau merasa iri dan merasa tersingkir dari persaingan?”

“Apa? Tersingkir dari persaingan? Tidak semudah itu, Siwon-ssi Aku tidak akan semudah itu menyerah dan melepaskan Yoona. Aku sudah mempertaruhkan banyak hal disini, jadi aku tak akan membiarkan semuanya sia-sia,” dari tutur katanya jelas Yoochun mencoba memberikan perlawanan padaku.

“Begitukah? Aku yakin kau tahu persis bagaimana posisimu sekarang. Kau pasti paham bahwa posisiku berada di atas angin. Dulu dan sekarang sepertinya tidak berubah, tetap saja aku yang akan memenangkan persaingan!” Aku melihat ekspresi wajah kesal dan rahang mengeras darinya, aku yakin ia sudah termakan provokasi yang kulakukan. Maafkan aku Yoochun-ssi, aku terpaksa menyudutkanmu. Semua ini demi kebahagiaan Soo Jin.

“Kau yakin sekali. Baiklah.. kita lihat saja bagaimana akhirnya nanti!” sahutnya kesal dan ia berlalu meninggalkan butik Yoona.

 

“Oppa, apa yang kau lakukan pada Yoochun Oppa?” tanya Yoona yang baru muncul, sepertinya ia hendak menyusul pria itu, tapi aku menahan tangannya. Ia menatapku curiga dan aku hanya membalasnya dengan senyuman.

“Aku tidak melakukan apa-apa. Yoochun merasa tertekan karena kedekatanku dengan Soo Jin. Aku rasa ia yang membuat dirinya sendiri merasa terpojok.” Jawabku enteng.

“Oppa, berhentilah bersikap kalau kau adalah pihak yang paling benar! Tahukan kau, kalau sikapmu itu membuat orang merasa jengah?!” pekiknya seraya memandangku galak.

 

Mommy, don’t fight with handsome uncle, please. He’s not a bad guy!” Soo Jin menghampiri Yoona dan memeluk kakinya. Yoona terlihat kaku, ia tentunya terkejut ketika Soo Jin menyebut kata ‘Mommy’, sesuatu yang disembunyikannya rapat dariku.

“Oh, jadi begitu ya… ternyata benar dugaanku, Soo Jin Eomma!” perkataanku membuatnya tersentak, ia memandangku dengan tatapan keras yang sulit diartikan.

“Aku tidak akan memaksamu mengatakan siapa ayahnya, kau tidak perlu menatapku seolah kau ingin menelanku. Aku kan hanya mengira dia putrimu melihat kemiripanmu dengannya. Aku tidak peduli meskipun Yoochun adalah ayahnya. Aku hanya ingin kau memberikan keleluasaan padaku untuk bertemu dan berhubungan dengan Soo Jin. Itu saja!” aku sengaja memberi asumsi yang salah agar ia tak berpikir aku berniat membongkar rahasianya.

Whatever!” Yoona dengan kesal pergi, sepertinya ia benar-benar hendak menyusul Yoochun. Aku yakin pernyataanku barusan membuatnya kalut. Ia pasti takut rahasianya terbongkar begitu cepat. Tapi ini adalah caraku untuk memaksanya mengakuiku sebagai ayah Soo Jin.

 

Semenjak saat itu, aku merasa Yoona melunak. Entah itu memang keinginannya atau ia terpaksa membiarkanku semakin mendekatkan diri pada Soo Jin. Satu demi satu strategi yang kujalankan untuk mengambil perhatiannya berjalan mulus. Aku sering mengganggunya setiap malam dengan menelponnya dan mengatakan ingin berbicara dengan Soo Jin. Setelah itu aku akan mengobrol panjang lebar dengan Soo Jin melalui telepon. Aku yakin disana ekspresi Yoona pasti sangat kesal, mungkin saja ia akan selalu menggembungkan pipi atau mencibir seperti biasa yang dilakukannya dulu. Sekarang Soo Jin juga sering memperlihatkan itu, semakin menegaskan bahwa ia putri Yoona.

 

~~00~~

 

“Eomma perhatikan belakangan ini kau sering kali menelepon seseorang, mengobrol lama sambil tersenyum-senyum tidak jelas. Memangnya kau berbicara dengan siapa? Apa seorang gadis, dan kau berpacaran dengannya?” aku tergelak dengan pertanyaan ibuku ketika ia protes dengan tingkahku yang sering ‘bermesraan’ dengan Soo Jin setiap malam.

“Eomma kenapa berpikir begitu? Aku pikir ini biasa saja…”

“kau pikir eomma tidak bisa membedakannya? Caramu berbicara begitu lembut dan terkesan gombal, kau tidak pernah seperti ini sebelumnya dengan wanita-wanita aneh yang kau kencani. Tapi kau lebih sering berbicara dengan bahasa Inggris, kau bahkan memanggilnya dengan panggilan-panggilan mesra seperti love, dear, sweetheart, dan… princess. Siapa dia? Jangan bilang kau mengencani wanita muda atau remaja..”

“Mwo? Eomma, mana mungkin aku mengencani remaja! Eomma tidak perlu khawatir, ini tidak seperti yang eomma pikirkan,” sahutku sambil menaahan tawa. Selama ini eomma memang sering protes karena aku tak juga memperkenalkan wanita yang ‘beres’ sebagai calon istriku. Padahal eomma juga tahu bahwa aku masih menyimpan obsesi pada Yoona.

“bagaimana eomma tidak khawatir melihatmu bertingkah aneh seperti itu. Cepat katakan siapa lagi ini? Apa dia wanita asing? Apa dia cantik? Apa pekerjaannya? Apa ia masih single atau janda?” Aku mengerutkan kening dihujani pertanyaan oleh ibuku.

“Eomma… akan kujelaskan. Gadis ini sangat cantik dan manis sekali. Pertama melihatnya saja aku sudah jatuh hati, dan sekarang aku sangat menyayanginya. Saat ini dia adalah sumber kebahagiaan terbesar bagiku, ia segalanya bagiku..” terangku sambil tersenyum lebar sambil membayangkan wajah Soo Jin.

 

“Benarkah ia se-istimewa itu hingga kau bisa menyingkirkan Yoona dari dalam kepalamu?”

“Aku tidak akan pernah bisa menyingkirkan Yoona dari diriku, Eomma. Gadis ini bahkan seperti Yoona kecil, ia seperti Yoona dalam sosok anak kecil. Tapi ada diriku juga di dalam dirinya.” Aku memperhatikan raut wajah ibuku, tampak ia berpikir keras menelaah kata-kataku.

“Apa maksudmu ia anak kecil yang mirip Yoona dan ada dirimu dalam dirinya? Siwon-ah, berbicaralah yang jelas dan jangan berbelit-belit. Apa yang kau maksud adalah….”

“Eomma, aku baru saja membicarakan tentang putriku, anak kandungku!” aku memotong perkataan ibuku, tidak ingin membiarkannya lama-lama dengan kebingungan. Mata ibuku terlihat membesar dan mulutnya menganga. Ia menggeleng-gelengkan kepala pelan.

“Jadi eomma punya cucu? Bagaimana mungkin seperti itu?”

“Ne, eomma. Kita semua tidak tahu bahwa ketika bercerai, Yoona sedang hamil dan ia sama sekali tak memberitahuku. Yoona melahirkan seorang anak perempuan di Prancis bernama Soo Jin. Saat aku bertemu dengan anak itu, aku merasakan ada perbedaan dengan perasaanku, hingga akhirnya aku mencari tahu sendiri. Kenyataan bahwa Soo Jin adalah putriku benar-benar membuatku bahagia.” Ceritaku membuat ibu histeris, ia langsung memelukku dan menepuk-nepuk punggungku. Kelihatannya ibu terkejut tapi ia juga tak menutupi kegembiraannya.

“Siwon-ah, ini adalah berita yang sangat menggembirakan. Kau tahu berapa lama eomma ingin memiliki cucu, dan sekarang eomma telah memilikinya,”

“Tapi eomma, aku mohon jangan memaksa untuk bertemu cucumu dulu. Saat ini eomma belum bisa bertemu dengannya.”

“Kenapa begitu?”

“Yoona tidak pernah secara langsung memberitahuku soal status Soo Jin. Aku tahu karena aku yang memastikannya sendiri dengan tes DNA, dan Yoona tidak tahu soal ini. Eomma tahu sendiri bila Yoona masih membenciku dengan perceraian kami lima tahun yang lalu. Aku tidak ingin salah langkah untuk mendekatinya dan mendapatkannya kembali.”

“Baiklah, eomma mengerti. Walaupun eomma sangat ingin bertemu dengannya, tapi eomma akan berusaha sekuat mungkin untuk menahan keinginan itu.”

Siwon POV End

 

Yoona POV

 

Semakin hari Soo Jin terlihat semakin akrab dengan ayahnya. Aku merasa berdosa tak mengatakan pada Soo Jin perihal ayahnya. Selama ini Soo Jin bilang ingin bertemu dengan ayahnya, dan aku menjanjikannya sebagai hadiah ulang tahunnya yang ke lima. Dan hari itu akan datang dalam empat bulan ke depan.

 

Aku masih terus berpikir apakah ini saat yang tepat untuk membuka semuanya. Bagaimanapun akibat nantinya, aku harus mempersiapkan diri untuk itu. Perasaanku mengatakan bahwa tanda-tanda rahasia ini terbongkar sudah semakin dekat. Saat ini saja aku bimbang untuk menemui ibu Siwon, mantan mertuaku. Lima tahun tidak bertemu dan setelah kembali ke Korea, aku sama sekali tak pernah mengunjunginya. Beliau pasti kecewa padaku, padahal dulu ia adalah orang yang sangat menyayangiku dan selalu mendukungku dalam segala hal.

 

“Lama tidak bertemu kau semakin cantik, Yoona-yah,” sapaan ibu Siwon kubalas dengan senyuman. Ia tidak berubah, masih terlihat begitu anggun dan lembut walau terkadang ia juga sedikit nyentrik.

“Eomoni juga begitu, bahkan terlihat awet muda,” aku tetap memanggilnya ‘Eomoni’ karena aku tahu ia tidak akan senang bila aku memanggilnya dengan sebutan lain.

“Benarkah? Aku rasa ini karena aku baru saja mendapat berita bagus hingga aku selalu tersenyum dan jadi awet muda,” aku tergelak dengan celetukannya. Aku mempersilahkannya duduk dan kini kami berhadapan satu sama lain.

 

“Memangnya berita bagus apa yang membuat Eomoni begitu gembira?”

“tentu saja kepulanganmu ke Korea. Kau ini keterlaluan sekali tidak pernah mengunjungiku setelah kembali kesini. Apa kau juga belajar melupakan aku seperti halnya kau yang ingin melupakan Siwon?” aku tercekat dengan pertanyaannya, kenyataan aku ingin melupakan Siwon tidak sepenuhnya berhasil kulakukan.

“Aniya… Eomoni mianhae. Aku tak pernah berniat melupakanmu. Hanya saja aku sibuk, jadi sulit sekali mencari waktu untuk bertemu denganmu.” Aku beralasan diplomatis saja, mencari jalan aman.

“Aku mohon kau jangan melupakan Siwon, Yoona-yah. Tidak bisakah kau memaafkannya dan berbaikan dengannya?” sejenak aku memandang jauh ke wajah ibu Siwon yang kini berubah sendu. Wanita itu sudah kuanggap seperti ibu kandungku, permintaannya seolah menjadi beban berat bila aku tak sanggup meluluskannya.

 

“Kau tahu… selama lima tahun tak bertemu denganmu adalah masa paling mengenaskan dalam hidupnya. Penyesalannya karena perceraian kalian membawanya pada kondisi terburuk. Ia seringkali stres hingga melampiaskannya pada minuman keras. Ia berusaha mencarimu tapi tak kunjung mendapat titik terang keberadaanmu. Kini setelah bertemu lagi denganmu, Siwon seperti menemukan nyawanya kembali. Siwon mulai bersemangat menjalani hidupnya…” aku menunduk mendengarkan semua ceritanya. Aku cukup miris mendengar langsung keadaan Siwon beberapa tahun yang lalu dari mulutnya.

“…aku mohon jangan lagi hancurkan harapannya, Yoona-yah. Aku tahu ia sudah membuat kesalahan besar di masa lalu. Tapi tidak bisakah kau memaafkannya dan menerimanya kembali. Setidaknya biarkan ia bisa terus berdekatan anaknya, darah dagingnya. Apakah kau tega terus-terusan memisahkan anak dari ayahnya?”

 

Aku mengangkat kepalaku yang tertunduk, menatapnya dengan ekspresi keterkejutan yang nyata. Bagaimana mungkin ia mengetahui perihal anak Siwon yang ada bersamaku? Itu artinya Siwon memang telah mengetahui semua kebenarannya. Tapi kenapa Siwon tidak pernah mengatakan padaku perihal ini? Bukankah seharusnya ia menuntutku karena sudah membohonginya?

 

“Eomoni, bagaimana kau tahu soal ini?”

“Tentu saja aku tahu, Siwon sudah menceritakan semuanya padaku. Tapi ia tak ingin mengganggumu dulu. Ia tahu kau masih membencinya, tapi ia juga tak ingin kehilangan kesempatan untuk berdekatan dengan putrinya. Ia takut kau akan membawa putrimu menjauh darinya bila kau tahu dia sudah mengetahui hal itu. Dia bahkan melarangku untuk bertemu denganmu, Siwon tidak tahu aku datang kesini. Aku hanya ingin melihat cucuku, bisakah aku bertemu dengannya?”

 

Sungguh tah kusangka, ternyata semua sudah terbongkar dengan sendirinya. Bahkan Ibu Siwon sendiri yang meminta untuk bertemu dengan cucunya. Sedangkan Siwon, pria itu masih saja bersembunyi dibalik topeng masa bodohnya. Aku berdiri dari posisi dudukku, aku masih menatap ibu Siwon sambil menggeleng-gelengkan kepala.

“Eomoni, aku tidak tahu harus bagaimana. Aku tidak menyangka akan seperti ini, tapi aku mohon jangan ambil Soo Jin dariku. Aku… aku mohon jangan pisahkan aku dengan Soo Jin,” aku tidak tahu kenapa aku langsung histeris seperti ini. Bayangan Soo Jin yang dibawa pergi oleh keluarga Siwon membuat pikiranku kacau. Air mataku menetes begitu saja, dan aku mulai tersedu.

“Yoona-yah, kenapa kau berpikir seperti itu? Tidak ada seorangpun yang berniat memisahkanmu dengan putrimu!! Jangan terbawa emosi seperti itu, sayang. Sekarang dimana cucuku aku ingin melihatnya,”

Aku kembali terduduk karena lututku yang lemas, “Soo Jin tidak ada disini sekarang. Ia masih di sekolahnya,” jawabku pelan.

“kalau begitu aku akan meminta Siwon untuk menjemputnya nanti…”

 

~~00~~

 

Aku memacu mobilku menuju sekolah Soo Jin. Aku tidak ingin Siwon dan ibunya mendahuluiku. Aku ingin bertemu putriku lebih dulu, aku ingin memeluknya erat. Aku tidak ingin melepasnya walau hanya sedetik. Walau terburu-buru aku sampai dengan selamat sampai ke sekolah Soo Jin. Saat aku tiba, Soo Jin baru saja keluar bersama Hong Ahjumma.

 

“Soo Jin-ah…” aku memanggilnya sambil merentangkan tangan, menyambutnya yang langsung berlari ketika melihat kedatanganku.

Mommy!!” teriaknya riang begitu sampai dalam pelukanku.

I miss you so much, dear. How are you today?” aku berbasa-basi sambil mengelus kepalanya. Ia melepaskan pelukanku dan memandangku sambil tersenyum. “You look so happy, what happen?

Mommy, I will meet handsome uncle today. Last night, he said that he will take me to the amusement park,” aku membelalakkan mata. Ternyata Siwon sudah berencana kembali membawa Soo Jin tanpa meminta izinku lebih dulu.

No, your handsome uncle won’t come today. You won’t go anywhere with him, honey..”

“Why? He promised me, Mom. I know he isn’t a liar. Now look at there, isn’t that his car?” Aku menoleh mengikuti telunjuk Soo Jin pada sebuah mobil sedan hitam yang terparkir di pinggir jalan. Aku menyipitkan mata mengamati mobil itu, aku yakin itu bukan mobil Siwon – hanya mirip.

No, it isn’t. Now we’re going home… Soo Jin-ah!!!” aku meneriakkan namanya saat Soo Jin berlari ingin mengahampiri mobil itu.

I want to meet him, Mom!” teriak Soo Jin sambil berlari menyeberangi jalan. Tiba-tiba sebuah mobil SUV muncul dari arah kiri dan menabraknya. Terdengar suara decitan ban mobil yang di rem paksa.

“SOO JIN-AH!!!” teriakku panik sambil berlari menyongsong tubuhnya yang tergeletak di jalan.

 

~~00~~

Aku menunggu di depan ruang UGD dengan perasaan tak akruan. Aku masih tak bisa berhenti menangis mengingat keadaan Soo Jin saat dibawa ke rumah sakit. Tubuhku gemetar, aku memeluk tubuhku sendiri yang masih berbalut baju yang berlumuran darah Soo Jin saat aku menggendongnya. Aku yakin kondisi kacau sekali. Yuri Eonni yang datang menyusul mencoba menenangkanku walau ia juga ikut menangis.

 

Aku bodoh, aku tolol sekali. Bagaimana mungkin aku bisa melepaskan pengawasanku pada Soo Jin begitu saja. Kecelakaan yang menimpa Soo Jin terjadi di depan mataku dan aku sama sekali tak berbuat apa-apa untuk mencegahnya. Akibatnya sekarang anakku meregang nyawa di dalam ruangan itu. Aku takut sekali, ini lebih menakutkan dari pada saat aku melahirkannya ke dunia. Aku takut kehilangan Soo Jin, aku takut sekali…

Yoona POV End

 

“Apakah anda keluarga pasien?” tanya dokter yang baru saja keluar dari ruang UGD. Yoona dan Yuri langsung berdiri menghampiri sang dokter dengan cemas.

“Ne, aku ibunya. Bagaimana keadaan putriku, ia selamat kan, dokter?? Tanya Yoona dengan kekalutan luar biasa.

“Maaf, putri anda kehilangan banyak darah. Kami harus melakukan transfusi darah. Putri anda memiliki golongan darah AB- dan sulit sekali untuk mencari stok darah dengan golongan itu. Apa anda bergolongan darah yang sama?”

Yoona merasa lututnya lemas hingga ia merosot hampir jatuh jika Yuri tak menahannya. “Yoona-yah…” pekik Yuri sambil membangunkan Yoona, memaksanya berdiri kembali.

“Ani, darahku berbeda dengannya. Tapi ayahnya yang memiliki golongan darah yang sama…” jawab Yoona pelan, air mata kembali jatuh dari pelupuk matanya.

“kalau begitu anda harus segera menghubungi ayahnya, kita perlu secepatnya untuk menyelamatkan putri anda,” ujar dokter tersebut.

Eothokke, eonni…”

“Yoona-yah, aku sudah menghubungi Siwon tadi. Sebentar lagi ia akan sampai, tenanglah sedikit…” bujuk Yuri pada Yoona yang masih dipeluknya agar tak terjatuh ke lantai. Benar saja, tak berapa lama kemudian Siwon datang bersama ibunya. Pria itu berlari mendahului ibunya untuk menghampiri Yoona.

 

“Yoona-yah, bagaimana keadaan Soo Jin?” tanya Siwon panik. Yoona yang mendapati Siwon telah muncul dihadapannya langsung menghambur ke pelukan Siwon. Seraya memegang kedua lengan pria itu, Yoona mulai berlutut.

“Oppa, aku mohon selamatkan Soo Jin. Ia membutuhkan darahmu, putrimu membutuhkan pertolonganmu. Aku benar-benar ibu yang tidak berguna yang tidak bisa menjaga anaknya dengan baik. Aku mohon tolong Soo Jin, Oppa. Jebal…

 

Siwon menarik Yoona untuk kembali berdiri, “Apa yang kau katakan, tentu saja aku akan menolong Soo Jin, putriku… anak kita. Aku akan melakukan apa saja untuk menolongnya meskipun aku harus menukar dengan nyawaku sendiri.”

“Aku mohon, Oppa…. Aku tidak ingin kehilangan Soo Jin, lebih baik aku mati saja bila harus mengalaminya…” Yoona masih saja menangis dalam kekalutan hingga ia tak sadarkan diri.

 

“Yoona-yah…”

Yuri dan ibu Siwon langsung memegangi tubuh Yoona yang baru saja pingsan. “Siwon-ssi, cepatlah temui dokter untuk melakukan transfusi darah. Saat ini prioritaskan Soo Jin, Yoona biar aku yang mengurusnya!” kata Yuri memberi komando pada Siwon. Pria itu langsung berlalu mencari keberadaan dokter.

 

~~00~~

 

Yoona akhirnya membuka matanya setelah pingsan cukup lama. Sesungguhnya dengan tidak sadar selama beberapa jam membuatnya sedikit tenang, dengan kata lain ia sedikit bisa melupakan keadaan kritis Soo Jin. Saat ia tersadar, ia mendapati Siwon duduk di sebelah ranjangnya. Perlahan Yoona duduk dan bersandar di kepala ranjang.

“Oppa, bagaimana keadaan Soo Jin? Dia masih bersama kita kan…”

“ssstt.. Soo Jin sudah melewati masa kritisnya. Ia sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Aku harap kau tidak lagi panik seperti tadi sampai kau pingsan. Kau membuatku kesulitan antara memikirkanmu dan Soo Jin,” kata Siwon sambil mengelus lengan Yoona.

“Mianhae…” Yoona kembali menangis tersedu. “Mianhae… aku benar-benar ibu yang buruk dan tidak berguna. Aku lalai dalam menjaga Soo Jin hingga terjadi seperti ini. Aku tidak pantas disebut ibu Soo Jin…”

Siwon langsung memeluk Yoona, mendekapnya erat dan menenangkannya, “kau jangan pernah berpikir seperti itu. Kau adalah ibu terbaik bagi Soo Jin. Kau lihat Soo Jin tumbuh menjadi anak yang cantik dan pintar. Tentu saja kau sudah berhasil mendidiknya sejauh ini. Semua kejadian ini kecelakaan, siapapun tidak menginginkan musibah seperti ini. Berhentilah menyalahkan dirimu sendiri.”

 

Yoona melepaskan pelukan Siwon dan beralih menatapnya, “Maafkan aku karena tak pernah mengatakan padamu siapa Soo Jin yang sebenarnya. Aku merasa bersalah karena kejadian ini dan di saat aku membutuhkanmu barulah aku menyadari bahwa kau sangat penting bagi Soo Jin. Mianhae…”

 

Siwon memegang kedua pipi Yoona, menghapus sisa-sisa air mata disana. “Aku mengerti dengan situasi yang kau alami. Wajar kalau kau menghondarkan Soo Jin dariku karena masa lalu yang begitu menyakitimu. Tapi percayalah, tak ada sedikitpun niat untuk mengambil Soo Jin darimu. Soo Jin adalah putrimu, kau yang mengandung dan melahirkannya serta merawatnya. Soo Jin juga putriku, aku menyayanginya melebihi nyawaku sendiri. Kebahagiaan Soo Jin adalah segalanya bagiku, aku rela memberikan apa saja asal ia bahagia. Tidak ada yang bisa menandingi rasa cintaku pada Soo Jin maupun padamu.”

 

Yoona tersenyum, ini pertama kalinya ia tersenyum tulus kepada Siwon. “masa lalu memang begitu menyakitkan bagiku dan selama ini aku masih hidup dibawah bayang-bayang ketakutan hal itu akan terjadi lagi. Soo Jin lah yang menjadi kekuatanku. Hanya ada Soo Jin dalam pikiranku, dan hanya kebahagian Soo Jin yang ada dalam setiap nafasku.”

 

Siwon mencibir dan memutar bola matanya, “Hei… kau harusnya juga memikirkan ayahnya Soo Jin. Kau tidak ingin memperkenalkan Soo Jin pada ayahnya, aku yakin selama ini dia pasti menanyakannya padamu..”

“Begitulah… aku akan memberitahunya setelah ia sadar dan kembali ceria seperti biasanya,”

“Jangan lupa katakan padanya kalau ayahnya sangat menyayanginya dan juga sangat mencintai ibunya..”

“kalau soal itu aku akan mempertimbangkannya,” gurau Yoona membuat Siwon menganga,

“Yak! Kau ini tega sekali… masih sulitkah untuk memusnahkan kebencianmu padaku?” tanya Siwon sambil menatap Yoona ke dalam manik matanya.

“Aku ingin sekali membencimu, tapi sulit sekali rasanya bila kau terus meneriakkan kata cinta oadaku!” Siwon langsung memeluk Yoona lagi, pria itu tersenyum bahagia mendengar pengakuan Yoona.

“Saranghae, Yoona-yah…”

“Nado… saranghae, Oppa.”

“Mwo? Coba katakan sekali lagi, aku tidak mendengarnya…” goda Siwon yang menbuat wajah Yoona memerah.

“Ani… kau salah dengar tadi.”

“Aishhh.. dasar wanita ini!” gerutu Siwon seraya mengecup kening indah Yoona.

~~00~~

Empat Bulan Kemudian…

Saengil Chukkae, Soo Jin-ah…”

“Saengil Chukkae, Princess…” Ucap Yoona dan Siwon serentak di pesta ulang tahun Soo Jin yang ke lima. Gadis kecil itu terlihat begitu gembira dengan kemeriahan pesta ulang tahunnya. Lesung pipi yang menghiasi pipinya ketika tersenyum tak henti-hentinya terlihat. Ia begitu bahagia di ulang tahunnya semua keluarga berkumpul, teristimewa dengan kehadiran ayah dan ibunya.

Siwon dan Yoona berbagi jatah mengecup pipi Soo Jin di kanan dan kiri. Anak itu memeluk kedua orang tuanya secara bersamaan. Mereka terlihat akrab dan sangat serasi sebagai satu keluarga kecil.

 

“Wow, Soo Jin-ah. You get so many presents today!! Are you happy, baby?” kata Yoona sambil memangku Soo Jin di sofa setelah santap malam bersama keluarga.

Yeah, I’m happy. But, it will be happier if I can get one more thing..” keluh Soo Jin disambut kerutan di dahi Yoona.

What the other thing, Princess. Just tell it to Daddy, I will give you if I can,” timpal Siwon yang mendapat senyuman semangat dari putrinya.

Really? Daddy and Mommy will give it to me?” pekik Soo Jin melompat dari pangkuan Yoona. Siwon dan Yoona serentak mengangguk. Teriakan Soo Jin mendapat perhatian dari anggota keluarga yang lain.

Okay, I really want a little brother for my birthday present!” ucap Soo Jin dengan semangat berapi-api.

“Mwo??!!!” koor Siwon dan Yoona. Sedangkan anggota keluarga yang lain tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi kedua orang itu.

“Itu artinya kalian harus segera menikah lagi secepatnya. Jangan biarkan Soo Jin menunggu lama untuk memiliki adik…” celotehan Yuri membuat semua orang mengangguk setuju, tetapi justru kedua orang itu terlihat salah tingkah sambil menggaruk kepala dan tengkuk yang tidak gatal.

Daddy!! Mommy!! Please give me as soon as possible!!

“Aishhh….” Siwon dan Yoona kembali serentak melakukan koor.

 

FIN

 

 

 

Akhirnya selesai juga FF membosankan ini. Sumpah, untuk part akhir ini malas banget ngerjainnya. Aku beneran stuck di bagian kedua. Setelah selesai baru menyadari kalau ceritanya jadi ‘sinetron’ beudddd… apalagi menembus 6000 kata. Tapi ya sudahlah yang penting hutangku untuk satu FF lunas sudah…

Tinggal beberapa FF yang masih butuh banyak perjuangan lagi… harap tidak bosan menunggu #plakkkkk

Thanks untuk semua readers yang sudah bersedia meluangkan waktu untuk membaca FF ga mutu ini, terutama buat Echa yang sudah meluangkan waktu lebih untuk publish FF ini #hug

 

 

 

 

Pos Berikutnya
Tinggalkan komentar

125 Komentar

  1. Akhirnya Yonwon bersatu jg ya
    apalagi wonppa sudah mendonorkan darahnya pada putrinya, dari stu mereka bsa bersatu. Di dunia tak ada yg tak mungkin, setiap org mempunyai kesalahan baik itu besar maupun kecil. Mungkin dgn kecelakaan itu Yoona bisa membuang rasa khawatirnya tentang putrinya, dan pada akhirnya sang anak bisa mengenali ayahnya. Akhir ceritanya kluarga ini benar2 bahagia

    Balas
  2. wiwin

     /  September 21, 2014

    Ah sozwit,di tnGgu ff yg lain.

    Balas
  3. mia rachma

     /  Januari 9, 2015

    ahhhhhh soojinn pinter bgt siii……. so sweet….

    Balas
  4. muthim apriliana

     /  September 9, 2015

    Wuiiih kereeen ff nya unn, haha soo jin mau minta adik, yoonwon salah tingkah,
    Unni sequel doong..

    Balas
  5. OMGG SWEET ENDING … Akhirnya yoona bisa nerima siwon oppa
    Lagi, hidupp yoonwon❤️❤️

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: