[2S] You’re My Love Story [Chapter 2/2]

love story

Tittle               : You’re My Love Story / Chapter 2 END

Author            : Tika Pink / Tika Sheila EverlastingFriend

Email/Twitter : tika_pinky@rocketmail.com / smantikalove@gmail.com / @SangRa_ELF (Mention For Follback)

Main Cast      : Im Yoona, Choi Siwon

Other Cast     : Stella Kim, Jessica Jung, Lee Dong Hae

Genre             : Romantic, Sad, Friendship or as Your self ^^

Length            : Two Shoot

Rating             : PG + 15

 

 

Annyonghaseyo yeorobeun ^^ … Hi Hi Hi, aku datang melunasi hutang ffku yang satu ini. Semoga kalian bisa menikmati dan menyukainya. Don’t be SIDERs or PLAGIATOR, arachiii???!!! ^o^

 

 

#Happy Reading#

 

Author Pov

Yoona masih tidak percaya namja yang bernama Choi Siwon itu begitu tidak tahu malu menyatakan cinta dengan lantang dan tegas seperti itu di depannya. Tapi entah kenapa Yoona merasa ada kesungguhan di sana.

“Yak, Im Yoona sadarkan dirimu! Dia hanya ingin mengecohmu!” batin Yoona memperingatkan dirinya sendiri.

“Lalu kenapa kau memilih untuk berterus terang sekarang? Kenapa kau tidak menyatakan yang sebenarnya dari awal. Sejak kau menelfonku malam itu?” tanya Yoona.

“Karna aku takut kau tidak akan menemuiku jika aku mengatakan yang sebenarnya. Lagipula aku tidak sepenuhnya berbohong. Saat aku tinggal di Amerika selama setahun ini aku memang di kenal dengan nama Andrew Choi. Hanya sedikit orang yang mengenalku dengan nama Siwon. Aku berterus terang saat ini karna aku ingin menjalin hubungan yang sebenarnya denganmu tanpa kebohongan lagi. Nae neo saranghae. Jinsimhiya!”

“Bagaimana aku bisa tahu kau bersungguh-sungguh mengingat sahabatku tersakiti karnamu? Meski kau tak mengakuinya, tapi setidaknya kau memang telah menyakitinya. Lagipula aku tidak ingin menyakitinya dengan menjalin hubungan dengan namja yang pernah atau mungkin masih dicintainya. Jadi, aku tidak akan menerima perasaanmu padaku! Menjauhlah dari hidupku. Dari hidup kami!” kata Yoona ketus. Baru saja dia hendak membalikkan badan meninggalkan tempat itu, Siwon langsung menahan tangannya. Mencegahnya.

Siwon menatap matanya dengan tajam. Begitu menusuk seakan menembus hingga ke rongga hatinya.

“Aku tidak akan melakukannya. Aku tidak sanggup lagi hanya memperhatikanmu dari jauh. Aku akan tetap membuatmu mencintaiku dan aku punya banyak waktu untuk itu. Kau takkan bisa lepas dariku Yoona-ssi dan aku pastikan kau tidak akan bisa mengelak dariku, dari cintaku. Stella …??? Aku akan minta maaf padanya. Sehingga kau tidak perlu merisaukannya untuk bersamaku!” ucapan Siwon begitu mantap dan tegas di pendengaran Yoona.

“Sudah berapa wanita yang kau gombali dengan kalimat seperti ini? Kita baru bertemu jadi tidak mungkin kau bisa mencintaiku secepat ini?”

“Kita memang baru bertemu. Tapi aku sudah jauh mengenalmu di dalam hatiku. Apa kau tahu cinta itu bisa datang kapan saja dan tak terduga? Aku merasakannya. Aku hanya perlu beberapa detik untuk memutuskan bahwa aku mencintaimu.”

“Terserah padamu. Tapi aku tidak perduli. Aku sama sekali tidak menyukaimu. Sekarang lepaskan aku!” kata Yoona sambil mencoba melepaskan tangan Siwon dari tangannya. Tapi tangan itu malah makin kuta memegangnya.

“Sirreo! Kau datang bersamaku, sebagai pasanganku. Jadi kau harus bersamaku, di dekatku dan akan keluar dari tempat ini bersamaku. Masalah kau menyukaiku atau tidak saat ini, aku juga tidak perduli. Kau tidak perlu melakukan apapun. Kau hanya harus tetap berada di tempatmu seperti ini. Di tempat yang bisa kulihat dan bisa kujangkau dengan pandanganku. Di dekatku. Aku yang akan menghampirimu dan membuatmu lama-lama terbiasa dengan kehadiranku. Sampai akhirnya kau mencintaiku.” Kata Siwon lagi-lagi dengan tenang, tegas dan mantap.

“Ayo, kita kembali ke pesta dan memberi selamat pada sahabatmu. Lalu aku akan mengantarmu pulang!” lanjutnya seraya menggamit tangan Yoona di lengannya untuk kembali ke aula pesta.

Sedangkan yeoja yang sejak tadi mengikuti percakapan mereka segera pergi sebelum pasangan itu mendapatinya sedang menguping. Ya, rasanya sakit dan yeoja itu ingin menagis sekencang-kencangnya saat itu juga. Dulu Siwon memang tidak pernah mengatakan cinta padanya dan tidak pernah meminta berpacaran dengannya. Memang dialah yang jatuh cinta pada namja itu. Sejak pertama bertemu dengan namja itu di sebuah seminar bisnis, dia langsung jatuh hati pada sosok Choi Siwon. Mereka berkenalan dan dia selalu mencari alasan agar bisa bertemu lagi dengan namja itu. Kepribadian namja itu yang dingin tapi baik kepada sesama membuatnya jatuh cinta hingga dia salah paham. Memang dia yang salah mengartikan. Tapi dia mencintai namja itu. Dia tidak pernah merasakan hal seperti ini pada namja yang pernah berkencan dengannya. Dan sekarang mendapati kenyataan bahwa namja itu menyatakan cinta pada sahabatnya dengan lantang dan sungguh-sungguh membuat hatinya teriris-iris seketika. Dia menyesal. Seharusnya dulu dia tidak pernah melupakan handphonenya jika sedang sedih karna Siwon. Seharusnya dia tidak teledor menghubungi namja itu memakai handphone Yoona. Seharusnya dia tidak melakukannya sehingga namja itu tidak bisa menyimpan nomor sahabatnya. Seharusnya dia tidak terpengaruh dengan perkataan sahabatnya untuk mengakhiri hubungannya dengan namja itu. Tidak apa-apa jika hanya dia yang mencintai. Tidak apa-apa jika cinta itu hanya sepihak. Tidak apa-apa jika dia tetap tersakiti. Yang penting dia bisa dengan namja itu. Yang penting dia bisa dekat dengan namja itu.

“Stella, kau memang gadis bodoh. Kau bodoh sehingga sekarang kau kehilangan namja itu dan malah jatuh cinta pada sahabatmu sendiri!” rutuk yeoja itu dalam hati. Ya, dia memang bodoh dan sekarang dia tidak tahu harus bagaimana menghadapi Yoona, sahabatnya itu. Walau bagaimanapun dia sebagai wanita yang masih mencintai Siwon akan merasakan cemburu yang amat dalam pada sahabatnya. Sahabatnya yang tidak perlu melakukan upaya apapun untuk dekat dengan Choi Siwon. Dia cemburu. Sangat cemburu!

***

“Kau sudah menceritakannya pada Stella?” tanya Jesica setelah Yoona menceritakan apa yang terjadi malam saat pertunangannya seminggu yang lalu. Yoona memang pernah menceritakannya di telfon tapi Jesica ingin mendengarnya lagi secara langsung. Yoona menceritakan tanpa satupun yang ditutupinya.

Yoona mengangguk.

“Aku sudah menceritakannya keesokan harinya. Sebelum menelfonmu waktu itu, aku datang menemuinya dan menceritakan semuanya.” Jawab Yoona pelan.

“Lalu apa tanggapannya?”

“Dia sudah tahu. Choi Siwon datang menemuinya sebelum aku dan menceritakan semuanya padanya. Namja itu ternyata membuktikan ucapannya untuk minta maaf pada Stella dan Stella memaafkannya. Bahkan Stella mengatakan jika aku juga menyukai Choi Siwon, dia rela dan ikut bahagia untukku. Katanya perasaannya pada Choi Siwon hanyalah di masa lalu dan sudah hilang. Lagipula itu hanya dia yang salah paham. Jadi dia memberikan restunya padaku.” Jelas Yoona murung. Dia merasa pernyataan Stella waktu itu tidak tulus meski Stella menekankan padanya kalau Stella tulus.

“Lalu bagaimana denganmu? Apa kau menyukai Choi Siwon?” tanya Jesica menatap lekat sahabatnya. Yoona langsung menatap protes.

“Michosso? Tentu saja aku tidak menyukainya. Aku bukan orang yang gampang jatuh cinta. Apalagi mengingat dia pernah menyakiti Stella, aku tak mungkin semudah itu menanggapi pernyataan cinta namja itu. Siapa tahu saja dia hanya ingin balas dendam padaku. Makanya aku selalu menghindarinya. Meski aku ingin balas dendam padanya tapi kau tahu sendiri kalau aku bukan tipikal orang yang bisa balas dendam meski orang itu menyakitiku. Aku hanya bisa kesal padanya.”

Siwon memang sering menemuinya tapi dia selalu menghindar. Meski Siwon telah membuktikan ucapannya dengan meminta maaf pada Stella, Yoona masih belum yakin kalau namja itu sungguh-sungguh padanya.

Tiba-tiba handphone Yoona berdering tanda ada panggilan masuk. Yoona segera meraih handphonenya yang terletak di meja samping tempat tidurnya. Nama Choi Siwon bekerlap-kerlip di layar handphonenya. Di liriknya jam yang tertera di sudut ponselnya. Sudah pukul 10 malam. Jesica memang menginap di apartemennya malam ini dan mereka seperti biasa menghabiskan malam dengan saling curhat.

“Yoboseyo?” kata Yoona saat menjawab telfonnya.

“Yoong, bisakah kau keluar sebentar? Aku ada di depan gedung apartemenmu!” kata namja itu. Yoona mengernyitkan keningnya.

Namja itu bersikap seolah akrab dengannya. Memanggilnya dengan nama panggilan kesayangannnya.

“Apa kau sudah gila? Bertemu denganmu di siang hari saja aku tak mau apalagi harus bertemu denganmu sekarang! Apa kau tidak punya jam? Ini sudah larut malam! Lagipula rasanya kau tidak peka. Aku kan sudah menghindarimu. Kenapa kau masih berusaha mendekatiku?” Yoona mulai kesal. Jesica yang berbaring di sampingnya langsung menatapnya. Jesica sudah bisa menerka itu pasti Choi Siwon.

“Karna aku tidak bisa jika tidak melihatmu! Aku merindukanmu Yoong!” jawab namja itu. Tidak ada nada tenang dari suaranya yang seperti di kenal Yoona. Nada suara namja itu kali ini terkesan frustasi seperti menahan sesuatu.

“Mianhaeyo. Tapi aku tidak ingin menemuimu! Kunno!”

“Aku akan menunggumu di sini Yoong. Aku akan menunggumu sampai kau keluar!” kata namja itu mencegah Yoona menutup telfonnya.

“Terserah apa yang ingin kau lakukan!” ketus Yoona lalu mengakhiri percakapan itu. Dia lalu meletakkan ponselnya kembali ke meja dengan kesal.

“Kau yakin tidak ingin menemuinya?” tanya Jesica.

“Kenapa kau bertanya seperti itu?” Yoona balik bertanya. Jessica hanya menggendikkan bahunya.

“Entahlah. Aku rasa tidak ada salahnya jika kau menemuinya. Aku juga tak tahu kenapa aku merasa Siwon adalah namja yang baik.”

“Apa kau sudah lupa? Dia namja yang menyakiti Stella. Waktu itu juga kau sangat kesal padanya.”

“Itu karna aku tidak tahu kalau hanya Stella yang salah paham. Perasaan itu sepihak dan Stella yang mengklaim secara sepihak bahwa Siwon pacarnya. Stella juga kan sudah mengakuinya padamu. Donghae oppa juga mengatakan padaku kalau Siwon adalah namja yang baik dan dia merasa kalau kalian berdua memang terlihat sangat serasi bersama.”

“Mwo? Jadi kau mengatakan seperti ini hanya karna Donghae oppa yang mengatakan seperti itu padamu?”

“Ani. Tapi entah kenapa aku juga merasa kalau dia memang mencintaimu dan kalian sangat cocok. Dia memang lebih cocok denganmu daripada dengan Stella. Kau tahu kan Stella senang sekali berkencan dan Siwon yang dingin sama sekali tidak cocok dengannya. Aku rasa dulu dia hanya punya obsesi untuk mendapatkan Siwon. Dia begitu memuja Siwon dan selalu mengatakan pasti akan mendapatkannya. Tapi karna Siwon tidak menanggapinya dia malah memutuskan sendiri kalau Siwon adalah pacarnya. Bukankah dia juga selalu menyukai namja yang berniat mendekatimu? Jika ada namja yang sedang dekat denganmu & kau sukai, tiba-tiba saja tak lama kemudian namja itu malah terdengar berkencan dengannya. Tapi aku tak tahu bagaimana awalnya dia bertemu dengan Siwon hingga merasa dia jatuh cinta. Dan karna Siwon tak mudah di dekati dia malah makin penasaran. Kali ini mendapati kenyataan bahwa orang yang dikejarnya malah mencintaimu, menginginkanmu lebih daripada namja-namja yang dulu yang mudah berpaling karna pesona Stella, entah kenapa aku merasa sedikit bersyukur. Selama ini kau sudah cukup mengalah dan melindunginya sebagai sahabatmu. Membiarkannya mengencani setiap namja yang dekat denganmu sehingga membuatmu menutup diri. Dari dulu aku sebenarnya ingin mengatakan ini padamu tapi aku memilih menahan diri karna dia juga sahabatku. Tapi aku juga ingin kau bahagia merasakan cinta Yoong. Aku rasa kau harus mengambil kesempatan ini. terlebih lagi karna Siwon lebih memilihmu daripada Stella.” Ungkap Jesica panjang lebar yang membuat Yoona melongo menatap sahabatnya itu. Dia tidak pernah menyangka Jesica begitu perhatian atas kehidupannya dan bisa berpikir seperti itu. Bahkan dia saja hanya menganggap masalah itu angin lalu.

“Yaak, Jesica Jung … Stella itu sahabatmu! Sahabat kita! Bagaimana kau bisa mengatakan hal seperti ini?” tanya Yoona kurang suka. Jesica bangkit duduk dan menatap Yoona.

“Kau jangan munafik Yoong. Aku tahu kau juga sering merasa tak suka jika tiba-tiba namja yang kau taksir dan menaksirmu tiba-tiba direbut perhatiannya oleh Stella. Berpacaran dengannya lalu mencampakkan mereka kalau sudah tak cocok lagi di hatinya. Kau hanya diam dan merelakannya karna dia sahabatmu. Sekarang gilirannya yang harus melakukan itu.” Jawab Jesica. “Aku tahu dia sahabatku dan aku juga sangat menyayanginya. Tapi kau juga sahabatku. Aku menyayangi kalian berdua. Dan kali ini aku ingin sedikit bersikap jahat pada Stella karna aku juga ingin kau mempunyai kesempatan untuk mencintai dan dicintai. Siwon mencintaimu dan menginginkanmu. Cobalah untuk memberi namja itu kesempatan juga.” Lanjutnya.

Yoona ikut bangun duduk di depan Jesica.

“Tapi aku tidak menyukainya. Jadi aku tidak mau melakukannya.”

“Aku tahu saat ini kau tidak menyukainya. Tapi apa tidak bisa kau memberinya kesempatan untuk dekat denganmu? Jika nanti kau tetap merasa tidak cocok dengannya, kalian bisa mengakhiri hubungan kalian dengan baik-baik.” Jesica menggenggam tangan Yoona.

“Apa kau tidak ingin merasakan bagaimana rasanya dicintai selama hidupmu? Aku yakin Siwon bersungguh-sungguh padamu. Aku bisa merasakannya saat kita bertemu dengannya di café waktu itu. Ambillah kesempatan ini Yoong.” Tambah Jesica.

Yoona menatap sahabatnya itu memastikan dan Jesica mengangguk meyakinkannya.

“Aku akan menemuinya!” putus Yoona akhirnya. Jesica tersenyum.

Yoona lalu turun dari tempat tidur dan mengambil sweeternya.

“Yoong, aku menyayangimu! Aku menyayangi kalian berdua!” ucap Jesica sebelum Yoona membuka pintu kamar. Sedikit rasa bersalah pada Stella juga menghinggapi Jesica. Tapi kali ini Jesica ingin Yoong bisa mendapatkan cinta dan tidak ingin Stella bersikap egois. Yoona terlalu banyak berkorban sebelumnya.

“Ara … nado saranghae!” ucap Yoona lalu dia pergi untuk menemui Siwon.

***

Yoona berdiri di depan pintu gedung apartement. Di lihatnya Siwon sedang berdiri sambil menundukkan kepalanya di samping mobil namja itu. Namja itu mendongakkan wajahnya ke atas saat merasakan kalau mulai gerimis. Lalu tatapan namja itu tertuju padanya yang masih berdiri di depan pintu. Namja itu menyunggingkan senyumnya yang baru disadari Yoona bahwa senyum itu sangat menawan. Dengan pelan Yoona melangkahkan kaki menghampiri namja itu. Yoona juga bisa merasakan rintik hujan gerimis yang jatuh sedikit-sedikit di tubuhnya.

“Kau datang?!” itu bukan pertanyaan. Itu pernyataan yang keluar dari bibir namja itu saat yoona sudah berdiri di depannya.

“O.” jawab Yoona pelan dan singkat. Namja itu meraih kedua tangannya dan menggenggamnya.

“Jadi??? Jadi, apakah kau menerimaku?” tanya namja itu lagi sambil menatap mata Yoona penuh harap. Yoona menghembuskan nafas pelan.

“Aku tidak bisa mengatakan bahwa aku datang menemuimu karna aku menerima perasaanmu padaku apalagi menyukaimu. Karna aku memang tidak merasakan hal itu.” Jawab Yoona. Dia dapat melihat sorot kekecewaan dari mata namja itu. Namja itu menunduk. Yoona mendesah pelan lagi. “Tapi, aku akan memberimu kesempatan untuk dekat denganku dan menunjukkan bagaimana perasaanmu padaku.” Lanjut Yoona yang membuat namja itu seketika kembali menatap Yoona dengan penuh harap.

“Jinjja? Jinjja jinjja jinjja ???” tanya Namja itu memastikan. Yoona menyunggingkan senyum simpulnya dan mengangguk.

“O. Jinjja!” jawabnya singkat. Sedetik kemudian namja itu langsung meraihnya ke dalam pelukan namja itu. Memeluk tubuhnya dengan erat dan penuh rasa bahagia.

“Gomawo Yoong. Aku tahu kau tidak mungkin dengan mudah memutuskan untuk mencintaiku dalam waktu yang singkat apalagi kau menganggap aku pernah menyakiti temanmu. Tapi percayalah aku akan membuatmu yakin bahwa aku mencintaimu. Aku akan menunjukkan bahwa aku bersungguh-sungguh dan takkan melepaskanmu. Tidak apa-apa jika aku harus menunggu lama sampai kau membalas cintaku. Yang terpenting sekarang kau telah memberiku kesempatan itu. Gomawo kurigu …” namja itu menghentikan ucapannya dan melepaskan pelukannya. Dia menatap mata Yoona lekat lalu mengucapkan satu kata yang tulus dari hatinya. “Saranghae!”

Yoona hanya menanggapinya dengan anggukan. Namja itu tersenyum lalu kembali meraih Yoona ke dalam pelukannya.

Dalam hati Yoona merasa bimbang apakah keputusan yang diambilnya sudah benar? Entahlah. Benar kata Jesica, tak ada salahnya jika kali ini dia bersikap egois. Dia juga ingin merasakan bagaimana dicintai. Begitu dicintai. Dia ingin merasakan cinta itu. Entah hasilnya nanti akan seperti apa. Sedih atau bahagia, dia setidaknya ingin mencobanya. Ingin merasakannya. selama ini sudah cukup dia mengalah. Dia berhak bahagia.

“Mianhae Stella-ya! Jeongmal mianhae!” rintih Yoona dalam hati merasa perih karna rasa bersalah pada Stella juga menghinggapinya.

***

Six Month Later

Tanpa terasa hubungan Yoona dengan namja bernama Choi Siwon itu sudah berjalan selama enam bulan. Yoona juga tak tahu kenapa dia bisa melewati beberapa bulan ini dengan status sebagai kekasih Siwon. Namja itu sangat baik padanya dan juga terhadap sesama. Orang yang ramah. Namja itu selalu menunjukkan cintanya dengan berbagai macam cara. Mengajaknya makan malam romantis, mengiriminya bunga setiap hari saat Yoona membuka pintu di pagi hari, berkencan di tempat-tempat romantis yang banyak dikunjungi, piknik, bahkan mengajaknya sebagai pasangannya jika namja itu diundang menghadiri acara-acara atau makan malam dengan orang lain. Namja itu tidak pernah malu-malu mengungkapkan cintanya dan menunjukkannya seara terang-terangan. Meski Yoona tidak pernah mengatakan dia mencintai namja itu atau bersikap mesra pada namja itu, Siwon tetap sabar dan tak pernah berhenti menunjukkan cintanya.

Yoona memang merasa ada yang berbeda di hidupnya setelah Siwon masuk dan menjadi kekasihnya. Dia juga sering merasa dadanya membuncah oleh perasaan hangat dan berdebar-debar tak karuan jika bersama namja itu. Tapi dia belum berani menyimpulkan bahwa itu cinta. Apalagi perasaan bersalahnya pada Stella masih terus menghantuinya. Dia sudah menceritakan bahwa dia menerima Siwon pada Stella dan Stella tampak setujuu-setuju saja. Dia merestiu Yoona. Tapi entahlah. Yoona tetap merasa tidak enak hati. Apalagi sahabatnya itu akhir-akhir ini mulai sedikit menjauh darinya.

Yoona memang hampir setiap hari bersama Siwon. Namja itu selalu mengantarkannya ke kantor dan menjemputnya seakan itu adalah kegiatan rutin dan harus dijalaninya setiap hari. Dan sejak itu Stella tampak sedikit menghindarinya. Mereka memang masih sering bertemu tapi hanya sekedar menyapa. Bahkan jika mereka (Yoona, Jesica, Stella) berkumpul, Yoona dan Stella masih merasa sedikit canggung. Terkadang Yoona berpikir ingin mengakhiri hubungannya saja dengan Siwon jika rasa bersalah itu menghantuinya. Tapi entah kenapa dia juga merasa sedikit tidak sanggup apalagi namja itu begitu baik padanya.

Haari ini Yoona dan kedua sahabatnya berkumpul di café langganan mereka setelah Jesica mengajak mereka shopping bersama. Tapi dia dan Stella masih tampak canggung. Tawa pun kadang muncul. Hanya Jesica lah yang lebih berperan menghidupkan suasana. Yoona juga paham, Stella masih butuh waktu untuk menata hatinya. Walau bagaimanapun sulit harus melihat orang yang pernah dicintainya dekat dengan sahabatnya sendiri. Seperti yang pernah Yoona rasakan saat Stella berpacaran dengan namja-namja yang ditaksirnya dulu.

“Bagaimana hubunganmu dengan Siwon oppa, Yoong?” akhirnya pertanyaan itu meluncur dari mulut Stella.

“Ne?” Yoona sedikit kaget. Dia dan Jesica sontak saja menatap Stella. Tapi Stella hanya tersenyum menanggapi tatapan heran kedua sahabatnya itu.

“Wae? Kenapa kalian menatapku seperti itu? Apa aku tidak boleh bertanya perkembangan hubungan sahabatku dengan orang yang pernah aku suka? Itu kan masa lalu. Kalian tenang saja, aku tak punya perasaan sedikitpun pada Siwon oppa sekarang. Bahkan jika aku bertabrakan dengannya di jalan, aku mungkin tidak akan menatapnya.” Ujar Stella sambil tertawa kecil.

Yoona menyeruput vanilla latte kesukaannya dengan pelan.

“Hubungan kami baik-baik saja!” jawab Yoona kemudian.

“Ahh, baguslah. Aku senang mendengarnya. Aku tahu kau akan sangat bahagia. Siwon oppa adalah namja yang sangat romantis.” Timpal Stella begitu antusias. Yoona hanya tersenyum simpul. Sedangkan Jesica menatapnya penuh selidik.

“Apa kau yakin kau sudah tak punya perasaan apapun lagi pada Choi Siwon?” tanya Jesica tiba-tiba. Stella Nampak sedikit menimbang-nimbang sebelum menjawab pertanyaan itu.

“Tentu saja. Siwon oppa sekarang sudah menjadi kekasih sahabatku. Hubunganku dengannya hanya masa lalu dan hanya kesalahpahamanku saja. Jadi aku sudah melupakannya dan membuang perasaanku jauh-jauh.” Jawab Stella dengan yakin. Tapi Jesica masih agak ragu.

“Jinjja?” tanya Jesica lagi.

“O. Yaa, apa kau tidak percaya padaku?” Jesica hanya mendesah.

“Well, aku akan berusaha mempercayainya.” Kata Jesica acuh sambil menyeruput cappucinonya. Sedangkan Yoona hanya menatap kedua sahabatnya itu bergantian. Terutama Stella.

“Apa benar kau sudah tak punya perasaan lagi padanya dan merelakanku bersamanya seperti yang kau katakan?” batin Yoona.

Author Pov End

***

Yoona Pov

Hari ini aku merasa sedikit tak enak badan. Mungkin karna akhir-akhir ini aku sering lembur mengerjakan laporan-laporan kerjaku dan sering terlambat makan. Siwon edang keluar kota dan baru hari ini akan kembali. Dia tak pernah henti-hentinya menasehatiku agar aku tak boleh terlambat makan, tak boleh terlalu memporsir tenagaku, tak boleh sering keluar rumah. Yach sebagai bentuk perhatian dan kekhawatirannya karna tak ada di sisiku. Meski aku merasa itu terlalu berlebihan, tapi aku senang.

Aku duduk sambil melihat kumpulan laporan-laporan yang harus aku kerjakan dengan murung. Laporan itu harus segera di audit, di satukan dan di serahkan besok. tapi rasanya tenagaku telah terkuras habis. Aku lemah. Mungkin sebentar lagi aku akan demam, karna aku sudah merasakannya. tiba-tiba bel pintu apartemenku berbunyi. Dengan malas aku melangkah dan melihat di layar intercom. Tanpa sadar aku tersenyum mendapati sosok namja itu di sana. Dengan segera kubukakan pintu untuknya dan dia masuk sendiri.

“Hi, apa kau merindukanku?” tanyanya saat berhadapan denganku. Aku hanya menjawabnya dengan sebuah senyuman. Lalu dia menarikku ke dalam pelukannya.

“Mwoya? Aku tiba dari Paris dan langsung datang ke sini karna begitu merindukanmu. Tapi kau bahkan tak mengatakan bahwa kau merindukanku. Kenapa kau pelit sekali nona rusa? Kita kan sudah pacaran lebih dari setengah tahun.” Ujar namja itu masih memelukku. Aku tersenyum dan dengan pelan aku melingkarkan tanganku di punggungnya, membalas pelukannya.

“Aku merindukanmu, Siwon-ssi!” ucapku lirih sambil menyandarkan wajahku di dadanya yang bidang. Ya, aku memang merindukannya. Sangat merindukannya.

Dia melepaskan pelukannya dan menatapku lekat.

“Kau bilang apa tadi? Bisakah kau mengulanginya sekali lagi? Eo?” pintanya penuh harap. Aku tersenyum.

“Aku merindukanmu Siwon-ssi!” ulangku memenuhi permintaannya dan sedetik kemudian dia memelukku lagi dengan erat.

“Ahh, aku sangat senang mendengarnya. Rasanya kelelahanku selama beberapa jam menempuh perjalanan pulag ke sini terbayar dengan kalimat itu. Aku sangat merindukanmu Yoong. Sangat merindukanmu!” ucapnya lagi dan aku merasakan dia mengecup puncak kepalaku.

Setelah beberapa saat kami baru melepas pelukan rindu itu.

“Kau sedang apa?” tanyanya. Lalu dia melihat tumpukan laporan dan notebookku yang mmenyala di meja ruang tamu. “Lembur lagi?” tanyanya lagi sambil mengangkat satu alisnya menatapku.

“Ne. aku harus menyelesaikannya malam ini karna besok aku harus menyerahkannya ke pimpinanku. Tapi aku merasa lelah.” Keluhku murung.

“Apa perlu aku bantu menyelesaikannya?” tawarnya yang langsung membuatku mengangguk senang. Dia terlihat gemas dengan tingkahku karna dia mencubit pipiku dengan gemas.

“Arasso, aku akan membantumu menyelesaikannya. Tapi kau harus ikut denganku dulu.” Ucapnya yang membuatku mengernyitkan keningku.

“Kemana?”

“Kau nanti akan tahu sendiri.” Jawabnya singkat. Dia lalu mengambil laporan-laporan itu serta notebookku. Lalu mengambil sweeterku yang tersampir di sofa dan menyuruhku memakainya. Setelah itu dia menggandeng tanganku.

“Kajja!” ajaknya sambil menarikku mengikuti langkahnya.

***

Rumah itu begitu mewah dan megah. Aku menatap rumah itu dengan penuh kekaguman. Aku memang berasal dari keluarga yang cukup berada. Tapi melihat rumah seperti yang ada di depanku benar-benar baru pertama kali. Apa ini rumah Siwon? Selama berpacaran dengannya aku memang sering di ajaknya ke apartemennya yang juga cukup mewah karna dia memang sering menghabiskan waktunya di apartementnya. Tapi ini … ini rumah siapa?

“Ayo kita masuk!” ajaknya sambil menarik tanganku untuk mengikutinya masuk ke rumah itu. Dengan ragu aku mengikutinya.

Ternyata bukan hanya di luar saja yang tampak mewah tapi di dalam rumah itu juga sangat mewah. Furniture-furnitur dari merk berkelas mendominasi setiap ruangannya.

“Oo, Wonnie-ya kau sudah datang?” seorang wanita paruh baya yang begitu anggun dan cantik menghampiri kami dan langsung dipeluk Siwon.

“Omma … bogosipho!” ucapnya pada wanita itu.

Jadi ini rumah orangtuanya?

Aku melirik pakaiannku yang terasa kurang pantas untuk berkunjung. Aku hanya memakai celana jinz pendek ¾  dan kaoz kasual yang ditutupi oleh sweeter.

“Aissh, jika dia ingin mengajakku berkunjung ke rumah orangtuanya seharusnya dia mengatakannya ehingga aku bisa memakai pakaian yang jauh lebih sopan daripada ini.” keluhku dalam hati.

“Siapa ini sayang? Omo, bukankah dia yeoja yang fotonya ada di kamarmu itu?” tanya wanita itu sambil menatapku dan Siwon bergantian. Aku tersenyum.

“Foto? Sejak kapan fotoku ada pada Siwon?” batinku bertanya-tanya.

“Ne, omma. Dia Im Yoona, yeoja yang dicintai anakmu. Kekasihku!” ucap Siwon memperkenalkanku. Aku tersenyum seraya menunduk formal memberi hormat pada ibunya.

“Annyeonghaseyo, jeon Im Yoona imnida.” Kataku memperkenalkan diri. Ibunya menghampiriku sambil tersenyum. Wanita itu memelukku sesaat penuh kasih.

“Kau ternyata lebih cantik daripada yang di foto. Pantas saja anakku yang dingin itu bisa jatuh cinta padamu. Aku senang akhirnya dia datang ke rumah ini memperkenalkan wanita yang dia cintai padaku. Kau adalah yang pertama dia bawa kemari. Aku bahkan hampir khawatir dan mengira dia tidak menyukai wanita karna belum juga membawa seorang gadis ke sini. Aku senang bertemu denganmu.” Ujar wanita itu.

“Omma, itu karna aku memang belum jatuh cinta. Dan sekarang aku sudah menemukan yeoja yang aku cintai.” Siwon mrenggutku dari rangkulan ibunya dan merangkulku.

“Sudah cukup acara perkenalannya. karna aboji masih di Paris jadi aku akan mengenalkannya lagi secara resmi jika aboji sudah pulang. Sekarang kami harus mengerjakan sesuatu dan aku tidak ingin omma mengambil perhatiannya dariku!” ujar Siwon sambil tersenyum dan menunjukkan laporan-laporan serta notebook yang hanya ditimangnya dengan satu tangan.

“Aigoo, dasar pelit. Arasso …!!!” cibir ibunya. Lalu ibunya kembali menatapku. “Baiklah, ikutlah dengan anak nakal itu dan anggap seperti di rumahmu sendiri.” Kata ibunya.

“Ne.” aku mengangguk sopan. Lalu ibunya pergi meninggalkan kami.

“Ayo, kita kerjakan ini.” ajak Siwon. Lalu dia membawaku masuk ke kamar yang bernuansa biru dan maskulin. Mungkin kamarnya.

Kamar itu sangat rapid an bernuansa soft blue. Semuanya tertata dengan rap dan di fasilitasi dengan lengkap.

Aku duduk di sofa itu dan dia meletakkan laporan-laporan serta notebookku yang dibawanya di atas meja di depan sofa.

“Kau mau kubuatkan vanilla latte kesukaanmu?” tanyanya. Aku menggeleng. Tenggorokan sidikit terasa sakit karna kurang enak badan dan aku memang tidak ingin minum apapun saat ini. Aku justru perlu menenangkan hatiku karna telah memasuki ruangan yang begitu privat di rumahnya. Di kamarnya.

“Aku tidak ingin minum apa-apa.” jawabku. Dia lalu duduk di sampingku. Aku menyapukan pandanganku ke seluruh sudut ruangan itu sampai akhirnya mataku mendapati sebuah bingkai foto yang terletak di sisi tempat tidur di depanku. Itu … itu fotoku?

Aku menatapnya bertanya dan ternyata mengikuti arah tatapanku.

“Aku pernah mengambilnya dari koleksi foto yang ada di ponselmu. Bukan hanya itu, aku masih punya banyak. Yang sudah kucetak atau yang ada diponselku. Maaf aku lancang. Tapi aku memang selalu ingin melihat wajahmu setiap saat. Meski sebenarnya mata dan hatiku sudah selalu mengingat wajahmu.”

“Yaa, kau tidak boleh seperti itu. Mengambil foto orang tanpa ijin yang bersangkutan itu tindakan yang tidak sopan.”

“Mianhae. Tapi aku kan kekasihmu, jadi apa salahnya. Kalu dipikir-pikir kita belum punya foto berdua. Bagaimana kalau kita foto berdua sekarang?”

“Mwo?”

Tapi tanpa menunggu persetujuanku dan memang tidak perduli akan persetujuanku dia segera meraih ponselnya. Lalu menarikku agar lebih merapat padanya dan menjepret beberapa foto. Aku tidak tahu tampangku sperti apa di foto itu. Aku masih sedikit terkejut. Tapi setelah dia menunjukkannya padaku ternyata hasilnya cukup bagus.

“Ahh, akhirnya aku punya foto bersamamu. Aku akan mengirimkannya ke ponselmu dan mencetak beberap untukmu. Harus kau pajang di wallpaper ponselmu dan di apartemenmu, arachi?!” aku haya mengendikkan bahu acuh yang langsung mendapat hadiah tatapan tajam darinya.

“Yaa, coba saja kalau tidak maka aku akan menghukummu!”ancamnya.

“Arasso! Aku akan melakukan seperti yang kau minta!”

“Joa …!” ucapnya sambil mengacak-ngacak rambutku dengan sayang. “Aku akan mengerjakan laporanmu dulu seperti yang kau jelaskan tadi. Kau duduk saja di sampingku seperti ini. Tak perlu melakukan apa-apa!” katanya lagi. Aku hanya mengangguk. Dia tersenyum dan mulai berkutat dengan laporan-laporanku.

Selama beberapa saat aku masih menemaninya. Tapi mataku mulai sayup dan tubuhku terasa sangat lemas sehingga aku tertidur.

Aku tidak tahu berapa lama aku tertidur sampai aku merasakan tangannya mengguncang-guncangkan tubuhku.

“Yoong, irona! Yoong, gwencahana? Yoong?” samar-samar kudengar suaranya memanggil namaku. Kenapa ini? badanku terasa sangat panas. Aku menggigil. Apa aku demam?

Perlahan aku membuka mataku dan mendapati sosok wajahnya di depanku khawatir.

“Sayang, kau baik-baik saja?” tanyanya. Dia meraba dahiku. “Sial, badanmu sangat panas! Kau demam!” umpatnya.

“Gwenchanayo! Aku hanya sedikit kelelahan …” aku menjawab pelan.

“Apanya yang baik-baik saja? Tunggulah di sini. Aku akan mengambilkan obat untukmu.” Ucapnya lalu pergi keluar kamar. Setelah beberapa saat dia kembali lagi sambil membawa obat penurun panas dan segelas air.

“Ayo, minum dulu obatmu!” katanya sambil menegakkan tubuhku di sofa. Menyodorkan sebutir obat itu kepadaku.

Aku menggeleng. Aku sangat tidak suka meminum obat. Bau dan rasa obat yang begitu pahit membuatku tak pernah ingin menyentuhnya. Lebih baik aku di suntik atau ditusuk dengan akupuntur daripada harus meminum obat.

“Sirreo! Aku tidak mau minum obat. Aku tidak suka!” kataku.

“Yaa, kau harus meminumnya. Ayolah!” katanya menyodorkan obat itu ke mulutku. Tapi aku menutup mulutku dengan tanganku, menolak. Dia tampak kesal.

“Baiklah, jika kau tidak mau meminumnya sendiri, maka aku akan membantumu meminumnya. Aku tidak tahu apa yang dia lakukan. Tapi beberapa detik kemudian dia langsung menyingkirkan tanganku dari mulutku. Menahan tanganku dengan satu tangannya sedangkan tangannya yang lainnya mendorong leherku dari belakang agar mendekat dan akhirnya kurasakan bibirnya mendarat di bibirku. Kemudian aku merasakan sebutir obat tertiup dan masuk ke mulutku dan dia langsung meminumkan air dari gelas kepadaku. Membuat obat itu meluncur dengan mulus di tenggorokanku. Aku masih terbelalak kaget. Kejadian itu begitu cepat dan tak terduga. Ternyata saat dia menyentuh bibirku, obat itu dijepitnya di antara bibirnya. Yang membuatku kaget adalah bibirnya yang menyentuh bibirku beberapa saat yang lalu. Bukankah itu sudah dinamakan ciuman? Bibir kami bertemu dan itu akli pertama aku bersentuhan bibir dengan orang lain, dengan seorang namja. Bukankah itu berarti itu my first kiss? Dan dari yang pernah kubaca dari novel-novel dan cerita-cerita orang first kiss itu akan terasa manis. Tapi … tapi kenapa …? Kenapa first kissku … first kissku terasa pahit? Rasa obat yang pahit mendominasi first kiss-ku?

“Yoong, kau kenapa?” tanya Siwon menatapku. “Apa kau merasa ada yang sakit? Katakana padaku!”

Tidak, tidak ada yang sakit. Tapi rasa tidak terima yang kini kurasakan. Kenapa kau membuat first kissku harus terasa pahit Choi Siwon? Dan kenapa haruskau yang mengambil first kissku?

Aku berteriak dalam hati. Ingin rasanya aku mengeluarkannya. Tapi kata-kata itu tertahan ditenggorokanku.

“Aku … aku hanya kaget!” mwoya? Kenapa malah kalimat itu yang keluar dari mulutku.

“Kaget? Karna apa? karna obat yang tiba-tiba masuk ke dalam mulutmu? Atau karna …” dia menggantung kalimatnya sambil menatapku menggoda.

Mwoya? Kenapa dia menatapku seperti itu?

Baru saja aku ingin bertanya tapi tiba-tiba dengan satu gerakan cepat dia langsung menyentuhkan bibirnya lagi ke bibirku. Satu tangannya menahan tanganku yang mencoba mendorongnya. Sedangkan tangan yang lain menarikku agar lebih merapat ke tubuhnya.

Dia mengecup bibirku, mengemut seperti orang yang sedang mengemut permen yang manis, melumat bibirku dengan begitu ahli dan menggoda. Aku tidak tahu harus berbuat apa. ini membuatku begitu terkejut dan ini yang pertama kali bagiku. Kurasakan dia menggigit bibirku pelan sehingga aku membuka bibirku dan tanpa tanggung-tanggung dia langsung memanfaatkannya dengan memasukkan lidahnya ke dalam mulutku. Mengecap, dan menggoda seluruh rasa yang ada di mulutku. Lidahnya menelusuri seluruh rongga mulutku dan menggoda lidahku agar bertaut dengannya. Mungkin karna insting atau memang terjadi secara alami, aku pun mengatupkan mataku. Terlalu lemah melawan ciuman itu. Tak ada lagi rasa pahit yang tadi sempat kurasakan. Yang kini terasa malah rasa manis dari ciuman yang sebenarnya. Meski aku tak menyangka bahwa dialah yang akan mengambil ciuman pertamaku dan dengan cara unik seperti meminumkan obat padaku tadi.

***

“Kau diajaknya ke rumahnya? Sudah berapa kali?” tanya Jesica saat kami berkumpul lagi di apartementku. Aku tersenyum.

“O. Sudah beberapa kali. Itu karna orang tuanya selalu memintanya untuk mengajakku berkunjung. Mereka sangat baik.” Ungkapku senang. Hubunganku dengan Siwon berjalan sudah hampir 8 bulan dan aku senang.

“Ya, mereka memang baik. Dulu dia juga sering mengajakku ke sana.” Ujar Stella tiba-tiba yang membuatku dan Sica seketika menatapnya. Dia hanya tersenyum.

“Mereka adalah keluarga yang hangat dan Siwon oppa selalu terang-terangan mengungkapkan isi hatinya.” Tambahnya lagi.

Mwoya? Bukankah kata Ny. Choi saat aku pertama kali di ajak kesana jelas-jelas dia mengatakan bahwa aku gadis pertama yang di ajak Siwon ke sana? Lalu kenapa Stella menyinggung sepeti itu? Dan apa maksud kalimatnya barusan? Apa dia masih mengharapkan Siwon?

“Bukankah kau sudah mengatakan kalau kau tak punya perasaan lagi padanya dan merelakannya untuk Yoona?” tanya Jesica sambil menatap Stella tajam.

“Benar. Tapi tak ada salahnya kan kalau aku sedikit bernostalgia setelah mendengar penuturan Yoona tadi? Aku kan hanya menimpali saja.” Ucap Stella cuek. Dia lalu melirik bingkai foto yang terletak di meja samping pembaringanku. Dia menatap dan mengamati foto itu dengan sorot mata yang tak terbaca.

“Well, foto kalian sangat bagus Yoong. Aku tak menyangka Siwon oppa sudah mau berfoto bersama denganmu! Oh ya, dan asal kau tahu saja Siwon oppa sangat romantis. Dia suka memeluk tiba-tiba and he is a good kisser! Aku hanya ingin mengatakannya padamu agar kau tak kaget nanti.” Ucapnya lagi sambil tersenyum.

“Stella …!!!” hardik Jesica.

“Ahh, wae? Aku hanya berbagi pengalaman!” Stella menggendikkan bahunya. Jesica melirikku khawatir.

“Gwenchana. Semua orang punya masa lalu! Dan aku tidak bisa mengabaikan kalau Stella punya kisah masa lalu dengan Siwon.” Ucapku dengan hati yang sesak.

“Benar, kau memang tidak bisa mengabaikanku. Aku sahabatmu!” katanya dengan ntenang. Tapi aku tahu itu penuh sindiran.

“Ahh, camilan kita habis. Aku akan mengambilkannya dulu.” Ucapku mengalihkan pembicaraan dan keluar dari kamar tanpa lupa menutup pintunya. Di balik pintu aku memukul-mukul dadaku yang terasa sesak dada sakit.

Kenapa aku merasa seperti ini? seharusnya aku tidak merasa sesak dan sakit seperti ini mengingat aku tidak menyukai Siwon. Bukankah aku tidak mencintainya? Tapi kenapa …?

Apa ini? Apa tanpa sadar aku telah jatuh cinta padanya? apa aku mencintai Choi Siown?

“Yaa, kenapa kau berkata seperti itu?” terdengar suara Jesica samar. Meski pelan tapi aku masih bisa mendengarnya di balik pintu.

“Wae? Apa aku salah?” Stella menanggapi.

“tentu saja. Siwon sekarang sudah menjadi kekasih Yoona, sahabatmu. Kenapa kau begitu tega menyinggung kenangan masa lalumu di depannya seperti itu? Meski aku tidak tahu apa itu benar atau tidak yang jelas kau tidak boleh melakukannya di depan Yoona. Apa kau tidak bisa menjaga perasaannya?”

“Kenapa aku harus menjaga perasaannya sedagkan dia sama sekali tak menjaga perasaanku?”

“Apa maksudmu?”

“Tentu saja kau tahu dengan jelas apa maksudku! Choi Siwon, dia adalah namja yang aku cintai. Mungkin cintaku sepihak, tapi aku mencintainya dan menginginkannya. Yoona yang merebutnya dariku!”

“Merebut? Tidak ada yang merebut! Siwon memang mencintai Yoona!”

“Ani, kalau aku tidak menggunakan nomornya waktu itu, kalau saja aku tidak menuruti sarannya waktu itu, kalau saja dia tidak ikut berbicara waktu itu, mungkindia tidak akan pernah mengenal Siown oppa. Siwon oppa bukan namja yang tega menyakiti hati orang lain secara langsung. Jadi, meskipun dia tidak mencintaiku, tidak mengakuiku dan kalau aku masih bertahan tidak meminta perpisahan seperti yang kalian sarankan mungkinaku masih bersamanya. Yoona takka pernah bertemu dengannya apalagi berpacaran dengannya! Dia sahabatku tapi dia tega melakukan itu padaku!”

“Yoona tidak salah. Ini semua takdir. Dia juga tidak melakukan ini dengan sengaja. Bukankah kau sudah merestui hubungan mereka dan …”

“Ani. Aku hanya menyuarakannya tapi dalam hatiku aku tak pernah rela. Aku masih mencintai Siwon oppa bahkan sampai detik ini dan aku benci melihat mereka bersama!”

“Yaa, Kim Stella apa kau sudah gila? Siwon itu hanya bagian masa lalumu dan Yoona adalah sahabatmu. Mereka saling mencintai. Apa kau tak bisa membiarkan mereka?”

“Aku tidak bisa dan tidak akan bisa. Sejak malam itu aku tak bisa menganggap Yoona sebagai sahabatku lagi! sahabat apa yang tega jadian dengan namja yang pernah dicintai sahabatnya?”

“Stella, kau benar-benar sudah tak waras. Yoona selama ini telah banyak berkorban untukmu. Apa kau tidak ingat ketika kau mengencani namja-namja yang ditaksir Yoona? Kau juga merebutnya dari Yoona padahal kau sudah jelas-jelas tahu Yoona dan namja itu dekat. Apa saat itu kau juga memikirkan perasaan Yoona? Dia sangat menyayangimu sampai lebih baik menyakiti dirinya sendiri. Apa kau lupa?”

“Tapi mereka buka Siwon oppa. Aku baru menemukan cinta pada Siwon oppa!”

“Kau tahu itu adalah karmamu. Kau terbiasa merebut yang ditaksirnya dan akhirnya sekarang berbalik padamu. Hanya saja bedanya Siwon tidak mudah berpaling dan bukan Yoona yang menggodanya.kau sahabatku dan aku juga menyayangimu. Tapi kau mulai kelewatan!” bentak Jesica. Tak berapa lama aku merasakan pintu terdorong. Aku segera mundur dan bergerak ke samping. Lalu Jesica keluar sambil menutup pintu kamarku dengan kesal. Dia lalu kaget saat mendapatiku berdiri di samping pintu kamarku.

“Yoong …” dia memanggilku pelan sambil menatapku. Dia pasti tahu aku sudah mendengar semuanya. Dia terlihat khawatir tapi aku hanya tersenyum.

“Gwenchana!” ucapku pelan. “Apa kau bisa membantuku menyiapkan beberapa camilan?” aku mencoba mengalihkan toipk dan menahan air mataku kuat-kuat.

“Yoong.” Dia lalu memelukku. Mencoba meringankan rasa sakit yang kurasakan.

***

Siwon datang menemuiku di taman. Salah satu tempat kami sering menghabiskan waktu bersama. Dia kemudian duduk di sampingku dengan senyumnya yang menawan.

“Hmm, aku tak menyangka akhirnya kekasihku yang dingin ini mengajakku berkencan. Ada apa? Apa sesuatu yang baik terjadi?”

“Mungkin. Aku juga tak tahu kenapa hari ini aku ingin berkencan denganmu! Mau berjalan-jalan?” ajakku. Dia langsung mengangguk.

“Tentu saja. Ini kesempatan langka dan aku tidak mau membuatmu berubah pikiran.” Jawabnya. Lalu merangkulku.

Seharian aku menghabiskan waktuku bersamanya mengunjungi beberapa tempat seperti taman hiburan, namsan tower dan sekarang di 62 building (nama tempat aku ambil dari tempat favorit di serial My Girl). Aku bahagia dan dia pun tampak bahagia.

“Sudah malam. Ayo kita pulang!” ajaknya. Aku mengangguk. Dan kami berjalan menuju lift. Aku teringat salah satu ungkapan tahayul tentang tempat ini. Jika kita bisa menahan nafas dari lantai 62 sampai ke lantai dasar, maka permohonanmu akan terkabul.

Aku bukan orang yang percaya pada tahayul tapi setidaknya aku ingin melakukan permohonan. Maka pada saat pintu lift tertutup, aku segera berpegangan pada lengan kekar Siwon dan menahan nafasku kurang lebih 1 menit 18 detik. Setelah itu aku memejamkan mataku dan mengucap permohonan dalam hati.

“Apapun yang terjadi semoga semuanya bisa bahagia karna aku mencintai kalian!”

Aku menghembuskan nafas lega saat pintu lift terbuka lalu melangkah keluar bersama Choi Siwon.

~ ~ ~

“Gomawo karna sudah mengantarku pulang!” ucapku saat kami berdua sudah berada di depan gedung apartementku. Dia mengusap pipiku dengan lembut.

“Itu sudah kewajibanku sebagai kekasihmu. Sekarang masuklah. Udara mulai dingin. Kau bisa masuk angin. Aku tidak ingin kau sakit lagi.” ucapnya. Aku mengangguk. Lalu berjalan menuju ke pintu.

“Yoong, apa kau tidak ingin mengungkapkan perasaanmu yang sebenarnya padanya? Apa kau akan terus menyembunyikannya?” tanyaku pada diriku sendiri dalam hati. Aku menghentikan langkahku dan berbalik menoleh padanya. dia masih di sana sambil memandangku dan tersenyum.

Tanpa pikir panjang aku berjalan kembali menghampirinya dengan cepat dan memeluknya erat. Aku bisa merasakan dia sedikit tampak kaget dengan tindakanku yang tiba-tiba. Tapi dia membalas pelukanku kemudian.

“Waegure? Kau tidak ingin berpisah denganku malam ini?” ucapnya sedikit menggoda. Perlahan aku mengangguk di dadanya. Dia terkekeh kecil.

“Hmm, kau mulai manja. Dan aku suka. Karna aku mencintaimu, Yoong!” ucapnya.

“Nado … Nado saranghaeyo oppa! Saranghae Choi Siwon oppa!” ucapku mengeluarkan kalimat yang paling jujur dari hatiku. Kurasakan dia melonggarkan pelukannya dan membuatku agar menatapnya.

“Tadi … tadi apa yang baru saja kau katakan? Apa kau bisa mengulangnya?” pintanya.

“Saranghae … Saranghae Choi Siwon … oppa.” Ucapku lagi dengan mantap sambil menatapnya. Aku bisa melihat sorot matanya yang berkaca-kaca dan penuh kebahagiaan.

“Jeongmal? Jeongmalyo? Geotjimal aniya? Kau tahu kan aku sangat mencintaimu dan aku telah menunggu saat dimana kau juga akan menyatakan bahwa kau mencintaiku. Jadi semua ini benar kan? Bukan halusinasiku saja? Bisakah kau mengucapkannya lagi untuk meyakinkanku?” tanyanya lagi. Aku mengangguk. Air mataku jatuh menetes dari sudut mataku.

“O. Jeongmalyo. Naneun, oppa saranghae! Jeongmal nomu saranghae!” ucapku. Tanpa di sangka dia langsung melumat bibirku dengan lembut. Menyalurkan perasaan cintanya. Air mataku kembali jatuh saat aku memejamkan mataku dan kemudian membalas ciumannya. mengungkapkan seluruh rasa yang terpendam di hatiku yang memang ada untuknya. Aku memang mencintainya. Entah sejak kapan, yang aku tahu tanpa aku sadari aku memang sudah mencintainya. Mungkin aku pernah membencinya tapi saat ini aku mencintainya dan aku yakin setiap hari aku akan lebih mencintainya. Mungkin hingga seumur hidupku aku akan terus mencintainya. Dia sudah mengisi hatiku dengan sosoknya dan cintanya. Aku mencintainya. Aku mencintainya. Aku mencintainya.

***

Aku menapakkan kakiku di Osaka International Airport. Menarik sebuah koper besarku sambil menyapukan pandanganku mencari sosok penjemputku.

“Yoonggi-ya!!!” panggil seorang namja sambil melambai-lambaikan tangannya padaku. Aku tersenyum dan segera menghampiri namja itu. Lalu memeluknya sayang.

“Ahh, aku sangat merindukanmu!” ucap namja itu lalu melepaskan pelukannya.

“Nado … appa!” ucapku sambil tersenyum pada ayahku. Ayahku mengacak-ngacak rambutku gemas.

“Kajja kita pulang. Ibumu sudah sangat menantikanmu dan sudah sibuk memasak makanan kesukaanmu!”

“Jinjjayo? Ahh, aku jadi lapar! Kajja appa!” kataku. Han ahjussi mengambil koperku dan aku menyapanya singkat. Dia adalah sopir keluargaku. Kemudian mengikuti ayahku untuk pulang ke rumah tempat di mana ayah dan ibu tinggal selama beberapa tahun ini karna ayah mengurus perusahaan di sini sejak beberapa tahun yang lalu.

Ya, aku meninggalkan Korea dan memutuskan untuk pindah ke Jepang. Aku sudah mengirimkan surat pengunduran diriku tadi pagi, sekaligus mengirim surat pada Jesica, Stella, dan Siwon oppa. Aku mengganti nomor ponselku dan di sinilah aku sekarang. Di Osaka, Jepang.

Aku memutuskan untuk pergi meninggalkan Korea dan membawa kenangan manis itu bersamaku. Kenangan penuh canda bersama kedua sahabatku dan kenangan akan cintaku pada Siwon oppa.

Sampai akhir aku tidak bisa memilih siapa yang harus kupilih diantara Stella, sahabatku dan Siwon oppa, cintaku. Aku tidak ingin egois dengan mempertahankan cintaku sedangkan hal itu menyakiti sahabatku dan aku juga tak ingin munafik dengan menampik perasaanku pada Siwon oppa. Meski saat ini secara tidak langsung aku telah melakukannya. Mungkin Siwon oppa akan sakit, marah dan terluka karana keputusanku. Tapi aku yakin dia akan baik-baik saja setelah beberapa saat. Aku pun begitu. Meski aku tidak yakin akan bisa melupakannya.

Aku mencintainya dan mungkin akan menghabiskan sisa hidupku untuk mencintainya. Jika suatu saat ada orang lain yang akan mengisi hatiku, aku yakin ada satu ruang yang akan terus terisi oleh Siwon oppa dan akan selalu ada cinta untuknya. Biarlah semua kenangan bersamanya menjadi sebuah cerita cintaku. Dia adalah cintaku. Dia adalah kisah cintaku!

***

Three month later

“Ran, aku pulang duluan ya!” kataku pamit pada rekan sekerjaku.

“Kau sudah selesai? Baiklah! Aku masih harus menyelesaikan beberapa pekerjaan!” jawabnya. Aku mengangguk dan berjalan keluar kantor menuju ke stasiun kereta dengan berjalan kaki.

Selama tiga bulan ini aku bekerja di perusahaan untuk membantu ayah. Tapi aku memilih berada di jenjang karyawan biasa. Aku ingin memulai dari bawah seperti layaknya orang lain dan aku cukup senang. Semua rekan kerjaku sangat baik. Osaka juga merupakan kota yang indah. Tak ada yang tahu keberadaanku di sini. Bahkan stella dan Jesica. Aku tak pernah memeritahukan mereka dan mereka memang tidak tahu tempat tinggak orangtuaku di sini.

Well, aku masih berhubungan dengan Jesica. Tapi aku memilih jalur yang aman untuk menghubunginya. Hanya via email. Itupun karna dia terus-terusan mengirim pesan padaku. Aku tahu dia sedih karna aku mengambil keputusan yang tiba-tiba tapi aku memang harus melakukannya. Kami masih sering bercerita. Dan sekrang hubungannya dengan Stella juga sudah tak seperti dulu. Aku sedikit sedih mendengarnya karna persahabatan kami hanya sampai seperti ini. tapi Stella sudah meminta maaf padaku dan aku memaafkannya. Dia shabatku dan aku tetap akan menganggapnya seperti itu. Aku menyayangi mereka.

Jesica juga pernah bercerita tentang namja itu padaku. Betapa sedih dan kehilangannya namja itu saat aku pergi. Ya, namja yang aku cintai dan mencintaiku. Choi Siwon.

Aku selalu merindukannya setiap hari. Merindukan pelukan hangatnya, genggaman tangannya, kata-kata cintanya dan semua tentangnya. Aku merindukannya dan selalu mengucap maaf dalam hatiku. Berharap dia bisa mengerti dan merasakannya.

Terkadang jika berdiri di traffic light aku membayangkannya berdiri di seberang jalan sambil tersenyum padaku. Ani, itu bukan bayangan tapi harapan yang aku inginkan terkabul. Aku merindukannya. Aku mencintainya. Aku memilih meninggalkannya bukan karna aku sudah tak mencintainya tapi karna aku mencintainya dan mencintai sahabatku. Aku terlalu egois karna tidak ingin hanya memilih satu diantara mereka sehingga aku memilih untuk melepaskan mereka.

Aku hanya berharap di manapun, kapanpun dan keadaan apapun semoga dia baik-baik saja. Dan jika kalau memang dia adalah namja yang ditakdirkan Tuhan sebagai jodohku dan menginginkan cinta kami tetap bersatu, aku yakin Tuhan akan mempertemukan kami kembali dan akan menyatukan kami kembali dalam ikkatan yang indah.

“Saranghae oppa … Saranghae Choi Siwon!” ucapku lirih.

 

Cinta bukan hanya sekedar mengandung rasa manis di dalamnya

Cinta juga ada karna rasa pahit, kecut, asam dan sebagainya

Seperti layaknya nanonano, cinta memiliki banyak rasa yang tercampur di dalamnya

 

Cinta bukan hanya sekedar rasa bahagia

Cinta juga adalah rasa sakit, sedih, dan terluka

Tawa, canda, airmata, pengorbanan adalah bagian dari cinta

Cemburu, kasih sayang, persahabatan juga bagian dari cinta

 

Cinta penuh warna dan setiap makhluk hidup memerlukan cinta

 

(Author nggak puitis banget. Harap maklum ^o^)

***

FIN~~

 

Author said : Fiuh, akhirnya done … #hembusinnafaslega … !!! Aku yakin akan banyak yang protes dengan chapter ini. Tapi yach mau gimana lagi. Inilah hasilnya. Mungkin baru beberapa orang yang tahu bahwa sebenarnya ffku yang satu ini berisikan curahan hatiku, pengalaman pribadiku yang pernah dan sempat aku alami. Aku terlalu banyak menjabarkan dari sisi Yoona karna semua itu adalah yang memang aku rasakan beberapa tahun lalu. Aku juga nggak tahu kenapa aku jadi kepikiran untuk membuatnya menjadi ff ketika aku merindukan sosok namja itu beberapa waktu lalu. Mian, kalau malah harus ikut-ikutan membuat ff ini jadi nyesek. Dan aku merasa beruntung pernah merasakan kisah yang seperti ini. Tapi yesungdahlah tolong dimaklumi aja ya. #curcol mode on ^^ #abaikan.

Ok, bagi yang udah mampir baca atau Cuma sekedar liat doank, HARUS KUUDU WAJIB RCL. Aku nggak bosen-bosennya loch ngngetin. Please hargailah karya ini. Apalagi ini adalah kisah pribadiku yang sedikit di modifikasi, jadi jangan pelit comentnya ya ya ya?!^^ Don’t be SIDERs. Typonya juga di maklumin aja. Kamsahbnida ^^

Buat Echa, Thank you yaw udah publish ff ini lagi. Jangan bosen-bosen yaw ^^ (sama2 🙂 )

 

Tika Pink ^^

Tinggalkan komentar

172 Komentar

  1. rinie l

     /  Juni 2, 2014

    Daebak…coba donk dg d tambahin foto2 gitu…biar serasa nyata…gomawo

    Balas
  2. Any

     /  Juni 2, 2014

    Wow gak nyangka sad end. Udah bacanya tengah malem lagi hadeuh jadi g bisa tidur. Pas ditengah2 baca cerita ini aku merasa kalo cerita ini seperti curahan hati eh ternyata bener curcol authornya. Tapi kalo dibikin cerita gini bagus bgt walau sad end.

    Balas
  3. Ngga asik lh.. Kok gini sh.. Bkin yg happy dong. Please

    Balas
  4. Kenapa kesannya Yoona jdi mengalah begitu, aku jadi sedih meskipun aku salut padanya dia bisa membagikan cintanya dan jg untuk sahabatnya. Klo menurut aku Stella itu aja yg terlalu egois, dan merasa dirinya klo dia berhak di cintai tanpa memikirkan sahabatnya. Tpi kasihan sekali ya wonppa tdk pernah menaruh perasaan pada Stella, lalu apakah Yonwon bisa bersatu? Terus terang aku tdk setuju dgn sikap Yoona meninggalkan semuanya bkn kah wonppa begitu mencintainya dan begitu jg dgn Yoona. Aku jadi sedih………;(

    Balas
  5. Sebenarnya aku salut apa yg di di tuangkan author kedalam cerita ini meskipun memakai nama artis Kpop, tapi jujur saja terkadang kita emang sulit menentukan pilihan kita antara sahabat atau cinta. Tpi klo menurut aku eonni seharusnya Yoona jg berhak bahagia (mksudnya authornya) bukannya selama ini Yoona jg sudah banyak mengalah sama Stella, dan semua yg dikatakan Jessica itu benar bahwa tak sepantasnya seorang sahabat terlalu egois apa lg terlalu percaya diri bgt dgn kekasih Yoona.
    Aku kesal punya sahabat seperti Stella itu eonni klo di bilang itu namanya dia serakah. Kalau di kehidupan nyata emang ada sepeti itu eonni

    Balas
  6. Loh?! Kok jdinya gini?? Yoona tega bgt sama wonppa… 😦 lanjuttt

    Balas
  7. Choi Han Ki

     /  Oktober 31, 2014

    Ah stella keterlaluan padahal kan hanya dia aja yg berharap ma siwon dan terlalu melebih lebihkan… Kenapa akhirnya yoonwon harus pisah

    Balas
  8. Dedewjasmin

     /  November 7, 2014

    Aduh kenaph yoona pergi ninggalin teman2nya dan siwon.yg hrsnya pergi itu stella.klu seperti ini kasian yoonwon nya.

    Balas
  9. Cha'chaicha

     /  November 8, 2014

    Aduh ko sad ending, ku kira happy ending wktu yoona eonni udh mulai mencintai wonppa, tpi ya sudahlah..

    Balas
  10. aprilyoonwon

     /  November 9, 2014

    Ohho daebak trnyata yoonnie trllu bnyak brkrban y bwat stella,dan trllu mmkirkan perasaan’a tp org yg di pkrkan egois bnget dech 😦
    Wae wae wae yoona oenni mninggalkn wonppa @gkikhlas
    Oenni ko gntung y crita..!!

    Balas
  11. Oke aku langsung baca sequel ya hehe

    Balas
  12. Haha wonppa minumin obat’a unik bgt cra’a , tapi kasian yoongie first kissnya trsa phit krna obat ..
    Kenapa yoongie harus ninggalin wonppa ?
    persahabatan dan cinta memang sulit untuk dipilih 😦
    tapi aku suka sma crta’a ,walaupun akhirnya sad end 😉

    Balas
  13. Dirin panggaliningtyas

     /  Februari 18, 2015

    Ya ya ya masa endingnya gini eon padahal mereka udah saling mencintai masa gk bersatu:-(…
    Yoona eonnie keren ya rela ngorbanin semuanya bahkan perasaannya buat sahabatnya (Stella)bener kata sica eon sekali-kali yoona eon harus bahagia & biar gantian stella yg berkorban huh…
    KEREN POKOKNYA EON…
    DAEBAK…
    Ijin baca sequelnya ne:-)…

    Balas
  14. titien

     /  Maret 14, 2015

    kenapa harus berpisa,aqu harap yoonwon bisa bersatu kembali

    Balas
  15. viana

     /  Maret 28, 2015

    kenapa mereka gak bersatu sihh. aq fikir stella bakalan ngerelain mereka bersatu,,stella masih aja egois gtu,,, sebell bgtt,,jadinya kn gak happy ending.
    siwon harusnya berusaha extra buat cari yoonaa donggg,,,

    semangattt

    Balas
  16. Susi

     /  April 12, 2015

    😭Ko yoona nya pergi sih…
    Stella egois banget katanya udah rela tapi malah mengatakan hal yang menyakitkan bagi yoona,,, 😠padahal siwon nya cinta banget sama dia…💘 Tapi yoona nya malah pergi ninggalin siwon–¶¶>>><<<<<
    Tapi yang di liat yoona itu cuma bayangan ataw emang sebenernya itu emang siwon ya??? Jadi penasaran!!!
    _______________________________________
    Tika pink salah satu Author faforit ku karna aku emang udah baca beberapa ff buatan dia dan menurut aku ceritanya berbobot ga abal-abal,, kenapa aku suka ff buatan nya,, karena dari segi cerita yang emang menurut aku sangat bermutu ga asal-asalan dan dari penulisan kata-katanya juga pas,, 👑
    ada beberapa ff yang aku baca,, beberapa ff buatan Author lain yang tulisan nya atau kata-kata nya yang terlalu kekanak-kanakan menurut ku, tapi walau begitu aku tetap sangat menghargainya,, (curcol) ,,_________,,Good job tika..😘 jangan berhenti bikin ff ya karna tulisan mu itu nited semangat..🙆
    #Sory kepanjangan Hhehe Maaf klo (nyampah diaini )😣

    Balas
  17. Susi

     /  April 12, 2015

    😭Ko yoona nya pergi sih…
    Stella egois banget katanya udah rela tapi malah mengatakan hal yang menyakitkan bagi yoona,,, 😠padahal siwon nya cinta banget sama dia…💘 Tapi yoona nya malah pergi ninggalin siwon–¶¶>>><<<<<
    Tapi yang di liat yoona itu cuma bayangan ataw emang sebenernya itu emang siwon ya??? Jadi penasaran!!!
    _______________________________________
    Tika pink salah satu Author faforit ku karna aku emang udah baca beberapa ff buatan dia dan menurut aku ceritanya berbobot ga abal-abal,, kenapa aku suka ff buatan nya,, karena dari segi cerita yang emang menurut aku sangat bermutu ga asal-asalan dan dari penulisan kata-katanya juga pas,, 👑
    ada beberapa ff yang aku baca,, beberapa ff buatan Author lain yang tulisan nya atau kata-kata nya yang terlalu kekanak-kanakan menurut ku, tapi walau begitu aku tetap sangat menghargainya,, (curcol) ,,_________,,Good job tika..😘 jangan berhenti bikin ff ya karna tulisan mu itu nited semangat..🙆
    #Sory kepanjangan Hhehe Maaf klo (nyampah disini )😣

    Balas
  18. Nur khayati

     /  Juni 2, 2015

    Benr tuh yg d bilang Jessica, kalau Stella harus.a ngerelain Siw0n buat Y00na aja, tp mlh d sangkal sama Stella + nyalahin Y00na jg,.
    Saat Y00na udah cinta sama Siw0n, dia lbh milih ninggalin K0rea krna gk bisa milih antara Kekasih / Sahabat & hubungan prsahabatan mereka jg jd ikut renggang,. Lbh kasian lg nasib.a Siw0n, fiuuh.,

    Balas
  19. mywon_407

     /  Juni 26, 2015

    Ga nyangka banget kalo akhirnya bakalan seperti ini…
    Ternyata stella tetap jdi sosok yg egois smpai akhir…
    emang berat sih kalo di suruh milih antara cinta sma persahabatan, tpi di ff ini persahabatan mereka ga sehat, kalo stella benar2 nganggep yoona sahabat psti dia ga bakalan tega nyakitin yoona dan ngerelain yoonwon bersatu, yoona hrusnya ga harus mengalah sma stella toh stellanya jga udah ga nganggep dia sahabat jdi ga ada salahnya kalo yoona sedikit egois dgan mempertahankan hubungannya sma siwon…

    Balas
  20. diah fibri

     /  Januari 30, 2016

    walaupun sad ending tp suka ceritanya, cinta emng ga hrs saling memiliki tp tetep aja ga rela kl yoona hrs berpisah dr siwon …. saya sll suka sm ff yg author bwt, ffnya ga ngebosenin utk sll dibaca smp lupa waktu hehehe … keep fighting ya thor untuk bwt ff2 berikutnya yg lbh keren …
    HWAITIING AUTHOR TIKA ….. !!!!!

    Balas
  21. YoongNna

     /  Februari 9, 2016

    Yaaaahh knpa yoona plih menjauh dri siwon sedih bgt nasib cintanya pdhl mreka br2 saling mencintai..

    Balas
  22. ayana

     /  April 30, 2016

    yach…. kok gini endingnya. bikin nyesek. cuma pendapat sich, memilih orang yang kita cintai ato persahabatan adalah sesuatu yang sulit, ibarat dua sisi mata uang. tapi kalo memang orang yang kita cintai nggak mencintai kita dan lebih memilih sahabat kita kenapa kita tak mencoba belajar merelakan orang itu bukankan sahabat juga orang yang penting dan kita cintai juga?!. dari ff ini membuat belajar arti merelakan dan melepaskan. bukankah kalo sahabat dan orang yang kita cintai bahagia kita juga ikut bahagia. mencintai tidak harus memiliki., karna pasti ada cerita cinta lain yang telah menunggu kita, dan mungkin di kisah itu dia adalah orang yang benar-benar kamu cintai dan mencintaimu…
    #seakan mengerti artinya cinta

    Balas

United, Leave a Coment Here

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: